31
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1 Keadaan Umum Kota Jakarta Utara Keadaan umum
Kota Jakarta Utara dikemukakan dalam subbab 4.1.1
sampai dengan 4.1.3 di bawah ini ; meliputi keadaan geografis, keadaan penduduk dan kondisi perikanan tangkap di Kota Jakarta Utara. Kondisi perikanan tangkap di Kota Jakarta Utara juga dibagi kedalam tiga bagian yaitu unit penangkapan ikan, produksi hasil tangkapan dan daerah penangkapan ikan.
4.1.1 Keadaan geografis dan topografis Wilayah Kota administrasi Jakarta Utara terletak pada 60 25’ LS dan 1060 5’ BT (Malik, 2006).
Wilayah Jakarta Utara membentang dari barat ke timur
sepanjang kurang lebih 35 km dan “menjorok” ke darat antara 4 sampai10 km. Wilayah Kota Jakarta Utara berbatasan dengan (BPS, 2009) : Sebelah Utara
: Laut Jawa
Sebalah Selatan
: Kab. Dati II Tanggerang, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur
Sebelah Barat
: Kab. Dati II Tanggerang dan Jakarta Pusat
Sebelah Timur
: Kab. Dati II Bekasi dan Jakarta Timur
Menurut Badan Pusat Statistik (2009), ketinggian wilayah Kota Jakarta Utara dari permukaan laut antara 0 sampai dengan 2 meter. Pada lokasi tertentu ada yang berada di bawah permukaan laut yang sebagian besar terdiri dari rawarawa atau empang air payau. Wilayah Kota Jakarta Utara beriklim panas dengan suhu rata-rata 270 C, curah hujan setiap tahunnya rata-rata 142,54 mm dengan maksimal hujan pada bulan September. Luas tanah daratan di Kota Jakarta Utara 139,56 km2, dirinci berdasarkan penggunaanya 52,7% untuk perumahan, 15,3% untuk areal industri, 10,4% digunakan sebagai perkantoran dan pergudangan dan sisanya merupakan lahan pertanian dan lahan lainnya (BPS, 2008) Kota Jakarta Utara terdiri dari enam kecamatan yaitu Kecamatan Penjaringan, Kecamatan Pademangan, Kecamatan Tanjung Priok, Kecamatan Koja, Kecamatan Kelapa Gading dan Kecamatan Cilincing. Kawasan Muara Angke terletak pada Kecamatan Penjaringan.
32
Kecamatan Penjaringan berbatasan dengan Laut Jawa dan Kepulauan Seribu di sebelah utara, Kosambi di sebelah barat, Pademangan di sebelah timur, dan Kalideres di sebelah selatan. Kecamatan Penjaringan mempunyai luas wilayah sebesar 35,4870 km2 yang terdiri dari 5 kelurahan, 68 Rukun Warga (RW), 826 Rukun Tetangga (RT) dan 57.622 Kepala Keluarga (BPS, 2009).
4.1.2 Kedaan penduduk Menurut Badan Pusat Statistik (2009), pada tahun 2008 jumlah penduduk Kota Jakarta Utara sebanyak 1.201.308 jiwa yang terdiri dari 51,08% laki-laki dan 48,92% perempuan. Sebagian besar penduduk Jakarta Utara pada tahun 2008 tinggal di kecamatan Tanjung Priok (25,98 %) dan Cilincing (20.04 %). Kecamatan Koja merupakan kecamatan terpadat di Jakarta Utara dengan kepadatan 17.655 jiwa per km2 diikuti dengan kecamatan Tanjung Priok dengan kepadatan 12.422 jiwa per km2. Kecamatan Cilincing merupakan kecamatan terluas yaitu sebesar 37,6996 km2 diikuti dengan Kecamatan Penjaringan dengan luas sebesar 35,4870 jiwa per km2 (Tabel 7). Tabel 7
Luas wilayah, jumlah dan kepadatan penduduk di Kota Jakarta Utara menurut kecamatan, 2008
Kecamatan Penjaringan Pademangan Tanjung Priok Koja Kelapa Gading Cilincing Jumlah
Penduduk (jiwa) Kepadatan Luas area (km2) (jiwa/km2) Laki-laki Perempuan Jumlah 35,4870 96.493 90.035 186.528 5.256 9,9187 64.154 56.132 120.286 12.127 25,1255 158.312 153.801 312.113 12.422 13,2033 119.414 113.695 233.109 17.655 16,1212 54.659 53.945 108.604 6.737 37,6996 120.626 120.165 240.791 6.065 137,5553 613.658 587.773 1.201.431 8.609
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Kota Jakarta Utara merupakan wilayah administratif yang padat akan penduduk. Dilihat dari jumlah usia kerja dan kegiatan utama yang dilakukan penduduk setempat, dapat dibedakan penduduk berdasarkan angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja dibedakan berdasarkan penduduk yang bekerja dan penduduk yang sedang mencari pekerjaan, sedangkan bukan angkatan kerja dibedakan berdasarkan penduduk yang sedang bersekolah, mengurus rumah
33
tangga, dan lainnya. Menurut Badan Pusat Statistik (2009), jumlah penduduk angkatan kerja yang bekerja adalah lebih banyak yaitu sebesar 677,141 orang, dibandingkan penduduk angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan sebesar 109,600 orang (Tabel 8). Tabel 8
Jumlah penduduk laki-laki dan perempuan berdasarkan kegiatan utama di Kota Jakarta Utara, 2008 Kegiatan utama
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
A. Angkatan kerja
458.816
327.925
786.741
1. Bekerja 2. Mencari kerja B. Bukan angkatan kerja
399.868 58.948 70.840
277.273 50.652 253.027
677.141 109.600 323.867
39.365 4.554 26.921 529.656
38.742 197.275 17.010 580.952
78.107 201.829 43.931 1.110.608
1. Sekolah 2. Mengurus RT 3. Lainnya Jumlah Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Berdasarkan data Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, (2009), bahwa jumlah nelayan di Kota Jakarta Utara pada tahun 2008 adalah 30.091 orang. Jumlah tersebut meningkat sebesar 63,9% dibanding tahun 2007 (Tabel 10). Nelayan tersebut diatas menyebar di wilayah pesisir yaitu, Kelurahan Kamal Muara, Kelurahan Pluit, Kelurahan Pademangan, Kelurahan Tanjung Priok, Kelurahan Lagoa, Kelurahan Kalibaru, Kelurahan Cilincing dan Kelurahan Marunda (BPS, 2009). Selanjutnya BPS menyebutkan bahwa terdapat juga pelaku perikanan lainnya di Kota Jakarta Utara yaitu pengolah ikan, pedagang ikan, pembudidaya ikan hias dan pelaku ekonomi lainnya di sektor perikanan tangkap.
4.1.3 Keadaan perikanan tangkap 1) Armada dan alat penangkapan ikan Usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan Jakarta Utara menggunakan unit penangkapan ikan berupa perahu/kapal dan alat tangkap jaring payang, pukat cincin, jaring rampus, gillnet, bagan, bubu, dan pancing. Nelayan
34
Muara Angke menggunakan alat tangkap jaring payang, pukat cincin, jaring rampus, bubu dan pancing, sedangkan nelayan Muara Baru menggunakan alat tangkap gillnet dan pancing tuna longline. Armada penangkapan ikan yang digunakan nelayan Jakarta Utara yaitu perahu tanpa motor, perahu motor tempel dan kapal motor. Armada penangkapan ikan yang banyak digunakan nelayan Jakarta Utara adalah kapal motor berukuran 5-10 GT dan yang paling sedikit digunakan adalah kapal motor berukuran 30-50 GT (Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, 2009). Tabel 9 Jumlah armada penangkapan ikan menurut jenis armada di Kota Jakarta Utara, 2004-2008 Jenis armada
PTM (unit) PMT (unit) 0-5 GT KM 5-10 GT (unit) 10-20 GT 20-30 GT 30-50 GT >50 GT Jumlah Jumlah Pertumbuhan
Jumlah armada penangkapan pada tahun (unit) 2004 2005 2006 2007 2008 489 401 638 415 257 891 810 747 783 692 941 883 1.235 1.403 1.728 771 702 1.420 1.365 2.021 674 607 583 662 431 448 403 379 358 569 63 57 39 35 51 859 824 653 760 564 3.756 3.476 4.309 4.583 5.364 5.136 4.687 5.694 5.781 6.313 -8,74 21,50 1,50 9,20
Simpa ngan 221,12 329,46 586,96 694,17 260,02 187,93 23,14 321,52 1871,20 2320,64 -
Kisaran
257-638 692-891 883-1.728 702-2.021 431-674 358-569 35-63 564-859 3.476-5.364 4.687-6.313 -
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, (2009) Keterangan : PTM : Perahu Tanpa Motor PMT : Perahu Motor Tempel KM : Kapal Motor
Pada tahun 2008, jumlah armada penangkapan di Kota Jakarta Utara sebesar 6.313 unit yang terdiri dari 257 unit atau 4,07% perahu tanpa motor, 692 unit atau 10,96% motor tempel dan 5.364 unit atau 84,97% kapal motor. Jumlah armada dominan adalah kapal motor. Kapal motor berukuran 5-10 GT merupakan jumlah kapal motor terbanyak yaitu sebesar 2.021 unit atau 32,01% dari jumlah armada seluruhnya.
35
Keterangan : PTM : Perahu Tanpa Motor PMT : Perahu Motor Tempel KM : Kapal Motor
Gambar 1
Jumlah armada penangkapan ikan di Jakarta Utara menurut jenis armada tahun 2004-2008
Perkembangan jumlah keseluruhan armada penangkapan ikan di Kota Jakarta Utara selama periode 2004-2008 cenderung meningkat setelah mengalami penurunan jumlah armada yang cukup tajam sebesar 8,74% pada tahun 2005. Rata-rata pertumbuhan armada penangkapan ikan sebesar 5,83% per tahun. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2006 dengan pertumbuhan sebesar 21,48% ; sedangkan penurunan terbesar terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 8,74%. Jumlah armada kapal motor selama periode 2004-2008 cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 9,98% per tahun. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2006 dengan pertumbuhan sebesar 23,96%. Peningkatan jumlah armada terus terjadi hingga pada tahun 2008. 2) Nelayan Nelayan yang beroperasi di wilayah Jakarta Utara umumnya merupakan penduduk asli. Berdasarkan status kependudukannya, nelayan terdiri atas nelayan pendatang dan nelayan penetap. Nelayan pendatang adalah nelayan berasal luar wilayah Jakarta Utara, sedangkan nelayan penetap adalah nelayan yang berasal dari luar maupun dari dalam wilayah Jakarta Utara yang bertempat tinggal menetap di wilayah tersebut.
36
Berdasarkan status kepemilikan sarana penangkap ikan, nelayan di wilayah Jakarta Utara terdiri atas nelayan pemilik dan nelayan pekerja. Nelayan pemilik adalah nelayan yang memiliki sarana penangkapan ikan, yaitu kapal dan alat tangkap. Sementara nelayan pekerja adalah nelayan yang melakukan operasi penangkapan ikan. Menurut Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara (2009), jumlah nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan di wilayah Jakarta Utara pada tahun 2008 sebanyak 30.091 jiwa. Nelayan tersebut terdiri atas 19.460 jiwa nelayan setempat dan 10.631 nelayan pendatang. Apabila ditinjau dari status kepemilikan usaha maka nelayan terbagi atas 4.132 orang nelayan pemilik dan 25.959 orang nelayan pekerja (Tabel 10). Tabel 10 Jumlah nelayan di Kota Jakarta Utara, 2004-2008 Status Nelayan Nelayan Penetap Nelayan Pendatang
Jumlah
Pemilik Pekerja Jumlah Pemilik Pekerja Jumlah Pemilik Pekerja Jumlah
Jumlah nelayan pada tahun (orang) 2004 2005 2006 2007 2008 2.994 3.395 3.588 3.484 2.424 11.223 12.347 13.400 11.452 17.036 14.217 15.742 16.988 14.936 19.460 2.142 1.096 1.305 1.758 1.708 7.736 7.198 6.697 5.996 8.923 9.878 8.294 8.002 7.754 10.631 5.136 4.491 4.893 5.242 4.132 18.959 19.545 20.097 17.448 25.959 24.095 24.036 24.990 22.690 30.091
Ratarata 3.177 13.092 16.269 1.602 7.310 8.912 4.779 20.402 25.180
Simp Angan 462,9 2116 1842 366,4 989,8 1134,8 413,9 2916 2562,8
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, (2009)
Gambar 2
Jumlah nelayan berdasarkan status kependudukannya tahun 2004-2008 Perkembangan nelayan di Kota Jakarta Utara selama periode 2004-2008
cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 6,79% per tahun (Gambar 2).
37
Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 32,62%. Kecendrungan peningkatan jumlah ini terutama disebabkan oleh peningkatan jumlah nelayan pekerja pada tahun tersebut. Hali ini antara lain disebabkan adanya kebijakan Pemerintah dalam menurunkan harga BBM dari Rp 6.000,00 menjadi Rp 4.500,00 untuk premium dan dari Rp 5.500,00 menjadi Rp 4.300,00 untuk solar (Pertamina, 2008).
Penurunan harga BBM akan menurunkan biaya operasional melaut
sehingga nelayan semakin bersemangat dalam melakukan penangkapan ikan di laut.
Gambar 3 Jumlah nelayan berdasarkan status kepemilikannya tahun 2004-2008 Pada tahun 2007 jumlah nelayan di Kota Jakarta Utara utamanya nelayan pekerja
mengalami penurunan cukup tajam sebesar 15,2%.
Menurut Yana
(2010), penurunan jumlah nelayan di suatu pelabuhan perikanan dapat dikarenakan beberapa hal sebagai berikut: 1) Makin jauhnya daerah penangkapan ikan (fishing ground) menyebabkan biaya operasionalnya lebih mahal sehingga sebagian nelayan tidak sanggup membiayainya ; 2) Naiknya harga bahan bakar minyak menyebabkan biaya operasional menjadi mahal sehingga sebagian nelayan beralih profesi seperti menjadi pedagang, sopir, buruh pabrik dan tukang ojek ; 3) Mahalnya biaya perawatan sehingga banyak kapal yang rusak tidak dapat beroperasi ;
38
4) Semakin sulitnya hidup di Jakarta dan banyak tempat tinggal mereka yang ditertibkan maka sebagian nelayan kembali ke daerah masing-masing ; dan 5) Beralihnya fungsi kapal ikan menjadi kapal transportasi umum seperti kapal barang dan kapal penumpang. Menurut hasil wawancara dengan beberapa nelayan di PPI Muara Angke, penurunan jumlah nelayan pada tahun 2007 disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak. Kenaikan harga BBM oleh Pemerintah dari Rp 4.500,00 menjadi Rp 6.000,00 untuk premium dan dari Rp 4.300,00 menjadi Rp Rp 5.500,00 untuk solar (Pertamina, 2010) sehingga sebagian banyak nelayan tidak melaut dengan alas an biayanya yang cukup tinggi dan merugikan nelayan. 3) Produksi Hasil Tangkapan Menurut Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara (2009), jumlah produksi ikan di Kota Jakarta Utara pada tahun 2008 sebanyak 80.643.974 kg. Ikan yang didaratkan di Jakarta Utara berasal dari enam pelabuhan yaitu PPS Muara Baru - Jakarta, PPI Muara Angke, PPI Pasar Ikan, PPI Muara Kamal, PPI Cilincing dan PPI Kali Baru.
Pelabuhan Perikanan Samudra Muara Baru
merupakan penyumbang terbesar pertama produksi perikanan di Jakarta Utara yaitu 64.725.526 kg atau 80,26% dari total produksi ikan Kota Jakarta Utara tahun 2008. Selanjutnya, disusul dengan PPI Muara Angke sebesar 14.552.671 kg atau 18,05% dari total produksi ikan (Tabel 11). Tabel 11 Jumlah produksi ikan menurut tipe pelabuhan perikanan di Kota Jakarta Utara, 2004-2008 Tipe pelabuhan perikanan Tahun
PPS Muara Baru (ton) 2004 21.515 2005 25.884 2006 74.320 2007 99.992 2008 64.726 Rata-rata 57.287 Simpangan 29.782,4 Kisaran 78.477
PPI Muara Angke (ton) 11.735 14.696 17.583 17.108 14.553 15.135 2.096,5 5.848
PPI Pasar Ikan (ton) 746 638 688 722 184 596 209 562
Jumlah PPI Kali PPI PPI (ton) baru (ton) Cilincing Kamal (ton) Muara (ton) 577 327 423 35.323 588 327 329 42.462 527 424 343 93.885 521 533 264 119.141 468 474 241 80.644 536 417 320 74.291 43,2 81,2 64,2 31.519,5 120 206 182 83.818
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, (2009)
39
Produksi ikan di Jakarta Utara tahun 2004 hingga 2007 mengalami peningkatan cukup tajam yaitu rata-rata 56,07% per tahun atau pada kisaran 20,21% sampai 121,10%, namun pada tahun 2008 terjadi penurunan tajam sebesar 32,31% (Gambar 4).
Gambar 4 Jumlah produksi ikan di Kota Jakarta Utara tahun 2004-2008 4) Daerah Penangkapan Ikan Daerah tujuan penangkapan ikan bagi nelayan-nelayan Jakarta Utara cukup beragam dan mencapai lokasi perairan yang jauh. Daerah-daerah penangkapan ikan tersebut antara lain : perairan Bangka Belitung, perairan timur Sumatera, Selat Karimata, Laut Jawa, perairan Kalimantan Barat, perairan Kepulauan Natuna, Teluk Jakata, perairan Karawang, perairan Papua dan perairan Karimun Jawa (Dinas Perikanan DKI Jakarta, 2009). Jenis-jenis ikan yang tertangkap oleh nelayan Jakarta Utara dari berbagai daerah penangkapan ikan diatas diantaranya adalah cumi-cumi, sotong, udang, pari, kembung, tongkol, tuna, cucut, manyung, tenggiri, kakap, kerapu, bawal dan lain-lain (Dinas Perikanan DKI Jakarta, 2004 vide Malik, 2006). Jenis ikan cumicumi merupakan jenis ikan yang produksinya terbanyak pada tahun 2008 yaitu sebesar 910.383 kg per tahun. Operasi penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan di Jakarta Utara sebagian besar merupakan operasi penangkapan dengan lama waktu yang cukup lama sekitar 1-2 bulan ; diarenakan daerah penangkapan yang cukup jauh seperti yang telah disebutkan diatas.
Daerah penangkapan ikan yang jauh, tanpa
penanganan ikan yang baik selama di kapal akan mengakibatkan turunnya kualitas
40
ikan hasil tangkapan. Oleh karena itu kapal-kapal di Jakarta Utara sebagian besar dilengkapi dengan palka frezzer atau palka pembekuan ikan agar hasil tangkapan yang didaratkan tetap terjaga baik kualitasnya.
4.2 Keadaan Umum PPI Muara Angke 4.2.1 Letak geografis dan pengelolaan Menurut UPT PKPP Muara Angke (2008), Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Angke mempunyai luas kurang lebih 65 ha yang terletak di daerah Muara Angke.
Secara administratif PPI ini terletak di Kelurahan Pluit, Kecamatan
Penjaringan, Kota Jakarta Utara. Kawasan Muara Angke berbatasan dengan : Sebelah Utara
: Laut Jawa
Sebelah Selatan
: Kali Angke
Sebelah Timur
: Jalan Pluit
Sebelah Barat
: Kali Angke
Lahan milik PPI di atas dimanfaatkan untuk perumahan nelayan, tambak uji coba budidaya air payau, bangunan pangkalan pendaratan ikan serta fasilitas penunjangnya, hutan bakau, tempat pengolahan ikan tradisional, docking kapal, lahan kosong, terminal, dan lapangan sepak bola (UPT PKPP Muara Angke, 2006). Sejak tahun 1976 secara keseluruhan kawasan ini dipersiapkan untuk menampung kegiatan perikanan yang selama ini tersebar di beberapa lokasi seperti PPI Kamal Muara, PPI Kali Baru, PPI Cilincing dan PPI Kali Adem. Untuk memudahkan sekaligus lebih mengintensifkan pembinaan kepada masyarakat nelayan dibuatlah sebuah desa nelayan dilengkapi dengan sarana penunjangnya. Pada tahun 1977, Pemerintah Propinsi DKI Jakarta menetapkan kawasan ini sebagai Pangkalan Pendaratan Ikan dan Pusat Pembinaan Kegiatan Perikanan di DKI Jakarta (UPT PKPP Muara Angke, 2006). Unit Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan merupakan Unit Pelaksanaan teknis Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta di bidang pengelolaan kawasan pelabuhan perikanan dan pangkalan pendaratan ikan.
Sesuai
dengan
surat
keputusan
Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 105 Tahun 2002 UPT.
Pengelola
41
Kawasan Pelabuhan Perikanan Pendaratan Ikan mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut (UPT PKPP Muara Angke, 2008) : Tugas : 1.
Mengatur, mengelola, dan memelihara fasilitas pelabuhan perikanan pelangan ikan dan pangkalan pendaratan ikan beserta sarana penunjangnya ;
2. Mengelola pemukiman nelayan beserta fasilitas kelengkapannya ; 3. Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban lingkungan kawasan pelabuhan perikanan dan pangkalan pendaratan ikan. Fungsi : 1.
Menyusun program terencana kegiatan operasional ;
2. Perencanaan, pemeliharaan, pengembangan dan rehabilitas dermaga pendaratan dan pelabuhan ; 3. Penertiban rekomendasi izin kapal perikanan yang masuk dan keluar pelabuhan perikanan dan pangkalan pendaratan ikan dari aspek kegiatan perikanan ; 4. Pelayanan tambat labuh dan bongkar muat kapal ikan ; 5. Penyediaan
fasilitas
penyelenggaraan
pelelangan
ikan
dan
penyewaan fasilitas penunjang lainnya ; 6. Pengelolaan lahan yang diperutukkan bagi kegiatan usaha yang menunjang usaha perikanan ; 7. Pengelolaan sarana fungsional, sarana penunjang dan pengusahaan barang dan atau pihak ketiga ; 8. Pelayanan fasilitas sandar kapal, pasar grosir, pasar pengecer, pengolahan ikan, pengepakan ikan,gudang hasil perikanan dan usaha olahan ikan ; 9. Pengkordinasian
kegiatan
operasional
instansi
terkait
yang
melakukan aktivitas di pelabuhan perikanan dan pangkalan pendaratan ikan ; 10. Penyelenggaraan keamanan, ketertiban, dan kebersihan di kawasan pelabuhan perikanan dan pangkalan pendaratan ikan ; 11. Pengelolaan pemukiman nelayan beserta fasilitas kelengkapannya ; 12. Pengelolaan urusan ketatausahaan.
42
Berdasarkan tugas dan fungsi di atas dapat diketahui bahwa pengelola kawasan PPI Muara Angke mempunyai tugas dan fungsi dalam mengatur, mengelola dan memelihara fasilitas pelabuhan perikanan yang berhubungan dengan pendaratan hasil tangkapan yaitu Tempat Pelelangan Ikan. Selain itu, pengelola
juga
berfungsi
dalam
penyediaan
pelayanan
fasilitas
untuk
pendistribusian hasil tangkapan seperti pasar grosir, pasar pengecer, pengolahan ikan, gudang hasil perikanan dan usaha pengolahan ikan lainnya. Dengan adanya pengelolaan PPI yang baik diharapkan pendaratan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPI Muara Angke dapat berjalan dengan baik
4.2.2 Prasarana umum 1) Transportasi/perhubungan Kondisi jalan di lokasi penelitian (PPI Muara Angke) berupa jalan yang sudah di aspal. PPI Muara Angke juga berdekatan dengan jalan utama sehingga cukup mudah terjangkau. Jenis-jenis angkutan umum yang menuju atau dari PPI Muara Angke cukup beragam seperti becak, mobil dan kendaraan umum lainnya, sedangkan angkutan ikan yang terdapat di PPI Muara Angke adalah becak, sepeda motor, mobil dan mobil pick up. Angkutan becak dan sepeda motor digunakan untuk jarak dekat, seperti ke pasar maupun ke pemukiman penduduk, sedangkan angkutan mobil pick up digunakan untuk jarak jauh di luar kawasan Muara Angke, seperti Bogor, Parung, dan daerah lainnya. 2) Komunikasi Kegiatan yang dicakup untuk sektor komunikasi adalah jasa Pos dan Giro dan Telekomunikasi. Kegiatan sub sektor Pos dan Giro meliputi pemberian jasa meliputi pengiriman surat, wesel, paket, jasa giro, jasa tabungan dan sebagainya, sedangkan kegiatan sub sektor telekomunikasi mencakup pemberian jasa dalam hal pemakaian telepon, telegram dan jasa internet. Sektor komunikasi ini mencakup pula jasa penunjang komunikasi, yang mencakup pemberian jasa dan penyediaan fasilitas yang sifatnya menunjang kegiatan komunikasi, seperti warnet, wartel, warpostel, telepon selular dan lain-lain.
Kondisi komunikasi
menuju atau dari PPI Muara Angke cukup lancar. Sebab, hal ini didukung oleh pelayanan jasa dari Pos dan Giro.
43
3) Air dan listrik Sub sektor air bersih diusahakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Masyarakat pengguna dikenakan beban biaya atas penggunaan layanan pengadaan air bersih dan listrik. Kebutuhan air di PPI Muara Angke digunakan untuk perbekalan kapal yang akan melaut, air bersih dan air minum masyarakat. Ketersediaan air bersih atau untuk minum disediakan oleh PDAM, penduduk sekitar PPI Muara Angke juga mencari alternatif lain dengan membuat sumur. Meskipun air sumur bercampur antara asin dan tawar, namun penduduk yang kurang mampu tetap menggunakan air dari sumur-sumur ini. Listrik di PPI Muara Angke dikelola oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Listrik sebagai media penerangan sangat dibutuhkan masyarakat umum khususnya
sektor
perikanan.
Pemanfaatan
listrik
dimanfaatkan
sebagai
penerangan di dermaga-dermaga pendaratan, perkantoran, dan perbaikan unit penangkapan ikan (kapal dan alat tangkap).
4.2.3 Keadaan perikanan tangkap 1) Armada alat penangkapan ikan Ada dua jenis kapal perikanan yang beraktivitas di PPI Muara Angke yaitu kapal penangkap ikan dan kapal pengangkut. Umumnya kapal yang digunakan terbuat dari bahan kayu. Armada ini masih didominasi oleh kapal penangkap ikan dan kapal yang berukuran ≤ 30 GT. Tabel 12 Tahun
(0) 2004 2005 2006 2007 2008
Jumlah kapal menurut ukuran dan jenis kapal di PPI Muara Angke, 2004-2008 Jumlah kapal menurut GT ≤ 30 >30 (1) 3.884 3.873 3.701 3.662 3.235
(2) 1.046 1.337 1.191 641 614
Jumlah kapal menurut jenis kapal Pengangkut Penangkap Ikan (3) (4) 1.407 3.523 1.468 3.742 1.006 3.886 1.008 3.295 1.021 2.828
Sumber : UPT PKPP Muara Angke (2009)
Jumlah (1+2) atau (3+4) 4.930 5.210 4.892 4.303 3.849
44
Pada tahun 2008 terdapat 3.849 unit armada penangkapan ikan di PPI Muara Angke, terdiri dari 3.235 unit kapal ≤ 30 GT dan 614 unit kapal >30 GT serta terdiri dari 2.828 unit kapal penangkap ikan dan 1.021 kapal pengangkut (Tabel 12). Jumlah kapal yang melakukan tambat labuh di PPI Muara Angke periode 2004-2008 mengalami penurunan, namun pernah mengalami peningkatan pada tahun 2005 (Gambar 5). Kapal-kapal ini terdiri atas kapal pengangkut sebesar 28,2% dan kapal penangkap ikan sebesar 71,8%. Berdasarkan ukurannya, kapalkapal ini terbagi menjadi kapal berukuran ≤ 30 GT sebanyak 74,3% dan kapal berukuran > 30 GT sebanyak 25,7% pada tahun 2005.
Gambar 5 Perkembangan jumlah kapal perikanan yang tambat labuh di PPI Muara Angke, 2004-2008 Menurut Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara (2009), alat penangkapan ikan yang terdapat di PPI Muara Angke terdiri dari berbagai jenis, antara lain yang mendominasi yaitu boukeami, jaring cumi, pukat cincin, bubu, cantrang dan gillnet, selain itu juga terdapat alat tangkap jenis lain seperti muroami, jaring rampus, payang, lampara, pancing dan liongbun. Alat tangkap yang paling banyak dioperasikan oleh nelayan tahun 2008 yang beraktivitas di PPI Muara Angke antara lain boukeami, jaring cumi, pukat cincin dan bubu.
Jumlah alat tangkap boukeami sebanyak 40,7% kemudian
disusul oleh alat tangkap jaring cumi sebesar 21,6% selanjutnya pukat cincin sebesar 17,8% dan bubu sebesar 7,5%.
Jenis alat tangkap lainnya seperti
muroami, jaring rampus, payang, lampara, pancing dan liongbun sebanyak 1,9%. Jumlah alat tangkap terbanyak yang dioperasikan terdapat pada tahun 2006
45
sebesar 3.886 alat dan terjadi penurunan pada tahun 2008 sebesar 4,8% dari tahun sebelumnya (UPT PKPP Muara Angke, 2009). Penurunan jumlah alat tangkap tersebut diduga karena banyak kapal yang berpindah tempat ke pelabuhan lain untuk membongkar hasil tangkapannya karena ketidakcocokan harga pada saat akan melelang hasil tangkapannya. 2) Nelayan Nelayan yang memanfaatkan PPI Muara Angke sebagai tempat tambat labuh maupun bongkar muat terbagi menjadi nelayan penetap dan nelayan pendatang. Nelayan penetap merupakan nelayan yang berasal dari luar maupun dalam wilayah Muara Angke yang bertempat tinggal menetap di wilayah Muara Angke ; sedangkan nelayan pendatang merupakan nelayan yang berasal dari luar wilayah Muara Angke. Klasifikasi nelayan penetap dan pendatang tersebut dapat terbagi lagi menjadi nelayan pekerja dan nelayan hanya pemilik. Nelayan pekerja merupakan nelayan yang melakukan operasi penangkapan ikan di laut ; sedangkan nelayan pemilik merupakan nelayan yang memiliki sarana penangkapan ikan. Para nelayan dengan menggunakan armada penangkapan ikan yang berbasis di PPI Muara Angke melakukan operasi penangkapan ikan di daerah Perairan Bangka Belitung dengan hasil tangkapan 8,6% ; Perairan Timur Sumatera dengan hasil tangkapan 10,3% ; Selat Karimata 13,4% ; Laut Jawa 11, 6 % ; Perairan Kalimantan Barat 5,6% ; Kepulauan Natuna 2,8% ; Teluk Jakarta dan Karawang 0,7% dan Karimun Jawa dengan hasil tangkapan 1,4% (UPT PKPP Muara Angke, 2006). 3) Musim penangkapan Musim penangkapan ikan di Muara Angke terjadi sepanjang tahun namun pada saat terang bulan tidak dilakukan penangkapan ikan. Menurut hasil wawancara dengan beberapa nahkoda (kapten kapal) dan ABK, musim penangkapan ikan terbagi menjadi dua, yaitu musim barat yang terjadi pada bulan November – April, dan musim timur yang terjadi pada bulan April – November. Pada musim barat angin bertiup sangat kuat dan bergelombang besar. Keadaan demikian mengakibatkan banyak nelayan yang tidak mau turun ke laut karena resiko yang terlalu besar. Nelayan banyak menangkap ikan saat musim barat di daerah penangkapan ikan di sekitar Teluk Jakarta dan Perairan Karawang.
46
Pada musim timur angin bertiup tidak terlalu kuat dan bergelombang tidak sekuat pada musim barat sehingga memungkinkan nelayan untuk meningkatkan operasi penangkapannya. Daerah penangkapan yang menjadi tujuan nelayan saat musim timur yaitu perairan Bangka Belitung, perairan timur Sumatera, perairan Indramayu, Cirebon dan Semarang. 4) Produksi ikan Jumlah dan nilai produksi perikanan di pelabuhan perikanan merupakan salah satu indikator perkembangan perikanan di suatu daerah. Semakin besar jumlah produksi perikanan disuatu pelabuhan perikanan maka dapat dikatakan pelabuhan tersebut semakin berkembang. Begitu pula dengan nilai produksi, semakin besar nilai produksi perikanan di suatu pelabuhan perikanan maka dapat dikatakan pelabuhan tersebut semakin berkembang. Produksi hasil tangkapan di PPI Muara Angke pada tahun 2008 sebesar 14.553 ton.
Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yaitu
sebesar 17.108 ton dengan persentase penurunan sebesar 14,9 %. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara (2009), produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Muara Angke cenderung mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 6,8 %. Pada tahun 2005 dan 2006 produksi hasil tangkapan meningkat cukup tinggi yaitu sebesar 14.696 ton dan 17.583 ton dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 25,2 % dan 19,6%.
Peningkatan jumlah hasil tangkapan tersebut dapat
dipengaruhi dari kinerja nelayan dan musim penangkapan. Tabel 13 Jumlah dan nilai produksi perikanan di PPI Muara Angke tahun 2004-2008 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008
Jumlah Produksi (ton) 11.735 14.696 17.583 17.108 14.553
Nilai Produksi (Rp 106) 43.778 41.513 43.826 45.625 40.572
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, (2009)
47
Gambar 6
Perkembangan jumlah produksi hasil tangkapan di PPI Muara Angke, 2004-2008
Nilai produksi hasil tangkapan pada tahun 2008 di PPI Muara Angke sebesar Rp 40.572.000.000,00 (Tabel 13). Nilai ini cenderung menurun dibanding tahun sebelumnya dengan persentase penurunan sebesar 11,1 %. Peningkatan nilai produksi hasil tangkapan mulai terjadi pada tahun 2005 sampai 2007 (Gambar 7). Nilai produksi hasil tangkapan di PPI Muara Angke mencapai titik tertinggi pada tahun 2007, yaitu sebesar Rp 45.625.089.405.
Gambar 7
Perkembangan nilai produksi hasil tangkapan di PPI Muara Angke, 2004-2008
Dengan melihat jumlah dan nilai produksi per jenis hasil tangkapan yang didaratkan di suatu Pelabuhan Perikanan, maka indikator harga rata-rata hasil tangkapan tiap jenis per tahunnya dapat dihitung dengan cara menghitung ratio
48
NP/P yaitu membagi nilai produksi dengan jumlah produksinya untuk setiap jenis hasil tangkapan (Pane, 2010). Komposisi produksi hasil tangkapan yang banyak didaratkan pada tahun 2008 adalah ikan bloso, cakalang, cucut, cumi-cumi, kembung, pari, lemuru, tembang, tenggiri dan tongkol (UPT PKPP Muara Angke, 2009). Adapun jenis ikan yang dihasilkan oleh berbagai unit penangkapan ikan yang terdapat di PPI Muara Angke tahun 2008 sangat bervariasi. Jenis ikan yang banyak dihasilkan, disajikan pada (Tabel 14). Tabel 14
Nilai produksi, produksi dan indikator harga (Ratio NP/P) per jenis ikan di PPI Muara Angke tahun 2008 Produksi (kg)
No
Jenis Ikan
1
Bawal putih Kuro Ekor kuning Bawal hitam Krapu Peperek Kakap merah Kwe Teri Golok-golok Layur Tongkol Manyung Como Sontong Kembung Bentrong Cucut Kambingkambing Selar Bloso Tenggiri Tembang Cakalang Baby tuna Pari Layang Lemuru Cumi-cumi Lain-lain
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
Nilai Produksi (Rp)
(%)
(Rp 103)
(%)
544 926 9.939 30.219 33.918 45.222 45.228 47.131 50.247 50.909 67.274 67.770 81.209 88.025 90.446 90.734 91.380 107.522
0,01 0,01 0,15 0,47 0,52 0,70 0,70 0,73 0,78 0,79 1,04 1,05 1,26 1,36 1,40 1,40 1,41 1,66
16.124,50 15.524,10 64.955,55 346.527,75 218.943,27 232.207,75 724.895,99 574.667,65 269.358,78 275.631,00 404.960,45 500.703,05 718.372,30 368.261,43 827.724,70 601.326,93 485.066,80 325.737,88
0,06 0,05 0,22 1,2 0,76 0,8 2,5 1,98 0,93 0,95 1,4 1,73 2,48 1,27 2,86 2,08 1,67 1,12
130.202 152.999 217.829 275.459 286.032 289.011 293.202 305.834 361.415 378.716 910.383 1.864.984
2,01 2,37 3,37 4,26 4,42 4,47 4,54 4,73 5,59 5,86 14,08 28,85
(kg)
697.347,83 2,41 721.863,95 2,49 786.647,67 2,72 1.172.302,44 4,05 751.580,95 2,59 337.346,15 1,16 917.060,53 3,17 759.453,50 2,62 1.565.556,33 5,4 1.883.095,85 6,5 5.118.682,15 17,67 7.291.002,62 25,16
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, (2009)
Ratio NP/P (Rp/Kg)
%
29.640,63 14,00 16.764,69 7,92 6.535,42 3,09 11.467,21 5,42 6.455,08 3,05 5.134,84 2,43 16.027,59 7,57 12.192,99 5,76 5.360,69 2,53 5.414,19 2,56 6.019,57 2,84 7.388,27 3,49 8.845,97 4,18 4.183,60 1,98 9.151,59 4,32 6.627,36 3,13 5.308,24 2,51 3.029,50 1,43 5.355,89 4.718,10 3.611,31 4.255,81 2.627,61 1.167,24 3.127,74 2.483,22 4.331,74 4.972,32 5.622,56 3.909,42
2,53 2,23 1,71 2,01 1,24 0,55 1,48 1,17 2,05 2,35 2,66 1,85
49
Dari Tabel 14 terlihat bahwa terdapat beberapa jenis ikan yang produksi dan nilai produksinya dominan yaitu Cumi-cumi, Lemuru, Layang, Pari, dan Baby tuna. Berdasarkan ratio nilai produksi terhadap produksi, maka jenis ikan yang memiliki nilai komersial tinggi atau dugaan harga tinggi adalah Bawal putih (Rp 29.640,63 per kg), Kuro (Rp 16.764,69 per kg), Kakap merah (Rp 16.027,59 per kg), Kue (Rp 12.192,99 per kg) dan Bawal hitam (Rp 11.467,21 per kg).