206 Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2), 2008: 206-224
I Wayan Mathius
PENGEMBANGAN SAPI POTONG BERBASIS INDUSTRI KELAPA SAWIT I Wayan Mathius Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Jalan Raya Pajajaran Kav. E-59, Bogor 16143
PENDAHULUAN Laju pertumbuhan penduduk Indonesia pada periode 2000-2003 mencapai 1,5%/ tahun sehingga jumlah penduduk menjadi lebih dari 215.276.000 jiwa dengan kepadatan rata-rata 114 jiwa/km2 (BPS 2003). Jumlah penduduk yang terus bertambah dan tingkat pengetahuan yang makin baik menuntut ketersediaan pangan yang memadai, termasuk produk peternakan (daging, susu, telur, dan kulit/bulu), baik jumlah maupun kualitasnya. Di sisi lain, laju pertumbuhan ternak cenderung lambat dan tidak sejalan dengan peningkatan permintaan daging nasional dengan laju 6-8%/tahun (Thalib et al. 2003). Sumbangan peternakan terhadap pengadaan daging nasional pada tahun 2003 mencapai 1.908.600 ton, sementara kebutuhan daging nasional pada tahun yang sama sekitar 1.947.200 ton (Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan 2003). Dengan demikian, terdapat kekurangan pasokan daging dan kekurangan tersebut dipasok melalui impor dalam bentuk daging segar/beku maupun ternak hidup. Pada tahun 2003, impor sapi 1)
Naskah disarikan dari bahan Orasi Profesor Riset yang disampaikan pada tanggal 31 Juli 2007 di Bogor.
bakalan dari Australia mencapai 374.741 ekor (Trikesowo 2004). Kondisi demikian sudah tentu tidak dapat dipertahankan sehingga perlu lebih memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha untuk mengembangkan peternakan di dalam negeri. Pada masa yang akan datang, Indonesia dituntut untuk mampu bersaing dengan negara-negara industri yang mampu mendukung ternak tampil sesuai potensi genetiknya. Ternak ruminansia di Indonesia kurang dapat tumbuh-kembang sesuai dengan potensi genetik yang dimiliki. Tulisan ini memaparkan sumbangan pemikiran penulis tentang strategi dan langkah alternatif yang perlu ditempuh untuk mengembangkan ternak ruminansia, khususnya sapi potong, ditinjau dari aspek ketersediaan dan pemberian pakan nonkonvensional.
PERKEMBANGAN DAN PERAN SAPI POTONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Saat ini dunia sangat bergantung pada peternakan, tidak hanya sebagai sumber pangan hewani (daging dan susu), tetapi juga sebagai tenaga kerja, tabungan yang dapat diuangkan, uji tangkas (hiburan), ternak korban, penghasil bahan organik
207
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
berkualitas, produk ikutan/inedible byproducts (insulin, kortison, estrogen, kulit, perekat, bahan kancing, bahan lilin, sabun, plastik, pasta gigi), dan sumber energi alternatif (biogas) (Fitzhugh et al. 1978). Di Indonesia, budi daya ternak ruminansia telah menunjang kehidupan jutaan keluarga petani-ternak, pedagang, dan jagal.
Perkembangan produksi dan konsumsi daging serta populasi ternak ruminansia di Indonesia disajikan dalam Tabel 1 dan 2. Populasi sapi perah, kambing, dan domba meningkat dari tahun ke tahun, namun untuk kerbau mengalami penurunan. Sementara perkembangan sapi potong dalam dua dekade terakhir relatif
Tabel 1. Produksi, impor, dan konsumsi daging nasional, 1993-2003. Tahun
Produksi (t)
Impor daging (t)
Impor sapi bakalan (ekor)
Konsumsi (t)
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
1.378.300 1.492.900 1.507.100 1.632.200 1.555.100 1.228.500 1.195.700 1.445.200 1.560.600 1.769.800 1.908.600
10.079 15.667 22.053 29.000 33.400 14.100 23.400 72.300 43.500 44.700 44.700
58.299 118.034 228.422 388.974 428.077 42.394 157.338 296.723 288.922 428.486 374.741
1.388.200 1.508.500 1.530.200 1.661.200 1.558.500 1.239.300 1.215.900 1.516.000 1.601.600 1.808.400 1.947.200
Sumber: Jaya (1999); Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan (2003); Trikesowo (2004).
Tabel 2. Perkembangan populasi ternak ruminansia (000 ekor), 1970-2006. Tahun
Sapi perah
Sapi potong
Kerbau
Domba
Kambing
1970 1980 1990 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
59 103 294 334 322 332 354 347 358 374 368 361 382
6.137 6.440 10.410 11.939 11.634 11.276 11.008 11.138 11.298 10.504 10.533 10.569 10.836
2.885 2.547 3.335 3.065 2.829 2.504 2.405 2.310 2.403 2.459 2.403 2.128 2.201
3.362 4.124 6.006 7.698 7.114 7.226 7.427 7.394 7.641 7.811 8.075 8.327 8.543
6.336 7.691 11.298 14.163 13.560 12.701 12.566 12.323 12.549 12.722 12.781 13.409 14.051
Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan (2003).
208
konstan dengan jumlah pemilikan ternak tidak berubah, yakni 2-5 ekor/kepala keluarga. Populasi sapi potong yang relatif konstan tersebut boleh jadi disebabkan tingginya angka pemotongan sebagai akibat permintaan daging yang terus meningkat. Membaiknya nilai jual daging sapi memacu para pelaku usaha sapi potong untuk menyembelih sapi betina produktif sehingga populasi sapi potong saat ini berada pada posisi stagnan. Pemeliharaan sapi potong masih merupakan usaha yang bersifat pelengkap/ komplementer dalam suatu sistem usaha tani terpadu. Tujuan pemeliharaan sapi potong antara lain adalah sebagai tenaga kerja, sumber protein hewani, tabungan, dan sebagai sumber pupuk organik. Hal tersebut menunjukkan bahwa sapi potong memainkan peran cukup penting dan merupakan titik sentral kehidupan manusia (Gongal 1996). Sapi potong merupakan bagian integral dalam sistem usaha tani yang sekaligus merupakan faktor kunci keseimbangan ekologi dan sebagai pengaman penting (bufer) untuk mengatasi risiko kegagalan panen tanaman pertanian.
POTENSI SAPI POTONG LOKAL DI INDONESIA Tiga bangsa sapi lokal yang berpotensi dikembangkan di Indonesia adalah sapi Ongole (Sumba Ongole dan Peranakan Ongole), sapi Bali, dan sapi Madura. Bangsa sapi tersebut telah beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan dan cekaman di wilayah Indonesia. Dari ketiga bangsa sapi lokal tersebut, sapi Bali paling tahan terhadap cekaman panas (Sutrisno et al. 1978), di samping memiliki tingkat kesuburan yang baik, kemampuan libido pejantan lebih unggul, persentase karkas
I Wayan Mathius
tinggi (56%), dan kualitas daging baik. Dengan tata laksana pemeliharaan yang baik, sapi potong dapat tumbuh-kembang dengan laju kenaikan bobot hidup harian 750 g (Moran 1979), sementara pada kondisi pedesaan kecepatan pertumbuhan hanya mencapai rata-rata 250 g/ekor/hari (Bamualim dan Wirdahayati 2003; Fordyce et al. 2003). Siklus reproduksi sapi lokal dapat terjadi setiap saat sepanjang tahun dengan tingkat kesuburan yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangbiakan sapi potong dapat dilakukan setiap saat tanpa dipengaruhi oleh musim. Oleh karena itu, perkembangbiakannya dapat disesuaikan dengan ketersediaan faktor penunjang seperti pakan dan pasar. Jumlah pasokan daging sapi potong relatif konstan (Tabel 3), namun persentase sumbangannya terhadap pasokan daging menurun. Pada tahun 2003, sumbangan sapi potong terhadap pengadaan daging nasional mencapai 351.800 ton. Jumlah tersebut setara dengan 18,4% total pengadaan daging nasional, sementara ternak unggas memasok 63% (Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan 2003). Daging sapi potong lokal yang semula merupakan pemasok terbesar, yakni 53,3% pada tahun 1970, berangsur-angsur turun hingga mencapai 18,4%. Peningkatan permintaan daging sapi menyebabkan makin meningkat pula jumlah sapi yang dipotong, termasuk sapi betina produktif. Keadaan tersebut memperburuk perkembangan sapi potong nasional. Pola pemeliharaan yang bersifat komplementer dan dilakukan secara tradisional menyebabkan usaha sapi potong kurang efisien. Akibatnya, perkembangan sapi potong di Indonesia rendah. Upaya meningkatkan produksi sapi potong nasional dapat dilakukan melalui
209
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
Tabel 3. Produksi daging nasional dan sumbangan daging sapi potong dan unggas, 1970-2003.
Tahun
1970 1980 1990 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Produksi daging (000 t) 314,0 570,8 1.027,7 1.555,1 1.220,8 1.195,9 1.445,2 1.560,5 1.629,2 1.908,8
Sapi
Unggas
(000 t)
(%)
167,3 220,8 259,2 353,7 340,7 308,8 339,9 338,7 330,0 351,8
53,3 38,7 25,2 22,7 27,9 25,8 23,5 21,7 20,3 18,4
(000 t) 38,7 172,3 508,7 898,5 621,2 622,6 817,7 923,5 964,1 1.203,3
(%) 12,3 30,2 49,5 57,8 50,9 52,1 56,6 59,2 59,2 63,0
Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan (2003).
pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Pendekatan kualitatif sedang dan terus dilakukan melalui perbaikan mutu genetik sapi lokal dengan mempergunakan teknik inseminasi buatan (IB). Namun untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi, perbaikan mutu genetik sapi harus diikuti dengan penyediaan dan pemberian pakan yang memadai (Jalaludin et al. 1991). Zarate (1996) melaporkan bahwa keberhasilan perbaikan mutu genetik ternak membutuhkan kondisi yang stabil, yaitu tata laksana memadai, ketersediaan pakan cukup, berkualitas dan berkelanjutan, serta kesehatan ternak baik.
MASALAH PETERNAKAN SAPI POTONG Sistem pemeliharaan semi-intensif yang didasarkan pada penyediaan dan pemberian pakan dengan cara “potong angkut” (cut and carry) dan dengan komposisi vegetasi alam seadanya menyebabkan tingkat produksi sapi potong belum opti-
mal. Pakan hijauan utama berasal dari hasil samping tanaman pertanian atau vegetasi alam pada daerah yang tidak dimanfaatkan sebagai areal pertanian. Pola dan pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan merupakan penyebab utama rendahnya tingkat produktivitas ternak di daerah tropis (Chen 1990). Masalah utama dalam peningkatan produksi sapi potong adalah sulitnya menyediakan pakan secara berkesinambungan, baik jumlah maupun kualitasnya (Mathius et al. 1984; Chen 1990; Jalaludin et al. 1991; Zarate 1996). Hal tersebut menyebabkan tingkat produktivitas sapi potong menjadi rendah sehingga saat ini jarang ditemui sapi potong (sapi Bali) dengan bobot hidup melebihi bobot potong/pasar, yakni di atas 250 kg/ekor; suatu penyusutan bobot hidup yang sangat drastis dibandingkan dengan yang pernah dicapai pada masa lampau, yakni 300-500 kg/ekor (Tillman 1983). Pemanfaatan lahan khususnya di Pulau Jawa dan Bali sangat intensif. Areal sekitar pemukiman di pedesaan yang sebelumnya
210
digunakan sebagai padang penggembalaan umum telah beralih fungsi menjadi pemukiman, kawasan industri atau jalan raya. Setiap tahun sekitar 40 ribu ha lahan sawah produktif di Jawa beralih fungsi menjadi kegiatan nonpertanian (Departemen Pertanian 2005). Penyusutan lahan pertanian menimbulkan permasalahan serius dalam penyediaan bahan baku pakan untuk sapi potong. Menyusutnya lahan pertanian juga mengurangi peluang untuk mengembangkan budi daya hijauan pakan dan persediaan produk samping tanaman pangan untuk pakan. Semua permasalahan tersebut mengandung makna yang perlu dipelajari, bahwa pengembangan sapi potong sebaiknya diarahkan ke luar Pulau Jawa dan Bali karena ketersediaan lahan masih cukup luas. Ke depan perlu diupayakan pemecahannya dengan memanfaatkan sumber bahan pakan alternatif nonkonvensional yang tersedia sepanjang tahun, seperti produk samping perkebunan/industri perkebunan. Produk samping dan hasil ikutan industri perkebunan terus bertambah jumlahnya seiring dengan makin luasnya areal perkebunan. Salah satu perkebunan yang cukup luas arealnya dengan laju pertumbuhan 12,6%/tahun adalah perkebunan kelapa sawit (Liwang 2003).
ALTERNATIF PENYEDIAAN DAN PEMBERIAN PAKAN SAPI POTONG Pakan merupakan komponen biaya produksi tertinggi dalam usaha peternakan, dengan kisaran 65-75% untuk sapi potong. Tingkat produksi dan reproduksi sapi potong di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan di daerah temperate. Hal tersebut disebabkan ketersediaan dan pemberian pakan tidak mencukupi ke-
I Wayan Mathius
butuhan ternak, baik untuk hidup pokok maupun produksi. Kekurangan energi merupakan faktor utama rendahnya efisiensi produksi dan reproduksi sapi potong. Rendahnya kualitas nutrien pakan yang berasal dari produk samping industri pertanian menyebabkan rendahnya tingkat produksi sapi potong di Indonesia. Banyak penelitian telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan nilai nutrien dan nilai biologis produk samping tanaman dan hasil ikutan agroindustri. Uji lapang hasil penelitian dalam skala laboratorium telah pula dilakukan dan hasilnya cukup menjanjikan. Upaya perbaikan nilai produk samping tersebut dilakukan secara fisik (cacah, giling), kimiawi (sodium hidroksida, urea), biologis (fermentasi dan enzimatis), dan kombinasi ketiganya. Pemanfaatan produk samping tanaman pangan dan perkebunan yang telah mendapatkan perlakuan, seperti amoniasi dengan urea dan biofermentasi dengan kapang (Laconi 1998), merupakan teknologi yang siap diterapkan, meskipun perlu penambahan beberapa komponen pakan imbuhan. Pemberian blok mineral-ureamolases atau teknologi imbuhan probiotik bersama-sama dengan pakan hijauan nonkonvensional spesifik lokasi yang berkualitas rendah merupakan langkah bijak dalam upaya meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Salah satu pakan nonkonvensional yang belum dimanfaatkan secara optimal berasal dari industri perkebunan kelapa sawit.
PRODUK SAMPING DAN HASIL IKUTAN INDUSTRI KELAPA SAWIT Di Indonesia, tanaman kelapa sawit telah dikenal sejak tahun 1848, dan pertama kali ditanam di Kebun Raya Bogor. Pengem-
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
bangan kelapa sawit sebagai penghasil minyak dimulai pada tahun 1911. Keseimbangan asam lemak jenuh dan tidak jenuh dalam minyak kelapa sawit memperkuat posisi minyak sawit sebagai bahan pangan penting (Fold 2003). Luas tanam kelapa sawit di Indonesia mencapai 2,014 juta ha pada tahun 2000, dengan laju pertumbuhan 12,6%/ tahun (Liwang 2003), sementara Malaysia memiliki luas tanam 2,941 juta ha dengan laju pertumbuhan 5,5%/tahun. Luas tanam kelapa sawit di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat, khususnya perkebunan swasta dan perorangan. Saat ini luas tanam kelapa sawit diperkirakan telah melebihi 6,7 juta ha. Peningkatan luas tanam kelapa sawit menyebabkan produk samping kebun dan hasil ikutan pengolahan kelapa sawit juga bertambah yang berpotensi menimbulkan masalah lingkungan. Produk samping industri kelapa sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah pelepah, daun, tandan kosong, serat perasan, lumpur sawit, dan bungkil kelapa sawit. Salah satu cara pemecahannya adalah dengan memanfaatkannya untuk pakan ternak. Sapi dapat memanfaatkan produk samping tersebut sebagai pakan dan sekaligus menghasilkan pupuk organik untuk tanaman. Pola integrasi ataupun diversifikasi tanaman dan ternak diharapkan dapat menjadi bagian integral dalam usaha perkebunan. Dengan perkataan lain, pemanfaatan produk samping industri kelapa sawit pada wilayah perkebunan dapat menjadi basis pengembangan sapi potong. Kehadiran sapi potong di perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat memberikan nilai tambah, baik secara langsung maupun tidak langsung, selain dampaknya terhadap kebersihan lingkungan.
211
Potensi Produk Samping Tanaman dan Hasil Ikutan Industri Kelapa Sawit Secara garis besar, produk samping industri kelapa sawit dapat dikelompokkan berdasarkan asal produk, yakni yang berasal dari kebun dan dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Produk Samping Asal Kebun. Produksi bahan kering vegetasi alam yang tumbuh di bawah tanaman kelapa sawit bervariasi, bergantung pada pola tanam yang diterapkan, khususnya pada saat tanaman belum berproduksi. Jika ditanam sebagai tanaman tunggal maka vegetasi alam yang dapat dihasilkan berkisar antara 2,8-4,8 ton bahan kering/ha/tahun (Chen et al. 1991). Produksi hijauan vegetasi alam di bawah tanaman kelapa sawit bergantung pada umur tanaman kelapa sawit, yang secara langsung berpengaruh terhadap intensitas cahaya yang mencapai areal perkebunan. Jika intensitas sinar matahari yang diterima tanaman rendah maka aktivitas fotosintesis menurun sehingga produksi vegetasi alam menjadi rendah (Whiteman 1980). Demikian pula jika dikelola dengan pola tumpang sari maka produk yang dihasilkan akan sangat bergantung pada jenis tanaman sela yang dibudidayakan. Jika panjang tajuk setiap tanaman kelapa sawit diasumsikan 4 m maka luas lahan yang tidak dapat dimanfaatkan adalah 50,3 m2 (22/7 x 4 x 4 m). Jika setiap hektar lahan ditanami 143 pokok pohon inti maka nilai tersebut setara dengan 7.191 m2. Dengan demikian, lahan yang tersedia untuk ditanami tanaman sela sekitar 2.809 m2. Vegetasi alam yang tumbuh di areal perkebunan kelapa sawit terbatas dan tidak
212
I Wayan Mathius
cukup untuk mendukung penyediaan pakan hijauan secara berkelanjutan. Produk samping yang dihasilkan, baik yang berasal dari tanaman (Ishida dan Hassan 1997) maupun pengolahan buah kelapa sawit (Wan Zahari et al. 2003) berpotensi untuk dioptimalkan sebagai bahan pakan ruminansia, khususnya sapi potong. Produk samping asal kebun meliputi pelepah, daun, dan batang (Kawamoto et al. 2001). Populasi tanaman kelapa sawit dengan jarak tanam 9 m x 9 m adalah 143 tanaman/ ha. Namun kenyataannya jumlah tanaman kelapa sawit setiap hektar hanya mencapai 130 pohon. Variasi jumlah tanaman pokok disebabkan oleh kondisi wilayah yang berbeda-beda. Hasil pengamatan di PT Agricinal menunjukkan bahwa setiap pohon kelapa sawit dapat menghasilkan 22 pelepah/tahun dengan bobot pelepah per batang rata-rata 7 kg (Diwyanto et al. 2004). Jumlah ini setara dengan 20.000 kg (22 pelepah x 130 pohon x 7 kg) pelepah segar untuk setiap hektar dalam setahun. Total bahan kering pelepah yang dihasilkan dalam setahun mencapai 5.214 kg/ha (Tabel 4). Dengan asumsi luas perkebunan kelapa sawit yang telah berproduksi 60% dari luas tanam, dan luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia 4,02 juta ha (tahun 2008) maka jumlah bahan kering pelepah yang tersedia untuk dimanfaatkan mencapai 10.500.996 ton/tahun. Setiap pelepah dapat menyediakan 0,5 kg daun, yang setara dengan 658 kg bahan kering/ha/tahun (Tabel 4). Selain pelepah dan daun, batang kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan, namun dampaknya terhadap ternak belum banyak diketahui.
kelapa sawit adalah minyak sawit (crude palm oil, CPO), sementara hasil ikutannya adalah tandan kosong, serat perasan, lumpur sawit/solid, dan bungkil inti kelapa sawit. Liwang (2003) melaporkan setiap hektar tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan 4 ton CPO/tahun, yang diperoleh dari + 16 ton tandan buah segar (TBS) (Jalaludin et al. 1991). Selanjutnya, setiap 1 ton TBS menghasilkan 294 kg lumpur sawit, 35 kg bungkil kelapa sawit, dan 180 kg serat perasan. Jumlah tersebut dapat disetarakan dengan 1.132 kg lumpur sawit, 514 kg bungkil kelapa sawit, 2.681 kg serat perasan, dan 3.389 kg tandan kosong untuk setiap hektar per tahun (Tabel 4). Berdasarkan nilai tersebut maka hasil ikutan pengolahan buah kelapa sawit dari industri kelapa sawit di Indonesia mencapai 2.463.000 ton lumpur sawit, 1.026.000 ton bungkil kelapa sawit, 5.394.000 ton serat perasan, dan 6.818.000 ton tandan kosong. Mengacu pada nilai tersebut maka produksi bahan kering produk samping dari tanaman dan pengolahan kelapa sawit untuk setiap hektar dalam setahun mencapai 13.585 kg. Dengan asumsi luas tanaman yang telah menghasilkan adalah 60% (4,69 juta ha) maka jumlah produk samping yang dihasilkan hampir mencapai 64 juta ton. Jika diasumsikan hanya 60% produk samping industri kelapa sawit dapat dimanfaatkan maka jumlah ternak sapi yang dapat ditampung mencapai 12 juta ekor. Dengan demikian, daya tampung industri kelapa sawit melebihi populasi sapi potong yang ada di Indonesia saat ini.
Hasil Ikutan Pengolahan Buah Kelapa Sawit. Produk utama ekstraksi buah
Kandungan nutrien produk samping tanaman dan hasil ikutan industri peng-
NILAI NUTRISI PRODUK SAMPING INDUSTRI KELAPA SAWIT
213
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
Tabel 4. Produksi produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit untuk setiap hektar. Produksi Produk samping
Daun tanpa lidi Pelepah Tandan kosong Serat perasan Lumpur sawit, solid Bungkil kelapa sawit
Bahan segar (kg)
Bahan kering (%)
1.430 20.000 3.680 2.880 4.704 560
46,18 26,07 92,10 93,11 24,07 91,83
Total biomassa
Bahan kering (kg) 658 5.214 3.386 2.681 1.132 514 13.585
Asumsi: • Populasi tanaman 130 pohon/ha, • Produksi pelepah 22 pelepah/pohon/tahun, • Bobot pelepah 7 kg, • Bobot daun per pelepah 0,5 kg, • Tandan kosong 23% dari TBS, • Produksi minyak sawit 4 t/ha/tahun (Liwang 2003), • Tiap 1.000 kg TBS menghasilkan 250 kg minyak sawit, 294 kg lumpur sawit, 180 kg serat perasan, dan 35 kg bungkil kelapa sawit (Jalaludin et al. 1991).
olahan kelapa sawit telah dilaporkan oleh peneliti Malaysia (Jalaludin et al. 1991) dan Indonesia (Aritonang 1984; Mathius et al. 2004a). Kandungan dan kualitas nutrien produk samping tanaman kelapa sawit cukup rendah (Tabel 5) akibat tingginya kandungan serat kasar, namun kandungan karbohidrat dalam bentuk gula mudah larut cukup. Secara umum, kandungan nutrien produk samping tanaman kelapa sawit hampir setara dengan pakan hijauan atau produk samping tanaman pangan (Mathius et al. 1983). Sebagaimana produk samping pertanian, produk samping tanaman dan pengolahan kelapa sawit perlu diperlakukan secara khusus agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ternak, baik melalui perlakuan fisik (cacah, giling, tekanan uap), kimiawi (NaOH, urea), biologis (fermentasi) maupun kombinasinya.
Untuk meningkatkan konsumsi dan palatabilitas pelepah dan daun kelapa sawit perlu dilakukan pencacahan (Mathius et al. 2004b). Upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas nutrien pelepah kelapa sawit melalui amoniasi, pemberian molases, perlakuan alkali, pembuatan silase, tekanan uap tinggi, peletisasi, dan secara enzimatis telah dilakukan oleh para peneliti di Malaysia dan terbukti dapat meningkatkan kandungan nutrien pelepah. Pengawetan pelepah sawit dalam bentuk silase telah pula dilakukan tanpa mengubah kandungan nutrien maupun meningkatkan konsumsi (Wan Zahari et al. 2003). Lumpur sawit merupakan hasil ikutan ekstraksi minyak sawit dan mengandung air cukup tinggi. Produk samping ini dapat menimbulkan masalah lingkungan sehing-
214
I Wayan Mathius
Tabel 5. Komposisi nutrisi produk samping tanaman dan hasil ikutan pengolahan buah kelapa sawit. Bahan/produk samping Daun tanpa lidi Pelepah Solid/lumpur sawit Bungkil Serat perasan Tandan kosong
BK (%) 46,18 26,07 24,08 91,83 93,11 92,10
Abu PK SK L BETN Ca P GE ........................................ % BK ........................................ (kal/g) 13,40 5,10 14,40 4,14 5,90 7,89
14,12 3,07 14,58 16,33 6,20 3,70
21,52 50,94 35,88 36,68 48,10 47,93
4,37 1,07 14,78 6,49 3,22 4,70
46,59 39,82 16,36 28,19 -
0,84 0,96 1,08 0,56 0,24
0,17 0,08 0,25 0,84 0,04
4.461 4.841 4.082 5.178 4.684 3.367
Sumber: Mathius et al. (2004a).
ga upaya untuk mengatasinya dilakukan dengan mengurangi kandungan air lumpur sawit untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan pakan. Produk hasil pemisahan lumpur sawit dari airnya disebut solid atau blondo (Jawa). Solid mengandung protein kasar 14% dari bahan kering. Upaya untuk meningkatkan kandungan nutrien solid telah pula dilakukan dengan fermentasi secara aerob. Proses tersebut dapat meningkatkan kandungan protein kasar dan energi masing-masing menjadi 43,4% dan 2,34 kkal EM/g (Yeong et al. 1983). Fermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger telah dilakukan oleh para peneliti Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor, dan dilaporkan dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 12,21% menjadi 24,5%, sementara kandungan energi metabolis meningkat dari 1,6 menjadi 1,7 kkal/g (Pasaribu et al. 1998; Sinurat et al. 1998; Purwadaria et al. 1999). Namun, teknologi fermentasi tersebut masih perlu disempurnakan agar dapat diterapkan pada skala lapang (Sinurat et al. 2004). Bungkil kelapa sawit mengandung nutrien dan nilai biologis yang tinggi sehingga sangat berpotensi sebagai pakan ternak. Tandan kosong dan serat perasan
juga berpotensi sebagai bahan pakan, namun belum banyak dimanfaatkan karena mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Upaya meningkatkan nilai nutrien produk samping tersebut untuk pakan ternak ruminansia belum banyak dilakukan, dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos. Pengolahan pelepah sawit sacara kimiawi dengan menggunakan 8% sodium hidroksida (NaOH) dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dari 43,2% menjadi 58% (Jalaludin et al. 1991). Penggunaan sodium hidroksida hingga 12% maupun perlakuan fisik (tekanan uap), kombinasi perlakuan NaOH dengan tekanan uap menurunkan tingkat kecernaan bahan kering. Belum diketahui alasan yang kuat mengapa perlakuan tersebut dapat menurunkan tingkat kecernaan bahan kering.
PEMANFAATAN PRODUK SAMPING INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK SAPI POTONG Produk samping tanaman dan hasil ikutan pengolahan buah kelapa sawit belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya sebagai bahan dasar ransum ternak ruminansia (Noel 2003). Sebagian besar produk
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
samping tersebut mengandung serat kasar cukup tinggi. Oleh karena itu, bila diberikan secara tunggal kepada ternak ruminansia dapat menyebabkan ternak kekurangan pasokan nutrien. Menyadari hal tersebut, para peneliti berupaya untuk meningkatkan nilai nutriennya dengan berbagai cara (Jalaludin et al. 1991). Ditinjau dari kandungan nutrien, pelepah kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber atau pengganti pakan hijauan yang umum diberikan sebagai bahan dasar pakan (Hassan dan Ishida 1992), sementara Mathius et al. (2004a) membatasi jumlah pemberian pelepah maksimal 33% dari total kebutuhan bahan kering untuk sapi Bali. Selanjutnya studi awal yang dilakukan Hassan dan Ishida (1992) pada sapi Kedah Kalantan menunjukkan bahwa tingkat kecernaan bahan kering pelepah dapat mencapai 45%. Upaya Wan Zahari et al. (2003) untuk meningkatkan nilai nutrien dan biologis pelepah melalui pembuatan silase dengan menambahkan urea atau molases belum memberikan hasil yang signifikan, tetapi nilai nutrien cenderung meningkat. Namun pemberiannya disarankan tidak melebihi 30%. Untuk meningkatkan konsumsi dan kecernaan pelepah dapat dilakukan dengan menambahkan produk ikutan pengolahan buah kelapa sawit. Penampilan sapi yang diberi pelepah segar atau silase dalam bentuk kubus cukup menjanjikan. Pemberian tepung pelepah dalam bentuk pelet tidak disarankan karena ukurannya terlalu kecil, sehingga waktu tinggal pelet dalam saluran pencernaan menjadi singkat dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ternak. Untuk mengoptimalkan penggunaan pelepah kelapa sawit, pemotongan menjadi bentuk kubus (1-2 cm3) lebih disarankan. Pemberian pelepah sebagai bahan dasar
215
ransum dalam jangka panjang menghasilkan kualitas karkas yang baik. Daun kelapa sawit juga dapat digunakan sebagai pengganti pakan hijauan. Namun, pemanfaatan daun kelapa sawit sebagai pakan memiliki kelemahan dalam penyediaannya, yaitu adanya lidi sehingga menyulitkan ternak dalam mengkonsumsinya. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pencacahan yang dilanjutkan dengan pengeringan, penggilingan untuk selanjutnya diberikan kepada ternak dalam bentuk pelet atau balok. Tandan kosong mengandung serat kasar yang tinggi, yang diindikasikan dengan kandungan serat detergen asam (ADF) yang mencapai 61%, serta memiliki nilai biologis yang rendah. Oleh karena itu, pemanfaatannya disarankan dicampur dengan bahan pakan yang berkualitas. Penggunaannya dalam ransum sapi berkisar antara 30-50% dan harus dicacah terlebih dahulu agar ukurannya layak dikonsumsi (+ 2 cm). Serat perasan merupakan hasil ikutan ekstraksi minyak sawit, dan mengandung protein kasar 6% dan serat kasar 48%. Hassan dan Ishida (1992) melaporkan bahwa kemampuan ternak untuk mengkonsumsi serat perasan cukup rendah karena nilai kecernaannya juga rendah, hanya 2430%. Upaya untuk meningkatkan nilai nutrien dan biologis serat perasan dengan perlakuan kimia (alkali) dan fisik (tekanan tinggi) kurang memberikan manfaat yang berarti, sehingga pemanfaatan serat perasan untuk pakan belum dapat disarankan. Lumpur sawit mengandung protein kasar 12-14%, namun kandungan air yang tinggi (75%) menyebabkan produk samping ini kurang disukai ternak. Kandungan energi yang rendah dengan abu yang tinggi menyebabkan lumpur sawit tidak dapat
216
digunakan secara tunggal sebagai pakan. Upaya untuk meningkatkan kandungan nutrien dan biologis lumpur sawit melalui fermentasi memberi peluang pemanfaatan produk samping tersebut sebagai pakan ternak ruminansia. Namun, jumlah pemberiannya yang aman belum diketahui dengan pasti. Pemberian lumpur sawit dikombinasikan dengan bungkil kelapa sawit memberikan respons positif pada ternak sapi (Jalaludin et al. 1991). Bungkil inti kelapa sawit merupakan produk samping yang berkualitas karena mengandung protein kasar cukup tinggi, yakni 16-18%, sementara kandungan serat kasarnya 36%. Pemanfaatan bungkil dengan penambahan produk samping lainnya perlu dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan bungkil sebagai pakan ternak sapi. Uraian di atas memperlihatkan bahwa hampir seluruh produk samping tanaman dan hasil ikutan pengolahan buah kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak ruminansia, meskipun pemberian secara tunggal tidak disarankan. Kelemahan salah satu produk samping dapat dilengkapi dengan kelebihan produk samping lainnya. Imbangan setiap bagian produk samping dalam pakan lengkap belum diketahui dengan pasti. Hasil penelitian awal pada sapi Bali belum mampu menjawab permasalahan tersebut, meskipun imbangan pelepah, solid, dan bungkil kelapa sawit 1 : 1 : 1 (dasar bahan kering) mampu memenuhi kebutuhan hidup pokok sapi Bali. Sapi Bali muda (umur 1,5 tahun) yang digunakan dalam penelitian baru didatangkan dari daerah yang bukan berbasis perkebunan kelapa sawit. Oleh karena itu, hasil penelitian saat itu baru dapat menunjukkan bahwa ternak sapi dapat memanfaatkan pelepah, solid, dan bungkil kelapa sawit sebagai bahan utama
I Wayan Mathius
pakan dengan fase adaptasi yang cukup lama (+ 3 bulan). Hal tersebut tercermin pada penampilan ternak yang kurang memuaskan pada 3 bulan pertama. Uji biologis pakan yang tersusun dari campuran produk samping kelapa sawit pada sapi telah dilakukan oleh Mathius et al. (2004a). Ransum dengan imbangan 1/3 bagian cacahan daging pelepah, 1/3 bagian solid, dan 1/3 bagian bungkil inti kelapa sawit memberikan hasil terbaik, meskipun belum optimal (pertambahan bobot hidup harian 0,338 kg). Rendahnya tingkat konsumsi solid karena tingginya kandungan air bahan sehingga menurunkan tingkat palatabilitas. Salah satu upaya untuk meningkatkan palatabilitas solid adalah melalui fermentasi. Fermentasi secara aerobik dengan Aspergillus niger telah dilakukan Sinurat et al. (2004). Dilaporkan bahwa kandungan protein kasar produk fermentasi tersebut meningkat menjadi 22,1% (dasar bahan kering), sementara kandungan energi bruto bertambah menjadi 3.804 kal/g (Mathius et al. 2005). Namun, teknologi fermentasi tersebut masih memerlukan penyempurnaan. Solid segar yang dihasilkan oleh decanter masih mengandung air cukup tinggi (sekitar 75%) sehingga proses fermentasi tidak efektif. Pada kondisi seperti itu, bakteri pembusuk akan mudah tumbuh. Kadar air sangat berpengaruh terhadap keberhasilan fermentasi. Kandungan air substrat lebih dari 60% menghasilkan produk yang kurang baik (Sinurat et al. 2004). Pengkajian fermentasi campuran solid-bungkil dengan kandungan air yang berbeda menunjukkan terjadinya kehilangan bahan kering selama proses fermentasi, sementara kandungan protein kasarnya juga berbeda (Tabel 6). Kehilangan bahan kering selama proses fermentasi disebabkan mikroorganisme menggunakan sub-
217
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
Tabel 6. Kehilangan bahan kering produk fermentasi. Kadar bahan kering substrat awal (%) 50 45 40 24*
Bahan kering produk fermentasi (%)
Kehilangan bahan kering (%)
Kadar protein kasar (%)
62,62 54,25 45,94 -
18,74 18,70 36,43 -
19,30 20,66 18,67 -
*Proses fermentasi gagal, dan ditumbuhi oleh kapang pengganggu.
strat untuk berkembang biak dan menghasilkan air dan karbon dioksida sebagai sisa metabolisme. Oleh karena itu, kehilangan bahan kering dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan mikroorganisme dalam substrat. Pada penelitian ini, kehilangan bahan kering tertinggi tercapai pada substrat dengan kadar air awal 60%, sedangkan kadar proteinnya tidak berbeda. Meskipun demikian, perlakuan kadar air 60% adalah yang terbaik karena protein sejati (protein kasar minus protein terlarut) yang ada pada produk lebih tinggi dari produk kedua perlakuan lainnya. Kandungan protein produk fermentasi yang diperoleh pada percobaan ini (Tabel 7) lebih rendah dibanding yang dilaporkan Sinurat et al. (1998). Oleh karena itu, penyempurnaan proses fermentasi perlu dilakukan. Produk fermentasi cukup baik digunakan sebagai sumber protein dalam penyusunan konsentrat pakan sapi. Umumnya konsentrat sapi hanya mengandung protein sekitar 14%. Dengan demikian, produk fermentasi perlu dicampur dengan bahan lain seperti lumpur sawit segar, bungkil inti sawit dan/atau serat perasan untuk mencapai kadar protein ransum yang diinginkan. Dengan asumsi bahwa kualitas produk fermentasi dapat meningkat dua kali dari
bahan bakunya maka jumlah ternak yang dapat diberi produk fermentasi menjadi dua kali pula. Pengujian lebih lanjut terhadap kandungan nutrien produk fermentasi dari imbangan terbaik, yakni dengan kadar bahan kering 40%, menunjukkan hasil sebagaimana tertera pada Tabel 7. Selanjutnya imbangan ini digunakan sebagai bahan pada uji biologis pada ternak sapi. Hasil pengujian biologis produk fermentasi dibandingkan dengan konsentrat komersial menunjukkan bahwa ternak tidak mengalami gangguan pencernaan. Substitusi solid tanpa fermentasi dengan produk fermentasi meningkatkan nafsu makan ternak (Tabel 8). Sapi yang mendapat pakan solid fermentasi memberikan respons yang positif dan konsumsi bahan kering meningkat (2,4% vs 3,04% bobot hidup). Peningkatan jumlah pemberian solid terfermentasi hingga 66% justru menurunkan konsumsi bahan kering. Pola konsumsi protein kasar dan energi mengikuti pola konsumsi bahan kering. Ternak sapi yang mendapatkan ransum yang tersusun dari solid terfermentasi mengkonsumsi lebih banyak protein dan energi. Konsekuensi dari tingkat konsumsi ransum, yang sekaligus mempengaruhi konsumsi nutrien lainnya, terutama protein
218
I Wayan Mathius
Tabel 7. Kandungan nutrien bungkil inti sawit, lumpur sawit dan produk fermentasinya. Uraian Bahan kering Protein kasar Protein sejati Lemak Abu Serat kasar Kalsium Fosfor Energi total (kal/g)
Bungkil inti sawit
Lumpur sawit
12,20 13,59 9,60 3,50 21,70 0,36 0,71 4.408
Produk fermentasi
11,94 10,94 10,40 28,65 29,76 0,74 0,46 3.260
22,10 19,74 18,56 25,85 18,60 1,24 0,65 3.804
Tabel 8. Konsumsi dan pertambahan bobot hidup harian sapi dengan berbagai perlakuan pakan limbah sawit. Parameter Konsumsi BK (kg/e) Pelepah Solid Solid fermentasi Bungkil kelapa sawit Konsentrat Total % bobot hidup Konsumsi (g/e) Protein kasar Serat kasar Energi total (kkal) Bahan organik PBHH (g/hari) Efisiensi konsumsi penggunaan pakan R1 R2 R3 R4
: : : :
R1
R2
R3
R4
1,84 2,88 4,72 3,19
1,28 0,46 1,27 3,55 2,43
1,79 1,25 1,74 4,75 3,04
1,74 1,84 3,58 2,33
373,40 1.677 11.106 3.632 354 11,36
290,40 1348,20 15.972 2.994,50 310 9,93
536,70 823,97 19.284 3.692,65 582 7,04
440,55 1.152,50 14.544 2.869,50 474 7,09
pelepah + konsentrat komersial pelepah + solid tanpa fermentasi + bungkil inti sawit pelepah + solid fermentasi + bungkil inti sawit pelepah + solid fermentasi
kasar dan energi, adalah pertambahan bobot hidup harian. Laju pertambahan bobot hidup harian pada penelitian ini berkisar antara 0,310-0,582 kg/hari (Tabel 8), lebih tinggi dari yang dilaporkan Sudana (1992) dengan kisaran 0,089-0,208
kg/hari. Hasil pengamatan Panjaitan et al. (2003) terhadap penampilan sapi Bali pada kondisi lapang di daerah NTB selama 3 tahun menunjukkan bahwa pertambahan bobot hidup anak sapi Bali yang belum disapih adalah 0,410 + 0,11 kg/ekor/hari,
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
sementara pertambahan bobot hidup harian sapi Bali muda/pascasapih 0,23 + 0,11 kg. Nilai tersebut lebih rendah dibanding yang diperoleh pada penelitian ini. Nilai pertambahan bobot hidup harian pada sapi yang mendapat ransum solid tanpa fermentasi (0,310 kg) adalah yang terendah, dan yang tertinggi diperoleh pada sapi yang mendapat ransum yang tersusun dari 33% produk terfermentasi (0,582 kg), dan berbeda dengan pertambahan bobot hidup harian sapi yang diberi ransum yang tersusun dari 66% produk fermentasi (0,474 g). Hasil penelitian ini juga menunjukkan, tingkat efisiensi penggunaan pakan/ransum terbaik diperoleh pada ternak yang mendapat ransum solid 33%, dengan nilai 7,04, dan yang terendah pada sapi yang mendapat ransum komersial, yakni 11,36. Mengacu pada data yang diperoleh, diyakini bahwa ternak sapi dapat dikembangkan dengan mengandalkan produk samping industri kelapa sawit (Mathius et al. 2004b). Dengan kata lain, produk samping industri kelapa sawit dapat diandalkan sebagai sumber utama pakan sapi.
MODEL PENGEMBANGAN USAHA SAPI POTONG DI TINGKAT LAPANG Pakan yang dapat disediakan oleh industri perkebunan kelapa sawit bersumber pada dua lokasi, yaitu: (1) kebun kelapa sawit, yang dapat menyediakan bahan baku utama berupa vegetasi alam, pelepah, dan daun; dan (2) pabrik kelapa sawit yang dapat menyediakan pakan tambahan berupa solid dan bungkil inti sawit. Produk ikutan pengolahan buah sawit dapat disediakan dalam bentuk seadanya (segar)
219
maupun dalam bentuk olahan yang diperkaya kandungan nutriennya melalui fermentasi. Proses pengkayaan dapat dilakukan oleh perusahaan atau pihak lain, seperti koperasi perusahaan, yang selanjutnya bertindak menjadi pemasok. Diharapkan pemasok memperoleh nilai tambah dari penjualan produk kepada pengguna. Didasarkan pada pertimbangan kesesuaian daya dukung wilayah (pakan), ketersediaan tenaga kerja, serta sarana dan prasarana maka pendekatan dalam upaya pengembangan sapi potong di kawasan industri kelapa sawit dapat dikelompokkan dalam dua model, yaitu: (1) model usaha perbanyakan, penyediaan bakalan, dan bibit sapi potong; dan (2) model pembesaran dan penggemukan sapi potong. Model pertama dapat dilakukan pada tingkat para pemanen pada kebun inti dan petani plasma pada kebun binaan, sedangkan model kedua dapat dijalankan oleh perusahaan atau koperasi perusahaan.
Model Usaha Perbanyakan dan Penyediaan Sapi Potong Bakalan Terbatasnya luas lahan garapan para pemanen atau petani-kebun maka usaha cow-calf operation sebaiknya diterapkan dengan jumlah ternak terbatas, yakni 2 ekor sapi potong/ha kebun kelapa sawit. Dengan demikian, petani-kebun dengan lahan garapan 2-4 ha dapat memelihara 4-8 ekor sapi potong, sementara pemanen (karyawan) dengan luas ancak/olahan 1015 ha dapat memelihara 20-30 ekor sapi potong. Untuk menekan biaya produksi, baik biaya tenaga kerja maupun penyediaan pakan, khususnya pakan hijauan, maka pola pemeliharaan sebaiknya dilakukan secara semi-intensif, yaitu ternak dikan-
220
dangkan pada malam hari dan digembalakan secara terbatas (dengan pengawasan/diikat) pada siang hari. Agar daya dukung pakan hijauan lokal tersedia sepanjang tahun maka penggembalaan harus diatur. Defoliasi yang berlebihan dapat terjadi, sehingga keseimbangan vegetasi yang ada harus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan untuk menghindari kerusakan kebun akibat kelebihan daya tampung (over-grazing). Pemberian pakan yang bersumber hanya dari pelepah-daun kelapa sawit, vegetasi alam, dan produk samping tanaman pangan belum mampu memenuhi kebutuhan nutrien sapi potong sehingga akan mengganggu siklus reproduksi dan produksi. Oleh karena itu, ternak perlu mendapat pakan tambahan hasil ikutan pengolahan kelapa sawit. Dengan pengaturan sistem perkawinan yang terarah, para pemanen/petani-kebun dapat menjual ternak bakalan berumur 1-1,5 tahun secara periodik dan berkelanjutan mulai pada tahun kedua atau ketiga. Jumlah ternak yang dijual bergantung pada jumlah kepemilikan ternak dan jumlah ternak betina yang dimiliki. Pengeluaran sapi jantan anak diarahkan sebagai sapi bakalan untuk pembesaran dan penggemukan. Diharapkan pihak perusahaan atau yang ditunjuk dapat menampung sapi bakalan untuk selanjutnya dibesarkan, digemukkan, dan dipasarkan. Sapi betina anak dapat didistribusikan kembali ke pemanen/petanikebun untuk dijadikan calon induk. Pola yang diterapkan di tingkat pemanen/petani-kebun tersebut dapat pula diarahkan sebagai sumber bibit sapi potong. Dengan sistem pendataan yang baik, diyakini program tersebut dapat diarahkan untuk penyediaan sapi potong bibit.
I Wayan Mathius
Model Usaha Pembesaran dan Penggemukan Kontinuitas pengadaan sapi bakalan dari model perbanyakan dan penyediaan bakalan sangat menentukan keberadaan usaha pembesaran dan penggemukan sapi potong. Untuk itu dibutuhkan ketersediaan pakan yang berkelanjutan, sumber daya manusia yang terampil, serta sarana dan prasarana yang memadai. Ketersediaan pakan tidak hanya dalam bentuk hijauan sebagai pakan pokok, tetapi juga bahan pakan tambahan agar kebutuhan ternak akan nutrien terpenuhi. Pakan tambahan dapat disusun dari hasil ikutan industri kelapa sawit yang telah diperkaya kandungan nutriennya dan dilengkapi dengan pakan imbuhan sebagai sumber mineral dan vitamin. Untuk memudahkan dalam tata laksana harian pengelolaan usaha tersebut, maka pengembangan model pembesaran dan penggemukan sebaiknya diarahkan ke daerah di sekitar pabrik pengolahan kelapa sawit. Hasil ikutan solid dan bungkil inti kelapa sawit merupakan komponen penting bahan pakan sumber protein dan energi. Hasil ikutan yang telah diperkaya kandungan nutriennya dapat diformulasikan sebagai bahan pakan tambahan sehingga pemberian pakan lengkap, dalam arti cukup jumlah dan baik kualitasnya, dapat dipenuhi dan bobot hidup siap potong dapat tercapai dalam waktu tertentu. Dengan asumsi konsumsi bahan kering untuk sapi potong sebanyak 4% dari bobot hidup, dan kapasitas produksi produk samping dan hasil ikutan industri pengolahan kelapa sawit diketahui, maka daya tampung ternak untuk pembesaran dan penggemukan dalam suatu wilayah industri dapat dihitung.
221
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian pakan yang tersusun dari pelepah kelapa sawit, solid yang diperkaya, dan bungkil inti kelapa sawit dapat meningkatkan pertambahan bobot hidup harian sebesar 0,6 kg/hari (Mathius et al. 2005). Sementara pemberian cacahan pelepah ditambah solid yang belum diperkaya dan bungkil inti kelapa sawit hanya memberikan pertambahan bobot hidup harian 0,34 kg (Mathius et al. 2004a). Pemeliharaan sapi secara tradisional hanya mampu menghasilkan pertambahan bobot hidup sapi prasapih 0,21-0,41 kg/hari (Bamualim dan Wirdahayati 2003; Panjaitan et al. 2003) dan pada sistem feedlot 0,40 kg/ hari (Oka 2003). Sapi Bali pascasapih dengan kondisi pemeliharaan tradisional di NTT mampu memberikan pertambahan bobot hidup harian 0,21 kg (Bamualim dan Wirdahayati (2003), sementara di NTB mampu tumbuh 0,23 kg/hari (Panjaitan et al. 2003). Untuk efisiensi pemanfaatan pakan maka penyediaan dan pemberian pakan perlu diperhitungkan sebaik mungkin agar dapat memenuhi kebutuhan harian ternak (konsumsi bahan kering 4% dari bobot hidup). Hal ini juga untuk mencegah pemborosan pemberian pakan, terutama bila perbedaan bobot hidup individu sapi dalam suatu kelompok cukup besar. Perubahan yang terjadi setiap hari pada masingmasing ternak perlu mendapat perhatian sehingga diperlukan sumber daya manusia yang terampil. Sistem pemeliharaan secara intensif mengharuskan pengelolaan yang profesional sehingga model ini disarankan dilakukan oleh badan usaha/anak perusahaan (seperti koperasi), yang sekaligus dapat bertindak sebagai inti usaha sapi potong.
PENUTUP Untuk memenuhi permintaan daging perlu diupayakan penyediaan dan pemberian pakan yang memadai agar produktivitas sapi potong dapat ditingkatkan. Sapi potong dapat mengubah pakan berserat menjadi sumber pangan yang berkualitas. Produk samping tanaman pertanian belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya produk samping perkebunan dan hasil ikutan industri kelapa sawit. Dengan inovasi teknologi yang ada, pemanfaatan limbah dan produk samping industri kelapa sawit dapat meningkatkan pertambahan bobot hidup harian sapi potong hingga 72% atau 0,60 kg. Jika diasumsikan luas lahan perkebunan kelapa sawit (di luar Pulau Jawa dan Bali) yang sedang berproduksi 2.014.000 ha (tahun 2002) maka industri kelapa sawit dapat menampung + 8,5 juta satuan ternak. Dengan demikian, populasi sapi potong yang ada di Indonesia dapat ditampung oleh industri kelapa sawit. Pada saat ini baru 51% populasi sapi potong berada di luar Pulau Jawa dan Bali. Oleh karena itu, perlu pemikiran lebih lanjut dalam penentuan kebijakan penetapan kawasan industri pengembangan, terutama dikaitkan dengan skala kepemilikan/pengelolaan sapi potong yang lebih banyak jumlahnya. Mengacu pada pola kepemilikan perkebuan kelapa sawit (rakyat, swasta dan BUMN), pola usaha sapi potong yang disarankan adalah: (1) pola usaha penyediaan bakalan dan perbanyakan bibit, dan (2) pola pembesaran dan penggemukan. Pola kedua membutuhkan perhatian yang lebih banyak, terutama penyediaan pakan, sehingga pola ini harus dilakukan secara
222
I Wayan Mathius
intensif. Dalam tata laksana keseharian, sebaiknya pola ini dikelola dalam bentuk kelompok dan/atau oleh perusahaan inti/ koperasi. Untuk mendapat hasil yang memuaskan, kedua pola ini perlu dilakukan seiring-sejalan secara simultan. Jika kedua pola ini berjalan berdampingan, diyakini produktivitas sapi potong dapat ditingkatkan dan sekaligus memberi nilai tambah bagi industri kelapa sawit. Dengan perkataan lain, pendapatan per satuan luas lahan perkebunan kelapa sawit dapat meningkat.
DATAR PUSTAKA Aritonang, D. 1984. Pengaruh Pemberian Bungkil Inti Sawit dalam Ransum Babi yang Sedang Tumbuh. Disertasi. Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bamualim, A. and R.B. Wirdahayati. 2003. Nutrition and management strategies to improve Bali cattle in eastern Indonesia. In K. Entwistle and D.R. Lindsay (Eds.). Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern Indonesia. ACIAR Proc. No. 110: 17-22. BPS. 2003. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. Chen, C.P. 1990. Management of forage for animal production under tree crops. p. 10-23. Proc. Integrated Tree Cropping and Small Ruminant Production System. SR-CRSP. Univ. California Davis, USA. Chen, C.P., H.K. Wong, and I. Dahlan. 1991. Herbivores and plantation. p. 71-81. In Recent Advances on the Nutrition of Herbivores. Selangor-Malaysia. MSAP. Departemen Pertanian. 2005. Rencana Pembangunan Pertanian Tahun 20052009. Departemen Pertanian, Jakarta.
Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. 2003. Buku Statistik Peternakan 2003. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Jakarta. Diwyanto, K., D. Sitompul, I. Manti, I.W. Mathius, dan Soentoro. 2004. Pengkajian pengembangan usaha sistem integrasi kelapa sawit-sapi. hlm. 11-22. Dalam Setiadi et al. (Ed.). Prosiding Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pemerintah Provinsi Bengkulu dan PT Agricinal. Fitzhugh, G.H., H.J. Hodgson, O.J. Scoville, T.D. Nguyen, and T.C. Byerly. 1978. The Role of Ruminants in Support of Man. Winrock International, Arkansas USA. Fold, N. 2003. Oil palm: Market and trade. Burotrop Bull. 19: 11-13. Fordyce, G., T. Panjaitan, Muzani, and D. Poppi. 2003. Management to facilitate genetic improvement of Bali cattle in eastern Indonesia. In K. Entwistle and D.R. Lindsay (Eds.). Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern Indonesia. ACIAR Proc. No. 110: 23-28. Gongal, G.N. 1996. Aspects of the focal theme. Anim. Res. Dev. 43/44: 9-14. Hassan, O.A. and M. Ishida. 1992. Status of utilization of selected fibrous crop residues and animal performance with special emphasis on processing of oil palm frond (OPF) for ruminant feed in Malaysia. Trop. Agric. Res. Series 24: 135-143. Ishida, M. and O.A. Hassan. 1997. Utilization of oil palm frond as cattle feed. JARQ 31: 41-47. Jalaludin, S., Y.W. Ho, N. Abdullah, and H. Kudo. 1991. Strategies for animal improvement in Southeast Asia. In
Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit
Utilization of Feed Resources in Relation to Utilization and Physiology of Ruminants in the Tropics. Trop. Agric. Res. Series 25: 67-76. Jaya, U. 1999. Daging sapi Indonesia berpeluang ekspor. Semai 2(3): 6-9. Kawamoto, H., M. Wan Zahari, N.I. Mohd Shukur, M.S. Mohd Ali, Y. Ismail, and S. Oshio. 2001. Palatability, digestibility and voluntary intake of processed oil palm fronds in cattle. JARQ 35(3): 195-200. Laconi, E.B. 1998. Peningkatan Mutu Pod Kakao Melalui Amoniasi dengan Urea dan Fermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium serta Penjabarannya ke dalam Formulasi Ransum Ruminansia. Disertasi Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Liwang, T. 2003. Palm oil mill effluent management. Burotrop Bull. 19: 38. Mathius, I-W., M. Rangkuti, dan L.P. Batubara. 1983. Pemanfaatan jerami kacang tanah sebagai pakan domba. hlm. 143-151. Prosiding Seminar Pemanfaatan Limbah Pangan dan Limbah Pertanian untuk Makanan Ternak. Lembaga Kimia Nasional LIPI Bandung. Mathius, I-W., J.E. van Eys, M. Rangkuti, N. Thomas, dan W.L. Johnson. 1984. Karakteristik sistem pemeliharaan ternak ruminansia kecil di Jawa Barat: Aspek makanan. hlm. 37-41. Prosiding Domba dan Kambing di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Mathius, I-W., D. Sitompul, B.P. Manurung, dan Azmi. 2004a. Produk samping tanaman dan pengolahan kelapa sawit sebagai bahan pakan ternak sapi potong: Suatu tinjauan. hlm. 120-128. Prosiding Lokakarya Nasional Sistem In-
223
tegrasi Kelapa Sawit-Sapi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pemerintah Provinsi Bengkulu dan PT Agricinal. Mathius, I-W., Azmi, B.P. Manurung, D.M. Sitompul, dan E. Priyatomo. 2004b. Integrasi sapi-sawit: Imbangan pemanfaatan produk samping sebagai bahan dasar pakan. hlm. 439-446. Prosiding Sistem Integrasi Tanaman-Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali dan CASREN. Mathius, I-W., A.P. Sinurat, B.P. Manurung, D.M. Sitompul, dan Azmi. 2005. Pemanfaatan produk fermentasi lumpur-bungkil sebagai bahan pakan sapi potong. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Moran, J.B. 1979. The performances of Indonesian breeds of cattle in Indonesia when fed high concentrate diets. Mimeo Report. Center for Animal Researh and Development, Bogor. Noel, J.M. 2003. Processing and byproducts. Burotrop Bull. 19: 8. Oka, L. 2003. Performance of Bali cattle heifers and calves prior to weaning in the feedlot system. In K. Entwistle and D.R. Lindsay (Eds.). Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern Indonesia. ACIAR Proc. No. 110: 14-16. Panjaitan. T., G. Fardyce, and D. Poppi. 2003. Bali cattle performance in dry tropics of Sumbawa. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 8(3): 183-188. Pasaribu, T., A.P. Sinurat, T. Purwadaria, Supriyati, dan H. Hamid. 1998. Peningkatan nilai gizi lumpur sawit melalui proses fermentasi: Pengaruh jenis kapang, suhu dan lama proses enzi-
224
matis. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3(4): 237-242. Purwadaria, T., A.P. Sinurat, Supriyati, H. Hamid, dan I.A.K. Bintang. 1999. Evaluasi nilai gizi lumpur sawit fermentasi dengan Aspergillus niger setelah proses pengeringan dengan pemanasan. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 4(4): 257-263. Sinurat. A.P., T. Purwadaria, J. Rosida, H. Surachman, H. Hamid, dan I P. Kompiang. 1998. Pengaruh suhu ruang fermentasi dan kadar air substrat terhadap nilai gizi produk fermentasi lumpur sawit. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3(4): 225-229. Sinurat AP., T. Purwadaria, I-W. Mathius, D.M. Sitompul, dan B.P. Manurung. 2004. Integrasi sapi-sawit: Upaya pemenuhan gizi sapi dari produk samping. hlm. 424-429. Prosiding Seminar Sistem Integrasi TanamanTernak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali dan CASREN. Sudana, I.B. 1992. Urea mollases block supplement for Bali cattle fed on rice straw basal diet. p. 184-187. In M.N.M. Ibrahim., R.de Jong, J. van Bruchem, and H. Purnomo (Eds.). Livestock and Feed Development in the Tropics. Malang. Sutrisno, D. Adisuwiryo, Munadi, dan Sudjadi. 1978. Heat tolerance pada sapi peranakan dan Ongole di Kabupaten Banyumas. Prosiding Seminar Ruminansia No. 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
I Wayan Mathius
Thalib, C., K. Entwistle, A. Siregar, S. Budiarti-Turner, and D. Lindsay. 2003. Survey of population and production dynamics of Bali cattle and existing breeding programs in Indonesia. In. K. Entwistle and D.R. Lindsay (Eds.). Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern Indonesia. ACIAR Proc. No. 110: 3-9. Tillman, A.D. 1983. Animal Agriculture in Indonesia. Winrock International, Arkansas, USA. Trikesowo, N. 2004. Peluang dan Kendala Pengembangan Agribisnis Peternakan Sapi. Lokakarya Intern. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Wan Zahari, M., O.B. Hassan, H.K. Wong, and J.B. Liang. 2003. Utilization of oil palm frond-based diets for beef cattle production in Malaysia. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 16(4): 625-634. Whiteman, P.C. 1980. Tropical Pasture Science. Oxford University Press, Oxford. Yeong, S.W., T.K. Mukherjee, M. Faizah, and M.D. Azizah. 1983. Effect of palm oil by-product-based diets on reproductive performance of layers including residual effect on offspring. Phil. J. Vet. Anim. Sci. IX(1-4): 93-100. Zarate, A.V. 1996. Breeding strategies for marginal regions in the tropics and subtropics. Anim. Res. Dev. 43/44: 99118.