BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep Kaji-Tindak Partisipatif Perbaikan Status Kesehatan bagi Tokoh Masyarakat di Desa Batur dalam Upaya Peningkatan Kesehatan Dalam penelitian kaji-tindak partisipatif peningkatan status kesehatan tokoh masyarakat di desa Batur maka diajukan Kerangka Konsep Kaji Tindak sebagai berikut:
Persiapan Sosial Intervensi
Tekanan darah tinggi Kadar asam urat tinggi Kadar kolestreol tinggi Kadar gula darah tinggi
Rencana
Aksi
Refleksi
Dokumentasi Proses
22
1. Memberikan pemahaman baru bagi para tokoh masyarakat bagaimana menjaga pola makan yang dikonsumsi termasuk mengetahui komplikasi atau tingkatan penyakit lebih berbahaya yang bisa saja terjadi apabila indikasi tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kadar kolestrol tinggi, serta kadar asam urat tinggi tidak di atasi dengan segera. 2. Penkes kunjungan rumah yaitu untuk mencegah dan menanamkan perilaku yang benar dalam menekan munculnya indikasi seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kadar kolestrol tinggi, serta kadar asam urat tinggi.
23 Keterangan: Intervensi Berprinsip pada: 1. Penkes
tentang
kesadaran
para
peningkatan tokoh
pemahaman
masyarakat
dan dalam
meningkatkan status kesehatan melalui perubahan perilaku kesehatan ke arah yang lebih baik dengan menghindari maupun membatasi konsumsi makanan tertentu yang menjadi pemicu terjadinya gangguan metabolik (tekanan darah tinggi, asam urat tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi). 2. Pendidikan kesehatan mencakup pengaturan pola makan semestinya sesuai diit salah satu indikator gangguan
metabolik
yang
diderita
serta
mengupayakan pencegahan terjadinya penyakit, seperti: hipertensi, hipertrigliserida, hiperurisemia, serta diabetes. 3.2 Desain Penelitian Penelitian dalam upaya perbaikan status kesehatan ketiga belas tokoh masyarakat di Desa Batur adalah penelitian kaji-tindak partisipatif (participatory research action). Dalam pendekatan ini, peneliti bersama-sama tokohtokoh masyarakat di Desa Batur Kecamatan Getasan berpartisipasi dalam siklus kaji tindak, yakni selama 2 siklus
24 rencana-aksi-refleksi. Selain itu, peranan dari peneliti partisipatif dalam desain penelitian ini adalah: (i) Memahami dengan jelas konsep maupun tindakan intervensi yang diusulkan dan yang akan dinegosiasikan kepada tokoh masyarakat di Desa Batur pada saat diskusi (sharing) kunjungan rumah. (ii) Melakukan proses dokumentasi mengenai action yang disepakati, dengan mencatat respons dan perubahan pemahaman, sikap, dan tindakan, serta bentuk partisipasi setiap tokoh masyarakat pada program intervensi dalam upaya perbaikan status kesehatan terkait parameter-parameter
indikator
gangguan
metabolik
(tekanan darah tinggi, asam urat tinggi, gula darah, dan kolesterol tinggi). 3.3 Intervensi Intervensi dalam penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki status kesehatan tokoh masyarakat yaitu peneliti melakukan kunjungan 6 kali ke masing-masing rumah tokoh masyarakat dengan indikator gangguan metabolik (tekanan darah tinggi, asam urat tinggi, gula darah, dan kolesterol tinggi) dimana pelaksanaan kunjungan rumah lanjutan pada setiap tokoh masyarakat baru boleh terlaksana dengan minimal berjarak satu minggu dari
25 kunjungan sebelumnya yang telah berlangsung. Dalam kunjungan ini, peneliti akan: i.
Mewawancarai,
menggali
pemahaman
tokoh
masyarakat tentang munculnya indikator sindrom metabolik seperti kolesterol yang tinggi, gula darah tinggi, asam urat tinggi dan tekanan darah yang tinggi, serta mengidentifikasi data hasil pemeriksaan yang telah didapatkan sebelumnya (terlampir di latar belakang). ii.
Melakukan pemeriksaan kesehatan ulang tokoh masyarakat yang hanya berfokus pada acuan hasil pemeriksaan
sebelumnya
yang
telah
didapat
(indikator metabolik yang melebihi ambang batas normal) diantaranya: pemeriksaan tekanan darah pada 1 tokoh (Ibu H: 140/90 mmHg), pemeriksaan kadar asam urat pada 3 tokoh (Bapak. A.K: 7,7 mg/dl, Ibu. H: 8,3 mg/dl, dan Ibu. P: 8,4 mg/dl), pemeriksaan gula darah pada 1 tokoh (Bapak. R: 209 mg/dl), pemeriksaan kadar kolestrol pada 4 tokoh (Bapak. I: 212 mg/dl, Bapak. A.K: 248 mg/dl, Bapak. R: 240 mg/dl dan Bapak. S Tekelan: 200 mg/dl).
26 iii.
Memberikan pendidikan kesehatan mencakup halhal seperti: Perbaikan tekanan darah yang tinggi (1 tokoh: Ibu.
H)
yang
berdasarkan
hasil
penelitian
(Rawasiah, dkk, 2012): yaitu melakukan diet rendah garam dengan mengurangi penggunaan garam
sebagai
penyedap
masakan
dan
mengatur frekuensi penggunaan garam tersebut dalam makanan agar kandungan natrium dalam zat asin atau garam tidak terlalu banyak dikonsumsi tubuh. Selain itu, beberapa jenis makanan yang harus dihindari atau dibatasi oleh penderita hipertensi diantaranya: makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, telur
asin),
alkohol dan bahan
makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape (Infodatin, 2014). Perbaikan kadar kolestrol yang tinggi (4 tokoh: Bapak. I, Bapak A.K., Bapak R, Bapak S., Tekelan) dengan menganjurkan untuk tidak mengonsumsi
makanan
berlemak
dan
berminyak. Berdasarkan hasil penelitian (Malik, dkk, 2013): salah satu faktor untuk mengontrol
27 kolesterol total darah yaitu dengan menjaga pola makan. Lebih dari separuh jumlah kolesterol tubuh berasal dari sintesis (sekitar 700 mg/hari), dan sisanya berasal dari makanan sehari-hari. Makanan orang Amerika rata-rata mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi seperti daging yang berlemak, susu, es krim, telor, makananmakanan gorengan, kue kering, yang biasanya akan
meningkatkan
kadar
koesterol
darah.
Sedangkan makanan orang Jepang umumnya berupa nasi, sayur-sayuran, buah-buahan dan ikan
sehingga
orang
Jepang
rata-rata
mempunyai kadar kolesterol yang rendah dan angka kejadian penyakit jantung koroner lebih rendah dibandingkan orang Amerika (Anwar, 2004). Perbaikan kadar asam urat yang tinggi (3 tokoh: Bapak
A,
Ibu.
menganjurkan
P
untuk
dan
Ibu.
H)
menghindari
dengan konsumsi
makanan yang tinggi kandungan purin, seperti: kacang-kacangan, daging, jeroan, ikan sarden dan udang, serta terkhsusus laki-laki dianjurkan untuk tidak mengonsumsi minuman beralkohol
28 (Noviyanti, 2015). Berdasarkan hasil penelitian (Husnah dan Chamayasinta, 2013): Penyebab hiperurisemia dan gout adalah produksi asam urat
dalam
gangguan
tubuh
yang
metabolisme
meningkat
purin
akibat
bawaan
dan
kelebihan konsumsi makanan berkadar purin tinggi. Perbaikan kadar gula darah yang tinggi (1 tokoh: Bapak
R)
dengan
mengurangi
konsumsi
makanan ataupun minuman yang terlalu manis terkhususnya dalam penggunaan gula pada minuman teh sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian (Betteng, dkk, 2014), semua penderita diabetes
harus
melakukan
diet
dengan
pembatasan kalori, terlebih untuk penderita yang obesitas. Pemilihan makan harus dilakukan secara bijak dengan melaksanakan pembatasan kalori, terutama pembatasan lemak total dan lemak jenuh untuk mencapai kadar glukosa dan lipid darah yang normal. Serta Penambahan variasi sayur yang dikonsumsi dan konsumsi buah setiap hari juga merupakan modifikasi pola makan yang dianjurkan bagi penderita diabetes.
29 iv.
Dari bentuk kunjungan yang telah dilakukan, peneliti mengevaluasi proses intervensi, terkhususnya ada atau tidaknya perubahan perilaku yang dilakukan oleh tokoh masyarakat terkait pola pikir barunya dalam
menyikapi munculnya
indikator
penyakit
sindrom metabolik. 3.4 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian kaji-tindak partisipatif perbaikan status kesehatan bagi tokoh masyarakat sebagai proses perbaikan terkait parameter-parameter kesehatan metabolik bertempat di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, dan dilakukan selama ±2 bulan dalam bentuk intervensi 6 kali kunjungan rumah tokoh masyarakat.
30
3.5 Jenis dan Sampel Penelitian Di desa batur terdapat 19 dusun, yaitu: Tekelan, Seloduwur, Nglelo, Tawang, Batur Kidul, Batur Wetan, Gondhang, Dukuh, Selongisor, Kaliduren, Madu, Ngringin, Kalitengah, Sanggar, Diwak, Senden, Rejosari, Wonosari serta Krangkeng. Dari kesembilan belas dusun yang ada, enam dusun merupakan tempat tinggal sejumlah tokoh desa selain kepala dusun. Keenam dusun tersebut adalah dusun Tekelan, Dukuh, Krangkeng, Rejosari, Selo Duwur, dan Gondhang. Jumlah partisipan pada penelitian ini adalah 13 perwakilan tokoh masyarakat dalam lingkup Desa Batur dimana profesi para tokoh ialah: 1 tokoh (Bapak I: Selo Duwur) sebagai kepala dusun, 1 tokoh (Ibu W: Gondhang) sebagai ketua PKK, 5 tokoh (Bapak A.K: Nanggulan, Bapak
31 M: Jetak, Bapak R: Tekelan, Bapak S: Kopeng, dan Ibu H: Samirono) sebagai kepala sekolah SD atau MI, serta 5 tokoh masyarakat (Bapak A: Rejosari, Bapak S: Krangkeng Atas, Bapak S: Krangkeng Bawah, Bapak N: Gondhang, dan Ibu P: Dukuh) merupakan perwakilan aktifis tokoh masyarakat dari berbagai dusun yang tersebar di Desa Batur. Sebagai acuan referensi data awal yang didapatkan dari hasil pemeriksaan pada bulan juni 2015 di balai Desa Batur (Karwur dkk, belum dipublikasikan), ketiga belas tokoh masyarakat inilah yang menjadi bagian tindak lanjut intervensi dalam bentuk kunjungan rumah oleh peneliti dalam upaya perbaikan status kesehatan terkait indikasi kolesterol tinggi, asam urat tinggi, gula darah tinggi, dan tekanan darah tinggi. 3.6 Instrumen dan Cara Pengumpulan Data Penelitian partisipatif berikut melibatkan 2 bentuk pengumpulan data, yakni: a. Data statik adalah data observasi berupa tanggapan dan reaksi yang dipertunjukkan oleh ketiga belas tokoh masyarakat di Desa Batur, seperti respon tokoh masyarakat pada saat peneliti membuat kontrak waktu atau rencana kunjungan melalui via sms, dan hasil observasi
yang
terlihat
secara
langsung
dalam
32 keterlibatan tokoh untuk turut serta berdiskusi secara aktif maupun pasif dengan peneliti dalam upaya memperbaiki status kesehatan terkait indikasi kolesterol tinggi, asam urat tinggi, gula darah tinggi, dan tekanan darah tinggi. b. Data dinamis adalah data yang ditangkap melalui dokumentasi proses pada setiap bentuk program, pertemuan,
dan
kontak
dengan
peneliti,
yaitu
tanggapan dan sikap tokoh masyarakat untuk dapat menerima dan sejauh mana mempraktekkan intervensi yang
diberikan
paska penelitian,
seperti
adanya
persepakatan dari tokoh masyarakat dengan peneliti untuk mengurangi atau membatasi sampai benar menghindari
konsumsi
makanan
tertentu
dalam
menekan terjadinya indikasi kolesterol tinggi, asam urat tinggi, gula darah tinggi, dan tekanan darah tinggi. 3.7 Manajemen dan Analisis Data Peneliti
menggunakan
dirinya
sendiri
dalam
mengumpulkan data yaitu dengan cara melakukan indeep interview
dengan
recorder.
Data
menggunakan
yang
alat
dikumpulkan
perekam
seperti
merupakan
sebuah
deskripsi dari proses partisipatif (plan, action, reflection) pada
33 setiap kunjungan ketiga belas tokoh masyarakat. Data ini akan mencakup data dasar pemeriksaan status kesehatan sebelum dan selama kaji tindak partisipatif. Selain itu, juga dikumpulkan data dinamis intervensi (plan-action-reflection) dan kemajuan dalam seri waktu ≥ 2 bulan intervensi melalui kaji tindak partisipatif. Baik data statik dan data dinamik tersebut merupakan input yang akan dipakai sebagai laporan akhir.