Jurnal Arsitektur “ATRIUM” vol. 02 no. 02, 2005 : 48-55
ANALISIS KINERJA JALAN AKIBAT PENINGKATAN INTENSITAS BANGUNAN PERUMAHAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN STUDI KASUS : JALAN JENDERAL BESAR A. H. NASUTION (JALAN LINGKAR LUAR MEDAN)
Heriansyah Siregar, Abdul Ghani Salleh, Basaria Talarosha, Filiyanti T.A Bangun Program Studi Magister Teknik Arsitektur Bidang Kekhususan Manajemen Pembangunan Kota
Abstract. Traffic represent problems faced by Indonesian cities, which start from decreasing of road performance until generate traffic jam in the end. The problems caused by some factors, like urbanization, rapid growth of population, growth of economics and growth of number of vehicles. These factors also influence growth of a city. To see how the increase of intensity of housing-building at settlement area influence the traffic volume and decreasing of road performance, hence conducted by analyze the movement systems. Movement systems analysis covers traffic volume and traffic composition, continued with road capacity analysis yielding indicators of Q/C and travel speed. While to see the growth of settlement in study area during the last five year done by using overlay method. This method applied to the 1999 and 2004 land use map. This map shows that the artery road encumbered by local traffic, which come from housing at study area. Minimization of conflict to movement system by regulate the land usage on both side of the street needed to overcome this condition together with limitation of settlements growth in Kecamatan Medan Johor, done by maintain the RUTRK Medan 2005 strategy, which arranged that Kecamatan Medan Johor is specified to become the catchment area and low density settlement. Keywords: road performance, housing-building intensity, local traffic
Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Lalulintas merupakan permasalahan yang dihadapi kota-kota besar di Indonesia, yang berawal dari penurunan kinerja jalan hingga pada akhirnya menimbulkan kemacetan lalulintas. Beberapa faktor yang menyebabkan permasalahan tersebut antara lain urbanisasi, pertumbuhan penduduk yang pesat, pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan lalulintas yang tinggi (Sutomo, et al, 2001). Faktor-faktor tersebut diatas mempengaruhi perkembangan sebuah kota. Perkembangan kota yang semakin pesat juga menyebabkan terjadinya perubahan guna lahan kota. Tamin (1997) menyatakan, bahwa setiap guna lahan atau sistem kegiatan akan menghasilkan pergerakan (trip production) dan menarik pergerakan (trip attraction) dalam proses pemenuhan kebutuhan. Meningkatnya
48
pergerakan ini akan menuntut penyediaan jaringan jalan yang semakin baik pula. Ketidakseimbangan antara penyediaan jaringan jalan dengan pemakainya akan menyebabkan permasalahan lalulintas. Ketimpangan antara peningkatan jaringan jalan dan jumlah kenderaan yang melalui jalan tersebut menyebabkan berbagai permasalahan, antara lain meningkatnya waktu perjalanan, menurunnya kenyamanan pemakai jalan dan seringkali menyebabkan kemacetan lalulintas. Masalah ini menjadi semakin parah akibat adanya percampuran pergerakan antara lalulintas menerus, regional dan lokal. Masalah ini seringkali terjadi pada kawasan yang mempunyai intensitas kegiatan yang tinggi dan terjadi terutama pada jam-jam puncak. Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution merupakan bagian dari jalan lingkar luar (outer ring road)
Universitas Sumatera Utara
ANALISIS KINERJA JALAN AKIBAT PENINGKATAN INTENSITAS BANGUNAN PERUMAHAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN STUDI KASUS: JALAN JENDERAL BESAR A.H. NASUTION (JALAN LINGKAR LUAR MEDAN)
kota Medan, yang berfungsi sebagai jalan arteri primer dan merupakan jalan alternatif bagi pergerakan lalulintas yang diarahkan untuk tidak melalui pusat kota. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26/1985 pasal 7 disebutkan bahwa jalan arteri primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60 km/jam. Selain itu, pada jalan arteri primer lalulintas regional tidak boleh terganggu oleh lalulintas ulang alik, lalulintas dan kegiatan lokal. Dalam kenyataannya, selain harus melayani arus menerus dan regional, jalan ini harus pula melayani pergerakan lokal dan internal kota. Pada kedua sisi koridor jalan tersebut saat ini telah bermunculan kegiatan-kegiatan komersial yang dapat mengakibatkan tundaan lalulintas sebagai akibat dari kendaraan yang menuju dan parkir pada pusat-pusat aktifitas tersebut. Munculnya perumahan-perumahan pada selatan Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution juga mempengaruhi beban lalulintas yang ditanggung oleh jalan tersebut. Tundaan yang diakibatkan oleh lalulintas yang menuju perumahanperumahan tersebut saat ini sudah dapat dirasakan, khususnya pada persimpanganpersimpangan yang merupakan akses menuju perumahan-perumahan tersebut. Terjadinya perubahan guna lahan pada kedua sisi dan selatan jalan ini menimbulkan dampak
Heriansyah Siregar Abdul Ghani Salleh Basaria Talarosha Filiyanti T. A. Bangun
berupa penurunan kinerja jalan. Penurunan kinerja jalan tersebut berupa meningkatnya volume lalulintas, bertambahnya waktu perjalanan dan menurunnya kecepatan perjalanan yang menyebabkan peningkatan biaya perjalanan. 1.2 Perumusan Masalah Permasalahan penurunan kinerja Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution sebagai jalan arteri primer di Kota Medan disebabkan antara lain oleh berkembangnya permukiman yang memanfaatkan ruas jalan tersebut sebagai muara pergerakan warganya dan kegiatan-kegiatan di sepanjang kedua sisi jalan (road side activity) yang menimbulkan gangguan samping (side friction) yang menghambat lalulintas menerus. Dari uraian diatas, maka penelitian ini berusaha untuk mengidentifikasi pengaruh peningkatan intensitas bangunan perumahan terhadap kinerja ruas Jenderal Besar A. H. Nasution, khususnya mengenai volume, kecepatan rata-rata dan kepadatan/kerapatan lalulintas di ruas jalan tersebut. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh peningkatan intensitas bangunan terhadap kinerja ruas jalan pada Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution, khususnya terhadap volume, kecepatan rata-rata dan kepadatan/kerapatan lalulintas di ruas jalan tersebut.
III I
II
IV
Jl. Brigjen katamso
Jl. Karya Jaya
Jl. Karya Wisata
Jl. Jend. Besar A. H. Nasution Jl. Luku I
Jl. Djamin Ginting
Gambar 4.2. Penempatan Lokasi Pos Survey Pada Ruas Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution
49
Universitas Sumatera Utara
Jurnal Arsitektur “ATRIUM” vol. 02 no. 02, 2005 : 48-55
2.
Tinjauan Pustaka
2.1 Hubungan Transportasi
Guna
Lahan
Dan
Guna lahan (land use) merupakan istilah yang berasal dari ekonomi pertanian, yang arti aslinya adalah sebidang tanah dan penggunaan ekonomisnya (seperti untuk tanaman basah, tanaman kering). Istilah guna lahan kemudian diadopsi ke dalam perencanaan wilayah kota dengan arti yang bergeser dari aslinya. Secara umum, “guna lahan perkotaan” diartikan sebagai distribusi keruangan (spatial distribution) atau pola geografis dari fungsi-fungsi perkotaan, seperti perumahan, perdagangan, perkantoran, rekreasi, industri dan lain-lain (Djunaedi, 2003). Kemampuan transportasi, atau penyediaan angkutan (transpor), menunjukkan potensi untuk menghubungkan antar kegiatan guna lahan. Kemampuan ini disediakan oleh berbagai moda angkutan (angkutan jalan raya, laut, udara, dan jalan kaki). Kemampuan transportasi bisa juga multi-moda; contohnya : perjalanan ke kantor dilakukan dengan jalan kaki dari rumah ke pemberhentian bus kota, naik bus kota, turun dari bus dan kemudian naik becak ke kantor. Fasilitas transportasi termasuk pula tempat perpindahan antar moda (misal : terminal bus, kereta api, bandar udara). Dalam suatu sistem kota, seperti pada gambar 1, terdapat hubungan antara guna lahan, demografi dan transportasi. Transportasi sendiri dapat dilihat sebagai fungsi dari beberapa sub sistem, seperti transportasi pribadi, transportasi publik dan transportasi barang (Orn, 2002). Keseluruhan elemen tersebut merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan dalam proses pembangunan kota. Penambahan arus lalulintas tidak dapat dimengerti dengan baik tanpa mempelajari guna lahan dan demografi. Pada sisi lain, sistem transportasi dan pengembangan prasarana jalan dapat mempengaruhi dan memegang peranan dalam menentukan nilai jual tanah.
Transportasi Publik
Barang
Demografi
Gambar 1. Hubungan Transportasi, Guna Lahan dan Demografi pada Suatu Sistem Kota. Sumber : Orn, 2002. Transportasi meningkatkan interaksi antar aktifitas atau guna lahan. Interaksi tersebut diukur melalui aksesibilitas, yang meliputi daya tarik suatu tempat sebagai asal dan tujuan. Pola guna lahan adalah hal yang penting karena akan menentukan peluang ataupun aktifitas yang ada dalam jangkauan suatu tempat. Potensi antara dua tempat untuk berinteraksi akan bergantung pada biaya dari pergerakan antara keduanya, baik dalam terminologi uang ataupun waktu. Sebagai konsekuensinya, struktur dan kapasitas dari jaringan transportasi akan mempengaruhi tingkat aksesibilitas. Transportasi
Aksesibilitas
Guna Lahan
Gambar 2. Hubungan Transportasi dan Guna Lahan Sumber : Black, 1984. 2.2 Perencanaan Transportasi Terdapat beberapa konsep perencanaan transportasi yang berkembang sampai saat ini. Diantaranya yang paling populer adalah Model Empat Tahap (Four Steps Model), yang terdiri 4 (empat) sub model, yaitu (Tamin, 1997): 1.
50
Guna Lahan
Pribadi
Bangkitan Perjalanan (Trip Generation) Bangkitan perjalanan merupakan tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona
Universitas Sumatera Utara
ANALISIS KINERJA JALAN AKIBAT PENINGKATAN INTENSITAS BANGUNAN PERUMAHAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN STUDI KASUS: JALAN JENDERAL BESAR A.H. NASUTION (JALAN LINGKAR LUAR MEDAN)
atau guna lahan dan jumlah perjalanan yang tertarik ke suatu zona atau guna lahan. 2.
3.
Distribusi Perjalanan (Trip Distribution) Pola sebaran perjalanan antara zona asal dan zona tujuan adalah hasil dari dua hal yang terjadi bersamaan, yaitu lokasi/intensitas guna lahan yang akan menghasilkan arus lalulintas serta pemisahan ruang dan interaksi antara dua guna lahan yang akan menghasilkan pergerakan manusia/barang. Sistem transportasi dapat mengurangi hambatan perjalanan dalam ruang, tetapi tidak mengurangi jarak. Jarak hanya dapat diatasi dengan memperbaiki sistem jaringan transportasi. Oleh karena itu, jumlah pergerakan lalulintas antara dua buah guna lahan tergantung dari intensitas kedua guna lahan dan pemisahan ruang (jarak, waktu dan biaya) (JICA, 2000). Pemilihan Moda (Moda Split) Model pemilihan moda bertujuan untuk mengetahui proporsi orang yang akan menggunakan setiap moda. Pemilihan moda, selain juga harus mempertimbangkan pergerakan yang menggunakan lebih dari satu moda dalam perjalanan yang sangat umum dijumpai, dipengaruhi oleh tiga faktor yang menentukan, yaitu ciri pengguna jalan, ciri perjalanan dan ciri fasilitas/moda transportasi dan ciri kota/zona (JICA, 2000).
2.
11.0%
1.
Melakukan pengamatan awal terhadap sistem pergerakan di Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution untuk mendapatkan
31.9%
13.6% 7.3%
3.
6.
Metodologi Penelitian
3.1 Pendekatan studi Penelitian ini dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
gambaran umum gangguan sistem pergerakan di jalan tersebut. Melakukan pengamatan awal terhadap sumber utama lalulintas lokal yang
10.9%
4. Penentuan Rute (Route Choice) Pembebanan lalulintas adalah suatu proses dimana permintaan perjalanan, yang didapat dari tahap distribusi dibebankan ke rute jaringan jalan yang terdiri dari kumpulan ruas-ruas jalan. 3.
Heriansyah Siregar Abdul Ghani Salleh Basaria Talarosha Filiyanti T. A. Bangun
7.
25.4%
Citra Wisata
Johor Indah Permai
Johor Indah Permai II
Vila Prima Indah
Puri Katelia
Griya Wisata
membebani Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution, yaitu perumahan yang aksesnya memanfaatkan ruas jalan tersebut. Melakukan pencacahan volume lalulintas (traffic count) pada titik-titik akses menuju perumahan di sekitar kawasan Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution. Pencacahan tersebut dilakukan dengan perkiraan waktu-waktu puncak tertentu sebagai berikut : a. Pagi hari : 06.30 – 08.30 b. Sore Hari : 16.30 – 18.30 dan dilakukan pada hari-hari yang mewakili keadaan dalam satu minggu, yaitu pada awal, tengah dan akhir minggu. Selanjutnya kinerja ruas jalan dianalisis berdasarkan perkiraan jam-jam puncak tersebut dengan menggunakan kriteria derajat kejenuhan (degree of saturation/DS) dan kecepatan perjalanan. Melakukan pencacahan volume lalulintas (traffic count) pada titik-titik masuk perumahan, dalam hal ini pada pintu-pintu masuk perumahan disepanjang Jalan Karya Wisata, yang diperkirakan merupakan kontributor terbesar dari lalulintas lokal yang membebani Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution. Pencacahan tersebut dilakukan pada waktu dan hari yang sama dengan pencacahan yang dilakukan di Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution. Melakukan analisis peningkatan intensitas bangunan perumahan pada kawasan permukiman di wilayah studi berdasarkan data-data sekunder pada masa lalu dan saat ini.
51
Universitas Sumatera Utara
Jurnal Arsitektur “ATRIUM” vol. 02 no. 02, 2005 : 48-55
3.2 Data Yang Dibutuhkan Data-data yang dibutuhkan pada pelaksanaan penelitian ini adalah : 1. Data primer, berupa : a. Data fisik (geometrik) Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution, yang didapatkan dengan melakukan pengukuran menggunakan pita meter. b. Data volume lalulintas Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution, yang didapatkan melalui pencacahan volume lalulintas (traffic count) di jalan tersebut. Pelaksanaan pencacahan volume lalulintas (traffic count) dilakukan secara manual dengan menghitung setiap kendaraan yang melewati pos-pos survey yang ditentukan dan dicatat pada formulir yang telah disediakan. Pencatatan volume kendaraan dilakukan berdasarkan komposisi kendaraan dan waktu per 15 menit. c. Data volume lalulintas keluar masuk perumahan di sepanjang Jalan Karya Wisata, yang didapatkan melalui pencacahan volume lalulintas (traffic count) di pada pintu-pintu perumahan tersebut. Pelaksanaan pencacahan volume lalulintas (traffic count) dilakukan dengan cara yang sama dengan pelaksanaan pencacahan volume lalulintas (traffic count) di Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution 2. Data sekunder, berupa : a. Peta penggunaan lahan kawasan studi. b. Data-data perumahan di sepanjang Jalan Karya Wisata, meliputi luas lahan perumahan dan jumlah rumah. c. Data-data sekunder lainnya, seperti Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK), pertumbuhan kendaraan bermotor dan sebagainya. 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Arus Lalulintas Keluar Masuk Perumahan Dari hasil penelitian terlihat bahwa arus lalulintas keluar masuk perumahan berfluktuasi sesuai dengan karakteristik arus lalulintas pada daerah perumahan, dimana arus lalulintas
52
puncak terjadi pada pagi hari saat penghuni keluar untuk menuju ke pusat-pusat kegiatan (perkantoran dan sekolah) dan berulang pada sore hari dimana mereka kembali dari pusatpusat kegiatan tersebut. Arus lalulintas maksimum keluar dari lokasilokasi perumahan terjadi pada hari Senin pagi antara pukul 6.45 – 7.45 sebesar 656,4 smp/jam, sedangkan arus lalulintas maksimum masuk ke lokasi-lokasi perumahan terjadi pada hari Rabu sore antara pukul 17.00 – 18.00sebesar 375,0 smp/jam. Gambar 3 dan 4 memperlihatkan persentase arus lalulintas keluar masuk tersebut pada masingmasing lokasi perumahan yang disurvey. 8.3% 11.2%
32.4%
14.1% 7.9% 26.1%
Citra Wisata Vila Prima Indah
Johor Indah Permai Puri Katelia
Johor Indah Permai II Griya Wisata
Gambar 3. Persentase Arus Lalulintas Maksimum Keluar dari Perumahan. Sumber : Hasil Analisis, 2004.
11.0% 31.9%
10.9%
13.6% 7.3%
25.4%
Citra Wisata
Johor Indah Permai
Johor Indah Permai II
Vila Prima Indah
Puri Katelia
Griya Wisata
Gambar 3. Persentase Arus Maksimum Masuk ke Perumahan.
Lalulintas
Sumber : Hasil Analisis, 2004.
4.2 Analisis Kapasitas Ruas Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution Dari data pencacahan volume lalulintas (traffic count), selanjutnya dilakukan analisis kapasitas untuk masing-masing segmen ruas jalan dan dihitung derajat kejenuhan (Degree of Saturation/DS), yang merupakan faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja jalan, yang
Universitas Sumatera Utara
ANALISIS KINERJA JALAN AKIBAT PENINGKATAN INTENSITAS BANGUNAN PERUMAHAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN STUDI KASUS: JALAN JENDERAL BESAR A.H. NASUTION (JALAN LINGKAR LUAR MEDAN)
menunjukkan apakah segmen jalan mempunyai masalah kapasitas atau tidak. Dari hasil perhitungan analisis kapasitas Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution terlihat bahwa beban lalulintas pada ruas jalan tersebut masih dibawah kapasitas, seperti terlihat pada gambar 5 dan 6, walaupun pada beberapa segmen jalan telihat kecenderungan pertambahan nilai Q/C. Nilai Q/C maksimum pada ruas Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution adalah 0,89, yang terjadi pada hari Senin antara pukul 7.00 – 8.00 pada segmen antara Jl. Karya Wisata – Jl. Karya Jaya (arah timur Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution).
3,500
Karya Wisata dan Jalan Karya Jaya). Besarnya kontribusi lalulintas lokal terhadap arus lalulintas di Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution pada saat nilai Q/C maksimum diperlihatkan pada gambar 7 dan 8. 79.8%
20.2% Menerus
Lokal
Gambar 7. Perbandingan Arus Lalulintas Lokal dan Menerus Pada Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution Arah Jalan Brigjen Katamso Pada Saat Nilai Q/C Maksimum.
3,000
Vol. Lalu Lintas (smp)
Heriansyah Siregar Abdul Ghani Salleh Basaria Talarosha Filiyanti T. A. Bangun
2,500 2,000 1,500
Sumber : Hasil Analisis, 2004.
1,000 500 0 6.30 - 7.30
6.45 - 7.45
7.00 - 8.00
7.15 - 8.15
7.30 - 8.30
Waktu Arah Timur
Arah Barat
Kapasitas
79.8%
Gambar 5. Grafik Fluktuasi Beban Lalulintas Maksimum Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution Pada Pagi Hari. Sumber : Hasil Analisis, 2004.
Menerus
3,500
Lokal
Gambar 8. Perbandingan Arus Lalulintas Lokal dan Menerus Pada Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution Arah Jalan Djamin Ginting Pada Saat Nilai Q/C Maksimum.
3,000
Vol. Lalu Lintas (smp)
20.2%
2,500 2,000 1,500 1,000
Sumber : Hasil Analisis, 2004.
500 0 16.30 - 17.30
16.45 - 17.45
17.00 - 18.00
17.15 - 18.15
17.30 - 18.30
Waktu Arah Timur
Arah Barat
Kapasitas
Gambar 6. Grafik Fluktuasi Beban Lalulintas Maksimum Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution Pada Sore Hari. Sumber : Hasil Analisis, 2004.
Kontribusi lalulintas lokal cukup terasa terutama pada segmen III (antara persimpangan Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution dengan Jalan
4.4 Pengaruh Peningkatan Intensitas Bangunan Perumahan pada Kinerja Jalan Prediksi kinerja Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution pada masa yang akan datang didapat dari hubungan prediksi jumlah penduduk, pertumbuhan kendaraan dan bangkitan lalulintas.
53
Universitas Sumatera Utara
Jurnal Arsitektur “ATRIUM” vol. 02 no. 02, 2005 : 48-55
Dari data perkembangan jumlah rumah dan penghuni pada keenam perumahan yang disurvey, prediksi jumlah penduduk penghuni perumahan pada masa yang akan datang dihitung dengan persamaan : Pn = P0 (1 + i)n …………………..(1) dimana : P0 = jumlah penduduk saat ini. Pn = jumlah penduduk tahun ke – n. I = tingkat pertumbuhan penduduk. Prediksi volume lalulintas menerus di Jenderal Besar A. H. Nasution tanpa arus lalulintas lokal yang berasal dari permukiman disekitarnya didapat dari persamaan : Y = 109,54 X + 1507,9 …………(2) dimana : Y = volume lalulintas. X = indeks tahun. Persamaan diatas didapat berdasarkan angka pertumbuhan kendaran bermotor, dengan mengasumsikan bahwa variabel kapasitas ruas jalan adalah konstan dan tanpa menyertakan faktor jam puncak (peak hour factor/PHF). Volume lalulintas yang merupakan dasar perhitungan adalah volume lalulintas menerus pada saat nilai Q/C di Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution maksimum. Tingkat bangkitan lalulintas dari perumahan yang digunakan untuk menghitung prediksi volume lalulintas masa yang akan datang didapat dari data kuesioner yang disebar kepada 100 responden di keenam perumahan yang disurvey. Persamaan bangkitan lalulintas dari perumahan adalah:
Tabel 1. Prediksi kinerja Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution. Qtotal Tahun
(1) 2005 2006 2007 2008 2009
Arah Jalan (smp/jam) (smp/jam) Brigjen Katamso (smp/jam) (2) = pers. 13 (3) = pers. 14 (4) = 0.546 x (3) + (2) 2,274.7 403.3 2,678.0 2,384.2 410.0 2,794.3 2,493.8 416.0 2,909.8 2,603.3 421.6 3,024.9 2,712.8 428.0 3,140.8
Qtotal/C (5) 0.83 0.86 0.90 0.94 0.97
Dari hubungan tersebut di atas dapat dilihat bahwa nilai Q/C pada Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution, dengan tambahan arus lalulintas lokal yang hanya berasal dari perumahan di sepanjang Jalan Karya Wisata, pada 5 (lima) tahun mendatang (2009) akan mencapai nilai 0,97 dimana arus menjadi tidak stabil, kecepatan rendah dan volume mendekati kapasitas. 5. 5.1 1.
2.
dimana : Oi = bangkitan lalulintas pada jam puncak pagi (orang/jam). P = jumlah penghuni (jiwa).
54
*)
Oi
*) : Perbandingan lalulintas lokal kearah Jalan Brigjen Katamso dan kearah Jalan Djamin Ginting adalah 54,6% : 45,4%. Sumber : Hasil Analisis, 2004.
Oi = 0.1363 P + 16.158 ……..(3)
Dari ketiga persamaan di atas, didapat prediksi kinerja Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution pada masa yang akan datang, seperti terlihat pada tabel 1.
Qmenerus
3.
Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Ruas Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution, sebagai bagian dari jalan lingkar luar Medan (Medan Outer Ring Road) yang berfungsi sebagai jalan arteri primer, pada kenyataannya harus melayani lalulintas lokal dan juga terganggu oleh adanya kegiatan lokal di sepanjang sisi jalan. Hal ini menyebabkan penurunan kinerja jalan tersebut, dimana nilai Q/C maksimum telah mencapai 0,89 pada arah timur jalan tersebut pada saat volume lalulintas aktual 2.875 smp/jam dan kecepatan 28,87 km/jam. Besarnya lalulintas lokal yang berasal dari perumahan pada daerah selatan Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution dibanding arus lalulintas total adalah 20,2% pada arah timur dan 33,9% pada arah barat, sementara pengaruh maksimum dari permukiman terhadap kinerja (Q/C) Jalan A.H. Nasution adalah sebesar 0,11 pada arah Timur (pagi) dan 0,17 pada arah Barat (sore). Pertumbuhan lalulintas menerus dan lalulintas yang berasal dari perumahan di sepanjang Jalan Karya Wisata akan
Universitas Sumatera Utara
ANALISIS KINERJA JALAN AKIBAT PENINGKATAN INTENSITAS BANGUNAN PERUMAHAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN STUDI KASUS: JALAN JENDERAL BESAR A.H. NASUTION (JALAN LINGKAR LUAR MEDAN)
menyebabkan nilai Q/C di ruas Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution pada 5 (lima) tahun mendatang akan mencapai nilai 0,97, dimana arus menjadi tidak stabil, kecepatan rendah dan volume mendekati kapasitas (arus jenuh). 5.2 1.
2.
3.
4.
5.
Saran-saran Dengan nilai Q/C maksimum pada ruas 0,89, maka diperlukan penanganan berupa pelebaran jalur jalan hingga nilai Q/C < 0,8 dapat dicapai (Tamin, 1998), sehingga arus lalulintas akan menjadi stabil dan kecepatan dapat dikontrol. Perlunya pengaturan pola pemanfaatan lahan di sepanjang sisi jalan untuk meminimalkan konflik terhadap sistem pergerakan, misalnya dengan pembatasan kegiatan perkantoran dan perdagangan. Membatasi pertumbuhan permukiman di daerah Medan Johor dengan tetap mempertahankan strategi yang ditetapkan dalam RUTRK Medan 2005, dimana Kecamatan Medan Johor diarahkan menjadi daerah resapan air dan permukiman dengan kepadatan rendah (KDB 0,3). Agar Pemerintah Kota menerapkan aturan agar pengembang (developer) melakukan studi analisis dampak lalulintas (traffic impact analysis) dan analisis dampak social (social impact analysis) sebelum melakukan pengembangan/pembangunan suatu perumahan/realestat. Mengingat ruas jalan lingkar (Medan Outer Ring Road) yang ada sekarang hanya melingkari setengah dari wilayah Kota Medan, Pemerintah Kota perlu memikirkan kembali konsep jalan lingkar ini dengan merencanakan/membangun jalan lingkar yang benar-benar melingkari seluruh wilayah Kota Medan, sehingga fungsi jalan lingkar sebagai jalan arteri primer tidak terganggu oleh arus lalulintas dan kegiatan-kegiatan lokal.
Heriansyah Siregar Abdul Ghani Salleh Basaria Talarosha Filiyanti T. A. Bangun
DAFTAR PUSTAKA Black, J.A., Blunden, W.R. 1984. The LandUse/Transport System 2nd Edition. Pergamon Press. Sydney. Djunaedi, A. 2003. Perencanaan Guna Lahan/Kota dan Hubungannya dengan Perencanaan Transortasi. www.ugm.ac.id JICA. 2000. Pemodelan Sistem Transportasi (Transportation System Modelling). Forum Studi Transportasi Antar Perguruan Tinggi. Medan. Orn, H. 2002. Urban Traffic and Transport. Building Issues Vol. 12. Lund University. Lund. Sweden.
Tamin, O.Z. 1997. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. ITB Press. Bandung. Tamin, O.Z., Nahdalina. 1998. Analisis Dampak Lalulintas (Andall). Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 9 No. 3 September 1998. Bandung.
55
Universitas Sumatera Utara