2
Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberikan gejala yang berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke, penyakit jantung koroner, pembuluh darah jantung dan otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun dibeberapa negara yang ada di dunia. Kasus hipertensi terutama di negara berkembang diperkirakan naik, dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, diperkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini (Irfan, 2007). Prevalensi hipertensi di Indonesia yang ditentukan berdasarkan kriteria ambang hipertensi (Borderline Hypertention) yaitu tekanan darah dengan rentang antara 140/90 – 159/94 mmHg, diperkirakan 4,8 – 18,8 % (Kodim, 2001). Sebagian masyarakat banyak yang menganggap bahwa hipertensi adalah penyakit tua yang kebanyakan di derita oleh orang tua. Namun karena berubahnya gaya hidup masyarakat yang dipengaruhi akibat modernisasi dan globalisasi, maka pada sekarang ini orang yang masih muda pun bisa terkena hipertensi. Dan saat ini hipertensi merupakan masalah kesehatan global dengan angka kejadian tertinggi di dunia, yaitu 26 persen atau sekitar 972 juta orang penduduk dunia berusia dewasa. Di Indonesia, diperkirakan 30 persen penduduk dewasa menderita hipertensi (Ibnu, 2003).
3
Hipertensi adalah penyakit multifaktorial yakni penyakit yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ciri-ciri individu seperti umur, jenis kelamin dan suku, faktor genetik serta faktor lingkungan yang meliputi obesitas, stres, konsumsi garam, merokok, konsumsi alkohol, dan sebagainya (Kaplan, 2002). Penderita hipertensi mempunyai dua keluhan khas, insomnia dan rasa tak nyaman pada leher. Pada malam hari, saat duduk lama atau berbaring, dirasakan ada rasa tidak nyaman. Rasa tak nyaman yang dirasakan bisa berupa kesemutan pada kaki atau tangan, nyeri, pegal, yang khas hanya dapat dihilangkan dengan digerak-gerakkan. Sehingga, penderitanya tampak gelisah menggerak-gerakkan kaki menjelang tidur. Bahkan, ada yang sampai harus berjalan-jalan dahulu sebelum tidur. Kegelisahan yang terjadi mengakibatkan penderitanya menjadi sulit tidur, sehingga insomnia menjadi keluhan utama. Mengakibatkan kualitas tidur menjadi buruk. Akhirnya penderita merasa kantuk berlebihan di siang hari (Andreas, 2011). Salah satu fungsi tidur yang paling utama adalah untuk memungkinkan sistem syaraf pulih setelah digunakan selama satu hari. Dalam The World Book Encyclopedia, dikatakan tidur memulihkan energi kepada tubuh, khususnya kepada otak dan system syaraf. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa orang Indonesia tidur rata-rata pukul 22.00 dan bangun pukul 05.00 keesokan harinya.
4
Menurut Perry & Potter (2005), fisiologi tidur dimulai dari irama sirkadian yang merupakan irama yang dialami individu yang terjadi selama 24 jam. Irama sirkadian mempengaruhi pola fungsi mayor biologic dan fungsi perilaku. Naik turunnya temperatur tubuh, denyut nadi, tekanan darah, sekresi hormone, ketajaman sensori dan suasana hati tergantung pada pemeliharaan siklus sirkadian. Irama sirkadian meliputi siklus harian bangun tidur yang dipengaruhi oleh sinar, temperature dan faktor eksternal seperti aktivitas social dan pekerjaan rutin. Tidur sebagai kebutuhan dasar manusia sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang mempengaruhi gangguan pemenuhan tidur pada seseorang. Potter dan Perry (2006), mengemukakan faktor yang mempengaruhi tidur yaitu: faktor fisiologis, psikologis, lingkungan dan gaya hidup. Tidur yang tidak adekuat dan kualitas tidur buruk dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologi dan psikologi. Dampak fisiologi meliputi penurunan aktivitas sehari-hari, rasa capai, lemah, proses penyembuhan lambat, daya tahan tubuh menurun dan ketidakstabilan tanda-tanda vital. Sedangkan dampak psikologi meliputi depresi, cemas dan tidak konsentrasi (Briones, 1996 cit Bukit, 2003). Makin meningkatnya harapan hidup makin komplek penyakit yang diderita lanjut usia, termasuk lebih sering terserang hipertensi, dalam masyarakat hipertensi lebih menonjol dibandingkan hipotensi karena hipertensi merupakan faktor resiko utama dari perkembangan penyakit jantung dan stroke. Walaupun peningkatan tekanan darah bukan
5
merupakan bagian normal dari ketuaan insiden hipertensi pada lanjut usia mempunyai prevalensi yang tinggi pada usia diatas 65 tahun didapatkan antara 60-80 persen. Sekitar 60 persen hipertensi pada lansia adalah hipertensi sistolik terisolasi (Isolated Systolic Hypertension) dimana terdapat peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik tersebut sebagai tekanan nadi (Pulse Pressure) terbukti sebagai predictor morbiditas dan mortalitas yang buruk (Andra, 2007). Hasil studi pendahuluan di Puskesmas Desa Pucung Lor didapatkan jumlah penderita yang mengalami hipertensi ada 138 orang. Fenomena yang ditemukan tentang kualitas tidur pada penderita hipertensi berbeda dengan orang sehat. Penderita hipertensi sering mengalami gangguan tidur, apabila sudah tertidur lelap beberapa jam kemudian terbangun dan sulit untuk tidur kembali. Sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur pada penderita hipertensi di Desa Pucung Lor Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap.
6
B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang perlu kiranya peneliti merumuskan masalah yang akan diteliti: “Faktor-faktor apakah yang berpengaruh terhadap kualitas tidur pada penderita hipertensi di Desa Pucung Lor Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap?”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur pada penderita hipertensi di Desa Pucung Lor Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. 2. Tujuan Khusus a) Mengetahui kualitas tidur pada penderita hipertensi b) Mengetahui hubungan nyeri kepala dengan kualitas tidur pada penderita hipertensi c) Mengetahui hubungan kaku leher dengan kualitas tidur pada penderita hipertensi d) Mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada penderita hipertensi
7
D. Manfaat Penelitian Manfaat bagi yang diperoleh dari penelitian ini adalah : 1.
Bagi Klien Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas tidur pada penderita hipertensi.
2.
Bagi Institusi Pendidikan Dapat sebagai tambahan kepustakaan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan serta membantu pelaksanaan proses belajar mengajar.
3.
Bagi Peneliti Dapat memberikan pengalaman dan menambah ilmu serta dapat membandingkan antara teori dan lapangan secara langsung untuk meneliti tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas tidur pada penderita hipertensi.
E. Keaslian Penelitian 1. Penelitian Noviani (2010), tentang hubungan lama tidur dengan perubahan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di posyandu lansia Desa Karang Aren. Penelitian menggunakan korelasi kuantitatif dengan pendekatan observasional pre dan post desain. Analisa data menggunakan uji t-test dan korelasi product moment, tehnik pengambilan sampel menggunakan random sampling.
8
Hasil penelitian menunjukkan untuk responden berdasarkan lama tidur adalah minimum lama tidur adalah 5 jam dan maksimum lama tidur adalah 7 jam, rata-rata lama tidur adalah 5.8 jam. Perubahan tekanan darah untuk tekanan darah sistol p-value= 0.039 dan pada tekanan darah diastol p-value=0.016 pada tingkat kepercayaan 0,05. Berarti ada perubahan yang signifikan, yaitu pada tekanan darah sistol terjadi kenaikan dan pada tekanan darah diastole terjadi penurunan , hubungan lama tidur dengan perubahan tekanan darah untuk tekanan darah sistol dengan lama tidur di dapat hasil (sig) 0,727>0,05 dan untuk tekanan darah diastol dengan lama tidur didapatkan hasil (sig) 0,679>0,05 sehingga hubungan kedua variabel tidak signifikan. a. Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti tidur seseorang dan menggunakan korelasi product moment. b. Perbedan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu tehnik pengambilan sampel yang dilakukan pada penelitian sebelumnya adalah random sampling dengan uji t-test, sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti yaitu tehnik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling dengan uji chi Square. 2. Penelitian Bukit (2003), tentang kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur klien lanjut usia yang di rawat inap di ruang penyakit dalam Rumah Sakit Medan melalui uji paired t-test yang menunjukan ada perbedaan yang signifikan antara kualitas tidur klien di rumah sakit lebih buruk di bandingkan di rumah (P<0.001)
9
a. Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti tentang kualitas tidur seseorang, menggunakan product moment dan uji chi Square. b. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sampel yang digunakan pada penelitian sebelumnya adalah para lanjut usia yang di rawat di bangsal penyakit dalam, teknik pengambilan sampel dengan menggunakan convenient sampling, sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti sampelnya adalah pra lansia
dan
lanjut
usia
yang
penderita
hipertensi,
tehnik
pengambilan sampelnya dengan purposive sampling. 3.
Penelitian Rofikoh (2010), tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur pada pasien CRF di unit pelayanan hemodialisa Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong melalui uji Chi Square yang menunjukan hasil penelitian faktor yang mempengaruhi kualitas tidur adalah mudah tersinggung (p=0,006), putus asa (p=0,030), nyeri (p=0,008), cemas/stress (p=0,034). a. Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti tentang kualitas tidur seseorang, menggunakan pendekatan cross sectional dengan product moment dan menggunakan uji Chi Square b. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sampel yang digunakan pada penelitian sebelumnya adalah penderita CRF yang di unit Hemodialisa PKU Muhammadiyah Gombong, teknik pengambilan sampel dengan menggunakan
total sampling,
sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti sampelnya
10
adalah penderita hipertensi, tehnik pengambilan sampelnya dengan purposive sampling. 4.
Penelitian Soleha (2008), tentang pengaruh senam bugar lansia terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di Desa Selokerto menunjukan hasil uji paired untuk tekanan darah diastolik kelompok eksperimen didapat hasil hasil p=0,000 (<0,05) dan tekanan sistolik didapatkan hasil p=0,000 (<0,05). Untuk diastolik control didapatkan hasil p=>0,05 independent t-test untuk diastolik didapatkan hasil p=0,552 (>0,005), dan sistolik p= -7,746 (0,05). Tekanan darah pada lansia yang pernah menderita hipertensi sebelum dilakukan senam pada kelompok control lebih tinggi dari tekanan darah dengan perlakuan. Pengaruh senam bugar lansia terdapat penurunan tekanan darah pada lansia pernah hipertensi dapat menurunkan secara signifikan tekanan darah sistolik, sedangkan diastolic tidak dapat diturunkan secara signifikan. a. Persamaan dengan penelitian ini adalah subyeknya lansia yang menderita hipertensi dan pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. b. Perbedan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu pada penelitian sebelumnya jenis penelitian desain quasi-eksperimental dengan menggunakan non random control group pre tes- post test dengan uji t-test, sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti
11
yaitu
menggunakan
metode
deskriptif
analitik
dengan
menggunakan purposivedengan uji chi Square. 5.
Penelitian Purwatiningsih (2009), tentang hubungan kualitas tidur dengan lama hari dirawat pasien gastritis di RSU Kebumen. Hasil penelitian menunjukan lama hari dirawat pasien gastritis di ruang rawat 9 orang (45%); gambaran kualitas tidur pasien gastritis adalah prosentase terbesar pada kualitas tidur cukup, terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur pasien gastritis dengan lama hari dirawat inap di bangsal penyakit dalam RSU Kebumen yang ditujukan dengan nilai t hitung: 0,0802 (p=0,000). a. Persamaan dengan penelitian ini adalah meneliti tentang kualitas tidur seseorang, menggunakan pendekatan cross sectional. b. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sampel yang digunakan pada penelitian sebelumnya adalah penderita gastritis yang di RSU Kebumen, teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan
accidental
sampling,
analisa
data
menggunakan uji Kendal Tau, sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti sampelnya adalah penderita hipertensi, tehnik pengambilan sampelnya dengan purposive sampling, analisa data menggunakan product moment.