CONTOH : LAPORAN PTK A.
Judul ”PENERAPAN
STRATEGI
“TRI
TUNGGAL”
DALAM
MENINGKATKAN
PEMBELAJARAN NUN MATI ATAU TANWIN DAN MIM MATI PADA SISWA KELAS VII E SMP NEGERI 1 MUSUK TAHUN PELAJARAN 2011-2012” B.
Peneliti Abdul Haris, MSI, Guru Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 1 Musuk Boyolali Jawa Tengah, Peserta Program Peningkatan Kompetensi dan Wawasan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Pendidikan Agama Islam, diselenggarakan FITK UNSIQ kerjasama dengan Kementrian Agama RI
C.
Kata Pengantar
D.
Daftar Isi
E.
Daftar Tabel (bila ada)
F.
Daftar Gambar (bila ada)
G.
Daftar Lampiran
H.
Abstrak atau ringkasan
yang
BAB I. PENDAHULUAN A.
Latar Belakang Dunia pendidikan mempunyai tantangan yang sangat berat karena dituntut untuk dapat melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya mampu menguasai tekhnologi dan informasi agar dapat bersaing di dunia internasional akan tetapi juga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, berbudi pekerti yang luhur sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Sistim Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003. “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) memiliki peran yang sangat stragis dalam mengimplementasikan tantangan dan tujuan pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Sistim Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 tersebut, dimana pembentukan karakter peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia sangat melekat dengan kompetensi dan nilai-nilai pembelajaran PAI.
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 81
Penelitian Tindakan Kelas Setelah ditelusuri ternyata pembelajaran PAI menghadapi beberapa kendala, antara lain; alokasi waktu yang tersedia belum memadai untuk muatan materi yang begitu padat dan penting, pengembangan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang belum variatif serta rendahnya perharian orang tua siswa terhadap pembelajaran PAI. Dari beberapa kendala tersebut, kelemahan pembelajaran PAI lebih disebabkan oleh faktor guru, guru kurang mampu mengembangkan keterampilan mengajar yang dapat menarik perhatian siswa dan merangsang siswa untuk belajar khususnya dalam hal membaca Al-quran dengan baik dan benar. Kondisi demikian harus segera diatasi, sebab jika dibiarkan ketidakmampuan siswa dalam membaca alquran secara baik akan berlanjut pada saat mereka di Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan di Perguruan Tinggi (PT). Tanpa menyalahkan guru PAI di SD, guru PAI di SMP perlu melakukan tindakan kongkrit untuk mengatasi permasalahan tersebut. Towaf (1996) juga mengamati adanya kelemahan-kelemahan pendekatan yang digunakan. Ia mengatakan bahwa pendekatan yang digunakan masih cenderung normatif. Kurang kreatifnya guru agama dalam menggali metode yang biasa dipakai untuk pendidikan agama menyebabkan pelaksanaan pembelajaran cenderung monoton. Amin Abdullah, seorang pakar keislaman menyoroti kegiatan pendidikan agama yang selama ini berlangsung di sekolah. Ia mengatakan bahwa pendidikan agama kurang consern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri siswa lewat berbagai cara ,media dan forum. Pembelajaran lebih menitikberatkan pada aspek korespondensi tekstual yang lebih menekankan hafalan teks-teks keagamaan. Dari
berbagai
pendapat
tersebut,
jelas
bahwa
metode
atau
strategi
pembelajaran memiliki kedudukan yang sangat signifikan untuk dapat mencapai tujuan pendidikan. Bahkan Ismail (2008) mengatakan bahwa metode sebagai seni dalam mentrasfer ilmu pengetahuan kepada siswa dianggap lebih signifikan dibanding dari materi itu sendiri. Sebuah adagium mengatakan bahwa “At-
Thariqat Ahammu
min al-Maaddah” (metode jauh lebih penting dibanding
materi). Ini adalah sebuah realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh siswa, walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya materi yng cukup menarik, karena disampaikan dengan cara yang kurang menarik maka materi itu kurang dapat dicerna oleh siswa. Al-qur’an sebagai sumber hukum Islam telah memerintahkan untuk memilih metode yang tepat dalam proses pembelajaran, seperti yang terdapat dalam surh an-Nahl : 125.
82 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
“Serulah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Selama ini, metodologi pembelajaran agama Islam yang diterapkan masih mempertahankan cara-cara lama (tradisional) seperti ceramah, menghafal dan demonstrasi praktik-praktik ibadah yang tampak kering. Seperti halnya pada materi ilmu tajwid dari masa kemasa selalu menggunakan cara-cara lama dengan ceramah dan membaca al-Qur’an sehingga cara-cara seperti itu diakui atau tidak, membuat siswa tampak bosan, jenuh dan kurang bersemangat dalam belajar agama. Belajar akan efektif kalau kondisinya berada pada suasana yang menyenangkan (Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos: 2000) dan memiliki motivasi belajar yang kuat dari siswa. Teori-teori belajar apa pun apabila didukung oleh motivasi belajar yang tinggi dalam proses pembelajaran, maka akan memperoleh hasil yang maksimal.(S. Nasution: 2004). Ajaran Islam memerintahkan kepada umat Islam untuk belajar Al-Qur’an untuk mahir dan mengajarkannya kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda :
”Sebaik-baik diantara kamu adalah orang belajar Al-Qur:’an mengajarkannya” (HR. Bukhori, Abu Dawud, Tarmidi dan An-Nasa’i)
dan
Agar dapat membaca dan mempelajari Al Qur'an dengan baik dan benar diperlukan pengetahuan yang cukup dan memadahi terutama ilmu tajwid, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ilmu Al Qur'an. Maka tepatlah kiranya pelajaran ilmu tajwid termasuk bagian dari materi yang harus dilaksanakan dalam proses belajar mengajar di tingkat SMP. Berkaitan dengan hal di atas, proses pembelajaran PAI terutama Standar Kompetensi Al Qur’an: Menerapkan Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati perlu mendapat perhatian yang intensif baik dari segi metode, sumbersumber belajar maupun suasana pembelajaran yang kondusif, mengingat penguasaan kompetensi membaca al-Quran sangat diperlukan bagi siswa, salah satu alasannya apabila siswa keliru membaca al Qur’an maka akan mengakibatkan perbedaan pada maknanya. Pada kenyataannya, dari hasil pengamatan awal siswa kelas VII E SMP Negeri 1 Musuk tahun pelajaran 2011/2012 masih banyak yang mengalami kesulitan dalam membaca alquran. Dari 36 siswa kelas VII E SMP Negeri 1 Musuk tahun Pelajaran 2011/2012 yang masih aktif melakukan belajar membaca Al Qur’an (mengaji) 30 %, dan tetap memiliki kebiasaan bertadarus dirumah 15 %, Sudah katam Al Qur’an 10 %, Yang memiliki Al Qur’an dirumah 100 %, Buku-buku Tajwid 5 %, dan yang beranggapan materi Al Qur’an sulit adalah 70%, dan yang mengetahui cara melafalkan nun mati atau tanwin dan mim mati adalah 16 %. Dapat sebagai pertimbangan kompetensi siswa yang sudah khatam Al
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 83
Penelitian Tindakan Kelas Qur’an = 3 anak (1.8%), masih mengaji Al Qur’an = 15 anak (41%) dan yang kadang-kadang masih mengaji = 10 anak ( 27 %). Oleh karenanya secara umum perlu adanya perubahan, khususnya pendidikan agama Islam perlu melakukan inovasi, kreatifitas sehingga tujuan pendidikan Islam dapat tercapai. Strategi yang penulis terapkan Model TRI TUNGGAL (PAIKEM, Teams Game Tournament dan Make-a Match) merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar yang bila diterapkan secara tepat berpeluang dalam meningkatkan tiga hal, pertama, maksimalisasi pengaruh fisik terhadap jiwa, kedua, maksimalisasi pengaruh jiwa terhadap proses psikofisik dan psikososial,dan ketiga, bimbingan ke arah pengalaman kehidupan spiritual. Melalui penelitian tindakan kelas ini diharapkan mampu menemukan formula yang tepat untuk diterapkan sebagai metode atau strategi dalam proses pembelajaran,dalam hal ini penulis merumuskan judul : ” Penerapan Strategi “ Tri Tunggal” Dalam Meningkatkan Pembelajaran Nun Mati Atau Tanwin Dan Mim Mati
Pada Siswa Kelas VII E SMP Negeri 1 Musuk Tahun Pelajaran
2011-2012”. B.
Identifikasi Masalah Masalah yang muncul dalam pemahaman dan penerapan hukum bacaan nun mati atau tanwin dan mim mati untuk membaca Al Qur’an dapat diidentifikasi masalah yang muncul : 1.
Minimnya minat anak untuk belajar membaca Al-quran dengan baik dan benar.
2.
Metode pembelajaran yang kurang bervariasi sehingga menimbulkan sikap apatis dalam pembelajaran pada peserta didik.
3.
Sikap yang kurang tertarik pada materi pembelajaran Al Qur’an karena terkait dengan bahasa yang asing.
4.
Banyaknya ilmu tajwid yang harus di pahami dan teraplikasi dalam membaca Al Qur’an.
C.
Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah : 1.
Apakah dengan menggunakan model pembelajaran TRI TUNGGAL dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap kompetensi Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati Di Kelas VII. E SMP Negeri 1 Musuk
2.
Tahun Pelajaran 2011/2012 ? Apakah dengan menggunakan model pembelajaran TRI TUNGGAL dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap kompetensi Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati Di Kelas VII. E SMP Negeri 1 Musuk Tahun Pelajaran 2011/2012 ?
84 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
D.
Tujuan Penelitian Tujuan dari Penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.
Mengetahui peningkatan pemahaman Hukum Bacaan Nun
Mati/Tanwin
dan Mim Mati Di Kelas VII. E SMP Negeri 1 Musuk Tahun Pelajaran 2011/2012 setelah menerapkan strategi model “TRI TUNGGAL”. 2.
Mengetahui peningkatan keberhasilan membaca Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati Di Kelas VII. E SMP Negeri 1 Musuk Tahun Pelajaran 2011/2012 setelah menerapkan strategi model “TRI TUNGGAL”.
E.
Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapan dapat: 1.
Secara teoritis untuk melengkapi inovasi pembelajaran bagi para guru PAI Khususnya.
2.
Secara akademis ingin menambah khazanah kepustakaan Pendidikan Islam .
3.
Secara praktis: a.
Bagi peserta didik, untuk memberikan pemahaman baru dalam belajar PAI.
b.
Bagi guru, sebagai tambahan wawasan dan bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat.
BAB II. KAJIAN TEORI A.
Kerangka Teoritis 1.
Proses Belajar Mengajar Proses pembelajaran merupakan aktivitas kompleks yang mengintegrasikan secara utuh berbagai komponen kemampuan, seperti tingkat pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai. (Prasetya Irawan dkk.: 1996). Ini berarti bahwa baik guru maupun siswa harus memenuhi persyaratan tertentu dalam pengetahuan, kemampuan, sikap nilai, serta sifat-sifat pribadi agar proses pembelajaran dapat terselenggara secara optimal. Dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk aktif dan mandiri dalam kegiatan di kelas. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran di kelas, diantaranya adalah melalui model PAIKEM, team games tournament dan
Make-a Match. 2.
Motivasi Belajar a.
Pengertian Motivasi Para ahli menyampaikan beberapa pengertian motivasi antara lain (Soemanto: 2003) menyatakan bahwa motivasi sebagai suatu
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 85
Penelitian Tindakan Kelas perubahan tenaga di dalam diri/pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan. Sedangkan (Sudarman: 2004) mendefinisikan motivasi sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologi yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar, maka motivasi belajar berarti keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang dapat menimbulkan, menjamin,dan memberikan arah pada kegiatan belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Denga motivasi belajar maka siswa dapat mempunyai intensitas dan kesinambungan dalam proses belajar yang diikuti. b.
Macam-macam Motivasi Motivasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1)
Motivasi Intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah
2) c.
Motivasi Ekstrinsik yakni motif-motif yang aktif dan berfungsi karena ada perangsang dari luar. (Djamarah: 2002)
Pentingnya Motivasi dalam Kegiatan Pembelajaran Dalam proses kegiatan belajar mengajar, motivasi memiliki beberapa manfaat yaitu: memberi semangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, membuat seseorang berkeinginan untuk melakukan sesuatu kegiatan, memberi petunjuk pada tingkah laku belajar, menentukan tingkat keberhasilan atau kegagalan pembelajaran siswa dan sebagai pendorong dalam usaha pencapaian prestasi dan hasil belajar yang diharapkan. Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut adalah sebagai berikut: 1)
Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa
2)
Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran
3)
sebatas yang pokok Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan
4)
tugas dan memanfaatkan sumber belajar di sekolah Sesekali memberikan penghargaan pada siswa
atas
pekerjaannya 5)
Meminta siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya
Sedangkan strategi membangkitkan motivasi ekstrinsik antara lain: 1)
Kompetisi (persaingan)
86 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
3.
2) 3)
Pace Making (membuat tujuan sementara atau dekat)
4)
Kesempurnaan untuk sukses
5)
Minat besar: Motif akan timbul jika siswa memiliki minat yang besar.
6)
Mengadakan penilaian atau tes.
Tujuan yang jelas
Model Pembelajaran TRI TUNGGAL Tri tunggal merupakan istilah yang digunakan untuk peneliti. Adapun yang dimaksud adalah kolaborasi tiga model pembelajaran yang digunakan dalam satu pertemuan pembelajaran. Ketiga model tersebut adalah PAIKEM, Team Games Tournamen dan Make-a Match. Penjelasan ketiga model pembelajaran tersebut sebagai berikut:
4.
PAIKEM Istilah PAIKEM adalah merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Pengertian secara bahasa dan istilah dijelaskan secara singkat sebagai berikut. Istilah Aktif menurut Ismail SM (2008) pembelajaran adalah proses aktif membangun makna dan pemahaman dari informasi, ilmu pengetahuan maupun pengalaman oleh peserta didik sendiri. Dalam proses pembelajaran semestinya siswa tidak dijadikan layaknya bapak-bapak atau ibu-ibu pengajian yang hanya duduk manis dan siap mendengarkan tentang ilmu pengetahuan dan informasi dari sang guru. Lebih dari itu seorang guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang memungkinkan siswa untuk aktif menemukan, memproses dan mengkontruksi ilmu pengetahuan dan keterampilan baru. Istilah Inovatif yang dimaksud selama proses pembelajaran diharapkan muncul ide-ide baru atau inovasi-inovasi positif yang keluar dari peserta didik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Istilah Kreatif memiliki makna bahwa pembelajaran harus dapat mengembangkan daya imajinasi peserta didik, karena pada dasarnya setiap orang mempunyai potensi imajinasi masing-masing sehingga melalui pembelajaran guru dituntut untuk dapat menciptakan suasana yang mengundang daya kreatifitas anak didik. Istilah Efektif yaitu bahwa model pembelajaran apapun dengan waktu yang relatif singkat seyogyanya mampu mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal, hal ini dibuktikan dengan peserta didik memiliki kompetensi baru setelah proses pembelajaran. Istilah Menyenangkan, faktor inilah yang seringkali terabaikan, suasana pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan akan menumbuhkan minat dan motivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai dengan maksimal.
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 87
Penelitian Tindakan Kelas a.
TGT (Team Games Tournamen) Model pembelajaran TGT yaitu siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh
poin pada skor tim
mereka. Permainan dirancang untuk mengetes pengetahuan yang diperoleh dari penyampaian pelajaran di kelas dan kegiatan kelompok sehingga dapat berperan sebagai review materi pelajaran. Salah satu keuntungan penggunaan model TGT adalah siswa dapat didorong untuk mengeksplorasi pengetahuan yang telah dimilikinya kemudian mengembangkan keterampilan pembelajaran yang independen untuk mengisi kekosongan yang ada. Di samping itu dengan model pembelajaran TGT dapat menciptakan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran sehingga efektifitas pembelajaran makin meningkat. Kolaborasi tiga model pembelajaran dalam satu pertemuan akan sangat tepat dan efektif untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Hal ini didasari alasan bahwa ketiga model pembelajaran yang dikolaborasikan berusaha sejak awal untuk menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, kebersamaan dan bekerja sama untuk mengasah emosional serta persaingan yang sehat dengan saling menghargai satu sama lain dalam situasi yang menyenangkan.
b.
Make-a Mach (Mencari Pasangan) Model
pembelajaran
Make-a Mach adalah salah satu model
pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada siswa yang lain. Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Make-a Mach adalah: (1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review –dalam hal ini bisa bentuk huruf hijaiyah, macam-macam hukum, macam-macam contoh, dllyang antara satu dengan lainnya merupakan jawaban, (2) setiap siswa mendapat satu kartu, (3) setiap siswa memikirkan jawaban dari kartu yang di pegang, (4) setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya, (5) setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum habis waktu yang tersedia diberi poin, (6) setelah satu babak kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dengan yang pertama(Lorna Curran, 1994). Metode Make-a Mach mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode diskusi biasa yaitu, pertama, siswa lebih aktif mencari pasangan dengan bergerak kesana kemari sambil berpikir dan bermain. berdiskusi karena bertanggung jawab pada materi yang dibebankan kepadanya, kedua, Make-a mach bisa dilakukan dimana
88 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
saja dan terlebih kalau dilakukan dialam terbuka atau di lingkungan sekolah misalnya di taman, halaman, kebun dengan memanfaatkan media tumbuhan dll, ketiga, siswa aktif dengan sendirinya karena masing-masing memegang kartu yang harus di cocokkan dengan yan lain. Hal ini selaras dengan filosofi pembelajaran: I hear, and I forget,I see, and I remember,I do, and I understa Kolaborasi tiga model pembelajaran dalam satu pertemuan akan sangat tepat dan efektif untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Hal ini didasari alasan bahwa ketiga model pembelajaran yang dikolaborasikan berusaha sejak awal untuk menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, kebersamaan dan bekerja sama untuk mengasah emosional serta persaingan yang sehat dengan saling menghargai satu sama lain dalam situasi yang menyenangkan. B.
Kerangka Berfikir
Guru Pendidikan Agama Islam
Siswa dalam keadaan kurang motivasi
pasif dalam memberikan bimbingan pembelajaran al
belajar al Qur’an:Menerapkan Hukum Bacaan Nun mati/Tanwin dan Mim Mati.Sementara mereka pasif, dalam
Kondisi Awal
Qur’an:Menerapkan Hukum Bacaan Nun mati/Tanwin dan Mim Mati
TindakanKelas
Guru membentuk kelompok belajar siswa dan membimbing siswa dengan model pembelajaran TRI TUNGGAL
Kondisi
Akhir
Guru memperhatikan aktivitas siswa dengan sungguh-sungguh dan membimbing mereka secara intensif.
belajar dibawah bimbingan guru PAI
Siswa dibimbing agar memiliki motivasi yang kuat dalam belajar al Qur’an:Menerapkan Hukum Bacaan Nun mati/Tanwin dan Mim Mati melalui model pembelajaran TRI TUNGGAL
Siswa memiliki motivasi yang kuat dalam belajar al Qur’an: Menerapkan Hukum Bacaan Nun mati/Tanwin dan Mim Mati sehingga beimplikasi pada prestasi hasil belajar yang meningkat
BAB III. METODE PENELITIAN A.
Seting Penelitian 1.
Waktu Penelitian : Penelitian telah dilakukan mulai pada awal tahu pelajaran 2011/2012, tepatnya minggu ke -3 bulan juli yaitu tanggal 19 Juli 2011 adalah siklus pertama.Kemudian dilanjutkan siklus ke-2 , minggu ke-2 bulan Agustus 2011 . Dan pertemuan terakhir pada siklus ke -3 dilakukan pada tanggal 20 September 2011. Untuk data-data pendukung dilakukan pengumpulan
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 89
Penelitian Tindakan Kelas data sejak awal penelitian dimulai sejak menyusun proposal sampai pelaporan bulan Nopember 2011. 2.
Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Musuk Boyolali Jawa Tengah. Sekolah ini , terletak di Kabupaten Boyolali yang memiliki 18 kelas yakni kelas VII mempunyai 6 kelas paralel, kelas VIII 6 kelas paralel, dan kelas IX 6 kelas paralel. Dengan profil sekolah SPM (Sekolah Pelayanan Minimal) Nama Sekolah
: SMP Negeri 1 Musuk Boyolali
No. Statistik Sekolah
:
Tipe Sekolah
:
Alamat Sekolah
: Musuk.
/B1/
: Kecamatan Musuk : Kabupaten Boyolali : Provinsi Jawa tengah
B.
Telepon/HP/Fax
: 0276322638 / 085642225681
Status Sekolah
: Negeri
Nilai Akreditasi Sekolah
: A
Subyek Penelitian Subyek yang akan digunakan untuk penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VII.E Siswa SMP Negeri 1 Musuk, tahun pelajaran 2011/2012. Jumlah siswa yang diteliti sebanyak 36 orang, dengan perincian 15 putra dan 21 putri. Dengan latar belakang pendidikan dasar yang berbeda-beda tetapi sebagian besar masih dalam satu kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali. Sehingga dalam proses sosialisi dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah lebih mudah dan cepat menyesuaikan diri.
C.
Teknik Pengumpulan Data Penelitian yang telah dilakukan dalam pengumpulan data menggunkan sistem: 1.
Observasi Partisipatif. Dalam penelitian ini, metode observasi dilakukan secara langsung kepada guru, siswa dan keadaan kelas yang ada untuk memperoleh data tentang motivasi belajar siswa pada proses pembelajaran. Alat yang digunakan dalam observasi ini adalah Chek List, yaitu suatu daftar yang berisi nama subyek dan faktor-faktor yang hendak diselidiki.( Sutrino Hadi: 1966)
90 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
Dalam hal ini chek list berupa lembar pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa. Di samping itu digunakan observasi tak struktur yaitu dengan mengamati dan mencatat berbagai gejala yang muncul dan terekam pada saat penerapan model pembelajaran TRI TUNGGAL, baik yang bersifat maju maupun mundur untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya. 2.
Kuesioner (Angket ) Kuesioner (angket) diberikan sebelum proses pembelajaran berlangsung untuk mengetahui motivasi siswa dan diberikan pada setiap akhir siklus untuk mengetahui motivasi dan tanggapan siswa setelah penggunaan model pembelajaran TRI TUNGGAL.
3.
Tes. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang tingkat kemampuan penguasaan materi pelajaran PAI sebelum dan sesudah proses pembelajaran dilaksanakan pada kelas VII E SMPN 1 Musuk tahun pelajaran 2011/2012.
4.
Dokumentasi. Penerapan teknik dokumentasi ini diarahkan pada data-data tertulis berupa dokumentasi nilai-nilai PAI dan foto-foto pelaksanaan tindakan kelas.
D.
Alat Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian ini adalah: 1.
Lembar Observasi a.
Catatan penelitian berupa catatan tentang kejadian-kejadian atau perubahan- perubahan yang dijumpai ketika tindakan berlangsung
b. c.
Lembar observasi tentang tindakan guru. Lembar observasi tentang motivasi siswa
d.
Lembar observasi tentang kegiatan pembelajaran menggunakan model TRI TUNGGAL.
2.
Angket Angket tentang motivasi belajar siswa terhadap materi al Qur’an : Menerapkan Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati dan tanggapan siswa setelah pelaksanaan model pembelajaran TRI TUNGGAL.
3.
Soal tes: Butir soal tes disusun peneliti dalam bentuk soal pilihan ganda dan isian.
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 91
Penelitian Tindakan Kelas 4.
Dokumentasi : Untuk mengambil data nilai-nilai PAI siswa kelas VII E dan foto-foto pelaksanaan tindakan.
E.
Validasi Data Untuk kepentingan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi. Dalam hal ini peneliti membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil pre-test dan post-test serta angket yang diberikan kepada siswa.
F.
Analisis Data Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis diskriptif :
G.
a.
Hasil belajar dianalisis dengan analisis deskriptif yaitu membandingkan nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kinerja.
b.
Observasi dan angket dengan analisis diskriptif berdasarkan observasi dan refleksi.
Indikator Kinerja Keberhasilan tindakan kelas ini akan nampak pada peningkatan signifikan dari: a.
Persentase jumlah siswa yang memiliki bahan/materi pelajaran.
b. c.
Persentase jumlah siswa yang antusias belajar mandiri. Persentase jumlah siswa yang mau bertanya kepada teman dalam satu kelompok.
d. e.
Persentase jumlah siswa yang mau bertanya kepada guru. Persentase jumlah siswa yang mau mengajarkan materi pada teman satu
f.
kelompok. Persentase jumlah siswa yang dapat menjawab soal dalam TGT.
Adapun indikator kinerja dari data kuantitatif ditetapkan kriteria bahwa semakin meningkat perolehan hasil tes pada kategori di atasnya menunjukkan kriteria peningkatan pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini. Format yang digunakan sebagai berikut: KATEGORI
INTERVAL NILAI
Istimewa
91-100
Sangat Paham
81-90
Paham
71-80
Sedang
61-70
Kurang
51-60
Tidak Paham
0-40
92 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
FREKUENSI NILAI Pre Tes
Siklus 1
Siklus 2
Siklus 3
JUMLAH
H. Prosedur penelitian 1.
Gambaran Umum Tindakan Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, Suharsimi: 2002), berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya sebagai berikut:
Putaran 1 Refleksi
Rencana I Putaran 2
TindakanI/
Refleksi
Rencana II (revisi) Putaran 3
TindakanII
Refleksi
Rencana III(revisi)
TindakanII I/ Gambar 03 Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah: a.
Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan, membuat rencana tindakan, dan perangkat pembelajaran.
b.
Tindakan dan observasi, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati
c.
hasil
atau
dampak
dari
diterapkannya
model
pembelajaran TRI TUNGGAL. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan pengamatan yang diisi oleh pengamat.
berdasarkan
lembar
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 93
Penelitian Tindakan Kelas d.
Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Penelitian tindakan kelas ini dibagi dalam tiga siklus, yaitu siklus I, II, dan III dimana masing-masing siklus dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes di akhir masing-masing putaran. 2.
Skenario Tindakan a. b.
Perencanaan (Planning) Peneliti berdiskusi dengan teman sejawat membahas masalah-
c.
masalah yang dihadapi guru selama pembelajaran PAI di kelas. Peneliti menyusun proposal penelitian tindakan berdasarkan masalah-
d.
masalah yang timbul, untuk disampaikan kepada kepala sekolah. Peneliti menyusun angket, lembar observasi, alat evaluasi, kartu, materi pelajaran yang akan dibahas dan alat pertandingan permainan
e.
kelompok Memberikan angket untuk mengetahui motivasi belajar siswa pada materi Al Qur’an: Menerapkan Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati.
3.
Tindakan (Acting) Pelaksanaan tindakan ada 4 tahapan yaitu : a.
Tahap pertama (implementasi model pembelajaran PAIKEM dengan menciptakan pohon berbuah huruf) 1) Guru menyiapkan RPP, kartu-kartu, materi pelajaran yang akan 2)
dibahas serta alat permainan Guru mengawali pembelajaran sesuai dengan urutan kompetensi yang dituliskan dalam RPP.
3)
Guru mengajak siswa keluar kelas menuju taman sekolah untuk melakukan kegiatan pembelajaran diluar dengan menggunakan media pohon hidup sebagai penamaan dari jenis hukum seperti idzhar, ikhfak, idgham bilaghunnah, idgham bighunnah, dan iqlab.
b.
4)
Guru membagi kartu yang berisi huruf hijaiyah yang 28 dan contoh bacaan
5)
Guru mengarahkan siswa untuk membuat yel-yel kelompok sebagai upaya membangkitkan gairah belajar.
Tahap kedua: (implementasi model pembelajaran NHT) 1)
Guru memberi identitas pada masing-masing anggota kelompok dengan identitas huruf yaitu A, B, C, dan D.
2)
Guru membagi materi pelajaran dalam bentuk permainan piramida yang harus diisi oleh masing-masing anggota
94 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
kelompok dengan sub bab yang berbeda-beda yaitu, anak beridentitas A menerima materi sub bab A, anak beridentitas B menerima materi sub bab B dan seterusnya. 3)
Guru mengarahkan siswa untuk mendiskusikan materi yang telah diterima dalam kelompok asalnya.
4)
Guru mengarahkan siswa untuk membentuk kelompok baru yang disebut kelompok ahli dengan cara, anak yang beridentitas A berkumpul dengan anak beridentitas A, anak beridentitas B
5)
berkumpul dengan anak beridentitas B dan seterusnya Guru mengarahkan anak untuk menunjuk ketua dan sekretaris kelompok. Tugas ketua kelompok adalah mengarahkan jalannya permainan.
c.
Tahap ketiga: (implementasi model pembelajaran TEAM GAMES TOURNAMENT) 1)
Guru
2)
permainan berikutnya. Guru menyiapkan alat pertandingan permainan
menyiapak
siswa
dalam
kelompok
itu
menyiapkan kemudian
mengarahkan siswa untuk melakukan pertandingan permainan antar kelompok setelah memberikan penjelasan singkat teknik permainan. 3)
d.
Guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang memperoleh poin tertinggi. Perhargaan dapat berupa acungan
jempol, tepuk tangan, pujian dan hadiah Tahap keempat: Pada akhir siklus guru
melakukan
tes
tertulis.Kemudian guru memberikan angket sebagai Learning logs (catatan reflektif tentang fenomena kelas setiap pembelajaran) 4.
Pengamatan (Observing) Pada penelitian tindakan kelas ini, peneliti adalah guru sekaligus berperan sebagai observer bagi peserta didik sedangkan pemantauan tindakan guru sekaligus memantau peserta didik dilakukan oleh dua orang (Drs. Rahmat Chozin, M.Ag dan Poniyem, S.Pd) secara bergantian maupun bersamasama. Hal-hal yang diamati observer dalam melaksanakan tindakan yaitu : 1. 2.
Sikap siswa ketika mendengarkan penjelasan guru, Suasana kelas saat diterapkan model pembelajaran TRI TUNGGAL
3. 4.
Aktivitas siswa pada saat pembelajaran. Gejala-gejala positif maupun negatif yang muncul pada saat tindakan yang diberikan.
5.
Refleksi (Reflecting) Pada tahap ini guru bersama guru observer menganalisis perubahan yang terjadi pada peserta didik dan suasana kelas dan hal-hal yang dialami selama proses pembelajaran berlangsung. Peserta didik juga diberi
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 95
Penelitian Tindakan Kelas kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan memberi masukan tentang apa yang dialami untuk penyempurnaan tindakan berikutnya. Dari hasil lembar observasi dan hasil tes dinilai apakah tindakan yang dilakukan guru menghasilkan perubahan yang signifikan. Apabila pada siklus I belum mencapai indikator sesuai yang diharapkan atau belum bisa mengatasi masalah maka perlu dilanjutkan dalam kegiatan penelitian pada siklus II, demikian pula bila terjadi pada siklus II tersebut belum mampu menunjukkan hasil maksimal, dilanjutkan penelitian pada siklus III dan seterusnya sampai diperoleh kemajuan yang signifikan dalam pemecahan masalah.
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.
Diskripsi Kondisi Awal dan Kegiatan Penelitian 1.
Kondisi Awal Kondisi awal ditandai dengan rata-rata perolehan nilai murni UAS mata pelajaran PAI di SMP Negeri 1 Musuk kelas VII.E, pada semester I tahun pelajaran 2011/2012 yaitu 68,84 %, nilai tertinggi 87 dan nilai terendah 50. Di samping itu siswa kelas VII-C dalam hal motivasi belajar al Qur’an: Menerapkan Hukum Bacaan Nun Mati atau Tanwin dan Mim Mati masih sangat rendah. Hal itu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain dalam hal kepemilikan buku hanya 25% siswa yang memilikinya. Siswa yang mau bertanya pada teman tentang materi PAI baru mencapai 31,25%. Siswa yang mau bertanya kepada guru sebesar 18,75%. Siswa yang selalu mengulang pelajaran PAI di rumah berkisar 3,125%. Siswa yang selalu tepat waktu mengumpulkan tugas PAI 25%. Siswa yang mengganggap materi PAI sangat sulit sebanyak 40,625%. Siswa yang sangat serius mengikuti pelajaran PAI hanya 6,25% dan siswa yang mengaku rugi jika tidak mengikuti materi pelajaran PAI hanya sebanyak 75%. Padahal pelajaran PAI termasuk di dalamnya kompetensi al Qur’an sangat penting dan harus dikuasai siswa.
2.
Kegiatan penelitian Kegitan penelitian ini melewati tiga siklus, dengan data utama adalah motivasi belajar siswa yang diamati dengan mengisi lembar pengamatan untuk siswa yang dijabarkan dalam lampiran-lampiran. Adapun data aktivitas mengajar guru untuk mengetahui kondisi kelas yang diciptakan oleh guru, diamati dalam lembar pengamatan terhadap aktivitas guru juga dijabarkan dalam lampiran-lampiran.
96 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
B.
Hasil Tindakan 1.
Siklus pertama Penelitian tindakan siklus I ini dilaksanakan dari tanggal 5 s.d 17 Januari 2011. a.
Perencanaan Tindakan Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti pada tahap perencanaan : 1)
Peneliti menentukan model pembelajaran TRI TUNGGAL.
2)
Peneliti/guru membagi materil al Qur’an: Menerapkan Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati menjadi empat sub bab yaitu hukum bacaan: Idhar, Idghom, Iklab dan Ikhfa
3)
4)
Peneliti/guru menyiapkan alat pertandingan permainan kelompok (TGT) buatan guru yang diberi nama: “ Kata Berkait” (terlampir) Menyiapkan alat observasi dan angket tentang motivasi siswa belajar materi al-Qur’an: Menerapkan Hukum Bacaan Nun
5) 6)
Mati/Tanwin dan Mim Mati Menyiapkan butir soal pre test dan post test Memberi angket (terlampir) yang intinya menanyakan motivasi siswa belajar materi al-Qur’an: Menerapkan Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati
7)
Memberikan penjelasan-penjelasan dan mengadakan kesepakatan tentang akan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas pada pertemuan berikutnya dengan menggunakan model pembelajaran model TRI TUNGGAL.
b.
Pelaksanaan Tindakan Rangkuman hasil monitoring terhadap siswa pada siklus I dalam lampiran 2, dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel : 01 Tindakan Siswa Pada Siklus I
No
Butir Pengamatan
Jml
Persenta se ( % )
1
Siswa yang memiliki buku pelajaran
8
25
2
Siswa yang antusias belajar mandiri.
12
37,5
3
Siswa yang mau bertanya kepada teman dalam satu kelompok.
10
31,25
4
Siswa yang mau bertanya kepada guru.
6
18,75
5
Siswa yang mau mengajarkan materi yang dikuasai pada teman satu kelompok.
18
56,25
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 97
Penelitian Tindakan Kelas
6
Siswa yang dapat dapat menjawab soal dengan benar dalam TGT sebelum batas waktu habis.
24
75
7
Siswa yang mau berlomba-lomba untuk menjawab soal dalam TGT.
15
46,87
8
Siswa yang aktif pembelajaran.
20
62,5
Hasil
monitoring
positif
terhadap
dalam
guru,
proses
pada
tindakan
siklus
pertama
menggunakan check list adalah sebagai berikut: 1. 2.
Guru membuat persiapan mengajar dengan baik. Guru memberikan appersepsi.
3. 4.
Guru kurang memberikan motivasi kepada siswa. Guru memberikan tugas kepada siswa.
5.
Guru menjelaskan secara singkat tentang model pembelajaran TRI
TUNGGAL yang akan dilakukan oleh siswa. 6.
Guru membantu siswa belajar.
7. 8.
Guru pasif dalam memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membantu siswa
9.
lain dalam belajar. Guru berkeliling membantu siswa secara aktif.
10. Guru memberi kesempatan kepada siswa agar siswa berlomba-lomba menyelesaikan tugas. 11. Guru kurang memberi motivasi kepada siswa untuk menjawab soal dengan secepat-cepatnya. 12. Guru memberikan pujian/ kepada siswa yang paling cepat dan benar dalam menjawab pertanyaan. Sedangkan hasil monitoring terhadap guru dan aktivitas kelas menggunakan lembar observasi tak terstruktur pada sebagai berikut: Guru memanfaatkan model pembelajaran TRI TUNGGAL dengan baik, namun tindakan guru sedikit tegang, kurang improvisasi dan belum melebur dalam keceriaan siswa. Secara umum siswa merasa senang mendapat situasi belajar yang baru yaitu menyanyi, diskusi dan permainan. Namun demikian kelas masih nampak sering gaduh sehingga mengurangi kesungguhan siswa dalam belajar.
98 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
perhatian, keaktifan dan
Pada implementasi TGT menggunakan alat permainan “ Kata Berkait” sangat riskan mengalami cedera misalnya saling bertabrakan ketika berebut. Adapun analisis melalui tes maka diperoleh data sebagai berikut: Tabel; 02 Rekapitulasi Hasil Tes Siswa Pada Siklus I No
Uraian
Hasil Siklus I
1
Persentase Nilai siswa
69,37%
2
Nilai tertinggi
85
3
Nilai terendah
50
4
Jumlah siswa yang tuntas belajar
16
5
Jumlah siswa yang belum tuntas belajar
16
6
Persentase siswa yang tuntas belajar
50%
7
Persentase siswa yang belum tuntas belajar
50%
Keterangan : Kriteria Ketuntasan Minimal Materi pelajaran Al Qur’an: Menerapkan Hukum Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati kelas VII semester II SMPN 1 Musuk tahun Pelajaran 2011/2012 adalah 71. Indikator kinerja penghitungan hasil tes siswa sebagai berikut: KATEGORI
INTERVAL NILAI
FREKUENSI NILAI
Pre Test
Siklus I
Istimewa
91-100
Sangat Paham
81-90
Paham
71-80
14
14
Sedang
61-70
11
11
Kurang
51-60
5
4
Tidak Paham
0-50
2
1
32
32
JUMLAH
Siklu s II
Siklus III
2
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 99
Penelitian Tindakan Kelas c.
Refleksi Tindakan Hasil tindakan siklus I menunjukkan bahwa belum semua siswa bermotivasi
belajar
tinggi
dan
siswa
mendapatkan
model
pembelajaran baru yang masih asing sehingga dampaknya baru 50 % anak yang tuntas belajar. Ini berarti tindakan belum optimal sehingga penelitian akan diteruskan pada siklus II Melalui
observasi
tentang
performance
guru
dan
suasana
pembelajaran diperoleh kesimpulan bahwa ada beberapa hal yang belum. 1.
Tindakan guru nampak sedikit tegang ,kurang improvisasi dan
2.
belum melebur dengan keceriaan siswa. Guru masih kurang dalam mendorong siswa untuk aktif
3.
melakukan kegiatan menyenangkan. Guru pasif dalam memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya hanya menunggu pertanyaan dari siswa.
4.
Guru kurang memberi motivasi kepada siswa untuk menjawab soal dengan secepat-cepatnya.
5. 6.
Suasana kelas masih sering gaduh. Implementasi TGT masih riskan terhadap bahaya anak cidera.
Dengan demikian dapat diajukan alternatif perbaikan tindakan pada siklus II sebagai berikut: 1)
Lagu dipilih yang lebih menarik.
2)
Guru diusahakan lebih rilek, banyak berimprovisasi dan melebur bersama siswa.
3) 4)
Guru meningkatkan upaya mendorong siswa untuk lebih aktif . Guru lebih memotivasi siswa untuk bekerjasama dengan teman..
5)
Alat
permainan
dipilihkan
alat
permainan
yang
tidak
membahayakan. 2.
Siklus kedua Penelitian tindakan siklus II ini dilaksanakan tanggal 19 s.d. 24 Januari 2011. Jumlah siswa yang ikut pembelajaran 36 anak. Kegiatan dalam penelitian Siklus II sebagai berikut: a.
Perencanaan Tindakan Rencana tindakan Siklus II yang dilakukan oleh peneliti antara lain :
b.
1. 2.
Guru menentukan media pembelajaran Guru berusaha rilek ketika proses pembelajaran dimulai.
3.
Permainan yang dipakai permainan “Segitiga Cerdas” (terlampir)
Pelaksanaan Tindakan
100 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
Rangkuman hasil monitoring terhadap siswa pada siklus kedua dalam lampiran 2, dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel : 03 Tindakan Siswa Pada Siklus II No
Butir Pengamatan
Jml
Persentase (%)
1
Siswa yang memiliki buku pelajaran
16
50
2
Siswa yang antusias belajar mandiri.
18
56,25
3
Siswa yang mau bertanya kepada teman dalam satu kelompok.
24
75
4
Siswa yang mau bertanya kepada guru.
12
37,5
5
Siswa yang mau mengajarkan materi yang dikuasai pada teman satu kelompok.
24
75
6
Siswa yang dapat dapat menjawab soal dengan benar dalam TGT sebelum batas waktu habis.
28
87,5
7
Siswa yang mau berlomba-lomba untuk menjawab soal dalam TGT.
30
93,75
8
Siswa yang aktif positif dalam proses pembelajaran.
30
93,75
Hasil monitoring terhadap guru, adalah sebagai berikut: 1)
Guru membuat persiapan mengajar dengan baik.2) Guru memberikan appersepsi.
2)
Guru memberikan motivasi kepada siswa4) Guru memberikan tugas kepada siswa.
3)
Guru menjelaskan secara singkat tentang model pembelajaran TRI
TUNGGAL yang akan dilakukan oleh siswa. 4)
Guru membantu siswa belajar.
5) 6)
Guru aktif dalam memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membantu siswa
7)
lain dalam belajar. Guru berkeliling membantu siswa secara aktif.
8)
Guru memberi kesempatan kepada siswa agar siswa berlomba-lomba
9)
menyelesaikan tugas. Guru memberi motivasi kepada siswa untuk menjawab soal dengan
secepat-cepatnya. 10) Guru memberikan pujian/ kepada siswa yang paling cepat dan benar dalam menjawab pertanyaan.
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 101
Penelitian Tindakan Kelas Secara umum siswa menunjukkan rasa senang dalam mengikuti pelajaran, ada perhatian, keaktifan dan kesungguhan dalam mengikuti proses belajar. Namun
ketika
perpindahan
kelompok
siswa
sering
lupa
dengan
identitasnya. Di samping itu materi pelajaran antar anggota kelompok sering tertukar dengan siswa lain. Adapun analisis melalui tes maka diperoleh data sebagai berikut: Tabel : 04 Rekapitulasi Hasil Tes Siswa Pada Siklus II No
Uraian
Hasil Siklus II
1
Persentase Nilai Siswa
79,21 %
2
Nilai Tertinggi
100
3
Nilai Terendah
65
4
Jumlah Siswa yang Tuntas Belajar
25
5
Jumlah Siswa yang Belum Tuntas Belajar
7
6
Persentase Siswa yang Tuntas Belajar
78,125 %
7
Persentase Siswa yang Belum Tuntas Belajar
21,875 %
Indikator kinerja penghitungan hasil tes siswa sebagai berikut: FREKUENSI NILAI KATEGORI
INTERVAL NILAI
Pre Test
Siklus I
Siklus II
Istimewa
91-100
0
0
2
Sangat Paham
81-90
0
2
4
Paham
71-80
14
14
19
Sedang
61-70
11
11
7
Kurang
51-60
5
4
0
Tidak Paham
0-40
2
1
0
32
32
32
JUMLAH c.
Siklus III
Refleksi Tindakan Hasil tindakan siklus II menunjukkan bahwa motivasi belajar PAI meningkat sehingga dampaknya ada kenaikan dalam hasil belajarnya
102 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
yaitu siswa yang memperoleh hasil tes di atas KKM sebanyak 65,125 %. Ini berarti tindakan sudah menunjukkan hasil lebih baik walaupun belum mencapai hasil yang optimal. Oleh karena itu perlu pemantapan model tindakan TRI TUNGGAL, sehingga penelitian diteruskan pada siklus III Dengan demikian diajukan alternatif perbaikan tindakan pada siklus III sebagai berikut: 1.
Masing-masing siswa perlu dibuatkan tanda pengenal untuk memudahkan mengingat identitas mereka.
2.
Materi yang dibagi dalam beberapa sub bab perlu dicetak dalam kertas berwarna warni, untuk memudahkan siswa mengenali kelompok diskusi ahli mereka.
3.
Siklus ketiga Penelitian tindakan siklus III ini dilaksanakan dari tanggal 26 s.d. 31 Januari 2009 Jumlah siswa yang ikut pembelajaran 36 anak. Kegiatan dalam penelitian Siklus III sebagai berikut: a.
Perencanaan Tindakan Rencana tindakan Siklus III yang dilakukan oleh peneliti antara lain :
4.
1)
Guru menentukan alat atau media yang lebih menarik.
2)
Membuat tanda pengenal (ID card) yang berupa tulisan berhuruf A, B, C,dan D.sesuai jumlah anggota kelompok diskusi
Rangkuman dicetak dalam 4 kertas warna yang berbeda. Pelaksanaan Tindakan Rangkuman hasil monitoring terhadap siswa pada siklus kedua: Tabel: 05 Tindakan Siswa Pada Siklus III No
Butir Pengamatan
Jml
Persentase (%)
1
Siswa yang memiliki buku pelajaran
29
90,62
2
Siswa yang antusias belajar mandiri.
30
93,75
3
Siswa yang mau bertanya kepada teman dalam satu kelompok.
28
87,5
4
Siswa yang mau bertanya
19
59,37
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 103
Penelitian Tindakan Kelas kepada guru. 5
Siswa yang mau mengajarkan materi yang dikuasai pada teman satu kelompok.
32
100
6
Siswa yang dapat menjawab soal dengan benar dalam TGT sebelum batas waktu habis.
32
100
7
Siswa yang mau berlombalomba untuk menjawab soal dalam TGT.
30
93,75
8
Siswa yang aktif positif dalam proses pembelajaran.
32
100
Hasil monitoring terhadap guru, sebagai berikut: 1)
Guru membuat persiapan mengajar dengan baik.
2) 3)
Guru memberikan appersepsi. Guru aktif memberikan motivasi kepada siswa
4) 5)
Guru memberikan tugas kepada siswa. Guru menjelaskan secara singkat tentang model pembelajaran TRI
TUNGGAL yang akan dilakukan oleh siswa. 6) 7)
Guru membantu siswa belajar. Guru aktif memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
8)
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membantu siswa lain dalam belajar.
9) Guru berkeliling membantu siswa secara aktif. 10) Guru memberi kesempatan kepada siswa agar siswa berlomba-lomba menyelesaikan tugas. 11) Guru selalu memberi motivasi kepada siswa untuk menjawab soal dengan secepat-cepatnya. 12) Guru sering memberikan pujian/ kepada siswa yang paling cepat dan benar dalam menjawab pertanyaan. Adapun analisis melalui tes maka diperoleh data sebagai berikut: Tabel: 06 Rekapitulasi Hasil Tes Siswa Pada Siklus III No
Uraian
Hasil Siklus III
1
Persentase Nilai siswa
2
Nilai tertinggi
100
3
Nilai terendah
75
4
Jumlah siswa yang tuntas belajar
32
5
Jumlah
0
siswa
104 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
yang
89,06 %
belum
tuntas
belajar 6
Persentase siswa yang tuntas belajar
100 %
7
Persentase siswa yang belum tuntas belajar
0%
Indikator kinerja penghitungan hasil tes siswa sebagai berikut: KATEGORI
INTERVAL NILAI
Pre Test
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Istimewa
91-100
0
0
2
11
Sangat Paham
81-90
0
2
4
13
Paham
71-80
14
14
19
8
Sedang
61-70
11
11
7
0
Kurang
51-60
5
4
0
0
Tidak Paham
0-40
2
1
0
0
32
32
32
JUMLAH C.
FREKUENSI NILAI
32
Tingkat Kemajuan Motivasi Tabel: 07 Tabel Peningkatan Motivasi Belajar Siswa No.
Indikator
Siklus I
Siklus II
Siklus III
(%)
(%)
(%)
1.
Siswa yang memiliki buku pelajaran.
25
50
90,62
2.
Siswa yang antusias belajar mandiri.
37,5
56,25
93,75
3.
Siswa yang mau bertanya kepada teman dalam satu kelompok
31,25
75
87,5
4.
Siswa yang mau bertanya kepada guru.
18,75
37,5
59,37
5.
Siswa yang mau mengajarkan materi yang dikuasai pada teman satu kelompok.
56,25
75
100
6.
Siswa yang dapat dapat menjawab soal dengan benar dalam TGT sebelum batas waktu habis.
75
87,5
100
7.
Siswa yang mau berlomba-lomba untuk menjawab soal dalam TGT
46,87
93,75
100
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 105
Penelitian Tindakan Kelas 8.
Siswa yang aktif positif dalam proses pembelajaran
62,5
93,75
100
Hasil perbandingan peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus I, II dan III dapat dilihat pada grafik berikut: Gambar : 04 Grafik Perbandingan Motivasi Belajar Siswa Pada Siklus I, II, dan III Nomor
1
2
3
4
5
6
7
8
Siklus I
25
37,5
31,25
18,75
56,25
75
46,87
62,5
Siklus II
50
56,25
75
37,5
75
87,5
93,75
93,75
Siklus III
90,62
93,75
87,5
59,37
100
100
100
100
1
2
3
4
5
6
7
8
Nomor
D.
Peningkatan Hasil Belajar dan Ketuntasan Belajar Siswa Tabel : 08 Tingkat Hasil Belajar Rata-rata dan Ketuntasan Belajar Siswa No.
Indikator
Pre test
Siklus I
1.
Nilai Hasil Belajar Rata-Rata
2.
Siklu s II
Siklus III
66,75%
69,37%
79,21 %
89,06%
Nilai Tertinggi
80
85
100
100
3.
Nilai Terendah
50
50
65
75
4.
Jumlah Siswa yang Tuntas Belajar
14
16
25
32
5.
Jumlah Siswa yang Belum tuntas Belajar
18
16
7
0
6.
Persentase Siswa yang Tuntas Belajar
43,75%
50%
78,12 5%
100%
7.
Persentase Siswa yang Belum Tuntas Belajar
56,25%
50%
21,87 5%
0%
106 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
Indikator kinerja penghitungan hasil tes siswa sebagai berikut: KATEGORI
INTERVAL NILAI
FREKUENSI NILAI
Pre Test
Siklus II
Siklus III
Istimewa
91-100
0
0
2
11
Sangat Paham
81-90
0
2
4
13
Paham
71-80
14
14
19
8
Sedang
61-70
11
11
7
0
Kurang
51-60
5
4
0
0
Tidak Paham
0-40
2
1
0
0
32
32
32
32
JUMLAH
E.
Siklus I
Kondisi Pembelajaran di Kelas Tabel: 9 Kondisi Pembelajaran di Kelas No.
Indikator
Siklus I
Siklus II
Siklus III
(%)
(%)
(%)
1.
Partisipasi aktif siswa
62,5
93,75
100
2.
Respon positip dari siswa kepada guru
46,87
93,75
100
3.
Semangat belajar
37,5
56,25
93,75
4.
Komunikasi siswa dengan siswa
31,25
75
87,5
5.
Komunikasi siswa dengan Guru
15,75
37,5
59,37
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 107
Penelitian Tindakan Kelas Gambar: 06 Grafik Perbandingan Kondisi Pembelajaran Siklus I, II, dan III
F.
Nomor
1
2
3
4
Siklus I
62,5
46,87
37,5
31,25
Siklus II
93,75
93,75
56,25
75
Hasil Learning Logs Siswa Tabel: 10 Hasil Learning Logs Siswa
No.
Indikator
1.
Pendapat siswa tentang materi pelajaran PAI
Respon
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Siswa
(%)
(%)
(%)
Sangat sulit
37,5
21,875
0
Sulit
40,625
25
9,375
Mudah
21,875
53,125
90,625
0
0
0
Sangat mudah 2.
Pendapat siswa jika tidak mengikuti pembelajaran PAI
Sangat Rugi
0
0
0
Rugi
93,75
96,875
100
Tidak rugi
6,25
3,125
0
0
0
0
Sangat Tidak Rugi 3.
4.
5.
Sikap ketika mengikuti proses pembelajaran PAI
Kebiasaan menyerahkan tugas/PR materi pelajaran PAI
Kebiasaan siswa mengulang pelajaran PAI di rumah
Sangat Serius
0
6,25
15,625
Serius
78,125
87,5
84,375
Tidak Serius
21,875
6,25
0
Sangat Tidak Serius
0
0
0
Selalu Tepat waktu
40,625
53,125
68,75
Kadang Tepat Waktu
28,125
34,375
28,125
Tidak Tepat Waktu
28,125
9,375
3,125
Tidak Menyerahkan
3,125
3,125
0
Selalu Mengulang
6,25
15,625
34,375
25
31,25
46,875
37,5
46,875
15,625
Kadang Mengulang Mengulang jika ada
108 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012
PR
31,25
6,25
0
3,125
21,875
31,25
Menarik
62,5
65,625
68,75
Kurang Menarik
31,25
71,875
0
Tidak Menarik
31,25
6,25
0
Tidak Mengulang 6.
7.
8.
9.
Adanya kegiatan PAIKEM berupa nyanyian, tepuk tangan dan menari dan komunikasi dengan berpasangan yang dilakukan
Sangat Menarik
Adanya kegiatan jigsaw yang dilakukan sebelum Team Games Tournament (TGT) dan evaluasi.
Sangat Senang
3,125
8,25
46,875
Senang
46,875
68,75
53,125
Kurang Senang
46,875
6,25
0
Tidak Senang
3,125
0
0
25
31,25
50
Senang
62,5
65,625
50
Kurang Senang
12,5
3,125
0
Tidak Senang
0
0
0
Sangat Paham
0
6,25
18,75
Paham
40,625
68,75
81,25
Kurang paham
46,875
25
0
Tidak Paham
12,5
0
0
Sangat Menarik
6,25
46,875
62,5
Menarik
68,75
53,125
37,5
Kurang Menarik
21,875
0
0
Tidak Menarik
3,125
0
0
Adanya kegiatan Team Games Tournament (TGT) menjelang evaluasi
Penguasaan pemahaman terhadap materi PAI setelah memakai model TRI
TUNGGAL
10.
Perbandingan proses pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran TRI TUNGGAL dengan proses pembelajaran sebelumnya
Sangat Senang
BAB V.KESIMPULAN DAN SARAN A.
Simpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1.
model pembelajaran TRI TUNGGAL dengan bantuan multimedia interaktif dalam proses pembelajaran materi al Qur’an: Penggunakan
Menerapkan Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati dapat meningkatkan motivasi belajar siswa 2.
model pembelajaran TRI TUNGGAL dengan bantuan multimedia interaktif dalam proses pembelajaran materi al Qur’an: Penggunaan
Menerapkan Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Pusat Studi Kependidikan FITK UNSIQ | 109
Penelitian Tindakan Kelas B.
B. Saran 1.
Untuk peningkatan motivasi siswa dalam proses pembelajaran, salah satu solusinya adalah menggunakan model pembelajaran TRI TUNGGAL
2.
Model pembelajaran TRI TUNGGAL dapat dilaksanakan di sekolah mana saja dan semua propinsi dengan beberapa modifikasi.
3.
Dapat digunakan sebagai model pembelajaran untuk semua mata pelajaran.
DAFTAR PUSTAKA Achmadi, 1992, Islam sebagai paradigma Ilmu Pendidikan, yogyakarta, Aditya Media. Ali, Hamdani.1987 Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Kota Kembang Arikunto, Suharsimi, 2010 , Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta, Rineka Cipta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum,1999, Penelitian Tindakan (Action Research), Jakarta. Hadi, Sutrisno. 1982, Metodologi Research Yogyakarta: Yayasan penerbit Fakultas Psikologi UGM. Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000, Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA Moleong,Lexy. 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya. Mudhofir, 1992, Prinsip-Prinsip pengelolaan Pusat Sumber Belajar, Bandung, Remaja Rosdakarya Offset. Riyanto, Yatim, 2010, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya, SIC Rochiati wiriaatmadja, 2009, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, PT Remaja Rosdakarya Offset. SM, Ismail .1989, strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Semarang, Ra SAIL MediaGroup. Sudjana, Nana. 1995. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya. Sugiyono. 2006, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta. Tim Pengembang Ilmu pendidikan Fakultas Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia , 2007, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung, Pt Imperial Bhakti Utama Zuchdi Darmiyati, 2008, Strategi Meningkatkan Kemampuan Membaca Peningkatan Komprehensi, Yogyakarta, UNY Press.
110 | Jurnal Kependidikan Al-Qalam.Vol. iX TH.2012