31
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1.
Metode Penentuan Lokasi Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi dilakukan secara sengaja
(purposive sampling) difokuskan pada kawasan yang berada di hulu sungai dan terdekat dengan kawasan serta tingginya tingkat ketergantungan masyarakat secara ekonomi terhadap sumber daya hutan pada hutan Pegunungan Muller. Dua kecamatan yang memenuhi kriteria di atas yaitu Kecamatan Seribu Riam dan Kecamatan U’ut Murung. Terbatasnya aksesibilitas dan untuk efisiensi penelitian maka dipilih 4 desa di Kecamatan U’ut Murung dari dari 10 desa disekitar kawasan Pegunungan Muller. Kawasan ini terpilih karena memiliki karakter khusus yaitu homogenitas penduduk (ketergantungan yang tinggi terhadap kawasan) dan keanekaragaman hayati flora dan fauna yang menjadi fokus pelestarian dalam program HoB (Heart of Borneo). 4.2.
Penentuan Responden
a. Lokakarya multipihak Penentuan informan kunci pada kegiatan ini dilakukan berdasarkan ketokohan dan status kepemimpinan dalam masyarakat serta informasi atau isu yang akan dibawakan dari kelompok (klan) masing-masing subsuku lokal. b. Focus Group Discussion (FGD) Penentuan peserta informan kunci dalam kegiatan FGD dengan hanya dengan mengelompokkan jenis kelamin dengan batasan umur >19 tahun atau sudah menikah. Tiap desa dalam penelitian ini dilakukan 2 kali FGD yaitu kelompok bapak-bapak dan kelompok ibu-ibu dan ditambah kelompok pemerintah yang terdiri dari pimpinan instansi terkait di tingkat kabupaten. c. Survei Populasi penduduk kabupaten Murung Raya berjumlah 60.664 jiwa dan total penduduk kecamatan U’ut Murung sebesar 2.910 jiwa atau hanya 4,8% dari total penduduk kabupaten. Dengan menggunakan fasilitas simple size calculator yang tersedia pada website http://surveysystem.com/sscalc.htm maka didapatkan
32
jumlah responden sebanyak 351. Dari jumlah tersebut setengahnya atau sebanyak 176 responden disebar di wilayah kelompok sasaran kegiatan kampanye dan sisanya disebar di luar kawasan, dengan tingkat kepercayaan 95% dan confidence interval atau tingkat kesalahan sebesar ± 5%. Penentuan jumlah responden tiap desa pada kawasan kampanye dilakukan dengan proporsional digambarkan pada Tabel 3 berikut. Tabel 3. Jumlah Responden per Desa No 1 2 3
Jenis Kelamin Jumlah Jumlah Penduduk Responden LK PR Tumbang Olong I, II 1.327 479 1.806 109 Tumbang Keramu 327 285 612 37 Tumbang Tujang 257 235 492 30 Jumlah : 1.911 999 2.910 176 DESA
% Responden 62,1 21,0 16,9 100,0
Total populasi penduduk 2.910 orang, yang didominasi oleh suku Dayak (Siang, Bakumpai, Ot Danum dan Punan) dan pendatang yang umumnya berprofesi sebagai pedagang, karyawan dan pemburu gaharu. Dari 176 responden, komposisinya berdasarkan jenis kelamin sebesar 62,5% laki-laki dan 37,5% perempuan. Kelompok umur didominasi oleh kelompok berumur kurang dari 40 tahun sebanyak 58,52%. Jenis pekerjaan didominasi petani/peladang dan pengumpul hasil hutan sebanyak 77,52% diikuti pedagang 18,70%. Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah yaitu SD sebanyak 43,18%. 4.3.
Parameter Penelitian Parameter pada penelitian ini perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku
masyarakat terhadap kawasan sebelum dan sesudah implementasi pendidikan konservasi dengan peubah yang diukur adalah : a). Pengetahuan Pengetahuan diukur dengan membandingkan perubahan pengetahuan dari sisi ekologi, ekonomi dan sosial dengan melihat perbedaan jumlah pendapat responden survei awal dan survei akhir. Tingkat pengetahuan masyarakat yang diukur, diwakili 6 pertanyaan bebas dan 1 pertanyaan terikat dengan isu: 1) manfaat hutan bagi masyarakat sekitar kawasan; 2) pengertian konservasi; 3) manfaat konservasi; 4) dampak kegiatan membakar di kawasan hutan;
33
5) keadaan sungai akibat kerusakan hutan; 6) kerugian yang dirasakan akibat kerusakan hutan. Tiap jawaban responden dikelompokkan ke dalam 3 aspek yaitu : ekologi, sosial dan ekonomi (Tabel 5 dan Gambar 6). b). Sikap Perubahan sikap setelah pelaksanaan kampanye dilakukan dengan rangkaian pertanyaan yang tersusun berupa pertanyaan bebas dan pertanyaan terikat yang menggambarkan sikap masyarakat yang diwakili oleh 21 pertanyaan dengan 3 pengelompokan yaitu: a) 2 pertanyaan bebas mewakili sikap menanggapi pelaku perusakan hutan; b) 2 pertanyaan terikat yang menggambarkan sikap dan dukungan kerjasama masyarakat terhadap kegiatan pelestarian sumber daya hutan dan pemanfaatannya; c) 13 pertanyaan terikat mengenai respon masyarakat terhadap kegiatan pemanfaatan sumber daya hutan dengan pembatasan dan pemberian hak kelola; d) 6 pertanyaan terikat dukungan pada aksi atau tindakan konservasi dengan mendorong penguatan kelembagaan (Lampiran 6). Sikap diukur dengan melihat perubahan jawaban responden secara positif atau negatif sebelum dan sesudah kegiatan dengan terlebih dahulu dihitung dengan skala Likert. Sikap masyarakat terhadap beberapa kegiatan yang mendukung konservasi diukur dengan menggunakan 5 kriteria yaitu : sangat setuju (SS), setuju (S), netral (N), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Kriteria yang lain yang dibuat adalah : sulit (S), agak sulit (AS), tidak ada pendapat (TAP), mudah dan sangat mudah. Nilai dari setiap pendapat (pilihan sikap) diberikan dengan urutan 1-5 untuk pertanyaan yang favouritable dan 5-1 untuk pertanyaan non-favouritable. Selanjutnya sikap dikategorikan rendah (21-40%), sedang (41-60%), baik (61- 80%) dan tinggi (>80%). Perubahan perilaku dianalisis berdasarkan adanya kesepakatan atau aksi yang telah dilakukan masyarakat dalam pengelolaan kawasan melalui budidaya gaharu dan jenis tanaman lokal lainnya, kesepakatan lainnya yang terbentuk dalam upaya melindungi kawasan dan sumberdaya kawasan hutan Pegunungan Muller.
34
c). Perilaku. Perubahan perilaku diukur dengan 2 cara yaitu dengan observasi langsung terhadap perubahan perilaku yang terjadi setelah kegiatan dan dengan membandingkan perubahan jawaban responden
sebelum dan sesudah
kegiatan pendidikan konservasi terkait aktifitas masyarakat di hutan.
4.4.
Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di 4 desa yaitu Desa Tubang Tujang, Desa
Tumbang Keramu, Desa Tumbang Olong I dan Desa Tumbang Olong II kecamatan U’ut Murung Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah dari Desember 2007 sampai Agustus 2009 yang dibagi dalam 3 tahap penelitian yaitu : 1. Tahapan perencanaan yaitu kegiatan observasi, lokakarya multipihak, FGD dan survei awal dilakukan Desember 2007 sampai Maret 2008. 2. Tahap pelaksanaan program dilakukan Maret 2008 sampai dengan Mei 2009. 3. Tahap monitoring akhir dan evaluasi, dilakukan pada bulan Agustus 2009. 4.5.
Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam tiap tahapan penelitian ini adalah :
1. Tahap perencanaan : peta desa, peta kawasan hutan dan tataguna lahan buku panduan (Weinreich 1999), alat tulis berupa buku, pensil dan peralatan pertemuan seperti papan tulis, spidol, metaplan, kertas plano, perekam suara, kamera digital, GPS (global positioning system). 2. Tahapan pelaksanaan program antara lain : a. media cetak seperti berupa pin, stiker, poster dan baliho, b. media elektronik antara lain (sandiwara radio, iklan layanan masyarakat, talkshow), c. media hiburan seperti (pemutaran film, kostum), baju kaos, cakram (vcd). 3. Tahap monitoring : rencana kerja bulanan, triwulan dan tahunan serta capaian kegiatan serta hasil-hasil kuisioner dan wawancara pribadi, dokumentasi verbatim dari setiap pertemuan dengan kelompok masyarakat.
35
4.6.
Bentuk dan Tahapan Pengumpulan Data Kegiatan pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu
tahapan perencanaan, implementasi dan monitoring/evaluasi. Setiap tahapan dilakukan untuk memperoleh informasi dan data yang mendukung perencanaan dan pelaksanaan kegiatan berikutnya. Bentuk kegiatan dan data yang diperoleh dari setiap tahapan tersebut adalah : a. Tahapan persiapan dan perencanaan Pada tahapan ini dilakukan beberapa kegiatan yang terangkai dan menjadi satu kesatuan kegiatan yang berkelanjutan untuk mendapatkan informasi dan data dalam merancang kegiatan selanjutnya. Rangkaian kegiatan tersebut adalah : 1) Studi pustaka bertujuan untuk mendapatkan data kondisi awal kawasan, sosial dan budaya masyarakat setempat yang didapatkan melalui kajian literatur; 2) Kegiatan observasi lapangan dilakukan dengan pengamatan langsung ke lokasi sasaran, dan melakukan pemeriksaan kebenaran data dan informasi yang didapat dari kegiatan sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk wawancara dengan kelompok masyarakat untuk memperoleh informan kunci dalam kegiatan lokakarya multipihak. Pengelompokan informan kunci didasarkan pada jenis pekerjaan, status sosial di masyarakat, ketokohan dan isu yang mungkin dibawakan; 3) Lokakarya multi pihak adalah pertemuan seluruh informan kunci yang diundang dalam kegiatan ini dengan tujuan untuk mendapatkan informasi lanjutan terkait kondisi kawasan dan informasi lain yang tidak didapatkan dari kegiatan sebelumnya. Hasil dari kegiatan ini berupa informasi yang terstruktur dan disusun dalam konsep model sebagai runutan kronologis yang mempengaruhi kawasan. Tujuan penyusunan konsep model awal ini adalah untuk menyederhanakan pola masalah yang terjadi disekitar kawasan Pegunungan Muller. Semua isu dan informasi diranking berdasarkan prioritas kebutuhan dengan memberikan nilai skor 1-5. Nilai 5 adalah gambaran perubahan keadaan hutan yang sangat cepat (perubahan yang sangat besar) dan nilai 1 sebagai gambaran perubahan keadaan hutan yang terkecil (sedikit berubah);
36
4) Focus group discussion (FGD) adalah bentuk diskusi terfokus dengan mengelompokkan peserta kegiatan berdasarkan pekerjaan dengan tingkat ketergantungan terhadap kawasan. Tiap kegiatan diikuti ±10 peserta yang dibagi dalam kelompok petani peladang dan pengumpuk hasil hutan dan kelompok lainnya seperti pengumpul, pedagang yang tidak berinteraksi langsung dengan kawasan, namun diyakini menjadi faktor pendorong, tingginya tingkat pengambilan sumberdaya kawasan. Kegiatan ini juga dilakukan untuk mendapatkan informasi lain yang tidak terungkap pada kegiatan sebelumnya dan tambahan data seperti jumlah pendapatan, jenis-jenis pendapatan, tingkat kesejahteraan keluarga dan lainnya; 5) Survei awal: semua data dan informasi yang didapatkan dari kegiatan sebelumnya dijadikan acuan dalam rancangan pertanyaan terstruktur. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi personal dengan kerahasiaan yang memberikan kesempatan kepada responden memberikan pendapatnya dengan bebas dan tanpa beban akibat perasaan takut, malu dan sebagainya. Seluruh pertanyaan dirangkaikan dalam bentuk kuisioner dengan satu kesatuan informasi menyeluruh mengenai demografi masyarakat, pengetahuan, sikap dan perilaku yang berhubungan langsung dengan kawasan. Responden pada kegiatan ini dihitung secara proporsional dari populasi kecamatan U’Ut Murung Kabupaten Murung Raya dengan jumlah 176 responden, hasil kegiatan ini berupa data primer terkait kondisi kawasan dan aktifitas masyarakat dengan kategori informasi tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku mereka dalam kurun waktu tertentu. Seluruh informasi yang didapatkan dari kegiatan ini menjadi gambaran kondisi awal dan digunakan untuk merancang maskot, pesan utama dan bentuk kegiatan, media dan frekuensi kegiatan kampanye; b. Tahapan pelaksanaan kampanye Tahapan ini adalah implementasi kegiatan dengan acuan seluruh data dan informasi yang didapat dari kegiatan sebelumnya. Seluruh kegiatan dan pilihan media yang dipakai, mengacu pada data dan informasi yang didapatkan dari kegiatan sebelumnya. Pada tahapan ini semua kegiatan dirancang bersama masyarakat, dan setiap pelaksanaan kegiatan didahului dengan uji coba (pre-test).
37
c. Tahapan monitoring dan evaluasi Tahapan ini dilakukan dalam 2 bentuk kegiatan yaitu : 1) Survei akhir: bentuk kegiatan dan daftar pertanyaan dibuat sama dengan kegiatan survei awal. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan gambaran keadaan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat setelah kampanye. Perubahan yang terjadi dengan membandingkan jawaban responden pada surevei awal dan akhir menjadi alat ukur efek kegiatan terhadap masyarakat. Total responden dalam kegiatan ini sama seperti kegiatan sebelumnya (survei awal) sebanyak 176 responden yang ditentukan secara proporsional dari jumlah penduduk di tiap desa. 2). Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui efek kampanye konservasi dengan melihat perubahan yang terjadi pada tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat. Perbandingan data dari hasil survei awal dan survei akhir adalah gambaran perubahan yang terjadi sebagai hasil kegiatan kampanye konservasi dalam mendorong perubahan pada masyarakat sasaran kegiatan. Perubahan pengetahuan diukur dengan membandingkan temuan pada survei awal dan akhir, dengan melihat perubahan ke arah perubahan positif (baik) dan negatif (buruk). Sikap diukur dengan cara yang sama dengan terlebih dahulu dihitung dengan mengunakan skala Likert. Perilaku diukur dengan cara yang sama pada beberapa pertanyaan yang mewakili perilaku masyarakat yang dilihat dari frekuensi pengambilan sumberdaya hutan sebelum dan sesudah kampanye konservasi, ukuran lain adalah dengan melakukan pengamatan langsung keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kampanye dan terbangunnya dukungan dalam bentuk kesepakatan bersama sebagai upaya pelestarian kawasan seperti kegiatan pemetaan partisipatif, kesepakatan pengelolaan dan peruntukan kawasan. 4.7.
Prosedur Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan yaitu perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pendidikan konservasi. Uraian setiap tahapan seperti yang terlihat pada gambar (Gambar 5) sebagai berikut :
38
Gambar 5. Prosedur dan tahapan kegiatan pendidikan konservasi. a. Tahapan Perencanaan Tahapan ini bertujuan untuk menyiapkan program pendidikan konservasi yang mencakup pemilihan maskot, pemebntukan pesan, bentuk kegiatan dan pilihan media dalam menyampaikan pesan kampanye. Untuk mendapatkan data yang cukup dalam tahapan perencanaan dilakukan kegiatan observasi lapangan, lokakarya multipihak dan focus group discussion dan survei awal. Data yang didapatkan dari lokakarya multi pihak adalah deskripsi awal tentang tingkat pengetahuan masyarakat mengenai faktor yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap hutan di kawasan Pegunungan Muller yang memperlihatkan ancaman terhadap kawasan meliputi kegiatan perambahan hutan (illegal logging), pembukaan lahan atau konversi lahan untuk perkebunan skala besar, perambahan hutan yang berlebihan oleh perusahaan, kebakaran lahan, perburuan satwa dilindungi dan hasil hutan bukan kayu lainnya. Data yang didapat dari kegiatan FGD (Focus Group Discussion) dari 6 kali kegiatan adalah beberapa pendapat yang berkaitan dengan kondisi hutan dan kegiatan pengelolaan sumber daya hutan serta dampak yang ditimbulkannya yaitu:
39
1) masyarakat sadar bahwa hutan merupakan sumber kehidupan mereka dan memahami bahwa manfaat hutan akan selalu diperoleh jika ada upaya untuk menjaga dan melestarikannya; 2) telah ada peraturan pengelolaan hutan tetapi tidak berjalan efektif karena informasi yang didapatkan masyarakat tentang peraturan pemerintah tentang pengelolaan hutan di kawasan mereka selalu berubah sehingga masyarakat menjadi ragu dalam mencegah terjadinya perusakan hutan; 3) ada kesediaan untuk berperan serta mendukung pelestarian hutan dengan memelihara hutan yang masih baik dan mempertahankan jenis tanaman lokal yang sudah dikenal dan cocok dengan kondisi tanah setempat, seperti tumbuhan yang berguna dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti rotan, kopi dan rempah-rempah; 4) masyarakat mengetahui dampak kerusakan hutan seperti banjir, sulit mendapatkan hasil hutan bukan kayu, lahan untuk berusaha terbatas dan sebagainya serta salah satu penyebab kekeruhan sumber air adalah akibat pembukaan ladang dipinggir sungai; 5) meskipun manfaat dan pentingnya kawasan hutan lindung sudah dirasakan, akan tetapi ternyata dukungan terhadap kawasan masih rendah dan masyarakat belum tergerak untuk melakukan aksi atau tindakan konservasi. Seluruh informasi yang didapat dari kegiatan di atas dijadikan dasar dalam menyusun kegiatan survei awal yang dilakukan dengan membuat kuisioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan terkait pengetahuan, sikap dan perilaku. Pertanyaan tentang pengetahuan dikaitkan dengan kondisi kawasan dan ketergantungan responden terhadap kawasan. Pertanyaan tentang sikap dan perilaku responden disusun dengan setuju atau tidak setuju, bersedia atau tidak bersedia. Untuk kebutuhan tertentu, kelompok jawaban reponden disusun dalam kelas yang lebih luas dengan menggunakan skala Likert. Keseluruhan tahapan perencanaan ini dilakukan dalam waktu 3 bulan. Data yang didapatkan dari survei awal adalah responden berdasarkan jenis kelamin sebesar 62,5% laki-laki dan 37,5% perempuan. Kelompok umur didominasi oleh kelompok berumur kurang dari 40 tahun sebanyak 58,52%. Jenis
40
pekerjaan didominasi petani/peladang dan pengumpul hasil hutan sebanyak 77,52% diikuti pedagang 18,70%. Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah yaitu SD sebanyak 43,18%. Total populasi penduduk 2.910 orang, yang didominasi oleh suku Dayak (Siang, Bakumpai, Ot Danum dan Punan) dan pendatang yang umumnya berprofesi sebagai pedagang, dan pemburu gaharu (Lampiran 6 Tabel 1). b. Tahapan Pelaksanaan Kampanye Tahapan ini adalah tahapan implementasi program yang telah disusun pada tahapan sebelumnya (perencanaan). Penyampaian pesan kampanye kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dalam mendukung kegiatan konservasi sumber daya hutan kawasan Pegunungan Muller. Pesan yang disampaikan dalam kegiatan kampanye adalah mendorong perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku positif terhadap pelestarian kawasan hutan. Lama waktu pelaksanaan kegiatan kampanye selama 14 bulan dan sasaran kegiatan ini ditujukan pada penduduk desa yang kehidupannya tergantung pada sumber daya hutan sekitar kawasan hutan Pegunungan Muller, karena seluruh proses kegiatan kampanye melibatkan masyarakat sasaran. Bentuk keterlibatan dalam tahapan ini adalah lanjutan dari keteribatan mereka pada tahap sebelumnya karena informasi dan data yang diberikan menjadi isu utama dalam penyampaian pesan kampanye yang dilanjutkan dengan uji coba (pre test) setiap produk kampanye yang akan diimplementasikan. Kondisi tingkat pendidikan yang rendah karena 38,07% tidak pernah bersekolah formal dan 43,18% hanya lulus sekolah dasar (Lampiran 6 Tabel 1), maka bentuk kegiatan yang dipilih adalah bentuk yang sederhana, mudah dimengerti dan mampu melekatkan pesan lebih lama. Pilihan bentuk, jenis dan media penyampaian pesan disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat karena 86,93% masyarakat memiliki dan menggunakan radio sebagai alat komunikasi. Masyarakat sekitar kawasan penelitian umumnya tidak menyukai kegiatan yang bersifat formal seperti rapat, pertemuan dan yang bersifat menggurui. Dari survei awal dan observasi terhadap kebiasaan serta tradisi masyarakat, maka untuk mempercepat penyampaian pesan kampanye konservasi dipilih bentuk-bentuk kegiatan seperti : pembuatan lembar
41
fakta, pemutaran film, diskusi kampung berantai, pelatihan budidaya karet dan gaharu, pembuatan lagu daerah bertema konservasi dan siaran radio. Rincian masing-masing kegiatan dan frekuensi dan durasi kegiatan diuraikan pada Lampiran 5a dan 5b. c. Tahapan Evaluasi Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui perubahan pengetahuan, sikap yang terbangun di masyarakat setelah program kampanye yang diukur dengan perubahan yang terjadi setelah implementasi kegiatan dengan membandingkan hasil survei awal dan survei akhir, dilakukan pada bulan terakhir kegiatan kampanye. Untuk mengukur perubahan sikap masyarakat selain dengan cara membandingkan hasil survei juga dievaluasi dengan observasi lapangan setelah implementasi kampanye.
4.8.
Metode Analisis Data Data yang terkumpul dari tiap tahapan dianalisis secara deskriptif yaitu
dengan menjelaskan dan menguraikan semua peubah yang diamati selama peeitian. Data diolah dan disajikan dalam bentuk tabel sesuai dengan fenomena yang ditemukan dan diuraikan dalam bentuk narasi sebagai penjelasan dari semua perubahan yang terjadi setelah pelaksanaan penelitian. Analisis data dalam penelitian ini ditujukan untuk mengukur perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat sebelum dan sesudah implementasi kampanye
konservasi. Analisis perubahan pengetahuan dianalisis dengan
membuat kategorisasi dan tabulasi data dari kepentingan ekologi, sosial dan ekonomi. Analisis perubahan sikap dihitung dengan skala Likert dan dianalisis dengan membandingkan perubahan sikap dan dukungan secara positif dan negatif terhadap pelestarian sumberdaya kawasan. Analisis perubahan perilaku yang didapatkan dari perbedaan perilaku awal dianalisis dengan kajian-kajian teoritis tingkat adopsi dan perubahan perilaku. Semua data analisis dengan menggunakan program SurveyPro 3.0. yang ditampilkan dalam bentuk grafik, tabel (Agresti dan Finlay 1997).