Bab III Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap pelaksanaan sebagaimana dijabarkan pada gambar III.1 berikut ini :
Gambar III.1. Diagram alir penelitian
III.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian Kecamatan Purwanegara apabila ditinjau dari letak geografis merupakan wilayah administrasi Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah bagian selatan. Batas administrasi Kecamatan Purwanegara meliputi : sebelah Timur Kecamatan Bawang, sebelah Barat Kecamatan Mandiraja, sebelah Utara Kecamatan Rakit dan sebelah Selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kebumen.
22
Kabupaten Banjarnegara mempunyai luas wilayah 1.064,52 km². Ditinjau dari sisi topografi, Kabupaten Banjarnegara terletak pada ketinggian antara 40 sampai dengan 2.300 meter di atas permukaan laut. Ketinggian daerahnya tidak sama, yaitu dengan kemiringan 0 – 15 % sebesar 24,61 %, 15 - 40 % sebesar 45,04 % dan lebih dari 40 % sebesar 30,35 % dari luas wilayah. Sedangkan secara administrasi Kabupaten Banjarnegara mempunyai wilayah kerja yang cukup luas terdiri dari 20 kecamatan,12 kelurahan dan 266 desa. Oleh karena itu jika ada kegiatan PRONA perlu ditetapkan prioritas lokasi PRONA sesuai kriteria lokasi yang sudah ditetapkan. 20 31’ BT
300 8’ BT
70 12’ LS
Kab. Banjarnegara
Kec.Purwanegara
Kab. Kebumen
70 31’ LS
Gambar III.2. Sket Lokasi Penelitian
III.2. Materi dan Bahan Penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Data Spasial : a. Peta Batas Administrasi Kabupaten Banjarnegara digital skala 1 : 25.000 dalam format ArcView GIS (*.shp) tahun 2002 diperoleh dari Kantor BAPPEDA Kabupaten Banjarnegara. b. Peta Jaringan Jalan Kabupaten Banjarnegara digital skala 1 : 25.000 dalam format ArcView GIS (*.shp) tahun 2002 diperoleh dari Kantor BAPPEDA Kabupaten Banjarnegara.
23 2. Data Atribut : a. Data jumlah sertipikat se-Kecamatan Purwanegara per 31 Desember 2007 dari Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara. b. Data jumlah luas bidang tanah bersertipikat se-Kecamatan Purwanegara per 31 Desember 2007 dari Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara. c. Data kegiatan PRONA se-Kecamatan
Purwanegara dari Kantor Pertanahan
Kabupaten Banjarnegara. d. Data luas wilayah desa, jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, luas penggunaan tanah, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan se Kecamatan Purwanegara dari Kantor Statistik Kabupaten Banjarnegara.
III.3. Alat Penelitian Alat yang dgunakan selama penelitian yaitu : 1. Perangkat Keras (Hardware) a. Satu set Notebook Pentium M 2,133 GHz dengan kapasitas Random Access Memory (RAM) 1 GB, Harddisk 60 GB kartu grafis (Graphic Card) 128 MB. b. Printer Canon PIXMA MP145 . 2. Perangkat Lunak (Software) a. Pengolahan data Spasial : ArcView GIS 3.3. b. Pengolahan data Atribut : SPSS 11.5 dan Microsoft Excel 2003. c. Penyusunan laporan
: Microsoft Windows 2003.
III.4. Tahapan Penelitian : III.4.1. Persiapan Tahap persiapan dilakukan
kegiatan studi pustaka, observasi
wilayah penelitian,
wawancara dengan pihak Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara dalam hal ini Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah dan Kepala Seksi Survey Pengukuran dan Pemetaan; serta inventarisasi bahan dan alat yang diperlukan untuk penelitian. Selain itu juga persiapan keperluan administrasi yang dibutuhkan diantaranya surat ijin kepada instansi tempat data tersebut dapat diperoleh, antara lain surat ijin kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara, Kantor
BAPPEDA
Banjarnegara.
Kabupaten
Banjarnegara
dan
Kantor
Statistik
Kabupaten
24 Tahapan selanjutnya dengan mengidentifikasi kriteria yang akan dijadikan dasar untuk mengukur pencapaian tujuan dari proses pengambilan keputusan yang dilakukan bersumber pada kriteria lokasi sesuai Petunjuk Teknis PRONA. Hasil identifikasi kriteria untuk penentuan prioritas lokasi PRONA pada lokasi tersebut ada 7 (tujuh) kriteria yaitu: 1. Kepadatan penduduk; 2. Tingkat kemiskinan; 3. Jarak kantor desa ke kantor pertanahan; 4. Perbandingan luas bidang bersertipikat dengan luas wilayah; 5. Tingkat pendidikan; 6. Luas dari jenis penggunaan tanah; 7. Jenis pekerjaan penduduk.
III.4.2. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendatangi langsung instansi penyedia data. Data yang diperlukan pada penelitian ini terdiri dari data spasial dan data atribut, adapun jenis data, asal instansi dan cara pengumpulannya dapat dilihat pada Tabel III.1 berikut ini: Tabel III.1 Jenis data, asal instansi dan bentuk data Jenis Data
Asal Instansi
Peta Batas Administrasi
Kantor BAPPEDA Kabupaten Banjarnegara
Peta Jaringan Jalan
Kantor BAPPEDA Kabupaten Banjarnegara
Data Sertipikat
Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara
Data Kegiatan PRONA
Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara
Data Kependudukan
Bentuk Data
Keterangan
Digital format Arcview GIS versi 3.3 (*.shp) Digital format Arcview GIS versi 3.3 (*.shp) Hard Copy
Spasial
Hard Copy
Atribut
Kantor Statistik Kabupaten Hard Copy Banjarnegara
Atribut
Spasial
Atribut
Data atribut potensi desa dan sertipikat di kecamatan Purwanegara yang diperoleh dari Kantor Pertanahan dan Kantor Statistik adalah sebagaimana pada Tabel III.2 berikut :
25 Tabel III.2 Data Potensi Desa Kecamatan Purwanegara
Data kependudukan mengacu pada data monografi kecamatan yang terdapat dalam buku “Kecamatan Purwanegara Dalam Angka Tahun 2007” hasil publikasi Kantor Statistik Kabupaten Banjarnegara.
Jumlah penduduk terbanyak adalah di desa Merden sejumlah 12,50 %, sedangkan jumlah penduduk paling sedikit terletak di desa Kutawuluh sejumlah 3,90 % dari jumlah penduduk se-kecamatan. Rata–rata jumlah penduduk per desa adalah 5.430 jiwa.
Jumlah penduduk miskin tertinggi terletak di desa Merden sebesar 14,08 %, dan paling rendah terletak di desa Kutawuluh sebesar 3,90 % dari jumlah penduduk miskin sekecamatan.
Jumlah sertipikat tertinggi terdapat di desa Purwanegara sebesar 12,13 %, sedangkan yang terendah adalah desa Mertasari sebesar 4,57 % dari jumlah sertipikat se-kecamatan.
Jumlah sertipikat yang diterbitkan melalui kegiatan PRONA sebesar 26,56 % dari jumlah total sertipikat se-kecamatan 8.068 sertipikat. Persentase jumlah sertipikat PRONA terbesar terdapat di desa Kalitengah sebesar 92,41 % dari jumlah sertipikat di desa tersebut. Desa yang belum pernah menjadi obyek lokasi PRONA yaitu desa Mertasari, Gumiwang, Kalipelus dan Purwanegara.
26 Desa yang mempunyai luas terbesar adalah desa Petir sebesar 14,34 %, sedangkan luas tersempit terdapat di desa Kalipelus sebesar 3,31 % dari total luas kecamatan. Jarak kantor desa ke kantor pertanahan terjauh adalah desa Kalitengah yang terletak di jalan kabupaten bagian selatan, dan terdekat desa Gumiwang yang terletak di jalan provinsi. Jumlah Titik Dasar Teknik dan persebarannya masih jauh dari ketentuan yang seharusnya, bahkan tidak terdapat TDT orde 3. Hanya terdapat 1 (satu) buah TDT orde 2 di desa Karanganyar, dan 27 (dua puluh tujuh) TDT orde 4 di desa Danaraja, Purwanegara, Kalipelus dan Gumiwang. Data tingkat pendidikan bisa dilihat pada Tabel III.3 sebagai berikut : Tabel III.3 Data Tingkat Pendidikan Kecamatan Purwanegara NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
DESA Kalitengah Petir Kaliajir Karanganyar Merden Mertasari Parakan Pucungbedug Kutawuluh Gumiwang Kalipelus Purwanegara Danaraja Jumlah
a 270 550 589 593 27 160 25 152 239 64 175 188 50 3082
TINGKAT PENDIDIKAN b c d e 308 765 2812 196 630 1887 3106 96 677 940 2607 277 678 784 2926 414 31 1922 4280 1552 184 757 2298 534 30 555 1949 2067 174 1518 2945 684 273 273 1654 235 74 1168 3129 1171 200 490 2013 606 215 1665 3168 1302 59 966 1659 978 3533 13690 34546 10112
f 65 21 102 130 866 299 105 147 65 745 526 827 773 4671
g 12 5 16 61 148 55 15 26 19 161 172 152 117 959
Tingkat pendidikan mengacu pada data Kantor Statistik dikategorikan menjadi 7 (tujuh) kelas yaitu : a. Tidak sekolah. Jumlah terbanyak terletak di desa Karanganyar dan Kaliajir yaitu sebesar 19,24 % dan 19,11 %; sedangkan terkecil di desa Parakan 0,81 % dari jumlah penduduk tidak sekolah se-kecamatan. b. Tidak tamat SD. Jumlah terbanyak terletak di desa Karanganyar dan Kaliajir yaitu sebesar 19,19 % dan 19,16 %; sedangkan terkecil di desa Parakan sejumlah 0,85 % dari jumlah penduduk tidak tamat SD se-kecamatan.
27 c. Belum tamat SD. Jumlah terbanyak terletak di desa Merden yaitu sebesar 14,04 %; sedangkan terkecil di desa Kutawuluh sejumlah 1,99 % dari jumlah penduduk belum tamat SD sekecamatan. d. Tamat SD/sederajat. Jumlah terbanyak terletak di desa Merden yaitu sebesar 12,39 %; sedangkan terkecil di desa Kutawuluh sejumlah 4,79 % dari jumlah penduduk tamat SD se-kecamatan. e. Tamat SLTP/sederajat. Jumlah terbanyak terletak di desa Parakan yaitu sebesar 20,44 %; sedangkan terkecil di desa Petir sejumlah 0,95 % dari jumlah penduduk tamat SLTP se-kecamatan. f. Tamat SLTA/sederajat. Jumlah terbanyak terletak di desa Merden yaitu sebesar 18,54 %; sedangkan terkecil di desa Petir sejumlah 0,45 % dari jumlah penduduk tamat SLTA se-kecamatan. g. Tamat Akademi/Perguruan Tinggi. Jumlah terbanyak terletak di desa Kalipelus yaitu sebesar 17,94 %; sedangkan terkecil di desa Petir sejumlah 0,52 % dari jumlah penduduk tamat Akademi/Perguruan Tinggi se-kecamatan. Data luas dari jenis penggunaan tanah bisa dilihat pada Tabel III.4 berikut : Tabel III.4 Data Luas Penggunaan Tanah Kecamatan Purwanegara
1 Kalitengah
0
Perumahan (Ha) 105.440
2 Petir
0
147.910
889.727
3 Kaliajir
0
103.865
4 Karanganyar
0
371.200
5 Merden
168.755
6 Mertasari 7 Parakan
No
Desa
8 Pucungbedug
Sawah (Ha)
Kebun/Tegalan (Ha) 511.791
Kolam Ikan (Ha) 0
Lain-lain (Ha) 30.870
1.200
20.623
614.620
0
38.350
323.615
0.360
45.710
429.224
172.389
1.160
32.991
110.842
119.523
115.639
2.734
10.616
100.213
134.872
342.205
1.036
26.870
0.000
234.190
402.182
0.833
12.745
9 Kutawuluh
166.029
128.600
52.846
2.418
35.877
10 Gumiwang
129.540
168.934
45.845
2.434
41.234
11 Kalipelus
103.521
78.084
51.314
2.407
9.027
12 Purwanegara
143.110
129.542
39.778
2.140
33.420
13 Danaraja
153.015
88.427
1.322
3.199
35.758
1.075,025
2.239,811
3.563,273
19,921
374,091
Jumlah
28 Luas penggunaan tanah dibagi menjadi 5 (lima) jenis, yaitu : a. Sawah. Luas penggunaan tanah sawah terluas di desa Merden sebesar 15,70 % dari jumlah luas sawah se-kecamatan dan desa yang tidak mempunyai sawah adalah desa Kalitengah, Petir, Kaliajir, Karanganyar dan Pucungbedug karena merupakan daerah perbukitan kurang subur, sehingga sebagian besar penggunaan tanahnya berupa tegalan. b. Perumahan. Kategori perumahan meliputi tanah yang sudah berdiri bangunan rumah maupun tanah pekarangan. Bangunan rumah terdiri dari bangunan berdinding tembok yang permanen maupun semi permanen yang berdinding kayu maupun anyaman bambu. Luas penggunaan tanah terbesar untuk perumahan terletak di desa Merden senilai 19,16 % dan tersempit adalah desa Kalipelus sebesar 3,48 % dari jumlah luas perumahan sekecamatan. c. Kebun/tegalan. Kebun/tegalan banyak terdapat di desa yang berbukit. Rata-rata tegalan ditanami singkong, karena kurang produktif secara ekonomi sudah banyak pula yang ditanami kayu Albasia dan sekaligus berfungsi sebagai hutan rakyat. Luas penggunaan tanah kebun/tegalan terbesar terletak di desa Petir senilai 24,97 % dan tersempit adalah desa Danaraja sebesar 0,037 % dari jumlah luas kebun/tegalan sekecamatan. d. Kolam Ikan. Banyak masyarakat yang mempunyai usaha di bidang perikanan selain bertani. Hal ini ditopang dengan adanya pasar ikan yang sering didatangi pembeli dari luar daerah, sehingga cukup berpotensi sebagai penopang ekonomi kehidupan masyarakatnya. Kolam ikan terluas terdapat di desa Danaraja sebesar 16,06 % dari jumlah luas kolam ikan se-kecamatan dan di desa Kalitengah dan Kaliajir tidak terdapat penggunaan tanah untuk kolam ikan. e. Penggunaan Tanah Lain-Lain. Jenis penggunaan ini antara lain dipergunakan untuk bangunan sekolah, kantor pemerintah, bangunan pabrik, pasar, gudang, lapangan sepak bola dan fasilitas umum lainnya. Luas penggunaan tanah lain-lain terbesar terdapat di desa Karanganyar sebesar 12,22 % dan tersempit di desa Kalipelus sebesar 2,41 % dari jumlah luas penggunaan tanah lain-lain se-kecamatan.
29 Jenis penggunaan tanah hutan dan padang gembala bukan merupakan obyek lokasi PRONA sehingga tidak dimasukkan sebagai variabel penelitian. Akibatnya jumlah luas 5 (lima) jenis penggunaan tanah di atas berkurang apabila dibandingkan dengan luas wilayahnya dengan selisisih 114,413 hektar atau 15,49 % dari luas wilayah se-kecamatan.
Jenis pekerjaan penduduk mengacu pada data Kantor Statistik diklasifikasikan menjadi 11 (sebelas) macam yaitu : a. Petani, dengan jumlah terbesar dibandingkan dengan jenis pekerjaan lainnya. b. Buruh tani, menempati urutan kedua terbanyak setelah Petani. c. Buruh industri, jenis industri yang ada antara lain : industri pengolahan kayu, kerajinan rumah tangga, penambangan pasir putih dan batu marmer. d. Buruh bangunan, selain mempunyai pekerjaan tetap sebagai petani atau buruh tani banyak juga yang menjadi buruh bangunan musiman di saat bukan musim tanam atau panen. Namun ada juga yang hanya menjadi buruh bangunan, biasanya bekerja di kota besar seperti Jakarta. e. Jasa atau sosial, diantaranya pengacara, tukang pangkas rambut, servis elektronik, tukang pijat, tukang ojek, tukang jahit dan bengkel, baik yang tradisional maupun profesional f. Pedagang, terdiri dari pedagang sembako yang berjualan di pasar, mendirikan warung dekat rumah, pedagang hewan ternak dan lain sebagainya. g. Angkutan, terdiri dari angkutan pedesaan dengan bak terbuka/tertutup, angkutan kota, bus umum maupun bus pariwisata. h. PNS/TNI/POLRI yang masih aktif bekerja. i. Pensiunan, meliputi pensiunan PNS, purnawirawan TNI/POLRI, veteran 45 dan sebagainya. j. Pengusaha, antara lain pengusaha kayu glondong, mebelair, kerajinan alat rumah tangga, rongsok dan lain sebagainya. k. Lain-lain, diantaranya meliputi pemulung, pengangguran, ibu rumah tangga, pengamen dan pengemis.
Pekerjaan penduduk terbesar se-kecamatan adalah petani sebesar 33,43 %, jumlah terbanyak terdapat di desa Merden sebesar 12,23 % dari jumlah petani keseluruhan dan terkecil adalah pensiunan sebesar 0,84 % dari jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas sekecamatan. Jumlah pensiunan terbanyak ada di desa Purwanegara 20,66 % dari jumlah
30 pensiunan se-kecamatan. Pekerjaan lain-lain diantaranya yaitu pemulung, pengangguran, ibu rumah tangga, pengamen dan pengemis dengan jumlah terbesar di desa Parakan sebesar 21,92 % dari jumlah pekerjaan lain-lain se-kecamatan. Data jenis pekerjaan penduduk bisa dilihat pada Tabel III.5 berikut : Tabel III.5 Jenis dan Jumlah Pekerjaan Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas
Jumlah sertipikat sebagai variabel terikat adalah sertipikat hak atas tanah yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara untuk bidang tanah yang terletak di seluruh desa se-Kecamatan Purwanegara, baik dengan status Hak Milik, Hak Guna Bangunan maupun Hak Pakai hasil produk permohonan rutin maupun massal. Data jumlah sertipikat diambil per 31 Desember 2007.
III.4.3 Pengolahan Data Pengolahan data dimulai dengan tahapan sebagai berikut : 1. Persamaan Lokasi PRONA Tahap awal dalam pengolahan data untuk merepresentasikan kriteria yang sudah diidentifikasi pada tahap persiapan yaitu dengan membuat persamaan matematis. Persamaan ini dibuat berdasarkan parameter angka kepadatan penduduk, angka kemiskinan, jarak dari kantor desa ke kantor pertanahan, perbandingan jumlah luas bidang tanah bersertipikat dengan luas wilayah desa, tingkat pendidikan, luas penggunaan tanah dan jenis pekerjaan penduduk. Parameter tingkat pendidikan, luas penggunaan tanah dan jenis pekerjaan penduduk terdiri dari beberapa variabel, sehingga harus dibuat persamaan matematisnya terlebih
31 dahulu secara bertahap. Tahap pertama yaitu pembuatan persamaan tingkat pendidikan, dimana ada 7(tujuh) tingkatan pendidikan yang akan diolah menjadi variabel bebas setiap desa. Tahap kedua yaitu pembuatan persamaan luas penggunaan tanah dari 5 (lima) jenis penggunaan tanah setiap desa. Tahap ketiga yaitu pembuatan persamaan jenis pekerjaan dari 11 (sebelas) jenis pekerjaan untuk setiap desanya.
Persamaan Matematika prioritas lokasi PRONA adalah sebagai berikut : Y = 0, 071X 1 + 0, 250 X 2 + 0, 036 X 3 + 0, 214 X 4 + 0,179 X 5 + 0,107 X 6 + 0,143 X 7 ………….(III.1)
dimana, X 5 = 7 X 11 + 6 X 21 + 5 X 31 + 4 X 41 + 3 X 51 + 2 X 61 + 1X 71
………….(III.2)
X 6 = 4 X 12 + 5 X 22 + 3 X 32 + 2 X 42 + 1X 52
………….(III.3)
X 7 = 10 X 13 + 11X 23 + 8 X 33 + 9 X 43 + 5 X 53 + 7 X 63 + 4 X 73 + 2 X 83 + 6 X 93 + 1X 103 + 3 X 113 ………….(III.4) Keterangan : Y = Skor prioritas lokasi PRONA X1 = Angka kepadatan penduduk X2 = Angka kemiskinan X3 = Jarak kantor desa ke kantor pertanahan X4 = Perbandingan luas bidang tanah bersertipikat dengan luas wilayah X5 = Tingkat pendidikan X6 = Luas dari jenis penggunaan tanah X7 = Jenis pekerjaan penduduk 2. Normalisasi Proses normalisasi dilakukan dengan metode prosentase, dimana data kriteria setiap desa dibandingkan dengan jumlah data seluruhnya, sehingga menghasilkan prosentase kriteria setiap desa melalui langkah sebagai berikut : a. Angka kepadatan penduduk diperoleh dari perbandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah desa dalam satuan hektar. b. Angka kemiskinan diperoleh dari perbandingan jumlah penduduk miskin dengan jumlah penduduk di desa tersebut. c. Jarak dari kantor desa ke kantor pertanahan dicari dari Peta Rute Jalan hasil overlay Peta Batas Administrasi dan Peta Jaringan Jalan, dengan rute jalan terpendek yang dihasilkan dari proses Network Analysis pada software ArcView GIS 3.3. Metode ini
32 ditempuh karena diharapkan besarnya jarak rute jalan yang dihasilkan mendekati kenyataan di lapangan. Langkah teknis untuk mendapatkan jarak terpendek bisa dilihat pada lampiran F. Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 menyatakan bahwa satuan wilayah tata usaha pendaftaran tanah adalah desa atau kelurahan, sehingga untuk melengkapi permohonan sertipikat diawali dari kantor desa atau kantor kelurahan. Oleh karena itu data jarak diambil dari kantor desa ke kantor pertanahan kabupaten setempat.
Gambar hasil hitungan jarak tersebut bisa dilihat pada Gambar III.3 berikut :
33
Gambar III.3 Jarak jalan lintasan terpendek
34 d. Jumlah luas bidang tanah bersertipikat diperoleh dari data hasil pengukuran pada Surat Ukur di kantor pertanahan, kemudian dijumlahkan total luas bidang tanah sudah bersertipikat di desa tersebut. Untuk mengetahui persentase luas bidang tanah bersertipikat
dan belum bersertipikat, maka jumlah total luas bidang tanah
bersertipikat dibandingkan dengan luas wilayah desa tersebut. Banyaknya jumlah bidang tanah tidak mencerminkan luasan, sehingga dengan perbandingan luas akan lebih obyektif sebagai salah satu kriteria yang menjadi pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. e. Prosentase tingkat pendidikan suatu desa diperoleh dari hasil perbandingan jumlah masing-masing tingkatan pendidikan dengan jumlah penduduk per desa. f. Prosentase luas penggunaan tanah dihasilkan dari perbandingan luas setiap jenis penggunaan tanah dengan jumlah luas penggunaan tanah keseluruhan. g. Prosentase jenis pekerjaan penduduk dihasilkan dari perbandingan jumlah setiap jenis pekerjaan dengan jumlah jenis pekerjaan seluruhnya. Dari proses prosentase menghasilkan data normalisasi untuk semua kriteria.
3. Klasifikasi Klasifikasi dilakukan berdasarkan perhitungan dengan rumus Sturges menghasilkan 5 (lima) interval kelas, hitungan jumlah interval kelas bisa dilihat pada lampiran G. Setiap interval mempunyai selisih yang sama, sehingga menghasilkan data equal interval.
4. Metode rank sum, meliputi kegiatan antara lain : a. Ranking Tahap selanjutnya setelah dilakukan klasifikasi dengan metode equal interval, dilakukan penghitungan ranking variabel. Persamaan yang digunakan untuk menentukan ranking dari setiap variabel adalah persamaan II.3 dan II.4. Dalam penelitian ini jumlah ranking ditetapkan sebanyak 5 (lima) tingkatan sesuai dengan jumlah interval kelas. b. Pembobotan Awal Besarnya bobot awal diperoleh dari inverse ranking, yaitu bobot terbesar diberikan dengan ranking terendah dan bobot terkecil diberikan dengan ranking tertinggi sesuai dengan tingkat kepentingannya. c. Pembobotan Akhir Bobot akhir diperoleh dari perkalian data normalisasi dengan bobot awal.
35 5. Ranking Lokasi Urutan prioritas lokasi PRONA diperoleh dari hasil penghitungan persamaan matematika III.2 dengan data kriteria setiap desa berdasarkan interval kelasnya. Hasil hitungan lokasi PRONA ditentukan peringkatnya dengan prioritas pertama yang mempunyai nilai tertinggi dan prioritas terakhir dengan nilai terendah. Perhitungan selengkapnya penentuan nilai lokasi PRONA ini dapat dilihat pada lampiran H.
Pemberian bobot untuk variabel tingkat pendidikan dilakukan dengan melihat tingkat kesadaran masyarakat untuk mensertipikatkan tanahnya. Diasumsikan masyarakat lulusan SLTA dan akademi/perguruan tinggi telah mempunyai kesadaran tinggi untuk mensertipikatkan tanahnya. Oleh karena itu, bobot terbesar diberikan pada masyarakat yang tidak sekolah dan berpendidikan rendah sampai dengan tamatan SLTP, sedangkan bobot terkecil diberikan pada tamatan SLTA dan akademi/perguruan tinggi.
Hasil wawancara dengan Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah dan Kepala Seksi Survey Pengukuran dan Pemetaan Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara menghasilkan urutan bobot kriteria dari yang tertinggi yaitu angka kemiskinan, perbandingan jumlah luas bidang tanah bersertipikat dengan luas wilayah desa, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, luas penggunaan tanah, angka kepadatan penduduk dan jarak dari kantor desa ke kantor pertanahan yang bisa dilihat pada Lampiran A.
Secara skematis pembobotan menggunakan metode rank sum dapat dilihat pada diagram III.4 berikut:
36 Rank Sum Method Angka Kepadatan Penduduk
Normalisasi Data
Klasifikasi Equal Interval
Inverse Ranking
Scoring
Angka Kemiskinan
Normalisasi Data
Klasifikasi Equal Interval
Inverse Ranking
Scoring
Jarak Kantor Desa
Normalisasi Data
Klasifikasi Equal Interval
Inverse Ranking
Scoring
Luas Sertipikat
Normalisasi Data
Klasifikasi Equal Interval
Inverse Ranking
Scoring
Tingkat Pendidikan
Normalisasi Data
Klasifikasi Equal Interval
Inverse Ranking
Scoring
Luas Penggunaan Tanah
Normalisasi Data
Klasifikasi Equal Interval
Inverse Ranking
Scoring
Jenis Pekerjaan
Normalisasi Data
Klasifikasi Equal Interval
Inverse Ranking
Scoring
Pembobotan Antar Parameter
Gambar III.4 Proses Pembobotan Untuk Hitungan Nilai Lokasi PRONA Tahap selanjutnya untuk memvisualisasikan hasil proses penghitungan nilai lokasi PRONA dan hasil klasifikasi peringkat nilai setiap desa, maka dilakukan plotting peta dengan memberikan nomor urut prioritas lokasi PRONA. Sehingga bisa ditampilkan secara jelas urutan prioritas lokasi PRONA dalam bentuk Peta Prioritas Lokasi PRONA sebagaimana gambar pada lampiran J.