PENGARUH PERTANYAAN PRODUKTIF DALAM MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERSTRUKTUR TERHADAP PENGUASAAN KONSEP STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN (Kuasi eksperimen di kelas XI SMAN 9 Kota Tangerang Selatan)
SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Untuk Memenuhi Persyaratan Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
OLEH DWI SUGIANTI NIM : 107016100294
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011 M/1432 H
1
2
3
Dwi Sugianti, Pengaruh Pertanyaan Produktif dalam Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Terhadap Penguasaan Konsep Siswa Pada Konsep Struktur Jaringan Tumbuhan (kuasi eksperimen di SMAN 9 Kota Tangsel). Skripsi, Program Studi Biologi, Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep siswa pada konsep struktur jaringan tumbuhan. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 9 Kota Tangerang Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (kuasi eksperimen) dengan disain pretespostes grup kontrol tidak secara acak. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 30 siswa untuk kelas eksperimen dan 34 siswa untuk kelas kontrol. Pengambilan data menggunakan instrumen tes hasil belajar berbentuk pilihan ganda yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dan instrumen nontes berupa lembar observasi VICS (Verbal Interaction Category System) dari Flanders. Analisis data menggunakan uji-t, data hasil perhitungan perbedaan rata-rata postes kedua kelompok pada taraf signifikansi 5% diperoleh thitung = 4.90 > ttabel = 2.00, maka dapat dikatakan bahwa thitung > ttabel. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep siswa pada konsep struktur jaringan tumbuhan. Kata Kunci: Pertanyaan Produktif, Inkuiri Terstruktur
4
Dwi Sugianti, The Effect of Using The Productive Questions in a Structured Inquiry Learning Model to The Students' mastery of Concepts in The Concept of the Structure of Plant Tissues (quasi experiments at SMAN 9 South Tangerang city). Thesis, Biological Studies Program, Department of Natural Sciences, Faculty of Science and Teaching Tarbiyah, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. ABSTRACT
This study aimed to determine the effect of using the productive questions in a structured inquiry learning model to the students' mastery of concepts in the concept of the structure of plant tissues. The research was conducted at SMAN 9 South Tangerang city. The research method used is quasi-experimental with nonrandomized control group pre-test post-test design. Sampling was conducted using purposive sampling technique. Study sample of 30 students for the experimental class and 34 students for grade control. Retrieval of data using a test instrument in the form of multiple-choice learning outcomes that have tested the validity and reliability, and nontes instruments of observation sheet of VICS (Verbal Interaction Category System) by Flanders. Analysis of data using the ttest, data calculated the average difference post-test both groups at a significance level of 5% is obtained tcount = 4.90 > ttable = 2.00, it can be said that tcount> ttable. This suggests that there is influence of the use of productive questions in a structured inquiry learning model to the students' mastery of concepts in the concept of the structure of plant tissue. Key words: Productive Questions, Structured Inquiry
5
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pertanyaan Produktif dalam Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Terhadap Penguasaan Konsep Siswa Pada Konsep Struktur Jaringan Tumbuhan”. Shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW serta pengikutnya sampai akhir zaman. Alhamdulillah berkat ridho-Nya dan bantuan, bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, sebagai ungkapan rasa hormat yang tulus, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Ibu Baiq Hana Susanti M.Sc, Ketua Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Ibu Dr. Zulfiani M.Pd, Dosen Pembimbing I yang telah memberikan arahan dan bantuan ketika peneliti kesulitan dalam penelitian. 4. Ibu Nengsih Juanengsih M.Pd, Dosen Pembimbing II yang telah memberikan arahan dan bantuan ketika peneliti kesulitan dalam penelitian. 5. Ibu Dra. Neng Nurhemah M.Pd, Kepala Sekolah SMAN 9 Kota Tangsel yang telah memberikan izin penelitian.
i
6. Ibu Dwi Indriyanti S.Si, Guru bidang studi biologi di SMAN 9 Kota Tangsel, yang telah memberikan bantuan dan saran selama penelitian. 7. Kedua orang tua tercinta dan segenap keluarga serta pelipur lara yang dengan penuh keikhlasan memberikan doa, motivasi, dan memberikan bantuan moril maupun materil yang tak terhingga demi terselesaikannya skripsi ini. 8. Sobat-sobatku tersayang Dahlia, Ina, Vina, Neneng dan rekan-rekan mahasiswa Pendidikan IPA Angkatan 2007 serta pihak-pihak lainnya yang tak tersebutkan satu per satu terima kasih atas kebersamaan, dukungan dan bantuannya demi terselesaikan skripsi ini. Hanya harapan dan doa yang penulis panjatkan semoga pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Akhir kata, besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat menjadi kontribusi positif dan menambah referensi bagi semua pihak yang membutuhkan. Jakarta, November 2011
Penulis
ii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR ..................................................................................
i
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii DAFTAR TABEL ......................................................................................... vi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. vii
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ............................................................
1
B. Identifikasi Masalah .................................................................
6
C. Pembatasan Masalah .................................................................
6
D. Perumusan Masalah ..................................................................
7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................
7
BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS A. Deskripsi Teoritis ......................................................................
8
1. Pembelajaran Inkuiri ..........................................................
8
a. Pengertian Pembelajaran Inkuiri .....................................
8
b.Karakteristik Pembelajaran Inkuiri ................................. 10 c. Tingkatan-tingkatan Inkuiri ............................................ 12 d.Keunggulan Pembelajaran Inkuiri .................................. 13 e. Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri ......................... 14 2. Pembelajaran Inkuiri Terstruktur ........................................ 16 a.Pengertian Pembelajaran Inkuiri Terstruktur .................. 16 b.Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri Terstruktur ... 18 3. Pertanyaan Produktif dalam Pembelajaran Inkuiri iii
Terstruktur .......................................................................... 20 a. Definisi dan Fungsi Pertanyaan ..................................... 20 b.Pengertian Pertanyaan Produktif ..................................... 21 c. Urgensi Pertanyaan Produktif dalam Pembelajaran Inkuiri Terstruktur ........................................................... 26 4. Penguasaan Konsep ............................................................ 27 5. Konsep Struktur Jaringan Tumbuhan.................................. 29 B. Hasil Penelitian yang Relevan .................................................. 30 C. Kerangka Berpikir ..................................................................... 32 D. Perumusan Hipotesis ................................................................. 33
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................... 34 B. Metode dan Disain Penelitian.................................................... 34 C. Populasi dan Sampel.................................................................. 35 D. Variabel Penelitian .................................................................... 35 E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 36 F. Instrumen Penelitian .................................................................. 37 1. Tes Penguasaan Konsep ....................................................... 37 2. Lembar Observasi Aktivitas Guru ....................................... 39 3. Lembar Observasi VICS Flanders ....................................... 39 G. Uji Coba Instrumen ................................................................... 41 1. Validitas Instrumen ............................................................ 41 2. Reliabilitas Instrumen ......................................................... 42 3. Tingkat Kesukaran ............................................................. 43 4. Daya Pembeda .................................................................... 44 H. Teknik Analisis Data ................................................................. 45 1. Analisis Data Kuantitatif ..................................................... 45 a. Uji Normalitas ................................................................. 45 b. Uji Homogenitas ............................................................. 46 c. Uji Hipotesis .................................................................... 47 iv
d. Uji Normal Gain.............................................................. 48 2. Analisis Data Kualitatif ....................................................... 49 I. Hipotesis Statistik ........................................................................ 49
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .......................................................................... 50 1. Data Hasil Pretes ............................................................... 50 2. Data Hasil Postes............................................................... 50 3. Normal Gain ...................................................................... 53 4. Pengujian Prasyarat Analisis Data .................................... 54 a. Uji Normalitas ............................................................... 54 b. Uji Homogenitas ........................................................... 55 5. Pengujian Hipotesis ........................................................... 55 6. Data Hasil Observasi Kelas Eksperimen........................... 56 B. Pembahasan ................................................................................ 57
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ................................................................................ 61 B. Saran ........................................................................................... 61
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
v
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbedaan antara Pertanyaan Produktif dan Pertanyaan Nonproduktif .............................................................................. 23 Tabel 3.1 Disain Penelitian ........................................................................ 34 Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 37 Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Penguasaan Konsep .................................... 38 Tabel 3.4 Kategori dan Deskripsi Flanders ................................................ 39 Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Hasil Pretes Kelompok Kontrol dan Eksperimen ................................................................................. 50 Tabel 4.2 Rekapitulasi Data Hasil Postes Kelompok Kontrol dan Eksperimen ................................................................................. 51 Tabel 4.3 Penguasaan Konsep Siswa Untuk Setiap Subkonsep ................. 51 Tabel 4.4 Perbandingan Penguasaan Konsep Setelah Pembelajaran (Postes) Pada Jenjang Kognitif C1, C2 dan C3 .......................... 52 Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Normal Gain ................................................. 53 Tabel 4.6 Uji Normalitas Kelompok Eksperimen dan Kontrol .................. 54 Tabel 4.7 Perhitungan Uji Homogenitas .................................................... 55 Tabel 4.8 Pengujian Hipotesis Nilai Postes dengan Uji-t Kelompok Eksperimen dan Kontrol............................................................. 56 Tabel 4.9 Rekapitulasi Pertanyaan Guru Pada Tahap Retrieving dan Processing dalam Inkuiri Terstruktur Kelas Eksperimen .......... 57
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Kisi-kisi Tes Kognitif
Lampiran 2
Kisi-kisi Instrumen Tes
Lampiran 3
Rekapitulasi Analisis Butir Instrumen
Lampiran 4
Instrumen Penguasaan Konsep
Lampiran 5
Kunci Jawaban
Lampiran 6
Peta Konsep
Lampiran 7
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen
Lampiran 8
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol
Lampiran 9
Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas Eksperimen
Lampiran 10 Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas Kontrol Lampiran 11 Hasil Observasi Aktivitas Guru pada Kelas Eksperimen Lampiran 12 Deskripsi Pertanyaan Guru Lampiran 13 Data Nilai Kelas Eksperimen Lampiran 14 Data Nilai Kelas Kontrol Lampiran 15 Data Mentah Pretes Kelas Eksperimen Lampiran 16 Data Mentah Pretes Kelas Kontrol Lampiran 17 Data Mentah Postes Kelas Eksperimen Lampiran 18 Data Mentah Postes Kelas Kontrol Lampiran 19 Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen Lampiran 20 Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol Lampiran 21 Uji Normalitas Kelas Eksperimen Lampiran 22 Uji Normalitas Kelas Kontrol Lampiran 23 Persiapan Uji Normalitas N-Gain Kelas Eksperimen Lampiran 24 Uji Normalitas N-Gain Kelas Eksperimen Lampiran 25 Persiapan Uji Normalitas N-Gain Kelas Kontrol Lampiran 26 Uji Normalitas N-Gain Kelas Kontrol Lampiran 27 Persiapan Uji Homogenitas Pretes Lampiran 28 Persiapan Uji Homogenitas Postes vii
Lampiran 29 Uji Hipotesis Data Pretes Lampiran 30 Uji Hipotesis Data Postes
Foto-foto Pembelajaran Uji Referensi Surat Bimbingan Skripsi Surat Permohonan Izin Penelitian Surat Keterangan Penelitian
viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan strategi pembelajaran yang diharapkan mampu memperbaiki kualitas sistem pendidikan yang telah berlangsung selama ini. Kegiatan belajar mengajar, model pembelajaran dan sumber belajar merupakan faktor yang sangat
penting
untuk
menentukan
keberhasilan
pencapaian
tujuan
pembelajaran. Strategi dan metode pembelajaran yang baik dan tepat sangat diperlukan untuk terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga pembelajaran dapat memberikan sumbangan berarti bagi peningkatan sumber daya manusia. Belajar adalah proses terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas. Hal ini berdasar pada asumsi bahwa sepanjang kehidupannya manusia akan selalu dihadapkan pada masalah dan tujuan yang ingin dicapainya. Dalam proses mencapai tujuan itu, manusia akan dihadapkan pada berbagai rintangan. Itulah sebabnya, makna belajar bukan hanya mendorong siswa agar mampu menguasai sejumlah materi pelajaran akan tetapi bagaimana agar anak itu memiliki kompetensi untuk mampu menghadapi rintangan yang muncul dalam kehidupannya. Belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam situasi pendidikan. Guru didalam mengajar dituntut kesabaran, keuletan dan sikap terbuka disamping kemampuannya dalam situasi belajar mengajar yang lebih aktif. Sedangkan siswa dituntut adanya semangat dan motivasi belajar. Biologi merupakan salah satu cabang pendidikan sains yang menggunakan pendekatan empiris secara sistematis dalam mencari penjelasan alami tentang fenomena alam. Dengan demikian, pembelajaran biologi menjadi 1
wahana dalam menyiapkan siswa sebagai anggota masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan dan mengkaji solusi atas masalahmasalah yang dihadapi masyarakat. Pada dasarnya tujuan mata pelajaran biologi dalam Kurikulum Pendidikan Nasional adalah memahami konsep-konsep biologi dan saling keterkaitannya,
mengembangkan
keterampilan
dasar
biologi
untuk
menumbuhkan nilai serta sikap ilmiah, menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, mengembangkan kepekaan nalar untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan proses kehidupan dalam kejadian sehari-hari dan meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan. Sebagaimana pula yang tercantum dalam BSNP, mata pelajaran biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar.1 Melalui pembelajaran biologi, siswa diharapkan dapat memahami konsep sains lebih mendalam sehingga hakikat sains yang diwujudkan dalam pembelajaran IPA dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan sumber daya manusia dan kelestarian alam sekitar. Pembelajaran sains yang diharapkan dapat mewujudkan hakikat IPA tersebut biasanya diperoleh melalui kegiatan ilmiah. Melalui serangkaian kegiatan ilmiah, pembelajaran sains dapat menanamkan dan mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai ilmiah kepada siswa. KTSP menekankan pembelajaran biologi pada pemberian pengalaman secara langsung dengan tidak melepaskan konsep dengan kerja ilmiah.2 Hakikat sains yang diwujudkan dalam pembelajaran biologi dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan. Namun pembelajaran biologi yang diterapkan sampai saat ini belum memberikan kontribusi yang baik pada perbaikan mutu pendidikan. Konsep-konsep biologi 1
BSNP, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, (Jakarta: BSNP, 2006), h.451 2 Zulfiani, Tonih feronika, Kinkin suartini, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2009), h. 46
2
masih diajarkan melalui transfer pengetahuan dan bersifat hafalan sehingga konsep-konsep yang esensial dalam mata pelajaran biologi tidak dikuasai secara tuntas oleh siswa. Pada akhirnya rata-rata nilai tes yang diperoleh siswa sebagai gambaran penguasaan konsep yang telah diajarkan masih tergolong rendah. Pembelajaran dapat dikatakan sebagai sebuah sistem karena tersusun dari beberapa komponen yang saling berkaitan dan berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan yakni membelajarkan siswa. Pembelajaran
akan
dipastikan
berhasil
apabila
komponen-komponen
didalamnya dapat berjalan sesuai dengan fungsinya. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan seluruh komponen sistem pembelajaran tersebut. Dalam hal ini komponen-komponen utama yang mempengaruhi sistem pembelajaran adalah guru, siswa, sarana dan prasarana beserta lingkungannya. Pembelajaran biologi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya masih berupa transfer pengetahuan dan bukan sebuah transformasi pengetahuan. Pengetahuan sains yang diwariskan sampai saat ini hanya berupa produk, guru hanya memberikan ilmu sebagai produk dengan memindahkan teori-teori dari para ahli ke dalam otak anak didik untuk dihafalkan. Sehingga siswa tidak terstimulus untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya dan siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Kenyataan di lapangan bahwa pengajaran sains khususnya biologi yang hanya mencurahkan pengetahuan dapat menimbulkan miskonsepsi. Dalam hal ini, fakta, konsep dan prinsip sains lebih banyak dicurahkan melalui ceramah, tanya jawab, atau diskusi tanpa didasarkan pada hasil kerja praktik. Pencurahan pengetahuan dengan cara tersebut telah menimbulkan miskonsepsi karena dalam pembelajaran sains siswa menemukan sejumlah fakta, konsep dan prinsip tidak berdasarkan hasil kerja ilmiah. Dengan demikian, hasil pelajaran sains diberikan kepada siswa terjadi sebelum eksperimen dan tidak berdasarkan data hasil eksperimen atau pengamatan. Hal ini menyebabkan
3
hasil pelajaran hanya berupa kesimpulan yang sudah terbentuk tanpa membutuhkan partisipasi siswa dalam membangun pengetahuannya. Pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan yang memandang bahwa siswa belajar sains dengan cara mengkonstruksi pengertian atau pemahaman baru tentang fenomena dari pengalaman yang telah dimilikinya sebelumnya.3 Dalam pembelajaran sains berbasis konstruktivisme, siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat mengkonstruksi sendiri pemahamannya yang sudah tersimpan dalam memori dengan informasi yang baru diterimanya sehingga menghasilkan pengetahuan baru bagi siswa tersebut. Pembelajaran
berbasis
inkuiri
adalah
pembelajaran
berbasis
konstruktivisme yang melibatkan peran aktif siswa dalam membangun pemahamannya melalui pembelajaran penemuan. Dalam pembelajaran dengan penemuan, siswa didorong untuk mempelajari konsep-konsep dan prinsipprinsip melalui pengalaman langsung.
Pada kenyataannya penerapan
pembelajaran yang berbasis konstruktivisme banyak menghabiskan waktu ketika siswa berkesempatan membangun pengetahuannya secara mandiri sehingga sering tujuan pembelajaran tidak tercapai dan pada akhirnya siswa kurang menguasai konsep yang dibahas. Oleh karena itu dibutuhkan teknik pembelajaran yang dapat memberi kesempatan siswa untuk membangun pengetahuan secara aktif dengan siswa tetap terfokus pada konsep yang diberikan guru sehingga siswa dapat mencapai penguasaan konsep yang diharapkan. Inkuiri terstruktur (structured/discovery inquiry) adalah salah satu cara dalam pembelajaran berbasis inkuiri yang digunakan dalam pendidikan sains. Dalam pembelajaran inkuiri terstruktur siswa bertindak layaknya seorang ilmuwan dalam menemukan konsepnya, meskipun pembelajaran didominasi oleh peran aktif siswa, namun guru juga memiliki peranan penting dalam pembelajaran inkuiri terstruktur. Dalam hal ini guru berperan sebagai 3
Pudyo Susanto, Keterampilan Dasar Mengajar IPA Berbasis Konstruktivisme, (Malang: Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, 2002), h.6
4
fasilitator, mediator dan membantu serta membimbing siswa untuk menemukan konsepnya. Melalui pembelajaran inkuiri terstruktur, pengarahan dilakukan dalam bentuk pertanyaan dan tuntunan LKS yang diberikan bukan memberi tahu secara langsung. Salah satu dasar penting untuk bisa melakukan inkuiri adalah pertanyaan
produktif.4
Pertanyaan
produktif
adalah
pertanyaan
yang
jawabannya bisa ditemukan melalui kegiatan ilmiah atau penyelidikan, sehingga dengan pertanyaan produktif kegiatan yang dilakukan lebih terarah dan bermakna. Pertanyaan tersebut bermaksud untuk menggiring siswa sehingga siswa mau berpikir kritis dan terlibat aktif dalam pembelajaran konsep-konsep IPA biologi yang membutuhkan proses inkuiri. Dengan penerapan pertanyaan produktif guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa pada konsep yang sedang dibahas dengan tetap memberi kesempatan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya sehingga siswa dapat mancapai tujuan pembelajaran dan menguasai konsep yang diharapkan. Konsep struktur jaringan tumbuhan merupakan konsep yang banyak memberikan pengalaman melalui fakta-fakta yang diamati sehingga dengan menggunakan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur, siswa dapat memiliki pemahaman dan penguasaan konsep lebih mendalam. Hal ini dikarenakan dengan pengalaman langsung melalui penyelidikan dan verifikasi dapat memberikan bukti kebenaran konsep atau prinsip yang dipelajari. Melalui pertanyaan produktif siswa akan lebih aktif dalam membangun pengetahuannya dan lebih terfokus pada konsep yang diajarkan oleh guru. Dengan demikian hasil dari pembelajaran akan lebih maksimal dan bermakna sehingga siswa dapat menguasai konsep-konsep tersebut serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan latar belakang, penulis mengangkat masalah dalam bentuk karya tulis ilmiah yang berjudul ”Pengaruh Pertanyaan Produktif
4
Ari Widodo, Peningkatan Kemampuan Mahasiswa PGSD dalam Mengajukan Pertanyaan Produktif untuk Mendukung Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri, Jurnal Pendidikan Vol.10, No.1, Maret 2009, h.22
5
dalam Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Terhadap Penguasaan Konsep Struktur Jaringan Tumbuhan”.
B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang dapat diidentifikasi beberapa masalah yaitu: 1. Pembelajaran biologi yang diterapkan belum memberikan kontribusi yang baik pada perbaikan mutu pendidikan. 2. Konsep-konsep biologi masih diajarkan melalui transfer pengetahuan dan bersifat hafalan. 3. Rata-rata nilai tes siswa sebagai gambaran penguasaan konsep yang diajarkan masih tergolong rendah. 4. Pengajaran biologi yang telah menimbulkan adanya miskonsepsi. 5. Proses pembelajaran yang masih bersifat teacher centered. 6. Pembelajaran berbasis konstruktivisme membutuhkan teknik pembelajaran yang dapat mengarahkan siswa pada penguasaan konsep yang diharapkan.
C. Pembatasan Masalah Penelitian ini dibatasi pada masalah-masalah sebagai berikut: 1. Penguasaan konsep siswa pada konsep struktur jaringan tumbuhan dilihat dari hasil tes kognitif pada jenjang pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3) menurut teori kognitif Bloom. 2. Konsep dibagi menjadi empat yaitu jaringan epidermis, jaringan dasar, jaringan penyokong dan pengangkut, serta jaringan pada organ tumbuhan. 3. Pertanyaan produktif yang diterapkan berupa pertanyaan guru secara lisan (dirancang dalam RPP) dan tulisan (tercantum pada LKS).
D. Perumusan Masalah
6
Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: ”Apakah terdapat pengaruh penggunaan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terrstruktur terhadap penguasaan konsep struktur jaringan tumbuhan?”
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran biologi menggunakan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep struktur jaringan tumbuhan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat, sebagai berikut : 1. Bagi sekolah, diharapkan akan menjadi bahan pertimbangan bagi guru, khususnya guru mata pelajaran biologi agar dapat menerapkan metode pembelajaran yang tepat dalam upaya peningkatan penguasaan konsep siswa. 2. Bagi pihak penyelenggara pendidikan, diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan acuan dan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang sesuai dan tepat dalam usaha meningkatkan penguasaan konsep siswa baik pada materi biologi pada khususnya dan materi-materi lain pada umumnya. 3. Bagi penulis, diharapkan dapat menambah pengalaman dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa dan menerapkannya dengan baik dalam proses pembelajaran serta mengetahui adanya pengaruh pertanyaan produktif dalam model inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep.
7
BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis 1. Pembelajaran Inkuiri a. Pengertian Pembelajaran Inkuiri Inkuiri yang dalam bahasa inggris inquiry, berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan
manusia
untuk
mencari
atau
memahami
informasi.5
Pembelajaran inkuiri menekankan pada keterlibatan siswa secara aktif dalam memperoleh informasi, sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan yang diperolehnya dengan pengetahuan yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa tersebut. Dengan demikian model pembelajaran inkuiri merupakan model pemrosesan informasi yang melibatkan seluruh kemampuan siswa dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencari, menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analitis sehingga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Menurut Zulfiani dalam Dwirahayu mengungkapkan inkuiri yang juga berarti mengajukan pertanyaan yang bermakna, yang melibatkan pemaknaan, performa dengan operasi intelektual untuk menghasilkan pengalaman yang mudah dipahami.6 Pertanyaan yang bermakna adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan siswa pada kegiatan penyelidikan sehingga siswa memperoleh pengalaman secara langsung dalam proses kegiatan tersebut. Dengan kata lain, inkuiri adalah proses aktif pencarian informasi melalui kegiatan ilmiah seperti mengajukan pertanyaan, pengumpulan data, pelaksanaan penyelidikan dan penarikan kesimpulan.
5
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 135 6 Gelar Dwirahayu dan Munasprianto Ramli, Pendekatan Baru dalam Proses Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar Sebuah Antologi, (Jakarta: PIC UIN, 2007), h. 6
8
Menurut Alberta, pembelajaran berbasis inkuiri adalah sebuah proses dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, mengajukan pertanyaan, penyelidikan secara luas, dan kemudian membangun pemahaman baru, pengertian dan pengetahuan. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan yang baru bagi siswa dan mungkin dapat digunakan untuk menjawab sebuah pertanyaan, mengembangkan solusi atau mendukung suatu keadaan atau pendapat. Pengetahuan itu biasanya dikomunikasikan kepada orang lain dan mungkin merupakan hasil dari suatu rangkaian kegiatan.7 Salah satu prinsip pembelajaran inkuiri adalah siswa dapat mengkonstruksi sendiri pemahamannya dengan melakukan aktivitas aktif. Dalam proses belajar mengajar, inkuiri ini digunakan sebagai metode pengajaran yang memungkinkan ide siswa berperan dalam suatu investigasi yang akan dilakukan oleh pembelajar/siswa.8 Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.9 Dalam proses pembelajaran ini siswa dapat berpikir secara kritis dan analitis melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengajak siswa untuk terlibat aktif sehingga pembelajaran berpusat pada siswa. Teknik yang dipergunakan guru dalam menstimulus agar siswa dapat terlibat aktif dalam proses pencarian pemahaman sangat menentukan keberhasilan suatu proses inkuiri. Inkuiri sebagai suatu proses penyelidikan membantu siswa untuk mempelajari konsep-konsep biologi bukan hanya sekedar dalam bentuk produk namun sebuah proses. Pembelajaran inkuiri adalah suatu metode pembelajaran biologi yang menekankan dan mengarahkan siswa pada proses pencarian 7
Alberta, Focus On Inquiry: A Teacher’s Guided to Implementing Inquiry-Based Learning, (Canada: Learning and Teaching Resources Branch, 2004), h. 1 8 Zulfiani, Tonih feronika, Kinkin Suartini, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2009), h. 121 9 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2009), Cet.6, 2009, h. 194
9
informasi atas pertanyaan atau permasalahan yang diajukan sehingga mendukung adanya aktivitas hands on dan keterlibatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan dan memahami konsep-konsep yang diajarkan. Selama proses belajar mengajar, guru dapat mengajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang bersifat open-ended, sehingga memberi peluang siswa untuk melakukan penyelidikan mereka sendiri, menemukan jawaban-jawaban yang mungkin diperoleh melalui serangkaian kegiatan aktif siswa dan mengarahkan siswa untuk merekonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki. b. Karakteristik Pembelajaran Inkuiri Pembelajaran inkuiri adalah pembelajaran yang menekankan perkembangan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) anak menurut Piaget seperti yang dikutip Wina Sanjaya dipengaruhi oleh empat
faktor,
yaitu
kematangan,
pengalaman-pengalaman
fisik,
pengalaman sosial, dan equilibrasi. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru, yakni : 1. berorientasi pada pengembangan intelektual 2. prinsip interaksi 3. prinsip belajar 4. prinsip belajar untuk berpikir 5. prinsip keterbukaan10 Kegiatan ilmiah merupakan intisari dalam pembelajaran inkuiri. Inkuiri sebagai metode yang membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan intelektual memiliki hubungan yang erat dengan prosesproses inkuiri. Inkuiri ilmiah lebih tepat dikaitkan dengan tahapantahapan tindakan para saintis yang mengarahkan mereka pada pengetahuan ilmiah. Dalam kegiatan ilmiah para saintis melakukan pengamatan, menemukan masalah, melakukan hipotesis, bereksperimen, 10
Ibid., h. 197
10
mengumpulkan data berdasarkan instrumen yang dibuatnya dan membuat kesimpulan.11 Hinrichsen & Jarsett dalam Program Report The Northwest Regional Educational Laboratory seperti yang dikutip Zulfiani dalam Dwi Rahayu menyatakan empat karakter inkuiri, yaitu: 1) Proses koneksi yang meliputi konsiliasi, pertanyaan dan observasi 2) Desain eksperimen 3) Investigasi 4) Membangun pengetahuan berdasarkan hasil eksperimen.12 Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri. Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan
sikap
percaya
diri.
Dengan
demikian,
strategi
pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. tujuan
dari
penggunaan
strategi
pembelajaran
inkuiri
Ketiga, adalah
mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.13
11 12 13
Zulfiani, op.cit., h. 15 Ibid., h. 18 Tim Penulis, Strategi Pembelajaran, (Surabaya: LAPIS-PGMI, 2008), h. 6-9
11
Menurut peneliti berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, intisari
pembelajaran
inkuiri
karakteristik-karakteristik
adalah
utama
proses
inkuiri
inkuiri.
mencakup
Sehingga
hal-hal
yang
mengarahkan pada kegiatan berinkuiri. Salah satu peran guru dalam mengarahkan siswa untuk berinkuiri adalah pertanyaan. Sedangkan metode-metode yang dapat dilakukan dalam pembelajaran inkuiri adalah metode yang tidak lepas dari adanya kegiatan ilmiah seperti observasi, investigasi, demonstrasi atau eksperimentasi. c. Tingkatan-tingkatan Inkuiri Dalam Standard for Science Teacher Preparation seperti yang dikutip Zulfiani terdapat 3 tingkatan inkuiri, yakni: 1)
Discovery/Structured Inquiry Dalam tingkatan ini tindakan utama guru ialah mengidentifikasi
permasalahan dan proses, sementara siswa mengidentifikasi alternatif hasil. 2)
Guided Inquiry Tahap guided inquiry mengacu pada tindakan utama guru ialah
mengajukan permasalahan, siswa menentukan proses dan penyelesaian masalah. 3)
Open Inquiry Tindakan utama pada Open Inquiry ialah guru memaparkan
konteks penyelesaian masalah kemudian siswa mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah.14 Menurut Colburn pembelajaran inkuiri adalah penciptaan kondisi kelas
dimana
siswa
berada
dalam
situasi
bebas
berpendapat,
pembelajaran berpusat pada siswa dan adanya aktivitas hands-on. Berdasarkan pengertian ini, maka pembelajaran inkuiri terdiri dari beberapa jenis pendekatan, yaitu: 1) Structured Inquiry (inkuiri terstruktur). Dalam inkuiri terstruktur, guru menyediakan tujuan, petunjuk, dan prosedur kegiatan tetapi 14
Zulfiani, Tonih Feronika, Kinkin Suartini, op.cit., h. 121
12
tidak memberitahukan hasil. Siswa diharapkan menemukan sendiri hubungan antar variabel ataupun alternatif lainnya berdasarkan data yang dikumpulkan. 2) Guided Inquiry (inkuiri terbimbing). Guru hanya menyediakan alat dan bahan serta permasalahan yang akan diteliti siswa. Siswa merancang sendiri prosedur pemecahan masalahnya. 3) Inquiry Open-ended. Pendekatan ini mirip dengan pendekatan terbimbing,
dengan
tambahan
siswa
merumuskan
sendiri
permasalahannya yang akan diteliti. 4) Learning Cycle. Siswa dilibatkan dalam suatu aktivitas dimana siswa dikenalkan pada konsep yang baru, kemudian konteks penggunaan dan penerapan konsep tersebut disesuaikan dengan fenomena yang biasa ditemukan oleh siswa.15 d. Keunggulan Pembelajaran Inkuiri Teknik inkuiri ini memiliki keunggulan yang dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik. 2) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. 3) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka. 4) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri. 5) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. 6) Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang. 7) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu. 8) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri. 15
Alan Colburn, An Inquiry Primer, (Science Scope, 2000) diakses pada 10 Desember 2010 dari http://www.experientiallearning.ucdavis.edu/module2/el2-60-primer.pdf, h. 42
13
9) Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar yang tradisional. 10) Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.16 Ada
beberapa
alasan
yang
mendasari
mengapa
model
pembelajaran inkuiri disarankan untuk membelajarkan biologi, yaitu sebagai berikut: 1) Model pembelajaran ini khusus dirancang hanya untuk mata pelajaran biologi dan dalam beberapa hasil penelitian telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar biologi. 2) Model pembelajaran inkuiri biologi, memiliki prosedur dan langkah-langkah yang sistematis sehingga mudah diterapkan guru. 3) Model pembelajaran inkuiri biologi dirancang dengan memadukan ketepatan strategi pembelajaran dengan cara otak bekerja selama proses pembelajaran.17 e. Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri Langkah-langkah dalam pembelajaran inkuiri, disajikan sebagai berikut: 1) Penyajian masalah Pada tahap ini siswa dihadapkan pada situasi teka-teki. Rumusan masalah didapat setelah siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan ini merupakan stimulus yang efektif untuk mendorong siswa berpikir dan memulai belajar. 2) Pengumpulan dan verifikasi data Pada tahap ini siswa merancang jawaban sementara (hipotesis), selanjutnya merancang kegiatan untuk menguji kebenaran jawaban sementara yang telah dibuat. 3) Mengadakan eksperimen atau pengumpulan data
16
Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Cet.7, h. 76 Made Wena, Strategi pembelajaran inovatif kontemporer:suatu tinjauan konseptual operasional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), Cet. 4, h. 67 17
14
Pada tahap ini siswa melaksanakan kegiatan yang telah dirancang dan mengobservasi fakta yang muncul, mencatat datanya,
dan
melakukan
interpretasi
terhadap
data
hasil
pengamatan. 4) Merumuskan penjelasan Pada tahap ini siswa menentukan apakah jawaban sementara yang telah disusun sebelumnya terbukti kebenarannya. 5) Mengolah analisis tentang proses inkuiri Pada tahap ini siswa melakukan refleksi terhadap cara-cara mereka saat melakukan kegiatan untuk membuktikan kebenaran jawaban sementara. Hasil yang diharapkan dari tahap ini adalah siswa mengetahui cara pemecahan masalah yang paling baik.18 Proses inkuiri memiliki banyak hal-hal penting saat awal. Namun faktanya siswa tetap akan melewati fase-fase inkuiri sepanjang penyelidikan. Adapun fase inkuiri meliputi : 1) Inquiry Phase (fase berinkuiri) Fase awal ini mengajak siswa untuk memikirkan topik dan mengundang siswa melakukan kerja ilmiah serta mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan.
2) Verifikasi/Hipotesis Fase dimana siswa diajak untuk mengawali penelitian dan eksplorasi serta mengungkapkan hipotesis-hipotesis yang nantinya akan diselidiki. 3) Eksperimentasi/Analisis Data Pada fase ini, siswa berusaha dalam penelitian secara teliti, dan pengumpulan data (observasi, pengukuran), untuk mempelajari datadata dan untuk menganalisa data. 18
Nuryani Rustaman, Materi Pokok Strategi Pembelajaran Biologi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), Cet.1, h. 12-19
15
4)
Implementation Phase (fase implementasi) Pada fase ini, siswa diharuskan mengorganisasi data dan menganalisa, menggambarkan kesimpulan dan menformulasikan penjelasan-penjelasan.19 Langkah-langkah yang digunakan dalam penyajian materi dengan model pembelajaran inkuiri adalah fase berhadapan dengan masalah, fase pengumpulan dan pengujian data, fase pengumpulan data dalam eksperimen, fase formulasi penjelasan dan fase analisis proses inkuiri.20
2. Pembelajaran Inkuiri Terstruktur a. Pengertian Inkuiri Terstruktur Menurut Harlen, inkuiri terstruktur adalah pembelajaran discovery (penemuan) yang dimodifikasi
dimana
siswa
menerima
dan
mendapatkan petunjuk-petunjuk untuk prosedur yang digunakan, selanjutnya
mengumpulkan
data,
mengorganisasi
data,
serta
mendapatkan serangkaian pertanyaan yang mengantarkan kepada kesimpulan (solusi dari sebuah masalah).21 Menurut
Colburn,
pendekatan
inkuiri
terstruktur
adalah
pembelajaran dengan guru menyediakan tujuan, petunjuk, dan prosedur kegiatan tetapi tidak memberitahukan hasil.
Siswa
diharapkan menemukan sendiri hubungan antar variabel ataupun alternatif lainnya berdasarkan data yang dikumpulkan.22 Dalam inkuiri terstruktur, petunjuk praktikum berisi masalah, prosedur-prosedur kerja tanpa analisis hasil dan kesimpulan sehingga
19
The Acces Center, Science Inquiry, U.S Office of Special Education Program diakses pada 29 Mei 2011 dari http://www.k8accesscenter.org/documents/ScienceInquiry-PDF.pdf h. 9-11 20 I Made Wirtha dan Ni ketut Rapi, Pengaruh Model Pembelajaran dan Penalaran Formal Terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah Siswa SMAN 4 Singaraja, Jurnal penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 2008, h. 20 21 Wayne Harlen, The Teaching of Science, (Great Britain: David Fulton Publisher, 1992), h. 47 22 Alan Colburn, op.cit., h. 42
16
siswa dituntut untuk menemukan hubungan atau membuat kesimpulan berdasarkan hasil analisis siswa.23 Metode inkuiri dikembangkan melalui pendekatan heuristik yang memandang saintis sebagai penemu (discoverer). Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual. Menemukan merupakan inti dari proses kegiatan pembelajaran kontekstual. Dengan demikian dapat diketahui bahwa inkuiri terstruktur yang berciri pada pembelajaran penemuan memerlukan teknik atau alat bantu yang dapat menstimulus siswa untuk terlibat dalam pembelajaran. Pembelajaran melalui penemuan memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman sehingga membantu siswa dalam memahami dan menguasai konsep. Melalui verifikasi yang ditemukan siswa selama pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa untuk mencapai pemahaman konsep yang diharapkan. Dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur guru memiliki peran untuk memilih topik/bahasan, pertanyaan dan menyediakan materi
beserta
prosedur
kerja.
Akan
tetapi
dalam
proses
pembelajarannya siswa diharuskan menganalisis hasil dan menarik kesimpulan dari kegiatan ilmiah yang telah dilakukan. b. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Alberta mengemukakan enam fase dalam inkuiri, yaitu : Planning, retrieving, processing, creating, sharing, dan evaluating. 1) Planning (perencanaan). Siswa harus memahami bahwa tujuan pokok pembelajaran berbasis inkuiri
adalah
untuk
mengembangkan
kemampuannya.
Pembelajaran inkuiri dimulai dengan ketertarikan siswa atau keingintahuannya terhadap suatu pokok bahasan. Untuk siswa yang 23
Laura B.Buck, dkk, Characterizing the Level of Inquiry in the Undergraduated Laboratory, Journal of College Science Teaching, 2008, diakses pada tanggal 29 Mei 2011 dari http://www.chem.purdue.edu/towns/Towns%20Publications/Bruck%20Bretz%20Towns%202008 pdf, h. 54
17
sedikit atau tidak sama sekali mempunyai latar belakang pengetahuan dari pokok bahasan yang akan dipelajari, guru harus memberikan informasi atau latar belakang pengetahuan yang akan memotivasi siswa. 2) Retrieving (mengungkapkan kembali). Tahap selanjutnya siswa mulai memikirkan informasi yang mereka punya dan yang mereka inginkan. Siswa mungkin perlu mempergunakan
waktu
sebaik-baiknya
untuk
menyelidiki
informasi yang telah mereka temukan. Pada fase ini siswa aktif mencari informasi yang berhubungan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari. Guru membantu siswa memahami bahwa informasi yang telah mereka dapatkan baik itu dari buku perpustakaan, majalah ataupun internet, dihasilkan oleh orang yang dipercaya. 3) Processing (proses). Fase ini dimulai ketika siswa telah menemukan fokus untuk berinkuiri. Fokus tersebut adalah aspek dari pokok bahasan/topik sehingga
siswa
menentukan
untuk
melakukan
investigasi/
penyelidikan. Pada fase ini siswa memilih dan mencatat informasi yang berhubungan dengan topik yang dibahas, dan informasi yang menjawab pertanyaan siswa. 4) Creating (menciptakan). Pada fase ini, siswa mengorganisasi dan mensintesis informasi dan gagasannya mereka mengembangkan dan memperbaiki laporan serta merumuskan jawaban, solusi, dan kesimpulan. Pada fase ini siswa menghasilkan produk yang tertuang baik dalam bentuk oral, visual, tulisan, gerak maupun multimedia. 5) Sharing (bertukar pendapat). Pada fase ini siswa mempresentasikan produk inkuiri mereka kepada guru ataupun teman mereka. Fase ini harus menjadi kesempatan bagi siswa untuk mempertimbangkan peran anggota diskusi
guna
meningkatkan 18
pengalaman
diskusi.
Dalam
mempresentasikan produknya mungkin siswa akan gugup, mereka merasa khawatir bahwa teman-teman yang lain tidak memahami dan menghargai karya mereka. Karena itu, guru harus mengajarkan siswa untuk menghargai karya orang lain untuk mendukung fase ini. 6) Evaluating (evaluasi). Pada fase evaluasi, menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses penilaian seperti dalam penyelidikan untuk menghasilkan produk. Penekanan ini terletak pada penilaian pemahaman siswa terhadap proses dan terhadap penguasaan konsep.24 Siklus inkuiri yang termodifikasi meliputi lima tahapan adalah, sebagai berikut : 1) Challange (Tantangan) adalah fase dimana siswa diberikan deskripsi-deskripsi masalah. 2) Initial Thoughts (pemikiran-pemikiran awal) adalah fase dimana siswa-siswa menyediakan pemikiran-pemikiran awal berdasarkan sebuah masalah. 3) Resources (Pencarian data) adalah fase dimana siswa dapat mempelajari masalah. 4) Self Assesment adalah fase dimana siswa-siswa menjawab beberapa pertanyaan untuk mendapat umpan balik dalam pengetahuan siswa. 5) Wrap up (akhir) adalah tahap akhir dimana siswa-siswa dapat melihat
kembali
pemikiran-pemikiran
awal
mereka
(hipotesis) dan memberikan kesimpulan atas modul yang telah diberikan guru.25 3. Pertanyaan Produktif dalam Pembelajaran Inkuiri Terstruktur
24
Alberta, op.cit., h. 11-13 Hogyeong, Jeong dkk, Analysis of Productive Learning Behaviors in a Structured Inquiry Cycle Using Hidden Markov Models, Institute for Software Integrated System, Vanderbilt University, dari http://educationaldatamining.org/EDM2010/uploads/proc/edm2010_submission_59.pdf diakses pada 29 Mei 2011, h. 82 25
19
a. Definisi dan Fungsi Pertanyaan Menurut G.A. Brown dan R.Edmondson dalam Udin Winataputra mendefinisikan
pertanyaan
sebagai
segala
pernyataan
yang
menginginkan tanggapan verbal (lisan).26 Dalam proses belajar mengajar, bertanya memegang peranan penting, sebab pertanyaan yang tersusun baik dengan teknik pelontaran yang tepat akan: 1) Meningkatkan partisipasi murid dalam kegiatan belajar mengajar 2) Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu murid terhadap sesuatu masalah yang sedang dibicarakan 3) Mengembangkan pola berpikir dan cara belajar aktif dari siswa, sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya 4) Menuntun proses berpikir murid, sebab pertanyaan yang baik akan membantu murid dalam menentukan jawaban yang baik dan
5) Memusatkan perhatian murid terhadap masalah yang sedang dibahas.27 Dalam aktivitas pembelajaran, kegiatan bertanya dapat dilakukan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan orang lain dan sebagainya. Kegiatan bertanya dalam pembelajaran berguna untuk: a) Menggali informasi, baik informasi administrasi maupun akademis b) Mengecek pemahaman siswa c) Memecahkan persoalan yang dihadapi d) Membangkitkan respon kepada siswa e) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa f) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa 26
Udin S. Winataputra, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2001), Cet.4, h. 7.7 27
Marno, M.Idris, Strategi dan Metode Pengajaran, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), Cet.5, h. 115
20
g) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru h) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa i) Menyegarkan kembali pengetahuan siswa 28 Menurut Harlen lebih jauh mengungkapkan bahwa pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran, yang menjadi ciri dari model sebuah pembelajaran. Pertanyaan dalam pembelajaran digunakan untuk berbagai macam tujuan, diantaranya adalah untuk mengontrol siswa, sebagai informasi, untuk menguji daya
ingat
siswa,
untuk
mendorong
siswa
berpikir,
untuk
mengarahkan dan menuntun pada arah tertentu, dan untuk mengungkapkan gagasan siswa.29 b. Pengertian Pertanyaan Produktif Guru sangat dianjurkan untuk mengajukan pertanyaan dalam proses pembelajaran. Bertanya merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai guru karena sampai saat ini kegiatan bertanya masih dianggap metode yang efektif sebagai selingan metode ceramah. Pertanyaan yang efektif lebih potensial daripada metode mengajar yang lain, terutama jika ingin mendorong siswa berpikir dan bernalar. Selanjutnya diketahui juga bahwa dengan menggunakan pertanyaan yang efektif berarti guru mendorong siswa untuk berpikir dan bernalar sehingga belajar menjadi terpusat pada diri siswa. 30 Peningkatan pertanyaan yang menyangkut kualitas pertanyaan akan tertuju pada proses berpikir yang diharapkan terjadi pada diri siswa. Pertanyaan yang hanya mengharapkan jawaban berupa fakta atau informasi akan mengakibatkan proses berpikir yang lebih rendah pada penjawab pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban dimana jawaban tersebut harus diorganisasi
28
Kunandar, Guru Profesional : Implementasi KTSP dan sukses dalam sertifikasi guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 310 29 Wayne Harlen, op.cit, h. 109 30 Nuryani Y.Rustaman, dkk., Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2005), Cet.1, h. 206
21
atau disusun dari fakta-fakta atau informasi sebelumnya membutuhkan proses yang lebih tinggi dan kompleks.31 Dengan demikian kualitas suatu pertanyaan akan bersangkut paut dengan jenis-jenis pertanyaan itu. Beberapa pengelompokkan pertanyaan telah dilakukan Sheila Jelly seperti yang dikutip Ari Widodo, pertanyaan dibedakan menjadi dua yakni pertanyaan produktif dan non produktif. Pertanyaan produktif adalah pertanyaan yang jawabannya bisa ditemukan melalui kegiatan atau pengamatan, sedangkan pertanyaan non produktif adalah pertanyaan yang jawabannya didasarkan pada buku atau sumber kedua lainnya.
Tabel 2.1 Perbedaan antara Pertanyaan Produktif dan Pertanyaan Nonproduktif Pertanyaan Nonproduktif a) Mendorong munculnya
Pertanyaan Produktif a) Mendorong munculnya
pengertian sains sebagai
pengertian bahwa sains
informasi
adalah cara kerja
b) Jawaban diperoleh dari
b) Jawaban diperoleh dari
sumber kedua misalnya dari
pengamatan langsung yang
bacaan
menuntut tindakan pengamatan/percobaan
c) Cenderung menekankan
c) Mendorong munculnya
bahwa ada jawaban tertentu
31
Marno, M.Idris, op.cit., h. 116
22
kesadaran bahwa jawaban
Pertanyaan Nonproduktif yang benar
Pertanyaan Produktif yang berbeda bisa saja benar, tergantung konteksnya.
d) Anak yang mempunyai
d) Hampir semua anak bisa
kemampuan verbal yang baik
menjawab pertanyaan32
cenderung lebih aktif dan banyak menjawab
Sedangkan menurut Nuryani Y.Rustaman pertanyaan produktif adalah pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Sebaliknya pertanyaan nonproduktif memerlukan jawaban terpikir dan yang diucapkan, yang tidak selalu mudah dilakukan oleh siswa.33 Menurut Kinkin Suartini dalam Dwirahayu mengungkapkan peranan
guru
dalam
kegiatan
pembelajaran
sains
dengan
menggunakan metode inquiry adalah menstimulus siswa agar tertantang untuk berpikir kritis.34 Bertanya merupakan salah satu cara untuk menstimulus siswa agar berpikir kritis. Selain membuat siswa berpikir kritis juga memiliki fungsi lainnya dalam kegiatan pembelajaran, seperti: 1) Memberikan dorongan dan pengarahan kepada siswa dalam berpikir untuk memecahkan suatu masalah 2) Memberikan latihan kepada siswa untuk menggunakan informasi dan keterampilan memproseskan perolehan dalam menjelaskan atau memecahkan suatu masalah
32
Ari Widodo, Peningkatan Kemampuan Mahasiswa PGSD dalam Mengajukan Pertanyaan Produktif untuk Mendukung Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri, (Jurnal Pendidikan, Vol. 10, No.1, Maret 2009), h. 23 33 Nuryani Y.Rustaman dkk., op.cit., h. 207 34 Gelar Dwirahayu dan Munasprianto Ramli, Pendekatan Baru dalam Proses Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar Sebuah Antologi, (Jakarta: PIC UIN, 2007), h. 105
23
3) Memberikan dorongan atau mengajak siswa untuk berpikir dan memecahkan suatu masalah dengan kemampuannya sendiri 4) Memberikan dorongan atau mengajak siswa untuk berperan serta secara aktif dalam proses belajar-mengajar 5) Memperoleh umpan balik dari siswa mengenai: a)
tingkat keberhasilan penyampaian bahan ajar
b) daya serap siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dibahas c)
ketepatan bahan pelajaran yang telah dipilih untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan
d) bagian-bagian bahan pelajaran yang masih dirasakan sulit atau belum dipahami 6) Merangsang rasa ingin tahu siswa 7) Merangsang penanaman nilai-nilai tertentu.35 Mengajukan berbagai pertanyaan menantang termasuk salah satu cara untuk merangsang berpikir kreatif pada diri siswa. Pertanyaan menantang ini berhubungan dengan jenis-jenis pertanyaan yang bersifat sebagai berikut: a) Menanyakan
apa
kemungkinan-kemungkinan
akibat
apabila
kejadian yang telah pernah terjadi dan yang tidak pernah terjadi. b) Menanyakan kemungkinan-kemungkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum
pernah
terjadi,
tetapi
siswa
harus
membayangkan apa saja kemungkinan-kemungkinan akibatnya andaikata kejadian atau situasi itu terjadi di sini.36 Elsgeest seperti yang dikutip Harlen menyarankan pertanyaan yang diajukan guru sebaiknya memiliki tujuan lebih jelas dan menghasilkan kemudian menyatakan pertanyaan nonproduktif sebagai pertanyaan-pertanyaan pertanyaan-pertanyaan
pengujian. produktif
Selanjutnya berdasarkan
membedakan
urutannya
dalam
memotivasi siswa untuk melakukan penyelidikan: 35
Ibid., h. 107 Edi Soegito, Yuliani Nurani, Kemampuan Dasar Mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2003), Cet.5, h. 2.2 36
24
1)
Pertanyaan yang memfokuskan perhatian Contoh: Sudahkah kamu perhatikan …?
2)
Pertanyaan mengukur dan membilang Contoh: Berapa banyak? Berapa lama?
3)
Pertanyaan membandingkan Contoh: Apakah persamaan dari kedua helai daun?
4)
Pertanyaan tindakan Contoh: Apakah yang akan terjadi apabila seberkas cahaya mengenai tubuh cacing tanah?
5)
Pertanyaan menghadapkan pada masalah a) Contoh:
Dapatkah
kaupikirkan
cara
untuk
memperjelas maksudnya? b) Bagaimana kamu dapat membuat bayang-bayang yang
berwarna?37
Dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur, pertanyaan produktif sangat penting gunanya untuk membimbing siswa pada proses
inkuiri.
Pertanyaan
produktif
yang
digunakan
dalam
pembelajaran ini adalah pertanyaan yang jawabannya hanya dapat ditemukan siswa melalui sebuah kegiatan. Dengan demikian berdasarkan penjelasan diatas pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur adalah pertanyaan yang menuntun siswa untuk melakukan pengamatan atau penyelidikan sehingga mendorong siswa untuk berinkuiri berdasarkan prosedur kerja yang telah diberikan guru. c. Urgensi Pertanyaan Produktif dalam Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Melalui pembelajaran inkuiri terstruktur guru membimbing dan mengarahkan kepada siswa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan ilmiah
seperti
observasi,
investigasi,
dan
eksplorasi.
Dalam
pelaksanaan kegiatan, bimbingan hendaknya dilakukan dalam bentuk 37
Wayne Harlen, op.cit., h. 110
25
pertanyaan pengarah dan bukan memberi tahu secara langsung. 38 Pertanyaan produktif adalah pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk berbuat atau melakukan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan.39 Pertanyaan
yang
baik
adalah
pertanyaan
yang
lebih
mementingkan isi dan hakekat pertanyaan. Banyaknya pertanyaan yang
diajukan
menunjukkan
dalam
bahwa
sebuah
kegiatan
pembelajaran
tersebut
pembelajaran lebih
tidak
berkualitas.
Pertanyaan yang berkualitas dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikirnya. Dengan pertanyaan yang berkualitas siswa tertantang untuk berpikir kritis dan kreatif. Selain itu juga pertanyaan yang berkualitas akan mendorong siswa
untuk
terlibat
mengakomodasikan,
secara
aktif
mengorganisasikan
dalam
mengasimilasikan,
dan
mengkonstruksikan
konsep-konsep dalam benak siswa. Hal ini tentu akan membuat siswa dengan mudah dapat memahami konsep yang sedang dipelajari dan pada akhirnya akan mempertinggi penguasaan konsep siswa. Pertanyaan produktif adalah salah satu pertanyaan berkualitas yang dapat menggiring siswa untuk berinkuiri karena dapat menstimulus siswa untuk berpikir kritis sehingga siswa dapat memahami konsep secara personal. Penggunaan pertanyaan produktif mendukung pembelajaran inkuiri terstruktur yang diterapkan dalam pembelajaran sains khususnya biologi. Hal ini dikarenakan melalui pertanyaan produktif banyak siswa yang dapat ikut terlibat dalam kerja ilmiah, berbeda dengan pertanyaan kognitif yang hanya bisa dijawab oleh sebagian kecil siswa yang sudah memahami konsep. Pertanyaan produktif sangat berperan untuk menimbulkan keberanian menjawab atau mengemukakan 38
Ari Widodo, op.cit., h. 22 Siti Sriyati, dkk., Penerapan Pertanyaan Produktif dalam Pembelajaran Biologi untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah dan Pemahaman Konsep Siswa di SMA, (Artikel Ilmiah FPMIPA UPI, 2006), h. 4 diakses pada tanggal 10 Desember 2010 dari http://file.upi.edu 39
26
pendapat dan meningkatkan kegiatan belajar mengajar.40 Dengan demikian kegiatan pembelajaran IPA melalui kegiatan ilmiah yang menerapkan pertanyaan produktif akan sejalan dengan hakikat IPA yaitu IPA bukan hanya sekedar produk namun juga sebagai proses. 4. Penguasaan Konsep Dalam mempelajari sebuah konsep orang akan mengadakan abstraksi, yaitu dalam objek-objek yang meliputi benda, kejadian dan orang hanya ditinjau dari aspek-aspek tertentu saja. Objek tidak ditinjau dalam semua detail-detailnya, tetapi aspek tertentu seolah diangkat dan disendirikan. Dengan demikian konsep dapat diartikan sebagai satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang memiliki ciri-ciri yang sama.41 Konsep merupakan suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri, karakter, atau atribut yang sama dari sekelompok objek dari suatu fakta, baik merupakan suatu peristiwa, benda atau fenomena di alam yang membedakannya dari kelompok lainnya.42 Menurut Ausubel seperti yang dikutip Dahar konsep-konsep diperoleh dengan dua cara yaitu formasi konsep dan asimilasi konsep. Formasi konsep terutama merupakan bentuk perolehan konsep-konsep sebelum anak-anak masuk sekolah. Asimilasi konsep merupakan cara utama untuk memperoleh konsep-konsep selama dan sesudah sekolah.43 Prayekti mengungkapkan bahwa penguasaan konsep merupakan penguasaan terhadap abstraksi yang memiliki satu kelas atau objek-objek kejadian atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama.44 Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi bertujuan untuk mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan berupa 40
Nuryani Y.Rustaman, Andrian Rustaman, Peranan Pertanyaan Produktif dalam Pengembangan KPS dan LKS, (bahan seminar dan lokakarya FPMIPA UPI, 2003) http://file.upi.edu/Direktori/D%20%20FPMIPA/JUR.%20PEND.%20BIOLOGI/131353755%20% 20ANDRIAN%20RUSTAMAN/PERANAN%20PERTANYAAN%20PRODUKTIF%2C%20KP S%20%26%20LKS.pdf diakses pada tanggal 10 Desember 2010, h. 7 41 Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Grasindo, 1996), Cet.4, h. 82 42 Nuryani Y.Rustaman, dkk, op.cit.., h. 51 43 Ratna W. Dahar, Teori-teori Belajar, (Jakarta: Erlangga, 1996), h. 81 44 Prayekti, Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat pada Pembelajaran IPA SD, diakses pada tanggal 20 Januari 2011 dari http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/590617.pdf, h. 2
27
materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip utama keilmuan tersebut haruslah dimiliki dan dikuasai siswa secara tuntas, bukan hanya dalam bentuk hafalan.45 Ranah kognitif merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan mental/otak. Pada ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berpikir berdasarkan taksonomi Bloom, mulai dari tingkatan yang rendah sampai tinggi, yakni pengetahuan/ingatan-knowledge, pemahaman-comprehension, penerapan-application,
analisis-analysis,
sintesis-syntesis,
evaluasi-
evaluation. Pada tahun 2001, Lorin W. Anderson dan David R.Krathwohl melakukan revisi terhadap taksonomi Bloom (teori kognitif) menjadi: a. Ingatan (remember) adalah kemampuan menyatakan kembali fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang telah dipelajari dan tersimpan dalam memori jangka panjang (long term memory). b. Pemahaman (understand) adalah membangun pengertian dari pesan instruksional termasuk pesan secara lisan, tulisan dan komunikasi secara grafis. c. Penerapan (apply) adalah kemampuan menyelesaikan atau menggunakan prosedur yang dipelajarinya pada suatu keadaan. d. Analisis (analyze) adalah kemampuan untuk menguraikan materi menjadi komponen-komponennya
dan
menentukan
bagaimana
komponen-
komponen tersebut berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga secara keseluruhan menjadi suatu struktur atau pengertian. e. Evaluasi (evaluate) adalah kemampuan untuk membuat pertimbangan suatu penilaian terhadap sesuatu berdasarkan ukuran-ukuran atau standar yang diterapkan. f. Mencipta (create) adalah kemampuan untuk menyusun kembali unsurunsur ke dalam suatu pola atau struktur baru.46
45
Ahmad Sofyan, Tonih Feronika dan Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 14 46 Lorin W. Anderson, David R. Krathwohl; whit Peter W. Airasian (et. al.), A Taxonomy for Learning, Teaching and Assesing, (Newyork: Longman, 2001), h. 67-68
28
Penguasaan konsep merupakan penguasaan materi berkenaan dengan hasil konstruksi pengetahuan setelah pembelajaran.
5. Konsep Struktur Jaringan Tumbuhan Pada penelitian ini konsep struktur jaringan tumbuhan dibatasi pada beberapa subkonsep utama yang menyangkut macam-macam jaringan tumbuhan yakni jaringan epidermis, jaringan dasar, penyokong dan pengangkut serta jaringan pada organ tanaman. Selanjutnya, setiap sub-sub konsep tersebut tentu berkaitan dengan fungsinya masing-masing. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk mata pelajaran Biologi kelas XI pada konsep struktur jaringan tumbuhan memiliki kompetensi dasar mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkannya dengan fungsinya. Karakteristik materi ini banyak memberikan fakta-fakta sehingga dengan melakukan kegiatan untuk membuktikan
adanya
macam-macam
struktur
jaringan
tumbuhan
diharapkan siswa mendapat pengalaman atas macam-macam struktur jaringan tumbuhan sehingga dapat mengaitkannya dengan fungsi yang dimiliki jaringan tersebut. Oleh sebab itu diperlukan model pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivisme untuk memperoleh verifikasi atas teori yang ada di bawah bimbingan guru. Dengan pengalaman yang didapat siswa melalui proses inkuiri diharapkan penguasaan konsep siswa lebih mendalam.
B. Hasil Penelitian yang Relevan Di bawah ini penulis paparkan beberapa hasil penelitian yang bersinggungan dengan judul penelitian, diantaranya: Siti Sriyati, Yanti Rumbiyati, dan Rengky Meliani dengan penelitian
yang
berjudul
“Penerapan
Pertanyaan
Produktif
Dalam
Pembelajaran Biologi Untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah dan Pemahaman Konsep Siswa di SMA”. Dalam kesimpulannya dikatakan terjadi
29
peningkatan pemahaman konsep siswa yang signifikan dari pretes ke postes pada siklus I dengan nilai gain= 28,41 dan pada siklus II dengan gain=32,83. 47 Noverita dengan penelitiannya yang berjudul “Metode Pertanyaan Produktif dan Percobaan Sederhana Sebagai Langkah Mempermudah Pemahaman Terhadap Sifat Koligatif Larutan dan Meningkatkan Keaktifan Siswa Belajar Kimia”. Dalam kesimpulannya dapat dikatakan bahwa pembelajaran kimia pada materi sifat koligatif larutan dengan metode pertanyaan produktif dan percobaan sederhana dapat meningkatkan keaktifan siswa, meningkatkan pemahaman siswa, dan hasil belajar siswa dengan persentase peningkatan 40 % siswa yang mendapat nilai > 75.48 I Made Wirtha dan Ni Ketut Rapi, dengan penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran dan Penalaran Formal Terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah Siswa SMA Negeri 4 Singaraja”. Dalam kesimpulannya dapat dikatakan bahwa penguasaan konsep fisika siswa yang belajar melalui model pembelajaran inkuiri lebih baik daripada siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional (F=10,790; p<0,05; nilai rata-rata pembelajaran inkuiri 64,3750; dan konvensional 57,0417).49 Ari Widodo dengan penelitiannya yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Mahasiswa PGSD dalam Mengajukan Pertanyaan Produktif untuk Mendukung Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri”. Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan inkuiri sains. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh peningkatan rata-rata pertanyaan produktif 0,6 %.50 Arief
Sidhartha
dengan
penelitian yang berjudul
“Model
Pembelajaran Asam Basa Berbasis Inkuiri Laboratorium Sebagai Wahana Pendidikan Sains Siswa SMP”. Dalam kesimpulannya dikatakan melalui
47
Siti Sriyati, op.cit., h. 6 Noverita, Metode Pertanyaan Produktif dan Percobaan Sederhana Sebagai Langkah Mempermudah Pemahaman Terhadap Sifat Koligatif Larutan dan Meningkatkan Keaktifan Siswa Belajar Kimia, Jurnal Cendikia, Jilid 1, Nomor 1, Juli 2008, diakses pada 30 Mei 2011 dari http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/11082935.pdf, h. 34 49 I Made Wirtha dan Ni Ketut Rapi, op.cit., h. 27 50 Ari Widodo, op.cit.. h. 27 48
30
pembelajaran berbasis inkuiri laboratorium pemahaman konsep yang telah dipelajari siswa mengalami peningkatan dengan rata-rata skor sebesar 3,9 (19,5%) dan skor rata-rata total 4,3 (21,5%).51
C. Kerangka Berpikir Tujuan pendidikan sains adalah mengembangkan pengetahuan dan pemahaman serta keterampilan siswa sehingga dapat memberikan konstribusi bagi peningkatan sumber daya manusia dan kelestarian alam sekitar. Untuk itu pendidikan sains harus melibatkan pengalaman langsung agar berkembangnya pengetahuan dapat diikuti dengan penerapannya dalam pemecahan masalah sehari-hari. Biologi merupakan mata pelajaran IPA yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga bukan hanya belajar kumpulan fakta, konsep dan prinsip-prinsip saja yang bersifat statis tetapi juga merupakan penemuan. Pendidikan biologi diarahkan untuk berinkuiri dan berbuat agar hakikat pembelajaran sains, yaitu sains sebagai produk dan proses dapat tercapai. Melalui proses inkuiri siswa mendapatkan pengalaman langsung sehingga membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Model pembelajaran inkuiri terstruktur merupakan salah satu model
pembelajaran
inkuiri
yang
bertujuan
untuk
mengembangkan
pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa melalui serangkaian kegiatan ilmiah yang melibatkan peran aktif siswa sehingga memberi kesempatan siswa untuk membangun struktur kognitifnya secara mandiri. Dalam kegiatan ilmiah tersebut siswa mengalami proses-proses mental seperti yang dialami para ilmuwan dalam menemukan suatu konsep yaitu merumuskan permasalahan, 51
Arief Sidhartha, Model Pembelajaran Asam Basa Berbasis Inkuiri Laboratorium Sebagai Wahana Pendidikan Sains Siswa SMP diakses pada tanggal 9 Februari 2011 dari http://www.p4tkipa.org/data/A_SIDHARTA.pdf
31
berhipotesis, mendesain dan melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil kegiatan penyelidikannya. Dalam komponen
yang
pembelajaran mendukung
inkuiri
terstruktur
pembelajaran
tersebut
terdapat sehingga
berbagai proses
pembelajaran dapat berjalan efektif. Pembelajaran inkuiri yang didominasi oleh bimbingan dari guru ini diharapkan dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. Hal ini dikarenakan melalui proses inkuiri siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya berdasarkan informasi yang sudah ada dalam struktur kognitifnya. Pengalaman langsung yang diperoleh saat siswa berinkuiri menghasilkan verifikasi yang membuat siswa lebih memahami suatu konsep sehingga berdampak pada peningkatan penguasaan dan penggunaan konsep tersebut dalam kehidupan nyata. Pertanyaan produktif sebagai stimulus yang diberikan guru kepada siswa mendukung terjadinya proses pembelajaran inkuiri terstruktur yang efektif. Guru menggiring siswa untuk berinkuiri melalui pertanyaan produktif. Pengajuan pertanyaan produktif ini dapat menstimulus siswa agar berpikir kritis sehingga siswa merasa tertantang untuk ikut terlibat aktif dalam sebuah kegiatan ilmiah. Dengan demikian, penggunaan pertanyaan produktif dalam pembelajaran
inkuiri
terstruktur
diduga
dapat
berpengaruh
terhadap
penguasaan konsep biologi siswa.
D. Perumusan Hipotesis Pengajuan hipotesis dalam penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
terdapat
pengaruh
penggunaan
pertanyaan
produktif
dalam
pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep struktur jaringan tumbuhan.
32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2011 yang berlokasi di SMAN 9 Kota Tangsel.
B. Metode dan Disain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen, dengan analisis uji-t yang menganalisis pengaruh yang terjadi antara variabel x dan variabel y berdasarkan perbedaan penguasaan konsep antara kelompok yang diberikan perlakuan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur dan kelompok yang tidak diberi perlakuan. Dalam disain eksperimen ini terdapat kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan khusus (variabel yang akan diuji akibatnya) yaitu dengan menggunakan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran
inkuiri
terstruktur.
Kemudian
kelompok
kontrol
tanpa
menggunakan pertanyaan produktif akan dibandingkan hasilnya dengan kelompok eksperimen. Disain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah disain Pretes-Postes Grup Kontrol tidak Secara Random (Nonrandomized control group pretest-postest design) yang divisualisasikan sebagai berikut:52 Tabel 3.1 Disain Penelitian Group Eksperimen Kontrol
Pretes
Variabel Terikat
X1 X1
XEksperimen XKontrol
Postes X2 X2
Keterangan :
52
Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet.7, h. 186
33
Xeksperimen : Perlakuan yang diberikan kepada kelas eksperimen menggunakan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur Xkontrol
: Perlakuan yang diberikan kepada kelas kontrol tanpa menggunakan pertanyaan produktif
X1
: Tes awal yang sama pada kedua kelas
X2
: Tes akhir yang sama pada kedua kelas Berdasarkan disain penelitian diatas, kedua kelompok diberi tes awal
(pretest) dengan soal yang sama (konsep struktur jaringan tumbuhan). Setelah diberi perlakuan yang berbeda, kedua kelompok dites dengan tes yang sama sebagai tes akhir (posttest). Kemudian hasil tes (pretest dan posttest) dari masing-masing kelas dibandingkan (diuji perbedaannya). Perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok menunjukkan pengaruh dari perlakuan yang diberikan.
C. Populasi dan Sampel Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 9 Tangsel sedangkan populasi terjangkau adalah seluruh siswa kelas XI (sebelas) SMAN 9 Tangsel. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel non random berdasarkan tujuan.53 Pengambilan sampel ini dilakukan oleh peneliti dengan cara melihat nilai rata-rata hasil belajar siswa berdasarkan pertimbangan atau kebijaksanaan guru bidang studi yang bersangkutan.
D. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini digunakan dua variabel yaitu: 1. Variabel Independent (variabel bebas) adalah pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur, disimbolkan dengan X.
a. Definisi konseptual 53
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010), h.254
34
Pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur adalah pertanyaan yang menuntun siswa untuk melakukan pengamatan atau penyelidikan sehingga mendorong siswa untuk berinkuiri berdasarkan prosedur kerja yang telah diberikan guru. b. Definisi operasional Dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur guru mengajukan pertanyaan produktif untuk menstimulus siswa agar berpikir kritis dan aktif berpartisipasi dalam pembelajaran tentang konsep struktur jaringan tumbuhan untuk kemudian guru mengukur penguasaan konsep siswa. 2. Variabel Dependent (variabel terikat) adalah penguasaan konsep struktur jaringan tumbuhan, disimbolkan dengan Y. a. Definisi konseptual Penguasaan konsep dalam ranah kognitif menurut Anderson yang merupakan penguasaan materi berkenaan dengan kemampuan berpikir setelah pembelajaran. Ranah kognitif tersebut merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan mental/otak. b. Definisi operasional Penguasaan konsep adalah hasil belajar yang dimiliki siswa setelah proses pembelajaran dalam bentuk skor total dari hasil tes tentang penguasaan konsep struktur jaringan tumbuhan yang meliputi jenjang pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3) menurut teori kognitif Anderson.
E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan tes dan non tes. Dalam pengumpulan data, terlebih dahulu ditentukan sumber data, jenis data, teknik pengumpulan data, dan instrumen yang digunakan.
Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data 35
No
Sumber Data
Jenis Data
1.
Siswa
2.
Guru
Penguasaan konsep siswa Kegiatan belajar mengajar
3.
Guru
Deskripsi pertanyaan guru
Teknik Pengumpulan Data Melaksanakan pretest dan posttest Observasi
Rekaman Audio
Instrumen
Butir soal pilihan ganda Lembar observasi berbentuk daftar cek Verbal Interaction Category Systems (VICS) berdasarkan Flander
F. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian diartikan sebagai alat yang dapat menunjang sejumlah data yang diasumsikan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaanpertanyaan dan menguji hipotesis penelitian. Sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan, penelitian ini menggunakan beberapa instrumen penelitian diantaranya: 1. Tes Penguasaan Konsep Tes penguasaan konsep siswa yaitu tes yang digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diberikan. Tes penguasaan konsep ini dalam bentuk tes objektif atau dalam bentuk pilihan ganda sebanyak 36 soal dengan 5 option. Tes ini diberikan sebelum dan setelah siswa mempelajari
materi
dengan
pembelajaran
inkuiri
terstruktur
yang
menggunakan pertanyaan produktif pada kelas eksperimen dan pembelajaran inkuiri terstruktur tanpa menggunakan pertanyaan produktif pada kelas kontrol. Adapun untuk lebih jelasnya kisi-kisi indikator instrumen secara terperinci dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Penguasaan Konsep
36
Kompetensi Dasar
Subkonse p
Nomor soal
Aspek Kognitif
2.1 Mengidentifikas i struktur jaringan tumbuhan dan mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan
Jaringan Epidermis
1, 2, 3, 4, 13, 22, 49 5, 21, 23, 16, 33, 50 18, 27, 28, 31, 37 6, 9, 17, 25, 36, 44, 46 7, 15, 26, 32, 47 8, 10, 11, 12, 19, 20, 28, 29, 30, 34, 35, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 45, 48
Jaringan Parenkim Jaringan Penyokon g Jaringan Pengangk ut Jaringan Meristem Jaringan Pada Akar, Batang dan Daun
C2, C1, C2, C3, C2, C2, C1 C2, C2, C2, C2, C3, C1
Kunci Jawaba n D, D, D, B, C, C, E D, B, E, A, A, E
Persentas e Jumlah (%) 14 %
C2, C2, C1, C1, C2 C2, C3, C1 C1, C2, C2, C2 C1, C2, C1, C1, C1 C2, C2, C2, C2, C2, C2, C1, C2, C2, C2, C2, C1, C2, C1, C1, C2, C2, C1, C1
B, A, A, E, B C, C, C, D, D, B, B E, B, B, A, D B, A, D A, B, B, A, C, C, D, D, A, D, B, B, E, C, C, A
10 %
12 %
14 %
10 % 38 %
2. Lembar Observasi Aktivitas Guru Lembar observasi aktivitas guru berisi aspek-aspek pengamatan terhadap pembelajaran baik di kelas kontrol maupun eksperimen. Hal yang menjadi fokus observasi adalah aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan pertanyaan produktif dalam pembelajaran inkuiri terstruktur (terlampir). Dalam observasi ini dibutuhkan satu observer yang bertugas mengamati aktivitas guru mengajar dalam menggunakan pertanyaan produktif pada pembelajaran inkuiri terstruktur. Hasil observasi diharapkan dapat mendukung data yang mungkin tidak muncul melalui teknik pengumpulan data lainnya.
3. Lembar Observasi VICS berdasarkan Flander
37
Lembar observasi Verbal Interaction Category Systems (VICS) Flanders merupakan instrumen interaksi kelas yang telah dikembangkan oleh Flanders. Sistem observasi ini digunakan untuk merekam pengajaran yang dilakukan oleh guru selama proses belajar mengajar. Bagaimana guru mengajar dikelas dapat direkam secara audio maupun audio visual. Selanjutnya segala perkataan guru murid selama pembelajaran dicatat untuk kemudian dikodekan sesuai sistem kategori Flanders. Catatan percakapan guru murid tersebut disebut transkrip. Verbal Interaction Category Systems menggunakan sejumlah kategori perilaku interaksi belajar-mengajar.54 Dalam penerapan pertanyaan produktif di dalam kelas, instrumen ini dapat membantu untuk mengumpulkan data-data tentang deskripsi pertanyaan yang digunakan guru selama proses pembelajaran. Tabel 3.4 Kategori dan deskripsi Flanders (1970)
Pengajar
DIMENSI A. Mulai
B. Menjawab
NO KATEGORI DAN DESKRIPSI 1 Menyajikan informasi atau pendapat, digunakan apabila pengajar menyajikan konten, fakta atau opini, eksplanasi, diskusi, dan pertanyaan retorika juga termasuk. 2 Memberikan arahan, digunakan apabila pengajar memberikan perintah, arahan, atau petunjuk agar pembelajar melakukan mematuhinya. Contoh: coba lihat halaman 24. 3 Mengajukan pertanyaan sempit digunakan apabila jawaban pertanyaan diperkirakan mudah dijawab oleh pembelajar. Ini mencakup drill tanya jawab yang menghendaki jawaban satu atau dua. Contoh : Apakah ini benar? 4 Mengajukan pertanyaan luas, digunakan bilamana suatu pertanyaan agak terbuka menghendaki pemikiran, atau mengesankan sebagai suatu pendapat atau perasaan. Contoh: Mengapa kamu pikir model gelombang dapat menjelaskan dengan memuaskan. 5 Menerima a Menerima pendapat, digunakan apabila
54
Nelson Siregar, Penelitian Kelas: Teori, Metodologi, dan Analisis, (Bandung: IKIP Press, 1998), h.151
38
Pembelajar
DIMENSI
NO KATEGORI DAN DESKRIPSI pengajar menerima, memantulkan, menjelaskan, atau memuji pendapat pembelajar. Juga jika pengajar mengulangi, menyimpulkan, atau mengomentari pendapat pembelajar. Contoh: bagus, itu jawaban yang cukup baik. b Menerima prilaku, digunakan apabila pengajar menerima dan menggiatkan prilaku. Contoh: Hasil percobaanmu bagus! c Menerima perasaan, digunakan bilamana pengajar merefleksikan perasaan pembelajar, atau menjawab perasaan dengan menyenangkan. Contoh: tidak heran kamu kecewa 6 Menolak a Menolak ide, digunakan apabila pengajar menolak, mengeritik, mengabaikan, atau kurang menggiatkan ide pembelajar. Contoh: itu tidak benar! b Menolak prilaku, digunakan apabila pengajar mengomentari atau mengeritik untuk menekan prilaku pembelajar yang kurang diterima. Contoh: duduk. Apa yang kamu kerjakan? c Menolak perasaan, digunakan untuk mengabaikan pertanyaan atau perasaan pembelajar. Contoh: Apa kamu tidak malu, jangan libatkan perasaanmu! A. Menjawab 7 Jawaban kepada pengajar a Dapat diprediksi, biasanya mengikuti ktagori 3 dan bersifat pendek, apakah simbol atom carbon? Jawaban C b Tidak dapat memprediksi, biasanya mengikuti kategori 4, atau juga 3: Apa yang menyebabkan bengkok tersebut? Dijawab: sebabnya tidak satu. Atau mungkin banyak sebab. 8 Jawaban kepada pembelajar lain, digunakan apabila seorang pembelajar menjawab pembelajar lain. B. Berbicara/ 9 Bicara/bertanya kepada pengajar, pembelajar bertanya/ membuka pembicaraan kepada pengajar. berkomentar 10 Bicara (bertanya atau berkomentar) kepada pembelajar lain, pembelajar membuka
39
DIMENSI
NO KATEGORI DAN DESKRIPSI pembicaraan (pertanyaan atau komentar) kepada pembelajar lain. 11 Senyap, karena adanya kegiatan membaca, atau latihan. Jika berlangsung lama, dibuat catatan dipinggir tabel. 12 Kebingungan, terjadi keributan yang mencolok, dan kegaduhan, tidak seperti direncanakan.
G. Uji Coba Instrumen 1. Validitas Instrumen Validitas adalah derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti.55 Instrumen dikatakan valid jika hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes dengan kriterium.56 Untuk pengujian validitas instrumen dengan menggunakan rumus sebagai berikut :57
Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua yang dikorelasikan variabel X = skor butir Y = skor total N = jumlah subyek Suatu butir instrumen dinyatakan valid apabila memiliki harga r xy >rtabel pada taraf signifikansi 5%. Secara empirik, tinggi rendahnya validitas ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien validitas.58 Dengan besar koefisien korelasi sebagai berikut: 55
Sugiyono, METODE PENELITIAN PENDIDIKAN : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: ALFABETA, 2007), Cet.3, h. 363 56 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), Cet.9, h. 69 57 Ibid., h. 72 58 Ahmad sofyan, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta:UIN Jakarta Press, 2006), cet 1, h.105
40
a. Antara 0,8 sampai dengan 1,0 = sangat tinggi b. Antara 0,6 sampai dengan 0,8 = tinggi c. Antara 0,4 sampai dengan 0,6 = cukup d. Antara 0,2 sampai dengan 0,4 = rendah e. Antara 0,0 sampai dengan 0,2 = sangat rendah59 Untuk mengukur keabsahan tes kognitif dilakukan dengan menggunakan program ANATES. Berdasarkan hasil perhitungan ANATES, dari 50 butir soal yang diuji cobakan terdapat 36 butir soal yang valid. 2. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas adalah sejauhmana hasil pengukuran dari suatu instrumen mewakili karakteristik yang diukur. Sedangkan untuk menguji reliabilitas soal tes
dengan
menggunakan
metode
Kuder
Richardson
yaitu
dengan
menggunakan rumus KR-21:
Keterangan: r11 = reliabilitas M
= rata-rata skor total
K
= jumlah butir tes
V1
= variasi skor total60
Harga r yang diperoleh dikonsultasikan dengan r tabel product moment dengan taraf signifikan 5%. Jika r hitung > tabel product moment maka instrumen yang diujicobakan bersifat reliabel. Secara empirik, tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas, berkisar 0 sampai 1. 61 Perhitungan reliabilitas dilakukan dengan menggunakan program ANATES. Berdasarkan hasil perhitungan ANATES, diperoleh nilai reliabilitas soal yaitu 0,87.
59
Suharsimi Arikunto, op.cit., h. 75 Ibid., h. 103 61 Ahmad Sofyan, op.cit., h. 105 60
41
3. Tingkat Kesukaran Tingkat kesukaran adalah tingkat yang menunjukkan derajat pengerjaan soal oleh peserta tes. Tingkat kesukaran diketahui dengan membandingkan antara jumlah peserta tes yang menjawab dengan benar dan jumlah seluruh peserta tes. Menurut Arikunto (2002) tingkat kesukaran soal dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan: P
= indeks kesukaran
B
= banyaknya siswa yang menjawab benar
JS
= banyaknya peserta tes keseluruhan62
Kriteria yang digunakan adalah semakin kecil indeks yang diperoleh, maka soal tersebut termasuk kategori sukar. Sebaliknya, semakin besar indeks yang diperoleh, maka soal tersebut termasuk kategori mudah. Adapun kriteria indeks tingkat kesukaran soal tersebut adalah: a)
Proporsi 0,00-0,30
: soal kategori sukar
b)
Proporsi 0,30-0,70
: soal kategori sedang
c)
Proporsi 0,70-1,00
: soal kategori mudah63
Dalam penelitian ini, tingkat kesukaran untuk masing-masing butir soal dihitung dengan menggunakan program ANATES. 4. Daya Pembeda Daya beda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang pandai
(berkemampuan
tinggi)
dengan
siswa
yang
kurang
pandai
(berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya beda disebut indeks diskriminasi disingkat D. Menurut Arikunto (2002) daya beda dinyatakan dengan rumus :64 62
Suharsismi Arikunto, op.cit., h. 209 Ibid., h. 210 64 Ibid., h. 213-214 63
42
Keterangan: D
= indeks diskriminasi soal
BA
= banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar
BB
= banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar
JA
= banyaknya peserta kelompok atas
JB
= banyaknya peserta kelompok bawah
PA
= proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB
= proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
Selanjutnya indeks diskriminasi diinterpretasikan dengan klasifikasi nilai D sebagai berikut: D = 0,00 – 0,20 adalah jelek D = 0,21 – 0,40 adalah cukup D = 0,41 – 0,70 adalah baik D = 0,71 – 1,00 adalah baik sekali65 Dari hasil pengujian daya pembeda soal, maka soal yang digunakan sebagai instrumen penelitian adalah soal dengan daya pembeda 0,20 ke atas, dengan klasifikasi minimal cukup. Dalam penelitian ini, daya beda untuk masing-masing butir soal dihitung dengan menggunakan program AN H. Teknik Analisis Data 1.
Analisis Data Kuantitatif Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji
prasyarat analisis, yaitu uji normalitas menggunakan uji Liliefors dan uji homogenitas varians menggunakan uji Fisher. Kemudian untuk pengujian hipotesis, data dianalisis dengan menggunakan uji-t. Teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah teknik analisis dengan uji kesamaan dua rata-rata populasi dengan menggunakan Uji-t. Sebelum melakukan Uji-t, terlebih dahulu harus dilakukan uji pemenuhan asumsi uji-t (uji persyaratan analisis untuk uji-t). Uji persyaratan analisis untuk 65
Ibid., h. 218
43
uji-t ada dua yaitu kedua populasi berdistribusi normal (uji normalitas) dan kedua populasi memiliki varians yang sama (uji homogenitas). Sebelum data dianalisis, terlebih dahulu disusun kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi, yaitu penyusunan sistematis dari pengukuran individual dari nilai tertinggi ke rendah. Tabel distribusi frekuensi ini dapat dilihat bentuk distribusinya, yaitu apakah nilai atau skor yang diperoleh terbagi secara merata ataukah cenderung berkelompok, dimana pengelompokan terjadi dalam distribusi frekuensi tersebut. a.
Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data
berdistribusi normal atau tidak. Uji kenormalan yang digunakan yaitu uji Lilliefors dengan kriteria adalah tolak hipotesis nol bahwa populasi berdistribusi normal jika L0 yang diperoleh dari data pengamatan melebihi dari daftar dan sebaliknya untuk hipotesis nol diterima. Adapun langkah-langkah uji Lilliefors sebagai berikut:66 1. Kolom Xi Data diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar 2. Tentukan nilai Zi dari tiap-tiap data dengan rumus; Zi =
𝑥𝑖−𝑥 𝑆
Keterangan: Zi = Skor baku 𝑥
= Mean
Xi = Skor data S
= Simpangan baku
3. Kolom Zt Nilai Zt dikonsultasikan pada Ftabel, misalnya mencari -2,7167 maka pada tabel dilihat baris ke 2,7 kolom 2 maka diperoleh Zt= 0,4967
66
Sudjana, Metode Statistika, (Bandung:Tarsito, 2005), h. 466-467
44
4. Kolom F(Zi) Jika Zi bernilai negative, maka F (Zi) = 0,5 - Zt Jika Zi bernilai positif, maka F (Zi) = 0,5 + Zt 5. Kolom S (Zi) 𝑍𝑛
S (Zi) = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 6. Kolom F(Zi)-S(Zi) Merupakan harga mutlak dari selisih antara F(Zi) dan S (Zi) 7. Menentukan harga terbesar dari harga-harga mutlak selisih tersebut untuk mendapatkan L0. H0 = Sebaran data mengikuti distribusi normal Ha = Sebaran data tidak mengikuti distribusi normal Hasil uji normalitas dapat dilihat pada lampiran b.
Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang
diteliti berdistribusi homogen atau tidak. Persyaratan agar uji homogenitas dapat dilakukan ialah apabila datanya telah terbukti berdistribusi normal. Untuk melakukan pengujian homogenitas ada beberapa cara, salah satunya adalah dengan cara menghitung varians terbesar dibandingkan dengan varians terkecil. Rumus uji homogenitas yang digunakan adalah uji fisher, sebagai berikut:67 𝑆12
Fhitung = 𝑆22 Keterangan: F
= Homogenitas 2
S1
= Varians terbesar atau data pertama
S22 = Varians terkecil atau data kedua Dengan derajat kebebasan (db) db = n-1 Kriteria pengujian jika 67
Russeffendi, Statistik Dasar untuk Penelitian Pendidikan, (Bandung:IKIP Bandung Press, 1998), h. 295
45
Fhitung
Ftabel maka H0 ditolak c.
Uji Hipotesis Berdasarkan uji normalitas, data berdistribusi normal dan
berdasarkan uji homogenitas, data berdistribusi homogen maka melihat perbedaan hasil tes siswa dari kelompok eksperimen dan kontrol dapat digunakan uji parametrik, yaitu uji t. Uji hipotesis digunakan untuk menghitung korelasi antara variabel X dan variabel Y dengan menggunakan rumus t.uji (t.tes) pada taraf signifikasi 5 % (0,05). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 68 𝑀1−𝑀2
to = 𝑆𝐸
𝑀 1−𝑀 2
1. Mencari Mean yaitu M =
𝑓𝑖𝑥𝑖 𝑓𝑖 𝑁𝑥
2. Mencari Standar Deviasi (SD) =
𝑓𝑖 𝑥𝑖 2 − ( 𝑓𝑖𝑥𝑖 )2 𝑛(𝑛−1) 𝑆𝐷
3. Mencari Standar Error Mean (SEM). yaitu SEM =
𝑁−1
4. Mencari Standar Error dari perbedaan mean (SE M1-M2) antar variabel, yaitu: 𝑆𝐸𝑀1
SEM1-M2 =
2
+ 𝑆𝐸𝑀2
2
𝑀1−𝑀2
5. Mencari “t” atau “to”, yaitu to = 𝑆𝐸
𝑀 1−𝑀 2
Keterangan : t0
= t skor
M1
= Mean kelas eksperimen
M2
= Mean kelas kontrol
SD1
= Simpangan baku kelompok eksperimen
SD2
= Simpangan baku kelompok kontrol
N1
= Jumlah sampel kelas eksperimen
N2
= Jumlah sampel kelas kontrol
𝑆𝐸𝑀1
= Standar error mean sampel kelompok eksperimen
68
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997), Cet.8, h.297-299
46
𝑆𝐸𝑀2
= Standar error mean sampel kelompok kontrol
𝑆𝐸𝑀1−𝑀2 = Standar error mean gabungan Hasil perhitungan statistik tersebut digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis statistik, dengan pengujian t.tes dalam tabel dilakukan pada taraf signifikansi 0,05. Apabila t hitung ≤ ttabel, berarti dapat dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep struktur jaringan tumbuhan, sedangkan apabila t hitung ≥ ttabel, berarti dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep struktur jaringan tumbuhan artinya siswa yang diajar dalam pembelajaran
inkuiri
terstruktur
dengan
pertanyaan
produktif
penguasaan konsepnya lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran tanpa pertanyaan produktif. d.
Uji Normal Gain Gain adalah selisih antara nilai posttest dan pretest, gain
menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan guru. Sedangkan normal gain dicari dengan menggunakan rumus menurut Meltzer, yaitu:69 Ng =
posttest pretestscore mps pretestscore
Keterangan : Ng
: normal gain
Posttest
: skor posttest
Pretest
: skor pretest
mps
: maximum possible score; skor ideal
Dengan kategorisasi perolehan: g-tinggi : nilai () > 0.7 69
David E. Meltzer, Addendum to: The Relationship between Mathematic Preparation and Conception Learning Gain in Physic = a Possible-Hidden Variable “in Diagnosis Pretest Score”, dari http://phsyic.lastate.edu/per/dose/addendum_on_normalized.gain.polf di akses pada tanggal 10 Desember 2010, h.3
47
g-sedang : nilai 0.7 > () > 0.3 g-rendah : nilai () < 0.3070 2.
Analisis Data Kualitatif Data yang diperoleh dari hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis data deskriptif. Analisis data deskriptif yaitu data yang diperoleh dianalisis atau dipaparkan dalam bentuk deskriptif.
I. Hipotesis Statistik Ho : µA = µB H1 : µA > µB Keterangan : H0 : Tidak terdapat perbedaan rata-rata penguasaan konsep antara kelompok eksperimen dan kontrol H1 : Terdapat perbedaan rata-rata penguasaan konsep antara kelompok eksperimen dan kontrol
70
Richard R. Hake, Analyzing Change/Gain Scores, diakses pada 7 Juli 2011 dari http://lists.asu.edu/cgi-bin/wa?A2=ind9903&L=aera-d&P=R6855>, h.1
48
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Data Hasil Pretes Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai hasil pretes pada kelompok kontrol dan eksperimen diperoleh data seperti yang disajikan dalam tabel berikut ini. Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Hasil Pretes Kelompok Kontrol dan Eksperimen Nilai
Kontrol
Eksperimen
Tertinggi
37
39
Terendah
3
3
Rata-rata
21
25
Median
22
26
Modus
25
27
Standar deviasi
9,48
8,67
Variansi
89,87
75,17
Diketahui bahwa rata-rata nilai pretes pada kelompok eksperimen adalah 25 dan standar deviasi 8,67. Sedangkan rata-rata nilai pretes pada kelompok kontrol adalah 21 dan standar deviasi 9,48. 2. Data Hasil Postes Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai hasil postes pada kelompok kontrol dan eksperimen diperoleh data seperti yang disajikan dalam tabel berikut ini.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Data Hasil Postes Kelompok 49
Kontrol dan Eksperimen Nilai
Kontrol
Eksperimen
Tertinggi
83
94
Terendah
39
56
Rata-rata
61
77
Median
68
78
Modus
72
79
Standar deviasi
13,40
12,32
Variansi
179,56
151,78
Rata-rata nilai postes pada
kelompok eksperimen adalah 77
standar deviasi 12,32. Sedangkan rata-rata nilai postes pada kelompok kontrol adalah 61 dengan standar deviasi 13,40. Selanjutnya data postes kedua kelompok juga memperlihatkan persentase penguasaan konsep siswa dalam konsep struktur jaringan tumbuhan untuk setiap subkonsep yang terlihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.3 Penguasaan Konsep Siswa Untuk Setiap Subkonsep Subkonsep
Persentase Penguasaan Konsep Kelompok Kontrol
Kelompok Eksperimen
Jaringan Epidermis
65 %
88 %
Jaringan Dasar
76 %
83 %
Jaringan Penyokong
61 %
80 %
47 %
59 %
dan Pengangkut Jaringan pada Organ Tumbuhan 62,25 %
Total Rata-rata
77,5%
Berdasarkan hasil postes kelompok eksperimen menunjukkan bahwa penguasaan konsep siswa yang tertinggi yaitu pada subkonsep 50
jaringan epidermis dengan persentase sebesar 88%. Sedangkan penguasaan konsep siswa yang terendah yakni pada subkonsep jaringan pada organ tumbuhan dengan persentase 59%. Berbeda dengan kelompok kontrol penguasaan subkonsep tertinggi adalah 76%, yakni pada subkonsep jaringan dasar dan penguasaan subkonsep terendah adalah 45% yakni pada subkonsep jaringan pada organ tumbuhan. Setelah diberikan perlakuan berupa pertanyaan produktif pada kelompok eksperimen maka berdasarkan hasil postes menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep siswa antara kelompok eksperimen dan kontrol. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari tabel di bawah ini: Tabel 4.4 Perbandingan Penguasaan Konsep Setelah Pembelajaran (Postes) Pada Jenjang Kognitif C1, C2 dan C3 Subkonsep
C1
C2
C3
K
E
K
E
K
E
70,59 %
100%
70,59%
87,78 %
44,12%
76,67%
Jaringan Dasar
82,35%
83,33%
73,53%
84,44%
61,76%
73,33%
Jaringan
67,65%
88,67%
63,03%
75,24%
35,29%
66,67%
-
-
46,73%
59,26%
-
-
Jaringan Epidermis
Penyokong dan Pengangkut Jaringan Pada Organ Tumbuhan Rata-rata
72,93%
90,67% 64,31% 76,68% 47,06% 72,22%
Keterangan : K = Kelompok Kontrol E = Kelompok Eksperimen Berdasarkan tabel perbandingan penguasaan konsep di atas menunjukkan bahwa penguasaan konsep yang dimiliki kelompok eksperimen pada jenjang kognitif C1, C2 dan C3 lebih tinggi dibandingkan 51
kelompok kontrol. Rata-rata penguasaan konsep pada kelompok eksperimen yang tertinggi pada jenjang C1 sebesar 90,67% sedangkan terendah pada C3 sebesar 72,22%. Butir soal jenjang C1 dan C3 tidak terdapat pada subkonsep jaringan pada organ tumbuhan. Hal ini dikarenakan setelah ujicoba instrumen, butir-butir soal tersebut tidak valid sehingga tidak dapat digunakan. 3. Normal Gain Gain adalah selisih antara nilai postes dan pretes. Gain menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan oleh guru. Berdasarkan hasil perhitungan N-Gain diperoleh skor N-Gain pada kelompok kontrol dan eksperimen sebagai berikut: Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Normal Gain Normal Gain
Kontrol
Eksperimen
Terendah
0.19
0.31
Tertinggi
0.83
0.93
Rata-rata
0.50
0.66
Kategori
Sedang
Sedang
Nilai rata-rata N-gain kelompok eksperimen sebesar 0.66, standar deviasi 0.19 dan varians 0.04. Hal
ini
menunjukkan
besarnya
peningkatan
penguasaan konsep siswa secara langsung tampak dari rata-rata nilai Ngain sebesar 0.66 yang termasuk kategori sedang. Sedangkan nilai rata-rata N-gain kelompok kontrol sebesar 0.50 berkategori sedang, standar deviasi 0.18 dan varians 0.03.
4. Pengujian Prasyarat Analisis Data Sebelum dilaksanakan pengujian hipotesis, maka terlebih dahulu dilaksanakan pengujian prasyarat analisis berupa uji normalitas dan uji homogenitas. 52
a. Uji Normalitas Untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak, maka dilakukan uji Liliefors. Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas pretes dan postes pada kelompok eksperimen diperoleh Lhitung (L0) pretes sebesar 0.0894, Lhitung (L0) postes sebesar 0.1353, dan Lhitung (L0) N-gain sebesar 0.12 dengan jumlah sampel sebanyak 30 pada taraf signifikansi 5%, maka Ltabel sebesar 0.1618. Data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.6 Uji Normalitas Kelompok Eksperimen dan Kontrol Data Statistik Lhitung
Eksperimen
Kontrol
Pretes
Postes
N-gain
Pretes
Postes
N-gain
0.0894
0.1353
0.12
0.0841
0.1437
0.12
Ltabel Kesimpulan
0.1618
0.1519
H0 diterima
H0 diterima
Dari tabel tersebut dapat diketahui L0 pretes, postes dan N-gain < Ltabel, maka hipotesis nol (H0) diterima dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data sampel kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas pretes dan postes pada kelompok kontrol dapat diketahui L0 pretes, postes dan N-gain < Ltabel, maka hipotesis nol (H0) diterima dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data sampel kelompok kontrol berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji F (Fisher). Kriteria uji homogenitas adalah H0 ditolak jika Fhitung lebih besar dari Ftabel dan jika Fhitung lebih kecil dari Ftabel maka H0 diterima. Dengan diterimanya H0 berarti sampel kelompok eksperimen dan kelompok 53
kontrol homogen. Data hasil perhitungan uji homogenitas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.7 Perhitungan Uji Homogenitas α
Data
Fhitung
Ftabel
Kesimpulan
0,05
Pretes
1.20
1.80
H0 diterima
Postes
1.18
1.80
Berdasarkan
tabel
tersebut
dapat
diketahui
bahwa
hasil
perhitungan uji homogenitas data pretes dari kelompok kontrol dan eksperimen didapat Fhitung sebesar 1.20 dan Ftabel 1.80 artinya Fhitung < Ftabel. Sedangkan hasil perhitungan uji homogenitas data postes dari kelompok kontrol dan eksperimen didapat Fhitung sebesar 1.18 dan Ftabel 1.80 artinya Fhitung < Ftabel. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf signifikan α = 0.05 (5%) H0 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua sampel tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi homogen. 5. Pengujian Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, diketahui bahwa kedua kelompok berdistribusi normal dan homogen. Maka dari itu pengujian hipotesis menggunakan uji-t. Uji-t dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep siswa pada konsep struktur jaringan tumbuhan. Pengujian tersebut dilakukan dengan membandingkan hasil pretes dan postes pada masing-masing kelompok. Hasil perhitungan dengan menggunakan uji-t disajikan dalam tabel berikut. Tabel 4.8 Pengujian Hipotesis Nilai Postes dengan Uji-t Kelompok Eksperimen dan Kontrol Kelompok
Jumlah
dk
Thitung
Ttabel
Kesimpulan
Eksperimen
NA=30
60
4.90
2.00
Ha diterima
Kontrol
NB=34
54
Dari tabel tersebut diperoleh thitung > ttabel, maka hipotesis nol (H0) ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen. Hal ini menunjukkan penggunaan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur berpengaruh terhadap penguasaan konsep siswa pada konsep struktur jaringan tumbuhan.
6. Data Hasil Observasi Kelas Eksperimen Dari hasil observasi aktivitas pengajar yang dilakukan oleh guru mata pelajaran terlihat bahwa proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan tahap-tahap model pembelajaran inkuiri terstruktur. Persentase pada pertemuan pertama subkonsep jaringan epidermis sebesar 100 %, persentase pertemuan kedua subkonsep jaringan dasar sebesar 100 %, pertemuan ketiga subkonsep jaringan penyokong dan pengangkut sebesar 100 % sedangkan pertemuan keempat subkonsep jaringan pada organ tumbuhan sebesar 100 %. Hasil observasi lebih rinci dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.9 Rekapitulasi Pertanyaan Guru Pada Tahap Retrieving dan Processing dalam Inkuiri Terstruktur Kelas Eksperimen Subkonsep
Banyaknya Pertanyaan Produktif
Non Produktif
55
Jumlah
Jaringan Epidermis
12
4
16
Jaringan Dasar
8
3
11
Jaringan
7
5
12
5
3
8
Penyokong
dan Pengangkut Jaringan pada Organ Tumbuhan
Dari hasil rekapitulasi pertanyaan guru berdasarkan pengolahan data rekaman audio dapat diketahui pertanyaan produktif yang diberikan guru paling banyak terdapat pada subkonsep jaringan epidermis yakni sebanyak 12 pertanyaan produktif, sedangkan pertanyaan produktif yang paling sedikit terdapat pada subkonsep jaringan pada organ tumbuhan dengan 5 pertanyaan produktif.
B. Pembahasan Berdasarkan pengujian hipotesis terhadap data pretes kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan uji-t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan penguasaan konsep yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol. Dengan demikian kelompok eksperimen dan kontrol memiliki kemampuan awal yang sama. Namun setelah diterapkan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur pada kelompok eksperimen dan tanpa pertanyaan produktif untuk kelompok kontrol diperoleh nilai rata-rata postes pada kelompok eksperimen lebih besar daripada nilai ratarata postes kelompok kontrol (77>61). Hal ini menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki penguasaan konsep yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil pengujian hipotesis terhadap data postes kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol. Hal ini dibuktikan dengan thitung > ttabel (4,90 > 2,00). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui adanya pengaruh yang signifikan dalam penggunaan pertanyaan 56
produktif terhadap penguasaan konsep siswa pada konsep struktur jaringan tumbuhan. Penguasaan konsep siswa pada jenjang kognitif C1, C2, dan C3 pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol setelah pembelajaran diberikan (tabel 4.4). Hal ini dibuktikan dengan adanya pengaruh penerapan pertanyaan produktif yang diberikan oleh guru pada kelompok eksperimen selama pembelajaran berlangsung. Persentase tertinggi terdapat pada jenjang C1 yaitu sebesar 90,67%, sedangkan persentase terendah pada jenjang C3 sebesar 72,22%. Tingginya persentase pada jenjang C1 sesuai dengan pendapat Anderson yang telah merevisi ranah kognitif taksonomi Bloom bahwa jenjang pengetahuan (C1) merupakan kemampuan menyatakan kembali fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang telah dipelajari.71 Sedangkan berdasarkan perhitungan N-gain rata-rata kelompok eksperimen sebesar 0,66 dan kelompok kontrol sebesar 0,50. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman konsep siswa kelompok eksperimen lebih besar dengan kategori sedang dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dengan demikian penggunaan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. Berdasarkan persentase hasil penguasaan konsep siswa (tabel 4.3) yang dikorelasikan dengan banyaknya pertanyaan produktif yang diterapkan oleh guru selama pembelajaran (tabel 4.9) menunjukkan bahwa pertanyaan produktif tersebut dapat mempengaruhi penguasaan konsep siswa. Pertanyaan produktif yang paling banyak adalah pada subkonsep jaringan epidermis yakni sebanyak 12 pertanyaan produktif dibandingkan subkonsep lainnya, hal ini menyebabkan penguasaan konsep siswa paling tinggi terdapat pada subkonsep jaringan epidermis itu pula dengan persentase sebesar 88%.
71
Lorin W. Anderson, David R. Krathwohl; whit Peter W. Airasian (et. al.), A Taxonomy for Learning, Teaching and Assesing, (Newyork: Longman, 2001), h. 67-68
57
Peningkatan penguasaan konsep yang lebih tinggi pada kelompok eksperimen diperoleh dengan adanya penggunaan pertanyaan produktif pada proses pembelajaran dan LKS yang memuat sejumlah pertanyaan produktif pada setiap subkonsep yang harus dikuasai siswa. Pertanyaan produktif yang telah dirancang dan disusun pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilontarkan oleh guru di awal pembelajaran. Dengan diawali apersepsi berupa pertanyaan mengenai materi yang telah dipelajari sebelumnya, kemudian dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan produktif yang dapat mengajak siswa untuk termotivasi belajar. Hal ini ternyata dapat membuat perhatian siswa terfokus pada pembelajaran. Perhatian siswa yang terfokus pada materi pelajaran dapat terlihat dari jawaban serempak yang diberikan siswa. Banyaknya siswa yang dapat menjawab pertanyaan guru dikarenakan jawaban pertanyaan tersebut dapat diamati dan diidentifikasi dari media atau obyek (tumbuhan) yang digunakan oleh guru ketika mengajukan pertanyaan produktif. Hal ini sejalan dengan pendapat Sheila Jelly dalam Widodo bahwa pertanyaan produktif adalah pertanyaan yang hampir semua anak bisa menjawabnya, berbeda dengan pertanyaan nonproduktif yang bisa dijawab oleh anak yang mempunyai kemampuan tertentu.72 Setelah siswa termotivasi pada materi yang akan diajarkan melalui sejumlah pertanyaan produktif di awal pembelajaran, selanjutnya guru berupaya melontarkan pertanyaan produktif yang mengajak siswa untuk melakukan kerja ilmiah atau pengamatan yang mengarahkan siswa pada materi atau konsep yang harus dikuasai siswa. Dalam proses pembelajaran guru juga memberikan LKS yang memuat pertanyaan produktif. Pertanyaan produktif dalam LKS tersebut dapat menuntun siswa melakukan kerja ilmiah yang diharapkan, sehingga apa yang harus diamati siswa saat praktikum menjadi lebih terfokus dan bermakna.
72
Ari Widodo, Peningkatan Kemampuan Mahasiswa PGSD dalam Mengajukan Pertanyaan Produktif untuk Mendukung Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri, (Jurnal Pendidikan, Vol. 10, No.1, Maret 2009), h. 23
58
Dengan terfokusnya kegiatan siswa pada materi yang harus dikuasai siswa membuat siswa dapat mencapai pemahaman pada materi yang diberikan guru sehingga penguasaan konsep siswa dapat meningkat melalui kerja ilmiah yang dialaminya. Seperti yang diungkapkan Mary Lee Martens yaitu beberapa guru yang melibatkan murid-murid dalam kegiatan hands-on berasumsi bahwa semenjak anak-anak terlibat dalam kegiatan hands-on pembelajaran dapat dialami
dan
pemahaman
dapat
meningkat.
Pertanyaan
produktif
memungkinkan guru untuk menghubungkan antara kegiatan hands-on dengan siswa. Sehingga pertanyaan produktif memungkinkan siswa dapat mencapai pemahaman yang diharapkan.73 Dengan meningkatnya keterampilan proses siswa yang difasilitasi oleh model pembelajaran inkuiri terstruktur menyebabkan kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya lebih besar. Kemudian peran guru yang lebih mengarahkan siswa dengan menggunakan pertanyaan produktif untuk setiap subkonsep menyebabkan siswa lebih menguasai konsep atau materi yang harus siswa kuasai. Melalui penggunaan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur, siswa dapat aktif mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman dengan tetap fokus pada konsep-konsep yang diajarkan oleh guru.
73
Mary Lee Martens, Productive Questions: Tools for Supporting Constructivist Learning, (New York, 1999) diakses pada tanggal 30 Mei 2011 dari http://web.missouri.edu
59
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan pertanyaan produktif dalam model pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap penguasaan konsep siswa pada konsep struktur jaringan tumbuhan. Hal ini ditunjukkan dari nilai rata-rata postes pada kelompok eksperimen lebih besar daripada nilai rata-rata postes kelompok kontrol (77 > 61) setelah perlakuan. Selain itu dapat terukur dengan adanya pengaruh pada penguasaan konsep di jenjang pengetahuan (ingatan) yang merupakan kemampuan menyatakan kembali fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang telah dipelajari dan diaplikasikan dalam pembelajaran inkuiri terstruktur yang menggunakan pertanyaan produktif.
B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Bagi guru mata pelajaran IPA pada khususnya, hendaknya dalam menggunakan pertanyaan produktif dalam pembelajaran inkuiri terstruktur diharapkan dapat mempersiapkan alat, objek atau media yang dapat menarik perhatian siswa saat pengajuan pertanyaan produktif. 2. Penerapan pertanyaan produktif hendaknya lebih sering digunakan dalam proses pembelajaran baik itu mata pelajaran IPA atau yang lainnya jika memungkinkan mengingat manfaat yang diperoleh dari penggunaan pertanyaan produktif dibandingkan dengan pertanyaan biasa. Hal ini tentu dimaksudkan juga demi didapatkannya hasil belajar siswa yang lebih baik bukan hanya sekedar penguasaan konsep namun meningkatnya kualitas pembelajaran yang diberikan.
60
3. Diharapkan lebih banyak penelitian-penelitian selanjutnya tentang penerapan pertanyaan produktif baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
61
DAFTAR PUSTAKA
Alberta. Focus On Inquiry : A Teacher’s Guided to Implementing Inquiry-Based Learnig. Canada: Learning and Teaching Resources Branch, 2004 Anderson, Lorin W, David R. Krathwohl, whit Peter W. Airasian (et. al.). A Taxonomy for Learning, Teaching and Assesing. Newyork: Longman, 2001. Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara, 2009. BSNP. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP, 2006. Buck, Laura B. dkk,. Characterizing the Level of Inquiry in the Undergraduated Laboratory. Journal of College Science Teaching, 2008, diakses dari http://www.chem.purdue.edu/towns/Towns%20Publications/Bruck%20Br etz%20Towns%202008pdf pada tanggal 29 Mei 2011. Colburn, Alan. An Inquiry Primer. Science Scope, 2000 dari http://www.experientiallearning.ucdavis.edu/module2/el2-60-primer.pdf diakses pada 10 Desember 2010. Dahar, Ratna W. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga, 1996. Dwirahayu, Gelar, Munasprianto Ramli, Pendekatan Baru dalam Proses Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar Sebuah Antologi. Jakarta: PIC UIN, 2007. Hake, Richard R. Analyzing Change/Gain Scores. dari http://lists.asu.edu/cgibin/wa?A2=ind9903&L=aera-d&P=R6855 diakses pada 7 Juli 2011. Harlen, Wayne. The Teaching of Science. Great Britain: David Fulton Publisher, 1992. Hogyeong, Jeong dkk,. Analysis of Productive Learning Behaviors in a Structured Inquiry Cycle Using Hidden Markov Models. Institute for Software Integrated System, Vanderbilt University. diakses pada 29 Mei 2011 dari http://educationaldatamining.org/EDM2010/uploads/proc/edm2010_submi ssion_59.pdf.
62
Kunandar. Guru Profesional : implementasi KTSP dan sukses dalam sertifikasi guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007. Marno, M. Idris. Strategi dan Metode Pengajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010. Martens, Mary Lee. Productive Questions: Tools for Supporting Constructivist Learning. New York, 1999 dari http://web.missouri.edu diakses pada tanggal 30 Mei 2011. Meltzer, David E. Addendum to: The Relationship between Mathematic Preparation and Conception Learning Gain in Physic = a PossibleHidden Variable “in Diagnosis Pretest Score”. dari http://phsyic.lastate.edu/per/dose/addendum_on_normalized.gain.pdf, di akses pada 10 Desember 2010. Noverita. Metode Pertanyaan Produktif dan Percobaan Sederhana Sebagai Langkah Mempermudah Pemahaman Terhadap Sifat Koligatif Larutan dan Meningkatkan Keaktifan Siswa Belajar Kimia. Jurnal Cendikia, Jilid 1, Nomor 1, Juli 2008, h.34 diakses pada 30 Mei 2011 dari http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/11082935.pdf. Prayekti. Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat pada Pembelajaran IPA SD. diakses pada tanggal 20 Januari 2011 dari http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/590617.pdf. Roestiyah. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2008. Russeffendi. Statistik Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press, 1998. Rustaman, Nuryani Y., Andrian Rustaman. Peranan Pertanyaan Produktif dalam Pengembangan KPS dan LKS. bahan seminar dan lokakarya FPMIPA UPI, 2003 diakses pada tanggal 10 Desember dari http://file.upi.edu/Direktori/D%20%20FPMIPA/JUR.%20PEND.%20BIO LOGI/131353755%20%20ANDRIAN%20RUSTAMAN/PERANAN%20 PERTANYAAN%20PRODUKTIF%2C%20KPS%20%26%20LKS.pdf. Rustaman, Nuryani Y. dkk. Strategi Belajar Malang:Universitas Negeri Malang, 2005.
Mengajar
Biologi.
Rustaman, Nuryani Y. Materi Pokok Strategi Pembelajaran Biologi. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007. 63
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana, 2009. Sidhartha, Arief. Model Pembelajaran Asam Basa Berbasis Inkuiri Laboratorium Sebagai Wahana Pendidikan Sains Siswa SMP. diakses pada tanggal 9 Februari 2011 dari http://www.p4tkipa.org/data/A_SIDHARTA.pdf. Siregar, Nelson. Penelitian Kelas: Teori, Metodologi, dan Analisis. Bandung: IKIP Press, 1998. Soegito, Edi, Yuliani Nurani. Kemampuan Dasar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka, 2003. Sofyan, Ahmad, Tonih Feronika dan Burhanudin Milama. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006. Sriyati, Siti, Yanti Rumbiyati, dan Rengky Meliani. Penerapan Pertanyaan Produktif Dalam Pembelajaran Biologi Untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah dan Pemahaman Konsep Siswa di SMA. Artikel Ilmiah, FMIPA UPI diakses pada tanggal 10 Desember 2010 dari http://file.upi.edu. Sudijono, Anas. Pengantar Statisitik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997. Sudjana. Metode Statistika. Bandung: Tarsito, 2005. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: ALFABET, 2007. Sukardi. C Metode Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara, 2009. Sukmadinata, Nana Syaodih. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010. Susanto, Pudyo. Keterampilan Dasar Mengajar IPA Berbasis Konstruktivisme. Malang: Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, 2002. Tim Penulis. Strategi Pembelajaran. Surabaya: LAPIS-PGMI, 2008. The Access Center. Science Inquiry. U.S Office of Special Education Program diakses dari http://www.k8accesscenter.org/documents/ScienceInquiryPDF.pdf pada 29 Mei 2011.
64
Trianto. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007. Wena, Made. Strategi pembelajaran inovatif kontemporer: suatu tinjauan konseptual operasional. Jakarta: Bumi Aksara, 2010. Widodo, Ari. Peningkatan Kemampuan Mahasiswa PGSD dalam Mengajukan Pertanyaan Produktif untuk Mendukung Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri. Jurnal Pendidikan Vol.10, No.1, Maret 2009. Winataputra, Udin S. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka, 2001. Winkel. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo, 1996. Wirtha, I Made dan Ni Ketut Rapi. Pengaruh Model Pembelajaran dan Penalaran Formal Terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah Siswa SMA Negeri 4 Singaraja. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(2), 2008. Zulfiani, Tonih feronika, Kinkin suartini. Strategi Pembelajaran Sains. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2009.
65
Lampiran 1 KISI-KISI TES KOGNITIF Standar Kompetensi : 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan serta penerapannya dalam konteks Saling temas Kompetensi Dasar
Sub konsep Jaringan Epidermis
: 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan Indikator
1. Mengidentifikasi struktur jaringan epidermis beserta fungsinya
Aspek Kognitif C1 C2 C3 2*, 1*, 3*, 4* 32, 13*, 22*, 49 33*
2. Membedakan struktur jaringan epidermis dan parenkim Jaringan Dasar
Jumlah
Persen
9
18%
5*
1
2%
3
6%
3
6%
1. Mengidentifikasi macam-macam struktur jaringan parenkim
50*
21*, 24*
2. Mengaitkan struktur jaringan parenkim beserta fungsinya
14*
16*
Jaringan 1. Mengidentifikasi Penyokong macam-macam dan jaringan Pengangkut penyokong (kolenkim, sklerenkim)
28, 31*
18*, 27*, 37*
5
10%
2. Menjelaskan struktur jaringan pengangkut beserta fungsinya
7*, 47*, 17*
6*, 36, 44*, 46*, 20*, 26*
9
18%
66
23*
Sub konsep
Indikator 3. Membuktikan adanya fungsi xylem sebagai jaringan pengangkut
Jaringan penyusun organ tumbuhan (akar, batang dan daun)
Menjelaskan macam jaringan penyusun organ tumbuhan (akar, batang, dan daun) pada tumbuhan dikotil dan monokotil Jumlah
Aspek Kognitif C1 C2 C3 9*
38, 40, 25*, 41, 45, 48 16
Keterangan: * = soal yang digunakan
67
8, 10*, 11, 19*, 12*, 15, 29, 30*, 34*, 35, 39*, 42*, 43* 31
3
Jumlah
Persen
1
2%
19
38%
50
100%
Lampiran 2 Kisi-kisi Instrumen Penguasaan Konsep Struktur dan Jaringan Tumbuhan No 1
2
3
4
5
Indikator Jenjang Soal Kunci Instrumen Kognitif Jawaban Menjelaskan ciri C2 1. Jaringan daun manakah yang tersusun atas sel-sel a jaringan yang sangat rapat ? epidermis a. epidermis b. parenkim palisade c. parenkim spons d. sel penjaga e. stomata Mengenal ciri C1 2. Salah satu hasil diferensiasi dari jaringan epidermis d jaringan adalah .... epidermis a. xilem b. floem c. empulur d. stomata e. parenkim Menjelaskan C2 3. Pernyataan berikut merupakan ciri jaringan d ciri-ciri jaringan epidermis, kecuali . . . . epidermis a. sel-selnya berbentuk seperti balok b. dilengkapi lapisan lilin c. bermodifikasi menjadi stomata d. mengandung banyak kloroplas e. sel-selnya tersusun rapat Menghubungkan C3 4. Pernyataan manakah yang benar menyangkut fungsi B fungsi jaringan jaringan epidermis sebagai alat pertukaran gas? epidermis a. terdiri atas sel-sel yang rapat berdasarkan b. terdapat stomata pada epidermis bawah daun strukturnya c. epidermis termodifikasi menjadi kutikula d. epidermis membentuk bulu-bulu halus pada daun durian e. terletak paling luar dan menutupi seluruh tubuh tumbuhan. Menjelaskan fungsi jaringanjaringan pada tumbuhan
C2
5. Pelajari tabel berikut.
68
d
No
6
Indikator Instrumen
Menunjukkan letak floem sebagai jaringan pengangkut
Jenjang Kognitif
C2
7
Mengenal jaringan meristem
C1
8
Menjelaskan macam-macam jaringan penyusun akar monokotil
C2
9
Membuktikan fungsi xylem sebagai jaringan pengangkut air dan mineral
C3
Soal Pernyataan mana yang benar? a. I dan II d. II dan IV b. I dan III e. III dan IV c. I dan III 6. Perhatikan gambar berikut. Jaringan yang berfungsi mengangkut hasil fotosintesis ditunjuk oleh nomor ....
a. 1 d. 4 b. 2 e. 5 c. 3 7. Apa nama jaringan yang terdapat pada ujung-ujung tanaman (titik tumbuh) adalah . . . . a. jaringan epidermis b. jaringan endodermis c. jaringan parenkim d. jaringan penunjang e. jaringan meristem 8. Manakah yang bukan jaringan penyusun akar tanaman monokotil adalah . . . . a. epidermis b. kambium ikatan pembuluh c. korteks d. perisikel e. endodermis 9. Batang tanaman Impatiens balsemina direndam dalam larutan eosin (warna merah). Setelah beberapa lama, batang tersebut disayat melintang setipis mungkin, kemudian diamati dengan mikroskop (lihat gambar)
69
Kunci Jawaban
a
e
b
c
No
Indikator Instrumen
Jenjang Kognitif
10
Menjelaskan susunan anatomi akar dikotil
C2
11
Menjelaskan fungsi jaringan sekunder
C2
12
Menjelaskan fungsi kambium
C2
Soal
Jaringan mana yang berwarna merah? a. 1 d. 4 b. 2 e. 5 c. 3 10. Jika kita membuat sayatan melintang akar tumbuhan dikotil, kemudian diamati dengan mikroskop, akan terlihat susunan anatomis akar dikotil sebagai berikut: 1. stele, 2. korteks, 3. epidermis, 4. endodermis. Urutan mana yang menunjukkan susunan anatomis akar dikotil dari luar ke dalam? a. 3-2-4-1 d. 1-3-2-4 b. 1-4-3-2 e. 3-1-4-2 c. 4-3-1-2 11. Pembentukan akar cabang pada tumbuhan dikotil terjadi karena aktivitas . . . . a. floem b. endodermis c. parenkim d. perisikel e. korteks 12. Apa fungsi kambium intravaskuler? a. ke luar membuat floem, ke dalam membuat xilem b. ke luar membuat korteks, ke dalam membuat kayu c. ke luar membuat kulit, ke dalam membuat kayu d. ke luar membuat korteks, ke dalam membuat xilem e. ke luar membuat xilem, ke dalam membuat floem
70
Kunci Jawaban
A
D
A
No 13
Indikator Instrumen Menjelaskan fungsi kutikula pada jaringan epidermis
14
Mengenal macam-macam jaringan parenkim
15
Menjelaskan ciri-ciri jaringan meristem
16
Menjelaskan fungsi jaringan parenkim palisade
17
Menjelaskan fungsi jaringan xilem
18
Menerangkan ciri-ciri jaringan sklerenkim
Jenjang Soal Kunci Kognitif Jawaban C2 13. Pernyataan mana yang merupakan fungsi lapisan C kutikula? a. Membantu proses fotosintesis b. Membantu mengalirkan air c. Mencegah penguapan d. Melindungi daun yang masih muda e. Membantu penyerapan air C1 14. Apa nama jaringan dasar pada tumbuhan air yang a memiliki fungsi untuk menyimpan udara? a. Aerenkim b. Kolenkim c. Sklerenkim d. Klorenkin e. Parenkim Penimbun C2 15. Manakah pernyataan yang bukan merupakan ciri b jaringan meristem ? a. Mampu terus-menerus membelah b. Berdinding tipis, banyak mengandung kloroplas c. Dapat dipergunakan untuk perbanyakan secara kultur jaringan d. Berinti besar dan plastid yang belum matang e. Terletak diujung akar, batang dan kambium. C2 16. Manakah jaringan yang paling banyak berperan a dalam proses fotosintesis? a. Jaringan palisade d. Mulut daun b. Jaringan pengangkut e. Kambium c. Jaringan epidermis C1 17. Manakah jaringan yang berfungsi menyalurkan air c dan mineral dari akar ke daun? a. Kolenkim b. Parenkim c. Xilem d. Floem e. Sklernkim C2 18. Manakah pernyataan yang merupakan ciri-ciri dari b jaringan sklerenkim? a. terdiri atas selapis sel yang tersusun rapat b. terdiri dari sel-sel mati c. mengalami modifikasi membentuk lapisan tebal seperti kutikula d. dinding sel mengalami penebalan yang tidak berlignin e. sebagai jaringan dasar yang berfungsi untuk menyimpan makanan 71
No 19
20
21
22
Indikator Jenjang Soal Kunci Instrumen Kognitif Jawaban Menjelaskan C2 19. Dimanakah letak jaringan endodermis yang tepat d susunan anatomi pada akar? akar a. di antara xylem dan floem b. di antara parenkima dan epidermis c. di antara felem dan feloderma d. di antara korteks dan silinder pusat e. di antara silinder pusat dan epidermis Menerangkan C2 20. Manakah urutan yang benar tentang letak jaringan b susunan anatomi penyusun daun dari atas ke bawah ? jaringan pada a. Epidermis atas-parenkima-kolenkima-epidermis daun bawah b. epidermis atas-palisade-parenkima sponsepidermis bawah c. epidermis atas-klorenkim-parenkima-epidermis d. epidermis atas-jaringan spons-palisade-xilemepidermis bawah e. epidermis atas-xilem-floem-palisade-jaringan spons-epidermis bawah Menerangkan C2 21. Apa nama jaringan yang memiliki ciri yakni selb ciri-ciri jaringan selnya berukuran besar, berdinding tipis dan parenkim susunannya renggang sehingga banyak ruang antar sel dan vakuolanya besar ? a. Kolenkim b. Parenkim c. Epidermis d. Xilem e. Sklerenkim Menjelaskan C2 22. Pernyataan berikut ini merupakan ciri-ciri jaringan : c ciri-ciri jaringan 1. sel-sel mengalami penebalan sekunder dengan epidermis lignin 2. berfungsi sebagai pelindung dan dilengkapi lapisan lilin 3. bentuknya memanjang tegak, dan banyak mengandung klorofil 4. sel-sel jaringan muda selalu membelah atau bersifat embrional 5. pada beberapa tempat termodifikasi menjadi stomata atau rambut Manakah ciri-ciri jaringan epidermis tumbuhan? a. 1 dan 2 b. 2 dan 3 c. 2 dan 5 d. 3 dan 4 e. 4 dan 5 72
No 23
24
25
26
27
28
Indikator Instrumen Membuktikan letak parenkim sebagai jaringan dasar
Jenjang Soal Kunci Kognitif Jawaban C3 23. Apa nama jaringan yang berada hampir pada semua bagian e tumbuhan? a. Sklerenkim b. Epidermis c. xylem d. floem e. parenkim Memberi contoh C2 24. Manakah tumbuhan dibawah ini yang memiliki b tumbuhan yang aerenkim? memiliki a. Kaktus aerenkim b. Eceng gondok c. Singkong d. Lidah buaya e. Rhoe discolor Mengenal tipe C1 25. Manakah tipe berkas pembuluh yang dimiliki d berkas tanaman pacar air adalah pengangkut a. Kolateral pada monokotil b. Konsentris tertutup c. Konsentris terbuka d. Kolateral tertutup e. Kolateral terbuka Menjelaskan C1 26. Apakah yang dimaksud sifat totipotensi tumbuhan? b sifat totipotensi a. kemampuan tumbuhan untuk tumbuh dan pada tumbuhan berkembang b. kemampuan sel, jaringan, atau organ tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang menjadi suatu organisme utuh c. kemampuan tumbuhan untuk menduplikasi diri d. kemampuan tumbuhan mengeluarkan energinya e. kemampuan tumbuhan berubah menjadi individu yang lengkap jaringannya Menjelaskan C2 27. Manakah yang merupakan ciri dari struktur a struktur jaringan kolenkim? kolenkim a. selnya mengalami penebalan dan tak berlignin b. terdiri dari sel-sel mati c. dapat ditemukan pada tempurung kelapa d. selnya berbentuk panjang ramping dan tirus e. terdapat banyak kloroplas Mengenal fungsi C1 28. Apa nama jaringan yang menyusun kulit batang pada a jaringan monokotil? sklerenkim pada a. Sklerenkim monokotil b. Kolenkim c. Meristem d. Epidermis 73
No
29
Indikator Instrumen Membedakan struktur batang dikotil dan monokotil
Jenjang Kognitif C2
Soal e. Parenkim 29. Perbedaan batang dikotil dengan monokotil yang benar adalah..... Dikotil Monokotil a.
b. c.
Susunan pembuluh angkut tidak teratur Selalu ada empulur Memiliki kambium
Kunci Jawaban c
Susunan pembuluh angkut teratur Tidak ada empulur Tidak memiliki kambium
d.
30
Menerangkan struktur tumbuhan monokotil
C2
31
Mengenal jaringan sklerenkim
C1
32
Menyebutkan fungsi jaringan meristem
C1
Jaringan Jaringan penyokongnya penyokongnya adalah sklerenkim adalah kolenkim dan sklerenkim Jaringan e. penyokongnya Jaringan penyokongnya adalah adalah kolenkim sklerenkim 30. Manakah pernyataan yang benar tentang struktur tumbuhan monokotil dibawah ini? a. Memiliki pembuluh angkut yang teratur dalam susunan lingkaran b. Memiliki kambium vaskuler c. Batas korteks dan silinder pusat pada batang tidak tampak d. Berakar tunggang e. Mempunyai empulur sempit atau tidak mempunyai empulur pada pusat akar. 31. Apa nama jaringan yang hanya ditemukan pada tempurung kelapa? a. trakeid d. kolenkim b. endodermis e. sklerenkim c. parenkim 32. Apa nama jaringan yang tersusun atas sel-sel yang dapat digunakan untuk kultur jaringan? a. meristem b. sklerenkim c. parenkim
74
c
e
a
No
Indikator Instrumen
Jenjang Kognitif
33
Menjelaskan fungsi jaringan parenkim
C2
34
Menjelaskan susunan jaringan batang dikotil
C2
35
Membedakan tumbuhan monokotil dan dikotil
C2
36
Menjelaskan syarat mencangkok
C2
37
Menjelaskan fungsi kolenkim
C2
38
Menjelaskan pengertian jaringan
C1
Soal d. akar e. semua sel tubuh 33. Manakah fungsi jaringan palisade berikut ini yang erat hubungannya dengan strukturnya yang rapat dan terletak dibawah epidermis atas? a. pengambilan oksigen b. penguapan uap air c. pengeluaran karbon dioksida d. asimilasi karbon e. penyerapan karbon dioksida 34. Manakah jaringan berikut yang bukan termasuk silinder pusat batang tumbuhan dikotil? a. perisikel d. endodermis b. kambium e. empulur c. ikatan pembuluh 35. Manakah struktur dibawah ini yang bukan ciri khas untuk membedakan tumbuhan monokotil dan tumbuhan dikotil? a. susunan akar b. susunan anatomi batang c. morfologis bunganya d. sifat haploid sel kelaminnya e. bangun dasar daunnya 36. Manakah jaringan yang tidak dihilangkan pada waktu mencangkok? a. gabus b. perikambium interfasis c. floem d. xilem e. kambium 37. Manakah jaringan yang dimiliki batang tumbuhan sehingga memiliki daya lentur tertentu jika dihembus angin? a. parenkim d. trakea b. kolenkim e. xilem c. sklerenkim 38. Apakah yang dimaksud dengan jaringan? a. gabungan sejumlah sel sejenis yang mempunyai fungsi khusus b. gabungan sejumlah sel sejenis yang belum mempunyai fungsi c. gabungan sejumlah sel tidak sejenis yang mempunyai fungsi khusus 75
Kunci Jawaban
a
d
d
d
b
a
No
Indikator Instrumen
Jenjang Kognitif
39
Menjelaskan jaringa-jaringan daun
C2
40
Menyebutkan fungsi tudung akar
C1
41
Menyebutkan zat penyusun dinding sel
C1
42
Menjelaskan fungsi kambium
C2
43
Menjelaskan jaringan penyusun batang
C2
44
Menjelaskan pengertian pengangkutan intravaskular
C2
Soal d. gabungan sejumlah sel tidak sejenis yang belum mempunyai fungsi khusus e. salah semua 39. Beberapa jaringan pada tumbuhan: 1. epidermis 4. xilem 2. sklerenkim 5. palisade 3. kambium Manakah jaringan yang hanya terdapat pada organ daun? a. 1, 2, dan 3 b. 1,3, dan 4 c. 1, 3, dan 5 d. 1, 4, dan 5 e. 2, 3, dan 5 40. Apa fungsi dari tudung akar pada bagian ujung akar? a. menyerap unsur hara b. melindungi titik tumbuh akar c. membantu membelah batuan d. membantu menembus tanah e. menghindarkan akar dari luka 41. Manakah zat-zat berikut ini yang bukan merupakan bahan pembangun dinding sel tumbuhan? a. pektin b. protein c. suberin d. selulose e. lignin 42. Manakah jaringan yang dapat membentuk lapisan kayu pada batang tumbuhan dikotil? a. xilem d. korteks b. floem e. kambium fasis c. empulur 43. Manakah jaringan yang tidak terdapat pada batang tumbuhan? a. parenkim d. floem b. kolenkim e. xylem c. endoderm 44. Apakah yang dimaksud dengan pengangkutan intravaskular? a. Pengangkutan dari rambut akar ke xylem b. Pengangkutan hasil fotosintesis melalui floem c. Pengangkutan air mineral melalui floem d. Pengangkutan air dan hasil fotosintesis melalui floem 76
Kunci Jawaban
d
b
b
e
c
b
No
Indikator Instrumen
Jenjang Kognitif
45
Menyebutkan fungsi rambutrambut akar
C1
46
Menjelaskan proses pengangkutan ekstravaskular
C2
47
Menjelaskan fungsi felogen
C1
48
Menyebutkan ciri-ciri daun tumbuhan dikotil
C1
49
Mengenal macam-macam modifikasi epidermis
C1
50
Mengenal jaringan klorenkim
C1
Soal e. Pengangkutan dari korteks ke xylem 45. Apa fungsi dari rambut-rambut akar? a. Perluasan dari permukaan akar b. Penguat berdirinya pohon c. Perluasan bidang penyerapan d. Pemekaran jaringan epidermis akar e. Penampung cadangan mineral di akar 46. Manakah urutan pengangkutan ekstravaskular yang benar? a. Epidermis-korteks-floem-xilem b. Epidermis-korteks-endodermis-xilem c. Epidermis-endodermis-korteks-xilem d. Epidermis-endodermis-floem-xilem e. Epidermis-endodermis-korteks-floem 47. Manakah jaringan berikut ini yang mempunyai kemampuan membelah terus menerus? a. Kolenkim b. Feloderm c. Felem d. Felogen e. Floem 48. Manakah yang merupakan ciri daun tumbuhan dikotil? a. Menjari atau menyirip b. Melengkung atau menyirip c. Melengkung dan menjari d. Sejajar dan menyirip e. Menjari dan sejajar 49. Manakah yang bukan modifikasi dari epidermis? a. Spina b. Stomata c. Kutikula d. Trikoma e. Lignin 50. Apa nama jaringan parenkim yang memiliki klorofil? a. Kolenkim b. Aerenkim c. Klorofil d. Sklerenkim e. Klorenkim
77
Kunci Jawaban c
b
d
a
e
e
78
79
Lampiran 4 Nama : Kelas : Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e!
1. Jaringan daun manakah yang tersusun atas sel-sel sangat rapat? a. epidermis b. parenkim palisade c. parenkim spons d. sel penjaga e. stomata 2. Salah satu hasil diferensiasi dari jaringan epidermis adalah .... a. xilem b. floem c. empulur d. stomata e. parenkim 3. Pernyataan berikut merupakan ciri jaringan epidermis, kecuali . . . . a. sel-selnya berbentuk seperti balok b. dilengkapi lapisan lilin c. bermodifikasi menjadi stomata d. mengandung banyak kloroplas e. sel-selnya tersusun rapat 4. Manakah pernyataan yang benar menyangkut fungsi jaringan epidermis sebagai alat pertukaran gas? a. terdiri atas sel-sel yang rapat b. terdapat stomata pada epidermis bawah daun c. epidermis termodifikasi menjadi kutikula d. epidermis membentuk bulu-bulu halus pada daun durian e. terletak paling luar dan menutupi seluruh tubuh tumbuhan 5. Pelajari tabel berikut.
Manakah pernyataan yang benar? a. I dan II b. I dan III c. I dan III d. II dan IV e. III dan IV 80
6. Perhatikan gambar berikut. Jaringan yang berfungsi mengangkut hasil fotosintesis ditunjuk oleh nomor ....
a. 1 b. 2
d. 4 e. 5
c. 3 7. Jaringan pengangkutan memiliki dua macam berkas vaskuler. Berkas vaskuler itu adalah a. Trakeid dan sel batu b. Sel serat dan sklereid c. Trakeid dan stele d. Korteks dan stele e. Xylem dan floem 8. Batang tanaman Impatiens balsamina direndam dalam larutan eosin (warna merah). Setelah beberapa lama, batang tersebut disayat melintang setipis mungkin, kemudian diamati dengan mikroskop (lihat gambar)
Manakah jaringan yang akan berwarna merah? a. 1 d. 4 b. 2 e. 5 c. 3 9. Jika kita membuat sayatan melintang akar tumbuhan dikotil, kemudian diamati dengan mikroskop, akan terlihat susunan anatomis akar dikotil sebagai berikut: 1. stele, 2. korteks, 3. epidermis, 4. endodermis. Manakah urutan yang menunjukkan susunan anatomis akar dikotil dari luar ke dalam? a. 3-2-4-1 d. 1-3-2-4 b. 1-4-3-2 e. 3-1-4-2 c. 4-3-1-2
81
10. Apa fungsi kambium vaskuler? a. ke luar membuat floem, ke dalam membuat xilem b. ke luar membuat korteks, ke dalam membuat kayu c. ke luar membuat kayu, ke dalam membuat kulit d. ke luar membuat korteks, ke dalam membuat xilem e. ke luar membuat xilem, ke dalam membuat floem 11. Manakah pernyataan yang merupakan fungsi lapisan kutikula? a. Membantu proses fotosintesis b. Membantu mengalirkan air c. Mencegah penguapan d. Melindungi daun yang masih muda e. Membantu penyerapan air 12. Apa nama jaringan dasar pada tumbuhan air yang memiliki fungsi untuk menyimpan udara? a. Aerenkim b. Kolenkim c. Sklerenkim d. Klorenkin e. Parenkim Penimbun 13. Manakah jaringan yang paling banyak berperan dalam proses fotosintesis? a. Jaringan palisade b. Jaringan Pengangkut c. Jaringan epidermis d. Mulut daun e. Kambium 14. Apa nama jaringan yang berfungsi menyalurkan air dan mineral dari akar ke daun? a. Kolenkim b. Parenkim c. Xilem d. Floem e. Sklerenkim 15. Manakah pernyataan yang merupakan ciri-ciri dari jaringan sklerenkim? a. terdiri atas selapis sel yang tersusun rapat b. terdiri dari sel-sel mati c. mengalami modifikasi membentuk lapisan tebal seperti kutikula d. dinding sel mengalami penebalan yang tidak berlignin e. sebagai jaringan dasar 16. Dimanakah letak jaringan endodermis yang tepat pada akar? a. di antara xylem dan floem b. di antara parenkima dan epidermis c. di antara felem dan feloderma d. di antara korteks dan silinder pusat e. di antara silinder pusat dan epidermis 17. Dimanakah letak berkas pengangkutan banyak ditemukan pada batang tumbuhan monokotil? 82
a. Epidermis b. Korteks c. Lenti sel d. Kambium e. Empulur 18. Apa nama jaringan yang memiliki ciri yakni sel-selnya berukuran besar, berdinding tipis dan susunannya renggang sehingga banyak ruang antar sel dan vakuolanya besar ? a. Kolenkim b. Parenkim c. Epidermis d. Xilem e. Sklerenkim 19. Pernyataan berikut ini merupakan ciri-ciri jaringan : 1. sel-sel mengalami penebalan sekunder dengan lignin 2. berfungsi sebagai pelindung dan dilengkapi lapisan lilin 3. bentuknya memanjang tegak, dan banyak mengandung klorofil 4. sel-sel jaringan muda selalu membelah atau bersifat embrional 5. pada beberapa tempat termodifikasi menjadi stomata atau rambut Manakah yang merupakan ciri-ciri jaringan epidermis ? a. 1 dan 2 b. 2 dan 3 c. 2 dan 5 d. 3 dan 4 e. 4 dan 5 20. Apa nama jaringan yang di jumpai hampir pada semua bagian tumbuhan? a. Sklerenkim b. Epidermis c. xylem d. floem e. parenkim 21. Manakah tumbuhan dibawah ini yang memiliki aerenkim? a. Kaktus b. Eceng gondok c. Singkong d. Lidah buaya e. Rhoe discolor 22. Manakah tipe berkas pembuluh yang dimiliki tanaman pacar air? a. Kolateral b. Konsentris tertutup c. Konsentris terbuka d. Kolateral tertutup e. Kolateral terbuka 23. Apa nama pengangkutan yang terjadi di dalam berkas pembuluh yakni xylem dan floem secara vertikal? f. Ekstravaskuler 83
g. Intravaskuler h. Pompa proton i. Difusi j. Osmosis 24. Manakah yang merupakan ciri dari struktur kolenkim? a. selnya mengalami penebalan dan tak berlignin b. terdiri dari sel-sel mati c. dapat ditemukan pada tempurung kelapa d. selnya berbentuk panjang ramping dan tirus e. terdapat banyak kloroplas 25. Manakah pernyataan yang benar tentang struktur tumbuhan monokotil dibawah ini? a. Memiliki pembuluh angkut yang teratur dalam susunan lingkaran b. Memiliki kambium vaskuler c. Batas korteks dan silinder pusat pada batang tidak tampak d. Berakar tunggang e. Mempunyai empulur sempit atau tidak mempunyai empulur pada pusat akar. 26. Apa nama jaringan yang hanya ditemukan pada tempurung kelapa? a. trakeid b. endodermis c. parenkim d. kolenkim e. sklerenkim 27. Di bawah ini yang termasuk fungsi jaringan epidermis yaitu .... a. penguat jaringan lainnya b. menyalurkan hasil fotosintesis c. melindungi dan menutup jaringan di bawahnya d. mengangkut air dan zat terlarut ke dalam tubuh e. bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan tubuh 28. Manakah jaringan berikut yang bukan termasuk silinder pusat batang tumbuhan dikotil? a. perisikel b. xilem c. ikatan pembuluh d. endodermis e. empulur 29. Manakah jaringan yang dimiliki batang tumbuhan sehingga memiliki daya lentur tertentu jika dihembus angin? a. parenkim b. kolenkim c. sklerenkim d. trakea e. xylem 30. Beberapa jaringan pada tumbuhan: 84
1. epidermis 4. xilem 2. sklerenkim 5. palisade 3. kambium Manakah jaringan yang hanya terdapat pada organ daun? a. 1, 2, dan 3 b. 1,3, dan 4 c. 1, 3, dan 5 d. 1, 4, dan 5 e. 2, 3, dan 5 31. Manakah jaringan yang dapat membentuk lapisan kayu pada batang tumbuhan dikotil? a. xilem b. floem c. empulur d. korteks e. kambium fasis 32. Manakah jaringan yang tidak terdapat pada batang tumbuhan monokotil? a. parenkim b. kolenkim c. endoderm d. floem e. xylem 33. Apakah yang dimaksud dengan pengangkutan intravaskular? a. Pengangkutan dari rambut akar ke xylem b. Pengangkutan hasil fotosintesis melalui floem c. Pengangkutan air mineral melalui floem d. Pengangkutan air dan hasil fotosintesis melalui floem e. Pengangkutan dari korteks ke xylem 34. Manakah urutan pengangkutan ekstravaskular yang benar? a. Epidermis-korteks-floem-xilem b. Epidermis-korteks endodermis-xilem c. Epidermis-endodermis-korteks-xilem d. Epidermis-endodermis-floem-xilem e. Epidermis-endodermis-korteks-floem 35. Manakah jaringan berikut ini yang mempunyai trakeid? a. epidermis b. parenkim c. empulur d. xylem e. floem 36. Apa nama jaringan parenkim yang memiliki klorofil? a. Kolenkim b. Aerenkim c. Klorofil d. Sklerenkim e. Klorenkim 85
Lampiran 5 Kunci Jawaban 1. A 2. D 3. C 4. B 5. D 6. A 7. E 8. C 9. A 10. A 11. C 12. A 13. A 14. C 15. B 16. D 17. B 18. B 19. C 20. E 21. B 22. E 23. B 24. A 25. C 26. E 27. C 28. D 29. B 30. D 31. E 32. C 33. B 34. B 35. D 36. E
86
Lampiran 6
Peta Konsep Jaringan Tumbuhan Terdiri dari
Jaringan Dewasa
Jaringan Meristem Terdiri dari
Terdiri dari
- Promeristem - Meristem Primer - Meristem Sekunder
Epidermis
Parenkim
Jaringan Penyokong Meliputi
- Kolenkim - Sklerenkim
87
Jaringan Pengangkut Meliputi
- Xilem - Floem
Jaringan Gabus
Lampiran 7 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Kelas Eksperimen) Sekolah
: SMAN 9 Kota Tangsel
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
: XI (sebelas)/1(satu)
Pertemuan ke-
:1
Alokasi waktu
: 2x45 menit
Subkonsep
: Jaringan Epidermis
Standar Kompetensi : 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan serta penerapannya dalam konteks saling temas Kompetensi Dasar
: 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan
mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan Indikator
:
2.1.1 Mengidentifikasi struktur jaringan epidermis beserta fungsinya 2.1.2 Membedakan struktur jaringan epidermis dan parenkim Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat 1. Menjelaskan struktur dan fungsi jaringan epidermis 2. Menggambarkan struktur jaringan epidermis tumbuhan berdasarkan hasil pengamatan 3. Membuat preparat jaringan epidermis 4. Membedakan struktur jaringan epidermis dan parenkim menggunakan gambar
88
A. Materi Pembelajaran : Jaringan tumbuhan adalah sekumpulan sel tumbuhan yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Jaringan pada tumbuhan dapat di kelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa. 1. jaringan meristem berdasarkan asal terbentuknya ada meristem primer dan meristem sekunder. Jaringan meristem berdasarkan letaknya ada meristem apikal, meristem interkalar dan meristem lateral. 2. jaringan dewasa merupakan jaringan yang telah mengalami diferensiasi dan tidak bersifat meristem lagi, terdiri dari: a. jaringan epidermis (jaringan pelindung) jaringan terluar yang menutupi seluruh permukaan tubuh tumbuhan seperti akar, batang, daun maupun biji b. jaringan parenkim (jaringan dasar) jaringan parenkim merupakan jaringan yang terbentuk dari meristem dasar. Jaringan ini hampir terdapat disemua bagian tumbuhan dan mengisi jaringan tumbuhan. B. Metode Pembelajaran 1. Model Pembelajaran
: Inkuiri Terstruktur
2. Metode
: Praktikum
C. Langkah-langkah Pembelajaran: Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Siswa menyimak pertanyaan dan menjawab dengan lugas Siswa berkelompok
10 menit
Terstruktur Awal
Apersepsi guru menanyakan macam-macam organ pada tumbuhan Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
89
Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Guru menjelaskan tujuan praktikum Guru membagikan LKS dan menjelaskan cara kerja praktikum Guru memperlihatkan bawang merah dan daun rhoe discolor Guru mengajukan pertanyaan produktif 1. “Menurut kalian apakah kedua tanaman ini memiliki struktur jaringan epidermis yang sama?” “ Coba kalian buat preparat segar dari kedua tanaman tersebut, kemudian dengan menggunakan mikroskop amatilah struktur jaringan epidermisnya!” 2. “Bagaimanakah bentuk sel kedua tanaman tersebut?” 3. “Dengan menggunakan mikroskopmu, coba kalian
Siswa menyimak
10 menit
Masing-masing kelompok menyimak dan memperhatikan Siswa mempersiapkan alat dan bahan praktikum
10 menit
Siswa berhipotesis dan menjawab pertanyaanpertanyaan LKS
20 menit
Terstruktur Inti
Planning
Retrieving
Processing
90
Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
bandingkan struktur jaringan epidermis dengan jaringan parenkim pada tangkai daun pepaya!” 4. “Apakah terdapat perbedaan antara struktur sel jaringan epidermis Rhoe discolor dengan jaringan yang terlihat pada preparat tangkai daun pepaya?” 5. “Bagaimanakah bentuk selselnya?” 6. “Apakah terlihat ada ruang-ruang antar sel pada preparat tangkai daun papaya?” 7. “Jaringan manakah yang memiliki modifikasi lain seperti terdapat stomata atau kutikula?” Guru mengawasi jalannya praktikum dan memberi bimbingan jika diperlukan Guru meminta siswa mendiskusikan
Siswa melakukan pengamatan sesuai LKS yang diberikan secara berkelompok
Waktu
Terstruktur
Creating
91
10 menit
Siswa berdiskusi secara kelompok
10 menit
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Guru
Siswa
Waktu
Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil pengamatan
10 menit
Siswa menyimak dan mencatat
5 menit
Beberapa siswa membuat kesimpulan
5 menit
Terstruktur hasil pengamatan dan pertanyaanpertanyaan LKS secara kelompok untuk selanjutnya dipresentasikan
Sharing
Evaluating
Penutup
Guru meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan jawaban atas pertanyaan LKS dan kesimpulan hasil pengamatan Guru mengevaluasi hasil presentasi tiap kelompok dan memberi materi tambahan jika diperlukan, guru mengajukan pertanyaan “Perbedaan apa sajakah yang dapat kalian lihat antara jaringan epidermis dan parenkim?’ Guru membimbing siswa membuat kesimpulan
D. Sumber/Bahan/Alat Pembelajaran Buku biologi yang relevan, LKS
92
E. Penilaian 1. Penilaian kinerja 2. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda
Mengetahui,
Dilaksanakan,12-09-2011
Guru Bidang studi
Dwi Indriyati, S.Si
Dwi Sugianti
93
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Kelas Eksperimen) Sekolah
: SMAN 9 Kota Tangsel
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
: XI (sebelas)/1(satu)
Pertemuan ke-
:2
Alokasi waktu
: 2x45 menit
Subkonsep
: Jaringan Dasar
Standar Kompetensi : 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan serta penerapannya dalam konteks saling temas Kompetensi Dasar
: 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan
mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan Indikator
:
2.1.1 Mengidentifikasi macam-macam struktur jaringan parenkim 2.1.2 Mengaitkan struktur jaringan parenkim dengan fungsinya Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat 5. Menggambarkan macam-macam struktur jaringan parenkim tumbuhan berdasarkan hasil pengamatan 6. Mengaitkan struktur jaringan parenkim dengan fungsinya 7. Membuat macam-macam preparat jaringan parenkim
C. Materi Pembelajaran : Jaringan parenkim merupakan bentuk lain dari jaringan dewasa. Jaringan parenkim menyusun tubuh tumbuhan setelah jaringan epidermis. Jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar. Alasannya, jaringan dasar 94
bisa ditemukan pada semua organ tumbuhan, seperti akar, batang, dan daun. Berdasarkan fungsinya, jaringan parenkim terbagi menjadi beberapa jaringan, yaitu parenkim air, parenkim pengangkut, parenkim penyimpan udara, parenkim asimilasi, parenkim penimbun, dan parenkim penutup luka. D. Metode Pembelajaran 3. Model Pembelajaran
: Inkuiri Terstruktur
4. Metode
: Praktikum
C. Langkah-langkah Pembelajaran: Tahap
Tahapan Inkuiri Terstruktur
Awal
Inti
Planning
Retrieving
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Guru mengaitkan pelajaran sebelumnya dengan pelajaran yang akan dipelajari Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
Siswa menyimak Siswa berkelompok
5 menit
Guru menjelaskan tujuan praktikum Guru membagikan LKS dan menjelaskan cara kerja praktikum Guru memperlihatkan dua tanaman berbeda yakni eceng gondok dan batang tanaman
Siswa memperhatikan
95
Siswa menyimak Siswa mempersiapkan alat dan bahan praktikum
10 menit
10 menit
Tahap
Tahapan Inkuiri Terstruktur
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
singkong Guru mengajukan pertanyaan produktif
Processing
Creating
1. “Menurut kalian apakah kedua tanaman ini memiliki jaringan parenkim?” 2. “Apakah kedua tanaman tersebut memiliki struktur parenkim yang sama?” 3. “Dengan Siswa menggunakan berhipotesis dan mikroskop coba menjawab kalian amati pertanyaanstruktur jaringan pertanyaan LKS parenkim pada Siswa melakukan masing-masing pengamatan tumbuhan sesuai LKS yang tersebut, diberikan secara bagaimanakah berkelompok bentuk sel-sel yang menyusunnya?“ 4. “Preparat manakah yang menunjukkan adanya ruang antar sel yang besar-besar?” Guru mengawasi jalannya praktikum dan memberi bimbingan jika diperlukan Guru meminta Siswa berdiskusi siswa secara kelompok
96
30 menit
10
Tahap
Tahapan Inkuiri Terstruktur
Sharing
Evaluating
Kegiatan Guru
Penutup
mendiskusikan hasil pengamatan dan pertanyaanpertanyaan LKS secara kelompok untuk selanjutnya dipresentasikan Guru meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasika n jawaban atas pertanyaan LKS dan kesimpulan hasil pengamatan Guru mengevaluasi hasil presentasi tiap kelompok Guru menerangkan kembali macammacam jaringan parenkim yang telah diketahui berdasarkan hasil pengamatan lalu guru mengajukan pertanyaan “Menurut kalian, mengapa eceng gondok memiliki struktur parenkim yang dapat menyimpan udara?” Guru membimbing siswa membuat kesimpulan
97
Siswa
Waktu
menit
Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil pengamatan
15 menit
Siswa menyimak dan mencatat Siswa menjawab
5 menit
Beberapa siswa membuat kesimpulan
5 menit
D. Sumber/Bahan/Alat Pembelajaran Buku Biologi yang Relevan, LKS
E. Penilaian 1. Penilaian Kinerja 2. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda
Mengetahui,
Dilaksanakan,15-09-2011
Guru Bidang Studi
Dwi Indriyati, S.Si
Dwi Sugianti
98
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Kelas Eksperimen) Sekolah
: SMAN 9 Kota Tangsel
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
: XI (sebelas)/1(satu)
Pertemuan ke-
:3
Alokasi waktu
: 2x45 menit
Subkonsep
: Jaringan
Penyokong
dan
Pengangkut Standar Kompetensi : 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan serta penerapannya dalam konteks saling temas Kompetensi Dasar
: 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan
mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan Indikator
:
2.1.1 Mengidentifikasi macam-macam struktur jaringan penyokong 2.1.2 Menjelaskan struktur jaringan pengangkut beserta fungsinya 2.1.3 Membuktikan adanya fungsi xilem sebagai jaringan pengangkut Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat 8. Mengidentifikasi struktur jaringan kolenkim 9. Mengidentifikasi struktur jaringan sklerenkim 10. Menjelaskan struktur jaringan pengangkut beserta fungsinya 11. Melakukan percobaan untuk membuktikan adanya fungsi xylem 99
E. Materi Pembelajaran : Tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) memiliki pembuluh pengangkut yang disebut xilem dan floem. Keduanya tersusun oleh lebih dari satu macam sel. Xilem memiliki dua fungsi utama, yaitu penyokong dan pengangkut air dan garam-garam tanah dari akar menuju ke bagian atas tumbuhan. Xilem tersusun oleh 4 macam sel, yaitu trakeid, trakea, parenkim, dan serabut (serat). parenkim xilem berfungsi pula untuk menimbun cadangan makanan. Floem memiliki struktur tubuler mirip dengan xilem, dinding sel penyusunnya mengalami penebalan selulosa dan pektin. Floem adalah jaringan pengangkutan untuk zat makanan, seperti gula (hasil fotosintesis), protein, dan mineral pada tumbuhan. Floem tersusun dari 4 macam sel, yaitu sel buluh tapis, sel pengiring, sel serabut, dan sel parenkim.
B. Metode Pembelajaran 5. Model Pembelajaran
: Inkuiri Terstruktur
6. Metode
: Praktikum
C. Langkah-langkah Pembelajaran: Tahap Awal
Tahapan Inkuiri Terstruktur
Kegiatan Guru Guru mengaitkan pelajaran sebelumnya dengan pelajaran yang akan dipelajari Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
100
Siswa
Waktu
Siswa menyimak Siswa berkelompok
5 menit
Tahap Inti
Tahapan Kegiatan Inkuiri Guru Siswa Terstruktur Planning Guru menjelaskan Siswa menyimak tujuan praktikum Guru membagikan LKS dan menjelaskan cara kerja praktikum Retrieving
Guru meminta siswa merendam batang Impatiens balsamina dengan larutan eosin selama 15 menit Guru mengajukan pertanyaan produktif 1. “Menurut kalian apa yang akan terjadi pada batang tersebut?” 2. “Dapatkah kalian temukan perbedaan antara penampang melintang batang yang telah direndam dengan yang tidak direndam?”
Processing
3. “Apakah penampang batang pacar air memiliki susunan berkas pengangkut yang beraturan?” 4. “Apakah pada
101
Siswa mempersiapkan alat dan bahan praktikum
Waktu 10 menit
5 menit
Siswa berhipotesis 30 menit dan menjawab pertanyaanpertanyaan LKS Siswa melakukan pengamatan sesuai LKS yang diberikan secara berkelompok
Tahap
Tahapan Inkuiri Terstruktur
Creating
Sharing
Evaluating
Kegiatan Guru batang yang telah direndam hanya xylem saja yang terlihat berwarna?” 5. Bagaimanakah struktur dan bentuk sel-sel xylem tersebut?” 6. “Dapatkah kalian temukan perbedaannya dengan struktur kolenkim batang cabai?” Guru mengawasi jalannya praktikum dan memberi bimbingan jika diperlukan Guru meminta siswa mendiskusikan hasil pengamatan dan pertanyaanpertanyaan LKS secara kelompok untuk selanjutnya dipresentasikan Guru meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan jawaban atas pertanyaan LKS dan kesimpulan hasil pengamatan Guru mengevaluasi hasil presentasi tiap
102
Siswa
Siswa berdiskusi secara kelompok
Waktu
10 menit
15 menit Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil pengamatan
Siswa menyimak dan mencatat Siswa menjawab
10 menit
Tahap
Tahapan Inkuiri Terstruktur
Penutup
Kegiatan Guru kelompok dan mengajukan pertanyaan 1. “Selain xylem, adakah struktur lainnya yang terwarnai eosin?” 2. “Mengapa hal itu dapat terjadi?” Guru membimbing siswa membuat kesimpulan
Siswa
Beberapa siswa membuat kesimpulan
Waktu
5 menit
E. Sumber/Bahan/Alat Pembelajaran Buku Biologi yang Relevan, LKS
F. Penilaian 1. Penilaian Kinerja 2. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda
Mengetahui,
Dilaksanakan,19-09-2011
Guru Bidang Studi
Dwi Indriyati, S.Si
Dwi Sugianti
103
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Kelas Eksperimen) Sekolah
: SMAN 9 Kota Tangsel
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
: XI (sebelas)/1(satu)
Pertemuan ke-
:4
Alokasi waktu
: 2x45 menit
Subkonsep
: Jaringan pada akar dan batang
Standar Kompetensi : 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan serta penerapannya dalam konteks Saling temas Kompetensi Dasar
: 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan
mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan Indikator
:
2.1.1 Mengidentifikasi struktur jaringan penyusun akar tumbuhan dikotil dan monokotil 2.1.2 Mengidentifikasi struktur jaringan penyusun batang tumbuhan dikotil dan monokotil Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat 12. Mengidentifikasi struktur jaringan penyusun akar 104
13. Mengidentifikasi struktur jaringan penyusun batang 14. Mengamati perbedaan struktur jaringan penyusun akar pada tanaman dikotil dan monokotil menggunakan preparat awetan 15. Mengamati perbedaan struktur jaringan penyusun batang pada tanaman dikotil dan monokotil menggunakan preparat awetan
F. Materi Pembelajaran : Tubuh tumbuhan terbagi dalam sistem akar dan sistem tunas. Sesuai namanya, sistem akar terdiri atas organ akar dan bagian-bagiannya. Sedangkan sistem batang meliputi organ batang dan daun.
105
Struktur batang tumbuhan dikotil dan monokotil
G. Metode Pembelajaran 7. Model Pembelajaran
: Inkuiri Terstruktur
8. Metode
: Praktikum
C. Langkah-langkah Pembelajaran: Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Apersepsi guru menanyakan macammacam tumbuhan yang ada disekitar lingkungan sekolah Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
Siswa menyimak pertanyaan dan menjawab dengan lugas Siswa berkelompok
5 menit
Guru menjelaskan tujuan praktikum Guru membagikan LKS dan menjelaskan cara kerja praktikum Guru memperlihatkan tanaman monokotil dan dikotil Guru mengajukan
Siswa menyimak
5 menit
Siswa menyimak Siswa menyiapkan alat dan bahan
10 menit
Terstruktur
Awal
Inti
Planning
Retrieving
106
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur
Processing
Creating
Sharing
Evaluating
pertanyaan produktif 1. “Apakah kedua tanaman ini memiliki struktur jaringan penyusun batang yang berbeda?” 2. “Pada preparat manakah terdapat berkas pengangkut bertipe kolateral terbuka?” 3. “ Perbedaan apa saja yang dapat kalian temukan antara batang monokotil dengan akarnya dikotil?” Guru mengawasi jalannya praktikum dan memberi bimbingan jika diperlukan Guru meminta siswa mendiskusikan hasil pengamatan dan pertanyaanpertanyaan LKS secara kelompok untuk selanjutnya dipresentasikan Guru meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan jawaban atas pertanyaan LKS dan kesimpulan hasil pengamatan Guru mengevaluasi hasil presentasi tiap
107
praktikum
Siswa berhipotesis Siswa melakukan pengamatan sesuai LKS yang diberikan secara berkelompok Siswa menjawab pertanyaanpertanyaan LKS
30 menit
Siswa berdiskusi secara kelompok
10 menit
Perwakilan kelompok mempresentasika n hasil pengamatan
15 menit
Siswa menyimak dan mencatat
10 menit
Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur
kelompok Guru mengajukan pertanyaan kembali “ Menurut kalian, mengapa tumbuhan dikotil dapat tumbuh membesar dan berkayu sedangkan tumbuhan monokotil tidak?” Penutup Guru membimbing siswa membuat kesimpulan D. Sumber/Bahan/Alat Pembelajaran
Beberapa siswa membuat kesimpulan
5 menit
Buku Biologi yang Relevan, LKS
E. Penilaian 1. Penilaian Kinerja 2. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda
Mengetahui,
Dilaksanakan, 22-09-2011
Guru Bidang Studi
Dwi Indriyati, S.Si
Dwi Sugianti
108
Lampiran 8 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Kelas Kontrol) Sekolah
: SMAN 9 Kota Tangsel
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
: XI (sebelas)/1(satu)
Pertemuan ke-
:1
Alokasi waktu
: 2x45 menit
Subkonsep
: Jaringan Epidermis
Standar Kompetensi : 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan serta penerapannya dalam konteks Saling temas Kompetensi Dasar
: 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan
mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan Indikator
:
2.1.1 Mengidentifikasi struktur jaringan epidermis beserta fungsinya 2.1.2 Membedakan struktur jaringan epidermis dan parenkim Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat 16. Menjelaskan struktur dan fungsi jaringan epidermis 17. Menggambarkan struktur jaringan epidermis tumbuhan berdasarkan hasil pengamatan 18. Membedakan struktur jaringan epidermis dan parenkim menggunakan gambar 19. Membuat preparat jaringan epidermis
H. Materi Pembelajaran : Jaringan tumbuhan adalah sekumpulan sel tumbuhan yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Jaringan pada tumbuhan dapat di kelompokkan menjadi dua yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa. 109
3. jaringan meristem berdasarkan asal terbentuknya ada meristem primer dan meristem sekunder. Jaringan meristem berdasarkan letaknya ada meristem apikal, meristem interkalar dan meristem lateral. 4. jaringan dewasa merupakan jaringan yang telah mengalami diferensiasi dan tidak bersifat meristem lagi, terdiri dari: a. jaringan epidermis (jaringan pelindung) jaringan terluara yang menutupi seluruh permukaan tubuh tumbuhan seperti akar, batang, daun maupun biji b. jaringan parenkim (jaringan dasar) jaringan parenkim merupakan jaringan yang terbentuk dari meristem dasar. Jaringan ini hampir terdapat disemua bagian tumbuhan dan mengisi jaringan tumbuhan. I. Metode Pembelajaran 9. Model Pembelajaran
: Inkuiri Terstruktur
10. Metode
: Praktikum
C. Langkah-langkah Pembelajaran: Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Siswa menyimak
5 menit
Terstruktur Awal
Apersepsi Guru menanyakan macam-
pertanyaan
macam organ pada
menjawab dengan
tumbuhan
lugas
Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
110
Siswa berkelompok
dan
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Siswa
Waktu
Siswa menyimak
10 menit
Guru
Terstruktur Inti
Planning
Guru menjelaskan tujuan praktikum Guru membagikan LKS dan
Siswa mempersiapkan alat dan bahan
menjelaskan cara kerja praktikum Guru mempersilahkan siswa menyiapkan alat dan bahan praktikum
Retrieving
Guru mengajukan
Masing-masing
pertanyaan sebagai
kelompok
rumusan masalah
berhipotesis/
”Bagaimanakah
berpendapat
5 menit
struktur jaringan epidermis dan parenkim sebagai jaringan dewasa yang dimiliki oleh tanaman? ”
Processing Guru mengawasi
Creating
Siswa melakukan
jalannya praktikum
pengamatan sesuai
dan memberi
LKS
bimbingan jika
diberikan
diperlukan
berkelompok
Guru meminta siswa mendiskusikan hasil pengamatan dan pertanyaan-
111
Siswa
30 menit
yang secara
berdiskusi
secara kelompok
10 menit
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Guru
Waktu
Siswa
Terstruktur pertanyaan LKS secara kelompok untuk selanjutnya dipresentasikan
Sharing
Guru meminta
Perwakilan
15 menit
perwakilan kelompok
kelompok
untuk
mempresentasikan
mempresentasikan
hasil pengamatan
jawaban atas pertanyaan LKS dan kesimpulan hasil pengamatan
Evaluating Guru memngevaluasi hasil presentasi tiap
Siswa
menyimak
5 menit
dan mencatat
kelompok dan memberi materi tambahan jika diperlukan Penutup
Guru membimbing
Beberapa
siswa membuat
membuat
kesimpulan
kesimpulan
berdasarkan jawaban atas rumusan masalah di awal praktikum
D. Sumber/Bahan/Alat Pembelajaran Buku Biologi yang Relevan, LKS
112
siswa
10 menit
E. Penilaian 3. Penilaian kinerja 4. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda
Mengetahui,
Dilaksanakan, 12-09-2011
Guru Bidang Studi
Dwi Indriyati, S.Si
Dwi Sugianti
113
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Kelas Kontrol) Sekolah
: SMAN 9 Kota Tangsel
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
: XI (sebelas)/1(satu)
Pertemuan ke-
:2
Alokasi waktu
: 2x45 menit
Subkonsep
: Macam-macam Jaringan Parenkim
Standar Kompetensi : 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan serta penerapannya dalam konteks Saling temas Kompetensi Dasar
: 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan
mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan Indikator
:
2.1.1 Mengidentifikasi macam-macam struktur jaringan parenkim 2.1.2 Mengaitkan struktur jaringan parenkim dengan fungsinya Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat 20. Menggambarkan macam-macam struktur jaringan parenkim tumbuhan berdasarkan hasil pengamatan 21. Mengaitkan struktur jaringan parenkim dengan fungsinya 22. Membuat preparat macam-macam jaringan parenkim
J. Materi Pembelajaran : Jaringan parenkim merupakan bentuk lain dari jaringan dewasa. Jaringan parenkim menyusun tubuh tumbuhan setelah jaringan epidermis. Jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar. Alasannya, jaringan dasar bisa ditemukan pada semua organ tumbuhan, seperti akar, batang, dan daun. Berdasarkan fungsinya, jaringan parenkim terbagi menjadi beberapa 114
jaringan, yaitu parenkim air, parenkim pengangkut, parenkim penyimpan udara, parenkim asimilasi, parenkim penimbun, dan parenkim penutup luka.
K. Metode Pembelajaran 11. Model Pembelajaran
: Inkuiri Terstruktur
12. Metode
: Praktikum
C. Langkah-langkah Pembelajaran: Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Siswa
Waktu
Apersepsi Guru
Siswa menyimak
5 menit
menanyakan
pertanyaan dan
macam-macam
menjawab dengan
organ pada
lugas
Guru
Terstruktur Awal
tumbuhan Guru membagi
Siswa berkelompok
siswa ke dalam beberapa kelompok Inti
Planning
Guru membagikan
Siswa menyimak
10 menit
LKS dan menjelaskan cara kerja praktikum Guru mempersilahkan siswa menyiapkan alat dan bahan praktikum
Retrieving
Guru mengajukan perumusan
115
Masing-masing kelompok
5 menit
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur masalah
berhipotesis/
“Bagaimanakah
berpendapat
struktur jaringan parenkim pada batang eceng gondok dan empulur singkong?”
Processing
Guru mengawasi
Siswa melakukan
jalannya
pengamatan sesuai
praktikum dan
LKS yang
memberi
diberikan secara
bimbingan jika
berkelompok
30 menit
diperlukan
Creating
Guru meminta siswa
Siswa berdiskusi secara kelompok
10 menit
mendiskusikan hasil pengamatan dan pertanyaanpertanyaan LKS secara kelompok untuk selanjutnya dipresentasikan
Sharing
Guru meminta
Perwakilan
15
perwakilan
kelompok
menit
kelompok untuk
mempresentasikan
mempresentasikan
hasil pengamatan
jawaban atas pertanyaan LKS dan kesimpulan
116
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur hasil pengamatan
Evaluating
Guru
Siswa menyimak
mengevaluasi hasil
5 menit
dan mencatat
presentasi tiap kelompok dan memberi materi tambahan jika diperlukan Penutup
Guru
Beberapa siswa
membimbing
membuat
siswa membuat
kesimpulan
10 menit
kesimpulan berdasarkan jawaban atas rumusan masalah di awal praktikum
D. Sumber/Bahan/Alat Pembelajaran Buku Biologi yang Relevan, LKS E. Penilaian 5. Penilaian kinerja 6. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda
Mengetahui,
Dilaksanakan,14-09-2011
Guru Bidang Studi
Dwi Indriyati, S.Si
Dwi Sugianti
117
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Kelas Kontrol) Sekolah
: SMAN 9 Kota Tangsel
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
: XI (sebelas)/1(satu)
Pertemuan ke-
:3
Alokasi waktu
: 2x45 menit
Subkonsep
: Jaringan
Penyokong
dan
Pengangkut Standar Kompetensi : 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan serta penerapannya dalam konteks Saling temas Kompetensi Dasar
: 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan
mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan Indikator
:
2.1.1 Mengidentifikasi macam-macam struktur jaringan penyokong 2.1.2 Menjelaskan struktur jaringan pengangkut beserta fungsinya 2.1.3 Membuktikan adanya fungsi xilem sebagai jaringan pengangkut Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat 23. Mengidentifikasi struktur jaringan kolenkim 24. Mengidentifikasi struktur jaringan sklerenkim 25. Menjelaskan struktur jaringan pengangkut beserta fungsinya 26. Melakukan percobaan untuk membuktikan adanya fungsi xylem
L. Materi Pembelajaran : Jaringan penyokong terbagi atas dua jenis jaringan, yakni jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim. Jaringan kolenkim memiliki sel hidup, dan tak berlignin. Selain itu, selnya mengalami penebalan. jaringan 118
sklerenkim hanya terdapat pada organ tumbuhan dewasa. Sel sklerenkim mati dan dindingnya tebal berlignin. Dibandingkan sel kolenkim, sel-sel sklerenkim ini jauh lebih kaku Tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) memiliki pembuluh pengangkut yang disebut xilem dan floem. Keduanya tersusun oleh lebih dari satu macam sel. Xilem memiliki dua fungsi utama, yaitu penyokong dan pengangkut air dan garam-garam tanah dari akar menuju ke bagian atas tumbuhan. Xilem tersusun oleh 4 macam sel, yaitu trakeid, trakea, parenkim, dan serabut (serat). parenkim xilem berfungsi pula untuk menimbun cadangan makanan. Floem memiliki struktur tubuler mirip dengan xilem, dinding sel penyusunnya mengalami penebalan selulosa dan pektin. Floem adalah jaringan pengangkutan untuk zat makanan, seperti gula (hasil fotosintesis), protein, dan mineral pada tumbuhan. Floem tersusun dari 4 macam sel, yaitu sel buluh tapis, sel pengiring, sel serabut, dan sel parenkim.
B. Metode Pembelajaran 13. Model Pembelajaran
: Inkuiri Terstruktur
14. Metode
: Praktikum
C. Langkah-langkah Pembelajaran: Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Siswa menyimak
5 menit
Terstruktur Awal
Apersepsi Guru menanyakan macam-
pertanyaan dan
macam organ pada
menjawab dengan
tumbuhan
lugas
Guru menjelaskan tujuan praktikum Guru membagi siswa
119
Siswa berkelompok
Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur ke dalam beberapa kelompok Inti
Planning
Guru membagikan
Siswa menyimak
10 menit
LKS dan menjelaskan cara kerja praktikum Guru mempersilahkan siswa menyiapkan alat dan bahan praktikum
Retrieving
Guru mengajukan
Masing-masing
rumusan masalah
kelompok
“Pada penampang
berhipotesis/
batang Impatiens
berpendapat
5 menit
balsamina yang telah direndam eosin mengapa hanya bagian xylem yang terlihat berwarna?”
Processing
Creating
Guru mengawasi
Siswa melakukan
jalannya praktikum
pengamatan sesuai
dan memberi
LKS yang
bimbingan jika
diberikan secara
diperlukan
berkelompok
Guru meminta siswa
Siswa berdiskusi
mendiskusikan hasil
secara kelompok
pengamatan dan pertanyaanpertanyaan LKS secara kelompok
120
30 menit
10 menit
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur untuk selanjutnya dipresentasikan
Sharing
Guru meminta
Perwakilan
15
perwakilan kelompok
kelompok
menit
untuk
mempresentasikan
mempresentasikan
hasil pengamatan
jawaban atas pertanyaan LKS dan kesimpulan hasil pengamatan
Evaluating
Guru memngevaluasi
Siswa menyimak
hasil presentasi tiap
dan mencatat
5 menit
kelompok dan memberi materi tambahan jika diperlukan Penutup
Guru membimbing
Beberapa siswa
siswa membuat
membuat
kesimpulan
kesimpulan
berdasarkan jawaban atas rumusan masalah di awal praktikum
D. Sumber/Bahan/Alat Pembelajaran Buku Biologi yang Relevan, LKS
121
10 menit
E. Penilaian 7. Penilaian kinerja 8. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda
Mengetahui,
Dilaksanakan, 19-09-2011
Guru Bidang Studi
Dwi Indriyati, S.Si
Dwi Sugianti
122
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Kelas Kontrol) Sekolah
: SMAN 9 Kota Tangsel
Mata Pelajaran
: Biologi
Kelas / Semester
: XI (sebelas) / 1(satu)
Pertemuan ke-
:4
Alokasi waktu
: 2x45 menit
Subkonsep
: Jaringan pada akar dan batang
Standar Kompetensi : 2. Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan Kompetensi Dasar
: 2.1
Mengidentifikasi
struktur
dan
fungsi
jaringan
tumbuhan Indikator
:
2.1.1 Mengidentifikasi struktur jaringan penyusun akar tumbuhan dikotil dan monokotil 2.1.2 Mengidentifikasi struktur jaringan penyusun batang tumbuhan dikotil dan monokotil Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat 27. Mengidentifikasi struktur jaringan penyusun akar 28. Mengidentifikasi struktur jaringan penyusun batang 29. Mengamati perbedaan struktur jaringan penyusun akar pada tanaman dikotil dan monokotil menggunakan preparat awetan 30. Mengamati perbedaan struktur jaringan penyusun batang pada tanaman dikotil dan monokotil menggunakan preparat awetan
M. Materi Pembelajaran : Tubuh tumbuhan terbagi dalam sistem akar dan sistem tunas. Sesuai namanya, sistem akar terdiri atas organ akar dan bagian-bagiannya. Sedangkan sistem batang meliputi organ batang dan daun.
123
Struktur batang tumbuhan dikotil dan monokotil
N. Metode Pembelajaran 15. Model Pembelajaran
: Inkuiri Terstruktur
16. Metode
: Praktikum
C. Langkah-langkah Pembelajaran: Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur Awal
Apersepsi guru
Siswa menyimak
menanyakan
pertanyaan dan
macam-macam
menjawab dengan
124
5 menit
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur organ pada tumbuhan Guru menjelaskan
lugas Siswa berkelompok
tujuan praktikum Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok Inti
Planning
Guru membagikan
Siswa menyimak
5 menit
Masing-masing
5 menit
LKS dan menjelaskan cara kerja praktikum Guru mempersilahkan siswa menyiapkan alat dan bahan praktikum
Retrieving
Guru mengajukan rumusan masalah
kelompok
“Bagaimanakah
berhipotesis/
susunan jaringan
berpendapat
pada tanaman monokotil dan dikotil?”
Processing
Guru mengawasi
Siswa melakukan
jalannya
pengamatan sesuai
praktikum dan
LKS yang diberikan
memberi
secara berkelompok
bimbingan jika
125
30 menit
Tahapan Tahap
Kegiatan
Inkuiri
Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur diperlukan
Creating
Guru meminta siswa
Siswa berdiskusi secara kelompok
10 menit
mendiskusikan hasil pengamatan dan pertanyaanpertanyaan LKS secara kelompok untuk selanjutnya dipresentasikan
Sharing
Guru meminta
Perwakilan
perwakilan
kelompok
kelompok untuk
mempresentasikan
mempresentasikan
hasil pengamatan
15 menit
jawaban atas pertanyaan LKS dan kesimpulan hasil pengamatan
Evaluating
Guru
Siswa menyimak
memngevaluasi
5 menit
dan mencatat
hasil presentasi tiap kelompok dan memberi materi tambahan jika diperlukan Penutup
Guru
Beberapa siswa
membimbing
membuat
siswa membuat
kesimpulan
kesimpulan berdasarkan
126
10 menit
Tahapan Tahap
Inkuiri
Kegiatan Guru
Siswa
Waktu
Terstruktur jawaban atas rumusan masalah di awal praktikum
D. Sumber/Bahan/Alat Pembelajaran Buku Biologi yang Relevan, LKS
E. Penilaian 9. Penilaian kinerja 10. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda
Mengetahui,
Dilaksanakan, 21-09-2011
Guru Bidang Studi
Dwi Indriyati, S.Si
Dwi Sugianti
127
Lampiran 9 LKS 1 STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN Tujuan Mengamati struktur jaringan epidermis Mengamati perbedaan struktur jaringan epidermis dengan jaringan parenkim Alat dan bahan 1. Alat
a.
Mikroskop
b.
Silet / skapel stainless
c.
Kaca preparat
d.
Penutup preparat (cover glass)
e.
Beaker glass
f.
Pipet tetes
g.
Tissue
2. Bahan
a.
Bawang merah (Allium cepa)
b.
Daun Rhoe discolor
c.
Tangkai daun papaya
d.
Daun durian
Cara Kerja
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga mikroskop siap untuk mengamati. 2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya. 3. Bagilah
tugas
pembuatan
preparat
pada
semua
anggota
kelompok. Berilah kode pada setiap kaca benda. 4. Buatlah: a. Pembuatan preparat bawang merah (Allium cepa)
1)
Bawang merah dikupas dan diambil selaput bagian dalam umbi lapis
2) Kemudian ambil bagian transparan berupa selaput sel tipis dengan menggunakan pinset, lalu diletakan di atas kaca
128
objek yang telah ditetesi air, kemudian tutup dengan kaca penutup usahakan jangan sampai terdapat gelembung udara. 3) Amati
dengan
mengunakan
mikroskop
cahaya
dengan
perbesaran lemah hingga kuat. b. Pembuatan preparat Rhoe discolor
1) Daun rhoe discolor bagian bawah diris tipis secara membujur 2) Irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup 3) Diamati sel epidermis c. Pembuatan preparat tangkai daun papaya
1)
Tangkai daun papaya diris tipis secara melintang
2) Irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup 3) Diamati jaringan parenkim Evaluasi Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok
1. Bagaimanakah struktur dan bentuk sel daun Rhoe discolor ? Jawab:
2. Adakah perbedaan struktur antara sel daun Rhoe discolor dengan sel Allium cepa? Jawab:
3. Pada preparat manakah terlihat susunan sel-selnya yang sangat rapat? Jawab:
4. Apakah preparat tangkai daun pepaya terlihat memiliki sel-sel berbentuk segi enam? Jawab:
129
5. Pada preparat tangkai daun papayamu, adakah sel yang berbentuk selain segi enam? Jawab:
6. Adakah perbedaan antara struktur sel pada preparat tangkai daun pepaya dengan rhoe discolor? Coba terangkan! Jawab:
7. Apakah pada sel-sel tangkai daun pepaya terlihat adanya klorofil? Jawab:
8. Jaringan manakah yang terlihat memiliki ruang-ruang antar sel? Jawab:
9. Dari ketiga preparat yang telah kalian buat, pada preparat manakah terlihat adanya stomata? Jawab:
10. Pada perbesaran berapakah preparat tangkai daun papaya dapat terlihat jelas? Jawab:
11. Berikanlah kesimpulan tentang hal-hal yang telah kalian ketahui pada praktikum kali ini? Jawab:
Nama Kelompok
:
130
LKS 2 STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN Tujuan Mengamati macam-macam struktur jaringan parenkim Alat dan bahan 1. Alat
a. Mikroskop b. Silet / skapel stainless c. Kaca preparat d. Penutup preparat (cover glass) e. Beaker glass f. Pipet tetes g. Tissu 2. Bahan a. Batang Eceng gondok b. Lidah buaya c. Empulur Singkong (Manihot esculenta) Cara Kerja
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga mikroskop siap untuk mengamati. 2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya. 3. Bagilah
tugas
pembuatan
preparat
pada
semua
anggota
kelompok. Berilah kode pada setiap kaca benda. 4. Buatlah: 1. Pembuatan preparat batang eceng gondok a. Batang eceng gondok diris tipis secara melintang b. Irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati sel parenkimnya dari perbesaran lemah hingga kuat 2. Pembuatan preparat empulur batang singkong
a. Iris secara melintang empulur batang Manihot esculenta setipis mungkin b. Beri air dan tutup dengan cover glass c. Diamati sel parenkim dari perbesaran lemah hingga kuat 3. Pembuatan preparat Lidah buaya 131
a. Lidah buaya diris tipis secara melintang b. Irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati sel parenkim dari perbesaran lemah hingga kuat Evaluasi Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok.
1. Pada preparat manakah terdapat jaringan yang tersusun atas sel-sel yang berongga besar? Jawab: 2. Apakah terdapat klorofil pada jaringan eceng gondok yang kalian amati? Jawab: 3. Berdasarkan
pengamatanmu,
apa
saja
perbedaan
antara
jaringan eceng gondok dengan empulur Manihot utilisima (singkong)? Jawab: 4. Pada preparat manakah terdapat bagian bening serupa air? Jawab: 5. Berdasarkan pengamatan struktur jaringan ketiga preparat yang telah dibuat, dapatkah kalian membedakan masing-masing fungsi jaringan parenkim dari ketiga tumbuhan tersebut? Jawab: 6. Pada perbesaran berapakah sel-sel preparat eceng gondok dapat terlihat? Jawab:
132
7. Berikanlah kesimpulan tentang hal-hal yang telah kalian ketahui pada praktikum kali ini? Jawab:
Nama Kelompok
:
Anggota
:
133
LKS 3 STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN
Tujuan Mengamati struktur jaringan penyokong (kolenkim) Membuktikan pengangkutan air dan zat terlarut (mineral) melalui xilem Alat dan bahan 1. Alat
a.
Mikroskop
b.
Silet / skapel stainless
c.
Kaca preparat
d.
Penutup preparat
e.
Beaker glass
f.
Pipet tetes
g.
Tissu
2. Bahan
a.
Batang tanaman cabai
b.
Tumbuhan pacar air (Impatiens balsamina)
c.
Eosin
Cara Kerja Bagian 1
1. Buatlah larutan eosin di dalam beaker glass 300ml/500 ml 2. Ambillah tumbuhan pacar air dan potong akarnya, kemudian masukkan batangnya ke dalam beaker glass yang berisi larutan eosin dan biarkan selama 15 menit 3. Setelah itu ambillah batang tumbuhan pacar air tersebut dan buat irisan melintang tipis untuk diamati di bawah mikroskop Cara Kerja Bagian 2 1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga mikroskop siap untuk mengamati. 2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnya.
134
3. Bagilah
tugas
pembuatan
preparat
pada
semua
anggota
kelompok. Berilah kode pada setiap kaca benda. 4. Buatlah
1. Preparat batang cabai a. Batang cabai diris tipis secara melintang b. irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati sel kolenkim beserta penebalan sudut-sudutnya 2. Preparat batang pacar air a. Batang pacar air diiris tipis secara melintang b. irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati susunan berkas pengangkutnya Evaluasi Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok.
1. Apakah pada batang yang telah direndam eosin hanya xylem saja yang terlihat berwarna merah? Jelaskan bentuk sel-sel xylem tersebut! Jawab: 2. Apakah susunan berkas pengangkut pada pacar air terlihat beraturan namun tidak merata hingga empulur? Jawab: 3. Menurutmu, proses pengangkutan eosin tersebut intravaskular atau ekstravaskular? berikan alasanmu! Jawab:
termasuk
4. Apakah pada preparat batang cabai terlihat adanya penebalan di sudutsudut selnya? Jawab: 5. Pada perbesaran berapakah sel-sel batang cabai dapat terlihat jelas? Jawab:
135
6. Berikanlah kesimpulan tentang hal-hal yang telah kalian ketahui pada praktikum kali ini? Jawab:
Nama kelompok :
136
LKS 4 STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN Tujuan Membedakan struktur jaringan penyusun batang tanaman monokotil dan dikotil Alat dan Bahan Alat : Mikroskop Bahan :
Batang Monokotil (awetan) Batang Dikotil (awetan) Cara kerja :
Penampang lintang batang preparat awetan. Perhatikan letak berkas-berkas pengangkut terdiri atas phloem dan xylem. Pertanyaan
1. Manakah gambar berikut yang mirip dengan preparat yang telah kalian amati ? A.
B
Jawab: 2. Apakah pada preparat yang kalian amati terdapat susunan berkas pengangkut yang tidak beraturan? Jawab:
137
3. Berikanlah kesimpulan tentang hal-hal yang telah kalian ketahui pada praktikum kali ini? Jawab:
Nama Kelompok
:
138
Lampiran 10 LKS 1 STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN Tujuan Mengamati struktur jaringan epidermis Mengamati perbedaan struktur jaringan epidermis dengan jaringan parenkim Alat dan bahan 1. Alat h. Mikroskop i. Silet / skapel stainless j. Kaca preparat k. Penutup preparat l. Beaker glass m. Pipet tetes n. Tissu 2. Bahan e. Bawang merah (Allium cepa) f. Daun Rhoe discolor g. Tangkai daun pepaya yang masih muda Cara Kerja 5. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga mikroskop siap untuk mengamati. 6. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya. 7. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada setiap kaca benda. 8. Buatlah: a. Pembuatan preparat bawang merah (Allium cepa) 4) Bawang merah dikupas dan diambil selaput bagian dalam umbi lapis 5) Kemudian ambil bagian transparan berupa selaput sel tipis dengan menggunakan pinset, lalu diletakan di atas kaca objek yang telah ditetesi air, kemudian tutup dengan kaca penutup usahakan jangan sampai terdapat gelembung udara. 6) Amati dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran lemah hingga kuat. b. Pembuatan preparat Rhoe discolor 4) Daun rhoe discolor diris tipis secara melintang 5) Irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup
139
6)
Diamati sel epidermis
c. Pembuatan preparat tangkai daun papaya 4) Tangkai daun papaya diris tipis 5) Irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup 6) Diamati jaringan parenkim Evaluasi Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok. 12. Sebutkan ciri-ciri yang dimiliki oleh jaringan epidermis? Jawab: 13. Jelaskan perbedaan antara struktur jaringan epidermis dan parenkim? Jawab: 14. Jelaskan fungsi jaringan epidermis? Jawab: 15. Berikanlah kesimpulan tentang hal-hal yang telah kalian ketahui pada praktikum kali ini? Jawab:
Nama kelompok
:
Anggota
:
140
LKS 2 STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN Tujuan Mengamati macam-macam jaringan parenkim Mengamati struktur jaringan parenkim aerenkim, parenkim penimbun Alat dan bahan 1. Alat h. Mikroskop i. Silet / skapel stainless j. Kaca preparat k. Penutup preparat (cover glass) l. Beaker glass m. Pipet tetes n. Tissu 2. Bahan a. Batang Eceng gondok b. Lidah buaya c. Empulur Singkong Cara Kerja 5. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga mikroskop siap untuk mengamati. 6. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya. 7. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada setiap kaca benda. 8. Buatlah: 1. Pembuatan preparat batang eceng gondok a. Batang eceng gondok diris tipis secara melintang b. Irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati sel parenkimnya 2. Pembuatan preparat empulur singkong d. Sayat batang Manihot esculenta (singkong) secara melintang setipis mungkin e. Beri air dan tutup dengan cover glass f. Diamati sel parenkimnya 3. Pembuatan preparat Lidah buaya a. Lidah buaya diris tipis secara melintang b. Irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati sel parenkim
141
Evaluasi Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok. 8. Bagaimanakah struktur sel pada preparat eceng gondok? Jawab: 9. Jelaskan fungsi jaringan parenkim pada empulur singkong? Jawab: 10. Sebutkan jenis-jenis jaringan parenkim yang kalian ketahui? Jawab:
11. Berikanlah kesimpulan tentang hal-hal yang telah kalian ketahui pada praktikum kali ini? Jawab:
Nama kelompok : Anggota
:
142
LKS 3 STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN Tujuan Mengamati struktur jaringan kolenkim dan sklerenkim Membuktikan pengangkutan air dan zat terlarut (mineral) melalui xilem Alat dan bahan 1. Alat h. Mikroskop i. Silet / skapel stainless j. Kaca preparat k. Penutup preparat l. Beaker glass m. Tissu 2. Bahan d. Batang tanaman cabai e. Tumbuhan pacar air (Impatiens balsamina) f. Eosin Cara Kerja Bagian 1 4. Buatlah larutan eosin di dalam beaker glass 300 ml/500 ml 5. Ambillah tumbuhan pacar air dan potong akarnya, kemudian masukkan batangnya ke dalam beaker glass yang berisi larutan eosin dan biarkan selama 15 menit 6. Setelah itu ambillah batang tumbuhan pacar air tersebut dan buat irisan tipis untuk diamati di bawah mikroskop Cara Kerja Bagian 2 5. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga mikroskop siap untuk mengamati. 6. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya. 7. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada setiap kaca benda. 8. Buatlah 1. Pembuatan preparat batang tanaman cabai a. Batang diris tipis b. irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati sel kolenkim beserta penebalan sudut-sudutnya 2. Preparat batang pacar air a. Batang pacar air diiris tipis secara melintang b. irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati susunan berkas pengangkutnya 143
3. Preparat batang seledri a. Batang seledri diiris tipis secara melintang b. irisan diletakkan pada gelas preparat diberi air dan diberi penutup c. Diamati sel kolenkim beserta penebalan sudut-sudutnya
Evaluasi Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok. 7. Mengapa pada batang pacar air yang direndam eosin sel-sel xylem terlihat berwarna merah? Jawab: 8. Jelaskan fungsi xylem dan floem pada tumbuhan? Jawab: 9. Jelaskan ciri yang dimiliki oleh jaringan kolenkim? Jawab: 10. Jelaskan berlangsungnya proses intravaskuler pada tumbuhan? Jawab: 11. Berikanlah kesimpulan tentang hal-hal yang telah kalian ketahui pada praktikum kali ini? Jawab:
Nama kelompok
:
Anggota
:
144
LKS 4 STRUKTUR JARINGAN TUMBUHAN Tujuan Membedakan struktur jaringan penyusun batang tanaman monokotil dan dikotil Alat dan Bahan Alat : Mikroskop Bahan : Batang Monokotil (awetan) Batang Dikotil (awetan) Cara kerja : Penampang lintang batang preparat awetan. Perhatikan hypodermis yang berupa sel-sel sklerenkim, berkas-berkas pengangkut terdiri atas phloem dan xylem. Pertanyaan 4. Sebutkan macam-macam berkas pengangkut berdasarkan letaknya? Coba jelaskan! Jawab:
5. Jelaskan perbedaan-perbedaan antara batang tanaman dikotil dan monokotil? Jawab:
6. Berikanlah kesimpulan tentang hal-hal yang telah kalian ketahui pada praktikum kali ini? Jawab:
Nama kelompok : Anggota
:
145
Lampiran 11 Hasil Observasi Aktivitas Guru Selama Proses Pembelajaran
No 1.
Tahapan Awal
Uraian Kegiatan a. Guru mengajukan apersepsi b. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
2.
Inti
Fase Planning a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran Fase Retrieving a. Guru mengajukan pertanyaan produktif b. Guru memberi kesempatan siswa untuk berhipotesis/ berpendapat/bertanya Fase Processing a. Guru mengawasi jalannya praktikum b. Guru memberi bimbingan jika diperlukan Fase Creating a. Guru meminta siswa mendiskusikan hasil pengamatan dengan teman sekelompok dan mencatatnya b. Guru meminta siswa menjawab pertanyaanpertanyan LKS Fase Sharing a. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok b. Guru meminta siswa menyimak presentasi dan menghargai pendapat dari siswa yang lain
146
Keterangan Ya Tidak √ √
√ √ √
√ √
√
√
√ √
No
Tahapan
Uraian Kegiatan c. Guru memberi kesempatan siswa dari kelompok lain untuk bertanya/berpendapat Fase Evaluating a. Guru mengevaluasi presentasi kelompok
3.
Penutup
Keterangan Ya Tidak √
√
b. Guru memberikan materi tambahan jika diperlukan
√
c. Guru mengajukan pertanyaan untuk mengetahui penguasaan siswa atas hal-hal yang telah dipraktikumkan
√
Guru membimbing siswa membuat kesimpulan
√
Jumlah
100%
147
Lampiran 12 DESKRIPSI PERTANYAAN GURU SUBKONSEP JARINGAN EPIDERMIS No
1 2 3
4
5
6
7
8 9
10
11
12
Pertanyaan Guru
Jenis dan Sifat Pertanyaan Guru
Pertanyaan Lisan Ada yang masih ingat, organ-organ apa sajakah yang dimiliki tumbuhan? Siapa yang tidak berhasil mendapatkan Rhoe discolor? Apakah pada kedua organ tumbuhan ini terdapat jaringan epidermis ? (Guru sambil menunjuk bawang merah dan daun Rhoe discolor) Apakah kedua organ tanaman ini memiliki struktur jaringan epidermis yang sama? (Guru sambil menunjuk bawang merah dan daun Rhoe discolor) Ada yang tahu bagaimana membuat preparat segar dari tangkai daun pepaya ? Pertanyaan diskusi dalam LKS Berdasarkan pengamatan mikroskopmu, bagaimanakah struktur dan bentuk sel daun Rhoe discolor? Adakah perbedaan struktur antara sel daun Rhoe discolor dengan sel Allium cepa? Pada preparat manakah terlihat susunan sel-selnya yang sangat rapat? Apakah preparat tangkai daun pepaya terlihat memiliki sel-sel berbentuk segi enam? Pada preparat tangkai daun pepayamu, adakah sel yang berbentuk selain segi enam? Adakah perbedaan antara struktur dan bentuk sel pada preparat tangkai daun pepaya dengan rhoe discolor? Apakah pada sel-sel tangkai daun 148
Non produktif Non produktif Memusatkan perhatian (Produktif)
Melakukan tindakan (Produktif)
Non produktif
Melakukan tindakan (Produktif) Membandingkan (Produktif)
Melakukan tindakan (Produktif) Melakukan tindakan (Produktif) Melakukan tindakan (Produktif) Membandingkan (Produktif)
Melakukan tindakan
No
13 14
15
16
Pertanyaan Guru
Jenis dan Sifat Pertanyaan Guru (Produktif) Melakukan tindakan (Produktif) Melakukan tindakan (Produktif)
pepaya terlihat adanya klorofil? Jaringan manakah yang terlihat memiliki ruang-ruang antar sel? Dari ketiga preparat yang telah kalian buat, pada preparat manakah terlihat adanya stomata? Mengukur (Produktif) Pada perbesaran berapakah preparat tangkai daun pepaya dapat terlihat jelas? Berikan kesimpulan tentang hal-hal Non Produktif yang telah kalian ketahui pada praktikum ini? Sumber : Pengolahan data hasil rekaman audio selama pembelajaran
149
DESKRIPSI PERTANYAAN GURU SUBKONSEP STRUKTUR JARINGAN DASAR No
Pertanyaan Guru
Jenis dan Sifat Pertanyaan Produktif
Pertanyaan Lisan 1 ada yang masih ingat sel-sel pada tangkai daun Non produktif pepaya bagaimana bentuknya? 2 jika kedua tanaman ini ibu masukkan ke dalam Memusatkan perhatian air, manakah tanaman yang akan mengapung? (Produktif) (Guru sambil menunjuk tanaman lidah buaya dan eceng gondok) 3 Mengapa eceng gondok dapat mengapung? Non produktif 4 Menurut kalian apakah struktur parenkim kedua Membandingkan tanaman ini sama? (Guru sambil menunjuk (Produktif) tanaman lidah buaya dan eceng gondok) 5 Jaringan manakah yang memiliki rongga-rongga Melakukan tindakan sel paling besar? (Guru sambil menunjuk (Produktif) tanaman lidah buaya, empulur singkong dan eceng gondok) Pertanyaan diskusi dalam LKS 6 Apakah terdapat klorofil pada jaringan eceng Melakukan tindakan (Produktif) gondok yang kalian amati? 7 Berdasarkan pengamatanmu, apa saja perbedaan Membandingkan antara jaringan eceng gondok dengan empulur (Produktif) Manihot utilisima (singkong)? 8 Pada preparat manakah terdapat bagian bening Melakukan tindakan (Produktif) serupa air? 9 Berdasarkan pengamatan struktur jaringan ketiga Membandingkan preparat yang telah dibuat, dapatkah kalian (Produktif) membedakan masing-masing fungsi jaringan parenkim dari ketiga tumbuhan tersebut? 10 Pada perbesaran berapakah sel-sel preparat eceng Mengukur (Produktif) gondok dapat terlihat? 11 Berikan kesimpulan tentang hal-hal yang telah Non Produktif kalian ketahui pada praktikum ini? Sumber : Pengolahan data hasil rekaman audio selama pembelajaran
150
DESKRIPSI PERTANYAAN GURU SUBKONSEP JARINGAN PENYOKONG DAN PENGANGKUT No
Pertanyaan Guru
Jenis dan Sifat Pertanyaan Produktif
Pertanyaan Lisan Ada yang masih ingat macam-macam Non produktif jaringan parenkim apa saja? 2 ada yang tahu fungsi eosin apa? Non produktif 3 jika ibu rendam batang pacar air selama 15 Melakukan tindakan menit kedalam larutan eosin apakah yang (Produktif) akan terjadi pada batang tersebut? 4 Apakah terdapat perbedaan struktur jaringan Membandingkan antara batang yang direndam eosin dengan (Produktif) yang tidak? 5 Pada tumbuhan ada dua macam jaringan Non produktif pengangkut apa sajakah itu? 6 kalau xylem untuk menyalurkan air dan Non produktif mineral dari bawah ke atas kalau floem berguna untuk apa? 7 apakah pada batang yang telah direndam Melakukan tindakan hanya xylem saja yang terwarnai oleh eosin? (Produktif) 8 apakah pada sel-sel batang cabai terdapat Melakukan tindakan adanya penebalan-penebalan sudut ? (Produktif) Pertanyaan diskusi dalam LKS 9 Apakah susunan berkas pengangkut pada Melakukan tindakan pacar air terlihat beraturan namun tidak (Produktif) merata hingga empulur? 10 Menurutmu, proses pengangkutan eosin Memecahkan masalah (Produktif) tersebut termasuk intravaskular atau ekstravaskular? 11 Pada perbesaran berapakah sel-sel batang Mengukur (Produktif) cabai dapat terlihat jelas? 12 Berikan kesimpulan tentang hal-hal yang Non Produktif telah kalian ketahui pada praktikum ini? Sumber : Pengolahan data hasil rekaman audio selama pembelajaran 1
151
DESKRIPSI PERTANYAAN GURU SUBKONSEP JARINGAN PADA ORGAN TUMBUHAN No
Pertanyaan Guru
Jenis dan Sifat Pertanyaan Produktif
Pertanyaan Lisan ada yang masih ingat, apa sajakah ciri-ciri Non produktif tanaman dikotil? 2 manakah dari kedua tanaman ini yang Memusatkan perhatian merupakan tanaman dikotil? (Produktif) 3 Apakah kedua tanaman ini memiliki batang Membandingkan dengan struktur jaringan yang berbeda? (Produktif) 4 pada preparat manakah terdapat berkas Melakukan tindakan pengangkut yang bertipe kolateral terbuka? (Produktif) 5 Apakah fungsi floem pada tumbuhan? Non produktif Pertanyaan diskusi dalam LKS 6 Manakah gambar berikut yang mirip dengan Memecahkan masalah (Produktif) preparat yang telah kalian amati ? 7 Apakah pada preparat yang kalian amati Melakukan tindakan terdapat susunan berkas pengangkut yang (Produktif) tidak beraturan? 8 Berikan kesimpulan tentang hal-hal yang telah Non Produktif kalian ketahui pada praktikum ini? Sumber : Pengolahan data hasil rekaman audio selama pembelajaran 1
152
Lampiran 13 Data Nilai Kelas Eksperimen
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
Subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
Pretes 28 28 25 25 31 25 17 28 25 17 25 36 25 39 25 31 14 3 39 14 22 19 17 33 33 6 31 28 31 31
153
Postes 72 58 81 81 81 72 94 64 94 94 83 56 72 72 83 83 94 81 64 64 81 56 58 56 94 83 83 81 81 81
N-Gain 0.61 0.42 0.75 0.75 0.81 0.63 0.93 0.50 0.92 0.93 0.77 0.31 0.63 0.54 0.77 0.75 0.93 0.80 0.41 0.58 0.76 0.46 0.49 0.34 0.91 0.82 0.75 0.74 0.72 0.72
Lampiran 14 Data Nilai Kelas Kontrol No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34
Subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34
Pretes 17 28 14 14 14 14 14 19 17 28 17 36 37 33 6 25 25 28 25 6 33 31 6 25 3 31 28 3 19 28 25 25 25 25
154
Postes 42 53 61 61 75 53 61 67 67 42 61 83 67 67 67 67 83 75 47 39 75 61 61 53 83 47 61 75 47 44 67 39 75 39
N-Gain 0.30 0.35 0.55 0.55 0.71 0.45 0.55 0.59 0.60 0.19 0.53 0.73 0.48 0.51 0.65 0.56 0.77 0.65 0.29 0.35 0.63 0.43 0.59 0.41 0.82 0.23 0.46 0.74 0.35 0.22 0.56 0.19 0.67 0.19
155
156
157
158
Lampiran 19 Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen
1. Pretes a. Banyak data3 25 31 6 25
31 14 25 31
14 25 31 17
b. Nilai terbesar Nilai terkecil
25 31 17 25
33 17 28 33
19 28 36 22
28 39 25 28
39
Nilai tengah (Xi) 5,5 11,5 17,5 23,5 29,5 35,5 41,5
Xi2
fixi
fixi2
30,25 132,25 306,25 552,25 870,25 1260,25 1722,25
11 23 70 188 265,5 106,5 83
60,5 264,5 1221 4418 7832,25 3780,25 3444,25
= 39 =3
Rentang kelas = 39-3 = 36 c. Banyak kelas (K) K = 1 + 3,3 log n K = 1 + 3,3 log 30 K = 1 + 4,88 K = 5,88 ≈ 6 𝑅
d. Panjang kelas = 𝐾 Panjang kelas =
36 6
e. Tabel Distribusi Frekuensi No 1 2 3 4 5 6 7
Interval 3-8 9-14 15-20 21-26 27-32 33-38 39-44 Jumlah
F 2 2 4 8 9 3 2 30
159
Mean 𝑥
𝑓𝑖𝑥𝑖
= =
𝑓𝑖 747 30
= 24,9 = 25 Median
1 2
= L2 + C
𝑛−𝐹 𝑓 1 2
= 20,5 + 6
30−8 8
= 20,5 + 6 0,875 = 20,5 + 5,25 = 25,75 = 26 Modus
= L+C
𝑑1 𝑑1+𝑑2
= 26,5 + 6
1 1+6
= 26,5 + 0,86 = 27,4 = 27
2. Postes a. Banyak data 56 72 83 56
72 83 56 81
83 58 81 83
58 81 83 64
b. Nilai terbesar
= 94
Nilai terkecil
= 56
Rentang kelas
= 94-56 = 38
81 94 64 81
c. Banyak kelas (K) K = 1+ 3,3 log n = 1+ 3,3 log 30 = 1 + 4,88 = 5,88 ≈ 6 160
94 64 81 94
72 81 94 72
81 94
𝑅
d. Panjang kelas = 𝐾 Panjang kelas =
38 6
= 6,46 ≈ 7
e. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai tengah
Xi2
fixi
fixi2
59
3481
295
17405
3
66
4356
198
13068
70-76
4
73
5329
292
21316
4
77-83
13
80
6400
1040
83200
5
84-90
0
87
7569
0
0
6
91-97
5
94
8836
282
44180
No
Interval
F
1
56-62
5
2
63-69
3
Jumlah
Mean 𝑥
= =
(Xi)
30
𝑓𝑖𝑥𝑖 𝑓𝑖 2295 30
= 76,5 = 77 Median
1 2
= L2 + C
𝑛−𝐹 𝑓 1 2
= 76,5 +7
30−12 13
= 76,5 + 7 0,231 = 76,5 + 1,6154 = 78, 1154 = 78 Modus
= L+C
𝑑1 𝑑1+𝑑2
= 76,5 + 7
9 9+13
= 76,5 + 2,86 = 79,36 = 79
161
Lampiran 20 Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol 1. Pretes a. Banyak data 3 17 25 33 3
17 25 33 6 17
b. Nilai terbesar
25 36 6 19 28
36 14 25 28 14
25 28 14 25 28
14 25 31 14 25
31
= 36
Nilai terkecil
=3
Rentang kelas
= 36-3 = 33
c. Banyak kelas (K) K = 1 + 3,3 log n K = 1 + 3,3 log 34 K = 1 + 5,054 K = 6,054≈ 6 𝑅
d. Panjang kelas = 𝐾 Panjang kelas =
33 5
= 5,5 ≈ 6
e. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai tengah
Xi2
fixi
fixi2
5,5
30,25
27,5
151,25
5
11,5
132,25
57,5
661,25
15-20
5
17,5
306,25
87,5
1531,25
4
21-26
8
23,5
552,25
188
4418
5
27-32
7
29,5
870,25
206,5
6091,75
6
33-38
4
35,5
1260,25
142
5041
No
Interval
F
1
3-8
5
2
9-14
3
Jumlah
(Xi)
34
162
Mean 𝑥
𝑓𝑖𝑥𝑖
= =
𝑓𝑖 709 34
= 20,85 = 21 Median
1 2
= L2 + C
𝑛−𝐹 𝑓 1 2
= 20,5 + 6
34−15 8
= 20,5 + 6 0,25 = 20,5 + 1,5 = 22 Modus
= L+C
𝑑1 𝑑1+𝑑2
= 20,5 + 6
3 3+1
= 20,5 + 4,5 = 25
2. Postes a. Banyak data 39 53 67 75 39
53 67 83 39 61
67 83 42 61 67
b. Nilai terbesar
= 83
Nilai terkecil
= 39
83 42 61 67 44
Rentang kelas = 83-39 = 44 c. Banyak kelas (K) K = 1 + 3,3 log n K = 1 + 3,3 log 34 K = 1 + 5,054 K = 6,054≈ 6
163
61 67 47 61 75
47 61 75 53 67
75
𝑅
d. Panjang kelas = 𝐾 Panjang kelas =
44 6
= 7,3 ≈ 7
e. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai tengah
Xi2
fixi
fixi2
42,5
1806,25
255
10837,5
3
50,5
2550,25
313
7650,75
55-62
3
58,5
3422,25
419,5
10266,75
4
63-70
7
66,5
4422,25
532
30955,75
5
71-78
8
74,5
5550,25
298
44402
6
79-86
4
82,5
6806,25
247,5
27,225
No
Interval
F
1
39-46
6
2
47-54
3
Jumlah
Mean 𝑥
= =
(Xi)
34
𝑓𝑖𝑥𝑖 𝑓𝑖 2065 34
= 60,74 = 61 Median
1 2
= L2 + C
𝑛−𝐹 𝑓 1 2
= 62,5 + 7
34−12 7
= 62,5 + 7 0,71 = 62,5 + 4,97 = 67,47 = 68 Modus
= L+C
𝑑1 𝑑1+𝑑2
= 70,5 + 7
1 1+4
= 70,5 + 7 (0,2) = 71,9 = 72
164
Lampiran 21 UJI NORMALITAS KELAS EKSPERIMEN 1. Pretes │Fz-
Zi Z tabel
F(Z)
Sz
Sz│
-2.3934
0.4916
0.0084
0.0333
0.0249
2
-2.0656
0.4808
0.0192
0.0666
0.0474
2
4
-1.1913
0.3830
0.1170
0.1333
0.0163
17
3
7
-0.8634
0.3051
0.1949
0.2333
0.0384
19
1
8
-0.6448
0.2422
0.2578
0.2666
0.0088
22
1
9
-0.3169
1.1255
0.3745
0.3000
0.0745
25
7
16
0.0109
0.0040
0.5040
0.5333
0.0293
28
4
20
0.3388
0.1331
0.6331
0.6666
0.0335
31
5
25
0.6667
0.2486
0.7486
0.8333
0.0847
33
2
27
0.8853
0.3106
0.8106
0.9000
0.0894
36
1
28
1.2131
0.3869
0.8869
0.9333
0.0464
39
2
30
1.5410
0.4382
0.9382
1.0000
0.0618
Xi
fi
Zn
3
1
1
6
1
14
L hitung = 0.0894 L tabel = 0.886/ 30 L tabel = 0.1618 L tabel > L hitung, maka data berdistribusi normal
2. Postes │Fz-
Zi Z tabel
F(Z)
Sz
Sz│
-1.8402
0.4671
0.0329
0.1000
0.0671
5
-1.6607
0.4515
0.0485
0.1667
0.1182
3
8
-1.1221
0.3686
0.1314
0.2667
0.1353
4
12
-0.4039
0.1554
0.3444
0.4000
0.0554
Xi
fi
Zn
56
3
3
58
2
64 72
165
81
8
20
0.4039
0.1554
0.6554
0.6667
0.0113
83
5
25
0.5835
0.2190
0.7190
0.8333
0.1143
94
5
30
1.5709
0.4418
0.9418
1.0000
0.0582
L hitung = 0.1353 L tabel = 0.886/ 30 L tabel = 0.1618 L tabel > L hitung, maka data berdistribusi normal
166
Lampiran 22 UJI NORMALITAS KELAS KONTROL 1. Pretes │Fz-
Zn Zi
Z tabel
F(Z)
Sz
Sz│
2
-1.8402
0.4671
0.0329
0.0588
0.0259
3
5
-1.5309
0.4370
0.0630
0.1471
0.0841
14
5
10
-0.7062
0.2612
0.2388
0.2941
0.0553
17
3
13
-0.3969
0.1517
0.3483
0.3824
0.0341
19
2
15
-0.1907
0.0754
0.4246
0.4412
0.0166
25
8
23
-0.4278
0.1664
0.6664
0.6765
0.0101
28
5
28
-0.7371
0.2704
0.7704
0.8235
0.0531
31
2
30
1.0464
0.3531
0.8531
0.8824
0.0293
33
2
32
1.2526
0.3944
0.8944
0.9412
0.0468
36
2
34
1.5619
0.4406
0.9406
1.0000
0.0594
Xi
fi
3
2
6
L hitung = 0.0841 L tabel = 0.0886/ 34 L tabel = 0.1519 L tabel > L hitung, maka data berdistribusi normal
2. Postes │Fz-
Zn Zi
Z tabel
F(Z)
Sz
Sz│
3
-1.7594
0.4608
0.0392
0.0882
0.0490
2
5
-1.5374
0.4382
0.0618
0.1471
0.0853
44
1
6
-1.3893
0.4177
0.0823
0.1765
0.0942
47
3
9
-1.1673
0.3790
0.1210
0.2647
0.1437
53
3
12
-0.7232
0.2642
0.2358
0.3529
0.1171
Xi
fi
39
3
42
167
61
7
19
-0.1310
0.0517
0.4483
0.5588
0.1105
67
7
26
0.3131
0.1217
0.6217
0.7647
0.1430
75
5
31
0.9053
0.3184
0.8186
0.9118
0.0932
83
3
34
1.4974
0.4319
0.9319
1.0000
0.0681
L hitung = 0.1437 L tabel = 0.886/ 34 L tabel = 0.1519 L tabel > L hitung, maka data berdistribusi normal
168
Lampiran 23 Persiapan Uji Normalitas N-Gain Kelas Eksperimen No
Xi
fi
Xi2
fiXi
fiXi2
1
0.31
1
0.1
0.31
0.1
2
0.34
1
0.12
0.34
0.12
3
0.41
1
0.17
0.41
0.17
4
0.42
1
0.17
0.42
0.17
5
0.46
1
0.21
0.46
0.21
6
0.49
1
0.24
0.49
0.24
7
0.5
1
0.25
0.5
0.25
8
0.54
1
0.29
0.54
0.29
9
0.58
1
0.34
0.58
0.34
10
0.61
1
0.37
0.61
0.37
11
0.63
1
0.39
0.63
0.39
12
0.71
1
0.51
0.71
0.51
13
0.72
2
0.53
1.45
1.05
14
0.74
1
0.55
0.74
0.55
15
0.75
2
0.56
1.49
1.12
16
0.75
2
0.57
1.51
1.14
17
0.76
1
0.57
0.76
0.57
18
0.77
2
0.6
1.55
1.2
19
0.8
1
0.65
0.8
0.65
20
0.81
1
0.66
0.81
0.66
21
0.82
1
0.67
0.82
0.67
22
0.91
1
0.83
0.91
0.83
23
0.92
1
0.85
0.92
0.85
24
0.93
2
0.86
1.86
1.72
25
0.93
1
0.87
0.93
0.87
Rata-rata
0.66
SD
0.19
Varians
0.04
169
Lampiran 24
Uji Normalitas N-Gain Kelas Eksperimen
Xi
fi
Zn
Zi
Ztabel
F(z)
Sz
│Fz-Sz│
0.31 0.34 0.41 0.42 0.46 0.49 0.50 0.54 0.58 0.61 0.63 0.71 0.72 0.74 0.75 0.75 0.76 0.77 0.80 0.81 0.82 0.91 0.92 0.93 0.93
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 2 1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 15 17 19 20 22 23 24 25 26 27 29 30
-2.06 -1.89 -1.52 -1.48 -1.26 -1.06 -1.02 -0.80 -0.57 -0.41 -0.32 0.16 0.22 0.28 0.34 0.38 0.40 0.49 0.66 0.70 0.74 1.25 1.30 1.34 1.36
0.48 0.47 0.44 0.43 0.40 0.36 0.35 0.29 0.22 0.16 0.13 0.06 0.09 0.11 0.13 0.15 0.15 0.19 0.25 0.26 0.27 0.39 0.40 0.41 0.41
0.02 0.03 0.06 0.07 0.10 0.14 0.15 0.21 0.28 0.34 0.37 0.56 0.59 0.61 0.63 0.65 0.65 0.69 0.75 0.76 0.77 0.89 0.90 0.91 0.91
0.03 0.07 0.10 0.13 0.17 0.20 0.23 0.27 0.30 0.33 0.37 0.40 0.47 0.50 0.57 0.63 0.67 0.73 0.77 0.80 0.83 0.87 0.90 0.97 1.00
0.05 0.00 0.04 0.06 0.06 0.06 0.08 0.05 0.02 0.01 0.01 0.04 0.12 0.11 0.07 0.01 0.02 0.05 0.02 0.04 0.06 0.03 0.00 0.06 0.09
L hitung = 0.12 L tabel = 0.886/ 30 L tabel = 0.16 L tabel > L hitung, maka data berdistribusi normal
170
Lampiran 25
Persiapan Uji Normalitas N-Gain Kelas Kontrol No
Xi
fi
Xi2
fiXi
fiXi2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
0.19 0.19 0.22 0.23 0.29 0.3 0.35 0.35 0.35 0.41 0.43 0.45 0.46 0.48 0.51 0.53 0.55 0.56 0.59 0.59 0.6 0.63 0.65 0.65 0.67 0.71 0.73 0.74 0.77 0.82
2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
0.03 0.04 0.05 0.05 0.09 0.09 0.12 0.12 0.12 0.17 0.19 0.21 0.21 0.23 0.26 0.28 0.3 0.31 0.34 0.35 0.36 0.39 0.42 0.43 0.44 0.5 0.54 0.55 0.6 0.68
0.37 0.19 0.22 0.23 0.29 0.3 0.35 0.35 0.35 0.41 0.43 0.45 0.45 0.48 0.51 0.53 1.64 1.12 0.59 0.59 0.6 0.63 0.65 0.65 0.67 0.71 0.73 0.74 0.77 0.82
0.07 0.04 0.05 0.05 0.09 0.09 0.12 0.12 0.12 0.17 0.19 0.21 0.21 0.23 0.26 0.28 0.9 0.63 0.34 0.35 0.36 0.39 0.42 0.43 0.44 0.5 0.54 0.55 0.6 0.68
Rata-rata SD Varians
0.50 0.18 0.03
171
Lampiran 26
Uji Normalitas N-Gain Kelas Kontrol
Xi
fi
Zn
Zi
Ztabel
F(z)
Sz
│Fz-Sz│
0.19 0.19 0.22 0.23 0.29 0.30 0.35 0.35 0.35 0.41 0.43 0.45 0.46 0.48 0.51 0.53 0.55 0.56 0.59 0.59 0.60 0.63 0.65 0.65 0.67 0.71 0.73 0.74 0.77 0.82
2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 21 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34
-1.99 -1.95 -1.77 -1.70 -1.31 -1.26 -0.97 -0.96 -0.93 -0.53 -0.39 -0.27 -0.24 -0.07 0.07 0.22 0.33 0.41 0.58 0.62 0.69 0.85 0.98 1.01 1.10 1.38 1.54 1.59 1.79 2.12
0.48 0.47 0.46 0.46 0.40 0.40 0.33 0.33 0.32 0.20 0.15 0.11 0.09 0.03 0.03 0.09 0.13 0.16 0.22 0.23 0.25 0.30 0.34 0.34 0.36 0.41 0.44 0.44 0.46 0.48
0.02 0.03 0.04 0.04 0.10 0.10 0.17 0.17 0.18 0.30 0.35 0.39 0.41 0.47 0.53 0.59 0.63 0.66 0.72 0.73 0.75 0.80 0.84 0.84 0.86 0.91 0.94 0.94 0.96 0.98
0.06 0.09 0.12 0.15 0.18 0.21 0.27 0.26 0.29 0.32 0.35 0.38 0.41 0.50 0.53 0.57 0.60 0.62 0.68 0.03 0.74 0.87 0.79 0.93 0.97 0.88 0.91 0.94 0.97 1.00
0.04 0.06 0.08 0.10 0.08 0.10 0.10 0.10 0.12 0.03 0.00 0.01 0.01 0.03 0.01 0.02 0.03 0.04 0.04 0.07 0.02 0.06 0.04 0.08 0.01 0.03 0.03 0.00 0.01 0.02
L hitung = 0.12 L tabel = 0.886/ 34 L tabel = 0.15 L tabel > L hitung, maka data berdistribusi normal
172
Lampiran 27
Persiapan Uji Homogenitas Pretes
Perhitungan homogenitas yang dilakukan adalah uji homogenitas dua varians atau uji fisher. Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui sama atau tidaknya variansi-variansi dua buah distribusi. Rumus uji homogenitas yang digunakan adalah uji fisher, dengan rumus: 𝑆12
Fhitung = 𝑆22 =
𝑆 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 2 𝑆 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 2
Dimana, 𝑆𝑖 2 =
𝑁𝑥
𝑓𝑖 𝑥𝑖 2 − (𝑓𝑖𝑥𝑖 )2 𝑛(𝑛−1)
atau 𝑆𝑖 2 = 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖
2
Untuk menguji homogenitas populasi, maka penulis menempuh beberapa langkah berikut: a. Merumuskan hipotesis H0 = Data memiliki varians yang homogen Ha = Data tidak memiliki varians yang homogen b. Kriteria pengujian 1) Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima, yang berarti varians kedua populasi homogen 2) Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak, yang berarti varians kedua populasi tidak homogen c. Jumlah sampel N1 = 30 Jumlah sampel N2 = 34 d. Derajat kebebasan Penyebut (varians terkecil): dk2 = N-1 = 30-1 = 29 Pembilang (varians terbesar): dk1 = N-1 = 34-1 = 33 e. Menentukan nilai Ftabel
173
Untuk dk penyebut 29 dan dk pembilang 33 (0.05:29:33) tidak terdapat pada F tabel, maka digunakan dk penyebut dan dk pembilang yang terdekat, yaitu dk penyebut 29 dan 40 (0.05:29:40). Adapun F tabel dengan dk penyebut 29 dan dk pembilang 40 pada taraf signifikansi 5% adalah 1.80 f. Menentukan Fhitung Fhitung
𝑆12
= 𝑆22 89.87
= 75.17 = 1.20 Karena Fhitung < Ftabel ; 1.2 < 1.8, maka H0 diterima yang berarti bahwa kedua
sampel memiliki variansi populasi yang homogen.
174
Lampiran 28
Persiapan Uji Homogenitas Postes
Perhitungan homogenitas yang dilakukan adalah uji homogenitas dua varians atau uji fisher. Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui sama atau tidaknya variansi-variansi dua buah distribusi. Rumus uji homogenitas yang digunakan adalah uji fisher, dengan rumus: 𝑆12
Fhitung = 𝑆22 =
𝑆 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 2 𝑆 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 2
Dimana, 𝑆𝑖 2 =
𝑓𝑖 𝑥𝑖 2 − (𝑓𝑖𝑥𝑖 )2
𝑁𝑥
𝑛(𝑛−1)
atau 𝑆𝑖 2 = 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖
2
Untuk menguji homogenitas populasi, maka penulis menempuh beberapa langkah berikut: a. Merumuskan hipotesis H0 = Data memiliki varians yang homogen Ha = Data tidak memiliki varians yang homogen b. Kriteria pengujian 1) Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima, yang berarti varians kedua populasi homogen 2) Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak, yang berarti varians kedua populasi tidak homogen c. Jumlah sampel N1 = 30 Jumlah sampel N2 = 34 d. Derajat kebebasan Penyebut (varians terkecil): dk2 = N-1 = 30-1 = 29 Pembilang (varians terbesar): dk1 = N-1 = 34-1 = 33 e. Menentukan nilai Ftabel
175
Untuk dk penyebut 29 dan dk pembilang 33 (0.05:29:33) tidak terdapat pada F tabel, maka digunakan dk penyebut dan dk pembilang yang terdekat, yaitu dk penyebut 29 dan 40 (0.05:29:40). Adapun F tabel dengan dk penyebut 29 dan dk pembilang 40 pada taraf signifikansi 5% adalah 1.80 f. Menentukan Fhitung 𝑆12
Fhitung = 𝑆22 179.56
= 151.78 = 1.18 Karena Fhitung < Ftabel ; 1.18 < 1.80, maka H0 diterima yang berarti bahwa kedua sampel memiliki variansi populasi yang homogen.
176
Lampiran 29
Uji Hipotesis Data Pretes
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pada hasil pretes siswa dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji hipotesis yang digunakan adalah Uji-t karena berdasarkan hasil perhitungan secara statistic data pretes terdistribusi normal dan homogen. 𝑀1−𝑀2
to = 𝑆𝐸
𝑀 1−𝑀 2
Langkah-langkah perhitungan Uji-t adalah sebagai berikut: 6. Mencari Mean yaitu M =
𝑓𝑖𝑥𝑖 𝑓𝑖 𝑓𝑖 𝑥𝑖 2 − ( 𝑓𝑖𝑥𝑖 )2
𝑁𝑥
7. Mencari Standar Deviasi (SD) =
𝑛(𝑛−1)
8. Mencari Standat Error Mean (SEM). yaitu SEM =
𝑆𝐷 𝑁−1
9. Mencari Standar Error dari perbedaan mean (SEM1-M2) antar variabel, yaitu: SEM1-M2 =
𝑆𝐸𝑀1
2
+ 𝑆𝐸𝑀2
2 𝑀1−𝑀2
10. Mencari “t” atau “to”, yaitu to = 𝑆𝐸
𝑀 1−𝑀 2
Tabel Perhitungan Uji-t Pretes Kelompok Eksperimen No
Xi
F
Xi2
fixi
fixi2
1
3
1
9
3
9
2
6
1
36
6
36
3
14
2
196
28
392
4
17
3
289
51
867
5
19
1
361
19
361
6
22
1
484
22
484
7
25
7
625
175
4375
8
28
4
784
112
3136
177
No
Xi
F
Xi2
fixi
fixi2
9
31
5
961
155
4805
10
33
2
1089
66
2178
11
36
1
1296
36
1296
12
39
2
1521
78
3042
Jumlah
273
30
7651
751
20981
Tabel Perhitungan Uji-t Pretes Kelompok Kontrol No
Xi
F
Xi2
fixi
fixi2
1
3
2
9
6
18
2
6
3
36
18
108
3
14
5
196
70
980
4
17
3
289
51
867
5
19
2
361
38
722
6
25
8
625
200
5000
7
28
5
784
140
3920
8
31
2
961
62
1922
9
33
2
1089
66
2178
10
36
2
1296
72
2592
Jumlah
212
34
5646
723
18307
MI
25
M2
21.29
SD1
8.67
SD2
9.48
SEM1
1.58
SEM2
1.62
Standar error
2.28
to
1.64
df = N-2 = 64-2 = 62 (dikonsultasikan tabel nilai “t”), ternyata dalam tabel tidak dapat df sebesar 62, maka dapat dipergunakan df yang terdekat yaitu df
178
sebesar 60. Dengan df 60 diperoleh harga kritik “t” pada tabel atau T tabel yaitu 2.00 pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian t0 lebih kecil dari ttabel, yaitu 1.64 < 2.00. Karena itu H0 diterima. Hal ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok eksperimen dan kontrol sebelum diberikan perlakuan.
179
Lampiran 30
Uji Hipotesis Data Postes
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pada hasil postes siswa dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji hipotesis yang digunakan adalah Uji-t karena berdasarkan hasil perhitungan secara statistik data postes terdistribusi normal dan homogen. 𝑀1−𝑀2
to = 𝑆𝐸
𝑀 1−𝑀 2
Langkah-langkah perhitungan Uji-t adalah sebagai berikut: 1. Mencari Mean yaitu M =
𝑓𝑖𝑥𝑖 𝑓𝑖 𝑓𝑖 𝑥𝑖 2 − ( 𝑓𝑖𝑥𝑖 )2
𝑁𝑥
2. Mencari Standar Deviasi (SD) =
𝑛(𝑛−1)
3. Mencari Standat Error Mean (SEM). yaitu SEM =
𝑆𝐷 𝑁−1
4. Mencari Standar Error dari perbedaan mean (SEM1-M2) antar variabel, yaitu: SEM1-M2 =
𝑆𝐸𝑀1
2
+ 𝑆𝐸𝑀2
2 𝑀1−𝑀2
5. Mencari “t” atau “to”, yaitu to = 𝑆𝐸
𝑀 1−𝑀 2
Tabel Perhitungan Uji-t Pretes Kelompok Eksperimen No
Xi
F
Xi2
fixi
fixi2
1
56
3
3136
168
9408
2
58
2
3364
116
6728
3
64
3
4096
192
12288
4
72
4
5184
288
20736
5
81
8
6561
641
52488
6
83
5
6889
415
34445
7
94
5
8836
470
44180
Jumlah
508
30
38066
2290
180273
180
Tabel Perhitungan Uji-t Postes Kelompok Kontrol No
Xi
F
Xi2
fixi
fixi2
1
39
3
1521
117
4563
2
42
2
1764
84
3528
3
44
1
1936
44
1936
4
47
3
2209
141
6627
5
53
3
2809
159
8427
6
61
7
3721
427
26047
7
67
7
4489
469
31423
8
75
5
5625
375
28125
9
83
3
6889
249
20667
Jumlah
511
34
30963
2065
131343
MI
76.57
M2
60.74
SD1
12.32
SD2
13.39
SEM1
2.25
SEM2
2.29
Standar error
3.23
to
4.90
df = N-2 = 64-2 = 62 (dikonsultasikan tabel nilai “t”), ternyata dalam tabel tidak dapat df sebesar 62, dapat dipergunakan df yang terdekat yaitu df sebesar 60. Dengan df 60 diperoleh harga kritik “t” pada tabel atau T tabel yaitu 2.00 pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian t0 lebih besar dari ttabel, yaitu 4.90 > 2.00. Karena itu Ha diterima. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok eksperimen dan kontrol setelah diberikan perlakuan.
181
Foto-foto Kegiatan Pembelajaran dalam Tahapan Inkuiri Terstruktur
1. Tahap Planning
2. Tahap Retrieving
3. Tahap Processing
182
4.
Tahap Creating
5. Tahap Sharing
6. Tahap Evaluating
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192