BAB V PENUTUP
5.1.
Kesimpulan Strategi adalah suatu cara untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi bisnis
meliputi perluasan geografis, diversifikasi, akuisisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, divestasi, rasionalisasi karyawan, dan likuidasi. Sedangkan manajemen strategis adalah seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai objektifnya (David, Fred R, 2004). Adanya perdagangan bebas sebagai sebuah ideologi baru telah menjadi hegemoni tersendiri bagi suatu negara dan pelaku usaha. Dengan berbasis kepercayaan pada kesempatan dan keuntungan yang terlahir dari perdagangan bebas inilah maka seluruh dunia berlomba-lomba membuka akses perekonomiannya. Pada tahun 1990-an saat Indonesia sedang mengalami kemajuan ekonomi di sektor produksi manufaktur maka kebutuhan akan ban berjalan (conveyor belt) turut mengalami perkembangan yang pesat sehingga menjadi salah satu pasar yang seksi dimata para investor asing. Didasari peristiwa itulah maka banyak produsen ban berjalan (conveyor belt) di luar negeri yang menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan negara tujuan investasi (host country) sebagai perwujudan strategi masuk yang mereka ambil. Ban berjalan (conveyor belt) menjadi industri yang berkembang pesat di Indonesia pada era tahun 1990. Penggunaan barang teknik mulai marak seiring dengan pertumbuhan manufaktur sebagai pusat hulunya. Ban berjalan (conveyor belt) digunakan untuk mengangkut barang dengan suatu sistem tertentu secara efisien. Merupakan produk jamak dengan tingkat kebutuhan rendah untuk kalangan konsumen sipil. Penggunaan produk ini
89
hanya diperlukan bagi konsumen industri dengan tingkat kesadaran (awareness) yang juga rendah. Oleh karena itu, perantara yang sesuai dengan spesifikasi produk tersebut adalah dengan menyertakan perantara tunggal (sole agent) untuk suatu wilayah tertentu. Persaingan yang terjadi pada industri ban berjalan (conveyor belting) memang sangat marak terjadi. PT. Upaya Mandiri Sejahtera (PT. UMS) selaku perusahaan yang bergerak dibidang jual-beli sistem ban berjalan (trading conveyor belt system) terpilih menjadi perwakilan dagang ekslusif dari Esbelt untuk memasarkan produk-produk mereka di Indonesia. Kesimpulan diatas dapat dilihat melalui beberapa pembahasan singkat sebagai hasil analisis eksternal yang dilakukan. Adapun analisis lingkungan eksternalnya sebagai berikut:
5.1.1. Kesimpulan Daya Saing Nasional (Competitive Advantage of Nations) Daya saing nasional (competitive advantage of nations) menekankan pada inovasi perusahaan-perusahaan di suatu negara tersebut dengan peningkatkan kualitas produk dan jasa agar mampu bersaing di tingkat domestik maupun internasional untuk memiliki dampak positif bagi negara guna bersaing dengan negara lain. Definisi daya saing nasional (competitive advantage of nations) adalah produktivitas yang didefinisikan sebagi output yang dihasilkan oleh tenaga kerja. Secara umum negara Spanyol memiliki perekonomian yang cukup baik. Banyak perusahaan-perusahaan dari negara tersebut telah sukses melakukan penetrasi pasar ke seluruh dunia. Dengan menyumbangkan angka sepertiga dari PDB negaranya, Spanyol telah membuktikan bahwa negaranya mampu bersaing dengan negara-negara penghasil ekspor lainnya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, industri ban berjalan (conveyor belt) dari negara Spanyol mampu berkompetisi dengan negara lain bila dilihat dari pencapaian
90
keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Bersaing ketat dengan negara-negara penghasil ban berjalan (conveyor belt) lain seperti Jerman, Belanda, Italia, dan Inggris, yang telah membuat produk-produk manufaktur industri berat terlebih dulu. Di sisi lain produk-produk dari negara Spanyol kurang diminati pasar karena adanya perspektif negatif tentang penguasaan teknologi ilmu teknik. Kendati bukan penghasil terbesar ban berjalan (conveyor belt), namun Esbelt seakan belajar dari kompetitor negara-negara lain dalam menentukan saluran distribusinya dan dengan menyalurakan produk-produk yang berkualitas bila dibandingkan produk dari negara lain. Sebagai satu-satunya perusahaan ban berjalan (conveyor belt) dari Spanyol, Esbelt telah mengusai 75% kebutuhan domestik. Dengan langkah tepat, Esbelt telah mempertimbangkan spesifikasi produk yang dibuat, bahwa hanya diperlukan jumlah perantara sedikit demi keuntungan jangka panjang yang berkelanjutan. Terbukti dengan penerapan strategi ini, Esbelt mampu menguasai sebagian besar pangsa pasar di seluruh dunia dengan kapabilitas kerja sama ekslusif di lebih 85 negara. prestasi ini adalah pencapaian terbesar dan terbanyak dari kompetitor lainnya yang berasal dari negara lain. Dalam hal ini, Esbelt selaku satu-satunya produsen conveyor belt dari negara itu telah menyumbang beberapa keuntungan bagi negaranya untuk menciptakan daya saing nasional dengan strategi dan struktur yang dibentuk untuk bersaing dengan kompetitor dari negara lain.
5.1.2. Kesimpulan Lima Kekuatan Bersaing (Five Forces) Keputusan Esbelt S.A untuk memasuki teritori Indonesia sebagai bentuk investasi dikarenakan adanya potensi permintaan yang besar. Dimana Indonesia memiliki wilayah yang luas dan penduduk terbesar keempat di dunia. Hal ini tentunya akan meningkatkan penguasaan pasar dan pertumbuhan perusahaan. Dengan menjalin kerja sama dengan 91
distributor lokal, maka Esbelt S.A menda[atkan keuntungan dengan membantu mengurangi biaya promosi dan resiko bisnis, mendapatkan akses kepada pasar baru dan sumber daya baru, serta memaksimalkan kompetensi dan sumber daya produksi. Kesuksesan PT. UMS menjadi market leader dibandingkan dengan pesaing lain di industri ban berjalan (conveyor belt) dikarenakan adanya dukungan kuat dari pihak prinsipal Esbelt S.A yang menerapkan aliansi strategis bersifat ekslusif dalam melindungi daerah pemasarannya masing-masing sehingga tidak terjadi perang harga dan kanibalisme. Fokus pada ceruk pasar (niche market) industri otomotif, keramik, dan makanan telah membawa PT. UMS berada di tempat yang jajaran teratas di kalangan industrinya. Adanya komitmen dalam menyediakan barang dan jasa yang berkualitas serta garansi penuh berhasil mendapatkan kepercayaan dari para pelanggan setianya. Kemudian kemampuan dalam merumuskan, mengimplementasi, dan mengevaluasi sistem kerja sangat bermanfaat bagi keunggulan perusahaan yang berkelanjutan. Bila sebelumnya industri ban berjalan (conveyor belt) mengalami perkembangan pesat di awal tahun 1990-an, pada saat ini perkembangannya dalam kondisi jenuh seiring dengan pertumbuhan industri manufaktur yang turut stagnan. Semenjak krisis ekonomi tahun 2008, banyak perusahaan manufaktur di Indonesia gulung tikar akibat jumlah permintaan dan daya beli masyarakat yang menurun. Keadaan ini semakin memakmurkan perdagangan bebas dengan tersebarnya produk dengan harga murah. Ancaman produk pengganti dari modular belt akan memaksa PT. UMS untuk menerapkan strategi baru. Selain itu, maraknya pungutan liar seakan membuat para investor jera dan hengkang untuk berinvestasi di Indonesia.
5.2.
Saran Seluruh organisasi di dunia sudah selayaknya menginginkan sebuah kesuksesan
financial dan non-financial. Guna mencapai kesuksesan tersebut maka sebuah organisasi
92
ataupun perusahaan akan berusaha semaksimal mungkin dalam meraih tujuannya. Perusahaan akan berusaha mencapai titik optimal untuk menghasilkan barang atau jasa. Dengan tercapainya kemampuan maksimal maka perusahaan memungkinkan untuk memiliki keunggulan bersaing secara berkelanjutan yang tertuang dalam faktor-faktor kunci keberhasilan. Dari analisis di atas penulis menyarankan untuk Esbelt agar semakin kompatibel dalam menterjemahkan segala kebutuhan distributor dan pelanggannya dengan terus berinovasi dalam menciptakan produk yang berkualitas dan harga terjangkau dengan bermain di ceruk pasar (niche market) yang potensial. Pembukaan pabrik di negara berkembang patut dipertimbangkan untuk menjangkau pasar Asia yang berpusat pada harga. Sehingga segala biaya produksi dapat ditekan dan pertumbuhan penjualan tetap terjaga. Pengembangan produk pengganti juga patut diperhitungkan untuk bisa dimasukkan kedalam agenda produksi Esbelt kedepan, agar pelanggan yang sudah ada tidak beralih ke pemasok lain. PT. UMS diharapkan mampu menjaga hubungan baiknya dengan Esbelt sebagai keunggulan jangka panjang yang berkelanjutan. Pertumbuhan tingkat penjualan perlu ditingkatkan dengan menggandeng beberapa rekan subdistributor lain di daerah yang belum terjamah. Hal ini juga berguna untuk membuka pangsa pasar baru yang cukup potensial. Sehingga penjualan tetap berada di posisi positif walaupun ekonomi global sedang kontraksi. Kesigapan manajemen PT. UMS juga diperlukan dalam mengantisipasi ancaman produk pengganti dengan cara membuka kerja sama baru dengan perusahaan modular belt lainnya.
93