BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Akad Wadi’ah Dalam Lembaga Keuangan Syariah 1. Pengertian Akad Wadi’ah Secara linguistik, wadi’ah bisa diartikan dengan meninggalkan atau titipan. Secara istilah, wadi’ah adalah sesuatu yang dititipkan oleh satu pihak (pemilik) kepada pihak lain dengan tujuan untuk dijaga. Menurut Hanafiyyah, wadi’ah adalah memberikan kekuasaan kepada orang lain atas suatu barang yang dimiliki dengan tujuan untuk dijaga, baik secara verbal atau dengan isyarat (dilalah). Misalnya, “Aku titipkan barang ini kepada engkau”, kemudian pihak lain menerimanya dengan jelas. Atau seseorang datang dengan membawa baju, kemudian baju itu diletakkan diatas tangan orang lain, dan ia berkata, “Aku titipkan baju ini kepada engkau”. Si penerima hanya diam dan menerima baju tersebut. Menurut Syafiiyah dan Malikiyyah, wadi’ah adalah pemberian mandat untuk menjaga sebuah barang yang dimiliki atau barang yang secara khusus dimiliki seseorang dengan cara-cara tertentu. Untuk itu diperbolehkan menitipkan kulit bangkai yang telah disucikan, atau juga seekor anjing yang telah dilatih untuk berburu atau berjaga-jaga. Tidak boleh menitipkan baju yang sedang terbang ditiup angin, karena ini termasuk dalam kategori harta yang sia-sia (tidak ada kekhususan untuk
29
30
dimiliki), yang bertentangan dengan prinsip wadi’ah.1 Ketika kontrak wadi’ah telah disepakati kedua pihak, pemilik aset memiliki hak penjagaan aset yang dititipkan, sedangkan penerima titipan berkewajiban untuk menjaganya. Jikalau ada dua orang menitipkan asetnya kepada seseorang, kemudian datang salah satu dari mereka dan meminta aset mereka kembali, maka aset itu tidak boleh dikembalikan, sehingga pihak kedua datang menemui mereka. Setelah diketahui beberapa pengertian yang dijelaskan diatas, dapat disimpulkan bahwa wadi’ah adalah sebagai titipan dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja penyimpan menghendakinya. Dalam konteks perbankan syariah, definisi akad wadi’ah adalah barang titipan dikenal dalam bahasa fiqh dengan al-wadi’ah, menurut bahasa alwadi’ah ialah sesuatu yang ditempatkan bukan pada pemiliknya supaya dijaganya, berarti bahwa al-wadi’ah ialah memberikan. Makna yang kedua al-wadi’ah dari segi bahasa ialah menerima, seperti seseorang berkata, “awda’tuhu” artinya aku menerima harta tersebut darinya. Secara bahasa al-wadi’ah memiliki dua makna, yaitu memberikan harta untuk dijaganya dan pada penerimaannya.2
1
Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 173 2 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002),hlm. 179
31
2. Dasar Hukum Wadi’ah Secara umum, dasar hukum wadi’ah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan simpanan. Hal ini tampak dalam ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits, ijma’, hukum menerima benda titipan, rusaknya dan hilangnya benda titipan sebagai berikut : a) Al-Qur’an 1. Q.S. Al-Baqarah: 283. Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan
persaksian.
Dan
Barang
siapa
yang
menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
32
2. Q.S. An-Nisaa : 58
Artinya; “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”. b) Hadits Titipan dianjurkan atau disunnahkan bagi mereka yang menyakini dirinya dapat memegang amanat dengan baik serta mampu menjaganya. Hal ini karena titipan merupakan amanah dan orang yang jujur serta dapat dipercaya tidak wajib mengganti kerusakan jika bukan karena keteledorannya. 1. Dari Amr bin Syuaib, Hadist riwayat Ibnu Majah :
مه ٲودع وديعة فميس عميه ضمان ٲخرجه ابه ماجه Artinya :“Barang siapa yang dititipi, maka tidak kewajiban baginya mengganti.”3
3
200
Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani, Bulugul Marom: Indonesia, Daru Ihyaul Kitab, t.th.h.
33
2. Hadis riwayat Abu Dawud dan Al Tirmidzi :
أد االماوة إلى مه ائتمىك والتخه مه خاوك Artinya :“Tunaikan amanat itu kepada orang yang memberi amanat kepada mu dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu”4 c) Ijma’ Para tokoh ulama Islam sepanjang zaman telah melakukan ijma (konsensus) terhadap legitimasi wadi’ah karena kebutuhan manusia terhadap hal ini jelas terlihat. Pada dasarnya, penerima simpanan adalah yad al-amanah (tangan amanah), artianya ia tidak bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada aset titipan selama hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan (karena faktor-faktor di luar batas kemampuan).5 Akan tetapi, dalam aktifitas perekonomian modern, penerimaan simpanan tidak akan mengidle-kan (menganggurkan) aset
tersebut,
tetapi
mempergunakannya
dalam
aktivitas
perekonomian tertentu. Karena ia harus meminta izin dari pemberi titipan untuk kemudian menggunakan hartanya tersebut dengan catatan ia menjamin akan mengembalikan aset tersebut secara utuh. Dengan demikian, ia bukan lagi yad al-amanah, tetapi yad al4
Syeh Taqiyudin Abu Bakar Bin Muhammad Al Husaini, Kifayatul Ahyar, Surabaya: Darul Ilmi, Juz 2, t,th. h. 10. 5 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), hlm. 86
34
dhamanah (tangan penanggung) yang bertanggung jawab atas segala kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada barang tersebut. d) Hukum menerima benda titipan6 Hukum menerima benda tititpan ada empat macam yaitu sunat, haram, wajib dan makruh. Secara lengkap akan dijelaskan sebagai berikut : 1. Sunat, disunatkan menerima titipan bagi orang yang percaya kepada dirinya bahwa dia sanggup menjaga benda benda yang dititipkan kepadanya. Wadiah adalah salah satu bentuk tolong menolong yang diperintahkan oleh Allah dalam Alquran, tolong menolong secra umum hukumnya sunat. Hal ini dianggap sunnat menerima benda titipan ketika ada orang lain yang pantas untuk menerima titipan. 2. Wajib, diwajibkan menerima benda benda titipan bagi seseorang yang percaya bahwa dirinya sanggup menerima dan menjaga benda benda tersebut, sementara orang lain tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya untuk memelihara benda benda tersebut. 3. Haram, apabila seseorang tidak kuasa dan tidak sanggup memelihara benda benda titipan. Bagi orang seperti itu diharamkan menerima benda benda titipan, sebab dengan 6
Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer Hukum Perjanjian, Ekonomi, Bisnis, dan Sosial. (Bogor: Ghalia Indonesia,2012), hlm. 206
35
menerima benda benda titipan, berarti member kesempatan (peluang) kerusakan atau hilangnya benda benda titipan sehingga akan menyulitkan pihak yang menitipkan. 4. Makruh, bagi orang yang percaya kepada dirinya sendiri bahwa dia mampu menjaga benda benda titipan, tetapi dia kurang yakin (ragu) pada kemampuannya maka bagi orang seperti ini makruh hukumnya menerima benda benda titipan, sebab dikhawatirkan dia akan berkhianat terhadap yang menitipkan dengan
cara
merusak
benda
benda
titipan
atau
menghilangkannya. e) Rusaknya dan hilangnya benda titipan7 Rusak dan hilangnya benda benda titipan dapat disebabkan oleh hal hal berikut : 1. Menurut
Suhendi
Kontemporer
dalam
karangan
buku
Fikih
Prof.Dr.H.Ismail
Muamalah Nawawi
dan beliau
mengungkapakan pendapat Sulaiman Rasyid bahwa jika orang yang menerima titipan mengaku bahwa benda benda titipan telah rusak tanpa adanya unsure kesengajaan dirinya maka ucapan harus disertai dengan sumpah supaya perkataannya itu kuat menurut hukum, namun Ibnu al-Munzir berpendapat bahwa orang tersebut sudah dapat diterima ucapannya secara hukum tanpa dibutuhkannya sumpah. 7
Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer Hukum Perjanjian, Ekonomi, Bisnis, dan Sosial… hlm. 207
36
2. Menurut Ibnu Taimiyah, apabila seseorang yang memelihara benda benda titipan mengaku bahwa benda benda titipan ada yang mencuri, sementara hartanya yang ia kelola tidak ada yang mencuri maka orang yang menerima benda benda titipan tersebut wajib menggantinya. Pendapat Ibnu Taimiyah ini berdasarkan pada atsar bahwa Umar r.a pernah meminta jaminan dari Anas bin Malik r.a ketika barang titipannya yang ada pada Anas r.a dinyatakan hilang, sedangkan harta Anas r.a sendiri masih ada. 3. Orang yang meninggal dunia dan terbukti padanya terdapat benda benda titipan milik orang lain, ternyata barang barang titipan tersebut tidak dapat ditemukan maka barang titipan tersebut merupkan utang bagi yang menerima titipan dan wajib dibayar oleh ahli warisnya. Jika terdapat surat dengan tulisannya sendiri, yang berisi adanya pengakuan benda benda titipan maka surat tersebut dijadikan pegangan karena tulisan dianggap sama dengan perkataan apabila tulisan tersebut ditulis oleh dirinya sendiri. 4. Bila seseorang menerima benda benda titipan, sudah sangat lama waktunya, sehingga ia tidak dapat lagi mengetahui dimana atau siapa pemilik benda benda titipan tersebut dan sudah berusaha mencarinya dengan cara yang wajar, namun tidak dapat diperoleh keterangan yang jelas, maka benda benda
37
titipan tersebut dapat digunakan untuk kepentingan agama Islam dengan mendahulukan hal hal paling penting diantara masalah masalah yang penting. 3. Rukun dan Syarat Wadi’ah. a. Rukun Wadi’ah Menurut Hanifiyah, rukun wdi’ah terdiri atas ijab qabul. Yakni pemilik aset berkata, “Aku titipkan barangku ini kepada engkau, atau jagalah barang ini, atau ambilah barang ini dan jagalah”. Kemudian, pihak lain menerimanya. Orang yang melakukan kontrak, disyaratkan orang yang berakal. Akad wadi’ah tidak boleh dilakukan oleh anak kecil yang belum berakal, atau orang gila. Begitu juga, mereka tidak boleh menerima akad wadi’ah. Menurut mayoritas ulama, rukun akad wadi’ah terdiri atas ‘akidan (penitip dan penerima), wadi’ah (barang yang dititipkan), dan sighat (ijab qabul). Ijab qabul bisa dilakukan secara verbal dengan kata-kata, atau dengan isyarat. Syarat yang harus ada dalam akad wadi’ah adalah syarat-syarat yang melekat dalam akad wakalah, yakni baligh, berakal dan rusyd (cerdas). Untuk wadi’ah (barang titipan), disyaratkan harus bisa dipegang atau tetap dalam genggaman tangan seseorang. Tidak bisa berupa burung yang sedang terbang atau mutiara yang jatuh di dasar lautan.8
8
Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah... hlm. 174
38
Menurut Syafi’iyah seperti yang dikutip oleh Hedi Suhendi alwadi’ah memiliki tiga rukun, yaitu:9 1) Barang yang dititipkan, syarat barang yang dititipkan adalah barang atau benda itu merupakan suatu yang dapat dimiliki menurut syara’. 2) Bagi orang yang menitipkan dan yang menerima titipan, disyaratkan bagi penitip dan penerima titipan sudah baligh, berakal, serta syarat-syarat lain yang sesuai dengna syaratsyarat berwakil. 3) Sighat ijab dan qabul al-wadi’ah disyaratkan pada ijab qabul ini dimengerti oleh kedua belah pihak, baik dengan jelas maupun samar. b. Syarat Wadi’ah Syarat orang yang menitipkan dan penerima titipan sudah baligh berakal serta syarat syarat lain yang sesuai dengan syarat berwakil.10 Adapun rukun dan syarat wakalah sebagai berikut : 1) Orang yang mewakilkan (muwakkil) syaratnya dia berstatus sebagai pemilik urusan/ benda dan mengusainya serta dapat bertindak terdapat harta tersebut dengan dirinya sendirinya. Jika itu bukan pemiliknya atau bukan orang yang ahli maka batal. Dalam hal ini, maka anak kecil dan orang gila tidak sah
9
Hendi Suhendi Dr. Azzuhaily, Fiqh Muamalah... hlm. 183 Ismail Nawawi,.Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer…. hlm. 206
10
39
menjadi muwakkil karena tidak termasuk orang yang berhak untuk bertindak. 2) Wakil (orang yang mewakili) syaratnya ialah orang berakal. Jika ia idiot, gila, atau belum dewasa maka batal. Tapi menurut hanafiyah anak kecil yang cerdas (dapat membedakan yang baik dan buruk) sah menjadi wakil alasanya bahwa Amr bin sayidah
ummu
salamah
mengawinkan
ibunya
kepada
Rasulullah SAW, saat itu Amr masih kecil yang belum baligh. Orang yang berstatus sebagai wakil ia tidak berwakil kepada orang lain kecuali seizin dari muwakkil pertama atau karena terpaksa seperti pekerjaan yang diwakilkan terlalu banyak sehingga ia tidak dapat mengerjakan sendiri maka boleh berwakil kepada orang lain. Si wakil tidak wajib menanggung kerusakan barang yang diwakilkan kecuali disengaja atau cara di luar batas. 3) Muwakkal fih ( sesuatu yang diwakilkan ) syaratnya : a. Pekerjaan/ urusan dapat diwakilkan atau digantikan oleh orang lain. Oleh karena itu tidak sah untuk mewakilkan untuk mengerjakan ibadah salat, puasa, dan membaca Alquran. b. Pekerjaan itu di miliki oleh muwakkil sewaktu akad wakalah. Oleh karena itu, tidak sah berwakil menjual sesuatu yang belum dimilikinya.
40
c. Pekerjaan itu diketahui secara jelas. Maka tidak sah mewakilkan sesuatu yang masih samar seperti “aku jadikan engakau sebagai wakilku untuk mengawini salah satu anakku.11 4. Jenis-jenis Wadi’ah Ada dua tipe wadi’ah, yaitu wadi’ah yad amanah dan wadi’ah yad dhamanah. a. Wadi’ah Yad Amanah Wadi’ah yad amanah adalah akad titipan di mana penerima titipan (custodian) adalah penerima kepercayaan (trustee), artinya ia tidak diharuskan mengganti segala resiko kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipan, kecuali bila hal itu terjadi pada asset titipan, karena akibat kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan atau bila status titipan telah berubah menjadi wadi’ah yad dhamanah.12 Wadi’ah jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) Harta atau barang yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan dan digunakan oleh penerima titipan. 2) Penerima titipan hanya berfungsi sebagai penerima amanah yang bertugas dan berkewajiban untuk menjaga barang yang dititipkan tanpa boleh memanfaatkannya.
11
Syeh Nawawi Al Bantani. Nihayatun Zain, (Semarang: Maktab Uluhiyah), hlm. 297 Dimyauddin Djuwaini, Fiqh Muamalah…hlm. 32
12
41
3) Sebagai konpensasi, penerima titipan diperkenankan untuk membebankan biaya kepada yang menitipkan. 4) Oleh penerima titipan atau harta yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan oleh penerima titipan, aplikasi perbankan yang memungkinkan untuk jenis ini adalah jasa penitipan atau safe deposit box.13 Mekanisme seperti di atas dapat digambarkan dalam diagram berikut ini :
Skema al-Wadi’ah Yad al-Amanah
1. Titip Barang NASABAH
BANK
Muwaddi’ (penitip)
2. Bebankan Biaya Penitipan
Mustawda’ (Penyimpan)
Keterangan: Dengan konsep al-wadi’ah yad al-amanah, pihak yang menerima titipan tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Pihak penerima titipan dapat membebankan biaya kepada penitip sebagai biaya penitipan. b. Wadi’ah Yad Dhamanah Wadi’ah yad dhamanah adalah akad titipan dimana penerima titipan (custodian) adalah trustee yang sekaligus penjamin (guarantor) keamanan asset yang dititipkan. Penerima simpanan bertanggung
13
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek.... hlm. 148
42
jawab penuh atas segala kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipan tersebut.14 Wadi’ah jenis ini memiliki karakteristik berikut ini : 1) Harta dan barang yang dititipkan boleh dan dapat dimanfaatkan oleh yang menerima titipan. 2) Karena, dimanfaatkan, barang dan harta yang dititipkan tersebut tentu dapat menghasilkan manfaat. Sekalipun demikian, tidak ada keharusan bagi penerima titipan untuk memberikan hasil pemanfaatan kepada si penitip. 3) Produk perbankan yang sesuai dengan akad ini yaitu giro dan tabungan. 4) Bank konvensional memberikan jasa giro sebagai imbalan yang dihitung berdasarkan persentase yang telah ditetapkan. Adapun pada bank syariah, pemberian bonus tidak boleh disebutkan dalam kontrak ataupun dijanjikan dalam akad, tetapi benar-benar pemberian sepihak sebagai tanda terima kasih dari pihak bank. 5) Jumlah pemberian bonus sepenuhnya merupakan kewenang manajemen bank syariah karena pada prinsipnya dalam akad ini penekanannya adalah titipan. 6) Produk tabungan juga dapat menggunakan akad wadi’ah karena pada prinsipnya tabungan mirip dengan giro, yaitu simpanan yang
14
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, (Jakarta : Azkia Publisher, April 2009), hlm 32
43
bisa diambil setiap saat. Perbedaanya, tabungan tidak dapat ditarik dengan cek atau alat lain yang dipersamakan.
Mekanisme wadi’ah yad adh-dhamanah dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut. Skema al-Wadi’ah Yad Dhamanah 1. Titip Dana NASABAH
BANK
Muwaddi’
Mustawda’
(penitip)
(Penyimpan)
4. Beri Bonus
3. Bagi Hasil
2.Pemanfaatan Dana
USER OF FUND (Nasabah pengguna dana)
Keterangan: Dengan konsep al-wadi’ah yad adh-dhamanah, pihak yang menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Tentu, pihak bank dalam hal ini mendapatkan
hasil
dari
pengguna
dana.
Bank
dapat
memberikan insentif kepada penitip dalam bentuk bonus.15
15
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek…hlm. 150
44
5. Ketentuan umum dari Wadi’ah Ketentuan umum dari Wadi’ah : a) Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana menjadi hak milik atau ditanggung bank, sedangkan pemilik dana tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung beban. b) Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai suatu insentif untuk memarik dana masyarakat namun tidak boleh diperjanjikan dimuka. c) Bank harus membuat akad pembukaan rekening yang isinya mencakup izin penyaluran dana yang disimpan dan persyaratan lain yang disepkati selama tidak bertentagan dengan prinsip syariah, khususnya bagi pemilik rekening giro bank dapat memberikan buku cek, bilyet giro dan debit card. d) Terhadap pembukaan rekening ini bank dapat megenakan pengganti biaya administrasi untuk sekedar menutupi biaya yang terjadi.16
B. Aplikasi wadi’ah dalam Perbankan Bank sebagai penerima titipan, sekaligus juga pihak yang telah memanfaatkan dana tersebut,tidak dilarang untuk memberikan semacam insetif berupa bonus dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya dan jumlahnya tidak ditetapkan dalam 16
Heri Sudarsono, Ekonisia,2004),Cet. 1. hlm. 58.
Bank
dan
nominal atau persentase secara
Lembaga
Keuangan
Syariah,
(Yogyakarta:
45
advance, tetapi betul-betul merupakan kebijaksanaan dari manajemen bank. Dalam dunia perbankan modern yang penuh dengan kompetisi, insentif semacam ini dapat dijadikan sebagai banking policy dalam upaya merangsang semangat masyarakat dalam menabung, sekaligus sebagai indikator kesehatan bank terkait. Hal ini karena semakin besar nilai keuntungan yang diberikan kepada penabung dalam bentuk bonus, semakin efisien pula pemanfaatan dana tersebut dalam investasi yang produktif dan menguntungkan. Dewasa ini, banyak bank islam di luar negeri yang telah berhasil mengombinasikan prinsip wadi’ah dengan prinsip mudharabah. Dalam kombinasi ini, dewan direksi menentukan besarnya bonus dengan menetapkan persentase dari keuntungan yang dihasilkan oleh dana wadi’ah tersebut dalam suatu periode tertentu.17
C. Simpanan 1. Pengertian Simpanan Menurut UU no 10 tahun 1998 perubahan UU no 7 tahun 1992 tentang Perbankan dengan rumusan, simpanan adalah dana yang di percayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian
17
M. Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek,... hlm. 87
46
penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu.18 2. Macam-Macam Simpanan Pada mulanya simpanan merupakan salah satu dari sumber dana bank. Sumber dana tersebut pada prinsipnya dikelompokan menjadi tiga bagian yakni, dana pihak pertama (modal/equity), dana pihak kedua ( pinjaman pihak luar) dan dana pihak ketiga (simpanan) : a. Dana Pihak Pertama Dana Pihak Pertama sangat diperlukan BMT terutama pada saat pendirian, tetapi dana ini dapat terus berkembang, seiring dengan perkembangan BMT. Sumber dana pihak pertama dapat dikelompokan : 1) Simpanan Pokok khusus (modal penyertaan) Simpanan Pokok Khusus yaitu simpanan modal penyertaan, yang dapat dimiliki oleh individu maupun lembaga dengan jumlah setiap penyimpan tidak harus sama dan jumlah dana tidak mempengaruh suara dalam rapat. Untuk memperbanyak jumlah simpanan pokok khusus ini, BMT dapat menghubungi para aghniya maupun lembaga-lembaga Islam. Simpanan hanya dapat ditarik setelah jangka waktu satu tahun.
18
Djoko muljono, Buku (Yogjakarta:Andi, 2012), hlm. 198
Pintar
Strategi
Bisnis
Koperasi
Simpan
Pinjam,
47
2) Simpanan Pokok Simpanan Pokok yang harus dibayar saat menjadi anggota BMT. Besarnya simpanan pokok harus sama. Pembayarannya dapat dicicil supaya dapat menjaring jumlah anggota yang lebih banyak. Sebagai bukti keanggotaan, simpanan pokok tidak boleh ditarik, selama masih menjadi anggota. Jika simpanan ditarik, maka dengan sendirinya keanggotaannya dinyatakan berhenti. 3) Simpanan wajib Simpanan ini menjadi sumber modal yang mengalir terus setiap waktu. Besar kecilnya sangat tergantung pada kebutuhan permodalan dan anggotanya. Besarnya simpanan wajib akan turut diperhitungkan dalam pembagian SHU. b. Dana Pihak ke II Dana ini bersumber dari pinjaman pihak luar. Nilai dana ini memang
sangat
kemampuan
tidak
BMT
terbatas.
Artinya
masing-masing
tergantung
dalam
pada
menanamkan
kepercayaan kepada calon investor. Pihak luar yang dimaksud ialah mereka yang memiliki kesamaan sistem yakni bagi hasil baik bank maupun non bank. Oleh sebab itu, sedapat mungkin BMT hanya mengakses sumber dana yang dikelola secara syariah.
48
c. Dana Pihak Ketiga Dana ini merupakan simpanan sukarela atau tabungan dari para anggota BMT. Jumlah dan sumber dana ini sangat luas dan tidak terbatas. Dilihat dari cara pengembaliannya sumber dana ini dapat dibagi menjadi dua, yakni simpanan lancar (Tabungan), dan simpanan tidak lancar (deposito). 1) Tabungan adalah simpanan anggota kepada BMT yang dapat diambil sewaktu waktu (setiap saat). BMT tidak dapat menolak permohonan pengambilan tabungan ini. 2) Deposito adalah simpanan anggota kepada BMT, yang pengambilannya hanya dapat dilakukan pada saat jatuh tempo. Jangka waktu yang dimaksud meliputi: 1,3,6, dan 12 bulan. Namun sesungguhnya jangka waktu tersebut dapat dibuat sefleksibel mungkin, misalnya 2,4,5 dan seterusnya, sesuai dengan keinginan anggota.19 Selanjutnya jenis simpanan menurut undang-undang No. 12/1967 di berikandefinisi sebagai berikut : a. Simpanan Pokok adalah sejumlah uang yang diwajibkan kepada anggota untuk diserahkan kepada pada waktu seseorang masuk menjadi anggota koperasi tersebut dan besarnya sama untuk semua anggota.
19
Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil, (Yogyakarta: UII Press, 2004). Hlm. 155
49
b. Simpanan Wajib adalah simpanan tertentu yang diwajibkan kepada anggota untuk membayarnya kepada koperasi kepada waktu-waktu tertentu. c. Simpanan Sukarela ini diadakan oleh anggota atas dasar sukarela atau berdasarkan perjanjian perjanjian atau peraturan peraturan khusus. 3. Rukun dan Syarat Simpanan Rukun Simpanan sama dengan rukun Wadiah yaitu : a) Orang yang menyimpankan barang. b) Orang yang menitipkan barang. c) Ijab dan qobul. Syarat Simpanan : a) Simpanan Pokok : Simpanan ini tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota. Simpanan ini ikut menanggung kerugian. b) Simpanan Wajib : Simpanan ditarik pada waktu anggota menerima kredit dari koperasi dan sebagainya. Simpanan wajib ini tidak ikut menanggung kerugian. c) Simpanan Sukarela : Simpanan ini diadakan oleh anggota atas dasar sukarela atau berdasarkan perjanjian perjanjian atau peraturan peraturan khusus.20
20
Hendrojogi, Koperasi GrafindoPersada,2012). Hlm. 193.
Asas-Asas,
Teori,
dan
Praktik,
(Jakarta:
PTRaja
50
4. Landasan Hukum Simpanan : a) Undang-undang No. 25/1992 tentang perkoperasian yang mengatakan bahwa modal koperasi itu terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. b) UU No. 12/1967 Tentang pokok-pokok Perkoperasian Pasal 32 ayat 1 ditentukan bahwa modal koperasi itu terdiri dan dipupuk dari
simpanan-simpanan,
pinjaman-pinjaman,
penyisihaan-
penyisihan dari usahanya termasuk cadangan serta sumbersumber lain. c) Pasal 41 dari UU No 25/1992 tentang modal equity yang terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan, dan hibah. d) Pasal 41 ayat 3 tentang Simpanan Sukarela. e) Peraturan pemerintah tahun 1959 atau PP 10/1959 tentang perkoperasian.21 f)
Peraturan Pemerintah(PP) No 9 Tahun 1995 tentang kegiatan usaha simpan pinjam oleh koperasi.22
g) Undang Undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan.23
21
Hendrojogi,Koperasi Asas-Asas, Teori, dan Praktik,,,, hlm, 192 Arifin Sitio, koperasi Teori dan Praktik, (Jakarta: Erlangga, 2001). hlm. 12 23 Djoko Muljono, Buku Pintar Strategi Bisnis Koperasi Simpan Pinjam,,,,hlm. 198. 22
51
D. Pendanaan Dengan Prinsip Wadi’ah 1. Giro Wadi’ah Yang dimaksud dengan giro wadiah adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya menghendaki. Simpanan giro (current account) di bank syariah tidak selalu menggunakan prinsip wadi’ah yad -dhamanah, tetapi secara konsep dapat juga menggunakan prinsip wadi’ah yad- amanah dan prinsip qardh. Simpanan giro dapat menggunakan prinsip wadi’ah yadamanah karena pada dasarnya giro dapat dianggap sebagai suatu kepercayaan dari nasabah kepada bank untuk menjaga dan mengamankan aset/dananya. Dengan prinsip ini nasabah deposan tidak menerima imbalan atau bonus apapun dari bank karena aset/dana yang dititipkan tidak akan dimanfaatkan untuk tujuan apapun, termasuk untuk kegiatan produktif. Sebaliknya, bank boleh membebankan biaya administrasi penitipan. Selain itu, simpanan giro juga dapat menggunakan prinsip qardh ketika bank dianggap sebagai penerima pinjaman tanpa bunga dari nasabah deposan. Bank dapat memanfaatkan dana pinjaman dari nasabah deposan untuk untuk tujuan apa saja, termasuk untuk kegiatan produktif mencari keuntungan. Sementara itu, nasabah deposan dijamin akan memperoleh kembali dananya secara penuh, sewaktuwaktu nasabah ingin menarik dananya. Bank boleh juga memberikan
52
bonus kepada nasabah deposan, selama hal ini tidak disyaratkan diawal perjanjian. Simpanan giro ini diterapkan di perbankan islam di Iran. Pada prinsipnya, teknik perhitungan bonus wadi’ah dihitung dari saldo terendah dalam satu bulan. Namun demikian, bonus wadi’ah dapat diberikan kepada giran sebagai berikut24: a. Saldo terendah dalam satu bulan takwim di atas Rp 1.000.000,(bagi rekening yang bonus wadi’ahnya dihitung dari saldo terendah). b. Saldo rata-rata harian dalam satu bulan takwim di atas Rp 1.000.000,- (bagi rekening yang bonus gironya dihitung dari saldo rata-rata harian). c. Saldo hariannya di atas Rp 1.000.000,- (bagi rekening yang bonus wadi’ahnya dihitung dari saldo harian). Besarnya saldo giro yang mendapatkan bonus wadi’ah dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok: a. Rp 1 juta s.d. Rp 50 juta b. Di atas Rp 50 juta s.d. 100 juta c. Di atas Rp 100 juta Rumus yang digunakan dalam perhitunga bonus giro wadi’ah adalah sebagai berikut: a. Bonus wadi’ah atas dasar saldo terendah, yakni tarif bonus wadi’ah dikalikan dengan saldo terendah bulan yang bersangkutan. 24
Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisin Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 352
53
Tarif bonus wadi’ah x saldo terendah bulan ybs
b. Bonus wadi’ah atas dasar saldo rata-rata harian, yakni tarif bonus wadi’ah dikalikan dengan saldo rata-rata harian bulan yang bersangkutan. Tariff bonus wadiah x saldo rata-rata harian bulan ybs
c. Bonus wadi’ah atas dasar saldo harian, yakni tarif bonus wadi’ah dikalikan dengan saldo harian yang bersangkutan dikali hari efektif. Tarif bonus wadiah x saldo harian ybs x hari efektif
Dalam memperhitungkan pemberian bonus wadi’ah tersebut, halhal yang harus diperhatikan adalah25 : a) Tarif bonus wadi’ah merupakan besarnya tarif yang diberikan bank sesuai ketentuan. b) Saldo terendah adalah saldo terendah dalam satu bulan. c) Saldo rata-rata harian adalah total saldo dalam satu bulan dibagi hari bagi hasil sebenarnya menurut bulan kalender. Misalnya, bulan januari 31 hari, bulan februari 28/29 hari, dengan catatan satu tahun 365 hari. d) Saldo harian adalah saldo pada akhir hari
25
Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisin Fiqih dan Keuangan,,, hlm. 353
54
e) Hari efektif adalah hari kalender tidak termasuk hari tanggal pembukuan atau tanggal penutupan, tapi termasuk hari tanggal tutup buku. f) Dana giro yang mengendap kurang dari satu bulan karena rekening baru dibuka awal bulan atau ditutup tidak pada akhir bulan tidak mendapatkan bonus wadi’ah, kecuali apabila perhitungan bonus wadi’ahnya atas dasar saldo harian 2. Tabungan Wadi’ah Tabungan
wadiah
merupakan
tabungan
yang
dijalankan
berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan
dengan
produk
tabungan
wadiah,
bank
syariah
menggunakan akad wadiah yad adh-dhamanah. Dalam hal ini, nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada bank syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan bank syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi dana atau barang yang disertai hak untuk menggunakan atau memanfaatkan dana atau barang tersebut. Sebagai konsekuensinya, bank bertanggung jawab
terhadap
keutuhan
harta
titipan
tersebut
serta
mengembalikannya kapan saja pemiliknya menghendaki. Di sisi lain, bank juga berhak sepenuhnya atas keuntungan dari hasil penggunaan atau pemanfaatan dana atau barang tersebut.
55
Mengingat wadiah yad dhamanah ini mempunyai impilikasi hukum yang sama dengan qardh, maka nasabah penitip dan bank tidak boleh saling menjanjikan untuk membagihasilkan keuntungan harta tersebut. Namun demikian, bank diperkenankan memberikan bonus kepada pemilik harta titipan selama tidak disyaratkan di muka. Dengan kata lain, pemberian bonus merupakan kebijakan bank syariah semata yang bersifat sukarela.26 Dari pembahasan di atas, dapat disarikan beberapa ketentuan umum tabungan wadiah sebagai berikut : a. Tabungan wadiah merupakan tabungan yang bersifat titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat (on call) sesuai dengan kehendak pemilik harta. b. Keuntungan atau kerugian dari penyalur dana atau pemanfaatan barang menjadi milik atau tanggungan bank, sedangkan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian. c. Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik harta sebagai sebuah insentif selama tidak diperjanjikan dalam akad pembukaan rekening. Dalam hal bank berkeinginan untuk memberikan bonus wadiah, beberapa metode yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : a) Bonus wadiah atas dasar saldo terendah. b) Bonus wadiah atas dasar saldo rata-rata harian.
26
Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisin Fiqih dan Keuangan,,,, hlm. 358
56
c) Bonus wadiah atas dasar saldo harian. Rumus yang digunakan dalam perhitunga bonus tabungan wadi’ah adalah sebagai berikut27: a. Bonus wadi’ah atas dasar saldo terendah, yakni tarif bonus wadi’ah dikalikan dengan saldo terendah bulan yang bersangkutan. Tarif bonus wadi’ah x saldo terendah bulan ybs
b. Bonus wadi’ah atas dasar saldo rata-rata harian, yakni tarif bonus wadi’ah dikalikan dengan saldo rata-rata harian bulan yang bersangkutan. Tariff bonus wadiah x saldo rata-rata harian bulan ybs
c. Bonus wadi’ah atas dasar saldo harian, yakni tarif bonus wadi’ah dikalikan dengan saldo harian yang bersangkutan dikali hari efektif. Tarif bonus wadiah x saldo harian ybs x hari efektif
Dalam memperhitungkan pemberian bonus wadi’ah tersebut, halhal yang harus diperhatikan adalah: a) Tarif bonus wadi’ah merupakan besarnya tarif yang diberikan bank sesuai ketentuan.
27
Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisin Fiqih dan Keuangan,,,,,hlm. 359
57
b) Saldo terendah adalah saldo terendah dalam satu bulan. c) Saldo rata-rata harian adalah total saldo dalam satu bulan dibagi hari bagi hasil sebenarnya menurut bulan kalender. Misalnya, bulan januari 31 hari, bulan februari 28/29 hari, dengan catatan satu tahun 365 hari. d) Saldo harian adalah saldo pada akhir hari e) Hari efektif adalah hari kalender tidak termasuk hari tanggal pembukuan atau tanggal penutupan, tapi termasuk hari tanggal tutup buku. f) Dana tabungan yang mengendap kurang dari satu bulan karena rekening baru dibuka awal bulan atau ditutup tidak pada akhir bulan tidak mendapatkan bonus wadi’ah, kecuali apabila perhitungan bonus wadi’ahnya atas dasar saldo harian 3. Perhitungan Bonus Wad’iah Perhitungan bonus wadi’ah oleh bank syariah dilakukan sebagai berikut: Saldo giro wadi’ah Fuad di Bank B adalah Rp 1 juta (saldo minimum untuk mendapatkan bonus). Bonus yang akan diberikan bank kepada nasabah giro wadi’ah adalah 25%. Diasumsikan total saldo rata-rata dana giro wadi’ah di Bank B sebesar Rp 200 juta dan keuntungan bank yang diperoleh dari giro wadi’ah adalah sebesar Rp 6 juta. Pada akhir bulan, nasabah giro wadi’ah akan mendapat bonus
58
sebagai berikut: Rp 1.000.000 : Rp 200.000.000 x Rp 6.000.000 x 25% = Rp 7.500 (sebelum pajak).28
Contoh perhitungan tabungan dan deposito di bank syariah29 1. Contoh kasus BANK KONVENSIONAL
BANK SYARIAH Bapak A memiliki Deposito Nominal =
Bapak B memiliki deposito normal
Rp. 10.000.000,00
= Rp. 10.000.000,00
Jangka Waktu = 1 (satu) bulan (1 jan 2000 – Jangka waktu = 1 (satu) bulan (1 jan 2000 – 1 feb 2000)
1 feb 2000)
Nisbah bagi hasil = Deposan 57%: Bank Bunga = 20% p.a. 43% Jika keuntungan yang diperoleh untuk deposito dalam 1 (satu) bulan sebesar Rp. 30.000.000,00 dan rata-rata saldo deposito jangka waktu satu bulan adalah Rp. 950.000.000,00 Pertanyaan:
berapa
keuntungan
yang Pertanyaan: berapa bunga yang
diperoleh bapak A?
diperoleh bapak B?
Jawaban:
Jawaban:
Rp. (10.000.000 : 950.000.000) X Rp. Rp. 10.000.000 X (31 : 365 hari) X 30.000.000 X 57% = Rp. 180.000
28 29
20% = Rp. 169.863
Nasaruddin Umar, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2014), hlm. 354 M. Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek,... hlm. 159
59
2. Kesimpulan BANK SYARIAH Besar
kecilnya
bagi
BANK KONVENSIONAL
hasil
yang Besar kecilnya bunga yang diperoleh
diperoleh deposan bergantung pada:
deposan bergantung pada:
Pendapatan bank,
Tingkat bunga yang berlaku,
Nisbah bagi hasil antara nasabah Nominal deposito, Jangka waktu deposito.
dan bank, Nominal deposito nasabah, Rata-rata
saldo
deposito
untuk
jangka waktu tertentu yang ada pada bank, Jangka
waktu
berpengaruh investasi.
deposito pada
karena lamanya