BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Dalam kajian teori akan dibahas mengenai hasil belajar, teori Gagne dan metode kerja kelompok. 2.1.1 Hasil Belajar 2.1.1.1 Pengertian Hasil Belajar Dimyati dan Mudjiono (2006:3) berpendapat bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, dari sisi siswa
hasil
belajar
merupakan
puncak
proses
belajar.
Abdurrahman
(2003:28) berpendapat bahwa ”…hasil belajar, yaitu suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap”. Perubahan tingkah laku siswa setelah mengikuti pembelajaran terdiri dari sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, budi pekerti, dan sikap. Hasil belajar diperoleh pada akhir proses pembelajaran dan berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyerap atau memahami suatu bahan yang telah diajarkan. Menurut 2.1.1.2 Aspek dan Tipe Hasil Belajar Horward Kingsley (Nana Sudjana, 2011: 22) membagi hasil belajar menjadi 3 macam yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, serta sikap dan cita-cita. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual. Ranah kognitif dijabarkan dalam beberapa tipe antara lain: a) Tipe hasil belajar pengetahuan yang termasuk kognitif tingkat rendah yang paling rendah. Namun tipe hasil belajar ini menjadi prasyarat bagi pemahaman. Hal ini berlaku bagi semua bidang studi baik bidang Matematika, pengetahuan alam, ilmu sosial, maupun bahasa. Misalnya hafal suatu rumus akan menyebabkan paham 5
6
bagaimana menggunakan rumus tersebut, hafal kata-kata akan memudahkan untuk membuat kalimat; b) Tipe hasil belajar yang lebih tinggi dari pada pengetahuan adalah pemahaman. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sediri sesuai yang dibaca atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan, atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain; c) Aplikasi adalah pengunaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi kedalam situasi baru tersebut aplikasi. Mengulang-ulang menerapkan pada situasi lama akan beralih menjadi pengetahuan hafalan atau keterampilan; d) Analisis adalah usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagianbagian sehinga jelas hierarkirnya dan/atau susunannya. Analisis merupakan kecakapan yang kompleks, yang memanfaatkan kecakapan dari ketiga tipe sebelumnya. Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai pemahaman yang komprehensif dan dapat memilahkan intregritas menjadi bagian-bagian yang tetap terpadu untuk beberapa hal untuk memahami prosesnya, untuk hal lain memahami cara kerjanya, untuk hal lain lagi memahami sistematiknya; e) Hasil belajar sintesis adalah hasil belajar yang menunjukkan kemampuan untuk menyatukan beberapa jenis informasi yang terpisah-pisah menjadi satu bentuk komunikasi yang baru dan lebih jelas dari sebelumnya; f) Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, material, dan lain-lain. Hasil belajar seseorang objek evaluasi tidak hanya bidang kognitif, tetapi juga hasil belajar belajar bidang afektif dan psikomotorik. Untuk melengkapi bahan kajian penilaian hasil belajar kognitif, berikut ini dijelaskan tipe hasil belajar afektif dan psikomotorik. Ranah Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah memeiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Penilaian hasil belajar afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak menilai ranah kognitif semata-mata. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa pada berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin,
7
motivasi belajar, menghargai guru teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Sekalipun bahan pelajaran berisi ranah kognitif, ranah afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut, dan harus tampak pada proses belajar hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh sebab itu penting dinilai hasil-hasilnya. Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar kategori dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks, yaitu: 1) Reciving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll. Dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk memberikan stimulus, control, dan seleksi rangsangan dari luar; 2) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang akan datang kepada dirinya; 3) Valuing (penilaian) berkenaan nilai dan kepercaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk kesediaan menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai tersebut; 4) Organisasi, yakni pengembangan dari nilai ke suatu sistem organisasi, termasuk hubungan nilai dari satu nilai dengan nilai yang lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya, yang termasuk ke dalam organisasi ialah konsep tentang nilai, organisasi sistem nilai, dll; 5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni kepaduan semua sistem yang telah dimiliki seseorang, yang memengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya termasuk keseluruhan nilai karakteristiknya. Ranah psikomotorik berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam tingkatan keterampilan, yaitu: 1) Gerakan reflek (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar); 2) Keterampilan pada gerakangerakan dasar; 3) Kemampuan preseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motorik, dan lain-lain; 4) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan; 5) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks; 6)
8
Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan interpreaktif. Dari penjabaran tipe hasil belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa klasifikasi hasil belajar terdapat 3 ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah ranah yang memiliki 6 tipe yaitu tipe pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintetis, dan evaluasi. Ranah afektif adalah ranah yang berkenaan dengan sikap dan nilai seseorang yang mengalami perubahan setelah melalui proses belajar dan perilaku dalam perubahan tersebut seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman di kelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Ranah psikomotorik adalah ranah yang tampak pada tingkah laku siswa atau respon siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. 2.1.1.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Sudjana (1989:39) dalam hal ini menyatakan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa. Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark (1981) menyatakan bahwa hasil belajar di sekolah 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan. Sudjana (2002:39) mengemukakan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran Ali Muhammad (2004: 14) mengatakan bahwa "Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan lingkungannya" Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil. Hasil belajar dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru.
9
Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif), dan bidang perilaku (psikomotorik). Dari uraian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar, diambil implikasi keterlibatannya dengan metode yang akan diterapkan. Metode kerja kelompok dalam penelitian ini termasuk pada faktor dari luar siswa. Sehingga pembelajaran menggunakan metode kerja kelompok diduga akan memengaruhi hasil belajar siswa. 2.1.2 Teori Gagne Selama ini perumusan tujuan instruksional khusus didasarkan pada Taksonomi Bloom tentang tujuan-tujuan perilaku, yang meliputi tiga domainnya, yaitu: domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotor. Padahal Gagne mengembangkan pula tujuan-tujuan belajar yang dikenal dengan Taksonomi Gagne. 2.1.1.1 Taksonomi Gagne Menurut Gagne tingkah laku manusia yang sangat bervariasi dan berbeda dihasilkan dari belajar. Kita dapat mengklasifikasikan tingkah laku sedemikian rupa sehingga dapat diambil implikasinya yang bermanfaat dalam proses belajar. Gagne mengemukakan bahwa keterampilan-keterampilan yang dapat diamati sebagai hasil-hasil belajar disebut kemampuan-kemampuan atau disebut juga kapabilitas. Kapabilitas merupakan kemampuan yang dimiliki manusia karena belajar. Kapabilitas dapat diibaratkan sebagai tingkah laku akhir dan ditempatkan pada puncak membentuk suatu piramida. Misalnya seseorang tidak akan dapat menyelesaikan tugasnya apabila tidak terlebih dahulu mengerjakan tugas a dan b. Piramida tersebut digambarkan sebagai berikut:
10
Akan tetapi untuk menyelesaikan tugas a seseorang harus menyelesaikan tugas c dan d terlebih dahulu, sedangkan untuk tugas b, seseorang itu harus menyelesaikan terlebih dahulu tugas e, f, dan g. Agar lebih jelas, perhatikanlah gambar berikut:
Gagne mengemukakan 5 macam hasil belajar atau kapabilitas tiga bersifat kognitif, satu bersifat afektif, dan satu bersifat psikomotor. Gagne membagi hasil belajar menjadi lima kategori kapabilitas sebagai berikut: a. Informasi Verbal Kapabilitas
informasi
verbal
merupakan
kemampuan
untuk
mengkomunikasikan secara lisan pengetahuannya tentang fakta-fakta. Informasi verbal diperoleh secara lisan, membaca buku dan sebagainya. Informasi ini dapat diklasifikasikan sebagai fakta, prinsip, nama generalisasi. Contoh, siswa dapat menyebutkan dalil Phytagoras yang berbunyi, “pada segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi siku-sikunya”. Kemudian contoh lain : alat untuk mengukur sudut adalah busur derajat. b. Keterampilan Intelektual Kapabilitas keterampilan intelektual merupakan kemampuan untuk dapat memperbedakan, menguasai konsep, aturan, dan memecahkan masalah. Kemampuan-kemampuan
tersebut
diperoleh
melalui
belajar.
Kapabilitas
keterampilan intelektual menurut Gagne dikelompokkan dalam 8 tipe belajar yaitu, belajar isyarat, belajar stimulus respon, belajar rangkaian gerak, belajar rangkaian verbal, belajar memperbedakan, belajar pembentukan konsep, belajar pembentukan aturan, dan belajar pemecahan masalah. Tipe belajar tersebut terurut
11
kesukarannya dari yang paling sederhana (belajar isyarat) sampai kepada yang paling kompleks belajar pemecahan masalah. 1) Belajar Isyarat Belajar isyarat adalah belajar yang tidak diniati atau tanpa kesengajaan, timbul sebagai akibat suatu rangsangan (stimulus) sehingga menimbulkan suatu respon emosional pada individu yang bersangkutan. Sebagai contoh, sikap guru yang sangat menyenangkan siswa, dan membuat siswa yang mengikuti pelajaran guru tersebut menyenangi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. Disisi lain, misal pada suatu kelas yang diberikan pelajaran geometri, seorang anak yang tak dapat mengerjakan soal geometri tersebut dicemoohkan oleh guru. Karena cemoohan guru tersebut anak tidak dapat menyenangi pelajaran Matematika. 2) Belajar Stimulus Respon Belajar stimulus respon adalah belajar untuk merespon suatu isyarat, berbeda dengan pada belajar isyarat pada tipe belajar ini belajar yang dilakukan diniati atau sengaja dan dilakukan secara fisik. Belajar stimulus respon menghendaki suatu stimulus yang datangnya dari luar sehingga menimbulkan terangsangnya otot-otot kemudian diiringi respon yang dikehendaki sehingga terjadi hubungan langsung yang terpadu antara stimulus dan respon. Misalnya siswa menirukan guru menyebutkan persegi setelah gurunya menyebutkan persegi, siswa mengumpulkan benda persegi setelah disuruh oleh gurunya. 3) Belajar Rangkaian Gerak Belajar rangkaian gerak merupakan perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Setiap stimulus respon dalam suatu rangkaian berhubungan erat dengan stimulus respon yang lainnya yang masih dalam rangkaian yang sama. Sebagai contoh, misalnya seorang anak akan menggambar sebuah lingkaran yang pusat dan panjang jari-jarinya diketahui. Untuk melakukan kegiatan tersebut anak tadi melakukan beberapa langkah terurut yang saling berkaitan satu sama lain.
12
Kegiatan tersebut terdiri dari rangkaian stimulus respon, dengan langkahlangkah sebagai berikut: anak memegang sebuah jangka, meletakkan salah satu ujung jangka pada sebuah titik yang telah ditentukan menjadi pusat lingkaran tersebut, kemudian mengukur jarak dari titik tadi, setelah itu meletakkan ujung jangka lainnya sesuai dengan panjang jari-jari, lalu memutar jangka tersebut. 4) Belajar Rangkaian Verbal Belajar rangkaian verbal merupakan perbuatan lisan. Jadi, belajar rangkaian verbal adalah perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Setiap stimulus respon dalam satu rangkaian berkaitan dengan stimulus respon lainnya yang masih dalam rangkaian yang sama. Contoh, ketika mengamati suatu benda terjadilah hubungan stimulus respon yang kedua, yang memungkinkan anak tersebut menamai benda yang diamati tersebut. Contoh dalam Matematika, seorang anak mengamati sebuah segi empat tegak yang keempat sisi-sisinya sama panjang, maka nama segi tersebut adalah persegi. 5) Belajar Memperbedakan Belajar memperbedakan adalah belajar membedakan hubungan stimulus respon sehingga bisa memahami bermacam-macam objek fisik dan konsep, dalam merespon lingkungannya, anak membutuhkan keterampilan-keterampilan sederhana sehingga dapat membedakan suatu objek dengan objek lainnya, dan membedakan satu simbol dengan simbol lainnya.
Terdapat
memperbedakan
dua
tunggal
macam dan
belajar
memperbedakan
memperbedakan
jamak.
yaitu Contoh
memperbedakan tunggal, siswa dapat menyebutkan segitiga sebagai lingkungan tertutup sederhana yang terbentuk dari gabungan tiga buah ruas garis. Contoh memperbedakan jamak, siswa dapat menyebutkan perbedaan dari dua jenis segitiga berdasarkan besar sudut dan sisi-sisinya. Berdasarkan besar sudut yang paling besar adalah sudut siku-siku dan sisi terpanjang adalah sisi miringnya, sementara pada segitiga sama sisi besar sudut-sudutnya sama begitu pula dengan besar sisi-sisinya.
13
6) Belajar Pembentukan Konsep Belajar pembentukan konsep adalah belajar mengenal sifat bersama dari benda-benda konkret, atau peristiwa untuk mengelompokkan menjadi satu. Misalnya untuk memahami konsep persegi panjang anak mengamati daun pintu rumah (yang bentuknya persegi panjang), papan tulis, bingkai foto (yang bentuknya persegi panjang) dan sebagainya. Untuk hal-hal tertentu belajar pembentukan konsep merupakan lawan dari belajar memperbedakan. Belajar memperbedakan menginginkan anak dapat membedakan objek-objek berdasarkan karakteristiknya yang berlainan, sedangkan belajar pembentukan konsep menginginkan agar anak dapat mengklasifikasikan objek-objek ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki karakteristik sama. 7) Belajar Pembentukan Aturan Aturan
terbentuk
berdasarkan
konsep-konsep
yang
sudah
dipelajari. Aturan merupakan pernyataan verbal, dalam Matematika misalnya adalah: teorema, dalil, atau sifat-sifat. Contoh aturan dalam segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi siku-sikunya. Dalam belajar pembentukan aturan memungkinkan anak untuk dapat menghubungkan dua konsep atau lebih. Sebagai contoh, terdapat
sebuah
segitiga
dengan
sisi
siku-sikunya
berturut-turut
mempunyai panjang 3 cm dan 4 cm. Guru meminta anak untuk menentukan panjang sisi miringnya. Untuk menghitung panjang sisi miringnya, anak memerlukan suatu aturan Pythagoras yang berbunyi “pada suatu segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-sikunya”. Dengan menggunakan aturan di atas diperoleh 32 + 42 = 25 = 52, jadi panjang sisi miring yang ditanyakan adalah 5 cm. 8) Belajar memecahkan masalah (problem solving) Belajar memecahkan masalah adalah tipe belajar yang lebih tinggi derajatnya dan lebih kompleks daripada tipe belajar aturan (rule learning). Pada tiap tipe belajar memecahkan masalah, aturan yang telah dipelajari
14
terdahulu untuk membuat formulasi penyelesaian masalah. Contoh belajar memecahkan masalah, mencari selisih kuadrat dua bilangan yang sudah diketahui jumlah dan selisihnya, yaitu : a + b = 10, a – b = 4, a2 – b2 = ... Siswa diharapkan menggunakan aturan bahwa ,a2 – b2 = (a + b) (a – b), sehingga tanpa mencari a dan b, siswa menemukan a2 – b2 = 10 x 4 = 40. c. Strategi Kognitif Kapabilitas strategi kognitif adalah kemampuan untuk mengkoordinasikan serta mengembangkan proses berpikir dengan cara merekam, membuat analisis, dan
sintesis.
Kapabilitas
ini
terorganisasikan
secara
internal
sehingga
memungkinkan perhatian, belajar, mengingat, dan berpikir anak terarah. Contoh tingkah laku akibat kapabilitas strategi kognitif adalah menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah Matematika. d. Sikap Kapabilitas sikap adalah kecenderungan untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas dasar penilaian terhadap stimulus tersebut. Respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu objek mungkin positif mungkin pula negatif, hal ini tergantung kepada penilaian terhadap objek yang dimaksud, apakah sebagai objek yang penting atau tidak. Contoh, seseorang memasuki toko buku yang di dalamnya tersedia berbagai macam jenis buku, bila orang tersebut memiliki sikap positif terhadap Matematika, yang memengaruhi orang tersebut dalam memilih buku Matematika atau buku yang lain selain buku Matematika. e. Keterampilan Motorik Untuk mengetahui seseorang memiliki kapabilitas keterampilan motorik, kita dapat melihatnya dari segi kecepatan, ketepatan, dan kelancaran gerakan otototot, serta anggota badan yang diperlihatkan orang tersebut. Kemampuan dalam mendemonstrasikan alat-alat peraga Matematika merupakan salah satu contoh tingkah laku kapabilitas ini. Contoh lain yang lebih sederhana misalnya kemampuan menggunakan penggaris, jangka, sampai kemampuan menggunakan alat-alat tadi untuk membagi sama panjang suatu garis lurus. Berdasarkan uraian tentang kapabilitas dapat ditegaskan bahwa ada lima ragam belajar yaitu informasi verbal yang menyatakan informasi, kemampuan
15
intelektual merespon situasi yang berbeda dengan memanipulasi simbol seperti huruf, angka, rumus, dan kata. Seifert (2012:128) menyatakan dalam teori Gagne melalui metode kerja kelompok bentuk kecakapan intelektual paling kongkrit adalah kecakapan belajar memperbedakan: membedakan obyek dari ciri-ciri nyata obyek tersebut. Jenis ketiga dari belajar kognitif adalah strategi kognitif. Obyek dari proses pemikiran pemelajar itu sendiri. Strategi kognitif membantu siswa mengelola belajar mereka serta ingatan dan pemikiran mereka. Sikap merupakan kaitan antar keadaan-keadaan akan memengaruhi perilaku tetapi secara tidak langsung menentukan kinerja unjuk tindak, menunjukkan sikap pada siswa tindakan apa yang tidak efektif. Jenis kelima, keterampilan motorik mengacu pada tindakan fisik yang baru dipelajari yang tidak bisa dilakukan sebelum belajar, seperti memberi serve dalam permainan tenis. 2.1.1.2 Tahapan Belajar Menurut Gagne Sembilan tahap belajar disajikan dalam tabel 2 yang dikategorikan dalam tiga tahapan umum: a) persiapan belajar; b) akuisisi dan kinerja yang merupakan peristiwa inti di dalam mempelajari kapabilitas baru dan c) transfer belajar yang memberikan aplikasi untuk kapabilitas baru di dalam konteks yang baru. Persiapan belajar bertujuan mempersiapkan diri untuk belajar termasuk di dalamnya adalah memerhatikan stimuli untuk belajar (dapat berupa tulisan, ucapan gambar, atau model manusia), membangun harapan ke arah tujuan belajar, dan mengambil informasi yang relevan dan/atau keterampilan dari ingatan jangka panjang untuk dimasukkan ke ingatan jangka pendek. Biasanya tahapan ini hanya butuh waktu beberapa menit. Pentingnya harapan karena memengaruhi pemilihan hasil yang tepat disetiap tahapan pemrosesan informasi selanjutnya. Misalnya, jika seseorang ingin belajar cara mencari besaran resistansi dalam sirkuit listrik, karakteristik sirkuit listrik yang relevan dengan tujuan itu akan diproses dan yang lainnya akan diabaikan (Gagne dalam Gredler 2011: 185). Mengambil kapabilitas yang relevan dari ingatan jangka panjang adalah juga penting untuk proses belajar baru. Dalam mempelajari konsep segitiga, misalnya anak harus pertama-tama mengingat bahwa bentuk bersisi tiga berbeda dengan bentuk geometris lainnya (belajar membedakan).
16
Tabel 2 Ringkasan Sembilan Tahapan Belajar dalam Teori Gagne Deskripsi Persiapan belajar
Tahapan 1. Memerhatikan
2. Harapan
Akuisisi dan kinerja
Memberi peringatan bagi pemelajar terhadap adanya stimulus Mengorientasikan pemelajar pada tahap belajar
3. Pengambilan kembali (informasi yang relevan dan/atau keterampilan) untuk dibawa ke ingatan kerja
Memberi ingatan tentang kapabilitas yang diperlukan
4. Perspektif selektif terhadap ciri stimulus
Memungkinkan penyimpanan stimulus penting secara temporer di dalam ingatan kerja Transfer ciri stimulus dan informasi terkait ke dalam ingatan jangka panjang
5. Pengkodean semantik
6. Pengambilan kembali dan respons
7. Penguatan
Transfer belajar
Fungsi
8. Pengambilan petunjuk
9. Kemampuan generalisasi
Mengembalikan informasi yang tersimpan ke peng-gerak respons individual dan mengaktifkan respons Mengkonfirmasi harapan pemelajar tentang tujuan belajar Memberikan petunjuk tanbahan untuk pengingatan kapabilitas di waktu mendatang Memperkaya transfer belajar ke stimulus baru
Sumber: Gredler (2011:186) Akuisisi dan kinerja yang dirujuk sebagai fase inti dari belajar terdiri dari empat tahap yaitu tahap persepsi selektif, pengkodean semantik, pengambilan kembali, dan respons serta penguatan. Dari tahap ini menurut Gagne dalam Gredler (2011:186) pengkodean adalah tahap sentral penting dalam belajar. Tanpa pengkodean, belajar tidak akan terjadi.
17
Kode yang disimpan dapat berupa konsep, proposisi, atau beberapa organisasi informasi bermakna lainnya. Dalam mempelajari konsep segitiga misalnya, anak mengodekan berbagai macam contoh segitiga dengan tekstur dan warna yang berbeda-beda. Tetapi untuk keterampilan motorik, pemelajar mengodekan gambar visual dari keterampilan itu dan melakukan aktivitas rutin yang dibutuhkan untuk melakukan bagian dari kinerja. Kegiatan inti dari belajar diakhiri dengan kinerja atau konfirmasi belajar baru. Jika anak belajar konsep segitiga, dia akan mengidentifikasi contoh segitiga dengan beragam ukuran, warna, dan material. Untuk keterampilan motorik, siswa menunjukkan kinerja fisiknya. Langkah selanjutnya adalah tanggapan terhadap prestasi tujuan belajar. Arti penting dalam tanggapan menurut Gagne dalam Gredler (2011:187) adalah diambil dari konsep penguatan Estes (1972) yakni tanggapan memperkuat pemelajar ketika ia mengkonfirmasikan bahwa tujuan telah tercapai atau telah dikuasai. Dengan kata lain tanggapan memperoleh daya penguat dengan mengonfirmasi harapan pemelajar. Transfer belajar. Belajar yang baru tidak boleh dibatasi hanya pada situasi yang diperkenalkan dalam pembelajaran inti. Tahapan terakhir dari belajar mencakup kesempatan untuk mengaplikasikan aktivitas belajar ini ke dalam situasi baru dan mengkonstruksi petunjuk tambahan untuk diingat kembali kelak. Kemampuan untuk menggeneralisasikan ke situasi baru ini juga dikenal sebagai transfer lateral. Misalnya pemelajar harus dapat menunjukkan segitiga di dalam suatu gambar geometris dan menggambar segitiga di selembar kertas. Dari uraian mengenai tahapan belajar dalam teori Gagne, dapat diambil kesimpulan pada awalnya pemelajar harus memerhatikan stimuli untuk belajar, membangun harapan terhadap tujuan belajar, dan mengambil informasi yang relevan dan/atau keterampilan dari ingatan jangka panjang. Dalam peristiwa inti belajar, pemelajar secara selektif memahami informasi yang relevan di dalam lingkungan, mengodekan informasi ke dalam ingatan jangka panjang (kegiatan penting dalam belajar), dan kemudian mengambil kembali kode itu dan melakukan respons. Kemudian umpan balik tentang pencapaian tujuan akan
18
memperkuat pemelajar denngan mengonfirmasikan harapannya. Pemelajar mengakhiri proses dengan pengaplikasian belajar baru itu dalam konteks dan situasi baru. Tahapan ini juga melahirkan petunjuk tambahan untuk pengingatan kapabilitas di masa depan. 2.1.1.3 Langkah-Langkah Pembelajaran dalam Teori Gagne a. Kejadian-Kejadian Belajar Bertitik tolak dari model belajarnya, yaitu model pemrosesan-informasi (Ratna: 1988), Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar (learning act). Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa (yang belajar) atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa menunjukkan satu tindakan belajar menurut Gagne. Setiap fase diberi nama, dan di bawah masing-masing fase terlihat satu kotak yang menunjukkan proses internal utama, yaitu kejadian belajar, yang berlangsung selama fase itu. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan di bawah ini: 1) Fase Motivasi (motivatim phase) Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar
akan
memperoleh hadiah.
Misalnya, siswa-siswa
dapat
mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan mereka tentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat menolong mereka untuk memperoleh nilai/angka yang lebih baik. 2) Fase Pengenalan (apperehending phase) Siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi. Misalnya, siswa memerhatikan aspek-aspek yang relevan tentang apa yang ditunjukkan guru, atau tentang ciri-ciri utama dari suatu bangun ruang. Guru dapat memfokuskan perhatian terhadap informasi yang penting, misalnya dengan berkata: “Perhatikan kedua sudut yang Ibu katakan, apakah ada perbedaannya?” Terhadap bahan-bahan tertulis dapat juga melakukan demikian dengan menggarisbawahi kata, atau kalimat tertentu, atau dengan memberikan garis besarnya untuk setiap bab.
19
3) Fase Perolehan (acquisition phase) Bila siswa memerhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi yang disajikan, sudah dikemukakan dalam bab-bab terdahulu, bahwa informasi tidak langsung disimpan dalam memori. Informasi itu diubah menjadi bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam memori siswa. Siswa dapat membentuk gambaran-gambaran mental dari informasi itu, atau membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama. Guru dapat memperlancar proses ini dengan penggunaan pengaturan-pengaturan awal, dengan membiarkan para siswa melihat atau memanipulasi benda-benda, atau dengan menunjukkan hubungan-hubungan antara informasi baru, dan pengetahuan sebelumnya. 4) Fase Retensi (retentim phase) Informasi yang baru diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi atau lainnya. 5) Fase Pemanggilan (recall) Mungkin saja kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalam memori jangka panjang. Jadi bagian penting dalam belajar ialah belajar memperoleh hubungan dengan apa yang telah kita pelajari, untuk memanggil (recall) informasi yang telah dipelajari sebelumnya. Hubungan dengan informasi ditolong oleh organisasi materi yang diatur dengan baik dengan mengelompokkan menjadi kategori-kategori atau konsep-konsep, lebih mudah dipanggil daripada materi yang disajikan tidak teratur. Pemanggilan juga dapat ditolong dengan memerhatikan kaitan-kaitan antara konsep-konsep, khususnya antara informasi baru dan pengetahuan sebelumnya. 6) Fase Generalisasi Biasanya informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasi atau transfer informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer dapat ditolong dengan meminta para siswa menggunakan keterampilan-keterampilan berhitung baru untuk memecahkan masalah-masalah nyata, setelah mempelajari
20
pemuaian zat, mereka dapat menjelaskan mengapa botol yang berisi penuh dengan air dan tertutup, menjadi retak dalam lemari es. 7) Fase Penampilan Para siswa harus memperlihatkan, bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui penampilan yang tampak. Misalnya, setelah mempelajari bagaimana menggunakan busur derajat dalam pelajaran Matematika, para siswa dapat mengukur besar sudut. Setelah mempelajari penjumlahan bilangan bulat, siswa dapat menjumlahkan dua bilangan yang disebutkan oleh temannya. 8) Fase Umpan Balik Para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka, yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan. Umpan balik ini dapat memberikan reinforsemen pada mereka untuk penampilan yang berhasil. b. Kejadian-Kejadian Instruksi Berdasarkan analisisnya tentang kejadian-kejadian belajar, Gagne menyarankan kejadian-kejadian instruksi. Menurut Gagne, bukan hanya guru yang dapat memberikan instruksi. Kejadian-kejadian belajarnya dapat juga diterapkan baik pada belajar penemuan, atau belajar di luar kelas, maupun belajar dalam kelas. Tetapi kejadian-kejadian instruksi yang dikemukakan Gagne ditujukan pada guru yang menyajikan suatu pelajaran pada sekelompok siswasiswa. Kejadian-kejadian instruksi itu adalah : 1) Mengaktifkan motivasi (activating motivation); 2) Memberitahu tujuan-tujuan belajar; 3) Mengarahkan perhatian (directing attention); 4) Merangsang ingatan (stimulating recall); 5) Menyediakan bimbingan belajar; 6) Meningkatkan retensi (enhancing retention); 7) Melancarkan transfer belajar; 8) Mengeluarkan penampilan / dan memberikan umpan balik. Berikut akan diuraikan setiap kejadian instruksi itu: 1) Mengaktifkan Motivasi Langkah pertama dalam suatu pelajaran ialah memotivasi para siswa untuk belajar. Kerap kali ini dilakukan dengan membangkitkan perhatian mereka dalam isi pelajaran, dan dengan mengemukakan kegunaannya.
21
2) Memberitahu Tujuan-Tujuan Belajar Kejadian instruksi kedua ini sangat erat hubungannya dengan kejadian instruksi pertama. Sebagian dari mengaktifkan motivasi para siswa ialah dengan memberitahukan kepada mereka tentang mengapa mereka belajar, apa yang mereka pelajari, dan apa yang akan mereka pelajari. Memberitahu kepada siswa tentang tujuan-tujuan belajar juga menolong memusatkan perhatian para siswa terhadap aspek-aspek yang relevan tentang pelajaran. 3) Mengarahkan Perhatian Gagne mengemukakan dua bentuk perhatian. Yang satu berfungsi untuk membuat siswa siap menerima stimulus-stimulus. Dalam mengajar, perubahan stimulus secara tiba-tiba dapat mencapai maksud ini. Dalam pelajaran Matematika hal ini dapat dilakukan dengan guru berkata, “Perhatikan perubahan warna yang terjadi”, serta waktu guru mengajarkan kecepatan reaksi dengan metode demonstrasi. Bentuk kedua dari perhatian disebut persepsi selektif. Dengan cara ini siswa memilih informasi yang mana yang akan diteruskan ke memori jangka pendek. Dalam mengajar, seleksi stimulus-stimulus relevan yang akan dipelajari, dapat ditolong guru dengan cara mengeraskan ucapan suatu kata selama mengajar, atau menggarisbawahi suatu kata atau beberapa kata dalam suatu kalimat, atau dengan menunjukkan sesuatu yang harus diperhatikan para siswa. 4) Merangsang Ingatan Tentang Pelajaran yang Telah Dipelajari Sebelumnya Pemberian kode pada informasi yang berasal dari memori jangka pendek yang disimpan dalam memori jangka panjang, menurut Gagne merupakan bagian yang paling kritis dalam proses belajar. Guru dapat berusaha untuk menolong siswa-siswa dalam mengingat atau mengeluarkan pengetahuan yang disimpan dalam memori jangka panjang itu. Cara menolong ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada para siswa, yang merupakan suatu cara pengulangan.
22
5) Menyediakan Bimbingan Belajar Untuk memperlancar masuknya informasi ke memori jangka panjang, diperlukan bimbingan langsung dalam pemberian kode pada informasi. Untuk mempelajari informasi verbal, bimbingan itu dapat diberikan dengan cara mengaitkan informasi baru itu pada pengalaman siswa. Dalam belajar konsep dapat diberikan contoh-contoh dan noncontohnoncontoh. Bila suatu aturan yang akan diajarkan, maka siswa-siswa seharusnya sudah memahami dahulu konsep-konsep yang merupakan komponen-komponen pembentuk aturan itu. 6) Melancarkan Retensi Retensi atau bertahannya materi yang dipelajari (jadi tidak dilupakan) dapat diusahakan oleh guru dan para siswa itu sendiri dengan cara sering mengulangi pelajaran itu. Cara selain itu dengan memberi banyak contohcontoh. Dapat pula diusahakan penggunaan berbagai “jembatan keledai”. Dengan cara ini materi pelajaran disusun demikian rupa hingga mudah diingat. Menggunakan alat mengukur dan mengukur secara langsung agar siswa tidak lupa dengan pelajaran yang telah diberikan. 7) Membantu Transfer Belajar Tujuan transfer belajar ialah menerapkan apa yang telah dipelajari pada situasi baru. Ini berarti, bahwa apa yang telah dipelajari itu dibuat umum sifatnya. Melalui tugas pemecahan masalah dan diskusi kelompok guru dapat membantu transfer belajar. Untuk dapat melaksanakan tugas ini, para siswa tentu
diharapkan
telah
menguasai
fakta-fakta,
konsep-konsep,
dan
keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan. 8) Memperlihatkan Penampilan dan Memberikan Umpan Balik Hasil belajar perlu diperlihatkan melalui suatu cara, agar guru dan siswa itu sendiri mengetahui apakah tujuan belajar telah tercapai. Untuk itu sebaiknya guru tidak menunggu hingga seluruh pelajaran selesai. Sebaiknya guru
memberikan
kesempatan
sedini
mungkin
pada
siswa
untuk
memperlihatkan hasil belajar mereka, agar dapat diberi umpan balik, sehingga pelajaran selanjutnya berjalan dengan lancar.
23
Cara-cara yang dapat digunakan guru ialah memberikan tes, atau dengan mengamati perilaku siswa. Umpan balik, bila bersifat positif menjadi pertanda bagi siswa bahwa ia telah mencapai tujuan belajar, dan dengan demikian harapan atau expectancy yang muncul pada permulaan tindakan belajar telah dipenuhi. Dalam hal ini menurut Gagne, umpan balik menghasilkan reinforsemen. Perlu diingat, bahwa umpan balik tidak selalu diberikan secara eksplisit, dengan cara menyetujui atau kata-kata yang membetulkan. Ada kalanya situasi belajar itu sendiri sudah merupakan umpan balik. 2.1.3 Metode Kerja Kelompok Metode kerja kelompok memiliki banyak pengertian sebagaimana dikemukakan beberapa ahli. Modjiono dalam Krisiyanto (2011) mengemukakan: Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajarmengajar yang menitikberatkan kepada interaksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama. Robert L. Cilstrap dalam Roestiyah (1998:15) menyatakan bahwa kerja kelompok merupakan suatu kegiatan kelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu tugas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode kerja kelompok merupakan kegiatan belajar yang dilakukan secara berkelompok untuk menyelesaikan suatu tugas secara bersamasama. Penggunaan metode kerja kelompok dapat dibedakan menjadi enam, yaitu: a. Pengelompokan untuk mengatasi kekurangan alat-alat pelajaran Dalam sebuah kelas, guru akan mengajarkan Sejarah Mesir kuno, Ia tidak mempunyai bahan bacaan yang cukup untuk tiap siswa. Maka untuk memberi kesempatan yang sebesar-besarnya kepada siswa, kelas dibagi atas beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi sebuah buku untuk dibaca dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan guru.
24
b. Pengelompokan atas dasar perbedaan kemampuan belajar Di suatu kelas, guru dihadapkan pada persoalan bagaimana melaksanakan tugas sebaik-baiknya terhadap kelas yang sifatnya heterogen, yakin berbeda-beda dalam kemampuan belajar. Pada waktu pelajaran matematika, guru menemukan bahwa ada lima orang siswa tidak sanggup memecahkan soal seperti teman-teman lainnya. Guru menyadari bahwa tidak mungkin rnengajar kelas dengan menyamaratakan seluruh siswa, karena ada perbedaan dalam kesanggupan belajar. Maka guru membagi para siswa dalam beberapa kelompok dengan anggota yang mempunyai kemampuan setaraf kemudian diberi tugas sesuai dengan kemampuan mereka. Sekali-kali guru meninjau secara bergilir untuk melihat kelompok mana yang membutuhkan pertolongan atau perhatian sepenuhnya. c. Pengelompokan atas dasar perbedaan minat belajar Pada suatu saat para siswa perlu mendapat kesempatan untuk memilih suatu pokok bahasan yang sesuai dengan minatnya. Untuk keperluan ini guru memberikan suatu pokok bahasan yang terdiri dari beberapa sub-pokok bahasan. Siswa yang berminat sama dapat berkumpul pada suatu kelompok untuk mempelajari sub-pokok bahasan yang dimaksud. d. Pengelompokan untuk memperbesar partisipasi tiap siswa Di suatu kelas, guru sedang mengajarkan kesusastraan. guru memilih suatu masalah tentang lahirnya sastra baru. Dikemukakanlah masalah-masalah khusus, satu diantaranya ialah mengapa ada pendapat yang mengatakan bahwa kesadaran kebangsaanlah yang menjadi perbedaan hakiki antara kesusastraan Melayu dengan kesusastraan Indonesia. Guru tidak mempunyai waktu yang berlebihan, akan tetapi ia menginginkan setiap siswa berpartisipasi secara penuh. Untuk setiap masalah diperlukan pendapat atau diskusi. Maka dipecahkan kesatuan kelas itu menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil dengan tugas membahas permasalahan tersebut dalam waktu yang sangat terbatas. Selesai pembahasan kelompok, setiap kelompok rnengemukakan pendapat yang dianggap pendapat kelompok tersebut. Cara mengajar ini dimaksudkan untuk merangsang tiap siswa agar ikut serta dalam setiap masalah secara intensif. Tak ada seorangpun diantara
25
mereka yang merasa mendapat tugas lebih berat dari pada yang lain. Pengelompokkan sementara dan pendek semacam ini disebut juga rapat kilat. e. Pengelompokan untuk pembagian pekerjaan Pengelompokkan ini didasarkan pada luasnya masalah serta membutuhkan waktu untuk memperoleh berbagai informasi yang dapat menunjang pemecahan persoalan. Untuk keperluan ini pokok persoalan harus diuraikan dahulu menjadi beberapa aspek yang akan dibagikan kepada tiap kelompok (tiap kelompok menyelesaikan satu aspek persoalan). Siswa harus mengumpulkan data baik dari lingkungan sekitar maupun melalui bahan kepustakaan. Oleh karena itu, proyek ini tidak mungkin diselesaikan dalam waktu dekat seperti halnya rapat kilat melainkan
kemungkinan
membutuhkan
waktu
beberapa
minggu.
Jadi
pengelompokkan disini bertujuan membagi pekerjaan yang mempunyai cakupan agak luas. Kerja kelompok ini membutuhkan waktu yang panjang. f. Pengelompokan untuk belajar bekerja sama secara efisien menuju ke suatu tujuan Langkah pertama adalah menjelaskan tujuan dari tugas yang harus dikerjakan siswa, kemudian membagi siswa menurut jenis dan sifat tugas, mengawasi jalannya kerja kelompok, dan menyimpulkan kemajuan kelompok. Disini jelas walaupun siswa bekerja dalam kelompok masing-masing dan melaksanakan bagiannya sendiri-sendiri. Namun mereka harus memusatkan perhatian pada tujuan yang akan dicapai, dan menjaga agar jangan sampai keluar dan persoalan pokok. Tugas kelompok disini tidak perlu diselesaikan dalam jangka waktu panjang, guru dapat memilih persoalan yang dapat didiskusikan di kelas. 2.1.3.1 Kelebihan dan Kelemahan Metode Kerja Kelompok Metode kerja kelompok memiliki kelebihan, seperti yang diungkapkan oleh Roestiyah dalam Krisiyanto (2011) yaitu: a) dapat memberikan kesempatan para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah; b) dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah; c) dapat mengembangkan
bakat
kepemimpinan
dan
mengajarkan
keterampailan
26
berdiskusi; d) dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhannya belajar; e) para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka, dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi; f) dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang lain, hal mana mereka telah saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama. Sedangkan penerapan kerja kelompok menurut Modjiono dalam Krisiyanto (2011) bertujuan: a) memupuk kemauan dan kemampuan kerja sama diantara peserta didik; b) meningkatkan keterlibatan sosio-emosional dan intelektual para peserta didik dalam proses belajar mengajar yang disediakannya dan c) meningkatkan perhatian terhadap proses dan hasil dari proses belajar mengajar secara seimbang. Metode kerja kelompok juga memiliki kelemahan antara lain: a) Kerja kelompok terkadang hanya melibatkan para siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang; b) Keberhasilan strategi ini tergantung kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendirisendiri; c) Kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan daya guna mengajar yang berbeda pula. Solusi yang akan diupayakan untuk mengatasi terjadinya kelemahan metode kerja kelompok pada saat pembelajaran antara lain dalam pembagian kelompok akan dilakukan bengan dasar heterogenitas, sehingga dalam satu kelompok terdapat siswa dengan bermacammacam tingkat kecerdasan sesuai hasil UAS semester 1/2012-2013. Selain itu, guru akan lebih memantau kinerja siswa dalam kerja kelompok supaya semua anak terlibat aktif, baik yang cakap berbicara dan cerdas maupun yang kurang cakap berbicara dan kurang cerdas. Ruang kelas 5 SD Negeri Sukorejo cukup luas dengan jumlah siswa hanya 19, sehingga untuk mengatur tempat duduk kelompok sesuai jumlah siswa akan lebih leluasa. Berdasarkan uraian mengenai kelebihan metode kerja kelompok, hal tersebut yang dijadikan sebagai dasar penggunaan metode kerja kelompok pada penelitian ini. Kelebihan yang ada dalam metode kerja kelompok diharapkan juga
27
menjadi kelebihan dari pembelajaran yang telah dimodifikasi yaitu dengan penerapan teori Gagne melalui metode kerja kelompok. 2.1.3.2 Tahap-Tahap Metode Kerja Kelompok Tahap-tahap metode kerja kelompok antara lain dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 3 Tahap-Tahap Dalam Pembelajaran Kerja Kelompok Fase
Kegiatan Guru
Fase – 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
Fase – 2 Menyajikan informasi.
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.
Fase – 3 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan tansisi secara efisien.
Fase – 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Guru membimbing kelompok belajar pada mengerjakan tugas.
Fase –5 Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil belajarnya.
Fase – 6 Memberikan penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai upayaupaya hasil belajar individu maupun kelompok.
saat
kelompokmereka
Dari uraian fase-fase belajar berdasarkan teori Gagne dan metode kerja kelompok maka dalam penelitian ini akan digunakan satu fase belajar gabungan dari teori Gagne melalui metode kerja kelompok. Fase tersebut akan disajikan dalam tabel berikut ini.
28
Tabel 4 Sintak Pembelajaran Penerapan Teori Gagne Melalui Metode Kerja Kelompok Tahapan belajar menurut Gagne
Fase pembelajaran penerapan teori Gagne melalui metode kerja kelompok 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Memerhatikan Harapan Pengambilan kembali informasi yang relevan untuk dibawa ke ingatan kerja Perspektif selektif 2. Mengarahkan terhadap ciri Perhatian (directing stimulus attention) Pengkodean 3. Merangsang ingatan semantik (stimulating recall ) dan/atau menyajikan informasi
Pengambilan kembali dan respons
Penguatan
Pengambilan petunjuk Kemampuan generalisasi
4. Menyediakan bimbingan belajar (Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar) 5. Meningkatkan retensi (enhancing retention) (Membimbing kelompok bekerja dan belajar 6. Melancarkan transfer belajar (Evaluasi)
7. Mengeluarkan penampilan dan/atau memberikan umpan balik. (Memberikan penghargaan)
Aktivitas Guru
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik
Guru menyampaikan kegiatan pembelajaran dan materi yang akan dipelajari Guru menunjuk suatu bangun ruang, lalu siswa diminta untuk menyebutkan bangun ruang lainnya Guru membimbing siswa untuk membentuk kelompok secara berpasangan dan memberikan tugas yang harus dikerjakan bersama kelompok kerjanya Guru membimbing dan memantau siswa dalam pengerjaan tugas
Guru memandu siswa untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya dan memberikan penguatan tentang materi Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang bekerja secara kooperatif serta hasil yang baik Guru memberikan lembar kerja siswa untuk
29
2.2
Penelitian yang Relevan Penelitian menggunakan metode kerja kelompok ini, sebelumnya telah
diteliti beberapa orang. Solikin, Mohamad (2011) dengan judul ‘Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Tentang Bangun Ruang Sisi Datar Melalui Penggunaan Metode Kerja Kelompok Bagi Siswa Kelas 5 SDN Sunggingwarno 02 Gabus Kabupaten Pati Semester 1 Tahun 2011/2012’. Menyimpulkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan kubus dan balok setelah menggunakan metode kerja kelompok. Hal ini nampak pada skor rerata yakni pada kondisi pra siklus sebesar 65, siklus 1 naik menjadi 80,21 dan pada siklus 2 naik lagi menjadi 83,96. Adapun ketuntasan belajar klasikal pada kondisi pra siklus 45,83 %; siklus 1 naik menjadi 87,5% dan pada siklus 2 naik menjadi 91,67%. Sedangkan skor minimal pada kondisi prasiklus sebesar 45, pada siklus 1 naik menjadi 55 dan pada siklus 2 tetap 55. Sedangkan skor maksimal pada kondisi prasiklus dan siklus 1 sebesar 90, dan siklus 2 naik menjadi 95. Dari uraian hasil siklus dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran kerja kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian
lainnya
oleh
Wagimin
(2012)
dengan
judul
‘Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Metode Kerja Kelompok dan Pemanfaatan Alat Peraga Bangun Datar Bagi Siswa Kelas I SD Negeri Banaran semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012’ menyimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan metode kerja kelompok dan alat peraga bangun datar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SD Negeri Banaran tahun pelajaran 2011/2012. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah siswa yang pada kondisi awal hanya 6 siswa (32%) menjadi 13 siswa (69%) pada siklus pertama dan mencapai 19 siswa (100%) pada siklus 2. Dari uraian hasil tiap siklus dapat disimpulkan bahwa metode kerja kelompok melalui alat peraga bangun datar dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Berikut akan disajikan perbedaan penelitian ini dengan beberapa penelitian relevan dalam Tabel 5 berikut ini.
30
Tabel 5 Persamaan dan Perbedaan Variabel Penelitian Variabel Penelitian No
Peneliti
Tahun Prestasi belajar
Hasil belajar
Teori Gagne
Metode kerja kelompok
1.
Solikin
2011
√
√
2.
Wagimin 2012
√
√
3.
Peneliti
2013
√
√
√
Dari Tabel 5 terlihat perbedaan antara penelitian-penelitian sebelumnya dengan penelitian ini. Letak perbedaannya adalah variabel terikat dan variabel bebasnya. Jika dalam penelitian-penelitian sebelumnya fokusnya adalah prestasi belajar yang mencakup secara keseluruhan akademik, sedangkan penelitian ini fokusnya hanya hasil belajar yang lebih sempit cakupannya yaitu hasil tes setelah diterapkan suatu metode pembelajaran. Sedangkan variabel terikat terikat adalah metode kerja kelompok, namun yang membedakan adalah dalam penelitian ini metode kerja kelompok dikembangkan sebagai pelaksanaan teori gagne. 2.3
Kerangka Pikir Model pembelajaran teacher center sudah dianggap biasa bahkan
cenderung membuat siswa merasa bosan dan kurang aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar. Konsep dasar teori Gagne melalui metode kerja kelompok ini yang akan digunakan untuk melakukan penelitian dalam upaya meningkatkan hasil belajar Matematika terutama dalam materi geometri. Hal itu dikarenakan pembelajaran dengan penerapan teori Gagne melalui metode kerja kelompok memiliki keunggulan dapat membuat siswa aktif melalui kegiatan kerja kelompok, siswa lebih banyak berpartisipasi aktif mengembangkan kemampuan bertanyajawab, dan siswa berkesempatan untuk mengembangkan pengetahuannya melalui kerja kelompok. Berikut adalah gambar mengenai alur kerangka pikir.
31
Kondisi Awal
Pembelajaran belum menggunakan konsep dasar teori dan metode yang sesuai.
Keadaan siswa menjadi pasif dan kurang antusias sehingga hasil belajar matematika rendah
Pembelajaran geometri bangun Tindakan
ruang dengan penerapan teori Gagne melalui metode kerja kelompok
Pembelajaran
dengan
teori
Gagne melalui metode kerja Kondisi Akhir
kelompok dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas 5 SD Negeri Sukorejo
Gambar 1 Kerangka Pikir Pembelajaran dengan Penerapan Teori Gagne Melalui Metode Kerja Kelompok. 2.4
Hipotesis Tindakan Berdasarkan uraian kajian teori, kajian penelitian yang relevan dan
kerangka berpikir, maka ditetapkan hipotesis tindakan sebagai berikut: “melalui penerapan teori Gagne melalui metode kerja kelompok dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa Kelas 5 SD Negeri Sukorejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang Semester 2/2012-2013”.