BAB I PENDAHULUAN
I.1
LATAR BELAKANG MASALAH Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa ingin berhubungan dengan
manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat. Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi. Komunikasi adalah salah satu aktivitas yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia sehari-hari. Artinya, memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Pentingnya
komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri, begitu juga halnya bagi suatu organisasi. Dalam mencapai suatu organisasi yang efektif, salah satu faktor penentu dan sangat diperlukan adalah proses komunikasi. Proses komunikasi tersebut bertujuan untuk mengubah sikap, mengubah opini/pandangan, mengubah perilaku, dan mengubah masyarakat (Purba, 2006:37). Proses komunikasi pada hakikatnya merupakan proses penyampaian pesan antara manusia baik secara kelompok/lembaga maupun secara individual dari suatu pihak kepada pihak lain. Dalam proses penyampaian pesan tersebut juga mengandung arti adanya pembagian pesan (sharing of information) yang cenderung mengarah ke pencapainan titik tertentu sampai disepakatinya makna suatu pesan antar pihak-pihak yang terlibat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunikasi itu merupakan proses penyampaian pesan
yang berupa
Universitas Sumatera Utara
lambang-lambang yang bermakana yang disampaikan oleh komunikator dan ditujukan kepada komunikan sebagai sasaran komnikasi. Komunikasi penting dalam suatu organisasi, hal ini sering dilontarkan oleh mereka yang concern terhadap fenomena komunikasi maupun mereka yang tertarik pada gejala-gejala komunikasi keorganisasian. Dalam kenyataanya masalah-masalah keorganisasian yang muncul senantiasa berkaitan dengan proses komunikasi, bahkan boleh dikatakan organisasi tanpa komunikasi ibarat sebuah sepeda motor yang didalamnya terdapat rangkaian alat-alat otomotif yang terpaksa tidak berfungsi karena tidak adanya aliran fungsi antara satu bagian dengan bagian yang lain. Menurut Condrad terdapat 3 (tiga) fungsi komunikasi organisasi yaitu sebagai berikut: 1. Fungsi komando – Ada dua tipe komunikasi yang membentuk fungsi komando yaitu a. Pengarahan atau direction yang terlaksana melalui instruksi dan publikasi. Fungsi pengarahan dalam bentuk persuasif dan pengaruh b. Feed Back (fungsi umpan balik) yang menunjukkan siapa yang sudah mengikuti apa yang diperintahkan. 2. Fungsi relasi – Komunikasi organisasi juga bertujuan untuk memenuhi fungsi relasional. Tujuannya menciptakan relasi kerja bagi peningkatan produksi organisasi. 3. Fungsi mengelola suasana yang tidak pasti – Komunikasi organisasi berfungsi mendorong para pegawai untuk memilih keputusan \yang komplikatif dalam organisasi (dalam Liliweri, 2004: 67). Di dalam suatu kelompok/organisasi selalu ada pemimpin kelompok yaitu orang yang memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku dan kayakinan kelompok. Seorang pemimpin tugas mengarahkan diri pada tercapainya tujuan kelompok. Seorang pemimpin sosial berusaha mempertahankan keselarasan dan semangat kelompok agar tetap tinggi. Orang yang menjadi pemimpin cenderung memiliki keunggulan dalam kemampuan-kemampuan yang membantu kelompok mencapai tujuannya, terampil sosial atau sangat termotivasi untuk menjadi
Universitas Sumatera Utara
pemimpin menurut model kontigensi Fiedler, keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kesesuaian antara gaya kepemimpinan (berorientasi tugas atau berorientasi hubungan) dengan sifat situasi (Sears, 1985:143). Setiap organisasi terdiri dari pemimpin dan anggota karyawan. Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik yang bertujuan untuk menciptakan saling pengertian dan dukungan bagi tercapainya sebuah tujuan organisasi. Diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Kerja sama tersebut terdiri dari berbagai maksud yang meliputi menyelesaikan tugas bersama dengan orang laian secara kooperatif, membina keutuhan dan kekompakkan kelompok, tidak mendikte atau mendominasi kelompok, dan mau menerima pendapat orang lain. Hubungan yang terjadi dalam organisasi/kelompok merupakan suatu proses adanya suatu keinginan masing-masing individu, untuk memperoleh suatu hasil yang nyata dan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan yang berkelanjutan. Dalam mencapai hubungan tersebut, masing-masing individu tersebut membentuk sebuah kelompok atau di dalam organisasi, kelompok-kelompok dibentuk berdasarkan pembagian kerja yang sesuai dengan fungsi dan tugasnya. Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Mulyana, 2005: 74). Pada hakekatnya kelompok terdiri dari dua atau lebih individu yang saling bergantung dan berinteraksi antara satu dengan lain dan dengan tujuan menjalankan sesuatu aktivitas untuk mencapai tujuan dari
Universitas Sumatera Utara
kesepakatan. Dengan defenisi itu, kelompok sangat berbeda prinsipnya dengan kumpulan individu yang menyaksikan pertandingan sepak bola atau yang sedang menunggu bis di halte, karena kedua kumpulan individu tersebut tidak mempunyai tujuan, tidak berinteraksi dan tidak mempunyai sasaran (Lubis, 2007:112). Suatu survey yang dilakukan oleh Harver Business Review, menemukan bahwa komposisi kelompok yang terdiri dari 5 orang, paling efektif dalam tugastugas intelektual, analisis, dan informasi penilaian, dan pembuatan keputusan berkenaan dengan tindakan administratif yang tepat (Muhammad, 2007:186). Perwujudan kelompok di dalam organisasi disebabkan oleh beberapa masalah termasuk untuk menyempurnakan tugas, menyelesaikan masalah yang bersifat resmi dan masalah sosio-psikologi seperti menjaga hubungan antara bawahanatasan. Kelompok juga terwujud atas sebab-sebab sosial, yaitu keinginan untuk bergaul dengan setiap anggota di dalam kepentingan status dan kekuasaan, dan untuk kepuasan diri apabila berada di dalam ruang lingkup kelompok tersebut. Di dalam sebuah organisasi, perlakuan dan motivasi kelompok memainkan peranan yang utama untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian, pengurus seharusnya memahami proses yang mempengaruhi komunikasi kelompok untuk mencapai tujuan dengan memaksimumkan interaksi dan meminimumkan konflik yang ada. Pengurus juga sebaiknya mencari jalan untuk menengahi kehendak yang tidak sama antara seorang individu dengan seorang individu yang lain. Sekiranya tujuan kelompok itu tidak sejajar dengan tujuan organisasi maka akan terwujud keadaan yang berkepanjangan antara pekerja dan masalah ketidakpuasan
Universitas Sumatera Utara
individu. Permasalahan ini akan menguraikan sekelumit tentang komunikasi kelompok dan hubungannya dengan organisasi yang ada. Michael Burgoon mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggotaanggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat (dalam Wiryanto, 2005:56). Menurut Effendi, komunikasi kelompok (group communication) berarti komunikasi yang berlangsung antara seorang komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih adari dua orang (1993:75). Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok. Sekelompok orang yang menjadi komunikan dalam jumlah sedikit disebut komunikasi kelompok kecil (small group communication), sedangkan
jika jumlahnya banyak dinamakan komunikasi
kelompok besar (large group communication). Dengan adanya komunikasi kelompok, setiap individu atau kelompok bukan saja dapat berinteraksi, memahami dan bertukar-tukar pesan antar satu dengan lainnya, tetapi juga dapat mewujudkan kerjasama yang berkesinambungan dikalangan anggota kelompok. Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain dalam sebuah kelompok, setiap anggota kelompok itu harus ikut serta dalam kegiatan mempengaruhi dan dipengaruhi. Semangat timbal balik ini merupakan hal penting bagi integritas suatu kelompok kecil.
PT Oriflame merupakan salah satu perusahaan yang melibatkan kelompok kecil untuk mencapai tujuan perusahaan melalui kelompok tugas/kerja sesuai dengan pembagian tugas setiap anggota kelompok. Melalui komunikasi,
Universitas Sumatera Utara
kelompok kecil dapat berinteraksi dalam mendiskusikan tugas antara sesama anggota kelompok dan pimpinan. Komunikasi kelompok kecil yang efektif menghendaki Anda untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui tatap muka. Interaksi yang berarti dapat berlangsung jika komunikasi melibatkan hal berbicara dan mendengar dalam lingkungan yang umum. Komunikasi kelompok yang terbaik terjadi bila orang-orang dapat segera menanggapi komunikasi verbal dan nonverbal orang lain secara pribadi. Perilaku setiap anggota ditentukan dan menentukan perilaku orang lain. Kehadiran seseorang dalam sebuah kelompok dapat berpengaruh sangat penting terhadap perilaku dan pemikiran anggota lain dan keseluruhan proses dalam kelompok tersebut. Beberapa orang memberikan kontribusi gagasan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan; beberapa orang lainnya menjaga kelompok tetap terpusat pada tugas. Seorang anggota dapat memberikan kontribusi pada kelompoknya dengan menghentikan ketegangan, berurusan dengan konflik, berpegang pada jadwal, atau bertindak sebagai penyimpan catatan. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempengaruhi kelompok, tetapi tindakan kepemimpinannya membantu para anggota dalam mencapai tujuan mereka yang sangat diperlukan bagi kesejahteraan kelompok. Aktivitas dan interaksi individu atau anggota dalam kelompok dapat menumbuhkan motivasi. Adapun motivasi yang muncul pada setiap anggota kelompok dengan berbagai alasan seperti menumbuhkan semangat kerja, displin kerja dan sebagainya. Inti dari berbagai alasan yang ada menitikberatkan pada satu hal yaitu motivasi kerja. Pada dasarnya motivasi individu dalam bekerja dapat memacu karyawan untuk bekerja keras sehingga dapat mencapai tujuan mereka. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja individu yang berdampak
Universitas Sumatera Utara
pada pencapaian tujuan dari organisasi. Disamping itu ada beberapa aspek yang berpengaruh terhadap motivasi kerja individu, yaitu rasa aman dalam bekerja, mendapatkan
gaji
yang
adil
dan
kompetitif,
lingkungan
kerja
yang
menyenangkan, penghargaan atas prestasi kerja dan perlakuan yang adil dari manajemen. Dengan melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan, pekerjaan yang menarik dan menantang, kelompok dan rekan-rekan kerja yang menyenangkan, kejelasan akan standar keberhasilan serta bangga terhadap pekerjaan dan perusahaan dapat menjadi faktor pemicu kerja karyawan. Sementara konflik juga terjadi dalam suatu organisasi, khususnya yang terjadi dalam kelompok yang memungkinkan kelompok terpecah-pecah, kurangnya aktivitas kelompok sehingga tidak terjadinya kordinasi dalam mencapai tujuan organisasi, dan menghasilkan sikap negatif terhadap produksi kelompok. Neilson (dalam Muhammad, 2007:194) mengemukakan bahwa konflik juga terjadi antara kelompok dalam organisasi. Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan sifat pribadi, perbedaan interpretasi dari jumlah ganjaran/status yang didistrinbusikan melalui organisasi, perbedaan persepsi dan pengalaman dan kompetisi akan sumber-sumber yang langka dalam organisasi. Dalam penelitian ini, peneliti memilih PT Oriflame Cabang Medan sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa PT Oriflame adalah perusahaan kosmetika dengan karakteristik semangat "saya-bisa", manajemen yang tersebar, dengan atmosfir muda dan kewirausahaan yang tinggi. serta memiliki ruang lingkup kerja yang meliputi kelompok-kelompok kecil dalam pelaksanaan tujuan perusahaan.
Universitas Sumatera Utara
Pengamatan awal peneliti terhadap komunikasi kelompok di PT. Oriflame Cabang Medan adalah bahwa aktifitas dan interkasi yang terjadi dalam komunikasi kelompok di PT. Oriflame Cabang Medan memiliki pengaruh dalam motivasi kerja setiap anggota kelompok yang ada. Namun apakah komunikasi kelompok kecil tersebut berpengaruh terhadap motivasi kerja setiap anggota kelompok. Hal ini menjadi penyebab ketertarikan peneliti untuk mengetahui komunikasi kelompok kecil terhadap motivasi kerja karyawan PT. Orifalme Cabang Medan. Di sini terjadi pembagian ruang kerja yang terpisah-pisah pada tempat dan kondisi yang berbeda. Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti dan mengetahui lebih dalam mengenai Sejauhmana Pengaruh Komunikasi Kelompok Kecil terhadap Motivasi Kerja Karyawan di PT Oriflame Cabang Medan. I.2
PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian di atas maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini,
sebagai berikut: “Sejauhmana Komunikasi Kelompok Kecil berpengaruh terhadap Motivasi Kerja Pegawai di PT Oriflame Cabang Medan?. I.3
PEMBATASAN MASALAH Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga
dapat mengaburkan penelitian, maka perlu dibuat pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Penelitian ini bersifat korelasional, yaitu bersifat mencari atau menjelaskan hubungan dan menguji hipotesis.
Universitas Sumatera Utara
2. Komunikasi kelompok yang dimaksud dalam penelitian ini adalah komunikasi kelompok kecil yang dilakukan di antara kelompok kerja yang ada di PT Oriflame Cabang Medan. 3. Objek penelitian ini adalah seluruh pegawai tetap dan aktif yang tergabung dalam kelompok kerja di PT Oriflame Cabang Medan. 4. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan April-Mei 2011. I.4
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN I.4.1) Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan arah pelaksanaan penelitian, yang akan
menguraikan apa yang akan dicapai, dan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan peneliti dan pihak lain yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui komunikasi kelompok kecil yang dilakukan oleh pegawai di PT Oriflame Cabang Medan 2. Untuk mengetahui motivasi kerja para pegawai di PT Oriflame Cabang Medan 3. Untuk mengetahui sejauhmana komunikasi kelompok kecil berpengaruh terhadap motivasi kerja pegawai di PT Oriflame Cabang Medan I.4.2) Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut: 1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan memperkaya bahan referensi, bahan penelitian serta sumber bacaan di lingkungan FISIP USU khususnya bagi Departemen Ilmu Komunikasi.
Universitas Sumatera Utara
2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan penulis mengenai komunikasi khususnya Komunikasi Organisasi. 3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini. I.5
KERANGKA TEORI Setiap Penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan untuk
memecahkan atau menyoroti masalahnya. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah
penelitian
akan
disoroti
(Nawawi,1995:39).
Wilbur
Scrhramn
menyatakan bahwa teori merupakan suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar tinggi dan daripadanya proposisi bila dihasilkan dan diuji secara ilmiah dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai prilaku ( dalam Effendi,2003:241). Dengan adanya kerangka teori, maka akan mempunyai landasan untuk menentukan tujuan dan arah penelitian. Untuk memberikan kejelasan pada penelitian ini, penulis mengemukakan beberapa kerangka teori yang berkaitan dengan penelitian. Teori-teori yang digunakan adalah Komunikasi Organisasi, Format Interaksi Komunikasi Organisasi, Komunikasi Kelompok, Komunikasi Kelompok Kecil, Motivasi dan Motivasi kerja. I.5.1) Komunikasi Organisasi Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan seharihari di rumah tangga, di tempat pekerjaan, di pasar, dalam masyarakat atau dimana saja manusia berada. Tidak ada manusia yang tidak akan terlibat dalam
Universitas Sumatera Utara
komunikasi. Pentingnya komunikasi tidaklah dapat dipungkiri begitu juga dengan halnya organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan dengan lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi orrganisasi dapat macet atau berantakan. Komunikasi yang efektif adalah penting bagi semua organisasi. Oleh karena itu, menurut Kohler (1981) para pimpinan organisasi dan para komunikator dalam organisasi perlu memahami dan menyempurnakan kemampuan komunikasi mereka (dalam Muhammad, 2007:1). Mengenai hubungan organisasi dengan komunikasi, William V. Hanney menyatakan
:
“ Organization consists of a number of people; it envolves
interpendence; interpendence calls for cordination; and coordination requires communication”. Atau dengan kata lain organisasi terdiri dari sejumlah orang; ia melibatkan keadaan saling tergantung; ketergantungan memerlukan kordinasi; kordinasi mensyaratkan komunikasi ( dalam Effendy, 2003:146). Dalam berbagai literatur dapat dijumpai arti kordinasi, dimana disebutkan bahwa kordinasi bersumber pada perkataan bahasa Latin coordination yang berarti “kombinasi atau interaksi yang harmonis”. Interaksi yang harmonis diantara karyawan suatu organisasi, baik dalam hubungannya secara timbal balik, maupun secara horisontal diantara para karyawan secara timbal balik pula. Redding dan Sanborn mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk dalam bidang ini adalah komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola, komunikasi downward atau komunikasi dari atasan kepada bawahan, komunikasi upward atau komunikasi dari bawahan
Universitas Sumatera Utara
kepada atasan, komunikasi horizontal atau komunikasi dari orang-orang yang sama level/tingkatnya dalam organisasi, keterampilan berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan, menulis dan komunikasi evaluasi program (dalam Muhammad, 2007:65) Komunikasi organisasi terjadi kapanpun setidak-tidaknya satu orang yang menduduki suatu jabatan dalam suatu organisasi menafsirkan suatu pertunjukan. Karena fokus disini adalah komunikasi di antara anggota suatu organisasi, analisis komunikasi organisasi menyangkut penelaahan atas banyak transaksi yang terjadi secara simultan. Sistem tersebut menyangkut pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara lusinan atau bahkan ratusan individu pada saat yang sama memiliki jenis-jenis hubungan berlainan yang menghubungkan mereka; yang pikiran, keputusan, dan perilakunya diatur oleh kebijakan-kebijakan, regulasi, dan “aturanaturan”; yang mempunyai gaya berlainan dalam berkomunikasi, mengelola dan memimpin; yang dimotivasi oleh kemungkinan-kemungkinan yang berbeda; yang berada pada tahap perkembangan berlainan dalam berbagai berbagai kelompok; yang mempersepsi iklim komunikasi berbeda; yang mempunyai tingkat kepuasan berbeda dan tingkat kecukupan informasi yang berbeda pula; yang lebih menyukai dan menggunakan jenis, bentuk, dan metode komunikasi yang berbeda dalam jaringan yang berbeda; yang mempunyai tingkat ketelitian pesan yang berlainan; dan yang menggunakan penggunaan tingkat materi dan energi yang berbeda untuk berkomunikasi efektif. Interaksi diantara semua faktor tersebut, dan mungkin lebih banyak lagi, yang disebut sistem komunikasi organisasi (Pace dan Don F, 2005 : 31 -32).
Universitas Sumatera Utara
Sifat
terpenting
komunikasi organisasi adalah penciptaan pesan,
penafsiran, penafsiran, dan penangganan kegiatan anggota organisasi. Bagaimana komunikasi berlangsung dalam organisasi dan apa maknanya bergantung pada konsepsi seseorang mengenai organisasi. Menurut Putnam (1983), bila organisasi dianggap sebagai suatu struktur atau wadah yang telah ada sebelumnya, maka komunikasi dapat dianggap sebagai “suatu substansi nyata yang mengalir ke atas, ke bawah, dan ke samping dalam suatu wadah”. Dalam pandangan tersebut, menurut Farace, Mongel, dan Russel komunikasi tersebut yaitu lebih khusus meliputi pesan-pesan mengenai pekerjaan, pemeliharaan, motivasi, integrasi, dan inovasi. Komunikasi mendukung struktur organisasi dan adaptasinya dengan lingkungan ( dalam Pace dan Don F, 2005:34). Untuk melihat komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi dapat digunakan tiga pendekatan yaitu pendekatan makro, mikro dan individual. Masing-masing dari pendekatan ini akan dijelaskan berikut ini: (Muhammad, 2007: 74-80) 1. Pendekatan makro, dalam pendekatan makro organisasi dipandang sebagai suatu struktur global yang berinteraksi dengan lingkungannya. Dlam berinterkasi ini organisasi melakukan aktivitas tetentu seperti memproses informasi dari lingkungan, mengadakan identifikasi, melakukan integrasi dan menentukan tujuan organisasi. 2. Pendekatan mikro, pendekatan ini terutama memfokuskan kepada komunikasi dalam unit dan subunit pada suatu organisasi. Komunikasi yang diperlukan pada tingkat ini adalah komunikasi antara anggota kelompok, komunikasi untuk pemberian orientasi dan latihan, komunikasi untuk melibatkan anggota kelompok dalam tugas kelompok, komunikasi untuk menjaga iklim komunikasi, komunikasi dalam mensupervisi dan pengarahan pekerjaan dan komunikasi untuk mengetahui rasa kepuasan kerja dalam organisasi. 3. Pendekatan Individual, pendekatan ini berpusat pada tingkah laku komunikasi individual dalam organisasi. Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada kedua pendekatan yang terdahulu akhirnya diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama lainnya. Komunikasi individual ini ada beberapa bentuknya di antaranya berbicara dalam kelompok kerja,
Universitas Sumatera Utara
mengunjungi dan berinteraksi dalam rapat, menulis dan mengonsep surat, memperdebatkan suatu usulan dan sebagainya. Melalui pendekatan komunikasi organisasi, interaksi yang terjadi di dalam sebuah organisasi dapat dilhat. Maka komunikasi merupakan unsur penting bagi ekstensi organisasi khususnya dalam komunikasi kelompok antar anggota kelompok dalam membahas tugas kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. I.5.2) Format Interaksi Komunikasi Organisasi Komunikasi organisasi terjadi di dalam organisasi maupun antar organisasi, bersifat formal maupun informal. Semakin bersifat formal, semakin terstruktur pesan yang disampaikan. Komunikasi formal adalah komunikasi menurut struktur organisasi: komunikasi ke atas, ke bawah, maupun horizontal. Sedangkan komunikasi informal adalah yang terjadi di luar struktur organisasi. Karenanya, komunikasi organisasi melibatkan komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi, komunikasi intrapribadi dan terkadang komunikasi publik juga muncul di dalamnya (Vardiansyah, 2004:32-33). Berdasarkan jumlah interaksi yang terjadi dalam komunikasi organisasi, komunikasi tersebut dapat dibedakan atas 3 kategori yaitu: 1. Komunikasi Interpersonal Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Komunikasi interpersonal yang efektif telah lama dikenal sebagai salah satu dasar untuk berhasilnya suatu organisasi. Karena itu adalah perlu bagi seorang pimpinan untuk mengetahui konsep-konsep dasar dari komunikasi agar dapat membantu dalam mengelola organisasi dengan efektif. 2. Komunikasi Kelompok Kecil Menurut Shaw (1976) ada enam cara untuk mengidentifikasi suatu kelompok. Berdasarkan hal itu kita dapat mengatakan bahwa komunikasi kelompok kecil adalah suatu kumpulan individu yang dapat mempengaruhi satu sama lain, memperoleh beberapa kepuasan satu sama lain, berinteraksi untuk beberapa tujuan, mengambil peranan, terikat satu sama lain dan berkomunikasi tatap muka. Jika salah satu dari komponen
Universitas Sumatera Utara
ini hilangindividu yang terikat tidaklah berkomunikasi dalam kelompok kecil. 3. Komunikasi Publik Yang dimaksud dengan komunikasi publik adalah pertukaran pesan dengan sejumlah orang yang berada dalam organisasi atau yang di luar organisasi, secara tatap muka atau melalui media. Tetapi dalam bagian ini yang akan dibicarakan hanyalah kontak tatap muka di antara organisasi dan lingkungan eksternalnya dan di antara satu orang anggota organisasi dengan sejumlah besar anggota organisasi yang sama. Brooks menguraikan tipe komunikasi publik ini sebagai monological karena hanya seorang yang biasanya terlibat dalam mengirimkan pesan kepada publik (Muhammad, 2007: 159-197). I.5.3) Komunikasi Kelompok Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Mulyana, 2005: 74). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Untuk memperoleh kejelasan mengenai pengertian kelompok ditinjau dari komunikasi baiklah terlebih dahulu dikalsifikasikan kelompok itu menjadi dua jenis, yakni kelompok kecil (small group, micro group) dan kelompok besar (large group, macro group). Perkataan kecil dan besar dalam pengertian itu bukan saja menunjukkan kecilnya atau besarnya jumlah orang yang bersama-sama berkumpul di suatu tempat, melainkan faktor psikologi yang mengikat mereka. Menurut Robert F. Bales dalam bukunya Interaction Process Analysis mendefenisikan kelompok kecil sebagai : “Sejumlah orang yang terlibat dalam interaksi satu sama lain dalam suatu pertemuan yang bersifat tatap muka (face to face meeting) dimana setiap anggota mendapat kesan atau penglihatan antara satu sama lainnya yang cukup kentara, sehingga dia baik pada saat timbul pertanyaan maupun sesudahnya dapat memberikan tanggapan kepada masing-masing sebagai perorangan”.
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan defenisi di atas sejumlah orang dalam situasi seperti itu harus berada dalam kesatuan psikologi dan interaksi. Situasi dalam kelompok besar, misalnya sekumpulan orang banyak di sebuah lapangan yang sedang mendengarkan pidato berlainan dengan situasi dalam kelompok kecil. Mereka yang berkumpul di lapangan tadi bersifat crowd oriented. Ditinjau dari ilmu komunikasi kontak pribadi antara orang yang sedang pidato sebagai komunikator dan khalayak sebagai komunikan jauh lebih kurang dibandingkan demgan dalam situasi kelompok kecil. Anggota besar apabila memberikan tanggapan, sifatnya emosional. Oleh karena itu, komunikasi merupakan hal yang penting bagi kegiatan kelompok, apakah itu suatu pembicaraan tanpa akhir dalam rapat panitia, percakapan akrab antara dua teman, atau pertemuan keluarga untuk merencanakan liburan akhir minggu (Sears, 1985:109). Komunikasi kelompok adalah suatu bidang studi, penelitian dan terapan yang tidak menitikberatkan perhatiannya pada proses kelompok secara umum, tetapi pada tingkah laku individu dalam diskusi kelompok tatap muka yang kecil (Goldberg, 1985: 6). Michael Burgoon mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggotaanggota yang lain secara tepat (dalam Wiryanto, 2005:56). Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
Universitas Sumatera Utara
Dalam komunikasi kelompok, komunikator relatif mengenal komunikan, dan demikian juga antarkomunikan. Komunikasi kelompok sering kita temui dalam keluarga, tetangga, teman dan kerabat atau kelompok diskusi. Komunikasi kelompok dapat terjadi di dalam kelompok dan juga antarkelompok. Dengan demikian, komunikasi kelompok biasanya merujuk pada komunikasi yang dilakukan kelompok kecil tersebut (small group communication). Komunikasi kelompok dengan sendirinya melibatkan juga komunikasi antarpribadi, sehingga teori komunikasi antarpribadi juga berlaku disini. I.5.4) Komunikasi Kelompok Kecil Komunikasi kelompok kecil (small/micro group communication) ialah komunikasi yang ditujukan kepada kognisi komunikan dan prosesnya berlangsung secara dialogis. Dalam komunikasi kelompok kecil komunikator menunjukan pesannya kepada benak atau fikiran komunikan, misalnya kuliah, ceramah, rapat dsb. Oleh sebab itu logika sangat berperan penting, komunikan akan dapat menilai logis tindakannya uraian komunikator. Ciri komunikasi kelompok kecil antara lain prosesanya berlangsung secara dialogis, tidak linear melainkan sirkular, umpan balik (feed back) terjadi secara verbal dan komunikan dapat menanggapi uraian komunikator, bisa bertanya jika tidak mengerti, dan dapat menyanggah jika tidak setuju. Dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak jenis komunikasi kelompok kecil antara lain, seperti telah disinggung di atas: rapat (rapat kerja, rapat pimpinan, rapat minggon) kuliah, ceramah, brifing, penataran, lokakarya, diskusi panel,
forum,
simposium,
seminar,
konferensi
kongres,
curah
saran
(brainstorming) dan lain-lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
Universitas Sumatera Utara
komunikasi kelompok kecil, di antaranya adalah variabel yang berhubungan dengan input kelompok dan proses transformasi kelompok. Muhammad (2007:188-195) menyebutkan beberapa di antara faktor kunci tersebut sebagai berikut ini: a. Peranan berdasarkan fungsi. Brune dan Sheats merinci tugas dalam komunikasi kelompok yang berkenaan dengan tugas-tugas dan pemeliharaan. b. Kepemimpinan. c. Jaringan dan ekologi kelompok. d. Pemecahan Masalah dan Pembuatan Keputusan. e. Kepatuhan akan norma kelompok. f. Konflik. g. Besar kelompok.
I.5.5) Motivasi Motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidak seimbangan. Motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapi. Para ahli manajemen sepakat bahwa motivasi adalah serangkaian upaya untuk mempengaruhi tingkah laku orang lain dengan mengetahui terlebih dahulu tentang apa yang membuat seseorang bergerak (Wahjono, 2009:79). Namun seseorang bergerak itu bergerak karena dua sebab yaitu kemampuan (ability) dan motivasi. Kemampuan dipengaruhi oleh kebiasaan yang diperoleh dari pengalaman, pendidikan, dan pelatihan, serta dari gerak refleks secara biologis dan psikologi yang menjadi kodrat manusia. Lalu di mana letak motivasi itu. Menurut Landy dan Becker (dalam Wahjono, 2009:79) mempetakan dengan jelas letak motivasi di antara reflex dan kebiasaan seperti dalam gambar berikut:
Universitas Sumatera Utara
Gambar 1 Motivasi dalam Rentang Tingkah Laku Fokus dari teori motivasi Refleks Dapat Dipengaruhi
Kebiasaan
Sumber: Wahjono, 2010: hal.80
Oleh karena itu yang menggambarkan daerah perilaku manusia mana yang dipengaruhi atau diubah, sehingga daerah itulah yang difokuskan sebagai daerah pemotivasian. Menilik dari gambar diatas, sebenarnya daerah yang dapat dimotivasi adalah lebih luas daripada daerah refleks dan daerah kebiasaan. Ini menunjukkan begitu besarnya potensi pemotivasian. I.5.6) Motivasi Kerja Motivasi mempersoalkan bagaiman caranya mendorong gairah kerja bawahan, agar mampu bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk mengwujudkan tujuan perusahaan. Motivasi kerja adalah dorongan yang muncul pada diri individu untuk secara sadar melakukan pekerjaan yang dihadapi (Danim, 2004:23). Senada dengan pernyataan Ernest J. McCormick (Mangkunegara, 2005:94) dalam hubungannya dengan lingkungan kerja mengemukakan bahwa “Work motivation is defined as conditions which influence the arousal, direction and maintenance of behaviors relevant in work setting. Yang artinya bahwa “Motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja”.
Universitas Sumatera Utara
Pada dasarnya motivasi individu dalam bekerja dapat memacu karyawan untuk bekerja keras sehingga dapat mencapai kebutuhan mereka. Untuk membicarakan kebutuhan-kebutuhan yang mempunyai kekuatan yang tinggi pada saat tertentu bagi seseorang. Abraham Maslow telah mengembangkan suatu konsep teori motivasi yang dikenal dengan hirarki kebutuhan (hierarchy of needs). Menurut Maslow, nampaknya ada semacam hirarki yang mengatur dengan sendirinya kebutuhan-kebutuhan manusia ini (Thoha, 1996:193). Dalam proses pemenuhan kebutuhan, perilaku individu akan didominasi dan ditentukan oleh jenis kebutuhan yang belum terpenuhi. Perilaku pada dasarnya dimotivasi oleh suatu keinginan mrncapai tujuan. Kebutuhan yang telah terpenuhi akan berkurang dalam kekuatannya dan biasanya tidak memotivasi individu tersebut untuk mencari tujuan guna memenuhinya. Menurut Maslow, kebutuhan manusia dalam organisasi terdiri dari lima macam kebutuhan yang tingkatannya digambarkan sebagai berikut: Gambar 2 Hierarki Kebutuhan dari Maslow
Sumber : Handoko,2003. hlm.258.
Universitas Sumatera Utara
Marihot Tua Efendi Hariandja (2005:325-327) secara lebih jelas mengemukakan mengenai kelima tingkat kebutuhan tersebut, yaitu: 1. Kebutuhan fisik (physiological needs). Kebutuhan ini berkaitan dengan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk dapat mempertahankan diri sebagai makhluk hidup, seperti kebutuhan untuk makanan, minuman, pakaian, seks, dan lain-lain. Karena ini merupakan kebutuhan biologis, maka kebutuhan ini akan didahulukan pemenuhannya oleh manusia, dimana bila ini belum terpenuhi atau belum terpuaskan, maka individu tidak akan tergerak untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih tinggi. 2. Kebutuhan rasa aman (safety needs). Kebutuhan ini berkaiatan dengan kebutuhan rasa aman dari ancaman-ancaman dari luar yang mungkin terjadi seperti keamanan dari ancaman orang lain, ancaman alam, atau ancaman bahwa suatu saat tidak dapat bekerja karena faktor usia atau faktor lainnya. Kebutuhan ini muncul setelah kebutuhan pertama terpenuhi. 3. Kebutuhan sosial (social needs). Kebutuhan ini berkaitan dengan menjadi bagian dari orang lain, dicintai orang lain, dan menciantai orang lain. Kebutuhan ini muncul setelah kebutuhan tingkat pertama dan kedua terpenuhi. Kebutuhan ini ditandai dengan keinginan seseorang untuk menjadi bagian atau anggota dari kelompok tertentu, keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, dan keinginan membantu orang lain. 4. Kebutuhan pengakuan (esteem needs). Kebutuhan yang berkaitan tidak hanya menjadi bagian dari orang lain (masyarakat), tetapi lebih jauh dari itu, yaitu diakui/dihormati/dihargai oleh orang lain karena kemampuannya atau kekuatannya. Kebutuhan ini ditandai dengan keinginan untuk mengembangkan diri, meningkatkan kemandirian dan kebebasan. 5. Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs). Kebutuhan yang berhubungan dngan aktualisasi/penyaluran diri dalam arti kemampuan/minat/potensi diri dalam bentuk nyata dalam kehidupannya merupakan kebutuhan tingkat tertinggi dari teori Maslow. Hal ini ditandai dengan hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginannya. Selain itu Maslow tidak bermaksud, bahwa hierarki kebutuhannya itu secara langsung diterapkan dalam motivasi kerja. Pada kenyataannya dia tidak menggali aspek-aspek motivasi manusia dalam suatu organisasi, sampai pada sekitar 20 tahun setelah dia menyampaikan teori aslinya itu Douglas McGregor dalam bukunya The Human Side of Enterprise mencoba mempopulerkan teori Maslow dalam literature manajemen. Mulai saat itu hierarki kebutuhan mempunyai dampak yang menakjubkan terhadap pedekatan manajemen modern
Universitas Sumatera Utara
mengenai motivasi ini (Thoha, 1996:199). Dengan demikian hierarki kebutuhan dari Maslow dapat diubah kedalam tatanan model motivasi kerja seperti yang digambarkan sebagai berikut: Gambar 3 Hierarki Motivasi Kerja Aktualisasi Diri
Penghargaan misalnya: status, titel, simbol-simbol, promosi, perjamuan dan sebagainya
Sosial atau afiliasi misalnya: kelompok formal atau informal, menjadi ketua yayasan, ketua organisasi olahraga dan sebagainya.
Keamanan misalnya: jaminan masa pensiun, santunan kecelakaan, jaminan asuransi kesehatan dan sebagainya. Fisik misalnya: gaji, upah tunjangan, honorarium, bantuan pakaian, sewa perumahan, uang transport dan lain-lain. Sumber : Miftah Thoha. Prilaku Organisasi. 1993. hlm.200.
Melalui teori ’piramida kebutuhan manusia’, Maslow berasumsi bahwa motivasi manusia itu tumbuh dari kebutuhan manusia dan kebutuhan itu mempunyai tingkatan mulai dari kebutuhan paling dasar samapai kepada kebutuhan yang paling tinggi. Susunan kebutuhan itu ibarat sebuah piramida. Setiap orang akan berusaha memenuhi kebutuhan tersebut muali dari tingkat dasar, setelah dia puas maka manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pada tingkat berikut. Maslow menyebutkan kebutuhan-kebutuhan manusia itu sebagai basic needs yang tersusun sebagai berikut: (Liliweri, 2004:199-201).
Universitas Sumatera Utara
Tahap-1 Kebutuhan fisiologi. Pada level pertama ditunjukkan bahwa secara umum manusia ingin mempertahankan kehidupannya (sustenance), dan untuk mempertahankan kehidupan itu manusia berusaha agar kebutuhan fisiologi (makan, minum, pakaian, dan rumah, udara dan seks/reproduksi) harus dapat di penuhi. Bagaimana organisasi melihat kebutuhan manusia itu sebagai maslah karyawan? Bagaimana usaha organisasi untuk memenuhi kebutuhan dasar itu? Organisasi dapat meningkatkan pendapatan, gaji, honorarium, memberi kredit perumahan dan kendaraan bermotor, membuka koperasi simpan pinjam, dan lainlain. Menurut perkiraan Maslow dalam Thoha (1996:200), kebutuhan dihirarki paling bawah pada umumnya para pegawai dapat memenuhi dengan kepuasan di sekitar 85%. Tahap-2 Kebutuhan rasa aman. Pada kebutuhan fisiologi pada level pertama di atas sudah dipenuhi maka manusia berusaha untuk mendapatkan kebutuhan tingkat berikutnya yaitu rasa aman dan kehidupan yang stabil. Yang dimaksudkan dengan security needs adalah kebutuhan rasa aman, manusia merasa dan ingin bebas dari gangguan fisik maupun gangguan emosi orang lain. Manusia ingin agar dia merasa aman tidak hanya di tempat tinggalnya tetapi juga di akantor tempat ia bekerja. Organisasi harus dapat memberikan jaminan keamanan misalnya menyediakan tempat kerja di kantor yang aman sehingga dia tidak merasa terganggu dari lingkungan fisik atau ancaman dari teman-teman sekerja maupun pihak luar. Contoh lain, demi kepentingan rasa aman di hari tua maka organisasi merencanakan pensiunan bagi karyawan. Maslow meperkirakan orang dewasa menghendaki keamanan dan kestabilan. Tahap-3 Kebutuhan sosial. Pada level ketiga manusia membutuhkan kasih sayang, manusia merasa kalau dia merupakan mulik masyarakat atau lingkungan sosial, manusia juga ingin agar dirinya diterima dan dijadikan sebagai sahabat oleh lingkungan maupun organisasi. Organisasi dapat mefasilitasi kebutuhan itu dengan membentuk tim kerja lintas unit kerja, tim olahraga, merancang pertemuan-pertemuan bersama baik formal maupun informal, merayakan hari-hari beasar nasioanal maupun keagamaan secara bersama-sama. Maslow memperkirakan 50% orang dewasa menghendaki agar kebutuhan sosial mereka dapat dipenuhi oleh masyarakat maupun organisasi. Tahap-4 Kebutuhan harga diri. Pada tahap keempat manusia membutuhkan penghargaan dari orang lain terhadap dirinya, kita sebut kebutuhan akan harga diri (esteem needs). Memberikan penghargaan kepada orang lain dapat dilakukan melalui pengakuan atas status yang dia miliki. Dalam oragnisasi untuk menghargai harga diri para karyawan maka perlu ditetapkan status yakni posisi atau kedudukan seseorang dalam struktur organisasi. Organisasi juga dapat memberikan kesempatan kepada karyawan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan, atau mempercayakan seseorang untuk memangku sebuah jabatan tertentu. Itulah status yang diberikan oleh organisasi, dan jika perlu status itu lengkap dengan sebutan untuk jabatan tertentu (direktur, kepala, ketua, supervisors, deputi, dan lain-lain). Maslow memperkirakan 40% orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain terhadap harkat dan martabat dirinya. Tahap-5 Kebutuhan aktualisasi diri. Pada puncak piramida ada kebutuhan aktualisasi diri di mana setiap orang ingin agar masyarakat atau organisasi melibatkan dia secara penuh, termasuk memberikan kepercayaan kepada mereka untuk melaksanakan tugas dan fungsi tertentu. Dengan pelaksanaan tugas dan
Universitas Sumatera Utara
fungsi itu maka setiap orang akan mengaktualisasi dirinya kepada orang lain. Maslow memperkirakan 10% orang dewasa akan mengatakan bahwa mereka membutuhkan proses atau aktivitas untuk mengaktualiasikan dirinya kepada masyarakat atau organisasi.
I.6
KERANGKA KONSEP Kerangka konsep sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis
dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai serta perumusan kerangka konsep merupakan bahan yang akan menuntun dalam merumuskan hipotesis penelitian (Nawawi, 1995:40). Dalam penelitian ini ada 3 variabel yang akan diteliti, yaitu : 1. Variabel Bebas ( X ) Variabel bebas adalah sejumlah gejala dengan berbagai unsur atau faktor di dalamnya yang adanya menentukan atau mempengaruhi adanya variabel yang lain (Nawawi, 1995:56). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Komunikasi Kelompok Kecil. 2. Variabel Terikat ( Y ) Variabel terikat adalah sejumlah gejala atau faktor atau unsur yang ada atau muncul dipengaruhi atau ditentukan oleh adanya variabel bebas dan bukan karena variabel lain (Nawawi, 1995:57). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Motivasi Kerja. 3. Karakteristik Responden Karakteristik responden adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang yang dapat membedakannya dengan orang lain, seperti usia, jenis kelamin, pendidikan dan sebagainya.
Universitas Sumatera Utara
I.7
MODEL TEORITIS Variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep akan
dibentuk menjadi suatu model teoritis sebagai berikut : Gambar 4 Model Teoritis
I.8
Variabel Bebas (X)
Variabel Terikat (Y)
Komunikasi Kelompok Kecil
Motivasi Kerja
OPERASIONAL VARIABEL Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah diuraikan
diatas, maka dapat dibuat operasional variabel untuk membentuk kesatuan dan kesesuaian dalam penelitian. Adapun operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara
Tabel 1 Operasional Variabel No
Variabel Teoritis
1.
Variabel Bebas (X) Komunikasi Kelompok Kecil
Variabel Operasional a. Pertemuan ramah tamah b. Personaliti kelompok c. Kekompakan d. Komitmen terhadap tugas e. Besar kelompok f. Norma kelompok g. Saling tergantung satu sama lain
2.
Variabel Terikat (Y) Motivasi Kerja Karyawan
a. Kebutuhan fisik b. Kebutuhan rasa aman c. Kebutuhan sosial d. Kebutuhan harga diri e. Kebutuhan aktualisasi diri
3.
a. Jenis Kelamin Karakteristik Responden
b. Usia c. Lama Bekerja d. Pendidikan
Universitas Sumatera Utara
I.9
DEFENISI OPERASIONAL VARIABEL Defenisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang amat membantu
peneliti lain yang ingin menggunakan variabel yang sama (Singarimbun, 2001:46). Untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai variabel yang akan diteliti adalah sebagai berikut: 1. Komunikasi Kelompok Kecil, terdiri dari : a. Mempermudah pertemuan ramah tamah, yaitu menunjukkan bahwa bila orang bersama-sama mereka cenderung untuk berlomba. b. Personaliti kelompok adalah bila sekelompok orang datang bersama maka mereka membentuk identitas sendiri yang menjadikan personaliti kelompok. c. Kekompakan, yaitu daya tarikan anggota kelompok satu sama lain dan keinginan mereka untuk bersatu. d. Komitmen terhadap tugas. Aktivitas individu lainnya dalam kelompok yang dekat hubungannya dengan komitmen adalah motivasi. e. Besarnya kelompok kelihatannya cukup sederhana tapi besarnya kelompok itu mempunyai beberapa pencabangan penting dalam kelompok. f. Norma kelompok, adalah aturan dan pedoman yang digunakan oleh sekelompok itu sendiri, maupun beberapa faktor eksternal di luar kelompok. g. Saling bergantung satu sama lain. Yang paling penting adalah anggota kelompok tergantung satu sama lain untuk beberapa tingkatan tertentu, dan paling kurang pada seorang lainnya.
Universitas Sumatera Utara
2. Motivasi Kerja, terdiri : a. Kebutuhan fisiologi : Pada level pertama ditunjukkan bahwa secara umum manusia ingin mempertahankan kehidupannya (sustenance), dan untuk mempertahankan kehidupan itu manusia berusaha agar kebutuhan fisiologi (makan, minum, pakaian, dan rumah, udara dan seks/reproduksi) harus dapat di penuhi.
Misalnya: meningkatkan
pendapatan, gaji, honorarium, memberi kredit perumahan dan kendaraan bermotor, membuka koperasi simpan pinjam, dan lain-lain. b. Kebutuhan rasa aman: manusia merasa dan ingin bebas dari gangguan fisik maupun gangguan emosi orang lain. Misalnya menyediakan tempat kerja di kantor yang aman dan jaminan pensiunan. c. Kebutuhan sosial : manusia membutuhkan kasih sayang, manusia merasa kalau dia merupakan milik masyarakat atau lingkungan sosial, manusia juga ingin agar dirinya diterima dan dijadikan sebagai sahabat oleh lingkungan maupun organisasi. Misalnya: kebutuhan itu dengan membentuk tim kerja lintas unit kerja, tim olahraga, merancang pertemuan-pertemuan
bersama
baik
formal
maupun
informal,
merayakan hari-hari beasar nasioanal maupun keagamaan secara bersama-sama. d. Kebutuhan harga diri : manusia membutuhkan penghargaan dari orang lain terhadap dirinya, kita sebut kebutuhan akan harga diri (esteem needs). Misalnya: sebuah posisi jabatan. e. Kebutuhan aktualisasi diri : di mana setiap orang ingin agar masyarakat atau organisasi melibatkan dia secara penuh, termasuk
Universitas Sumatera Utara
memberikan kepercayaan kepada mereka untuk melaksanakan tugas dan fungsi tertentu. 3. Karakteristik Responden terdiri dari : a. Jenis Kelamin
: laki-laki atau perempuan.
b. Usia
: umur responden.
c. Pendidikan : latar belakang tingkatan sekolah terakhir responden. d. Lama berkerja
: sudah berapa lama responden bekerja.
I.10 HIPOTESIS Hipotesis ialah pernyataan atau jawaban sementara terhadap rumusan penelitian yang dikemukakan. Menurut pendapat Champion (Kriyantono, 2007:28) hipotesis dapat dikatakan
sebagai “statement of theory in testable
form”, atau “tentative statement about reality”. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis pernyataan yang menjembatani teori. Perumusan hipotesis berguna memfokuskan masalah; mengidentifikasikan data-data yang relevan yang dikumpulkan. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah : H 0 : Tidak terdapat pengaruh antara Komunikasi Kelompok Kecil dengan Motivasi Kerja karyawan PT. Oriflame Cabang Medan. H a : Terdapat pengaruh antara Komunikasi Kelompok Kecil dengan Motivasi Kerja karyawan PT. Oriflame Cabang Medan.
Universitas Sumatera Utara