Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
STRATEGI PENGELOLAAN INVESTASI BAGI INVESTOR DALAM MENGHADAPI FLUKTUASI HARGA MINYAK DUNIA Iwan Budhiarta Secretary General of Certified Wealth Managers’ Association
ABSTRAK Seringkali, masyarakat pada umumnya mempunyai pendapat dan pengertian yang keliru mengenai investasi beserta produk-produknya. Dalam setiap kegiatan investasi, dan juga kegiatan usaha lainnya, seperti usaha waralaba, jual-beli perhiasan, usaha ekspor-impor dan usaha pelayanan kesehatan, selalu mengandung ketidakpastian. Ketidakpastian yang memberikan dampak positif terhadap pelaku dan kegiatan usaha disebut kesempatan atau opportunity. Sedangkan ketidakpastian yang memberikan dampak negatif disebut resiko atau risk. Minyak dan Gas termasuk golongan Sumberdaya Alam yang Tak Terbaharui. Ketersediaan minyak dan gas di alam semakin menipis dari waktu ke waktu dan sebaliknya, permintaan dari pasar dunia meningkat dari hari ke hari. Sementara saat ini, terjadi eksploitasi besar-besaran oleh para eksplorator yang mengakibatkan gangguan terhadap kemampuan suplai minyak dunia untuk kehidupan sehari-hari. Adanya gangguan suplai minyak menimbulkan permasalahan lanjutan yang memerlukan penyesaian yang tidak mudah, tidak murah dan memerlukan kerjasama lintas sektoral. Permasalahan tersebut antara lain kenaikan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik, yang diikuti oleh naiknya harga barang-barang konsumsi pokok sehari-hari. Fluktuasi nilai tukar mata uang asing, khususnya Rupiah terhadap Dollar, menyumbang masalah tersendiri. Permintaan akan mata uang US$ yang lebih tinggi daripada mata uang Rupiah akan mengakibatkan jatuhnya nilai tukar mata uang Rupiah lebih dalam lagi. Oleh karena itu, diperlukan strategi jitu untuk meredam kerugian yang akan muncul dari akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah-Dollar. Salah satu strategi jitu tersebut adalah strategi lindung nilai (Hedging). Dengan melakukan lindung nilai, maka potensi resiko dapat diminimalisir, dan juga memberikan kepastian berusaha karena membantu pengendalian produk dan persediaan bahan baku guna memenuhi kebutuhan produsen, pengolah atau pabrikan. Kata kunci: Manajemen keuangan Investasi, fluktuasi harga minyak, prediksi keuntungan, manajemen resiko, strategi hedging, nilai tukar Rupiah dengan USDollar.
PENDAHULUAN Seringkali kita menemui di keramaian seseorang membeli suatu produk tanpa benar-benar mengerti manfaat apa yang akan didapatnya dari produk yang telah dibelinya itu. Harga yang harus ditebus pun tidak dapat dikatakan murah. Disini, efek psikologis sosioekonomi memegang peranan penting. Begitu juga dalam berinvestasi. Seringkali perusahaan pengelola keuangan, atau Fund Manager, menawarkan berbagai produk investasi yang beragam jenisnya dengan berbagai manfaat di dalamnya. Tetapi yang pasti, yang paling banyak mendapatkan manfaat dan keuntungan adalah pihak perusahaan pengelola keuangan tersebut. Jelaslah bahwa seorang investor harus teliti
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
dan berhati-hati sebelum memutuskan menggunakan jasa sebuah perusahaan pengelola keuangan. Lebih lanjut, muncul sebuah pertanyaan tentang bagaimana kita mengetahui bahwa kita benar-benar membutuhkan jasa seorang perencana keuangan atau pengelola investasi, seberapa sehat dan lancarkah arus kas yang kita miliki, seberapa banyakkah hutang yang harus kita bayar tepat waktu, pendidikan seperti apakah yang akan kita berikan kepada anak-anak kita, seberapa lama kita dapat bertahan hidup tanpa bekerja, berapa besar dana cadangan untuk pengobatan satu tahun, bagaimanakah kita mempersiapkan masa pensiun kita, dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Jika kita tidak dapat menjawab seluruh pertanyaan tersebut di atas dengan sempurna, maka kita dapat mempertimbangkan untuk menyewa jasa perencana keuangan dan pengelola investasi. Beberapa perencana keuangan profesional akan memberitahukan terlebih dahulu mengenai manfaat dan keuntungan atau kemungkinan kerugian yang akan diterima oleh kita sebagai seorang calon investor. Perencanaan Keuangan Sederhana Sesuai dengan hukum behavioral economics, tingkat kesejahteraan hidup seseorang berhubungan secara linear dengan gaya hidupnya. Semisal, semakin tinggi pendapatan seseorang, biasanya semakin besar pula jumlah pengeluarannya. Artinya, jika dikalkulasi, maka arus kas bulanan mereka selalu negatif dan tidak ada sepeser uang pun dapat ditabung. Saat ini semakin banyak masyarakat yang berpola hidup konsumtif yang tidak seimbang dengan jumlah pendapatannya. Disinilah peranan perencana keuangan memiliki arti yang penting bagi kesejahteraan hidup kita. Sebagai permulaan, adalah sebuah kondisi yang baik jika kita masih mampu menyisihkan 30-40 % dari pendapatan kita setiap bulannya. Suatu keadaan yang sulit? Sebenarnya tidak asalkan kita mempunyai komitmen terhadap rencana pengelolaan keuangan yang telah kita susun bersama dengan segenap keluarga. Kemudian, kita coba membuat daftar berbagai rencana pengeluaran rutin dalam satu bulan dan kita bandingkan dengan pendapatan kita dalam satu bulan. Jangan lupa untuk memasukkan biaya hidup, seperti kebutuhan belanja setiap hari, dan juga tagihan yang tidak datang tiap bulan seperti asuransi kendaraan. Setelah kita mendeterminasi seberapa banyak dana yang tersisa, maka kita lebih mudah untuk mengelola keuangan kita untuk tujuan selanjutnya, yaitu berinvestasi. Pengelolaan dan Strategi Investasi Bagi Individu Dengan mengetahui berbagai strategi berinvestasi maka impian untuk meraih pensiun sejahtera kemungkinan besar akan tercapai. Beberapa hal yang harus dilakukan pertama kali adalah: 1. Bergabunglah dengan lembaga pengelola dana pensiun. Lembaga ini menyediakan program tabungan yang dikombinasikan dengan investasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita. 2. Investasikan sebagian dana untuk pendidikan kita, karena pendidikan adalah investasi jangka panjang. Dengan pendidikan, kita dapat mengetahui jenis investasi yang paling cocok bagi diri kita sendiri. 3. Tetapkan komitmen dan rencana investasi reguler. Jadikanlah kegiatan menabung dan berinvestasi sebagai bagian dari rutinitas kita. Jangan membiarkan dana kita ’mengganggur’ terlalu lama, sebelum berbagai keinginan konsumtif akan muncul menggoda tujuan investasi kita, berinvestasi mulai
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-2
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
saat ini, mulai dengan dana yang kecil dan dilakukan secara reguler. Lebih lanjut, beberapa strategi investasi yang dikeluarkan oleh CWMA (Certified Wealth Managers’ Association) adalah: 1. Gunakanlah dana cadangan/dana ’parkir’ sehingga jika terjadi resiko tidak akan mempengaruhi dana operasional sehari-hari. 2. Buatlah data keuangan, seperti laporan arus kas bulanan dan budgeting, terlebih dahulu sebelum berinvestasi. 3. Kenali sifat dan karakteristik investasi kita. a. Horizon waktu: Jangka Pendek (1-3 th), Jangka Menengah (3-5 th), Jangka Panjang (<5 th) b. Alokasi Aset / Diversifikasi: Pasar Uang, Pasar Modal, Pasar Komoditi Berjangka, Pasar Fisik c. Tingkat Pengembalian yang tidak pasti dan tidak dijamin. 4. Sesuaikan tujuan investasi dengan profil resiko. a. Konservatif: tidak suka resiko, usia 50 th ke atas. b. Moderat: relatif dapat menerima resiko yang terkendali, usia 40-50 th. c. Agresif: suka mengambil resiko, usia 18-40 th. 5. Utamakan faktor Fundamental dan Teknikal, serta kesampingkan rumors /propaganda pasar. Pilihlah produk investasi yang sesuai dengan kita, dengan menganalisa terlebih dahulu manajer investasinya dan bank kustodiannya. Kriteria manajer investasi yang baik adalah: berpengalaman lebih dari 6 tahun, mengelola hampir 50% aset bersih reksadana, historikal perolehan investasi selalu di atas garis rata-rata IHSG (untuk reksadana jenis saham), didukung oleh para wakil manajer investasi yang berkualitas, jarang melakukan kesalahan investasi, apalagi melakukan tindak pidana yang sehubungan dengan kegiatan investasinya, mudah dihubungi dan mudah memperoleh informasi seputar produk reksadananya, mendapatkan pengakuan dari lembaga penilai internasional, menerbitkan buku panduan / prospektus yang mudah diperoleh dan mudah dimengerti, menyediakan jasa penasehat investasi secara cuma-cuma. 6. Memahami karakteristik produk-produk investasi yang ada. Saat ini, produk investasi yang ada di Indonesia adalah reksadana, sertifikat deposito, emas batangan, rumah atau tanah, mata uang asing, dan produk komoditas alam. 7. Melaksanakan prinsip diversifikasi investasi, sesuai dengan prinsip ’Jangan Menaruh Telur Hanya pada Satu Keranjang Saja’. Contoh, jika profil resiko termasuk moderat, dan mempunyai modal Rp 100 juta, maka lakukanlah pembagian alokasi 20% di sertifikat deposito, 30% di reksadana pasar saham, dan 50% di properti (rumah atau tanah). 8. Selalu memonitor kinerja dan hasil investasi, dengan lebih melihat pada total return portfolio-nya. 9. Melakukan review secara periodik (6 bulan sekali) terhadap portfolio investasi bersama dengan Wealth Manager atau Financial Advisor yang dapat dipercaya. Kriteria Financial Advisor atau Perencana Keuangan yang dapat dipercaya adalah: a. Sudah berpengalaman mengelola dana nasabah selama lebih dari 4 tahun dengan jumlah kekayaan minimal Rp 200 juta b. Memiliki pengetahuan luas, latar belakang pendidikan yang mendukung dan sertifikasi oleh lembaga pendidikan yang ternama dan diakui secara internasional
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-3
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
c. Memegang teguh kode etik seorang Financial Consultant secara profesional, dengan memberikan informasi sebenar-benarnya dan tidak menyembunyikan informasi yang seharusnya diterima calon klien. d. Tidak berusaha menjerumuskan seorang klien hanya untuk kepentingan pribadi semata e. Memberikan jasa analisa keuangan dan pengelolaan investasi yang berkualitas dan berfokus pada kepuasan klien Perkembangan Dunia Investasi Global di Bawah Ancaman Harga Minyak Dunia - Krisis Produksi Minyak Dunia. Seperti diketahui, minyak dan gas merupakan jenis sumber daya alam yang terbatas dan memakan waktu lama untuk proses recovery-nya. Beberapa kenyataan mengenai kemungkinan penipisan cadangan minyak sebagai sumberdaya alam terbatas, yaitu produksi bermula dari nol, produksi mencapai puncaknya dan kemudian akan menurun terus sampai cadangan minyak mendekati batas yang mengkhawatirkan. Teori ini dirilis pertama kali oleh Dr. M. King Hubbert pada tahun 1950, dan telah diaplikasikan hingga kini. Dan bahkan, Dr. C. J. Campbell, di dalam bukunya yang berjudul “The Coming Oil Crisis”, dapat memprediksikan bahwa cadangan minyak akan sampai pada titik yang sangat mengkhawatirkan pada tahun 2050, yaitu empat puluh lima tahun kemudian jika dihitung mulai tahun ini (Gambar 1).
Gambar 1. Prediksi Produksi Minyak dalam 100 tahunan
Selanjutnya, Dr. Campbell menyatakan bahwa titik balik produksi minyak dunia akan terlewati pada tahun 1999. Setelah tahun ini, produksi minyak dunia akan mengalami penurunan secara bertahap. Hal tersebut bertolak belakang dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh EIA (Energy Information Administrator), bahwa sesuai dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya penindustrian dunia, konsumsi minyak dunia akan meningkat berdasarkan regional sebesar 10% setiap 10 tahun. Pada tahun 2010, diperkirakan kebutuhan total minyak dunia mencapai 100 juta barrel per hari (Gambar 2).
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-4
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
Gambar 2. International Energy Outlook, 2004
Analis energi lainnya, Dr. Jean Laherrere, staf perusahaan TOTAL, sebuah perusahaan eksplorasi minyak dunia, mengatakan bahwa puncak produksi minyak dunia akan terjadi antara tahun 2005-1010, yang kemudian akan mengalami penurunan secara bertahap untuk tahun-tahun berikutnya (Gambar 3).
Gambar 3. World’s Liquid Production
Dengan demikian, kita dapat mengambil pesan inti dari laporan-laporan analis di atas, bahwa ketersediaan minyak sebagai sumberdaya alam yang tak terbaharui dan terbatas akan memasuki tahun-tahun yang mengkhawatirkan setelah melewati tahun 2010. Sehingga, sudah tiba saatnya bagi kita untuk memikirkan penggunaan energi alternative agar terhindar dari krisis yang lebih parah. Krisis tersebut dipastikan akan mempengaruhi endi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Fluktuasi Harga Minyak Dunia Saat ini, minyak mentah dunia terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu Crude Oil dan Brent-North Sea Oil. Masing-masing memiliki spesifikasi dan karakteristik tersendiri. Terdapat beberapa hal penting yang mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia, yaitu kondisi ekonomi, politik dan keamanan global, isu lingkungan, isu terorisme, peperangan antar-bangsa penghasil minyak, dan isu-isu yang melekat pada Negara-negara penghasil minyak dunia. Hingga kini, harga minyak mentah dunia diperkirakan masih berada dalam teritori negatif atau berpotensi besar untuk melemah kembali. Rentang harga toleransi minyak mentah berada pada kisaran 55.6-61.6 US$ per barrel (1 barrel = 42 gallon, 1 US$ = Rp 9820/22 Desember 2005), tepatnya untuk pasar spot NYMEX 21 Desember
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-5
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
2005 pada level 58 dollar per barrel dan pasar forward untuk pengantaran bulan Desember pada level 60 dollar per barrel. Hal tersebut dikarenakan terdapat level support pada posisi US$ 55/barrel dan US$ 57/barrel serta level resistant pada posisi US$ 61.7/barrel. Maksudnya, jika harga minyak mentah sanggup menembus level support atau resistant-nya, maka kemungkinan untuk bergerak melemah/menguat sangat besar. Dalam lima tahun ke depan, harga minyak dunia akan menyentuh level US$ 200 per barrel-nya. Tidak masuk akal? Tidak mungkin? Jawabannya: Mungkin saja terjadi. Dalam iklim dan situasi global seperti saat ini, dimana ketersediaan minyak mentah dunia semakin menipis, akan memicu gesekan kepentingan antar bangsa, yang berujung dengan konflik nasional. Aset penting perminyakan akan terganggu sehingga dapat mempengaruhi persepsi pasar akan kelangsungan stok minyak mentah dunia yang berakhir dengan respon negative pasar dan meningkatnya harga minyak mentah dunia. Analisis tersebut didukung oleh geolog senior Anders Sivertsson, Kjell Aleklett dan Colin Campbell, Uppsala University - Sweden, yang mengatakan bahwa akan terjadi kelangkaan stok minyak mentah dunia pada tahun 2010. Tetapi, sekali lagi, arah pergerakan ini hanyalah prediksi. Selebihnya, pasarlah yang menentukan. Analisis Historikal dan Teknikal Pergerakan Harga Minyak Mentah Dunia (NYMEX Crude Oil – Forward Market) Secara historikal, terjadi kenaikan harga minyak mentah dunia secara bertahap. Hingga akhir kuartal 1 dan pertengahan kuartal 2 tahun 2005 saja, telah terjadi kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar 15 poin, dari US$ 45/barrel pada bulan Februari 2005 menuju US$ 60/barrel pada bulan Juli 2005 (Gambar 4). Kemudian memasuki kuartal ke 3 tahun 2005, harga minyak mentah mulai menembus level resistance-nya menuju level US$ 70/barrel, dan level ini dicapai hanya dalam waktu dua bulan saja, yaitu pada tanggal 27 Agustus 2005. Harga tersebut merupakan harga tertinggi selama kurun waktu lima tahunan, dari tahun 2000 – 2005.
Gambar 4a. Grafik Harga Minyak Mentah periode Januari – Agustus 2005
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-6
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
Gambar 4b. Grafik Harga Minyak Mentah periode Juli – Desember 2005
Jika kita mundur sejenak ke tahun 2002, di sepanjang tahun telah terjadi kenaikan sebesar 88,9 %. Pada awal kuartal I – 2002 terjadi konsolidasi harga di kisaran US$ 18-22 /barrel. Memasuki kuartal II – 2002, harga mengalami kenaikan hingga mencapai US$ 29/barrel dan kemudian terkoreksi tetapi tidak cukup signifikan,yang pada akhirnya membuat konsolidasi harga baru di kisaran US$ 24-28 /barrel. Hal yang sama juga terjadi di akhir kuartal II – 2002. Memasuki kuartal III- 2002, harga minyak mentah dunia mengalami koreksi sebesar 8 basis poin setelah mengukir nilai puncak pada posisi US$ 32 /barrel. Ternyata, pada akhir tahun, aksi para korporasi kakap yang memborong minyak dalam jumlah besar dan ulah para spekulan yang mempermainkan harga cukup membuat pasar bergejolak. Harga menjadi naik secara signifikan hingga mampu menembus level US$ 32 dan bertengger di posisi US$ 34 /barrel (Gambar 5). Satu tahun berikutnya, tahun 2003, harga minyak mampu mengukir nilai puncaknya pada kuartal I, yaitu pada posisi US$ 38-40/barrel. Tetapi, ternyata harga tinggi tersebut kurang signifikan, para investor/pedagang dan spekulan merealisasikan untung, sehingga mengalami koreksi harga dan membentuk konsolidasi harga bawah di kisaran US$ 24/barrel. Kemudian, sepanjang tahun, selama kuartal II dan III, harga minyak mentah dunia selalu berfluktuasi di kisaran harga US$ 27-34/barrel (Gambar 6). Memasuki kuartal I tahun 2004, harga minyak tanah berada di level support-nya pada US$ 32-34/barrel. Di akhir kuartal I dan memasuki kuartal II, harga minyak mentah menuju titik tertinggi di tahun 2003, yaitu US$ 40/barrel yang merupakan level resistant, dan berhasil menembus sehingga membuat puncak baru di US$ 42/barrel. Harga minyak kembali menembus harga tertinggi yang telah dibuat pada kuartal II, dan memasuki kuartal III membuat harga konsolidasi di posisi US$ 48/barrel. Ternyata, pasar merespon dengan cepat, para investor/pedagang merealisasikan untung, sehingga harga sempat terkoreksi di kisaran US$ 42/barrel untuk kemudian berbalik arah ke atas lagi. Posisi ini merupakan level support yang cukup kuat untuk melanjutkan pergerakan selanjutnya. Pada kuartal III, tepatnya bulan Oktober 2004, harga minyak kembali menembus angka tertingginya dan berada pada posisi US$ 55/barrel. Sekali lagi, para investor dan spekulan mengambil untung dengan menjual minyak secara besar-besaran. Harga minyak terkoreksi ke bawah karena pasar kelebihan stok. (Gambar 7). Dampak Fluktuasi Harga Minyak Mentah Dunia terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Harga minyak dunia yang bertengger di sekitar US$ 60 per barrel ini, jika terus bertahan hingga tahun depan, maka ekonomi dunia diperkirakan bakal terpengaruh
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-7
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
hebat. Membubungnya harga minyak menimbulkan kekhawatiran baru akan munculnya fenomena perlambatan ekonomi dan meningkatnya inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum) di Kawasan Asia. Besar kecilnya dampak yang ditimbulkan tergantung lama harga minyak akan bertahan pada level itu. Bunga Siap Terbang Bersama BBM Tingginya permintaan minyak mentah dunia berakibat pada terangkatnya harga pasar spot. Pada akhir tahun 2005, diperkirakan harga minyak mentah dunia akan bergerak di kisaran US$ 60-65 per barrel (Gambar 8). Bila pemerintah merealisasikan kenaikan harga BBM pada tahun depan, tingkat suku bunga pasti akan ikut melonjak. Akibatnya, sektor riil akan terbebani bunga kredit yang semakin mencekik leher. Ekonom Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri, memperkirakan, suku bunga Bank Indonesia (BI rate) pada triwulan I 2006 bisa mencapai 13,5%. Selain faktor kenaikan suku bunga Federal Reserved (The Fed), suku bunga internasional diperkirakan juga akan naik hingga 5% tahun depan dari rata-rata 3,8% tahun ini. Hal ini akan berimbas secara langsung pada perekonomian Indonesia (Gambar 9). Bunga Kredit Kembali ke Level 20% Jika Bank Indonesia tidak menaikkan suku bunganya lagi, rupiah akan mengalami tekanan dan melemah. Beberapa hari yang lalu, rupiah sempat turun lagi karena tidak adanya underlying transaction yang membuat rupiah menguat, kecuali meningkatnya persediaan cadangan devisa (Gambar 10). Dengan angka itu pun, BI tetap akan sulit mempertahankan bunga SBI di tingkat 13,5% seperti sekarang ini. Soalnya, tingkat suku bunga yang berada di bawah laju inflasi akan menyebabkan terjadinya penarikan dana besar-besaran. Idealnya, suku bunga SBI berada setengah hingga satu persen di atas inflasi. Nah, jika mengikuti asumsi ini, berarti suku bunga SBI akan mencapai 14%. Seperti biasa, kalau suku bunga SBI naik, hal itu akan diikuti kenaikan suku bunga perbankan pada umumnya. Secara teoretis, apabila bank dapat meningkatkan efisiensi, kenaikan suku bunga SBI tidak otomatis diikuti oleh kenaikan suku bunga kredit. Jika nasabah menilai suku bunga yang diberikan bank terlalu kecil dibandingkan inflasi, nasabah tadi akan menarik tabungan dan depositonya dari bank. Maka, agar dana pihak ketiga tidak lari, bank harus menaikkan suku bunga tabungan dan deposito agar—setidaknya—mendekati tingkat inflasi. Bila ini terjadi, suku bunga kredit biasanya juga ikut naik. Dan jika suku bunga kredit ikut melambung, maka akan semakin banyak kasus kredit macet yang terjadi. Perkembangan industri kembali tertekan dan pertumbuhan ekonomi nasional akan di bawah 6% seperti yang diperkirakan saat ini.. Posisi modal perbankan lambat laun akan makin tergerus hingga posisi negatif. Dengan masih tingginya nilai inflasi yang akan mengerek sukubunga BI di kisaran atas, maka akan membuat para penduduk Indonesia lebih berhati-hati dalam membelanjakan kekayaannya dan cenderung lebih memilih untuk menggunakan kekayaannya untuk kebutuhan hidup yang sifatnya jangka pendek, seperti kebutuhan sandang, pangan dan produk turunannya. Kebijakan Pemerintah Indonesia yang tertuang dalam Inpres No 10/2005 tentang hemat energi dinilai kontraproduktif terhadap kebijakan lainnya, yakni upaya mempercepat pertumbuhan investasi. Kebijakan ini hanyalah suatu upaya untuk meraih simpati masyarakat tanpa memperhitungkan
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-8
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
dampak yangakan terjadi selanjutnya. Kebijakan itu dikhawatirkan akan membatasi kapasitas produksi, sehingga investor akan segan menambah investasi. Manajemen Resiko Investasi Strategi Lindung Nilai (Hedging - Doing nothing to manage risk is in itself a risky move). Dalam setiap kegiatan perdagangan, selain mengharapkan keuntungan, pengusaha juga dihadapkan kepada resiko kerugian yang selalu melekat dalam kegiatan usahanya. Resiko tersebut umumnya sebagai akibat perubahan harga barang, perubahan kurs mata uang, suku bunga, inflasi dan lain sebagainya. Untuk melindungi pengusaha dari resiko tersebut, salah satu cara adalah melalui lindung nilai (hedging). Dengan melakukan lindung nilai, resiko tersebut dapat dialihkan (transfer of risk) kepada investor yang mengharapkan keuntungan dari perubahan harga di pasar. Pasar yang dimaksud adalah bursa berjangka.Lindung nilai adalah suatu kegiatan pengambilan posisi di bursa berjangka yang berlawanan dengan posisinya di pasar fisik. Dengan mengambil posisi yang berlawanan antara bursa berjangka dan pasar fisik, maka kerugian yang timbul akibat adanya fluktuasi harga di pasar fisik dapat dikurangi dengan keuntungan yang diperoleh di bursa berjangka, atau sebaliknya. Lindung nilai bukan kegiatan yang bersifat spekulasi, karena untuk melakukannya dibutuhkan pengetahuan yang memadai dan perhitungan yang cermat.
Gambar 5. Pergerakan Historikal Harga Minyak Mentah – 2002
Gambar 6. Pergerakan Historikal Harga Minyak Mentah – 2003
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-9
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
Gambar 7. Pergerakan Historikal Harga Minyak Mentah – 2004
Gambar 8. Pergerakan Harga Minyak Mentah Dunia Periode Juli – Desember 2005
Jenis Lindung Nilai, ada dua macam yaitu: a. Lindung Nilai jual (selling hedge) Lindung Nilai Jual adalah mengambil posisi jual bursa berjangka dengan tujuan untuk melindungi dari kemungkinan penurunan harga komoditi yang akan dihasilkan atau dimilikinya, seperti hasil panen. Lindung Nilai Jual umumnya dilakukan oleh kalangan produsen, termasuk petani. Cara ini dinamakan selling hedge karena tindakan yang dilakukan di bursa berjangka adalah menjual, sehingga kemungkinan kerugian yang diakibatkan oleh turun harga di pasar fisik dapat dikompensasi dengan keuntungan dari kontrak jual di bursa berjangka. b. Lindung Nilai Beli (buying hedge) Lindung Nilai Beli (buying hedge) adalah mengambil posisi beli di bursa berjangka untuk melindungi naiknya harga komoditi yang dibeli di pasar fisik. ini dinamakan buying hedge karena cara pertama dilakukan adalah membeli, sehingga kerugian di panen fisik dapat diimbangi dengan keuntungan kontrak di bursa berjangka. Buying hedge umumnya dilakukan oleh kalangan eksportir, prosesor, pemakai bahan baku seperti pabrikan, dan lain sebagainya, guna menjaga kestabilan dan kontinuitas pasokan atau persediaannya. Mereka membutuhkan bahan baku secara berkesinambungan pada harga yang wajar. Akan tetapi, pada saatnya harus melakukan pembelian bahan baku di pasar fisik mereka sering menghadapi ketidakpastian harga dari bahan baku yang diperlukan. Manfaat Lindung Nilai. Strategi Lindung nilai memberikan manfaat karena: a. Lindung nilai merupakan sarana untuk mengurangi atau meminimalkan resiko akibat perubahan harga, b. Memberikan kepastian berusaha karena membantu pengendalian produk dan persediaan bahan baku guna memenuhi kebutuhan produsen, pengolah atau pabrikan. c. Memberikan peluang bagi bank untuk menyediakan dana yang lebih besar karena lebih ISBN : 979-99735-1-1 A-24-10
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
terjamin. Pada umumnya bank hanya menyediakan dana sekitar 50% untuk komoditi/persediaan yang dijaminkan tanpa dilindung-nilai, sementara untuk komoditi/persediaan yang dilindung-nilaikan akan mendapat kredit pinjaman dana sekitar 80% - 90% dari nilai yang dijaminkan. Aplikasi Lindung Nilai: Studi Kasus Pertamina sebagai Net-Importir Minyak Mentah Dunia. Lindung nilai di bursa berjangka yang dilakukan oleh importir, pemakai bahan baku, seperti pengolah atau fabrikan (manufacturer), adalah sebagai usaha untuk mengurangi seminimal mungkin resiko yang ditimbulkan oleh kemungkinan naiknya harga, atau yang sering disebut dengan lindung nilai beli (buying hedge). Lindung nilai beli umumnya dilakukan oleh para pemakai atau yang memerlukan bahan baku sepanjang tahun karena mereka secara teratur harus membeli komoditi/bahan baku di pasar fisik, dalam kasus ini Pertamina sebagai pembeli minyak mentah dunia. Pertamina khawatir adanya kemungkinan fluktuasi harga bahan baku yang diperlukan. Untuk itu, Pertamina harus melakukan lindung nilai (hedging), guna memperkecil resiko yang diakibatkan oleh fluktuasi harga, yang merupakan salah satu faktor yang berada di luar kekuasaannya. Dibawah ini diuraikan studi kasus mengenai tindakan lindung nilai beli serta kemungkinan-kemungkinan yang dihadapi. Misalkan saja, Pertamina menerima pesanan dari Pemerintah Indonesia untuk mengapalkan 1000 ton minyak mentah untuk stok 2 bulan yang akan datang. Untuk melindungi dirinya dari kemungkinan kenaikan harga sawit di pasar fisik, Pertamina harus melakukan lindung-nilai. Pada lindung nilai beli dapat terjadi 4 kemungkinan situasi yang akan dihadapi, yaitu: Skenario 1: Penurunan Harga di Pasar Fisik dan Bursa Berjangka. Dalam hal ini Pertamina tetap tidak memperoleh keuntungan atau kerugian selama basisnya tetap, karena keuntungan yang diperolehnya dari pasar fisik akan diimbangi dengan kerugian di bursa berjangka sehingga secara keseluruhan tetap tidak berubah. Sebagai gambaran dapat dilihat ilustrasi dibawah ini: (1 lot = 4 ton) Pasar Fisik 10 Juli 2005: Harga minyak mentah tercatat US$56/barrel
Pasar Berjangka 10 Juli 2005 Beli 250 lot untuk Sept' 2005, pada harga US$60/barrel
Basis Net Profit/Loss US$ 4/barrel untuk Sept’ 2005
10 Agustus 2005: Beli 1000 ton pada harga US$ 52/barrel Untung US$ 4/barrel
10 Agustus 2005 Jual 250 lot untuk Sept' 2005, pada harga US$ 56/barrel Rugi US$ 4/barrel
US$ 4/barrel untuk Sept’ 2005 Tidak Berubah
Gambar 9. Grafik Pergerakan Suku Bunga Bank Indonesia Jangka Waktu 3 bulanan– 2005
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-11
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
Gambar 10. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah – Dollar hingga Minggu Pertama Bulan Desember 2005 Skenario 2: Harga naik di Pasar Fisik dan Bursa Berjangka. Kemungkinan kedua adalah naiknya harga, baik di pasar fisik maupun di bursa berjangka. Dalam hal ini basis tetap atau tidak berubah. Akibat dari kenaikan harga tersebut maka posisi Pertamina adalah sebagai berikut: Pasar Fisik
Pasar Berjangka
Basis Net Profit/Loss
10 Juli 2005 Harga minyak mentah tercatat US$ 59/barrel 10 Agustus 2005 Beli 1000 ton pada harga US$ 61/barrel Selisih Rugi US$ 2/barrel
10 Juli 2005 Beli 250 lot untuk Sept’ 2005, pada harga US$ 61/barrel 10 Agustus 2005 Jual 50 lot untuk Sept' 2005 pada harga US$ 63/barrel Untung US$ 2/barrel
US$ 2/barrel untuk Sept’ 2005 US$ 2/barrel untuk Sept’ 2005 Tidak Berubah
Skenario 3: Harga di Pasar Fisik naik - harga di Bursa Berjangka turun. Fenomena ini disebabkan oleh pasar yang over demand. Apabila kenyataan tersebut terjadi, keadaan ini memberikan kerugian dua kali lipat bagi Pertamina, karena harga di pasar fisik semakin mahal (Pertamina harus menyediakan dana tambahan) dan harga yang diharapkan naik di pasar berjangka ternyata turun. Pasar Fisik 10 Juli 2005 Harga minyak mentah pada US$ 58/barrel 10 Agustus 2005 Beli 1000 ton pada harga US$ 59/MT Selisih Rugi US$ 1/barrel
Pasar Berjangka 10 Juli 2005 Beli 250 lot untuk Sept’ 2005 pada harga US$ 60/barrel 10 Agustus 2005 Jual 250 lot untuk Sept’ 2005, pada harga US$ 57/barrel Rugi US$ 3/barrel
Basis Net Profit/Loss US$ 2/barrel untuk Sept’ 2005 US$ 2/barrel untuk Sept’2005 Tidak Berubah
Skenario 4: Harga di Pasar Fisik turun - harga di Bursa Berjangka naik. Situasi ini menggambarkan fenomena over supply dalam pasar komoditi yang bersangkutan, dimana basisnya semakin membesar yang pada akhirnya konsumen akan memperoleh keuntungan kedua pasar. Pasar Fisik 10 Juli 2005 Harga minyak mentah US$ 58/barrel 10 Agustus 2005 Beli 1000 ton pada harga US$ 54/barrel Selisih Untung US$ 4/barrel
Pasar Berjangka 10 Juli 2005 Beli 250 lot untuk Sept’ 2005 pada harga US$ 57/barrel 10 Agustus 2005 Jual 250 lot untuk Sept’ 2005 pada harga US$ 60/barrel Untung US$ 3/barrel
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-12
Basis Net Profit/Loss US$ 1/barrel untuk Sept' 2005 US$ 4/barrel untuk Sept' 2005 Basis Profit US$ 3/barrel
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi III Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006
KESIMPULAN
Untuk mengatasi kerugian akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar mata uang asing, sebaiknya perlu diterapkan strategi lindung-nilai (hedging). Strategi lindung-nilai telah terbukti dapat menimilkan resiko keuangan asalkan dilaksanakan berdasarkan pengalaman dan perhitungan yang matang. Dari keempat skenario diatas, ternyata 2 skenario pertama memberikan perlindungan nilai mutlak, 1 skenario berikutnya memberikan kerugian signifikan dan skenario terakhir memberikan keuntungan mutlak. Para pelaku lindung-nilai (hedger) dapat memperkecil kerugian yang akan diderita dengan mengambil salah satu alternatif yang tersedia.
DAFTAR PUSTAKA Cagan, Penny, 2005, Hedge Fund and Operational Risk, Fitch Risk Rating. Campbell, C.J., 1995, Oil prospects in the Middle East and the future of the oil market, Energy and Exploration, vol. 13, no. 1, Oxford Energy Forum. Danielsson, J. and Yuji Morimoto, 2000, Forecasting Extreme Financial Risk:A Critical Analysis of Practical Methods For The Japanese Market, Financial Market Group, London School of Economics. Energy Information Administration, Official Energy Statistics from the U.S. Government, 2005, International Energy Outlook - 2004, EI 30 1000 Independence Avenue, SW, Washington, DC 20585. Ercel, Gazi, 1999, Financial Risk Management, The Sixth Annual Global Finance Conference, Bilgi University, Istanbul. Haass, Richard N., 2000, Economic and Security Implications of Oil Price Increases, Statement before the Senate Committee on Governmental Affairs, Foreign Policy Studies Program, The Brookings Institution, 1775 Massachusetts Ave., NW, Washington, DC 20036. Owen, James P., 1999, HEDGE FUNDS: A CONSERVATIVE INVESTOR’S GUIDE, published by John Wiley and Sons. The Oilfield Information Source, Gulf Publishing Company, 2005, Industry at a glance: World Oil & NGL Production, 2 Greenway Plaza, Suite 1020 Houston, TX 77046. Ravindran, K (Ravi), 2001, Implementing A Hedging Strategy,
[email protected].
ISBN : 979-99735-1-1 A-24-13