1
PENGGUNAAN MODEL THINK PAIR SHARE DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA CERPEN SISWA KELAS IV SDN 1 SUWAWA KABUPATEN BONE BOLANGO RAHMI TALIBO MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO ABSTRAK Rahmi Talibo. 2014. Penggunaan Model Think Pair Share Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Cerpen siswa kelas IV SDN 1 Suwawa Kabupaten Bone Bolango. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo. Pembimbing I Dra. Ratnarti Pahrun, M.Pd, Pembimbing II Dr. Jusuf Jafar, M.Pd. Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah penggunaan model think pair share dalam meningkatkan kemampuan membaca cerpen siswa kelas IV SDN I Suwawa Kabupaten Bone Bolango dapat ditingkatkan?”Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan model think pair share dalam meningkatkan kemampuan membaca cerpen siswa kelas IV SDN I Suwawa Kabupaten Bone Bolango dapat ditingkatkan?”. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah PTK dengan menggunakan analisis data secara kualitatif yang dilakukan dalam dua siklus. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada siklus I kemampuan siswa membaca cerpen sebanyak 10 siswa atau 50%. Sedangkan siswa yang tidak mampu sebanyak 10 siswa atau 50% dan pada siklus II dengan nilai rata-rata yang dicapai oleh 20 siswa adalah 71.2. siswa yang telah mampu dalam membaca cerpen sebanyak 25 siswa atau 75% sedangkan yang tidak mampu sebanyak 5 siswa atau 25%. Dengan demikian dapat simpulkan bahwa penggunaan model think pair share dalam meningkatkan kemampuan membaca cerpen siswa kelas IV SDN 1 Suwawa Kabupaten Bone Bolango dapat meningkat. Kata Kunci : Membaca Cerpen. Model Think Pair Share. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Berdasarkan pengamatan dari observasi yang telah dilakukan dikelas IV SDN I Suwawa, kemampuan siswa dalam membaca cerpen masih rendah apabila dilihat dari hasil observasi dengan nilai siswa dalam pelajaran bahasa membaca masih dibawah standar yang ditetapkan. Dari 20 orang siswa, yang sudah mmemiliki kemampuan membaca serta memahami cerpen ada 6 orang atau 30%. Dari hasil observasi awal di kelas, siswa terlihat masih mengalami kesulitan dalam membaca cerpen, kesulitan dalam mengulang kembali bacaan yang telah diberikan dengan tidak melihat bacaan tersebut. Melalui wawancara dengan guru, guru mengaku bahwa beberapa siswa sangat jarang membaca cerpen sehingga kurang menguasai atau mengetahui isi cerita dari cerpen tersebut. Kemudian dilihat dari nilai, nilai siswa juga tergolong masih rendah dalam pelajaran membaca cerpen. Siswa cenderung 2
tidak lancar dalam menceritakan kembali bacaan atau cerita pendek yang telah dibacanya. Padahal, melalui kegiatan membaca cerpen tersebut, siswa diharapkan mampu menentukan atau mengingat kembali, hasil bacaannya. Hal ini disebabkan karena guru dalam melakukan pengajaran hanya menggunakan teknik-teknik yang umum yang biasa digunakan, misalnya ceramah. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan model think pair share dalam meningkatkan kemampuan membaca cerpen siswa kelas IV SDN I Suwawa Kabupaten Bone Bolango. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: 1. Siswa a) Kemampuan siswa dalam membaca cerpen akan lebih meningkat. b) Menumbuhkan minat dan motivasi siswa untuk berperan aktif dalam pelajaran. 2. Guru a) Dapat memberikan pengalaman langsung bagaiman guru melakukan penelitian tindakan serta mengetahui tingkat efektivitas dan keberhasilan pembelajaran. b) Dapat membantu guru dalam memilih media dan model pembelajaran yang tepat. 3.
Sekolah Sebagai bahan masukan dalam rangka penyusunan program dalam pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca cerpen di kelas IV.
4.
Peneliti Sebagai bahan referensi dalam penelitian lebih lanjut serta menambah wawasan dan pengetahuan dalam hal penelitian. Disamping itu dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi pengemabangan keilmuan terutama di bidang pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
KAJIAN TEORETIS
Pengertian Membaca Menurut Hardini dan Puspitasari (2012: 202) bahwa membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan maknadari apa yang tertulid dalam teks. Nurgiyantoro (2010:368) berpendapat bahwa “membaca merupakan aktivitas mental memahami apa yang dituturkan pihyak lain melalui sarana lisan”. Membaca merupakan suatu proses komunikasi antara 3
pembaca dan penulis dengan bahasa tulis. Hakekat membaca ini menurutnya ada tiga hal, yakni afektif, kognitif, dan bahasa. Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada pikiran, dan perilaku bahasa mengacu pada bahasa anak. Rahim (2008: 2) mengartikan membaca sebagai menerjemahkan simbol ke dalam kata-kata lisan. Namun anak-anak yang tidak memahami pentingnya belajar membaca tidak akan termotivasi untuk belajar. Belajar membaca merupakan usaha yang terus menerus, dan anak anak yang melihat tingginya nilai membaca dalam kegiatan pribadinya akan lebih giat belajar di bandingkan dengan anak anak yang tidak menemukan keuntuntungan dari kegiatan membaca. Tujuan Membaca Perlu disepakati bahwa membaca harus mempunyai tujuan. Apabila membaca tidak bertujuan, maka proses dan kegiatan membaca yang dilakukan tidak memiliki arti sama sekali. Menurut Abidin (2012: 5) ada tiga tujuan dalam pembelajaran membaca yaitu 1) memungkinakan siswa agar mampu menikamati kegiatan membaca, 2) mampu membaca dalam hati dengan keceoatan baca yang fleksibel, 3) memperoleh tingkat pemahaman yang cukup atas isi bacaan. Pengertian Cerpen Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek. Laelasari dan Nurlaila (2006: 26), berpendapat “ cerpen adalah suatu karangan pendek yang berbentuk naratif atau cerita prosa yang
mengusahkan
kehidupan
manusia
yang
penuh
perselisihan,
mengharukan,
menggembirakan. Kisahnya pendek kurang dari 10.000 kata “ menurut Parera (dalam Syahrul, 2005: 10) “ cerpen adalah cerita tertulis yang isinya hanya terdiri dari beberapa halaman saja, sehingga pembaca dapat membacanya hanya dalam beberapa waktu.” Menurut Tarigan (dalam Syahrul, 2005: 4) cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. Cerita pendek adalah rekaan yang masalahnya jelas, singkat dan padat serta berkosentrasi pada suatu peristiwa. Jadi sebuah cerita yang pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek, jika ruang lingkup dan permasalahan yang diungkapkan tidak memenuhi persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek (Suharianto dalam Septiani 2007: 62). Selanjutnya Suharianto (dalam Septiani, 2007: 16) juga menambahkan bahwa” cerita pendek adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk emnyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang”. Jadi sebuah cerita senantiasa memusatkan perhatiannya pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling 4
menonjol dan menjadi tokoh cerita pengarang, dan juga mempunyai efek tunggal, karakter, alur, dan latar yang terbatas. Cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression (pemadatan) consentrasen (pemuasatan) dan intensitif “pendalaman” yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang disyaratkan oleh panjang cerita itu. (Indrayani 2006: 19) Robert Stanton (2007: 69) berpendapat satu hal yang terpenting bahwa cerita pendek haruslah berbentuk “padat”. Jumlah kata dalam cerpen harus lebih sedikit ketimbang jumlah kata dalam novel, dalam cerpen pengarang menciptakan karakter-karakter, semesta mereka dan tindakan-tindakannya sekaligus, secara bersamaan. Umumnya, pembacaan cerpen membutuhkan waktu. Unsur intrinsik menurut Nurgiyantoro (2007: 23) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Artinya unsur intrinsik merupakan unsur pembangun sebuah cerita dari dalam, unsur yang secara faktual yang akan ditemukan oleh pembaca ketika membaca suatu karya sastra. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada diluar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Adapun unsur-unsur intrinsik yang membangun cerpen sebagai sebuah karya sastra menurut Wiyanto (2005: 84) adalah sebagai berikut: 1. Tema Tema adalah pokok pembicaraan yang mendasari cerita (Wiyanto, 2005: 87). Tiap cerita memiliki
tema
yang
berbeda-beda,
tergantung
permasalahan
yang
mendasarinya.terkadang di dalam suatu cerita terdapat lebih dari satu tema. Wiyanto (2005: 18) mengatakan, “meskipun dalam cerita ada beberapa tema, tentu ada salah satu yang dominan itulah yang merupakan tema mendasar dari cerita terssebut. 2. Plot (Alur) Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang sambung menyambung dalam sebuah cerita berdasarkan logika sebab akibat. 3. Penokohan (perwatakan) Pemberian watak pada tokoh itu dinamakan perwatakan. 4. Setting (Latar) Tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita dinamakan setting atau latar. Sudut Pandang (Titik Kisah) Sudut pandang atau titik kisah (poin of view) adalah posisi pencerita (pengarang) terhadap kisah yang diceeritakannya. 5
5. Gaya Bahasa Cara pengarang menggunakan bahasa secara khas dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan untuk menghasilkan karya sastra. Gaya bahasa dapat menimbulkan perasaan dan reaksi tertentu dalam pikiran pembaca. 6. Amanat Amanat merupakan ajaran yang ingin disampaikan pengarang melalui karya sastra (cerpen) yang ditulisnya. Amanat dapat diketahui setelah pembaca membaca suatu cerita secara keseluruhan. Ciri-ciri Cerpen Cerpen memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan karya sastra lainnya seperti roman dan novel. Cerpen adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata/kira-kira 17 halaman spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. Sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Edgar juga mengatakan ada tiga jenis yang terdapat dalam cerpen (1) cerpen yang pendek atau cerita pendek, yakni cerpen yang panjangnya berkisar 500-700 kata, (2) cerpen yang sedang, yaitu cerita yang panjangnya berkisar 750-1000 kata, dan (3) cerpen yang panjang, yakni cerpen yang panjangnya berkisar 1000-ribuan kata. Manfaat Cerpen Menurut Musfiroh (2005:38) bahwa manfaat Cerpen antara lain untuk mengasah imajinasi siswa, mengembangkan aspek sosial emosi, mengembangkan kemampuan berbahasa,
mengembangkan
aspek
moral,
mengembangkan
kesadaran
beragama,
menumbuhkan semangat berprestasi dan melatih konsentrasi siswa. Menurut Mulyana (2005:63) bahwa kategori manfaat cerpen dibagi menjadi empat, yaitu cerpen secara sosial, cerpen secara ekspresif, cerpen secara ritual dan bercerita secara instrumental. Manfaat cerpen sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa kegiatan bercerita itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat cerita yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan hubungan orang lain. Melalui kegiatan bercerita kita bekerja sama dengan anggota masyarakat untuk mencapai tujuan bersama. Manfaat kegiatan cerpen secara ekspresif yakni untuk menyampaikan perasaanperasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan tersebut terutama diceritakan melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan
6
benci dapat disampaikan lewat kata-kata, namun bisa disampaikan secara lebih ekpresif lewat perilaku nonverbal (Mulyana, 2005:64). Pengertian Think Pair Share (TPS) Model pembelajaran menurut Joice dan Weil (dalam Isjoni, 2007: 50) adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan memberi petunjuk kepada guru di kelas. Untuk memilih model yang tepat menurut Isjoni (2007: 50), maka perlu diperhatikan relevansinya dengan pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam prakteknya semua model pembelajaran bisa dikatakan baik jika memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) semakin kecil upaya yang dilakukan guru dan semakin besar aktivitas belajar siswa, maka hal itu semakin baik, 2) Semakin Sedikit waktu yang diperlukan guru untuk mengaktifkan siswa belajar juga semakin baik, 3) sesuai dengan cara belajar siswa yang dilakukan, 4) dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru, 5) tidak ada model satupun yang paling sesuai untuk segala tujuan, jenis materi, dan proses pembelajaran yang ada (Hasan dalam Isjoni, 2007: 50) Langkah-langkah Think Pair Share (TPS) Menurut Fogarty dan Robin (dalam Widarty, 2007: 14) dapat diuraikan sebagai berikut: Tahap 1 (pendahuluan) a) Guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap kegiatan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. b) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Tahap 2 (Think) a) Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstrasi b) Guru memberikan lembar kerja siswa (LKS) kepada seluruh siswa c) Siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu Tahap 3 (Pair) a) Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya b) Siswa berdiskusi dengan pasangannya mengenai jawaban tugas yang telah dikerjakan Tahap 4 (Share) satu pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh siswa di kelas dengan di pandu oleh guru Tahap 5 (Penghargaan) Siswa dinilai secara individu dan kelompok.
7
Penjelasan dari setiap langkah menurut Fogarty dan Robin (dalam Widarty, 2007: 14) sebagai berikut: a). Tahap Pendahuluan Awal pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap ini, guru juga menjelaskan aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk setiap tahap kegiatan. b). Tahap think (berfikir secara individual) Proses think pair share dimulai pada saat guru melakukan demontrasi untuk menggali knsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu (think time) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannya, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. c). Tahap Pair (berpasangan dengan teman sebangku) Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Guru menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara bersama. d). Tahap share (berbagai jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas) Pada tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perorangan atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka. e). Tahap penghargaan Siswa mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok. Nilai individu berdasarkan hasil jawaban pada tahap think, sedangkan nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap pair dan share, terutama pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap seluruh kelas. Strategi Think Pair Share dalam Membaca Cerpen di SD Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Cerpen atau cerita pendek dalam hal ini memiliki banyak penafsiran. Cerita pendek bukan ditentukan oleh banyak halaman untuk mewujudkan cerita tersebut atau banyak sedikitnya tokoh yang terdapat dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. 8
Pembelajaran tentang membaca cerpen sangat diperlukan dalam membaca sehingga seseorang dapat memeroleh informasi yang tepat. Adapun Langkah-langkah (syintaks) model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terdiri dari lima langkah, dengan tiga langkah utama sebagai ciri khas sebagai think, pair, share. Kelima tahapan pembelajaran dalam model pembelajaran koopertaif tipe think pair share dapat diuraikan sebagai berikut: a. Guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap kegiatan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. b. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. c. Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstrasi d. Guru memberikan lembar kerja siswa (LKS) kepada seluruh siswa Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model Think Pair Share dalam meningkatkan kemampuan membaca cerpen.
METODE PENELITIAN Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah PTK dengan menggunakan analisis data secara kualitatif yang dilakukan dalam dua siklus. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan Pembelajaran Pada Siklus I 1) Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran Pada Siklus I Dari hasil kemampuan siswa membaca cerpen melalui model think pair share menunjukkan bahwa: Tabel 1. Kemampuan siswa membaca cerpen melalui model think pair share No
1 2 3
Aspek yang Diamati
Tepat
Menentukan tema 4 orang Menentukan isi 4 orang cerpen Menentukan tokoh 3 orang dalam cerpen Dalam penilaian untuk aspek
Tidak Tepat 6 orang 7 orang
%
20 20
Kriteria Kurang % Tepat 10 orang 50 9 orang 45
15
8 orang
9 orang
-45
%
40
30 35
pertama yaitu menentukan tema kategori tepat ada 4
siswa atau 20%, kategori kurang tepat ada 10 siswa atau 50% dan kategori tidak tepat ada 6 siswa atau 30%. Aspek menentukan isi cerpen untuk kategori tepat ada 4 siswa atau 20%, 9
kategori kurang tepat ada 9 siswa atau 45% dan kategori tidak tepat ada 7 siswa atau 35%. Sementara aspek meentukan tokoh dalam cerpen untuk kategori tepat ada 3 siswa atau 15%, kategori kurang tepat ada 8 siswa atau 40% dan kategori tidak tepat ada 9 siswa atau 45%. 2) Hasil Pengamatan Aktivitas guru Siklus I Pengamatan terhadap aktivitas guru dilakukan selama proses pembelajaran oleh guru mitra. Adapun hasil observasi aktivitas guru pada siklus I disajikan pada tabel 2 berikut ini: Tabel 2. Hasil Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I No I 1 2 II A 3 4 5 6 B 7 8 9 10 11 12 13 14 C 15 16 17 D 18 19 E 20 21 III 22 23
Indikator / Aspek Yang Diamati Pra pembelajaran Mempersiapkan siswa untuk belajar Melakukan kegiatan apersepsi Kegiatan inti pembelajaran Penguasaan materi pembelajaran Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran Mengaitkan materi dengan pengetahuan yang lain yang relevan Menyampaikan materi dengan jelas, sesuai dengan hirarki belajar dan arakteristik siswa Mengaitkan materi dengan realita kehidupan Pendekatan/strategi pembelajaran Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa Melaksanakan pembelajaran secara runtut Menguasai kelas Melaksanakan pembelajaran dengan model think pair share Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan Menggunakan media secara efektif dan efisien Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media Pembelajaran memicu dan dan memelihara ketertiban siswa Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa Menumbuhkan keseriusan dan antusiasme dalam belajar Penilaian proses dan hasil belajar Memantau kemajuan belajar selama proses Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) Penggunaan bahasa Menggunakan bahasa lisan dan tulisan secara jelas, baik dan benar Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai PENUTUP Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa Melaksanakan tindak lanjt dengan memberikan arahan atau kegiatan atau tugas sebagai bahan remedial/pengayaan
Total Persentase
Pengamatan PI P2 √ √ √ √
√ -
√ -
√
√
√
√
√ -
√ -
√ √ √ √
√ √ √ √
√
√
√ √
√ √
√ √
√ √
√ √
√ √
18 78,26 %
18 78,26%
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas guru selama proses pembelajaran, ada beberapa aspek yang kurang maksimal dilaksanakan oleh guru antara lain: (1) tidak mengaitkan materi dengan pengetahuan yang relevan; (2) penyampaian materi kurang jelas; (3) penguasaan kelas masih kurang; (4) menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam 10
pembelajaran masih kurang; (5) menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa belum nampak. Tahap Analisis dan Refleksi Setelah dilaksanakan proses pembelajaran pada siklus I ternyata hasil kemampuan membaca cerpen yang dicapai oleh siswa belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Adapun hal-hal yang mempengaruhi proses pelaksanaan tindakan siklus I yaitu; 1) guru belum mengetahui karakter siswa sehingga pembelajaran belum beralan secara optimal, 2) model yang digunakan oleh guru sudah cukup baik, namun belum efektif dilakukan oleh siswa, 3) siswa belum memahami cara membaca dengan intonasi, pelafalan yang baik. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tindakan yang dilaksanakan pada siklus I sudah cukup baik, namun belum memenuhi indikator yang diharapkan dalam penelitian sehingga perlu dilanjtkan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan Pembelajaran pada siklus II 1) Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa Siklus II Dari hasil penilaian kemampuan siswa membaca cerpen menunjukkan bahwa : Tabel 3. Kemampuan siswa membaca cerpen melalui model think pair share No
1 2 3
Aspek yang Diamati Menentukan tema Menentukan isi cerpen Menentukan tokoh dalam cerpen
Tepat
%
7 orang 7 orang
35 35
Kriteria Kurang % Tepat 9 orang 45 10 orang 50
5 orang
25
11 orang
55
Tidak Tepat 4 orang 3 orang
%
4 orang
-20
20 15
Dalam penilaian untuk aspek menentukan tema kategori tepat ada 7 siswa atau 35%, kategori kurang tepat ada 9 siswa atau 45% dan kategori tidak tepat ada 4 siswa atau 20%. Aspek menentukan isi cerpenuntuk kategori tepat ada 7 siswa atau 35%, kategori kurang tepat ada 10 siswa atau 50% dan kategori tidak tepat ada 3 siswa atau 15%. Sementara aspek menentukan tokoh dalam cerpen untuk kategori tepat ada 5 siswa atau 25%, kategori kurang tepat ada 11 siswa atau 55% dan kategori tidak tepat ada 4 siswa atau 20%. Dari data tersebut, maka pelaksanaan tindakan pada siklus II telah mencapai indikator yang ditetapkan yaitu 70 dengan ketuntasan secara klasikal 75%. Dengan demikian pelaksanaan tindakan tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.
11
2) Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus II Kegiatan guru dalam proses pembelajaran siklus II diamati dan dinilai dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Adapun hasil yang telah dicapai pada observasi aktivitas guru pada siklus II disajikan pada tabel 4 yang terdapat pada halaman berikut ini: Tabel 4. Hasil Pengamatan Aktivitas Guru II No I 1 2 II A 3 4 5 6 B 7 8 9 10 11 12 13 14 C 15 16 17 D 18 19 E 20 21 III 22 23
Indikator / Aspek Yang Diamati Pra pembelajaran Mempersiapkan siswa untuk belajar Melakukan kegiatan apersepsi Kegiatan inti pembelajaran Penguasaan materi pembelajaran Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran Mengaitkan materi dengan pengetahuan yang lain yang relevan Menyampaikan materi dengan jelas, sesuai dengan hirarki belajar dan arakteristik siswa Mengaitkan materi dengan realita kehidupan Pendekatan/strategi pembelajaran Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa Melaksanakan pembelajaran secara runtut Menguasai kelas Melaksanakan pembelajaran dengan model think pair share Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan Menggunakan media secara efektif dan efisien Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media Pembelajaran memicu dan dan memelihara ketertiban siswa Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa Menumbuhkan keseriusan dan antusiasme dalam belajar Penilaian proses dan hasil belajar Memantau kemajuan belajar selama proses Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi Penggunaan bahasa Menggunakan bahasa lisan dan tulisan secara jelas Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai PENUTUP Melakukan refleksi atau membuat rangkuman Melaksanakan tindak lanjt dengan memberikan arahan atau kegiatan atau tugas sebagai bahan remedial/pengayaan Total Persentase
Pengamatan PI P2 √ √ √ √
√ √ √
√ √ √
√
√
√
√
√ √ √ √ √ √ √
√ √ √ √ √ √ √
√ √
√ √
√ √
√ √
√ √
√ √
√ √
√ √
22 95,65 %
22 95,65 %
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaksanakan oleh guru mitra dengan memperhatikan data hasil kegiatan belajar pada siklus II sebagaimana tercantum dalam tabel 4.6 tersebut, menunjukkan bahwa pengelolaan pembelajaran yang dilaksanakan guru telah mengalami peningkatan dengan persentase 95.65%, sehingga pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak perlu dilanjutkan kesiklus berikutnya.
12
Tahap Analisis dan Refleksi Pembelajaran yang dilakukan pada siklus II merupakan tindakan perbaikan dari pembelajaran siklus I. dari hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam membaca cerpen mengalami peningkatan yang signifikan dan sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan, sehingga pelaksanaan tindakan tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya. Kemampuan siswa pada siklus II telah mengalami peningkatan dari siklus I. Nilai rata-rata pada siklus II mencapai 71,2, yang semula pada siklus I hanya 60,05. Dengan demikian perbaikan yang dilakukan pada siklus II sangat bermanfaat dan bepengaruh terhadapkemampuan siswa dalam membaca cerpen. Siswa lebih konsentrasi pada pelajaran sehingga kemampuan siswa menjadi lebih meningkat. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa sudah berkurang. Penjelasan dari peneliti juga sudah dapat dipahami dengan baik. Keaktifan siswa dikelas juga meningkat, meskipun masih ditemukan siswa yang kurang aktif, tetapi perilakusiswa sudah lebih baik dari siklus I. pada saat membaca cerpen, siswa terlihat sangat antusias.
Pembahasan Berdasarkan data hasil penilaian pada siklus I dan II dapat diketahui bahwa kemampuan siswa dalam membaca cerpen melalui model think pair share dapat meningkat dengan persentase 30% pada observasi awal, 50% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 75%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model think pair share sangat efektif untuk diterapkan dalam materi membaca cerpen.Secara umum hasil penilaian kemampuan siswa dalam membaca cerpenpada siswa kelas IV SDN Suwawa terlihat dari hasil observasi awal, siswa yang telah memiliki kemampuan membaca cerpen ada 6 orang atau 30%, siklus I terjadi peningkatan menjadi 10 orang atau 50%, dan pada siklus II menjadi 15 orang atau 75%. Mencermati temuan pelaksanaan tindakan yang diperoleh melalui siklus I dan siklus II, maka terlihat adanya peningkatan kemampuan siswa pada pembelajaran membaca cerpen melalui model think pair share. Hal ini terlihat pada semua aspek baik dalam aktivitas guru maupun aktivitas siswa dalam proses pembelajaran pada kompetensi membaca cerpen telah mengalami peningkatan. Jika dikaji lebih lanjut bahwa peningkatan kemampuan siswa ini erat kaitannya dengan model yang digunakan guru dalam pembelajaran. Dalam konteks ini penggunaan model think pair share dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Dari hasil yang dicapai pada siklus II maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan yang 13
menyatakan bahwa: “Jika guru menggunakan model think pair share, maka kemampuan siswa membaca cerpen di kelas IV SDN 1 Suwawa akan meningkat”, dapat diterima.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Kemampuan membaca cerpen siswa kelas IV SDN I Suwawa Kabupaten Bone Bolango setelah mengikuti pembelajaran melalui model think pair share mengalami peningkatan. Peningkatan ini dapat dilhat dari hasil tes dan kemampuan membaca pada siklus satu dan siklus II. Nilai rata-rata pada siklus I sebesar 60.05. pada siklus II nilai rata-rata sebesar 71.2. dengan adanya peningkatan nilai tersebut berarti menunjukkan bahwa pembelajaran membaca cerpen melalui model think pair share pada siswa kelas IV SDN V I Suwawa dapat berhasil dengan optimal dan telah mencapai indikator yang ditetapkan. 2. Setelah pelaksanaan pembelajaran membaca cerpen melalui model think pair share pada siswa kelas IV SDN V I Suwawa mengalami perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan yang terjadi, yaitu: siswa merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran dengan menggunakan model think pair share. Sebagian besar siswa sangat antusias dalam membaca cerpen. Siswa membacakan kemabali teks cerpen dengan penuh konsentrasi dan sungguh-sungguh. Siswa sangat serius dalam menjawab pertanyaan serta memiliki keberanian dalam membaca cerpen di depan kelas.
Saran Saran yang dapat Diberikan penulis berdasarkan pada simpulan hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut; 1. Guru hendaknya menerapkan model think pair share dalam pembelajaran membaca cerpen untuk menumbuhkan motivasi dan semangat siswa dalam pembelajaran membaca. 2. Pembelajaran melalui model think pair share dijadikan alternatif bagi guru untuk membelajarkan membaca khususnya membaca cerpen, karena telah terbukti bahwa model think pair share mampu meningkatkan kemampuan siswa dan mampu mengubah perilaku siswa kea rah lebih baik. 3. Peneliti lain hendaknya termotivasi untuk melengkapi peelitian dengan menggunakan model pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan kemampuan membaca cerpen pada siswa.
14
4. Praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dapat menggunakan penelitian ini sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian yang lain dengan model pembelajaran yang berbeda sehingga didapatkan berbagai alternative model pembelajaran dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Membaca Berbasis Karakter. Bandung: Refika Aditama Depdiknas. 2004. Materi Dasar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Pusat-Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas Effendi, Anwar. 2006. Peningkatan Keterampilan Bercerita. Bandung: Sinar Baru Aglesindo Fatimah. 2008. Bercerita. Diakses dari http:www.pengertian_bercerita.co.id download tanggal 21 Januari 2013 Hardini Isriani dan Puspitasari Dewi. 2012. Strategi Pembelajaran Terpadu. Yogyakarta: Familia. Isjoni, 2007. Cooperatif Learning (Efektifitas Pembelajaran Kelompok). Pekanbaru: Alfabeta Laelasari dan nurlaila. 2006. Kamus Istilah Sastra. Bandung: Nuansa Aulia Muda A.K Ahmad. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indinesia. Reality Publisher. Mulyana, Deddy. 2005. Bahasa dan Sastra. Bandung: Remaja Rosda Karya Mulyati, Yati. 2007. Keterampilan Berbahasa Indoensia di SD.Jakarta: Universitas terbuka. Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Penilaian Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: BPFE. Rahim Farida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta: Rajawali Pers. Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajagrafindo. Suparno dan Yunus Mohamad, 2007. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka. Syahrul, N. 2005. Pembelajaran Membaca Pemahaman Cerpen Dengan Menggunakan Metode Cooperative Learning di MA Muslimin Saguling (Skripsi) Bandung: STKIP Fakultas Ilmu Pendidikan 15
Virdhrianty. A. 2012. Pengertian prosa (online). Tersedia: www//blogspot.com (diakses tanggal 10 Maret 2013 Widarti, A. 2007. Efektifitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-PairShare Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segi Empat Pada Siswa Kelas Vii Semester 2. [Online]. Tersedia: http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/cgi-bin/library. [14 september 2009] Reskiyanti 2012. Think pair share.[online]. Tersedia: Www.Broward 12.fl.us/Ci/Whatsnew/strategies and such/strategies/thinkpairshare.htlm Diakses tanggal 2 November 2012 Indra. Anwar. 2012. Prosa (online) tersedia: www. Blogspot.com/2012/htm. (diakses tanggal 13 Februari 2013)
16