BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil Uji Validatas dan Reliabilitas Alat Ukur Dalam membuat item pernyataan kuesioner, peneliti terlebih dahulu melakukan uji item pernyataan atau try out dengan uji validitas dan uji reliabilitas kepada 30 karyawan ritel di PT. Wellcomm Ritelindo Pratama atau peneliti mengujikan alat ukur penelitian ini kepada karyawan ritel perusahaan yang sama dengan tempat penelitian ini berlangsung. Teknik yang digunakan dalam pengujian ini yaitu regresi antar skor item dengan skor total. Koefisien yang kurang dari 0,30 menunjukan pernyataan tidak valid. Suatu butir pernyataan dapat dikatakan valid jika nilai (r) hitung yang merupakan hasil output Corrected Item-Total Correlation lebih besar dari (r) tabel (DF = N-2 dan α= 5%) berarti butir pernyataan telah valid. Sedangkan dalam uji reliabilitas ini menurut (Priyatno, dalam Dinata 2010) Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Yohanes (dalam Dinata 2010) menjelaskan tingkat reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach diukur berdasarkan skala 0-1. Apabila skala tersebut dikelompokkan kedalam lima kelas dengan range yang sama, maka ukuran kemantapan alpha dapat di interpretasikan dengan tabel 4.3.
Tabel 4.3 Tingkat Reliabilitas berdasarkan nilai Alpha Alpha Tingkat Reliabilitas Kurang Reliabel › 0,00 – 0,20 Agak Reliabel › 0,20 – 0,40 Cukup Reliabel › 0,40 – 0,60 Reliabel › 0,60 – 0,80 Sangat Reliabel › 0,80 – 1,00
4.1.1. Uji Variabel Pelatihan Pada tabel 4.3 Case Prossesing Summary. Berikut hasil uji validitas dan reliabilitas Pelatihan. 1. Pada tabel Reliability Statistics di dapatkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,783 berarti jika dilihat pada tabel 4.2 tentang tingkat reliabilitas maka nilai alpha pada variabel Pelatihan dalam kategori reliabel yaitu berada pada tingkat › 0,60 – 0,80 menunjukkan reliabel. 2. Pada Item dikatakan valid (sahih) apabila nilainya > 0,30 , maka ada 15 item yang valid dari 25 item untuk megukur Pelatihan pada karyawan PT. Wellcomm Ritelindo Pratama.
4.1.2. Variabel Kinerja 1.
Pada tabel Reliability Statistics didapatkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,816 berarti jika dilihat pada tabel 4.2 tentang tingkat reliabilitas maka nilai alpha pada variabel kinerja dalam kategori reliabel berada pada tingkat >0,80 – 1,00 menunjukkan sangat reliabel.
2.
Pada Item dikatakan valid (sahih) apabila nilainya > 0,30 , maka ada 14 item yang valid dari 20 item untuk megukur Kinerja
pada karyawan ritel PT.
Wellcomm Ritelindo Pratama.
4.1.3. Analisis Faktor Variabel Kinerja
Dimensi Kinerja Faktor 1 (α = 0, 838) Keterampilan Dalam Menjual
Factor Eigen % Loading Value Variance Mean
Saya selalu mencapai target yang di tetapkan perusahaan
.957
Saya selalu berusaha untuk mencapai target perusahaan
.957
Tidak banyak produk yang dapat saya jelaskan kepada konsumen
.741
Saya selalu datang tepat waktu
.567
Faktor 2 (α = 0,607) Penguasaan Produk
Saya selalu dapat menjelaskan setiap produk yang diinginkan konsumen Menurut saya pencapaian target perusahaan bukanlah tanggung jawab karyawan. Faktor 3 (α = 0,621) Profesionalisme kerja Saya selalu menyelesaikan setiap pekerjaan dengan tepat waktu Saya selalu mengikuti semua peraturan yang di berikan perusahaan. Rekan kerja saya selalu membantu apabila saya merasa kesulitan dalam bekerja
SD
4.352
31.086 40.02
3.33
2.021
14.432
7.85
1.29
1.571
11.224 12.55
1.13
.714 .659
.798
.695 .681
Nilai keseluruhan 40 (α =
.746)
Berdasarkan hasil hitung pada analisis faktor terhadap variabel kinerja, maka dapat di ketahui bahwa kuesioner kinerja terbagi menjadi 3 faktor atau 3 dimensi yang dapat di deskripsikan sebagai berikut : a. Faktor 1 memiliki nilai Alpha Cronbach sebesar 0.838, Mean= 40.02, dan SD= 3.33, dimana pada faktor 1 ini terdiri dari 4 item yaitu; 1. Saya selalu mencapai target yang di tetapkan perusahaan. Item tersebut memiliki nilai 0.957. 2. Saya selalu berusaha untuk mencapai target perusahaan, Item tersebut memiliki nilai 0.957. 3. Tidak banyak produk yang dapat saya jelaskan kepada konsumen, Item tersebut memiliki nilai 0.741. 4. Saya selalu datang tepat waktu, Item tersebut memiliki nilai 0.567. b. Faktor 2 memiliki nilai Alpha Cronbach sebesar 0.607, Mean= 7.85, dan SD= 1.29, dimana pada faktor 2 ini terdiri dari 2 item yaitu ; 1. Saya selalu dapat menjelaskan setiap produk yang diinginkan konsumen, Item tersebut memiliki nilai 0.714. 2. Menurut saya pencapaian target perusahaan bukanlah tanggung jawab karyawan, Item tersebut memiliki nilai 0.659. c. Faktor 3 memiliki nilai Alpha Cronbach sebesar 0.621, Mean= 12.55, dan SD= 1.13, dimana pada faktor 3 ini terdiri dari 3 item yaitu ; 1. Saya selalu menyelesaikan setiap pekerjaan dengan tepat waktu, Item tersebut memiliki nilai 0.798. 2. Saya selalu mengikuti semua peraturan yang di berikan perusahaan, Item tersebut memiliki nilai 0.695. 3. Rekan kerja saya selalu membantu apabila saya merasa kesulitan dalam bekerja, Item tersebut memiliki nilai 0.681. Maka nilai keseluruhan pada reliabilitas Alpha Cronbach yaitu 0,746 pada kuesioner kinerja berdasarkan 40 responden. Dimensi yang memiliki nilai Alpha Cronbach tertinggi yaitu pada Faktor 1 = 0.838, sedangkan Item yang memiliki nilai tertinggi yaitu Item 1 pada Faktor 1 = 0.957.
4.2
Analisis Deskripsi Analisis deskripsi bertujuan untuk mengetahui gambaran frekuensi statistik yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi
4.2.1. Analisa Deskripsi Kategori Pelatihan Berdasarkan analisa deskripsi kategorisasi pelatihan dapat dilihat bahwa sebagian besar pelatihan pada karyawan ritel PT Wellcomm Ritelindo Pratama berada pada kategori rendah sebanyak 19 orang dengan (47.5%), sedangkan karyawan yang berada pada kategori sedang sebanyak 15 orang (37.5%) dan pada kategori tinggi sebanyak 6 orang (15.0%).
4.2.2 Analisa Deskripsi Kategori Kinerja Berdasarkan dapat dilihat bahwa kinerja penjualan karyawan ritel PT. Wellcomm Ritelindo Pratama berada pada kategori sedang sebanyak 21 orang dengan 52.5%, sedangkan karyawan yang berada pada kategori rendah sebanyak 4 orang (10.0%) dan pada kategori tinggi sebanyak 15 orang (37.5%).
4.3.
Uji normalitas Uji normalitas adalah uji untuk mengukur apakah data kita memiliki berdistribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik (statistik inferensial). dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi > 0,05. Pada
nilai Asymp. Sig. adalah 0.680 > 0,05, maka data tersebut dikatakan berdistribusi normal. 4.4.
Hasil Uji Hipotesa Pada hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi 0,000. Pada ketentuannya jika nilai sig<0,05 maka Ho di tolak. Hasil signifikansi menggunakan SPSS 22, nilai signifikansi tersebut 0,000 < 0,05 ini mengartikan bahwa ada pengaruh Pelatihan terhadap Kinerja penjualan barang- barang gadget ada karyawan ritel PT. Wellcomm Ritelindo Pratama.
4.5.
Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian Pengaruh Pelatihan Terhadap Kinerja Penjualan Barang- Barang Gadget Pada Karyawan Ritel PT. Wellcomm Ritelindo Pratama Wilayah Jakarta dan Tangerang dengan penelitian sebelumnya yaitu Pengaruh Pelatihan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan CV HARAGON SURABAYA yang di lakukan oleh Leonardo Agusta dari Universitas Kristen Petra Surabaya. Dalam penelitian sebelumnya yang di lakukan oleh Agusta (2012) mendapatkan hasil kesimpulan : pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada CV Haragon Surabaya. Dengan demikian maka H0 ditolak dan Ha diterima. Begitupun dengan penelitian yang di lakukan saat ini melalui hasil uji regresi sederhana yaitu pelatihan memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja penjualan bagi para karyawan ritel. Kedua penelitian ini memiliki hasil yang sama, namun memiliki perbedaan dalam jumlah variabel yang di teliti, penelitian sebelumnya menggunakan tiga (3) variabel yaitu Pelatihan, Motivasi , dan Kinerja sehingga terdapat pola pengolahan data uji regresi yang berbeda. Jika penelitian sebelumnya menggunakan analisis regresi linier berganda karena terdiri dari tiga (3)
variabel, maka penelitian yang saat ini berlangsung menggunakan analisis regresi linier sederhana karena terdiri dari dua (2) variabel, namun kedua hal tersebut tidak merubah hasil dari penelitian kedua jenis penelitian tersebut. Dalam penelitian ini juga menggunakan variabel dependen Kinerja sama seperti penelitian sebelumnya, hanya saja penelitian ini menggunakan uji regresi linier sederhana karena penelitian ini hanya menggunakan dua variabel saja. Variabel Pelatihan dalam penelitian ini menggunakan Teori Belajar Sosial dari Albert Bandura, yang menyebutkan bahwa di perlukan 4 (empat) proses yang penting agar belajar melalui observasi dapat terjadi, yaitu ; Perhatian, representasi, peniruan tingkah laku, motivasi dan penguatan. Keempat hal tersebut di jadikan acuan dalam pembuatan dimensi pengukuran dalam variabel pelatihan karena keempat hal tersebut memang merupakan suatu hal yang di perlukan dalam proses belajar Kemudian dalam Variabel Kinerja, penelitian ini menggunakan aspek standar dalam pengukuran Kinerja menurut Mangkunegara (2005), yaitu ; Kuantitas kerja karyawan, Kualitas kerja karyawan, dan Perilaku kerja karyawan. Ketiga aspek tersebut merupakan indikator yang sangat efektif dalam pengukuran variabel kinerja kerja karena ketiganya memiliki unsur dimensi yang di butuhkan guna mengungkap hal- hal yang perlu di ketahui untuk meningkatkan kinerja kerja karyawan. Penelitian ini menggunakan analisis linier sederhana, selain itu penulis juga melakukan Uji Deskripsi Kategori Kinerja atau Uji Norma Harapan dan Norma Kenyataan dan Uji Regresi Sederhana. Adapun ststistik uji Norma Harapan dan Kenyataan pada variabel pelatihan kerja dan kinerja yang di pakai dengan menggunakan SPSS versi 20.0, di peroleh hasil nilai statistik sebagai berikut : Berdasarkan deskripsi kategori pelatihan dapat dilihat bahwa sebagian besar pelatihan pada karyawan ritel PT Wellcomm Ritelindo Pratama berada pada kategori rendah
sebanyak 19 orang dengan (47.5%), sedangkan karyawan yang berada pada kategori sedang sebanyak 15 orang (37.5%) dan pada kategori tinggi sebanyak 6 orang (15.0%). Hal ini berarti sebagian besar karyawan tidak memahami pentingnya suatu pelatihan bagi karyawan, di lihat pada kategorisasi tinggi hanya mendapatkan presentase sebesar 15.00% saja. Berdasarkan deskripsi kategori kinerja
dapat dilihat bahwa kinerja penjualan
karyawan ritel PT. Wellcomm Ritelindo Pratama berada pada kategori sedang sebanyak 21 orang dengan 52.5%, sedangkan karyawan yang berada pada kategori rendah sebanyak 4 orang (10.0%) dan pada kategori tinggi sebanyak 15 orang (37.5%). Hal tersebut dapat di lihat bahwa kontribusi karyawan terhadap kinerja berada pada kategori sedang yang berarti bahwa karyawan kurang memahami pentingnya peningkatan kinerja dalam menjalankan suatu tugas pekerjaan. Hal ini berarti dalam penelitian ini kinerja sangat di pengaruhi oleh pelatihan, dimana adanya suatu peningkatan kinerja karyawan seiring meningkatnya kualitas serta minat karyawan akan pelatihan yang di terimanya.