33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pada penelitian ini, berat badan setiap ekor mencit ditimbang dari mulai tahap persiapan sampai akhir perlakuan. Selama penggemukan mencit diberi pakan berlemak tinggi selama satu minggu. Data berat badan sebelum dan sesudah penggemukan dapat dilihat pada Tabel 4.1, berikut ini : Tabel 4.1 Data Berat Badan Mencit Kadar Pektin
0% 5% 10 % 15 % 20 %
Sebelum Penggemukan (g) (A)
Setelah Penggemukan (g) (B)
29,49 ± 0,76 30,49 ± 1,27 29,32 ± 0,54 30,69 ± 0,81 30,39 ± 0,83
32,07 ± 1,31 32,85 ± 1,31 33,23 ± 1,09 33,21 ± 0,64 33,23 ± 0,81
B-A
2,58 2,36 3,91 2,52 2,84
Setelah Pemberian Pektin (g) (C)
C-B
34,48 ± 0,90c 2,41 30,42 ± 2,05b -2,43 27,29 ± 1,22a -5,94 30,34 ± 3,43b -2,87 33,35 ± 1,52c 0,12
Berat badan mencit sesudah penggemukan (Tabel 4.1), menunjukkan peningkatan setelah pemberian pakan berlemak tinggi. Hal tersebut dapat dilihat pada kolom B-A yang menunjukkan selisih data rata-rata berat badan sebelum dan sesudah pemberian pakan berlemak. Selanjutnya mencit diberi perlakuan dengan larutan pektin selama satu minggu. Pada tahap perlakuan ini, berat badan mencit ditimbang dalam selang waktu dua hari sekali. Selama pemberian pektin, mencit tetap diberi pakan berlemak tinggi dan minum seperti pada tahap sebelumnya. Berat badan 25 ekor mencit pada hari
34
terakhir pemberian pektin kemudian dihitung rata-ratanya. Hasil rata-rata berat badan mencit setelah pemberian pektin selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 pada kolom C. Data rata-rata berat badan setelah pemberian pektin (C) pada Tabel 4.1 selanjutnya diolah dengan analisis statistik menggunakan SPSS 12. Tahap pengolahan data dimulai dengan uji homogenitas dengan menggunakan uji Leven’s. Tabel 4.2 Hasil Uji Homogenitas Data Rata-Rata Berat Badan Akhir Mencit Kelompok Hipotesis Pengambilan Keputusan Keputusan Jika nilai signifikansi H0 Kontrol dan H0 : data homogen diterima, hitung > 0.05, maka perlakuan karena nilai sig. H0 diterima H1 : data tidak hitung 0.138 > homogen sig. α 0.05 Jika nilai signifikansi hitung < 0.05, maka H0 ditolak
Hasil uji tersebut menunjukkan tidak terdapat perbedaan variansi berat badan mencit pada masing-masing perlakuan atau dengan kata lain data rata-rata berat badan mencit homogen. Hasil uji homogenitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.3. Uji selanjutnya adalah uji normalitas menggunakan uji KolmogorovSmirnov. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 4.3, dan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.1. Uji normalitas data berat badan menunjukkan bahwa data tersebut berdistribusi normal, dikuatkan dengan nilai signifikansi hitung yang dimiliki lebih besar dibandingkan dengan signifikansi α, 0.277 > 0.05, maka Ho diterima.
35
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Data Rata-Rata Berat Badan Akhir Mencit Kelompok
Hipotesis
Kontrol dan H0 : data perlakuan terdistribusi normal H1 : data tidak terdistribusi normal
Pengambilan Keputusan Keputusan Jika nilai signifikansi H0 diterima, karena nilai sig. hitung > 0.05, maka H0 diterima hitung 0.277 > sig. α 0.05 Jika nilai signifikansi hitung < 0.05, maka H0 ditolak
Uji yang digunakan selanjutnya adalah uji ANOVA. Tujuan dari uji tersebut adalah untuk mengetahui perbedaan rata-rata dari data berat badan mencit. Tabel 4.4 Hasil Uji one-way ANOVA Data Rata-Rata Berat Badan Akhir Mencit Kelompok
Hipotesis
Pengambilan Keputusan Keputusan Kontrol dan H0 : data rata-rata Jika nilai signifikansi H0 ditolak, perlakuan berat badan mencit hitung > 0.05, maka karena nilai sig. antar kelompok uji H0 diterima hitung 0.000 < tidak berbeda sig. α 0.05 secara signifikan Jika nilai signifikansi hitung < 0.05, maka H1 : data rata-rata H0 ditolak berat badan mencit antar kelompok uji berbeda secara signifikan
Berdasarkan hasil uji tersebut dapat diketahui bahwa pada data pengaruh pektin kulit jeruk bali terhadap berat badan menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata berat badan mencit dengan didukung oleh nilai signifikansi hitung kurang dari signifikansi α pada taraf nyata 5%. Artinya terdapat pengaruh yang nyata dari
36
pemberian pektin kulit jeruk Bali terhadap berat badan mencit. Hasil uji ANOVA selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.5. Pengaruh pemberian konsentrasi pektin yang berbeda terhadap berat badan mencit dapat digambarkan pula dalam bentuk grafik (Gambar 4.1 ). Berdasarkan gambar tersebut, dapat dilihat bahwa jika dibandingkan dengan kontrol, rata-rata berat badan mencit setelah pemberian pektin mengalami penurunan. Penurunan yang paling signifikan ditunjukkan pada hasil pemberian pektin dengan kadar 10%.
35
B erat B adan Menc it (g ram)
30 25 20 15 10 5 0 0%
5%
10%
15%
20%
K adar P ektin
Gambar 4.1 Grafik Pengaruh Pektin terhadap Berat Badan Mencit
Setelah perlakuan pemberian pektin selama satu minggu, dilakukan pengambilan sampel darah mencit untuk diukur kadar kolesterol dalam darahnya. Data kadar kolesterol darah mencit dapat dilihat pada Tabel 4.5.
37
Tabel 4.5 Data Rata-Rata Kadar Kolesterol Darah Mencit Kadar Pektin
Jumlah Mencit
0% 5% 10 % 15 % 20 %
5 5 5 5 5
Rata-rata Kadar Kolesterol (mg/dl) 151,000 ± 21,897b 135,400 ± 17,038b 109,000 ± 12,429a 128,000 ± 14,612ab 141,000 ± 15,821b
Data rata-rata kadar kolesterol darah kemudian diolah dengan analisis stastistik menggunakan SPSS 12. Data rata-rata kadar kolesterol darah mencit pada tabel di atas diuji terlebih dahulu homogenitasnya dengan menggunakan uji Leven’s. Hasil yang diperoleh menunjukkan
tidak terdapat perbedaan variansi kadar
kolesterol darah mencit pada masing-masing perlakuan atau dengan kata lain data kadar kolesterol mencit homogen. Hal ini didukunng dengan nilai signifikansi hitung > signifikansi α (0.05), yaitu 0,514 > 0,05 maka Ho diterima. Hasil uji homogenitas kadar kolesterol darah mencit dapat dilihat pada tabel berikut ini dan selengkapnya disajikan dalam Lampiran 4.4 : Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Data Rata-Rata Kadar Kolesterol Darah Mencit Kelompok
Hipotesis
Kontrol dan H0 : data homogen perlakuan H1 : data tidak homogen
Pengambilan Keputusan Keputusan Jika nilai signifikansi H0 diterima, hitung > 0.05, maka karena nilai sig. H0 diterima hitung 0.514 > sig. α 0.05 Jika nilai signifikansi hitung < 0.05, maka H0 ditolak
38
Uji selanjutnya adalah uji normalitas menggunakan uji KolmogorovSmirnov. Hasil uji normalitas kadar kolesterol darah mencit dapat dilihat pada Tabel 4.7 dan selengkapnya disajikan dalam Lampiran 4.2. Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Data Rata-Rata Kadar Kolesterol Darah Mencit Kelompok
Hipotesis
Kontrol dan H0 : data perlakuan terdistribusi normal H1 : data tidak terdistribusi normal
Pengambilan Keputusan Keputusan Jika nilai signifikansi H0 diterima, hitung > 0.05, maka karena nilai sig. H0 diterima hitung 0.995 > sig. α 0.05 Jika nilai signifikansi hitung < 0.05, maka H0 ditolak
Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa kadar kolesterol darah mencit berdistribusi normal dan dikuatkan dengan nilai signifikansi hitung > signifikansi α yaitu 0.995 > 0.05 maka Ho diterima. Uji yang digunakan selanjutnya adalah uji ANOVA. Berdasarkan hasil uji ANOVA dapat diketahui bahwa pada data pengaruh pektin kulit jeruk bali terhadap kadar kolesterol darah mencit menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata kadar kolesterol darah mencit berdasarkan variasi kadar pektin, dengan kata lain terdapat pengaruh yang nyata dari pemberian pektin kulit jeruk bali terhadap kadar kolesterol darah mencit. Hal tersebut dikuatkan dengan nilai signifikansi hitung < sig.α pada taraf nyata 5% yaitu 0.009 (sig. hitung) < 0.05 (sig.α). Hasil uji ANOVA data rata-rata kadar kolesterol darah mencit dapat dilihat pada Tabel 4.8, dan selengkapnya ditunjukkan dalam Lampiran 4.6.
39
Tabel 4.8 Hasil Uji one-way ANOVA Data Rata-Rata Kadar Kolesterol darah Mencit Kelompok
Hipotesis
Pengambilan Keputusan Keputusan Kontrol dan H0 : data rata-rata Jika nilai signifikansi H0 ditolak, perlakuan kadar kolesterol hitung > 0.05, maka karena nilai sig. darah mencit antar H0 diterima hitung 0.009 < kelompok uji tidak sig. α 0.05 berbeda secara Jika nilai signifikansi signifikan hitung < 0.05, maka H0 ditolak H1 : data rata-rata kadar kolesterol darah mencit antar kelompok uji berbeda secara signifikan
Pengaruh pemberian pektin dengan konsentrasi yang berbeda terhadap kadar kolesterol darah mencit dapat digambarkan dalam bentuk grafik (Gambar.4.2).
K adar K oles terol D arah Menc it (mg /dl)
160 140 120 100 80 60 40 20 0 0%
5%
10%
15%
20%
K adar P ektin
Gambar 4.2 Grafik Pengaruh Pektin Terhadap Kadar Kolesterol Darah Mencit
40
Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa jika dibandingkan dengan kontrol, rata-rata kadar kolesterol darah mencit setelah pemberian pektin mengalami penurunan. Penurunan yang paling signifikan ditunjukkan pada hasil pemberian pektin dengan kadar 10%. Data rata-rata berat badan (Tabel 4.1 kolom C) dan kadar kolesterol darah mencit (Tabel 4.5) kemudian diuji dengan menggunakan uji korelasi untuk mengetahui hubungan antara berat badan dan kadar kolestrol tersebut setelah pemberian pektin kulit jeruk bali dengan konsentrasi yang berbeda. Sebelum menggunakan uji korelasi, terlebih dahulu data diuji dengan menggunakan uji regresi. Uji regresi tersebut bertujuan untuk mengetahui linieritas antara data berat badan dan kadar kolesterol darah mencit setelah pemberian pektin kulit jeruk. Tabel 4.9 Hasil Uji Regresi Linier Data Rata-Rata Berat Badan dengan Kadar Kolesterol Darah Mencit Kelompok
Hipotesis
Pengambilan Keputusan Keputusan Kontrol dan H0 :berat badan Jika thitung < ttabel, H0 ditolak, perlakuan mencit tidak maka H0 diterima karena nilai berpengaruh thitung 7.832 > terhadap kadar Jika thitung > ttabel, 1.893 nilai ttabel. kolesterol darah maka H0 ditolak mencit H1 : berat badan mencit berpengaruh terhadap kadar kolesterol darah mencit
Hasil pengolahan data di atas menunjukkan bahwa thitung 7.832 >1.893 nilai ttabel. Hasil uji regresi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.9.
41
Hasil uji korelasi antara berat badan dengan kadar kolesterol darah mencit ditunjukkan dalam Tabel 4.10 dan selengkapnya dapat dilihat dalam Lampiran 4.10. Tabel 4.10 Hasil Uji Korelasi Data Rata-Rata Berat Badan dengan Kadar Kolesterol darah Mencit Kelompok Pengambilan Keputusan Kontrol dan rxy 0.00 sampai 0,20 memiliki keeratan yang perlakuan sangat lemah rxy 0.21 sampai 0.40 memiliki keeratan lemah rxy 0.41 sampai 0.70 memiliki keeratan kuat rxy 0.70 sampai 0.90 memiliki keeratan sangat kuat rxy 0.91 sampai 0.99 memiliki keeratan yang sangat kuat sekali rxy 1 berarti korelasi sempurna
Keputusan Korelasi berat badan dengan kadar kolesterol darah mencit memiliki keeratan sangat kuat, karena nilai koefisien korelasi sebesar 0.853.
Nilai korelasi antara berat badan dengan kadar kolesterol darah mencit adalah 0,853. Berdasarkan koefisien korelasi tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan atau korelasi positif yang tinggi atau sangat kuat antara berat badan dan kadar kolesterol darah mencit. Namun korelasi yang ditunjukkan antara berat badan dengan konsentrasi pektin adalah korelasi negatif yang lemah dengan nilai r =
-0,107, begitu juga antara kadar kolesterol darah mencit dengan
konsentrasi pektin dengan nilai r = -0,180. Uji korelasi tersebut menunjukkan bahwa pemberian kadar pektin yang tinggi, menyebabkan berat badan mencit semakin menurun demikian pula halnya dengan kadar kolesterol darah mencit.
42
B. Pembahasan Selama perlakuan pemberian pektin, mencit tetap diberi pakan berlemak tinggi. Pakan berlemak tinggi merupakan campuran dari pakan standar laboratorium dengan lemak daging sapi. Menurut USDA Nutrient Database lemak daging sapi memiliki kadar kolesterol 109 mg/100 g. Pemberian pakan tersebut dapat menaikkan berat badan mencit (Tabel 4.1 kolom B-A). Faktor periode penggemukan selama satu minggu menyebabkan peningkatan berat badan pada mencit, demikian pula pada saat pemberian pektin, mencit tetap diberi pakan berlemak. Hal tersebut dapat mempengaruhi kecepatan metabolisme dalam mencit. Menurut Guyton & Hall (1997 : 1086), obesitas berarti penimbunan lemak yang berlebihan di dalam tubuh yang disimpan dalam jaringan adiposa untuk dipakai kemudian sebagai energi. Pada beberapa jenis tikus diketahui mengalami obesitas herediter yang disebabkan salah satunya oleh mobilisasi lemak yang tidak efektif dari jaringan adiposa oleh lipase jaringan, sementara pembentukan dan penyimpanan lemak berjalan normal. Proses satu arah semacam ini menyebabkan peningkatan penyimpanan lemak secara progresif, sehingga menimbulkan obesitas yang berat (Guyton & Hall, 1997 : 1086). Pemberian pakan berlemak tinggi dapat menaikkan berat badan mencit, dikarenakan meningkatkan jumlah kalori yang tersimpan dalam jaringan lemak dan otot. Lemak merupakan penghasil kalori tertinggi, dengan kata lain, asupan lemak tinggi maka kalori yang masuk juga tinggi. Jika tidak digunakan dengan optimal, kalori yang tersisa akan disimpan dalam jaringan lemak dan otot (Ma’ruf
43
& Sarmanu, 2003 : 216). Senada dengan yang dikemukakan oleh Grande (1987 : 11), karena lemak adalah bentuk utama simpanan energi, suatu kesetimbangan energi yang positif diharapkan akan menyebabkan penambahan kadar lemak tubuh. Hal tersebut dapat dijadikan alasan terjadinya peningkatan berat badan mencit setelah pemberian pakan berlemak tinggi. Pemberian pektin kulit jeruk Bali dengan lima konsentrasi yang berbeda yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%, menunjukkan respon yang cukup berbeda terhadap berat badan maupun kadar kolesterol darah pada mencit. Pada konsentrasi 0%, yang digunakan sebagai kontrol negatif, menunjukkan rata-rata berat badan paling tinggi dengan angka 34,48 ± 0,90 gram. Angka rata-rata berat badan pada konsentrasi pektin 5%, 10%, 15% dan 20% lebih rendah jika dibandingkan dengan kontrol. Diantara semua konsentrasi yang digunakan, dosis pektin yang paling signifikan terhadap penurunan berat badan berdasarkan hasil uji Duncan adalah 10 % (Lampiran 4.7) dengan rata-rata penurunan berat badan sebesar 27,29 ± 1,22 gram. Berbeda dengan hasil penelitian dari Tiwary & Ward (1997 :423), menunjukkan dosis pektin yang efektif adalah 5%. Perbedaan dosis yang efisien untuk menurunkan berat badan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah metode yang digunakan. Salah satu metode yang sangat berbeda adalah dalam hal pemberian pektin. Pada penelitian yang dilakukan oleh Tiwary, pektin dicampur dengan jus jeruk. Di samping hal tersebut, perbedaan lain adalah objek penelitian. Tiwary langsung mengaplikasikan pada manusia, sedangkan penelitian yang dilakukan ini menggunakan hewan uji yaitu mencit.
44
Konsumsi serat dapat membantu menurunkan berat badan karena dua mekanisme yaitu menyumpal perut dan mengurangi nafsu makan serta memerangkap asam empedu sehingga mencegah penyerapan asam ini sampai batas tertentu dan juga lemak dalam makanan. Pektin merupakan serat alami yang terdapat pada tumbuhan, salah satunya adalah kulit jeruk bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemberian pektin dapat menurunkan berat badan mencit (Behall et al. 2004 :6; Marounek et al.2005 : 6). Pektin sebagai salah satu jenis serat larut yang tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan sehingga pektin akan masuk kedalam kolon. Pektin dalam keadaan utuh membutuhkan tempat yang lebih luas, sehingga menimbulkan perasaan kenyang tanpa penambahan kalori. Selain itu, pektin sebagai serat dapat menjadi penghalang alami terhadap pemasukan energi yang berlebih (Eastwood, 1987 : 207). Pektin dalam bentuk cairan akan meningkatkan kecepatan proses pengangkutan bahan makanan sisa dalam lambung. Kerja fisiologis serat (pektin) dalam usus kecil disebabkan oleh adanya pembentukan gel, daya ikat air, pertukaran kation dan sifat-sifat penyerapan bahan empedu. Serat juga dapat mempengaruhi kecepatan difusi pada permukaan serap mukosa dan mengubah penyerapan glukosa dan kolesterol. Karena adanya sifat pertukaran kation serat yang disebabkan oleh gugus karboksil bebas, mineral esensial dan bahan logam toksik akan terikat secara reversibel pada serat sehingga tidak terserap pada usus halus. Penurunan berat badan pada kadar pektin 5% tidak signifikan, karena kandungan pektin rendah sehingga tidak dapat bekerja optimum. Demikian halnya
45
juga untuk kadar pektin 15% dan 20%. Dosis yang lebih tinggi belum tentu dapat memberikan efek yang lebih baik dalam penelitian ini, hal tersebut dapat terjadi karena beberapa kemungkinan. Dugaan pertama, pada dosis yang lebih tinggi konsentrasi pektin lebih pekat agar volume pemberian tetap sama, hal tersebut mengakibatkan terjadinya kejenuhan dalam saluran pencernaan sehingga mengganggu proses pengikatan asam empedu oleh pektin. Pada konsentrasi lebih tinggi dari 10%, tingginya kadar pektin, akan semakin tinggi pula pengikatakan asam empedu. Pengikatan asam empedu yang sangat tinggi, dapat menyebabkan kebutuhan kolesterol untuk disintesis menjadi asam empedu meningkat. Sehingga kemungkinan untuk terjadinya katabolisme kolesterol dari lemak meningkat. Metabolisme lemak yang tidak sempurna akan menghasilkan kalori, dan meningkatnya asetil Co-A. Kemudian asetil Co-A akan banyak dirubah menjadi glikogen hati dan otot, atau disimpan dalam jaringan adiposa. Hal tersebut juga dapat meningkatkan massa jaringan (Guyton & Hall, 1997 : 1088). Jaringan lemak dan urat daging yang memiliki massa tinggi, memiliki suatu mekanisme untuk mempertahankan diri yang disebut dengan homoiostasis. Dalam keadaan tertentu pada titik penurunan yang optimum, jaringan tersebut tidak akan menyusut lagi, dengan kata lain berat badan tidak akan berkurang lagi. Pada satu turunan tikus, lemak mudah disimpan dalam jaringan adiposa, tetapi jumlah lipase peka hormon dalam jaringan adiposa sangat berkurang, sehingga hanya sedikit lemak yang dapat dikeluarkan. Keadaan ini yang menjadi penyebab jalur satu arah dimana lemak secara terus menerus disimpan walaupun
46
tidak pernah dilepaskan. Pada satu turunan mencit yang gemuk, terdapat kelebihan asam lemak sintetase yang menyebabkan kelebihan sintesis lemak. Oleh sebab itu, mekanisme genetik yang serupa merupakan penyebab kelebihan berat badan yang mungkin pada manusia. Individu yang mengalami hyperplasia pada sel lemaknya akan menderita obesitas. Individu yang memiliki kelebihan sel lemak dianggap memiliki pengaturan penyimpanan lemak lebih tinggi oleh mekanisme autoregulasi umpan balik neurogenik untuk pengendalian jaringan adiposa (Guyton & Hall, 1997 : 1117). Hal tersebut berlaku pula pada mencit, sehingga respon yang ditunjukkan oleh masing-masing mencit dengan pemberian pektin tidaklah sama. Hal tersebut disebabkan jumlah sel lemak didalam tubuh setiap ekor mencit juga berbeda. Pengaruh pemberian pektin dapat pula menyebabkan penurunan kadar kolesterol dalam darah mencit. Jika dibandingkan dengan semua konsentrasi yang digunakan, dosis pektin yang paling signifikan terhadap penurunan kadar kolesterol darah mencit berdasarkan uji Duncan adalah 10 % (Lampiran 4.8). Pektin yang merupakan serat mampu menurunkan kadar kolesterol darah dan berat badan pada mencit. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang mengemukakan bahwa pektin dapat mengurangi kadar kolesterol dalam darah (Wells &Benjamin, 1960; Wolthuis et al. 1980; Fernandez et al. 1994; Terpstra et al. 1998; Marounek et al. 2005). Pada penelitian lain, dikemukakan bahwa pada tikus yang diberi pakan kolesterol tinggi yang mengakibatkan kolesterol total pada plasma dan livernya meningkat dapat dinetralkan oleh pektin jeruk dan apel (Wells, 1961).
Hal ini juga sekaligus menunujukan bahwa sebenarnya tikus
47
memiliki kemampuan untuk mengubah kolesterol menjadi asam empedu karena kolesterol merupakan unsur penting dalam cairan empedu yang mampu mengemulsikan lemak semua membran, apabila berlebih kolesterol ini diubah menjadi asam empedu. Pemberian serat dengan viskositas yang tinggi lebih efektif menurunkan kolesterol daripada pemberian serat dengan viskositas yang rendah. Viskositas serat yang tinggi menyebabkan penurunan kadar kolesterol, disertai peningkatan ekskresi asam empedu dan sterol netral. Peningkatan viskositas pada lambung dan usus dapat menghindarkan lambung dari kekosongan, penurunan absorbsi nutrisi, dan bercampur dengan formasi misel. Serat dengan viskositas yang tinggi akan bercampur dengan misel-misel dan atau asam empedu. Laju difusi misel-misel yang
mengandung
kolesterol
dalam
bentuk
bolus
menurun,
sehingga
menyebabkan penyerapan kolesterol dan asam empedu turut menurun juga (Simatupang, 1997 :9). Mekanisme lain yang dimiliki serat adalah sifat amba (bulky). Ada kecenderungan serat dapat mengikat kolesterol dan langsung dibawa melewati sistem pencernaan yang selanjutnya dibuang bersama feses. Disamping itu keberadaan serat akan menghambat emulsifikasi lemak dan kolesterol oleh garam empedu, sehingga kolesterol akan terikat oleh serat yang kemudian akan dikeluarkan melalui ekskreta. Serat larut bermanfaat dalam menurunkan kadar kolesterol darah karena mempunyai kemampuan untuk mengikat asam empedu. Asam empedu merupakan hasil akhir dari metabolisme kolesterol. Semakin banyak serat yang berikatan dengan kolesterol, maka semakin banyak kolesterol
48
yang di metabolisme, sehingga pada akhirnya kadar kolesterol menurun (Simatupang, 1997 : 9-10). Upaya untuk memproduksi kembali asam empedu yang hilang, hati akan menarik kolesterol dari darah, sehingga kadar kolesterol darah akan menurun. Naiknya
kolesterol
darah
lebih
banyak
disebabkan
oleh
peningkatan
pembentukannya dalam hati yang dalam keadaan normal mencapai 500 mg/hari (Hartono, 1996 : 39). Penyebab lain adalah meningkatnya penyerapan kolesterol kembali lewat siklus enteroheaptik dari dalam usus halus. Apabila hati dapat mengurangi arus pembentukan kolesterol yang pada gilirannya diekskresikan lewat getah empedu ke dalam usus, sementara penyerapan kolesterol dalam usus dapat dihambat dengan pengikatan sebagain getah empedu, maka penyerapan kembali kolesterol di dalam usus akan berkurang sehingga kadarnya dalam darah dapat menurun (Budaarsa, 1997). Lemak merupakan penghasil kalori tertinggi diantara zat makanan lainnya. Konsumsi lemak berlebih sama halnya dengan konsumsi kalori yang tinggi. Asupan kalori yang tinggi tanpa diimbangi dengan penggunaan yang seimbang akan menyebabkan penumpukan jumlah kalori dalam tubuh. Kalori ini akan diubah menjadi asam lemak, monogliserida, kolin dan sebagainya (Linder, 1992 : 69). Pemecahan lemak ini terjadi hampir semuanya di dalam duodenum dan jejunum dengan bantuan garam empedu dan lipase pancreas dalam lingkungan pH yang optimum. Asam lemak, monogliserida, fosfat dan bahan lemak lain yang telah dicerna diserap dalam sel mukosa intestine secara difusi pasif. Garam empedu
49
yang disekresikan untuk membantu pencernaan dan penyerapan lemak akan diserap kembali pada bagian bawah saluran pencernaan. Trigliserida disekresikan kembali dalam bentuk kilomikron (Linder, 1992 : 69). Trigliserida ini yang oleh sebagian besar jaringan digunakan untuk sumber energi. Jika tidak digunakan maka trigliserida disimpan dalam jaringan lemak dan jaringan urat daging. Hubungkan antara kadar kolesterol darah dan berat badan mencit setelah pemberian pektin, ditunjukkan dengan nilai korelasi yang sangat kuat yaitu 0,853 (Lampiran 4.10). Hubungan tersebut merupakan hubungan positif yang tinggi. Hasil korelasi pada penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Miettinen (1971) yang mengemukakan adanya korelasi yang signifikan antara berat badan dan eksresi fekal dari steroid netral, asam, dan total yang mengindikasikan berat badan yang lebih besar akan lebih banyak mensintesis kolesterol. Lemak yang terdapat dalam makanan diabsorbsi dalam bentuk asam lemak, gliserol, atau gliserida. Proses lipolisis dalam jaringan adiposa menyebabkan dibebaskannya asam lemak ke dalam darah. Sebagian besar proses lipolisis ini terjadi dalam jaringan adiposa dengan disertai pelepasan asam lemak bebas ke dalam plasma, di mana asam lemak bebas tersebut ditemukan berikatan dengan albumin serum. Hal tersebut akan menyebabkan meningkatnya kadar asam lemak di dalam darah dan akan menyebabkan proses lipogenesis terhambat. Proses metabolisme asam lemak, selain menghasilkan energi, juga menghasilkan
zat antara yaitu asetil-Co-A dalam jumlah yang cukup besar
melalui beta oksidasi. Jika asam lemak banyak dimetabolisme untuk memenuhi
50
jumlah energi yang dibutuhkan tubuh maka kadar asetil-ko-A akan sangat meningkat di dalam tubuh. Keadaan ini memungkinkan terjadinya pembentukan zat-zat lain yang bahan bakunya adalah asetil-koA di antaranya adalah kolesterol serta hormon-hormon steroid, maka pada kelompok mencit dengan rata-rata-berat badan tinggi memiliki kadar kolesterol yang tinggi. Jadi kelompok mencit yang diberi perlakuan pektin, disamping mengalami penurunan berat badan juga akan mengalami penurunan kadar kolesterol. Lemak bukanlah komponen tubuh satu-satunya yang hilang atau bertambah, akan tetapi dapat pula disebabkan oleh perubahan kadar air dan protein tubuh (Guyton & Hall, 1997 : 1118). Perubahan berat badan dapat terjadi dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Menurut Grande (1987 : 15), perubahan bobot tubuh dalam jangka pendek dapat diterangkan oleh adanya perubahan kadar air tubuh. Suatu penyerapan air yang mencolok, yang sejalan dengan bertambahnya bobot tubuh, dapat disebabkan karena adanya penyimpanan glikogen dalam otot dan hati. Olsson dan Saltin (dalam Grande, 1987 : 15 ), menunjukkan bahwa suatu peningkatan kadar glikogen tubuh sebesar 500 g diikuti oleh peningkatan kadar air tubuh sebanyak 2,2 liter. Upaya penurunan berat badan dapat dilakukan dengan cara memilih makanan atau diet yang rendah kalori, meningkatkan aktivitas fisik, mengubah gaya hidup, terapi alternatif, dan sebagainya. Dalam Heinrich (2002), penurunan berat badan dengan menggunakan berbagai macam suplemen diet dapat menimbulkan efek samping tertentu bagi kesehatan individu tersebut. Di lain pihak pektin kulit jeruk bali merupakan bahan alami, dengan beberapa tahapan
51
ekstraksi, pektin tersebut dapat digunakan sebagai bahan alternatif penurun berat badan pada mencit. Akan tetapi untuk aplikasi pada manusia perlu dilakukan tinjauan lebih lanjut. Penelitian lain yang berhubungan dengan penurunan berat badan diantaranya dilakukan oleh Melin (2003) menggunakan metode very-lowcalorie diet (VLCD). Dalam metode ini 43 subjek penderita obesitas berusia 24– 60 tahun dengan Indeks Massa Tubuh 35 kg/m2. akan tetapi keberhasilan dari program ini menunjukkan hasil 26%. Berbagai obat untuk menurunkan tingkat rasa lapar telah digunakan pada pengobatan obesitas. Obat terpenting adalah amfetamin (atau derivat amfetamin), yang secara langsung menghambat pusat makan dalam otak. Akan tetapi penggunaan obat ini dapat menimbulkan bahaya karena secara bersamaan sangat merangsang sistem syaraf pusat, membuat pengkonsumsi menjadi cemas dan meningkatkan tekanan darah. Penderita akan segera beradaptasi dengan obat tersebut sehingga reduksi berat badan biasanya berlangsung tidak lebih besar dari 5 sampai 10 persen (Guyton & Hall, 1997 : 1117-1118). Manfaat penurunan berat badan diantaranya adalah dapat menurunkan tekanan darah, menurunkan kandungan gula dalam darah, menurunkan trigliserida dalam darah, dan meningkatkan HDL dalam darah. Manfaat lain yang jauh lebih besar adalah dapat menikmati kesehatan yang lebih baik, lebih percaya diri, lebih dinamis, dan mudah memilih jenis pakaian.