1
1. BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Sebagai sebuah negara besar yang sedang berkembang, konsumsi energi di
Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, termasuk konsumsi energi listrik. Berdasarkan data dari PLN (2014), rata-rata kebutuhan penggunaan listrik di Indonesia tiap tahun meningkat 7,5% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2010, 2011, dan 2012 saja penjualan listrik oleh PLN selalu mengalami peningkatan yaitu 145,7 TWh, 156,3 TWh, dan 172,2 TWh berturut-turut. Kebutuhan listrik Indonesia yang selalu meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan data dari PLN (2014) di atas menjadi tantangan bagi PLN untuk dapat
memenuhinya.
PLN
sebagai
perusahaan
penyedia
listrik
utama
mengupayakan beberapa cara untuk dapat memproduksi listrik ini, yaitu dengan mengerahkan berbagai jenis pembangkit listrik seperti PLTA, PLTB, PLTD, PLTG, PLTS, PLTU, dan lain sebagainya (PLN, 2014). Dari berbagai macam upaya tersebut, PLN mendapatkan listrik paling besar dari PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Berdasarkan data statistik dari PLN (2014), PLTU menyumbang 15.554 MW (45,47%) dari total kapasitas terpasang PLN, yaitu 34.206 MW. Untuk dapat memproduksi listrik, PLTU memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator. Dari generator inilah listrik dapat dihasilkan. Sementara itu, untuk mendapatkan uap panas sebagai penggerak turbin, PLTU membutuhkan batubara sebagai bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan air pada bagian boiler PLTU. Batubara merupakan salah satu jenis sumber daya yang paling banyak tersedia di dunia. Persediaan total dari berbagai macam batu bara yang ada mencapai 990 miliar ton atau setara dengan 150 tahun konsumsi global (BGR, 2009). Jumlah yang besar ini pun didukung dengan sifat batubara yang merupakan bahan bakar yang siap guna. Selain itu, batubara juga dapat ditemukan di berbagai
1
2
tempat di seluruh dunia. Keadaan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan komoditas ini sebagai sumber energi. Berbagai jenis batubara yang ada membuat pihak-pihak tersebut memiliki banyak pilihan untuk digunakan. Akan tetapi, dari berbagai jenis batubara yang ada, masing-masing memiliki kandungan kalori atau nilai panas yang berbeda-beda. Secara logis, semakin tinggi kandungan kalori yang dimiliki batubara akan semakin baik untuk digunakan. Akan tetapi, semakin tinggi kandungan kalorinya, maka harga batubara tersebut juga akan semakin tinggi. Masalah pemilihan jenis batubara yang tepat terjadi pada penggunaan batubara untuk PLTU di Indonesia. Masing-masing PLTU memiliki kebutuhan tersendiri terhadap jenis batubara yang akan digunakan. Hal ini disesuaikan dengan jenis mesin, daya dan kapasitas dari masing-masing PLTU. Kebutuhan listrik yang meningkat juga menyebabkan peningkatan kebutuhan batubara bagi masing-masing PLTU. Pada tahun 2005, PLTU di Indonesia hanya mengonsumsi 16,9 juta ton batubara untuk proses pembangkitan, tetapi meningkat menjadi 39,6 juta ton pada tahun 2013 (PLN, 2014). Hasilnya, masing-masing PLTU akan mencoba untuk menjaga stok batubara pada posisi aman sebagai upaya untuk terus bisa memproduksi listrik. Selain keunikan masing-masing PLTU, kondisi geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan menjadi tantangan terkait pemilihan batubara. Di Indonesia, produsen atau tambang batubara kebanyakan ditemukan di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Sementara itu, lokasi PLTU yang ada di Indonesia tersebar di berbagai wilayah atau pulau di Indonesia. Berdasarkan kenyataan ini, proses penyaluran batubara dari pemasok ke PLTU harus dilakukan bukan hanya melalui jalur darat, tetapi juga jalur laut. Perjalanan melalui jalur laut dianggap lebih tidak stabil jika dibandingkan dengan perjalanan melalui jalur darat. Selain faktor stabilitas lingkungan atau faktor cuaca, faktor biaya transportasi juga menjadi masalah lain. Oleh karenanya, perencanaan alokasi yang tepat serta penjadwalan pengiriman batubara ke PLTU menjadi hal yang krusial untuk dapat mempertahankan keberlangsungan produksi listrik di Indonesia.
3
Perencanaan supply chain batubara ke PLTU menjadi hal krusial ketika dihubungkan dengan keberlangsungan operasi yang efisien. Perencanaan yang buruk akan membawa dampak yang buruk pula bagi keberlangsungan proses pembangkitan listrik. Contohnya, di India ada 38 pembangkit listrik yang hanya memiliki stok batubara untuk 7 hari operasi dan 20 di antaranya hanya memiliki stok batubara untuk dari 4 hari operasi (CEA, 2014). Bila terjadi keterlambatan supply selama lebih dari batas waktu ini, maka otomatis produksi listrik akan terhenti. Berkaitan dengan keadaan pengiriman di Indonesia yang harus melalui laut, resiko keterlambatan menjadi semakin besar bila tidak direncanakan dengan baik. PLTU Tanjung Jati B pernah menghentikan satu unit pembangkitnya karena supply batubara terlambat pada Desember 2007. Setelahnya, giliran PLTU Cilacap yang berhenti beroperasi pada Januari 2008 (Kompas, 2008). Penelitian mengenai masalah ini sebelumnya pernah dilakukan oleh Kurniawan (2015). Akan tetapi, pada penelitian tersebut cakupan penelitian hanya mampu menangani 30 PLTU dan 10 pemasoks. Jika dibandingkan dengan kebutuhan listrik Indonesia sekarang dan jumlah PLTU serta pemasok yang lebih banyak, maka pengembangan penelitian ini perlu dilakukan untuk memperoleh hasil yang aktual. Selain itu, pada penelitian Kurniawan ini, spesifikasi nilai kalor batubara yang dibutuhkan masing-masing PLTU hanya dibagi menjadi kelompok tinggi, rendah dan sedang. Padahal pada kenyataanya, nilai kalor batubara yang dibutuhkan oleh masing-masing PLTU adalah spesifik. Pengembangan model yang lebih aktual mengenai pengaturan alokasi dan distribusi batubara menuju PLTU di Indonesia penting dilakukan. Selain untuk mendapat hasil alokasi dan distribusi yang paling optimal, model yang baru bisa digunakan untuk merencanakan proses supply chain batubara ke PLTU dengan lebih baik untuk menjamin keberlangsungan pembangkitan listrik Indonesia.
1.2
Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, diperlukan adanya model perhitungan
baru yang mampu digunakan untuk menentukan alokasi dan distribusi batubara yang optimal dan efisien serta aktual dari pemasok yang ada menuju berbagai
4
PLTU yang ada di seluruh Indonesia, dengan mempertimbangkan cuaca sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi pengiriman.
1.3
Asumsi dan Batasan Masalah
1.3.1
Asumsi
1. Tidak ada pembatalan kontrak dari kedua belah pihak menyangkut transaksi batubara yang ada. 2. Moda transportasi yang digunakan tidak akan mengalami kerusakan yang menyebabkan kegagalan beroperasi. 3. Biaya transportasi di darat sudah termasuk dalam biaya batubara, sementara biaya transportasi di laut dihitung berdasarkan jarak. 4. Semua batubara yang dikirim pemasok akan diterima oleh PLTU tanpa mempertimbangkan penurunan nilai kalori selama pengiriman.
1.3.2
Batasan Masalah
1. Penelitian hanya mencakup pengalokasian dan pendistribusian dari pelabuhan pemasok menuju pelabuhan PLTU. 2. Segala bentuk perancangan, negosiasi, dan pembuatan kontrak kerjasama antara pemasok dengan PLTU, pelabuhan, dan kontrol kualitas batubara yang ada tidak termasuk dalam lingkup penelitian.
1.4
Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan model alokasi dan distribusi batubara yang optimal untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Indonesia. 2. Mengetahui alokasi batubara dari masing – masing pemasok serta mendapatkan jadwal pengiriman yang tepat.
1.5
Manfaat Penelitian Menekan biaya pengadaan batubara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap
dengan mengetahui alokasi pembelian batubara yang optimal serta menjamin
5
kelangsungan proses pembangkitan listrik dengan penjadwalan distribusi yang efisien.