DAMPAK KEBANGKITAN EKONOMI CINA TERHADAP KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL AMERIKA SERIKAT
SKRIPSI
Disusun Oleh :
Sayid Haikal Quraisy (106083003552)
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 1
DAMPAK KEBANGKITAN EKONOMI CINA TERHADAP KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL AMERIKA SERIKAT
Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Meraih Gelar Sarjana Sosial
Oleh : Sayid Haikal Quraisy 106083003552
Dibawah Bimbingan : Pembimbing Skripsi
Pembimbing Akademik
Arisman, M.Si
Nazaruddin Nasution, SH, MA
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 2
LEMBAR PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sangsi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, Oktober 2010
Sayid Haikal Quraisy 106083003552 3
ABSTRAK
Hubungan perdagangan antara Cina dan Amerika Serikat (AS) telah menjadi semakin penting untuk ekonomi kedua negara. Konflik perdagangan baru-baru ini dan gesekan antara Cina dan AS merupakan hambatan dalam jalan hubungan pembangunan perdagangan bilateral Cina-AS yang menjadi perhatian besar bagi kedua negara. Tulisan ini bersifat dekriftif yaitu dengan metode penulisan penelitian yang dilakukan dengan cara menggambarkan, menyusun dan menganalisa suatu pembahasan melalui kepustakaan. Diharapkan dengan metode yang digunakan akan dapat menganalisis secara mendalam kebijakan perdagangan politik AS terhadap Cina, mengidentifikasi faktor-faktor kebangkitan ekonomi Cina, kebijakan perdagangan Cina dan kebijakan perdagangan AS terhadap Cina, Serta Pengaruh kebangkitan ekonomi Cina dan perubahan kebijakan perdagangan AS pada hubungan perdagangan antara AS dan Cina dan implikasi untuk hubungan perdagangan antara AS dan Cina pada masa depan. Kata kunci: kebijakan perdagangan, perdagangan internasional, ekonomi politik internasional
4
KATA PENGANTAR Bismillahirrrahmanirrahim, Assalamuaaikum Wr.Wb Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga tulisan ini dapat terwujud menjadi sebuah skripsi yang diharapkan dapat berguna bagi kalangan akademisi. Penulisan skripsi ini adalah merupakan suatu bentuk untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna mencapai gelar sarjana sosial di Universitas Islam Negeri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berdasarkan ketertarikan penulis terhadap kebangkitan ekonomi Cina yang begitu cepat dan mencengangkan dunia, maka penulis menuangkannya kedalam sebuah tulisan yang diajukan sebagai skripsi, dalam tulisan ini, penulis menganalisis bagaimana kebangkitan ekonomi Cina ini akan mempengaruhi kebijakan perdagangan internasional Amerika Serikat sebagai negara super power dan bagaimana hubungan kedua negara di masa depan, akankah menimbulkan perselisihan ataukah akan terjadi kerja sama yang baik diantara kedua negara tersebut. Dikarenakan masalah ini sangat rumit, tentu saja penulis banyak dibantu oleh beberapa pihak yang membantu dalam proses penulisan skripsi ini. Dengan kaitan ini, saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggitingginya kepada seluruh pihak yang dengan berbagai cara telah membantu penyusunan skripsi ini, diantaranya : 1. Keluarga yang senantiasa memberi dorongan dan do’a dalam segala bentuk yang tak mungkin pernah penulis dapatkan dari siapapun. 5
2. Farah Zesa Ayuningtyas.SE yang telah memberikan masukan-masukan positif, doa, motivasi, pemberi semangat dan segala sesuatu yang tak mungkin bisa terbalas. 3. Bpk.Arisman,M.Si selaku dosen pembimbing dalam penullisan skripsi ini, yang dengan sabar membimbing terciptanya tulisan ini. 4. Bpk.Armein Daulay,Drs.M.Si yang telah banyak memberikan motivasi dan masukan-masukan dalam penulisan skripsi ini dan dalam berbagai bidang selama dalam masa perkuliahan. 5. Ibu Rahmi,M.Si yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini dan selama masa perkuliahan. 6. Bpk. Nazaruddin Nasution,SH.MA selaku ketua jurusan yang dari awal terbentuknya jurusan Hubungan Internasional pada tahun 2006 hingga kini terus berusaha untuk memajukan jurusan yang tercinta ini. 7. Segenap staff pengajar ahi jurusan hubungan internasional, Bpk. Adian Firnas,S.sos, M.si. Bpk. Aiyub Mohsin,MA.MM, Bpk.Abdul Hadi Adnan,Dr,MA,
Bpk.
Amiruddin
Noer,MA,
Bpk.
Badrus
Sholeh,S.Ag,M.A, Bpk. Kiki Rizky,M.Si dan Bpk. Agus Nilmada Azmi,M.Si dan seluruh staff pengajar yang tak tertulis. 8. Teman-teman kos yang senantiasa memberikan masukan dalam penulisan skripsi dan teman-teman HI 2006 khususnya teman-teman HI B. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, dengan segala kerendahan hati penulis memohon maaf dan 6
mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi penulis dan bermanfaat bagi semua kalangan. Wassalamu’alaikum.Wr.Wb
Jakarta, Desember 2010
Sayid Haikal Quraisy 106083003552
7
DAFTAR ISI
Abstrak......................................................................................................................i Kata Pengantar.........................................................................................................ii Bab I Pendahuluan.................................................................................................1 A. Latar Belakang Masalah.............................................................................1 B. Rumusan Masalah......................................................................................8 C. Kerangka Teori..........................................................................................9 I. Teori Liberalisme....................................................................................9 II. Teori Globalisasi.................................................................................19 III. Teori Perdagangan Internasional.......................................................25 a. Comparative Advantage...............................................................29 b. Competitive Advantage................................................................32 D. Metode Penelitian....................................................................................34 E. Tujuan dan Manfaat Penulisan.................................................................35 F. Sistematika Penulisan..............................................................................36 Bab II Tinjauan Pustaka.....................................................................................38 A. Konsep Dasar..........................................................................................38 A.1. Konsep Pertumbuhan Ekonomi (Economic Growth).......................38 A.2. Konsep Kebijakan (Policy)..............................................................41 A.3. Konsep perdagangan Internasional (International trade)................42 B. Penelitian Sebelumnya............................................................................49
8
Bab III Kondisi Riil Ekonomi Cina....................................................................57 A. Perekonomian Cina Pra dan Pasca Diberlakukannya Open Door Policy....................................................................................57 A.1. Budaya Bisnis Cina dan Perekonomian Cina Pra Diberlakukannya Open Door Policy..............................................57 A.2. Perekonomian Cina Pasca Diberlakukannya Open Door Policy.....66 A.3. Masuknya Cina ke dalam World Trade Organizations (WTO).......73 A.3.a. Latar Belakang dan Tujuan Masuknya Cina ke dalam WTO.......................................................................74 A.3.b. Keuntungan Masuknya Cina kedalam WTO......................81 B. Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat................................................83 B.1. Sejarah Diskriminasi Kebijakan Perdagangan AS...........................83 B.2. Kebijakan Perdagangan AS Terhadap Cina.....................................86 Bab IV Analisis Dampak Kemajuan Ekonomi Cina Terhadap Amerika Serikat.....................................................................................97 A.
Indikator Kemajuan Ekonomi Cina Sebagai Pesaing Amerika Serikat...........................................................................................102
B.
Prediksi Hubungan Dagang Cina - Amerika Serikat....................110
BAB V Kesimpulan............................................................................................118 Daftar Pustaka......................................................................................................123
9
DAFTAR TABEL Tabel 1 Pandangan Dasar Tradisi Liberalisme Dalam Teori Hubungan Internasional......77 Tabel 2 Reduksi Tarif (%) Setelah Cina Masuk WTO.......................................................81 Tabel 3 Kebijakan AS Terhadap Cina.................................................................................96 Tabel 4 Faktor-Faktor Kebangkitan Ekonomi Cina............................................................98 Tabel 5 Matriks Kebijakan Cina.........................................................................................99 Tabel 6 Pertumbuhan GDP Cina 1955-2009.....................................................................106 Tabel 7 Perdagangan AS Dengan Cina : 1980-2009($ Dalam Miliar).............................108 Tabel 8 Saldo Perdagangan AS Major Trading 2009 ($ Dalam Miliar)...........................109 Tabel 9 Persentase Produksi Cina Terhadap Output Dunia..............................................109 Tabel 10 Impor Barang Konsumsi Pasar AS Dari Cina......................................................110
10
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Cina merupakan nama sebuah negara yang menarik untuk dicermati, karena pertumbuhan ekonominya yang mengagumkan, sehingga sering disebutsebut dengan berbagai julukan seperti keajaiban Cina (Cina’s miracle), kebangkitan sang naga (rise of the dragon), dan lain-lain. Masyarakat internasional beranggapan bahwa abad ke-21 adalah abadnya Cina (the Chinese century) yang menggantikan abadnya AS (the American century) pada abad ke20. Pertumbuhan ekonomi yang pesat, kemampuan militer yang semakin kuat, solidnya politik domestik, populasi yang sangat besar, akan menjadi akar dari pesatnya pertumbuhan ekonomi dan politik Cina. Pertumbuhan luar biasa ini tidak terlepas dari perkembangan Cina sejak meninggalnya Mao Zedong pada tahun 1976 serta masa pancaroba politik Cina, sampai munculnya Deng Xiaoping sebagai pemimpin baru Cina. Deng Xiaoping mempunyai visi baru mengenai komunisme Cina. Sekalipun tetap menjunjung tinggi ideologi komunisme dengan tetap memegang penuh kekuasaan partai, Deng Xiaoping menyadari bahwa ia harus mendistribusikan satu hal yaitu “kemiskinan atau kekayaan”, dan pilihan yang kedua hanya mungkin tercapai dengan memberikan kebebasan kepada rakyatnya. Maka pada Desember 1978 Deng Xiaoping memulai proses liberalisasi dan modernisasi di Cina. (Norberg, 2001 : 33)
11
Pada era sebelumnya yaitu pada masa kepemimpinan Mao Zedong yang konservatif dan terlalu tertutup, Cina seakan terasingkan dari dunia internasional. Perekonomian yang semakin terpuruk, bahkan kebijakan “lompatan jauh ke depan” (the great leap forward) yang dicetuskan oleh Mao Zedong pada tahun 1958 yaitu berupa program industrialisasi yang radikal mengalami kegagalan. Dalam Konferensi Lushan 1959, Mao Zedong pun dikecam akibat kegagalan kebijakan tersebut yang berimbas pada pengunduran dirinya sebagai presiden yang hanya bertahan lima tahun. (Wibowo, 2000 : 64) Namun, setelah rezim Mao Zedong berakhir dan digantikan oleh Deng Xiaoping, Cina mulai mengalami kemajuan di berbagai bidang termasuk dalam bidang ekonomi. Konsep pintu terbuka (open door policy) dan ekonomi pasar muncul karena bentuk sebelumnya dianggap tidak mampu memberikan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan. Seperti dalam lompatan jauh kedepan (de yue jin) yang dilaksanakan pada masa Mao Zedong pada tahun 1956. Dalam masa pemerintahannya, Deng Xiaoping memasukan unsur investasi asing selain unsur pertanian, industri dan politik yang sudah ada pada masa pemerintahan sebelumnya. Investasi di Cina di buka dengan luas sementara pemerintah memiliki peran sebagai penjamin keamanan, stabilitas politik memotong jalur birokrasi serta menjamin perlindungan lainnya. Semua kebijakan yang diterapkan Deng Xiaoping bertujuan untuk mendukung tumbuhnya industri dan memacu ekspor. Masuknya invetasi di Cina membuat Cina tidak lagi hanya mengandalkan sektor agrikultur tapi juga sektor industri yang maju pesat. Konsep pintu terbuka terus dijalankan hingga kepemimpinan Jiang Zemin dan Hu Jintao.
12
Kebijakan open door policy sendiri
di latar belakangi oleh adanya
perimbangan kekuatan baru di Asia timur khususnya di Cina. open door policy pertama kali ditandai dengan pengiriman nota diplomatik oleh Jhon Hay (Menlu AS) yang berisi ajakan untuk melaksanakan nilai persamaan dalam perdagangan dan nota yang kedua yang berisi mengenai ajakan AS untuk mengakui kesatuan wilayah dan administrasi Cina. Nota tersebut mendapat berbagai respon dari negara yang menerimanya. AS yang pada saat itu dipimpin oleh seorang ekonom yaitu McKinley yang memilki pandangan mengenai perjuangan terhadap kaum petani dan golongan industri. Melihat situasi ekonomi Cina yang semakin memburuk, maka pada masa itu Cina memilih kebijakan tersebut sebagai lagkah yang diambil. Dengan menambahkan unsur insentif dan pasar bebas yang dijadikan stimulus bagi semangat produksi para pengusaha daerah dan petani diharapkan dapat memperbaiki kondisi ekonomi negaranya.(Siswanto, 1997 : 72) Pada masa kepemimpinannya, Deng Xiaoping secara bertahap mulai membuka Cina terhadap persaingan dengan dunia luar, menyesuaikan ideologi, memodifikasi komunisme dengan sosialisme tahap awal, menerapkan sistem ekonomi pasar sosialis, sampai akhirnya Cina terjun dalam arus liberalisasi dan globalisasi. Sekalipun Deng Xiaoping menerapkan sistem ekonomi liberal, intervensi negara tetap dipertahankan. Pemerintah pusat tetap melakukan intervensi dan kontrol terhadap perekonomian negara, kemudian faham komunis tetap dipertahankan sebagai ideologi negara meski tidak diterapkan secara kaku. Cina menggunakan Sistem ekonomi Pasar Sosialis, yaitu suatu sistem ekonomi yang berorientasi pasar, namun tetap berada dalam bingkai sistem politik yang digariskan oleh Partai Komunis Cina. Tidak mudah untuk menjelaskan 13
sistem baru yang digunakan oleh Cina, seperti halnya seperti organisasi lain yang berkembang, perlu waktu sampai sebuah sistem baru menemukan sebuah nama. Para pemimpin Cina lebih sering menyebutnya Sistem “Sosialis dengan karakteristik Cina”. Sistem ini telah menggantikan model ekonomi perencanaan terpusat yang umumnya dianut negara-negara dengan sistem komunis. Para pemimpin Cina menyadari agar dapat berhasil memodernisasi Cina, harus beralih dari ekonomi terencana ke ekonomi pasar dan mereka harus menerapkan desentralisasi. Namun, definisi desentralisasi disini adalah memberi kekuasaan lebih besar ketangan rakyat, yang sering dianggap sebagai sebuah monolit, pada kenyataannya melakukan modernisasi kekuasaan lebih daripada negara manapun. Tujuan utamanya adalah menciptakan masyarakat dan pemerintahan yang harmonis berdasarkan kepercayaan, yaitu rakyat memberi kepercayaan kepada pemimpin untuk menciptakan kesempatan bagi kehidupan yang lebih baik, dan pemimpin memberi kepercayaan kepada rakyat untuk menjadi tenaga penggerak dalam prosesnya. Model baru Cina didasarkan pada keseimbangan antara kekuatan top-down dan bottom-up, yang dengan upaya terpadu meningkatkan taraf hidup serta menciptakan kemakmuran rakyat.(John & Doris.2010:xx) Pada tahun 1987, Cina mengeluarkan sasaran dan strategi pembangunan ekonomi nasional Cina yang dikenal dengan nama Strategi Pembangunan Tiga Tahap (The Three-Steps Development Strategy). Strategi ini menetapkan 3 (tiga) tahap pembangunan ekonomi nasional Cina yaitu: (Kustia, 2009 : 45)
14
1. Melipatgandakan produk domestik bruto (PDB) di 1980 dan menjamin rakyat Cina cukup makan dan pakaian, yang diharapkan dapat dicapai pada akhir 1980. 2. Pada akhir abad ke-20 mentargetkan peningkatan PDB menjadi empat kali lipat PDB di 1980. 3. Meningkatkan PDB per-kapita setingkat negara-negara maju, dengan sasaran pencapaian pada pertengahan abad 21. Langkah selanjutnya, pada tahun 1992, Cina menggariskan prinsip-prinsip utama dalam restrukturisasi ekonomi Cina yaitu: (Kustia, 2009 : 46-47) 1) Mendorong pembangunan dari berbagai unsur ekonomi sambil tetap mengedepankan sektor publik. 2) Mengembangkan sistem perusahaan yang modern agar dapat memenuhi tuntutan ekonomi pasar. 3) Sistem pasar terbuka dan menyatu di seluruh wilayah Cina, mentautkan pasar domestik dengan pasar internasional, meningkatkan optimalisasi sumber daya. 4)
Melakukan
transformasi
manajemen
ekonomi
pemerintah
untuk
membangun sistem pengawasan makro yang lengkap. 5) Mendorong kelompok unggulan dan wilayah tertentu untuk mencapai keberhasilan dan kemakmuran lebih dulu, sehingga dapat membantu kelompok dan wilayah lain mencapai keberhasilan dan kemakmuran yang sama. 6) Merumuskan sistem pengaman sosial yang cocok untuk Cina, baik untuk masyarakat
perkotaan
maupun 15
pedesaan,
untuk
meningkatkan
pembangunan ekonomi secara menyeluruh dan untuk menjamin stabilitas sosial. Langkah besar lain yang dilakukan yaitu pada 1997 ketika Cina mulai memusatkan perhatian kepada pentingnya pembangunan di luar sektor publik yang dapat memberikan sumbangan terhadap pembangunan ekonomi nasional, merupakan unsur lain yang memperoleh keuntungan sebagai salah satu faktor produksi yang penting, di samping modal dan teknologi dalam mengembangkan usaha terus didorong.(Kustia, 2009 : 57) Kemajuan-kemajuan di bidang ekonomi segera tampak akibat dari proses liberalisasi dan modernisasi yang dilakukan Cina di atas. Sejak 1978 hingga 2005, perdagangan internasional meningkat 69 kali dalam angka nominal (dalam USD), dengan pertumbuhan per-tahun sebesar 17%. Pada tahun 2005 Cina menjadi negara dagang terbesar ketiga di dunia. Rasio angka impor dibandingkan ekspor dalam PDB adalah 63% pada tahun 2005. Hal ini menjadikan Cina masuk dalam jajaran negara-negara yang terintegrasi kedalam perekonomian dunia. Sementara itu perolehan devisa melonjak ke angka US$ 1 triliun pada akhir tahun 2006. Selama 23 tahun terakhir, modal asing telah masuk ke Cina sebesar US$ 620 milyar. Standar hidup rakyat Cina meningkat tajam selama 27 tahun terakhir. Pendapatan per kapita di kota dan per-rumah tangga di pedesaan, tumbuh dengan angka 15%. (Wibowo, 2007 : 50) Catatan statistik di atas adalah gambaran bagaimana Cina berkembang sedemikian pesatnya dalam pertumbuhan ekonomi sehingga berimbas pula pada taraf sosial ekonomi rakyat Cina yang semakin meningkat. walaupun sempat terjadi penurunan pada tahun 1989 dan 1990, namun di tahun-tahun berikutnya 16
pertumbuhan ekonomi Cina menunjukkan kenaikan dan cenderung stabil. Model perekonomian Cina dirancang dengan pengerahan kapital secara besar-besaran. Birokrasi pemerintah dari Beijing turun ke kota-kota kecil yang bertujuan membangun kawasan industri dengan mendorong investasi, terutama investasi dari luar negeri. Sebagai konsekuensi atas tingginya investasi asing, Cina menikmati pembangunan di seluruh bagian negaranya. (Wigrantoro, 2007) Dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Cina bertahan di dua digit dengan kecenderungan terus naik di atas 10%. Tidak satu negara pun yang disebut sebagai Macan Asia (Jepang, Korea Selatan, Hongkong, dan Taiwan) mampu menyamai rekor pertumbuhan tersebut. (Damayanti, 2007) Banyak pengamat ekonomi meramalkan bahwa tidak lama lagi GDP Cina akan sanggup menyaingi GDP AS. GDP Cina pada tahun 2005 angka pertumbuhan ekonomi Cina sebesar US$ 2.259 milyar dan GDP per kapita sebesar US$ 1.725 menjadi indikator bagaimana Cina adalah ancaman nyata bagi AS. (Wibowo, 2007 : 50) Masuknya Cina kedalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001 memicu peningkatan besar-besaran akan industrialisasi dalam negeri dan volume perdagangannya.
Dampak keanggotaan Cina di WTO adalah
terintegrasinya kegiatan perekonomian, perdagangan dan industri Cina dengan pasar global yang menyebabkan terjadinya ekspansi besar-besaran dari industri manufaktur Cina ke seluruh dunia. Dengan demikian keanggotaan Cina di WTO turut mendorong terbukanya berbagai kegiatan industri di berbagai sektor di tingkat domestik, mulai dari industri manufaktur dan kendaraan bermotor ke retail domestik dan menciptakan kompetisi usaha yang lebih kompetitif. (Wong, 2008 : 8) 17
Setelah AS meyadari bahwa Cina akan menjadi negara yang kuat pada masa depan, maka AS mulai menjalin hubungan baik dengan Cina, yaitu dengan kunjungan presiden Richard Nixon pada tahun 1972, yang dianggap sebagai terobosan baru hubungan bilateral AS dengan Cina, setelah berakhirya hubungan Cina dan Uni Soviet pada pertengahan 1960-an Cina sepertinya sudah enggan untuk menjalin persekutuan, oleh sebab itulah Nixon mencoba masuk untuk menjalin hubungann yang baik dengan Cina yang diharapkan akan terjalin hubungan yang baik antara keduanya dalam jangka panjang, selain itu misi perdamaian yang diusung Nixon terhadap Cina juga merupakan sebuah usaha untuk mendorong terjadinya perdamaian antara AS dan Vietnam yang merupakan sekutu Cina saat itu. Hal ini mengejutkan dunia karena AS sangat anti dengan Komunisme tetapi Nixon menjalin hubungan baik dengan Cina. Dalam hal ini Nixon mencoba menerapkan apa yang disebutnya realpolitics yang membuka jalan untuk hubungan baik antara AS dan Cina pada masa mendatang. Cina mencari komprominya sendiri dan bahkan mengizinkan beberapa bentuk dari sebuah masyarakat majemuk dan akan menjadi tantangan yang menakutkan bagi peran AS sebagai penjaga moral luhur dunia. Pembukaan diri Cina tidak hanya memperluas pengaruh kepemimpinan Cina, tetapi juga mengguncang tatanan elit politik, AS menghadapi pemain baru yang kuat secara ekonomi, stabil secara politik dan tidak prnah ragu menunjukan nilai-nilai luhurnya pada dunia. Hal ini nyata sebagai ancaman bagi AS.(John & Doris,op.cit:xxii)
18
B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1. Apakah faktor- faktor dan Kebijakan apa saja yang mendorong kebangkitan ekonomi Cina? 2. Bagaimanakah dampak kemajuan perekonomian Cina terhadap kebijakan perdagangan AS? 3. Bagaimanakah hubungan bilateral dalam perdagangan AS dan Cina dimasa depan? C. Kerangka Teori Untuk
menganalisa
suatu
permasalahan
dalam
ilmu
hubungan
internasional membutuhkan teori, yang merupakan penjelasan paling umum mengapa sesuatu itu terjadi dan kapan peristiwa tersebut akan terjadi lagi. Dengan kata lain, teori dapat dipergunakan sebagai alat eksplanasi dan alat prediksi. (Mohtar, 1990 : 217) Atau lebih jelasnya dipaparkan bahwa, teori berfungsi untuk memahami, memberikan kerangka pemikiran secara logis, disamping menjelaskan maksud terhadap berbagai fenomena-fenomena yang ada. Tanpa menggunakan teori, maka fenomena-fenomena serta data-data yang ada akan sulit dimengerti. Dan di sisi lain teori juga dapat berupa sebuah bentuk pernyataan yang menghubungkan beberapa konsep secara logis dan sistematis. (Plano, 1992 : 7) Teori yang digunakan untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang ada pada rumusan masalah yaitu teori liberalisme, teori globalisasi dan teori perdagangan internasional. 19
I.
Teori Liberalisme
Setelah era Mao Zedong berakhir dan digantikan oleh era Deng Xiaoping, Cina
mulai
mengalami
kemajuan
di
berbagai
bidang.
Pada
masa
kepemimpinannya, Deng Xiaoping secara bertahap mulai membuka Cina terhadap persaingan dengan dunia luar, menyesuaikan ideologi, Memodifikasi komunisme dengan sosialisme tahap awal, menerapkan sistem ekonomi pasar sosialis, sampai akhirnya Cina menceburkan diri terhadap arus liberalisasi dan globalisasi. Liberalisme berangkat dari kesejatian, di mana esensi hidup manusia menjadi sangat dihormati. Kebebasan, pembebasan, kemerdekaan, keadilan dan hak asasi menjadi pemersatu. Dalam perkembangannya teori liberalisme lebih banyak menekankan pada hal lain, selain perebutan pengaruh di bidang hard power, yaitu pengalihan perhatian orang pada teori ekonomi-ekonomi barat. Orang liberal tidak memperumit bagaimana perdamaian akan tercapai atau bagaimana kesejahteraan yang seutuhnya, namun lebih menaruh fokus akan prosesnya. Liberalisme menitik beratkan perhatiannya pada kebebasan individu yang harus diimplementasikan dalam tingkat domestik, dan hubungan antar negara. Stanley Hoffman menuliskan, “Esensi dari liberalisme adalah self-restrain, moderasi, kompromi, dan perdamaian, dimana esensi politik internasional adalah berkebalikan yaitu perdamaian yang selalu terusik, atau lebih buruk lagi, state of war”. Peran negara adalah sebagai penjaga terwujudnya kebebasan tersebut, sebagai pelayan kemauan kebijakan seluruh individu. Di sinilah peran krusial demokrasi sebagai sebuah sistem untuk mewujudkan angan-angan liberalisme
20
sebagai te ori pemerintahan yang menginginkan kerukunan antara keamanan dan persamaan dalam suatu komunitas. (Jill, 2001 : 98) Di sekitar abad ke-18, ahli ekonomi dan falsafah dari Scotland, Adam Smith (1723-1790) memperkenalkan satu teori yang mengatakan seseorang individu boleh membina kehidupan bermoral dan berekonomi tanpa bimbingan atau arahan dari negara. Tambahan lagi, sesuatu negara itu akan menjadi kuat apabila rakyatnya bebas. Smith mengetengahkan ide tersebut untuk mengakhiri sistem feodal, polisi-polisi merkantilisme, monopoli negara dan memperkenalkan kerajaan "laissez-faire", yaitu satu kerajaan berasaskan pasar bebas. Di dalam The Theory of Moral Sentiments (1759), Smith menulis tentang teori motivasi yang menekankan kepentingan sendiri serta ketidakaturan sosial. Terdapat beberapa prinsip liberalisme yang telah disetujui oleh kalangan liberal: a. Liberalisme politik adalah aliran di mana seseorang itu adalah asas undang-undang dan masyarakat. Masyarakat dan institusi-institusi kerajaan berada di dalam masyarakat yang berfungsi untuk memperjuangkan hak-hak pribadi tanpa memihak kepada siapapun, baik yang mempunyai taraf sosial yang tinggi ataupun yang rendah. Magna Carta adalah satu contoh di mana dokumen politik meletakkan hak-hak pribadi lebih tinggi daripada kekuasaan raja. Liberalisme politik menekankan perjanjian sosial dimana rakyat merangkai undang-undang dan bersedia untuk mematuhi undang-undang tersebut. b. Liberalisme budaya menekankan hak-hak pribadi yang berkaitan dengan cara hidup dan perasaan hati termasuk kebebasan seksual, 21
kebebasan beragama, kebebasan pemahaman dan pelindungan dari campur tangan kerajaan di dalam kehidupan peribadi. c. Liberalisme ekonomi yang juga dikenali sebagai liberalisme klasikal atau liberalisme Manchester adalah satu ideologi mengenai hak-hak peribadi atas harta benda dan kebebasan perjanjian tertulis. Ia memperjuangkan kapitalisme laissez-faire yang ingin membuang semua halangan terhadap perdagangan dan pemberhentian kemudahan yang diberi oleh kerajaan seperti subsidi dan monopoli. Liberalisme ekonomi menyatakan bahwa harga barang harus ditentukan oleh pasar yang sebenarnya ditentukan oleh tindakan-tindakan konsumen. Liberalisme ekonomi menerima ketidak samarataan sebagai hasil dari persaingan yang tidak melibatkan dan merugikan hak-hak peribadi. Aliran liberalisme ini dipengaruhi oleh liberalisme Inggris yang merebak di pertengahan abad ke-19. d. Liberalisme sosial atau liberalisme baru, mulai terlihat di kalangan masyarakat negara-negara maju pada akhir abad ke-19. Dipengaruhi oleh utilitarianisme yang diasaskan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Teori ini berkembang dari teori penyalahgunaan Sosialis dan Marxis dan anggapan-anggapan terhadap "tujuan keuntungan" dan membuat kesimpulan bahwa kerajaan seharusnya menggunakan kuasanya untuk menyelesaikan masalah itu. Melihat dari faham tersebut, semua individu perlu diberi kebebasan seperti pelajaran, peluang ekonomik dan pelindungan daripada kejadian makro yang tidak ditentukan oleh mereka, seperti yang ditulis oleh John Dewey 22
dan Mortimer Adler pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menurut liberalisme sosial, kemudahan-kemudahan ini dianggap sebagai hak yaitu hak-hak positif yang berbeda secara kualitatif dari apa yang disebutkan dari segi klasikal, serta hak-hak negatif yang hanya menuntut seseorang untuk mengambil hak-hak orang lain. Menurut ahli-ahli liberalisme sosial, hak-hak positif ini perlu dibuat dan diberikan kepada semua manusia. Menurut mereka, hak-hak positif adalah objektif yang secara asasnya melindungi kebebasan. (Jill, 2001 : 98) Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa paham liberalisme berkonotasi luas, sebagaimana yang disimpulkan oleh Elizabeth Martinez dan Arnoldo Garcia: Liberalisme mengacu pada ide-ide politik, ekonomi, bahkan agama. Dalam sistem politik, liberalisasi politik dipergunakan sebagai strategi untuk menghindari konflik sosial. Yakni dengan menyuguhkan (liberalisme) pada si miskin dan kaum pekerja sebagai hal yang progresif ketimbang kaum konservatif atau Kaum Kanan. Liberalisme ekonomi berbeda lagi, Politisi-politisi konservatif, yang mengatakan bahwa mereka membenci kata “liberal” dalam arti tipe politik tak memiliki keberatan apapun dengan liberalisme ekonomi. (Martinez & Garcia, 1997 : 34) Liberalisme dengan demikian mempunyai makna yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Liberalisme asal mulanya merupakan bentuk perjuangan kaum borjuasi menghadapi kaum konservatif, Sehingga bisa dikatakan bahwa liberalisme sebelumnya merupakan ideologi kaum borjuis kota. Dalam arti luas, liberalisme adalah paham yang mempertahankan otonomi individu melawan 23
intervensi komunitas, Tapi memang ada liberalisme ekonomi juga “civic liberalism” atau liberalisme otonomi individual. Teori yang kemudian menjadi acuan terhadap doktrin pasar bebas ini lahir pada saat borjuasi di Inggris pada abad ke-19 berhasil merebut kekuasaan dari tangan bangsawan penguasa masyarakat feodal yang disimbolkan melalui Revolusi Industri. Doktrin ini pulalah yang menjadi pengabsah bagi para borjuasi tersebut dalam melapangkan jalannya untuk menguasai dunia. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Elizabeth Martinez dan Arnoldo Garcia yaitu Sistem perdagangan bebas, perusahaan bebas dan ekonomi yang berbasiskan pasar, sebenarnya telah muncul sejak 200 tahun yang lalu, sebagai satu mesin penggerak utama dalam pembangunan revolusi industri. Namun, pada akarnya adalah merkantilisme yang terbentuk selama abad pertengahan beberapa ratus tahun sebelumnya. Dan juga memiliki akar serta paralel dengan berbagai metode yang digunakan imperium sepanjang sejarahnya (dan saat ini masih digunakan) untuk menguasai tempat-tempat yang lebih lemah disekitarnya serta untuk merampas kekayaannya. (Martinez & Garcia, 1997 : 34) Ekonomi liberalisme klasik yang mulanya dibangkitkan oleh ekonom Adam Smith dalam karyanya The Wealth of Nations (1776). Adam Smith yang dianggap beberapa orang sebagai bapak kapitalisme pasar bebas, menganjurkan bahwa untuk mencapai efisiensi maksimum, semua bentuk campur tangan pemerintah dalam masalah ekonomi sebaiknya ditanggalkan, dan seharusnya tak ada pembatasan atau tarif dalam manufaktur serta perdagangan satu bangsa agar bangsa tersebut bisa berkembang.
24
Sepanjang sejarahnya, sistem ekonomi kapitalisme memang telah mengalami krisis yang mengharuskan para penganutnya untuk menemukan solusi untuk menyelesaikan krisis-krisis tersebut. Lahirnya liberalisme pun merupakan evolusi dalam sistem kapitalisme untuk menjawab krisis yang menimpanya. (Yaffe, 2001 : 2) Akan tetapi sejarah liberalisme pasar ala Adam Smith pun harus berujung pada krisis ekonomi. Dipandu oleh doktrin liberal, komoditas diproduksi tidak untuk memenuhi kebutuhan pasar yang abstrak. Akibatnya jumlah komoditas yang diproduksi menjadi tidak terbatas jumlahnya, tergantung pada fluktuasi (naik turunnya) permintaan pasar yang tidak bisa diramalkan sehingga terjadi produksi masal. Tapi, bagaimana memasarkan produksi masal itu, Inilah yang tak sanggup dipecahkan oleh sistem kapitalisme, sehingga terjadi kelebihan produksi (over production). Disaat malaise (krisis yang disebabkan oleh kelebihan produksi) itu, keadaan ekonomi mengalami kontraksi (pengetatan) yang sangat hebat di semua sektor (pertanian dan industri) sehingga terjadi pengangguran masal dimanamana. Kapasitas produksi menjadi mubazir karena sebagian besar tak bisa dimanfaatkan. Karena depresi besar pada tahun 1930-an tersebut, seorang ekonom, John Maynard Keynes, menganjurkan bahwa regulasi dan campur tangan pemerintah sebenarnya dibutuhkan untuk memberi keadilan yang lebih besar dalam pembangunan. Selain itu, tugas Keynes adalah bagaimana memacu kembali dinamika kapitalisme tanpa memotong sepeser pun keuntungan kelas pemilik modal. Keynes berteori, liberalisme bukanlah cara terbaik bagi pertumbuhan kapitalisme. Inti pendapatnya, full employment (keadaan tanpa 25
pengangguran) adalah hal yang mutlak perlu untuk pertumbuhan kapitalisme. Dalam bukunya yang terkenal ditahun 1926, berjudul The End of Laissez Faire, Keynes mengatakan “Sama sekali tidak akurat untuk menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip ekonomi politik, bahwa kepentingan perorangan yang paling pintar sekalipun akan selalu berkesesuaian dengan kepentingan umum, keadaan tanpa pengangguran hanya bisa dicapai jika negara dan bank sentral campur tangan dalam menurunkan tingkat pengangguran”. (Setiawan, 2001 : 2) Disini Keynes berpendapat, negara tidak hanya diharapkan menjaga ketertiban umum berdasarkan perangkat hukum, menyediakan prasarana ekonomi dan sosial yang memadai, melaksanakan program pemberantasan kemiskinan dan ketimpangan sosial, tetapi juga secara aktif terlibat langsung dalam investasi di bidang perhotelan dan barang-barang konsumsi. Keynes juga berpendapat bahwa dalam
perekonomian
yang
sedang
menurun,
pemerintah
sebaiknya
memberlakukan deficits pending dalam waktu singkat untuk menciptakan lapangan kerja guna menghambat pelarian modal-modal ke luar negeri dan memperketat
kontrol
terhadap
pertukaran
mata
uang.
(Lorimer,
http://www.jinx.sistm.unsw.edu.au diakses tanggal 12 Desember 2009) Jadi, dalam konsepsi Keynes, negara tidak hanya menjadi parasit tapi investor sekaligus. Dengan campur tangan negara, diasumsikan sirkulasi ekonomi kembali bergerak keluar dari jebakan krisis. Kepercayaan bahwa negara harus memajukan kesejahteraan bersama akhirnya diterima dimana-mana. Ide tersebut mempengaruhi presiden AS, Roosevelt, untuk membuat program New Deal di tahun 1935, program yang ditujukan untuk “meningkatkan kesejahteraan banyak orang”, meningkatkan daya beli. 26
Ekonomi
kapitalis
membutuhkan
intervensi
negara,
bila
hanya
mengandalkan mekanisme pasar semata, maka ia akan hancur, hanya negara yang sanggup melanggengkan kapitalisme. Sebagai contoh, krisis tahun 1930-an di AS dipicu oleh kelebihan produksi, maka salah satu wujud intervensi negara adalah membuka pasar negara lain bagi produksi komoditas negara industri maju jalan terampuh dan efektif untuk membuka pasar tak lain dengan perang. Persis, seperti yang dikatakan Keynes dalam tulisannya The General Theory of Employment, Interest, and Money bahwa perang telah menjadi satu-satunya bentuk pembelanjaan dalam skala besar (berbentuk hutang pemerintah) yang harus disetujui, diabsahkan oleh negarawan. (koran pembebasan partai rakyat demokratik, 2002) Pasca perang dunia II, pertumbuhan ekonomi sangat luar biasa, Periode pasca perang hingga pertengahan tahun 1970-an disebut sebagai “Zaman Keemasan Kapitalisme” (Capitalist Golden Age), yang ditandai dengan berkembangnya negara-negara kesejahteraan dan berkembangnya pertumbuhan ekonomi saat itu. Meski demikian kondisi ini tidak terjadi akibat pengadopsian kebijakan Keynesian akan tetapi restorasi tingkat keuntungan (dalam investasi produksi) lah yang menyelamatkannya, yaitu melalui : 1) Rendahnya upah riil (karena tingkat pengangguran tahun 1930-an) 2) Hancurnya kompetisi bisnis, dan terjadinya konsentrasi modal secara masif 3) Anggaran defisit negara yang dibelanjakan untuk membeli barangbarang kebutuhan perang sejak awal 1940-an. (koran pembebasan rakyat demokratik, 2002) 27
Karena tetap berjalan diatas fondasi hukum ekonomi kapitalis, pertumbuhan ekonomi yang begitu mengagumkan saat itu juga tak bertahan lama. Menjelang akhir tahun 1960-an dan dekade 1970-an kapitalisme kembali jatuh dalam krisis. Tingkat pertumbuhan dan investasi mulai jatuh di awal masa tersebut (sampai setengah dari tingkat sebelumnya). Pengangguran merajalela, sementara eksploitasi terhadap sumber-sumber daya semakin tak terkendali. (Amin, 2001 : 42) Berbeda dengan krisis 1930-an, yang dianggap lahir karena pemusatan terhadap pasar, krisis kali ini dianggap sebagai akibat intervensi negara terhadap pasar. Keynesian dipersalahkan, karena intervensi negara telah menyebabkan kelas kapitalis gagal dalam melipatgandakan akumulasi kapital. Secara teoritis, ada dua penjelasan mengapa Keynesian gagal dalam mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Pertama, kebijakan intervensi negara yang dianjurkan Keynes guna merangsang dan menggerakkan roda perekonomian yang macet akibat depresi besar, sekaligus mencegah berulang kembalinya krisis ekonomi, hanya bisa dipenuhi jika terjadi pertumbuhan ekonomi tinggi terus menerus dan berkesinambungan. Kenyataannya, pertumbuhan ekonomi tinggi pasca-malaise terjadi karena dikobarkannya perang dunia II yang dimenangkan oleh negaranegara imperialis. Kedua, pertumbuhan tinggi hanya bisa terjadi jika kebebasan pasar dan upah buruh murah. Disini letak kegagalan teori Keynes, karena ia menderita kontradiksi didalam dirinya sendiri. Di satu sisi dia menganjurkan intervensi negara secara aktif dalam pasar, tapi disisi lain, intervensi itu menyebabkan pasar 28
terdistorsi sehingga
momentum pertumbuhan ekonomi, sebagai
sumber
pendapatan negara dalam negara kesejahteraan mengalami perlambatan. Bagaimana mungkin mewujudkan distribusi kemakmuran tanpa menggerogoti keuntungan kelas kapitalis. (Pontoh, 2003 : 48-49) Cara-cara Keynes hanya akan mendorong suatu inflasi harga barangbarang dan jasa-jasa saja bila para investor yang menguasai bisnis (oligarki finasial) tidak bisa memperluas pasar bagi peningkatan produksinya. Selama depresi besar tersebut tidak ada perluasan pasar seperti yang diharapkan, itulah mengapa keampuhan kebijakan Keynesian sangat terbatas. Dikaitkan dengan ekonomi Cina, Meskipun dalam hal ini Deng Xiaoping menerapkan sistem ekonomi liberal, intervensi negara tetap dipertahankan. Pemerintah pusat tetap melakukan intervensi dan kontrol terhadap perekonomian negara, kemudian faham komunis tetap dipertahankan sebagai ideologi negara meski tidak diterapkan secara kaku. Cina menggunakan Sistem ekonomi Pasar Sosialis, yaitu suatu sistem ekonomi yang berorientasi pasar, namun tetap berada dalam bingkai sistem politik yang digariskan oleh Partai Komunis Cina sehingga sistem ini sering juga disebut dengan Sistem Sosialis dengan karakteristik Cina. Sistem ini telah menggantikan model ekonomi perencanaan terpusat yang umumnya dianut negara-negara dengan sistem komunis. (Wibowo, 2000 : 64) II.
Teori Globalisasi
Istilah "globalisasi" diberi beberapa pengertian dan dipahami di dalam berbagai konteks sesuai penggunaannya. Menurut Princeton N.
Lyman, dari
Institut Keamanan Amerika Serikat dan mantan Duta negara di Afrika Selatan, 29
globalisasi biasanya
merujuk kepada "rapid growth of interdependency and
connection in the world of trade and finance " (Lyman, 2000:90) Tetapi dia sendiri berpendapat bahwa globalisasi tidak dapat dibatasi hanya sebagai fenomena perdagangan dan sirkulasi keuangan yang berkembang dan kian meluas. Karena menurutnya, "there are other Trends Driven by the same explosion of technological capability that have facilitated the financial changes. Globalization from communications is one such trend ". ( Lyman, Ibid) Pusat Kajian Globalisasi dan Regionalisasi (CSGR), Universitas Warwick Inggris, juga menolak pengertian globalisasi yang yang terbatas pada fenomena ekonomi. Di samping itu, dia tidak dapat menerima pandangan yang mengatakan bahwa apa yang disebut globalisasi hanyalah merupakan fenomena Amerika Utara, bukannya fenomena Eropa. Insitut itu menekankan pendiriannya bahwa pemahaman pada globalisasi melaksanakan berbagai dimensi, yaitu politik, ideologi,
ekonomi
dan
budaya.
Banyak
benda
dapat
diglobalisasikan.
Diantaranya, "goods, services, money, people, information, effects on the international order and less tangible things such as IDEAS, behavioural norms and cultural practices ".(Loy,1998:63) Selaras dengan cakupan luas fenomena globalisasi ini, CSGR memiliki dua pandangan terhadap fenomena itu. Pertama, globalisasi dipandang sebagai satu kumpulan proses. Globalization is the emergence of a set of sequences and processes that are increasingly
unhindered by territorial or jurisdictional
barriers and that indeed enhance the spread of
trans-border practices in
economic, political, cultural and social domains. Kedua, globalisasi dilihat sebagai satu wacana. Globalization is a Discourse of political and economic 30
knowledge ordered one view of how to make the postmodern world manageable. David Loy, seorang dosen dari Universitas Bunkyo Jepang dan salah seorang pembentang kertas di Konferensi Globalisasi anjuran melihat globalisasi sebagai "a complex set of developments: economic, political, technological and cultural ". (Loy, Ibid) Deklarasi yang dikeluarkan di akhir Konferensi yang sama telah membuat kesimpulan berikut: "Globalization refers to the interconnectedness of human activity on a global scale, to the unprecendented flows of capital and labour, technology skills, IDEAS and Values across state and national boundaries, but in ways which neither states nor Nations can adequately control ". (Loy,Ibid) Variasi dimensi globalisasi juga ditegaskan oleh Leonor Briones, Ketua Focus on the Global South, sebuah badan regional non-pemerintah (NGO) yang berkantor pusat di Bangkok. Menurutnya, bukan saja terdapat globalisasi bisnis dan ekonomi tetapi sejalan dengannya
juga terdapat "globalization of the
Democratic institusi, social development and human rights and the women's movement ".(Briones, http://www.elibrary.com diakses pada 20, Februari, 2010) Akhirnya, karena bahwa globalisasi ekonomi pada umumnya dianggap sebagai inti fenomena yang dinamakan globalisasi, maka ingin dijelaskan di sini satu definisinya yang dihitung dapat membantu kita merumuskan arti dan ciri-ciri globalisasi secara komprehensif. "Economic globalisation is a deepening process from interdependence from world economies in any fields, including production and market, which optimize the distribution of
any production factors and
resources by Mållag cross-border flows of human 31
resources, capital,
Commodities, services, technology and information". (http://www.elibrary.com diakses pada tanggal 20 Februari 2010) Berdasarkan
beberapa
definisi
dan
penjelasan
diatas,
dapat
diidentifikasikan ide-ide kunci yang terkandung dalam konsep globalisasi. Dengan mengambil ide-ide ini kita dapat mengajukan makna komprehensif globalisasi seperti berikut. Globalisasi adalah suatu himpunan proses pengaliran global berbagai jenis objek yang melibatkan berbagai bidang aktivitas manusia. Objek yang diglobalisasikan bisa jadi fisik atau bukan fisik. Bisa jadi dalam bentuk informasi, ide, nilai, institusi, atau sistem. Himpunan proses pengaliran global ini dan bidang aktivitas manusia yang terlibat kian kait mengait, saling tergantung dan kompleks sifatnya. Dengan bersandarkan definisi dan penjelasan fitur-fitur utama globalisasi yang disebutkan di atas, kita dapati adalah wajar untuk membelah fenomena dan proses globalisasi ke berbagai dimensi. Globalisasi yang diberi arti luas ini adalah suatu hakikat yang tidak dapat dipertentangkan. Kita juga mengambil pendirian di sini bahwa hakikat yang dinamakan globalisasi itu sudah ada sebelum istilah globalisasi diperkenalkan lagi. Globalisasi sudah ada dalam era penjajahan dan imperialisme Barat yang dimulai di sekitar tahun 1500, Pada sifatnya, imperialisme adalah suatu bentuk globalisasi.
Paling tidaknya, bisa dianggap sebagai agen globalisasi. Semua
imperialisme memiliki kecenderungan untuk menglobalisasikan objek tertentu. Dalam membuat pernyataan bahwa globalisasi adalah suatu kenyataan sebelum zaman kontemporer, tidak berarti tidak ada perbedaan langsung antara globalisasi zaman sekarang dengan globalisasi zaman dahulu.
Memang ada perbedaan
mencolok antara globalisasi dalam satu era dangan globalisasi dalam era yang 32
lain. Namun demikian, perbedaan itu bukan dari segi sifat tetapi dari segi ciricirinya. Selama kita berbicara tentang hakikat yang sama, yaitu globalisasi, maka selama itu sifatnya tetap sama tanpa melihat zamannya. Waltz berpendapat bahwa globalisasi merupakan interdependensi, bahwa adannya saling ketergantungan antara perorangan, perusahaan, dan pasar, negara kurang peduli, karena ekonomi yang mendorong negara-negara untuk membuat sebuah kebijakan. Seperti menjadi lebih saling bergantung antara satu sama lain, keputusan dibuat secara keseluruhan kolektif di bidang ekonomi, bukan secara independen. (Waltz,1999:693-700) Waltz berpendapat bahwa negara yang ingin bergabung dengan pasar dunia harus memakai straight jacket, paket kebijakan termasuk anggaran yang seimbang, deregulasi ekonomi, keterbukaan terhadap investasi dan perdagangan, dan mata uang yang stabil. Oleh Karena itu, globalisasi ekonomi sangat prihatin dengan hal tersebut, bukan keputusan politik oleh satu negara atau orang, bukan suatu kawanan investor dan pemberi pinjaman yang memutuskan kapan suatu negara akan menerima investasi dan menjadi pemain ekonomi dunia. Karena merupakan kawanan yang memutuskan keberhasilan suatu negara, mereka tidak peduli tentang siapa yang di pemerintahan, bukan memiliki negara apakah stabilitas, prediktabilitas, transparansi, dan kemampuan untuk mentransfer dan melindungi hak milik pribadi. (Walz,Ibid) Untuk Waltz, globalisasi juga berarti homogenitas harga, produk, tingkat kepentingan, dan lain-lain. Sebuah ekonomi yang kuat di bawah globalisasi mensyaratkan transparansi, tapi kemudian bahwa transparansi akan mentransfer ideologi ke alam sosial dan politik. Waltz berpendapat bahwa ini ditunjukkan 33
bahwa terlambat meniru dan mengadopsi praktik institusi negara yang telah menunjukkan jalan. Negara-negara dibedakan dari satu sama lain bukan dengan fungsi, tetapi terutama oleh kemampuan Kapasitas. untuk mengubah, mengadopsi, menjaga kekuasaan, perdagangan, beradaptasi. Jika mereka tidak bisa beradaptasi, kemudian Waltz berpendapat bahwa kegagalan mereka akan diterima di komunitas global akan memimpin ke jurang kemiskinan yang lebih besar, investasi kurang, teknologi yang kurang: ekonomi stagnan. Apa globalisasi telah membawa dunia, akhirnya Waltz berpendapat, bukan saling ketergantungan meningkat, tapi ketimpangan tumbuh antara negara Utara dan Selatan. Robinson berfokus pada ekonomi juga, tetapi lebih jauh berpendapat bahwa globalisasi adalah penyebaran kapitalisme di seluruh dunia. Sebelum globalisasi relevan, kekuasaan militer dan berjuang melalui kekuatan fisik, seperti contoh melalui konflik. AS mengambil tempat kolonialisme, intervensi baik secara politik dan militer di Amerika Latin, Timur Tengah dan di tempat lain. Setelah Perang dunia II, ini meninggalkan AS dengan tanggung jawab stabilitas, dan mereka sering memilih rezim otoriter. ( Robinson: 1996: 615-665) Ketika ekonomi global menjadi lebih relevan dan didefinisikan, sebuah elit yang baru muncul berdasarkan kekuatan kapitalis uang di pasar bebas dan modal perseroan. Robinson menunjukkan bahwa ini terjadi pada pertengahan 1980-an sebelum berakhirnya perang dingin. Ini adalah poin penting, karena hal tersebut menunjukkan bahwa AS prihatin dengan globalisasi ekonomi dan faktor-faktor politik. Apa yang dihasilkan dari perubahan untuk
mendukung rezim-rezim
otoriter adalah dukungan dari elit polyarchy. "Polyarchy mengacu pada sebuah sistem di mana sekelompok kecil yang sebenarnya merupakan aturan masa dan 34
partisipasi dalam pengambilan keputusan terbatas, asumsi polyarchy adalah bahwa elit akan merespon kehendak mayoritas. Di Timur Tengah, gerakan penduduk sedang mencari perubahan sosial yang mendasar, tidak hanya sekadar perubahan dalam proses pemilu. Populer Perbedaan antara demokrasi dan polyarchy penting untuk dicatat demokrasi Populer berarti bahwa mayoritas pemilih memutuskan kebijakan dan hasil representatif, sementara polyarchy menyiratkan bahwa elite akan memutuskan apa yang terbaik bagi mayoritas elit. Transisi dari otoriterisme ke polyarchy tidak menghilangkan koersif aparat tetapi aparat sipil untuk mensubordinasi . Dengan kata lain, siapa pun yang dipilih tidak harus mewakili semua orang, hanya elit ekonomi yang berkuasa. Istilah globalisasi menggambarkan dua proses yaitu produksi kapitalis dan perdagangan menggantikan ekonomi proteksionis melalui spesialisasi dan globalisasi dari proses produksi, dan pasar yang terintegrasi, ini telah menyebabkan integrasi ekonomi nasional, tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial. Aturan ekonomi berbasis di AS, bersama dengan Eropa dan elit penguasa lainnya. Praktek transnasional globalisasi ada tiga tingkat yaitu ekonomi, politik dan budaya. Ekonomi itu adalah modal transnasional yang paling penting bagi elit global. Secara politis, itu adalah keberhasilan elite ekonomi, dan budaya, globalisasi adalah sistem konsumerisme. III.
Teori Perdagangan Internasional
Thomas Mun adalah seorang cendekiawan Inggris dan putera seorang pedagang di London. Mun berhasil mengeluarkan hasil pemikirannya dalam 35
bukunya yang berjudul England’s Treasure by Foreign Trade yang memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap teori perdagangan internasional. Mun berpendapat bahwa untuk meningkatkan kekayaan negara, cara yang biasa dilakukan adalah melalui jalur perdagangan dan karena itu pedoman yang harus dipegang teguh oleh suatu negara adalah mengusahakan agar nilai ekspor ke luar negeri harus lebih besar dibandingkan dengan yang di impor oleh negara itu. Keuntungan bersih menurutnya akan diperoleh melalui selisih dari hasil penjualan yaitu ekspor dengan pembelian yaitu impor dan dengan demikian jumlah uang emas dan perak yang akan diterima akan semakin besar tiap tahunnya. Mun juga berpendapat jika suatu negara melalui jalur perdagangan memperoleh banyak uang, jangan sampai modal itu hilang justru karena uang itu tidak dipergunakan untuk berdagang lagi. (http//www.brookesnews.com diakses pada 18, April, 2010) Dari argumen Mun dapatlah ditarik sebuah kesimpulan bahwa bahkan dalam suatu tata ekonomi perdagangan, uang baru merupakan kekayaan yang berarti hanya bila uang tersebut digunakan sebagai alat tukar menukar, dan uang akan menjadi beban suatu negara jika uang hanya disimpan saja. Sumbangan Mun yang tidak kalah pentingnya adalah terciptanya suatu kerangka dasar neraca pembayaran suatu negara pada tahun tertentu. Walaupun neraca pembayaran pada saat itu angka-angka itu memang tidak disusun teliti, namun yang terpenting Mun telah menunjukkan kerangka dasar neraca pembayaran dengan baik sekali. Julukan merkantilisme pada dasarnya diberikan kepada aliran atau paham ini oleh para kritikus ekonomi khususnya Adam Smith. Sebutan merkantilisme mengandung makna menyamakan suatu bangsa atau negara dengan kebijakan seorang pedagang, yang berusaha mendapatkan hasil yang lebih besar pada waktu 36
menjual dibandingkan dengan apa yang dikeluarkannya ketika membeli dan dengan demikian meningkatkan kekayaan perusahaannya. (Ibid) Ekonomi klasik resmi berdiri ketika Adam Smith mengeluarkan bukunya yang berjudul An Inquiry into Nature and Causes of the Wealth of Nation s, yang biasa disingkat dengan Wealth of Nations. Dalam bukunya, Adam Smith menjelaskan apa yang
merupakan pokok masalah ekonomi modern yakni
bagaimana meningkatkan kekayaan suatu negara dan bagaimana kekayaan tersebut didistribusikan. (Krugman, 2003:31) Menurut Adam Smith, kekayaan suatu negara akan bertambah searah dengan peningkatan keterampilan dan efisiensi para tenaga kerja, dan sejalan dengan persentase penduduk yang terlibat dalam proses produksi. Kesejahteraan ekonomi setiap individu tergantung pada perbandingan antara produksi total dengan jumlah penduduk. Smith juga menganjurkan adanya spesialisasi kerja dan penggunaan mesin-mesin sebagai sarana utama untuk peningkatan produksi. Dia juga memperkenalkan konsep invisible hand-nya di mana setiap orang yang melakukan kegiatan di dalam perekonomian dituntun oleh sebuah “tangan yang tidak terlihat” sehingga dia dengan mengejar kepentingannya sendiri dia kerap justru lebih efektif memajukan kepentingan masyarakat. Adam Smith mengajukan teori perdagangan internasional yang dikenal dengan teori keunggulan absolute. Dia berpendapat bahwa jika suatu negara menghendaki adanya persaingan, perdagangan bebas dan spesialisasi di dalam negeri, maka hal yang sama juga dikehendaki dalam hubungan antar bangsa. Karena hal itu dia mengusulkan bahwa sebaiknya semua negara lebih baik berspesialisasi dalam komoditi-komoditi di mana dia mempunyai keunggulan 37
yang absolute dan mengimpor saja komoditi-komoditi lainnya.( (Krugman, Ibid) Apa yang dimaksud dengan keunggulan yang absolute? Maksudnya seperti ini, jika negara A dapat memproduksi kentang untuk 8 unit per tenaga kerja sedangkan negara B untuk komoditi yang sama hanya dapat memproduksi 4 unit per tenaga kerja, sedangkan untuk komoditi lain misalnya gandum, negara A hanya dapat memproduksi 6 unit per tenaga kerja sedangkan untuk negara B dapat memproduksi 12 unit per tenaga kerja, maka dapat disimpulkan bahwa negara A mempunyai keunggulan absolute dalam produksi kentang dibandingkan dengan negara B, sedangkan negara B dapat dikatakan mempunyai keunggulan absolut dalam produksi gandum dibandingkan negara A. Perdagangan internasional yang saling menguntungkan antara kedua negara tersebut jika negara A mengekspor kentang dan mengimpor gandum dari negara B, dan sebaliknya negara B mengekspor gandum dan mengimpor kentang dari negara A. Teori perdagangan internasional yang lain diperkenalkan oleh David Ricardo (Anwar,1997:88). Teorinya dikenal dengan nama teori keunggulan komparatif. Berbeda dengan teori keunggulan absolute yang mengutamakan keunggulan absolute dalam produksi tertentu yang dimiliki oleh suatu negara dibandingkan dengan negara lain, teori ini berpendapat bahwa perdagangan internasional dapat terjadi walaupun satu negara tidak mempunyai keunggulan absolute, asalkan harga komparatif di kedua negara berbeda. Ricardo berpendapat sebaiknya semua negara lebih baik berspesialisasi dalam komoditi-komoditi di mana dia mempunyai keunggulan komparatif dan mengimpor saja komoditikomoditi lainnya. Teori ini menekankan bahwa perdagangan internasional dapat saling menguntungkan jika salah satu negara tidak usah memiliki keunggulan 38
absolute atas suatu komoditi seperti yang diungkapkan oleh Adam Smith, namun cukup memiliki keunggulan komparatif di mana harga untuk suatu komoditi di negara yang satu dengan yang lainnya relative berbeda.
Walaupun
ada
beberapa perbedaan pandangan mengenai perdagangan internasional, namun pada dasarnya keberadaan pandangan ekonomi klasik ini merupakan oposisi terhadap teori-teori yang beraliran merkantilistik abad ke-17 dan 18. Kaum merkantilis pada pokoknya mengutamakan perdagangan luar negeri, di mana mereka berpikir tipikal kapitalis yang keuntungannya datang dari membeli murah dan menjual mahal. Sedangkan tema pokok dalam ekonomi klasik adalah pembahasan tentang laba dan sewa dalam dalam pengertian surplus yang datang dari produksi. Surplus itu sendiri nantinya akan masuk ke tangan para kapitalis atau pemilik tanah sebagai tambahan untuk akumulasi modalnya. Ada cukup banyak kontroversi tentang model dari perbandingan keuntungan dan penerapan untuk bisnis internasional, khususnya sebagai panduan untuk negara sukses dan atau perusahaan di pasar internasional. Persepsi ini dari ketidak bergunaan model keunggulan komparatif telah mengakibatkan pakar bisnis internasional untuk mengembangkan model baru, atau apa yang disebut kerangka kerja, untuk menganalisis potensi keberhasilan perusahaan dan atau negara di pasar internasional. Kerangka kerja yang dikenal sebagai model dari "keunggulan kompetitif. a)
Comparative Advantage
Literatur tentang perdagangan internasional dan kebijakan berisi sejumlah alasan mengapa negara mungkin memiliki keuntungan dalam mengekspor komoditas ke negara lain. Untuk kenyamanan, sebagian besar alasan ini dapat 39
diklasifikasikan menjadi : (1) teknologi superior, (2) sumbangan sumber daya, (3) pola permintaan, dan (4) kebijakan komersial. Teknologi Unggulan Adam Smith, prinsip "keuntungan absolut" dan Ricardo prinsip Keunggulan komparatif", pada umumnya, didasarkan pada keunggulan teknologi dari satu negara atas negara lain dalam memproduksi komoditas. keuntungan absolut mengacu pada negara yang memiliki produktivitas lebih tinggi (mutlak) atau menurunkan jumlah biaya dalam memproduksi komoditas dibandingkan dengan negara lain. Namun, keuntungan mutlak dalam produksi sebuah komoditas adalah tidak perlu dan tidak cukup untuk perdagangan yang saling menguntungkan. Sebagai contoh, negara mungkin mengalami kerugian mutlak dalam produksi semua komoditas dibandingkan dengan negara lain, namun negara bisa memperoleh manfaat dengan terlibat dalam perdagangan internasional dengan negara-negara lain, karena relatif (komparatif) keuntungan dalam produksi beberapa komoditas vis-a-vis negaranegara lain. Demikian pula, keunggulan absolut dalam produksi komoditi tidak cukup, karena negara mungkin tidak relatif (komparatif) keuntungan dalam produksi komoditas itu. Menurut Ricardo prinsip keunggulan komparatif tidak memerlukan produktivitas mutlak lebih tinggi tetapi hanya produktivitas relatif lebih tinggi dalam memproduksi komoditas perdagangan. Model Ricardian mengasumsikan produktivitas konstan, karena hanya ada satu faktor produksi (buruh), dan karena itu konstan biaya yang mengarah untuk menyelesaikan spesialisasi. Sedangkan prinsip keunggulan komparatif David Ricardo menguraikan itu dikemas dalam hal keunggulan teknologi, dengan prinsip, ketika diungkapkan dalam istilah membandingkan biaya peluang atau relatif harga barang dan jasa 40
antara negara cukup umum untuk mencakup berbagai situasi. Selanjutnya, meskipun penjelasan Ricardo keunggulan komparatif itu dalam hal statis, keunggulan komparatif merupakan konsep dinamis. Keuntungan komparatif sebuah negara dalam produk dapat berubah dari waktu ke waktu karena perubahan salah satu faktor penentu keuntungan komparatif termasuk sumbangan sumber daya, teknologi, pola permintaan, spesialisasi, praktek bisnis, dan kebijakan pemerintah. kemampuan manusia juga dapat dianggap sebagai sumber daya. Negaranegara dengan keterampilan manusia berlimpah relatif akan memiliki keunggulan komparatif lebih intensif dalam produk yang menggunakan keterampilan manusia. Beberapa produk seperti elektronik memerlukan tenaga kerja terampil (seperti teknisi, programer, desainer, dan profesional lainnya). produk tersebut dapat memperoleh keuntungan komparatif di negara-negara (seperti Taiwan, Singapura, Hong Kong) mempuyai tenaga kerja yang relatif lebih baik dan terampil. (Keesing, 1966:54). Selain itu, Skala ekonomi dapat memberikan keunggulan komparatif dengan menurunkan biaya produksi. Eksternal ekonomi yang beroperasi dengan menggeser biaya rata-rata perusahaan, sebenarnya dapat terjadi karena kebijakan industri atau peran proaktif dari pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang lebih baik dan tenaga kerja terdidik atau terlatih. Skala ekonomi tersebut sejalan dengan model Ricardian dan faktor proporsi model. Skala ekonomi (internal) dicapai melalui adanya sebuah pasar dan beberapa kebijakan aksesibilitas terhadap pasar yang lebih besar di luar negeri juga berarti biaya produksi yang lebih rendah. Hal ini dapat meningkatkan atau menciptakan 41
keunggulan komparatif untuk industri.(Venon,1966:81) Hipotesis Siklus Produk menekankan pentingnya sifat dan ukuran permintaan produk baru di negaranegara industri. Perdagangan internasional, melalui alokasi sumber daya yang lebih baik, meningkatkan pendapatan, tabungan, dan investasi, sehingga memungkinkan negara untuk mewujudkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Selain itu, untuk negara-negara berkembang, perdagangan dapat memungkinkan mereka untuk mentransformasi barang konsumsi dan bahan baku menjadi barang modal serta keuntungan teknologi tahu bagaimana teknologi negara-negara maju. b) Competitive Advantage Dalam sebuah artikel (Neary,2003:4), berusaha untuk memajukan teori keunggulan komparatif dengan adanya ketidak sempurnaan pasar untuk pemahaman umum keunggulan kompetitif dalam ekonomi. Perbandingan keuntungan secara luas diyakini untuk menjadi kunci penentu produksi dan pola perdagangan internasional, tapi biasanya non-ekonom berpikir sebaliknya. Sesuatu yang harus dilakukan dengan pasar yang kompetitif lebih kepada hambatan lebih rendah atau hanya sejumlah besar perusahaan dapat memberikan suatu industri keuntungan dalam bersaing dengan pesaing asing. Berlainan dengan itu keunggulan kompetitif adalah sinonim untuk keuntungan absolute, beberapa kebijakan superioritas (seperti pajak yang lebih rendah atau fleksibilitas pasar tenaga kerja lebih besar) yang mengurangi biaya untuk semua sektor. Sebuah pendekatan yang berbeda untuk memahami keuntungan kompetitif, dicontohkan oleh Porter pada tahun 1990, adalah dengan 42
menggunakan studi kasus untuk mengidentifikasi faktor, yang mendorong perusahaan negara untuk mencapai pasar saham dunia yang tinggi di industri mereka. Untuk sebagian besar, ekonom mengabaikan pendekatan Porter atau menganggapnya sebagai sekadar penyajian kembali keunggulan komparatif (Warr, 1994:14) Setelah pembangunan Porter dari konsep keunggulan kompetitif, litelatur produktif telah menjamur pada subjek (Hoffman, 2000:4) dan referensi di dalamnya untuk dikutip. Namun, tidak ada suara bulat pada makna dan sumber keunggulan kompetitif. (Porter,1985:96) Porter menekankan daya saing di tingkat perusahaan dalam hal kompetitif sebagai strategi biaya rendah dan diferensiasi produk. Namun, dia mendeskripsikan daya saing tidak memerlukan definisi konseptual formal. Seperti yang dicatat oleh Cho (Cho,1998:1) Mengembangkan
sebuah
definisi
keuntungan
kompetitif
yang
berkelanjutan berdasarkan Barney bersama-sama dengan arti masing-masing kamus
istilah
sebagai
sebuah
keuntungan
kompetitif
adalah
manfaat
berkepanjangan menerapkan beberapa nilai untuk menciptakan strategi tidak secara simultan dilaksanakan oleh setiap atau potensi pesaing saat ini sepanjang dengan
ketidakmampuan
untuk
menduplikasi
manfaat
dari
strategi.
(Barney,1991:17) Definisi ini menekankan daya saing dari suatu perusahaan berdasarkan faktor-faktor spesifik perusahaan dan dengan demikian mengabaikan aspek makro keunggulan komparatif. Sejumlah penulis pada keunggulan kompetitif yang telah difokuskan pada penentu atau sumber keunggulan kompetitif seperti atribut penting dari perusahaan yaitu nilai, ketidakmampuan untuk ditiru, dan 43
ketidakmampuan untuk diganti (Barney,Ibid) potensi sumber daya penting diklasifikasikan sebagai keuangan, fisik, hukum, manusia, organisasi, informasi, dan rasional (Hunt dan Morgan, 1995:59) Kerangka Pemikiran Ekonomi Cina Perdagangan GDP
Kebijakan
Internasional
Ekonomi Amerika Serikat
Dalam bagan kerangka pemikiran diatas bisa dilihat korelasi antara ekonomi Cina dan ekonomi AS yang bersaing dalam perdagangan internasional, sehingga melalui perdagangan internasional itu bisa dilihat gross domestic product(GDP) dari masing-masing negara, AS melihat bahwa GDP Cina mengalami peningkatan secara konstan dan bahkan menigkata dalam setiap tahunnya, sehingga AS merasa khawatir jika peningkatan ekonomi Cina ini terus dibiarkan meningkat maka akan mengancam legitimasi AS sebagai negara super power dunia, oleh sebab itu AS mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menghambat laju pertumbuhan ekonomi Cina. D. Metode Penelitian Penulisan penelitian memerlukan cara pemecahan bagi masalah-masalah yang dihadapi. Adapun arti dari metode itu sendiri diambil dari bahasa Yunani yaitu metodos adalah cara atau jalan, sehubungan dengan upaya ilmiah maka 44
metode menyangkut mengenai cara kerja, yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. (Koentjaraningrat, 1973 : 15) Adapun teknik pengumpulan data dalam penulisan penelitian ini penulis menggunakan data kualitatif, dimana penulis akan menjelaskan permasalahan berdasarkan fakta-fakta dan data yang diperoleh. Angka-angka statistik hanya digunakan sebagai penunjang dari fakta-fakta yang dipaparkan yang diperoleh melalui kepustakaan, dimana konsep-konsep data yang relevan dengan pokok masalah dimbil dari sumber-sumber kepustakaan, seperti buku-buku, majalah, jurnal-jurnal berkala, koran, media elektronik serta laporan–laporan lainnya. Karena penulisan ini bersifat deskriftif, yaitu dengan metode penulisan penelitian yang dilakukan dengan cara menggambarkan, menyusun menganalisa suatu pembahasan melalui kepustakaan, maka penelitian bermula dari hal-hal yang bersifat umum
disarikan dengan
mengumpulkan, menyusun dan
menginterpresentasikan data yang ada. Data yang telah ada tersebut di klasifikasikan sesuai dengan pembahasan skripsi ini. Dengan metode seperti ini diharapkan dapat dipelajari lebih dalam mengenai Kebijakan “Open Door Policy” yang dijalankan di Cina sejak tahun 1979 sampai saat ini yang membawa keberhasilan Cina dalam bidang ekonomi dan diharapkan dapat menganalisa pengaruh yang ditimbulkan terhadap perubahan kebijakan politik luar negeri AS, dan melihat bagaimana hubungan kedua negara dimasa yang akan datang. E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut : 45
a.
Dapat menggambarkan strategi yang dijalankan dalam Open Door Policy dan mengidentifikasi kebijakan perdagangan AS untuk mengatasi Cina.
b.
Melihat hubungan perdagangan antara AS dan Cina dimasa depan.
c.
Sebagai prasyarat untuk mencapai gelar Sarjana Sosial.
2. Manfaat Penelitian : Hasil penulisan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : a. Penulis Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh diperguruan tinggi serta menambah wawasan. b. Civitas Akademika dan pihak-pihak lain Diharapkan dapat menjadi sumber informasi ilmiah dan sebagai bahan kajian lebih lanjut dalam studi hubungan internasional dan Menjadi masukan dan informasi serta bisa dijadikan bahan perbandingan bagi penelitian selanjutnya. F. Sistematika Penulisan Agar pembaca dapat mengetahui alur logika penulis dengan mudah, maka dalam penulisan ini penulis akan membagi pembahasan dalam lima bab, yaitu : Bab I Pendahuluan G.
Latar Belakang Masalah
H.
Rumusan Masalah
I.Kerangka Teoritis 46
J.
Metode Penelitian
K.
Tujuan Penulisan
L.
Sistematika Penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka C.
Konsep Pertumbuhan Ekonomi (Economic Growth)
D.
Konsep Kebijakan (policy)
E.
Konsep perdagangan Internasional (International trade)
Bab III Kondisi Riil Prekonomian Cina A.
Perekonomian Cina Pra dan Pasca Diberlakukannya Open Door Policy 1.
Perekonomian Cina Pra Diberlakukannya Open Door Policy
2.
Perekonomian Cina Pasca Diberlakukannya Open Door Policy
3.
Masuknya Cina kedalam World Trade Organizations (WTO) 3.a. Latar Belakang Masuknya Cina Kedalam WTO 3.b. Tujuan Masuknya Cina Kedalam WTO 3.c. Keuntungan Masuknya Cina Kedalam WTO
B.
Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat 1.
Sejarah diskriminasi kebijakan perdagangan AS
2.
Kebijakan perdagangan AS terhadap Cina
Bab IV Analisis Dampak Kemajuan Ekonomi Cina Terhadap Amerika Serikat 1.
Indikator Kemajuan Ekonomi Cina
2.
Prediksi Hubungan Dagang Cina- Amerika Serikat
Bab V Kesimpulan
47
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar A.1. Konsep Economic Growth (Pertumbuhan Ekonomi) Pada awal tahun 1960 negara di dunia dikategorikan kedalam beberapa kategori yaitu pertama negara maju, seperti negara-negara Eropa, Amerika Utara, Jepang, Australia, dan New Zealand. Kedua Negara berkembang yang termasuk the rest of the word, biasanya negara berkembang mengacu kepada negara dunia ketiga (the third world) yang membedakan mereka dari negara-negara industri barat (the first world) dan yang dulu disebut sebagai blok sosialis yaitu negaranegara Eropa barat (the second world) namun pada tahun 2006, negara dunia tidak hanya terbagi menjadi tiga bagian, ada negara yang berada dalam posisi antara negara berkembang dan negara maju, seperti negara Korea dan Argentina yang disebut sebagai new industrialized country. Para ekonom mencoba memahami pertumbuhan ekonomi dan perkembangannya sejak Adam Smith
dan David
Ricado pada abad ke 18 dan 19. Biasanya general theory perkembangan ekonomi bisa di gunakan di seluruh negara. terdapat beberapa faktor dasar terbatasnya pertumbuhan ekonomi negara miskin yaitu kurangnya pembentukan modal, terbatasnya sumberdaya manusia dan kemampuan perusahaan dan kurangnya modal sosial. (Case & Fair,2007: 764) Pada dasarnya Pertumbuhan ekonomi terjadi ketika
perekonomian
mengalami kenaikan jumlah output, pertumbuhan ekonomi dapat memperbaiki 48
standar hidup dan membawa perubahan. Kenaikan dalam output rill dimulai di dunia barat dengan revolusi industri dan sampai saat ini masih berlanjut dan dengan cepat mengacu pada periode pertumbuhan ekonomi modern. Pertumbuhan ekonomi memperbaiki satandar hidup tapi juga membawa perubahan dalam cara berfikir. Beberpa berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi mengikis nilai-nilai tradisional dan mengakibatkan eksploitasi, perusakan lingkungan, dan banyak terjadi korupsi.(Case & Fair, Ibid : 663) Seperti yang diungkapkan oleh Munir bahwa Pertumbuhan ekonomi merupakan peningkatan output agregat atau pendapatan riil, khususnya output atau pendapatan riil per kapita, selama jangka waktu yang cukup panjang sebagai akibat peningkatan penggunaan input (dalam arti peningkatan jumlah atau efisiensi).( Munir,2008:3) Menurut Kuznets pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari suatu negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekomoni kepada penduduknya, kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau di mungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi institusional dan ideologis terhadap berbagai keadaan yang ada. (Todaro,2000:144) Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa suatu proses prekonomian dikatakan mengalami suatu perubahan atau pertumbuhan apabila tingkat kegiatan ekonomi adalah lebih tinggi daripada yang telah dicapai pada waktu sebelumnya. Menurut Case dan Fair Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan proses yang berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi terjadi apabila : 1.
Masyarakat memperoleh lebih banyak sumber daya. 49
2.
Masyarakat mengetahui cara untuk menggunakan sumber daya yang tersedia secara lebih efisien.
Untuk menaikan standar hidup maka angka pertumbuhaan ekonomi harus lebih besar dibandingkan dengan angka pertumbuhan populasi.
Pada dasarnya
kebangkitan ekonomi berarti pertumbuhan ekonomi, sedangkan Pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) secara umum mempunyai definisi sebagai pertumbuhan GDP riil perkapita. Dalam pengertian ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan GDP atau peningkatan output agregat yang berarti juga penambahan pendapatan nasional.(Case & Fair, Opcit : 665) Case dan fair menjelaskan apabila kita melihat pertumbuhan GDP sebagai fungsi dari tenaga kerja maupun modal, maka Pertumbuhan GDP bisa muncul melalui : 1. Kenaikan penawaran tenaga kerja 2. Kenaikan modal fisik atau SDM 3. Pertumbuhan produktivitas (jumlah produk yang diproduksi oleh masingmasing unit modal atau tenaga kerja)(Case & Fair, Ibid) Pertumbuhan ekonomi merupakan keseimbangan antara sisi agregat permintaan dan sisi agregat penawaran yang menghasilkan suatu jumlah agregat keluaran tertentu (GDP) dengan tingkat harga umum tertentu. Selanjutnya agregat keluaran yang dihasilkan di dalam suatu negara akan membentuk pendapatan nasional (Tambunan, 2001:37)
50
A.2. Konsep Policy (Kebijakan) Secara harifah kebijakan adalah terjemahan langsung dari kata policy, beberapa penulis besar dalam ilmu ini, seperti William Dunn, Charles Jones, Lee Friedman, dan lain-lain, menggunakan istilah public policy dan public policy analysis dalam pengertian yang tidak berbeda. Istilah kebijaksanaan atau kebijakan yang diterjemahkan dari kata policy memang biasanya dikaitkan dengan keputusan pemerintah, karena pemerintahlah yang mempunyai wewenang atau kekuasaan untuk mengarahkan masyarakat, dan bertanggung jawab melayani kepentingan umum. Ini sejalan dengan pengertian publik itu sendiri dalam bahasa Indonesia yang berarti pemerintah, masyarakat atau umum. (Zainal, 2004:67) Dengan demikian perbedaan makna antara perkataan kebijaksanaan dan kebijakan tidak menjadi persoalan, selama kedua istilah itu diartikan sebagai keputusan pemerintah yang relatif bersifat umum dan ditujukan kepada masyarakat umum. Perbedaan kata kebijakan dengan kebijaksanaan berasal dari keinginan untuk membedakan istilah policy sebagai keputusan pemerintah yang bersifat umum dan berlaku untuk seluruh anggota masyarakat, dengan istilah discretion (kebijaksanaan), yang dapat diartikan sebagai keputusan yang bersifat kasuistis untuk sesuatu hal pada suatu waktu tertentu. Keputusan yang bersifat kausitis (hubungan sebab akibat) sering terjadi dalam pergaulan. Seseorang meminta “kebijaksanaan” seorang pejabat untuk diperlakukan secara “istimewa” atau tidak diperlakukan secara “istimewa”, ketentuan-ketentuan yang ada, yang biasanya justru ditetapkan sebagai kebijakan pemerintah (public policy). Jones merumuskan kebijakan sebagai “behavioral consistency and repeatitiveness associated with efforts in and through government to resolve 51
public problems” (perilaku yang tetap dan berulang dalam hubungan dengan usaha yang ada di dalam dan melalui pemerintah untuk memecahkan masalah umum). Definisi ini memberi makna bahwa kebijakan itu bersifat dinamis dalam hubungan dengan sifat dari kebijakan.(Zainal, 2004 :12 ) Sejalan dengan perkembangan studi yang makin maju, William Dunn mengaitkan pengertian kebijakan dengan analisis kebijakan yang merupakan sisi baru dari perkembangan ilmu sosial untuk pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu dia mendefinisikan analisis kebijakan sebagai ”ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai metode untuk menghasilkan dan mentransformasikan informasi yang relevan yang dipakai dalam memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari”. Di sini dia melihat ilmu kebijakan sebgai perkembangan lebih lanjut dari ilmu-ilmu sosial yang sudah ada. Metodologi yang dipakai bersifat multidisiplin. Hal ini berhubungan dengan kondisi masyarakat yang bersifat kompleks dan tidak memungkinkan pemisahan satu aspek dengan aspek lain. (Dunn, 2003 :23) A.3. Konsep International Trade (Perdagangan Internasional) Perdagangan internasional merupakan bagian dari struktur ekonomi politik internasional, sebagai tinjauan, struktur produksi merupakan suatu hubungan antara suatu negara dan aktor-aktor lain. seperti bisnis internasional yang menentukan apa yang harus diproduksi, dimana, oleh siapa, bagaimana, untuk siapa dan berapa harganya. Bersamaan dengan keuangan internasional, teknologi, struktur keamanan, perdagangan yang menghubungkan negara bangsa dan aktoraktor lain, yang mencerminkan saling ketergantungan dan kerjasama yang saling 52
menguntungkan tapi juga bisa memunculkan ketegangan antara negara dan kelompok yang berbeda. (Ballam & Veseth, 2005:117) Perdagangan selalu bersifat politik, begitulah kata Robert Kuttner, perdagangan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari aspek politik. Faktanya, banyak teoritis ekonomi politik internasional yang mengatakan bahwa tidak ada topik yang lebih esensial dibandingkan perdagangan, dan hal itu tidak mengherankan karena sudah dalam ratusan tahun banyak praktisi yang fokus pada masalah perdagangan. Kuttner mengaris bawahi permasalahan bahwa perdagangan saat ini lebih politis dibandingkan dengan yang pernah terjadi.(Balaam & Veseth, Ibid:118) Dalam Sistem perdagangan internasional terdapat konsensus yang besar yang diinginkan oleh sistem perdagangan internasional yang liberal, diantara struktur yang liberal tersebut bagaimanapun, individu negara bangsa dan aktoraktor yang berbeda dalam kebijakan-kebijakan ekonomi merkantilis, dihawatirkan akan menjadi mandiri dan di ekploitasi oleh negara lain, walaupun hal itu sangat mungkin didukung oleh pemimpin negara dan dukungan dari perfektif ekonomi politik internasional, sebuah sistem global dari perdagangan bebas tetapi tetap menerapkan proteksi bagi perdagangan domestik dan pekerja-pekerja yang mendapatkan gaji yang tinggi, tanpa melakukan perusakan lingkungan disekitar pasilitas produksi. Maka dari itu tidak heran
jika kebijakan perdagangan
internasional menjadi sangat kontroversial. (Balaam & Veseth, Ibid:119) Apabila negeri,
dibandingkan dengan pelaksanaan
maka perdagangan
internasional
perdagangan
sangatlah
rumit
di
dalam
dan kompleks.
Kerumitan tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan 53
kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor. Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan dan hukum dalam perdagangan. (Apridar, 2007:116) Ada beberapa manfaat yang dihasilkan dalam perdagangan internasional diantaranya yaitu pertama, memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri. Banyak
faktor-faktor
yang mempengaruhi perbedaan hasil
produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu Kondisi geografi, iklim, tingkat
penguasaan
iptek
dan
lain-lain.
Dengan adanya
perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri. Kedua, memperoleh
keuntungan
dari spesialisasi.
Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri. Ketiga, memperluas pasar dan menambah keuntungan. Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan
adanya perdagangan
internasional,
pengusaha
dapat menjalankan
mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar negeri. Keempat, Transfer teknologi modern. Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern. (Apridar,Ibid:117) 54
Disamping manfaat-manfaat tersebut diatas, terdapat banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di antaranya sebagai berikut : 1. Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri. 2. Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara. 3. Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi. 4. Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut. 5. Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi. 6. Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang. 7. Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain. 8. Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri.( Apridar,Ibid:118) Terdapat perbedaan antara perdagangan domestik dan internasional, yaitu bahwa faktor-faktor produksi seperti modal dan tenaga kerja biasanya lebih mobile dalam sebuah negara dibandingkan di seluruh negara. Dengan demikian perdagangan internasional banyak terbatas untuk perdagangan barang dan jasa, dan hanya sebagian kecil untuk perdagangan modal, tenaga kerja atau faktor produksi lainnya. Kemudian perdagangan barang dan jasa dapat berfungsi sebagai 55
pengganti perdagangan faktor-faktor produksi. Daripada mengimpor faktor produksi, negara bisa mengimpor barang yang intensif menggunakan faktor produksi dan dengan demikian mewujudkan faktor masing-masing. Contohnya adalah impor barang padat karya oleh AS dari Cina. mengimpor tenaga kerja Cina ke AS, mengimpor barang dari Cina yang diproduksi dengan buruh di Cina. Perdagangan internasional juga merupakan cabang ilmu ekonomi , yang bersama-sama dengan keuangan internasional, membentuk cabang yang lebih besar dari ekonomi internasional. Beberapa model yang berbeda telah diajukan untuk memprediksi pola-pola perdagangan dan untuk menganalisis dampak kebijakan perdagangan seperti tarif dan lain-lain, seperti : 1. Model Ricardian Model Ricardian berfokus pada keunggulan komparatif dan mungkin merupakan konsep paling penting dalam teori perdagangan internasional. Dalam model Ricardian, negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang mereka hasilkan yang terbaik. Tidak seperti model lain, kerangka Ricardian memprediksi bahwa negara-negara akan sepenuhnya memproduksi barang. Model Ricardian tidak langsung mempertimbangkan faktor pendukung seperti jumlah relatif dari tenaga kerja dan modal dalam suatu negara. Kelebihan utama model Ricardin adalah bahwa menganggap perbedaan teknologi antara negara-negara. Model Ricardian membuat asumsi sebagai berikut: a. Tenaga Kerja hanya merupakan masukan utama untuk produksi (tenaga kerja dianggap sebagai sumber utama dari nilai). b. Produk Marjinal Konstan Tenaga Kerja (MPL) (produktivitas tenaga kerja adalah konstan, skala hasil konstan, dan teknologi sederhana.) 56
c. Jumlah tenaga kerja yang terbatas dalam perekonomian d. Tenaga kerja antar sektor sangat mobile tapi tidak internasional. e. Pasar persaingan sempurna (price-taker). (Samuelson, 2001:204) Langkah-langkah model Ricardian dalam jangka pendek, sehingga teknologi berbeda. Hal ini mendukung fakta bahwa negara-negara mengikuti keunggulan komparatif mereka dan memungkinkan untuk spesialisasi. Model perdagangan Ricardian dipelajari oleh Graham, Jones, McKenzie dan lain-lain. Semua teori tidak termasuk barang setengah jadi, atau diperdagangkan barang in put seperti bahan dan barang modal. McKenzie, Jones dan Samuelson menekankan bahwa keuntungan besar dari perdagangan akan hilang begitu barang setengah jadi dikeluarkan dari perdagangan. (Samuelson, Ibid) Baru-baru ini, teori ini telah diperpanjang yang mencakup intermediet perdagangan. Dengan demikian, tenaga kerja hanya asumsi yang telah dihapus dalam teori tersebut. Jadi teori baru Ricardian, atau model Ricardo-Sraffa, secara teoritis mencakup barang-barang modal seperti mesin dan bahan, yang diperdagangkan di seluruh negara. Pada masa perdagangan global, asumsi ini jauh lebih realistis daripada model Ohlin Heckscgher, yang mengasumsikan bahwa modal adalah tetap di dalam negeri dan tidak bergerak secara internasional. (Shiozawa, 2007:141-187) Pada awal 1900 teori perdagangan internasional disebut faktor proporsi, teori muncul oleh dua ekonom Swedia, Eli Heckscgher dan Bertil Ohlin. Teori ini juga disebut teori Heckscgher-Ohlin. Teori Heckscgher-Ohlin menekankan bahwa negara harus memproduksi dan ekspor barang-barang yang membutuhkan sumber daya (faktor) yang berlimpah dan barang-barang impor yang membutuhkan 57
sumber daya dalam pasokan pendek. Teori ini berbeda dengan teori keunggulan komparatif dan keunggulan mutlak karena teori ini berfokus pada produktivitas proses produksi untuk barang tertentu. Sebaliknya, negara-negara yang menggunakan teori Heckscgher-Ohlin bahwa negara harus spesialisasi produksi dan ekspor dengan menggunakan faktor yang paling banyak, dan dengan demikian yang termurah. Bukan untuk memproduksi, seperti teori sebelumnya yang menyatakan, menghasilkan barang-barang yang paling efisien. (Samuelson, Opcit) Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif model Ricardian dasar keunggulan komparatif. Meskipun kompleksitas yang lebih besar ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat. Namun dari sudut pandangan teoritis model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan dengan memakai mekanisme harga neoklasik ke dalam teori perdagangan internasional. Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan dalam faktor pendukung . Model ini memperkirakan bahwa negara-negara akan mengekspor barang yang menggunakan faktor intensif berlimpah lokal dan akan mengimpor barang yang intensif menggunakan faktor lokal yang langka. Masalah empiris dengan model Heckscgher-Ohlin, dikenal sebagai paradoks Leontief, dipaparkan dalam uji empiris oleh Wassily Leontief yang menemukan bahwa AS cenderung untuk mengekspor barang padat karya walaupun memiliki banyak modal. 2. Model Heckscgher-Ohlin membuat asumsi inti berikut: a. Tenaga kerja dan arus modal bebas antar sektor
58
b. Produksi sepatu yang padat karya dan produksi komputer adalah padat modal c. Jumlah tenaga kerja dan modal di dua negara berbeda d. Perdagangan bebas e. Teknologi sama di seluruh negara (jangka panjang) f. Selera yang sama.(Samuelson, Ibid)
Masalah dengan teori Heckscgher-Ohlin adalah bahwa ia tidak termasuk perdagangan barang modal (termasuk bahan dan bahan bakar). Dalam teori Heckscgher-Ohlin, tenaga kerja dan modal tetap entitas dikaruniai untuk setiap negara. Dalam ekonomi modern, barang modal yang tetap diperdagangkan secara internasional. Keuntungan dari perdagangan barang setengah jadi cukup besar. B. Penelitian Sebelumnya Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh John dan Doris Naisbitt dalam bukunya yang berjudul China mega trend yang diterbitkan pada tahun 2010 oleh PT. Graamedia Pustaka Utama, John dan Doris mengindentifikasi delapan pilar yang menjadi unsur kebangkitan ekonomi Cina yaitu emansipasi fikiran, penyeimbang top-down dan bottom-up, membingkai hutan dan membiarkan pepohonan tumbuh, menyeberangi sungai dan merasakan bebatuan, persemaian artistik dan intelektual, bergabung dengan dunia, kebebasan dan keadilan dan yang terakhir dari medali emas olimpiade menuju hadiah nobel. John Naisbitt merupakan mantan seorang dosen dari Nanjig Uiversity dan sekarang menjadi dosen Nankai University serta Tianjin University of Finance and Economic, beliau telah mempelajari dan mengunjungi Cina selama 42 tahun, yang dimulai 59
pada tahun 1967. Sedangkan Doris Naisbitt adalah seorang direktur Naisbitt China Institue di Tianjin serta dosen di Yunan University dan beliau mengawali studinya pada tahun 2000, keduanya merupakan pengamat Cina, yang dalam penelitiannya memberikan penelitian mendalam tentang perubahan fundamental dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi Cina, serta dampaknya terhadap negara barat. Pilar pertama yaitu emansipasi fikiran, pilar pertama ini dijelaskan oleh John dan Doris berawal dari seruan Deng Xiaoping kepada rakyat Cina “enyahkan belenggu yang mengikat jiwamu”, seruan ini telah membebaskan fikiran rakyat Cina sehingga dapat melakukan autokritik, emansipasi fikiran melonggarkan kendali dan memberi lebih banyak kebebasan individu, emansipasi pikiran menembus jenjang sosial hingga kelas terbawah, menigkatkan citra diri rakyat Cina, memungkinkan mereka melihat nilai kontribusi mereka terhadap keseluruhan dan mendorong mereka megambil peran di masyarakat. Dalam penelitian John dan Doris menganilisis apa yang sebenarnya terjadi di Cina, kedelapan pilar adalah struktur yang mendukung reformasi Cina, dan semua berawal dari pilar pertama ini, yaitu emansipasi fikiran, tanpa pembebasan bagi rakyat untuk membuat kontribusi individu terhadap keseluruhan, maka struktur tersebut akan runtuh dan hanya rakyat yang dapat melakukannya. Sebagai contoh, Dari seniman kewirausaha, rakyat dibebaskan untuk berfikir dan bertindak sendiri, menentukan langkah mereka sendiri menuju modernisasi Cina. Indoktrinasi dibangun diatas ketakutan, sedangkan emansipasi dibangun diatas kepercayaan. Pemerintah Cina terus mendorong proses emansipasi dalam sistem
60
yang baru sehingga mereka dan rakyatnya dapat berkontribusi terhadap masa depan Cina. Pilar ke dua yaitu penyeimbang top-down dan bottom-up, dalam pilar kedua ini John dan Doris melihat munculnya demokrasi vertikal yang timbul dari rasa saling percaya antara masyarakat dan pemerintah, demokrasi vertikal Cina didasarkan pada keselarasan top down dengan bottom up. Masalah dalam memahami cara demokrasi yang berjalan di Cina timbul karena di negara barat tidak pernah mendengar kekuatan bottom up dan daya yang dimilikinya dalam sistem. Setiap orang di Cina tau bagaimana delapan belas petani di desa terpencil mengubah kebijakan bangsa yang luas hanya dalam seketika, dari langkah pertama dipertanian ini kekuatan bottom up meningkatdan akan terus meningkat secara bertahap. Arah hubungan antara kekuatan top down dan bottom up ditetapkan untuk menciptakan sistem yang dibangun berdasarkan kepercayaan : pemerintah percaya kepada rakyatnya dan rakyat percaya kepada pemerintahnya. Ini adalah model yang cocok dengan sejarah Cina, pemikiran Cina dan dambaan masyarakat Cina akan masyarakat yang harmonis dan stabil. Demokrasi barat tidak dibangun dalam satu generasi, proses pematangannya memakan waktu ratusan tahun sedangkan Cina mengambil langkah-langkah besar hanya dalam satu generasi, John dan Doris yakin bahwa dunia dan rakyat Cina akan menjadi baik apabila barat mendukung evolusi bertahap demokrasi vertikal serta pembanguna ekonomi di Cina. Pada pilar ke tiga yaitu membingkai hutan dan membiarkan pepohonan tumbuh, dalam demokrasi vertikal yang diciptakan Cina visi dan sasarannya dibentuk melalui proses top down dan bottom up, pemerintah memberi kerangka 61
kebijakan dan perioritas, tempat rakyat dapat menciptakan aturan dan kontribusi mereka sendiri terhadap keseluruhan, membentuk struktur yang memungkinkan serta mengambil manfaat dari keberagaman. Dalam pilar ke tiga ini John dan Doris membahas beberapa bingkai diantaranya, pertama, bingkai politik : pematangan demokrasi vertikal di Cina akan berlangsung secara pararel dengan demokratisasi di PKC. Kuncinya mengembangkan, memperkuat, dan memperluas peraturan pemilihan tanpa menimbulkan disrupsi serta perpecahan karena prilaku parrtisipan. Jika sistem satu parrtai sudah cukup menawarkan pluralisme bagi rakyat Cina. Kedua, bingkai militer : Cina tidak pernah menjadi kekuatan kolonial dan tidak menunjukan tanda-tanda ambisi teritorial. Dalam pidatonya di kongres partai, Presiden Hu Jintao menjelaskan tugas utama pertahanan nasional adalah menjaga kedaulatan, keamanan dan keutuhan wilayah Cina serta membantu menjaga perdamaian dunia. Dengan perubahahan politik Taiwan , peluang unifikasi nasional tampanya lebih mungkin daripada sebelumnya. Cina terlalu pintar untuk tidak menggunakan sinergi: satu negara dua sistem”. Yang ketiga adalah bingkai ekonomi : sasaran abad ke 21 sudah ditetapkan, mengubah Cina dari bengkel kerja dunia menjadi inovator dunia. Tantangan terbesarnya selain mempertahankan pertumbuhan adalah melaksanakan pertimbangan lingkungan yang telah dicanangkan. Dan yang keempat adalah bingkai budaya dalam bingkai ini tedapat apresiasi terhadap yang lama dan kesadaran yang kuat terhadap yang baru, dalam dunia seni, setiap orang mengekspresikan perasaan mereka sendiri dan perasaan itu didasarkan pada kesadaran diri baru yang sering kali berbeda dengan kerangka sosial yang
62
mempersatukan. Seniman mengambil jarak dari aturan-aturan dan nilai-nilai lama serta terbuka terhadap fantasi dan imajinasi dalam bingkai emansipasi pikiran. Pilar ke empat John dan Doris menyebutnya menyebrangi sungai dan merasakan bebatuan, istilah ini mencerminkan prilaku pemimpin Cina pada awal perjalanan menuju Cina baru. Sebagai pengganti arah dan tujuan yang kaku, pola fikir ini memungkinkan Cina merasakan jalannya, memungkinkan trial and eror, tidak takut resiko, melakukan eksperimen dan menentukan cara terbaik dengan mencari kebenaran dari fakta-fakta. Mega trend ditulis dari 25 tahun yang lalu, mengatakan tentang AS sebagai masyarakat, kita bergerak dari yang lama ke yang baru. Kita masih bergerak dan mengalami gejolak namun ditengah era yang tak pasti ini, restrukturisasi AS terus bejalan tanpa henti, masyarakat AS baru belum sepenuhnya terbentuk namun restrukturisasi AS sudah mengubah kehidupan kita. China mega trand menggambarkan transformasi Cina. menyebrangi sungai dan merasakan bebatuan itu bermakna untuk meraih kesuksesan, bayaknya rintangan, gejolak dan bebatuan yang menghadang namun Cina terus berjuang untuk melewati rintangan tersebut sampai akhirnya bisa menyebrang dan Cina berhasil menggapai kesuksesan. Pilar ke lima persemaian artistik dan intelektual, istilah ini bemakna tidak ada masyarakat yang berubah lebih baik tanpa seniman dan intelektual dibarisan depan. Dalam Cina baru terdapat batas-batas serta peningkatan ambisi sehingga keterampilan dan bakat orang Cina bebas berkembang. Seniman dan cendikiawan adalah yang pertama melepaskan diri dari aturan serta pembatasan. Membuka fikiran mereka untuk berimajinasi dan berfantasi. Pada awal 1990 John menyaksikan bagaimana ambisi awal bakat artistik dan semangat kewirausahaan 63
ditampilkan ketika mengunjungi sekolah eksperimental di Beijing, itu merupakan kelas anak berusia 6 tahun yang akan naik ke kelas satu, ketika John selesai mengunjungi sekolah tersebut anak-anak tersebut memberikan kartu perpisahan yang dibuat oleh sang anak, mengagetkan John mendapatkan sekitar 25 kartu nama lengkap dengan nomor telepon yang mereka sebut kartu nama untuk berbisnis. Dari hal tersebut bisa terlihat bahwa jiwa bisnis Cina sudah muncul sejak dini pada diri masyarakat Cina. Pilar ke enam, bergabung dengan dunia, keterlibatan ekonomi, politik dan budaya Cina yang agresif dengan seluruh dunia adalah penegasan bahwa Cina adalah anggota masyarakat global sesuai taraf kemajuannya sendiri. Ketika Cina memasuki panggung dunia sebagai pemain serius, para aktor mapan menugasinya sebagai aktor pembantu, namun Cina terlalu bagus untuk sebagai pemain pembantu, Cina berhasil mendapatkan jalannya kepusat perhatian dan bukan hanya bergabung dalam organisasi tetapi juga mempunyai pengaruh dalam menentukan keputusan kebijakan. Pada abad ke 20 panggung dunia didominasi oleh AS dan Soviet, peran yang mereka mainkan adalah sebagai lawan, ketika Unisoviet pecah maka AS menjadi satu-satunya negara adikuasa secara ekonomi dan militer. AS menetapkan standar yang menjadi patokan bagi bangsa-bangsa lain. Masuknya Cina kedalam dunia internasional meningkatkan taraf ekonomi Cina sehingga Cina Cina dapat menjadi pemain
yang paling penting dalam
tatanan dunia. Pilar ke tujuh, kebebasan dan keadilan, pilar berisi mengenai perjuangan untuk menyeimbangkan apa yang mungkin secara ekonomis dengan apa yang diinginkan secara sosial, kebebasan seseorang untuk meraih kesuksesan finansial 64
dengan kebutuhan banyak orang atas layanan sosial. Dalam upaya menemukan keseimbangan antara kebebasan dan keadilan, model demokrasi vertikal Cina memiliki keuntungan, kontinuitas partai politik yang berkuasa memungkinkan perencanaan jangka panjang tanpa gangguan dan perubahan politik berfikir serta bertindak yang berfokus kepada pemilihan. Model Cina dapat menciptakan mekanisme lokal dan nasional untuk mengurangi jumlah parasit sosial sehingga tersedia lebih banyak dana bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Bingkai besar kesejahtraan sosial dapat disediakan pemerintah pusat, memberi ruang kepada pemerintah dan otoritas daerah agar lebih dekat pada inti masalah untuk mencari solusi melalui partisipasi bottom-up. Namun pendidikan merupakan kunci untuk mempermudah merubah nasib, pendidikan dapat menjadikan masyarakat yang pandai dalam mencari solusi dalam situasi yang sulit dan kecil kemungkinan untuk terus bergantung kepada pemerintah. Pilar ke delapan, dari medali emas olimpiade menuju hadiah nobel, John dan Doris mengatakan dalam dekade mendatang saksikanlah bagaimana Cina menduplikasi kesuksesan olimpiade kedalam kinerja ekonomi dan daya saing, keberlanjutan ekonomi Cina sekarang lebih terkait erat dengan peralihan dari imitasi ke inovasi, dari manufaktur bagi merek ke menciptakan merek. Cina sedang mengambil langkah-langkah untuk menjadi negara inovasi dunia. Cina melakukan upaya sukses dalam memobilissi sumber daya manusia untuk meningkatkan standar teknologi perekonomian, presideh Hu Jintao menegaskan ilmu pengetahuan Cina untuk menjadikan Cina negara inovatif, kita harus memiliki program wajib belajar gratis dalam sistem pendidikan nasional modern. Mungkin saja dengan sistem dan rancangan Cina ini, Cina bukan hanya akan 65
memenangkan hadiah nobel tetapi juga meluncurkan sistem sosioekonomi yang secara keseluruhan baru yang dapat mengentaskan kemiskinan. Serta menatang AS sebagai bangsa yang inovatif. Dari penelitian yang dilakukan Oleh John dan Doris Naisbitt, terindentifikasi 8 pilar yang menjadi faktor kebangkitan ekonomi Cina, dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam skripsi ini ditemukan 10 faktor yang menjadi faktor kebagkitan ekonomi Cina, dalam penelitian John dan Doris Naisbitt menganalisa bahwa akan adanya persaingan yang ketat antara Cina dan AS walaupun tidak dibahas lebih lanjut mengenai masa depan hubungan kedua negara tersebut, sedangkan dalam penelitian penulis di dapatkan hasil bahwa antara Cina Dan AS dimasa depan akan terjalin kerjasama yang baik diantara keduannya.
66
BAB III KONDISI RIL EKONOMI CINA DAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN AS
A. Perekonomian Cina Pra dan Pasca Diberlakukannya Open Door Policy A.1. Budaya Bisnis Cina Tradisional dan Perekonomian Cina Pra Diberlakukannya Open Door Policy Pembahasan mengenai prekonomian Cina pada masa modern tidak dapat dilepaskan dari kaitannya dengan kebudayaan masyarakat Cina tradisional. Pembahasan aspek ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan sistematis. Momentum kebangkitan para kaum bisnis Cina sudah dimulai pada akhir abad kesembilan belas, tepatnya pada era awal keruntuhan dinasti Qing. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa sebelum masa ini kaum bisnis Cina tidak atau belum pernah ada. Golongan pedagang sudah dikenal di Cina sejak runtuhnya feodalisme dinasti Zhou (1122-246 SM). Saat itu dan hingga seterusnya, golongan ini eksis di masyarakat Cina, namun menempati posisi sosial yang paling rendah. Masyarakat Cina tradisional menggunakan sistem hierarkis dalam memandang nilai pekerjaan seseorang. Penekanannya kepada nilai tenaga kerja. Berikut adalah empat lapisan sosial yang terdapat pada masyarakat Cina tradisional, dari strata yang paling rendah hingga yang paling tinggi : 1. Kaum pedagang, pemain teater, tentara. 2. Kaum pengrajin (tukang batu, tukang kayu, dan lain-lain) 3. Kaum petani 4. Kaum elit pemerintahan 67
Fungsi kaum pedagang pada masyarakat Cina tradisional dalam hubungannya dengan sistem strata sosial tersebut hanyalah sebatas sebagai pengelola pasar, pelatihan magang dan ritual pemujaan.(Morse, 1932:23) Mereka tidak pernah menentang sistem sosial yang sudah berjalan seperti itu, dan berharap dapat meningkatkan status sosial keluarganya dengan mendidik anakanaknya agar dapat menjadi bagian dari kaum terpelajar. Sistem masyarakat Cina tradisional sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai lama seperti Konfusianisme. Ajaran yang muncul pada dinasti Zhou timur ini mengajarkan suatu ide tentang bagaimana suatu negara seharusnya dijalankan, dengan menekankan kepada pendidikan moral berdasarkan suatu sistem yang hierarkis. Konfusianisme mengajarkan bahwa negara (Cina) harus dijalankan secara hierarkis, yaitu Cina dibangun berdasarkan negara keluarga, satu organisasi sosial yang otokratis, hierarkis, dan tidak demokratis. Kemakmuran bersama dicapai dari hasil-hasil pertanian. Kesetabilan suatu negara dapat dijamin dengan hierarki yang jelas. Dengan kata lain, yang lebih rendah taat kepada yang lebih tinggi, dan yang lebih tinggi menunjukkan kemurahan hati sebagai balasan terhadap kesetiaan tersebut. Dalam konvensi moralnya Konfusianisme juga mengajarkan tentang paham kolektivisme. Menurutnya, kolektivisme ini menentukan status individu yang ditentukan oleh hubungannya dengan sistem hierarki. Oleh karena itu, orang yang beretika Konfusianisme akan bertindak sesuai dengan harapan orang lain daripada keinginannya pribadi, sehingga mereka selalu bersedia bekerjasama. Individu tidak terpisah dari struktur sosial, melainkan sebagai komponen etis dari 68
suatu bangunan sosial yang lebih besar. Semua hal yang disebut inilah yang mendasari atas berjalannya sistem sosial pada masyarakat Cina tradisional. Telah diketahui bahwa kaum pedagang menempati posisi terbawah dari strata sosial masyarakat Cina tradisional. Kaum yang dianggap berkemampuan lebih, atau lihai, dan selalu bernafsu mengejar keuntungan sendiri oleh masyarakat Cina tradisional, jelas-jelas diposisikan sebagai golongan inferior pada masyarakat, sama seperti yang dikemukakan oleh Guo Hengshi pada sebuah esainya yang berjudul The Early Development of The Modern Chinese Business Class : “Treacherous Merchant was the usual phrase for traders or middlemen. All material innovation and prosperity was renounced by the great teaching of Confucius and his followers. From time to time, merchants were actually suppressed, especially when they appeared to mount in power.” ( Levy & Hengshi, 1949 : 19) Konsep pembagian tenaga kerja pada masyarakat Cina tradisional sematamata berdasar atas dikotomi yaitu literati dan petani. Literati berperan dalam menjalankan pemerintahan, petani diperintah dan memproduksi hasil bumi untuk mendukung para super ordinatnya. Akibatnya, prestise kaum literati pada strata sosial lebih tinggi dibanding golongan lainnya, karena mereka dikatakan bekerja dengan pikiran, dan petani yang menggunakan tangannya menempati posisi di bawahnya. Semua aktivitas penghidupan selain pengolahan tanah dianggap tidak lazim dan tanpa dukungan moral. Sistem ekonomi pasar sosialis yang dilakukan di Cina sejak tahun 1992 memberikan banyak sekali kemajuan bagi masyarakat Cina moderen. (Wibowo, 2004 : 38) Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa sistem ekonomi 69
Cina yang baru memiliki keunikan yang tidak pernah ada di negara manapun di dunia, sistem ini pun memiliki beberapa elemen-elemen penting yang lahir dari setiap aktivitas budaya (melalui bisnis). Berikut beberapa elemen tersebut : guanxi, ganqing dan xinyong. a). Guanxi Secara harafiah, guanxi berarti hubungan, makna ini dapat digunakan untuk setiap jenis hubungan. Dalam budaya bisnis Cina guanxi dapat diartikan sebagai koneksi. Koneksi di sini bermakna sebagai suatu jaringan hubungan di antara bermacam-macam personal, kelompok
atau badan yang saling
bekerjasama dan mendukung satu sama lain. Mental para pembisnis Cina sangat dekat maknanya dengan sebuah idiom dari Barat, “You scratch my back, I’ll scratch yours.” Di mana pun, kapan pun, dalam mengurus segala hal, orang Cina selalu “kao guanxi”, artinya pakai koneksi.(Wibowo, ibid : 177) Tanpa memperhitungkan pengalaman seseorang atau sebuah badan di negara asalnya, guanxi adalah jaminan akan kelancaran berbisnis di Cina. Guanxi dapat meminimalisir kemungkinan gagal suatu badan dalam berbisnis di Cina dan hambatan-hambatan lainnya seperti prosedur bayangan, dan lain-lain. Jika didapatkan secara tepat, Seringkali guanxi yang benar-benat tepat dihubungkan dengan pihak yang berwenang (pejabat setempat atau pemerintah) yang nantinya akan sangat menentukan eksistensi badan (perusahaan) tersebut di Cina dalam jangka panjang.
70
b). Ganqing Secara harafiah ganqing berarti perasaan. Dalam budaya bisnis Cina konsep ganqing masih berhubungan dekat dengan guanxi. Ganqing merefleksikan suasana umum dari hubungan sosial dari dua orang atau dua badan yang saling berinteraksi. Seseorang dapat dikatakan memiliki ganqing yang baik jika hubungannya dengan orang lain tersebut baik, selain track-record hubungan yang baik di antara keduanya. Sedangkan ganqing yang mendalam adalah terdapatnya ikatan perasaan atau hubungan batin yang dalam pada hubungan sosial itu sendiri. Contoh dari ganqing sering ditemukan pada pernyataan-pernyataan pemerintah Cina dan seringkali salah diterjemahkan ketika diaplikasikan pada konteks ini. Perkataan atau tindakan yang dapat melukai perasaan orang Cina sepatutnya dihindari jika ingin terus bekerjasama (berbisnis) dengan mereka. Konsep ganqing juga dekat sekali maknanya dengan konsep muka dalam budaya Cina. Konsep muka dalam kebudayaan Cina mengacu kepada dua hal yang berbeda tapi saling berhubungan, yaitu mianzi dan lianzi. Lian adalah kepercayaan masyarakat dalam karakter moral seseorang. Sedangkan mianzi merepresentasikan persepsi sosial terhadap prestise seseorang. Konsep menjaga muka sangat penting halnya dalam hubungan sosial masyarakat Cina karena muka mewakili kekuasaan dan pengaruh. Kehilangan lian berakibat pada hilangnya kepercayaan sosial terhadap seseorang. Dan kehilangan mianzi berakibat pada kehilangan wibawa dan wewenang seseorang. Orang Cina berusaha sebisa mungkin menghindari suatu konflik dalam melanggengkan hubungan dengan sesamanya. Ketika mereka menghindari konflik 71
biasanya orang Cina akan berusaha untuk tidak menyebabkan seseorang kehilangan mianzi-nya, yaitu dengan tidak memunculkan kenyataan-kenyataan yang memalukan ke hadapan publik. Sebaliknya, ketika mereka ingin menantang suatu wewenang atau orang lain dalam suatu komunitas tertentu, orang Cina akan berusaha menyebabkan orang tersebut kehilangan lian atau mianzi. Satu contoh publik akan hal ini yaitu saat Tragedi Tian’anmen 1989 di mana Wu’er Kaixi mencemooh PM Li Peng karena datang terlambat untuk bertemu dengan para demonstran. Akibatnya, Li Peng kehilangan mianzi karena dia terlihat datang terlambat dan menjadi figur pemerintah yang sangat tidak populer di mata kalangan publik Cina, khususnya menyangkut peristiwa Tian’anmen. ( Wibowo, ibid : 180) c). Xinyong Dalam istilah bahasa Inggris, xinyong disebut sebagai gentlemen’s agreement (Cheng, 1985). Xinyong dalam budaya bisnis Cina bermakna sebagai sebuah jaringan antar pribadi. Bagi orang Cina kepercayaan antar pribadi merupakan hal yang terpenting. Para pengusaha etnis Cina biasanya hanya berhubungan komersial dengan orang yang sudah mereka kenal. Oleh karena itu, reputasi seseorang penting artinya bagi transaksi bisnis. Dahulu, para pembisnis Cina secara pribadi akan berhubungan langsung dengan rekan-rekan bisnisnya, karena hal ini akan meningkatkan kemutlakan peran pemilik di samping tetap menjaga reputasinya sebagai pemilik perusahaan. Fenomena serupa terjadi hingga kini di perusahaan-perusahaan milik etnis Cina di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Sebaliknya, 72
fenomena di Cina Daratan menunjukkan bahwa kehadiran seorang pemimpin perusahaan dalam sebuah pertemuan bisnis tidak selalu signifikan, karena keputusan final tetap dipegang oleh dewan eksekutif yang belum tentu hadir di pertemuan tersebut, yang bisa saja mengakibatkan suatu pertemuan bisnis dengan tema yang sama dapat terjadi berkali-kali dan mungkin sangat alot bagi pihak asing yang masuk ke dalam lingkaran mereka. (Wang, Goodfellow dan Zhang, op cit) Xinyong dapat tertuang dalam kontrak verbal di suatu transaksi bisnis. Angin perubahan pada Cina moderen secara kebudayaan dapat dikatakan dimulai sejak kejatuhan dinasti Qing, yaitu saat pengaruh asing masuk secara masif ke daratan Cina dan mempengaruhi segala aspek kehidupan secara signifikan. Salah satu contohnya adalah dengan diberlakukannya Perjanjian Nanking yang sangat memberatkan bangsa Cina dan mengharuskan Cina untuk membuka diri terhadap dunia luar. Tercatat pada era ini dasar bagi perekonomian dan kebudayaan Cina moderen telah mengalami perubahan yang berarti. Kebudayaan lama mulai ditanggalkan dan nilai-nilai yang dianggap sudah tidak relevan lagi dienyahkan. Salah satu buktinya adalah wusi yundong (peristiwa 4 Mei 1919), yang berusaha menghapuskan Konfusianisme di Cina serta merubah dunia kesusastraan dan sosial-kebudayaan masyarakat Cina. Cina sejak dahulu penuh dengan nilai-nilai revolusioner. Budaya bisnis Cina moderen sendiri mengalami perubahan yang signifikan. Secara garis besar, gejolak di Cina pada awal abad kedua puluh memunculkan kelas baru di masyarakat Cina yang disebut dengan kelas komprador(kelas baru yang timbul dari pertentangan kelas proletar dan borjuis). Golongan ini bertugas mewakili hubungan dagang antara pemerintah Cina (saat itu masih dipegang Dinasti Qing) 73
dan pihak Barat atau negara asing lainnya. Saat itu, di tengah-tengah masyarakat sendiri pertentangan konsep antara bisnis dan nilai-nilai patriotisme (bukan lagi nilai
moral),
masih
hangat
sekali.
Sebagian
masyarakat
Cina
masih
mengharamkan bisnis (apalagi) dengan pihak asing, sebagian lagi marah karena diinjak-injak martabatnya oleh bangsa asing sehingga mereka mencari alternatifalternatif dalam mengatasi penghinaan semacam ini. Selama tiga dekade pertama Cina memiki sistem terencana yang sentralistis dalam tradisi komunis, walaupun tidak sekaku komunis Soviet, sistem itu berubah-ubah dan perubahan itu seringkali belangsung seara dramatis. Periode pertama tahun 1949 sampai 1956, adalah suatu periode rekonstruksi dan transisi. Kelompok pejabat ahli seperti dibidang keuangan dan logistik pada kenyataannya merupakan ahli waris dari era republik, sebagai mana kaum republikan mewarisi segalanya dari pejabat kerajaan ketika mereka memerintah, melestarikan sebuah era yang berkesinambungan. Perusahaan lain tetap beroprasi, meskipun oprasi mereka tidak dapat berjalan denga lancar serta dikontrol. Periode kedua yang disebut management tunggal (one man management), berlangsung dari tahun 1956- 1959. Itu merupakan replika model Soviet yang kaku, dibarengi mengimpor produk berteknologi soviet dan pemikiran Soviet yang menyalahkan pendidikan Cina. Saat soviet menarik diri, Cina segera sadar bahwa Cina bisa mengoprasikan mesin sendiri, tetapi kurang mampuh meningkatkan teknlogi melalui inovasi. Periode ketiga dikenal dengan lompatan jauh kedepan (great leap forward) 1958-1960, periode ini menjalankan ideologi Mao Zedong yang dianggap gagal, saat produksi didorong kepedesaan dengan konsekuensi merugikan bahkan mengakibatkan kelaparan masal. Setelah 74
itu Mao mengeluarkan kebijakan baru untuk menanggulangi kegagalannya dan lompatan jauh kedepan Mao meluncurkan revolusi kebudayaan pada tahun 1966, ketika Mao membebaskan pasukan merahnya untuk menindak kaum intelektual dan pejabat senior, menghancurkan sistem pendidikan dan sebagian besar perekonomian yang telah terorganisasi. Cara-cara itu terus berlangsung sampai tahun 1968, tetapi konsekuensnya bertahan sampai 1975. (Shenkar,2007: 51-52) Revolusi Kebudayaan dianggap sebagai salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi di Cina. keterlibatan Mao Zedong dan kelompok pemuda, yang dikenal sebagai tentara merah, sering menindak para pejabat pemerintah, dan kemudian mengambil alih kota-kota dan provinsi.
Revolusi ini dimulai di
Shanghai dan dengan cepat menyebar ke seluruh negara. Perekonomian turun sekitar 30% selama tiga tahun, dan mengalami stagnasi selama sisa periode itu. Selain
itu,
seluruh
generasi
kehilangan
pendidikan
dan
menghambat
perkembangan Cina selama bertahun-tahun kedepan. (Joseph, Wong dan Zweig, 1991:9) Pada perkembangannya ketika kaum komunis mutlak menguasai pemerintahan Cina daratan, dunia bisnis Cina (dalam konteks ini individu maupun badan swasta) untuk sekali lagi kembali ditekan. Segala individu maupun badan swasta yang melakukan bisnis tanpa otorisasi elit kaum komunis pasti akan dicap sebagai antek-antek kapitalis atau dengan kata lain bertentangan dengan nilai-nilai kaum revolusioner. Begitu ekstremnya tindakan kaum revolusioner Cina hingga kesusastraan Cina pun dijadikan alat propaganda untuk mendukung komunisme, salah satunya dengan menyerang para kapitalis atau individu yang dianggap sebagai oposisi. Sejak merdeka 1949 hingga sebelum diberlakukannya gaige 75
kaifang 1979, Cina memeluk ekonomi terencana secara pusat, yang menempatkan negara pada posisi sentral. Selama 30 tahun itulah dunia bisnis Cina stagnan. Baru pada Desember 1978, yaitu ketika Kongres XI Partai Komunis Cina mengesahkan rumusan gaige kaifang atau kebijakan reformasi dan keterbukaan, bisnis Cina kembali menggeliat. Cina masuk pada tahap baru, jauh berbeda dibanding sebelumnya. Bahkan seorang Deng Xiaoping sekalipun menegaskan dalam evaluasinya yang dikeluarkan pada September 1982
“Kemiskinan bukan
sosialisme. Sosialisme berarti melenyapkan kemisikinan”. A.2. Perekonomian Cina Pasca Diberlakukannya Open Door Policy Kemajuan ekonomi Cina berawal pada reformasi ekonomi yang dijalankan oleh Deng Xiaoping yaitu pada tahun 1978, keberhasilan ini merupakan buah dari reformasi ekonomi yang dirancang rapi dan konsisten serta dikembangkan oleh generasi seterusnya. Dengan cadangan devisa 1,2 triliyun USD, Cina sekarang mampu memberi subsidi ekspor, pendapatan perkapita Cina mencapai 1.740 USD juga pertumbuhan ekonomi diatas 7% sejak tahun 1978. ( Taufik, 2008: 21) Jika dilihat lebih dalam sesungguhnya usaha untuk meningkatkan ekonomi Cina sudah dilakukan pada era Mao Zedong, yaitu menjalankan politik lompatan jauh kedepan pada tahun 1958 yang dilanjutkan dengan revolusi kebudayaan (the great proletarian cultural revolution) pada tahun 1966-1976, saat itu Cina diramaikan dengan gerakan anti kapitalisme, tentara merah menyerang para dosen, dokter, seniman, novelis dan mereka yang dianggap tidak mewakili kaum proletar. Revolusi kebudayaan yangn dicetuskan tidak membuat Cina menjadi lebih baik, tetapi malah membuat Cina semain terpuruk dan dikucilkan oleh 76
dunia internasional, bahkan termasuk oleh Uni Soviet, namun pengucilan ini tidak berlangsung terlalu lama setelah Cina
berpihak kepada NAM (non aligned
movevement) atau gerakan non blok. (Taufik, Ibid : 24) Pada tahun 1972 presiden AS Richard Nixon mengusulkan Cina menjadi anggota tetap PBB yang mempunyai hak veto untuk menggantikan Taiwan, Dengan masuknya Cina dalam keanggotaan PBB Cina mulai terbuka terhadap dunia barat dan satu persatu negara-negara di dunia mengadakan hubungan diplolmatik dengan Cina. (Taufik, Ibid : 24) Semenjak Cina membuka diri terhadap dunia internasional, negara-negara di dunia mulai menanamkan investasi dari luar negeri walaupun cakupannya masih terbatas. Setelah era Mao Zedong berakhir dan digantikan oleh Deng Xiaoping pada tahun 1978, Cina menjadi sebuah bangsa yang terbuka terhadap dunia barat tidak seperti Cina pada era Mao Zedong yang tertutup terhadap duina barat. Sejak berkuasanya Deng Xiaoping Cina menjalankan dual sistem yaitu secara politik tetap komunis secara ekonomi Cina menjalankan sistem kapitalis atau sistem sosialisme pasar. Walaupun pada masa pemerintahan Deng Xiaoping muncul demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa dan masyarakat pro demokrasi yang berjumlah sekitar 10.000 sehingga meletusnya tragedi Tian’anmen, Indikator prekonomian Cina memang berubah derastis setelah reformasi ekonomi Cina, reformasi ini merujuk pada program ekonomi dengan karakteristik khas Cina. Program reformasi Cina yang diluncurkan oleh Deng Xiaoping terdiri dari dua unsur utama, pertama, mengubah sistem insentif dan kepemilikan dimana milik pribadi menjadi lebih dominan daripada milik negara. Kedua, membuka pintu artinya liberalisasi perdagangan luar negeri, investasi asing dan domestik. 77
Kebijakan investasi asing yang liberal dilengkapi peraturan ketat, yang mewajibkan berbagai perusahaan asing untuk melakukan transfer technology kepada berbagai perusahaan domestik, sebagai imbalan di bukanya pasar domestik Cina yang besar bagi berbagai perusahaan asing. (Wee, kompas, 2009) Sejak Deng Xiaoping meluncurkan program reformasi ekonomi tahun 1979, ekonomi Cina mengalami pertumbuhan. Akibat pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 10% pertahun dan berlangsung hampir 30 tahun, menurut perkiraan Bank Dunia, persentase penduduk Cina yang hidup di bawah garis kemiskinan telah menurun dari 60% pada 1978 menjadi 7,0% pada 2007. Ini berarti sejak 1979 kesejahteraan ratusan juta penduduk Cina yang miskin dapat ditingkatkan, suatu kinerja yang tiada taranya dalam sejarah ekonomi dunia. (Wee, kompas, 2009) Jika banyak pendapat bahwa SDM Cina sangat murah, sebenarnya SDM Cina bukanlah yang termurah jika dibandingkan dengan para pekerja di negaranegara miskin di Asia Tenggara atau Afrika. Namun, Cina memiliki tenaga kerja yang handal dan patuh yang tertanam dari ajaran Konfusinisme. Tenaga kerja yang tersedia di Cina juga tidak hanya buruh rendahan tapi sejumlah sarjana dan ilmuan yang jumlahnya sangat banyak. Cina sangat mencolok dalam tingkatan doktoral. Pada tahun 2002 menurut National Science Foundation (NSF), 2.395 Siswa Cina meraih gelar Doktor dibidang sains dan rancang bangun. Sebagai pembanding, India hanya memiliki 678 lulusan yang sama saat itu. Jumlah penduduk yang besar ini juga bukan hanya berarti tenaga kerja yang melimpah tapi juga pasar yang besar. Kenyataan di atas menarik banyak investor asing untuk berinvestasi di Cina. Investasi asing telah menyebabkan pertumbuhan industri yang kian pesat juga alih teknologi yang sangat 78
menguntungkan. Investasi asing ini merupakan modal yang membuat Cina terus tumbuh. Secara keseluruhan kebangkitan Cina disokong oleh kebijkan-kebijakan ekonomi yang mampu memacu industri-industri strategis dan memacu ekspor. Kebijakan-kebijakan inilah yang seringkali menjadi konflik bagi Cina dan AS. Selama seperempat abad AS mengalami defisit perdagangan yang kini mencapai 0,5 triliun Dollar AS per-tahun, ini merupakan defisit perdagangan terbesar di dunia dan Cina merupakan penyebab defisit terbesar bagi AS. GDP (gros domestic product) Cina meningkat empat kali lipat. Cina menggunakan sistem ekonomi yang sentrakistik untuk mengatasi masalah kemiskinan yang terjadi akibat kegagalan sistem ekonomi di periode sebelumnya. Sebelumnya pendapatan orang Cina yang tergolong miskin hanyalah $1/hari sebanyak 643 juta orang di tahun 1981 menjadi 212 juta di tahun 2002. Pemerintah Cina menjamin hak milik pribadi serta menerapkan sisitem harga tetap terhadap barang hasil produksi serta memberikan stimulus berupa insentif kepada pengusaha daerah dan petani. Karena selama ini angka kemisknan banyak terjadi di wilayah pedesaan. Dengan diberikannya stimulus tersebut maka semangat para petani serta pemerintahan daerah menjadi lebih tinggi. Semangat tersebut tentunya akan memicu produksi tinggi dan memicu pertumbuhan ekonomi di Cina. Namun Cina tetap berusaha mempertahankan badan umum milik negara (BUMN) yang mereka miliki padahal itu dapat menjadi hambatan dalam perekonomian Cina sendiri. BUMN yang bermasalah dengan keuangannya akan menyedot hasil penghasilan yang diperoleh, namun jika pertumbuhan
79
ekonomi Cina terus meningkat dan stabil maka hal itu tidak menjadi masalah yang begitu besar. Reformasi ekonomi ini memiliki tujuan peningkatan ekonomi bagi kaum miskin dengan cara memaksimalkan kemampuan serta apapun yang dimiliki oleh masyarakat miskin tersebut agar berguna bagi kehidupan masing-masing. Para pengusaha daerah dan petani yang dikenal dengan sebutan (township and village enterprises) TVEs memiliki beberapa kelemahan diantaranya tidak adaya kewenangan
bagi
mereka
atas
pemasukan
maka
mereka
tidak
dapat
menyelamatkan TVEs yang memilki kinerja buruk. (Todaro dan Smith, 2006 : 23) Kebijakan open door policy sukses menarik investor datang ke Cina. Padahal pada saat itu Cina terus dibayangi oleh kemajuan ekonomi negara disekitarnya seperti Korea selatan dan Taiwan. (Siswanto, 1997 : 72) Dapat dilihat akibat dari open door policy memang membawa angin perubahan yang sangat fantastis terhadap perekonomian. Hal ini di mulai pada akhir perang dingin, Cina memperoleh kesempatan untuk fokus terhadap satu tujuan yaitu pertumbuhan ekonomi. Sistem ekonomi yang terbentuk kembali dengan keterbukaan Cina terhadap investasi asing juga menjadi lebih terintegrasi dengan komunitas internasional. Sebelumnya Cina hanya dikenal dengan pembangunan ekonomi model new industrialized countries (NIC) sampai pertengahan 1970, Cina masih di pengaruhi
akibat
revolusi
kebudayaan
dan
baru
bangkit
kembali
perekonomiannya, Deng Xiaoping yang pada tahun 1978 menjabat sebagai pemimpin Cina melaksanakan “gaige kaifang” atau reformasi atau membuka diri (open door policy), disinilah awal mula kebangkitan ekonomi Cina. Hal ini terus 80
berlanjut, sampai dengan tahun 1998 memang reformasi di Cina belum sukses secara total dan tidak membuat Cina untuk mengalihkan planed ekonomi ke sistem free market karena melihat berkuasanya invisible hand, dan akhirnya Cina menyiasatinya dengan memprivatisasi perusahaan pemerintah kepada swasta , Cina menerapkan new deal yang hampir sama dengan apa yang dijalankan oleh Roosevelt di AS sehingga pada era krisis moneter 1998 yang melanda Asia, Cina tidak terkena dampaknya. (Clyde, Paul and Beers, 2001 : 10) Dalam masa pemerintahannya, Deng Xiaoping memasukan unsur investasi asing selain unsur pertanian, industri dan politik yang sudah ada pada masa pemerintahan sebelumnya. Investasi di Cina di buka dengan luas sementara pemerintah memiliki peran sebagai penjamin keamanan, stabilitas politik, memotong jalur birokrasi serta menjamin perlindungan lainnya. Semua kebijakan yang diterapkan Deng Xiaoping bertujuan untuk mendukung tumbuhnya industri dan memacu ekspor. Masuknya invetasi di Cina membuat Cina tidak lagi hanya mengandalkan sektor agrikultur tapi juga sektor industri yang maju pesat. Konsep pintu terbuka terus dijalankan hingga kepemimpinan Jiang Zemin dan Hu Jintao. Open door policy ditandai dengan pengiriman nota diplomatik oleh Jhon Hay (Menlu AS) yang berisi ajakan untuk melaksanakan nilai persamaan dalam perdagangan dan nota yang kedua yang berisi mengenai ajakan AS untuk mengakui kesatuan wilayah dan administrasi Cina. Nota tersebut medapat berbagai respon dari negara yang menerimanya. Jerman, dan Rusia menolak nota tersebut sedangkan Perancis dan Jepang tidak konsisten. AS yang pada saat itu dipimpin oleh seorang ekonom yaitu Mckinley yang memilki pandangan mengenai perjuangan terhadap kaum petani dan golongan industri. Melihat situasi 81
ekonomi Cina yang semakin memburuk, maka pada masa itu Cina memilih kebijakan tersebut sebagai langkah yang diambil. Dengan menambahkan unsur insentif dan pasar bebas yang dijadikan stimulus bagi semangat produksi para pengusaha daerah dan petani diharapkan dapat memperbaiki kondisi ekonomi negaranya. (Siswanto, opcit) Kebijakan ekonomi Cina adalah pragmatis yang didasarkan atas evaluasi pengalaman dalam pelaksanaan berbagai eksperimen program pembangunan yang mereka sebut mencari kebenaran dari kenyataan konkrit, seperti sistem tanggung jawab rumah tangga yang pada akhir 1970-an telah meninggalkan sistem pertanian kolektif dan mengembalikan usaha tani kepada para petani. Hasilnya, kenaikan pesat dalam produktivitas, hasil produksi, dan pendapatan petani tanpa memerlukan pengeluaran besar dari Pemerintah Cina. Kebijakan ekonomi yang pragmatis juga tercermin pada kebijakan pintu terbuka bagi investasi asing. Meski dari tahun ke tahun sistem insentif dan peraturan mengenai investasi asing terus disempurnakan, insentif dan peraturan tentang investasi asing tetap menarik bagi investor asing. Dengan demikian, Cina menerima investasi asing dalam jumlah amat besar, jauh melebihi investasi asing ke negara-negara kawasan Asia-Pasifik lainnya (di luar Jepang). Semula, Pemerintah Cina juga memberi prioritas pada pembangunan industri-industri manufaktur ringan dan menengah yang padat karya dan berorientasi ekspor yang hanya memerlukan jumlah investasi kecil tetapi dalam waktu singkat menghasilkan lonjakan jumlah produksi, seperti tekstil, garmen, alas kaki, mainan anak, dan barang elektronik konsumsi.
82
Kenyataannya, industri ini telah mempekerjakan puluhan juta orang yang datang dari pedesaan. Namun, setelah krisis finansial global juga melanda Cina, puluhan juta pekerja ini kembali ke pedesaan karena pasar ekspor mereka mengalami kontraksi. Program reformasi ekonomi Cina yang diluncurkan Deng Xiaoping disebut Gai Ge Kai Feng, terdiri dari dua unsur utama. Pertama, mengubah sistem insentif dan kepemilikan di mana milik pribadi menjadi lebih dominan daripada milik negara. Kedua, membuka pintu, artinya liberalisasi perdagangan luar negara, investasi asing dan domestik. Kebijakan investasi asing yang liberal dilengkapi peraturan ketat, yang mewajibkan berbagai perusahaan asing untuk mengalihkan teknologinya ke berbagai perusahaan domestik, sebagai imbalan dibukanya pasar domestik Cina yang besar bagi berbagai perusahaan asing. Selain itu, Pemerintah Cina berhasil membangun jaringan prasarana fisik, terutama sistem transportasi yang luas dan efisien, yang implementasinya didasarkan atas pemulihan ekonomi total. Artinya, penghasilan dari pengenaan tarif yang dibayar para pengguna prasarana ini harus menutupi semua biaya yang diperlukan untuk operasi dan pemeliharaan prasarana. Program reformasi ini juga memberi prioritas tinggi pada pertanian dan pembangunan pedesaan. Kenyataan menunjukkan hal ini belum begitu berhasil, yang juga diakui Presiden Hu Jintao. Presiden Jintao menyerukan perwujudan suatu masyarakat yang serasi yang bertujuan untuk mengurangi ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedesaan.
83
A.3. Masuknya Cina Kedalam World Trade Organizations (WTO) A.3.a. Latar Belakang dan Tujuan Cina Menjadi Anggota World Trade Organizations (WTO) Pada era Perang Dingin, rivalitas antara blok barat dan blok timur dalam berbagai bidang begitu kuat. Contohnya saat AS bersama sekutu-sekutunya berusaha memblokade dunia dari bahaya komunis yang saat itu dipimpin Uni Soviet. Dalam tingkat internasional, terlihat dari berbagai doktrin AS seperti Marshall Plan (1947), maupun rezim internasional seperti Bretton Woods (1944) yang kemudian melahirkan International Monetary Fund (1945) dan World Bank (1944), General Agreement on Trade and Tariff/ (GATT) (sekarang World Trade Organization/WTO) pada tahun 1948, Washington Consensus (1989), hingga pakta pertahanan seperti NATO (1949). Pada dasarnya, metode-metode politis tersebut berfungsi untuk mengamankan kepentingan AS dan sekutunya, sekaligus menghadang meluasnya doktrin komunisme ke dunia itu. Salah satu buktinya terlihat dalam bidang ekonomi di mana rezim WTO (berdiri 1 Januari 1995) yang kini beranggotakan atas 128 negara anggota jelas merupakan kelompok eksklusif masyarakat internasional yang memberikan hak-hak istimewa kepada negaranegara anggotanya seperti pembukaan hubungan dagang antar negara anggota, penghapusan atau peminimalisiran bea masuk impor, beserta kewajiban negara anggota berupa syarat-syarat keanggotaan yang tentunya tidak mudah (Griffiths & O’ Callaghan, 2002:338-341) Pada awalnya, pertimbangan dan tujuan Cina menjadi anggota WTO adalah alasan ekonomis semata, yakni sebagai wahana untuk mencapai akselerasi 84
industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi. Cina menginginkan pembukaan pasar global sehingga produk-produk ekspornya bisa masuk dan sekaligus investasi asing bisa menggairahkan perekonomian negara yang dikatakan berada pada tahap awal sosialisme itu. Beberapa tujuan konkrit Cina atas keanggotaannya di WTO, antara lain: 1. Mempermudah ekspor Cina ke negara-negara anggota WTO lainnya, terutama pasar AS dan Uni Eropa; 2. Menghapus batasan perdagangan dan memperluas akses pasar bagi barangbarang domestik dan luar negeri; 3. Mencapai industrialisasi secara cepat (revolusi industri) dan alih teknologi negara maju; 4. Meningkatkan pendapatan dalam negeri dari sektor ekspor dan investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI); dan 5. Memperoleh prestise di mata dunia internasional. Khusus mengenai poin kelima ini, meminjam istilah yang dikemukakan sinolog I. Wibowo, Cina juga akan menikmati “keuntungan kasat mata/intangible benefits” melalui jalur keanggotaan WTO. (Wibowo, opcit : 63) Berikut beberapa keuntungan konkrit yang sudah dinikmati Cina setelah bergabung dengan WTO, antara lain: (Brahm, 2002:65) 1. Hingga tahun 2002, Cina memiliki hubungan dagang bebas dengan 127 negara anggota WTO lainnya; 2. Peningkatan industrialisasi Cina dan alih teknologi tingkat tinggi berhubung semakin terbukanya investasi asing;
85
3. Penghargaan yang semakin tinggi terhadap hak kekayaan intelektual (HAKI), hak paten produk/trademark sehingga rakyat Cina bisa lebih kreatif, inovatif, dan berkompetisi secara sehat dalam sistem yang melindungi karyanya; 4. Otoritas dan rakyat Cina di satu sisi diuntungkan oleh pemasukan berbagai jenis pajak baru dan arus investasi asing yang masuk; 5. Semakin meningkatkan sumber daya manusia (SDM) rakyat Cina, dan lainlain. Mengkaji Kesuksesan Cina dalam Rezim Internasional WTO merupakan salah satu rezim internasional yang dituding negatif oleh banyak pihak karena terlalu menguntungkan kepentingan negara-negara maju, dan merugikan negaranegara berkembang yang mayoritas gagal berkompetisi karena kalah bersaing dalam hal modal, teknologi, arus informasi, lintas jasa, SDM, dan lain-lain. (Jhamtani, 2005:45) Tidak hanya itu, pada pandangan ekstrim rezim-rezim global seperti IMF dan World Bank dianggap sebagai ‘serigala berbulu domba’ yang cenderung membuka dunia ketiga demi kepentingan negara-negara maju, daripada tujuan dasarnya mengurangi tingkat kemiskinan global. (Griffiths dan O’Callaghan : 334) Namun, kartu ini ternyata berhasil dimainkan Cina, dan Maksud dari pernyataan ini adalah Cina percaya bahwa prestise negaranya akan naik di mata internasional dan memperkuat legitimasinya baik di dalam negeri maupun di luar negeri, terutama dalam kerangka persaingannya dengan Taiwan dan dengan kubu konservatif di dalam pemerintahan internalnya. Pada dasarnya, keberhasilan Cina dalam memanfaatkan tantangan globalisasi setidaknya dapat dipandang dalam dua pendekatan, yaitu: 86
1. Menurut pendekatan liberalis; dan 2. Peran kubu reformis dalam decision-making Partai Komunis Cina. Definisi rezim, antara lain Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan “rezim” adalah tata pemerintahan negara atau pemerintahan yg berkuasa. (Alwi, 2002 : 954) Sedangkan, dalam bidang politik rezim berarti bentuk pemerintahan atau seperangkat aturan, norma-norma sosial atau kebudayaan yang mengatur jalannya suatu pemerintahan dan interaksinya dengan masyarakat. Dalam studi Hubungan Internasional ada satu pendekatan utama terkait rezim ini, yakni pendekatan liberalis. Menurut tradisi liberalis, contohnya seperti yang dikemukakan Robert Keohane, rezim yang dilandasi oleh kerja sama adalah “Institutions possesing norms, decision rules, and decision making procedures which facilitate a convergence of expectations.” ( Keohane, 1984 : 59) Tabel 1 Pandangan dasar tradisi liberalisme dalam Teori Hubungan Internasional No 1
Dasar asumsi Perspektif Liberalisme Unit analisis aktor negara dan aktor non-negara sama pentingnya
2
Cara pandang aktor-aktor negara dipecah ke dalam beberapa komponen, beberapa di antaranya dapat bertindak secara transnasional 3 Dinamika perilaku aktor pembuatan kebijakan luar negeri dan proses-proses transnasional melibatkan konflik, tawar-menawar, koalisi, dan kompromi 4 Isu utama Sosial ekonomi, tingkat kesejahteraan yang dianggap lebih penting daripada isu keamanan nasional semata Sumber: Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppi, International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalism, (New York: Macmillan Publishing Company, 1993)
Seperti yang dijabarkan Keohane, pendekatan liberalis dalam memandang rezim menekankan tentang pentingnya keberadaan rezim (di luar aktor negara) yang dapat mempengaruhi aktor negara/aktor-aktor internasional lainnya (perspektif negara sebagai non-satu-kesatuan aktor unit yang bisa dipecah). Asumsi dasarnya adalah bahwa bentuk kerja sama antar negara merupakan norma/etika/value yang mendasari pencapaian kepentingannya. 87
Dapat dikatakan, rezim menurut perspektif liberalis adalah bentuk kerja sama internasional. Sesuai dengan definisi dasarnya, rezim mencakup berbagai bentuk isu internasional, dan biasanya satu rezim terfokus pada satu isu tertentu dengan anggota-anggota yang tidak hanya terdiri dari negara. Berangkat dari pendekatan interest-based liberalis, dalam konteks ini dikatakan bahwa WTO bisa berjalan tanpa satu kekuatan hegemoni tertentu sebab terdapat “convergence of expectations” atau yang diinterpretasikan sebagai “ekspektasi/harapan dari masing-masing konstituen rezim yang terkumpul dalam satu wadah pertemuan”. WTO sebagai rezim memfasilitasi kerja sama dengan menciptakan standarstandar tertentu bagi para anggotanya. Ketika semua anggota negara berharap agar partisipan lain bekerja sama maka kemungkinan melangsungkan kerja sama secara konstan dapat terus meningkat. Jadi, tidak sepenuhnya benar dikatakan bahwa konflik adalah dasar dari sistem anarki dunia. Terkhusus mengenai kesuksesan Cina dalam rezim internasional, pendekatan
liberalis
merupakan
salah
satu
kunci
dalam
menjelaskan
kepragmatisan Cina. Cina sebagai aktor negara tidak menyangkal adanya bentuk kerja sama internasional, terutama dalam bidang ekonomi, bahkan dengan rezim terdiktator di dunia sekalipun, seperti beberapa negara di Afrika. (Navarro, 2008 : 95-110) Hal ini yang tidak akan dilanggar oleh perusahaan multinasional (MNC) AS atau Uni Eropa ‘seliberal’ apa pun. Negara-negara barat, terutama AS sangat khawatir dengan politik luar negeri nasionalis-pragmatis Cina itu. Berkali-kali presiden
Hu
Jintao
mengelak
dari
tudingan-tudingan
negatif
dengan
mengeluarkan jargon-jargon seperti “Tanpa syarat politik apa pun, murni kepentingan bisnis” hingga jargon “hexie shijie atau hexie shehui (masyarakat 88
dunia yang harmonis)”. Agen-agen pembangun ekonomi Cina tersebar ke seluruh dunia, seringkali tanpa pandang bulu latar belakang mitra bisnisnya. Mereka tidak terlalu ambil pusing dengan embel-embel seperti “demokrasi” yang diusung AS selama ini. Semangat pragmatis Cina dalam mengejar kekayaan dan kemuliaan (termasuk prestise di mata internasional) tertanam dalam-dalam di hati rakyat Cina. Sebenarnya, pengadopsian ideologi dan sistem yang serba baru ini sudah tercermin dari tiga ujaran populer oleh Deng Xiaoping sejak dua dekade lalu, yaitu “sosialisme tidak berarti kemiskinan, sosialisme justru melenyapkan kemiskinan”, “tidak peduli kucing hitam atau putih, selama dia bisa menangkap tikus”, dan “zhi fu shi guangrong (menjadi kaya itu mulia)”. Dengan dasar-dasar fundamental itu, arah politik domestik dan internasional Cina kemudian berubah total, khususnya setelah tahun 1978. Dalam dinamikanya, di satu sisi pemerintah Cina tetap memegang kontrol makro (hongguan tiaokong) dan membangun kerja sama internasional dengan siapa saja yang penting bagi national interest-nya, dan di satu sisi menghalalkan praktik kapitalisme di negaranya. (Wibowo, op.cit) Akan tetapi, pendekatan liberalis dalam konteks ini bukan tanpa kelemahan. Pemerintah Cina adalah aktor Negara (state actor) yang sangat dominan dalam hampir semua aspek. Bahkan semua perusahaan multinasional (mayoritas adalah BUMN) yang menjadi ujung tombak dan agen pembangunan ekonomi bukan milik swasta (dikendalikan secara ketat oleh negara). Pendekatan liberalis
dan
cara
memandang
kesuksesan
Cina
hanya
terletak
pada
kemampuannya untuk menjelaskan indikator kepragmatisan Cina dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya, serta variabel penjelas dalam 89
perspektif liberalis yang memecah otoritas Cina menjadi beberapa unit yang dapat dipengaruhi pihak-pihak lain. Dalam konteks kesejarahannya, ada tendensi bahwa Cina melawan kekuatan barat dengan ala barat juga, sesuatu yang sudah lazim terjadi bahkan sejak sistem dinasti Cina tumbang. Apabila ditanyakan, apakah benar bahwa rezim itu (WTO) memengaruhi otoritas Cina? Jawabannya adalah ya. Tapi hingga sejauh mana? Perlu digarisbawahi bahwa terdapat derajat kepentingan tertentu antara rezim internasional dan negara ini. Bagi Cina, seperti yang telah kemukakan sebelumnya, WTO hanya sebatas kendaraan yang memfasilitasi politik luar negeri dan kepentigan nasionalnya. Cina mungkin bersedia tunduk pada standar-standar yang ditetapkan WTO, tapi Cina yang hingga saat ini dianggap tidak patuh penuh kepada WTO (uneven and incomplete), ternyata memiliki ambisi sendiri untuk mengubah rezim WTO dari dalam sesuai dengan kepentingan Cina. Cina yang ditekan oleh anggota WTO lain, terutama AS, tidak akan-akan terburu-buru taat pada tekanan AS atau negara mana pun. Bukan tidak mungkin, Cina yang kekuatan ekonominya semakin meraksasa dari waktu ke waktu dapat merapatkan barisan negara-negara berkembang dalam memengaruhi pembuatan pasal-pasal WTO yang selama ini selalu didikte oleh negara-negara maju. (Wibowo, op.cit : 76-78) Sedangkan bagi WTO yang dengan catatan didominasi oleh negara-negara maju (AS, Uni Eropa, dan Jepang), Dari segi politis, pemerintah asing memiliki motif tersendiri atas keanggotaan Cina di WTO. Mereka berharap bahwa dengan mengintegrasikan Cina ke dalam rezim perdagangan secara formal dan juga rezim investasi, Cina akan duduk pada landasan yang sama sehingga aneka pertikaian 90
dapat diselesaikan dengan mudah. Cina akan didorong untuk menjalankan sistem undang-undang ekonomi yang lebih transparan.
AS, secara khusus berharap
bahwa dengan integrasi Cina ke dalam ekonomi dunia, Cina juga akan mengalami perubahan dalam sistem politiknya, keterbukaan ekonomi akan mendukung lahirnya demokrasi. (Pearson, 1999 : 166) Disamping itu, dengan masuknya Cina sebagai anggota WTO, pasar Cina semakin terbuka bagi kegiatan perdagangan international. Hal tersebut dapat dilihat dalam tabel dibawah ini : Tabel 2 Reduksi Tarif (%) setelah Cina masuk WTO Sector Automobile Wine Cigarettes Citrus Auto parts Barley malt Textiles and apparel Electronics IT Products Chemicals Construction equipment Agricultural equipment Pharmaceutical Steel
Tarif terkini 70-80 65 65 40 35 30 25,4 13,3 13 16 13,6 11,5 9,6 10,3
Tarif 2005 25 20 25 12 10 10 11.7 0 0 6 6,4 5,7 4,2 6,1
Sumber: US State Department, US-China Business Council, 2006.
A. Keuntungan Masuknya Cina kedalam WTO Pada awalnya Cina mengejar keuntungan yang bersifat ekonomi semata yaitu sebagai sarana untuk mencapai industrialisasi yang cepat untuk meningkatkan pendapatan lewat ekspor yang tinggi serta modal dari luar, selain itu Cina juga akan mendapatkan keuntungan yang tak dapat disentuh (intangible), dengan mengikut sertakan Cina kedalam organisasi internasional, pemerintah
91
Cina akan memperoleh prestise internasional dan dengan demikian memperkuat legitimasinya baik dalam negeri maupun luar negeri. Dari sudut ekonomi keuntungan yang dapat diraih Cina dapat ditafsirkan dari beberapa tolak ukur, menurut bank dunia, diperkirakan pada tahun 2020 share Cina pada perdagangan akan naik tiga kali lipat dari sekarang, itu berarti mencapai 10%. Cina akan mengimpor dalam jumlah yang lebih besar dari beras sampai alat semi konduktor. Pada saat yang sama, Cina akan mengekspor dalam jumlah yang berlipat-lipat barang yang diproduksi dengan padat karya. Menurut perhitungan ini pula Cina akan menjadi trading nation nomor dua terbesar didunia setelah AS dengan share 12% dan mendahului Jepang dengan share 5%. Sedangkan menurut direktur jenderal dari WTO 2002, Supachai Panitchpakdi, buruh Cina juga akan menarik keuntungan, bank dunia memperkirakan bahwa upah buruh tak berkeahlian tiga setengah kali lipat pada tahun 1992 sampai 2020. Buruh berkeahlian juga akan menikmati keuntungan yang sejajar dengan kenaikan upah di dunia. Para pengusaha pengusaha domestik juga akan memetik keuntungan.(Wibowo,2007:65) Cina terkenal dengan proteksionisme lokal yang diterapkan oleh pejabat daerah. mereka sering kalah bersaing dengan perusahaan asing yang memperoleh tax breaks dan perlakuan istimewa lain dari WTO, karena setelah masuk WTO sumber daya harus dialokasikan sesuai dengan hukum pasar dan peraturanperaturan harus diubah sesuai dengan situasi baru itu. Selain itu Cina diramalkan akan mereformasi dalam sistem perbankan yang saat ini masih amat lemah dan rentan, dengan non performing loans yang mencapai 25-40 dari seluruh pinjaman maka tidak ada jalan lain selain reformasi, dengan menjadi anggota WTO Cina 92
akan didorong kuat untuk mengubah sistem perbankannya sesuai dengan standar internasional. B. Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat B.1. Sejarah Diskriminasi Kebijakan Perdagangan AS Pasca perang dunia II AS telah memainkan peran paradoks dalam perkembangan sistem perdagangan internasional, AS memperjuangkan prinsip tanpa diskriminasi dalam perdagangan dunia, namun tetap diterapkan dalam sistem perdagangannya. Sementara itu AS terus mempromosikan prinsip the most favored nation (MFN) dalam General Agreement on Tariffs and Trade (GATT), perdagangan AS juga memelopori penggunaan langkah perdagangan bilateral, termasuk voluntary export restraints (VERs) dan orderly marketing agreements (OMAs), untuk melindungi industri dalam negeri yang terpengaruh oleh impor yang tumbuh pesat. Secara eksplisit tindakan diskriminatif AS, pertama kali diterapkan kepada Jepang dan kemudian ke negara eksportir lain, sebagian besar eksportir negara Asia Timur ke pasar AS, jelas hal itu melanggar prinsip GATT. Selain itu, AS memilih langkah-langkah di atas non-diskriminatif, namun tindakan perlindungan diperbolehkan sesuai Pasal XIX dari GATT. Perdagangan diskriminasi juga dipupuk melalui dinegosiasikannya VIEs dengan Jepang dan mitra dagang lainnya. diskriminasi kebijakan perdagangan AS tetrhadap Jepang sebenarnya dimulai bahkan sebelum Perang dunia II dengan negosiasi di tahun 1930-an dari VERs Jepang ke AS dalam beberapa jenis tekstil katun (Metzger 1971, 170-1).
93
Meskipun impor dari Jepang yang relatif kecil terhadap pasar AS, mereka tetap dianggap ancaman karena volume meningkat pesat dan terkonsentrasi dalam beberapa kategori produk. perjanjian VERs didorong oleh ancaman tindakan sepihak AS. Tapi di awal periode sesudah perang dunia II, dengan ekonomi yang kacau balau, Jepang hampir tidak muncul menjadi suatu ancaman kompetitif bagi industri AS, bahkan AS membantu dalam rekonstruksi industri tekstil Jepang dan juga pada tahun 1955 memperjuangkan Jepang masuk ke dalam GATT yang selanjutnya disebut WTO. Tentu saja, tindakan diskriminasi perdagangan, baik ekspor-impor yang membatasi, memiliki efek eksternal penting pada sektor-sektor lain. Apa yang dimulai dengan VERs Jepang yang membatasi ekspor tekstil katun ke AS akhirnya memuncak pada Pengaturan Multi Fibre global (MFA), sebagai produk tidak terbatas dan kemudian negara-negara pengekspor terbatas mengisi kesenjangan impor. Diskriminasi terhadap Cina juga telah tergambar dalam aplikasi AS dalam konsisten undang-undang WTO tentang perdagangan yang tidak adil seperti anti dumping. kriteria elastis telah membuat instrumen hukum dumping, kebijakan yang paling populer untuk industri AS yang mencari perlindungan dari persaingan impor, terutama impor dari transisi ekonomi dikategorikan sebagai pasar nonekonomi pertahun. Akhir-akhir ini Cina telah menjadi target besar tindakan anti dumping AS dan di seluruh dunia. (Messerlin 2004:56) Karena margin dumping untuk Cina dihitung secara berbeda dibandingkan kebanyakan negara lain dan mengakibatkan tugas antidumping adalah biasanya jauh lebih besar, statistik ini dapat mengecilkan dampak tindakan antidumping 94
ekspor Cina ke AS. Bentuk lain dari praktek sanksi WTO yaitu menawarkan pilihan akses pasar ke beberapa negara. sebagian besar preferensi khususnya kekaisaran Inggris mendukung negara-negara Persemakmuran (Dam 1970, 14). Respon terhadap tekanan dari penerima manfaat potensial dan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), sebagai pengabaian WTO pada tahun 1971 memprakarsai Generalized System of Preferences (GSP). Berdasarkan GSP, diproduksi ekspor dari less-developed countries (LDCs) terbatas memperoleh akses khusus ke pasar negara-negara industri maju (Pearson 2004, 105). AS awalnya menentang GSP, dengan alasan bahwa itu melemahkan prinsip WTO, dan juga dari praktis kekhawatiran bahwa impor lebih murah dari negara-negara berkembang yang akan membanjiri pasar AS. Sistem versi AS akhirnya diterapkan pada tahun 1976, termasuk sektor sensitif LDC, tidak hanya tekstil dan pakaian tapi juga sepatu dan baja, di mana persaingan eksportir dari negara-negara berkembang sudah memasuki penjualan domestik. Mungkin yang paling penting bagi lingkungan perdagangan saat ini adalah perkembangan di seluruh dunia, yaitu diskriminatif perjanjian perdagangan. Dimulai
pada
pertengahan
tahun
1980-an,
Amerika
secara
agresif
mempromosikan free trade area (FTA) dengan berbagai mitra, yang anggotanya tidak hanya dari negara-negara barat. Meskipun FTA awalnya mucul dari prustasi AS dengan lambatnya upaya multilateral dalam WTO, upaya terus berlanjut selama dan bahkan setelah negosiasi multilateral Putaran Uruguay. perjanjian perdagangan tersebut telah disetujui berdasarkan Pasal XXIV WTO, awalnya dimaksudkan untuk memfasilitasi serikat ekonomi di Eropa tetapi yang muncul adalah sebagai jalan utama dengan prinsip WTO. 95
AS saja telah banyak melakukan negosiasi mengenai FTA, di samping Perdagangan Bebas Amerika Utara dan juga berpartisipasi dalam berbagai perjanjian. Setiap negara dikecualikan dari akses khusus adalah jelas merugikan. Memang, perjanjian khusus telah menjadi penentu keberhasilan ekspor pasar utama. Mitra dagang AS, termasuk Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), saat ini FTA ASEAN denga AS mulai merasa stagnan dan kurang untuk memperluas akses pasar daripada mempertahankan akses mereka saat ini (Naya dan Plummer, 2005:87). B.2. Kebijakan Perdagangan AS Terhadap Cina Banyak faktor yang terlibat dalam penentuan kebijakan perdagangan AS terhadap Cina, Tujuan Utama dari bagian ini adalah untuk menggambarkan pengaruh dari beberapa faktor penting dalam penentuan kebijakan perdagangan AS terhadap Cina. Dalam hal ekonometrik, faktor-faktor tersebut menanggung variabel yang lebih besar daripada yang lain. Sebagian besar mengusulkan model yang ada variabel-variabel berikut sebagai penentu utama trade policy : industry size, employment, concentration ratio, level sof imports, and changes in import level (Gawande dan Krishna, 2001:78). Bahkan, variabel tersebut sangat penting bagi faktor-faktor penentu kebijakan perdagangan, tetapi hanya di level industri. Seperti model teoritis yang mencoba untuk menghubungkan variabel-variabel tertentu untuk penentuan kebijakan perdagangan di tingkat industri, tanpa pertimbangan untuk melakukan kerja sama, ketika merujuk kepada determinasi kebijakan perdagangan AS terhadap Cina pada tingkat industri atau tingkat 96
nasional, ada beberapa variabel baru yang harus dipertimbangkan. Variabel ini sebagian besar diabaikan dalam model yang ada yaitu : 1. Strategi Politik Meskipun tidak dapat diklaim dengan pasti bahwa strategi politik mutlak atas pertimbangan ketika memutuskan sebuah kebijakan perdagangan AS terhadap Cina, namun cukup jelas bahwa faktor politik sering dianggap lebih penting daripada masalah ekonomi. Kebijakan Perdagangan AS terhadap Cina berkonsentrasi pada beberapa tujuan, tidak semua dari hal tersebut kompatibel, sering ada konflik antara tujuan-tujuan tersebut, tujuan politik diletakkan di daftar atas dengan mengorbankan tujuan ekonomi dan kepentingan lainnya. Contoh khas politik yang berorientasi dalam memutuskan kebijakan perdagangan terhadap Cina, seperti Cina mengakuisisi perusahaan AS, Untuk bebrapa pembuat kebijakan di AS, usaha-usaha perusahaan dengan kepemilikan Cina yang besar, membuat tawaran untuk mengambil alih perusahaan utama AS merupakan risiko untuk kepentingan keamanan nasional AS. Mereka percaya bahwa Pemerintah Cina memiliki rencana untuk menjadikan perusahaan dibawah kontrolnya, makadari itu pembelian perusahaan internasional besar oleh Cina dengan tujuan untuk memperoleh nama dan merek mereka sehingga menjadi perusahaan global. (Liang, 2007 : 56) Kekhawatiran lain AS adalah Cina sebagai pengguna energi yang dimiliki perusahaan negara mendapatkan suplai energi melalui akuisisi perusahaan AS bisa menyebabkan pembatasan akses ke energi dan menaikkan harga. Sebagai akibat dari kekhawatiran pembuat kebijakan AS, akuisisi tersebut telah dikenakan beberapa hambatan, meskipun banyak orang percaya, dari perspektif ekonomi, 97
bahwa kedua belah pihak bisa menimbulkan manfaat langsung dari akuisisi tersebut. Akuisisi perusahaan AS oleh perusahaan Cina akan terus menjadi masalah sensitif selama orientasi tujuan politik yang berlaku. Selama perang teluk, pembatasan perdagangan AS dengan Cina sedikit dikurangi untuk mendapatkan dukungan dari Cina dalam perang melawan Irak, Dengan menjanjikan untuk melaksanakan perdagangan yang lebih aktif. (Liang, Ibid : 57) 2. Pengaruh Kelompok Kepentingan Mekanisme dan logika pengaruh kelompok-kelompok kepentingan khusus pada kebijakan perdagangan AS sangat berpengaruh (Gawande dan Krishna, op.cit). Kadang-kadang kebijakan perdagangan AS terhadap Cina disebut-sebut sebagai orientasi kelompok kepentingan, menunjukan bahwa sebenarnya kebijakan perdagangan AS terhadap Cina adalah hasil implementasi dari perjuangan dan tawar-menawar antara kepentingan yang berbeda. Byall
mengidentifikasi
bahwa
partisipasi
kelompok-kelompok
kepentingan dalam proses kebijakan perdagangan telah berkembang pesat di AS, Jumlah organisasi yang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan di AS telah berkembang. sebagaimana jumlah sumbangan kampanye oleh Komite Aksi politik media iklan politik tampaknya akan meningkat, dan media Laporan yang lebih sering pada pengaruh dugaan kelompok-kelompok kepentingan khusus dan perlunya reformasi kampanye. ekonom dan ilmuan politik memahami peran yang lebih baik bahwa kelompok-kelompok kepentingan bermain dalam proses pembuatan kebijakan (Grossman and Helpman, 2002:98). Selama bertahun-tahun, Boeing Corporation dan General Electricals telah stabil untuk mendukung perdagangan yang lebih aktif dengan Cina, Boeing 98
Corporation memperkirakan bahwa Cina akan menjadi pasar terbesar untuk perjalanan udara komersial luar AS untuk tahun berikutnya, selama periode ini, Cina akan membeli pesawat sebesar 2300 US$ (Morrison, 2005:67). Jika boeing coorperation tidak komitmen dengan perjanjiannya dengan Cina, Cina bisa berbelok ke Eropa Airbus Corporation untuk transaksi yang sama. Tentu saja, masih
ada
cukup
banyak
perusahaan
AS
yang
menguntungkan
dari
diperpanjangnya perdagangan dengan Cina, namun peran penting dalam proses kebijakan perdagangan yang berbeda dari perusahaan ke perusahaan (seperti industri manufaktur) yang menyatakan bahwa industri mereka sangat sulit dari Cina atas logika dalam arah yang berlawanan, dan meningkatkan hambatan untuk impor Cina. 3. Kendala Eksternal Kebijakan Perdagangan AS terhadap Cina Selama bertahun-tahun, model teoritis menekankan variabel internal (endogen variabel sebagaimana disebut dalam ekonometrik) sambil menerapkan variabel eksternal (Variabel eksogen dalam hal ekonometrik) dalam hal penentuan kebijakan perdagangan (Ball, 1967:183-187) Pada dasarnya, terdapat tiga jenis kendala eksternal dalam kebijakan perdagangan AS terhadap Cina, yaitu ketidak leluasaan rezim perdagangan multilateral, ketidak leluasaan rezim regional dan hubungan perdagangan bilateral, kendala perdagangan multilateral yang mengacu pada sistem perdagangan multilateral dan kerangka negara yang berbeda di bawah prinsipprinsip tersebut yaitu WTO. Kendala
eksternal
selanjutnya,
yang signifikan
dalam
kebijakan
perdagangan AS terhadap Cina adalah mekanisme Asia-Pacific Economic 99
Cooperation (APEC). Dalam prakteknya, AS telah berusaha untuk mendorong APEC menjadi organisasi regional ekonomi formal yang menuntut semua perusahaan menaati hukum obligasi, tapi Cina dan beberapa negara berkembang memilih untuk mempertahankan status APEC yang sekarang untuk saat ini, sehingga mereka dapat memiliki perode yang lebih lama dalam pemulihan ekonomi sehingga mereka memiliki kapabilitas yang sama dengan negara maju dalam APEC sebelum perubahan substansial APEC. (Liang, Ibid : 58) Kendala eksternal terakhir terhadap kebijakan perdagangan AS terhadap Cina merupakan kendala bilateral, terutama terdiri dari serangkaian kontrak dan perjanjian perdagangan ditandatangani antara Cina dan AS. Ternyata, kendala ini lebih keras daripada yang sebelumnya, tetapi AS dapat membuat perubahan penting bagi kontrak dan perjanjian dalam tempo waktu sesuai dengan situasi yang dinamis. 4. Pengaruh Tindakan Strategis dari Cina Kebijakan Perdagangan, sampai batas tertentu, keseimbangan antara permainan antara dua negara atau lebih. Oleh karena itu, tindakan strategis Cina terikat untuk mempengaruhi penentuan perdagangan AS. Ketika kita mengatakan bahwa kebijakan perdagangan suatu negara di bawah rezim demokrasi maka perwakilan adalah akibat atau hasil dari perjuangan dan negosiasi antara kelompok-kelompok yang berbeda dan cabang pemerintah, kita benar-benar mengabaikan pengaruh tindakan tersebut yang strategis dari mitra dagang Sejak masuknya Cina kedalam WTO, AS telah menempatkan lebih banyak tekanan pada Cina untuk memastikan segala sesuatunya sesuai dengan aturan perdagangan internasional (USTR, 2006, http://www.ustr.gov diakses tanggal 23 April 2010), 100
tapi sangat jelas terhadap kebijakan perdagangan AS bahwa ada batas untuk pendekatan ini. kebijakan Perdagangan AS sebenarnya sangat berhati-hati ketika menerapkan kebijakan terhadap Cina, yang telah terbukti berhasil di masa lalu. Secara khusus, AS harus memastikan bahwa apa yang dilakukannya tidak akan totally break mengikat dengan Cina. Ketika AS menekankan ketergantungan besar impor Cina di pasar AS, Cina juga menekankan kepercayaan konsumen AS pada produk-produk buatan Cina. Sebagai fakta, terdapat sebuah saling ketergantungan ekonomi antara kedua negara, meskipun beberapa anggota Kongres AS enggan untuk mengakui kenyataan ini. Dalam Laporan tahun 2006 oleh USTR, itu ditekankan dalam hal pentingnya interaksi politik dan ekonomi antara Cina dan AS bahwa: " integrasi Cina ke dalam ekonomi global mengalami progresif dari prinsip-prinsip pasar yang telah didorong oleh lebih dari 25 tahun, politik AS dan keterlibatan ekonomi, mengejar pada dasar partisan sebagian besar di pemerintahan. Perkembangan ini telah membantu memperluas dan memperdalam hubungan antara AS dan Cina di semua tingkatan, untuk kepentingan kedua negara. Hubungan perdagangan antara kedua negara telah menjadi semakin penting untuk ekonomi kedua negara. "(Liang, Ibid : 57) Sejarah singkat negosiasi perdagangan antara kedua negara sejak 1979 menunjukkan bahwa keseimbangan kerjasama lebih stabil daripada konfrontasi, menunjukkan bahwa kerjasama adalah pilihan yang disukai kedua belah pihak di akhir pertandingan dalam banyak kasus. Implikasi dari game balancing juga menunjukkan bahwa kerjasama kedua negara mengarah ke banyak manfaat bagi kedua negara sedangkan hasil konfrontasi menghasilakn kerugian bagi keduanya. 101
5. Siklus Bisnis dan Siklus Politik terhadap Kebijakan Perdagangan AS terhadap Cina Ada hubungan kuat antara siklus bisnis dan kebijakan perdagangan AS terhadap Cina, istilah siklus bisnis mengacu pada perilaku rentan waktu bersama dari berbagai ekonomi seperti harga, output, kesempatan kerja, konsumsi dan investasi. Keseimbangan modal perdagangan kemungkinan akan berbeda di seluruh siklus bisnis. Dalam memimpin pertumbuhan ekspor, dalam modal perdagangan akan meningkatkan selama ekspansi ekonomi. Namun, dengan pertumbuhan permintaan domestik, neraca perdagangan akan memburuk pada saat yang sama dalam tahap siklus bisnis. Dinamika neraca perdagangan AS sesuai dengan kasus terakhir, yang menunjukkan bahwa ekonomi AS dengan volume perdagangan untuk akuntansi persentase sangat kecil dari total PDB, pengaruh siklus bisnis pada neraca perdagangan AS sejak 1970-an sangant dramatis. Dalam setiap periode resesi, neraca perdagangan meningkat dan permintaan impor berkurang. Setiap kali merecovery ekonomi, neraca perdagangan memburuk lagi. Ketika pemulihan ekonomi dimulai pada 19921993, impor meningkat dan neraca perdagangan dengan cepat memburuk. Kemudian, ketika AS menjadi pertumbuhan ekonomi tercepat selama periode 1995-2000, ia mengalami rekor defisit perdagangan melebihi US$ 452 b.( Cohen, 2003:82-83). Sementara meningkatkan neraca perdagangan AS, resesi ekonomi juga mengurangi permintaannya untuk produk asing dengan penurunan konsumsi dan pertumbuhan Tingkat pengangguran. Selama resesi ekonomi, konflik antara
102
serikat buruh dan administrasi mengintensifkan perusahaan, sebagai penyebab konflik antara eksekutif dan legislatif AS. Kebijakan perdagangan AS terhadap Cina berfluktuasi seiring dengan fluktuasi siklus bisnis, karakteristik friksi fluktuasi yang lebih tinggi dari perdagangan dengan Cina selama periode resesi, Sebagai tanggapan terhadap siklus bisnis, frekuensi friksi perdagangan antara AS dan Cina menjadi lebih rendah bila ekonomi AS mengalami buming. Menariknya, sebagian besar perjanjian perdagangan antara Cina dan AS Telah ditandatangani pada periode buming ekonomi AS, yang menjelaskan banyak fluktuasi dalam Kebijakan perdagangan AS terhadap Cina oleh Karena itu, ada positif dan negatif dampak dari resesi ekonomi di AS terhadap kebijakan perdagangan dengan Cina. Ketika defisit perdagangan AS dengan Cina mengalami perbaikan karena resesi ekonomi, efek negatif dari resesi ekonomi pada kebijakan perdagangan AS terhadap Cina berkurang. (Liang, Ibid : 59) perdagangan AS dengan Cina sangat memungkinkan hanya merupakan bagian dari strategi AS dan merupakan Alasan di balik ajakan kerjasama dengan Cina dibidang ekonomi, diplomatik, informasi, dan militer untuk membantu AS mencapai tujuan-tujuan keamanan nasional seperti mencegah nuklir, memberantas terorisme, konflik regional, pembinaan pertumbuhan ekonomi global, dan memperjuangkan aspirasi untuk HAM. tujuan untuk mencapai kepentingan nasional AS dan memproyeksikan nilai-nilai AS di luar negeri.(http://www. whitehouse.gov diakses pada tanggal 23 April 2010)
103
Kebijakan Perdagangan AS terhadap Cina didasarkan pada asumsi bahwa perdagangan antara kedua negara telah memberikan manfaat dalam segi ekonomi dan politik, yaitu sebagai berikut : 1. secara umum, manfaat perdagangan AS dengan Cina yaitu kedua belah pihak memungkinkan tersedianya daya untuk alokasi lebih yang efisien. 2. Cepatnya perkembangan ekonomi Cina merupakan sebuah kesempatan langka dalam bisnis AS, Cina bisa menjadi bagian dari pasar yang besar. 3. Keanggotaan Cina di WTO memaksa RRC untuk memenuhi peraturan perdagangan internasional dan memacu pengembangan kekuatan pasar dalam negara. 4. Perdagangan asing dan investasi menciptakan ketergantungan pada ekspor, impor, dan investasi asing dan interaksi lainnya dengan dunia luar Cina, yang pada gilirannya memperkuat hubungan dengan dunia Barat, menciptakan sentral-sentral kekuasaan di luar Partai Komunis Cina, dan membina ekonomi dan tekanan sosial untuk demokrasi. 5. negara yang signifikan seperti Cina dengan akuntansi seperempat penduduk dunia, dipersenjatai dengan senjata nuklir, dan anggota dewan keamanan PBB merupakan alasan untuk Cina tidak bisa diabaikan atau terisolasi. Menurut beberapa ahli, globalisasi dan kepentingan ekonomi dapat menanamkan pengaruh yang moderat di Beijing yang menerapkan kebijakan terhadap keamanan nasional yang melindungi kepentingan Cina, Namun, Partai Komunis Cina yang bertekad untuk mempertahankan legitimasi politik melalui pertumbuhan ekonomi juga menciptakan
104
ketegangan dengan negara-negara lain dan dengan aktor-non Partai politik.(Lum & Nato, 2007:7) Kemungkinan masalah atau tantangan yang diajukan oleh strategi ekonomi AS
terhadap Cina termasuk menyesuaikan diri dengan persaingan di sektor
ekonomi di mana Cina memiliki keunggulan komparatif, menanggapi praktek perdagangan tidak adil RRC, dan China economically powerful akan menjadi lebih tegas dalam urusan global seperti : 1. Impor dari Cina mungkin akan memasuki pasar AS dan hal tersebut adalah penyebab penting dari ancaman serius, untuk bersaing dalam industri AS. 2. Impor dari Cina mungkin disubsidi, oleh pemerintah di Cina, yang masih punya pengaruh yang cukup besar dalam ekonomi. 3. Menurut beberapa ekonom dan politsi defisit perdagangan AS dengan Cina sebagian besar berasal dari kebijakan Beijing mempertahankan mata uangnya. 4. Cina memiliki catatan buruk mengadopsi atau menegakkan standar yang diakui secara internasional untuk kondisi kerja dan peraturan kepedulian terhadap lingkungan. 5. AS dapat menyediakan perusahaan-perusahaan Cina dengan keunggulan kompetitif yang tidak adil, dan kerjasama ekonomi dengan Cina dapat dikatakan memberikan kontribusi legitimasi pemerintah.(Lum & Nato, Ibid) Sebagai tanggapan perdagangan Cina yang dianggap tidak adil, AS mengambil langkah-langkah untuk menanggulanginya, dapat dilihat dalam tabel berikut ini : 105
Tabel 3 Kebijakan AS terhadap Cina No 1
Tahun Desember 2006
2
13 Januari 2006
3
8 November 2005
4
21 Juli 2005
5
May 2005
6 7
Desember 2004 April 2004
8
Maret 2004
Kebijakan Dalam pertemuan Strategis Dialog Ekonomi pertama Cina-AS dipimpin oleh Sekretaris AS Treasury Henry Paulson dan Cina Wu Yi. Pembicaraan diarahkan pada kegiatan masalah: Tingkat fleksibilitas tukar Cina, ketidak seimbangan perdagangan bilateral RRC, pelanggaran hak kekayaan intelektual, energi, dan lingkungan. pemerintahan Bush mengumumkan bahwa akan menerapkan yang disebut military catch sehingga merangkap semua item pada Daftar Commodity Control yang memerlukan lisensi untuk ekspor barang ke Cina yang dapat digunakan untuk memperkuat militer Cina. Perwakilan Perdagangan AS (USTR) mengumumkan bahwa AS dan Cina, setelah tiga bulan perundingan intensif, mencapai kesepakatan luas mengenai tekstil perdagangan. Perjanjian ini berlangsung melalui WTO, Tekstil Cina pada tahun 2008, mencakup lebih dari 30 individu produk, dan berisi kuota yang dimulai pada tingkat rendah. berdasarkan tekanan dari AS pemerintah RRC mengumumkan bahwa mata uang, akan direvaluasi (dari 8,3 yuan menjadi 8,11 yuan dan nilai pada masa depan akan direferensikan. pemerintahan Bush menerapkan kuota pengamanan pada 16 kategori pakaian Cina dalam menanggapi gelombang impor setelah pencabutan kuota tekstil dan pakaian menjadi keseluruh dunia pada bulan Januari 2005. pemerintah AS menerapkan anti-dumping perdagangan Cina. Kasus ini, merupakan tindakan anti-dumping yang terbesar terhadap Cina. pemerintahan Bush menolak Bagian 301 permohonan yang diajukan oleh AFL-CIO dugaan praktek perdagangan yang tidak adil berdasarkan pada eksploitasi buruh di RRC dan menyerukan tarif sampai 77% pada barang-barang yang diimpor dari Cina. pemerintahan Bush mengajukan keluhan AS terhadap Cina penyelesaian sengketa dibawah mekanisme WTO, yang berisi bahwa RRC tidak adil dikenakan pajak impor semi konduktor. Yang pada akhirnya Pada bulan Juli 2004, Cina dieliminasi dari keringanan pajak untuk diproduksi di dalam negeri semi konduktor.
Sumber : Palmer, 2004 dan Buckley, 2004 (diolah oleh penulis)
106
BAB IV ANALISIS DAMPAK KEMAJUAN EKONOMI CINA TERHADAP AMERIKA SERIKAT
Hubungan diplomatik antara AS dan Cina sudah terjalin selama 30 tahun, kedua belah pemerintah belum pernah terlibat dalam kerjasama bilateral tingkat tinggi khususnya untuk membicarakan masalah domestik dan global. Selama ini hubungan
AS-Cina
selalu
dideskripsikan
dengan
terminologi
yang
menggambarkan persaingan. Khususnya ketika hubungan kedua negara diperburuk pasca kejadian Pembantaian Tiananmen 1989 dan friksi Cina-Taiwan. Pada tahap perkembangan politik internasional, Cina juga terlihat semakin jauh dari AS, dan lebih memilih untuk menjalin kemitraan strategis dengan Rusia dalam forum Shanghai Cooperation Organization maupun memberikan bantuan pembangungan kepada berbagai negara di Afrika yang bebas persyaratan politik. Sebelum dibahas lebih lanjut ada baiknya apabila mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kebangkitan ekonomi Cina dan kebijakan apa saja yang mempengaruhi kebangkitan ekonomi Cina. Kebangkitan
ekonomi
Cina
disebabkan
oleh
faktor
keterbukaan
pemerintah dan rakyatnya sejak reformasi tahun 1978, sistem kendali terpusat yang merupakan dasar kemajuan negara tersebut serta sukses reformasi Cina yang ditunjang oleh 5 proses yaitu: desentralisasi, marketissasi, diversivikasi kepemilikan, liberalisasi, dan internasionalisasi. Selain dalam lima hal diatas faktor lain yang mempengaruhi kebangkitan Cina juga ditopang oleh faktor
107
budaya, politik, sumber daya manusia, sinergi greater Cina dan Penyeimbang topdown dan bottom-up. Lebih jelas lagi dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 4 Faktor-fakor kebangkitan ekonomi Cina No 1 2
Faktor-Faktor Kebangkitan Ekonomi Cina Desentralisasi Marketisasi
3 4 5
Diversifikasi Kepemilikan Liberalisasi Internasionalisasi
6
Budaya
7
Politik
8
Sumber Daya Manusia
9
Sinergi Greather China
10
Penyeimbang top-down dan bottom-up
Contoh Kongkrit Lahirnya proses top down dan bottom up Promosi pemasaran Cina yang gencar dan riil menarik dunia luar, seperti promosi TVEs yang menarik investor asing. Diberikannya hak kepemilikan pribadi kepada swasta Diberlakukannya open door policy Bergabungnya Cina dengan organisasi internasional lain yang tidak memandang ideologi, terutama bergabungnya Cina dengan WTO Budaya bisnis Cina yang khas seperti Guanxi, ganqing dan xinyong Solidnya politik Cina yang berubah menjadi fleksibel dan tidak kaku denga sistem sosialis yang dianutnya menjadikan Cina lebih bisa melaju dengan pembangunan ekonominya karena tidak terlalu disangkut pautkan dengan permasalahan politik. Jumlah penduduk yang besar dan berkualitas Hongkong kota otonomi khusus untuk mrnjalankan perdagangannya sendiri beserta yuridiksi investasi lainnya, Taiwan, kepulauan berteknologi maju dengan sikap politik “tidak sudi sejajarnya yang semakin lama semakin terintegrasi dalam ekonomi Cina, mungkin pula Cina singapura yang unggul, pusat industrialisasi teknologi tinggi dan perusahaan MNC, serta Cina prantauan yang menempati sebagian besar elit bisnis Di Asia tenggara yang secara aktif menjalankan lingkaran bisnis di seluruh dunia seperti Hutchison Whampoa yang berbasis dihongkong yang beroprasi di lebih 40 negara. Terjalinnya kepercayaan antara masyarakat dan pemerintahan, sehingga terjadi sinergi yang menguntungkan bagi masyarakat dan pemerintah.
(Diolah oleh penulis, 2010)
Secara luas diakui bahwa kebudayaan Cina mempuyai etos kerja tinggi yang menekankan pada keuletan dan kerajinan, setidaknya ada tiga penjelasan untuk menopang argumen tersebut yaitu, pertama, orang Cina di besarkan dengan nilai-nilai yang berbeda yaitu nilai positif kerja keras secara kuat ditanamkan sejak dini, kedua etos kerja orang Cina mempunyai orientasi kelompok, individu tidak semata-mata bekerja untuk kepentingan sendiri tapi untuk kepentingan keluarga, dan yang ketiga, orang Cina bekerja keras untuk mendapatkan imbalan 108
materi, mereka beranggapan kemakmuran, perasaan nyaman dan aman di usia lanjut menduduki posisi sentral jadi untuk mendapatkan itu semua harus bekerja dengan keras. Faktor politik yang tidak dicampur adukan dengan permasalahan ekonomi membuat Cina bisa lebih terbuka, hal ini disebabkan karena pada dasarnya politik Cina yang berhaluan sosialis kurang diterima dalam dunia internasional terutama negara-negara barat, oleh karena itu Cina memisahkan urusan politik dengan urusan Ekonomi. Sumber daya manusia yang cukup besar dan bukan hanya itu bertambahnya tenaga ahli yang setiap tahun meningkat membuat para investor asing tertarik untuk menamkan investasinya, dan dalam rangka meningkatkan kulitas pendidikannya Cina mengirimkan ribuan mahasiswanya untuk belajar di barat dan negara-negara lainnya. Dalam persfektif sinergi greater Cina dalam ukuran budaya, ekonomi, dan geopolitik, Cina tidak hanya terdiri dari RRC, tetapi juga Hongkong, Taiwan dan Singapura. Sementara itu dari faktor-faktor diatas Cina memperkuatnya dengan beberapa kebijakan penting, secara umum kebijakan yang mempengaruhi kebangkitan ekonomi Cina dapat dilihat dalam tabel dibawah ini: Tabel 5 Matriks Kebijakan Cina NO 1
Tahun 1960
Kebijakan
Output
Cina mulai menerapkan a world-wide revolution, Cina mulai memainkan peran sebagai pemimpin sosialis yang terlepas dari aturan UniSoviet.
Retaknya hubungan Cina dengan uni soviet, Cina memainkan peran tunggal pemimpin kubu sosialis Asia, Cina menempatkan dirinya sebagai a self styled third world leaader yang berbeda dengan US da AS.
109
8
2
1978
Pada kongres nasional kesebelas Deng Xiaoping menerapkan kebijakan baru reformasi keterbukaan dan membuat rencanarencana untuk memodernisasi Cina(open door policy) dan perogram peningkatan TVEs (township and village enterprises)
3
1980
Cina menjadikan dirinya an independent player dalam peta politik dan ekonomi dunia dan penerapan Beijing Consensus yang dimodifikasi dari washington Consensus (John Williamson 1989)dan penerapan kebijakan alih teknologi
4
1984
Sidang paripurna ketiga kongres partai kedua belas mengumumkan mereformasi sistem ekonomi dengan pendekatan wilayah perkotaan
5
1992
Cina merumuskan dirinya sebagai agent of development and peace,
6
1997
Privatisasi BUMN
7
2001
Cina memutuskan untuk masuk menjadi anggota WTO
2002
Cina mengeluarkan kebijakan kepemilikan swasta
Melahirkan selogan baru “ beba skan fikiran kita dan temukan keneran dari fakta-fakta” dan Meningkatkan perekonomian Cina dengan masuknya infestor-investor asing dari luar yang tertarik dengan Zona ekonomi yang ditawarkan oleh Cina, sehingga membuat investor asing betah dan nyaman berinvestasi di Cina dan investasi terus bertambah. Meningkatnya kontribusi perdaga ngan internasilnal dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara pesat di Cina, menyisakan ruang terbatas bagi kebebasan politik demi stabilitas pemerintahan agar tidak mengancam keamanan negara dan meningkatnya penjualan berteknologi tinggi dari cina Penambahan 14 daerah TVEs selain Guandong dan Fujian, sehingga memperbesar jumlah investor asing dengan dibukanya zona investasi di Cina. kebijakan ini menitik beratkan pada kebijakan luar negeri yang akan mendukung modernisasi Cina. Perusahaan yang sehat menolong perusahaan yang sakit, pemerintah Cina menarik diri dari sektor-sektor tertentu, tetapi tetapi tetap mempertahankan kendali terhadap industri-industri kunci. Terbukanya pasar internasional bagi cina untuk menyakurkan produkproduk Cina dengan berbagai keuntungan yang diberikan oleh peraturan dalam WTO Yang berakibat semakin giatnya masyarakat Cina dalam berbisnis dan investasi asing semakin meningkat.
Sumber: Chen guidi & Wu Chuntao.2007, Shengkar.2007,Taufik. 2008, Backman. 2008, John & Doris.2010 (data di olah oleh penulis)
Seperti pernyataan diatas, kemajuan ekonomi Cina dan stance politik Cina telah memberikan sinyal ancaman kepada kepentingan ekonomi dan keamanan AS. Dua pendapat berbeda menyatakan bahwa fenomena ini bisa dilihat sebagai tantangan ataupun peluang bagi AS. Maka dari itu AS mengeluarkan kebijakankebijakan perdagangan baru terhadap Cina, bisa dilihat pada bab sebelumnya yang menjelaskan kebijakan-kebijakan perdagangan AS terhadap Cina. Namun sejak pemerintahan Bush Jr, AS lebih melihat Cina sebagai mitra dialog seperti 110
yang diindikasikan pada proyek hasil inisiatif Presiden George Bush dan Menteri Keuangan, Henry M. Paulson yang mengajak Cina untuk duduk bersama, menyelesaikan permasalahan yang sepertinya mengganjal kepentingan nasional kedua negara terutama dalam isu ekonomi. Pertemuan tahunan ini bersifat eksklusif yang dihadiri oleh petinggi negara dan bersifat tertutup untuk Cina dan AS saja. Wajah baru diplomasi AS terhadap Cina ini bernama Strategic Economic Dialogue. Karakter dialog ekslusif ini akhirnya mengalami perluasan lingkup topik di bawah kepemimpinan Presiden Obama yang tidak hanya membicarakan masalah ekonomi antara negara, namun juga masalah strategis dan geopolitik yang merupakan kepentingan kedua negara. Pertemuan ini sejak Februari 2009 diubah namanya menjadi Strategic & Economic Dialogue. Dialog ini menjadi unik, karena dialog ini adalah pionir komunikasi bilateral tingkat tinggi AS dan Cina sejak terakhir kali dialog dilakukan untuk mengadakan perjanjian antara ASCina supaya AS mengurangi perdagangan senjata kepada Taiwan dan supaya Cina menjaga keharmonisan dengan Taiwan. Meski hubungan Cina dan AS terlihat konfliktual di permukaan, pendekatan Presiden Barack Obama kepada Cina bukanlah koersif, melainkan sangat diplomatis dan cenderung akomodatif. Bagi Obama, kedua negara sangat bergantung satu sama lain. Dialog ini juga menjawab tantangan aktual mengenai krisis keuangan AS. Sementara, Cina tidak terkena imbas krisis finansial global dan bahkan sedang menguasai simpanan yang merupakan surat hutang AS sebanyak USD 800 milyar.(Joffe, 2009: 24 ) AS juga mendapati bahwa Cina telah melakukan manipulasi perdagangan internasionalnya dengan AS, dimana Cina dengan ukuran ekonomi 111
aktualnya bersikeras tidak ingin merevaluasi mata uang Renminbinya (Yuan) supaya bisa menciptakan keseimbangan pada neraca perdagangan kedua Negara (Bergsten, 2009:59 ) Selain
itu,
Obama
melihat
bahwa
ada
sebuah
wacana
untuk
mempertahankan US Leadership dan membangun citra AS yang baru di muka petinggi dan publik Cina, maka AS harus menjadi AS yang lebih ”mendengar sesama” dan menjadikan Cina sebagai mitra dialog dan kerja sama, khususnya bila menyadari perkembangan politik dunia akhir-akhir ini. Respon ini bisa bervariasi menyesuaikan pada kondisinya. Gejala perubahan tata dunia kontemporer misalnya, melahirkan banyak new emerging powers yang menggoncang kedudukan AS sebagai hegemoni tunggal. Di lain pihak, politik domestik akan terlihat bahwa konsep dialog bilateral eksklusif AS terhadap Cina adalah bentuk preservasi kepemimpinannya di kawasan Asia Timur maupun global dan juga sebuah bentuk kerjasama untuk meraih kepentingan nasionalnya yang hanya bisa dilakukan dengan keterlibatan Cina. A.1. Indikator Kemajuan Ekonomi Cina sebagai Pesaing Amerika Serikat Dalam konstelasi politik dan ekonomi internasional, hingga kini AS masih memegang posisi dominan. Akan tetapi, akhir-akhir ini muncul beberapa pesaing, yang menyebabkan pengaruh AS mulai sedikit berkurang. Pesaing yang disebutsebut paling memiliki kesempatan besar untuk menjadi pemain dominan dalam politik dan ekonomi internasional adalah Cina, Perkembangan pesat Cina terjadi dari sisi perdagangan, manufaktur, investasi, tingkat tabungan, dan berbagai perkembangan lain. 112
Peran dominan dari pemerintah Cina yang berhasil menjadikan Cina sebagai negara yang maju secara ekonomi. Pemerintah Cina, yang menjalankan prinsip pragmatisme dan kompetensi, telah berhasil membawa Cina ke dalam suatu bentuk kapitalisme dengan karakteristik Cina, kapitalisme yang memberikan peran besar pada pemerintah, melalui besarnya peran state-owned enterprises dalam mengelola perekonomiannya. Dominannya pemerintah Cina ini juga ternyata memberikan dampak negatif berupa terciptanya gap antara pemerintah dan rakyat Cina, yang kemudian menyebabkan munculnya tekanan sosial di mana-mana. Masalah ini dinamakan sebagai desentralisasi spiral (spiraling decentralization). Dalam memecahkan masalah desentralisasi spiral ini, Cina telah menuju ke arah yang benar, reformasi ekonomi telah membawa Cina ke arah keterbukaan dan akuntabilitas, kebebasan individu juga kini mulai diakui. Terlalu dini mungkin untuk memprediksi apakah Cina akan menjadi demokratis di masa depan, yang jelas kini Cina semakin menunjukkan tanda-tanda yang semakin positif, dengan mengkombinasikan partisipasi masyarakat dengan hirarki dan kontrol rejim elit yang dinamakan sebagai mixed regim, langkah yang positif menuju reformasi politik Cina. Berbicara masalah kondisi domestiknya, Cina memang kini sedang berbenah memperbaiki kondisi domestiknya. Fokus strategi politik internasional Cina lebih diarahkan untuk memaksimalkan pertumbuhannya, bukan untuk memperluas pengaruh Cina dalam dunia internasional, tetapi Untuk mencapai pertumbuhan ekonominya, Cina terus membangun hubungan baik dengan negaranegara dunia, Cina juga cenderung menghindari konflik dengan negara-negara dunia, dan karenanya permasalahan politik luar negeri merupakan hal yang agak 113
sensitif bagi Cina. Cina lebih suka menjalankan prinsip-prinsip non-intervensi dan non-konfrontasi. Prinsip non-intervensi dan non-konfrontasi Cina ini diwujudkan melalui terminologi peaceful rise, yang kemudian dijadikan salah satu bentuk politik luar negeri Cina. Bentuk politik luar negeri Cina yang lain adalah Christian Confucians, yang mengacu pada bagaimana Cina menjalankan pola pemikiran Barat dalam menjalankan perekonomiannya, yaitu secara modern dan rasional, dengan tetap memegang prinsip-prinsip Konfusianisme yang mengacu pada etika, moralitas, dan keadilan dalam kehidupan politiknya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Cina menganut prinsip peaceful rise dan Confucians, yang berarti seharusnya Cina tidak akan berusaha untuk memperluas kekuasaannya. Akan tetapi, berbagai usaha yang telah dilakukan Cina dalam pencarian sumber energi dan sumber bahan mentah, pada akhirnya akan membawa Cina semakin ke arah ekspansionis. Hal ini ditunjukan melalui hubungan yang semakin solid antara Cina dan negara-negara di Benua Afrika, di mana Cina banyak memberikan pinjaman finansial pada negara-negara Afrika seperti Zimbabwe, Sudan, dan Afrika Selatan yang lantas menimbulkan friksi antara Cina dengan great power lain yang juga ingin mendekati Afrika. Bantuan finansial itu pun terkadang diberikan dengan cuma-cuma, yang membuat motif netralitas Cina dipertanyakan. Walaupun pemeberian pinjaman secara cuma-cuma yang diberikan oleh Cina kepada negara-negara Afrika mempunyai sebuah tujuan yang tidak lain untuk melancarkan investasi yang akan ditanamkan di Afrika, dengan bantuan Cina secara tidak langsung membuat negara-negara Afrika enggan menolak Cina untuk menanamkan investasi di Afrika. Kerjasama juga dilakukan Cina pada negara-negara Asia, di mana Cina semakin aktif melancarkan 114
diplomasi dan soft power-nya. Cina yang tadinya dinilai sebagai tetangga yang bermasalah, mulai menjadi lebih bersahabat, sabar, berprospek jangka panjang, lebih akomodatif, dan lebih mau terlibat dalam kerja sama regional, perubahan positif yang membuat Cina semakin disambut di Asia. Dampak kebangkitan ekonomi Cina ini terlihat jelas ketika AS mendominasi wilayah regional di awal abad ini, perang Afghanistan, Iraq, dan krisis ekonomi global membuat AS tidak mampu mendominasi Cina. Ini terlihat dalam fakta berikut: AS merupakan konsumen terbesar dunia dimana mayoritas barang yang di konsumsi berasal dari dan diproduksi oleh Cina. Akibatnya, AS memilki defisit perdagangan dengan Cina. Cadangan dolar yang sangat besar yang dimiliki Cina membuat Cina memiliki kemampuan untuk membeli saham keuangan AS, yang digunakan AS untuk membiayai defisit perdagangannya. Hal ini berakibat kepada ekspansi perindustrian Cina, dimana industri tersebut membutuhkan pasokan minyak dan energi yang lebih besar lagi. Berikutnya, pengangguran di sektor industri AS pun meningkat karena kalah bersaing dengan kualitas produksi Cina yang lebih superior. Perkembangan Cina yang semakin pesat, baik dari segi ekonomi maupun dari segi politik melalui soft power diplomacy-nya yang semakin akomodatif, menjadikan Cina sebagai lawan yang berdiri sejajar dengan AS dalam konstelasi politik internasional. Kemajuan pesat Cina tersebut lantas melahirkan kekhawatiran pada beberapa kalangan AS, yang mulai melihat Cina sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional AS. Keberadaan Cina sebagai ancaman ini, lebih merupakan ancaman yang sifatnya asymmetrical superpower, di mana Cina akan menunjukkan kekuatannya bukan dalam hal militer, melainkan lebih ke 115
kekuatan ekonomi dan kekuatan non-militer lain. Kekuatan Cina dalam hal-hal non-militer inilah yang sulit diatasi AS, yang selama ini cenderung menggunakan kapabilitas militernya untuk mengalahkan lawan-lawannya. Pergerakan Cina yang pelan namun pasti dalam menarik simpati dari berbagai negara dunia melalui kekuatan ekonomi dan kekuatan non-militernya, mau tidak mau merupakan ancaman besar bagi dominasi AS di dunia internasional. Hal ini dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Tabel 6 Pertumbuhan GDP Cina, 1955-2009 Tahun 1955 1960 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2007 2009
GDP
Tukar dolar AS
91.000 145.700 171.600 225.300 299.700 460.906 896.440 1.854.790 6.079.400 9.921.500 18.308.500 25.730.600 27.969.162
2,46 2,46 2,46 2,46 1,86 1,49 2,93 4,78 8,35 8,27 8,19 7,62 6,83
Inflasi indeks (2000 = 100) 19,2 20,0 21,6 21,3 22,4 25,0 30,0 49,0 91,0 100,0 106,0 112,6 114,7
Sumber : diolah dari data dalam jhon Wong dan Antaranews.com diakses tanggal 8 September 2010
Jika dilihat dari struktur ekspornya, Cina juga bukan lagi pengekspor produk primer atau hasil pertanian seperti negara-negara berkembang lainnya. Pada awal tahun 1980 ekspor barang-barang manufaktur masih dibawah ekspor hasil pertanian, tetapi memasuki awal tahun 1990 perbandingan hasil menjadi terbalik. Pada tahun 2000 struktur ekspor Cina hanya mencapai 10% yang terdiri dari hasil pertanian selebihnya adalah barang-barang manufaktur. Apabila dilihat lebih dalam dari produk manufaktur itu nampak bahwa ekspor TCF (textile, clothing and footwear) menunjukan penurunan, demikian juga mainan dan alat116
alat olah raga, yang mengalami kenaikan cepat adalah alat-alat elektronik dan mesin. Dari sekitar 12 milyar USD (1980) menjadi lebih dari 40 miliar USD pada akhir 2000. (Wibowo, Op.cit: 30) Perdagangan AS dengan Cina meningkat dengan cepat setelah dua negara menjalin kembali hubungan diplomatik (pada bulan Januari 1979), dengan menandatangani perjanjian perdagangan bilateral (Juli 1979), dan diberikan nama most-favored-nation (MFN) dimulai pada tahun 1980. total perdagangan AS dengan Cina Pada tahun 1978 (sebelum reformasi Cina dimulai) ekspor plus impor sebesar $1 milyar, Cina menempati peringkat 32 pasar ekspor terbesar dan ke 57 sumber terbesar impor AS. Pada tahun 2008, perdagangan bilateral mencapai $ 409.000.000.000, membuat Cina menjadi terbesar kedua mitra dagang AS (setelah Kanada), pasar ekspor terbesar ketiga AS, dan sumber terbesar impor AS. Dalam beberapa tahun terakhir, Cina telah menjadi salah satu yang paling cepat berkembang, pasar ekspor AS dan pentingnya pasar ini diharapkan tumbuh lebih jauh sebagai standar hidup terus meningkatkan dan muncul kelas menengah Cina yang cukup besar. Perdagangan AS dengan Cina telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir sebagai barang impor dari Cina telah tumbuh jauh lebih cepat dari ekspor AS ke Cina (meskipun tumbuh dengan hanya $ 10 miliar pada tahun 2008). Naik dari $ 34.000.000.000 pada tahun 1995 menjadi $ 266.000.000.000 pada tahun 2008 (lihat Tabel dibawah melainkan secara signifikan lebih besar dari itu dengan mitra dagang AS lainnya dan beberapa kelompok perdagangan. Misalnya, hampir sama dengan defisit AS dikombinasikan dengan negara-negara yang membentuk Organisasi Negara Ekspor Minyak (OPEC) dan 27 negara yang membentuk Uni 117
Eropa (EU 27), dan itu lebih dari tiga kali lebih besar dari defisit perdagangan dengan Jepang (Lihat Tabel selanjutnya) Beberapa analis melihat besarnya defisit perdagangan AS dengan Cina sebagai indikator yang dan perdagangan kebijakan ekonomi Cina yang terbatas atau tidak adil, sementara yang lain berpendapat bahwa defisit tumbuh mencerminkan perubahan dalam produksi berorientasi ekspor dari negara-negara lain (terutama di Asia) AS menangguhkan status MFN Cina pada tahun 1951, yang memotong perdagangan bilateral. Status MFN Cina (yang ditunjuk kembali di bawah Perdagangan hukum AS seperti status normal hubungan dagang, atau normal trade relations/ NTR) diperbaharui setiap tahun hingga Januari 2002, ketika NTR permanen diperpanjang ke Cina (setelah bergabung dengan WTO). Krisis keuangan global telah berdampak signifikan terhadap arus perdagangan AS dan Cina. Selama tiga bulan pertama tahun 2009, ekspor AS dan impor dari Cina turun 20% dan 11%, pada periode yang sama tahun 2008, dan defisit perdagangan AS dengan Cina turun hampir 8%. Pada tingkat ini, defisit perdagangan AS dengan Cina bisa mencapai $ 244.000.000.000 pada tahun 2009. Tabel 7 Perdagangan AS dengan Cina :1980-2009 ($ Dalam miliar) Tahun 1980 1985 1990 1995 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 * 2009 proyeksi *
Ekspor AS 3,8 3,9 4,8 11,7 16,3 19,2 22,1 28,4 34,7 41,8 55,2 65,2 71,5 57,3
Impor AS 1,1 3,9 15,2 45,6 100,1 102,3 125,2 152,4 196,7 243,5 287,8 321,5 337,8 301,1
Neraca Perdagangan AS 2,7 0,0 -10,4 -33,8 -83,8 -83,1 -103,1 -124,0 -162,0 -201,6 232,5 -256,3 -266,3 -243,7
Sumber: http:// www.crs.gov /pdf/other/RL33536.pdf diakses tanggal 8 september 2010.
118
Tabel 8 Saldo perdagangan AS dengan Major Trading 2009 ($ Dalam miliar) Negara atau Group Trading Dunia Cina Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) European Union (EU) Canada Jepang Mexico Meksiko Association of Southeast Asian Nations (ASEAN)
Neraca Perdagangan AS -800,0 -266,3 -175,6 -93,4 -74,6 -72,7 -64,4 -50,6
Sumber: http//www.USITC.gov. diakses tanggal 8 september 2010
Memang apabila dilihat dari data-data yang tersedia sampai tahun 2008 saja, Cina saat ini telah menjadi produsen dari banyak hal yang sudah mencapai tingkat dunia, sejak tahun 1990 misalnya, Cina telah berhasil menjadi penghasil TV terbesar di dunia, kemudian lima tahun kemudian penghasil semen terbesar di dunia. Pada tahun 1998, Cina telah menduduki tempat tertinggi di dunia sebagai produsen pupuk buatan dan baja. Sementara itu secara perlahan Cina telah menjdai penghasil banyak barang elektronik, termasuk komputer, yang memasuki peringkat atas dunia. Dan Cina telah menjadi mitra perdagangan yang besar bagi AS, Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 9 Persentase Barang Produksi Cina Untuk Output Dunia 46% of the world’s motorcycle 40% of the world’s DVD players 23% of the world’s the VCRs 13% of the world’s cell phones 12% of the world’s dekstop PCs 7% of the world’s hardisk drive
Sumber : diolah dari data dalam Jhon Wong dan antaranews.com diakses tanggal 8 september 2010
119
Tabel 10 Impor Barang Konsumsi Pasar AS dari Cina Jenis Barang konsumsi Toys Footwear TV and video receivers Consumer electronics Furniture Household and kitchen appliances Apparel
Persen (%) 81 52 46 44 34 30 10
Sumber: Trade Partnership Worldwide, LLC http//www.tradepartnership.com/pdf_file/2005_china_imports.pdf. Diakses pada tanggal 25 November 2010
B.2. Prediksi Hubungan Cina-Amerika Serikat Hubungan kedua negara biasanya dijelaskan dalam deskripsi yang kompleks dan penuh dengan persaingan. Kebanyakan dari persaingan ini adalah produk dari persepsi dan image mereka terhadap satu sama lain. Karakter hubungan keduanya bisa diidentifikasikan sebagai dialektika antara bukan aliansi, namun juga bukan musuh. Secara umum, Pemerintah AS tidak melihat Cina sebagai musuh, melainkan sebagai kompetitor di beberapa isu dan teman di beberapa isu tertentu lainnya. Saat ini ekonomi AS adalah yang terkuat di dunia, sedangkan Cina menempati posisi kedua, dengan menggantikan posisi Jepang. Keduanya merupakan konsumen energi fosil, batu bara dan minyak bumi, yang terbesar di dunia. Kedua negara juga merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar sehingga memiliki beban dan tanggung jawab yang besar dalam menanggulangi efek perubahan iklim. Sesungguhnya hubungan AS-Cina sudah relatif stabil, kendati mendapati dinamika fluktuatif dalam beberapa kesempatan seperti pencobaan intervensi AS terhadap isu pelanggaran HAM pemerintah Cina kepada rakyat di Tibet, Xinjiang, keterbatasan dalam akses terhadap informasi,tidak adanya 120
kebebasan pers, minimnya pertumbuhan masyarakat sipil maupun status politik Taiwan. Hubungan antara keduanya diperburuk setelah kejadian di Tiananmen, Beijing.
Dimana
peristiwa
tersebut
merupakan
noda
terhadap
konsep
perlindungan rakyat oleh Cina, dan dianggap sebagai kesalahan fatal di mata AS karena kontradiktif terhadap kepentingan dan nilai yang di bela oleh AS. Pasca Pembantaian Tiananmen, hubungan AS dan Cina bagai berada di ujung tanduk. Respon pemerintah AS, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Ronald Reagan dan awal pemerintahan Presiden George Bush I adalah konfrontasi terhadap Cina dalam berbagai bidang. Konfrontasi pertama yang dijatuhkan AS kepada Cina adalah skorsing berupa moratorium terhadap hubungan dagang, investasi Cina ke AS, dan pembekuan perusahaan asuransi swasta Cina pada tanggal 5 Juni 1989. (Levine, 1994 : 90) Moratorium ini akhirnya dicabut oleh Presiden Bill Clinton pada tahun 2001. Presiden George Bush I juga membebankan embargo ekspor persenjataan AS kepada Cina dari tahun 1990-1994. AS juga secara eksplisit menolak proposal donasi Cina terhadap World Bank dan kredit IMF yang ditujukan untuk proyekproyek pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, karena bagi AS, Cina telah gagal memberikan kesejahteraan bahkan bagi rakyat di dalam negerinya sekalipun. Hubungan antara AS-Cina semakin diperburuk ketika NATO meledakkan kedutaan Cina di Belgrade, Serbia pada tahun 1999. NATO mengkonfirmasi bahwa unsur kesalahan intelijen mereka, namun Cina tidak menerima alasan ini dan menuduh bahwa pengeboman tersebut dilakukan secara sengaja dan atas dasar prakarsa AS. (www.globalpolicy.org diakses pada tanggal 121
15 september 2010) Pasca serangan 9/11, mulai terlihat hawa segar normalisasi hubungan internasional Cina dan AS terutama setelah Cina menawarkan dukungan publiknya dan juga dukungan Cina di Dewan Keamanan PBB dalam resolusi 1373 mengenai penggelaran pasukan koalisi ke Afghanistan dalam misi War on Terrorism. (http://www.time.com diakses pada tanggal 15 september 2010) Cina bukan saja mendukung inisiatif AS, namun juga mendonasika USD 150 juta untuk proyek rekonstruksi Afghanistan pasca jatuhnya Taliban Banyak klaim dilontarkan bahwa kebijakan luar negeri AS sudah semakin oportunis. Hal ini terlihat pada penerapan kebijakan luar negeri AS ke Cina, dimana kendati politik domestik Cina adalah ancaman bagi mosi demokratisasi AS, namun
ada
beberapa
kepentingan
AS
dan
Cina
yang
menciptakan
interdependensi, sehingga memungkinkan kedua belah pihak untuk menjadi mitra dialog dan kerja sama. Pertumbuhan pesat Cina secara ekonomi, sayangnya paradoks terhadap proteksi pemerintah terhadap HAM warga sipil sehingga cukup untuk menyatakan bahwa secara gagasan dan implementasi, merupakan ancaman kepada dominasi AS. Lebih penting lagi, kita harus melihat dimensi bahwa kedua negara adalah mitra dagang terbesar bagi satu sama lain dan memiliki kepentingan yang sama dalam mencegah dan memberantas terorisme dan proliferasi senjata pemusnah masal. Cina memiliki 2 triliun USD, dalam bentuk surat hutang AS, yang merupakan konsumsi Cina untuk mendanai paket stimulus AS bagi perusahaan di dalam negeri dalam rangka memperbaiki keadaan perekonomian domestik AS pada masa krisis.
122
Menteri
Keuangan
AS
sebelumnya,
Henry
M.Paulson
pernah
mengindikasikan bahwa ketidakseimbangan struktural ini juga harus diperbaiki guna membantu AS keluar krisis finansial. Pada tanggal 23 Februari 2009, Menteri Luar Negeri, Hillary Rodham Clinton berhasil mengunjungi Cina dan meyakinkan para petinggi Cina untuk memastikan bahwa pangsa pasar AS di Cina masih merupakan tempat aman bagi Cina untuk menanamkan investasi dan kedua belah pihak setuju untuk menggalakkan investasi dari negara masingmasing ke negara satu sama lain (Cohen dan Greenberg, http://ics.leeds.ac.uk diakses pada tanggal 15 september 2010). Meskipun Cina adalah pemegang hutang AS terbanyak saat ini, Cina dianggap sebagai juru selamat untuk memecah kebuntuan di dalam menyelesaikan krisis finansial global. AS mengidentifikasi bahwa Cina memang tengah bangkit sebagai kekuatan ekonomi yang baru dan mengidentifikasi kemunduran kekuatan ekonomi AS khususnya di bawah diskursus krisis finansial global. Di lain pihak, AS menyadari bahwa dirinya memiliki permasalahan dalam konteks perdagangan dengan Cina, dimana AS mengalami defisit perdagangan ke Cina sementara Cina mengalami surplus perdagangan ke AS. Menurut AS, hal ini terjadi karena manipulasi nilai mata uang Renminbi Yuan terhadap perdagangan internasional. Karena secara logika, kenaikan ekspor berbanding dengan jumlah impor mengindikasikan lebih banyaknya mata uang beredar di luar dan dalam negeri. Ketika suatu mata uang lebih banyak beredar, Pemerintah Cina memiliki obligasi untuk merevaluasi nilai Renminbi Yuan, terutama ketika nilai mata uang rendah ini menjadi daya tarik tersendiri (comparative advantage) untuk menjadikan
123
produk Cina lebih laku di pasar internasional, AS sesungguhnya melihat ini sebagai ancaman terhadap pasar domestiknya. kerjasama antara Cina-AS di masa depan akan berlandaskan pada tiga faktor utama yang saling bergantung satu sama lain, yaitu adanya ketergantungan ekonomi, keanggotaan dalam institusi internasional, serta demokratisasi. Faktor utama yang melandasi pemikiran akan adanya hubungan kerjasama yang baik antara Cina dan AS di masa depan adalah adanya ketergantungan ekonomi antar keduanya, tidak dapat disangkal bahwa di antara Cina dan AS terdapat saling ketergantungan ekonomi yang dalam. Ketergantungan ekonomi inilah yang menurut penulis, akan memaksa baik Cina maupun AS untuk terus bekerja sama dan karenanya menghindari konflik di masa depan. Adanya ketergantungan ekonomi antara Cina-AS dan tendensi untuk bekerja sama di masa depan juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Cina Yang Jiechi, Jiechi mengatakan bahwa fondasi strategis bagi hubungan Cina-AS terletak pada kepentingan Cina dan AS yang sama dalam mengusahakan pembangunan ekonomi yang stabil, terutama untuk menghindari krisis di masa depan. Kalaupun tidak terjadi krisis di masa depan, baik Cina maupun AS harus tetap membangun kerjasama yang baik dan berkelanjutan, lanjut Yang Jiechi. Lebih lanjut lagi, kerjasama ekonomi antara Cina-AS sebenarnya sudah berlangsung sejak 1978. Ketika itu, volume perdagangan Cina-AS yang tadinya hanya berjumlah 1 bilyum Dollar AS mencapai angka 120 bilyun Dollar AS, (U.S. Government Printing Office, 2002 : 38–39) dan pada tahun 2004, angka tersebut mencapai 245 bilyun Dollar AS. (http://www.uschina.org diakses pada tanggal 15 september 2010) 124
Di masa depan, Cina dan AS juga akan melanjutkan pemembangunan sebuah dialog ekonomi, yang semakin akan memperdalam kerjasama antar keduanya dan memang sudah terbentuk. Cina juga telah berkomitmen untuk membantu menstabilkan pasar finansial dan menstimulasi perbaikan ekonomi di AS, dengan harapan perekonomian AS akan kembali tumbuh dalam waktu dekat. Faktor kedua yang berperan penting dalam pembentukan kerjasama antara Cina-AS di masa depan adalah peran institusi internasional dalam mendorong terjadinya kerjasama antar keduanya. Di sini penulis, setuju dengan pandangan kaum liberal, percaya bahwa adanya institusi internasional akan meningkatkan komunikasi Cina dan AS, yang kemudian akan memperkecil kecurigaan antar kedua negara mengenai intensi masing-masing, dan pada akhirnya akan menghasilkan komitmen kerjasama antar keduanya. Institusi internasional juga dapat mencegah efek-efek negatif dari anarki internasional, dengan mewujudkan kerjasama dan kepercayaan antar negara-negara anggotanya. Sejak perang dingin berakhir, Cina telah bergabung dalam berbagai institusi internasional, mulai dari yang sifatnya regional seperti APEC (AsiaPacific Economic Cooperation), ARF (the ASEAN Regional Forum), hingga yang sifatnya internasional seperti masuknya Cina dalam WTO (World Trade Organization). Cina juga telah bermain semakin aktif dalam wadah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Dari tahun 1977 hingga tahun 1997, tercatat Cina telah bergabung dalam 52 institusi internasional formal, (Lampton, 2001 : 163) di mana AS merupakan negara yang dominan pada institusi internasional tersebut. Meningkatnya jumlah institusi baik regional maupun internasional yang dimasuki Cina, dan besarnya peran AS pada berbagai institusi tersebut akan 125
menghasilkan ikatan yang kuat antara kedua negara, ikatan yang dipercaya oleh kaum liberal optimis akan meningkatkan komunikasi dan kontak, yang kemudian akan menghasilkan general mutual understanding dan kepercayaan antar keduanya. Keinginan Cina untuk terus menikmati manfaat dari keanggotaannya dalam institusi internasional tersebut akan mendorong Cina untuk tidak mengambil langkah yang dapat merusak status quo, sehingga akhirnya akan mengurangi kemungkinan konflik antara Cina dan AS yang merupakan perencana sekaligus pelindung sistem internasional. Faktor ketiga yang juga akan mendorong terciptanya hubungan kerjasama antara Cina-AS adalah faktor demokratisasi. Cina sekarang telah menunjukan berbagai tanda positif menuju demokratisasi melalui pembentukan mixed regime di negaranya. Bila Cina benar-benar menjadi demokratis, maka sesuai pandangan kaum liberal, optimisme hubungan Cina dan AS akan menjadi stabil karena keduanya akan memasuki democratic zone of peace. Adapun kaum liberal optimis percaya bahwa demokrasi adalah alat untuk menciptakan perdamaian. Rezim yang meletakkan kekuasaan dan legitimasi pada consent of the governed cenderung tidak akan terlibat dalam perang, yang tujuan akhirnya adalah untuk memuaskan ambisi pemimpinnya. Kaum liberal optimis juga percaya bahwa negara yang demokratis tidak akan saling berperang dengan negara demokratis lainnya sehingga kaum liberal optimis melihat korelasi antara meningkatnya negara demokratis dengan menurunnya konflik internasional. Cina yang kini semakin menuju ke arah demokratisasi, kemudian akan memiliki hubungan yang cenderung stabil dan tanpa konflik dengan AS di masa depan.
126
Memprediksi mengenai hubungan Cina-AS di masa depan memang bukanlah hal yang mudah. Memang timbul asumsi dari masyarakat internasional akan adanya konflik besar antar keduanya, sementara dilain pihak ada pula yang berasumsi akan terciptanya kerjasama yang semakin dalam antara keduanya. Melihat akan adanya saling ketergantungan antara keduanya, maka yang lebih dominan adalah prediksi kedua, yaitu akan terciptanya suatu hubungan kerjasama antara Cina-AS dengan berlandaskan pada faktor utama, yaitu ketergantungan ekonomi antar keduanya yang semakin dalam, faktor institusi internasional yang akan semakin menyatukan keduanya.
127
BAB V KESIMPULAN
Cina adalah salah satu aktor kuat dengan kekuatan ekonomi yang dianggap mampu menyaingi kapabilitas AS. Pemerintah Cina memiliki cadangan USD 800 milyar dalam bentuk simpanan yang merupakan hutang AS kepada Cina. Tingkat pendapatan domestik (GDP) Cina di tahun 2007 tumbuh dari $3.3 triliun menjadi $8-9 triliun. Peningkatan ekonomi Cina ini seperti yang telah dijelaskan penulis diatas berawal dari dibukanya pintu selebar-lebarnya untuk pihak asing untuk menanamkan investasinya di Cina sejak tahun 1978 tanpa melihat ideologi negara tersebut, keterbukaan Cina ini menunjukan bahwa Cina sudah mulai menerapkan sistem liberalis dalam sistem ekonominya, bisa dilihat dari tatacara penerapan sistem ekonomi Cina pada masa sebelumnya yaitu Mao Zedong yang sangat tertutup dan pilih-pilih untuk menjalin kerja sama dengan pihak luar, pergeseran sistem ini sangatlah kontras dengan apa yang diterapkan oleh Deng Xiaoping. Secara garis besar, kemajuan ekonomi Cina diakibatkan dari dengung keterbukaan pemerintah dan rakyatnya sejak reformasi tahun 1978, sistem kendali terpusat yang merupakan dasar kemajuan negara tersebut serta sukses reformasi Cina yang ditunjang oleh 5 proses yaitu: desentralisasi, marketissasi, diversivikasi kepemilikan, liberalisasi, dan internasionalisasi. Walaupun Cina membuka diri terhadap pihak luar dan mulai menerapkan sisitem liberalis namun Cina tetap menganggap dirinya sebagai negara komunis, karena pada dasarnya masyarakat Cina sangat plural, Cina tetap menerapkan 128
komando terpusat dimana kontrol utama tetap ada ditangan pemerintah walaupun sistem liberalis diterapkan Cina, hal ini juga membuktikan asumsi Cina yang melahirkan sebuah idiom baru yaitu sosialisme dengan warna Cina (you zhongguo tese de shehuizhuyi). Dalam kebijakan luar negerinya, Cina kerap melakukan penghapusan hutang negara berkembang dan sering memberikan asistensi politik maupun ekonomi yang bebas dan jauh dari prasyarat ekonomi maupun politis. Bagi negara-negara miskin dan berkembang, pengaruh Cina kepada pembangunan mereka dilihat sebagai alternatif untuk mencari perlindungan dan bantuan. Persepsi ini merupakan substitusi relatif terhadap mundurnya kepeminpinan AS secara relatif. Selama ini hubungan AS - Cina selalu dideskripsikan dengan terminologi yang menggambarkan persaingan dan kesalahpahaman. Khususnya ketika hubungan kedua negara diperburuk pasca kejadian Pembantaian Tiananmen 1989 dan friksi Cina-Taiwan. Pada tahap perkembangan politik internasional dewasa ini, Cina juga terlihat semakin jauh dari jangkauan AS, dan lebih memilih untuk menjalin kemitraan strategis dengan Rusia dalam forum Shanghai Cooperation Organization maupun memberikan bantuan pembangungan kepada berbagai negara di Afrika yang bebas persyaratan politik. Kemajuan ekonomi Cina telah memberikan sinyal ancaman kepada kepentingan ekonomi AS. Dua pendapat berlawanan menyatakan bahwa fenomena ini bisa dilihat sebagai tantangan ataupun peluang bagi AS. Sejak pemerintahan Bush Jr, AS lebih melihat Cina sebagai mitra dialog seperti yang diindikasikan pada proyek hasil inisiatif Presiden George Bush dan Menteri 129
Keuangan, Henry M. Paulson yang mengajak Cina untuk duduk bersama, menyelesaikan permasalahan yang menghalangi terlaksananya kepentingan nasional kedua negara terutama dalam isu ekonomi. Pertemuan tahunan ini bersifat eksklusif dan dihadiri oleh para petinggi negara dan bersifat tertutup untuk Cina dan AS saja. Wajah baru diplomasi AS terhadap Cina ini bernama Strategic Economic Dialogue. Karakter dialog ekslusif ini akhirnya mengalami perluasan lingkup topik di bawah kepemimpinan Presiden Obama yang tidak hanya membicarakan masalah ekonomi antara negara, namun juga masalah strategis dan geopolitik yang merupakan kepentingan kedua negara. Pertemuan ini sejak Februari 2009 diubah namanya menjadi Strategic & Economic Dialogue. Dialog ini menjadi menarik karena dialog ini adalah pionir komunikasi bilateral tingkat tinggi AS dan Cina sejak terakhir kali dialog dilakukan untuk mengadakan perjanjian antara ASCina supaya AS mengurangi perdagangan senjata kepada Taiwan dan supaya Cina menjaga keharmonisan dengan Taiwan. Meski hubungan Cina dan AS terlihat konfliktual di permukaan, pendekatan Presiden Barack Obama kepada Cina bukanlah koersif, melainkan sangat diplomatis dan cenderung akomodatif. Bagi Obama, kedua negara sangat bergantung satu sama lain. Dialog ini juga menjawab tantangan aktual mengenai krisis keuangan AS. Selain
itu,
Obama
melihat
bahwa
ada
sebuah
wacana
untuk
mempertahankan US Leadership dan membangun citra AS yang baru di muka petinggi dan publik Cina, maka AS harus menjadi AS yang lebih mendengar
130
sesama dan menjadikan Cina sebagai mitra dialog dan kerja sama, khususnya bila menyadari perkembangan politik dunia akhir-akhir ini. Respon ini bisa bervariasi menyesuaikan pada kondisinya. Gejala perubahan tata dunia kontemporer misalnya, melahirkan banyak new emerging powers yang menggoncang kedudukan AS sebagai hegemoni tunggal. kita akan melihat bahwa konsep kebijakan dialog bilateral eksklusif AS terhadap Cina adalah bentuk preservasi kepemimpinannya di kawasan Asia
Timur maupun
global dan juga sebuah bentuk kerjasama untuk meraih kepentingan nasionalnya yang hanya bisa dilakukan dengan keterlibatan Cina. Strategic & Economic Dialogue (S&ED) yang diprakarsai oleh Pemerintahan Bush dan ditegaskan melalui perluasan ruang lingkup topik pembicaraan oleh Pemerintahan Obama merupakan wajah baru hubungan internasional AS dan Cina. S&ED adalah bentuk preservasi atas normalisasi hubungan AS-Cina. AS dan Cina adalah dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia saat ini dan kerjasama di antara keduanya dianggap krusial terhadap perkembangan politik internasional dewasa ini. Elaborasi penulis menunjukkan bahwa persepsi negatif antara kedua negara masih melekat, perdebatan dan ketidaksetujuan AS terhadap pelaksanaan politik dalam negeri Cina yang meremehkan isu perlindungan HAM dan juga bagaimana Cina melihat bahwa dunia internasional tidak seharusnya dikuasai oleh sebuah kekuatan hegemoni, seperti yang selama ini dipraktekkan oleh AS. Namun dialog di antara keduanya mengindikasikan tantangan yang dihadapi dunia lebih penting dan hanya kedua negara yang bisa menyelesaikannya.
131
Selanjutnya kita melihat bahwa dialog yang dilaksanakan oleh keduanya ternyata berfungsi menjadi sebuah celah untuk mengejar beberapa agenda kepentingan AS, khususnya beberapa isu seperti restrukturisasi ketidak seimbangan neraca perdagangan antara AS-Cina dan beberapa isu yang mempertaruhkan kepemimpinan AS dalam hal politik seperti isu penyesuaian kapabilitas diri dalam isu perubahan iklim dan peralihan kepada seumber energi yang sesungguhnya memang membutuhkan Cina. Pada dasarnya kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh AS dalam perdagangan internasional seperti yang telah di jelaskan pada bab-bab sebelumnya, semata-mata hanya untuk melinduungi kepentingan dan keamanan dalam negeri AS, tidak hanya itu penerapan kebijakan AS dalam dunia internasional merupakan serangkaian konsep untuk mempertahankan status hegemoninya dalam dunia internasional, sehingga tidak mengherankan apabila pada bab-bab sebelumnya dijelaskan bahwa AS banyak melakukan tekanan terhadap negara dunia termasuk Cina seperti salah satu bentuk penekanannya terhadap Cina yaitu memaksa Cina untuk merefaluasi nilai tukar RMB (Yuan), dengan tujuan produksi barang AS bisa bersaing dengan produk Cina. Meskipun demikian penulis yakin di masa depan antara Cina dan AS akan terjalin sebuah kerja sama yang saling menguntungkan, hal ini disebabkan oleh kedua belah fihak akan memilih jalan untuk saling menguntungkan daripada saling merugikan, karena akan terjadinya interdependensi antara keduanya berdasarkan ekonomi kedua negara yang kuat.
132
DAFTAR PUSTAKA Referensi Buku : Adi, Taufik Susilo, China Connection, Yogyakarta: Garasi, 2008 Anwar, Ma, Widjojo Nitisastro 70 Tahun Pembangunan Nasional: Teori Kebijakan dan Pelaksanaan, Jakarta, 1997. Alwi, Hasan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002. Bakri, Suryadi, “Pasca Deng Xiopeng, Cina Quo Vadis”, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996. C. Jack, Plano & Roy Olton. The International Relation Dictionary, Sanata Barbara: California Press, 1992 Clyde, Paul & Beers, “The Far East : A History Of Westr Impacts Entry”, Singpore: Burthon, 2001. Coulombis, Theodore A, “International Relations:Powers & Justice”, Terjemahan, Drs. Marsedes Marbun, Jakarta: CV. Abardin, 1990. Dunn, William N, Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Edisi Kedua, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003. E. Karl Case & Ray C. Fair, Principles Of Economics, 8th Edition, Pearson Education Inc.2007. Frankel, J,” Hubungan Internasional”, Jakarta: ANS Sungguh Barsaudara, 1990. Friedman & Barrett L. Mc. cormick (Ed.), “What If China Doesn’t Democratize? Implications For War & Peace”, New York: M.E. Sharpe, 2000. 133
Holsti, K.J, “Politik Internasional : Kerangka Analisis Pedoman Ilmu”, Jakarta, 1987. Husain, Coen Pontoh, Akhir Globalisasi; Dari Perdebatan Teori Menuju Gerakan Massa, Jakarta: C-Books, 2003. I.Levine, Steven, Sino-American Relations : Testing The Limits Of Discord, Dalam Samuel S.Kim, China & The World: Chinese Foreign Relations In The Post Cold War Era, Oxford: Westview Press, 1994. J. Laurence, Brahm, China After Wto, Beijing: Intercontinental Press, 2002. Jhamtani, Hira, WTO dan Penjajahan Kembali Dunia Ketiga, Yogyakarta: Insist press, 2005. Jill, Steans. International Relations Perspectives & Themes, Inggris: Pearson Education Limited, 2001. Naisbitt, John & Dorris. China Mega Trend, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010. Koentjaraningrat (Ed), “Metode Penelitian Masyarakat”, Jakarta: LIPI, 1973. Krugman, Paul R. & Maurice Obstfeld, Teori dan Kebijakan. Ekonomi Internasional, Ed 2, Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada, 2003. Kusumuhamidjojo, Budiono, “Hubungan Internasional: Kerangka Studi Analisis”, Jakarta: Bina Cipta, 1987. Kustia, Aa Sukarnaprawira, “Cina, Peluang Atau Ancaman”, Jakarta: Restu Agung, 2009. L. Marion, Levy & Guo Hengshi, The Riseof The Modern Chinese Business Class, New York: Institute of Pacifiic Relation, 1949.
134
Lampton, David M. “Same Bed, Different Dreams: Managing U.S.-China Relations”, 1989–2000, Berkeley: University of California Press, 2001. Levine, Steven.I.Sino American Relations : Testing The Limits Of Discord, Dalam Samuel S.Kim, China & The World: Chinese Foreign Relations In The Post Cold War Era, Oxford: Westview Press, 1994. M, Margaret. Pearson, “China’s Integration Into The International Trade & Invesment Regime”, Dalam Elizabeth Economy dan Michel Oksenberg (Eds.), China Joins The World , New York: Council On Foreign Relations Press, 1999. Martinez, Elizabeth & Arnoldo Garcia, What Is “Neoliberalism”? National Network For Immigrant & Refugees Rights, 1997. Michael Todaro dan Stephen C Smith, “Pembangunan Ekonomi” Edisi Ke-9, Jakarta: PT. Erlangga, 2006. Moechtar, Mas’oed, “Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi Dictionary”, Jakarta: LP3S, 1990. Moechtar,
Mas’oed,
“Ilmu
Hubungan
Internasional:Disiplin
dan
Metodologi”, Jakarta: PT. Pustaka LP3S, 1994. Morse, H.B. The Guilds Of China, New York: Longmans, Green & Company, 1932. Navarro, Peter, Letupan-Letupan Perang China Mendatang, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2008.
135
O, Robert, Keohane, After Hegemony: Cooperation & Discord In The World Political Economy, United Kingdom: Princeton University Press, 1984. Olton, Roy & Jack C. Plano, “Kamus Hubungan Internasional”, Terjemahan, Wawan, Bandung: Cv. Ardin, 1990. Michael, Todaro & Stephen C Smith, Pembangunan Ekonomi Edisi Ke-9, Jakarta: Pt.Erlangga, 2006. Porter, Michael E. Competitive Advantage: Creating & Sustaining Superior. New York: The Free Press. 1985. Saputra, Sumpena Prawira, “Politik Luar Negeri Indonesia”, Jakarta: Remaja Karya Offset, 1985. Setiawan, Bonnie, Menggugat Globalisasi, Jakarta: Infid & Igj, 2001. Steans, Jill. “International Relations Perspectives & Themes”, England: Pearson Education Limited, 2001. Wang, Yuan & Rob Goodfellow & Xin Shengzhang, Menembus Pasar Cina, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000. Wibowo, I, “Negara dan Masyarakat”, Jakarta: Pt Gramedia Pustaka Utama, 2000. Wibowo, I. “Cina’s Rise, Dinamika Asia Pasifik”, Jakarta: Program Pascasarjana FISIP UI, 2007. Wong, John, “Cina’s Economy In Search of New Development Strategies”, Dalam Saw Swee- Hock, “Asean-Cina Economic Relations”, Dalam Zainuddin Djafar, “Indonesia, Asean & Dinamika Asia Timur: Kajian Perspektif Ekonomi-Politik”, Jakarta: Pustaka Jaya, 2008. 136
Yaffe, David, Globalisasi Dalam Perspektif Sosialis, Jakarta: Cubuc, 2001. Yusuf, Sufri, “Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri, Sebuah Analisis Teoritis dan Uraian Pelaksanaannya”, Jakarta: Pustaka Sinar, 1989. Zakaria, Fareed, “The Challenger, Dalam The Post American World”. New York: W. Norton & Co, 2008. Zainal, Said Abidin, Kebijakan Publik, Edisi Revisi: Jakarta: Yayasan Pancur Siwah, 2004. Zainun, Buchari & Said Zainal Abidin, Kebijakan Publik, Edisi Pertama, Jakarta: Yayasan Pancur Siwah, 1988. Referensi Jurnal : Amin, Samir, Ekonomi Politik Abad Ke-20, Buletin Diponegoro 74, No. 9/2001. Barney, Jb. Firm Resources & Sustained Competitive Advantage, Journal of Management, 1991. Bergsten. C. Fred, A Partnership of Equals: How Washington Should Respond to China’s Economic Challenge, dalam Foreign Affairs, Vol. 88, Mei/Juni 2009. Cho, Ds. From National Competitiveness to Block & Global Competitiveness Review, V 8. 1998. Dwi, Siswanto, Konvergensi Antara Liberalisme dan Kolektivisme Sebagai Dasar Etika Politik Di Indonesia, dalam Jurnal Filsafat Jilid 38 Nomor 3. Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2004. 137
F. Carolina, Sembiring, Nenny Anggaraini, “Cina: Globalisasi dan Kehebatan Ekonomi; Sebuah Pembelajaran Serta Peluang Bisnis, Jurnal Ekonomi Vol. XV No. 40. Jakarta. Nopember/Desember 2005. Fred, C. Bergsten, A Partnership of Equals: How Washington Should Respond To China’s Economic Challenge, Dalam Foreign Affairs, Vol. 88, May/Juni 2009. Hoffman, Nicole P. An Examination of The “Sustainable Competitive Advantage” Concept: Past, Present, & Future, Academy of Marketing Science Review, 2000. Hunt, Shelby D. & Robert M. Morgan. "The Comparative Advantage Theory of Competition, Journal of Marketing, April, 1995. Joffe, Josef. The Default Power, dalam Foreign Affairs, Vol. 88, Issue 5. September-Oktober, 2009. Kenneth, Waltz. Globalisasi & Tata PS: Ilmu Politik dan Politik, Vol. 32, No.4, Desember. 1999. Keesing, D. Labour Skills & Comparative Advantage, American Economic Review, May 1966. Links, No. 12, Mei-Agustus, 1999. Loy, David, "Can Corporations Become Enlightened? Buddhist Reflections on TNCS, "Joseph A.
Camilleri & Chandra Musaffar, Eds.,
Globalization: The Perspectives & Pengalaman of The Religious Traditions of Asia Pacific, International Movement For A Just World, Jakarta. 1998.
138
Lyman, Princeton N, "Globalization & The Demands of Governance," Georgetown Journal Of International Affairs, Winter / Spring, 2000. Neary, J. Peter. Competitive Versus Comparative Advantage, World Economy, Vol. 26 April, 2003. Siswanto, “Oreintasi Politik Amerika Terhadap Perimbanagn Kekuatan Cina Dalam Kasus Open Door Policy”, Program Pasca Sarjana UI,1997. Warr, PG. Comparative & Competitive Advantage. Asian Pacific Economic Literature, Vol 8, 1994. William, Robinson, Globalisasi Sistem Dunia, dan "Promosi Demokrasi" Dalam Kebijakan Luar Negeri AS. Teori dan Masyarakat, Vol. 25, No. 5 Oktober 1996. Referensi Koran: Damayanti, Doty, “Cina Memaksa Semua Negara Untuk Siaga”, Kompas, 10 Mei 2007. Mas, Wigrantoro Roes Setyadi, “Kekuatan Ekonomi Dunia Bergeser Ke Asia”, Kompas, 20 Mei 2007. Koran Pembebasan Partai Rakyat Demokratik, Kejahatan Badan-Badan Keuangan/ Perdagangan Dunia dan Agen-Agen Lokalnya, 2002. Thee Kian Wie, Ekonomi Cina Setelah Pertumbuhan 30 Tahun. Harian Kompas, Kamis 01 Oktober 2009. Referensi Internet: A Special Report on China & America: A Message from Confucius, diakses dari http://www.economist. Com. 139
China Daily, “US, China Should Foster Win-Win Relationship in the 21st Century”. http://www. chinadaily.com. Cohen, William & Maurice R.Greenberg, Smart Power in US-China Relations: A Report of the CSIS Commission in China,diakses dari http://ics.leeds.ac.uk. Dennis Wilder,The U.S-China Strategic & Economic Dialogue: Continuity & Change in Obama’s China Policy, http://www.jamestown.org Doug
Lorimer,
Welfare
Capitalism
&
Neoliberal
Globalization,
http://jnx.sistm.unsw.edu.au. Friedberg, Aaron L, “The Future of US-China Relations: Is Conflict Inevitable?” http: //belfercente.ksg.harvard.edu. Henry M.Paulson. Strategic Economic Development: A Brief Report, diakses dari http://www.foreignaffairs.com Hilary
Roadham
Clinton,
Pernyataan
resmi
Menteri
Luar
Negeri
http://www.ustreas.gov. Joint Press Release, on the First Round of the U.S.-China Strategic & Economic Dialogue, http://www.ustreas.gov. Thomas Wilkins, The New Equlibrium of From US & China, http: //www.chinastakes.com U.S.-China Business Council, “U.S.-China Trade Statistics & China’s World Trade Statistics”. http://www.uschina.org. US
Bombing
Of
Chinese
Embassy:
Implausible
Blunder?
globalpolicy.org. Trade Partnership Worldwide LLC.http//www.tradepartnership.com. 140
www.
What Obama & China Disagree On, diakses dari http://www.time.com. William Cohen & Maurice R.Greenberg, Smart Power in U.S-China Relations: A Report of the CSIS Commision on China, diakses dari http:// www.fas.org. WM Morrisson,China’s Economic Outlook,diakses dari http://www.as.org.
141