Pengaruh Metode Pembelajaran Group Investigation (GI) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Mananggu Kabupaten Boalemo. Cunsal , Fitryane Lihawa*, Tirtawaty Abdjul** Jurusan Fisika, Program Studi S1. Pend. Fisika F.MIPA Universitas Negeri Gorontalo Email:
[email protected]
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara hasil belajar siswa antara kelas yang menggunakan metode Group Investigation (GI) pada kelas eksperimen dengan kelas yang menggunakan metode kooperatif biasa pada Kelas X SMA 1 Mananggu. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 27 siswa yaitu pada kelas Xa sebagai kelas yang dikenai tindakan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen dengan rancangan Post test. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Mananggu T.P 2012/2013. Pengambilan sampel dilakukan secara Cluster Random Sampling. Data hasil belajar siswa yang dikumpulkan dengan menggunakan instrument tes hasil belajar menunjukan bahwa pada kelas eksperimen nilai (X) adalah 7,62 dan pada kelas kontrol (X) adalah 9,96. Dari hasil pengujian hipotesis atau uji t, didapat bahwa harga thitung sebesar -2,34 dan tdaftar sebesar 2,05. Sehingga diperoleh thitung -2,34 < tdaftar 2,05. Hasil pengujian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan metode pembelajaran Group Investigation (GI) pada kelas eksperimen dengan yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif biasa pada kelas kontrol. Kata Kunci: Metode Group Investigation (GI), hasil belajar siswa
I.
PENDAHULUAN Proses pendidikan khususnya di Indonesia, bukan merupakan suatu proses yang statis.
Dalam arti selalu terjadi perubahan yaitu berupa penyempurnaan-penyempurnaan yang pada akhirnya menghasilkan produk atau hasil pendidikan yang berkualitas. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pengelola pendidikan untuk memperoleh kualitas maupun kuantitas 1
pendidikan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Langkah ini adalah langkah awal untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Perlu diketahui bahwa pembangunan di bidang pendidikan amatlah esensial untuk mewujudkan kemajuan suatu bangsa atau negara. Konsepsi tersebut dapatlah dikorelasikan dengan konteks pendidikan di Kabupaten Boalemo Propinsi Gorontalo bahwa sistem pendidikannya juga sudah mengalami kemajuan. Pendidikan di Kabupaten Boalemo merupakan proses yang dinamis, selalu terjadi perubahan demi terwujudnya pendidikan yang berkualitas. Proses tersebut antara lain dengan senantiasa mengikuti perubahan kurikulum seperti yang ditetapkan pemerintah, misalnya perubahan kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 dan terkahir disempurnakan lagi menjadi KTSP. Perubahan itu pila tidak akan berhasil jika tidak dibarengi dengan metode mengajar guru yang monoton pada satu metode saja. Guru fisika khususnya lebih kreatif dan lebih bijaksana lagi menggunakan metode apa dalam yang akan digunakan sehingga siswa dapat berpartisipasi secara penuh dalam pelaksanaan pembelajaran. Untuk itu, penulis menawarkan metode yang digunakan adalah Goup Investigation (GI) dalam materi alat-alat optik dimana nantinya akan menambah keaktifan siswa yang akan berujung pada peningkatan hasil belajar siswa. Dalam metode pembelajaran ini guru menghadapkan siswa pada suatu masalah, kemudian siswa mencari penyebab dari masalah tersebut, serta menganalisisnya untuk menemukan pengetahuan baru didasarkan pikiran mereka. Sehingga siswa diharapkan dapat berinteraksi dalam proses belajar mengajar dan dituntut untuk aktif secara langsung dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran dengan menggunakan Group Investigation atau investigasi kelompok dapat dilakukan dengan berbagai tahapan-tahapan. Trianto (2011:59) membagi tahapan-tahapan pengangajaran dengan metode Group Investigasi atas enam tahapan yang ditunjukan dengan Tabel sebagai berikut: No 1
Tahapan
Tindakan
Mengidentifikasi topik Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk dan membagi siswa ke memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. dalam kelompok. Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.
2
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
2
Merencanakan tugas.
3
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan Membuat penyelidikan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
4
Mempersiapkan tugas Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akhir. akan dipresentasikan di depan kelas.
5
Mempresentasikan tugas akhir.
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.
6
Evaluasi
Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.
Sementara itu, dalam pelaksanaan pembelajaran penulis memodivikasi pelaksanaan metode GI agar bias dipahami dan dimengerti dalam pelasanaan pembelajaran. Adapu hasil modivikasi penulis mengenai sintaks GI adalah sebagai berikut: No
1
2
Tahapan Pelaksanaan Mengidentifikasi topik a. Guru dan siswa bersama-sama mempersiapkan dan membagi siswa ke topik. b. Guru membentuk kelompok secara heterogen. dalam kelompok. c. Siswa disuruh memilih satu topic yang akan mereka selidiki. d. Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. e. Tiap anggota kelompok mencari sendiri referensi Merencanakan tugas. yang akan digunakan untuk menyelesaikan tugas yang telah dibagi dalam kelompok.
3
f. Siswa mengumpulkan informasi dari referensi yang telah didapat. Membuat penyelidikan g. Siswa membuat kesimpulan perorangan dengan menggunakan kata-kata sendiri.
4
Mempersiapkan tugas h. Kelompok membuat rangkuman semua akhir. kesimpulan yang ditemukan oleh anggotanya.
5
Mempresentasikan tugas akhir.
i. Ketua kelompok mempresentasikan hasil rangkuman mereka. j. Kelompok lain tetap mengikuti dan diperbolehkan memberikan pendapat. 3
6
Evaluasi
k. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan kepada seluruh siswa dengan semua topik yang telah dipelajari.
Berdasarkan uraian diatas maka, yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh metode pembelajaran Goup Investigation (GI) terhadap hasil belajar siswa pada kelas X SMA Negeri 1 Mananggu. Hasil belajar dapat diartikan sebagai perolehan siswa pada materi tertentu setelah mereka menjalani aktivitas belajar dalam waktu tertentu. Hasil belajar masing-masing siswa biasanya akan diketahui setelah guru melakukan pengukuran dengan menggunakan tes. Dalam interaksi belajar mengajar ditemukan bahwa proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan kunci keberhasilan dalam belajar. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, siswa menghadapi berbagai faktor yang berasal dari dirinya (faktor internal) maupun faktor yang berasal dari luar dirinya (eksternal). Lingkup hasil belajar yang diukur meliputi 3 kawasan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Lebih lanjut lagi, Benjamin Bloom (dalam Sudjana, 2009:29-30) menjelaskan ketiga ranah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Ranah kognitif. Ranah ini berkenaan dengan intelektual yang meliputi pengetahuan (C1), pemahaman (C2), aplikasi (C3), analisis (C4), sintesis (C5) dan evaluasi (C6). Ranah kognitif dalam taksonomi Bloom telah direvisi oleh sekelompok siswa Bloom (Sudjana, 2009:29-32) dan diberi nama baru taxonomy for learning, teaching, and assessing (taksonomi untuk belajar, mengajar,dan mengakses). Ranah kognitif yang telah direvisi terdiri dari tujuh kategori, yaitu: a) Mengingat, merupakan tingkatan terendah tujuan ranah kognitif berupa pengenalan dan pengingatan kembali terhadap pengetahuan tentang fakta, istilah dan prinsip-prinsip dalam bentuk seperti mempelajari. b) Memahami, merupakan tingkatan kemampuan memahami atau mengerti tentang isi pelajaran yang dipelajari tanpa perlu menghubungkannya dengan isi pelajaran lainnya. c) Menerapkan, 4
merupakan kemampuan menggunakan generalisasi atau abstraksi lainnya yang sesuai situasi konkrit. d) Menganalisis, merupakan kemampuan menjabarkan isi pelajaran kebagian-bagian yang menjadi unsur pokok. e) Sintesis, merupakan kemampuan menggabungkan unsur-unsur pokok kedalam struktur yang baru. f) Mengevaluasi, merupakan kemampuan menilai isi pelajaran untuk suatu maksud dan tujuan tertentu. g) Menciptakan. 2. Ranah afektif. Ranah ini berkenaan dengan sikap. Adapun aspek ranah afektif meliputi penerimaan, reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi. 3. Ranah psikomotorik. Ranah ini berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik yakni gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan, gerakan keterampilan kompleks serta gerakan ekspresif dan interpretatif. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perolehan skor siswa pada materi tertentu yang dilihat dari tiga lingkup aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomor. Kooperatif adalah suatu gambaran kerjasama antara individu yang satu dengan lainnya dalam suatu ikatan tertentu. Ikatan-ikatan tersebut yang menyebabkan antara satu dengan yang lainnya merasa berada dalam satu tempat dengan tujuan-tujuan yang secara bersama-sama diharapkan oleh setiap orang yang berada dalam ikatan itu. Anita Lie (dalam Isjoni, 2007: 20) menyatakan bahwa ”Kooperatif learning hanya berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang di dalamnya siswa bekerja (gotong-royong) secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada umumnya terdiri dari 4-6 orang saja”. Beberapa ciri kooperatif learning (Isjoni, 2007: 20) adalah: (a) setiap anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, (e) guru 5
hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan. Prosedur pelaksanaan pembelajaran kooperatif tidak identik dengan pembelajaran kelompok. Dalam pembelajaran kelompok guru dapat mengoptimalkan siswa bekerja bersama dengan siswa lainnya. Pembelajaran kelompok berbeda dengan pembelajaran kooperatif, karena ciri-ciri pembelajaran kooperatif seperti dikemukakan oleh Slavin tidak tersirat secara sistematis. Oleh karena itu guru dapat mengoptimalkan kinerja yang telah dilaksanakannya dengan memilih satu metode yang akan digunakan.
II.
METODE PENULISAN Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Mananggu, yang beralamat di Desa
Mananggu Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo. Waktu yang akan digunakan dalam penelitian ini selama 3 (tiga) bulan, terhitung mulai bulan April s/d Juni 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah Post test Dalam desain ini kelompok yang diberi perlakuan dengan metode pembelajaran Group Investigation disebut kelompok eksperimen dan kelompok dengan model pembelajaran langsung disebut kelas kontrol. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan memberikan post test, untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap kelompok eksperimen. Instrumen yang digunakan mencakup semua indikator yang harus dicapai oleh siswa pada materi Alat-alat optik. Test hasil belajar siswa disusun dalam bentuk pilihan ganda.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tehnik pengumpulan data
menggunakan instrument berupa test, selanjutnya diolah secara kuantitatif dengan menggunakan tehnik statistik berupa tehnik analisis data dalam bentuk pengujian normalitas data, homogenitas varians dan pengujian hipotesis hasil belajar. Uji normalitas dimana pengujian itu bertujuan untuk mengetahui data hasil penelitian apakah berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak dan hasil dari pengujianya 6
menyatakan bahwa χ²hitung ≤ χ²daftar maka dengan itu bahwa populasi berdistribusi normal. Sedangkan pada pengujian data homogenitas menyatakan bahwa χ2hitung lebih kecil dari χ2daftar atau 0,07 < 0,92. Dengan demikian, hipotesis Ho diterima, dalam arti kedua kelas yang dijadikan sampel penelitian benar-benar homogen. Untuk menguji hipotesa yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan metode GI pada siswa kelas X SMA Negeri I Mananggu, maka dilakukan analisis varians dua rata-rata dan uji-t. Secara statistik, untuk pengujian hipotesis pada penelitian eksperimen ini menggunakan uji t dengan kriteria pengujian -t(1-½α) < t(1-½α) pada taraf nyata α 0,05 dengan dk (n1 + n2 – 2). Berdasarkan hasil analisisnya, maka harga thitung didapatkan sebesar -2,34 dan tdaftar sebesar 2,05. Sehingga diperoleh thitung -0,34 < tdaftar 2,05. Dari sini dapat diketahui bahwa harga thitung berada di luar daerah penerimaan Ho. Hasil analisis ini, dapat dipastikan bahwa terdapat perbedaan antara penggunaan metode GI pada kelas eksperimen dengan metode pembelajaran langsung pada kelas kontrol terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri I Mananggu pada mata pelajaran Fisika. Untuk melihat perbedaan hasil belajar siswa antara kedua kelas disajikan dalam gambar berikut : Gambar 1 Persentase Hasil Belajar Siswa Pada C1,C2 dan C3 52
persentase (%)
51 50 49 48 47 46 kelas eks. kelas kontrol
mengingat 52
memahami 51
menerapkan 50
48
49
50
7
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan metode Group Investigation lebih tinggi dibandingkat pada kelas kontrol.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Setelah melihat nilai rata-rata hasil belajar siswa pada bab sebelumnya yaitu pada kelas eksperimen (X1) sebesar 7,62 dan pada kelas kontrol (X2) sebesar 9,96. Dan dalam perhitungan statistiknya, diperoleh bahwa χ2hitung lebih kecil dari χ2daftar atau 0,07 < 3,84. Untuk itu penulis menarik kesimpulan bahwa hipotesis yang berbunyi: “terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan metode pembelajaran Group Investigation (GI) pada kelas eksperimen dan metode pembelajaran kooperatif biasa pada kelas kontrol terhadap hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran Fisika di SMA Negeri I Mananggu”, diterima. Berdasarkan simpulan di atas, maka penulis dapat memberikan beberapa saran, antara lain sebagai berikut: 1) Diharapkan kepada kepala sekolah SMA Negeri 1 Mananggu kiranya dapat memberikan ruang yang luas bagi guru Fisika untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi guru, seperti Diklat pengembangan profesi guru serta penyediaan fasilitas penunjang pembelajaran Fisika secara memadai. 2) Diharapkan kepada guru Fisika kiranya dapat menerapkan metode Group Investigation dengan dengan baik agar siswa mudah menerima materi yang disajikan guru. 3) Diharapkan kepada para guru di SMA Negeri 1 Mananggu agar lebih teliti lagi melihat keadaan siswa sehingga dalam penerapan metode pembelajaran selalu disesuaikan dengan materi yang ada agar tidak terjebak dengan metode yang monoton terutama mata pelajaran fisika.
8
4) Diharapkan kepada para siswa untuk mengedepankan motivasi yang tinggi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran serta memiliki disiplin dan semangat yang tinggi untuk mengukir prestasi pembelajaran Fisika.
DAFTAR PUSTAKA Arikunto S. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Yogyakarta: Bumi Aksara. Arikunto S. 2009. Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta: Jakarta. Ekocin’s. 2011. Model Pembelajaran Group Investigation (GI). diterbitkan di http://ekocin.wordpress.com. diakses pada hari Jum’at tanggal 22 Maret 2013 pukul 08.29 Giancoli, 2001. Fisika Jilid 2 Edisi kelima. Erlangga: Jakarta Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Sinar Baru Algesindo : Bandung. Isjoni. 2007. Cooperative Learning. ALFABETA: Bandung. Raras, Intan. 2010. Pengaruh Kooperatif Learning Terhadap Hasil Siswa Pada Mata Pelajaran Komputer dan Pengelolaan Informatik. UPI: Bandung Rosdiana, Amin. 2012. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Mate-matika melalui Metode Group Investigation (GI) pada materi belah ketupat dan jajar genjang. UNG Slavin, Robert E. 2005. Cooperatif Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa media Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya: Bandung. Sudjana. 2002. Metode Statistika.Tarsito: Bandung Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R dan D. Alfabeta: Bandung. Sugiyono, 2012. Statistka Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung Sukardi. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Bumi Aksara: Jakarta. Trianto. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Prestasi Pustaka: Jakarta.
9