HUBUNGAN TRIANGULAR LOVE DAN KEPUASAN PERKAWINAN PADA PASANGAN MENIKAH 5-25 TAHUN. Hally Weliangan Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma,
[email protected]
Abstrak Tujuan suatu perkawinan adalah untuk mencapai kebahagian lahir dan bathin, Salah satu ukuran kebahagiaan adalah kepuasan perkawinan.Namun untuk mencapai kepuasan perkawinan tidak mudah karena banyak faktor yang berpengaruh. Cinta merupakan salah satu faktor penting terhadap kepuasan perkawinan, namun dengan berjalannya usia perkawinan sering kali cinta kurang mendapat perhatian pasangan, bahkan diabaikan.Penelitian ini, menguji secara empirik hubungan cinta dan kepuasan perkawinan pada pasangan yang menikah.Menggunakan metode kuantitatif, teknik pengambilan sampel non probabilitas, dengan teknik purposive sampling. Karakteristik sampel usia perkawinan 5-25 tahun, pendidikan minimal SLA.Jumlah sampel 166 pasangan menikah.Hasil uji korelasi dengan teknik korelasi Product Moment,menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan positif antara cinta dan kepuasan perkawinan pada pasangan suami dan isteri. Pada kepuasan isteri nilai r =0.541** p<0.01, dan pada suami nilai r=519**, p<0.01. hal ini berarti semakin tinggi kualitas cinta (triangular love) semakin tinggi kepuasan pasangan. PENDAHULUAN Tujuan pasangan menikah adalah memiliki suatu kehidupan perkawinan yang bahagia. Implementasi kebahagiaan perkawinan dapat dirasakan oleh pasangan, dengan adanya kehangatan cinta yang terpelihara, kehadiran anak, interaksi pasangan yang berjalan lancar, saling menghargai antar pasangan, ada perasaan aman dan nyaman,yang keseluruhannnya menunjukkan terpenuhi kebutuhan fisik dan psikologis. UU perkawinan RI No.1 tahun (1974) yang menjelaskan bahwa pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa.
Mesikpun demikian, pada realitasnya tujuan suci kebahagiaan perkawinan pasangan, nampaknya tidak mudah untuk dicapai.Hal ini terlihat dari angka perceraian yang meningkat setiap tahunnya.Data perceraian di Indonesia Sejak tahun 2001 sampai dengan 2009, menunjukkan angka yang terus meningkat. Data statistik yang diperoleh dari MA RI, jumlah perceraian pada tahun 2009 sebanyak 216 286 perkara. Kasus perceraian yang terjadi tahun 2010, sebanyak 285.184 kasus. Adapun data yang dirilis Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, jumlah penduduk Indonesia yang menikah ditahun 2012 sebanyak dua juta orang, sementara 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian.Alasan perceraian dapat disebabkan oleh berbagai hal. Feldstein (2012), menjelaskan beberapa penyebab perceraian, yang antara lain dikarenakan cinta yang berkurang bahkan tidak ada cinta, komunikasi, perselingkuhan, krisis paruh baya, masalah keuangan, masalah psikologis atau pelecehan secara emosional.Noveldy dan Hermawati (2015) berpendapat bahwa untuk menjalani kehidupan perkawinan yang bahagia diperlukan cinta.Ditambahkan untuk mencapai keluarga yang harmonis bahagia dan langgeng perlu usaha yang terus menerus secara dan sengaja dilakukan. Knox & Schacht (2009) mengatakan bahwa beberapa istilah yang dapat digunakan untuk menjelaskan keberhasilan perkawinan, yaitu kepuasan perkawinan. Fitzpatrik (1988) menjelaskan bahwa keberhasilan perkawinan diukur melalui dua hal yaitu stabilitas perkawinan dan kepuasasan perkawinan.Roach, Frazier, dan Bowden (1981) berpendapat bahwa kepuasan perkawinan sering juga disebut dengan kualitas perkawinan.Penelitian ini menggunakan istilah kepuasan perkawinan.Harley dan Wilard (2010) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi kepuasan perkawinan yaitu kemampuan komitmen, cara menyelesaikan masalah, ketrampilan komunikasi dan cinta. TINJAUAN PUSTAKA Kepuasan perkawinan Crawford (2002), berpendapat kepuasan perkawinan merupakan evaluasi subyektif terhadap kualitas sebuah hubungan. Menurut Roach, Frazier, dan Bowden
(1981) bahwa kepuasan perkawinan adalah besar kecilnya sikap yang menyenangkan terhadap hubungan perkawinan.Duval dan Miller (1985) menjelaskan bahwa kepuasan perkawinan adalah perasaan subjektif, dimana bagi suami adanya perasaan dihargai, kesetiaan, komitmen terhadap masa depan, sementara bagi isteri terpenuhinya rasa aman secara emosional, adanya komunikasi dan keintiman. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan perkawinan adalah evaluasi subjektif berbagai pengalaman dalam kehidupan perkawinan termasuk sikap positif, dan perasan, dimana bagi suami adanya perasaan dihargai, kesetiaan dan komitmen, sedangkan bagi isteri adanya rasa aman, intimasi dan komunikasi. Kaslow dan Robinson, (1996) mengatakan bahwa faktor-faktor berpengaruh pada kepuasan perkawinan antara lain perasaan cinta, kepercayaan, saling menghormati antar pasangan, kesetiaan dan kejujuran. Fatima dan Ajmal (2012) berpendapat bahwa faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kepuasan perkawinan diantaranya cinta, pengertian, rasa hormat, komitmen, sharing, care, pendidikan, status ekonomi.Harley dan Wilard (2010) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi
kepuasan
perkawinan
yaitu
kemampuan
komitmen,
cara
menyelesaikan masalah, ketrampilan komunikasi dan cinta. Dapat disimpulkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan perkawinan adalah cinta, kepercayaan, saling menghormati, komitmen, komunikasi, cara penyelesaian masalah, status ekonomi, kesetiaan dan kejujuran. Rosen & Grandon (2004) menjelaskan bahwa enam karakteristik kepuasan perkawinan yaitu (1) komunikasi yaitu kemampuan pasangan dalam melakukan komunikasi, saling mendengarkan pendapat, adanya keterbukaan, tidak merasa takut disalahkan dan saling mengungkapkan perasaan. (2) ekspresi perasaan yaitu ungkapan kata-kata, dan perilaku sebagai bentuk perhatian
pada pasangan dan
mempertahan perasaan cinta dari waktu ke waktu (3) kesepakatan, yaitu terkait dengan berbagai kesepakatan suami dan isteri dalam hal keuangan, rekreasi, pengasuhan, peran dalam keluarga, hal ini tidak mudah dan membutuhkan kemauan
untuk dapat berkompromi (4) hubungan seksual dan intimasi,
hubungan ini
merupakan hal penting dalam hubungan perkawinan. Seks dan intimasi menunjukan adanya cinta, ketertarikan dan memberikan rasa aman dan nyaman terhadap terpenuhinya kebutuhan biologis. (5) kesamaam peran yaitu menjalankan peran sesuai dengan peran masing-masing sebagai suami dan isteri.(6) penyelesaian konflik, terkait dengan cara menyelesaiakan masalah, dimana penyelesaikan masalah secara destruktif akan memunculkan perasaan benci dan dendam diantara pasangan, memunculkan kekerasan verbal maupun fisik, dan kemarahan. Sementara penyelesaian masalah secara konstruktif, membicarakan masalah secara damai dengan pasangan, atau kompromi mengikuti keinginan pasangan.Knox & Schacht (2009) menjelaskan bahwa kepuasan perkawinan diukur dengan berapa lama pasangan
menghabiskan
waktu
bersama,
kemampuan
konflik,kepuasan seksual, persahabatan diantara pasangan,
menyelesaikan
dan seberapa sering
mereka membicarakan perceraian. Busby, Christensen, Crane dan Larson (1995) mengembangkan skala pengukuran kepuasan perkawinan dengan tiga aspek yaitu terterdiri dari tiga aspek yaitu konsensus (pengambilan keputusan, nilai, afeksi), satisfaction (stabilitas, konflik) dan cohesion ( diskusi, aktivitas). Beberapa pola atau siklus kepuasan perkawinan.Amato (2007) menjelaskan bahwa kebahagiaan perkawinan menurun di tahun tahun pertama usia perkawinan. Umberson,Williams, Powers, Chen, dan Campbell (2005) menjelaskan bahwa kualitas perkawinan menurun dari waktu ke waktu, menggunakan pertumbuhan kurva U. Kepuasan dalam intimate relationship merupakan suatu yang proses dinamis, dimana dapat terjadi perubahan dari waktu ke waktu, sebagai respon dalam menanggapi situasi stres dan adanya pertumbuhan pribadi setiap orang (Compton 2005). Cinta Cinta adalah emosi yang mendalam dan vital yang berasal dari pemenuhan kebutuhan emosi disertai adanya perhatian dan penerimaan terhadap individu yang
dicintai dalam hubungan intim (Brehm 2007). Cinta merupakan salah satu dasar seseorang dalam mengambilkeputusan untukmenikah, juga ingin pernikahan mereka diisi dengan cinta dan kebahagiaan (United States Conference of Catholic Bishops, 2006).Seconbe (2004) berpendapat bahwa cintasebagai ikatan yang mendalam dan abadi sebagai dasar dari afeksi danmencakup beberapakewajiban. Bauneister & levy (dalam Howe & Tasha 2012) menjelaskan bahwa cinta adalah perasaan subjetif dari hubungan emosional dengan orang lain, adanya keinginan untuk selalu dekat, adanya perhatian, melindung, dan saling berbagi dalam suatu hubungan. Steinberg (1986) menjelaskan bahwa cinta dapat dilihat dari tiga komponen yaitu intimacy, passion dan commitment. Komponen Intimacy adalah menunjukkan perasaan-perasaan kedekatan, keterikatan, dankehangatan dalam suatu hubungan. Ada sepuluh unsur intimacy yaitu, memilik hasrat untuk meningkatkan kesejahteraan orang yang dicintai, merasa bahagia dengan orang yang dicintainya, memperhatikan orang yang dicintainya, saling pengertian, saling berbagi kepemilikkan, ada komunikasi yang intim dengan orang yang dicintai,
dapat
mengandalkan orang yang dicintainya saat dibutuhkan, menerima dukungan emosional dari orang yang dicintainya, memberikan dukungan emosional kepada orang yang dicintainya, menghargai orang yang dicintai dalam hidupnya. Komponen ini merupakan elemen emosional adanya keterbukaan diri, kehangatan dan kepercayaan.Komponen Passion menekankan pada dorongan-dorongan, hasrat, yang mengarah pada pada keadaan romatisme, kedekatan fisik, hubungan seksual dan sebagainya. Kebutuhan seksual sering kali menjadi bagian utama dari komponen passion dalam suatu hubungan. Selain kebutuhan seks, ada beberapa kebutuhan lain seperti harga diri, affiliasi dengan orang lain, dan aktualisasi diri. Passion merupakan elemen motivasional yang didasari oleh dorongan-dorongan dari dalam yang
menunjukkan keterbangkitan
fisik melalui
hasrat seksual.Komponen
commitment mengandung dua aspek yaitu aspek jangka pendek dan aspek jangka panjang. Jangka pendek adalah keputusan untuk mencintai seseorang, sementara jangka panjang keputusan untuk mempertahankan cinta tersebut. Kedua aspek
tersebut tidak selalu berjalan beriringan, terkadang ada keputusan tanpa komitmen atau sebaliknya, dan sering kali keputusan mendahului komitmen. Komponen ini merupakan elemen kognitif, pembuatan keputusan untuk mencintai dan tinggal bersama dengan orang yang dicintaiinya. Menurut Sternberg dan Barnes (1988) bahwa kelangsungan komponenkomponen cinta, terjadi perubahan dengan berjalannya waktu.Intimacycenderung meningkat secara stabil pada awal hubungan, kemudian, akan menurun atau melambat, dan mendatar. Bila dua orang telah mengenal secara lebih baik, mereka tidak menyadari kedekatan diantara mereka. Hal ini dapat mungkin terjadinya dua hal yaitu kemungkinan hubungan benar-benar berakhir, atau hubungan diantara mereka
mengalami
kemajuan
sehingga
mereka
tidak
menyadari
adanya
interdependensi diantara mereka.Passion mengikuti pola standar. Dimana ada perkembangan yang cepat pada awal hubungan dan diikuti keterbiasaan,sehingga pasangan tidak lagi terasa menggugah seperti sebelumnya. Commitment sebagian besar tergantung pada kesuksesan hubungan itu sendiri atau sebaliknya. Dalam hubungan jangka panjang komponen komitmen cederung pada tahap awal hubungan, kemudian meningkat secara cepat. Ketika hubungan berlangsung terus, tingkat komitmen akan mendatar, namun bila hubungan mengalami hambatan, komitmen akan mengalami penurunan. METODE PENELITIAN Definisi oprasional kepuasan perkawinan adalahevaluasi subjektif, termasuk sikap terhadap berbagai pengalaman-pengalaman yang menyenangkan.Kepuasan perkawinan diukur dengan mengunakan dengan mengadaptasi skala penyesuaian perkawinan yang dikemukakan oleh Busby, Christensen, Crane dan Larson (1995) revised dyadic adjustment scale (RDAS) yang yang terdiri dari tiga aspek yaitu konsensus ( pengambilan keputusan, nilai, afeksi), satisfaction (stabilitas, konflik) dan cohesion ( diskusi, aktivitas).Uji validitas, menunjukkan skor korelasi item bergerak dari angka 0.294 – 0.589. sedangkan uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach
menunjukkan bahwa reliabilitas sebesar 0.832. hal ini menunjukkan bahwa adanya konsistensi terhadap terhadap terhadap item. Definisi operasional cinta adalah perasaan subjektif, yang merupakan emosi yang mendalam yang ditunjukkan dengan perasaan kasih sayang, perilaku ingin menolong pada pasangan, ingin dekat, melindungi dan saling berbagi,, juga sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menikah.Cinta diukur dengan skala cinta berdasarkan komponen cinta dari Sternberg (1986) yang terdiri dari komponen hasrat, intimasi dan komitmen, dan mengadaptasi skala cinta Sternberg 1988 yang terdiri dari tiga komponen dengan 45 item. Uji validitas item menunjukkan skor 0.463 – 753. Sedangkan uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach menunjukkan nilai sebesar 0.973. Validitas
terkait dengan seberapa baik definisi konseptual dan definisi
operasional memiliki kesesuaian, satu dan lainnya.Semakin baik kesesuaiannya semakin tinggi validitasnya (Newman 2013).Reliabilitas menunjukkan konsisitensi alat ukur. Hal ini menunjukan hal yang sama jika diulang dalam kondisi yang sama akan akan menghasilkan hasil yang sama, yang berarti bahwa hasil numerik yang dihasilkan oleh indikator tidak bervariasi karena instrumen pengukuran yang sama. (Newman 2013). Sampel dalam penelitian ini pasangan menikah minimal lima tahun sampai dengan 25 tahun. Pendidikan minimal SLA.Jumlah sampel 166 pasang suami isteri.Menurut Sugiono (2010) purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan karakteristik tertentu yang telah ditentukan.Uji validitas item menggunakan Corrected Item Total Correlation, sedangkan uji reliabilitas menggunakan analisisi Alpha Cronbach. Pengujian hipotesa pada penelitian ini menggunakan analisis korelasi Product Moment, yaitu menganalisis hubungan antara cinta dan kepuasan perkawinan pada pasangan menikah dengan menggunakan program SPSS for Windows versi 22. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil uji hipotesis pada penelitian ini, terhadap hubungan yang signifikan positif antara cinta dan kepuasan perkawinan. Pada isteri menunjukkan nilai signifikansi .000 p<0.01 dengan pearson korelasi 0.541. Artinya semakin tinggi skor cinta (triangular love), semakin tinggi kepuasan isteri.Sedangkan hasil uji data terhadap suami, menunjukkan bahwa ada korelasi yang siginfikan antara cinta dan kepuasan perkawinan pada suami dengan nilai signifikasi.000, p<0.01 pearson korelasi r = 519**. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas cinta suami, semakin tinggi kepuasan perkawinan suami. Hal ini sesuai dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya seperti yang dikemukakan oleh Gabb, Davies, Fink, dan Thomae (2013) tentang ketahanan cinta pada pasangan menikah, hasilnya menunjukkan bahwa ketahanan cinta diperlukan dalam kelanggengan suatu hubungan baik pada pria dan wanita. Guda dan Carandang (2015) dalam penelitiannya tentang hubungan cinta (triangular love) dan kepuasan perkawinan.Hasilnya menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan positif antar komponen intimasi, hasrat (passion) dan komitmen dengan kepuasan perkawinan pasangan suami dan isteri.Dinani, Zarbakhsh, Samkhaniyan, Hamidi, dan Arkiyan (2014) mengatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap cinta eros, storge, agape, pragma, sementara cinta ludus berhubungan signifikan negatif dengan kepuasan perkawinan. Dikatakan bahwa secara umum sikap cinta dapat meramalkan kepuasan perkawinan.Cinta merupakan elemen penting dalam membangun hubungan pasangan dalam perkawinan.Dalam realitas yang ada bahwa sering kali pasangan mengabaikan menjaga dan memelihara kekuatan cinta, sehingga dapat berpengaruh terhadap kepuasan perkawinan.Cinta dalam suatu hubungan intim perlu dijaga dan dirawat oleh pasangan yang menjalaninya.Bird dan Melville, (1994) yang menjelaskan bahwa perasaan cinta kepada pasangan dapat berpengaruh pada kepuasaan individu dalam hubungan tersebut, sementara tidak adanya perasaan cinta dapat dijadikan alasan untuk berakhirnya suatu hubungan. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasiluji hipotesis yang telah dilakukan, dan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini,menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan positif antara cinta dan kepuasan perkawinan pada pasangan menikah dengan usia perkawinan antara 5-25 tahun. Hasilnya pada suami maupun isteri terdapat korelasi yang signifikan positif. SARAN 1. Untuk pasangan menikah Hasil penelitian ini,yang menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara cinta dan kepuasan perkawinan pada pasangan menikah. Hal ini dapat menjadi masukan penting bagi pasangan perkawinan baik yang usia perkawinan tergolong muda, menengah dan usia perkawinan yang panjang atau lama, untuk tetap menjaga dan merawat kekuatan cinta dalam membangun hubungan pasangan suami isteri yang harmonis, bahagia dan puas. Melalui kekuatan cinta membangun kehidupan perkawinan yang bahagia. 2. Untuk peneliti lanjutan, dapat mempertimbangkan mengkaji cinta dan kepuasan perkawinan dengan menggunakan teori cinta yang berbeda, dan subjek yang berbeda (pasangan yang bekerja). Pada penelitian ini menggunakan teori cinta dalam penelitian ini adalah triangular love yang dikemukakan oleh Sternberg. Dimana cinta terdiri dari tiga komponen menjadi satu kesatuan yaitu hasrat, intimasi dan komitmen. 3. Untuk konselor perkawinan Hasil penelitian ini, dapat menjadi acuan dalam memberikan konseling perkawinan maupun konseling pranikah bagi pasangan. DAFTAR PUSTAKA Amato, P. R. and Bryndl H. (2007).A comparison of high- and low- stress marriages that end in divorce. Journal of Marriage and Family 69:621-638. Bird & Melville (1994) Families and intimate relationship.McGraw-Hill
Busby, D. M., Christensen, C., Crane, D. R. & Larson, J. H. (1995).A revision of the dyadic adjustment scale for use with distressed and nondistressed couples: Construct hierarchy and multidimensional scales. Journal of Marital and Family Therapy, 21, 289-308. Carandang, M.N.S., Guda, I.V.P (2015). Indicators of marital satisfaction of batangueno couple: Component of love and the other external factors in marriage. Internasional journal of information and education technology vol 5, no 1, 60-67. DOI: 10.7763/IJIET.2015.V5.477 60. Compton, W.C (2005) An introduction to positive psychology. Printed in the United States of America Crawford, D. W., Houts, R. M., Huston, T. L & George, L. J. (2002).Compatibility, leisure, and satisfaction in marital relationships. Journal of Marriage & Family, 64(2), 433-448 Dinani, P.T., Zarbakhsh, M., Samkhaniyan, E., Hamidi, M., Arkiyan, F. (2014). Study on the relationship between love attitudes and marital satisfaction among married women. Journal of Natural and Social science Vol.3, No.3 pp. 468-474 Duvall, & Miller (1985). Marriage and the family development (6 th ed). New York: Harper and Row Publisher Inc. Dunn.,Hammer,. Weiten. (2012). Psychology contemporary live human adjustment ( 10 th ed). United State Copy right Act Fatima., M. dan and Ajmal., M. A. (2012). Happy marriage: A qualitative study. Pakistan Journal of Social and Clinical Psychology Vol. 9, No. 2, 37-42 Feldstein, A. (2012).Divorce fact sheet.Feldstein family law group professional corporation 20 crown steel drive.Suite 8 Markham. Fitzpatrick., A. M (1988). Between husband and wive communication in marriage; Sage. Publication Gabb, J., Davies. K. M., Fink, J., dan Thomea, M. (2013). Enduring Love? Couple Relationships in the 21st Century Survey Findings An Interim Report. Genova, M.D (2008). Intimate relationship marriage &family. Boston: McGrawHill
Howe, T. R, (2012).Marriage & family. In The 21 st Century: a biological approach: Publishing. Willey-Blckwell Issued by USCCB, (2006).United States Conference of Catholic Bishops.All rights reserved.To order a copy of this statement Knox. D. & Schacht.C (2009). Choice in relationship: an introduction to marriage and family. Tenth edition: Wadsworth. USA Lewis, R; & Spanier, G. (1979).Theorizing about the quality and stability of marriage.incontemporary theorizing about the family. 2ed. New York: Free Press. Lewis, R.,.& Spanier, G. (1980). Marital quality: A review of the seventies. Journal of Marriage and the Family,42, 96-110. Miller, Perlman, & Brehm (2007). Intimate relationship. New York: McGrawHill.Roach, A.J,. Frazier, L.P. Bowden, S.R. (1981). The marital satisfaction scale: Development of a measure for intervention research. Journal marriage and family, 43, 537-546. Neuman.L.W. (2013). Metode penelitian sosial: pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Edisi 7. Penerjemah: Sofia.T.E. Permata Puri Media. Jakarta. Noveldy.I., dan Hermawati. N. (2015).Menikah untuk bahagia.Formula cinta dalam membangun surge dirumah. Penerbit: Noura Books. (Mizan Publika). Jakarta Rosen-Grandon, J., Myers, J., & Hattie, J. (2004).The relationship between maritalcharacteristics, marital interaction processes, and marital satisfaction.Journal of Counseling and Development, 82, 58-68. Steinberg, R.J & Barnes, M.L (1988). The psychology of love. New Haven: Yale University Press. Sternberg, R. J. (1986) A triangular theory of love.Psychological Review, 93,119135. Sugiono. (2010). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Penerbit: Alfabeta. Bandung. Tianyuan, Li., Fung, Helene (2011) The dynamic goal theory of marital satisfaction. Review of General Psychology, Vol 15 (3), 246-254.
Umberson, Debra, Kristi Williams, Daniel A. Powers, Meichu D. Chen, and Anna M. Campbell.(2005). “As Good As It Gets? A Life Course Perspective on Marital Quality.”Social Forces 84(1):493-511. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan