FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI FARMER MANAGED EXTENSION ACTIVITIES (FMA) OLEH PETANI HORTIKULTURA DI KABUPATEN TEMANGGUNG Yeny Widyastuti, Kusnandar, Nuning Setyowati Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta Jl. Ir. Sutami 36 A Surakarta 57126, Telp./Fax. (0271) 637457 Email :
[email protected] HP .08578497296 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi Farmers Managed Extension Activities (FMA) oleh petani hortikultura di Kabupaten Temanggung. Metode dasar dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis. Metode penentuan lokasi dilakukan secara sengaja yaitu di Kabupaten Temanggung. Populasi dalam penelitian ini adalah petani hortikultura peserta program FMA di Kabupaten Temanggung. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 140 responden. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik proportional random sampling. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM) dengan teknik Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) kompleksitas berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA, 2) persepsi kegunaan FMA berpengaruh pada sikap terhadap penerapan FMA, 3) persepsi kegunaan FMA berpengaruh pada niat menerapkan FMA, 4) keyakinan diri tidak berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA, 5) keyakinan diri berpengaruh pada persepsi kemudahan penerapan FMA, 6) persepsi kemudahan penerapan FMA berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA, 7) persepsi kemudahan penerapan FMA berpengaruh pada sikap terhadap penerapan FMA, 8) sikap terhadap penerapan FMA berpengaruh pada niat menerapkan FMA, serta 9) niat menerapkan FMA berpengaruh pada perilaku penerapan FMA. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa secara umum keseluruhan faktor yang dianalisis berpengaruh pada adopsi FMA oleh petani hortikultura di Kabupaten Temanggung. Kata Kunci : Adopsi, FMA, Petani Hortikultura, Partial Least Square Abstract: This study aims to know the factors that influence the adoption of Farmers Managed Extension Activities (FMA) by horticultural farmers in Temanggung regency. The basic method in this research is descriptive analysis. Method of determining the location is done deliberately in Temanggung Regency. The population in this study is horticultural farmers which participant in FMA program in Temanggung regency. The number of samples taken 140 respondents. The samples taken with proportional random sampling technique. The data used are primary and secondary data. Techniques of data collection using questionnaires. Analysis of the data used Structural Equation Modeling (SEM) with Partial Least Square (PLS) technique. The results showed that 1) complexity influence on the perceived usefulness of FMA, 2) perceived usefulness of FMA influence on attitudes toward using FMA, 3) perceived usefulness of FMA influence on intention to use FMA , 4) self efficacy has no effect on the perceived usefulness of FMA, 5) self efficacy influence on perceived ease of use FMA,6) perceived ease of use FMA influence on perceived usefulness of FMA,7) perceived ease of use FMA influence on attitudes toward using FMA, 8) attitude toward using FMA influence on intention to use FMA , and 9) the intention to use FMA influence on the behavior of FMA application . The results of this research demonstrate that in general the overall factors which is analyzed influences FMA adoption to horticultural farmers in Temanggung Regency. Key Words: Adoption, FMA, Horticultural Farmers, Partial Least Square
PENDAHULUAN Penyuluhan pertanian mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan pertanian khususnya dalam pengembangan kualitas petani dan pelaku usaha (Deptan,2014). Petani membutuhkan informasi tentang pemasaran hasil pertanian, informasi hasil penelitian, dan informasi lain yang mendukung usaha tani untuk meningkatkan pengetahuan dan pendapatannya. Dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan pendapatan petani, maka semakin meningkat pula tuntutan petani atas kebutuhan informasi mengenai teknologi untuk peningkatan usahataninya (Saleh, 2006). Oleh karena itu diperlukan usaha penyampaian teknologi secara informatif, aplikatif dan efektif kepada petani. Salah satu program pemerintah yang berusaha menyampaikan teknologi secara informatif yaitu program FEATI (Farmer Empowerment through Agricultural Technology and Information). Program FEATI merupakan program yang memfasilitasi kegiatan penyuluhan pertanian yang dikelola oleh petani atau Farmers Managed Extension Activities (FMA) (Deptan, 2014). Kabupaten Temanggung merupakan salah satu dari empat kabupaten di Jawa Tengah (Temanggung, Magelang, Batang, dan Brebes) yang terpilih sebagai proyek utama FMA. Kabupaten Temanggung dapat terpilih karena di kabupaten ini masih banyak terdapat petani dan kelompok tani yang belum mampu mengelola sendiri kebutuhan belajarnya. Salah satu kelompok petani yang ikut serta dan terlibat dalam program FMA di Kabupaten Temanggung ini adalah kelompok petani tanaman hortikultura.
Pengembangan hortikultura di Kabupaten Temanggung pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional, sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas seperti cabe, bawang merah, dan kentang. Berdasarkan Laporan Perkembangan Hasil Pembelajaran FMA Tahun 2008-2012 Provinsi Jawa Tengah dapat diketahui pada dasarnya masyarakat telah mengetahui konsep pembelajaran FMA namun dengan tingkat pemahaman yang masih bervariasi. Di beberapa kecamatan dan desa sudah baik, sementara di desa lain memerlukan pembinaan yang lebih. Secara keseluruhan jumlah petani hortikultura peserta FMA mengalami peningkatan, akan tetapi faktor apa saja yang mendorong para petani hortikultura untuk menerapkan FMA belum dicermati secara detail. Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi dan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi FMA oleh petani hortikultura sehingga nantinya dapat diketahui apakah faktor-faktor tersebut berpengaruh atau tidak terhadap adopsi FMA oleh petani hortikultura di Kabupaten Temanggung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi adopsi Farmer Managed Extension Activities (FMA) oleh petani hortikultura di Kabupaten Temanggung. METODE PENELITIAN Metode penelitian dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis dengan teknik survei. Penelitian dilakukan di Kabupaten Temanggung dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Temanggung merupakan salah satu kabupaten yang terpilih sebagai salah
satu proyek utama program FMA dan sudah melaksanakan program FMA khususnya pada tananaman hortikultura. Selain itu, 70% penduduk Temanggung menggantungkan hidupnya di sektor pertanian dan sebagian besar merupakan petani buruh yang tidak memiliki lahan sehingga perlu upaya keras untuk mendorong percepatan pembangunan sektor pertanian melalui pengembangan teknologi pertanian (Edy, 2013). Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu dengan teknik proportional random sampling. Pada penelitian ini jumlah sampel yang diambil sebanyak 140 orang, merujuk pada ukuran besarnya sampel menurut Hair et al (2006) yang menyatakan bahwa besarnya ukuran sampel diperoleh dari perbandingan 20:1 dimana setiap 1 variabel membutuhkan 20 responden. Pada penelitian ini melibatkan 7 variabel, sehingga diambil sampel sebanyak 140 responden. Cara pemilihan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling menggunakan penomoran. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis statistik. Analisis deskriptif dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif untuk menganalisis karakteristik responden dan deskripsi faktor yang mempengaruhi adopsi FMA oleh petani hortikultura di Kabupaten Temanggung. Sedangkan analisis statistik dilakukan dengan pendekatan Partial Least Square (PLS) dengan menganalisis measurement model dan structural model. Measurement model merupakan penilaian terhadap reliabilitas dan validitas variabel penelitian. Terdapat tiga kriteria di dalam penggunaan teknik analisa dengan SmartPLS untuk menilai measurement model yaitu convergent validity (loading factor > 0,70), discriminant validity (AVE >0,5), dan
composite reliability (>0,7). Pengujian structural model dievaluasi dengan menggunakan R-square. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah mempunyai pengaruh atau tidak. Hasil R square sebesar 0,67; 0,33; dan 0,19 untuk variabel laten endogen dalam model struktural mengindisikasikan bahwa model baik, moderat, dan lemah (Ghozali, 2011). HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Petani Hortikultura Peserta FMA di Kabupaten Temanggung Tujuan analisis karakteristik responden petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung adalah untuk mengetahui karakteristik responden yang berupa jenis kelamin, pendidikan, jenis komoditi hortikultura yang diusahakan, lama mengusahakan, luas usaha, dan pendapatan. Responden dalam penelitian ini adalah petani hortikultura yang mengikuti program FMA di Kabupaten Temanggung. Total responden yang diambil adalah 140 responden. Data deskripsi karakteristik responden petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung dapat dilihat di bawah ini.
Tabel 1. Karakteristik Responden Petani Hortikultura Peserta FMA di Kabupaten Temanggung No 1
2
3
4
5
6
Uraian Jenis Kelamin a. Laki-laki b.Perempuan Tingkat Pendidikan a. SD b. SMP c. SMA d.Sarjana Jenis Komoditi Hortikultura yang Diusahakan a. Tanaman buah b. Tanaman bunga c. Tanaman sayuran d. Tanaman obat e. Lainnya (tembakau) 0 Lama Mengusahakan a. 0-1 tahun b. 1-5 tahun c. 5-10 tahun d. >10 tahun Luas Lahan a. 0-1000 m2 b.1000-2000 m2 c. 2000-3000 m2 d.> 3000 m2 Pendapatan RataRata PerTahun a. 1-5 juta b.5-10 juta c. >10 juta
Jumlah (Orang)
Persentas e (%)
111 29
79,29 20,71
52 49 34 5
37,14 35,00 24,29 3,57
0 0 131 0 9
0,00 0,00 93,57 0,00 6,43
12 49 45 34
8,57 35,00 32,14 24,29
36 49 24 31
25,72 35,00 17,14 22,14
28 67 45
20,00 47,86 32,14
Sumber : Analisis Data Primer,2014
Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa responden laki-laki lebih dominan yaitu sebesar 79,29% dibandingkan responden perempuan yang hanya 20,71%. Hal ini disebabkan karena rata-rata peserta FMA di Kabupaten Temanggung adalah lakilaki. Selain itu, secara sosial laki-laki merupakan kepala keluarga yang bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Tingkat pendidikan berperan penting dalam melihat seberapa besar tingkat penerimaan dan penerapan dari program FMA yang dilaksanakan. Responden peserta FMA paling banyak menempuh pendidikan sampai dengan tingkat SD yaitu sejumlah 52
responden, hal ini dapat diartikan bahwa tingkat pendidikan responden tergolong rendah, namun responden aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran FMA yang diadakan oleh kelompok tani. Meskipun sebagian besar responden hanya sampai pada pendidikan dasar, namun mereka memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik. Hal ini setidaknya dapat menunjang kelancaran kegiatan pembelajaran dalam kelompok tani. Jenis komoditi hortikultura yang paling banyak diusahakan oleh responden adalah jenis tanaman sayuran (cabe, kobis, kol, timun, jagung, seledri, buncis, tomat, bawang merah, bawang putih, dan kentang). Sedangkan tanaman hortikultura lain yang diusahakan yaitu tanaman tembakau. Tanaman sayuran paling banyak diusahakan oleh responden karena menyesuaikan kondisi alam yang ada. Wilayah di Kabupaten Temanggung berhawa sejuk dan tanahnya subur sehingga sangat cocok untuk ditanami tanaman sayuran. Mayoritas responden mengusahakan lahan pertaniannya untuk tanaman cabe, bawang merah dan kentang. Cabe terutama di Kecamatan Ngadirejo dan Candiroto, sedangkan bawang merah dan kentang di Kecamatan Kledung. Ketiga kecamatan tersebut merupakan sentra penghasil sayuran di Kabupaten Temanggung. Mayoritas responden telah mengusahakan lahan pertaniannya untuk pertanaman hortikultura selama 1-5 tahun. Hal ini menggambarkan bahwa, pertanaman hortikultura yang berkembang di Kabupaten Temanggung belum terlalu lama. Hal ini salah satunya disebabkan karena adanya regenerasi petani, petani yang lama ratarata sudah tidak mampu untuk turun ke lahan, sehingga perannya digantikan oleh keturunannya. Oleh karena itu, mereka belum terlalu lama
mengusahakan lahan pertaniannya untuk tanaman hortikultura. Seberapa luas lahan yang digunakan petani untuk pertanaman hortikulturanya tentunya sangat menentukan tinggi rendahnya hasil panen yang akan diperoleh. Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa responden paling banyak memiliki luas lahan antara 1000-2000 m2. Luas lahan tersebut telah mampu memberikan hasil yang tinggi. Pendapatan rata-rata per tahun yang diterima oleh para responden paling banyak berada pada kategori 510 juta. Pendapatan responden mayoritas diperoleh dari hasil usaha taninya yaitu menanam tanamantanaman hortikultura. Pendapatan tersebut diperoleh responden baik dengan cara menjual langsung hasil taninya tanpa diolah atau ada juga yang menjual setelah melakukan pengolahan terlebih dahulu. Dengan melakukan pengolahan tersebut, responden memperoleh pendapatan yang lebih daripada langsung menjual tanpa diolah. Dengan demikian, semakin bertambah pendapatannya, maka kebutuhan responden semakin terpenuhi. Deskripsi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adopsi FMA Deskripsi faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi FMA disajikan pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Deskripsi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adopsi FMA di Kabupaten Temangggung No 1
2
3
4
5
6
7
Variabel Kompleksitas a. CPL 1 b. CPL 2 c. CPL 3 d. CPL 4 Keyakinan Diri a. SE 1 b. SE 2 c. SE 3 d.SE 4 Persepsi Kegunaan FMA a. PU 1 b. PU 2 c. PU 3 d. PU 4 e. PU 5 Persepsi Kemudahan Penerapan FMA a. PEOU 1 b. PEOU 2 c. PEOU 3 d. PEOU 4 Sikap terhadap Penerapan FMA a. ATU 1 b.ATU 2 c. ATU 3 d.ATU 4 Niat Menerapkan FMA a. ITU 1 b.ITU 2 c. ITU 3 d.ITU 4 Perilaku Penerapan FMA a. PPFMA 1 b.PPFMA 2 c. PPFMA 3 d.PPFMA 4 e. PPFMA 5 f. PPFMA 6 g. PPFMA 7 h.PPFMA 8 i. PPFMA 9 j. PPFMA 10
Median 3 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4
4 4 4 4
4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Sumber : Analisis Data Primer, 2014 Kompleksitas Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa dari hasil penelitian, responden ada yang memberikan jawaban 3 (netral) dan 4 (setuju) terhadap variabel kompleksitas. Hal ini menunjukkan bahwa para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung menganggap bahwa kompleksitas dalam menerapkan
FMA tidak membuat mereka enggan untuk mengadopsi FMA. Responden justru merasa bahwa FMA itu jelas dan mudah dipahami, informasi-informasi dalam FMA juga mudah diakses sehingga responden mudah untuk menerapkan di kegiatan pertanian mereka. Keyakinan Diri Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa dari hasil penelitian, responden memberikan jawaban 3 (netral) terhadap variabel keyakinan diri. Hal ini menunjukkan bahwa para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung menganggap bahwa dirinya belum yakin sepenuhnya untuk menerapkan FMA jika belum ada pihak lain yang mengajaknya untuk menerapkan FMA. Hal ini menunjukkan bahwa para responden belum yakin pada kemampuan dirinya sendiri. Persepsi Kegunaan FMA Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa dari hasil penelitian, responden memberikan jawaban 4 (setuju) terhadap variabel persepsi kegunaan FMA. Hal ini menunjukkan bahwa, petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung menganggap bahwa FMA memiliki kegunaan yang besar bagi kegiatan pertaniannya. Manfaat adanya FMA tersebut diantaranya yaitu dengan menerapkan FMA dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan menerapkan FMA dapat membuat responden menjadi lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaannya. Persepsi Kemudahan Penerapan FMA Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa dari hasil penelitian responden memberikan jawaban 4 (setuju) terhadap variabel persepsi kemudahan penerapan FMA. Hal ini menunjukkan bahwa para petani hortikultura peserta FMA menganggap bahwa ketika mereka merasakan mudah
dalam menerapkan FMA maka niat untuk menerapkan juga akan semakin tinggi. Sikap terhadap Penerapan FMA Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa dari hasil penelitian, responden memberikan jawaban 4 (setuju) pada variabel sikap terhadap penerapan FMA. Hal ini menunjukkan bahwa para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung menganggap kemudahan dan kegunaan FMA mempengaruhi sikap untuk menerapkan FMA. Niat Menerapkan FMA Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa dari hasil penelitian, responden memberikan jawaban 4 (setuju) terhadap variabel niat menerapkan FMA. Hal ini menunjukkan bahwa para petani hortikultura peserta FMA memiliki ketertarikan terhadap FMA. Ketertarikan itu berupa rencana untuk terus menerapkan FMA, niat untuk terus menerapkan FMA, dan harapan agar dapat terus menerapkan FMA di masa depan. Perilaku Penerapan FMA Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa dari hasil penelitian, responden memberikan jawaban 2 (jarang) dan 3 (kadang) terhadap variabel perilaku penerapan FMA. Hal ini menunjukkan bahwa, para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung belum menerapkan FMA sepenuhnya dalam kegiatan pertaniannya sehari-hari. Responden tetap menerapkan/mengadopsi FMA, namun tidak terlalu sering. Hal ini disebabkan karena para responden sibuk mengurus lahannya masing-masing, sehingga untuk mengikuti kegiatankegiatan yang menerapkan pembelajaran FMA kadang tidak ada waktu luang.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adopsi FMA Measurement Model Measurement model merupakan penilaian terhadap validitas dan reliabilitas variabel penelitian. Terdapat tiga kriteria di dalam penggunaan teknik analisa data dengan SmartPLS untuk menilai measurement model. Tiga kriteria tersebut yaitu convergent validity, discriminant validity dan composite reliability. Validitas Konvergen Dalam penelitian ini, digunakan batas loading factor sebesar 0,70. Indikator variabel yang memiliki nilai loading factor < 0,70 tidak diikutsertakan dalam analisis model selanjutnya. Indikator pernyataan yang dikeluarkan yaitu SE 1, SE 2, PU 1, PU 2, PU 5, ITU 1, PPFMA 1, PPFMA 2, PPFMA 5, PPFMA 6, PPFMA 7, PPFMA 8, PPFMA 9, dan PPFMA 10. Gambar berikut menunjukkan bahwa semua indikator variabel telah memiliki nilai loading factor di atas 0,70. Hal ini dapat dinyatakan bahwa item-item pernyataan pada setiap variabel memiliki konsistensi yang dapat diterima.
diskriminan dikatakan baik jika AVE lebih vesar dari 0,5. Berikut disajikan tabel nilai validitas diskriminan berdasarkan nilai AVE. Tabel 3. Nilai AVE Variabel Kompleksitas Keyakinan Diri Persepsi kegunaan FMA Persepsi kemudahan penerapan FMA Sikap terhadap penerapan FMA Niat menerapkan FMA Perilaku penerapan FMA
Sumber : Analisis Data Primer, 2014 Berdasarkan Tabel 3, dapat diketahui bahwa semua variabel memiliki nilai AVE lebih besar dari 0,5. Hal ini berarti telah memenuhi kriteria dari validitas diskriminan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua variabel memiliki validitas diskriminan yang baik Composite Reliability Composite reliability digunakan untuk menguji reliabilitas variabel. Dalam penelitian ini, nilai composite reliability harus lebih dari 0,7 agar dapat dikatakan reliabel. Berikut hasil output composite reliability dari PLS. Tabel 4. Nilai composite reliability Variabel Kompleksitas Keyakinan Diri Persepsi kegunaan FMA Persepsi kemudahan penerapan FMA Sikap terhadap penerapan FMA Niat menerapkan FMA Perilaku penerapan FMA
Gambar 1. Tampilan Output Measurement Model Validitas Diskriminan Pengukuran validitas diskriminan dari model pengukuran dinilai berdasarkan nilai AVE. Validitas
AVE 0,628 0,888 0,807 0,696 0,566 0,703 0,591
Composite Reliability 0,871 0,941 0,894 0,902 0,839 0,875 0,743
Sumber : Analisis Data Primer, 2014 Berdasarkan Tabel 4 di atas, nilai composite reliability untuk masingmasing variabel sudah memiliki nilai yang lebih besar dari 0,70. Dengan demikian, model dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria composite reliability. Selain itu, secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa item-item pernyataan pada setiap
variabel memiliki konsistensi yang dapat diterima. Structural Model Pengujian model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikansi, dan R-square dari model penelitian. Hasil R-square sebesar 0,67 ; 0,33; dan 0,19 pada variabel laten endogen dalam model struktural mengindikasikan bahwa model baik, moderat, dan lemah (Ghozali, 2011). Berdasarkan pengolahan data dengan PLS, dihasilkan nilai R-square sebagai berikut. Tabel 5. Nilai R-square Variabel Kompleksitas Keyakinan Diri Persepsi kegunaan FMA Persepsi kemudahan penerapan FMA Sikap terhadap penerapan FMA Niat menerapkan FMA Perilaku penerapan FMA
R-square
Keterangan
0,235723
Lemah
0,103853
Lemah
0,335211
Moderat
0,288217
Lemah
0,068976
Lemah
Sumber : Analisis Data Primer, 2014 Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui besarnya nilai R-square. Nilai R-square untuk variabel persepsi kegunaan FMA, persepsi kemudahan penerapan FMA, niat menerapkan FMA, dan perilaku penerapan FMA kurang dari 0,33; artinya masuk dalam kategori lemah. Sedangkan nilai Rsquare untuk variabel sikap terhadap penerapan FMA memiliki nilai antara 0,33 sampai 0,67 sehingga masuk dalam kategori moderat. Uji Hipotesis Menurut Hartono (2008a), ukuran signifikansi keterdukungan hipotesis dapat digunakan perbandingan T-table dan T-statistics. Jika nilai T-statistics lebih tinggi dibandingkan T-table, berarti hipotesis terdukung. Untuk tingkat keyakinan 95 persen (alpha 5 persen) maka nilai T-table untuk
hipotesis dua ekor (two-tailed) adalah ≥ 1,96. Berikut disajikan tabel hasil uji hipotesis. Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis Variabel Keyakinan diripersepsi kegunaan Keyakinan diripersepsi kemudahan Kompleksitaspersepsi kegunaan Niat-perilaku Persepsi kegunaan - niat Persepsi kegunaan - sikap Persepsi kemudahanpersepsi kegunaan Persepsi kemudahan-sikap Sikap - niat
T Statistics 0,666721
Keterangan Non Signifikan Signifikan
4,529978 2,909600 3,081166 2,301274 3,812783
Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan
2,533604 3,178824 2,776111
Signifikan Signifikan
Sumber : Analisis Data Primer, 2014 Berdasarkan Tabel 6, maka hasil uji untuk masing-masing hipotesis adalah sebagai berikut. Pengaruh kompleksitas pada persepsi kegunaan Hipotesis 1 menyatakan bahwa kompleksitas berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t-statistics sebesar 2,909600; nilai tersebut lebih besar dari t tabel (1,96). Hasil ini berarti bahwa kompleksitas memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap persepsi kegunaan FMA, berarti sesuai dengan hipotesis pertama. Dengan demikian hipotesis 1 diterima. Kompleksitas dalam penerapan FMA misalnya kesulitan dalam mengakses informasi FMA karena keterbatasan fasilitas seperti internet, teknologi yang diajarkan dalam FMA seringkali tidak tepat jika diaplikasikan di lahan karena alasan wilayah dan iklim, serta berkurangnya waktu petani di lahan karena mengikuti kegiatan FMA. Kompleksitas dalam penerapan FMA tidak menyurutkan semangat para petani hortikultura peserta FMA untuk tetap
menerapkan FMA karena para petani yakin bahwa FMA mendukung bagi kegiatan pertaniannya. Pengaruh persepsi kegunaan pada sikap Hipotesis 2 menyatakan bahwa persepsi kegunaan FMA berpengaruh pada sikap terhadap penerapan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t-statistics sebesar 3,812783; nilai tersebut lebih besar dari t tabel (1,96). Hal ini berarti bahwa persepsi kegunaan FMA memiliki pengaruh yang positif dan signifikan pada sikap terhadap penerapan FMA yang berarti sesuai dengan hipotesis kedua. Dengan demikian hipotesis 2 diterima. Pengaruh yang signifikan antara persepsi kegunaan FMA pada sikap terhadap penerapan FMA menunjukkan bahwa persepsi kegunaan dari petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung berbanding lurus dengan sikap positif para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung. Kegunaan yang diperoleh jika petani hortikultura menerapkan FMA seperti mampu meningkatkan efektivitas kegiatan pertanian dan mampu meningkatkan produktivitas hasil panen yang dicapai. Hal ini tentunya akan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani hortikultura. Pengaruh persepsi kegunaan pada niat Hipotesis 3 menyatakan bahwa persepsi kegunaan FMA berpengaruh pada niat menerapkan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t-statistics sebesar 2,301274; nilai tersebut lebih besar dari t tabel (1,96). Hal ini berarti bahwa persepsi kegunaan FMA memiliki pengaruh yang positif dan signifikan pada niat menerapkan FMA yang berarti sesuai dengan
hipotesis ketiga. Dengan demikian hipotesis 3 diterima. Para petani hortikultura yang merasakan kegunaan dari adanya pembelajaran FMA maka akan menginginkan untuk megadopsi FMA dalam kegiatan pertaniannya. Adopsi FMA tersebut dapat diterapkan seperti dalam kegiatan budidaya tanaman hortikulturanya, pemasaran hasil panennya karena telah tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB), atau hanya sekedar untuk mencari informasi tentang hortikultura. Pengaruh keyakinan diri pada persepsi kegunaan Hipotesis 4 menyatakan bahwa keyakinan diri berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t-statistics sebesar 0,666721; nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (1,96). Hal ini berarti bahwa keyakinan diri memiliki pengaruh yang positif tetapi tidak signifikan pada persepsi kegunaan FMA yang berarti tidak sesuai dengan hipotesis keempat. Dengan demikian hipotesis 4 ditolak. Hasil yang tidak signifikan antara keyakinan diri terhadap persepsi kegunaan FMA menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri para petani hortikultura tidak menentukan seberapa besar kegunaan dari FMA yang nantinya mereka dapatkan. Keyakinan diri para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung belum terlalu tinggi, karena mereka masih membutuhkan ajakan, ataupun harus melihat orang lain menerapkan telebih dahulu baru mereka ikut menerapkan. Pengaruh keyakinan diri pada persepsi kemudahan Hipotesis 5 menyatakan bahwa keyakinan diri berpengaruh pada persepsi kemudahan penerapan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan
nilai t-statistics sebesar 4,529978; nilai tersebut lebih besar dari t tabel (1,96). Hal ini berarti bahwa persepsi keyakinan diri memiliki pengaruh yang signifikan pada persepsi kemudahan penerapan FMA yang berarti sesuai dengan hipotesis kelima. Dengan demikian hipotesis 5 diterima. Hasil yang signifikan antara pengaruh keyakinan diri pada persepsi kemudahan penerapan FMA menunjukkan bahwa semakin tinggi rasa percaya diri seseorang untuk menerapkan suatu teknologi maka akan semakin mudah orang itu menerapkan teknologi yang ingin dipakainya. Para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung walaupun belum terlalu tinggi rasa percaya dirinya, tetapi mereka yakin bahwa mempelajari dan menerapkan FMA mudah. Karena alasan itulah, para responden menjadi yakin bahwa FMA mudah untuk dipelajari dan diterapkan. Pengaruh persepsi kemudahan pada persepsi kegunaan Hipotesis 6 menyatakan bahwa persepsi kemudahan penerapan FMA berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t-statistics sebesar 2,533604; nilai tersebut lebih besar dari t tabel (1,96). Hal ini berarti bahwa persepsi kemudahan penerapan FMA memiliki pengaruh yang positif dan signifikan pada persepsi kegunaan FMA yang berarti sesuai dengan hipotesis keenam. Dengan demikian hipotesis 6 diterima. Adanya pengaruh persepsi kemudahan penerapan FMA pada persepsi kegunaan FMA menunjukkan bahwa para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung menganggap bahwa FMA akan semakin berguna dan bermanfaat jika semakin mudah penerapannya.. Kemudahan yang dirasakan para petani hortikultura
peserta FMA di Kabupaten Temanggung seperti mudah dalam mempelajari materi yang diajarkan dalam pembelajaran FMA dan mudah dalam menerapkan teknologi budidaya yang diajarkan. Pengaruh persepsi kemudahan pada sikap Hipotesis 7 menyatakan bahwa persepsi kemudahan penerapan FMA berpengaruh pada sikap terhadap penerapan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t-statistics sebesar 3,178824; nilai tersebut lebih besar dari t tabel (1,96). Hal ini berarti bahwa persepsi kemudahan penerapan FMA memiliki pengaruh yang positif dan signifikan pada sikap terhadap penerapan FMA yang berarti sesuai dengan hipotesis ketujuh. Dengan demikian hipotesis 7 diterima. Semakin mudah dan berguna FMA, maka akan mempengaruhi sikap para petani hortikultura untuk menerapkannya. Para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung merasa materi dalam FMA mudah untuk dipelajari dan diterapkan karena sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan oleh para petani hortilkultura yang menjadi responden sehingga mereka menunjukkan sikap positif terhadap FMA. Pengaruh sikap pada niat Hipotesis 8 menyatakan bahwa sikap terhadap penerapan FMA berpengaruh pada niat menerapkan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t-statistics sebesar 2,776111; nilai tersebut lebih besar dari t tabel (1,96). Hal ini berarti bahwa sikap terhadap penerapan FMA memiliki pengaruh yang positif dan signifikan pada niat menerapkan FMA yang berarti sesuai dengan hipotesis kedelapan. Dengan demikian hipotesis 8
diterima. Sikap positif terhadap penerapan FMA misalnya petani hortikultura merasakan bahwa FMA menarik, menyenangkan, dan bermanfaat bagi kegiatan pertaniannya. Menarik karena materi yang diajarkan dalam pembelajaran FMA sesuai dengan materi yang dibutuhkan para responden. Menyenangkan karena metode pembelajaran dalam FMA terdiri dari berbagai macam kegiatan bukan hanya teori saja tetapi juga prakteknya. Bermanfaat karena dengan adanya FMA para petani hortikultura mampu meningkatkan hasil taninya; memperoleh informasi pasar, harga, dan teknologi yang lebih luas; mampu mengidentifikasi dan mengobati hama penyakit yang menyerang tanaman mereka; mampu menghemat biaya tenaga kerja; mengerti tata cara bertani yang lebih maju; serta mampu menekan biaya produksi menjadi lebih murah. Hal ini tentunya sangat mendorong dan menjadi pemicu niat para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung untuk menerapkan FMA dalam kegiatan pertaniannya. Pengaruh niat pada perilaku Hipotesis 9 menyatakan bahwa niat menerapkan FMA berpengaruh pada perilaku penerapan FMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai t-statistics sebesar 3.081166; nilai tersebut lebih besar dari t tabel (1,96). Hal ini berarti bahwa niat menerapkan FMA memiliki pengaruh yang positif dan signifikan pada perilaku penerapan FMA yang berarti sesuai dengan hipotesis kesembilan. Dengan demikian hipotesis 9 diterima. Niat menerapkan FMA ini ditunjukkan para petani hortikultura peserta FMA di Kabupaten Temanggung dengan mereka tetap berencana, berniat, dan berharap untuk tetap bisa menerapkan FMA di masa depan atau di waktu yang akan datang
walaupun program FMA telah dihentikan oleh pemerintah. Bukti bahwa para petani hortikultura tetap ingin menerapkan FMA ditunjukkan dengan keaktifan mereka dalam mengikuti pertemuan rutin pembelajaran FMA setiap 35 hari (selapan dino), mengikuti kegiatan dalam FMA seperti SLPHT, SLPTT, temu teknologi (praktek pembuatan pupuk cair dan pestisida organik), temu lapang, demonstrasi cara/hasil (pembuatan abon cabe, seasoning cabe, manisan cabe), magang, dan studi banding. Hal ini tentunya sangat mendukung terlaksananya penerapan FMA dengan baik oleh petani hortikultura di Kabupaten Temanggung. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan analisis, dapat disimpulkan bahwa 1) kompleksitas berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA, 2) persepsi kegunaan FMA berpengaruh pada sikap terhadap penerapan FMA, 3) persepsi kegunaan FMA berpengaruh pada niat menerapkan FMA, 4) keyakinan diri tidak berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA, 5) keyakinan diri berpegaruh pada persepsi kemudahan penerapan FMA, 6) persepsi kemudahan penerapan FMA berpengaruh pada persepsi kegunaan FMA, 7) persepsi kemudahan penerapan FMA berpengaruh pada sikap terhadap penerapan FMA, 8) Sikap terhadap penerapan FMA berpengaruh pada niat menerapkan FMA, dan 9) niat menerapkan FMA berpengaruh pada perilaku penerapan FMA Saran Bagi Petani Hortikultura di Kabupaten Temanggung sebaiknya menerapkan FMA dalam kegiatan
pertaniannya karena FMA memberikan banyak kegunaan. Bagi Pemerintah Kabupaten Temanggung, khususnya Dinas Pertanian sebaiknya memberikan pendampingan yang lebih intensif agar para petani hortikultura semakin yakin untuk menerapkan FMA dalam kegiatan pertaniannya. Bagi penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi FMA pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan teori TAM lebih lanjut dengan mengkombinasi variabel-variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA DEPTAN 2014. Farmer Empowerment through Agricultural Technology and Information, Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP). Jakarta: Departemen Pertanian RI. Edy 2013. Temu Wicara Pemberdayaan Petani. http://www.temanggungkab.go.id. Diakses 25 Februari 2014. Ghozali I 2011. Structural Equation Modeling Metode Alternatif dengan Partial Least Square (PLS). Semarang: Badan Penerbit Undip. Hair JT, Anderson RE, Tatham RL, Black WC 2006. Multivariate Data Anaysis 6ed. New Jersey: Pearson Prentice Hall. Hartono JM 2008a. Metodologi Penelitian Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi Offset. Laporan Perkembangan Hasil Pembelajaran FMA Tahun 20082012 Propinsi Jawa Tengah, http://featiindonesia.com/laporan/ belajar2. Diakses pada tanggal 4 Sepetember 2013.
Saleh A 2006. Tingkat Penggunaan Media Massa dan Peran Komunikasi Anggota Kelompok Peternak dalam Jaringan Komunikasi Penyuluh. Skripsi Institut Pertanian Bogor.