Peluang Peningkatan Produksi Kedelai di Indonesia Sudaryono, A. Taufiq, dan Andy Wijanarko Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang
PENDAHULUAN Dibandingkan dengan produktivitas pada tahun 1950-1960an, produktivitas kedelai Indonesia tahun 2000-2006 sebenarnya meningkat cukup besar mencapai sekitar 86%, dari semula 0,6-0,7 t/ha, menjadi 1,2-1,3 t/ha. Produktivitas kedelai Indonesia saat ini sebanding dengan produktivitas kedelai negara-negara tropik Asia seperti India atau Thailand. Kedelai di negara-negara subtropika mempunyai produktivitas lebih tinggi disebabkan oleh perbedaan alamiah panjang hari dan kesuburan tanah, di samping juga perbedaan teknologi yang lebih maju. Untuk mencukupi kebutuhan kedelai di dalam negeri, Indonesia telah mencanangkan program swasembada kedelai sejak tahun 1964 dan diulangi lagi pada berbagai program dan proyek, namun hingga kini belum berhasil. Pada tahun 2005 kebutuhan konsumsi dalam negeri sebesar 1,83 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri sebesar 0,81 juta ton, sehingga mengalami kekurangan sebesar 1,02 juta ton. Areal panen kedelai pada tahun 2004 adalah 565.155 ha dan sedikit meningkat pada 2005 menjadi 621.541 ha, masing-masing dengan produktivitas 1,28 t/ha dan 1,3 t/ha. Proyeksi kebutuhan kedelai untuk tahun 2010 adalah 2,089 juta ton, padahal luas areal diperkirakan 579.822 ha, tingkat produktivitas 1,29 t/ha, dan produksi sebesar 0,745 juta ton sehingga akan mengalami kekurangan kebutuhan sebesar 1,344 juta ton. Sebenarnya aset usaha pertanian di Indonesia baik berupa lahan pertanian, sumber daya manusia, petani produsen, tenaga ahli dan penyuluh pertanian cukup tersedia guna mendukung pengembangan kedelai. Program pengembangan kedelai melalui proyek-proyek pembangunan yang dilaksanakan melalui Departemen Pertanian berupa program intensifikasi kedelai, intensifikasi khusus kedelai (INSUS), SUPRA INSUS Kedelai, Bangkit Kedelai, dan program peningkatan produksi lainnya tampaknya belum dapat menggerakkan agribisnis kedelai dalam negeri seperti yang diharapkan. Kebijakan yang kondusif perlu dirumuskan oleh pemerintah agar persoalan swasembada kedelai nasional dapat tercapai. Makalah ini uraiannya dibatasi tentang peluang peningkatan produksi kedelai nasional
130
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
di Indonesia. Makna yang tersirat dari judul ini adalah masihkah ada peluang peningkatan produksi kedelai melalui perluasan areal tanam dan panen serta inovasi teknologi budi daya kedelai. Produksi kedelai nasional merupakan fungsi dari luas panen, teknologi, insentif harga, animo petani, dan kebijakan. Menurut Ditjentan (2004), faktor yang diduga menyebabkan terus menurunnya areal panen kedelai antara lain adalah: (1) produktivitas yang masih rendah, sehingga kurang menguntungkan dibandingkan dengan komoditas pesaingnya, (2) belum berkembangnya industri perbenihan, (3) keterampilan petani yang masih rendah, (4) rentan terhadap gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT), (5) belum berkembangnya pola kemitraan, karena sektor swasta belum tertarik untuk melakukan agribisnis kedelai, (6) kebijakan perdagangan bebas (bebas tarif impor) sehinga harga kedelai impor lebih rendah daripada kedelai produk dalam negeri. Luas areal berkompetisi dengan ragam komoditas yang ditanam oleh petani, dan juga beragam ditentukan agroekologi, yaitu: (1) agroekologi sawah yang terdiri sawah irigasi teknis (optimal) dan sawah irigasi nonteknis (suboptimal), dan (2) agroekologi lahan kering yang terdiri dari lahan kering produktif (optimal) dan lahan kering kurang produktif (suboptimal). Agroekologi lahan sawah irigasi teknis dinilai memiliki produktivitas optimal karena memiliki kemampuan dalam hal: (1) jaminan kecukupan pasok air selama musim tanam, (2) kesuburan kimiawi tanah tinggi akibat residu pemupukan dari tanaman padi, (3) kesuburan fisik dapat dimanipulasi dengan perbaikan penyiapan dan pengolahan tanah lebih baik, (4) lingkungan tumbuh kedelai dimungkinkan seragam (uniform) dalam suatu hamparan bilamana pola tanam padi-padi-kedelai dapat dibakukan, (5) pengendalian OPT terpadu dimungkinkan dapat diterapkan dengan pola tanam padi-padi-kedelai secara mantap, (6) koordinasi, pendampingan dan penyuluhan dapat diselenggarakan dengan lebih baik. Agroekologi lahan sawah irigasi nonteknis dinilai memiliki produktivitas sub optimal dengan beberapa pertimbangan (1) jaminan pasok air selama musim tanam kedelai tidak mantap atau tidak cukup, (2) kesuburan kimiawi boleh jadi cukup baik, (3) kesuburan fisik dimungkinkan cukup baik (aerasi baik), (4) lingkungan tumbuh kedelai dalam suatu hamparan dimungkinkan beragam, (5) gangguan OPT umumnya banyak sehingga perlu perhatian lebih baik, (6) koordinasi, pendampingan dan penyuluhan masih dapat diusahakan berjalan baik apabila pola tanam padi-kedelai-palawija lain dapat dimantapkan. Agroekologi lahan sawah irigasi teknis (optimal) memiliki peluang satu kali musim tanam pada MK II yang digambarkan oleh pola tanam berikut padi-padi-kedelai. Lahan sawah irigasi non teknis masih mampu menghasilkan kedelai secara optimal sisa lengas tanah setelah panen padi mencukupi untuk tanaman kedelai, seperti halnya di Pulau Lombok. Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
131
Agroekologi lahan sawah nonteknis (suboptimal) memiliki peluang dua kali musim tanam, musim tanam labuhan (varietas umur genjah) dan pada MK II atau musim tanam MK I dan II; mengikuti pola tanam berikut: (1) kedelai-padi-kedelai, (2) padi-kedelai-kedelai, (3) jagung-padi-kedelai, (4) padi-jagung-kedelai. Agroekologi lahan kering produktif dinilai memiliki produktivitas optimal dengan pertimbangan (1) memiliki tipe iklim basah (Oldeman tipa A atau B) sehingga pasok lengas tanah mantap (stabil), (2) memiliki kesuburan kimia tanah tinggi (pH sekitar netral, macam dan kadar hara lengkap dan tinggi, kadar bahan organik tanah cukup tinggi), (3) memiliki kesuburan fisik tanah baik (struktur gembur/remah), (4) pengendalian OPT perlu mendapat perhatian lebih baik, (5) koordinasi, pendampingan dan penyuluhan dimungkinkan dapat diusahakan lebih baik. Agroekologi lahan kering kurang produktif terutama di Sumatera dan Sulawesi umumnya memiliki produktivitas suboptimal karena memiliki beberapa kendala yaitu: (1) jaminan pasok lengas tanah tidak mantap umumnya memiliki iklim C, D, E (Oldeman), (2) kesuburan kimiawi tanah kurang baik, terdapat gejala kekahatan unsur hara tertentu (K, P, dan sebagainya), (3) kesuburan fisik tanah kurang baik, kemampuan menahan lengas tanah rendah, struktur gumpal, dan sebagainya, (4) gangguan OPT cukup banyak sehingga perlu perhatian lebih intensif, (5) koordinasi, pendampingan, dan penyuluhan umumnya agak sulit. Agroekologi lahan kering memiliki peluang satu atau dua kali musim tanam mengikuti pola tanam berikut: (1) kedelai-jagung-kacang-kacangan lain, (2) jagung-kedelaikacang-kacangan lain, (3) tumpangsari jagung+kedelai-kacang tanahkedelai, (4) tumpangsari ubi kayu + kedelai-kacang tanah. Ragam agroekologi juga menentukan jenis teknologi budi daya suatu komoditas. Jenis komoditas memiliki daya adaptasi tertentu terhadap ragam agroekologi. Berhubungan dengan itulah, komoditas tertentu memiliki paket teknologi relatif tertentu sesuai dengan ciri agroekologinya atau lebih dikenal “paket teknologi spesifik lokasi”. Paket teknologi spesifik lokasi memiliki makna spesifik agroekologi dan spesifik komoditas, serta boleh jadi spesifik petani (kelompok/masyarakat tani). Khusus mengenai komoditas kedelai, teknologi budi daya kedelai meliputi serangkaian komponen teknologi yang terdiri atas: (1) varietas, (2) pengelolaan tanah, (3) cara dan sistem tanam, (4) pemupukan, (5) pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT; hama, penyakit, dan gulma), (6) pengelolaan lengas tanah, dan (7) penanganan pascapanen. Tingkat harga jual dan ketersediaan pasar merupakan faktor penarik minat bagi petani untuk mengambil keputusan apakah mereka menanam kedelai atau komoditas yang lain pada musim tanam yang dipandang optimal untuk komoditas tersebut. Contoh pada lahan kering untuk musim tanam labuhan, petani akan menanam jagung dan ubi kayu, sedang pada 132
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
musim tanam marengan (akhir musim hujan hingga awal musim kemarau) pada periode optimal untuk menanam tanaman kacang-kacangan, petani akan memilih diantara tanaman kedelai, kacang tanah, kacang hijau atau jenis palawija yang lain. Minat petani untuk menanam suatu tanaman dipengaruhi oleh berbagai kepentingan rumah tangga, di antaranya: (1) kebutuhan akan pangan, (2) kebutuhan cadangan benih/bibit, (3) kebutuhan usaha komersial, dan (4) pelestarian dan keberlanjutan produktivitas lahan. Faktor teknis penentu tingkat produksi kedelai terdiri atas: (1) varietas dan benih, (2) lingkungan tumbuh abiotik (iklim, tanah, dan pemupukan), (3) lingkungan tumbuh biotik berupa pengendalian OPT, (4) kultur teknis persiapan dan pemeliharaan tanaman (pengolahan tanah, pengairan, tanam, panen), (5) panen dan prosesing hasil tanaman. Peningkatan produksi kedelai perlu diupayakan melalui intensifikasi budi daya dan perluasan areal tanaman ke lahan-lahan kering di pulau Sumatera dan pulau lainnya seperti Kalimantan, yang memiliki potensi sumber daya lahan yang masih sangat luas (BPS 2005; Renstra Balitkabi 2005).
KESESUAIAN LAHAN DAN IKLIM Kedelai memerlukan syarat tumbuh tertentu terhadap unsur-unsur lingkungan di antaranya iklim, ketersediaan air dan kondisi tanah. Kriteria kesesuaian lahan untuk usahatani kedelai dibagi empat, yaitu: sangat sesuai (S1), sesuai (S2), kurang sesuai (S3), dan tidak sesuai (N) (Tabel 1). Komponen teknologi pokok dan pilihan sangat ditentukan oleh karakteristik agroekologi. Sebagai contoh, pengembangan kedelai di lahan sawah yang memiliki masalah utama kelebihan air pada saat tanam, maka teknologi pematusan air yang efektif atau drainase pada periode pertanaman awal menjadi faktor kunci pertumbuhan kedelai. Lahan sawah irigasi umumnya memiliki kesuburan keharaan yang tinggi, oleh karena itu teknologi pengelolaan lahan yang menciptakan imbangan lengas dan udara tanah yang serasi menjadi faktor kunci ketersediaan hara bagi tanaman kedelai agar serapan hara oleh tanaman kedelai dapat berlangsung optimal. Pengembangan kedelai di lahan kering masam tidak dapat lepas dari masalah kemasaman tanah yang bersumber dari aluminium (Al) dan senyawa besi (Fe). Dengan demikian tindakan teknis ameliorasi lahan akan menjadi bagian dari komponen teknologi baku untuk mengurangi aktivitas Al maupun Fe di lahan kering masam. Mengingat komposisi mineral lahan kering masam didominasi oleh mineral lempung tipe 1: 1 maka pemakaian pupuk organik juga menjadi komponen baku dalam budi daya kedelai di lahan kering masam sehinga dapat meningkatkan kadar bahan organik tanah, meningkatkan kapasitas menahan lengas tanah, kapasitas tukar kation tanah (KTK), jumlah koloid organik tanah yang dapat mengkelasi
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
133
Tabel 1. Kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman kedelai. Karakteristik
Persyaratan tingkat kesesuaian lahan S1 (sangat sesuai)
S2 (sesuai)
23-28
29-30 22-20
21-32 19-18
> 32 < 18
3-7,5
7,6-8,5
8,6-9,5
> 9,5
1000-1500
1500-2500 1000-700
2500-3500 700-500
> 3500 < 500
Cukup baik Baik L, S,CL, SiL, Si, CL, SiCL > 50
Agak berlebihan SL, SC
Jelek-> Jelek LS,SiC, C
Sangat jelek G,S, Mass.C
30-49
15-29
< 15
> 25 6,0-7,0
25-15 6,1-7,0 5,9-5,5
15-5 7,0 5,4-5,0
<5 > 7,5 < 20
> 1,0-0,5 > 50 > 15 0,8-0,4
0,5-0,2 50-15 15-5 0,4-0,2
0,2-0,1 < 15 <5 0,2-0,03
< 0,1 <5 <2 < 0,03
Salinitas/kegaraman (mmhos/cm) Lapis tanah bawah < 2,5
2,5-4
8-Apr
>8
0-5 < 20
5-15 20-30
15-20 30-40
> 20 > 40
Suhu Suhu rata-rata oC Ketersediaan air Bulan kering (<75 mm) Curah hujan rata-rata (mm/th) Lingkungan akar Drainase Tekstur tanah lapisan atasx) Kedalaman tanah (cm) Retensi hara KTK (me/100 g) pH Ketersediaan hara N total (%) P2O5 tersedia (Bray 4) (ppm) P2O5 tersedia (Olsen 3) (ppm) K tersedia (me/100 g)
Kemiringan lahan (%) Kejenuhan Al (Al/KTK) %
S3 N (agak sesuai) (tidak sesuai)
Sumber CSR-FAO (1983); Landon (1984) x) Tekstur : Clay © = lempung, Clay loam (CL) = geluh berlempung, Loam (L) = geluh, Sandy clay loam (SCL) = geluh lempung berpasir, Sandy clay (SC) = lempung berpasir, Sandy loam (SL) = geluh berpasir, Silt (Si) = debu, Silty clay (SiC) = lempung berdebu, Silt loam (SiL) = geluh berdebu, Sand (S) = pasir, Gravels (G) = berbatu, Massive clay (Mass.C) = lempung pejal.
senyawa Al dan Fe sehingga membantu pengendalian kemasaman dan keracunan tanaman oleh Al dan Fe. Komponen pemupukan terutama penambahan hara P dan K perlu mendapat perhatian mengingat ketersediaan P dan K aseli lahan kering masam pada umumnya rendah. Tanaman kedelai memiliki syarat tumbuh sebagai berikut: (1) tumbuh pada ketinggian 0-1500 m dpl (di atas permukaan laut) namun optimum sekitar 650 m dpl, (2) suhu optimum 29,4oC, (3) toleransi terhadap naungan < 40%, (4) mampu beradaptasi pada iklim yang luas; optimum pada tipe 134
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
iklim C1-2, D1-3, dan E1-2, (5) kedelai merupakan tanaman hari pendek, (6) konsumsi air 64-75 cm/musim tanam atau sepadan dengan curah hujan 200-300 mm/musim tanam, (7) tanaman kedelai beradaptasi luas terhadap berbagai tanah namun subur dan gembur, pH optimal 6,2-7,0, kejenuhan Al < 20%, dan (8) untuk setiap ton biji kedelai mengangkut hara lebih-kurang sebesar 66 kg N, 15,5 kg P, 39,7 kg K, 7,5 kg Mg dan 7 kg S (Baharsjah 1985, Halliday and Trenkel 1992, Hartatik dan Adiningsih 1987, Widjaja-Adhi 1985). Berdasarkan sifat dan kemampuan beradaptasi pada iklim yang luas maka tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik pada iklim C, D, dan E. Pada daerah yang memiliki tipe iklim B tanaman kedelai juga dapat tumbuh dengan baik asal saat panen diusahakan jatuh pada musim kering sehingga tidak mengalami kesulitan untuk proses pascapanennya (pengeringan). Persyaratan tersebut tidak berarti dapat memberikan jaminan bahwa pada agroekologi yang memenuhi kriteria S1 (sangat sesuai) produktivitas kedelai selalu optimal, mencapai 2 t/ha atau lebih. Banyak faktor yang terjadi pada periode singkat yang dapat menurunkan produktivitas kedelai, seperti: genangan air pada saat benih ditanam; lengas tanah yang tidak optimal pada saat biji berkecambah hingga tanaman berumur tiga minggu; kompetisi gulma pada stadia awal pertumbuhan; serangan hama penyakit; cekaman kekeringan atau terjadi genangan oleh hujan lebat. Dengan pengelolaan sumber daya dan tanaman yang tepat, wilayah dengan kategori S2 atau S3 dapat menghasilkan kedelai cukup tinggi, walaupun mungkin memerlukan masukan sarana yang lebih mahal.
FAKTOR PEMBATAS PRODUKTIVITAS KEDELAI DI INDONESIA Secara kultur teknis masalah yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas tanaman kedelai meliputi: (1) penggunaan varietas yang benihnya kurang berkualitas, (2) waktu tanam tidak tepat, (3) populasi tanaman tidak penuh, (4) pengelolaan lengas kurang optimal, (5) persiapan media pertanaman kurang optimal, (6) pengelolaan hara kurang optimal, (7) pengendalian OPT kurang efektif, dan (8) pascapanen kurang optimal. Masalah produktivitas kedelai bersifat lokal spesifik, ditentukan oleh ciri agroekologi areal tanam. Peningkatan produksi kedelai keberhasilannya dipengaruhi oleh faktor teknis, sosial budaya, dan ekonomi. Produktivitas kedelai secara umum dipengaruhi oleh tingkat kesesuaian lahan, kesuburan lahan, neraca lengas musiman, pengelolaan hara dan air, pengendalian OPT, pemeliharaan, dan pascapanen.
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
135
Masalah umum yang bersifat teknis untuk lahan sawah bekas padi adalah kejenuhan air (water logging), kepadatan tanah (soil compaction), struktur tanah kompak (massive), lengas tanah, pengelolaan hara, pengendalian OPT, dan pascapanen. Kejenuhan air pada saat tanam kedelai akan berakibat kurang baik untuk perkecambahan benih kedelai. Walaupun mutu benih bagus, apabila tanah dalam kondisi jenuh air biji kedelai akan mengalami kekurangan oksigen untuk perkecambahannya. Oleh karena itu, kejenuhan air pada saat tanam akan berakibat kebusukan benih sehingga tidak dapat tumbuh. Perkecambahan benih merupakan titik awal dari keragaan populasi tanaman per satuan luas. Populasi tanaman yang optimal merupakan modal awal untuk memperoleh produksi yang tinggi dan dapat menopang keberhasilan dalam pengendalian gulma. Dengan populasi penuh, tajuk tanaman akan segera menutup permukaan tanah sehingga akan menghambat pertumbuhan gulma. Kepadatan tanah dan struktur tanah yang massif akan menghambat perkembangan akar tanaman dan akar sulit menembus ruang pori tanah. Struktur tanah massif akan menghambat sirkulasi udara dan air (lengas) tanah sehingga proses respirasi akar tanaman dapat terganggu, akibatnya pertumbuhan akar dapat terganggu dan penyerapan unsur hara terhambat yang akhirnya akan menghambat pertumbuhan tanaman kedelai. Kejenuhan tanah pada saat periode awal tanam di lahan sawah bekas padi dapat diatasi dengan pengendalian lengas tanah secara sederhana, yaitu dengan membuat saluran-saluran pematusan atau drainase dengan interval jarak antar saluran 3-5 m. Pembuatan saluran drainase dengan interval jarak tersebut memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pengendali lengas dan sirkulasi udara tanah serta memudahkan lalu lintas pekerja untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman. Masalah umum budi daya kedelai pada lahan sawah irigasi disajikan pada Tabel 2. Sinergi komponen teknologi yang produktif berupa pemakaian pupuk organik yang dikombinasi dengan aplikasi pembenah tanah (soil ameliorant) pada lahan kering masam akan meningkatkan KTK tanah, mengurangi pelindian (leaching) unsur hara, menjamin kemantapan ketersediaan unsur hara, meningkatkan serapan unsur hara, yang secara akumulatif akan memiliki dampak peningkatan hasil kedelai. Pengelolaan unsur hara merupakan salah satu faktor penting untuk pertumbuhan tanaman kedelai. Kekurangan salah satu unsur hara sudah akan membatasi pertumbuhan tanaman kedelai. Diskripsi tanah yang dapat memberi gambaran data keharaan yang tersedia, akan dapat diketahui macam dan status ketersediaan unsur hara dalam tanah. Dengan demikian akan memudahkan langkah pengelolaan keharaan agar dapat ditetapkan perlu tidaknya menambah hara melalui tindakan pemupukan. Gejala kekurangan unsur hara dapat diamati melalui keragaan pertumbuhan 136
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Tabel 2. Masalah agronomik pembatas pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai yang umum terjadi pada lahan sawah. Masalah pada sawah irigasi awal kemarau (MK I)
Masalah pada sawah irigasi kemarau (MK II)
Masalah pada sawah tadah hujan awal MH
1. Tanam benih
Jenuh air, lambat tanam
Kering, tanah padat
Jenuh air, genangan
2. Perkecambahan
Jenuh air, daya tumbuh benih rendah
Lengas tanah rendah
Jenuh air, genangan
3. Tanaman juvenil
Jenuh air, gulma
Cekaman kekeringan
Gulma hama
4. Vegetatif menjelang berbunga
Gulma, hama, kahat hara tertentu
Gulma,hama, kering
Gulma hama
5. Stadia berbunga (R1-R2)
Gulma, hama, kahat hara tertentu
Kekeringan, gulma,hama
Gulma hama
6. Pengisian polong (R3-R6)
Hama, gulma
Kekeringan,hama, penyakit
Hama, penyakit
7. Pematangan polong (R7-R8)
Hama, gulma
Kekeringan, hama
Kelembaban tinggi
8. Panen dan pascapanen
-
No. Stadia tanaman
Pengeringan, pembijian
tanaman kedelai. Sebagai contoh, tanaman kedelai yang kekurangan hara N (nitrogen) akan menunjukkan gejala pertumbuhan daun menguning, baik daun muda maupun tua. Gejala kekurangan N yang akut akan menyebabkan tanaman kedelai menjadi kerdil. Tanaman kedelai yang kekurangan hara K akan terlihat gejala menguning yang dimulai dari tepi daun dan diawali pada daun-daun yang tua. Gejala kekurangan K yang akut juga akan menyebabkan tanaman kedelai tumbuh kerdil. Masalah umum yang bersifat teknis di lahan kering bukan masam adalah erosi tinggi, solum tanah dangkal, pH alkalis, kadar bahan organik rendah, kahat hara, kekeringan, gangguan OPT, dan pascapanen (Tabel 3). Ragam kesuburan lahan kering sangat besar ditentukan oleh ragam topo-geografisnya. Lahan kering masam Ultisol dan Oxisol yang sebagian besar terdapat di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua memiliki masalah produktivitas berupa kemasaman tinggi, Al-dd (Aluminium dapat ditukar) serta kadar senyawa besi (Fe) bebas sangat tinggi sehingga meracuni tanaman, kadar bahan organik rendah, kadar unsur hara secara umum rendah, derajat kejenuhan basa rendah, kapasitas tukar kation rendah, daya
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
137
Tabel 3. Masalah umum agronomik pembatas pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai pada lahan kering bukan masam. No. Stadia tanaman
Masalah pada awal musim hujan (MH)
Masalah pada awal musim kemarau (MK II)
1. Penyiapan lahan
Tanah keras pada musim kemarau,
Waktu tanam sangat singkat
2. Tanam benih
Tanah jenuh air, erosi, genangan
Terlambat tanam
3. Perkecambahan
Tanah jenuh air, banjir
Kekeringan, tanah memadat
4. Tanaman juvenil
Terjadi periode kering, gulma
Gulma, kekeringan, hama
5. Vegetatif-berbunga
Gulma, kahat hara, hama
Hama, kekeringan, kahat hara
6. Berbunga (R1-R5)
Hama
Hama, gulma, kahat hara
6. Pengisian polong (R3-R4)
Hama
Hama, kekeringan
7. Pematangan polong
Kelembaban tinggi
Hama
8. Panen dan pascapanen
Pengeringan pembijian
-
sangga tanah rendah, dan daya menahan air rendah. Taufiq et al. (2004) melaporkan bahwa masalah utama di lahan kering masam untuk budi daya kedelai adalah pH rendah (< 5), kejenuhan Al tinggi (12,0-40,1%), Fe tersedia tinggi (41,30-73,43 ppm), status P dan K tersedia rendah, sehingga memerlukan tambahan pupuk P dan K. Toleransi tanaman kedelai terhadap kejenuhan Al adalah 20% (Hartatikdan Adiningsih 1987). Hal ini memberikan petunjuk bahwa lahan kering masam yang memiliki kejenuhan Al > 20% harus diturunkan hingga mencapai < 20% untuk menjamin keberhasilan tanaman kedelai. Masalah umum yang bersifat teknis untuk peningkatan produktivitas kedelai di lahan kering masam adalah kondisi tanah bereaksi masam, kandungan aluminium tinggi, sedangkan kandungan bahan organik dan ketersediaan hara tanaman rendah (Buurman 1980). Tanah Ultisol terbentuk dari bahan induk masam dengan curah hujan tinggi 2500-3500 mm/th, dicirikan oleh mineral lempung kaolinit dengan tipe kisi 1: 1, pH tanah sangat masam hingga masam (3,5-5,5), bertekstur lempung (clay), berstruktur gumpal di lapisan bawah dan memiliki horison argilik, memiliki kapasitas tukar kation < 16 me/100 g lempung, serta kejenuhan basa < 35% (LPT 1969; Arief 1988). Masalah nonagronomik yang sering dihadapi adalah kurangnya infrastruktur di wilayah lahan kering terutama sarana transportasi yang
138
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
kurang kondusif untuk mendukung mobilitas dan aksesibilitas sarana produksi dan hasil kedelai. Kemantapan dan kelayakan jaringan infrastruktur akan memperlancar mobilitas barang dan jasa dalam lingkaran perputaran agribisnis kedelai secara nasional maupun internasional. Masalah sosial-budaya-ekonomi petani juga memberikan andil dalam pemacuan pengembangan usahatani kedelai dan pembangunan agribisnis kedelai. Menerapkan teknologi budi daya baku untuk bertanam kedelai perlu disosialisasikan dan dimantapkan di tingkat petani produsen. Besarnya penerimaan pendapatan yang layak dan kompetitif melalui usahatani kedelai ikut menentukan keberhasilan upaya peningkatan produksi kedelai nasional. Bimbingan dan pendampingan melalui penyuluhan untuk mengadopsi budi daya kedelai secara baku perlu dilakukan, terutama bagi petani yang belum biasa menanam kedelai.
HASIL-HASIL PENELITIAN TANAMAN KEDELAI DI INDONESIA Produktivitas rata-rata nasional untuk tanaman kedelai adalah 1,28 t/ha. Produktivitas rata-rata regional untuk kedelai adalah 1,18 t/ha di Sumatera, 1,31 t/ha di Jawa, 1,22 t/ha di Bali dan Nusa Tenggara, 1,18 t/ha di Kalimantan, 1,37 t/ha di Sulawesi, dan 1,1 t/ha di Maluku dan Papua (BPS 2004). Peningkatan produktivitas kedelai pada tahun 2004 dibandingkan dengan tahun 2003 adalah sekitar 0,63% (Deptan 2004). Penelitian mengenai aspek produksi dan produktivitas komoditas kedelai di Indonesia telah banyak dilakukan di Indonesia yang tersebar di lembaga penelitian lingkup Badan Litbang Pertanian, BPPT, Perguruan Tinggi, maupun swasta. Beberapa contoh hasil penelitian yang dilakukan pada agroekologi spesifik dapat menjadi dasar perumusan teknologi pada masing-masing spesifik agroekologi.
Agroekologi Sawah Irigasi Teknis Tanaman kedelai yang diusahakan setelah padi pada lahan sawah irigasi teknis dipandang memiliki potensi optimal karena sejumlah faktor berikut: (1) kesuburan lahan nisbi tinggi, (2). Air tersedia cukup, (3) kultur petani yang sudah biasa mengadopsi teknologi, (4) dukungan modal cukup. Lahan sawah irigasi teknis selalu memperoleh penyegaran dan pembaruan substansi organik dan anorganik yang terkandung pada air irigasi. Substansi organik dan anorganik tersebut akan mempertinggi kesuburan tanah melalui pengayaan kadar C-organik tanah, dan tambahan unsur hara makro seperti
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
139
N, P, K, Ca, Mg serta unsur-unsur mikro seperti Fe, Zn, Cu. Kualitas air irigasi beragam sesuai dengan sumber air dan daerah yang dilalui aliran air irigasinya. Tambahan substansi organik dan anorganik dari daerah hulu sering memperkaya kualitas air irigasi. Penggunaan pupuk NPK pada padi telah dilakukan setiap kali musim tanam. Efisiensi serapan pupuk N, P, dan K pada umumnya berturut-turut sebesar 40%, 15-25%, dan 30-40%. Dengan demikian, masih banyak hara NPK dari pupuk belum diserap, yang sebagian akan tercuci dan yang lain masih tertinggal dan tertahan atau terikat oleh tanah. Penelitian pemupukan NPK pada kedelai setelah padi memiliki esensi efisiensi pengelolaan keharaan kedelai lahan sawah bekas padi. Hasil percobaan pemupukan NPK pada lahan sawah Vertisol menunjukkan bahwa pengurangan komponen pupuk masing-masing terhadap pupuk N, P, NP, atau PK tidak menurunkan hasil kedelai dibandingkan dengan pemupukan lengkap NPK (Manshuri et al. 2006). Namun pengurangan pupuk K, NK menurunkan hasil kedelai secara nyata dibandingkan pemupukan lengkap NPK. Petak kontrol yang tidak diberi pupuk, yang berarti memanfaatkan residu pupuk dari tanaman padi sebelumnya produksi kedelainya nyata lebih rendah dibandingkan pemupukan lengkap NPK (Tabel 4). Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa pertanaman kedelai di lahan sawah dengan produktivitas tinggi cukup diberikan tambahan pupuk K. Pengurangan
Tabel 4. Percobaan petak omisi (peniadaan) pupuk NPK pada hasil kedelai varietas Wilis di lahan sawah Vertisol Ponorogo dan Ngawi pada MK 2005. Perlakuan pupuk N, P, K
Hasil biji kedelai (t/ha) Ponorogo I
Ponorogo II
Ngawi
NPK (50 kg urea+100 kg SP36+100 kg KCl)/ha NP (50 kg urea+100 kg SP36)/ha NK (50 kg urea+100 kg KCl)/ha N (50 kg urea)/ha PK (100 kg SP36+100 kg KCl)/ha P (100 kg SP36)/ha K (100 kg KCl)/ha Tanpa pupuk (kontrol, residu pupuk padi) NPK+ (50 kg urea+100 kg SP36+150 kg KCl)/ha
2,55 2,02 * 2,55 tn 2,30 tn 2,52 tn 2,12 * 2,50 tn 1,94 * 2,67 tn
2,83 2,34 * 2,78 tn 2,13 * 2,81 tn 2,28 * 2,33 * 2,01 * 3,07 tn
2,67 2,15 * 2,59 tn 2,13 * 2,50 tn 1,98 * 2,38 * 1,87 * 2,72 tn
KK (%) BNT 0,05
9,3 0,379
9,4 0,407
9,1 0,419
* nyata lebih rendah pada uji beda nyata terkecil 0,05; tn = tidak nyata; KK = koefisien keragaman Sumber: Manshuri et al. 2006.
140
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
pemakaian pupuk N dan P akan meningkatkan efisiensi biaya produksi yang akan berdampak peningkatan keuntungan bersih usahatani kedelai. Vertisol memiliki tekstur lempung berat (heavy clay), struktur gumpal atau pejal (massive) sehingga sifat fisik tanah yang berkaitan dengan imbangan antara lengas dan udara tanah serta ketersediaan S sering menjadi masalah dalam usaha peningkatan hasil kedelai. Pengembalian jerami ke petakan dan pengaturan jarak saluran drainase merupakan salah satu teknik untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian pemanfaatan jerami dan pengaturan jarak drainase pada Vertisol pada tanaman kedelai sesudah padi sawah dengan pola padi-padi-kedelai menunjukkan bahwa memperrapat jarak saluran dari 4 m ke 2 m tidak meningkatkan hasil kedelai secara nyata (Tabel 5) (Kuntyastuti et al. 2006). Fakta yang sama juga ditunjukkan pada pola tanam padi-kedelai-kedelai (Tabel 6). Pada pola tanam padi-padikedelai, pengembalian jerami ke petakan tidak meningkatkan hasil kedelai; sedang pada pola tanam padi-kedelai-kedelai cara pemanfaatan jerami dengan hamparan dan atau dibakar dapat meningkatkan hasil kedelai bila dibandingkan dengan tanpa diberi jerami (Tabel 5 dan 6). Pada pola tanam padi-padi-kedelai, pemupukan NPK dengan 50 kg ZA+50 kg SP36+100 kg KCl/ha meningkatkan hasil kedelai secara nyata dibandingkan dengan tanpa diberikan pupuk. Pada pola tanam padi-kedelai-kedelai pemberian pupuk lengkap NPK atau tidak lengkap terhadap kedelai meningkatkan hasil kedelai Tabel 5. Pengaruh cara pemanfaatan jerami dan jarak saluran drainase terhadap hasil kedelai di lahan sawah Vertisol Ngawi dengan pola tanam padi-padi-kedelai pada MK 2005. Hasil biji kedelai (t/ha)
Cara pemanfaatan jerami (J) dan pupuk (P)
2 m1)
4m
Selisih hasil
J = pemanfaatan jerami - Tanpa jerami padi - Jerami padi disebar (hampar) - Jerami padi dibakar
1,07 a 1,03 a 1,04 a
1,19 a 1,19 a 1,10 a
0,12 0,16 0,06
P = pupuk ZA+SP-36+KCl (kg/ha) 0–0–0 50 + 50 + 100 50 + 50 + 0 50 + 0 + 100 0 + 50 + 100
1,04 1,20 1,02 0,96 1,02
1,08 1,34 1,12 1,12 1,12
b a b b b
0,04 0,14 0,10 0,16 0,10
Rata-rata KK (%) Interaksi J x P
1,05 14,21 tn
1,16 18,51 tn
0,11
b a b b b
Sumber: Kuntyastuti et al. (2006) 1) Jarak antarsaluran drainase
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
141
Tabel 6. Pengaruh cara pemanfaatan jerami dan jarak saluran drainase terhadap hasil kedelai di lahan sawah Vertisol Ngawi dengan pola tanam padi-kedelai-kedelai pada MK II 2005. Hasil biji kedelai (t/ha)
Cara pemanfaatan jerami (J) dan pupuk (P)
2 m1)
4m
Selisih hasil
J = pemanfaatan jerami - Tanpa jerami padi - Jerami padi disebar (hampar) - Jerami padi dibakar
1,65 b 1,80 a 1,85 a
1,75 a 1,93 a 1,90 a
0,10 0,13 0,05
P = pupuk ZA+SP-36+KCl (kg/ha) -0–0–0 - 50 + 50 + 100 - 50 + 50 + 0 - 50 + 0 + 100 - 0 + 50 + 100
1,57 c 1,95 a 1,84 ab 1,78 ab 1,70 bc
1,66 b 2,03a 1,77b 1,99 a 1,85b
0,09 0,08 0,07 0,21 0,15
1,77 11,80 tn
1,86 11,49 tn
0,09
Rata-rata KK (%) Interaksi J x P Sumber: Kuntyastuti et al. (2006)
secara nyata dibandingkan dengan tanpa pupuk; pengurangan satu atau dua unsur dari pupuk lengkap NPK tidak menurunkan hasil kedelai secara nyata (Tabel 5). Ada indikasi pengurangan pupuk ZA menurunkan hasil kedelai, namun hasil percobaan ini rendah, sehingga pengaruh pupuk tidak jelas. Pada lahan sawah dengan pola tanam padi-kedelai-kedelai, cara pemanfaatan jerami dan kombinasi pemberian pupuk NPK dapat meningkatkan hasil kedelai cukup nyata dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk (Tabel 6). Perbedaan jarak saluran drainase tidak menimbulkan perbedaan hasil kedelai secara nyata. Pada jarak saluran drainase 2 m, pemberian mulsa jerami dengan disebar merata maupun dibakar meningkatkan hasil kedelai secara nyata dibandingkan tanpa pemeberian jerami sedang pada jarak saluran 4 m tidak meningkatkan hasil kedelai. Pemberian pupuk NPK lengkap dengan takaran 50 kg ZA+50 kg SP36+100 kg KCl/ha memberikan hasil kedelai tertinggi sebesar 1,95 t/ ha pada jarak saluran drainase 2m dan 2,02 t/ha pada jarak 4 m, masingmasing dibandingkan dengan tanpa pemupukan sebesar 1,56 kg/ha dan 1,65 t/ha (Tabel 6). Pengurangan pupuk K menurunkan hasil kedelai secara nyata. Dengan demikian unsur K menjadi pembatas peningkatan hasil kedelai pada lahan sawah tadah hujan. Tidak ada pengaruh interaksi antara pemberian jerami dengan pemupukan NPK.
142
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Pengaruh komponen teknologi pada dasarnya bersifat interaktif antar satu komponen dengan komponen lainnya. Perlakuan dosis pupuk N-P-K dengan dosis yang meningkat semakin tinggi kemungkinan tidak berpengaruh terhadap produksi, apabila tanaman dalam kondisi kekeringan atau drainase tanahnya buruk. Dari pengalaman, setiap komponen budi daya pada tanaman kedelai dapat menekan produktivitas apabila tidak berada pada tingkat optimal, walaupun komponen budi daya yang lain cukup optimal. Untuk mensikapi gejala tersebut, telah diuji rakitan teknologi yang dinilai optimal bagi agroekologi spesifik. Apabila raktian teknologi yang diuji terbukti unggul, maka petani dapat mengadopsi rakitan teknologi tersebut. Penelitian rakitan teknologi kedelai pada lahan irigasi teknis mencakup varietas unggul, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), dan kegiatan pascapanen (Tabel 7 dan 8). Petani konvensional umumnya tidak memiliki keberanian yang besar untuk melakukan coba-coba (trial and error) terhadap teknologi baru. Petani progresif umumnya tergolong petani yang memiliki pengetahuan cukup, dan memiliki karakter ingin maju, tanggap teknologi, modal cukup, dan umumnya sudah berorientasi komersial (bisnis). Perkembangan penggunaan komponen teknologi dari tahun 1999 sampai 2006 dirangkum pada Tabel 7 dan 8. Berdasarkan kisaran produksi yang diperoleh terlihat ada kenaikan produktivitas dari rakitan teknologi yang diuji, tetapi tidak ada konsistensi, sehingga rata-rata produktivitas rakitan teknologi dari tahun 1999 sampai tahun 2006 relatif sama (Tabel 7 dan 8). Kecukupan populasi tanaman, vigor tanaman muda (stadia juvenil), infestasi dan kompetisi gulma, cekaman kekeringan pada berbagai stadia tumbuh, intensitas serangan hamapenyakit, adalah faktor penting yang sering mengakibatkan produktivitas kedelai tidak stabil, walaupun rakitan teknologi diterapkan.
Agroekologi Sawah Irigasi Setengah Teknis Agroekologi lahan sawah irigasi setengah teknis dapat menjadi sentra produksi kedelai yang produktivitasnya tinggi seperti halnya di pulau Lombok (NTB), tetapi dapat juga sebagai lahan yang memiliki produktivitas suboptimal karena memiliki satu atau lebih kendala produktivitas antara lain cekaman air selama masa pertanaman kedelai pada Mk I ataupun MK II. Apabila dibandingkan dengan lahan sawah irigasi teknis maka sawah irigasi setengah teknis akan memperoleh jumlah dan frekuensi air irigasi yang lebih sedikit. Dengan demikian penyegaran dan tambahan substansi organic dan anorganik pada sawah irigasi setengah teknis juga akan lebih rendah. Diagnosis umum terhadap lahan sawah irigasi setengah teknis ini
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
143
Tabel 7. Perkembangan teknologi budi daya kedelai lahan sawah irigasi dari 1999-2003. Komponen teknologi
Input teknologi 1999
2000
2003
1. Persiapan lahan
TOT
TOT
TOT
2. Bedengan (m)/ Drainase (cm)
4-5
4-5
3
3. Varietas unggul
Wilis, Bromo, Kawi, Argomulyo
Wilis, Bromo, Argomulyo, Kawi
Anjasmoro, Wilis
4. Populasi (tan/ha)
400-500 ribu
400-500 ribu
400-500 ribu
5. Cara dan jarak tanam (cm)
Tugal, 40 x (10-15)
Tugal, 40 (10-15)
Tugal, 40 x 10
6. Pemupukan a. P. kandang (t/ha)
0-10
-
2,5
b. Pupuk N-P-K (urea-SP36-KCl kg/ha)
50-50-100
50-50-100
50-50-50
Sesuai kondisi
3x
Sesuai kondisi
Kuratif, insektisida
Kuratif insektisida
Biopestisida
7. Pengairan 8. Pengendalian OPT a. Hama*) b. Penyakit**)
Kuratif, fungisida
Kuratif, fungisida
Biopestisida
c. Gulma
Manual dan mulsa
Manual dan mulsa
Manual Masak fisiologis
9. Pascapanen a. Panen
90% daun rontok
95% daun gugur
b. Pengeringan
Sinar matahari
Sinar matahari
Sinar matahari
c. Perontokan
Manual/tresher
Manual/tresher
Manual/tresher
1,8-2,0
2,0-2,5
2,0-2,4
Balitkabi (1999)
Adisarwanto et al. (2003)
Adisarwanto et al. (2003)
10. Hasil biji (t/ha) Acuan
TOT = tanpa olah tanah *) Pengendalian hama dilakukan secara pemantauan menggunakan insektisida, antara lain Decis, Matador **) Pengendalian penyakit dilakukan dengan pemantauan menggunakan fungisida
adalah kekurangan unsur hara utama, yaitu NPK. Untuk itu tindakan pertama sebagai jalan keluar dilakukan pemupukan NPK. Hasil penelitian pemupukan NPK pada kedelai di lahan sawah Entisol dengan perlakuan petak omisi menunjukkan bahwa pengurangan pupuk K menyebabkan penurunan hasil kedelai, tetapi pengurangan pupuk N dan atau P, hasil kedelai tidak menurun secara nyata. Hal ini menunjukkan bahwa pada lahan sawah masih memiliki kemampuan memasok hara N dan P cukup. Kecukupan pasokan N ditopang oleh simbiose tanaman dengan bakteri Rhizobium, penambat nitrogen dari udara. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa untuk
144
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Tabel 8. Perkembangan teknologi budi daya kedelai lahan sawah irigasi dari 2004-2006. Komponen teknologi
Input teknologi 2004
2005
2006
1. Persiapan lahan
TOT
TOT
TOT
2. Bedengan (m)/ Drainase (cm)
3-4
3-4
3-4
3. Varietas unggul
Mahameru, Baluran, Anjasmoro
Sinabung, Kaba, Baluran
Anjasmoro, Kaba
4. Populasi (tan/ha)
400-500 ribu
400-500 ribu
400-500 ribu
5. Cara dan jarak tanam (cm)
Tugal, 40 x 10
Tugal, 40 x 10
Tugal, 40 x 10
6. Pemupukan a. P. kandang (t/ha)
-
5
5
b. Pupuk N-P-K (ZA-SP36-KCl kg/ha)
100-0-100 atau 100-100-100
550-50-100
550-50-100
2-3 kali
2-3 kali
2-4 kali
a. Hama*)
Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
b. Penyakit**)
4x semprot insektisida
Fungisida
Pemantauan
c. Gulma
Mulsa jerami 5 t/ha
Mulsa jerami 5 t/ha
Mulsa jerami
7. Pengairan 8. Pengendalian OPT
9. Pascapanen a. Panen
Daun telah gugur Daun telah gugur
Masak fisiologis
b. Pengeringan
Sinar matahari
Jemur sinar matahari
Sinar matahari
c. Perontokan
Manual/tresher
Manual/tresher
Manual/tresher
1,2-2,30
1,95-2,2
1,75-2,75
Adisarwanto et al. (2004)
Adisarwanto et al. (2005)
Adisarwanto et al. (2006)
10. Hasil biji (t/ha) Acuan
TOT = tanpa olah tanah *) Pengendalian hama dilakukan secara pemantauan menggunakan insektisida, antara lain Decis, Matador **) Pengendalian penyakit dilakukan dengan pemantauan menggunakan fungisida
memperoleh hasil optimal di lahan sawah irigasi setengah teknis tanaman kedelai memerlukan pemupukan K (Tabel 9). Faktor pengelolaan tanaman yang meliputi penanaman benih yang daya tumbuh dan vigornya tinggi, tanam secepatnya setelah panen padi, penggunaan mulsa jerami, pengendalian gulma pada tanaman muda, dan
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
145
Tabel 9. Percobaan petak omisi pupuk NPK, pengaruhnya pada hasil kedelai varietas Wilis di lahan sawah Entisol Blitar, Mojosari, dan Boyolali pada MK 2005. Perlakuan pupuk N, P, K
Hasil biji kedelai (t/ha) Blitar
Mojosari
Boyolali
NPK (50 kg urea+100 kg SP36+100 kg KCl)/ha NP (50 kg urea+100 kg SP36)/ha NK (50 kg urea+100 kg KCl)/ha N (50 kg urea)/ha PK (100 kg SP36+100 kg KCl)/ha P (100 kg SP36)/ha K (100 kg KCl)/ha Tanpa pupuk (kontrol, residu pupuk padi) NPK+ (50 kg urea+100 kg SP36+150 kg KCl)/ha
1,84 1,71 tn 1,74 tn 2,03 tn 1,87 tn 2,02 tn 1,78 tn 1,95 tn 1,90 tn
2,81 2,19 * 2,90 tn 2,35 * 2,85 tn 2,94 tn 2,81 tn 1,94 * 3,02 tn
1,51 1,14 * 1,22 tn 1,13 * 1,54 tn 1,41 tn 1,07 * 1,08 * 1,71 tn
KK (%) BNT 0,05
10,1 0,56
8,4 0,397
12,2 0,301
* nyata pada uji beda nyata terkecil 0,05; tn = tidak nyata; KK = koefisien keragaman Sumber: Manshuri et al. 2006.
pengendalian hama, seringkali merupakan kunci keberhasilan budi daya kedelai pada lahan sawah berpengairan setengah teknis. Tanaman kedelai di lahan sawah irigasi, areal terluas justru terdapat pada lahan sawah irigasi setengah teknis, seperti di sebagian besar wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan NTB. Hal ini berkaitan dengan tingkat ketersediaan air yang tidak cukup untuk bertanam padi sawah, sehingga mengharuskan petani menanam palawija, termasuk kedelai.
Agrokelogi Sawah Tadah Hujan Agroekologi sawah tadah hujan umumnya memiliki produktivitas suboptimal karena memiliki faktor pembatas ketersediaan air yang kurang. Lahan sawah tadah hujan menggantungkan sumber air hanya dari curah hujan, sehingga penyegaran dan tambahan substansi organic dan anorganik dari air irigasi tidak ada. Perbaikan cara budi daya kedelai pada agroekologi sawah tadah hujan memberikan peluang peningkatan hasil beragam mulai dari rendah hingga cukup tinggi (Tabel 10 dan 11). Faktor pengendali hasil kedelai di lahan sawah tadah hujan cukup banyak, terutama: ketersediaan lengas tanah, ketersediaan hara tanah, cara tanam, varietas, pengendalian OPT, waktu tanam. Fluktuasi waktu tanam memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap hasil kedelai. Dengan demikian, stabilitas hasil kedelai dari musim ke musim sangat beragam. Produktivitas kedelai di lahan sawah tadah hujan dapat mencapai lebih dari 1 t/ha.
146
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Tabel 10. Pengaruh jarak tanam dan pemupukan terhadap hasil biji kedelai di lahan sawah tadah hujan Vertisol Ngawi pada MH 1991/1992. Perlakuan
Hasil biji (t/ha)
Cara petani Cara petani dengan jarak tanam teratur Cara petani ditambah pupuk Cara petani dengan jarak tanam teratur dan diberi pupuk
1,68 1,69 1,67 1,71
BNT 0,05
0,16 (tn)
Varietas Sungging (lokal); jarak tanam = 40 cm x 15 cm; Pemupukan = 50 kg urea+100 kg TSP+50 kg KCl/ha Sumber: Radjit dan Taufiq (1994) Tabel 11. Pengaruh cara budi daya terhadap keragaan pertumbuhan dan hasil kedelai di lahan sawah tadah hujan tanah Vertisol Ngawi pada musim tanam 1992/1993. Perlakuan A = Cara Petani B = Alt. Paket I C = Alt. Paket II BNT 5% KK (%)
Populasi tanaman/ha
Jumlah polong per tanaman
Hasil biji (t/ha)
180.000 a 470.000 b 480.000 b
32,5 b 18,2 a 19,7 a
1,01 a 1,44 b 1,39 b
10,25 15,4
5,16 12,7
0,18 10,4
A = teknologi petani; varietas kedelai Sungging (lokal) B = Alternatif paket I: varietas Wilis, jarak tanam 40 x 10 cm, 25 kg urea+50 kg TSP +50 kg KCl/ha; penyiangan 2x, pengendalian hama-penyakit 4x, perlakuan benih C = Alternatif paket II : varietas Wilis, jarak tanam 40 x 10 cm, 50 kg urea+100 kg PSP+100 kg KCl/ha, penyiangan 3 x, pengendalian hama-penyakit secara pemantauan, perlakuan benih Sumber: Manshuri (1994)
Kedelai pada lahan sawah tadah hujan dapat juga ditanam pada awal musim hujan, seperti halnya kedelai pada lahan tegal. Rotasi tanaman dapat dipilih: kedelai-padi-jagung; kedelai-padi-kedelai; kedelai-padi-kacang hijau atau tanaman palawija lain pada musim kemarau. Tanaman kedelai untuk lahan sawah tadah hujan untuk tanam awal musim hujan menghendaki varietas umur genjah (70-80 hari), dan waktu tanam secepatnya sehari setelah hujan pertama pada musim hujan.
Agroekologi Lahan Kering Lahan kering produktivitas tinggi dicirikan oleh kesuburan lahan tinggi, curah hujan memberikan jaminan kecukupan air (umumnya pada daerah dengan
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
147
tipe iklim A – C). Agroekologi lahan kering produktivitas tinggi terdiri atas lahan kering masam dan tidak masam. Lahan kering masam berpeluang untuk perluasan areal tanam kedelai, berlandaskan pertimbangan: (1) potensi luas lahan kering di luar Jawa yang terdiri dari lahan masam Ultisol cukup luas (LPT 1969, Arief 1988), (2) keterbatasan areal tanam dan panen kedelai di Jawa dan Bali, dan (3) alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian tinggi. Harapan tersebut akan dapat dipenuhi dengan strategi operasional sebagai berikut: (1) identifikasi wilayah lahan kering masam secara definitif (luas dan lokasi pasti) untuk perluasan areal tanam/panen tanaman kedelai, (2) pembagian dan pemetaan areal tanam kedelai menurut kelas kesesuaian tanaman kedelai, (3) menyediakan teknologi budi daya spesifik lokasi mengacu kelas kesesuaian lahan untuk tanam kedelai, (4) pengawalan penerapan teknologi budi daya baku tanaman kedelasi di tingkat petani, dan (5) mengamankan harga di tingkat petani, agar usaha produksi kedelai cukup kompetitif. Teknologi untuk lahan kering masam memiliki komponen utama sebagai berikut: (1) varietas unggul adaptif lahan kering masam, (2) ameliorasi tanah, (3) pupuk P dan K, (3) pengendalian OPT (hama, penyakit, gulma), dan (4) teknologi mekanisasi. Sedangkan komponen teknologi pelengkap atau pendamping meliputi (1) perlakuan benih dengan pupuk hayati, (2) populasi tanaman 400-500 ribu/ha atau jarak tanam 40 x 10-15 cm; 2 biji/lubang. Penggunaan amelioran tanah berupa kapur pertanian dalam bentuk CaCO 3 maupun Dolomit dan bahan organik untuk meningkatkan produktivitas lahan masam telah lama dianjurkan dan dikerjakan (Kamprath 1970, Mengel et al. 1987). Pengapuran akan efektif jika kejenuhan kemasaman (Al+H) > 10% dan pH tanah < 5 (Wade et al. 1986). Penelitian perbaikan kondisi lahan kering masam di Lampung Utara menunjukkan bahwa pemberian kapur 1 t/ha dan pupuk kandang 5 t/ha meningkatkan hasil rata-rata sebesar 87%, dan di lahan kering masam Sitiung pemberian kapur 1,7 t/ha meningkatkan hasil rata-rata sebesar 267%. Efek residu kapur pada musim tanam kedua masih memberikan peningkatan hasil sebesar 80% di Lampung Utara dan sebesar 59% di Sitiung (Arsyad 2000). Paket teknologi budi daya yang dianjurkan oleh Balitkabi (1999) untuk lahan kering masam Ultisol dengan komponen teknologi meliputi 1 t kapur pertanian +50 kg urea + 75 kg SP36 + 50 kg KCl /ha dapat mencapai hasil > 1,5 t biji kedelai/ha. Sudaryono et al. (2003) melaporkan bahwa teknik budi daya kedelai di lahan masam dengan komponen teknologi 50 kg urea+75 kg SP36+75 kg KCl + 3000 kg Dolomit + 2000 kg pupuk kandang + PPC Gandasil D dan B 2 g/l dengan varietas Tanggamus dapat mencapai hasil 1,71-2,52 t/ha.
148
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Hara P menjadi pembatas utama pada lahan kering masam pada umumnya. Dengan demikian, penetapan takaran pupuk P yang optimal pada lahan kering masam menjadi faktor yang penting. Hasil kajian penetapan takaran pemberian pupuk P di lahan kering masam dapat digunakan untuk menyusun pedoman penetapan kebutuhan P. Berdasarkan pengaruh pemupukan P terhadap respon hasil tanaman kedelai maka kurva respon tanaman terhadap pemupukan P ditetapkan pada masing-masing kelas hara P tanah (Gambar 1). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tanaman kedelai pada lahan ini yang mempunyai kelas hara P rendah, sedang dan tinggi berturut-turut memerlukan pupuk P sebesar 40 kg, 86 kg, dan 104 kg SP36/ha (Tabel 12). Pemupukan pada tanah pada status hara tinggi diperlukan hanya untuk mempertahankan status hara dalam tanah agar tetap terjaga sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman dengan baik.
30 y T = -0,0003x2 + 0,0723x + 18.143 R2 = 0,8216
Hasil (gr/tan)
25
y S = -0,0004x2 + 0,1123x + 12.639 R2 = 0,611
20 rendah sedang tinggi
15 10
y R = -0.0003x2 + 0.1377x + 3.392 R2 = 0.9924
5 0 0
50
100
150
200
250
Takaran pupuk (kg SP36/ha)
Gambar 1. Kurva respon tanaman kedelai terhadap pemupukan P pada setiap kelas ketersedian P pada lahan kering masam Lampung.
Tabel 12. Rekomendasi pemupukan P untuk tanaman kedelai pada setiap kelas ketersedian P pada lahan kering masam Lampung. Kelas hara P
Persamaan regresi
Rendah Sedang Tinggi
Y = -0,0003X2 + 0,1377X + 3,392 Y = -0,0004X2 + 0,1123X + 12,639 Y = -0,0003X2 + 0,0723X + 18,143
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
R2
Dosis optimum SP36 (kg/ha)
0,9924 0,6110 0,8216
104 86 40
149
Respon Tanaman Kedelai terhadap Pemupukan P di Lahan Petani Pengaruh pemupukan P di lahan petani terhadap pertumbuhan dan komponen hasil biji kedelai pada setiap status ketersediaan P disajikan pada Tabel 13. Pemupukan P meningkatkan berat biji per plot dan berat biji per hektar. Kenaikan hasil biji akibat pemberian P semakin menurun dengan semakin tingginya status P dalam tanah. Pengaruh pemupukan P terhadap hasil biji, baik hasil biji per plot maupun hasil biji per hektar hanya nyata
Tabel 13. Pengaruh pemupukan P pada berbagai status P tanah terhadap hasil biji per hektar tanaman kedelai di lahan kering masam Lampung, 2005. Perlakuan status P tanah
Takaran P (kg SP36/ha)
Hasil biji/ha (ton/ha)
Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah KK (%)
0 50 100 150 200
1,59 c 2,48 a 2,53 a 2,40 ab 2,30 b 3,98
Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah KK (%)
0 50 100 150 200
2,04 d 2,57 a 2,33 b 2,21 bc 2,17 cd 3,67
Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang KK (%)
0 50 100 150 200
2,18 2,19 2,42 2,28 2,28 4,52
a a a a a
Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi KK(%)
0 50 100 150 200
2,18 2,33 2,17 2,39 2,34 5,26
a a a a a
0 50 100 150 200
2,37 2,22 2,44 2,21 2,23 4,25
a a a a a
Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat KK(%)
tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi
Huruf dalam kolom yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata terkecil pada taraf kepercayaan 5%.
150
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
pada status hara P sangat rendah hingga rendah. Pada status hara P sedang hingga sangat tinggi pemupukan P tidak memberikan pengaruh yang berbeda dengan perlakuan tanpa pemupukan P. Hal ini menunjukkan bahwa pada berbagai status hara dalam tanah memerlukan pupuk untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang optimum. Hasil biji pada status P tinggi hingga sangat tinggi menunjukkan bahwa kenaikan hasil semakin rendah bahkan hasil biji semakin menurun dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk P pada tanah dengan status hara yang sudah tinggi berpotensi untuk menurunkan hasil karena pemupukan P dalam dosis yang besar menyebabkan terjadinya kompetisi dengan unsur hara lainnya, terutama Zn dan Fe. Perkembangan teknologi budi daya kedelai pada lahan kering, khususnya untuk lahan kering masam selama periode 1995-2006 dapat dilihat pada Tabel 14 dan 15. Penelitian pemuliaan telah menghasilkan varietas unggul adaptif lahan kering masam, seperti Slamet, Tanggamus, Sibayak, namun masih menghadapi masalah preferensi petani atau keinginan pasar. Takaran amelioran dapat dikurangi dari 2-3 t kapur/ha menjadi 0,5 t kapur/ha. Anjuran pemakaian pupuk organic, khususnya pupuk kandang dinilai terlalu tinggi untuk skala petani, yaitu antara 3-5 t/ha. Bahkan pada tahun 2004 dan 2005 pupuk kandang tidak dimasukkan dalam komponen anjuran paket teknologi budi daya kedelai lahan kering masam (Tabel 15). Anjuran pemakaian pupuk P dan K mengalami fluktuasi bergerak antara 50-100 kg/ ha dalam bentuk SP36 dan KCl. Faktor pengelolaan tanaman, termasuk tanam tepat waktu pada awal musim hujan, benih bermutu tinggi, tanaman bebas gulma, merupakan komponen budi daya penting untuk memperoleh produksi yang tinggi. Penanganan hasil panen pada tanaman kedelai musim hujan sering menjadi masalah, apabila panen terjadi bulan Januari – Februari, yang sering terjadi hujan terus menerus. Produktivitas kedelai musim hujan yang cukup tinggi, sering berhadapan masalah pengeringan dan pembijian, seperti pernah terjadi di usaha kedelai PT Patra Tani di Sumatera Selatan dan Proyek Benih Kedelai di Jambi pada tahun 1980-1990. Penanaman kedelai pada musim tanam kedua, setelah jagung, asalkan curah hujannya masih cukup, dapat mengatasi masalah penanganan pascapanen.
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
151
Tabel 14. Perkembangan teknologi budi daya kedelai lahan kering masam dari 1995-1999. Komponen teknologi 1. Persiapan lahan (bajak/meratakan) 2. Bedengan (m)/ Drainase (cm) 3. Ameliorasi lahan (t kapur/ha) 4. Varietas unggul
5. Cara dan jarak tanam (cm) 6. Pemupukan a. P. org. (t/ha) b. Pupuk N (kg urea/ha) c. Pupuk P (kg SP36/ha) d. Pupuk K (kg KCl/ha) e. PPC d. Pupuk hayati*) 7. Pengendalian OPT a. Hama**) b. Penyakit c. Gulma 8. Pascapanen a. Panen
b. Pengeringan c. Perontokan 9. Hasil biji (t/ha) Acuan
Input teknologi 1995
1998
1999
2/1 kali
2/1 kali
2/1 kali
2-3/ 25-30 2-3/3-4
2-3/ 25-30 2-3/4-5
1
Wilis, Kipas Putih, Kerinci, Dempo dll Tugal, 40 x (15-20)
Wilis, Kipas Putih, Kerinci, Dempo dll Tugal, 40 x (15-20)
Wilis, Kerinci, Slamet, Sindoro Tugal, 40 x 15
5-6 t p. kandang 50-75
3-5 t p. kandang 50-75
5 t p. kandang 50
100
75-100
75
100
50-75
50
-
Rhizoplus
Rhizoplus
PHT Pemantauan Manual/mekanis/ kimiawi
PHT Pemantauan Manual/ mekanis/kimiawi
Pemantauan Pemantauan Mekanis 2-3 kali
Daun telah rontok
Daun telah rontok
Jemur matahari Manual/mekanis 1,7 Arsyad & Syam (1995)
Jemur matahari Manual/mekanis 1,7 Arsyad & Syam (1998)
Daun rontok, 70% polong masak Jemur matahari Manual/mekanis 1,8 Balitkabi (1999)
MT = musim tanam *) Pupuk hayati (Rhizoplus, seperti Legin, Rhizogin, Nitragin) bersifat pilihan (optional), takaran 150-200 g/ha dicampur dengan benih (3-5 g Rhizoplus/kg benih) sebelum tanam **) Pengendalian hama dilakukan secara pemantauan menggunakan insektisida, antara lain Decis, Matador ***) Pengendalian penyakit dilakukan dengan pemantauan menggunakan fungisida
152
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Tabel 15. Perkembangan teknologi budi daya kedelai lahan kering masam dari 2000-2005. Komponen teknologi 1. Persiapan lahan (bajak/garu) 2. Bedengan (m)/ Drainase (cm) 3. Ameliorasi lahan (t kapur/ha) 4. Varietas unggul
5. Cara dan jarak tanam (cm) 6. Pemupukan a. P. org. (t/ha) b. Pupuk N (kg urea/ha) c. Pupuk P (kg SP36/ha) d. Pupuk K (kg KCl/ha) e. PPC d. Pupuk hayati*) 7. Pengendalian OPT a. Hama**) b. Penyakit
c. Gulma 8. Pascapanen a. Panen
b. Pengeringan c. Perontokan 9. Hasil biji (t/ha) Acuan
Input teknologi 2000
2004
2005
2/1 kali
Gembur
Intensif
-
-
3-5
1,0-3,0
0,5 t CaO (1,5 t dolomite) Tanggamus, Nanti, Sibayak
0,5 t dolomite
Wilis, Kerinci, Slamet, Sindoro
Kaba, Anjasmoro, Burangrang, Sinabung Tugal, 40 x (154-20)
Tugal, 40x(10-15)
40 x 10
5 t p. kandang 50
75
50
75
100
100
50
100
100
Rhizoplus
-
Nodulin
PHT Pemantauan
PHT Pemantauan
Mekanis 2-3 kali
2x, 15 dan 30 HST
PHT Pemantauan biopestisida 15-21 HST Manual, herbisida
Daun rontok, 90% polong masak jemur matahari Manual/mekanis 1,8 Adisarwanto et al. (2000)
Masak fisiologis
Jemur matahari Manual/mekanis 0,81-2,35 Marwoto et al.(2005)
Daun rontok, 90% polong masak jemur matahari Manual/mekanis 1,98-2,03 Adisarwanto et al. (2005)
MT = musim tanam *) Pupuk hayati (Rhizoplus, seperti Legin, Rhizogin, Nitragin) bersifat pilihan (optional), takaran 150-200 g/ha dicampur dengan benih (3-5 g Rhizoplus/kg benih) sebelum tanam **) Pengendalian hama dilakukan secara pemantauan menggunakan insektisida, antara lain Decis, Matador ***) Pengendalian penyakit dilakukan dengan pemantauan menggunakan fungisida
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
153
Agroekologi Lahan Kering Produktivitas Rendah Agroekologi lahan kering produktivitas rendah umumnya memiliki produktivitas sub optimal. Khusus agroekologi lahan kering masam memiliki titik kritis berupa tanah dengan kemasaman tinggi yang dibarengi kadar Aluminium tinggi. Ameliorasi lahan menjadi kunci penting untuk memperbaiki medium tumbuh agar tanaman kedelai dapat berproduksi optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ameliorasi lahan kering masam yang efektif adalah pemakaian kombinasi pupuk organik dan amelioran alam. Peranan amelioran zeolit dan pupuk kandang. Zeolit merupakan salah satu kelompok mineral alumina – silikat yang mempunyai sifat multistruktur dan multifungsi. Mineral ini pertama kali diketemukan oleh Freiherr Asxel Fredior Croustedt (Wibowo 2002). Unit dasar pembentuk zeolit adalah (SiO4)4-dan (AlO4)5-dalam bentuk tetrahedral. Unit-unit dasar tersebut saling berkaitan membentuk jaringan Si dan Al anionic dalam tiga demensi. Masingmasing atom oksigen terbagi di antara atom Si dan Al. Untuk setiap Si4+ yang digantikan oleh Al3+ dalam kisi kristal akan terbentuk muatan negative, muatan tersebut akan dinetralisasi oleh kation dari golongan alkali atau alkali tanah (Barrer 1982). Zeolit sebagai mineral alam dan dipakai sebagai stimulator dalam formula pupuk organik diharapkan memiliki daya pemulihan dan pelestarian kesuburan tanah dalam beberapa hal berikut: (1) kapasitas tukar kation zeolit 200-300 me/100 g, (2) daya adsorpsi air 1035% dari total beratnya, (3) memiliki daya sangga terhadap pH tanah. Di Indonesia mineral zeolit diketemukan di Cikalong, Tasikmalaya, dan Malang Selatan dan tergolong berkualitas terbaik di dunia dengan kandungan zeolit (mordenit) antara 55-85% dan nilai kapasitas tukar kation (KTK) antara 115117,6 me/100 g. Zeolit dari Cikalong Tasikmalaya dan Malang Selatan berturutturut memiliki KTK 156,5 dan 177,6 me/100 g (Suyartomo dan Husaini 1992). Peranan amelioran Dolomit kombinasi dengan pupuk kandang. Takaran ameloran dolomit, pupuk kandang, dan interaksi diantara keduanya menimbulkan ragam hasil kedelai secara nyata (Tabel 16). Kombinasi amelioran dolomit 300 kg/ha + 500 kg pupuk kandang/ha memproduksi biji kedelai tertinggi 21,02 g/rumpun. Peranan amelioran Formula-1 kombinasi dengan pupuk kandang. Amelioran Formula-1 adalah amelioran yang terbuat dari pupuk kandang dicampur dengan Zeolit, batuan fosfat alam dengan perbandingan tertentu dan dicetak dalam bentuk pelet. Amelioran Formula-1 baru dibuat dalam skala laboratorium. Takaran amelioran Formula-1, pupuk kandang dan interaksi diantara keduanya meningkatkan hasil biji kedelai secara nyata pada tanah kering masam asal Lampung (Tabel 17). Kombinasi takaran
154
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Tabel 16. Berat biji kedelai pada kombinasi penggunaan amelioran pupuk kandang dan dolomit musim tanam 2005. Dolomit (kg/ha)
Berat biji kedelai (gr per rumpun) 0 (kg/ha pk)1)
0 150 300 450 600
12,93 16,38 12,97 14,01 14,52
g de g fg efg
Rata-rata BNT 0,05
14,16 c 0,99
500 16,34 20,40 21,02 19,19 19,41
1000 de ab a ab ab
19,27 a 0,99
15,57 16,07 16,93 18,76 14,34
1500 def def cd bc efg
16,33 b 0,99
12,92 16,10 16,84 15,63 16,81
Rata-rata g def cd def cd
15,66 b 0,99
14,44 17,24 16,94 16,90 16,27
b a a a a
1,10
KK : 8,12%.; BNT interaksi pupuk kandang x dolomit pada aras murad 5% = 2,21 1) pk = pupuk kandang, dengan dosis berturut-turut: 0; 500; 1000; dan 1500 kg/ha.
Tabel 17. Berat biji kedelai pada kombinasi penggunaan amelioran pupuk kandang dan amelioran Formula I (FOR-1) musim tanam 2005. Berat biji kedelai (gr per rumpun)
Formula I (kg/ha) 0 (kg/ha pk)1)
500
0 150 300 450 600
11,69 12,82 14,14 14,56 14,06
13,58 16,19 17,37 29,12 24,04
Rata-rata BNT 0,05
13,45 c 1,47
k k hijk hijk ijk
1000 ijk ghij fgh b d
20,06 ab 1,47
12,63 24,62 27,67 22,02 20,10
1500 k cd bc de ef
21,41 a 1,47
13,31 16,20 16,60 18,86 34,68
Rata-rata jk ghij ghi fg a
19,87 b 1,47
12,80 17,46 18,95 21,07 23,22
d c c b a
1,64
KK : 10,56%; BNT interaksi pupuk kandang x Formula-1 pada aras murad 5% = 3,28 1) pk = pupuk kandang, dengan dosis berturut-turut: 0; 500; 1000; dan 1500 kg/ha.
amelioran Formula-1 + 1500 kg pupuk kandang/ha memperoleh hasil kedelai tertinggi sebesar 34,68 g/rumpun. Peranan amelioran Kapur kombinasi dengan pupuk kandang. Takaran amelioran kapur, pupuk kandang, dan interaksi diantara keduanya menimbulkan ragam hasil biji kedelai pada tanah masam dari Lampung. Kombinasi takaran amelioran kapur 600 kg + 1000 kg pupuk kandang/ha memproduksi hasil tertinggi sebesar 22,40 g/rumpun (Tabel 18). Kajian Pemakaian Amelioran Dolomit Dan Pupuk Kandang Di Lapangan. Hasil biji kedelai tertinggi sebesar 2,65 t/ha diperoleh pada kombinasi pemberian amelioran 450 kg Dolomit + 500 kg pupuk kandang/
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
155
Tabel 18. Berat biji kedelai pada kombinasi penggunaan amelioran pupuk kandang dan kapur musim tanam 2005.
Kapur (kg/ha)
Berat biji kedelai (gr per rumpun) Pupuk kandang (kg/ha) 0 (kg/ha pk)1)
0 150 300 450 600
11,70 12,93 13,53 13,77 13,20
h gh efgh efgh fgh
Rata-rata BNT 0,10;
13,03 d 1,39
500 14,14 16,04 14,73 14,03 13,83
1000 efgh defg efgh efgh efgh
13,13 19,22 21,44 16,42 22,40
14,56 c 1,39
1500 fgh bc ab cde a
14,50 17,92 13,73 18,24 16,08
18,52 a 1,39
Rata-rata efgh cd efgh cd def
16,10 b 1,39
13,37 16,53 15,86 15,62 16,38
b a a a a
1,56
KK : 12,53%; BNT interaksi pupuk kandang x kapur pada aras murad 5% = 3,12 1) pk = pupuk kandang, dengan dosis berturut-turut : 0; 500; 1000; dan 1500 kg/ha.
Tabel 19. Hasil biji kedelai pada kombinasi amelioran dan pupuk kandang pada lahan kering Ultisol Lampung, MH 2005-2006. Perlakuan Dolomit (kg/ha)
Hasil biji kedelai (t/ha) 0 (kg/ha pk)1) 500
0 150 300 450 600
1,94 2,27 2,00 1,94 1,79
gh bcdef efgh gh h
Rata-rata BNT 5% Persen
1,99 b 0,13 100,00
2,21 2,25 2,19 2,38 2,39
bcdefg bcdef cdefg abc abc
2,29 a 0,13 115,08
1000
1500
2,25 2,22 2,49 2,10 2,57
1,99 2,28 2,19 2,67 2,36
bcdef bcdefg ab defg a
2,33 a 0,13 117,09
fgh bcde cdefg bcdef abcd
2,22 a 0,13 105,71
Rata-rata
Persen
2,10 2,25 2,22 2,17 2,28
100 107 106 103 109
b a ab ab a
0,14 -
-
KK 7,74%; BNT interaksi pupuk kandang x dolomit pada aras murad 5% = 0,28 1) PK =pupuk kandang
ha, atau meningkat sebesar 52,30% dibanding kontrol (Tabel 19). Berdasarkan nilai rata-rata pemanfatan amelioran dolomit maka peningkatan tertinggi diperoleh pada takaran 450 kg/ha; sedang pada pupuk kandang peningkatan tertinggi dicapai pada takaran 1000 kg/ha. Tanggap tanaman kedelai terhadap amelioran zeolit dan pupuk kandang di lahan petani menunjukkan hasil tertinggi diperoleh dari kombinasi perlakuan pemakaian zeolit 600 kg/ha ditambah 1500 kg pupuk kandang (Tabel 20). Akan tetapi hasil optimal nampaknya terjadi pada kombinasi amelioran yang lebih ringan.
156
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Tabel 20. Hasil biji kedelai pada kombinasi amelioran dan pupuk kandang pada lahan kering Ultisol Lampung, MH 2005-2006. Perlakuan Zeolit (kg/ha)
Hasil biji kedelai 0 (kg/ha pk)1)
500
1000
1500
Rata-rata
0 150 300 450 600
1,85 1,88 2,04 2,03 2,19
2,23 1,92 2,17 2,03 2,05
2,12 1,85 2,13 1,97 2,23
2,14 1,78 2,02 2,22 2,27
2,06 1,86 2,09 2,06 2,18
Rata-rata
2,00
2,08
2,06
2,09
2,06
a b a a a
KK 9,41%; 1) pk = pupuk kandang, dengan dosis berturut-turut : 0; 500; 1000; dan 1500 kg/ha.
Hasil penelitian pemakaian amelioran dan pupuk organik, pada percobaan pot di rumah kaca dan di lapangan diperoleh gambaran bahwa keempat jenis amelioran, bentuk tunggal seperti dolomit, zeolit, kapur dan Formula-1 atau kombinasi dengan pupuk kandang menunjukkan pengaruh positif dan berpeluang untuk dipakai pada usahatani tanaman kedelai di lahan kering masam. Pemakaian kombinasi lebih dianjurkan oleh karena memiliki sinergi yang dapat meningkatkan produksi dan perbaikan daya dukung lahan kering masam Ultisol yang memiliki harkat kesuburan rendah.
Keragaan Uji Paket Teknologi Budi Daya Kedelai Keragaan hasil kedelai dengan ragam perlakuan paket teknologi kedelai di lahan kering masam disajikan pada Tabel 21. Paket lengkap yang terdiri atas tujuh komponen (Varietas unggul Sinabung, Perlakuan benih dengan nodulin, Ameliorasi tanah: 518 kg CaO/ha = 1,65 t dolomit/ha, Populasi tanaman = 400-500 ribu/ha (jarak tanam: 40x15-40x10 cm; 2 biji/lubang), Drainase: interval 3-5 m, Pemupukan NPK = 75 kg urea+100 kg SP36+100 kg KCl/ha, Pengendalian OPT: pemantauan, dan herbisida pra tumbuh) menghasilkan 1,85 t/ha biji kedelai. Paket lengkap ditambah pupuk hayati berupa inokulum mikoriza menghasikan 2,03 t/ha atau meningkat sebesar 10% atau meningkat sebesar 95% dibandingkan tanaman petani. Nuraini (1998) mengemukakan bahwa ada interaksi positif antara penggunaan inokulum rizobium dan mikoriza (Gigaspora margarita) pada tanaman kedelai. Penggunaan inokulum rizobium dan mikoriza secara bersama dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai, serta meningkatkan efisiensi pemupukan N dan P pada Alfisol.
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
157
Tabel 21. Hasil kedelai dengan ragam paket budidaya di lahan kering masam Ultisol produktivitas tinggi di Rumbia, Lampung Tengah, MH 2005-2006. Perlakuan1) Lengkap - Nodulin - Dolomit - pp. N - pp. NP - p. NPK - pg.OPT - pg.Glma - ktr. Petni - Dol+Zeol +Mkrz - Nod+Mkrz
Hasil biji kedelai (t/ha) Srikam 1 Srikam 2 2,08 2,30 2,46 2,40 2,51 2,58 2,22 2,40 1,36 2,09 2,31 2,31
2,28 2,35 2,43 2,19 3,57 2,28 2,17 2,51 1,22 2,27 2,65 2,44
Yanto 1
Yanto 2
Santo 1
Santo 2
Rata-rata
2,08 2,08 2,40 2,00 2,14 1,86 2,40 2,56 1,06 1,81 2,35 3,02
1,22 1,17 1,19 1,06 1,22 1,01 1,03 1,06 0,69 1,03 1,01 1,03
1,77 1,72 1,62 1,76 1,42 1,78 1,57 2,02 0,89 1,47 1,43 2,04
1,68 1,97 1,80 2,44 1,64 1,85 1,43 1,24 1,04 1,70 2,45 2,01
1,85abcz 1,93abc 1,98abc 2,05 ab 2,08 ab 1,89abc 1,80 bc 1,97abc 1,04 d 1,73 c 2,03abc 2,14 a
KK = 15,14%; BNT 0,05 = 0,33 1) Keterangan perlakuan lihat pada uraian makalah
Hasil kedelai tertinggi diperoleh dari perlakuan lengkap dikurangi inokulum noduline namun ditambah pupuk hayati mikoriza 5 g/rumpun yang mampu menghasilkan 2,14 t/ha atau meningkat 15% dibanding paket lengkap, dan meningkat 105% dibandingkan dengan teknik petani. Hal ini memberikan petunjuk bahwa pada lahan kering masam dengan produktivitas tinggi peran mikoriza penting di samping noduline yang utamanya berisi rizobium. Petani progresif umumnya telah menggunakan input sarana produksi berupa amelioran (dolomit, kaptan, zeolit, dan sebagainya), pupuk organik (pupuk kandang kotoran sapi, ayam), pupuk SP36 dan urea. Aplikasi amelioran dan pupuk kandang secara insindentil maupun rutin memiliki daya merehabilitasi lahan kering masam. Pemakaian SP36 secara rutin setiap musim tanam akan meningkatkan kation Ca dalam tanah sehingga meningkatkan ketersediaan Ca sebagai nutrisi dan atau mengurangi kejenuhan Aluminium. Keragaan pertumbuhan dan hasil kedelai di lahan kering masam produktivitas rendah berbeda dengan di lahan kering masam produktivitas tinggi. Pada lahan kering masam produktivitas rendah, hasil tertinggi dicapai pada penerapan teknologi budi daya dengan paket lengkap, meliputi 7 komponen teknologi (Varietas unggul Sinabung, Perlakuan benih dengan nodulin, Ameliorasi tanah: 518 kg CaO/ha = 1,65 t dolomit/ha, Populasi tanaman = 400-500 ribu/ha (jarak tanam: 40 cm x 15 cm; 2 biji/lubang), Drainase: interval 3-5 m, Pemupukan NPK = 75 kg urea+100 kg SP36+100 kg KCl/ha, Pengendalian OPT: pemantauan, dan herbisida pra tumbuh) menghasilkan 1,39 t/ha biji kedelai. Kebutuhan input lengkap tersebut sesuai 158
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Tabel 22. Hasil tanaman kedelai pada ragam uji paket budidaya di lahan kering masam Ultisol produktivitas rendah di Rumbia, Lampung Tengah MP 2005-2006. Perlakuan 1) Lengkap - Nodulin - Dolomit - pp. N - pp. NP - p. NPK - pg.OPT - pg.Glma - ktr. petni - Dol+Zeol - Mkrz - Nod+Mkrz
Hasil biji kedelai (t/ha) Habsoro 1
Habsoro 2
Habsoro 3
Darni 1
1,22 1,17 1,06 1,19 1,01 1,19 1,06 1,06 0,77 1,22 1,01 1,19
1,22 1,17 1,19 1,06 1,22 1,01 1,03 1,06 0,69 1,03 1,01 1,03
1,57 1,50 1,36 1,53 1,57 1,50 1,53 1,57 0,78 1,36 1,30 1,32
1,53 1,38 1,36 1,49 1,57 1,21 1,36 1,53 0,75 1,38 1,38 1,45
Rata-rata 1,39 1,31 1,24 1,32 1,34 1,23 1,25 1,31 0,75 1,25 1,18 1,25
a abc bcd abc ab cd bcd abc e bcd d bcd
KK 7,85 %; BNT 0,05 = 0,11 Angka rata-rata yang diikuti huruf yang berbeda nyata pada uji beda terkecil pada aras murad 5% 1) Keterangan perlakuan lihat pada uraian makalah
dengan kemampuan tanah yang rendah mengingat karakter kesuburan keharaan pada umumnya berstatus rendah, kadar bahan organik tanah rendah, kadar Aldd cukup tinggi dan kejenuhan Aldd lebih dari 40%. Hasil yang dicapai ini secara nyata lebih tinggi sebesar 85% dibandingkan dengan teknologi petani (Tabel 22). Pengurangan satu komponen atas paket lengkap sudah menurunkan hasil biji kedelai.
PTT Kedelai di Lahan Kering Masam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) kedelai, memiliki makna suatu pendekatan dalam budi daya tanaman kedelai yang menekankan pada pengelolaan tanaman, lahan, air, dan organisme pengganggu secara terpadu. PTT memiliki prinsip pendekatan holistic (holistic approach), menekankan pada prinsip partisipatori yang menempatkan pengalaman, keinginan, dan kemampuan petani pada posisi penting dalam menerapkan teknologi. PTT memperhatikan keberagaman lingkungan pertanaman dan kondisi petani sehingga penerapan teknologi di suatu tempat mungkin sekali berbeda dengan tempat yang lain. Ada sejumlah faktor mendasar perlunya penerapan konsep PTT kedelai, yaitu: (1) luas area tanam kedelai dari tahun ke tahun terus menurun, (2) produksi nasional tahunan kedelai selama dekade terakhir terus menurun, (3) impor kedelai dari tahun ke tahun terus meningklat sehingga menyerap Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
159
devisa negara yang tinggi, (4) Indonesia memiliki potensi lahan untuk dapat ditanami kedelai yang luas. Penerapan pendekatan PTT untuk pengembangan kedelai di Indonesia didasarkan atas: (1) kajian akan kebutuhan dan aspirasi petani setempat, (2) perlunya memadukan pengelolaan lahan, air, tanaman, dan organisme pengganggu tanaman sesuai kemampuan petani, (3) kesesuaian, keserasian, interaksi dan sinergi antar komponen teknologi, dan (4) sistem budi daya yang dinamis sesuai dengan perkembangan teknologi dan kemampuan petani. Teknologi yang dirakit dalam pendekatan PTT kedelai, meliputi: (1) benih bermutu dari varietas unggul yang cocok; (2) penyiapan lahan yang sesuai, (3) pengelolaan tanaman yang tepat, mecakup cara tanam, populasi tanaman, jarak tanam, dan sebagainya, (4) pengembalian seresah sisa panen dan pupuk organik, (5) penambahan pupuk anorganik sesuai kebutuhan tanah, (6) pengaturan kelengasan tanah, antara lain dengan memakai mulsa, pengaturan air irigasi, dan pemakaian bahan pembenah tanah (soil conditioner), (7) pengendalian OPT sesuai kaidah pengendalian hama terpadu (PHT), dan (8) penanganan pascapanen yang tepat. Pendekatan PTT kedelai memiliki pertimbangan terhadap sumber daya alam (tanah, air, luas lahan, iklim), sumber daya hayati (varietas, OPT), petani (pelaku sistem produksi). Balitkabi telah merumuskan paket teknologi budi daya kedelai yang terdiri atas tujuh komponen seperti diuraikan di atas. Keragaan hasil dan nilai ekonomi usahatani PTT kedelai lahan kering masam musim tanam 2006 di Lampung Tengah disajikan pada Tabel 23. Berdasarkan nilai nisbah B/C dapat diketahui bahwa usahatani kedelai di lahan kering masam masih cukup memberikan keuntungan yang cukup tinggi. Insentif harga yang rendah disebabkan membanjirnya kedelai impor menghambat adopsi pendekatan PTT pada kedelai. Tabel 23. Hasil kedelai dan nilai ekonomi usahatani kedelai di lahan kering masam Buminabung Ilir, Lampung Tengah MH I 2006. Varietas Sinabung Burangrang Kaba
Jumlah petani
Hasil biji ka. 12% (t/ha)
Pendapatan kotor (Rp/ha)
Pendapatan bersih (Rp/ha)
Nilai nisbah B/C
11 7 8
1,95 1,76 2,02
6.825.000 6.160.000 7.070.000
2.678.240 2.153.240 3.063.240
0,70 0,54 0,76
Harga kedelai pada saat panen Rp 3.500/kg. Sumber: Adisarwanto et al. (2006).
160
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Agroekologi Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Lahan rawa dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut. Lahan rawa lebak memiliki ciri genangan dengan sumber dari air hujan atau dari luapan sungai. Sedang lahan rawa pasang surut memiliki ciri genangan yang berasal dari pengaruh air pasang dan air surut dari laut. Lahan ini pada kondisi tidak tergenang merupakan wilayah potensial juga untuk pengembangan (ekstensifikasi) areal tanam kedelai. Teknologi budi daya kedelai untuk lahan pasang surut kurang berkembang sehingga kemajuan teknologi masih sangat terbatas seperti terlihat pada Tabel 24. Pada tahun 2005 telah tersedia varietas unggul adaptif lahan rawa tipe C dan D, yaitu varietas Lawit dan Menyapa. Lahan rawa pasang surut dapat dibedakan menurut jenis tanah, yaitu tanah mineral dan tanah gambut (organik). Tanah gambut juga dirinci menjadi dua, yaitu gambut dangkal dengan tebal solum < 1 m, dan tanah gambut dalam dengan tebal solum > 1 m. Lahan pasang surut juga dapat dibedakan menurut tipe luapan dan kedalaman airnya, yaitu Tipe A, B, C dan D (Bhermana et al. 2004). Lahan pasang surut tipe luapan A selalu terluapi air pasang, baik pasang besar (spring tide) maupun kecil (neap tide), memiliki kedalaman genangan lebih dari 1 m dan waktu genangan cukup lama lebih dari 6 bulan, biasanya ditemui di daerah pantai atau sepanjang aliran sungai. Lahan rawa pasang surut tipe luapan B hanya terluapi oleh pasang besar dan terdrainase harian. Lahan pasang surut tipe luapan C merupakan lahan yang tidak pernah terluapi walaupun pasang besar, namun permukaan air tanah < 50 cm, drainase permanent dan air pasang mempengaruhi secara tidak langsung. Lahan rawa pasang surut tipe luapan D merupakan lahan yang tidak pernah terluapi dan permukaan air tanah lebih dalam dari 50 cm, drainase terbatas, penurunan air tanah terjadi selama musim kemarau pada saat evaporasi melebihi jumlah curah hujan. Lahan rawa pasang surut jenis tanah mineral dan gambut dangkal dengan tipe luapan B, C dan D potensial untuk pengembangan kedelai. Pola tanam pada lahan pasang surut tipe luapan B perlu dikaitkan dengan tipe iklim, yaitu: padi-padi untuk wilayah tipe iklim A1, B1 dan B2, sedangkan untuk tipe iklim C1 dan C2 adalah padi-padi atau padi-palawija. Pada lahan rawa pasang surut tipe C, sumber air utama adalah air hujan sehingga pola tanamnya adalah padi-palawija. Lahan rawa pasang surut tipe D lebih bersifat seperti lahan kering dengan sumber air utama dari curah hujan sehingga pola tanam untuk daerah tipe ini adalah padi-palawija/sayuran atau palawija-palawija/sayuran. Padi ditanam pada bulan Oktober/ November (MH) sedangkan kedelai pada bulan Maret. Waktu tanam optimal adalah pertengahan bulan Maret. Kendala utama produktivitas kedelai di lahan pasang surut adalah kemasaman tinggi (pH rendah), keracunan Al,
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
161
Tabel 24. Perkembangan teknologi budi daya kedelai lahan rawa Pasang Surut dari 19932003. Komponen teknologi
Input teknologi 1993
1999
2000
1. Waktu 2. Persiapan lahan 3. Bedengan (m)/ Drainasi (cm) 4. Varietas unggul
Maret-Juli Olah sempurna
Maret-Juli TOT/Minimal
5
4-5
Maret-Juli Olah tanah minimum 4-5
5. Populasi (tan/ha) 6. Cara dan jarak tanam (cm) 7. Ameliorasi (t/ha) 8. Pemupukan a. P. kandang (t/ha)b. Pupuk NPK (urea-SP36-KCl kg/ha) 9. Pupuk hayati*) 10. Pengendalian OPT a. Hama**) b. Penyakit
500 ribu 40 x 10
Wilis, Tampomas, Lokon Slamet, Kerinci, Dempo 400-500 ribu Tugal, 40 x 10
0,5 t kapur
1-2 t kapur
35-69-30 Legin
50-135- (50-100) – (100-150) Rhizobium
Pemantauan Pemantauan
PHT Pemantauan
2x (20,40hst)
Manual dan kimiawi
Konvensional
Daun telah gugur
1,31-1,48 Damanik (1993)
Sinar matahari Manual/tresher 1,3-2,0 Saleh et al. (1999)
c. Gulma***) 11. Pascapanen a. panen b. pengeringan c. perontokan 12. Hasil biji (t/ha) Acuan
Wilis, Dempo, Kerinci Singgalang 400-500 ribu Tugal, 40 x (10-15) 1 t kapur 50 – (100-150) Rhizobium pemantauan batas ambang ekonomi Herbisida pratumbuh atau manual 95% polong telah masak Sinar matahari Manual/tresher 1,50 Adisarwanto et al. (2000)
Pupuk hayati diberikan pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai; Insektisida pengendali hama merupakan pilihan akhir. ***) Herbisida pengendali gulma pra tumbuh antara lain Alachlor 480 g/l atau glifosat disemprotkan 2 hari sebelum tanam. *)
**)
Fe, atau S. Gangguan OPT sering tinggi, dan perlu mendapat perhatian demi keberhasilan usahatani tanaman kedelai. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang bersifat parsial memberikan gambaran bahwa peluang peningkatan produksi kedelai melalui perbaikan teknologi masih terbuka. Apabila penerapan inovasi teknologi budi daya kedelai dapat dilakukan pada semua daerah produksi kedelai maka
162
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
peningkatan produktivitas kedelai nasional menjadi 1,5-1,6 t/ha akan dapat dicapai. Bilamana pemerintah dapat menyediakan tambahan areal tanam kedelai satu juta hektar, maka tambahan produksi nasional sebesar 1,5 juta ton akan dapat dicapai sehingga dapat memenuhi dan mengimbangi permintaan kedelai dalam negeri untuk 2-3 tahun ke depan. Permintaan kedelai pada tahun 2010 adalah sekitar 2,089 juta ton, dan luas areal diperkirakan 579.822 ha dengan tingkat produktivitas 1,29 t/ha, dan produksi sebesar 0,745 juta ton sehingga akan mengalami kekurangan kebutuhan sebesar 1,344 juta ton (Sudaryanto dan Swastika 2007). Komitmen penambahan areal panen kedelai seluas satu juta hektar sebenarnya akan dapat mengakomodasi kekurangan kedelai dalam negeri.
KESIMPULAN Produktivitas kedelai di Indonesia masih dapat ditingkatkan. Titik masuk (entry point) teknologi pada agroekologi spesifik yang harus diperhatikan untuk perbaikan teknologi budi daya antara lain adalah: 1. Agroekologi lahan sawah irigasi teknis produktivitas optimal: Pupuk K perlu diberikan dengan takaran sekitar 100 kg/ha, untuk tanah yang didominasi tekstur lempung 1: 1 (clay) di samping pupuk K perlu ditambah pupuk S dengan takaran setara kandungan S pada 50 kg ZA/ha. 2. Agroekologi lahan sawah irigasi setengah teknis dan sawah tadah hujan paket teknologi terdiri pemakaian varietas unggul dan memerlukan pupuk lengkap, yaitu: 50 kg Urea + 50-100 kg SP36 + 75-100 kg KCl/ha. 3. Agroekologi lahan kering masam paket teknologi terdiri dari varietas unggul adaptif lahan masam, amelioran tanah dalam bentuk dolomit, zeolit atau kapur pertanian dengan takaran 300-500 kg/ha, pupuk organic dalam bentuk pupuk kandang kotoran sapi atau ayam dengan takaran 1-1,5 t/ha. 4. Agroekologi Lahan Rawa potensial untuk perluasan kedelai komponen teknologi terdiri atas varietas unggul adaptif, pupuk NPK, amelioran kapur, dolomit, atau zeolit, pengendalian OPT, dan pascapanen. 5. Kecukupan penyediaan air untuk mencapai kelengasan tanah optimal merupakan komponen budi daya kedelai yang sangat penting.
DAFTAR PUSTAKA Adisarwanto, T., Nasir Saleh, Marwoto, dan N. Sunarlim. 2000. Teknologi produksi kedelai. Puslitbangtan. Bogor. 25 p.
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
163
Adisarwanto, T, Riwanodjo, H. Kuntyastuti, Suhartina dan Marwoto. 2004. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada tanaman kedelai di lahan sawah. Laporan Akhir Tahun Penelitian TA. 2004. Balitkabi. Adisarwanto, T, Marwoto, D.M. Arsyad, A. Taufiq, D. Harnowo, Riwanodjo, H. Kuntyastuti, Suhartina, Heryanto, dan M. Rachmat. 2005. Verifikasi efektivitas dan efisiensi paket teknologi PTT kedelai di lahan sawah dan lahan kering. Laporan Akhir Tahun 2005. Balitkabi. Anwar, K. dan M. Z. Arifin. 1993. Takaran pupuk NPK pada kedelai di lahan pasang surut sulfat masam bergambut. p: 55-63. Dalam: M. Noor, S. Saragih, M. Willis, dan M. Damanik (Eds.). 1993. Hasil Penelitian Kedelai di Lahan Pasang Surut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan Banjarbaru. 165 p. Alwi, M. dan K. Anwar. 2004. Pengelolaan hara dan ameliorant di lahan gambut dangkal yang ditanami kedelai. Hal: 123-132. Dalam: Masganti, Muhrizal Sarwani, M. Noore, R. Massinai (Eds.). 2004. Prosiding Lokakarya Pengelolaan Lahan Pasang Surut di Kalimantan Tengah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah. Palangka Raya. 168 p. Arsyad, D.M. dan M. Syam. 1995. Kedelai: Sumber pertumbuhan produksi dan teknik budi daya. Puslitbangtan Bogor. 45 p. Arsyad, D.M. dan M. Syam. 1998. Kedelai: Sumber pertumbuhan produksi dan teknik budi daya. Puslitbangtan Bogor. 45 p. Balitkabi 1999. Paket teknologi produksi kedelai pada spesifik jenis tanah. p. 49-66. Dalam: Sunarlim, N. et al. (Eds.). 1999. Strategi Pengembangan Produksi Kedelai. Puslitbangtan. Bogor. Baharsjah, Yustika S., Didi Suardi, dan Irsal Las 1985. Hubungan Iklim dengan Pertumbuhan Kedelai. p. 87-1002. Dalam: Sadikin Somaatmadja et al. (Eds.). Kedelai. Badan Litbang Pertanian, Puslitbangtan. Bogor. Amien, I., A. Sofyan, dan M. Sudjadi. 1985. Pengaruh pengapuran terhadap sifat kimia tanah Ultisol Banten Jawa Barat. Pemb. Tanah dan Pupuk. No. 4: 6-10. Arief, Asdirman. 1988. Masalah lahan kering masam bukaan baru untuk tanaman pangan. p. 401-414. Dalam: M.Syam et al. (Eds.) 1990. Risalah Simposium II Penelitian Tanaman Pangan . Puslitbangtan Bogor. Arsyad, D.M. 2000. Pengaruh residu perbaikan kondisi lahan masam terhadap kedelai. Makalah Seminar Regional Ilmu Tanah, Univ. Jember 29 Juli 2000.
164
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Arsyad, D.M, M. M. Adie, H. Kuswantoro dan Purwantoro 2001. Usulan pelepasan varietas kedelai toleran lahan masam: Tanggamus, Sibayak dan Nanti, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbiumbian, 45 . Balitkabi . 1999. Paket Teknologi Kedelai pada spesifik jenis tanah. p. 49-66. Dalam: Sunarlim, N. et al. (1999) Strategi Pengembangan Produksi Kedelai. Puslitbangtan Bogor. Balitkabi. 2003. Laporan Tahunan Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian tahun 2003. 125 p. Balitkabi. 2004. Laporan Tahunan Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian tahun 2004. 125 p. Balitkabi. 2005. Laporan Tahunan Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian tahun 2005. (Proses cetak). Balitkabi. 2005. Rencana strategis 2005-2009 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Badan Litbang Pertanian. Puslitbang Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian. Baharsjah, Yustika S., Didi Suardi, dan Irsal Las 1985. Hubungan Iklim dengan Pertumbuhan Kedelai. p. 87-1002. Dalam: Sadikin Somaatmadja et al. (Eds.). Kedelai. Badan Litbang Pertanian, Puslitbangtan. Bogor. Barrer, R.M. 1982. Hydrothermal Chemistry of Zeolites, Academic Press. London. BPS. 2004. Statistik Indonesia. Jakarta 604 p. Biro Pusat Statistik 2000. Statistik Indonesia 1999. PPS Jakarta Biro Pusat Statistik. 2005. Production of secondary food crop in Indonesia. http://www.bps go.id/sector/agri/pangan/indexhunl. Buurman, P. 1980. Red Soil in Indonesia. Cent. for. Agr. Pub. and Doc. Wageningen. Deptan. 2004. Statistik Pertanian. Pusat Data dan Informasi Pertanian. Departemen Pertanian Jakarta. 280 p. Manshuri, A.G. 1994. Perbaikan budi daya tanaman kedelai di lahan sawah tadah hujan tanah Vertisol. p. 60-65. Dalam: A. Taufiq et al. (Eds.). Perakitan Teknologi Budi daya Tanaman Pangan untuk Tanah Vertisol. Edisi Khusus Balittan Malang. No. 2 1994. Manshuri, G., A. Wijanarko, A. Taufiq, dan U. Sembodo. 2006. Neraca hara pada tanaman kedelai. Laporan Teknis Penelitian Akhir tahun 2005. Balitkabi.
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
165
Hakim, N., Agustian dan Syafrimen. 1989. Effect of lime fertilizers and crop residues on yield and nutrient uptake of upland rice, soybean, and maize intercropping system. p. 349-360. In J. van der Heide (Ed). Nutrient Management for Food Crop Production in Tropical Farming System. Institute for soil Fertility and Universitas Brawijaya Malang. Halliday, D.J. dan M.E.Trenkel 1992. IFA World Fertilizer Use Manual. International Fertilizer Industry association (IFA). Paris. Hartatik, W. dan J. S. Adiningsih. 1987. Pengaruh pengapuran dan pupuk hijau terhadap hasil kedelai dan pada tanah Podsolik Sitiung di Rumah Kaca. Pemb. Pen. Tanah dan Pupuk. No. 7: 1-4. Kamprath, E.J. 1970. Exchangeable Al as a criterion for liming leached mineral soil. Soil Sci. and Amer. Proc. 34: 252-254. Kasno, A. dan M. Jusuf. 1994. Evaluasi plasma nutah kedelai untuk daya adaptasi terhadap kekeringan. J. Ulmu Pertanian Indonesia 4:12-15. Kuntyastuti, H., A. Taufiq, R. D. Purwaningrahayu dan A. Wijanarko. 2006. Dinamika hara N, P, dan K pada berbagai teknik pengelolaan di lokasi PTT. Laporan Teknis Penelitian TA 2005. Balitkabi. Lembaga Penelitian Tanah. 1969. Kemungkinan perluasan areal pertanian di dataran Indonesia. Menara Perkebunan Vol. 38 (3/4): 6-15. Mengel, D.B., W. Segars and G.W.Rehnm. 1987. Soil fertility and liming. p. 461496. In: J.R. Wilcox (Ed) Soybean, Improvement and Uses. Second Ed. ASA, Madison. Marwoto, Dewa K.S. Swastika, dan P. Simatupang. 2005. Pengembangan kedelai dan kebijakan penelitian di Indonesia. Makalah Lokakarya Pengembangan kedelai di lahan suboptimal di Balitkabi Malang, tanggal 26 Juli 2005. 19 p. Radjit, B. S. Dan A. Taufiq. 1994. Beberapa alternatif budi daya kedelai dan pemupukan di lahan tadah hujan tanah Vertisol di kabupaten Ngawi. p. 48-59. Dalam: A. Taufiq et al. (Eds.). Perakitan Teknologi Budi daya Tanaman Pangan untuk Tanah Vertisol. Edisi Khusus Balittan Malang. No. 2 1994. RIPP-Balitkabi. 2004. Rencana Induk Program Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian tahun 2005-2009. Rumbaina, Dewi, Amrizal, Widiyantoro, Marwoto, A.Taufiq, H. Kuntyastuti, D.M.A. Arsyad, dan Heriyanto. 2004. Pengembangan kedelai melalui Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di lahan masam. Makalah Lokakarya Pengembangan Kedelai Melalui Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu. p. 61-72. di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung Lampung 30 September 2004. 166
Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan
Shibusawa, Sakae. 2002. Precision Farming Approach to Small-Farm Agriculture. Food and Fertilizer Technology Center. Technical Bulletin 160. Soenarto. 1996. Unsoed 1 (Slamet) dan Unsoed 2 (Sindoro), kedelai toleran tanah masam dan berdaya hasil tinggi, p. 33-44. Dalam: Soenarto (Eds.): Prosiding Seminar edelai. Univ. Soedirman, Purwokerto. Specht, J.E. and G.L. Graef. 1989. Dual assessment of drought tolerance and irrigation responsiveness in soybean cultivar. In A.J. Pascale (Eds.). World Soybean Research Conference IV. Buenos Aires Argentina. Sudaryono, H. Kuntyastuti, D. M. Arsyad, dan Purwantoro. 2003. Teknologi Budi daya Kedelai di lahan kering masam Lampung. p. 98-106. Dalam: Hardaningsih, S. et al. (2004). Teknologi Inovatif Agribisnis Kacangkacangan dan Umbi-umbian. Puslitbangtan Bogor. Sudjadi, M., J. Sri Adiningsih, dan I.P.G. Widjaja-Adhi. 1988. Pengelolaan lahan masam untuk tanaman pangan. p. 385-402. Dalam: M. Syam et al. (Eds.) 1990. Risalah Simposium II. Penelitian Tanaman Pangan. Puslitbangtan Bogor. Sumarno, T. Sutarman and Soegito. 1989. Grain legumes breeding for wetland and for acid soil adaptation. Cent. Res.Inst. For Food Crops. 63 p. Suyartomo dan Husaini. 1992. Kegiatan Litbang Zeolit Indonesia Periode 1980-1981. Majalah Pertambangan dan energi No. 5/thn XVII/1992. p. 52-61. Tengkano, W. , Supriyatin, Suharsono, Bedjo, Yusmani P., dan Purwantoro. 2005. Status hama kedelai dan musuh alaminya di lahan kering masam, Propinsi Lampung. Makalah Lokakarya dan Seminar Nasional Peningkatan Produksi Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Mendukung Kemandirian Pangan. Malang, 26-27 Juli 2005. Wibowo, H. 2002. Proses aktivasi Zeolit sebagai soil conditioner. Skripsi S-1. Jurusan Teknik Kimia Fak. Teknologi Industri universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Surabaya. 47 p. Widjaja-Adhi, I Putu G. 1985. Pengapuran tanah masam untuk kedelai. p. 171-188. Dalam: Sadikin Somaatmadja et al. (Eds.). Kedelai. Badan Litbang Pertanian, Puslitbangtan. Bogor.
Sudaryono et al.: Produksi Kedelai di Indonesia
167