BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Perkembangan Public Relations di Indonesia dewasa ini sangat
signifikan. Semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan peran dan fungsi Public Relations karena mereka sadar bahwa mengelola hubungan dengan publik menjadi salah satu faktor yang juga mempengaruhi perkembangan bisnis suatu perusahaan. Divisi Public Relations (PR) diperlukan untuk mengembangkan hubungan dan melihat apa yang publik inginkan. PR dalam kegiatan hariannya memiliki peran yang penting terhadap bagian internal yaitu perusahaan, serta terhadap bagian eksternal yaitu publik atau masyarakat. Peran yang terlihat paling penting dari PR adalah mengatur atau mengelola arus informasi antara pihak internal dan publik eksternal. (dikutip dari www.perhumasmuda-medan.com) Dominick (dalam Morissan, 2010:5) menyatakan bahwa pada paruh kedua abad ke-20, masyarakat Amerika mengalami perubahan sosial yang cukup signifikan sehingga menciptakan iklim yang memungkinkan humas berkembang dengan sangat cepat. Perubahan tersebut bisa dikatakan sama dengan yang dialami di Indonesia. Hal-hal yang menyebabkan perubahan tersebut antara lain: -
Pemilik dan pengelola perusahaan sudah mulai sadar bahwa mereka juga memiliki tanggung jawab sosial (corporate social responsibility) untuk turut serta menjaga keselamatan lingkungan dan masyarakat. Manajemen
1
perusahaan mencari cara untuk dapat memenuhi tanggung jawab tersebut, yaitu dengan mendirikan bagian humas yang diberi tanggung jawab untuk mengurus masalah itu. -
Meningkatnya
kebutuhan
masyarakat
terhadap
barang
dan
jasa
(konsumerisme) mendorong perusahaan untuk lebih responsif dan komunikatif kepada para pelanggan atau klien mereka. Perusahaan harus cepat tanggap untuk menangkap perubahan selera dan kebutuhan konsumen agar bisa terus bertahan. Perusahaan menyerahkan tugas ini kepada bagian humas. -
Semakin meningkatnya jumlah populasi, semakin terspesialisasi pekerjaan dan semakin tinggi tingkat mobilitas masyarakat mendorong perusahaan untuk memiliki orang-orang yang ahli di bidang komunikasi untuk menginterpretasikan kebutuhan khalayak dalam upaya memenangkan persaingan.
-
Semakin besar suatu perusahaan, semakin kompleks bisnis yang dijalankan, membuat perusahaan semakin sulit untuk menyampaikan pesan kepada khalayak tanpa adanya suatu bagian yang secara khusus menangani urusan itu. (Dominick dalam Morissan, 2010:5-6)
PR merupakan bagian terpenting dari komunikasi yang bertujuan memperkenalkan dan mengangkat citra positif suatu organisasi atau perusahaan tertentu, baik secara internal maupun eksternal. Tujuan PR secara umum adalah menciptakan dan memelihara saling pengertian antara organisasi atau perusahaan
2
dengan publiknya, sehingga dengan demikian akan tercipta hubungan yang baik antara keduanya. Oleh karena alasan inilah semakin banyak perusahaan yang menyadari pentingnya peran PR bagi keberlangsungan perusahaan mereka. (dikutip dari www.perhumasmuda-medan.com) Beberapa sumber mengatakan bahwa praktik PR di Indonesia sudah berlangsung sejak tahun 1950-an seiring dengan keberadaan Departemen Penerangan. Pada tahun 1967 berdiri sebuah organisasi pemerintah yang bernama Bakohumas atau Badan Koordinasi Humas di Indonesia. Saat itu, Divisi Humas atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Public Relations belum banyak dimiliki oleh perusahaan swasta. Kemudian pada tahun 1972 berdirilah sebuah organisasi PR swasta yang bernama Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat). Pekerjaan Public Relations di zaman sekarang jauh lebih mudah bila dibandingkan dengan PR pada tahun-tahun sebelumnya. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, pekerjaan PR bergerak standar pada kegiatan pengiriman fax, pengisian media kit, mengulik direktori alamat-alamat media untuk menyusun media list, dan memindai serta mengarsip pemberitaan dari koran tentang perusahaan terkait. Bahkan untuk menjangkau perhatian publik melalui media untuk kampanye produk secara nasional, para praktisi PR dan perusahaan terkait harus siap untuk mengeluarkan biaya jutaan rupiah. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, kegiatan PR banyak yang dilakukan secara digital dan tentu saja menghemat lebih banyak biaya. (dikutip dari www.fortunepr.com)
3
Hal serupa juga dikatakan oleh Salman Firdaus, salah satu PR Consultant di perusahaan konsultan PR, PT Prasasta Cipta Artha. Salman mengatakan bahwa profesi PR di Indonesia sangat berkembang. Dari yang ia pelajari, sekitar sepuluh tahun yang lalu profesi PR masih dipandang sebelah mata. Profesi PR dilihat bukanlah sebagai sesuatu yang penting. Tetapi jika melihat keadaan sekarang, profesi PR di Indonesia sangat berkembang. Perusahaan konsultan multinasional saja bisa berkembang di Indonesia dan perusahaan konsultan PR di Indonesia sendiri sudah sangat banyak jumlahnya. Dikatakan juga bahwa semakin banyak perusahaan yang sadar bahwa PR memiliki peran dan fungsi yang penting bagi perkembangan perusahaan mereka. Meskipun semakin banyak perusahaan di Indonesia yang menyadari pentingnya peran dan fungsi PR, namun tidak semua dari perusahaan tersebut menempatkan PR sebagai fungsi strategis. Masih ada sejumlah perusahaan yang menempatkan praktisi PR di bawah Departemen Marketing dan hanya menjalankan fungsi taktis, yaitu ketika implementasi suatu program. Dalam buku ―Planning and Managing Public Relations Campaigns‖, Anne Gregory mengatakan bahwa posisi seorang PR dalam organisasi tidak selalu mendapat tempat sebagai peran yang strategis. Apabila bukan mendapat peran yang strategis, maka peran PR hanya sebatas taktis. Anne juga mengatakan bahwa untuk membedakan posisi PR dalam organisasi, apakah sebagai peran strategis ataukah taktis, kita dapat melihat dari realisasi fungsi PR pada organisasi tersebut.
4
Apabila PR merupakan bagian dari koalisi dominan pembuat keputusan di organisasi, maka PR memiliki peran kunci yang strategis. PR pada posisi tersebut juga melakukan research dan menjadi konsultan untuk pengambilan sebuah keputusan. Jika PR tidak memegang peranan seperti yang disebutkan di atas, maka berarti PR hanya sebagai fungsi taktis saja. PR hanya sebagai bagian dari marketing communication mix, yang berfungsi memberikan informasi terkait dengan organisasi kepada publiknya. (Gregory, 2000:12) Berdasarkan riset yang telah dilakukan oleh sejumlah periset, Cutlip, Center, dan Broom (2006:49) menyatakan ada dua peran PR dominan yang muncul dalam praktik sesungguhnya yaitu teknisi PR dan manajer PR. Peran sebagai teknisi PR lebih banyak mengurusi soal tulis-menulis, memproduksi dan menyebarkan komunikasi seperti press release, pidato, website, cerita feature, dan laporan tahunan. Para teknisi PR cenderung kreatif, berjiwa seni, dan cakap secara teknis, serta memperlihatkan sedikit kecenderungan atau minat kepada perencanaan strategis dan riset. Mereka yang memegang peranan ini biasanya bukan merupakan bagian dari lingkaran dalam manajemen. Peran dominan yang lainnya, yaitu manajer PR, merupakan bagian dari manajemen organisasi. Peran ini membutuhkan keahlian riset, minat pada pemikiran strategis, dan tendensi untuk berpikir dari segi hasil atau dampak dari aktivitas PR. Para praktisi PR dengan peran ini tidak membatasi taktik mereka hanya pada komunikasi, tetapi juga menggunakan scanning lingkungan dan inteligen organisasi, negosiasi dan pembentukan koalisi, manajemen isu, evaluasi
5
program, dan konseling manajemen sebagai alat-alat PR. (Cutlip, Center, dan Broom, 2006:49) Kompas Gramedia merupakan salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini adalah perusahaan induk yang terdiri dari beberapa unit bisnis dengan bidang yang berbeda. Bisnis yang dikelola oleh Kompas Gramedia antara lain produksi koran, tabloid, majalah, penerbit buku, toko buku, percetakan, elektronik dan multimedia, pelatihan dan pendidikan, hotel dan resor, pabrik tisu dan kertas, serta business of MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Jakarta menuliskan bahwa bisnis penerbitan buku di Indonesia masih memiliki prospek yang tinggi. Hal ini dapat dilihat berdasarkan data dari TB Gramedia yang memaparkan bahwa ada 2.300 judul buku yang mereka terima setiap bulannya. Selain itu, data dari IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menyebutkan bahwa hingga bulan September 2013 terdapat 302 perusahaan penerbit di Indonesia. (dikutip dari www.bpadjakarta.net) PT Gramedia Pustaka Utama merupakan salah satu perusahaan penerbit buku di Indonesia bagian dari Group of Book Publishing (GoBP) Kelompok Kompas Gramedia. Dalam website www.kompasgramedia.com dikatakan bahwa Gramedia Pustaka Utama tumbuh semakin baik. Gramedia Pustaka Utama telah menerbitkan tidak kurang dari 10.000 judul buku. Judul buku baru yang diterbitkan setiap tahunnya bisa berjumlah lebih dari 4.000 judul aktif dan menyebar secara luas di pasar buku di Indonesia. Gramedia Pustaka Utama
6
menguasai 70% pangsa pasar buku fiksi dan 45% buku non fiksi. Sebagian besar buku-buku terbitan Gramedia Pustaka Utama juga menjadi best seller di pasaran. Di dalam struktur organisasinya, PT Gramedia Pustaka Utama memiliki Divisi Public Relations. Divisi ini baru dibentuk pada April 2013 yang lalu. Dalam Divisi Public Relations hanya terdiri dari dua orang staf, yaitu Head of Public Relations dan pengelola social media. Bisa dikatakan bahwa GPU menjadi pelopor yang memiliki Divisi Public Relations di antara penerbit GoBP, karena di GoBP belum ada penerbit yang memiliki Divisi PR masing-masing. Mengingat bahwa Gramedia Pustaka Utama merupakan sebuah perusahaan penerbit buku yang sudah terkenal di Indonesia dan memiliki Divisi PR di dalamnya, peneliti tertarik untuk mencari tahu dan memahami sejauh mana peran dan aktivitas PR bagi perusahaan tersebut. Fakta bahwa Divisi Public Relations di PT Gramedia Pustaka Utama baru dibentuk mendorong peneliti untuk menelusuri lebih dalam apakah peranan praktisi PR pada PT Gramedia Pustaka Utama hanya sebatas sebagai teknisi PR atau sudah menjadi bagian dalam lingkaran manajemen pada perusahaan tersebut. Apabila faktanya praktisi PR di Gramedia Pustaka Utama hanya menjalankan fungsi taktis, maka melalui penelitian ini peneliti bermaksud untuk memberikan pemahaman kepada pihak perusahaan bahwa sebenarnya praktisi Public Relations memiliki peran dan fungsi yang lebih strategis dalam mendukung perkembangan serta kemajuan suatu perusahaan. Selain itu, peneliti juga bermaksud untuk memberikan pengetahuan yang lebih kepada praktisi PR di
7
GPU berdasarkan pada teori-teori yang menjadi dasar dari penelitian ini. Dengan harapan bahwa praktik PR di GPU dapat berkembang menjadi lebih baik ke depannya dan menunjang tercapainya tujuan organisasi.
1.2
Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, rumusan
masalah utama yang hendak dikaji adalah mengenai sejauh mana peran praktisi Public Relations pada PT Gramedia Pustaka Utama. Untuk meneliti topik penelitian secara komprehensif, maka pertanyaan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana peran Public Relations sebagai divisi baru pada PT Gramedia Pustaka Utama? 2. Bagaimana aktivitas Public Relations sebagai divisi baru pada PT Gramedia Pustaka Utama?
1.3
Tujuan Penelitian Dengan melihat pada perumusan masalah yang telah disebutkan di atas,
maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Menganalisa peran Public Relations sebagai divisi baru pada PT Gramedia Pustaka Utama. 2. Menganalisa aktivitas Public Relations sebagai divisi baru pada PT Gramedia Pustaka Utama.
8
1.4
Kegunaan Penelitian Penelitian ini disusun tentu karena memiliki sejumlah kegunaan baik
bagi peneliti, pihak PT Gramedia Pustaka Utama, maupun bagi para sivitas akademika. Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kegunaan Akademis Dari segi akademis, penelitian ini berguna untuk mendukung berbagai macam teori yang berkaitan dengan peran serta aktivitas Public Relations bagi sebuah organisasi. Selain itu, diharapkan juga penelitian ini dapat memberi masukan terhadap teori yang telah ada. 2. Kegunaan Praktis Dari segi praktis, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi PT Gramedia Pustaka Utama dalam mengembangkan peran Public Relations agar peran dan fungsinya dapat dimanfaatkan secara optimal bagi perusahaan. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi dokumen akademik yang berguna untuk dijadikan acuan dan referensi bagi sivitas akademika ketika hendak melakukan penelitian-penelitian selanjutnya.
9