BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1
Stres
2.1.1
Pengertian Stres Fincham dan Rhodes dalam Munandar (2008) mengasumsikan bahwa stres
dapat disimpulkan dari gejala-gejala dan tanda-tanda faal, perilaku, psikologikal dan somatik, adalah hasil dari tidak/kurang adanya kecocokan antara orang (dalam arti kepribadiannya, bakatnya, dan kecakapannya) dan lingkungannya, yang mengakibatkan ketidakmampuannya untuk menghadapi berbagai tuntutan terhadap dirinya secara efektif. Menurut Dadang Hawari dalam Sunaryo (2004) stres adalah reaksi suatu respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan). Sedangkan menurut Maramis dalam Sunaryo (2004) stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan karena itu, sesuatu yang menggangu keseimbangan kita. Menurut Vincent Cornelli yang dikutip oleh grant Brecht dalam Sunaryo (2004) stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi oleh lingkungan maupun penampilan individu di dalam lingkungan tersebut. Stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja menurut Selye dalam Waluyo (2009). Menurut Morgan dan King dalam Waluyo (2009) stres adalah
Universitas Sumatera Utara
suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.
2.1.2
Sumber Stres Menurut Patton dalam Tarwaka (2003) bahwa perbedaan reaksi antara
individu tersebut disebabkan oleh faktor psikologis dan sosial yang dapat merubah dampak sor bagi individu. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1.
Kondisi individu seperti umur, jenis kelamin, tempramental, intelegensia, pendidikan, kebudayaan, dll.
2.
Ciri kepribadian seperti introvert atau ekstrovert, tingkat emosional, kepasrahan, kepercayaan diri, dll.
3.
Sosial-kognitif seperti dukungan sosial, hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya.
4.
Strategi untuk menghadapi setiap stres yang muncul.
2.1.3
Tahapan Stres Menurut Dr. Robert J. Van Amberg dalam Sunaryo (2004), sebagaimana
dikemukakan oleh Hawari (2001) tahapan stres sebagai berikut: a.
Stres tahap pertama (paling ringan), yaitu stres yang disertai perasaan nafsu kerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki, dan penglihatan menjadi tajam.
b.
Stres tahap kedua, yaitu stres yang disertai keluhan, seperti bangun pagi tidak segar atau letih, lekas capek pada saat menjelang sore, lekas lelah sesudah
Universitas Sumatera Utara
makan, tidak dapat rileks, lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort), jantung berdebar, otot tengkuk dan punggung tegang. Hal tersebut karena cadangan tenaga tidak memadai. c.
Stres tahap ketiga, yaitu tahapan stres dengan keluhan, seperti defekasi tidak teratur (kadang-kadang diare), otot semakin tegang, emosional, insomnia, mudah terjaga dan sulit tidur kembali (middle insomnia), bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali (late insomnia), koordinasi tubuh terganggu, dan mau jatuh pingsan.
d.
Stres tahap keempat, yaitu tahapan stres dengan keluhan, seperti tidak mampu bekerja sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan terasa sulit dan menjenuhkan, respons tidak adekuat, kegiatan rutin terganggu, gangguan pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun, serta timbul ketakutan dan kecemasan.
e.
Stres tahap kelima, yaitu tahapan stres yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental (physical and psychological exhaustion), ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung, dan panik.
f.
Stres tahap keenam (paling berat), yaitu tahapan stres dengan tanda-tanda, seperti jantung berdebar keras, sesak napas, badan gemetar, dingin, dan banyak keluar keringat, loyo, serta pingsan atau collaps (Sunaryo,2004)
2.1.4
Jenis-jenis Stres Quick dan Quick dalam Waluyo (2009) mengkategorikan jenis stres
menjadi dua, yaitu :
Universitas Sumatera Utara
1.
Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhannya, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
2.
Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteisme) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.
2.1.5 Tingkatan Stres Gangguan stres bisanya timbul secara lamban, tidak jelas kapan mulainya dan seringkali kita tidak menyadari. Situasi stres ringan biasanya tidak mengakibatkan kerusakan fisiolois krisnis, tetapi stress sedang dan berat dapat menimbulkan resiko penyakit medis atau memburuknya peyakit kronis (Leidy et al. dalam Martina 2012). 2.1.5.1 Stres Ringan Adalah stessor yang dihadapi setiap orang secara teratur, seperti terlalu banyak tidur, kemacetan lalu lintas, keritikan dari atasan,. Situasi ini biasanya hanya berlangsung beberapa menit atau jam. 2.1.5.2 Stres Sedang Berlangsung lebih lama, dari beberapa jam sampai beberapa hari. Misalnya, perselisihan yang tidak terselesaikan dengan rekan kerja, anak yang sakit, atau ketidakhadiran yang lama dari anggota keluarga.
Universitas Sumatera Utara
2.1.5.3 Stres Berat Adalah situasi kronis yang dapat berlangsung beberapa minggu sampai bebrapa tahun, seperti perselisihan perkawinan terus-menerus, kesulitan finansial yang berkepanjangan, dan penyakit fisik jangka panjang. Makin sering dan makin lama situasi stress, makin tinggi resiko kesehatan yang ditimbulkan.
2.1.6
Gejala Stres Menurut Rice dalam Safaria (2009) reaksi dari stres bagi individu dapat
digolongkan menjadi beberapa gejala, yaitu sebagai berikut : a.
Gejala fisiologis, berupa keluhan seperti sakit kepala, sembelit, diare, sakit pinggang, urat tegang pada tengkuk, tekanan darah tinggi, kelelahan, sakit perut, maag, berubah selera makan, susah tidur, dan kehilangan semangat.
b.
Gejala emosional, berupa keluhan seperti gelisah, cemas, mudah marah, gugup, takut, mudah tersinggung, sedih, dan depresi.
c.
Gejala kognitif, berupa keluhan seperti susah berkonsentrasi, sulit membuat keputusan, mudah lupa, melamun secara berlebihan, dan pikiran kacau.
d.
Gejala interpersonal, berupa sikap acuh tak acuh pada lingkungan, apatis, agresif, minder, kehilangan kepercayaan pada orang lain, dan mudah mempersalahkan orang lain.
e.
Gejala organisasional, berupa meningkatnya keabsenan dalam kerja/ kuliah, menurunnya produktivitas, ketegangan dengan rekan kerja, ketidakpuasan kerja dan menurunnya dorongan untuk berprestasi.
Universitas Sumatera Utara
2.2
Stres Kerja
2.2.1
Definisi Stres Kerja Menurut Waluyo (2009) stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau
stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja. Stres kerja dapat disimpulkan sebagai suatu kondisi dari hasil penghayatan subjektif individu yang dapat berupa interaksi antara individu dan lingkungan kerja yang dapat mengancam dan memberi tekanan secara psikologis, fisiologis, dan sikap individu (Wijono, 2010). Menurut Mandelson dalam Tarwaka (2004) stres kerja adalah ketidakmampuan pekerja untuk menghasilkan tugas dengan akibat suatu ketidaknyamanan kerja. Stres kerja adalah perasaan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan (Mangkunegara, 2013).
2.2.2
Faktor-faktor Penyebab Stres Kerja Menurut Cartwright, et.al dalam Tarwaka (2004) menyebutkan bahwa
penyebab stres akibat kerja menjadi 6 kelompok penyebab, yaitu: 1.
Faktor intrinsik pekerjaan Ada beberapa faktor instrinsik dalam pekerjaan yang potensial menjadi
penyebab terjadinya stres dan mengakibatkan keadaan yang buruk pada mental. Faktor intrinsik kerja meliputi:
Universitas Sumatera Utara
a.
Jam kerja Jam kerja adalah waktu yang ditentukan untuk melakukan pekerjaan.
Menurut Robbins dalam Perangin-angin (2013), jam kerja merupakan bagian dari empat faktor organisasi yang merupakan sumber potensial dari stres para karyawan di tempat kerja. Sedangkan menurut Davis dan Newstrom dalam Perangin-angin (2013) menyatakan adanya beberapa karakteristik pekerjaan dan lingkungan kerja yang mengandung stres kerja yang salah satunya adalah terbatasnya waktu dalam mengerjakan pekerjaan. Menurut standar HIPERKES, rata-rata jam kerja adalah 8 jam per hari. Sehingga penambahan jam kerja diluar standar dapat meningkatkan ekskresi kathokolamin yaitu hormon adrenalin dan non-adrenalin (Munandar, 2006). Pada penelitian yang dilakukan oleh Novi, Aras, dan Dedy pada pekerja industrial bengkel las di Pekanbaru menunjukkan hasil bahwa, dari 48 tenaga kerja yang jam kerjanya > 8 jam, 33 tenaga kerja (68,8 %) mengalami stres kerja. Menurut penelitian Airmayanti (2009) diketahui bahwa responden yang bekerja > 8 jam sebagian besar (55,8%) mengalami stres kerja berat. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara jam kerja dengan stres kerja. b. Beban kerja Dalam Munandar (2008) beban kerja berlebih dan beban kerja terlalu sedikit merupakan pembangkit stres. Beban kerja (workload) merupakan stressor hubungan peran atau tugas lain yang terjadi karena para pegawai merasa bebannya terlalu banyak. Hal ini dapat disebabkan karena perusahaan mengurangi tenaga
Universitas Sumatera Utara
kerjanya dan melakukan restrukturisasi pekerjaan, meninggalkan sisa pegawai dengan lebih banyak tugas dan sedikit waktu serta sumberdaya untuk menyelesaikannya (Sophia, 2008). Beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam janga waktu tertentu. Pengukuran beban kerja diartikan sebagai suatu teknik untuk mendapatkan informasi tentang efisiensi dan efektifitas kerja suatu unit organisaasi teknik analisis jabatan, teknik analisis beban kerja atau teknik manajemen lainnya (Utomo, 2008). Lebih lanjut dalam Munandar (2008), beban kerja dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam beban kerja berlebih/terlalu sedikit „kuantitatif‟, yang timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang terlalu banyak/ sedikit diberikan kepada tenaga kerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu, dan beban kerja berlebih/terlalu sedikit „kualitatif‟, yaitu jika orang merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tugas, atau tugas tidak menggunakan keterampilan dan/ atau potensi dari tenaga kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Setiawan dan Sofiana (2013), menyatakan bahwa secara statistik terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja di PT Chanindo Pratama Piyungan Yogyakarta yang berarti secara biologi responden yang berpersepsi buruk terhadap beban kerja mempunyai faktor resiko 8.037 kali mengalami stres kerja. Konz dalam Tarwaka (2004) mengemukakan bahwa denyut jantung adalah suatu alat estimasi laju metabolisme yang baik, kecuali dalam keadaan emosi dan
Universitas Sumatera Utara
vasodilatasi. Kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada metabolisme, respirasi, suhu tubuh dan denyut jantung menurut Christensen dalam Tarwaka (2004) dapat dilihat pada tabel berikut 2.1 Kategori beban kerja
Konsumsi Ventilasi Suhu rektal Denyut oksigen (l/ paru (l/ min) (oC) jantung min) (denyut/ min) 0,5-1,0 11-20 37,5 75-100 Ringan 1,1-1,5 21-31 37,6-38,0 100-125 Sedang 1,6-2,0 32-43 38,1-38,5 125-150 Berat 2,0-2,5 43-56 38,5-39,0 150-175 Sangat berat 60-100 > 39 > 175 Sangat berat 2,5-4,0 sekali Tabel 2.1 beban kerja berdasarkan metabolisme, respirasi, suhu tubuh dan denyut jantung menurut Christensen dalam Tarwaka (2004) Denyut nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis yang didefinisikan oleh Grandjean dalam Tarwaka (2004) : 1. Denyut nadi istirahat adalah rerata denyut nadi sebelum pekerjaan dimulai. 2. Denyut nadi kerja adalah rerata denyut nadi selama bekerja. 3. Nadi kerja adalah selisih antara denyut nadi istirahat dan denyut nadi kerja. c.
Rutinitas Rutinitas adalah kebosanan dalam kerja rutin sehari-hari, sebagai hasil dari
terlampau sedikitnya tugas yang harus dilakukan dapat menghasilkan kurangnya perhatian. Hal ini, secara potensial membahayakan jika tenaga kerja gagal untuk bertindak tepat dalam keadaan darurat. Menurut Cooper dan Kelly yang dikutip dalam Munandar (2008), Kebosanan ditemukan sebagai sumber stres yang nyata. Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan garakan anggota badan yang berulang-ulang secara monoton, yang kadang-kadang pula disertai posisi kerja
Universitas Sumatera Utara
yang sulit atau sambil membawa beban atau menahan beban seringkali sanvat memberatkan individu pekerja (Harrianto, 2005). Menurut hasil penelitian Vinallia (2009), diketahui bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara rutinitas dengan stres kerja pada pekerja bagian Weaving PT. Unitex. d. Keadaan fisik lingkungan Keadaan fisik lingkungan meliputi: 1.
Kebisingan Kebisingan adalah semua suara/bunyi yang yang tidak dikehendaki yang
bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Suma‟mur, 2009). Menurut Munandar (2008) paparan terhadap bising berkaitan dengan rasa lelah, sakit kepala, lekas tersinggung, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Sedangkan menurut Ivenich dan Mattenson yang dikutip dalam Munandar (2008) berpendapat bahwa bising yang berlebih (sekitar 80 db) yang berulangkali didengar, dapat menimbulkan stres. Menurut hasil penelitian yang dilakukan di PT. Agung Saputra Tex Bantul pada tahun 2010, sebanyak 95,5% pekerja mengalami stres karena kebisingan yang melewati Nilai Ambang Batas (NAB) >85 dB. 2.
Suhu panas atau dingin Suhu panas dan dingin dapat menyebabkan pekerja mudah terkena
kelelahan disamping pengaruh kesehatan lainnya. Efek suhu tempat kerja di dalam atau di luar ruangan, status kesehatan pekerja, kelembaban, kecepatan aliran
Universitas Sumatera Utara
udara, jenis pakaian yang digunakan dan lama pemaparan. Keadaan ini bila terjadi berlarut-larut menyebabkan pekerja tidak mampu bekerja dengan baik karena menurunnya gairah bekerja atau bila terpaksa bekerja maka dapat mengakibatkan stres (Munandar, 2001). Suhu yang dianggap nyaman adalah 24-26oC (Subaris, 2011). 3.
Pencahayaan Terlalu kuatnya cahaya penerangan dapat menimbulkan dampak
psikologis pada pekerja, seperti kelelahan dan pusing. Bahkan dapat menimbulkan kecelakaan kerja akibat silaunya penerangan di ruang kerja, begitu pula sebaliknya dengan penerangan yang suram (Munandar, 2001). Menurtu Srlito yang dikutip dalam Airmayanti (2009), pencahayaan yang kurang atau terlalu berlebihan di tempat kerja menyulitkan pekerja untuk bekerja secara optimal, sehingga apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan seorang pekerja mengalami stres dan ketidaknyamanan dalam bekerja. Penerangan yang kurang memadai merupakan stressor fisik yang menyebabkan stres (Harrianto, 2008). 4.
Radiasi Sumber daya radiasi adalah sinar gamma, yaitu gelombang elektromagnet
yang mampu menembus permukaan kulit tanpa terlihat oleh mata. Energi itu mampu merusak sel-sel hidup. Pemaparan radiasi tergantung dari dosis, waktu pemaparan dan jarak sumber ke pekerja. Selain memberi pengaruh buruk, radiasi juga menyebabkan rasa kurang aman bagi pekerja di tempat yang mengandung radiasi. Apabila hal ini tidak diperhatikan, maka dalam waktu-waktu tertentu hal
Universitas Sumatera Utara
tersebut tidak hanya berbahaya bagi pekerja, namun dapat menimbulkan keresahan dan stres dalam bekerja (Munandar, 2001). 2.
Faktor Ekstrinsik Pekerjaan Faktor ekstrinsik pekerjaan meliputi :
1.
Peran Individu dalam Organisasi Beban tugas yang bersifat mental dan tanggung jawab dari suatu pekerjaan
lebih memberikan stres yang tinggi dibandingkan dengan beban kerja fisik (Tarwaka, 2004). Setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan perannya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus ia lakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan oleh atasannya. Namun demikian tenaga kerja tidak selalu berhasil untuk memainkan perannya tanpa menimbulkan masalah. Kurang baik berfungsinya peran, merupakan pembangkit stres. Peran individu dalam organisasi meliputi konflik peran dan ketaksaan peran (Munandar, 2008). Menurut Kumalsari (2014), diketahui bahwa ada hubungan antara peran dalam organisasi dengan tingkat stres kerja pekerja di Departemen Operasi IV PT Pusri Palembang Tahun 2014. 2.
Hubungan Interpersonal Hubungan baik antara karyawan di tempat kerja adalah faktor yang potensial
sebagai penyebab terjadinya stres (Tarwaka, 2004). Menurut Cooper dan Payne yang dikutip dalam Tarwaka (2004), kecurigaan antar pekerja, kurangnya komunikasi, ketidak nyamanan, dalam melakukan pekerjaan merupakan tandatanda adanya stres akibat kerja. Menurut Kahn, dkk yang dikutip dalam Munandar
Universitas Sumatera Utara
(2008), hubungan interpersonal yang tidak baik terungkap dalam gejala-gejala adanya kepercayaan yang rendah, taraf pemberian support yang rendah, dan minat yang rendah dalam pemecahan masalah dalam organisasi. Ketidakpercayaan secara positif berhubungan dengan ketaksaan peran yang tinggi, yang mengarah ke komunikasi antarpribadi yang tidak sesuai antara para tenaga kerja dan ketegangan psikologikal dalam bentuk kepuasan pekerjaan yang rendah, penurunan dari kondisi kesehatan, dan rasa diancam oleh atasan dan rekan-rekan kerjanya. 3.
Pengembangan Karir Menurut Wantoro yang dikutip dalam Tarwaka (2004) menyatakan bahwa
pengembangan karir yang dapat menjadi pemicu stres adalah ketidakpastian pekerjaan seperti adanya reorganisasi perusahaan dan mutasi kerja, promosi berlebihan atau kurang: promosi yang terlalu cepat atau tidak sesuai dengan kemampuan individu akan menyebabkan stres bagi yang bersangkutan atau sebaliknya bahwa seseorang merasa tidak pernah dipromosikan sesuai dengan kemampuannya juga menjadi penyebab stres. Perasaan tidak aman dalam pekerjaan, posisi dan pengembangan karir mempunyai dampak cukup penting sebagai penyebab terjadinya stres (Tarwaka, 2004). Sedangkan menurut Munandar (2008), pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi berlebih, dan promosi yang kurang.
Universitas Sumatera Utara
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kumalasari (2013), dapat diketahui bahwa ada hubungan antara pengembangan karir dengan tingkat stres kerja pekerja di Departemen Operasi IV PT Pusri Palembang Tahun 2014. 4.
Struktur dan Iklim Organisasi Penyebab stres berhubungan dengan struktur dan iklim organisasi biasanya
dari budaya organisasi dan model manajemen yang dipergunakan. Beberapa faktor penyebabnya antara lain, kuranganya pendekatan partisipatoris, kondisi yang tidak efektif, kurangnya komunikasi, dan kebijaksanaan kantor. Selain itu seringkali pemilihan dan penempatan karyawan pada posisi yang kurang tepat juga dapat menyebabkan stres (Tarwaka, 2004). 3. 1.
Faktor Individu Umur Menurut Munandar yang dikutip dalam Aulya (2013), hubungan umur
dengan stress kerja memiliki kesamaan dengan hubungan antara masa kerja dengan stres. Namun, tidak selamanya umur dengan stress kerja dihubungkan dengn masa kerja. Ada beberapa jenis pekerjaan yang sangat berpengaruh dengan umur, terutama yang berhubungan dengan sistem indra dan kekuatan fisik. Biasanya pekerja yang mempunyai umur lebih muda memiliki penglihatan dan pendengaran yang lebih tajam, gerakan yang lebih lincah dan daya tahan tubuh yang lebih kuat. Namun untuk beberapa jenis pekerjaan lain, faktor umur yang lebih tua, biasanya memiliki pengalaman dan pemahaman bekerja yang lebih banyak, sehingga pada jenis pekerjaan tertentu dapat menjadi kendala dan dapat memicu terjadinya stress.
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2014) didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan stres kerja pada karyawan produksi dan non produksi PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Unit pertambangan Tanjung Enim pada tahun 2014. Penelitian lain yang dilakukan oleh Ratih dan Suwandi (2013) di bagian produksi PT. X Surabaya menunjukkan bahwa semakin lanjut usia seseorang, semakin mengalami kecenderungan stres kerja semakin besar. 2.
Masa Kerja Menurut Munandar (2001) bahwa masa jabatan yang berhubungan dengan
stres kerja sangat berkaitan dengan kejenuhan dalam bekerja. Pekerja yang telah bekerja diatas 5 tahun biasanya memiliki tingkat kejenuhan yang lebih tinggi daripada pekerja yang baru bekerja, sehingga dengan adanya tingkat kejenuhan tersebut dapat menyebabkan stres dalam bekerja. Penelitian yang dilakukan oleh Ratih dan Suwandi (2013) menyatakan bahwa semakin lama masa kerja seseorang di perusahaan, maka semakin tinggi pula tingkat stres kerja yang dialami.
2.2.3
Dampak Stres Kerja Menurut Rice dalam Waluyo (2009) pada umumnya stres kerja lebih
banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan. Pada diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustasi, dan sebagainya. Sedangkan menurut Arnold dalam Waluyo (2009) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan
Universitas Sumatera Utara
psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan. Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya tingkat absensi, menurunnya tingkat prduktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan komitmen organisasi, memicu perasaan teralienasi, hingga turnover (Greenberg & Baron, 1993; Quick&Quick, 1984; Robbins, 1993 dalam Waluyo; 2009). Terry Beehr dan John Newman yang dikutip dalam Waluyo (2009) mengkaji ulang beberapa kasus stres pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu: 1.
Gejala Psikologis Gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai
stres pekerjaan yaitu: a.
Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung.
b.
Perasaan frustasi, rasa marah, dan dendam (kebencian).
c.
Sensitif dan hiperaktif.
d.
Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi.
e.
Komunikasi yang tidak efektif.
f.
Perasaan terkucil dan terasing.
g.
Kebosanan dan ketidakpuasan kerja.
h.
Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilanvan konsentrasi.
i.
Kehilangan spontanitas dan kreativitas.
j.
Menurunnya rasa percaya diri.
Universitas Sumatera Utara
2.
Gejala Fisiologis Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah ;
a.
Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular.
b.
Meningkatnya
sekresi
dari
hormon
stres
(contoh:
adrenalin
dan
nonadrenalin). c.
Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung).
d.
Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan.
e.
Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis.
f.
Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada.
g.
Gangguan pada kulit.
h.
Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot.
i.
Gangguan tidur.
j.
Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk resiko tinggi kemungkinan terkena kanker.
3.
Gejala Perilaku Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah :
a.
Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan.
b.
Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas.
c.
Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan.
d.
Perilaku sabotase dalam pekerjaan.
Universitas Sumatera Utara
e.
Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas.
f.
Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secraa tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi.
g.
Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi.
h.
Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas.
i.
Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman.
j.
Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.
2.2.4
Pencegahan dan Pengendalian Stres Kerja Menurut Sauter, et a.l yang dikutip dari National Institute for
Occupational Safety and Health (NIOSH) dalam Tarwaka (2004) memberikan rekomendasi tentang bagaimana cara mengurangi atau meminimalisasi stres akibat kerja sebagai berikut : 1.
Beban kerja baik fisik maupun mental harus disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas kerja pekerja yang bersangkutan dengan menghindarkan beban berlebih maupun beban yang terlalu ringan.
2.
Jam kerja harus disesuaikan baik terhadap tuntutan tugas maupun tanggung jawab di luar pekerjaan.
3.
Setiap pekerja harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan dan mendapatkan promosi dan pengembangan kemampuan keahlian.
Universitas Sumatera Utara
4.
Membentuk lingkungan sosial yang sehat hubungan antara tenaga kerja satu dengan yang lain, tenaga kerja-supervisor yang baik dan sehat serta organisasi akan membuat situasi yang nyaman.
5.
Tugas-tugas pekerjaan harus didesain untuk dapat mentyediakan stimulasi dan kesempatan agar pekerja dapat menggunakan keterampilannya. Rotasi tugas dapat dilakukan untuk meningkatkan karier dan pengembangan usaha. Menurut Levi yang dikutip dalam Airmayanti (2009) upaya pencegahan terhadap stres kerja dapat dilakukan dengan cara, yaitu :
1.
Adanya peraturan tentang identifikasi bahaya kerja di lingkungan kerja perusahaan, termasuk identifikasi terhadap bahaya psikososial kerja.
2.
Program Healthy Life Style antara lain tidak minum minuman beralkohol, tidak merokok, diet sehat, olahraga, rekreasi, dan lain-lain.
3.
Memberikan
kesempatan
kepada
karyawan
untuk
memikirkan
dan
menentukan cara dan peralatan kerjanya, mempunyai wewenang untuk menghentikan pekerjaan bila berbahaya, meminta tenaga ahli untuk menilai perilaku kerja atas biaya perusahaan. 4.
Memberi kesempatan untuk merancang organisasi kerja, teknologi kerja, sistem remunerasi (insentif) dan memberi kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan keterampilannya.
5.
Desain kerja yang memungkinkan berlangsungnya interaksi sosial dengan baik, memberi kesempatan kepada pekerja untuk menentukan variasi tempat kerja, seperti dekorasi ruang kerja, adanya musik dan lain-lain untuk menghundari kejenuhan.
Universitas Sumatera Utara
6.
Pendidikan dan pelatihan bagi pekerja. Sistem penggajian tetap dan tidak menggunakan sistem upah harian.
2.2.5
Pengukuran Stres Keja Teknik pengukuran stres yang biasa digunakan dalam studi Amerika
Serikat menurut Karoley yang dikutip dalam Airmayanti (2009) dapat digolongkan dalam empat cara, yaitu : 1.
Self Report Measure Cara ini menggunakan kuesioner untuk mengukur stres yaitu dengan
menyatakan intensitas pengalaman psikologis, fisiologis dan perubahan fisik yang dialami dalam peristiwa kehidupan seseorang. Cara ini juga dikenal sebagai “Life Event Scale” yang berisi beberapa pertanyaan sebagai indikator dalam menentukan stres kerja. Teknik ini mengukur stres dengan cara melihat atau mengobservasi perubahan-perubahan perilaku yang ditampilkan seseorang, seperti kurangnya konsentrasi. Menurut Karoley yang dikutip dalam Hawari (2001), berdasarkan pertanyaan pada daftar pertanyaan metode Life Event Scale setiap pertanyaan bernilai 0-2. Untuk melakukan penilaian indikator stres kerja, dapat dilakukan penilaian sendiri (self assesment). Sistem penilaian yang digunakan sebaagai indikator untuk masing-masing kelompok adalah nilai 1-25 termasuk kategori stres ringan, untuk nilai >25 termasuk kategori stres berat. Pertanyaan yang digunakan tidak bersifat mutlak, artinya pertanyaan dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat itu, sehingga penilaian dan pengelompokannya juga dapat disesuaikan.
Universitas Sumatera Utara
2.
Performance Measure Cara ini mengukur stres dengan melihat atau mengobservasi perubahan-
perubahan perilaku yang ditampilkan oleh seseorang. Contohnya, penurunan prestasi kerja terlihat dari gejala seperti cenderung berbuat salah, cepat lupa dan menjadi lamban dalam bereaksi. 3.
Psysiological Measure Pada pengukuran ini berusaha untuk melihat perubahan fisik akibat stres,
seperti ketegangan pada otot bahu, leher dan pundak. Cara ini sering dianggap paling tinggi reabilitasnya, namun sangat tergantung si pengukur dan pada alat yang digunakan. 4.
Biochemical Measure Teknik ini melihat stres melalui respon biokimia individu berupa
perubahan kadar hormon katekolamin dan kortikosteroid setelah pemberian stimulus. Reabilitas dari cara ini tergolong tinggi namun pengukurannya dapat berubah bila subjek penelitiannya adalah perokok, peminum alkohol dan kopi. Hal ini karena rokok, kopi dan alkohol dapat meningkatkan kadar kedua hormon tersebut dalam tubuh. Dari keempat cara tersebut, yang paling sering digunakan dalam penelitian adalah Life Event Scale, karena paling mudah diatur dan membutuhkan biaya yang relatif lebih murah walaupun sering terdapat keterbatasan tertentu.
Universitas Sumatera Utara
2.3
Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Faktor Individu : 1. Umur 2. Masa Kerja Faktor Intrinsik : 1. Jam Kerja 2. Beban Kerja 3. Rutinitas 4. Kebisingan
Stres Kerja
Faktor Ekstrinsik : 1. Peran individu dalam organisasi 2. Hubungan interpersonal 3. Perkembangan karir 4. Struktur organisasi dan iklim kerja Variabel Independen
Variabel Dependen
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
Universitas Sumatera Utara