1 BAB I Pendahuluan
1. Latar Belakang Terjun ke dalam dunia pelayanan bukanlah suatu pekerjaan pilihan yang banyak diminati, bekerja dalam bidang pelayanan membutuhkan ketulusan dan juga kasih tanpa pamrih, karena inilah salah satu hal yang dapat memotivasi sebuah pelayanan. Namun, diantara sekian banyak profesi dan pekerjaan, dunia pelayanan masih juga ditekuni oleh orang-orang yang terpanggil untuk melayani. Salah satu figur pelayan yang dikenal banyak orang adalah Ibu Teresa. Hampir semua orang yang bekerja dalam bidang pelayanan dan pengabdian masyarakat pasti mengenalnya, apalagi ketika kepergiannya (meninggal) menjadi berita besar, yang ditayangkan oleh televisi di penjuru dunia. Jutaan orang merasa kehilangan atas kepergiannya. Memang, Ibu Teresa bukanlah malaikat, dia adalah manusia biasa yang juga memiliki keterbatasan namun ia mampu melakukan pelayanan yang “berbeda’ bagi orang banyak.
Berdasarkan informasi yang penyusun dapatkan melalui buku-buku bacaan, televisi maupun media massa lainnya penyusun melihat “area” pelayanan Ibu Teresa di India merupakan tempat yang memiliki banyak sekali permasalahan sosial, baik permasalahan kemiskinan, sakit-penyakit, ataupun gelandangan dan tuna wisma. Keberadaan tuna wisma / gelandangan bukanlah hal baru di Calcutta, karena para tuna wisma ini dapat ditemui di setiap sudut-sudut jalan, bahkan mereka dianggap sebagi sumber masalah. Namun Ibu Teresa mampu melihat dari sudut pandang yang lain, tuna-wisma yang dianggap sebagai sumber masalah justru dilihat sebagai ladang pelayanan untuk bekerja bagi Tuhan. Ibu Teresa mau peduli dan mengambil posisi terdepan untuk menolong, merawat dan juga menyediakan tempat penampungan bagi orang-orang yang “tersisihkan” tersebut. Sekalipun ia bukan orang India (walau akhirnya ia memberoleh kewarganegaraan itu). Tetapi karena ia diutus untuk melayani sebagai pengajar geografi dan katakese di sekolah Saint Marry, yang dikelola oleh tarekat Loreto (Sister of the Institute Blessed Virgin Marry, yang berada di Irlandia)1
1
Ibu Teresa mengucapkan ikrar kaul sebagai suster di India di bawah tarekat Loreto
2 Namun, dalam perkembangan waktu, panggilan untuk melayani dalam diri Ibu Teresa, tidak terbatas pada tugasnya menjadi pengajar di Saint Marry School, terlebih lagi dalam kehidupan kesehariannya di kota Calcutta ia melihat banyak orang, miskin, gelandangan, orang-orang cacat dsb. Sehingga timbul keinginan dalam dirinya untuk memberikan hidup melayani orang-orang tersebut, sebagaimana Navin Chawla mencatat perkataan Ibu Teresa demikian: “I was an order. It was to have the covenant. I felt God wanted something more from me. He wanted me to be poor & love him in the distressing disguise of the poorest of the poor”.2 Sebagaimana ketika Ibu Teresa menampung dan memelihara/mendidik anak-anak yang terlantar/ditelantarkan karena kemiskinan ataupun anak- anak cacat yang dititipkan dan ditemukannya, seperti dalam penuturannya: “I cannot give a love a real mother can give, but I have never refused a child. Never. Not one. Each child is precious, each is created by God”3. Dari sinilah, penyusun melihat bagaimana Ibu Teresa memiliki panggilan akan pelayanan dan motivasi yang menjadi daya dorong pelayanannya. Ibu Teresa merasakan bahwa Tuhan menuntut sesuatu dalam hidupnya. Pelayanan yang dilakukannya sebagai guru maupun kepala sekolah dirasa belum cukup, apalagi ketika di India beliau melihat banyak sekali orang-orang yang terlantar dan miskin serta sakit-sakitan. Hal inilah yang menimbulkan motivasi dalam diri Ibu Teresa, ia merasa harus bertindak dan berbuat sesuatu bagi orang-orang tersebut karena itulah yang Tuhan inginkan. Sebuah pengalaman pribadi dengan Tuhan yang memiliki dampak hebat bagi kehidupannya.
Kekaguman terhadap tindakan Ibu Teresa ini, menjadi inspirasi bagi banyak orang, baik dari kaum agamawan maupun mereka yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. Bahkan bagi umat Katolik secara khusus dan juga pelayanan Pastoral pada umumnya, Ibu Teresa menjadi suatu dokumen hidup yang menggambarkan cinta kasih Allah pada semua orang, dan jalan pelayanan dalam hidupnya sebagai wujud nyata penghayatan imannya kepada Tuhan. Pelayanan yang dilakukan Ibu Teresa ini merupakan suatu hal yang langka dan tidak semua orang dapat melakukannya. Karena setiap orang dapat mengetahui dan berteori tentang pelayanan namun pada kenyataannya belum semua mampu bertindak sesuai dengan teori tersebut, apalagi penuh ketulusan dan tidak berorientasi pada pencarian keuntungan.
2
Navin Chawla, “Mother Theresa, The Authorized Biography”, seperti dikutip oleh Suhud Setyo Wardono dalam : Tinjauan Praksis, Teologis Terhadap Pelayanan Ibu Teresa dan Relevansinya Bagi Sikap Hidup KeKristenan, Universitas Kristen Duta Wacana, Skripsi, Yogyakarta, 2004, hal. 18 3 Scn. 2, hal. 32
3 Banyak orang yang memiliki kekaguman terhadap Ibu Teresa, tetapi terkadang karena kekaguman ini orang-orang sering tidak memperhatikan bahwa disekitarnya mungkin ada juga “Teresa-Teresa” lokal, yang juga bijak, sekalipun pelayanan yang dilakukannya tidak sehebat Ibu Teresa di India. Walau kemungkinan, Teresa-teresa lokal ini tidak terinspirasi oleh pelayanan Ibu Teresa.
2. Permasalahan Menyikapi pelayanan yang dilakukan oleh Ibu Teresa sangatlah menarik perhatian sekaligus memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Seperti, apakah ketulusan yang ditunjukkan Ibu Teresa sebagai seorang yang mampu mendidik, mengasuh sekaligus merawat juga dimiliki oleh orang lain? Adakah Teresa-Teresa lokal yang juga meneruskan karya yang telah dirintis Ibu Teresa? Dalam hal ini penyusun menemukan sebuah Yayasan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki pelayanan menangani
klien/pasien anak anak cacat dari
klasifikasi cacat mental ringan sampai dengan idiot. Yayasan ini bernama Yayasan Panti Asih-Pakem yang terletak di Jl. Kaliurang Km 21. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa klien dan pasien yang ditangani di Yayasan Panti Asih adalah anak-anak cacat mental karena perkembangan otak rendah sehingga mereka memiliki respon lambat dan emosi tidak stabil atau kecerdasan di bawah rata-rata, jika dibandingkan dengan usia sebenarnya.4
Dalam melakukan pelayanan, tentunya ada pribadi-pribadi yang dikaryakan oleh Yayasan Panti Asih untuk berhadapan langsung dan menangani para klien, mereka adalah para pengasuh. Tenaga pengasuh yang melayani di sini tidak semuanya berlatar belakang sama, baik dari segi usia, status pernikahan maupun juga agama yang berbeda. Pelayanan dilakukan di Yayasan Panti Asih ini sepertinya terlihat sangat berat, karena metode komunikasi yang diterapkan antara pengasuh dengan klien tentu berbeda mengingat daya tangkap anak-anak tersebut rendah. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang bisa bertahan cukup lama untuk melayani di sini, sebanyak 14 pengasuh telah memiliki masa kerja lebih dari 20 tahun bahkan ada yang sampai di atas 30 tahun. Tentunya kegiatan 4
Pertama, dewasa menurut usia yaitu: berdasarkan tanggal kelahiran ataupun disebut dengan Calendar Age, yaitu di mana seseorang dapat dikatakan ketika ia telah berusia dewasa jika dihitung berdasarkan hari tanggal kelahirannya (1980 s/d 2000 = 20 tahun). Kemudian dewasa secara mental (Mental Age), yaitu: usia seseorang dilihat pertumbuhan kedewasaannya bukan berdasarkan pada usia kalender tetapi dari kedewasaan mental yang meliputi kemampuan mengolah emosi, psikologis, spiritual dan juga kemampuan interaksi dengan lingkungannya. Dalam kasus seperti ini, bisa saja seorang yang telah berusia 30 tahun (Calendar Age) namun perilaku dan kemampuan berpikir serta mentalnya sama dengan anak berusia 10 tahun, sehingga dapat dikatakan sebagai seorang yang belum dewasa dan masih membutuhkan asuhan.
4 dan pekerjaan yang mereka lakukan dalam kurun waktu di atas 20 tahun bahkan sampai di atas30 tahun, bukanlah waktu yang sebentar untuk ditelateni. Seperti tercantum dalam daftar berikut5 : Tahun Masuk
Lama pelayanan
Jumlah Total
1968 - 1984
21 - 37 Tahun
14 Orang
1989 - 2000
5 - 11 Tahun
21 Orang
2001 - 2005
0 - 5 Tahun
12 Orang
Sebagaimana Ibu Teresa mendapatkan panggilan dalam pelayanannya yang memotivasi pelayanannya, penyusun tertarik untuk menggali motivasi pelayanan para pengasuh di Yayasan Panti Asih ini. Untuk keperluan itu, penyusun hendak mengambil sample acak dari seluruh bangsal (setiap bengsal menangani tingkat kesulitan pengasuhan yang berbeda berdasarkan taraf kecerdasan anak), dengan subyek para pengasuh yang mewakili jumlah pengasuh yang telah memiliki jangka waktu pelayanan di atas 20 tahun. Adapun untuk maksud tersebut, penyusun memiliki beberapa pertanyaan terkait dengan pelayanan mereka yaitu : •
Siapa dan bagaimana serta tugas dan kendala yang seperti apa yang dihadapi oleh para pengasuh di Yayasan Panti Asih?
•
Pelayanan yang dilakukan Ibu Teresa, merupakan dorongan dari dalam dirinya karena panggilan imannya dan juga karena adanya rangsangan akibat melihat kondisi kaum papa di India. Lalu ketika melihat keadaan Yayasan Panti Asih, motivasi seperti apakah yang membuat para pengasuh di Yayasan Panti Asih bertahan dalam waktu lebih dari 20 tahun?
5
Data ini diperoleh penyusun dari kepala pengasuh berdasarkan catatan pada buku induk pengasuh Yayasan Panti Asih.
5 3. Pemilihan Judul Setelah melihat latar belakang dan pokok permasalahan yang penyusun temukan, penyusun memberi judul untuk skripsi ataupun karya tulis ini:
Motivasi Pelayanan Para Pengasuh Anak-anak Cacat Mental di Yayasan Panti Asih
Adapun yang menjadi alasan pemilihan judul ini adalah: karena suatu pelayanan yang dilakukan oleh siapapun merupakan hasil reaksi dari kehidupan seseorang. Dalam hal ini, para pengasuh tentunya memiliki suatu motivasi tertentu yang memampukan mereka mampu melakukan tindakan pelayanan kepengasuhannya. Penyusun tertarik untuk mengetahui bagaimana hubungan antara motivasi dan bentuk pelayanan para pengasuh di Yayasan Panti Asih ini.
4. Tujuan Penulisan Adapun yang ingin dicapai penyusun melalui tulisan ini adalah: •
Menggali profil dan peranan serta kendala yang dihadapi oleh para pengasuh di Yayasan Panti Asih.
•
Menggali motivasi / alasan yang membuat para pengasuh di Yayasan Panti Asih ini bertahan dalam pelayanan mereka.
5. Metode Penulisan Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, penyusun memakai metode penggalian data untuk mencari informasi faktual yang diperlukan dengan cara: 1. Studi pustaka
: Penyusun akan mencari dan memakai buku-buku, majalah maupun
artikel untuk mendapatkan kerangka teoritis konseptual yang menuntun penyusun untuk memahami dan menjabarkan permasalahan di atas. 2. Studi lapangan : Untuk keperluan penggalian data dan informasi guna memperlengkapi penulisan skripsi ini, penyusun memakai beberapa metode, diantaranya: Metode Observasi partisipatif untuk ikut merasakan dan memahami bentuk pelayanan para pengasuh di Yayasan Panti Asih guna mendapatkan informasi faktual mengenai kegiatan pengasuhan yang dilakukan oleh para pengasuh di Yayasan Panti Asih beserta dengan motivasi pelayanan mereka, Metode Angket (Questioner), dan metode Wawancara.
6 Setelah semua data didapatkan, penyusun akan menulis dengan memakai metode DeskriptifAnalitis, dengan cara mendeskripsikan semua data yang diperoleh melalui studi pustaka dan lapangan untuk kemudian dianalisa guna menemukan motivasi dan alasan mereka bertahan dalam pelayanan pengasuhan tersebut.
6. Sistematika Penulisan Bab
I
Pendahuluan
Dalam bagian ini penyusun akan memaparkan latar belakang penulisan skripsi, pokok permasalahan, alasan pemilihan judul, tujuan penulisan, metode penggalian data, metode penulisan dan sistematika penulisan.
Bab
II
Pengasuh di Yayasan Panti Asih dan Permasalahannya
Sebagai bab yang akan mengupas gambaran singkat yang menuliskan sekilas sejarah keberadaan Yayasan Panti Asih yang mencakup: Azas, Maksud dan Tujuan (Visi) dan Usaha-Usaha (Misi) serta profil pengasuh di Yayasan Panti Asih.
Bab
III
Motivasi Pelayanan Pengasuh di Yayasan Panti Asih-Pakem
Secara khusus melalui bab ini, penyusun akan membahas mengenai landasan-landasan teori motivasi dari berbagai narasumber, secara khusus mengacu pada teori motivasi berdasarkan hierarki kebutuhan manusia milik Abraham Maslow dan analisa terhadap motivasi pelayanan para pengasuh di Yayasan Panti Asih
Bab
IV
Kasih Dalam Persekutuan
Bab ini berisi tentang refleksi teologis atas motivasi pelayanan para pengasuh di Yayasan Panti Asih-Pakem. Motivasi pelayanan kasih sayang sebagai suatu pemenuhan kebutuhan manusia dan relevansinya pada panggilan gereja sebagai sebuah persekutuan kasih.
Bab
V
Kesimpulan dan Penutup
Merupakan kesimpulan hasil analisis dan pengaruh motivasi dalam pelayanan para pengasuh serta masukan-masukan bagi Yayasan Panti Asih dan juga pelayanan pastoral Gereja.