ISSN 2460-6472
Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba 2015
Analisis Kandungan Asam Lemak pada Sotong (Sepia Sp.) dengan Metode Kg-Sm 1
1,2,3
Sulianti Tiara Dewi, 2 Indra Topik Maulana, 3 Livia Syafnir Prodi Farmasi, Fakultas MIPA, Unisba, Jl. Tamansari No. 1 Bandung 40116 e-mail:
[email protected], 2
[email protected], 3
[email protected]
Abstrak. Telah dilakukan analisis kandungan asam lemak pada sotong (Sepia sp.) dengan metode KGSM. Sotong merupakan salah satu biota laut yang termasuk kedalam kelompok Cephalopoda atau cumicumi. Sotong terdiri dari beberapa bagian di antaranya bagian daging, kepala dan jeroan. Masyarakat umumnya mengonsumsi seluruh bagian sotong. Sotong mengandung asam lemak bermanfaat seperti DHA dan EPA. Tujuannya untuk mengetahui komposisi kandungan asam lemak bermanfaat pada hewan laut sotong. Sotong diekstraksi dengan menggunakan metode refluks. Analisis kandungan asam lemak sotong dianalisis dengan metode KG-SM dengan sebelumnya dilakukan proses transesterifikasi untuk mendapatkan FAME. Hasil rendemen yang diperoleh pada seluruh bagian tubuh sotong ialah 1,400 %. Hasil pengujian mutu minyak sotong meliputi bilangan asam yang menghasilkan bilangan asam sebesar 75,047 mg NaOH/g. Kandungan asam lemak tertinggi pada sotong ialah asam palmitat sebesar 19,068 %, asam lemak tak jenuh tertinggi sebesar 18,048 % serta kandungan kolesterol sebesar 17,250%. Kata kunci: sotong, asam lemak, komposisi, DHA
A.
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara bahari yang terdiri dari 17 ribu pulau dan memiliki garis pantai 99.093 kilometer. Indonesia secara geografis diapit oleh dua buah samudera besar yaitu samudera Pasifik dan samudera India sehingga wajar di Indonesia terdapat beragam spesies ikan laut baik ikan kecil maupun ikan besar dapat bermigrasi ke negeri ini. Tidak hanya jenis ikan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai mata pencaharian dan konsumsi, namun biota laut lain seperti kelompok Cephalopoda atau Cumi-cumi salah satunya ialah sotong. Sotong biasa dijadikan penganan atau seafood yang biasa disajikan di tempat-tempat besar seperti hotel. Selain mengandung daging yang tebal dan lezat, harga jual sotong ini masih cukup terjangkau dibandingkan hewan laut lain seperti kepiting. Menurut data statistik hasil perikanan tahun 2012, komoditi sotong dan cumi-cumi di Indonesia sebesar 73.264.777 kg (Badan Pusat Statistik, 2012:11). Sotong mempunyai potensi sebagai sumber gizi karena mengandung asam lemak tak jenuh seperti omega-3. Omega-3 dapat mencegah pengerasan pembuluh arteri dan mengurangi kekentalan darah yang menyebabkan penggumpalan platelet dalam darah (Moneysmith, 2003:21). Masyarakat Indonesia pada umumnya mengonsumsi seluruh bagian sotong, mulai dari bagian daging (badan), kepala, dan penyajian sotong biasanya beserta bagian jeroannya yang dimasukkan kedalam badan sotong. Sotong merupakan hewan laut yang mengandung banyak kolesterol sihingga sebagian masyarakat lebih memilih mengonsumsi ikan dibandingkan sotong. Asam lemak merupakan salah satu komponen utama penyusun minyak yang terdapat pada sumber hewani ataupun nabati, baik asam lemak jenuh maunpun tak jenuh mempunyai peran penting dalam tubuh. Kandungan kimia yang penting pada kelompok Cephalopoda ialah Asam lemak tak jenuh terutama dari golongan PUFA (Polyunsaturated fatty acids) (Kordi dan Ghufran, 2010:140). Komponen penting lainnya dan sedang gencar diminati masyarakat ialah DHA dan EPA. DHA dan EPA diperoleh dari fitoplankton yang banyak menjadi makanan utama hewan laut (Rosli
125
126 |
Sulianti Tiara Dewi, et al.
dkk., 2012:815). DHA memiliki peranan penting dalam perkembangan otak (Birch dkk., 2000:174). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kandungan asam lemak bermanfaat pada sotong. B.
Landasan Teori
Menurut Jereb dan Roper (2005), sotong termasuk kedalam genus Sepia Linnaeus, 1758 dan termasuk spesiesSepia sp. Sotong memiliki nama umum sotong , Cuttlefish (Inggris), dan balakutak, blekutak (Sunda, Jawa). Sotong memiliki bentuk tubuh bulat sedangkan cumi-cumi memiliki tubuh menyerupai tabung. Sotong memiliki2 tentakel panjang. Tentakel ini berfungsi sebagai alat untuk menangkap mangsa dan memiliki cangkang yang berisi mantel dan memiliki tinta sebagai alat pertahanan diri. Habitat sotong beragam di terumbu karang. Sotong hidup bergerombol di pantai dan bernilai ekonomis tinggi dalam pasar internasional jika dibandingkan dengan cumi-cumi yang masih dikembangkan secara tradisional dan skala kecil (Kordi dan Ghufran, 2010:49-50). Sotong mengandung unsur gizi seperti omega-3 0,179 g, kolesterol 95,0 mg, lemak total 0,590 g, protein 13,80, lemak jenuh 0,100 g dan natrium 316 mg (Ainsworth, 2009:133). Selain itu sotong banyak mengandung asam lemak tak jenuh dan asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Perbedaan kandungan gizi pada sotong disebabkan adanya perbedaan spesies dan kondisi biologis sotong, perbedaan tersebut dapat pula disebabkan karena adanya ketersediaan makanan pada perairan serta jenis sotong itu sendiri (Papan dkk., 2011:154-157). Selain itu sotong mengandung asam lemak tak jenuh terutama golongan PUFA seperti DHA dan EPA (Kordi dan Ghufran, 2010:140). Asam lemak merupakan asam karboksilat yang terdiri dari atom karbon 4-24 dengan ujung hidrokarbon nonpolar yang panjang. Berdasarkan kejenuhannya asam lemak terbagi menjadi dua bagian yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh (Sumardjo, 2006:265). Asam lemak jenuh (Saturated fatty acids) merupakan asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap karbon (CH=CH) dalam struktur kimianya (Ackman, 1994). Asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang rantai karbonnya memiliki satu atau lebih ikatan rangkapdan ikatan rangkap tersebut besifat nonkonjugasi, sehingga letak ikatan rangkap tidak berdekatan, tetapi dipeisahkan oleh gugus metilen (-CH2). Asam lemak tak jenuh memiliki titik lebur yang lebih rendah dibandingkan dengan yang jenuh. Asam lemak tak jenuh terbagi menjadi asam lemak tak jenuh dengan satu ikatan rangkap (tunggal) /MUFA (Monounsaturated fatty acids) dan asam lemak tak jenuh dengan ikatan rangkap majemuk/PUFA (Polyunsaturated fatty acids) (Ackman, 1994:35). Asam lemak omega-3 merupakan asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap pada atom karbon nomor 3 dihitung dari ujung gugus metil. Jenis omega-3 yang banyak terdapat dalam minyak ikan ialah DHA dan EPA (Estiasih, 2009:12). DHA (Docosahexanoic Acid) dan EPA (Eicosapentanoic Acid) menurut beberapa ahli termasuk kedalam asam lemak essensial walaupun tubuh dapat mensintesis keduanya, sintesis berjalan dengan lambat sehingga diperlkan asupan dari makanan. DHA merupakan nutrisi penting yang terutama diperoleh dari minyak ikan dengan kandungan 5-20%. DHA memiliki peranan penting dalam perkembangan otak (Birch dkk., 2000:174). EPA dapat menghambat aktivitas enzim siklooksigenase sehingga menurunkan pembentukkan prostaglandin dari asam arakidonat (Estiasih, 2009:31). Prosiding Penelitian Sivitas Akademika Unisba (Kesehatan dan Farmasi)
Analisis Kandungan Asam Lemak pada Sotong ( Sepia Sp.) dengan Metode Kg-Sm | 127
Ekstraksi minyak yang berasal dari hewan dapat dilakukan dengan metode rendering (pengukusan) dan metode ekstraksi menggunakan pelarut. Rendering digunakan untuk mengekstraksi minyak hewan dengan menggunakan cara pemanasan. Ekstraksi dengan menggnakan pelarut dilakukan dengan cara melarutkan minyak dalam pelarut minyak atau lemak (Winarno, 1984:99). Ekstraksi yang biasa digunakan ialah dengan menggunakan refluks dan ekstraksi sinambung menggunakan alat soxhlet. Parameter pengujian mutu minyak meliputi bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan peroksida dan bilangan iodin. Bilangan asam merupakan jumlah mg Kalium hidroksida yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram minyak (Gunstone, 2007:423). Angka asam umumnya menggunakan basa (NaOH atau KOH), angka asam yang tinggi menunjukkan kualitas minyak yang rendah karena semakin banyak yang mengalami hidrolisis (Panagan dkk., 2011:40). Dapat dihitung dengan rumus(Rasyid, 2003:14). Bilangan Asam , = Transesterifikasi adalah penggantian gugus ester menjadi bentuk ester lain. Pada proses ini, bahan yang yang digunakan bukanlah air melainkan alkohol, umumnya katalis yang digunakan adalah KOH atau NaOH. Pelarut metanol lebih umum digunakan untuk proses transesterifikasi karena harganya lebih murah dan lebih mudah di Recovery (Dadang, 2006:58). Dalam kromatografi gas sebagai fasa gerak dan kolom atau zat cair digunakan sebagai fasa diam. Syarat analisis dengan kromatografi gas ialah senyawa organik yang mudah menguap. Detektor yang biasa digunakan ialah spektrometer massa. C.
Metode Penelitian
Penelitian dengan judul analisis kandungan asam lemak pada sotong (Sepia sp.) dengan metode KG-SM, telah dilakukan di laboratorium riset Farmasi Unisba di Rangga Gading dan Laboratorium Kimia UPI dari bulan februari hingga bulan juni2015. Bahan yang digunakan ialah Sotong (Sepia sp.) yang diperoleh dari pasar Ciroyom, Bandung, Jawa Barat. Tahap pertama dilakukan proses ekstraksi sotong menggunakan metode refluks dengan pelarut n-heksana, ekstrak cair kemudian dievaporasi menggunakan Rotary vaccum evaporator Buchi. Tahap kedua dilakukan pengamatan organoleptik serta penetapan parameter mutu meliputi bilangan asam terhadap minyak yang dihasilkan. Tahap ketiga dilakukan proses transesterifikasi untuk mendapatkan FAME menggunakan KLTGF254 dengan eluen-heksana:Etil asetat:Asam asetat dengan perbandingan (90:10:1) v/v/v dan penambahan penampak bercak yaitu campuran silica dengan serbuk iodin agar FAME dapat terlihat. Tahap terakhir dilakukan analisis minyak dengan instrument KG-SM Shimadzu QP 2010 ULTRA yang dilakukan di laboratorium kimia UPI dengan system kromatografi meliputi suhu kolom 600C, suhu injector 2800C, suhu detector 2900C dengan fase gerak gas helium. D.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Rendemen yang diperoleh dari hasil ekstraksi ialah 1,400 %, minyak sotong yang dihasilkan berwarna coklat tua berbau amis tajam,khas minyak sebanyak dua mL. Pengujian mutu minyak dilakukan untuk melihat kualitas suatu minyak. Pengujian mutu minyak meliputi bilangan asam.Bilangan asam merupakan jumlah mg Natrium
Farmasi Gelombang 2, Tahun Akademik 2014-2015
128 |
Sulianti Tiara Dewi, et al.
Hidroksida yang dibutuhkan untuk menetralkan satu gram minyak. Hasil bilangan asam minyak sotong tertera dalam Tabel 1. Tabel 1 Bilangan asam No 1
Bilangan asam (mg NaOH/g Standar (mg NaOH/g) 75,04762
0,6
Bilangan asam yang tinggi ini menunjukkan bahwa kualitas minyak sotong yang dihasilkan rendah. Dalam penelitian ini dilakukan proses transesterifikasi untuk mendapatkan komponen FAME (Fatty acids Methyl Esters). FAME ini nantinya diukur dengan menggunakan KG-SM. Proses ini dilakukan dengan menambahkan metanol absolut kedalam minyak sotong dengan menggunakan bantuan katalis basa. Metanol digunakan sebagai penyumbang gugus metil yang akan menempel pada gugus OH di asam lemak. NaOH akan membantu mempercepat pelepasan asam lemak dari triasilglisereol. Hasil transesterifikasi ini akan menghasilkan dua lapisan. FAME kemudian ditambahkan n-heksana kemudian dilakukan penguapan. FAME dipantau dengan menggunakan KLT. Digunakan campuran silika dengan serbuk iodin agar penampak bercak FAME lebih terlihat. Tujuan dilakukannya proses transesterifikasi untuk menghilangkan komponen trigliserida, sehingga ketika dianalisis menggunakan KG-SM hanya senyawa metil ester FAME saja yang dihasilkan. Kromatogram minyak sotong tertera pada gambar 1
Komposisi asam lemak minyak sotong tertera pada Tabel 2
Prosiding Penelitian Sivitas Akademika Unisba (Kesehatan dan Farmasi)
Analisis Kandungan Asam Lemak pada Sotong ( Sepia Sp.) dengan Metode Kg-Sm | 129
Tabel 2 Komposisi senyawa dalam minyak sotong
No
Komposisi senyawa kimia
Area
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34
asam Miristat asam Palmitoleat asam Palmitat asam Margarat asam Linoleat asam Elaidat asam Oleat asam Stearat asam Arakidonat asam Arakidat asam Dokosaheksanoat asam Eikosapentanoat chol-7-en-12-ol, (5.beta.,12 alpha) cholest-5-en-3-ol (3.beta.)-,carbonoc cholesta-3,5-diene cholest-5-en-3-ol (3.beta.)-,acetate cholest-5-ene, 3-methoxy-, (3.beta) Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified Unidentified
594344 701693 7096138 820609 75469 1310395 1477945 5049075 2889244 170828 6838761 955703 80215 173188 329911 3579443 754809 80627 87481 234549 411045 326432 90085 120261 72973 308564 131666 1799447 1373364 118028 128718 174461 99346 681880 39136697
% Area 2,458 2,728 19,068 3,038 1,128 4,288 4,718 13,838 8,318 1,378 18,408 3,378 1,138 1,378 1,778 10,088 2,868 0,0123 0,0129 0,0353 0,0617 0,0488 0,0135 0,0182 0,0112 0,0465 0,02 0,2706 0,2065 0,0176 0,0194 0,0265 0,0147 0,1023 100,93%
Tabel 2 menunjukkan adanya golongan asam lemak jenuh (SFA) sebesar 39,78%, asam lemak tak jenuh (UFA) sebesar 42,966% dan kolesterol sebanyak 17,25 %.Asam lemak tak jenuh dapat digolongkan menjadi asam lemak tak jenuh ikatan rangkap rantai tunggal (MUFA) dan asam lemak tak jenuh ikatan rangkap ganda (PUFA). Dari hasil kromatogram minyak sotong terdapat komposisi MUFA sebesar 4,718% dan PUFA sebesar 22,914%. Adapun senyawa unidentifikasi merupakan senyawa yang muncul saat proses transesterifikasi yang memang tidak termasuk komponen yang terkandung dalam minyak. Dalam hasil KG-SM yang diperoleh terdapat nilai SI (Similiarity Index) yang merupakan tingkat kemiripan senyawa tersebut yang dibandingkan dengan Internal library dalam instrumen KG-SM. Komposisi asam lemak jenuh terbesar ialah asam palmitat sebesar 19,068 %. Asam lemak tak jenuh yang terkandung dalam minyak sotong yang termasuk kedalam MUFA ialah asam oleat atau omega-9 sebesar 4,718%. Asam lemak tak jenuh yang terkandung dalam minyak sotong yang termasuk kedalam golongan PUFA ialah asam Dokosaheksanoat (DHA) sebesar 18,048 dan asam Eikosapentanoat (PUFA) sebesar 3,378%. Kandungan DHA dan EPA pada hewan dapat meningkat jika kandungan DHA dan EPA dalam tubuh plankton. DHA merupakan nutrisi penting untuk perkembangan otak (Birch dkk., 2000:174). EPA berfungsi sebagai antiinflamasi agregasi platelet, vasodilator (Gunstone dkk., 2007:11).
Farmasi Gelombang 2, Tahun Akademik 2014-2015
130 |
Sulianti Tiara Dewi, et al.
E.
Kesimpulan
Sotong yang diperoleh dari pasar Ciroyom, Bandung, Jawa Barat, memiliki rendemen sebesar 1,400%. Ekstraksi sotong menggunakan metode refluks dengan pelarut n-heksana dihasilkan minyak yang berwarna coklat tua dengan bau amis tajam khas minyak dengan bentuk yang padat. Hasil pengujian parameter mutu minyak meliputi bilangan asam minyak sotong sebesar 75,047 mg NaOH/g. Kandungan asam lemak ada sotong terdiri dari asam lemak jenuh meliputi asam miristat, asam stearat, asam arakidat, asam margarat dan asam palmitat dengan komposisi asam palmitat yang merupakan asam lemak jenuh teringgi sebesar 19,068. Komposisi asam lemak tak jenuh meliputi asam arakidonat, asam palmitoleat, asam elaidat, asam oleat, asam linoleat, DHA dan EPA. Asam lemak tak jenuh (PUFA) tertinggi ialah DHA (asam dokosaheksanoat) sebesar 18,048%. Sotong memiliki kandungan kolesterol sebesar 17,250%. Daftar Pustaka Ackman, R.G. (1997). 'Has Evolution and Long-term Coexistence Adapted us to Cope with Trans Fatty Acids?', Journal Food Lipids,Vol. 4, No. 4: 295-318. Ainsworth, M. (2009). The Kitchen Professional Fish and Seafood: Identification, Fabricaton and Utilization, Dalmar, United States of America. Birch, E.E., Garfield MS,S., Hoffman, R.D., Uauy, Rand Birch, D.G. (2000). A Randomised Controlled Trial of Early Dietary Supply of Long-chain Polyunsaturated Fatty Acids and Mental Development in Term Infants, Development Medicine and Child Neurology, Vol. 42, No. 3: 174-181. Dadang. (2006). Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel, Penebar Swadaya, Jakarta. Direktorat Pemasaran Luar Negeri. (2012). Statistik Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditi, Provinsi dan Pelabuhan Asal Ekspor, Badan Pusat Statistik, Jakarta. Gunstone, F.D., Harwood, J.L and Djikstra, A.J. (2007). The Lipid Books Third Edition, CRC Press, New York. Jereb, P and Roper, C.F.E. (2005). Cephalopods of the World, FAO Species Catalogue for Fishery Purpose, 4(1): 114-115. Kordi, K.M.G.H. (2010). A to Z Budidaya Biota Akuatik untuk Pangan, Kosmetik dan Obat-obatan, Lily Publisher, Yogyakarta. Moneysmith, M. (2003). Basic Health publications User’s Guide to Good Fats and Bad Fats, Jack Challem, Boulevard East. Papan, F., Jazayeri, A., Motamedi, H. Dan Mahmoudi ,Asl. S. (2011). Study of the Nutritional Value of Persian Gulf Squid (Sepia arabica). Journal of American science. Vol. 7, No. 1: 154-157. Rasyid, A. (2003). Asam Lemak Omega-3 dari Minyak Ikan. Oseana. Vol. XXVIII, No. 3: 12-15. Rosli, Wan W.I., dkk. (2012). Fat Content and EPA and DHA Level of Selected Marine, Freshwater Fish and Shellfish Species From The East Coast of Peninsular Malaysia. International Food Research Journal, Vol.3, No. 3: 815. Sumardjo, D. (2006). Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta, EGC, Jakarta. Thanonkaew, A., Benjakul, S. and Visessanguan, W. (2006). Chemical Composition and Thermal Property of Cuttlefish (Sepia pharaonis). Journal of Food Composition and Analysis, Vol. 19, No. 2: 591-599.
Prosiding Penelitian Sivitas Akademika Unisba (Kesehatan dan Farmasi)