PUBERTAS DAN ESTRUS Pubertas Estrus Waktu kawin
32 32 32 33
HORMON KEBUNTINGAN DAN KELAHIRAN Peranan hormon dalam proses kebuntingan Kelahiran
33 33 34
MASALAH-MASALAH REPRODUKSI
35
FERTILITAS Faktor anatomis dan fisiologis Kelainan alat reproduksi Hormonal Kesehatan Genetik Faktor nutrisi
35 35 35 35 36 36 36
PERFORMANS REPRODUKSI
37
PENGELOLAAN REPRODUKSI Pengelolaan setelah beranak Pengelolaan pakan Pengawasan Catatan reproduksi Kesehatan Genetik
38 38 39 39 39 39 39
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
31
PUBERTAS DAN ESTRUS Pubertas (dewasa kelamin) Pubertas merupakan periode kehidupan dimana organ-organ reproduksi mulai berfungsi, proses reproduksi mulai terjadi dan pertamakali memproduksi sel benih (ovum atau sperma). Pada sapi FH pubertas ini terjadi berumur 8–12 bulan. Hal ini bergantung kepada tatalaksana pemeliharaan, genetik, dan iklim. Pada sapi jantan pubertas lebih cepat daripada sapi betina. Pubertas terjadi sebelum dewasa. Oleh karena itu perkawinan terutama pada betina sebaiknya ditangguhkan beberapa bulan sampai tubuhnya dianggap cukup dewasa untuk terjadi kebuntingan. Pada sapi perah kawin pertama pada sapi dara berkisar umur 15-18 bulan atau dengan berat badan berkisar 275-325 kg (lingkar dada berkisar 150-160 cm). Estrus (berahi) Bila ternak telah dewasa kelamin (terjadi estrus-I), maka apabila dikawinkan tidak terjadi kebuntingan, maka akan disusul dengan estrus kedua dan seterusnya, tetapi apabila terjadi kebuntingan, maka ternak tidak mengalami estrus lagi. Jarak antara kedua berahi tersebut disebut siklus berahi/estrus. Siklus estrus pada sapi berkisar 17-24 hari atau rata-rata 21 hari. Lama estrus pada sapi FH yang dewasa rata-rata 18-19 jam dan yang muda 15 ± 3 jam. Satu siklus berahi apabila berdasarkan dari perubahan gejala dari luar dapat dibagi dalam 4 fase yaitu proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Fase proestrus atau fase persiapan perubahan terjadi yaitu sedikit gelisah, alat kelamin vulva mulai merah dan bengkak. Walaupun demikian betina tersebut belum mau untuk kawin. Pada fase ini terjadi pertumbuhan dari folikel tersier menjadi folikel de Graaf. Fase estrus, pada fase ini tanda-tanda berahi meningkat dan betina sudah mau menerima pejantan/kawin. Selain perubahan dari alat kelamin bagian luar (merah, bengkak dan keluar lender), juga ternak kurang nafsu makan dan gelisah. Pada fase estrus ini pertumbuhan folikel de Graaf telah maksimal dan menonjol keluar dari ovarium, tetapi belum terjadi ovulasi. Ovulasi pada sapi terjadi setelah gejala estrus selesai atau 10-11 jam setelah estrus berakhir. Pada fase proestrus dan estrus disebut juga sebagai fase folikel. Fase metestrus. Gejalanya hampir sama dengan pada fase proestrus dan betina juga menolak untuk kawin. Pada ovarium terbentuknya corpus hemorraghicum, ovum berada di oviduct dan serviks telah menutup. Fase diestrus. Aktivitas kelamin tidak ada, ternak menjadi tenang dan tidak terjadi kebuntingan. Terjadi proses dari corpus hemorraghicum menjadi korpus luteum. Fase diestrus merupakan fase yang terlama dalam siklus berahi. Fase metestrus dan diestrus disebut juga fase luteum.
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
32
Waktu Kawin Untuk menghasilkan kebuntingan, maka harus adanya perkawinan antara jantan dan betina serta pada waktu yang tepat. Dari bahasan sebelumnya, maka kita dapat menentukan kapan sebaiknya dilakukan perkawinan dan menghasilkan angka kebuntingan yang tinggi. Pertemuan antara sperma dan ovun (fertilisasi) sebaiknya terjadi di oviduct tepatnya di Ampula Isthmus Junction. Untuk mempermudah kita buat daftar waku kawin (IB) pada sapi perah (Tabel 5) Tabel 5. Petunjuk untuk melakukan perkawinan (IB) pada sapi. No
Terlihat Berahi
1
Pagi hari
2
Sore/malam
Waktu IB yang Baik Hari itu juga Besok sebelum jam 12.00
Waktu IB yang Terlambat Besok pagi Siang setelah jam 12.00
Gambar 1. Waktu kawin dan angka konsepsi. Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa pada waktu kawin 6 jam kedua setelah estrus angka konsepsi lebih tinggi dari pada waktu kawin 6 jam pertama dan 6 jam ketiga.
HORMON KEBUNTINGAN DAN KELAHIRAN Peranan Hormon dalam Proses Kebuntingan Kebuntingan (gestation period) yaitu sejak terjadi fertilisasi antara ovum dan sperma sampai terjadinya kelahiran pedet yang hidup, sehat dan normal. Fertilisasi ini terjadi berkisar antara 11–15 jam setelah kawin (IB). Dalam pelaksanaannya dipeternak lama kebuntingan ini dihitung sejak tanggal kawin terakhir sampai tanggal kelahiran pedet. Lama bunting pada sapi rata-rata 283 ± 5 hari. Kelenjar hormon yang berfungsi selama kebuntingan yaitu antara lain korpus luteum, plasenta dan folikel merupakan kelenjar utama, sedangkan kelenjar hipoLaboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
33
talamus dan hipofisa sebagai kelenjar pengatur. Corpus luteum sebagai penghasil progesteron, plasenta penghasil progesteron dan estrogen, sedangkan folikel penghasil estrogen. Progesteron berperan dalam merawat/memelihara kebuntingan terutama pada saat implantasi sampai dengan pertengahan umur kebuntingan.
Gambar 2. Konsentrasi hormon estrogen, progesteron dan oxytocin selama kebuntingan Hormon Progesteron Estrogen Oxytocin
Saat Implantasi
Pertengahan Kebuntingan
Menjelang Kelahiran
Rendah Tinggi -
Tinggi Rendah -
Rendah Tinggi +
Kelahiran Telah dikemukakan bahwa lama bunting pada sapi rata-rata 283 ± 5 hari. Kelahiran merupakan akhir daripada kebuntingan. Kelahiran merupakan proses fisiologis dimana uterus mengeluarkan anak dan plasenta. Tanda-tanda kelahiran umumnya gelisah vulva membengkak, relaksasi pada bagian pelvis dan urat daging sekitar pangkal ekor, serviks terbuka (dan lendirnya mencair) dan kolostrum mudah keluar dan kadang-kadang menetes. Ada beberapa tahap kelahiran yaitu tahap persiapan dan tahap perejanan. Tahap persiapan lebih lama daripada tahap perejanan. Tahap perejanan dibagi tiga tahap yaitu persiapan perejanan, tahgap perejanan kuat untuk mengeluarkan fetus dan tahap perejanan untuk mengeluarkan plasenta. Pada tahap perejanan ada beberapa faktor yang menunjang yaitu yaitu yang pertama secara mekanik dimana ada desakan yang berasal dari pertambah besarnya volume fetus, oleh karena itu proses ini berjalan lambat. Kedua pengaruh hormonal yaitu hormon oxytocin yang berasal dari hipofisa posterior. Hormon ini merangsang uterus untuk berkontraksi dengan kuat. Ada beberpa pendapat bahwa pengaruh hormon oxytocin hanya sesaat. Demikian juga peranan hormon estrogen, dimana pada saat menjelang kelahiran konsentrasi dalam darah tinggi, sehingga mengakibatkan kontraksi uterus yang kuat. Antara hormon oxytocin dan estrogen ini bekerja secara bersamaan dan dapat juga masing-masing. Ada juga faktor internal fetus, dimana fetus berusaha untuk keluar. Perejanan ini juga merupakan gabungan dari ketiga faktor tadi.
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
34
MASALAH-MASALAH REPRODUKSI Kegagalan reproduksi merupakan masalah yang besar pengaruhnya terhadap kelang-sungan usaha peternakan sapi perah, hal ini disebabkan kelangsungan produksi susu akan terganggu. Ada beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kegagalan reproduksi yaitu faktor tatalaksana pemeliharaan, faktor internal ternaknya. Faktor tatalaksana pemeliharaan antara mutu genetik sapi yang dipelihara, pakan yang diberikan (sejak pedet sampai dewasa), pengelolaan reproduksi (deteksi berahi, pengetahuan peternak, ketepatan waktu kawin dan keahlian inseminator). Kesalahan dalam tatalaksana pemeliharaan juga dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan pada ternak tersebut, sehingga ternak akan mengalami kelainan-kelainan pada alat reproduksinya. Semua kegiatan tersebut harus mendapat perhatian dan pengawasan yang intensif, dengan demikian harus ditunjang dengan adanya sistem pencatatan yang akurat. Sedangkan kegagalan reproduksi karena faktor internal ternak tersebut dapat diklasifikasi yaitu : 1. Kerusakan alat-alat reproduksi karena penyakit. 2. Kelainan bentuk anatomis dari alat-alat reproduksi, sehingga kurang/tidak berfungsi 3. Kelainan fungsi hormonal.
FERTILITAS Fertilitas adalah daya atau kemampuan untuk memproduksi keturunan dari seekor hewan/ternak. Banyak faktor yang mempengaruhnya dan sangat komplek serta saling terkait. Oleh karena itu faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas masih bersifat dugaan, walaupun ada yang sudah diketahui secara pasti. Untuk meningkatkan fertilitas kita perlu pengetahuan tentang anatomi dan fungsi reproduksi ternak tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas antara lain faktor abatomis dan fisiologis serta nutrisi. Faktor Anatomis dan Fisiologis a.
Kelainan alat reproduksi Kelainan alat reproduksi dapat disebabkan oleh faktor keturunan (genetik), pakan yang kurang baik, penyakit dan akibat kecelakaan. Akibat penyakit antara lain brucellosis yang disebabkan bakteri Bruccela abortus yang mengakibatkan abortus. Kecelakaan terutama pada sapi perah dapat mengakibatkan torsio uteri atau uteri terbalik.
b.
Hormonal Pada jantan organ testis merupakan penghasil spermatozoa dan hormon testotseron. Suhu testis lebih rendah dari 4-5 oC suhu tubuh. Oleh karena itu apabila suhu tubuh tinggi, akan mengakibatkan kelainan atau kematian spermatozoa. Produksi spermatozoa sapi jantan dewasa 70 juta sel per minggu. Semen yaitu campuran 20% sperma dan 80% seminal plasma.
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
35
Pada betina organ ovari selain menghasilkan sel telur atau ova, juga hormon estrogen. Pada ovari terdapat ovum yang dikelilingi sel-sel folikel. Ada beberapa folikel membesar sebelum estrus dan kemudian pecah membebaskan ovum. Kelainan fungsi hormon dapat mengakibatkan infertilitas (kemajiran sementara) dan sterilitas (kemajiran permanen). Kelainan fungsi hormon pada betina antara lain ovari sistik (cyctic ovary), tidak estrus (anestrus), ovari licin (hypofunction), kawin berulang (repeat breeder) dan siklus berahi panjang. Pada dasarnya kelainan fungsi hormonal ini disebabkan kelenjar endokrin mengalami gangguan. Gangguan tersebut baik karena penyakit maupun gangguan sistem syaraf. Selain itu tiap hormon tidak bekerja sendiri-sendiri melainkan bersama baik secara antagonis maupun sinergistik. Ovari sistik umumnya penyebab turunnya nilai fetilitas (25% dari kasusu). Ovari sistik sering disebut nymphomania, karena 75% dari sapi-sapi yang menderita ovari sistik memperlihatkan gejala anestrus (tidak berahi). Kejadian ovari sistik sebagian besar pada sapi yang dikandangkan terus menerus. c.
Kesehatan Kesehatan ternak harus selalu diperhatikan, baik jantan maupun betina. Oleh karena itu kontrol penyakit dan program vaksinasi harus dilaksanakan secara cepat dan tepat. Ternak yang sduah terserang penyakit untuk menyembuhkannya memerlukan biaya yang besar, selain itu produktivitas ternak menurun.
d.
Genetik Faktor genetik pada jantan dapat mengakibatkan kelainan pada testis, sedangkan pada betina kelainan pada ovari. Akibat gen lethal pada umumnya dapat mengakibatkan kematian pada keturunannya. Pada sublethal mengakibatkan fertilitas sperma rendah.
Faktor Nutrisi Untuk mendapatkan tingkat efisiensi reproduksi yang tinggi sangat sulit, namun demikian dengan tatalaksana pengelolaan yang baik, fertilitas dapat ditingkatkan, sehingga target efisiensi reproduksi yang diharapkan dapat tercapai. Faktor pengelolaan terutama pengelolaan ransum yang diberikan, harus mengandung nutrisi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan baik untuk hidup pokok, pertumbuhan, produksi dan fetus (untuk yang bunting). Pada umumnya cara menyusun hanya berdasarkan pada protein dan energi saja, sedangkan kebutuhan nutrisi lainnya kurang mendapat perhatian. Padahal keseimbangan kandungan mineral dan vitamin sangat menentukan tingkat fertilitas. Misalnya kebutuhan vitamin E mungkin mencukupi pada musim hujan, tetapi pada musim kemarau, mungkin kekurangan karena hijauan yang diberikan kurang.
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
36
PERFORMANS REPRODUKSI Sebelum mempelajari performans reproduksi sapi perah, perlu diingat kembali beberapa istilah ukuran efisiensi reproduksi. Ukuran efisiensi reproduksi dalam usaha peternakan sapi perah sangat penting, karena untuk mendapatkan produksi susu dan keuntungan yang optimal sangat bergantung kepada pengaturan reproduksi sapi perah tersebut. Ada beberapa ukuran efisensi reproduksi untuk sapi perah berdasarkan performans reproduksi selama satu periode laktasi yaitu : 1. Periode kosong (days open) yaitu periode atau selang waktu sejak sapi beranak sampai dikawinkan kembali dan terjadi kebuntingan. Apabila kawin pertama setelah beranak terjadi kebuntingan, maka periode kosong sama dengan selang waktu kawin pertama setelah beranak (first service postpartus). 2. Kawin pertama setelah beranak (first service postpartus) yaitu selang waktusejak sapi beranak sampai dikawinkan kembali. Kawin pertama setelah beranak yang baik berkisar 45-60 hari (pada berahi kedua atau berahi ketiga). 3. Periode kawin (service period) yaitu selang waktu sejak sapi kawin pertama setelah beranak sampai kawin terakhir terjadi kebuntingan. Lamanya periode kawin dipengaruhi oleh jumlah kawin perkebuntingan (S/C, service per conseption) 4. Jumlah kawin perkebuntingan (S/C, service per conseption) yaitu berapa kali sapi dikawinkan sampai terjadi kebuntingan. S/C yang ideal berkisar 1-3. 5. Jarak beranak (calving interval) yaitu selang waktu antara beranak sampai beranak berikutnya. Jarak beanak yang ideal berkisar 12-14 bulan. 6. Indeks beranak (calving index) yaitu perbandingan antara annual calving dengan calving interval yang didapat dari seekor sapi perah. Annual calving yang ideal di Indonesia 12 bulan (365 hari). Performans reproduksi lainnya yang harus mendapat perhatian adalah : 1. Siklus berahi (heat period) yaitu selang waktu dari berahi sampai berahi berikutnya. Siklus berahi pada sapi dewasa berkisar 18-24 hari atau rata-rata 21 hari, sedangkan pada sapi dara biasanya lebih pendek yaitu 15-17 hari. 2. Lama berahi (heat of duration) yaitu selang waktu sejak sapi mulai berahi sampai sapi normal kembali. Lamanya berahi pada sapi perah berkisar 6-36 jam atau rata-rata 18 jam. Pada sapi dara lebih cepat yaitu rata-rata 15 jam. Awal berahi dan lamanya berahi sangat penting untuk menentukan waktu perkawinan yang tepat. 3. Lama bunting (gestation period) yaitu selang waktu sejak sapi dikawinkan dan terjadi kebuntingan sampai beranak. Lama bunting pada sapi perah 283±5 hari atau sembilan bulan.
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
37
Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi reproduksi antara lain : 1. Pakan Telah dijelaskan bahwa ransum yang diberikan kepada sapi perah harus benar-benar diperhatikan dan dihitung sesuai kondisi dan kebutuhan ternak tersebut. Nutrisi yang terkandung di dalam ransum harus dalam keadaan seimbang dan sesuai dengan kebutuhan. Apabila ada kekurangan salah satu nutrisi, maka keseimbangan nutrisi di dalam ransum turun, sehingga mengakibatkan mundurnya fungsi organ-organ reproduksi dan fungsi kelenjarkelenjar yang memproduksi hormon. 2. Suhu udara dan musim Suhu udara sangat berpengaruh terhadap sifat reproduksi misalnya pada sapi yang dikandangkan dengan suhu udara 24-35 oC, lama berahi kurang lebih 11 jam, sedangkan pada suhu udara 17-18 oC lama berahi rata-rata 20 jam. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa sapi perah yang mempunyai siklus berahi kurang dari 18 hari sebanyak 5%, 18-24 hari sebanyak 85% dan yang lebih dari 24 hari sebanyak 10%. 3. Manajemen Secara keseluruhan manajemen atau tatalaksana sangat berpengaruh, karena sapi perah sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan manajemen terutama yang berhubungan langsung dengan termaknya. Dalam tatalaksana reproduksi yang penting adalah adanya catatan yang menginformasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan reproduksi. Catatan ini harus lengkap dan jelas. 4. Penyakit Apabila ternak terserang penyakit, maka biaya yang dikeluarkan cukup besar. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan pencegahan baik melalui seleksi maupun vaksinasi secara rutin.
PENGELOLAAN REPRODUKSI Pengelolaan setelah beranak Untuk mendapatkan sapi perah dengan tingkat efisiensi yang tinggi, tidak terlepas dari sistem seleksi yang ketat dan pemeliharaan terutama pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan tingkat umur, berat badan, produksi ssu dan kadar lemak. Pada sapi perah yang dikandangkan terus menerus harus dilakukan exercise untuk melancarkan peredaran darah dan mendapatkan sinar matahari secara langsung agar ternak lebih sehat dan fungsi reproduksi normal. Ada beberapa pendapat bahwa untuk sapi dara sebaiknya dilakukan perkawinan secara alam. Demikian pula yang terjadi pada sapi sesudah beranak, yang memperlihatkan gejala berahi kurang lebih 20% dan pada berahi kedua kurang lebih 40%. Tampilan gejala berahi yang kurang jelas banyak menimbulkan masalah terutama dalam menentukan waktu kawin yang tepat. Hal ini mengakibatkan S/C tinggi, sehingga target selang beranak 12-14 bulan tidak tercapai.
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
38
Pengelolaan pakan Pakan merupakan faktor lingkungan terbesar yang mempengaruhi reproduksi sapi perah. Sejak terjadinya fertilisasi (embrio) sampai pemberian ransom harus selalu diperhatikan sesuai dengan tingkat Sapi perah yang dilepas di padang rumput pada umumnya fertilitas daipada sapi yang dikandangkan.
performans sapi diafkir kebutuhan. lebih tinggi
Pedet dengan tingkat pertumbuhan yang baik pada umur 12 bulan dapat mencapai berat badan 230-250 kg dan pada umur 15 bulan dapat mencapai 275325 kg dan siap untuk dikawinkan. Pengawasan Pengawasan harus secara rutin, terutama pada sapi yang saatnya estrus (dari catatan). Perlakuan ini sangat penting, karena apabila estrus terlewat, maka merupakan suatu kerugian yaitu memperpanjang selang beranak. Catatan reproduksi Usaha peternakan yang baik semua kegiatan, kejadian maupun permasalahan harus selalu dicatat secara terperinci. Adanya catatan reproduksi dapat dilakukan evaluasi. Apakah sapi tersebut layak untuk tetap dipelihara atau dikeluarkan. Kesehatan Kondisi kesehatan merupakan salah satu faktor tampilan reproduksi baik sapi jantan maupun betina. Kesehatan terkait dengan tingkat tatalaksana pemeliharaan. Apabila sapi sakit, maka akan dikeluarkan biaya untuk pengobatan dan selain itu produktivitas ternak menurun. Genetik Faktor genetik sangat menentukan tampilan reproduksi. Untuk menanggulangi kerugian karena faktor genetik, usaha yang terbaik dilakukan seleksi secara ketat dan jangan sampai terjadi inbreeding, oleh karena itu perlu catatan yang akurat.
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
39
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
40
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
41
Laboratorium Produksi Ternak Perah – Fakultas Peternakan UNPAD
42