I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
PERANAN ORANG TUA DAN ANAK DALAM PENDIDIKAN HINDU GUNA MEWUJUDKAN KELUARGA SUKHINAH I Gede Jaya Satria Wibawa Dosen Tetap Jurusan Dharma Sastra Prodi Hukum Agama Hindu STAH Negeri Gde Pudja Mataram
Abstract Efforts to develop human resources is determined by the characteristics of man and society in the future will, the man who has the sensitivity, responsibility, independence, willing to develop all aspects of potential through continuous learning process to find yourself and be yourself. Family happy and prosperous then become an ideal destination and hope an Indonesian family. Family prosperous family identified with sufficient clothing, food, and shelter. State quite certainly is relative, but it contains the meaning is able to meet the minimum requirements, so that such a state is able to create an atmosphere of calm in family psychotherapy. The design of this research use descriptive qualitative research data presentation as the findings of the research, and seek to find meaning and results achieved according Role of Parents and Children In Hindu Education To Achieve Family Sukhinah. So the data analysis in this study is twofold; as long as there is on-site analysis, and the analysis after leaving the location. Analysis after leaving the scene begins with a categorization problems or findings and compile the code, and then arrange the sort reviewers. Results from this study, that the family unit plays a role in the education of Hindu urgency, here embodied the main meaning of family education at the same time as one of the centers of education first and foremost. Similarly families who bear the future of mankind. Therefore every Hindu family should begin to develop the attitudes and behavior towards children from an early age. Keywords: Role of Parents and Children, Hindu Education, Family Sukhinah
429
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
A. PENDAHULUAN
Tujuan
pendidikan
agama
Upaya membangun sumber
Hindu tidak terbatas pada transfer
daya manusia sangat ditentukan oleh
ilmu pengetahuan (Knowledge) saja,
karakteristik manusia dan masya-
sebenarnya tujuan pendidikan agama
rakat masa depan yang di kehendaki,
Hindu
yaitu
memiliki
pendidikan nasional, sebagaimana
kepekaan, tanggungjawab, keman-
disebutkan dalam Undang-Undang
dirian, berke-inginan untuk mengem-
Sistem Pendidikan Nasional Nomor
bangkan
20 Tahun 2003 yakni bertujuan
manusia
yang
segenap
aspek
potensi
sejalan
dengan
melalui proses belajar yang berkesi-
untuk
nambungan untuk menemu-kan diri
terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
sendiri dan menjadi diri sendiri.
kecerdasan, keterampilan, memper-
Berkali-kali di media massa dibahas
tinggi budi pekerti, memperkuat
bahwa pelajaran budi pekerti akan
kepribadian
diajarkan
sekolah.
semangat kebangsaan agar dapat
Kebijaksanaan itu bahkan sudah
membangun manusia-manusia pem-
berada di tangan DPR untuk digodok
bangunan yang dapat membangun
lebih lanjut. Mendengar hal ni para
dirinya sendiri serta bersama-sama
guru dan orang tua sangat gembira
bertanggungjawab ter-hadap pemba-
dan menunggu-nunggu pnuh harap.
ngunan bangsa, sehingga jelas bahwa
Degradasi moral dewasa ini terjadi
arah
sebagai salah satu dampak karena
nasional adalah terbinanya manusia-
tidak diajarkannya pendidikan budi
manusia Indonesia yang bertaqwa
pekerti,
terkondisikan
kepada Tuhan Yang Maha Esa,
dimana keteraturan hidup, sopan-
dengan memperhatikan aspek-aspek
santun, rasa tanggungjawab, etika
kecerdasan,
dan budi pekerti terabaikan. Juga
keahlian.
kembali
sehingga
di
keadaan siswa dewasa ini jauh dari
meningkatkan
tujuan
dan
dan
strategi
ketaqwaan
mempertebal
pen-didikan
keterampilan
dan
Pendidikan agama memegang
harapan.
andil yang tidak kecil dalam rangka
430
I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
mencapai tujuan pendidikan nasio-
tuhan
nal, pada pasal 1 ayat 1 Undang-
pangan, dan papan atau materi. Kata
Undang Sistem Pendidikan Nasional
bahagia
dan
Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan
dikaitkan
dalam
satu
bahwa ada empat komponen tujuan
tunggal,
yang
meng-gambarkan
pendidikan
adanya
yang
pencapaiannya
hidup,
seperti
situasi
sandang,
sejahtera
selalu
pengertian
seimbang
antara
menjadi beban pendidikan agama,
suasana batin dan suasana lahir.
yaitu : 1) memi-liki kekuatan spiri-
Pendek kata, sebuah keluarga tidak
tual keagamaan, 2) pengendalian
pernah disebut bahagia jika hanya
diri, 3) kepribadian dan 4) akhlak
berkecukupan harta, tetapi tidak
mulia. Keempat komponen di atas
menikmati suasana batin yang baik.
menunjukkan betapa besar pengaruh
Keluarga
bahagia
dan
pendidikan agama dan betapa stra-
sejahtera kemudian menjadi tujuan
tegisnya posisi orang tua dan guru
sekaligus harapan ideal sebuah ke-
agama dalam upaya mewujudkan
luarga Indonesia. Keluarga sejahtera
tujuan pendidikan yang diharapkan
diidentikkan dengan keluarga yang
tersebut di atas. Dengan kata lain
cukup sandang, pangan, dan papan.
orang tua dan guru agama memiliki
Keadaan cukup tentu bersifat relatif,
peranan yang besar dalam membina
tetapi
moralitas bangsa.
makna mampu memenuhi kebutuhan
Selain itu, dalam berbagai wacana
pembangunan,
di
dalamnya
terkandung
mi-nimal, sehingga keadaan seperti
acapkali
itu mampu menciptakan suasana
wacana mengenai keluarga bahagia
kebatinan tenang dalam keluarga
dan sejahtera dimunculkan. Kata
tersebut.
bahagia selalu dikaitkan dengan aspek psikologis dan ukuran-ukuran pera-saan
yang
paling
B. METODE PENELITIAN
dalam,
Rancangan
penelitian
ini
sementara kata sejahtera dikaitkan
menggunakan penelitian kualitatif
dengan ukuran pemenuhan kebu-
deskriftif yaitu rancangan penelitian
431
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
untuk mengetahui Peranan Orang
di
Tua dan Anak
meninggalkan
Dalam Pendidikan
lokasi,
dan analisis
sesudah
lokasi.
Analisis
Hindu Guna Mewujudkan Keluarga
sesudah meninggalkan lokasi dimu-
Sukhinah. Jenis penelitian ini adalah
lai dengan membuat katagorisasi
diskriptif. Dilihat dari kriteria yang
masalah atau temuan dan menyusun
ditentukan kiranya, dalam pemilihan
kodenya, kemudian menata dengan
subjek penelitian ini sudah memadai,
mengurutkan penelaahannya.
baik
dari
segi
waktu,
tempat,
peristiwa dan objek. Instrumrn yang digunakan
dalam
ini
Dalam Manavadharmasastra
berupa wawancara, dan observasi.
Adhyaya VI Sloka 89 disebutkan
Teknik pengumpulan data dilakukan
bahwa kehidupan berkeluarga (Grs-
dengan wawancara terhadap tokoh
hasta Asrama) merupakan masa
agama,
masyarakat.
yang penting dan utama. merupakan
Analisis data dalam penelitian ini
masa-masa di mana para anggota
merupakan upaya menata secara sis-
keluarga membangun diri agar satu
tematis hasil ob-servasi, wawancara,
sama lain saling mendukung dan
dan
untuk
saling memberi arti, sehingga di
meningkatkan pema-haman peneliti
antara mereka terjalin komunikasi
tentang masalah yang diteliti.
dan
dan
penelitian
C. PEMBAHASAN
tokoh
dokumentasi,
diskusi
interaksi
yang
harmonis.
Selanjutnya adalah penyajian
Dikatakan saling mendukung dan
data sebagai temuan bagi peneliti,
memberi arti, karena setiap individu
dan mengupayakan mencari makna
dalam keluarga tidak pernah sama,
dan
sesuai
satu sama lain memiliki kelemahan
Anak
dan kelebihan sendiri.
hasil
Peranan
yang
Orang
dicapai Tua
dan
Dalam Pen-didikan Hindu Guna Mewujudkan
Keluarga
Keluarga
Sukhinah.
umum
dapat
sukhinah diartikan
secara dengan
Jadi analisis data dalam penelitian
keluarga bahagia dan sejahtera. Kata
ini ada dua yaitu; analisis selama ada
sejahtera lebih berhubungan dengan
432
I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
material, sedangkan kata bahagia
Wanitapun
lebih berhubungan dengan aspek
mengeluh atas tugas-tugas itu, dan
psikologis. Oleh karena itu, tugas ibu
yang lebih penting dari itu, wanita
rumah tangga bersama suami wajib
dituntut
ikut mewujudkan dua aspek tadi,
kewanitaan yang paling dasar. Hal
yaitu berkecukupan dalam aspek
ini dipertegas dalam kitab Manawa
material dan bahagia dalam perasaan.
Dharmasastra Bab IX, Sloka 101 dan
Dalam Rgveda VIII.33.19 (dalam
sloka 102 sebagai berikut:
Raka,2008:38)
disebutkan
wanita
seorang
sesungguhnya sarjana
dan
setia
tidak
sebagai
boleh
nilai
“Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya ini dianggap hukum yang tertinggi bagi suami dan istri”
bahwa
”Stri hi brahma babhuvitha” artinya :
dituntut
adalah seorang
pengajar. “Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jenunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain.”
Kutipan di atas menyiratkan pula bahwa wanita tidak boleh melupakan fungsi utamanya sebagai pendidik anak dan pengatur rumah tangga atas dasar cinta kasih dan kesetiaan. Sebagai pendidik anak, wanita
harus
tetap
mampu
Kedua sloka di atas nampak
memerankan fungsi ibu sejak mulai
bahwa Hindu tidak menginginkan
pengandung, melahirkan, menyusui,
perceraian. Bahkan menganjurkan
mengawinkan anak-anaknya yang telah
dewasa
hingga
agar
penyemai
Diharapkan semua itu diupayakan
juga harus tetap mampu menyiapkan
dengan sekuat tenaga dan secara
segala sesuatu berkaitan dengan hingga
kekal
tertinggi bagi pasangan suami istri.
seluruh anggota keluarga. Wanita
tangga
yang
hendaknya dijadikan sebagai tujuan
benih-benih kasih sayang terhadap
rumah
perkawinan
terus menerus. Suami istri hendaknya
detail.
433
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
menempatkan ketentuan itu sebagai
ping karir suami. Khusus sebagai
hukum yang tertinggi.
pendamping karir suami, tugas istri
Keluarga
sukhinah
tidak
juga tidak ringan. Sebagai istri
hanya ditentukan hanya oleh suami
memiliki
dan istri. Sebuah keluarga sukhinah
mengingatkan suami yang sedang
juga ditentukan oleh sikap bhakti
menjabat untuk tidak melakukan hal-
anak-anak terhadap kedua orang
hal yang tidak dibenarkan menurut
tuanya. Dalam keluarga Hindu, anak
agama
adalah
menjadi
mengingatkan suami setiap saat,
pelindung bagi orang yang memer-
bukan berarti kita mengambil tugas
lukan pertolongan serta menolong
suami,
apalagi
kaum
dengan
kepentingan
orang
yang
kerabat
yang
tertimpa
kewajiban
dan
setiap
hukum.
saat
Pengertian
mendikte
suami
kita.
Men-
kesengsaraan, untuk disedekahkan
dampingi suami bebarti menyadari
hasil usahanya untuk ia memasak,
akan
menyediakan makanan untuk orang
kewajibannya.
tugas
suami,
hak
dan
rupaka
yang
miskin, orang demikian itu putra sejati
namanya”
(Sara-samucaya
Sloka 228).
1. Peranan Orang Tua
Agar anak-anak dalam ke-
Gelar
guru
luarga memiliki nilai sebagaimana
diberikan oleh agama kepada para
diharapkan
Sarasamucaya,
orang tua bukan hanya dimaksudkan
maka kita berkewajiban mendorong
sebagai tugas melahirkan dan meme-
agar anak-anak kita belajar, tidak
lihara
bimbang
kembangkan
dalam
dalam
pikiran,
tidak
tetapi
juga sikap
menumbuhdan
memikirkan hal-hal lain kecuali ilmu
bertanggungjawab
pengetahuan. Dengan uraian di atas,
anaknya, sehingga mereka memiliki
dapat
beratnya
moral yang luhur dan keperibadian
tugas sebagai ibu rumah tangga,
yang baik. Akan tetapi dari kenyatan
sebagai istri, dan sebagai pendam-
tidak sedikit para orang tua yang
dipahami
betapa
434
kepada
perilaku anak-
I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
sibuk dengan pekerjaan di luar
Pertama-tama memang diper-
rumah, bahkan ada yang hampir
lukan adanya pendidikan disiplin dan
semata-mata untuk mencapai keung-
perilaku anak-anak hendaknya me-
gulan dibidang material, dengan
ngikuti pola-pola yang telah diten-
mengabaikan penumbuhkembangan
tukan lebih dahulu sebagaimana
dimaksud.
tercantum
Hal
demikian
jelas
dalam
pustaka-pustaka
bertentangan dengan tugas kewajiban
suci agama, sebagai contoh: seorang
guru rupaka yang semestinya.
anak
Sungguh berat sebenarnya
yang
menginginkan
suatu
boneka yang dimiliki temannya, ia
tugas guru rupaka, tetapi merupakan
boleh
yajña yang suci dan mulia bila
dengan kewajiban mengembalikan
dilaksanakan sebagaimana mestinya.
pada waktunya. Ia hendaknya jangan
Tugas untuk mengadakan penum-
mencuri
buhkembangan sikap dan perilaku
merampas dari kekuasaan temannya
tersebut sangat berat, sebab dalam
begitu saja. Apabila anak-anak ingin
penumbuhkembangan itu para orang
tidur maka mereka harus menggosok
tua
dengan
gigi dan mencuci kaki terlebih
memberikan pendidikan atau disip-
dahulu, bila anak-anak menerima
lin. ganyak lagi kebutuhan-kebutu-
atau memberikan sesuatu dari orang
han anak yang harus diperhatikan
lain hendaknya ia memakai tangan
yang dapat menunjang berhasilnya
kanan.
proses penumbuhkembangan. Ada-
benda-benda hendaknya meletakkan
pun kebu-tuhan-kebutuhan tersebut,
kembali pada tempatnya.
tidak
cukup
hanya
antara lain : kebutuhan akan kebebasan,
kebu-tuhan
akan
meminjam
boneka
Dan
dari
temannya
tersebut
apabila
atau
mengambil
Contoh-contoh di atas meru-
kasih
pakan gambaran sederhana dalam
sayang, kebutuhan akan rasa aman,
kehidupan konkrit sehari-hari. Sedari
kebutuhan akan rasa harga diri,
masa kanak-kanak seseorang harus
kebutuhan akan kesuk-sesan dan
didik supaya jangan bersikap irihati,
kebutuhan untuk ingin tahu
dengki
435
atau
cemburu
kepada
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
sesamanya, akan tetapi sebaliknya
kebebasan, disamping memperhati-
senantiasa harus mengabdi kepada
kan
Tuhan
anak.
Yang
Maha
Kuasa,
pula
kebutuhan-kebu-tuhan
menjunjung tinggi kebenaran serta mencintai sesamanya dan semua
2. Pembentukan Sikap dan Perilaku
makhluk. Akan tetapi menumbuh-
Manusia
sebagai
kembangkan sikap disiplin saja tidak
makhluk
cukup untuk mengarahkan seseorang
sebagai makhluk sosial. Sebagai
anak menjadi pribadi yang baik dan
makhluk social selalu mengalami
berguna
sebab
interaksi yang timbal balik dengan
dengan disiplin semata mungkin
sesamanya. Dalam interaksi timbal
dapat mematikan daya kreasi dan
balik itu, tidak hanya terjadi pada
melemahkan
anak,
kontak hubungan biasa, tetapi terjadi
maka diperlukan adanya kebebasan
hubungan yang saling mempengaruhi
bagi
satu dengan yang lain. Apalagi
bagi
anak
masyarakat,
I.Q
.seorang
yang
merupakan
yang
selain
individual,
juga
kebutuhan pokok bagi setiap orang.
ketika hubungan itu
Namun kebebasan yang dimaksud
pendidikan, kekuasaan, jabatan, aga-
adalah kebebasan dalam disiplin,
ma, kebudayaan, ikatan emosional
suatu contoh : seorang anak boleh
dan kekeluargaan, kekua-tan saling
saja
bebas
mempengaruhi akan sangat kuat.
mengganggu
Diantara berbagai macam faktor
ketertiban umum. Dengan demikian
yang dapat membentuk sikap dan
dapat disimpulkan bahwa dalam
perilaku. Sarifuddin Azwar (dalam
rangka penumbuh-kembangan sikap
Tu‟u, 2004 : 71) mengatakan bahwa
dan perilaku bertanggungjawab pada
faktor dominan yang mempengaruhi
anak usia dini, perlu sekali diper-
sikap dan perilaku, antara lain penga-
hatikan adanya faktor keseimbangan
laman peribadi, orang yang dianggap
yang
penting, lembaga pendidikan, agama
bermain-main
sepanjang
wajar
secara
tidak
antara
pemberian
pendidikan disiplin dan pemberian
dan kebudayaan.
436
ada unsur
I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
Keluarga atau rumah tangga
1) Sarirakrta,
yaitu
kewajiban
adalah bentuk hidup bersama yang
orang tua untuk menumbuhkan
merupakan lembaga social terkecil
jasmani si anak dengan baik.
dan terpenting. Keluarga pada hake-
2) Pranadatta, artinya orang tua
katnya adalah lembaga pendidikan,
wajib membangun atau mem-
tempat belajar agama Hindu, sehing-
berikan pendidikan kerohanian
ga
kepada si anak.
keluarga
tersebut
merupakan
lembaga yang dapat menumbuhkan
3) Annadatta,
yaitu
kewajiban
terjalinnya pengabdian dan teratur-
orang tua untuk memberikan
nya peningkatan hidup setia dalam
pendidikan
mencapai tujuan hidupnya. Karena
untuk men-dapatkan makanan
itulah disebut keluarga. Kata ke-
(anna) salah satu kebutuhan
luarga artinya pengabdian terjalin,
hidupnya yang paling essensial.
sedangkan rumah tangga adalah
(Wiana, 1997 : 47)
rumah tem-pat menata agar mampu
kepada
Nitisastra
mendaki kea rah tujuan hidup.
anaknya
VIII.3
juga
menjelaskan kewajiban Bapak ter-
Menurut pandangan Hindu,
hadap
anaknya
disebut
dengan
orang tua dalam memberikan pendi-
Panca Wida, yaitu lima kewajiban
dikan kepada anaknya didorong oleh
ayah kepada anaknya, yaitu :
suatu keyakinan bahwa pendidikan
1. Sang
yang
diberikannya
merupakan kepada
wujud
leluhurnya,
itu
sekaligus
(ayah
itu
sebagai penyebab lahirnya si
pengabdian karena
Ametwaken
anak)
umat
2. Matulung urip rikalaning baya
Hindu percaya bahwa anaknya itu
(menyelamatkan jiwa si anak
tiada lain penjelmaan leluhurnya,
tatkala
sehingga dalam Sarasamuscaya 242
bahaya).
dijelaskan tentang tiga kewajiban
mendapat
ancaman
3. Nitya maweh bhinojana (selalu
seorang ayah sebagai berikut :
memberikan makanan kepada si anak)
437
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
4. Mangupadyaya ayah
(kewajiban
memberikan
ungka-pan “raja”, “pelayan”, dan
si
“kawan”.
pendidikan
“Raja” adalah simbol istime-
kepada si anak) 5. Anyangaskara (artinya menyu-
wa yang diberikan kepada hal-hal
cikan si anak atau membina
yang harus diutamakan atau dila-
mental spiritual si anak) (Wiana,
kukan dengan sebaik-baiknya. Jadi
1997:47)
menurut konsep pendidikan ini, anak
Dalam Slokantara, buku yang
umur 0-5 tahun harus diperlakukan
memaparkan tentang untaian ajaran
sebaik-baiknya, baik secara fisik
etika, teks, terjemahan dan ulasan
maupun mental.
Perlakuan fisik
(Sudharta, 1997:83), pada sloka 22
diberikan
terbaik
(48) dinyatakan:
pemberian
Sampai umur lima tahun, orang harus memperlakukan anaknya sebagai raja. Dalam sepuluh tahun berikutnya sebagai pelayan dan setelah umur enam belas tahun ke atas harus diperlakukan sebagai kawan.
sentuhan dan lain-lain. perlakuan
matan
dari
bentuk
pedidikan
tesebut.
adalah sebagai berikut: jika ada seorang bayi (balita) yang digendong
sudah
oleh orang dewasa ditanya oleh orang ketiga, maka pengasuh bayi
Menurut Slokantara perlakuan orang pendidikan
dalam
Dalam masyarakat Bali (Hindu)
memasuki jenjang rumah tangga.
terhadap
diwujudkan
perilaku yang sopan, wujud nyata
dewasa (lebih dari 15 tahun), bahkan
tua
yang
bentuk kata-kata yang halus dan
anak dari baru lahir (0 tahun) hingga
anak
lingkungan,
kan penuh pengakuan atau penghor-
memberikan isyarat cara mendidik
ketika
makanan,
melalui
mental diberikan dengan member-
Pernyataan tersebut di atas
termasuk
yang
akan
anak
mewakili
bayi
merespon
penanya dengan respon kata atau
dibedakan menjadi tiga thapan, yaitu
gerak yang benar, yaitu meng-
umur 0-5 tahun, umur 6-15 tahun
gunakan kata-kata halus dan gerak
dan umur anak lebih dari 15 tahun
anggota badan yang sesuai dengan
dengan menggunakan simbol-simbol
438
I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
tata nilai yang dianut, misalnya
dengannya.
Sebagaimana
halnya
menggunakan tangan kanan yang
seorang pelayan, seorang anak pada
dikenal dengan tangan manis.
tahap ini diharapkan mau melakukan apa yang diperintahkan dan selalu
”Pelayan” adalah simbol ba-
hormat pada orang lain, terutama
gi orang yang tidak berhak mem-
adalah orang yang lebih tua.
bantah atau berkomentar. Anak-anak
“Kawan” adalah simbol bagi
pada umur 6-15 tahun, secara psi-
orang yang setara. Anak setelah ber-
kologis ada dalam keadaan pan-
umur 16 tahun atau lebih hendaknya
caroba, yaitu pikiran berubah-ubah,
diperlakukan secara setara dengan
belum mampu mengambil keputusan
orang dewasa
secara
selalu
dilakukan mengingat setelah ber-
mau menang sendiri dan bentuk-
umur 16 tahun anak sudah cukup
bentuk perilaku kurang baik lainnya.
dewasa untuk membedakan antara
Pada umur tersebut pendidikan harus
yang baik dan yang buruk, antara
diberikan secara tegas dan diten-
yang pantas dan yang tidak pantas,
tukan secara eksternal. Orang dewa-
berdasarkan pengalaman baik yang
sa
dia
bertang-gungjawab,
(orang
tua,
guru)
harus
peroleh
memberikan dengan tegas apa yang
sebelumnya.
mesti
sangat
mereka
lakukan.
Dalam
lainnya.
pada
Hal
15
Pen-didikan
menganjurkan
ini
tahun modern
agar
anak
pendidikan formal dinyatakan guru
diberikan kesempatan menyetarakan
harus menentukan apa yang mesti
diri dengan orang dewas, misalnya
dipelajari,
dalam bentuk yang dikenal dengan
kapan
dipelajari
dan
dimana mereka belajar (Burn, 1995
pendidikan
dalam Subagia 2007:5). Pada tahap
daannya adalah dalam pendidikan
ini anak dilatih menjadi pelayan
tradisional
yang baik, mulai dari melayani
dilakukan setelah anak dipandang
adiknya atau kakaknya, orang tuanya
mampu memaknai kata demokrasi,
dan orang lain yang berinteraksi
dalam pendidikan barat hal tersebut
439
demok-ratis.
demokratisasi
Perbe-
baru
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
dianjurkan diberikan sejak pendidi-
latih agar patuh kepada pemerintah.
kan usia dini.
Pada tahap ini, anak hendaknya
Nilai-nilai filosofis pendidi-
dilatih untuk mengenali dan meng-
kan terhadap anak seperti diuraikan
hormati panji-panji peme-rintahan,
dalam Slokantara, secara lebih rinci,
misalnya mengenal pim-pinan peme-
diuraikan dalam buku Nitisastra
rintahan, lambang negara, bendera,
IV.20 (Sudharta, 1997:85). tahapan
lagu kebangsaan dan lain-lain. Pada
pendidika anak dinyatakan sebagai
tahapan beikutnya (umur 7-15 tahun)
berikut:
barulah anak diajar untuk membaca
Perlakuan kita terhadap anak ialah sampai berumur lima tahun hendaknya diperlakukan sebagai putra raja. Sampai berumur tujuh tahun dilatih supaya patuh pada pemerintah, berumur sepuluh tahun diajar membaca, dari umur enam belas tahun diperlakukan sebagai kawan dan harus berhati-hati jika menunjukkan kesalahannya. Jika ia sendiri sudah berputra, tingkah lakunya hanya cukup pengamatan saja dan jika memberitahu harus dengan gerak isyarat.
mulai dari mengenali huruf (simbol)
Berdasarkan uraian tersebut,
Satu harapan penting lainnya dalam
hingga membaca isi bacaan. Setelah seorang anak berumur lebih dari 16 tahun, anak hendaknya diperlakukan sebagai kawan. Hal ini sama dengan uraian yang ada dalam Slokantara dan
ditekankan
bahwa
dalam
menunjukkan kesalahannya harus dengan hati-hati, karena dalam usia tersebut, anak mudah tersinggung.
tahapan pendidikan terhadap anak
pendidikan adalah tahapan
dikelompokkan menjadi lima taha-
seorang
pan, yaitu umur 0-5 tahun, umur 5-7
(berputra), walaupun mereka belum
tahun, umur 7-15 tahun, umur 16
berumur di atas 16 tahun. Perlakuan
tahun keatas dan umur sesuah me-
pendidikan yang dapat diberikan
nikah (mempunyai putra). Perlakuan
adalah
terhadap anak umur 0-5 tahun sama
tingkah lakunya dan jika ada yang
dengan
harus diberi tahu cukup dengan
yang
dinyatakan
dalam
slokantara. Anak umur 5-7 tahun di-
anak
dengan
sudah
menikah
mengamati
isyarat atau dengan analogi.
440
ketika
saja
I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
Di samping dilihat dari umur
tidak diperkenankan rebut berkelahi
lahir,
dengan
sejak
nilai-nilai
filosofis
suami
dan
8)
banyak
pembelajaran yang ada dalam ajaran-
mendengar nasehat dan lagu-lagu
ajaran Hindu yang dianut oleh
yang mencerminkan tata susila dan
masyarakat Bali juga memaparkan
permulaan yang baik.
pendidikan
anak
sejak
kandungan (pendidikan
dalam
Untuk
suami
yang
prenatal).
mempunyai istri hamil, diharapkan
Pendidikan anak dalam kandungan
agar: 1) ikut serta melaksanakan tapa
dilakukan secara tidak langsung,
brata sehingga dapat melahirkan
antara
memberikan
anak yang suputra (suami dan istri
petunjuk kegiatan sehari-hari kepada
yang hamil pertama, biasanya akan
orang tua (ibu dan ayah) kandung
memelihara rambutnya sebagai tanda
mereka.
kecintaan dan kesetiaannya terhadap
Seorang ibu yang sedang mengan-
istri),
dung (hamil) diharapkan agar : 1)
mencela orang cacat jasmani dan
rajin melakukan tugas sehari-hari
mental,
serta
dalam
penyembelihan binatang, 4) tidak
membaca
melakukan penganiayaan, 5) tidak
tentang hal-hal yang menyokong
melakukan kata-kata yang dapat
tentang
tidak
menyakiti dan 6) dapat memenuhi
dibolehkan melihat penyem-belihan
setiap keinginan istri yang hamil
binatang dengan pengertian ahimsa
(Manuaba, 1994 dalam Subagia,
karma,
2007:6)
lain
dengan
selalu
penampilan,
2)
rajin
kehamilan,
4)
tidak
mengucapkan menyakiti karma),
bersih
diper-kenankan
kata-kata
hati 5)
3)
tidak
2)
tidak
3)
tidak
diperkenankan
melakukan
yang
Adanya beberapa petunjuk
(ahimsa
pengendalian aktivitas ibu dan ayah
diperkenankan
dari bayi yang masih ada dalam
orang
mencela orang cacat jasmani atau
kandungan
mental, 6) memelihara kesehatan
bahwa pendidikan terhadap anak
dengan cara meningkatkan gizi, 7)
dimulai
441
yang
sejak
bayi
menunjukkan
ada
dalam
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
kandungan, semasih bayi ada dalam
perempuan,
kandungan, interaksi baik secara
engkau menyebut dirimu Ibu, jika
fisik maupun psikis yang paling
engkau tidak mampu memelihara
dekat terjadi adalah dengan sang ibu.
kesetiaanmu pada suami dan anak-
Oleh
pengendalian
anakmu”. Jadi, antara suami dan istri
aktivitas ibu dan ayah, dimaksudkan
secara sepintas diberikan penegasan
agar sang ibu selalu dalam keadaan
akan
harmonis, baik secara fisik maupun
namun
psikis. Diyakini bahwa gangguan
kebajiban itu diaharapkan saling
fisik atau psikis yang dialami oleh
bersinergi sehingga mampu meno-
ibu
pang terciptanya keluarga bahagia
karena
hamil
itu
dapat
berpengaruh
terhadap perkembangan bayi yang
pada
yang
berbeda,
hakikatnya
kedua
Hubungan antara suami dan istri
Istri
kewajiban
sekali-kali
dan sejahtera atau keluarga sukinah.
ada dalam kandungan.
3. Peran
“jangan
Mewujudkan
seimbang
telah
dinyatakan secara simbolis dalam
Keluarga Bahagia dan Sejahtera
konsep Ardanariswari, yaitu simbol
Untuk mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera tentu
secara
Tuhan dalam manifestasi sebagai
tidak
setengah purusa dan pradana. Tiada
bisa hanya dibebankan kepada istri
sesuatu apapun akan tercipta, jika
atau suami saja, melainkan harus
kekuatan purusa dan predana tidak
diupayakan bersama-sama. Seorang
menyatu. Penyatuan kedua unsur itu
suami
diyakini telah memberikan bayu bagi
dituntut
sementara
tanggungjawab
seorang
istri
dituntut
terciptanya berbagai mahluk dan
kesetiaan. Dalam susastra Hindu disebutkan
“jangan
tumbuhan yang ada.
sekali-kali
Makna simbolis dari konsep
engkau menyebut dirimu Bapak,
Ardanariswari itu, kedudukan dan
manakala engkau tidak pernah ber-
peranan perempuan satara dan saling
tanggungjawab terhadap keluargamu.
melengkapi
Demikian
malahan
pula
halnya
dengan
442
dengan
dimuliakan.
laki-laki, Tidak
ada
I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
alasan serta argumentasi teologis
berikan „keteduhan‟ bagi keluarga-
yang menyatakan bahwa kedudukan
nya. Oleh karena itu, dalam Canakia
perempuan berada di bawah laki-
Niti Sastra, V.23 disebutkan Rāja patnī guroh patnī mitra patnītathaiva ca patnī mātā svamātā ca pañcaitā mātarah smrtāh
laki. Itu sebabnya dalam berbagai sloka Hindu dapat ditemukan aspek yang menguatkan kedudukan perempuan di antara laki-laki. Dalam sloka
Manawa
Darma
Terjemahannya : Istri raja, istri guru,
Sastra
istri teman, ibu mertua, dan ibu
disebutkan:
sendiri semuanya disebut sebagai Ibu. Mengapa istri raja dianggap
Jamayo yani gehani, Capantya patri pujitah, Tani krtyahatanewa, Winacyanti samantarah (MDS, III,58)
sebagai ibu, karena seorang istri raja seharusnya tidak saja melindungi anak-anaknya
dan
keluarganya
sendiri, tetapi melindungi semua Terjemahannya :
rakyat
Rumah dimana perempuannya tidak dihormati sewajarnya, Mengucapkan kata-kata kutukan Keluarga itu akan hancur seluruhnya Seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib
yang
ada
di
wilayah
kekuasaannya. Sikap seorang ratu menyayangi seluruh rakyat seperti menyayangi anak-anaknya sendiri, menempatkan dia harus diperlakukan
Kutipan sloka di atas menunjukkan
dan dihormati sebagai ibu. Istri guru
bahwa perempuan dalam teologi
juga harus diperlakukan sebagai ibu,
Hindu bukanlah tanpa arti. Malahan
karena istri guru itu identik dengan
ia dianggap sangat berarti dan mulia,
sang guru yang telah membuat kita
sebagai dasar kebahagiaan rumah
semua menjadi melek uruf, ber-
tangga. Besarnya peran istri dalam
pengetahuan, dan memiliki eksistensi
pembentukan keluarga bahagia dan
dalam kehidupan ini. Teman yang
sejahtera, menyebabkan istri tidak
dimaksud dalam makna ini mereka
semata-mata dimaknai sebagai se-
yang setia dalam suka dan duka,
orang perempuan yang melahirkan,
orang yang dapat dipercaya, bukan
tetapi mereka yang mampu mem-
443
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
mereka yang dekat ketika kita sedang
nya sebagaimana dinyatakan pula
berkuasa dan menjauh ketika kita
pada sloka berikut.
sedang mengalami duka nestapa. Istri Pānigrāhasya sādhivīstrī jiwato vānirtasya vā patilokamabhīpsantī nālaret kiurcidapriyain (MDS,V,156)
teman yang mampu me-laksanakan peran seperti itu harus dianggap sebagai ibu. Mertua adalah ibu dari istri
atau
suami,
kedudukannya
karena
harus
itu
disamakan
Terjemahan :
dengan ibu yang melahirkan kita
Seorang istri yang setia, yang ingin tinggal bersama terus dengan suaminya sampai nanti setelah ia meninggal, tidak melakukansesuatu yang menyakiti hati orang yang mengawininya, apakah dia masih hidup atau sudah mati.
sendiri. Keduanya harus diperlakukan dan dihormati ibarat seorang Dewi yang telah memberikan kebahagiaannya bagi keluarga. Pengertian ibu seperti tersebut di atas menempatkan seorang perempuan harus
Sloka di atas mempertegas
mampu memerankan sejumlah tugas
bahwa seorang ibu dan istri sea-
bagi anak-anak, suami, mertua, dan
rusnya mampu memelihara dan me-
lingkungan yang lebih luas. Dalam
megang teguh kesetiaannya. Hanya
kaitannya dengan peranan yang lebih
dengan itu ia akan mampu mewujud-
khusus, yaitu sebagai ibu sekaligus
kan kebahagiaan.
istri
maka
ia
harus
mampu
memerankan diri. Kutipan di atas begitu sarat dengan kewajiban, tetapi ada satu hal yang
ditekankan
betul
C. SIMPULAN
dalam
Unit
keluarga
memegang
kaitannya dengan peranan wanita,
peranan urgensi dalam pendidikan
yaitu kesetiaan. Seorang ibu dan atau
Hindu, disini terkandung sekaligus
istri nampaknya dituntut kesetiaan-
makna utama pendidikan keluarga sebagai salah satu pusat pendidikan
444
I Gede Jaya Satria Wibawa (Peran Orang Tua Dan Anak Dalam Pendidikan ...........)
yang pertama dan utama. keluarga
Darmayasa,
1992. Canakya Nitisastra. Jakarta : Hanuman Sakti.
Dimyati
Mudjiono, 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
pula yang menanggung masa depan umat manusia. Karena itu setiap keluarga Hindu hendaknya mulai
dan
menumbuhkembangkan sikap dan perilaku yang baik terhadap anakanaknya sejak dini. Djiwandono, DAFTAR PUSTAKA Abdulsyani, 2002. Sosiologi Skematika, Teori Dan Terapan. Jakarta : Bumi Aksara.
_______, 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rhineka Cipta Kajeng, I Nyoman, dkk, 2005. Sāramuccaya. Surabaya : Paramita
Adiputra, Rudia, I Gede, 2002. Dana Punia Untuk Pendidikan (Pangkaja jurnal Agama Hindu Volume II Tanggal 02 Agustus. Denpasar : STAH Negeri Denpasar.
PHDI, 1998. Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I –XV. Denpasar. Pudja, I Gde dan Sudharta, Rai, Tjokorda, 2002. “Mana-wa Dharmasastra (Manu Dharmasastra)”. Jakarta : CV Felita Nursatama Lestari.
_______,
2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Bagus,
2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Grasindo.
I Gusti Ngurah, 2000. Dinamika Budaya Hindu Dharma Di Indonesia. Yogyakarta : Dura Wacana University Press.
Redana,
Budiningsih, C, Asri, 3003. Belajar Dan Pembelajaran. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Pendidikan Negeri Yogyakarta.
Made, 2006. Panduan Praktis Penulisan Karya Ilmiah dan Proposal Riset. Denpasar : IHDN.
Sadulloh, Uyoh, 2007. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
445
PADMA SARI - ISSN : 972337366005 - Volume 3 (419 – 446 )
Sagala, Syaiful, 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Ban-dung : Alfabeta. Subagia,
I Wayan, 2007. Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal. Singaraja : Universitas Pen-didikan Ganesha.
Subagyo,
Joko, 2006. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Denpasar : Yayasan Dharma Naradha. Widnya, Putu, 1980. Sosialisasi Nilai-Niai dan Norma Agama Pada Anak-Anak (dalam Warta Hindu Dharma No. 162). Denpasar : Dharma Bhakti.
SUMBER MAKALAH : Subagia, I Wayan, 2007. Beberapa Konsep Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Bali
Sudharta, T.R, 1997. Slokantara: Untaian Ajaran Etika, Teks, Terjemahan dan Ulasan. Denpasar : Upada Sastra. Tim
Penyusun, 2001. Modul Keluarga Bahagia Sejahtera Menurut Pandangan Agama Hindu. Jakarta, Direktorat jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Dan Budha.
Tu‟u, Tulus, 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku Dan Prestasi Siswa. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana. Wiana, I Ketut, 1997. Cara Belajar Agama Hindu Yang baik.
446