J. Sains MIPA, Desember 2010, Vol. 16, No. 3, Hal.: 177 - 183 ISSN 1978-1873
MODIFIKASI SILIKA DENGAN 3-AMINOPROPILTRIMETOKSISILAN MELALUI PROSES SOL GEL UNTUK ADSORPSI ION Cd(II) DARI LARUTAN Buhani* dan Suharso Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung, Indonesia *E-mail:
[email protected]
ABSTRACT Synthesis of amino-silica hybrid (HAS) adsorbent has been performed through sol-gel process using active compound of 3-aminopropyl trimethoxysilane (3-APTMS) with tetraethyl ortosilicate (TEOS) precursor. Adsorption of Cd(II) ion by HAS adsorbent is optimum at pH 6 and follows Langmuir isotherm adsorption. Adsorption capacity of Cd(II) ion on HAS adsorbent is higher than on silica gel (SG) adsorbent with Cd(II) ion adsorption capacity on SG, HAS-1, HAS-2, and HAS-3 for each of 9.749; 23.370; 28.823; 25.548 mg g-1, respectively. Composition ratio of TEOS precursor volume and active compound of 3-APTMS is optimum at 1 : 0.2 in HAS synthesis. Keywords: amino-silica hybrid, sol-gel, adsorption
ABSTRAK Sintesis adsorben hibrida amino-silika (HAS) telah dilakukan melalui proses sol-gel menggunakan senyawa aktif 3-aminopropiltrimetoksisilan (3-APTMS) dengan prekursor tetraetil ortosilikat (TEOS). Adsorpsi ion Cd(II) oleh adsorben HAS optimum pada pH 6 dan mengikuti isoterm adsorpsi Langmuir. Adsorpsi ion Cd(II) pada adsorben HAS lebih besar dari silika gel (SG) dengan kapasitas adsorpsi ion Cd(II) pada SG, HAS-1, HAS-2 dan HAS-3 masing-masing adalah 9,749; 23,370; 28,823; 25,548 mg g-1. Perbandingan komposisi jumlah volume prekursor TEOS dan senyawa aktif 3-APTMS optimal dalam sintesis HAS adalah 1 : 0,2. Kata kunci: Hibrida amino-silika, sol-gel, adsorpsi
1. PENDAHULUAN Silika gel merupakan padatan pendukung yang banyak digunakan dalam proses adsorpsi karena stabil pada kondisi asam, non swelling, memiliki karakteristik pertukaran massa yang tinggi, porositas dan luas permukaan spesifik serta memiliki daya tahan tinggi terhadap panas. Selain itu silika gel memiliki situs aktif berupa gugus silanol (≡SiOH) dan siloksan (≡Si-O-Si≡) di permukaan. Adanya gugus -OH memberikan peluang secara luas untuk memodifikasi gugus tersebut menjadi gugus lain yang lebih aktif 1-3). Kelemahan penggunaan silika gel sebagai adsorben adalah rendahnya efektivitas adsorpsi silika terhadap ion logam, ini disebabkan oleh rendahnya kemampuan oksigen (silanol dan siloksan) sebagai donor pasangan elektron, yang berakibat lemahnya ikatan ion logam pada permukaan silika. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperbaiki kelemahan silika akibat ikatan langsung oksigen pada silika, antara lain dengan memodifikasi permukaan silika dengan senyawa organik mengandung ligan yang secara khusus diharapkan berinteraksi dengan ion logam. Modifikasi silika gel secara kimia atau organofungsionalisasi dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu jalur heterogen dan jalur homogen. Jalur heterogen (tidak langsung) terjadi melalui pengikatan langsung agen silan dengan gugus silanol pada silika gel kemudian diikuti dengan immobilisasi gugus aktif. Teknik modifikasi permukaan silika gel secara langsung dengan mengembangkan reaksi antara gugus silanol dengan reagen silan yang berfungsi sebagai prekursor untuk immobilisasi molekul organik dan bersama-sama dengan gugus aktif lain yang diimmobilisasikan disebut sebagai jalur homogen (langsung). Pada umumnya, reagen silan bereaksi dengan permukaan gugus silanol dalam satu langkah sehingga memungkinkan pengikatan gugus fungsional terminal yang diinginkan pada permukaan4).
2010 FMIPA Universitas Lampung
177
J. Sains MIPA, Desember 2010, Vol. 16, No. 3
Apabila dibandingkan dengan jalur heterogen, immobilisasi melalui jalur homogen lebih sederhana dan cepat karena reaksi pengikatan berlangsung bersamaan dengan proses terbentuknya padatan. Selain itu senyawa aktif yang terikat pada permukaan silika lebih banyak, dan dari segi waktu preparasi lebih sederhana. Dengan demikian memberikan peluang untuk mendapatkan adsorben yang efektif dalam mengadsorpsi ion logam5,6). Proses sol-gel merupakan salah satu cara yang digunakan untuk memodifikasi permukaan silika gel melalui jalur homogen. Beberapa keunggulan teknik sol-gel yang antara lain, homogen, memiliki kemurnian tinggi, dapat dipreparasi pada temperatur rendah, bercampur dengan baik pada sistem multi-komponen, ukuran, bentuk dan sifat partikel dapat dikontrol, dan dapat dibuat material hibrida-organik serta dapat digunakan untuk meningkatkan selektivitas dalam kromatografi7). Dengan proses sol-gel diharapkan proses immobilisasi silika dengan gugus aktif lebih bersifat homogen sehingga akan diperoleh adsorben yang memiliki kesetabilan mekanik dan kimia yang baik. Pada penelitian ini telah dilakukan modifikasi permukaan silika melalui proses sol gel menggunakan prekursor TEOS dengan gugus amin dari senyawa 3-APTMS. Gugus tersebut dipilih untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi adsorben terhadap ion logam Cd(II) dalam larutan. Selain itu juga dikaji pengaruh variasi volume senyawa aktif 3-APTMS pada prekursor TEOS terhadap karakteristik adsorben dan sifat adsorpsi HAS terhadap ion Cd(II) untuk mengetahui komposisi larutan prekursor dan senyawa aktif yang dapat menghasilkan adsorben dengan kapasitas adsorpsi besar.
2. METODE PENELITIAN 2.1. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah 3-APTMS berasal dari Aldrich. TEOS, etanol, CdCl2.H2O, CH3COONa, asam asetat, kertas saring Whatman 42, dan kertas indikator universal berasal dari E-Merck. HCl dan NaOH dari Alba. Peralatan yang digunakan adalah perlatan gelas, timbangan analitik (Mettler AE 160), alat penggerus (lumpang dan mortar), ayakan ukuran 200 mesh ”Fischer”, Oven (Fisher Scientific), pengaduk magnet, sentrifugator (OSK 6474B Sentrifuge), dan pH meter. Spektrofotometer serapan atom (SSA) (Perkin Elmer 3110) dan spektrofotometer inframerah (IR) Prestige-21 Shimadzu masing-masing digunakan untuk analisis logam dan identifikasi gugus fungsional. 2.2. Prosedur Penelitian 2.2.1. Pembuatan adsorben silika gel dan HAS Sebanyak 10 mL TEOS, akuades dan etanol dimasukkan ke dalam gelas plastik, kemudian ditambah 1, 2, dan 4 mL 3-APTMS kemudian diaduk dengan pengaduk magnet. Setelah diaduk dengan pengaduk magnet ± 30 menit gel terbentuk. Gel yang terbentuk didiamkan selama 24 jam, disaring dan gel yang diperoleh dibilas dengan etanol. Kemudian dilanjutkan dengan pencucian dengan akuades hingga netral dan dikeringkan pada temperatur 60oC selama 6 jam. Adsorben yang dihasilkan selanjutnya disebut sebagai hibrida amino-silika (1 : 1 : 1 : 0,1) atau HAS-1, HAS-2 (1 : 1 : 1 : 0,2) dan HAS-3 (1 : 1 : 1 : 0,4). Adsorben silika gel (SG), dibuat melalui prosedur yang sama dengan HAS tetapi tanpa penambahan senyawa aktif. 2.2.2. Karakterisasi adsorben Untuk menentukan gugus-gugus fungsional yang ada di dalam adsorben dilakukan analisis dengan FTIR. 2.3. Adsorpsi 2.3.1. Pengaruh pH Sebanyak 50 mg adsorben diinteraksikan dengan ion logam Cd(II) 100 mg L-1 pada pH yang bervariasi : 2 - 8, larutan diberikan buffer Na-asetat/HCl (pH 2-3), Na-asetat/asam asetat (pH 4-6) dan diaduk selama satu jam. Kemudian larutan disentrifugasi, filtrat diambil untuk dianalisis kadar logam yang tersisa dalam larutan dengan SSA. 2.3.2. Kapasitas adsorpsi
178
2010 FMIPA Universitas Lampung
Buhani dan Suharso... Modifikasi Silika dengan 3-Aminopropiltrimetoksisilan
Sebanyak 50 mg adsorben diinteraksikan dengan larutan ion logam Cd(II) dengan variasi konsentrasi : 0,0 – 250,0 mg L-1. Adsorpsi dilakukan dalam sistem batch menggunakan pengaduk magnet dengan pH optimum (a). Kemudian larutan disentrifugasi, filtrat diambil untuk dianalisis kadar logam yang tersisa dalam larutan dengan SSA.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Sintesis Adsorben HAS Pembuatan HAS dilakukan dengan menggunakan TEOS sebagai prekursor dan senyawa aktif 3APTMS. Reaksi berlangsung pada kondisi basa sekitar pH 10 dan waktu pembentukan gel relatif cepat sekitar 30 menit. Skema pembentukan HAS dari prekursor TEOS ditampilkan pada Gambar 1. OH C2H5O
Si
Si
OCH3 OC2H5 +
H2N
OC2H5
TEOS
Si
OCH3
-3 C2H5OH
OCH3 3-APTMS
O
Si
O
Si
O
Si
NH2 +
3CH3OH
HAS
Gambar 1. Skema sintesis HAS dari prekursor TEOS dengan 3-APTMS Pada kondisi basa reaksi dapat berlangsung karena terjadi serangan nukleofilik atom silikon oleh ion OH- atau SiO-. Ion OH- atau SiO- terbentuk oleh dissosiasi H+ dari molekul air atau gugus SiOH. Mekanisme reaksi pembentukan gel HAS dari TEOS diawali dengan serangan anion hidroksida (OH-) pada reaksi hidrolisis dengan mekanisme SN2 terhadap atom silikon dan menghasilkan ion silanolat dan melepas etanol yang diikuti protonasi oleh H+ terhadap atom oksigen pada gugus metoksi (-OCH3) dalam senyawa 3-APTMS. Pada reaksi kondensasi, nukleofilik ion silanolat menyerang atom Si dari senyawa 3-APTMS dan membentuk ikatan siloksan (≡Si-O-Si≡) dengan melepas metanol. 3.2. Identifikasi Gugus Fungsional Proses modifikasi silika dengan 3-APTMS mengakibatkan adanya perubahan-perubahan pada pita serapan inframerah (Gambar 2b-d) dibandingkan dengan pita serapan SG (Gambar 2a), yaitu muncul pita serapan baru pada 2939,52 yang merupakan vibrasi ulur dari gugus CH2. Dan hilangnya pita serapan pada 964,41 cm-1 (vibrasi ulur Si-O dari Si-OH) pada HAS karena berkurangnya jumlah gugus silanol akibat terjadinya kondensasi dengan senyawa amin dan terbentuk serapan lebar disekitar 1640-1560 cm-1 yang menunjukkan adanya vibrasi tekuk amina (N-H) primer. Perubahan lain adalah terjadinya pergeseran bilangan gelombang dan perubahan intensitas serapan tertentu pada HAS dibanding SG, menunjukkan telah terbentuk senyawa yang berbeda8). 3.3. Pengaruh pH Adsorpsi Pengaruh pH pada adsorpsi ion Cd(II) pada adsorben HAS seperti yang terdapat pada Gambar 3 menunjukkan bahwa adsorpsi ion Cd(II) oleh HAS-1, HAS-2 dan HAS-3 relatif kecil pada pH 2-3, ini terjadi karena pada pH asam proses adsorpsi ion Cd(II) oleh adsorben HAS tidak bisa maksimal. Pada kondisi asam gugus amin (-NH2) pada adsorben HAS mengalami protonasi menjadi NH3+ sehingga interaksi antara ion Cd(II) dengan situs aktif pada adsorben HAS cenderung terjadi secara elektrostatik. Sementara itu ion-ion logam dalam larutan sebelum teradsorpsi oleh adsorben terlebih dahulu mengalami hidrolisis, menghasilkan proton (H+) dan kompleks hidrokso [M(OH)n2-n]+ yang akan lebih teradsorpsi daripada kation logam bebas (M2+)9). Pada kondisi asam jumlah kompleks hidrokso logam yang terbentuk lebih sedikit dan jumlah kation logam bebas lebih banyak. Dalam kondisi asam permukaan adsorben juga bermuatan positif, sehingga akan terjadi tolakan antara permukaan adsorben dengan ion logam, akibatnya adsorpsi rendah.
2010 FMIPA Universitas Lampung
179
J. Sains MIPA, Desember 2010, Vol. 16, No. 3
563.21 462.92
794.67
1049.28 1058.99
964.41
1396.46
1643.35
1087.85
470.63
3448.72
3500
462.92
686.66
786.96
2337.72
a)
4000
455.20
786.96
1087.85
694.37
786.96
1543.05
1635.64 1627.92
2368.59
1558.48
1635.54
2939.52 2939.52 2939.52
3425.58
3425.58
% Transmitansi
3425.58
b)
2283.72
c)
1543.05
2368.59
694.37
d)
3000
2500
2000
1750
1500
1250
1000
750
500
Bilangan gelombang 1/cm
Gambar 2. Spektra inframerah adsorben dari prekursor TEOS (a) silika, (b) HAS-1, (c) HAS-2 dan (d) HAS-3
70
Cd teradsorpsi (%)
60 50 40 30 20 10 0 1
2
3
4
5
6
7
8
9
pH interaksi HAS-1
HAS-2
HAS-3
Gambar 3. Jumlah logam ion logam Cd(II) teradsorpsi pada adsorben SG dan HAS pada pH yang bervariasi. Jumlah ion Cd(II) cenderung mengalami peningkatan seiring kenaikan pH dan teradsorpsi maksimum pada pH 6. Hal ini disebabkan pada pH 6 situs aktif pada adsorben HAS, yaitu gugus fungsional amin berada dalam bentuk netral. Akibatnya dapat berfungsi sebagai donor pasangan elektron dan menghasilkan interaksi
180
2010 FMIPA Universitas Lampung
Buhani dan Suharso... Modifikasi Silika dengan 3-Aminopropiltrimetoksisilan
antara ion Cd(II) dengan situs aktif adsorben HAS secara kovalen koordinasi. Selain itu juga pada adsorben HAS dimungkinkan juga masih terdapat gugus –OH (silanol) dan –Si-O-Si- (siloksan) yang juga dapat berperan sebagai donor pada kondisi tersebut, karena cenderung bermuatan negatif. Interaksi ion Cd(II) dan pada adsorben HAS, merupakan interaksi yang kuat, sehingga proses adsorpsi yang terjadi pada pH 6 menghasilkan jumlah ion logam yang teradsorpsi maksimum. Pada pH 7 - 8 jumlah ion Cd(II) yang teradsorpsi mulai menurun karena pada pH tersebut ion Cd(II) sudah mulai mengendap. 3.4. Kapasitas dan Energi Adsorpsi
Cd teradsorpsi (µmol/g)
300 250 200 150 100 50 0 0
250
500 750 1000 1250 1500 1750 2000 2250 [Cd] kesetimbangan ( µmol/L)
SG
HAS-1
HAS-2
HAS-3
Gambar 4. Kurva hubungan antara jumlah ion logam teradsorpsi pada adsorben SG dan HAS yang terbuat dari prekursor TEOS terhadap konsentrasi ion logam Cd(II) dalam keadaan setimbang Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa adsorpsi ion Cd(II) oleh adsorben HAS menunjukkan kecenderungan peningkatan adsorpsi secara signifikan sesuai dengan meningkatnya konsentrasi ion logam yang dipaparkan, apabila dibandingkan dengan adsorben SG yang peningkatan adsorpsi ion logam terjadi secara perlahan-lahan. Peningkatan konsentrasi ion logam yang dipaparkan ternyata tidak meningkatkan jumlah ion logam teradsorpsi, ini menunjukkan bahwa adsorben sudah jenuh. Data pada Gambar 4 dievaluasi menggunakan persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dan Langmuir yang masing-masing terdapat pada Persamaan 1 dan 2, sedangkan energi adsorpsi ditentukan berdasarkan persamaan energi bebas Gibbs Persamaan 3. Bentuk umum persamaaan Freundlich adalah qe = KfCe1/n , dimana Kf adalah faktor kapasitas adsorpsi dan n adalah faktor intensitas, dengan harga n berkisar antara 11010,11). Persamaan linier Freundlich dinyatakan sebagai berikut:
1 log qe = log K f + log Ce n
(1)
Selanjutnya, plot log qe versus log Ce akan menghasilkan Kf dan eksponen n. Isoterm Langmuir menggambarkan bahwa pada permukaan adsorben terdapat sejumlah tertentu situs aktif yang sebanding dengan luas permukaan. Persamaan Langmuir dinyatakan sebagai berikut :
1 1 1 = + qe Qm KCe Qm
(2)
Dimana Ce (mg L-1) adalah konsentrasi kesetimbangan larutan ion logam, qe (mg g-1) adalah kapasitas adsorpsi ion logam pada saat kesetimbangan. Qm kapasitas adsorpsi monolayer adsorben dan K adalah konstanta energi adsorpsi. Selanjutnya, plot log Ce/qe versus Ce akan menghasilkan garis lurus. Energi adsorpsi ditentukan berdasarkan persamaan energi bebas Gibbs. Energi adsorpsi = ∆Gº ads = - R T ln K (3) Dengan E = energi adsorpsi (kJ mol-1), R = tetapan gas universal (8,314 J K-1 mol-1), T = temperatur (Kelvin) dan K = tetapan kesetimbangan adsorpsi. Data adsorpsi ion Cd(II)) pada adsorben SG dan HAS yang diperoleh dari hasil analisis menggunakan persamaan Langmuir dan Freundlich disajikan dalam Tabel 1.
2010 FMIPA Universitas Lampung
181
J. Sains MIPA, Desember 2010, Vol. 16, No. 3
Tabel 1. Parameter Langmuir adsorpsi ion Cd(II) pada SG dan HAS
Adsorben SG HAS-1 HAS-2 HAS-3
Qm (mg/g) 9,749 23,370 28,823 25,548
Langmuir K x 103 (mol/L)-1 E (kJ/mol) 35,735 26,149 8,644 22,609 28,169 25,556 19,236 24,604
Freundlich R2 0,994 0,995 0,986 0,996
Kf (mg/g) 3,423 4,544 3,270 4,659
n 4,873 2,761 2,263 2,684
R2 0,654 0,843 0,930 0,884
Secara umum dari Tabel 1 dapat diamati bahwa pola isoterm adsorpsi ion Cd(II) cenderung mengikuti isoterm adsorpsi Langmuir dengan harga koefisien regresi (R2) rata-rata 0,99. Hal ini memberikan indikasi bahwa adsorpsi ion Cd(II) pada adsorben SG dan HAS tersebut bersifat monolayer. Menurut teori adsorpsi Langmuir proses adsorpsi merupakan interaksi antara adsorbat dengan situs aktif adsorben. Pada permukaan adsorben terdapat situs aktif dengan jumlah yang sebanding luas permukaan adsorben. Pada saat situs aktif tersebut belum jenuh oleh adsorbat peningkatan konsentrasi adsorbat disertai dengan peningkatan jumlah adsorbat yang teradsorpsi, tetapi bila situs aktif tersebut telah jenuh maka peningkatan konsentrasi adsorbat tidak lagi disertai peningkatan jumlah adsorbat yang teradsorpsi secara signifikan12). Dari Tabel 1 dapat dilihat secara umum tampak bahwa kapasitas adsorpsi adsorben yang berasal dari modifikasi silika gel dengan gugus amin dari senyawa 3-APTMS lebih besar dibandingkan dengan SG. Silika gel yang tidak dimodifikasi dapat mengadsorpsi ion logam melalui gugus silanol (≡Si-OH) dan siloksan (≡SiO-Si≡), tetapi kurang efektif. Hal ini disebabkan pengaruh terikatnya langsung atom O pada Si, sehingga berpeluang terjadinya ikatan rangkap parsial antara O dan Si melalui πd-p yang menyebabkan rendahnya kemampuan O dalam struktur silika sebagai donor elektron. Setelah dilakukan modifikasi melalui proses sol gel menggunakan senyawa aktif 3-APTMS ternyata meningkatkan jumlah ion Cd(II) yang teradsorpsi. Peningkatan kapasitas adsorpsi ini disebabkan bertambahnya jenis dan jumlah situs aktif yang berperan dalam mengadsorpsi ion logam selain gugus siloksan dan silanol yang terdapat pada silika gel. Pada adsorben HAS terdapat gugus aktif baru, yaitu gugus amina. Lebih lanjut dari data yang terdapat pada Tabel 1 dapat diamati bahwa kapasitas adsorpsi ion Cd(II) pada adsorben HAS-2 lebih besar dari adsorben HAS-1 dan HAS-3, ini menunjukkan bahwa pada HAS-2 jumlah situs aktif gugus –NH2 yang diimmobilisasikan terdapat dalam jumlah yang lebih optimal dari adsorben HAS-1 dan HAS-3. Dari data pengaruh pH (Gambar 3) dan kapasitas adsorpsi tersebut (Tabel 1) menunjukkan bahwa perbandingan komposisi jumlah volume senyawa aktif 3-APTMS secara stoikiometri pada sintesis HAS lebih tepat dengan perbandingan volume TEOS dan senyawa aktif 1 : 0,2.
4. KESIMPULAN Pengaruh pH pada adsorpsi ion Cd(II) oleh adsorben HAS optimum pada pH 6 dan mengikuti isoterm adsorpsi Langmuir. Kapasitas adsorpsi ion Cd(II) pada adsorben HAS lebih besar 3 kali lipat dari adsorben SG. Dari data pengaruh pH dan kapasitas adsorpsi ion Cd(II) pada HAS menunjukkan bahwa perbandingan komposisi jumlah volume yang optimal dalam sintesis HAS adalah TEOS dan senyawa aktif 1 : 0,2.
DAFTAR PUSTAKA 1.
Santos, E.A. Pagono, R.L., Simoni, J.A., Airoldi, C., Cestari, A.R., and Viera, E.F.S., 2001, The Influence of the Counter Ion Competition and Nature of Solvent on the Adsorption of Mercury Halides on SHmodified Silica Gel, Colloid and Surface, 201: 25-282.
2.
Camel, V., 2003, Solid Phase Extraction of Trace Elements, Spectrochim. Acta Part B, 58: 1177-1233.
3.
Jiang, N., Chang, X., Zheng, H., He, Q., and Hu, Z., 2006, Selective Solid-Phase Extraction of Nickel(II) Using a Surface-Imprinted Silica Gel Sorbent, Anal. Chim. Acta, 577: 225-231.
182
2010 FMIPA Universitas Lampung
Buhani dan Suharso... Modifikasi Silika dengan 3-Aminopropiltrimetoksisilan
4.
Jal, P.K., Patel, S., and Mishra, B.K., 2004, Chemical Modification of Silica Surface by Immobilization of Functional Groups for Extractive Concentration of Metal Ions, Talanta, 62: 1005-1028.
5.
Alcantara, E.F.C, Faria, E.A., Rodrigues, D.V., Evangelista, S.M., De Oliveira, E., Zara, L.F., Rabelo, D., and Prado, A.G.S, 2007, Modification of Silica Gel by Attachment of 2-Mercaptobenzimidazole for Use in Removing Hg(II) from Aqueous Media : A Thermodynamic Approach, J. Colloid and Interface Sci., 311: 1-7.
6.
Quintanilla, D.P., del Hierro, I., Fajardo, M., and Sierra I., 2006, 2-Mercaptothiazoline Modified Mesoporous Silica for Mercury Removal from Aqueous Media, 2006, J. Hazard. Mater., B134: 245-256.
7.
Kumar, A., Gaurav, Malik, A.K., Tewary, D.K, and Singh, B., 2008, A Review on Development of Solid Phase Micro extraction Fibers by Sol-gel Methods and Their Application, Anal. Chim. Acta, 610: 1-14.
8.
Machado, R.S.A., da Fonseca, M.G., Arakaki, L.N.H., Espinola, J.G.P., and Oliveira, S.F.,2004, Silica Gel Containing Sulfur, Nitrogen and Oxygen as Adsorbent Centers on Surface for Removing Copper Aqueous/ Ethanolic Solution, Talanta, 63: 317-322.
9.
Elliott, H.A., Liberati, M.R. and Huang, C.P., 1986, Competitive Adsorption of Heavy Metals by Soils, J. Environ. Qual., 15 (3): 214-219.
10. Aklil A., Mouflih M., and Sebti S., 2004, Removal of Heavy Metal Ions From Water by Using Calcined Phosphate as New Adsorbent, J. Hazard. Mater., A112: 183-190. 11. Buhani, Narsito, Nuryono dan Kunarti, E.S., 2010, Production of Metal Ion Imprinted Polymer from Mercapto-Silica through Sol-Gel Process as Selective Adsorbent of Cadmium, Desalination, 251: 83-89. 12. Oscik, J., 1982, Adsorption, John Wiley & Sons, New York.
2010 FMIPA Universitas Lampung
183