MODEL DYNAMIC PRICING PADA PENENTUAN HARGA TIKET PESAWAT TERBANG DENGAN MEMPERTIMBANGKAN KELOMPOK KELAS BERTINGKAT Annisa Gianugraeni, Ahmad Rusdiansyah Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111 Email:
[email protected] ;
[email protected] Abstrak Industri penerbangan Indonesia saat ini mengalamai perkembangan yang cukup pesat sehingga membuat pasar domestic Indonesia menjadi sangat potensial, didukung dengan sarana transportasi yang lebih efisien selain jalur darat. Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penumpang penerbangan domestik di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, melihat hal tersebut banyak perusahaan penerbangan yang berlomba – lomba untuk menguasai pasar yang sangat potensial tersebut. Untuk melakukan persaingan dengan baik, maskapai penerbangan di Indonesia harus memiliki strategi dan kebijakan yang baik dalam sistem penjualan tiket mereka agar mereka mendapatkan keuntungan yang maksimal, salah satunya melalui Airline Revenue Management yaitu teknik optimasi dalam pengelolaan pendapatan sehingga keuntungan dapat maksimal. Pada kasus ini, perusahaan akan mengatur kebijakan untuk mengatur alokasi kursi dan kenaikan harga yang tepat pada kelasnya atau disebut juga dengan dynamic pricing. Selain itu, terdapat keunikan dari sistem pembukaan harga tiket dari beberapa maskapai, yaitu dengan membuka tiga jenis kelas harga secara bersamaan. Dengan merujuk model dari penelitian terdahulu dan kondisi riil dalam sistem pembukaan kelas harga suatu penerbangan, penelitian ini akan membahas mengenai pengembangan model dynamic pricing pada penentuan harga tiket pesawat terbang dengan mempertimbangkan kelompok kelas bertingkat. Kata kunci: airline revenue management, dynamic pricing, penerbangan tunggal, seat allocation Abstract Indonesian airline industry is currently experiencing a fairly rapid development of the domestic market thus making it a potential market in Indonesia, supported by the fact that it is more efficient than a landline transportation. According to the Central Bureau of Statistics, the number of domestic air passengers in Indonesia from year to year are increasing, seeing that many airlines are competing the race to dominate the huge potential market. To do a good competition, some Indonesian’s airline must have policies in their ticket sales system in order to get the maximum benefit, one of trough the implementing the Airline Revenue Management optimization techniques in the management of revenues so that profits can be maximum. In this case, the company will set up a policy to regulate the allocation of seats and price increases based on the class or also called dynamic pricing. The big difference in the density of passengers on a particular flight hours, require a different allocation of the number of seats in order to gain the maximum benefit. In addition, there is the uniqueness of the ticket airline opening system , is to open three types of classes prices at the same time. With reference to previous studies and models of the real condition of the ticket airline opening system, this research will discuss about the development of dynamic pricing model of airline ticket pricing considering customer’s density. Keywords: airline revenue management, customer’s density , dynamic pricing, single flight, seat allocation. tahap dari Revenue management (RM). Menurut Bazargan (2010), Revenue management diperlukan untuk memaksimalkan pendapatan suatu perusahaan agar keuntungan mereka meningkat dengan mengoptimalkannya menggunakan teknik optimasi tertentu. Dalam industri penerbangan, Revenue
1. Pendahuluan Persaingan antar maskapai penerbangan membuat masing – masing perusahaan untuk merancang berbagai strategi penetapan harga tiket (pricing) yang secara tidak langsung merupakan
1
management menggunakan alokasi kursi/ seat dan penetapan harga sebagai alat untuk mengelola permintaan. Berbagai maskapai penerbangan penyedia jasa berusaha melakukan pengelolaan pendapatan agar tetap masuk ke dalam berbagai jenis segmen pelanggan. Salah satu langkah yang harus diperhatikan adalah tetap menyediakan harga yang bersaing dan adanya alokasi jumlah kursi penumpang yang sesuai untuk penerbangan tertentu pada waktu dan kondisi yang tepat. Dalam satu hari penerbangan dengan tujuan yang sama, harga tiket yang diberlakukan sama kecuali terdapat kebijakan tertentu mengenai penerbangan pada malam hari atau sore hari karena pada jam tersebut peluang kustomer memilih harga dapat berbeda. Oleh karena itu maskapai pernerbangan yang menerapkan subkelas, multifare dan dalam hal ini harus memperhatikan perbandingan antara jumlah alokasi kursi yang tepat dengan peluang kustomer memilih jenis kelas harga agar dapat memaksimalkan pendapatan dari perusahaan. Berbagai penelitian terkait Revenue management di bidang penerbangan khususnya dynamic pricing juga telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa peneliti diantaranya adalah Xiao dkk (2008) mengembangkan model dynamic pricing dengan mempertimbangkan perilaku konsumen dalam memilih penerbangan, Putri (2012) mengembangkan model joint dynamic pricing dengan memperhatikan dua jenis kelas harga yang dibuka bersamaan. Penulis ingin mengisi kekosongan/ gap penelitian pada topik tersebut dengan meniru atau memodelkan sistem pembukaan kelas harga ekonomi dari suatu perusahaan penerbangan.
penumpang dapat melakukan pembatalan dengan potongan refund dan penjadwalan ulang keberangkatan dengan harus menambah biaya. Sedangkan pada kelas Bestprice , calon penumpang tidak dapat melakukan refund jika terjadi pembatalan atau tiket hangus. Dari kebijakan tiap kelompok harga tersebut, semakin memudahkan konsumen dalam memilih tiket sesuai dengan kebutuhan mereka. Model yang akan dikembangkan tersebut akan dibuat untuk menghitung ekspektasi pendapatan dan kelas optimal yang dibuka pada masa selling horizon. Selling horizon dibagi menjadi sejumlah events (t) sebagai waktu yang sangat singkat, dimana pada setiap events dapat terjadi 2 kejadian yaitu : (1) kejadian datangnya seorang calon penumpang dan (2) tidak terjadi pembelian pada event tersebut atau null event. Calon penumpang akan memesan tiket, datang dengan tingkat kedatangan pada event ke-t. Tingkat kedatangan berdistribusi poisson. Setiap calon penumpang memiliki peluang untuk memilih kelompok kelas harga yang ada yaitu flexible, Affordable dan Bestprice . Calon penumpang tersebut juga memiliki peluang penerimaan harga yang ditawarkan dan berubah terhadap waktu. Keputusan kelas yang dibuka pada setiap masa selling horizon ditentukan oleh perhitungan model dynamic programming yang ada dengan mempertimbangkan persediaan kursi. Jika persediaan kursi kelas harga rendah telah habis maka kelas harga akan naik ke kelas yang lebih tinggi dan kenaikan kelas tersebut bersifat diskrit. 3. Model Penelitian Penyelesaian model dengan dynamic programming ini dilakukan dari event T yaitu saat sebelum keberangkatan dan mundur secara berturut – turut sebesar 1 event hingga event 0 yaitu awal pembukaan selling horizon. Objective function dari model ini adalah untuk memaksimalkan ekspektasi pendapatan selama selling horizon, dengan stage berupa event, state berupa persediaan sisa kursi, dan decision variable berupa kelas harga yang dibuka pada masing – masing kelompok tiap event-nya . Pada saat event T+1 , 𝑅𝑅𝑡𝑡 (𝑛𝑛) = 0 dimdxana tidak ada pemasukan pada saat keberangkatan karena pesawat telah berangkat, dan 𝑅𝑅𝑡𝑡 (𝑛𝑛) = 0 pada saat t= 0 dimana belum ada kedatangan pada saat pertama periode penjualan baru dibuka. Berikut adalah formulasi model yang digunakan:
2. Deskripsi Model Penelitian Pada penelitian ini akan dilakukan pengembangan model dynamic pricing pada penerbangan tunggal menggunakan berbasis persediaan. Model ini akan mengangkat pendekatan kondisi pembukaan kelompok harga yang saat ini sedang diterapkan oleh beberapa maskapai penerbangan di Indonesia. Penelitian ini memiliki kondisi dimana calon penumpang dapat memilih tiket kelas ekonomi dengan tiga kelompok harga yang ditawarkan secara bersamaan yaitu kelas flexibel, Affordable , dan Bestprice . Ketiga kelompok harga tersebut dibedakan berdasarkan kebijakan atau peraturan yang dimiliki oleh tiap kelas harga. Kelas Flexible memiliki kelebihan dimana calon penumpang dapat melakukan refund pembatalan dan penjadwalan ulang keberangkatan tanpa harus menambah biaya. Kelas Affordable memiliki kelebihan dimana calon
Model Event T+1 𝑅𝑅𝑡𝑡 (𝑛𝑛) = 0
2
Pada saat T +1 , 𝑅𝑅𝑡𝑡 (𝑛𝑛) = 0 dimana tidak ada pemasukan pada saat keberangkatan karena pesawat telah berangkat.
Tabel 4.1 Kelas Harga yang Ditawarkan Kelompok Harga
Model Event t < T+1 𝑅𝑅𝑡𝑡 (𝑛𝑛) = {[ 𝐻𝐻𝑖𝑖𝑖𝑖 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 [𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑓𝑓 ) �𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖 � �𝐻𝐻𝑖𝑖𝑖𝑖 + 𝑅𝑅𝑡𝑡+1 (n − 1)�]] 𝜖𝜖 𝐻𝐻 𝑓𝑓 max +[ 𝐻𝐻𝑖𝑖𝑖𝑖 ϵ 𝐻𝐻𝐻𝐻 [𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑎𝑎 ) (𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖 ) (𝐻𝐻𝑖𝑖𝑖𝑖 + 𝑅𝑅𝑡𝑡+1 (n − 1))]] + [ 𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻 𝜖𝜖max [𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑏𝑏 ) (𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖 )(𝐻𝐻𝑖𝑖𝑖𝑖 + 𝑅𝑅𝑡𝑡+1 (n − 1))]] 𝐻𝐻𝐻𝐻 + (1 - [𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑓𝑓 )(𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖 ) + 𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑎𝑎 )(𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖 ) +𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑏𝑏 )(𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖 )][𝑅𝑅𝑡𝑡+1 (n)] )} …(3.1)
Flexible
Affordable
Best Price
Ekspektasi pendapatan kumulatif di periode t yang terdiri dari 4 kemungkinan kejadian. Kemungkinan pertama adalah terjadi pembelian tiket Flexible dengan peluang kejadian sebesar [𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑓𝑓 (𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖 ))] dan kontribusi terhadap pendapatan kumulatif sebesar (𝐻𝐻𝑖𝑖𝑖𝑖 + 𝑅𝑅𝑡𝑡+1 (n-1)). Kemungkinan kedua adaah terjadi pembelian tiket Affordable dengan peluang kejadian sebesar [𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑎𝑎 (𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖 ))] dan kontribusi terhadap pendapatan kumulatif sebesar (𝐻𝐻𝑖𝑖𝑖𝑖 + 𝑅𝑅𝑡𝑡+1 (n-1)). Kemungkinan ketiga adalah terjadi pembelian tiket Bestprice dengan peluang kejadian sebesar [𝜆𝜆𝑡𝑡 (𝑃𝑃𝑏𝑏 (𝑝𝑝𝑖𝑖𝑖𝑖 ))] dan kontribusi terhadap pendapatan kumulatif sebesar (𝐻𝐻𝑖𝑖𝑖𝑖 + 𝑅𝑅𝑡𝑡+1 (n-1)). Sedangkan eskpektasi pendapatan kumulatif pada periode t adalah 𝑅𝑅𝑡𝑡 (𝑛𝑛).
Harga Tiket (Rupiah)
Kelas Y
1.331.600
M
1.310.700
L
1.288.700
K
1.251.300
N
1.144.600
Q
1.089.600
B
904.800
V
458.200
Tabel 4.2 Kombinasi Alokasi Kursi FLEKSIBEL
AFFORDABLE
Kombinasi
Y
M
L
K
1
15
25
30
10
Total alokasi (kursi) 2
70 8
Total alokasi (kursi) 3 Total alokasi (kursi)
4. Hasil dan Diskusi
4.1
Untuk menguji model yang telah dikembangkan, terdapat beberapa parameter awal yang masing – masing diujikan untuk kondisi yang berbeda – beda. Parameter yang digunakan secara umum diantaranya adalah jumlah kursi pesawat sebanyak 150 kursi. Tiket dapat dijual dengan 8 alternatif harga tiket dengan 3 kelompok harga. Selling horizon dibagi menjadi 180 events. Tingkat kedatangan kustomer mengikuti distribusi poisson. Parameter yang akan diubah – ubah adalah parameter peluang kustomer memilih harga flexible, Affordable dan Bestprice dan parameter alokasi kursi.
28
10
10
Q
B
15
25
10
17
15
10
15
23
10
30
20
20
28
29 57
25
30
50 15
V
30
50
30 5
Total alokasi (kursi)
10
N
50
43 5
4
7
BESTPRICE
40 70
40
20
70
30 50
Percobaan Numerik dengan Kondisi Parameter Peluang Kustomer Memilih Harga dan Alokasi Kursi Kombinasi 1 Menggunakan Model.
Pada percobaan numerik ini dilakukan kombinasi peluang kustomer memilih harga dengan alokasi kursi yang berpusat pada kelas flexible. Tabel 4.3 Ekspektasi Pendapatan Peluang Konsumen Memilih Harga Kombinasi
3
Ekspektasi Pendapatan
Fleksibel
Affordable
Bestprice
1
0,3
0,3
0,4
128.501.898
2
0,5
0,4
0,1
153.063.906
3
0,2
0,3
0,5
107.328.522
4
0,1
0,6
0,3
93.076.044
Tabel 4.6 Ekspektasi Pendapatan
4.2 Percobaan Numerik Dengan Kondisi Parameter Peluang Kustomer Memilih Harga Dan Alokasi Kursi Kombinasi 2 Menggunakan Model. Pada percobaan numerik ini dilakukan kombinasi peluang kustomer memilih harga dengan alokasi kursi yang rata untuk semua kelompok harga.
Peluang kedatangan konsumen Kombinasi
Tabel 4.4 Ekspektasi Pendapatan Peluang kostumer memilih harga Kombinasi
Ekspektasi Pendapatan
Flexible
Affordable
Bestprice
1
0,3
0,3
0,4
137.955.913
2
0,5
0,4
0,1
151.789.983
3
0,2
0,3
0,5
145.674.910
4
0,1
0,6
0,3
113.589.109
Pada percobaan numerik ini dilakukan kombinasi peluang kustomer memilih kelompok harga dengan alokasi kursi berpusat pada kelompok Bestprice . Tabel 4.5 Ekspektasi Pendapatan Peluang kedatangan kostumer
Ekspektasi Pendapatan
Fleksibel
Affordable
Bestprice
1
0,3
0,3
0,4
132.903.000
2
0,5
0,4
0,1
153.728.022
3
0,2
0,3
0,5
123.393.096
4
0,1
0,6
0,3
125.357.601
Fleksibel
Affordable
Bestprice
1
0,3
0,3
0,4
125.959.335
2
0,5
0,4
0,1
148.727.648
3
0,2
0,3
0,5
116.590.614
4
0,1
0,6
0,3
120.859.457
Dari percobaan numerik yang dilakukan dengan berbagai kombinasi peluang memilih harga, ekspektasi pendapatan terbesar pada seluruh jenis alokasi selalu terletak pada kombinasi dimana kelas Flexible memilki peluang yang paling besar. Hal itu jelas terjadi karena kelas Flexible merupakan kelas harga yang paling tinggi, jika peluangnya juga tinggi maka ekspektasi pendapatanpun tinggi. Namun dalam kondisi riil fenomena ini jarang terjadi pada maskapai kecuali untuk maskapai jenis penyedia jasa fullservice dimana penumpang bisnis lebih banyak berperan dalam menyumbang pendapatan. Peluang pemilihan harga kelas Bestprice yang besar belum tentu selalu memberikan kontribusi pendapatan yang tinggi, begitu juga dengan kelas Affordable .Jika suatu peluang pemilihan kelompok harga bernilai besar namun alokasi kursi yang dimiliki cukup kecil makan kenaikan kelas harga juga Fenomena discount spoillage atau hilangnya pendapatan akibat menghilangnya calon penumpang yang tertarik atau memilih kelas harga rendah seperti Bestprice namun kursi tidak tersedia atau telah habis, akibatnya pesawat berangkat dalam kondisi kursi banyak yang kosong. Hal ini dapat terjadi karena terlalu banyak alokasi kursi pada kelas harga yang lebih tinggi yaitu Flexible ataupun Affordable pada saat peluang kustomer memilih harga Bestprice cukup tinggi. Fenomena higher yield spill atau hilangnya pendapatan akibatnya menghilangnya calon penumpang yang memilih kelas harga tinggi yaitu Flexible atau Affordable akibat kursi telah terlebih dahulu terjual pada kelas harga rendah. Hal ini dapat terjadi karena alokasi pada kelas Bestprice tinggi pada saat peluang pemilihan kelompok Flexible dan Bestprice itu sendiri juga tinggi.
4.3 Percobaan numerik dengan kondisi parameter peluang kustomer memilih harga dan alokasi kursi kombinasi 3 menggunakan model.
Kombinasi
Ekspektasi Pendapatan
4.4 Percobaan numerik dengan kondisi parameter peluang kustomer memilih harga dan alokasi kursi kombinasi 4 menggunakan model. Pada percobaan numerik ini dilakukan kombinasi peluang kustomer memilih harga dengan alokasi kursi berpusat pada kelas Affordable .
5. Kesimpulan Berikut adalah kesimpulan yang didapat dari penelitian ini: 1. Ekspektasi pendapatan dari model dynamic pricing dengan mempertimbangkan kelompok kelas harga bertingkat ini bergantung dengan
4
besarnya peluang kustomer memilih harga dan besarnya jumlah alokasi kursi untuk masing – masing kelompok harga. 2. Terlalu banyak alokasi kursi pada kelas harga tinggi dapat berakibat terjadinya discount spoilage sedangkan terlalu banyak alokasi kursi pada kelas harga rendah ketika peluang pemilihan harga kelas rendah itu tinggi dapat berakibat terjadi higher yield spill. 3. Semakin besar peluang pemilihan suatu kelompok harga, maka semakin cepat meningkatnya kelas harga pada kelompok harga tersebut.
Bazargan, m. (2010). Airline operation and scheduling Belobaba, P., Odoni, A., & Barnhart, C. (2009). THE GLOBAL AIRLINE. JohnWiley & Sons, Ltd. Chen, L. &.-d.-M. (2010). . Mathematical programming models for revenue management. European Journal of Operational Research , 294. Kementerian Perhubungan . (2011). Buku Statistik Perhubungan 2010. Dipetik November 7, 2012, dari http://118.97.61.233/pusdatin/index.php?option =com_content&task=view&id=69&Itemid=94 Putri, R. D. (2012). Pengembangan Model Joint Dynamic Pricing Berbasis Waktu Dan Persediaan Kursi Untuk Dua Penerbangan Paralel. PT. Garuda Indonesia. (2012). Harga Tiket Penerbangan. Surabaya, Indonesia: PT. Garuda Indonesia. Rusdiansyah, A., Mariana, D., Pradana, H., & Wessiani, N. A. (2010). Model of Dynamic Pricing for Two Parallels Flights withMultiple Fare Classes Based on Passenger Choice Behavior. Jurnal Teknik Industri . Talluri, K. T. (2004). The Theory and Practice of Revenue Mangement. . Boston: Kluwer Academic Publishers. XIAO Yong-bo∗, C. J.-l. (2008). Joint Dynamic Pricing for Two Parallel Flights based on customer choice behaviour. Systems Engineering — Theory & Practice .
UCAPAN TERIMAKASIH Pada penelitian ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberi dukungan dan membantu kelancaran terselesaikannya penelitian. Serta kepada dosen pembimbing dan ko-pembimbing yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Abdelghany, A., & Abdelghany, K. (2009). Modeling Applications in the Airline Industry. Ashgate Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. (2012). Badan Pusat Statistik. Retrieved November 9, 2012, from http://www.bps.go.id/menutab.php?tab=4&tabel =1&kat=2&id_subyek=03&ist=1&var=I
5