1
bentley continental gt v8 klasik, elegan, & sporty EDISI III, Minggu III Februari 2013 www.majalah.batampos.co.id
+
Harus Unik dan Spesifik
Berangkat dengan Modal Nekat
10
Pelajaran dari Film James Bond
203
Nirwana di Ujung Utara Cukai Rokok Batam Rp3,967 M
Hotspot Mobile Acha Septriasa
TERTANTANG MAIN BELAKANG
Merek rokok diproduksi di batam
4.000 Zat Berbahaya dalam Paru-Paru YANG DIAKIBATKAN ROKOk EDISI III, Minggu III Februari 2013
fokus
66
p e r i s t i w a
FTZ = Free Tobacco Zone
Editor: M. Nur email :
[email protected]
EDISI III, Minggu III Februari 2013
Ada sembilan perusahaan asing dan satu perusahaan dalam negeri membangun pabrik rokok di Batam. Fasilitas bebas cukai dan bebas bea masuk bahan baku jadi daya tarik. Kontradiktif dengan tujuan pemerintah mengurangi konsumsi tembakau di masyarakat.
Editor: YERMIA RIEZKY email :
[email protected]
fokus
7
p e r i s t i w a
“A
EDISI III, Minggu III Februari 2013
da Marlboro palsu?" tanya pria itu Kamis malam, pekan lalu pada penjaga mini market di Perumahan Legenda Malaka. Si pria berdarah India ini lalu menyodorkan sebungkus rokok yang mirip Marlboro asli, namun setelah dilihat, ternyata merek Marlbender. Ya, itulah istilah yang disematkan sejumlah pembeli rokok Marlbender saat membeli rokok itu di warung atau toko. Mereka menyebutnya Marlboro palsu, si penjual langsung mengerti kalau yang dimaksud adalah MarMeski rata-rata pembeli melbender. nyebut Marlbender sebagai Sepintas memang bungkusnya mirip Marlboro Marlboro palsu, namun sesasli, khususnya pada ukuran dan jenis huruf yang unguhnya bukan rokok palsu. dipakai, sama persis dengan yang dipakai Marlboro. Marlbender adalah merek Bahkan logo Philip Morris International pada Marlrokok produksi PT Vigo Interboro juga mirip di Marlbender, sama-sama ada singa nasional Batam. di kiri kanan yang kakinya tertumpu pada logo. Bedanya, gambar singa di kotak Marlboro dilengkapi mahkota yang menunjukkan singa betina. Sementara di Marlbender sang singa tak bermahkota. Begitupun logo
8
fokus p e r i s t i w a
tempat gambar singa ini bertumpu, sama-sama merah dan huruf di dalamnya berwarna putih, namun di Marlboro tertulis PM inc. dan bagian bawah tertulis VENI-VIDI-VICI. Sementara di Marlbender hanya tertulis huruf V yang merupakan simbol dari perusahaan pembuat, PT Vigo Internasional. Kemiripan lainnya, tulisan: 20 Class a Filter Cigarettes. Jenis hurufnya sama persis. Bahkan warna hurufnya juga sama-sama keemasan. Perbedaan paling mencolok hanya di pita cukai. Marlboro ada cukainya, sementara Marlbender tanpa cukai. Perbedaan menonjol lainnya, Marlboro tidak ada tulisan "Khusus Kawasan Bebas", sedangkan di Marlbender tercetak sangat jelas. Meski rata-rata pembeli menyebut Marlbender sebagai Marlboro palsu, namun sesunguhnya bukan rokok palsu. Marlbender adalah merek rokok produksi PT Vigo Internasional Batam. Sebuah perusahaan rokok yang pabriknya berada di Kawasan Industri Tunas, Batam Kota, Batam, Kepulauan Riau. Marlbender hanya salah satu dari 65 merek rokok produksi PT Vigo Internasional Batam. Namun dari 65 merek seperti yang terdaftar di Kantor Bea dan Cukai Kelas B Batam, tidak semua beredar di Batam. Ada 10 industri rokok Ada yang diekspor ke berbagai negara. di Batam. Jumlah itu Yang beredar di kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas (free belum termasuk petrade zone/FTZ) Batam, Bintan, Karimun (BBK) selain Marlbender rusahaan yang khusus (light, classic, dan menthol), antara lain Viss (light, classic, dan mengimpor rokok dari menthol), Vegas (light, menthol, dan classic) dan merek lainnya, luar negeri dengan betermasuk merek Barelang Bridge (selengkapnya lihat tabel). ragam merek. PT Vigo Internasional bukan satu-satunya perusahaan yang memproduksi rokok di Batam. Data yang diperoleh dari Badan Pengusahaan Kawasan (BP) Batam, tercatat ada sembilan industri rokok yang statusnya penanaman modal asing (PMA). Sementara dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam, ada satu perusahaan rokok yang statusnya penanaman modal dalam negeri (PMDM). Dengan demikian, ada 10 industri rokok di Batam. Jumlah itu belum termasuk perusahaan yang khusus mengimpor rokok dari luar negeri dengan beragam merek. Sembilan industri rokok yang berstatus PMA, yakni PT TCF Maju (Malaysia), PT Yingmei Indotobacco Internasioal (RRC), PT Rock International Tobacco (Singapura dan Mauritius), PT Vigo International, PT Alcotraindo Batam (Malaysia), PT Wandeli International Tobacco (trading) dari RRC, PT Leadon International (Singapura), PT Saberfill Indonesia (Singapura & Mauritius), dan Cigaret Machine & Equipment & Service Company (mesin dan peralatan industri rokok) dari RRC. Sedangkan yang berstatus PMDN adalah PT Fantastik International. Perusahaan-perusahaan tersebut berkantor di dua kawasan industri di Batam, yakni Kawasan Industri Citra Buana Park III Batam Centre dan Kawasan Industri Tunas Batam Centre. "Tapi belum semuanya beroperasi," kata Dwi Djoko Wiwoho, Direk
EDISI III, Minggu III Februari 2013
9
fokus p e r i s t i w a
tur Humas dan Promosi BP Kawasan Batam, Selasa usaha," kata Djoko. pekan lalu. Sementara PT Fantastik International tidak terdata di Nilai investasi masing-masing industri rokok maupun Disperindag Kota Batam berapa besaran investasinya. perusahaan yang bergerak di perdagangan dan peralatan "Setahu kami masih dalam proses pembangunan juga," industri rokok bervariasi. PT Yingmei International, miskata Firmansyah Fattah, Kepala Bidang Perindustrian alnya, nilai investasi awalnya mencapai 2.500 dolar AS. Disperindag Kota Batam, Rabu pekan lalu. Namun nilai modal yang ditanam membengkak karena Untuk tenaga kerja, masing-masing perusahaan hanya perusahaan ini terus menggandakan nilai investasinya. menyerap tenaga kerja 54 orang sampai 250 orang. Nilai investasi PT Rock International Tobacco tercatat Jumlah pekerjanya memang tidak terlalu besar, karena 1,1 juta dolar AS, kemudian berkembang jadi 2 juta dolar rata-rata proses produksi sudah menggunakan peralatan AS. PT Alcotraindo Batam 1 juta dolar AS. PT Wandeli canggih. International Tobacco (trading) 1,35 juta dolar Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam, FathulAS. PT Leadon International 1,25 juta dolar lah, menjelaskan industri rokok, terutama AS. PT Saberfill Indonesia, dan Cigaret PMA, pada dasarnya semua produknya 800 ribu dolar AS. Machine & Equipberorientasi ekspor. Namun pada ment & Service Company (mesin saat pengajuan izin, masing-masSaat pengajuan izin, dan peralatan industri rokok) ing industri rokok itu juga sudah masing-masing industri nilai investasinya mencapai 1 juta mengajukan izin untuk menjual rokok sudah mengadolar AS. di kawasan bebas Batam, Binjukan izin untuk men"Itu nilai investasi awal mertan, dan Karimun. jual di kawasan bebas eka. Jumlahnya terus bertam"Saya lupa berapa persen Batam, Bintan, bah karena ada yang melakukan dari produk mereka yang dijual dan Karimun. pengembangan dan perluasan
EDISI III, Minggu III Februari 2013
10 di Batam, tapi dari awal mengurus izin itu sudah ada," katanya, Rabu, pekan lalu. Lalu berapa besaran kuota untuk masing-masing industri rokok? Fatullah mengatakan, belum ditetapkan total kuota masing-masing. "Total kuota rokok untuk Kota Batam juga belum ditentukan karena belum disurvei," tambah Djoko. Dengan begitu, belum ada pembatasan jumlah rokok produksi Batam maupun impor yang boleh beredar di FTZ BBK. *** Kehadiran 10 industri rokok di Batam, di satu sisi, memang memberikan nilai positif. Lapangan kerja terbuka, perekonomian bergerak dan tumbuh. Di sisi lain, jika dilihat dari aspek sosial dan kesehatan, khususnya ketika para produsen rokok Batam ini menjadikan kawasan perdagangan bebas Batam, Bintan, Karimun sebagai market mereka, maka masyarakat, termasuk remaja, semakin mudah mendapatkan rokok. Apalagi tanpa cukai, harga rokok-rokok ini jauh lebih murah dibanding merek-merek ternama yang diproduksi Gudang Garam, Djarum, dan Sampoerna yang menguasai pasar rokok Tanah Air. Sebagai gambaran, harga Sampoerna A Mild dan Marlboro di tingkat pengecer sekitar Rp13 ribu - Rp15 ribu. Sementara rokok putih khusus FTZ, harganya hanya Rp4 ribu sampai Rp5 ribu. Jomplangnya harga ini turut mendongkrak penjualan rokok khusus kawasan FTZ ini. "Banyak yang mencari rokok Batam karena harganya murah," ujar Hani, pemilik kios pulsa yang juga menjual rokok di Perumahan Taman Raya, Selasa, pekan lalu. "Buat orang-orang yang tidak punya uang, yang penting bisa ngebul." Nasmira, pedagang di Batam Centre menjelaskan, menjual rokok Batam untungnya lebih besar, Rp1.000 dibanding rokok Jawa yang untungnya Rp800 setiap satu bungkusnya.
EDISI III, Minggu III Februari 2013
fokus p e r i s t i w a
Beragam cara juga ditawarkan marketing produsen rokok Batam. Pada tahap awal promosi, sejumlah toko yang menjadi mitra mereka menjualnya secara cuma-cuma. "Kalau pakai tester, cepat disukai karena mereka sudah tahu rasanya," kata Nasmira. Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Kantor Pelayanan Utama Tipe B Bea dan Cukai Batam, Susila Brata mengakui kondisi ini bertolak belakang dengan tujuan pemberlakuan cukai. Tujuan awal pemberlakuan cukai untuk melindungi masyarakat Indonesia dari barang yang membahayakan kesehatan. Dalam UndangUndang 11 Tahun 1995 yang berubah menjadi Undang-Undang 39 Tahun 2007 disebutkan, ada tiga barang yang kena cukai, yakni etil alkohol (etanol), minuman mengandung etil alkohol (MMEA) alias minuman beralkohol, dan hasil tembakau. Yang termasuk hasil tembakau meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya. Dalam aturan itu, barang-barang yang kena cukai merupakan barang-barang yang konsumsinya perlu dikendalikan dan peredarannya perlu diawasi. Pengendalian dan pengawasan itu disebabkan oleh efek barang yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat atau lingkungan hidup. Atas pertimbangan itu, barang-barang kena cukai perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan. Penetapan cukai membuat harga minuman beralkohol dan produk tembakau menjadi lebih mahal. Dengan begitu, diharapkan bisa mengurangi keinginan masyarakat untuk mengonsumsi barang-barang tersebut. Khusus tembakau, peraturan teranyar cukai produk tembakau diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 179/PMK.011/2012. Dalam
11
fokus p e r i s t i w a
Karimun yang masuk dalam wilayah FTZ. Berpperaturan itu, besaran tarif cukai hasil temayungkan Undang-Undang 36 Tahun 2000 bakau untuk masing-masing jenis hasil yang diubah menjadi Undang-Undang tembakau didasarkan pada golongan 44 Tahun 2007 dan PP 10/2012 tenpengusaha dan batasan Harga Jual tang lalulintas barang dari dan ke Eceran (HJE) per batang atau Faktor kesehatan mekawasan FTZ, rokok dan minuman gram yang ditetapkan oleh mengaruhi besaran beralkohol tanpa cukai bebas menteri. beredar di BBK. Senjatanya, label cukai. Makin besar pen"Penetapan cukai rokok tidak 'Khusus Kawasan Bebas'. seragam. Bergantung pada jenis garuh buruknya pada Label itu diperoleh jika perusarokoknya. Yang pabriknya padat kesehatan, makin besar haan yang memproduksi merek karya, cukainya cenderung lebih rokok itu mendapatkan izin dari persentase cukainya. rendah," kata Brata. Ia menamBadan Pengusahaan Kawasan bahkan, persoalan kesehatan Batam. Instansi yang dulu dikenal juga memengaruhi besaran cudengan nama Otorita Batam ini kai. Pendeknya, lebih besar pengaruh memang memiliki kuasa besar buruknya pada kesehatan, lebih besar mengeluarkan izin dan kuota impersentase cukainya. por, produksi, dan beredar di Batam. Susila Brata menyeDalam Permenkeu disebutkan, untuk pabrik sigaret butkan setelah mendapat izin dari BP Batam, Kantor kretek mesin dengan kapasitas produksi lebih dari dua miliar per tahun dan HJE per batangnyanya lebih dari Rp669 dikenakan tarif cukai sebesar Rp375 per batang. Jumlah ini lebih besar dari pabrik sigaret kretek mesin yang kapasitas produksinya kurang dari dua miliar, yang HJE per batangnya paling rendah Rp440 sampai dengan Rp549 dikenakan tarif cukai Rp245 per batang. Tarif cukai per batang akan beda lagi untuk hitungan cerutu dengan HJE lebih dari Rp180 ribu per batang, yang dikenakan cukai sebesar Rp100 ribu per batang. Total ada 29 jenis tarif cukai untuk produk tembakau. Namun niat pemerintah untuk membatasi konsumsi produk tembakau itu mental di Batam, Bintan, dan
EDISI III, Minggu III Februari 2013
12 Bea Cukai kemudian memberikan dokumen cukainya. Bagi perusahaan pembuat rokok di Batam, izin tersebut membuat proses produksi menjadi lebih murah. Pasalnya, bahan baku tembakau impor juga bebas bea masuk. Data Balai Karantina Pertanian Kelas I Batam menyebutkan, sumber tembakau rokok buatan Batam berasal dari Amerika Serikat, Argentina, Brazil, India, Cina, Kamboja, Kenya, Malaysia, Filipina, Spanyol, Vietnam, dan Zimbabwe. "Dalam data kami, tidak ada tembakau asal Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku rokok Batam," kata Kepala Seksi Karantina Tumbuhan, Fajar Budi Susanto. Izin pembebasan cukai tidak hanya diberikan pada investor yang ingin mendirikan pabrik rokok di Batam. Izin yang sama juga diberikan pada perusaahaan pengimpor rokok asing dan perusahaan rokok dari daerah lain yang ingin masuk ke Batam. Contohnya rokok merek 369 produksi perusahaan 369 Tobacco Bojonegoro yang dimasukkan ke Batam oleh PT Karimun Pinang Jaya. Alhasil, merek 396 yang beredar tanpa cukai di Batam dibanderol dengan harga eceran Rp5 ribu. Begitupun dengan Nise, rokok produksi Cina yang diimpor oleh PT Canlong Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Tunas. "Jadi tidak perlu membangun pabrik di Batam untuk mendapat pembebasan cukai jika mau beredar di Batam," ujar Brata. Tak heran jika warga memplesetkan istilah Free Trade Zone menjadi Free Tobacco Zone. Batam menjadi benarbenar lumbungnya surga bagi perokok. Sejumlah warga memang sempat menduga peredaran rokok produksi Batam dan rokok impor tanpa cukai adalah ilegal. Namun itu tadi, para produsen maupun importir rokok yang mengedarkan rokok tanpa cukai di Batam dilindungi Undang-Undang 36 Tahun 2000 yang diubah menjadi UndangUndang 44 Tahun
EDISI III, Minggu III Februari 2013
fokus p e r i s t i w a
2007 tentang FTZ. Kemudian Peraturan Pemerintah (PP) 10 Tahun 2012 tentang Lalulintas Barang dari dan ke Kawasan FTZ BBK. "Dua dasar hukum itu yang membuat barang-barang konsumsi, termasuk rokok bebas dari pajak, bea masuk, dan cukai jika masuk dan beredar di Batam," kata Brata. Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam Fathullah juga membenarkan perusahaan rokok Batam yang mengedarkan produknya di kawasan bebas memang tidak dikenakan cukai. Hal ini sesuai dengan UU FTZ dan PP 10 tahun 2012. Namun masing-masing perusahaan tetap wajib memiliki nomor pokok wajib cukai, meski cukainya nol untuk kawasan bebas. Meski begitu, tidak semua perusahaan rokok besar di Indonesia yang menggunakan fasilitas pembebasan cukai. Perusahaan seperti Gudang Garam dan Sampoerna tetap membayar cukai, meski beredar di kawasan bebas dan harga jualnya bakal lebih mahal. Mereka tetap pede dengan kualitas yang sudah dinikmati sebagian besar perokok di Batam. Sejumlah pengecer di Batam menyebutkan, merek rokok asal Jawa masih unggul daripada produk lokal Batam yang jauh lebih murah. "Namanya fasilitas, boleh diambil boleh tidak," kata Brata. Persoalan kualitas memang berperan sangat penting pada selera perokok. Meski mahal, rasa rokok-rokok dengan nama besar tak mudah diganti begitu saja dengan rokok murah asal Batam. Sejumlah perokok yang mencoba beberapa rokok Batam menyebutkan sejumlah kekurangan rokok Batam dibanding produk seperti Marlboro, Sampoerna, Djarum Super, atau Dji Sam Soe. "Rasanya hambar, pekat di tenggorokan, dan perih di hidung," kata Ali Sadikin, seorang desainer grafis. Penikmat Dji Sam Soe itu mencoba beberapa rokok buatan Batam yang ditawarkan Majalah Batam Pos. Beberapa perokok lain bahkan merasa mual saat mencoba rokok itu. Meski demikian, ada juga yang merasa satu rokok produk Batam mirip dengan rokok favoritnya. "Rasanya ringan, mirip sekali dengan Sampoerna," kata Abdul, karyawan perusahaan layanan jasa internet penggemar Sampoerna. ***
fokus
13
p e r i s t i w a
Misteri
Angka Produksi
T
idak ada yang tahu berapa jumlah rokok produksi Batam tanpa cukai yang beredar di kawsan perdagangan bebas Batam, Bintan dan Karimun. BP Batam mengaku belum menentukan kuota. Mencari data dari Bea Cukai dan pajak juga mustahil. Karena statusnya yang tidak kena cukai dan pajak penjualan. Majalah Batampos mencoba mencari tahu langsung ke pabriknya di Kawasan Industri Citra Buana III dan Tunas. Tidak sulit mencari nomor telepon perusahaan-perusahaan rokok itu. Ketik saja nama perusahaan di mesin pencari Google, alamat perusahaan beserta nomor teleponnya akan terpampang di direktori perusahaan. Batam Pos menghubungi tiga perusahaan besar yang mengedarkan produknya tidak hanya di Batam tapi juga di daerah luar FTZ, yakni Rock International, Vigo International, dan Leadon International. Dihubungi berulang kali, telepon PT Vigo International selalu sibuk. Ketika didatangi di kantornya di Kawasan Industri Tunas Blok 2-K, pagar pabrik digembok. Sementara
EDISI III, Minggu III Februari 2013
petugas keamanan tidak ada di posnya. Tidak tampak sepeda motor yang parkir di depan pabrik, seperti pabrik lain di sampingnya. Sementara ketika Majalah Batampos menghubungi nomor kontak PT Rock International Tobacco, pria bernama Amri mengarahkan agar datang lansung ke pabrik di Kawasan Citra Buana III Lot 18. “Temui saja Bu Nur, Bagian Umum perusahaan,” kata Amri. Nur sendiri menolak diwawancara minggu lalu. Melalui seorang satpam perusahaan, Nur menyampaikan ia baru bisa diwawancara pada hari di luar tenggat Majalah Batampos. Serupa, pihak PT Leadon juga menolak permohonan wawancara saat dihubungi minggu lalu. Seorang wanita yang mengangkat telepon mengaku tidak ada yang berwenang memberikan keterangan kepada media di perusahaan itu. Selanjutnya, ia memberikan telepon pada seorang pria yang memperkenalkan dirinya sebagai bagian pengamanan. Pria itu kembali menegaskan pernyataan rekannya. “Kami tidak berwenang memberikan keterangan,” kata dia. Setengah mengeluh, ia mempertanyakan semakin banyaknya izin perusahaan rokok yang diterbitkan BP Batam dan Pemerintah Kota Batam. (Yermia Riezky)