KONSEP KHALIFAH MENURUT M. QURAISH SHIHAB DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM
Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I) Jenjang Pendidikan Strata Satu (S-1)
Disusun oleh:
Khoirunnisa Fadliah 109011000079
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1435H/2014 M
PERSEMBAHAN Skripsi ini aku persembahkan untuk kedua orang tuaku tercinta (Ayahanda Drs. H. Baihaki, M.Pd.I dan Ibunda Hj. Nurlaili) dan seluruh keluargaku yang tak pernah lelah dalam memberikan kasih sayangnya kepadaku serta tulus dalam mendo’akanku hingga tercapainya sebuah kesuksesan dalam penyusunan sekripsi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi semua orang yang membacanya.. Aamiin.
i
ii
iii
ABSTRACT Khoirunnisa Fadliah ( NIM : 109011000079) . The concept of Caliph According to M. Quraish Shihab and Implications of Islamic Education .
This thesis examines and identifies the concept of the caliphate by M. Quraish Shihab, and implications for Islamic education. The purpose of this study is intended to determine M. Quraish Shihab thinking about the concept of the caliphate . The method used in this paper is the literature ( library research ) , by searching , collecting , reading , and analyzing books . While the data collection was done by using a literature review by making books by M. Quraish Shihab as the primary data , and literature pertaining to the object of this study ( such as supporting books , articles , journals , theses ) as secondary data . Then the data were analyzed using content analysis which , by way of sifting through data collected and analyzed in accordance with the required contents so that a conclusion can be drawn . The results showed that include : 1 ) The word caliph by M. Quraish Shihab roots of the word Khulafa ' which originally meant " behind " , and from here the word caliph is often interpreted as a "replacement " ( because it has always been that replaces or comes back , after which it replaces ) . So that the caliph was functioning as a fiduciary to replace God in His will enforce and implement the provisions of his to manage the earth with all its potential . 2 ) Within the meaning of the caliphate in the singular , contained in QS . Al Baqarah verse 30 and verse . Shad paragraph 26 . In QS . Al - Baqarah verse 30 indicates that the Caliphate is composed of the authority granted by Allah SWT to Adam along with his descendants to manage the whole earth at the beginning of the history of humanity . The QS . Shad paragraph 26 , that the caliphate is bestowed upon David aces. related to power manage a particular area ( Palestine ) , which deals with political power , which is where the people involved with the appointment . 3 ) Islamic Education related to the concept of the caliphate , which must pay more attention to a system and a curriculum that emphasizes the values of the Divine , which is rooted in the Qur'an and Sunnah as guidance in implementing Islamic education . So that will achieve the objectives of Islamic education , the perfect man ( Insan Kamil ) .
iv
ABSTRAK Khoirunnisa Fadliah (NIM: 109011000079). Konsep Khalifah Menurut M. Quraish Shihab dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam.
Skripsi ini mengkaji sekaligus menjelaskan konsep khalifah menurut M. Quraish Shihab, dan implikasinya terhadap pendidikan Islam. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pemikiran M. Quraish Shihab tentang konsep khalifah. Adapun metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah kepustakaan (library reserach), dengan cara mencari, mengumpulkan, membaca, dan menganalisa buku-buku. Sedangkan pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan teknik kajian literatur dengan menjadikan buku-buku karya M. Quraish Shihab sebagai data primer, dan literatur-literatur yang berkaitan dengan obyek penelitian ini (seperti buku penunjang, artikel, jurnal, skripsi) sebagai data sekundernya. Kemudian data-data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan content analysis yakni, dengan cara memilah-milah data yang terkumpul untuk dianalisa isinya sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga dapat diambil suatu kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantaranya : 1) Kata khalifah menurut M. Quraish Shihab berakar dari kata khulafa’ yang pada mulanya berarti “di belakang”, dan dari sini kata khalifah seringkali diartikan sebagai “pengganti” (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya). Sehingga khalifah itu berfungsi sebagai pemegang amanah untuk menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya untuk mengelola bumi dengan segenap potensi yang dimilikinya. 2) Dalam pemaknaan khalifah dalam bentuk tunggal, terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 30 dan QS. Shad ayat 26. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 30 ini menunjukkan bahwa kekhalifahan terdiri dari wewenang yang dianugerahkan Allah SWT untuk Adam beserta anak cucunya untuk mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan. Adapun QS. Shad ayat 26, bahwa kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud As. bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu (Palestina), yang berkaitan dengan kekuasaan politik, yang di mana yang terlibat dengan masyarakat dalam pengangkatannya. 3) Pendidikan Islam yang terkait dengan konsep khalifah ini, yaitu harus lebih memperhatikan suatu sistem dan kurikulum yang menekankan kepada nilai-nilai Ilahiah, yang bersumber pada al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam melaksanakan pendidikan Islam. Sehingga akan tercapainya tujuan pendidikan Islam, yaitu manusia yang sempurna (Insan Kamil).
v
KATA PENGANTAR
ِ بِس ِم الر ِحْي ِم َّ الر ْْحَ ِن َّ اهلل ْ Penulis, memulai skripsi ini dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji dan sanjung selayaknya kami persembahkan ke hadirat Allah SWT Zat yang menciptakan, mengatur, memelihara dan menguasai alam. Kepada-Nya segala puji disanjungkan dan kepada-Nya pula kita meminta. Dialah tempat menggantungkan segala harapan dan dialah muara dari segala permohonan. Tidak ada keberhasilan melainkan atas kehendak-Nya, tak ada kebaikan melainkan atas kuasa-Nya, dan juga yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, sebagai syarat akhir dalam menyelesaikan program sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak terlimpahkan Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada penyelamat umat di dunia, yaitu baginda Nabi Besar Muhammad SAW, juga bagi keluarga dan para sahabatnya serta siapa saja yang beriman dari zaman ke zaman. Melalui segenap usaha, doa dan penantian panjang, Alhamdulillah, penulis telah dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang sederhana ini berkat bantuan dari berbagai pihak, baik materil maupun moril, penulis berterima kasih kepada semua pihak pada saat penulis menyelesaikan studi maupun saat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Untuk itu penulis sampaikan terimakasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada: 1. Prof. Dr. Komarudin Hidayat, MA. Sebagai Rektor yang senantiasa berjuang dengan penuh ketulusan dan tanpa kenal lelah demi kemajuan Universitas Islam Negeri Jakarta. 2. Nurlena Rifa’I Ph.D. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Drs. H. Abd. Madjid Khon, MA. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
vi
4. Marhamah Saleh, Lc. MA. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Drs. Ahmad Basuni, MA. Sebagai dosen pembimbing yang dengan penuh keikhlasan dan kesabaran telah memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Pimpinan Perpustakaan dan staf perpustakaan Universitas Islam Negeri Jakarta Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Perpustakaan Iman Jama’, Perpustakaan Pusat Studi al-Qur’an dan perpustakaan lainnya di Jakarta, yang telah membantu dalam
pelayanan fasilitas buku-buku demi
selesainya skripsi ini. 7. Segenap dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan ilmunya kepada penulis, yang semoga ilmu tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. 8. Kedua orang tuaku, ayahanda tercinta bapak Drs. H. Baihaki M.Pdi. Beserta ibunda tersayang Hj. Nurlaili yang telah banyak berjasa mendidik, membimbing, mengasuh, memberikan kasih sayang yang tak pernah putus dalam membesarkan putrinya,
adik-adikku tersayang (Syawalia
Turrohmah, Abdul Halim, Abdul Kafi), nenekku (Hj. Ma’anih), serta para encang dan encingku yang tercinta (Neneng Husnah, Mujahid Amrillah, DAI Asyiik Tashil Amani’), yang senantiasa memberikan kasih sayang dan dorongan berupa moril maupun materiil kepada penulis sehingga meraih gelar Sarjana S1 di UIN Syarif Hidayatullah. 9. Kepada semua sahabat baikku kelas B PAI angkatan 2009 Jurusan Pendidikan Agama Islam (Cintia, Sinta, Mufliha, Mimin, Dhowi, Adnan, Rachmat, Yoga, Safrul), terima kasih atas segala masukan, motivasi dan dukungan kalian semua. 10. Kepada kakandaku tercinta Ali Umar, yang sangat baik, sabar untuk membantu, dan menemani penulis dalam segala hal serta memotivasi penulis untuk terus maju.
vii
11. Kepada kakak-kakakku (Ka Zainurrahman, Ka Iswahyudi, Ka Shiuby) yang telah memberikan masukan-masukan dan nasehat-nasehatnya. 12. Teman-teman seperjuangan khususnya yang di PAI Kelas B angkatan 2009 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 13. Kepada Kepala Sekolah, Guru-guru dan Siswa-siswi SDN KLU 01 Pagi Keb. Lama, yang selalu memberikan semangat kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 14. Kepada para murid-muridku di TPQ Usratun Nisa’, yang selalu memberikan keceriaan dan semangat kepada penulis.
Semoga Allah SWT., yang Maha Pengasih dan Penyayang berkenan membalas semua amal ibadah mereka. Amin.
Jakarta, 25 Februari 2014
Penulis
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN KARYA SENDIRI .................................................. i LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ...................................... ii LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ..................................... iii LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN MUNAQASAH ........................ iv ABSTRAK ............................................................................................................. v KATA PENGANTAR ........................................................................................... vi DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah............................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ..................................................................................... 7 C. Pembatasan dan Perumusan Masalah........................................................... 8 D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian .................................................. 8 BAB II KAJIAN TEORITIK A. Kajian Teori ............................................................................................. 10 1. Konsep Khalifatullah ......................................................................... 10 a.
Pengertian Khalifah ...................................................................... 10
b.
Manusia dalam Perspektif Kekhalifahan ..................................... 12
c.
Peran dan Fungsi Kekhalifahan Manusia di Bumi ....................... 18
2. Pendidikan Islam ................................................................................. 23 a.
Pengertian Pendidikan Islam ........................................................ 23
b.
Dasar-dasar Pendidikan Islam ...................................................... 27
c.
Tujuan dan Fungsi Pendidikan Islam ........................................... 33
B. Hasil Penelitian yang Relevan ................................................................. 38
ix
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Fokus dan Waktu Penelitian .................................................................... 41 B. Metode Penelitian ..................................................................................... 42 C. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ......................................... 43 D. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data ...................................... 44 E. Analisi Data ............................................................................................. 44 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data .......................................................................................... 46 1.
Riwayat Hidup dan Karier M. Quraish Shihab ..................................46
2.
Karya-karya M. Quraish Shihab ....................................................... 49
B. Pembahasan .............................................................................................. 52 1.
Konsep Khalifatullah Menurut M. Quraish Shihab ...........................52 a Pengertian Khalifatullah ................................................................52 b Makna Kekhalifahan Manusia di Bumi ........................................58 c Karakteristik Khalifatullah Menurut M. Quraish Shihab ..............64 d Tugas-tugas Khalifah Menurut M. Quraish Shihab ......................69
2.
Implikasi Konsep Khalifatullah Terhadap Pendidikan Islam ............70
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................... 79 B. Implikasi .................................................................................................. 80 C. Saran-saran ............................................................................................... 81 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................82
x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Secara kategorial, al-Qur‟an mendudukkan manusia ke dalam dua fungsi pokok, yaitu sebagai hamba („abd) Allah (QS. 51: 56) dan khalifatullah (QS. 2: 30).1
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)2
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: „Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah : 30)3 Dengan penyebutan kedua fungsi ini, al-Qur‟an ingin menekankan muatan fungsional yang harus diemban oleh manusia dalam melaksanakan tugas-tugas kesejarahan dalam kehidupannya di muka bumi. Pertama, manusia sebagai hamba („abd), dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan. Konsep „abd mengacu pada tugas-tugas 1
Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), h. 89. 2 Departemen Agama RI, al-Qur‟an dan Terjemahannya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur‟an Dept. Agama RI, 1982), h. 862. 3 Ibid., h. 14.
1
2
individual manusia sebagai hamba Allah dan tugas ini diwujudkan dalam bentuk pangabdian ritual kepada Allah SWT4 ; Kedua, manusia sebagai khalifah, dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama makhluk. Tidak sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifatullah. Begitu sebaliknya, tidak sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah. Dalam pembahasan mengenai manusia kita dapat menemukan kajian yang membahas tentang kedudukan manusia di alam semesta ini, selalu bahasan itu dihubungkan dengan konsep kekhalifahan manusia di muka bumi, dan konsep ibadah sebagai bentuk manifestasi tugas kekhalifahannya. Secara filosofis kata khalifah ditafsirkan ke dalam tiga definisi, yaitu : a. Manusia sebagai species telah menggantikan species lain yang sejak itu manusia bertempat tinggal di muka bumi. Karena diakui, bahwa jin mendahului manusia, maka manusia sebagai pengganti jin. b. Kata khalifah secara sederhana menunjuk kepada sekelompok masyarakat yang menggantikan kelompok lainnya. Yang termuat dalam QS. An-Naml : 62 yang artinya : “Dia menjadikan engkau pewaris-pewaris di muka bumi”. c. Dinyatakan bahwa khalifah tidak secara sederhana menggantikan yang lainnya, yang secara nyata memang benar-benar khalifah Allah. Allah pertama kali menjadikan khalifah yang berjalan dan bertingkah laku mengikuti ajaran Allah. Dari uraian penafsiran di atas, penekanan kata khalifah yang dimaksudkan khalifah Allah adalah hubungan yang dibangun antara manusia dengan Allah, bukannya secara sederhana antara manusia dengan sesamanya atau hubungan antara manusia dengan jin, tetapi khalifah yang disebutkan itu ialah sebagai khalifah 4
Allah.
Dimana
seorang
khalifah
Allah
tidak
hanya
memikirkan
Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: PT. Ciputat Press, 2005), Cet. II, h. 19.
3
kepentingan diri sendiri, kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja. Akan tetapi manusia sebagai khalifatullah itu harus berpikir dan bersikap demi kemaslahatan semua pihak sesuai dengan kehendak Allah. Sedangkan menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, kata khalifah memiliki dua makna. Pertama, adalah pengganti, yaitu pengganti Allah SWT untuk melaksanakan titah-Nya di muka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan.5 Dari gambaran di atas, dapat dipahami bahwa tugas manusia di muka bumi ini adalah sebagai khalifah yang diartikan sebagai pengganti Allah dan juga diartikan sebagai pemimpin. Manusia dikatakan pengganti Allah adalah dimana manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia itu sendiri, karena alam semesta memang diciptakan Allah untuk manusia. Pada dasarnya, akhlak
yang
diajarkan al-Qur‟an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi
manusia sebagai khalifah, yang sebagaimana Allah SWT telah memberikan mandat kepada manusia menjadi penguasa untuk mengatur bumi dan segala isinya. Kesemua ini merupakan “kekuasaan” dan wewenang yang bersifat umum yang diberikan Allah kepadanya sebagai khalifah untuk memakmurkan kehidupan di bumi. Oleh karenanya, tanggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkan seluruh sumber-sumber yang tersedia di alam ini guna memenuhi keperluan hidupnya. Namun, kewenangan manusia untuk memanfaatkan alam semesta harus didasarkan kepada garis yang telah ditetapkan Allah SWT dan tidak boleh menyalahinya.6 Sedangkan
kata
khalifah
yang diartikan sebagai pemimpin,
dituntut
adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya, dan jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah, sebenarnya tidak ada satu manusia pun di atas dunia ini yang tidak mempunyai “kedudukan” ataupun “jabatan”. Jabatan-jabatan lain 5 6
Al-Rasyidin, Samsul Nizar, op. cit., h. 18. Ibid.
4
yang bersifat keduniaan sebenarnya merupakan penjabaran dari jabatan pokok sebagai khalifatullah. Jika seseorang menyadari bahwa jabatan keduniawiannya itu merupakan penjabaran dari jabatannya sebagai khalifatullah, maka tidak ada satu manusia pun yang akan menyelewengkan jabatannya. Sehingga tidak ada satu manusia pun yang akan melakukan penyimpangan-penyimpangan selama dia menjabat. Karena kekhalifahan yang dimaksud, yaitu yang mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dan manusia juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, dan menegakkan keadilan. Karena, manusia sebagai (hamba) adalah kecil dihadapan Allah SWT, tetapi sebagai (khalifah Allah) manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Sehingga diperoleh
pengertian
pemahaman
abdullah
bahwa
apabila
kedudukan
dihubungkan
dengan
khalifah,
adalah
sebagai
sebagai khalifah
pengganti, ia menjadi pemegang kepemimpinan dan kekuasaan yang ada. Oleh karena itu, esensi seorang khalifah adalah kreativitas. Sedangkan kedudukan seorang „abd adalah pengabdi, yang pengabdiannya itu hanya layak diberikan pada Tuhan. Oleh karena itu, esensi seorang hamba adalah ketaatan dan kepatuhan. Dengan demikian, kedudukan manusia di alam raya ini di samping sebagai
khalifah
yang
memiliki
kekuasan
untuk
mengolah
alam dengan
menggunakan segenap daya potensi yang dimilikinya, juga sekaligus sebagai hamba yang keseluruhan usaha dan kreativitasnya itu harus dilaksanakan dalam rangka ibadah kepada Allah. Agar manusia mampu menjadi khalifah atau sebagai „abd Allah terhadap alam semesta, maka Allah telah menciptakan manusia dan menyiapkannya serta memberinya kelengkapan dan sarana yang diperlukan dengan sebaik-baiknya. Allah telah menciptakan manusia dengan struktur yang sebaik-baiknya. Sesuai dengan firman Allah:7
7
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. III, h. 28.
5
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya . (QS. At-Tin : 4).8 Menurut HAMKA, pada diri setiap anak (manusia), terdapat tiga unsur utama yang dapat menopang tugasnya sebagai khalifah fi al-ardh maupun „abd Allah. Ketiga unsur utama tersebut adalah akal, hati atau qalbu (roh), dan pancaindra (penglihatan dan pendengaran) yang terdapat pada jasadnya. Akal kreatif manusia (potensi akal) dan rasa ekspresinya (potensi qalbu) yang menjadikan dia mampu mempertahankan eksistensinya sebagai pembawa amanat “ibadah” dan sekaligus “khilafah” di tengah-tengah posisinya yang menonjol dalam hubungannya dengan Tuhan. 9 Dan
dalam
usaha
manusia
menyiapkan
dirinya
dan
mengembangkan
potensinya agar sampai pada kedudukan sebagai “pembawa amanah” yang berhasil, tidak dapat bekerja sendiri tanpa memanfaatkan bimbingan Tuhan, mencari hidayah-Nya,
menggapai rahmat-Nya memegang teguh fitrah yang
diberikannya, baik “fitrah mukhalaqoh” (fitrah yang dibekalkan kepada manusia sejak diciptakan) maupun “fitrah munazzalah” (doktrin kehidupan yang diberikan oleh Allah sebagai acuan bagi manusia dalam menyusuri perjalanan hidupnya yang penuh tantangan).10 Sehingga perpaduan tiga unsur tersebut membantu manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan membangun peradabannya, memahami fungsi kekhalifahannya, Allah.
serta menangkap
tanda-tanda kebesaran
Dan manusia yang telah diberi kelengkapan kemampuan jasmaniah
(fisiologis) dan rohaniah (mental psikologis) tersebut dapat ditumbuhkembangkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam ikhtiar kemanusiaannya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupannya di dunia. Untuk mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah itu, pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai di mana titik optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat dicapai. Melalui pendidikan, 8
manusia
akan
memperoleh
ilmu
pengetahuan
yang
dapat
Departemen Agama RI, op. cit., h. 1076. Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 121. 10 Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Lantabora Press, 2004), Cet. III , h. 84. 9
6
dipergunakannya memilah nilai baik dan buruk, serta menciptakan berbagai kebudayaan yang berfungsi mempermudah dan memperindah kehidupannya. Pendidikan merupakan proses menumbuhkembangkan eksistensi manusia yang bermasyarakat dan berbudaya dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional, dan global. Dan penidikan juga bukan sekedar proses transfer of knowledge, akan tetapi merupakan petunjuk dan penangkal berbagai fenomena sosial,
berikut ekses yang dibawanya.11
bahwasannya
pendidikan
berkebudayaan
serta
berusaha
berusaha
Dalam pandangan Ibnu Khaldun
untuk
untuk
melahirkan
melestarikan
masyarakat
eksistensi
yang
masyarakat
selanjutnya. Pendidikan diarahkan kepada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Konsepsi pendidikan menurut pandangan Ibnu Khaldun untuk menghadapi masa
depan
berkebudayaan
yang serta
lebih
baik,
berusaha
yaitu untuk
untuk
melahirkan
melestarikan,
masyarakat yang
meningkatkan,
dan
mempertahankan eksistensinya. Tujuan pendidikan diarahkan untuk membantu individu agar dapat hidup lebih baik dalam masyarakat yang berkualitas, yang dapat hidup layak dalam dunia yang sedang maju, dan mampu mempertahankan eksistensinya dalam masyarakat modern.12 Dan apabila berbicara tentang Pendidikan Islam, kita tidak bisa melepaskan dari struktur bangunan Islam dilandaskan pada nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci al-Qur‟an. Karena al-Qur‟an mampu mengantar dan mengarahkan manusia bersifat dinamis dan kreatif, serta mampu mencapai esensi nilai-nilai „ubudiyah pada Khaliqnya.13 Karena pada dasarnya, pendidikan Islam merupakan proses mentransfer sejumlah ilmu dan sekaligus membentuk watak pribadi manusia, sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Melalui ilmu yang dibalut dengan akhlak, manusia dapat menciptakan berbagai bentuk kebudayaan (teknologi) yang bermanfaat bagi seluruh alam semesta. Di sinilah letak fungsi kekhalifahan manusia sebagai 11
Samsul Nizar, op. cit., h. 127. Nurhamzah, “Media Pendidikan; Nilai-nilai Tujuan Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun”, Jurnal Pendidikan Keagamaan, Vol. XXIV, 2009, h. 47. 13 Soleha, Rada, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Alfabeta, 2011), Cet. I, h. 26-27. 12
7
rahmatan
li
al-„alamin.
Dengan
pendidikan
manusia
dapat
menata
kebudayaannya secara proporsional. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Gazalba memberikan batasan, bahwa maju mundurnya peradaban manusia, sangat ditentukan
oleh
dinamika
manusia
untuk
mengembangkannya.
Tumbuhnya
dinamika intelektual umat manusia, sangat tergantung pada pola pendidikan yang ditawarkannya. Di sini terlihat, bagaimana sesungguhnya pendidikan memiliki hubungan simbiosis mutualis dengan berbagai aspek kemanusiaan. 14 Pendidikan Islam dijadikan sebagai sarana yang kondusif bagi proses transformasi ilmu pengetahuan dan budaya Islam dari satu generasi kepada generasi berikutnya. 15 Maka pendidikan Islam harus merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal, sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkrit, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai khalifah maupun „abd. Dengan mencermati secara mendalam urgensi konsep khalifatullah yang dalam kaitannya dengan pendidikan Islam, memberikan inspirasi penulis untuk lebih jauh mengungkap konsep khalifah dan implikasinya terhadap pendidikan Islam menurut M. Quraish Shihab, yang sebagai salah seorang ilmuan yang menjadikan Al-Quran sebagai obyek kajiannya. Sehingga penulis memberi judul penulisan ini dengan judul “Konsep Khalifah Menurut M. Quraish Shihab dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam”.
B. Identifikasi Masalah Berdasarkan
latar
belakang
masalah
di
atas,
maka
penulis
mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan judul yang akan dibahas dalam tulisan ini, yaitu : 1. Kurangnya pemahaman manusia (sebagai pemimpin) terhadap makna kekhalifahan manusia di bumi.
14 15
Samsul Nizar, op. cit,. h. 133. Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, op. cit,. h. 22.
8
2. Belum maksimalnya peran manusia dalam melaksanakan amanat sebagai khalifah di muka bumi 3. Kurang diperhatikannya pendidikan Islam oleh manusia sebagai alat untuk menunjang potensi manusia sebagai khalifah
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah Berdasarkan uraian identifikasi masalah diatas, untuk lebih memperjelas dan memberi arah yang tepat dalam pembahasan skripsi ini, maka diberikan batasan yang berkaitan dan sesuai judul yang ada. Penulis hanya akan membahas fokus masalah yang diteliti sebagai berikut : 1. Pendapat M. Quraish Shihab tentang konsep khalifah di bumi 2. Implikasi
konsep
khalifah
menurut
M.
Quraish
Shihab
terhadap
pendidikan Islam
Bertolak dari pembatasan di atas, maka masalah penelitian dapat di rumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana pendapat M.Quraish Shihab tentang konsep khalifah ? 2. Bagaimana
implikasi konsep
khalifah
menurut
M.
Quraish
Shihab
terhadap pendidikan Islam ?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah : a) Untuk mengetahui konsep khalifah menurut M. Quraish Shihab. b) Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam. c) Untuk mengetahui konsep khalifah menurut M. Quraish Shihab dan implikasinya terhadap pendidikan Islam.
2. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penulis berkaitan dengan penulisan skripsi ini, antara lain adalah :
9
1. Kajian
di dalam skripsi ini bermaksud
memberikan sumbangsih
pemikiran dan dapat memperkaya wawasan dan khazanah pengetahuan kita tentang bagaimana konsep Khalifah menurut M. Quraish Shihab dan implikasinya terhadap pendidikan Islam 2. Sebagai bahan
informasi bagi masyarakat luas,
khususnya para
pendidik dan perguruan tinggi bahwa konsep khalifah mempunyai implikasi terhadap pendidikan Islam. 3. Sebagai bahan referensi penelitian selanjutnya yang sesuai dengan masalah ini.
BAB II KAJIAN TEORITIS A. Kajian Teori 1. Konsep Khalifah a. Pengertian Khalifah Kata khalifah berasal dari kata kholafa-yakhlifu/yakhlufu-khalfan-wa khilafatan yang berarti menggantikan, menempati tempatnya. Sedangkan kata khalafu diartikan orang yang datang kemudian atau ganti, pengganti. Dan kata al khaalifatu mempunyai pengertian umat pengganti, yang berbeda pengertiannya dengan alkhaliifatu yang bentuk jama‘nya khulafa‟ dan Khalaaif yang berarti khalifah.1 Ibrahim
al-Quraibi
mengartikan
kata
khalifah
sebagaimana
disebutkan dalam al-Qamus artinya adalah ―umat yang melanjutkan generasi umat terdahulu‖. Sedangkan al-khalaif artinya ―orang yang duduk setelahmu‖.2 Adapun Dawam Raharjo memberikan pengertian khalifah dalam alQuran diantaranya: ―mereka yang datang kemudian, sesudah kamu, yang diperselisihkan, silih berganti, berselisih dan pengganti‖.3 Sedangkan menurut terminologi, para ahli tafsir dan para ilmuan lain memberikan definisinya tentang khalifah. Seperti yang diartikan oleh Musthafa al-Maraghi bahwa khalifah adalah ―makhluk yang diciptakan oleh
Allah
sebagai
pengganti
dari
makhluk
sebelumnya
untuk
melaksanakan perintah Allah terhadap umat manusia‖.4 Sedangkan Ibnu Katsir mengartikan khalifah sebagai ―orang yang dapat memutuskan berbagai masalah pertengkaran yang terjadi dan membela orang yang
1
Ahmad Warson Munawwir, Al munawwir, Kamus Arab - Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), Cet. XIV, h. 361-363. 2 Ibrahim al-Quraibi, Tarikh Khulafa, (Jakarta: Qisthi Press, 2009), Cet. I, h. 13. 3 M. Dawam Raharjo, Ensiklopedia Al-Quran (Jakarta: Paramadina, 1996), h. 353. 4 Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi (Terj), Juz XVII, (Semarang: Thoha Putra, 1989), , h. 130-131.
10
11
beraniaya dan menegakkan hukum segala perbuatan yang keji dan munkar‖.5 Sayyid Qutb mendefinisikan khalifah dengan:
―makhluk yang
diciptakan oleh Allah untuk mengendalikan bumi dan memberikannya banyak potensi untuk mengelola bumi dan potensi tersebut harmonis antara undang-undang yang mengatur bumi dengan undang-undang yang mengatur makhluk (manusia) dengan segala kekuatan potensinya.‖6 Adapun Hasan Langgulung membagi pengertian khalifah berdasarkan siapa menggantikan siapa dalam kata khalifah menjadi tiga pendapat. Pertama, mengatakan bahwa umat manusia sebagai makhluk yang menggantikan makhluk yang lain yang telah menepati bumi ini. Dipercayai bahwa makhluk itu adalah jin. Kedua, khalifah hanya bermakna mana-mana kumpulan manusia menggantikan yang lain. Ketiga, Khalifah tidak sekadar seorang menggantikan orang lain, tapi ia (manusia) adalah pengganti Allah. Allah datang dulu, khalifah bertindak dan berbuat sesuai dengan perintah Allah.7 Pengertian khalifah adalah kedudukan manusia sebagai pengganti Allah. Yang mana kedudukan manusia sebagai pengganti Allah itu mempunyai tiga makna sebagaimana yang yang dikemukakan oleh Dawam Raharjo, yaitu : 1. Khalifah adalah Adam. Karena Adam simbol bagi seluruh manusia, maka manusia adalah khalifah. 2. Khalifah adalah suatu generasi penerus atau pengganti, yaitu khalifah diemban secara kolektif oleh suatu generasi. 3. Khalifah adalah kepala negara atau kepala pemerintahan.8 Sehingga secara umum khalifah didefinisikan sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah sebagai pengganti Allah yang diberikan amanat untuk menjaga dan mengatur seisi alam dengan berbagai potensi yang dianugerahi oleh Allah dengan sebaik mungkin, sehingga akan terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan di bumi maupun di akhirat kelak. 5
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), h. 369. Sayyid Quthb, Tafsir Fizilali Qur‟an, Di Bawah Naungan Al-Qur‟an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), Cet. III, h. 95. 7 Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1989), hlm. 75. 8 M. Dawam Raharjo, op. cit., h. 357. 6
12
b. Manusia dalam Perspektif Kekhalifahan Awal mula penciptaan manusia merupakan pengetahuan pertama yang diperoleh Adam a.s. sehingga ia mendapatkan keistimewaan dibanding dengan semua Makhluk ciptaan Allah.9 Keistimewaan ini bisa dilihat dari sisi penciptaan fisik maupun personalitas karakternya. Karena keistimewaannya itu, manusia memiliki tugas dan kewajiban yang berbeda dengan makhluk yang lain. Keistimewaan dan kelebihan manusia, diantaranya berbentuk daya dan bakat sebagai potensi yang memiliki peluang begitu besar untuk dikembangkan. Dalam kaitannya dengan pertumbuhan fisiknya, manusia dilengkapi dengan potensi berupa kekuatan fisik, fungsi organ tubuh dan panca indera. Kemudian dari aspek mental, manusia dilengkapi dengan potensi akal, bakat, fantasi maupun gagasan. Di luar itu manusia juga dilengkapi unsur lain, yaitu kalbu. Dengan kalbunya ini terbuka kemungkinan manusia untuk menjadi dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi secara spiritual.10 Dalam paham dualisme, bahwa manusia sebagai makhluk adalah integritas antara unsur jasmaniah dan rohaniah. Manusia ditempatkan sebagai makhuk yang memiliki peluang untuk dikembangkan pada kedua unsur tersebut. Seperti Al-Ghazali dan Al-Farabi menyatakan, bahwa manusia terdiri atas unsur jasad (badan) dan roh atau jiwa. Dengan jasad manusia dapat bergerak dan merasa, sedangkan dengan roh manusia dapat berpikir mengetahui dan sebagainya. Dalam pandangan ini tercermin akan adanya hubungan yang terintegrasi antara kedua unsur dimaksud. Hal yang sama juga dikemukakan oleh M. Qutb bahwa dalam perspektif Islam eksistensi manusia yang merupakan perpaduan antara ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang terpadu dan saling berkaitan, badan yang bersifat materi tidak bisa dipisahkan dengan akal dan ruh yang bersifat immateri. Masing-masing dari ketiga unsur tersebut Abbas Mahmud Al-Aqqad, Manusia Diungkap Qur‟an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), Cet. III, h. 13. 10 Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), Cet. II, h. 13-14. 9
13
memiliki daya atau potensi yang saling mendukung dan melengkapi dalam perjalanan hidup manusia.11 Menurut Harun Nasution, ―unsur materi manusia mempunyai daya fisik seperti mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan daya gerak‖. Sementara itu unsur immateri mempunyai dua daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal dan daya rasa yang berpusat di kalbu. Untuk membangun daya fisik perlu dibina melalui latihan-latihan ketrampilan dan panca indera. Sedangkan untuk melatih daya akal dapat dipertajam melalui proses penalaran dan berfikir. Sedangkan untuk mengembangkan daya rasa dapat dipertajam melalui ibadah seperti shalat, puasa dan lainlain, karena intisari ibadah dalam Islam adalah taqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Allah. Yang Maha Suci hanya dapat didekati melalui ruh yang suci dan ibadah adalah sarana latihan strategis untuk mensucikan ruh atau jiwa.12 Uraian di atas memberi gambaran bahwa Islam memiliki cara pandang yang utuh terhadap diri atau eksistensi manusia, yang mana dalam pandangan Islam eksistensi manusia itu ada tiga unsur penting, diantaranya yaitu ruh, akal dan badan. Islam menolak pandangan yang parsial sebagaimana yang telah dilakukan materialisme dan spiritualisme yang hanya menonjolkan satu aspek unsur manusia. Sehingga dapat kita lihat dalam surat al-Baqarah ayat 30-33 yang memaparkan proses kejadian manusia dan pengangkatannya sebagai khalifah.
11
M. Qutb, Sistem Pendidikan Islam (terj. Salman Harun), (Bandung: Al-Maarif, 1993), h.
127. 12
Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1995), h. 37.
14
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (30). Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (31). Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana" (32). Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (33). (Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33).13
Departemen Agama RI, al-Qur‟an dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur‘an Dept. Agama RI, 1982), h. 14. 13
15
Proses kejadian inilah yang dapat memberikan pengertian kedudukan manusia sebagai khalaifatullah dalam alam semesta. Sebagaimana diungkapkan beberapa penafsir berikut:
1)
Musthafa Al-Maraghi Menurut Musthafa Al-Maraghi Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33
menceritakan tentang kisah kejadian umat manusia. Menurutnya dalam kisah penciptaan Adam yang terdapat dalam ayat tersebut mengandung hikmah dan rahasia yang oleh Allah diungkap dalam bentuk dialog antara Allah dengan malaikat. Berdasarkan tersebut, maka ayat di atas merupakan tamsil atau perumpamaan dari Allah agar mudah dipahami oleh manusia, khususnya mengenai proses kejadian Adam dan keistimewaannya. Untuk maksud tersebut Allah memberi tahu kepada malaikat tentang akan diciptakannya seorang khalifah di bumi. Mendengar keputusan ini para malaikat terkejut kemudian mereka bertanya kepada Allah dengan cara dialog. Pernyataan malaikat tersebut seakan-akan mengatakan kenapa Tuhan menciptakan makhluk jenis ini dengan bekal iradah dan ikhtiyar yang tak terbatas. Sebab dalam pengertian malaikat, sangat mungkin manusia dengan potensi tersebut ia akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Untuk menjawab pertanyaan para malaikat ini, Allah memberi pengertian kepada mereka dengan cara ilham agar mereka tunduk dan taat kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Jawaban seperti ini sudah cukup jelas dan tegas, bahwa ada rahasia dan hikmah yang tidak diketahui oleh para malaikat yang terkandung dalam penciptaan Adam (manusia) sebagai khalifah di bumi. Dijelaskan ayat di atas bahwa Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam, kemudian nama-nama itu ditunjukkan Adam kepada malaikat atas perintah Allah, akan tetapi malaikat tidak bisa menyebutkan kembali nama-nama yang telah ditunjukkan Adam kepada mereka.
16
Kejadian itu menyadarkan malaikat bahwa secara fitrah manusia mempunyai isti‟dad (bakat) untuk mengetahui hal-hal yang belum mereka ketahui. Ringkasnya manusia dengan kekuatan akal, ilmu dan daya tangkap, ia bisa berbuat mengelola alam semesta dengan penuh kebebasan. Manusia dapat berkreasi, mengolah pertambangan dan tumbuh-tumbuhan, dapat menyelidiki lautan, daratan dan udara serta dapat merubah wajah bumi, yang tandus bisa menjadi subur, dan bukit-bukit terjal bisa menjadi dataran atau lembah yang sangat subur. Dengan kemampuan akalnya manusia dapat pula merubah jenis tanaman baru sebagai hasil cangkok sehingga tumbuh pohon yang sebelumnya belum pernah ada. Semuanya ini diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Hal di atas merupakan bukti yang jelas hikmah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Dengan kemampuan yang ia miliki ia dapat mengungkapkan keajaibankeajaiban ciptaan Allah dan rahasia-rahasia makhluknya. Al-Maraghi menambahkan, dalam ayat di atas memberikan gambaran bahwa Allah telah melebihkan manusia dari makhluk yang lain. Karena pada diri manusia telah disediakan ―alat‖ yang dengannya manusia bisa meraih kematangan secara sempurna di bidang ilmu pengetahuan, lebih jauh jangkauannya dibanding makhluk lain termasuk malaikat. Berdasarkan inilah manusia lebih diutamakan menjadi khalifah di bumi di banding malaikat.14
2)
Ibnu Katsir Berikut ini penjelasan beliau terhadap Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33:
Dalam ayat Allah memberitahukan karunia-Nya yang besar kepada anak Adam, sebab menyebut keadaan mereka sebelum diciptanya di hadapan para Malaikat. Di sini Allah menyebut kemuliaan kedudukan Nabi Adam a.s. karena Allah memberinya ilmu nama dari segala benda dan itu terjadi sesudah sujudnya para Malikat kepada Adam, dan didahului pasal ini 14
Ahmad Musthafa Al-Maraghi, op. cit., h. 130-144.
17
sesuai dengan pertanyaan para malaikat tentang hikmat pengangkatan khalifah di bumi yang langsung bahwa Allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Juga untuk menerangkan kelebihan Adam dengan ilmunya itu. Para malaikat telah mengetahui bahwa mereka akan melakukan kerusakan di muka bumi, maka mereka bertanya, ―Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.‖ Pertanyaan itu hanya dimaksudkan untuk meminta penjelasan dan keterangan tentang hikmah yang terdapat di dalamnya. Maka untuk memberikan jawaban atas pertanyaan para malaikat itu, Allah berfirman “Sesungguhnya Aku mengethui apa yang tidak kamu ketahui.” Artinya, Aku (Allah) menetahui dalam penciptaan golongan ini (manusia) terdapat kemaslahatan yang lebih besar daripada kerusakan yang kalian khawatirkan, dan kalian tidak mengetahui, bahwa Aku akan menjadikan di antara mereka para Nabi dan Rasul yang diutus ke tengah-tengah mereka. Dan di antara mereka juga terdapat para shiddiqun, syuhada‘, orang-orang shalih, orang-orang yang ulama, orang-orang yang khusyu‘, dan orang-orang yang cinta kepadaNya, serta orang-orang yang mengikuti para Rasul-Nya. Sehingga yang benar, Allah mengajari Adam nama segala macam benda itu, baik dzat, sifat, maupun af‟al (perbuatannya) yang besar dan yang kecil.15
3)
H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) Dalam menafsirkan Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33, Hamka mengambil
kesimpulan bahwa dalam penciptaan manusia sebagai khalifah, Allah telah melengkapinya dengan potensi yang dapat digunakan untuk menunjang fungsi kekhalifahannya itu. Adapun potensi yang dimaksud dalam ayat ini adalah potensi yang berupa ilmu atau pengetahuan.
15
Ibnu Katsir, op. cit., h. 80-86.
18
Menurut penjelasannya, manusia di samping diberi potensi-potensi sebagaimana makhluk lain, ia telah dianugerahi potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, yaitu akal. Akal inilah yang menjadi pembeda manusia dari makhluk lain termasuk malaikat. Dengan akalnya itu manusia bisa mengembangkan ilmunya dan menciptakan teknologi bahkan dengan akalnya itu manusia bisa menguak rahasia-rahasia alam dengan seizin Allah. Sebagai bukti bahwa manusia memiliki potensi akal dalam konteks ayat ini bisa dilihat ketika Adam mampu menyebutkan kembali namanama yang telah diajarkan oleh Allah kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa Adam (manusia) memang memiliki kelebihan atau keistimewaan yang tidak diberikan kepada makhluk yang lain termasuk malaikat. Keistimewaan yang diberikan Allah kepada manusia itu merupakan cara Allah memuliakan manusia. Sehinga dalam kata penutupnya Hamka mengatakan bahwa manusia dengan kelebihan yang diberikan kepadanya, tidak layak manakala ia mengabaikan karunia itu. Sebaliknya dia harus senantiasa mensyukurinya dengan cara menggunakan potensinya seoptimal mungkin dalam kerangka kebaikan dan kemanfaatan.16
c. Peran dan Fungsi Kekhalifahan Manusia di Bumi Manusia dipilih sebagai khalifatullah, sebagaimana diuraikan di atas, karena kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada manusia berupa ilmu pengetahuan, yang tidak diberikan kepada makhluk Allah yang lain termasuk malaikat. Ayat-ayat di atas yang menyampaikan tentang pengajaran Allah kepada manusia memberikan pengertian bahwa untuk dapat menjalankan fungsi dan peran kekhalifahan diperlukan modal atau syarat yaitu ilmu. Para ahli tafsir menafsirkan kelebihan daripada makhluk lainnya ialah kelebihan akal pada manusia sehingga ia disebut hewan berakal 16
Hamka, Tafsir Al-Azhar (juz. I), (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 2005), h. 207-211.
19
(hayawan an-nathiq). Anugerah akal dan keindahan fisik dalam rangka untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dipersiapkan untuk menerima amanat menjadi khalifah dan sekaligus sebagai mukallaf (penerima agama, nilai, dan beban hukum). Sejak awal pembaiatan kepada Nabi Adam a.s. yang mengemban tugas sebagai khalifah pertama di muka bumi, langsung diberikan beban mengemban tugas atas kekhalifahannya untuk mengenali dan menghafal seluruh (kullaha) nama-nama komponen alam sebagai ekosistemnya. Kewajiban berikutnya ia harus mengajarkan kepada para malaikat tentang apa yang pernah diperolehnya dari Allah.17 Kemudian kemampuan Adam menyebutkan nama-nama menurut Ali dalam The Glorias Qur‟an sebagaimana telah dikutip oleh Machasin, dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berinisiatif. Dalam hal ini manusia diberi kemampuan untuk memberikan nama-nama benda, yakni membentuk konsep-konsep tentang benda-benda itu. Membentuk konsep berarti menguasainya. Jadi sifat pengetahuan manusia adalah konseptual. Berinisiatif menurutnya juga berarti bahwa manusia di samping memiliki potensi merusak ia juga memiliki potensi untuk berbuat baik. Menurutnya ini menunjukkan sifat kreatif manusia. Potensi kreatif ini hanya dianugerahkan kepada manusia, dan tidak kepada malaikat maupun makhluk yang lain. Menurut Machasin, Adam atau manusia yang mempunyai kemampuan untuk berbuat patuh dan durhaka, di dalamnya terkandung unsur kreativitas.18 Senada dengan pendapat di atas, Abdur Rahman Shalih Abdullah menyatakan bahwa kemampuan manusia menyebutkan nama dapat diartikan sebagai kemampuan merumuskan konsep. Dalam penjelasan selanjutnya, ia menuturkan bahwa rumusan konsep memiliki dua faedah.
17
Sofyan Anwar Mufid, Islam dan Ekologi Manusia: Paradigma Baru, Komitmen dan Integritas Manusia dalam Ekosistemnya, Refleksi Jawaban atas Tantangan Pemanasan Global (Dimensi Intelektual, Emosional dan Spiritual), (Bandung: NUANSA, 2010), Cet. I, h. 112-113. 18 Machasin, Menyelami Kebebasan Manusia, (Yogyakarta: INHIS-Pustaka Pelajar, 1996), h. 8-10.
20
Pertama,
ia
memberikan
fasilitas
berfikir.
Mengapa
demikian?
Menurutnya konsep memungkinkan manusia melakukan analisa dan sintesa terhadap apa yang dipikirkan. Berbeda dengan binatang maka manusia memiliki kemampuan merumuskan pengetahuan konseptualnya ketika menghadapi permasalahan. Faedah kedua, dari pengetahuan konseptual adalah bahwa ia memungkinkan manusia ingat terhadap peristiwa-peristiwa lampau. Manusia mencatat sejarahnya, kemampuan untuk membaca sejarah menjadikan manusia mempunyai kemampuan tertinggi pada aspek-aspek tertentu. Binatang tidak dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Tidak mengherankan, alQuran menganggap sejarah sebagai ayat-ayat-Nya, yang merangsang praktek berfikir. Kenyataan-kenyataan sejarah tidak disebut sebagai memorisasi, namun kontemplasi.19 Selanjutnya Ali Syari‘ati juga memberikan rumusan tentang filsafat manusia sebagai berikut: Pertama, manusia tidak saja sama, tetapi bersaudara. Perbedaan antara persamaan dan persaudaraan adalah jelas. Persamaan menunjuk pada istilah hukum, sedang persaudaraan menunjuk pada esensi yang identik dalam diri seluruh umat manusia terlepas dari latar belakang ras, jenis kelamin dan warna kulit. Persaudaraan berarti seluruh umat manusia berasal dari asal usul yang sama. Kedua, terdapat persamaan antara pria dan wanita, karena mereka berasal dari sumber asal yang sama, yakni dari Tuhan, kendatipun dalam beberapa aspek terdapat perbedaan-perbedaan (karena kodratnya atau karena bawaan sejak lahir). Ketiga, manusia mempunyai derajat lebih tinggi dengan malaikat karena pengetahuan yang dimilikinya. Yang dimaksud adalah pengetahuannya dengan nama-nama pada manusia, dan dengan demikian manusia memberi nama pada (benda) di dunianya menyebutkan segala sesuatu dengan tepat. Tuhanlah yang menjadi guru pertama manusia, dan pendidikan manusia pertama bermula dengan menyebutkan nama-nama. Dengan kemampuan 19
Abdur Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan menurut Al Quran serta Implementasinya, (Bandung: Diponegoro, 1991), h. 132-133.
21
nama-nama itu dan dengan keberhasilan manusia menjawab pertanyaan Tuhan terbukti bahwa manusia lebih unggul dari malaikat dan dari ciptaan Tuhan lainnya.20 Sehingga dapat disimpulkan manusia dalam kedudukannya sebagai khalifah pada dasarnya mengemban tugas pokok, yaitu untuk mewujudkan kemakmuran di bumi agar tercipta kondisi kehidupan yang sejahtera, aman, tenteram dan bahagia sebagi tugas rangkap. Sejalan dengan tugas pengabdian itu maka manusia diberikan status terhormat, yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi lengkap dengan kerangka dan program kerjanya yang secara simbolis digambarkan melalui proses penciptaan Adam As. Oleh karena itu, manusia menduduki peran yang penting dan strategis di alam raya ini. Manusia bukan hanya merupakan salah satu bagian dari alam ataupun hanya sebagai makhluk yang diberi kesempatan untuk menggunakan serta memanfaatkan alam, melainkan juga untuk memelihara dan mengayomi seluruh makhluk guna mencapai tujuan penciptaannya masing-masing.21 Dari kutipan di atas, dapat dipahami bahwa dalam melaksanakan amanat yang diberikan Allah SWT manusia harus menggunakan akalnya bagi kemaslahatan manusia itu sendiri serta makhluk Allah lainnya secara serasi dan seimbang. Untuk itu manusia senantiasa dimotivasi untuk lebih banyak menyingkap rahasia alam semesta --dengan kekuatan akalnya-untuk mendapatkan nilai kebaikan. Untuk merealisasikan tugas dan fungsinya itu, dapat ditempuh manusia lewat pendidikan. Dengan media ini, diharapkan manusia mampu mengembangkan akal yang diberikan Allah SWT. secara optimal, bagi kepentingan seluruh alam semesta, baik untuk jangka pendek yaitu untuk kehidupan manusia di dunia maupun jangka panjang yaitu kehidupan di akhirat.
20
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), h. 25. 21 Jalaluddin, op.cit,. h. 234-235.
22
Berangkat dari uraian tersebut, Ahmad Hasan Firhat, membedakan kedudukan kekhalifahan manusia pada dua bentuk, yaitu khalifah kauniyat dan khalifah syar‟iyat. Pertama, khalifah kauniyat. Dimensi ini mencakup wewenang manusia --secara umum-- yang telah dianugerahkan Allah SWT. untuk mengatur dan memanfaatkan alam semesta beserta isinya bagi kelangsungan kehidupan umat manusia di muka bumi. Pemberian wewenang Allah SWT. kepada manusia dalam konteks ini, meliputi pemaknaan yang bersifat umum, tanpa dibatasi oleh agama apa yang mereka yakini. Artinya, lebel kekhalifahan yang dimaksud diberikan kepada semua manusia sebagai penguasa alam semesta. Bila dimensi ini dijadikan standar dalam melihat predikat manusia sebagai khalifah fi al-ardh, maka akan berdampak negatif bagi kelangsungan
manusia
dan
alam
semesta.
Manusia
–dengan
kekuatannya—akan mempergunakan alam semesta –sebagai konsekuensi kekhalifahannya—tanpa
kontrol
dan
melakukan
penyimpangan-
penyimpangan dari nilai Ilahiah. Akibatnya, keberadaannya di muka bumi bukan lagi sebagai pembawa kemakmuran, namun cenderung berbuat mafsadah dan cenderung merugikan makhluk Allah lainnya. Ketiadaan nilai
kontrol
inilah
yang
dikhawatirkan
malaikat
tatkala
Allah
mengutarakan keinginan-Nya menciptakan makhluk yang bernama manusia. Kedua, khalifah syar‟iyat. Dimensi ini meliputi wewenang Allah yang diberikan kepada manusia untuk memakmurkan alam semesta. Hanya saja, untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab ini, predikat khalifah, secara khusus ditujukan kepada orang-orang mukmin. Hal ini dimaksudkan, agar dengan keimanan yang dimilikinya, mampu menjadi pilar dan kontrol dalam mengatur mekanisme alam semesta, sesuai dengan nilai-nilai Ilahiah yang telah digariskan Alllah lewat ajaran-Nya. Dengan prinsip ini, manusia akan senantiasa berbuat kebaikan dan memanfaatkan alam semesta demi kemaslahatan umat manusia.
23
Bila dimensi ini dikembangkan dalam kajian pendidikan Islam, maka dalam proses mempersiapkan generasi penerus estafet kekhalifahan yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahiah, pendidikan yang ditawarkan harus mampu memberikan dan membentuk pribadi peserta didiknya dengan acuan nilai-nilai Ilaihiah. Dengan penanaman ini, akan menjadi panduan baginya dalam melaksanakan amanat Allah di muka bumi.22
2. Pendidikan Islam a. Pengertian Pendidikan Islam Pendidikan sebagai salah satu usaha untuk membina dan mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia jasmani dan rohani agar menjadi manusia yang berkepribadian harus berlangsung secara bertahap. Dengan kata lain, terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai individu, sosial dan sebagai manusia bertuhan hanya dapat tercapai apabila berlangsung melalui proses menuju ke arah akhir pertumbuhan
dan
perkembangannya
sampai
pada
titik
optimal
kemampuannya. Pengertian pendidikan secara umum mengacu pada dua sumber pendidikan Islam, yaitu al-Qur‘an dan Al-Hadits yang memuat kata-kata rabba dari kata tarbiyah, „alama kata kerja dari ta‟lim, dan addaba dari kata kerja ta‟dib. Ketiga istilah itu mengandung makna amat mendalam karena pendidikan adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil).23 Sedangkan secara terminologi istilah kegiatan ini juga telah menghasilkan banyak definisi dari para akademisi sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka anut. Seperti Ngalim Purwanto, menjelaskan bahwa ―pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan 22
Samsul Nizar, Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), Cet. I, h. 69-70. 23 Muhammad Takdir Ilahi, Revitalisasi Pendidikan Berbasis Moral, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), Cet. I, h. 25.
24
anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan‖.24 Menurut Ki Hajar Dewantara ―pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya‖.25 Lebih jauh, Azumardi Azra mengemukakan ―pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien‖26. Pendidikan lebih sekedar pengajaran yang terakhir ini dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, bukan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Sedangkan menurut UU No. 20 Tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.27 Dengan demikian, pengajaran hanya sekedar proses pemberian materi pelajaran kepada anak didik yang hanya akan membentuk para spesialis, yang terkurung pada bidangnya saja. Sedangkan pendidikan, lebih dari itu, di samping proses transfer ilmu dan keahlian, juga lebih menekankan pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik, sehingga menjadikan mereka dapat menyongsong kehidupannya di masa yang akan datang dengan lebih efektif dan efisien.
24
Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993), Cet. VI, h. 11. 25 Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 24. 26 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, (Jakarta: KENCANA, 2012), Cet. I, h. 4. 27 Anwar Arifin, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang SISDIKNAS, (Jakarta: Detjen Kelembagaan Agama Islam Depag, 2003), Cet. II, h. 34.
25
Mereka semua memiliki definisi tentang pendidikan yang berbedabeda bahkan sebagian dari mereka ada yang mendefinisikan pendidikan dengan mengintegrasikan dalam perspektif agama yang dianut seperti Ahmad D. Marimba dalam bukunya Pengantar Filsafat Pendidikan Islam bahwa : Pendidikan merupakan Bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain sering kali beliau mengatakan kepribadian yang memiliki nalai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.28 Pendidikan Islam menurut Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed. adalah ―usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran Islam atau suatu upaya dengan ajaran Islam, memikir, memutuskan dan berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.‖29 Ahmad Tafsir mendefinisikan bahwa pendidikan Islam adalah ―bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam‖. Dan bila disimgkat pendidikan Islam menurutnya yaitu ―bimbingan terhadap seseorang agar ia menjadi Muslim semaksimal mungkin‖.30 Kemudian, Armai Arief mengartikan ―Pendidikan Islam adalah sebuah proses dalam membentuk manusia-manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT baik kepada Tuhannya, sesama manusia, dan sesama makhluk lainnnya‖.31
28
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Al-Ma‘arif, 1962),
h. 23. 29
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet. VI, h. 152. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1994), Cet. II, h. 32. 31 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), Cet. I, h. 40-41. 30
26
Sedangkan Zakiah Daradjat menjelaskan bahwa ―Pendidikan Islam adalah pembentukan kepribadian, pendidikan Islam ini telah banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan sesuai dengan petunjuk ajaran Islam, karena itu pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga bersifat praktis atau pendidikan Islam adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal‖.32 Berangkat dari perbedaan definisi yang dikemukakan oleh para ilmuan dan praktisi pendidikan, dapat ditemukan sebuah kesamaan yang merupakan kesimpulan awal yang bersifat universal. Diungkapkan oleh Muhammad Natsir dalam tulisan ―ideology pendidikan Islam‖ bahwa yang dinamakan pendidikan ialah “suatu pimpinan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan
dan
kelengkapan
atau
kemanusiaan
dengan
arti
sesungguhnya”.33 Dari beberapa definisi tentang pendidikan Islam di atas, maka dapat diambil beberapa pengertian tentang pendidikan Islam, yaitu : a)
Pendidikan Islam sebagai usaha bimbingan ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan jasmani dan rohani menurut ajaran Islam.
b)
Pendidikan Islam sebagai suatu usaha sadar untuk mengarahkan dan mengubah tingkah laku individu untuk mencapai pertumbuhan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam dalam proses kependidikan melalui latihan-latihan akal pikiran (kecerdasan), kejiwaan, keyakinan, kemauan dan perasaan, serta pancaindera dalam seluruh aspek kehidupan manusia.
c)
Pendidikan Islam sebagai bimbingan secara sadar dan terus-menerus yang sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar), secara individual maupun kelompok, sehingga manusia mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh dan benar.
32
M. Alisuf Sabri, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), Cet. I, h.
33
Azyumardi Azra, op. cit,. h. 4.
150.
27
b. Dasar-dasar Pendidikan Islam Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat.34 Agar pendidikan dapat melaksanakan fungsinya sebagai agent of culture dan bermanfaat bagi manusia itu sendiri, maka perlu acuan pokok yang mendasarinya. Karena pendidikan merupakan bagian yang terpenting dari kehidupan manusia, yang secara kodrati adalah insane pedagogic maka acuan yang menjadi acuan dasar bagi pendidikan adalah nilai yang tertinggi dari acuan hidup suatu masyarakat di mana pendidikan itu dilaksanakan. Oleh karena itu, pendidikan Islam sebagai usaha membentuk manusia, harus mempunyai landasan kemana semua kegiatan dan semua perumusan tujuan pendidikan Islam itu dihubungkan. Dalam menetapkan sumber/landasan pendidikan Islam, para pemikir Islam berbeda pendapat, diantaranya Abdul Fattah Jalal yang membagi sumber pendidikan Islam menjadi dua macam, yaitu : 1) Sumber Ilahi (alQur‘an) dan Al-Hadits; 2) Sumber Insaniyah, yaitu lewat proses ijtihad manusia.35 Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, landasan itu terdiri dari alQur‘an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW yang dapat dikembangkan dengan
ijtihad,
al-Maslahah
al-Mursalah,
Istishan,
Qiyas,
dan
sebagainya.36
1) al-Qur‟an Penurunan al-Qur‘an diawali dengan ayat-ayat yang mengandung konsep pendidikan, dapat menunjukkan bahwa tujuan al-Qur‘an yang terpenting adalah mendidik manusia melalui metode yang bernalar serta sarat dengan kegiatan meneliti, membaca, mempelajari, dan observasi
34 35
87.
36
Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), Cet. XII, h.19. Abdul Fattah Jalal, Azaz-azaz Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), h. 86Zakiah Daradjat, dkk, loc.cit.
28
ilmiah terhadap manusia sejak manusia masih dalam bentuk segumpal darah dalam rahim ibu. Sebagaimana firman Allah:
. . . . . “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran pena. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‗Alaq: 1-5).37 Dasar pelaksanaan pendidikan Islam, Allah berfirman:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52). Ayat ini menjelaskan bahwa al-Qur‘an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang diridhai Allah SWT.38
37 38
Departemen Agama RI, op. cit., h. 597. Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet. V, h. 154.
29
Al-Qur‘an adalah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung di dalamnya terdiri dari dua prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut dengan akidah dan yang berhubungan dengan aktivitas manusia yang disebut dengan syari‘ah. Ajaran-ajaran yang berkenaan dengan iman dalam alQur‘an tidak sebanyak ajaran yang berkenaan dengan amal perbuatan. Hal ini menunjukkan amal itulah yang paling banyak dilaksanakan, sebab semua amal perbuatan manusia dalam hubungan kepada Allah, dengan dirinya sendiri, dengan masyarakat, serta dengan alam lingkungannya termasuk dalam lingkup aktivitas manusia. Istilah-istilah yang sering digunakan dalam membicarakan tentang syari‘ah adalah ibadah yaitu perbuatan yang berhubungan langsung dengan Allah; muamalah yaitu perbuatan yang berhubungan langsung dengan selain Allah; dan akhlak yaitu untuk tindakan yang menyangkut etika dan budi pekerti dalam pergaulan. Dengan demikian al-Qur‘an sebagai kitab suci agama Islam harus dijadikan landasan dan sumber utama pendidikan Islam. Sehingga terlihat bahwa seluruh dimensi yang terkandung dalam al-Qur‘an memiliki misi dan implikasi kependidikan yang bergaya imperatif, motivatif, dan persuasif, dinamis, sebagai suatu sistem pendidikan yang utuh dan demokratis lewat proses manusiawi. Proses kependidikan tersebut bertumpu pada kemampuan rohaniah dan jasmaniah masing-masing peserta didik, secara bertahap dan berkesinambungan, tanpa melakukan perkembangan zaman dan nilai-nilai Ilahiah. Semua proses pendidikan Islam tersebut merupakan proses konservasi dan transformasi, serta internalisasi nilai-nilai dalam kehidupan manusia sebagaimana yang diinginkan oleh ajaran Islam. Dengan upaya ini, diharapkan peserta didik
30
mampu hidup secara serasi dan seimbang, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.39
2) Hadits (As-Sunnah) Sunnah menurut bahasa banyak artinya, antara lain adalah: suatu perjalanan yang diikuti, baik dinilai perjalanan baik atau perjalanan buruk. Dan makna sunnah yang lain adalah: tradisi yang kontinu,40 misalnya firman Allah:
Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan peubahan bagi sunnatullah itu. (QS. Al-Fath: 23).41 Sedangkan sunnah menurut istilah, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama, di antaranya sebagai berikut: a.
Menurut ulama ahli hadits (Muhaditsin), sunnah adalah segala perkataan Nabi, perbuatannya, dan segala tingkah lakunya.
b.
Menurut ulama Ushul Fikih (Ushuliyun), sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi baik yang bukan dari al-Qur‘an baik berupa segala perkataan, perbuatan, dan pengakuan yang patut dijadikan dalil hukum syara‘.
c.
Menurut ulama Fikih (Fuqaha), sunnah adalah sesuatu ketetapan yang datang dari Rasulullah dan tidak termasuk kategori fardlu dan wajib, maka ia menurut mereka adalah sifat syara‘ yang menuntut pekerjaan
tapi
tidak
wajib
dan
tidak
disiksa
bagi
yang
meninggalkannya. d.
Menurut ulama maw‘izhah („Ulama Al-Wa‟zhi wa Al-Irsyad), sunnah adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi dan sahabat.42
39
Soleha dan Rada, Ilmu Pendidikan Islam, ( Bandung: Alfabeta, 2011), Cet. I, h. 27-29. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, (Jakarta: Amzah, 2009), Cet. II, h. 5. 41 Departemen Agama RI, op. cit., h. 513. 42 Abdul Majid Khon, op. cit., h. 5-8. 40
31
Contoh yang diberikan oleh beliau dapat dibagi kepada tiga bagian. Pertama, hadits qauliyah yaitu yang berisikan ucapan, pernyataan, dan persetujuan Nabi Muhammad SAW. Kedua, hadits fi‟liyah yaitu yang berisi tindakan dan perbuatan yang pernah dilakukan Nabi. Ketiga, hadis taqririyah yaitu yang merupakan persetujuan Nabi atas tindakan dan peristiwa yang terjadi.43 Sehingga dalam pendidikan Islam, sunnah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu : (1) menjelaskan sistem pendidikan Islam terdapat dalam alQur‘an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat di dalamnya; (2) menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat, perlakuannya terhadap anak-anak, dan pendidikan keimanan yang pernah dilakukannya.44
3) Ijtihad Landasan berikutnya yang lebih bersifat praktis dan aplikatif adalah ijtihad para ulama.45 Ijtihad berakar dari kata jahda yang berarti almasyaqqah (yang sulit) dan badzl al-wus‟i wa thaqati (pengarahan kesanggupan dan kekuatan). Sa‘id al-Taftany memberikan arti ijtihad dengan tahmil al-juhdi (ke arah yang membutuhkan kesungguhan), yaitu pengarahan segala kesanggupan dan kekuatan untuk memperoleh apa yang dituju sampai pada batas puncaknya.46 Sehingga secara etimologi ijtihad berarti usaha keras dan sungguhsungguh (gigih), yang dilakukan oleh para ulama untuk menetapkan hukum suatu perkara atau suatu ketetapan atas persoalan tertentu. Sedangkan secara terminologi ijtihad adalah ungkapan atas kesepakatan dari sejumlah ulil amri dari umat Muhammad SAW dalam suatu masa, untuk menetapkan hukum syari‘ah terhadap berbagai peristiwa yang 43
Samsul Nizar, op. cit., h. 95-97. Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan islam; Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), Cet. II, h. 35. 45 Soleha dan Rada, op. cit., h. 33. 46 Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: KENCANA, 2008), Cet. II, h. 43. 44
32
terjadi (batasan yang dikembangkan oleh al-Amidy). Menurut Abu Zahrah, ijtihad adalah produk ijma‟ (kesepakatan) para mujtahid muslim, pada suatu periode terhadap berbagai persoalan yang terjadi setelaah wafatnya Nabi Muhammad SAW, untuk menetapkan hukum syara‘ atas berbagai persoalan umat yang bersifat amaly.47 Dapat disimpulkan ijtihad adalah istilah para fuqaha yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuwan syari‘at Islam mengenai hal-hal yang belum ditegaskan hukumnya oleh al-Qur‘an dan al-Sunnah. Dan dalam pelaksanaannya ijtihad ini harus mengikuti kaidah-kaidah yang telah diatur oleh para mujtahid dan harus berpedoman serta tidak bertentangan dengan isi yang ada pada al-Qur‘an dan alSunnah.48 Ijtihad menjadi penting dalam pendidikan Islam ketika suasana pendidikan mengalami status quo, jumud, dan stagnan. Tujuan dilakukan ijtihad dalam pendidikan adalah untuk dinamisasi, inovasi dan modernisasi pendidikan
agar
diperoleh
masa
depan
pendidikan
yang
lebih
berkualitas.49 Ijtihad di bidang pendidikan, utamanya pendidikan Islam sangat perlu dilakukan, karena media pendidikan merupakan sarana utama untuk membangun pranata kehidupan sosial dan kebudayaan manusia untuk mencapai kebudayaan yang berkembang secara dinamis, hal ini ditentukan oleh sistem pendidikan yang dilaksanakan dan senantiasa merupakan pencerminan dan penjelmaan dari nilai-nilai serta prinsip pokok al-Qur‘an dan Hadits. Proses ini akan mampu mengontrol manusia dalam seluruh aspek kehidupannya, sekaligus sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.50
47
Samsul Nizar, op. cit., h. 100. M. Alisuf Sabri, op. cit., h. 156. 49 Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, loc. cit. 50 Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), Cet. Ke-I, h. 116. 48
33
c. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Islam Tujuan merupakan sesuatu yang esensial bagi kehidupan manusia. Dengan adanyan tujuan, semua aktivitas dan gerak manusia menjadi lebih dinamis, terarah dan bermakna.51 Suatu kegiatan akan berakhir, bila tujuannya sudah tercapai. Kalau tujuan itu bukan tujuan akhir, kegiatan berikutnya akan segera dimulai untuk mencapai tujuan selanjutnya dan terus begitu sampai kepada tujuan akhir. Bila pendidikan kita pandang sebagai suatu proses maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan.52 Secara umum, tujuan pendidikan Islam terbagi kepada: tujuan umum, tujuan sementara, tujuan akhir dan tujuan operasional. Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam sebuah kurikulum. Tujuan akhir adalah tujuan yang dikehendaki agar peserta didik menjadi manusia-manusia sempurna (insan kamil) setelah ia menghabisi sisa umurnya. Sementara tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.53 Pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam adalah mencerdaskan akal dan membentuk jiwa yang islami, sehingga akan terwujud sosok pribadi Muslim sejati yang berakal pengetahuan dalam segala aspek kehidupan.54
51
Ibid. Muzayyin Arifin, loc. cit., hlm. 108. 53 Armai Arief, op. cit., h. 19. 54 Abdurrahman Al-Baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, (Surabaya: AlIzzah, 1996), Cet. I, h. 30. 52
34
Namun demikian agar tujuan-tujuan yang dimaksud lebih dipahami, berikut ini akan diuraikan tujuan pendidikan Islam dalam perspektif para ulama muslim, antara lain adalah : Abdurrahman
Saleh
Abdullah
mengatakan
dalam
bukunya
―Educational Theory a Qur‟anic Outlook”, bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah SWT. atau sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah dan tunduk serta patuh secara total kepada-Nya.55 Selanjutnya tujuan pendidikan Islam menurutnya dibangun atas tiga komponen sifat dasar manusia sebagai berikut: 1) Tujuan pendidikan jasmaniah (ahdaf al-Jismiyah), yaitu mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi, melalui pelatihan keterampilanketerampilan fisik; 2) Tujuan pendidikan rohaniah (ahdaf al-Ruhaniyah), yaitu untuk meningkatkan jiwa dan kesetiaan yang hanya kepada Allah semata dan berupaya untuk memurnikan serta menyucikan diri manusia secara individual dari sikap negatif; 3) Tujuan pendidikan akal (ahdaf al„Aqliyah), yaitu pengarahan intelegensi untuk menentukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan telaah tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan pesan-pesan ayat-ayat-Nya yang membawa iman kepada Sang Pencipta.56 Fazlur Rahman mengklasifikasikan tujuan pendidikan ke dalam empat
ketegori,
yaitu
:
Pertama,
tujuan
pendidikan
jasmani:
mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi melalui
pelatihan
keterampilan-keterampilan
fisik.
Kedua,
tujuan
pendidikan rohani: meningkatkan jiwa kesetiaan hanya kepada Allah semata dan melaksanakan moralitas Islami yang diteladani Nabi SAW dengan berdasarkan cita-cita ideal yang terdapat di dalam al-Qur‘an. Ketiga, 55
tujuan
pendidikan
akal:
mengarahkan
intelegensi
untuk
Armai Arief, loc. cit. Abdurahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur‟an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), h. 119-126. 56
35
menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan menelaah tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan pesan-pesan ayat-Nya yang membawa iman kepada Sang Pencipta. Keempat, tujuan pendidikan sosial: membentuk kepribadian yang utuh dari ruh, tubuh dan akal. Identitas individu di sini tercermin sebagai ―al-Nas‖ yang hidup pada masyarakat yang plural atau majemuk.57 Sehingga tujuan pendidikan Islam adalah membina umat manusia agar menjadi hamba yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT, dengan mendekatkan diri kepada Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, baik ibadah yang telah ditentukan aturan dan tatacaranya oleh Allah dan Rasul-Nya (Ibadah Makhdah), maupun yang belum ditentukan. Rumusan tujuan ini diilhami oleh firman Allah58:
(٦٥ : )الذارىات Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Al-Dzariyat: 56)59 Tujuan tertinggi pendidikan Islam menurut al-Syaibani adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat.60Sesuai dengan firman Allah:
Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).61
57
Muhaimin, Kontroversi Pemikiran Fazlur Rahman, Studi Kritis Pembaharuan Pendidikan Islam, (Cirebon: Pustaka DINAMIKA, 1999), Cet. I, h. 103-104. 58 Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif al-Qur‟an, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), h. 173. 59 Departemen Agama RI, op. cit., h. 523. 60 Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Dari Falsafatut Tarbiyyah al-Islamiyah oleh Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), Cet. I, h. 406. 61 Departemen Agama RI, op. cit., h. 31.
36
Sementara tujuan akhir yang akan dicapai adalah mengembangkan fitrah peserta didik, baik ruh, fisik, kemauan, dan akalnya secara dinamis, sehingga terbentuk pribadi yang utuh dan mendukung bagi pelaksanaan fungsinya sebagai khalifah fil ardh.62 Dalam buku Metedologi Pengajaran Agama Islam karya Dr. Zakiah Daradjat, dikatakan bahwa : “tujuan pendidikan Islam ialah kepribadiaan muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam”.63 Dalam pandangan HAMKA, tujuan pendidikan Islam adalah ―mengenal dan mencari keridhaan Allah, membangun budi pekerti untuk berakhlak mulia, serta mempersiapkan peserta didik untuk hidup secara layak dan berguna di tengah-tengah komunitas sosialnya‖.64 Menurut Muhammad Fadhil al-Jamaly, tujuan pendidikan Islam menurut al-Qur‘an meliputi: 1) menjelaskan posisi peserta didik sebagai manusia di antara makhluk Allah lainnya dan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini, 2) menjelaskan hubungan sebagai makhluk sosial dan tanggungjawabnya dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, 3) menjelaskan hubungan manusia dengan alam dan tugasnya untuk mengetahui hikmah penciptaan dengan cara memakmurkan alam semesta, 4) menjelaskan hubungannya dengan Khaliq sebagai pencipta alam semesta.65 Muhammad
Athiyah
al-Abrasyi,
mengatakan
bahwa
tujuan
pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu: 1) membentuk akhlak mulia, 2) mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat, 3) persiapan untuk mencari rizki dan memelihara dari kemanfaatannya, 4) menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik, 5) mempersiapkan tenaga profesional yang terampil.66 Dan Ibnu Khaldun mengemukakan tujuan pendidikan sebagai berikut : 1) Pembinaan pemikiran yang baik; 2) Pengembangan kemahiran 62
Hasan Langgulung, op. cit, h. 67. Zakiah Daradjat dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. I, h. 72. 64 Samsul Nizar, op. cit, h. 117. 65 Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, op. cit, h. 36-37. 66 Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, op. cit., h. 416-417. 63
37
(al-Malakah atau skill) dalam bidang tertentu; dan 3) Penguasaan keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman (link and match).67 Dari beberapa definisi di atas, terlihat bahwa tujuan pendidikan Islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Tuhan yang harus diinternalisasikan ke dalam diri individu anak didik lewat proses pendidikan. Dengan penanaman nilai ini, diharapkan pendidikan Islam mampu mengantarkan, membimbing dan mengarahkan anak didik (manusia) untuk melaksanakan fungsinya sebagai „abd dan khalifah, guna membangun dan memakmurkan alam ini sesuai dengan konsep-konsep yang telah ditetapkan Allah. Perwujudan ini tidak terlepas dari pribadi insan kamil yang bertakwa dan berkualitas intelektual.68 Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam merupakan usaha dalam membangun manusia yang utuh dalam rangka pembentukan kepribadian, moralitas, sikap ilmiah dan keilmuan, kemampuan berkarya, profesionalisasi sehingga mampu menunjukkan iman dan amal shaleh sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dan kehidupan. Fungsi pendidikan Islam meliputi tiga hal sebagai berikut: 1.
Menumbuhkembangkan peserta didik ke tingkat yang normatif yang lebih baik, dengan kata lain, fungsi pendidikan Islam merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam landasan dasar pendidikan Islam tersebut.
2.
Melestarikan ajaran Islam dalam berbagai aspek, dalam hal ini berarti ajaran Islam itu dijadikan tetap tidak berubah dibiarkan murni seperti
keadaan
semula,
sekaligus
dijaga,
dipertahankan
kelangsungan eksistensinya hingga waktu yang tak terbatas. Hal ini khususnya yang menyangkut tekstual al-Qur‘an dan Hadits. Adapun mengenai interpretasi dan pemahaman harus senantiasa dinamis disesuaikan dengan tuntutan zaman dan kondisi masyarakat.
Nurhamzah, ―Media Pendidikan; Nilai-nilai Tujuan Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun‖, Jurnal Pendidikan Keagamaan, Vol. XXIV, 2009, h. 48. 68 Samsul Nizar, op. cit., h. 106. 67
38
3.
Melestarikan kebudayaan dan peradaban Islam, dalam arti buah budi dan kemajuan yang dicapai umat Islam secara keseluruhannya mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat serta prestasi yang mereka capai.69 Fungsi pendidikan menurut Khursdi Ahmad sebagaimana yang
dikutip oleh Abdul Majid dan Jusuf Mudzakkir dalam buku Ilmu Pendidikan Islam, adalah sebagai berikut: 1.
Alat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkattingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial, serta ide-ide masyarakat dan bangsa.
2.
Alat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya melalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan, dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan perimbangan perubahan sosial dan ekonomi.70
B. Hasil Penelitian yang Relevan Ada beberapa penelitian sejenis yang pernah dilakukan sebelumnya, namun dalam hal ini tentu pasti ada perbedaannya. Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya baik dalam jurnal maupun skripsi, tesis, dan disertasi sangat penting diungkapkan karena dapat dipakai sebagai sumber informasi dan bahan acuan yang sangat berguna bagi penulis. Penelitian terdahulu mengenai konsep khalifah diantaranya sebagai berikut : Dalam skripsi Hilwah Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah, yang berjudul : ―Éksistensi manusia sebagai khalifah dan implikasinya terhadap taklif syari‘ah‖. Skripsi ini membahas tentang rumusan eksistensi manusia sebagai khalifah, serta impikasinya terhadapat taklif syari‘ah. Persamaan dari penelitian ini adalah sama meneliti eksistensi manusia sebagai khalifah. Perbedaan dari skripsi ini adalah skripsi ini ditekankan pada eksistensi manusia sebagai khalifah yang diberikannya hukum taklifi. Sedangkan 69 70
Soleha dan Rada, op. cit., h. 45-46. Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, op. cit., h. 69.
39
penelitian ini difokuskan pada konsep manusia sebagai khalifah yang dikaitkan dengan pendidikan Islam.71 Skripsi lain yang juga terkait dengan konsep khalifatullah dan implikasinya dalam pendidikan Islam adalah Muhammad Safinun Naja yang skripsinya itu berjudul : ―Konsep Khalifatullah dalam Persepktif M. Quraish Shihab Sebagai Kepemimpinan Pengembangan Pendidikan Islam‖. Dalam skripsinya ini mempunyai persamaan dengan penelitian yang penulis teliti, yaitu sama-sama meneliti bagaimana konsep khalifatullah menurut M. Quraish Shihab. Sedangkan perbedaannya yaitu, skripsi ini lebih menjurus bagaiman konsep khalifatullah itu dikaitkan dengan krisisnya kepemimpinan dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam, kepemimpinan yang bisa disesuaikan dengan konsep khalifatullah menurut M. Quraish Shihab. Sedangkan penelitian ini lebih dikaitkan dengan implikasinya konsep khalifatullah terhadap pendidikan Islam, yang dilihat dari kurikulum pendidikannya.72 Skripsi lain juga yang terkait dengan penelitian ini adalah skripsi karya Badawi yang berjudul : ―Konsep Manusia dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam (Telaah Lafadz ―al-Insan‖ dalam Al-Qur‘an). Skripsi ini membahas tentang konsep manusia yang diambil dari lafadz al-Insan dalam Al-Qur‘an. Persamaan skripsi ini dengan penelitian ini yaitu tinjauan permasalahan penciptaan manusia yang telah diberikan fitrah kepada Allah berupa fitrah jasmani dan rohani untuk dimanfaatkan ke dalam pendidikan Islam. Perbedaan skripsi ini adalah skripsi ini lebih ditekankan pada kata manusia menurut lafadz al-Insan dan hubungannya dengan pendidikan Islam. Serta implikasinya terhadap dasar pendidikan Islam, tujuan, dan materi atau kurikulum pendidikan Islam. Sedangkan penelitian ini difokuskan pada konsep khalifatullah menurut M. Quraish Shihab, di mana seorang khalifah
71
Hilwah, Eksistensi Manusia Sebagai Khalifah dan Implikasinya terhadap Taklif Syari‟ah, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003), tidak dipublikasikan. 72 Muhammad Safinun Naja, Konsep Khalifatullah dalam Perspektif M. Quraish Shihab Sebagai Kepemimpinan Pengembangan Pendidikan Islam, (Malang: Universitas Islam Negeri Malang, 2007), h. 114-116, tidak dipublikasikan.
40
itu sebagai pengemban amanat di alam semesta, yaitu untuk menjaga dan melestarikan bumi, dan juga diberikannya keistimewaan dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lain, yaitu dengan diberikannya akal. Serta implikasinya terhadap pendidikan Islam, dasar-dasar pendidikan Islam, dan fungsi serta tujuan pendidikan Islam.73
Badawi, Konsep Manusia dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam (Telaah Lafadz „alInsan” dalam Al-Qur‟an), (Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo, 2008), h. 85-86, tidak dipublikasikan. 73
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A.
Fokus dan Waktu Penelitian Fokus penelitian adalah pemusatan konsentrasi terhadap tujuan penelitian yang sedang dilakukan. Spardley dalam Sanapiah Faisal (1988) mengemukakan empat alternatif untuk menetapka fokus yaitu: 1) Menetapka fokus pada permasalahan yang diasarnkan informan; 2) Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu; 3) Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk pengembangan iptek; 4) Menetapka fokus berdasarkan permasalah yang terkait denga teori-teori yang telah ada. Penelitian ini bersifat pengembangan, yaitu ingin melengkapi dan memperluas teori yang telah ada.1 Sedangkan waktu penelitian berisi penjelasan kapan penelitian dilakukan (semester, tahun pelajaran) dan lamanya penelitian dilakukan. Dalam penelitian kualitatif tempat penelitian biasa disebut latar atau setting penelitian. Latar berisi penjelasan secara rinci situasi sosial meliputi: lokasi, tempat, aktivitas atau tokoh saat diteliti.2 Penelitian yang berjudul “Konsep Khalifatullah dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam Menurut M. Quraish Shihab” ini dilaksanakan dalam waktu beberapa bulan, yaitu pada awal bulan Januari 2013 yang digunakan untuk tahap revisi proposal skripsi, kemudian dilanjut pada bulan September 2013 sampai bulan Februari 2014 pengumpulan data yang mengenai sumber-sumber tertulis yang diperoleh dari teks book yang ada di perpustakaan, serta sumber lain yang mendukung penelitian, terutama yang berkaitan dengan konsep khalifah, dan juga yang berkaitan dengan pendidikan Islam dari beberapa sumber sebagai sumber primer. Dan tahap
1
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: ALFABETA, 2010), Cet. XI, h. 288. 2 Pedoman Penulisan Skripsi (Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah, 2013), h. 61.
41
42
akhir menyusun data dalam bentuk hasil penelitian (laporan) dari sumbersumber yang telah ditemukan. Penelitian ini lebih difokuskan pada buku-buku karya M. Quraish Shihab, khususnya dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat.
B.
Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, “Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan
penelitian
yang
ditujukan
untuk
mendeskripsikan
dan
menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.3 Dalam
memperoleh
data,
fakta
dan
informasi
yang
akan
melengkapkan dan menjelaskan permasalahan dalam penulisan skripsi, penulis menggunakan metode deskriptif yang didukung oleh data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan (library research). Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berupa data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut, berasal dari naskan wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya.4 Mengenai penulisan skripsi ini, dalam membahas masalah-masalah yang dikemukakan di atas, maka metode yang digunakan adalah library research yaitu suatu metode yang menggunakan cara penelitian dengan membaca literatur dan tulisan-tulisan yang ada kaitannya dengan maslah yang sedang diteliti.
3
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), Cet. III, h. 60. 4 Basrowi & Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008), Cet. I, h. 28.
43
C.
Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data Prosedur pengumpulan data dan pengolahan data terdiri dari : Pertama,
mengumpulkan
data
penelitian.
Dalam
proses
pengumpulan data ini, penulis menggunakan teknik metode dokumentasi. Pemeriksaan dokumentasi (studi dokumentasi), dilakukan dengan meneliti bahan dokumentasi yang ada dan mempunyai relevansi dengan tujuan penelitian.5 Dengan
menggunakan
studi
dokumentasi,
penelitian
dapat
mengumpulkan data tertulis mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang berupa buku yang ada di perpustakaan dan juga di PSQ (Pusat Studi al-Qur’an). Untuk memperoleh data dan informasi yang berhubungan dengan tujuan penelitian, maka sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Sumber data primer penelitian ini adalah buku-buku karangan Prof M. Quraish Shihab yang dijadikan objek studi.antara lain : 1) Mu’jizat Al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib (Bandung: Mizan, 2001). 2) Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 2009), Cet. III. 3) Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Vol. I, Cet. X. 4) Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007), Cet. I. 5) Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan, (Bandung: Mizan, 1995), Cet. IV. Adapun sumber data sekunder penelitian ini meliputi buku penunjang, catatan atau dokumen, jurnal, internet, majalah, dan bahan-bahan yang dapat diambil sesuai dengan pokok bahasan.
5
30.
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h.
44
Kedua, data-data yang telah dikumpulkan kemudian digabungkan dan dilakukan kajian mendalam terhadap data-data tersebut dengan menyeleksi dan menganalisanya. Ketiga, menuangkan hasil analisis data terhadap seluruh data yang terseleksi dalam bentuk deskriptif. Keempat, setelah data-data terkumpul kemudian diseleksi dan selanjutnya disajikan, maka langkah yang terakhir adalah menarik kesimpulan atau verifikasi.
D.
Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data penelitian ini menggunakan teknik Credibility dan transferability atau validitas desain menunjukkan tingkat kejelasan fenomena hasil penelitian sesuai dengan kenyataan. Menurut Sukmadinata, “validitas desain kualitatif menunjukkan sejauh mana tingkat intrepetasi dan konsep-konsep yang diperoleh memiliki makna yang sesuai antara partisipan dengan peneliti.” Sedangkan menurut Millan dan Schumacher, “validitas desain kualitatif adalah tingkat di mana interpretasi dan konsep memiliki makna yang sama (mutual meanings) antara peneliti dan partisipan. Peneliti dan partisipan sepakat tentang deskripsi dan komposisi sebuah kegiatan, utamanya makna kegiatan tersebut.”
E. Analisis Data Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu memaparkan masalah-masalah sebagaimana adanya, disertai argumen-argumen. Penulis menggunakan analisis isi (Content Analysis) ditujukan untuk menghmpun dan menganalisis dokumen-dokumen resmi, dokumen yang validitas dan keabsahannya terjamin, baik dokumen perundangan dan kebijakan maupun hasil-hasil penelitian. Analisis juga dapat dilakukan terhadap buku-buku teks, baik yang bersifat teoritis maupun empiris. Kegiatan analisis ditujukan untuk mengetahui makna, kedudukan
45
dan hubungan antara berbagai konsep, kebijakan program, kegiatan, peristiwa yang ada atau yang terjadi, untuk selanjutnya mengetaui manfaat, hasil atau dampak dari hal-hal tersebut.6 Dan
content
analysis
ini
adalah
metode
yang
sifatnya
mendreskripsikan, membahas dan mengkritik gagasan primer yang selanjutnya dikonfromasikan dengan gagasan primer yang lain dalam upaya studi perbandingan, hubungan dan pengembangan model. Untuk mendukung dalam penjelasan melalui analisis isi, maka peneliti mengunakan kerangka berpikir yang bersifat deduksi, yaitu pembahasan dengan cara menyajikan kenyataan-kenyataan yang bersifat umum kemudian diambil kesimpulan yang bersifat khusus. Dan juga kerangka berfikir yang bersifat induksi, yaitu metode pengambilan keputusan yang diletakkan atas dasar-dasar khusus kemudian digeneralisasikan kepada hal-hal yang bersifat umum.
6
Nana Syaodih Sukmadinata, op. cit., h. 81-82.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Data 1. Riwayat Hidup dan Karier M. Quraish Shihab H. M. Quraish Shihab lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Abdurrahman Shihab adalah keturunan Arab yang terpelajar, dan menjadi ulama sekaligus guru besar tafsir di IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Sebagai seorang yang berfikiran maju, Abdurrahman percaya bahwa pendidikan adalah merupakan agen perubahan. Sikap dan pandangannya yang demikian maju itu dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya, yaitu Jami’atul Khair. Dan Jami’atul Khair itu adalah sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Murid-murid yang belajar di lembaga ini diajari tentang gagasan-gagasan pembaruan gerakan dan pemikiran Islam. Hal ini terjadi karena lembaga ini memiliki hubungan yang erat dengan sumber-sumber pembaruan di Timur Tengah seperti Hadramaut, Haramain dan Mesir. Banyak guru-guru didatangkan ke lembaga tersebut, diantaranya Syaikh Ahmad Soorkati yang berasal dari Sudan, Afrika.1 Quraish Shihab menyelesaikan sekolah dasarnya di kota Ujung Pandang. Ia kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di kota Malang sambil belajar agama di Pesantren Dar al-Hadist al-Fiqhiyah. Pada tahun 1958, ketika berusia 14 tahun, ia berangkat ke Kairo, Mesir untuk melanjutkan studi, dan diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar. Selanjutnya pada tahun 1967, pada usia 23 tahun, ia berhasil mengambil gelar Lc (Lince) atau setingkat dengan Sarjana Strata Satu, pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadits Universitas al-Azhar Kairo, dan kemudian melanjutkan studinya pada fakultas yang sama. Dua tahun berikutnya, ia berhasil meraih gelar M.A (Master of Art) dalam spesialisasi 1
Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada , 2005), h. 362.
46
47
pada bidang Tafsir al-Qur’an, dengan tesis berjudul ”al-I‟jaz al-Tasyri Li alQur‟an Al-Karim”. Pilihan untuk menulis tesis kemu’jizat al-Qur’an ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi didasarkan pada pengamatannya terhadap realitas masyarakat muslim. Menurutnya, gagasan tentang kemu’jizatan alQur’an di kalangan masyarakat muslim telah berkembang sedemikian rupa sehingga sudah tidak jelas lagi, apa itu mu’jizat dan apa itu keistimewaan alQur’an. Mu’jizat dan keistimewaan al-Qur’an menurut Quraish Shihab merupakan dua hal yang berbeda, tetapi keduanya masih sering dicampuradukkan bahkan oleh kalangan ahli tafsir sekalipun.2 Setelah menyelesaikan studinya dengan gelar M.A tersebut, untuk sementara ia kembali ke Ujung Pandang. Dalam kurun waktu lebih sebelas tahun (1969-1980) ia terjun ke berbagai aktivitas sambil menimba pengalaman empirik, baik dalam bidang kegiatan akademik di IAIN Alauddin maupun di berbagai institusi pemerintah setempat. Dalam masa menimba pengalaman dan karier ini, ia terpilih sebagai Pembantu Rektor III IAIN Ujung Pandang. Selain itu ia juga terlibat dalam pengembangan pendidikan perguruan tinggi swasta wilayah Timur Indonesia dan diserahi tugas sebagai koordinator wilayah, dan juga aktif di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental.3 Di tengah-tengah kesibukannya itu, ia juga aktif melakukan kegiatan ilmiah yang berbasis kesarjanaannya.4 Selama masa karirnya sebagai dosen pada periode pertama di IAIN Alauddin Ujung Pandang, Quraish Shihab telah melakukan beberapa penelitian, antara lain penelitian tentang “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan” (1978).5 Selama periode pertama tugasnya sebagai staf pengajar di
M. Quraish Shihab, Mu‟jizat Al-Qur‟an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 2001), h. 2. 3 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1997), Cet. XV 4 Abuddin Nata, op. cit,. h. 363. 5 M. Quraish Shihab, op. cit,. 2
48
IAIN Alauddin Ujung Pandang, Quraish Shihab belum menunjukkan produktivitas yang tinggi dalam melahirkan karya tulis. Pada tahun 1980, H.M. Quraish Shihab kembali ke Mesir untuk melanjutkan studinya di Program Pascasarjana Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadist, Universitas Al-Azhar. Pada 1982, dengan disertasi berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa‟iy, Tahqiq wa Dirasah, dia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan yudisium Summa Cum Laude disertasi penghargaan tingkat I (Mumtaz ma‟a Martabat alSyaraf al-„Ula).6 Tahun 1984 adalah babak baru tahap kedua bagi H.M.Quraish Shihab untuk melanjutkan kariernya. Untuk itu ia pindah tugas dari IAIN Ujung Pandang ke Fakultas Ushuluddin di IAIN Jakarta. Di sini ia aktif mengajar bidang Tafsir dan Ulum al-Qur’an di Program S1, S2 dan S3 sampai tahun 1998. Di samping melaksanakan tugas-tugas pokoknya sebagai dosen, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Rektor IAIN Jakarta pada tahun 1992-1998, setelah itu ia dipercaya menduduki jabatan sebagai menteri Agama selama kurang lebih dua bulan di awal tahun 1998, hingga kemudian diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negeri Republik Mesir merangkap Negara Republik Djibouti berkedudukan di Kairo. Semenjak kehadiran H.M. Quraish Shihab di Ibukota Jakarta telah memberikan suasana baru dan disambut hangat oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai aktivitas yang dijalankannya di tengahtengah masyarakat. Di samping mengajar ia juga dipercaya untuk menduduki sejumlah jabatan. Diantaranya adalah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), anggota Lajnah Pentashih alQur’an Departemen Agama (sejak 1989). Dia juga terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain:
Ilmu-ilmu Syari’ah; Pengurus
Konsorium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan Asisten Ketua
6
Ibid.
49
Umum
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI).7 Aktifitas
lainnya yang ia lakukan sebagai Dewan Redaksi Studi Islamika: Indonesia Journal for Islamic Studies, Ulumul Qur‟an, Mimbar Ulama, dan Refleksi Jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Semua penerbitan ini berada di Jakarta.8 Dan aktivitas utama sekarang adalah Dosen (Guru Besar) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Direktur Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) Jakarta.9 Di samping kegiatan tersebut di atas, H.M. Quraish Shihab juga dikenal sebagai penulis dan penceramah yang handal. Berdasar pada latar belakang keilmuan yang kokoh yang ia tempuh melalui pendidikan formal serta ditopang oleh kemampuannya menyampaikan pendapat dan gagasan dengan bahasa yang sederhana, tetapi lugas, rasional dan kecenderungan pemikiran yang moderat, ia tampil sebagai penceramah dan penulis yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Dari latar belakang karir dan pendidikan seperti ini, nampak bahwa hal inilah yang menjadikannya seseorang yang mempunyai kompetensi yang cukup menonjol dan mendalam di bidang tafsir di Indonesia.
2. Karya-karya M. Quraish Shihab Dalam aktivitas di bidang akademik dan non akademik, Quraish Shihab juga sebagai penulis yang produktif yang banyak menulis di media massa maupun menulis buku. Di harian Pelita, ia mengasuh rubrik “Tafsir Al-Amanah”. Ia juga menjadi dewan redaksi majalah Ulumul Qur‟an dan Mimbar Ulama.10 Quraish Shihab sebenarnya sudah mulai aktif menyajikan sejumlah makalah pada berbagai diskusi dan seminar sejak tahun 1970-an, dan keaktifannya itu semakin tinggi frekuensinya sepulangnya ia dari 7
Ibid. Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufassir Al-Qur‟an, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2007), h. 368. 9 M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur‟an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2009), Cet. III, h.8 10 Saiful Amin Ghofur, op. cit., h. 238. 8
50
menyelesaikan studi doktornya di Universitas al-Azhar, Mesir, tahun 1982. Namun
demikian,
pada
awal
tahun
1990-an
tulisan-tulisannya
dipublikasikan dalam bentuk buku untuk menjadi bacaan yang khalayak umum. Dalam banyak karyanya, Quraish selalu merujuk pada ayat al-Qur’an dalam mengatasi suatu persoalan yang dibahasnya. Hal ini tidaklah mengherankan karena ia dikenal sebagai pakar tafsir al-Qur’an. Karyakaryanya tidaklah terbatas pada bidang tafsir saja, oleh karena ia seorang pakar tafsir al-Qur’an, secara tidak langsung, ia juga menguasai berbagai disiplin ilmu-ilmu Islam lainnya. Dari karya-karyanya terlihat bahwa betapa luas wawasannya dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan secara umum. Tulisan-tulisannya tidak hanya ditemukan dalam bentuk buku yang sudah beredar, tetapi juga tersebar di berbagai jurnal ilmiah dan media massa. Quraish merupakan seorang pemikir muslim yang berhasil mengkomunikasikan ide-idenya dengan khalayak pembaca. Banyak dari karya-karyanya telah dicetak ulang, dan menjadi karya “best seller”. Ini menunjukkan perhatian masyarakat terhadap karya-karyanya yang cukup besar. Karyanya Membumikan al-Qur‟an: Fungsi Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1992) telah mengalami cetak ulang kedelapan belas sejak pertama diterbitkan tahun 1992 sampai 1998. Demikian pula karyanya Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan, 2000), Wawasan al-Qur‟an: Tafsir Maudhu‟i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996), masing-masing telah mengalami cetak ulang dua puluh kali (antara 1994-2000), dan tiga belas kali (1996-2003). Howard M. Federspiel menggambarkan bahwa buku pertama dari tiga karya Quraish di atas adalah “memberikan ikhtisar nilainilai agama yang baru”, buku kedua “meletakkan dasar bagi kepercayaan dan praktik Islam yang benar”, sementara buku ketiga memberikan wawasan tentang “perilaku al-Qur’an”.11 Merujuk kepada ketiga karyanya itu, setting 11
Howard M. Federspiel, Kajian al-Qur‟an di Indonesia dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab, Ter. Tajul Arifin, (Bandung: Mizan, 1996), h. 296-298.
51
sosial karya Quraish mencakup atau untuk dikonsumsi masyarakat awam, tetapi sebenarnya ia ditujukan kepada pembaca yang cukup terpelajar.12 Tidak hanya itu, karya-karya Quraish yang sudah diterbitkan dan beredar di antaranya: Tafsir al-Manar; Keistimewaan dan Kelemahannya (IAIN Alauddin Ujung Pandang, 1984), Pesona Al-Fatihah (Jakarta: Untagma, 1986), Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987), Studi Kritis Tafsir al-Manar Karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), Tafsir al-Qur‟an al-Karim: Tafsir Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997), Mukjizat al-Qur‟an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib (Bandung: Mizan 1997), Sahur Bersama Quraish Shihab di RCTI (Bandung: Mizan 1997), Menyingkap Tabir Ilahi: Asma al-Husna dalam Perspektif al-Qur‟an (Jakarta: Lentera, 1998), Haji Bersama M. Quraish Shihab: Panduan Praktis Menuju Haji Mabrur (Bandung; Mizan, 1998), Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan dan Malaikat dalam al-Qur‟an dan as-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini (Jakarta: Lentera Hati, 1999), Untaian Permata buat Anakku: Pesan al-Qur‟an untuk Mempelai (Bandung: al-Bayan, 1999), Sejarah dan Ulum al-Qur‟an (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), Fatwa-fatwa Seputar Ibadah Mahdah (Bandung: Mizan, 1999), Fatwa-fatwa Seputar Ibadah dan Mu‟amalah (Bandung: Mizan, 1999), Fatwa-fatwa Seputar Wawasan Agama (Bandung: Mizan, 1999), Fatwa-fatwa Seputar al-Qur‟an dan Hadis (Bandung: Mizan, 1999), Fatwafatwa Seputar Tafsir al-Qur‟an (Bandung: Mizan, 2001), Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an (Jakarta: Lentera Hati 2000), dan Perjalanan Menuju Keabadian: Kematian, Surga dan Ayart-ayat Tahlil (Jakarta: Lentera Hati, 2001).13
12 13
Howard M. Federspiel, op. cit., h. 298. Saiful Amin Ghofur, loc. cit.
52
B.
Pembahasan 1. Konsep Khalifah Menurut M. Quraish Shihab a. Pengertian Khalifah Dalam kajian peneliti, bahwa M. Quraish Shihab menemukan dalam al-Qur’an kata khalifah yang terbagi dalam bentuk tunggal dan bentuk plural. Dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam al-Qur’an, yaitu dalam Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh al-Qur’an, yaitu : 1) Khalaif yang terulang sebanyak empat kali, yakni pada surah Al-An’am ayat 165, Yunus ayat 14 dan ayat 73, dan Fathir ayat 39.
53
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AlAn’am: 165).
“Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.” (QS. Yunus: 14).
“Lalu mereka mendustakan Nuh, Maka Kami selamatkan Dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS. Yunus: 73).
“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” (QS. Fathir: 39).
54
2) Khulafa terulang sebanyak tiga kali pada surah-surah Al-A’raf (7) ayat 69 dan ayat 74, dan Al-Naml (27) ayat 62.14
“Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. AlA’raf: 69).
“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu penggantipengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Al-A’raf: 74).
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?
14
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2009), Cet. III, h. 243.
55
Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (QS. An-Naml: 62) M. Quraish Shihab menganalisis bahwa keseluruhan kata tersebut berakar dari kata khulafa‟ yang pada mulanya berarti “di belakang”. Dari sini, kata khalifah seringkali diartikan sebagai “pengganti” (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya).15 Dan dalam tafsirannya di tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 30 itu merupakan kelompok ayat yang dimulai dengan penyampaian keputusan Allah kepada para malaikat tentang rencana-Nya menciptakan manusia di bumi. Di dalam dialog antara Allah dengan malaikat, yaitu Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di dunia, demikian itu merupakan penyampaian Allah swt. Penyampian ini bisa jadi setelah proses penciptaan alam raya dan kesiapannya untuk dihuni manusia pertama (Adam) dengan nyaman. Mendengar rencana tersebut para malaikat bertanya tentang makna penciptaan tersebut. Mereka menduga bahwa khalifah ini akan merusak dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, di mana ada makhluk yang berlaku demikian, atau bisa juga berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat, maka pasti makhluk itu berbeda dengan malaikat yang selalu bertasbih menyucikan Allah SWT. Pertanyaan mereka itu juga bisa lahir dari penamaan Allah terhadap makhluk yang dicipta itu dengan khalifah. Dan kata khalifah pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Akan tetapi atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan. Allah bermaksud dengan pengangkatan itu untuk menguji manusia dan memberinya penghormatan. Namun ada juga 15
Ibid.
56
yang memahami dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam penghuni bumi ini.16 Betapapun, ayat 30 surat Al-Baqarah ini menunjukkan bahwa kekhalifahan terdiri dari wewenang yang dianugerahkan Allah SWT., makhluk yang diserahi tugas, yakni Adam as. Dan anak cucunya, serta wilayah tempat bertugas, yakni bumi yang terhampar ini. Jika demikian, kekhalifahan mengharuskan makhluk yang diserahi tugas itu melaksanakan tugasnya sesuai dengan petunjuk Allah yang memberinya tugas dan wewenang. Kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya adalah pelanggaran terhadap makna dan tugas kekhalifahan.17 Mengutip Al-Raghib Al-Isfahani, dalam Mufradat fi Gharib AlQur‟an, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya. Kekhalifahan tersebut dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan. Tidak dapat disangkal oleh para mufasir bahwa perbedaan bentukbentuk di atas (khalifah, khalaif, khulafa‟) masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri, yang sedikit atau banyak berbeda dengan yang lain. Sedangkan merujuk kepada al-Qur’an untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah (karena ayat al-Qur’an berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat-ayat lainnya), maka dari kata khalifah yang hanya terulang dua kali serta konteks-konteks pembicaraannya, M. Quraish Shihab menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat-ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.18
16
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Vol. I, Cet. X, h. 140. 17 M. Quraish Shihab, loc cit. 18 M. Quraish Shihab, op. cit., h. 244.
57
Dari surah Shad tersebut, kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud a.s. bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya al-hikmah dan ilmu pengetahuan. Makna “pengelolaan wilayah tertentu” berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat-ayat yang menggunakan bentuk khulafa‟. Hal ini, berbeda dengan kata khala‟if, yang tidak mengesankan adanya kekuasaan semacam itu, sehingga akhirnya kita dapat berkata bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh al-Qur’an dengan khala‟if tanpa menggunakan bentuk mufrad (tunggal). Tidak digunakannya bentuk mufrad untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik itu. Hal ini dapat mewujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.19 Apabila kembali merujuk kepada surah Al-Baqarah ayat 30, yang menggunakan kata khalifah untuk Adam a.s., maka ditemukan persamaanpersamaan dalam redaksi maupun dalam makna dan konteks uraian. Sehingga dalam analisisnya M. Quraish Shihab mengambil kesimpulan, yaitu : 1) Kata khalifah
digunakan oleh al-Qur’an untuk siapa yang diberi
kekuasaan mengelola wilayah, baik luas maupun terbatas. Dalam hal ini, Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina. Sedangkan Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan. 2) Bahwa seorang khalifah berpotensi, bahkan secara aktual, dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Karena itu baik Adam maupun Daud diberi peringatan agar tidak mengikuti hawa nafsu.20 19
Ibid, h. 244-245. M. Quraish Shihab, loc. cit.
20
58
Jadi dari penjelasan di atas, terlihatlah bahwasannya di dalam QS. Al-Baqarah ayat 30 dan QS. Shad ayat 26, terdapat perbedaan di dalam kedua surat tersebut. Di dalam QS. Al-Baqarah, Allah menggunakan kata “Aku” dalam merencanakan adanya khalifah/pemimpin di muka bumi, yang di mana berarti hanya Allah saja yang berperan dalam pengangkatan khalifah tersebut. Sedangkan di dalam QS. Shad ayat 26, dijelaskan bahwasannya Allah menggunakan kata “Kami” ketika mengangkat seorang khalifah/pemimpin, maka hal itu menunjukkan bahwa ada keterlibatan peran makhluk selain Allah sendiri. Sehingga ketika Nabi Daud diangkat menjadi pemimpin maka ketika itu, Allah dan manusia di lingkungan Nabi Daud telah mengangkat Nabi Daud sebagai pemimpin buat umat/rakyatnya.
b. Makna Kekhalifahan Manusia di Bumi Mengutip Muhammad Baqir Al-Shadr, dalam bukunya, Al-Sunan AlTarikhiyah fi al-Qur‟an, M. Quraish Shihab mengemukakan bahwa kekhalifahan mempunyai tiga unsur yang saling terkait. Kemudian, ditambahkannya unsur keempat yang berada di luar, namun amat menentukan arti kekhalifahan dalam pandangan al-Qur’an. Ketiga unsur pertama adalah : 1)
Manusia, yang dalam hal ini dinamai khalifah
2)
Alam Raya, yang ditunjuk oleh ayat Al-Baqarah sebagai ardh
3)
Hubungan antara manusia dan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia. Sedangkan unsur keempat yang berada di luar adalah yang memberi
penugasan, yakni Allah SWT. Dia lah yang memberi penugasan itu dan dengan demikian yang ditugasi harus memperhatikan kehendak yang menugasinya.21 M. Quraish Shihab membandingkan bahwa pengangkatan Adam sebagai khalifah dijelaskan oleh Allah dalam bentuk tunggal inni (sesungguhnya Aku) dan dengan kata ja‟il yang berarti akan mengangkat. 21
M. Quraish Shihab, op. cit., h. 246.
59
Sedangkan pengangkatan Daud dijelaskan dengan menggunakan kata inna (Sesungguhnya Kami) dan dengan bentuk kata kerja masa lampau ja‟alnaka (Kami telah menjadikan kamu). Dalam analisisnya, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa penggunaan bentuk plural untuk menunjuk kepada Allah mengandung makna keterlibatan pihak lain bersama Allah dalam pekerjaan yang ditunjuk-Nya, maka ini berarti bahwa dalam pengangkatan Daud sebagai khalifah dapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yakni masyarakat (pengikut-pengikutnya). Adapun Adam, pengangkatannya dilukiskan dalam bentuk tunggal, bukan saja disebabkan ketika itu kekhalifahan yang dimaksud baru berupa rencana (Aku akan mengangkat), tetapi juga karena ketika peristiwa ini terjadi tidak ada pihak lain bersama Allah yang terlibat dalam pengangkatan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa Daud (dan semua khalifah) yang terlibat dalam dengan masyarakat dalam pengangkatannya, dituntut untuk memperhatikan kehendak masyarakat tersebut, karena mereka itu termasuk pula sebagai mustakhlif. Sehingga tidak dikhawatirkan adanya perlakuan sewenang-wenang dari khalifah yang diangkat Tuhan itu, selama ia benarbenar
menyadari
arti
kekhalifahannya.
Karena,
Tuhan
sendiri
memerintahkan kepada para khalifah-Nya untuk selalu bermusyawarah serta berlaku adil.22 Hubungan antara manusia dan alam atau hubungan manusia dengan sesamanya, bukan merupakan hubungan antara Penakluk dan yang ditaklukan, atau antara tuan dan hamba, tetapi hubungan kebersamaan manusia mampu mengelola (menguasai), hal tersebut bukan akibat kekuatan yang dimilikinya, tetapi akibat Tuhan menundukannya untuk manusia. Ini tergambar antara lain dalam firman-Nya, pada Surah Ibrahim ayat 32 dan Az-Zukhruf ayat 13. Demikian itu, sehingga kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dan sesamanya dengan manusia dan alam sesuai dengan 22
Ibid., h. 247.
60
petunjuk-petunjuk Ilahi yang tertera dalam wahyu-wahyu-Nya. Semua itu harus ditemukan kandungannya oleh manusia sambil memperhatikan perkembangan dan situasi lingkungannya. Dalam ayat 32 Surah Az-Zukhruf ditegaskan bahwa :
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.23 M. Quraish Shihab memahami arti Sukhriya sebagai menundukkan. Tetapi, hubungan satu sama lain adalah hubungan al-Taskhir, dalam arti semua dalam kedudukan yang sama dan yang membedakan mereka hanyalah partisipasi dan kemampuan masing-masing. Adalah logis apabila yang “kuat” lebih mampu memperoleh bagian yang melebihi perolehan yang lemah. Sehingga keistimewaan tidak dimonopoli oleh suatu lapisan atau bahwa ada lapisan masyarakat yang ditundukkan oleh lapisan yang lain. Karena, jika demikian maknanya, maka ayat tersebut di atas tidak akan menyatakan agar mereka dapat saling mempergunakan. Inilah prinsip pokok yang merupakan landasan interaksi antarsesama manusia dan keharmonisan hubungan itu pula-lah yang menjadi tujuan dari segala etika agama. Keharmonisan hubungan inilah yang menghasilkan etika itsar, sehingga etika agama tidak mengenal prinsip “Ánda boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar hak orang lain”, tetapi memperkenalkan “Mereka mendahulukan pihak lain atas diri mereka walaupun mereka sendiri dalam kebutuhan”. 23
Ibid., h. 248.
61
Di atas juga telah dikemukakan bahwa hanya kemampuan (kekuatan) yang dapat membedakan seseorang dari yang lain, dan dari keistimewaan inilah segala sifat terpuji dapat lahir.24 Kesabaran dan ketabahan merupakan etika atau sikap terpuji, karena ia adalah kekuatan, yaitu kekuatan seseorang dalam menanggung beban atau menahan gejolak keinginan negatif. Keberanian merupakan kekuatan karena pemiliknya mampu melawan dan menundukkan kejahatan. Dan kasih sayang dan uluran tangan adalah juga kekuatan; bukankah ia ditunjukkan kepada orang-orang yang membutuhkan dan lemah. Dalam hubungan manusia dengan alam raya, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa semakin kokoh hubungan manusia dengan alam raya dan semakin dalam pengenalannya terhadapnya, akan semakin banyak yang dapat diperolehnya melalui alam itu. Namun, bila hubungan itu sampai di situ, pastilah hasil lain yang dicapai hanyalah penderitaan dan penindasan manusia atas manusia. Inilah antara lain kandungan pesan Tuhan yang diletakkan dalam rangkaian wahyu pertama. Sebaliknya, semakin baik interaksi manusia dengan manusia, dan interaksi manusia dengan Tuhan, serta interaksinya dengan alam, pasti akan semakin banyak yang dapat dimanfaatkan dari alam raya ini. Karena, ketika itu mereka semua akan saling membantu dan bekerja sama dan Tuhan di atas mereka akan merestui. Hal ini terungkap antara lain melalui Surah AlJin ayat 16 :
َّ وَّ اَن لَّ ِواس َت َقا مُوا َع َلى ء ًَغدَ ًقا الط ِري َق ِة ََلَس َقي َنهُم “Dan bahwasannya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)”. Demikian (kekhalifahan)
24
Ibid., h. 249.
dari
itu
dua
sekian
dari banyak
hukum-hukum hukum
kemasyarakatan
kemasyarakatan
yang
62
dikemukakan al-Qur’an sebagai petunjuk pelaksanaan fungsi kekhalifahan, yang sekaligus menjadi etika pembangunan. Keharmonisan hubungan melahirkan kemajuan dan perkembangan masyarakat, demikian kandungan ayat di atas. Perkembangan inilah yang merupakan arah yang dituju oleh masyarakat religius yang Islami. Keharmonisan tidak mungkin tercipta kecuali jika dilandasi oleh rasa aman. Karena itu pula, setiap aktivitas istikhlaf (pembangunan) baru dapat dinilai sesuai dengan etika agama apabila rasa aman dan sejahtera menghiasi setiap anggota masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan yang dihiasi oleh etika agama adalah “yang mengantar manusia menjadi lebih bebas dari penderitaan dan rasa takut”.25 Kalau hal ini dikaitkan dengan kisah kejadian manusia, maka dapat pula dikaitkan bahwa keberhasilan pembangunan dalam pandangan agama adalah pada saat manusia berhasil mewujudkan bayang-bayang surga di persada bumi ini. Arah yang dituju oleh istikhlaf adalah kebebasan manusia dari rasa takut, baik dalam kehidupan dunia atau yang berkaitan dengan persoalan sandang, pangan dan papan, maupun ketakutan-ketakutan lainnya yang berkaitan dengan masa depannya yang dekat atau yang jauh di akhirat kelak. Ayat-ayat yang berbicara tentang la khawf „alayhim wa la hum yahzanun tidak harus selalu dikaitkan dengan ketakutan dan kesedihan di akhirat, tetapi dapat pula mencakup ketakutan dan kesedihan dalam kehidupan dunia ini. Mengutip Prof. Mubyarto, M. Quraish Shihab mengemukakan lima hal pokok untuk mencapai hal tersebut : 1) Kebutuhan dasar setiap masyarakat harus terpenuhi dan ia harus bebas dari ancaman dan bahan pemerkosaan. 2) Manusia terjamin dalam mencari nafkah, tanpa harus keterlaluan menghabiskan tenaganya.
25
Ibid., h. 250-251.
63
3) Manusia bebas untuk memilih bagaimana mewujudkan hidupnya sesuai dengan cita-citanya. 4) Ada
kemungkinan
untuk
mengembangkan
bakat-bakat
dan
kemampuannya. 5) Partisipasi dalam kehidupan sosial politik, sehingga seseorang tidak semata-mata menjadi objek penentu orang lain. Dari lima unsur yang telah dijelaskan di atas, unsur keempat sekaligus unsur ekstern, yang menurut M. Quraish shihab digambarkan oleh Al-Qur’an dalam dua bentuk : 1) Penganugerahan dari Allah (Inni jail fi al-ardh khalifah) 2) Penawaran dari-Nya yang disambut dengan penerimaan dari manusia, sebagaimana yang tergambar dalam surat Al-Ahzab ayat 72 :
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. M. Quraish Shihab menafsirkan kecaman di atas itu untuk sebagian manusia. Sehingga beliau menyimpulkan bahwa dalam tugas kekhalifahan ada yang berhasil dengan baik dan ada pula yang gagal. Kesimpulan ini diperkuat pula oleh isyarat yang tersirat dari jawaban Allah atas pertanyaan malaikat: Apakah engkau akan menjadikan di sana (bumi) siapa yang merusak dan menumpahkan darah sedang kami bertasbih dan memuji Engkau? Tuhan berfirman (menjawab): “Aku tahu apa yang kalian tidak ketahui”. (QS. Al-Baqarah: 30). Oleh karena itu, bila manusia sebagai khalifah menyadari arti kekhalifahannya sebagai yang ditugasi oleh Allah swt, maka tidak perlu adanya kekhawatiran terhadap perlakuan sewenang-wenang dari khalifah
64
yang diangkat Tuhan itu. Karena, Tuhan sendiri memerintahkan kepada para khalifah-Nya untuk selalu bermusyawarah serta berlaku adil. Selain itu, kedudukan manusia sebagai khalifah dituntut untuk mempertanggungjawabkan segala aktifitasnya kepada yang digantikan, yang diwakili dan yang memberikan mandataris, dalam hal ini Allah SWT. Karena itu manusia sepanjang hidupnya harus mengimplementasikan dirinya sebagai makhluk yang bertugas menciptakan bumi sesuai dengan keinginan Allah. Dan manusia yang dipilih sebagai khalifah, karena kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada manusia yaitu berupa ilmu pengetahuan, yang mana Allah tidak memberikan kepada makhluk Allah yang lain termasuk malaikat. Karena dengan ilmu ini manusia mampu menjalankan fungsi dan perannya sebagai pengelola bumi. Sehingga, kedudukan khalifah yang melekat otomatis kepada manusia membuat semua manusia mendapat predikat yang sama sebagai khalifah. Namun hanya kualifikasinya saja yang berbeda. Dan yang dalam hal kedudukan ini pula yang menjadi modal awal (potensi) manusia dalam kepemimpinan.
c. Karakteristik Khalifah Menurut M. Quraish Shihab M. Quraish Shihab memetakan karakteristik khalifatullah dengan menganalisis tafsir milik Al-Tabrasi yang dikemukakan di dalamnya bahwa kata Imam mempunyai makna yang sama dengan khalifah. Hanya saja, kata Imam digunakan untuk keteladanan, karena ia terambil dari kata yang mengandung arti “depan” yang berbeda dengan khalifah yang terambil dari kata “belakang”.26 Ini berarti bahwa kita dapat memperoleh informasi tentang sifat-sifat terpuji
dari
seorang
khalifah
dengan
menelusuri
ayat-ayat
yang
menggunakan kata Imam. Dalam al-Qur’an kata Imam terulang sebanyak tujuh kali dengan makna yang berbeda-beda. Namun, kesemuanya bertumpu 26
Ibid., h. 254.
65
pada arti “sesuatu yang dituju dan atau diteladani”. Di antara kata imam tersebut yang paling tepat adalah : Pemimpin dalam kebajikan, yaitu pada Surah Al-Baqarah ayat 124 dan Surah Al-Furqan ayat 74. Surah Al-Baqarah ayat 124 yang berbunyi :
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". Dan Surah Al-Furqan ayat 74, yang berbunyi :
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Pada ayat tersebut, Nabi Ibrahim a.s. dijanjikan Allah untuk dijadikan Imam (Inni Ja‟iluka li al-nas Imama), dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah SWT menggarisbawahi suatu syarat, yaitu la yanalu „ahdiya al-zhalimin (Janji-Ku ini tidak diperoleh oleh orang-orang yang berlaku aniaya).27 Keadilan adalah lawan dari penganiayaan. Dengan demikian, dari ayat di atas dapat ditarik satu sifat, yaitu sifat adil, baik terhadap diri, keluarga, manusia dan lingkungan, maupun terhadap Allah. Karakter yang perlu dibangun juga terdapat dalam Surah Shaad ayat 22 dan ayat 26 yang merupakan “penganiayaan” yang dilakukan oleh Daud kepada dua orang yang bertikai dan meminta putusan. 27
Ibid.
66
Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut; (Kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari Kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah keputusan antara Kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah Kami ke jalan yang lurus. (QS. Shaad : 22)
Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Shaad : 26). Memberi keputusan yang adil saja dan tidak mengikuti hawa nafsu, belum memadai bagi seorang khalifah. Tetapi, ia harus mampu pula untuk merealisasikan kandungan permintaan kedua kedua orang yang berselisih itu, yakni Wa ihdina ila sawa‟ al-shirath. M. Quraish Shihab memahami penggalan ayat ini, dalam kaitannya dengan sifat-sifat terpuji seorang khalifah, baru akan menjadi jelas bila dikaitkan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang Imam/aimmah, dalam kaitannya dengan pemimpin-pemimpin yang menjadi teladan dalam kebaikan. Kata aimmah yang terdapat dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 73 dan Surat Al-Sajdah ayat 24.
67
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73).
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. As-Sajdah: 24). Ada lima sifat pemimpin terpuji yang diinformasikan oleh gabungan kedua ayat tersebut, yaitu : 1) Yahduna bi amrina, mengantar (masyarakatnya) ketujuan yang sesuai dengan petunjuk Kami (Allah). 2) Wa awhayna ilayhim fi‟la al-khayrat, (telah membudaya pada diri mereka kebajikan). 3) „Abidin (termasuk Iqam Al-Shalat dan Ita‟ Al-Zakat) 4) Yuqinun, (penuh keyakinan). 5) Shabaru (kesabaran dan ketabahan), Kami jadikan mereka pemimpinpemimpin ketika mereka tabah/sabar.28
Dari kelima sifat tersebutlah al-shabr (ketekunan dan ketabahan), dijadikan Tuhan sebagai konsideran pengangkatan Wa ja‟alnahum aimmat lamma shabaru. Seakan-akan inilah sifat yang amat pokok bagi seorang khalifah, sedangkan sifat-sifat lainnya menggambarkan sifat mental yang melekat pada diri mereka dan sifat-sifat yang mereka peragakan dalam kenyataan.
28
M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Qur‟an, (Bandung: Mizan, 2007), Cet. I, h. 69.
68
Di atas telah dijanjikan Allah untuk membicarakan arti wa ihdina ila sawa al-shirath (QS 38:22), yang merupakan salah satu sikap yang dituntut dari seorang khalifah, setelah memperhatikan kandungan ayat-ayat yang berbicara tentang a'immat. Dalam surah Shad tersebut, redaksinya berbunyi Wa ihdina ila, sedang dalam ayat-ayat yang berbicara tentang a'immat yang dikutip di atas, redaksinya berbunyi Yahduna bi amrina. Salah satu perbedaan pokoknya adalah pada kata yahdi. Yang pertama menggunakan huruf ila, sedang yang kedua tanpa ila. Al-Raghib Al-Isfahani menjelaskan bahwa kata hidayat apabila menggunakan ila, maka ia berarti sekadar memberi petunjuk; sedang bila tanpa ila, maka maknanya lebih dalam lagi, yakni "memberi petunjuk dan mengantar sekuat kemampuan menuju apa yang dikehendaki oleh yang diberi petunjuk". Ini berarti bahwa seorang khalifah minimal mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya dan yang lebih terpuji adalah mereka yang dapat mengantarkan umatnya ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau, dengan kata lain, seorang khalifah tidak sekadar menunjukkan tetapi mampu pula memberi contoh sosialisasinya. Hal ini mereka capai karena kebajikan telah mendarah daging dalam diri mereka. Atau, dengan kata lain, mereka memiliki akhlak luhur sebagaimana yang dapat dipahami dari sifat kedua yang disebutkan di atas, yakni Wa awhayna ilayhim fi'la al-khayrat. 29 Dari uraian di atas, M. Quraish Shihab menyimpulkan bahwa seorang khalifah yang ideal haruslah memiliki sifat-sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yuqinun dan 'abidin merupakan dua sifat yang berbeda. Yang pertama menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dada mereka, sedangkan yang kedua menggambarkan keadaan nyata mereka.30
29
M. Quraish Shihab, op. cit., h. 257. Ibid., h. 258.
30
69
d. Tugas-tugas Khalifah Menurut M. Quraish Shihab Tugas manusia adalah memelihara amanah yang Allah pikulkan kepadanya, setelah langit, bumi dan gunung enggan memikul nya. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Ahzab ayat 72 :
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh. Amanat Allah itu adalah berupa tanggung jawab memakmurkan bumi dengan melaksanakan hukum Nya, dalam kehidupan manusia di bumi ini. Sebagaimana M. Quraish Shihab juga telah menjelaskan bahwa seorang khalifah adalah siapa yang diberi kekuasaan mengelola suatu wilayah, baik besar atau kecil. Cukup banyak ayat yang menggambarkan tugas-tugas seorang khalifah. Namun, ada suatu ayat yang bersifat umum dan dianggap dapat mewakili sebagian besar ayat lain yang berbicara tentang hal di atas, yaitu :31
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al-Hajj: 41). Mendirikan shalat merupakan gambaran dari hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan menunaikan zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia. Ma‟ruf adalah suatu 31
M. Quraish Shihab, op cit., h. 258.
70
istilah yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal dan budaya, dan sebaliknya dari munkar. Dari gabungan itu semua, seseorang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat
yang
hubungannya
dengan
Allah
baik,
kehidupan
masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara.32 Maka setidaknya ada beberapa perilaku positif yang harus dimiliki seorang khalifah, yaitu tidak membuat kerusakan di muka bumi. Kerusakan ini meliputi seluruh keburukan yang diperbuat oleh manusia, seperti melakukan kerusakan terhadap lingkungannya (melakukan pembabatan hutan secara illegal dan perbuatan buruk lainnya yang sejenis), atau menjerumuskan diri sendiri dan orang lain ke dalam kubangan narkoba dan pergaulan bebas. Seorang khalifah juga tidak akan menumpahkan darah sesama manusia dengan sangat mudah. Ini juga memiliki pengertian membunuh karakter saudara kita yang lain dengan melakukan fitnah dan adu domba di antara sesama manusia. Dan tentunya seorang khalifah juga mertupakan seorang manusia yang rajin beribadah kepada Allah SWT dan selalu mengekalkan kebaikan di sepanjang hidupnya. Jika seorang khalifah mampu bertindak seperti disebutkan di atas, kehidupan di bumi dapat berlangsung penuh kebahagiaan dan kedamaian. Namun kenyataannya manusia yang diberikan amanat tersebut, masih banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan, karena mereka lebih mengikuti hawa nafsunya dibandingkan dengan tugas yang diamanatkan oleh Allah. Sehingga dapat dikatakan, manusia yang berperan sebagai khalifah tersebut masih belum bisa mempertanggung jawabkan amanat yang Allah berikan kepada mereka.
2. Implikasi Konsep Khalifah terhadap Pendidikan Islam Khalifah merupakan “pengganti”, yang dalam artian “yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya”. 32
Ibid., h. 258-259.
71
Yang berfungsi sebagai pemegang amanah Allah untuk menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapanNya untuk mengelola bumi dengan segenap potensi yang diberikan oleh Allah SWT.33 Dengan peranannya manusia sebagai khalifah itu, manusia menerima amanah dari Allah SWT. sebagai pemakmur alam semesta. Untuk itu, dalam pelaksanaan peran dan tugasnya, manusia dituntut untuk aktif, kreatif, dan dinamis. Sehingga dapat dipahami bahwa dalam melaksanakan amanah yang diberikan Allah SWT. manusia harus menggunakan akalnya bagi kemaslahatan manusia itu sendiri serta makhluk Allah lainnya secara serasi dan seimbang. Untuk merealisasikan tugas dan fungsinya itu, dapat ditempuh manusia lewat pendidikan. Dengan media ini, diharapkan manusia mampu mengembangkan akal yang diberikan Allah SWT. secara optimal, bagi kepentingan seluruh alam semesta, baik untuk jangka pendek yaitu untuk kehidupan manusia di dunia, maupun jangka panjang yaitu untuk kehidupan ukhrawi. Sehingga pendidikan yang ditawarkan harus mampu memberikan dan membentuk pribadi manusia dengan acuan nilai-nilai Ilahiah. Dengan penanaman ini, akan menjadi panduan baginya dalam melaksanakan amanah Allah di muka bumi.34 Pendidikan itu adalah proses pengubahan sikap atau tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, yang melibatkan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya. Kemudian pendidikan Islam sendiri merupakan sebuah proses dalam membentuk manusia-manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan 33
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Vol. I, Cet. X, h. 140. 34 Samsul Nizar, Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), h. 69-70.
72
fungsinya sebagai khalifah Allah SWT, baik kepada Tuhannya, sesama muslim, dan sesama makhluk lainnya.35 Selain itu, di dalam sebuah kekhalifahan mengharuskan empat sisi yang saling berkaitan, yaitu : 1) Pemberi tugas, dalam hal ini Allah SWT 2) Penerima tugas, dalam hal ini manusia, perseorangan maupun perkelompok 3) Tempat atau lingkungan, di mana manusia berada 4) Materi-materi penugasan yang harus mereka laksanakan.36 Tugas kekhalifahan tersebut tidak akan dinilai berhasil apabila materi penugasan tidak dilaksanakan atau apabila kaitan antara penerima tugas dengan lingkungannya tidak diperhatikan. Khusus menyangkut kaitan antara penerima tugas dan lingkungannya, harus digarisbawahi bahwa corak hubungan tersebut dapat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Dan karena itu, penjabaran tugas kekhalifahan harus sejalan dan diangkat dari dalam masyarakat itu masing-masing. Atas dasar ini, disepakati oleh seluruh ahli pendidikan bahwa sistem serta tujuan pendidikan bagi suatu masyarakat atau negara tidak dapat diimpor atau diekspor dari atau ke suatu negara atau masyarakat. Ia harus timbul dari dalam masyarakat itu sendiri. Ia adalah “pakaian” yang harus diukur dan dijahit sesuai dengan bentuk dan ukuran pemakaiannya, berdasarkan identitas, pandangan hidup, serta nilai-nilai yang yang terdapat dalam masyarakat atau negara tersebut.37 Sehingga pendidikan itu yang harus diperhatikan adalah dalam penyusunan rancangan program pendidikan yang dijabarkan dalam kurikulum. Pengertian kurikulum adalah segala kegiatan dan pengalaman pendidikan yang
35
dirancang
dan diselenggarakannya oleh lembaga
Armai Arief, Pengantar dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), Cet. I, h. 40-41. 36 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2009), Cet. III, h. 269-270. 37 Ibid., h. 270.
73
pendidikan bagi peserta didiknya, baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Berpedoman ruang lingkup pendidikan Islam yang ingin dicapai, maka kurikulum pendidikan Islam itu berorientasi kepada tiga hal, yaitu: 1. Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah) Pendidikan Islam berkepentingan untuk mengarahkan manusia (anak didik) agar memiliki kesadaran ketuhanan dan kedekatan hubungan dengan Tuhan – ranah afektif yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam pengajaran agama. Suatu hubungan yang akan berakhir dengan kesadaran bahwa Allah lah satu-satunya referensi pokok dan dasar dari segala yang ada, sumber nilai, sumber energy dan pusat seluruh orientasi. Untuk bisa mencapai kesadaran ini, jelas pengajaran agama yang hanya menekankan materi yang bersifat verbal, kognitif, ritualistic dan terbatas di kelas tidak bisa dipertahankan. Kesadaran ketuhanan sebagai buah dari praktek keberagaman mensyaratkan adanya pengalaman, pengamalan, dan penghayatan akan ke dalam makna yang secara terus menerus perlu dilatih dan dibiasakan (riyadlah).38 2. Tercapainya tujuan hablum minannas (hubungan dengan manusia) Pendidikan Islam sangat berkepentingan mengarahkan manusia, melalui proses pendidikan seumur hidup, agar memiliki kesadaran kemanusiaan sejati dengan menyeimbangkan porsi antara keberagaman dan kebersamaan. Caranya dengan memberikan perspektif dan pengayaan materi-materi agama dengan realitas kehidupan sosial yang perlu dibangun, dijaga, dan dilestarikan bersama manusia-manusia lain. Kesadaran yang akan membawanya memiliki apresiasi dan empati yang tinggi terhadap nilai hidup manusia. Logikanya, kalau sikap mengingkari kehidupan binatang saja membawa kesengasaraan, apalagi pengingkaran terhadap hak-hak asasi manusia yang merupakan “puncak penciptaan”
38
Mohammad Irfan, Teologi Pendidikan; Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan Islam, (Jakarta: Friska Agung Insani, 2000), h. 115-116.
74
Tuhan. Pada titik ini perlu upaya-upaya serius mengembangkan pendidikan yang berwawasan kemanusiaan.39 3. Tercapainya tujuan hablum minal‟alam (hubungan dengan alam). Hubungan manusia dengan alam pada hakikatnya adalah hubungan sebagai sesama ciptaan (kemitraan). Antara alam dan manusia ada dalam posisi yang sama sebagai ciptaan (makhluk) Tuhan. Konsep yang terkenal mengenai pola hubungan ini adalah takhsir, yaitu alam disediakan dan ditundukkan untuk manusia. Dan hubungan manusia dengan alam adalah hubungan mengelola, memakmurkan, melestarikan, dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Hubungan ini mengaharuskan pengetahuan yang memadai sehingga alam ini memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan manusia. Dalam konteks inilah, manusia diperintahkan untuk bertindak sesuai dengan aturan moral, bahwa alam ini bukan sesuatu yang siap pakai (ready for use), suatu yang terlebih dahulu dipersiapkan untuk menusia. Sebaliknya, pemanfaatan alam di samping untuk kepentingan jangka panjang, juga membutuhkan pengetahuan mengenai cara kerja dan aturan-aturan yang ada di dalamnya. Di sinilah peran sains menjadi penting. Mengambil ide kesatuan penciptaan ini, sains Islam telah meletakkan suatu landasan yang
kokoh.
Tujuan
fundamental
sains
Islam
adalah
untuk
memperagakan ketunggalan ciptaan Tuhan, mengetahui keteraturan dan keharmonisan-Nya sebagaimana tercermin dalam hukum-hukum-Nya (taqdir/sunnatullah), yang sesungguhnya merupakan penegasan akan prinsip ke-Esaan Tuhan. Peran dan fungsi sains dalam Islam diarahkan pada dua kepentingan. Pertama, membantu manusia memenuhi kebutuhan intelektual dan spiritualnya. Yang paling penting diantaranya adalah untuk memperoleh kepastian dalam pengetahuannya tentang Tuhan. Akan tetapi, sebagai makhluk bumi, manusia juga memiliki kebutuhan fisik dan materil untuk dipenuhi. Maka, peran dan fungsi sains yang kedua adalah untuk membantu manusia memenuhi 39
Ibid, h. 125.
75
kebutuhan-kebutuhan tersebut pada tingkat individual, keluarga dan masyarakat.40 4. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri (berakhlak dengan diri sendiri) Penghargaan orang lain terhadap diri kita, sangat tergantung kepada sejauh mana kita menghargai atau dengan kata lain berakhlak kepada diri sendiri.
Keempat hubungan tersebut diatas, tercakup dalam Isi/materi kurikulum PAI yang tersusun dalam beberapa mata pelajaran, yaitu: 1. Mata pelajaran akidah akhlak, 2. Mata pelajaran ibadah syariah (fiqh), 3. Mata pelajaran Al-Qur’an hadits 4. Mata pelajaran sejarah dan kebudayaan Islam (SKI), dan 5. Mata pelajaran bahasa arab Mata-mata pelajaran tersebut yang merupakan scope atau ruang lingkup kurikulum PAI yang disajikan pada sekolah-sekolah yang berciri khas Islam atau madrasah, sementara ruang lingkup kurikulum PAI pada sekolah-sekolah umum adalah mata pelajaran pendidikan agama Islam yang bentuk kurikulumnya Broad Field atau in one system. Ruang lingkup kurikulum PAI dilembaga pondok-pondok pesantren tentu lebih banyak lagi mata pelajaran, umumnya kurikulum PAI pada pondok pesantren terdiri dari mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum), seperti: tauhid, tajwid, fiqih, ushul fiqih, ilmu hadits, tarikh, dan lain-lain.41 Pendidikan Islam itu juga harus memperhatikan sasaran pendidikan Islam yang meliputi empat aspek, yaitu : (1) aspek akidah (yatlu alaihim ayatihi); (2) aspek pembersihan dan pembentukan tingkah laku dengan 40
Ibid, h. 126-128. Zainal Arifin, Komponen dan Organisasi Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 88. 41
76
akhlak al-karimah (wa yuzakkihim); (3) aspek rasionalitas dan transformasi ilmu pengetahuan (wa yu‟allimuhum al-kitab); dan (4) aspek psikomotorik (wa al-hikmah).42 Oleh karena itu pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada pengajaran di mana orientasinya hanya kepada intelektualisasi penalaran, tetapi lebih menekankan pada pendidikan di mana sasarannya adalah pembentukan kepribadian yang utuh dan bulat, maka Islam pada hakikatnya adalah berpaham perfeksionalisme, yaitu menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas sesuai dengan firman Allah :
….. “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah : 208). Dengan demikian, proses pendidikan Islam demi mencapai tujuan yang total, menyeluruh, dan meliputi segenap aspek kemampuan manusia diperlukan landasan falsafah pendidikan yang menjangkau pengembangan bakat dan harkat biologis dan kemanusiaannya. Falsafah pendidikan yang demikian itu bercorak menyeluruh di mana iman mendasarinya, sehingga proses kependidikan yang berwatak keagamaan mampu mengarahkan kepada pembentukan manusia yang mukmin.43 Sehingga, bagi umat Islam tidak boleh ada keraguan lagi untuk mendasarkan dan melaksanakan pendidikan menurut Islam yang bersumber kepada al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW. Yang mana al-Qur’an itu banyak terdapat ajaran yang berisi prinsip-prinsip yang berkaitan dengan kegiatan atau usaha pendidikan. Dan As-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam yang kedua sesudah al-Qur’an berfungsi sebagai pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan yang digariskan dalam al-Qur’an. Di dalamnya berisi petunjuk/pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala 42
Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), Cet. I, h. 128. 43 Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), Cet. V, h. 147-148.
77
aspeknya, termasuk untuk membentuk/membina umat untuk menjadi manusia seutuhnya atau menjadi muslim yang bertakwa. Oleh karena itu, sunnah Rasulullah SAW harus menjadi dasar/landasan dalam pelaksanaan pendidikan Islam guna mewujudkan pribadi muslim seutuhnya itu.44 Dan yang pada hakikatnya tujuan akhir dari pendidikan Islam itu adalah membentuk kepribadian muslim atau insan kamil dengan pola takwa yaitu terbentuknya pribadi yang beriman, berakhlak, berilmu dan berketerampilan yang senantiasa berupaya mewujudkan dirinya dengan baik secara maksimal guna memperoleh kesempurnaan hidup karena didorong oleh sikap ketakwaan dan penyerahan dirinya kepada Allah SWT agar memperoleh ridha-Nya. Salain itu, orang yang sudah bertakwa dalam bentuk Insan Kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal. Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dalam firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (QS. Al-Imran: 102). Tujuan akhir pendidikan Islam tersebut akan dicapai secara bertahap melalui pencapaian tujuan sementara, tujuan perantara dan tujuan khusus yang diupayakan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.45 Sehingga pendidikan keagamaan yang berlandaskan kepada alQur’an dan As-Sunnah akan membentuk manusia kepada tujuan akhir pendidikan Islam yaitu manusia yang sempurna (insan kamil). Dengan
44
M. Alisuf Sabri, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), Cet. I, h.
155. 45
Ibid., h. 160.
78
begitu, manusia yang telah diamanatkan oleh Allah sebagai khalifah dalam memakmurkan bumi dapat berjalan dengan baik. Dengan pemahaman tujuan pendidikan Islam itu adalah manusia yang sempurna (Insan Kamil), di mana manusia yang berfungsi sebagai khalifah adalah manusia yang mampu menjalankan tugasnya dalam mengelola bumi, serta beribadah kepada Allah dan menjaga keharmonisan terhadap sesama makhluk Allah di bumi.
BAB V KESIMPULAN
A.
Kesimpulan Dari hasil penelitian ini tentang Konsep Khalifatullah Menurut M. Quraish Shihab dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut : 1.Khalifah menurut M. Quraish Shihab terbagi dalam bentuk tunggal dan bentuk plural. Dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam al-Qur‟an, yaitu dalam Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26. Dan bentuk plural itu terdapat dalam dua bentuk, yaitu khala‟if dan khulafa‟. Namun, keseluruhan kata tersebut berakar dari kata khulafa’ yang pada mulanya berarti “di belakang”. Dari sini, kata khalifah seringkali diartikan sebagai “pengganti” (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya). Dalam Surat Al-Baqarah ayat 30 yang menjelaskan kisah Adam yang secara langsung diangkat menjadi khalifah untuk mengatur bumi, dan Surat Shad ayat 26 menguraikan sebagian sejarah kehidupan Nabi Daud yang diangkat menjadi khalifah oleh Allah dan dilibatkannya masyarakat dalam pengangkatannya untuk mengelola wilayah Palestina. Jadi, kekhalifahan (Adam) sebagai khalifah adalah wewenang yang yang dianugerahkan Allah SWT., makhluk yang diserahi tugas, yakni Adam as. Dan anak cucunya, serta wilayah tempat bertugas, yakni bumi yang terhampar ini. Sedangkan kekhalifahan (Daud), yaitu kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud As. bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu (Palestina), yang berkaitan dengan kekuasaan politik, yang di mana yang terlibat dengan masyarakat dalam pengangkatannya. 2. Implikasi dari konsep khalifatullah menurut M. Quraish Shihab terhadap pendidikan Islam yaitu pendidikan Islam harus lebih memperhatikan penyusunan rancangan program pendidikan yang dijabarkan dalam 79
80
kurikulum. Di mana dalam sebuah kurikulum berpedoman dalam ruang lingkup yang berorientasi pada tiga hal, yaitu : (1) Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah); (2) Tercapainya tujuan hablum minannas (hubungan dengan manusia); dan (3) Tercapainya tujuan hablum minal „alam (hubungan dengan alam). Di mana kurikulum juga harus memperhatikan sasaran pendidikan Islam yang meliputi empat aspek, yaitu : (1) aspek akidah (yatlu alaihim ayatihi); (2) aspek pembersihan dan pembentukan tingkah laku dengan akhlak al-karimah (wa yuzakkihim); (3) aspek rasionalitas dan transformasi ilmu pengetahuan (wa yu’allimuhum al-kitab); dan (4) aspek psikomotorik (wa al-hikmah). 3. Implikasi Konsep khalifatullah
menurut M. Quraish Shihab terhadap
dasar-dasar dan tujuan pendidikan Islam. Yaitu bahwasannya konsep khalifatullah juga harus mendasarkan dan melaksanakan pendidikan menurut Islam yang bersumber kepada al-Qur‟an dan As-Sunnah Rasulullah SAW. guna mewujudkan pribadi muslim seutuhnya. Yang pada hakikatnya tujuan akhir dari pendidikan Islam itu adalah membentuk kepribadian muslim atau insan kamil dengan pola takwa yaitu terbentuknya
pribadi
yang
beriman,
berakhlak,
berilmu
dan
berketerampilan yang senantiasa berupaya mewujudkan dirinya dengan baik secara maksimal guna memperoleh kesempurnaan hidup karena didorong oleh sikap ketakwaan dan penyerahan dirinya kepada Allah SWT agar memperoleh ridha-Nya.
B.
Implikasi 1. Pentingnya memahami konsep khalifatullah dalam diri manusia (sebagai pemegang amanah Allah) untuk mengelola bumi. 2. Konsep khalifatullah mempunyai banyak makna dalam tafsiran M. Quraish Shihab. 3. Konsep khalifatullah mempunyai implikasi terhadap pendidikan Islam, yaitu yang melibatkan pendidikan Islam dalam menekankan kurikulum pendidikan lebih kepada nilai-nilai Ilahiah.
81
4. Lebih mengenal bagaimana pemikiran M. Quraish Shihab terhadap konsep khalifah.
C.
Saran-saran Dalam penulisan skripsi ini, perlu kiranya penulis menyampaikan saran kepada berbagai pihak, utamanya para lembaga atau institute pendidikan, praktisi pendidikan, dan masyarakat, sebagai berikut: 1. Kepada para lembaga atau institute pendidikan, bahwasannya dalam menentukan suatu sistem pendidikan atau kurikulum pendidikan, sebaiknya lebih memperhatikan kepada nilai-nilai Ilahiah, seperti nilainilai akidah dan akhlak. Sehingga akan terciptanya manusia yang berkepribadian sempurna dengan mendekatkan diri kepada Allah, di mana juga manusia itu merupakan khalifatullah yang berfungsi sebagai pemegang amanah untuk mengelola bumi. 2. Kepada praktisi pendidikan (guru, staf pengajar, ustadz, dll), hendaknya menanamkan nilai-nilai akhlak, yang merupakan sebagai contoh kepada para peserta didik khususnya dan masyarakat umum. Guna akan terpeliharanya hubungan yang baik antara manusia dengan manusia, hubungan manusia terhadap Allah, dan juga hubungan manusia dengan Alam. 3. Kepada masyarakat, bahwasannya setiap manusia itu mempunyai amanat untuk memelihara dan menjaga bumi yang diberikan oleh Allah. Sehingga kita sebagai makhluk Allah, harus bisa menjaga keharmonisan antar sesama makhluk ciptaan Allah, dengan cara saling menghormati dan menghargai sesama.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Abdur Rahman Shalih, Landasan dan Tujuan Pendidikan menurut Al Quran serta Implementasinya, Bandung: Diponegoro, 1991. Abdullah, Abdurahman Saleh, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 1994. Ali, Mohammad Daud, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008. Al-Aqqad, Abbas Mahmud, Manusia Diungkap Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993. Al-Baghdadi, Abdurrahman, Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, Surabaya: Al-Izzah, 1996. Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maraghi (Terj), Semarang: Thoha Putra, 1989. Al-Quraibi, Ibrahim, Tarikh Khulafa, Jakarta: Qisthi Press, 2009. Al-Rasyidin &Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: PT. Ciputat Press, 2005. Al-Syaibany, Omar Mohammad al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Dari Falsafatut Tarbiyyah al-Islamiyah oleh Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979. Arief, Armai, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Wahana Kardofa, 2010. , Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
82
83
Arifin, Anwar, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam UndangUndang SISDIKNAS, Jakarta: Detjen Kelembagaan Agama Islam Depag, 2003. Arifin, Muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010. Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Ogos Wacana Ilmu, 2002. Badawi, Konsep Manusia dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam (Telaah Lafadz ‘al-Insan” dalam Al-Qur’an), Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo, 2008. tidak dipublikasikan. Daradjat, Zakiah, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996. , Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996. Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Dept. Agama RI, 1982. Federspiel, Howard M., Kajian al-Qur’an di Indonesia dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab, Ter. Tajul Arifin, Bandung: Mizan, 1996. Ghofur, Saiful Amin, Profil Para Mufassir Al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2007. Hamka, Tafsir Al-Azhar (juz. I), Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1982. Hasan, Muhammad Tholhah, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta: Lantabora Press, 2004. Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.
84
Hilwah, Eksistensi Manusia Sebagai Khalifah dan Implikasinya terhadap Taklif Syari’ah, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003. tidak dipublikasikan. Ilahi, Muhammad Takdir, Revitalisasi Pendidikan Berbasis Moral, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012. Irfan, Mohammad, Teologi Pendidikan; Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Jakarta: Friska Agung Insani, 2000. Jalaludin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002. Jalal, Abdul Fattah, Azaz-azaz Pendidikan Islam, Bandung: CV. Diponegoro, 1988. Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katrsir, (terj), Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987. Khon, Abdul Majid, Ulumul Hadits, Jakarta: Amzah, 2009. Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka Al Husna, 1989 Machasin, Menyelami Kebebasan Manusia, Yogyakarta: INHIS-Pustaka Pelajar, 1996. Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1962. Mastuhu, Teologi Pendidikan, Friska Agung Insani, 2000. Mufid, Sofyan Anwar, Islam dan Ekologi Manusia: Paradigma Baru, Komitmen dan Integritas Manusia dalam Ekosistemnya, Refleksi Jawaban atas Tantangan Pemanasan Global (Dimensi Intelektual, Emosional dan Spiritual), Bandung: NUANSA, 2010. Muhaimin, Kontroversi Pemikiran Fazlur Rahman, Studi Kritis Pembaharuan Pendidikan Islam, Cirebon: Pustaka DINAMIKA, 1999.
85
, Paradigma Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004. Mujib, Abdul & Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: KENCANA, 2008. Munawwir, Ahmad Warson, Al munawwir, Kamus Arab - Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997. Naja, Muhammad Safinun, Konsep Khalifatullah dalam Perspektif M. Quraish Shihab Sebagai Kepemimpinan Pengembangan Pendidikan Islam, Malang: Universitas Islam Negeri Malang, 2007. tidak dipublikasikan. Narbuko, Chalid & Abu Achmadi, Metododlogi Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara, 2009. Nasution, Harun, Islam Rasional, Bandung: Mizan, 1995. Nata, Abuddin, Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’an, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005. , Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada , 2005. Nizar, Samsul, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008. , Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001. Nurhamzah, “Media Pendidikan; Nilai-nilai Tujuan Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun”, Jurnal Pendidikan Keagamaan, Vol. XXIV, 2009. Pedoman Penulisan Skripsi, Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah, 2013. Priatna, Tedi, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
86
Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993. Qutb, M., Sistem Pendidikan Islam (terj. Salman Harun ), Bandung: Al-Maarif, 1993. Quthb, Sayyid, Tafsir Fizilali Qur’an, Di Bawah Naungan Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani Press, 2003. Raharjo, M. Dawam, Ensiklopedia Al-Quran, Jakarta: Paramadina, 1996. Sabri, M. Alisuf , Pengantar Ilmu Pendidikan, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005. Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2007. , Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1997. , Mu’jizat Al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, Bandung: Mizan, 2001. , Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 2007. Soleha & Rada, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: PT. Alfabeta, 2011. Sudjiono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008. Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007. Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
TENTANG PENULIS
Nama Lengkap Khoirunnisa Fadliah. Lahir di jl. SMP 87 Rt. 001 Rw. 012 No. 20 A, Pondok Pinang Keb. Lama, Jakarta Selatan. Adalah seorang Mahasiswi pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia anak Perempuan pertama dari pasangan suami istri, ayahnya bernama Drs. H. Baihaki Madani M. Pd.I dan ibunya bernama Hj. Nurlaili. Pekerjaan ayahnya sebagai PNS (Kepala Sekolah) di Sekolah Dasar Negeri, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Ia menamatkan Sekolah Dasar pada tahun 2003 di MI Nurussalam, kemudian melanjutkan pendidikan di MTs. Nurussalam dan tamat pada tahun 2006, setelah itu melanjutkan pendidikan di MAN 4 Model Jakarta dan tamat pada tahun 2009. Kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan mendapatkan gelar S1 pada tahun 2014.