BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian. Pada awalnya kondisi alam, cuaca dan budaya masyarakat di Indonesia sangat mendukung sektor pertanian ini dimana tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian memang cocok untuk terus dikembangkan di Indonesia (www.healthy-rice.com). Dewasa ini, selain pertanian konvensional, pertanian yang mulai banyak dikembangkan oleh petani di Indonesia adalah pertanian organik. Pertanian organik secara umum dikenal sebagai pertanian yang dalam proses produksinya tidak menggunakan bahan kimia, tetapi menggunakan bahan organik. Di Indonesia, pertanian organik mulai menjadi model pertanian yang semakin diminati petani. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya luas lahan yang digunakan oleh petani. Menurut data
Statistik Pertanian Organik Indonesia
(SPOI), luas lahan yang digunakan petani untuk pertanian organik di Indonesia tahun 2010 seluas 238,872 hektar, meningkat 10% dari tahun sebelumnya (www.organicindonesia.org). Berkembangnya budidaya pertanian organik juga tidak lepas dari permintaan pasar terhadap produk organik yang semakin tinggi. Dari tahun ke tahun terdapat peningkatan preferensi konsumen terhadap produk organik. Secara umum tingginya tingkat pertumbuhan permintaan produk pertanian organik di seluruh
1
dunia mencapai rata-rata 20 % per tahun. Di Indonesia, permintaan konsumen lokal terhadap beras organik cukup tinggi. Permintaan yang tinggi dari konsumen tidak lepas dari alasan kesehatan yang kemudian menjadikan hasil pertanian ramah lingkungan seperti beras organik, semakin diminati. Hal tersebut dapat dilihat dari data mengenai alasan konsumen Indonesia membeli pangan organik karena menyehatkan yang lebih tinggi yakni 87,1%. Dengan demikian, prospek pengembangan pertanian sehat sangat menjanjikan baik dari sisi kebutuhan konsumen maupun lingkungan (pertaniansehat.com). Salah satu pertanian organik yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah pertanian organik dengan Sistem of Rice Intensification (SRI). Usahatani padi sawah metode SRI merupakan teknologi usahatani ramah lingkungan, efisiensi input
melalui
pemberdayaan
petani
dan
kearifan
lokal
(pustaka.litbang.deptan.go.id). Pola pertanian padi SRI organik merupakan perpaduan antara metode SRI yang pertamakali dikembangkan di Madagaskar, dengan pertanian organik. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga daur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian (www.alamtani.com).
2
Penerapan metode SRI di Indonesia menjadi program tersendiri bagi pemerintah dengan mengadakan pelatihan petani dalam pengembangan usaha padi sawah dengan metode System Rice of Intensification (SRI). Dalam pelaksanaan di lapangan, pelatihan ini dilakukan oleh petugas lapangan yang telah melalui Training of Trainer (TOT) (pustaka.litbang.deptan.go.id). Budidaya Padi SRI telah diadopsi oleh banyak petani di 28 negara (Uphoff, 2004). Budidaya padi ini diperkenalkan pertama kali di Indonesia oleh Prof. Dr Norman Uphoff dari Cornell University, Amerika Serikat tahun 1997. Pada tahun pertama program difusi Budidaya Padi SRI di Indonesia yang dilakukan dengan (1). Memperkenalkan Budidaya Padi S.R.I. kepada petani melalui pembuatan petak percontohan (demonstration plot) di 5 lokasi di Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Cianjur; (2) Melibatkan Ketua kelompok Tani dan petani maju secara langsung dalam kegiatan demonstration plot; (3) Memberikan pelatihan langsung kepada petani terpilih (15 petani/ketua kelompok tani); (4) Program bimbingan/pendampingan kepada petani yang sudah mengikuti pelatihan dalam pelaksanaan Budidaya Padi S.R.I. mulai dari penyiapan lahan, penyiapan benih sampai kepada Pasca Panen dan pemasaran hasil; (5) Melakukan supervisi kepada petani peserta secara berkala; (6) Mengadakan diskusi diantara petani pelaksana Budidaya
Padi
S.R.I.
dengan
melibatkan
masyarakat
umum
(www.noscenter.com). Dengan diterapkannya pertanian SRI, banyak keuntungan yang akan didapatkan oleh petani, baik dari sisi kesehatan, produktivitas dan juga kualitas beras organik yang dihasilkan. Aspek kesehatan berkaitan dengan tidak
3
tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia. Selain itu, dengan tidak menggunakan pestisida kimia, petani dapat terjaga kesehatannya karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia. Dari segi produktivitas, pertanian SRI dapat menghasilkan hasil yang tinggi. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai). Selain itu, dari segi kualitas beras, pertanian SRI juga menghasilkan beras organik yang sudah dikenal sebagai beras berkualitas tinggi. Beras organik merupakan beras sehat selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya (www.alamtani.com). Sebagai sebuah inovasi di bidang pertanian yang dapat memberikan keuntungan kepada petani, kemudian adopsi pertanian organik dengan Metode SRI oleh petani menjadi penting karena petani adalah aktor utama dalam pertanian mereka. Disisi lain, pertanian ini tidak serta merta diadopsi oleh petani mengingat sifat mereka yang berhati-hati dalam menerima inovasi.
Petani dicirikan
mempunyai karakter yang tidak mudah menerima bahkan cenderung menolak perilaku dan kegiatan-kegiatan yang dianggapnya berbeda apalagi bertentangan dengan kebiasaan adat setempat (Mardikanto, 1982:63). Pertanian SRI organik sebagai suatu alternatif pertanian baru, menerapkan cara bertani yang berbeda dari pertanian yang mereka laksanakan selama ini. Hingga saat ini, petani masih menerapkan pertanian konvensional yang mengandalkan pupuk dan pestisida kimia sebagai bahan yang dapat membantu
4
mereka dalam menjamin produktivitas pertanian. Input tersebut kemudian diubah dengan input organik dengan cara tanam yang juga berbeda. Penggantian ini kemudian akan menimbulkan resiko kegagalan. Oleh Rogers, petani dicirikan sebagai seseorang yang rendah tingkat keinovasiannya. Hal ini dikarenakan salah satunya oleh pola hidup petani yang cenderung menggunakan cara-cara yang mereka tahu pasti akan menghasilkan dan enggan menggunakan cara baru yang mungkin menyebabkan kegagalan (Raharjo, 2004: 75) Bertolak dari hal tersebut, maka bagaimana petani mengadopsi pertanian SRI organik menjadi penting mengingat bahwa pertanian SRI organik adalah sebuah inovasi pertanian yang dikenalkan kepada petani dan dimana pengadopsiannya memberikan banyak keuntungan bagi petani. Disisi lain, petani adalah orang yang rendah tingkat keinovasiannya dan juga enggan mengambil risiko kegagalan dalam inovasi baru tersebut.
B. Rumusan Masalah Berdasarkan sikap petani yang berhati-hati dalam menerima inovasi dan kemudian dikaitan dengan diadopsinya pertanian SRI organik oleh petani, maka hal yang menarik yang perlu dikaji adalah bagaimana perilaku petani dalam mengadopsi pertanian organik dengan metode SRI sebagai sebuah inovasi yang mengandung risiko? C. Tujuan Penelitian 1. Mendeskripsikan perilaku petani dalam mengadopsi pertanian SRI organik terkait dengan upaya mengelola risiko yang kemungkinan diterima.
5
2. Mendeskripsikan mengembangkan
faktor pertanian
yang
mendorong
SRI organik,
petani
walaupun
untuk di
tetap
satu
sisi
mengandung risiko.
D. Kerangka Teoritik 1. Perubahan sosial Perubahan sosial adalah proses dimana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Sedangkan proses terjadinya perubahan sosial itu sendiri terdiri dari 3 tahap: (1) invensi yaitu proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan; (2) difusi ialah proses dimana ide baru tersebut dikomunikasikan ke dalam sistem sosial; dan (3) konsekuensi yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan suatu inovasi (Hanafi, 1981: 16). Pertanian SRI organik merupakan sebuah ide baru dalam bidang pertanian, khususnya pertanian padi. Difusi ide baru pertanian ini disebarkan kepada petani melalui sosialisasi baik itu Pembelajaran Ekologi Tanah, maupun Sekolah Lapang. Setelah dikenalkan kepada petani, petani mengadopsi pertanian SRI tersebut. Diadopsinya pertanian SRI oleh petani merupakan sebuah perubahan yaitu perubahan cara tanam di bidang pertanian, sebagai sebuah konsekuensi atas disebarkannya ide baru atau difusi tersebut. Macam perubahan sosial a. Berdasarkan sumber perubahan
6
Salah satu hal yang penting dalam meninjau perubahan sosial adalah darimana sumber perubahan itu terjadi. Jika sumber perubahan berada dalam sistem sosial itu sendiri, maka perubahan tersebut merupakan perubahan imanen. Jika sumber perubahan berasal dari luar sistem maka perubahan tersebut disebut dengan perubahan kontak. Perubahan kontak terdiri dari 2 macam yaitu perubahan kontak selektif dan perubahan kontak terarah. Perubahan kontak selekti terjadi jika anggota sistem terbuka pada pengaruh dari luar dan menerima atau menolak ide baru berdasarkan kebutuhan mereka sendiri. Sedangkan perubahan kontak terarah atau perubahan terencana adalah perubahan yang disengaja oleh orang luar atau sebagian anggota sistem yang bertindak sebagai agen perubahan yang secara intensif berusaha mengenalkan ide baru untuk mencapai tujuan tertentu (Hanafi, 1981:19). Berdasarkan sumber perubahan sosial, maka diadopsinya pertanian SRI organik merupakan perubahan kontak terarah atau perubahan trencana. Diadopsinya pertanian SRI organik oleh petani disebabkan karena adanya kontak dari orang luar yakni penyuluh pertanian lapangan kepada petani dengan tujuantujuan tertentu. b. Berdasarkan unit pengadopsian atau penerima ide baru Berdasarakan unit pengadopsiannya, perubahan sosial dibagi menjadi perubahan mikro dan perubahan makro.Perubahan pada level mikro memusatkan perhatian pada perilaku perubahan individual, dimana seseorang bertindak memutuskan menerima atau menolak inovasi. Sedangkan perubahan makro adalah perubahan yang rejadi pada sistem sosial. Kedua level perubahan ini juga
7
berhubungan erat satu sama lain. Perubahan pada level makro (sistem sosial) kemudian menyebabkan perubahan pada level individu dan begitu juga sebaliknya (Hanafi, 1981: 21). Berdasarkan unit pengadopsiannya pertanian SRI organik merupakan perubahan pada level mikro, karena perubahan yang terjadi berada pada level petani secara individual, dimana mereka mengubah perilaku bertani mereka dari menggunakan input kimiawi diganti dengan menggunakan input organik.
2. Difusi Difusi merupakan proses dimana ide-ide baru dikomunikasikan dalam sistem sosial. Unsur-unsur difusi adalah (1) inovasi baru yang (2) dikomunikasikan melalui saluran tertentu (3) dalam jangka waktu tertentu kepada (4) anggota sistem sosial Secara lebih rinci, unsur difusi dapat dilihat sebagai berikut a. Inovasi Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Baru dalam ide yang inovatif tidak berarti harus baru sama sekali. Suatu inovasi mungkin telah lama diketahui seseorang, tetapi ia belum mengembangkan sikap suka atau tidak suka terhadapnya, apakah ia menerima atau menolaknya (Hanafi, 1981:26). b. Saluran komunikasi Saluran komunikasi adalah alat yang dimana pesan-pesan dari sumber dapat sampai kepada penerimanya. Saluran komunikasi ini dibedakan
8
menjadi 2 macam, yaitu saluran media massa dan saluran interpersonal. Saluran media massa lebih cepat dan efisien jika penerimanya banyak dan tersebar. Sedangkan untuk mempengaruhi seseorang agar setuju atau tidak setuju terhadap inovasi adalah saluran interpersonal (Hanafi, 1981: 28). c. Jangka waktu Dimensi
waktu
tampak
dalam
proses
pengambilan
keputusan,
keinovativan seseorang yaitu lebih awal atau lebih lambatnya seseorang dalam menerima inovasi dan keceptan pengadopsian dalam sistem sosial (Hanafi, 1981: 28). d. Anggota sistem sosial Anggota sistem sosial yang berperan dalam proses difusi adalah pemuka pendapat (opinion leader) dan agen pembaru. Pemuka pendapat (opinion leader) adalah seseorang yang secara informal, relatif sering dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain untuk bertindak dalam cara tertentu. Mereka ini sering diminta nasihat atau pendapatnya mengenai suatu perkara. Sedangkan agen pembaru adalah orang yang aktif berusaha menyebarkan informasi ke dalam suatu sistem sosial. Agen pembaru biasanya adalah tenaga profesional (petugas) yang mewakili lembaga pemerintah atau instansi terkait yang berusaha mengadakan pembaruan masyarakat dengan jalan menyebarkan ide-ide baru. Seorang agen pembaru adalah petugas yang berusaha mempengaruhi keputusan anggota sistem sosial dalam
9
melaksanakan program yang telah ditetapkan oleh lembaga atau instansi dimana ia bekerja ( Hanafi, 1981: 31).
3. Moral Ekonomi Petani Adopsi pertanian SRI organik oleh petani merupakan perubahan sosial dalam tataran mikro, dimana petani secara induvidual sebagai pusat perhatian. Sehingga hal-hal yang berkaitan dengan petani kemudian menjadi penting mengingat petani adalah sebagai unit adopsi, aktor yang akan menerapkan ide baru tersebut. Salah satu hal yang berkaitan dengan petani adalah karakter atau sikap petani seperti yang dikemukakan James C Scott dalam Moral Ekonomi Petani. Individu (petani) sebagai aktor yang akan mengadopsi mempunyai karakter tersendiri yang kemudian berdampak pada sikap mereka dalam menerima inovasi. James Scott (1981:7) mengemukakan bahwa petani mengalami dilema ekonomi oleh karena mereka hidup begitu dekat dengan batas subsitensi dan menjadi sasaran permainan cuaca serta tuntutan-tuntutan dari luar sehingga rumah tangga petani tidak mempunyai banyak peluang untuk menerapkan imu hitung keuntungan maksimal menurut ekonomi neoklasik. Berkaitannya dengan subsistensi ini, maka secara kasar diartikan bahwa masalah yang dihadapi petani adalah bagaimana menghasilkan beras yang cukup untuk makan sekeluarga, untuk membeli barang kebutuhan lain (Scott, 1981:4). Berkaitan dengan dengan hidup mereka yang berbatasan dekat dengan risiko krisis substensi, maka petani oleh Roumasset, disebut memiliki prinsip dahulukan selamat (safety first). Petani lebih suka meminiumkan terjadinya bencana daripada
10
memaksimumkan penghasilan rata-ratanya (Scott, 1981:26). Dari pernyataan tersebut kemudian dapat dilihat bahwa apa yang dilakukan petani dalam bertani adalah menyelamatkan tingkat subsistensi mereka. Untuk menyelamatkan subsitensi mereka, petani kemudian juga berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil resiko. Hal ini yang oleh Scott disebut dengan enggan risiko (risk averse). Konsekuensi dari moral ekonomi petani yang menghindari risiko dan mendahulukan selamat, berdampak pada respon petani dalam menerima inovasi. Petani yang di waktu lampau mampu bertahan dengan menggunakan cara-cara itu, tidak akan menukarnya dengan cara-cara yang dapat mendatangkan hasil yang jauh lebih besar tapi lebih banyak mengandung risiko (Scott, 1981:24). Pertanian organik dengan metode System of Rice Intensification merupakan sebuah inovasi baru dalam pertanian yang memperkenalkan adanya input dan cara tanam yang berbeda dari pertanian konvensional. Perbedaan ini yang kemudian menjadi risiko akan dihadapi petani karena pemahaman yang mengakar dalam pikiran petani dan pengalaman bertahun-tahun, bahwa input kimia adalah cara tepat untuk meningkatkan produktivitas pertanian
4. Adopsi Inovasi Adopsi diartikan sebagai penerapan atau penggunaan sesuatu ide, alat atau teknologi baru. Manifestasi dari bentuk adopsi ini, dapat dilihat atau diamati
11
berupa tingkah laku, metode, maupun peralatan dan teknologi yang dipergunakan (Mardikanto dan Sutarni, 1982). Model keputusan inovasi atau adopsi, menurut Rogers dan Shoemaker terdiri dari 4 tahap yaitu: a. Pengenalan Yaitu dimana seseorang mengetahui adanya inovasi dan memperoleh beberapa pengertian tentang bagaimana inovasi itu berfungsi. b. Persuasi Yaitu dimana seseorang membentuk sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi. Aktivitas mental yang terjadi pada tahap pengenalan adalah berlangsungnya proses kognitif sedangkan pada tahap persuasi berlangsung proses afektif. Sebelum seseorang mengenal suatu ide baru, maka ia tidak akan membentuk sikap terhadapnya. Pada tahap persuasi seseorang lebih terlibat secara psikologis dengan inovasi. Kepribadian, norma dan sistem sosial mempengaruhi dimana ia harus mencari informasi, apa saja pesan yang tidak mereka terima, dan bagaimana ia menafsirkan keterangan yang diperoleh itu. Pada tahap inilah persepsi inovasi inilah persepsi umum terhadap inovasi dibentuk. Ciri-ciri atau sifat inovasi yang tampak sangat penting pada tahap ini. c. Keputusan Dimana seseorang terlibat dalam kegiatan yang membawanya pada pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi. Keputusan ini meliputi pertimbangan lebih lanjut apakah ia akan mencoba inovasi atau tidak, jika
12
inovasi tersebut dapat dicoba. Kebanyakan orang tidak menerima inovasi tanpa mencobanya terlebih dahulu sebagai dasar untuk melihat kemungkinan kegunaan inovasi tersebut bagi situasi dirinya sendiri. Percobaan skala kecil ini seringkali menjadi bagian dari keputusan untuk menerima dan ini penting sebagai jalan untuk mengurangi resiko inovasi. d. Konfirmasi Yaitu, dimana seseorang mencari penguat bagi keputusan inovasi yang telah dibuatnya. Pada tahap ini mungkin terjadi seseorang mengubah keputusannya jika ia memperoleh informasi yang bertentangan.
Beberapa hal yang berhubungan dengan proses adopsi Katagori Adopter 1. Inovator Inovator adalah orang yang berhasrat untuk mencoba ide baru. Ketertarikan mereka membawa mereka pergi dari jaringan lingkaran lokal ke hubungan sosial yang kosmopolit. Menjadi inovator juga harus memiliki beberapa prasyarat. Hal ini termasuk mengontrol sumber finansial yang substansial untuk menyangga kemungkinan kerugian hutang atas inovasi yang tidak menguntungkan. Inovator juga harus mampu menerima kemunduran ketika salah satu dari ide baru yang mereka adopsi terbukti gagal dan tidak terelakkan. Inovator juga juga berperan dalam proses difusi, yaitu meluncurkan ide baru dalam sistem sosial
13
dengan mengimpor inovasi dari luar. Inovator juga berperan dalam menjaga arus/aliran ide dalam sistem sosial. 2. Early Adopter Early adopter adalah orang yang lebih terintegrasi dalam sistem sosial lokal daripada inovator. Katagori adopter ini memiliki derajat opinion leadership yang lebih tiggi dalam sistem sosial dibandingkan yang lain. Early adopter dianggap sebagian orang sebagai orang yang harus dicek atau dimintai informasi sebelum mengadopsi ide baru. Katagori ini juga tidak terlalu jauh dari rata-rata sebagian orang dalam hal inovasi. 3. Early Majority Early Mojority ini adalah mengadopsi ide sebelum rata-rata anggota sistem sosial lainnya. Early majority ini sering berinteraksi dalam “kawanannya” akan tetapi jarang memegang posisi kepemimpinan. Katagori adopter ini tidak tergesa-gesa sebelum mengadopsi ide baru. Waktu untuk memutuskan inovasi lebih lama dibandingkan early adopter dan inovator. 4. Late Majority Late majority mengadopsi ide baru setelah rata-rata orang mengadopsi. Mereka dapat diyakinkan mengenai kegunaan ide baru tersebut, tetapi tekanan dari kelompok sangat penting untuk memotivasi pengadopsian. 5. Laggards Merupakan orang yang paling lambat dalam mengadopsi. Mereka sama sekali tidak memiliki opinion leadership. Mereka yang paling lokalit
14
dalam semua katagori adopter dan curiga terhadap inovasi dan agen perubahan. (Rogers,1983:249) Faktor faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi 1. Faktor penerima (petani) Dixon mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam pengambilan keputusan inovasi (adopsi) a. Prasangkan interpersonal Prasangka interpersonal berhubungan dengan pihak yang mengenalkan inovasi. Petani berprasangka terhadap pihak luar yang bukan berasal dari lingkungan yang sama atau berlatar belakang yang sama. Sebaliknya, informasi yang disampaikam oleh anggota kelompok atau pihak luar yang senasib dan seprofesi akan cepat ditanggapi b. Pandangan terhadap kondisi yang serba terbatas Perbedaan yang nyata mengenai tingkat kesejahteraan petani dalam suatu kelompok masyarakat akan berpengaruh terhadap ditanggapinya suatu inovasi. Jika dalam kelompok tersebut terdapat anggota yang memiliki kelebihan daripada yang lainnya, maka anggota yang lain saling berlomba untuk mendapatkannya dengan cara yang sama. c. Sikap terhadap penguasa Di satu pihak, petani menganggap penguasa adalah pihak yang mendominasi dan mengeksploitasi golongan mereka. Tetapi di lain pihak, mereka berpendapat bahwa hanya pihak penguasalah yang memberikan perlindungan dan bantuan serta kekuasaan untuk memecahkan masalah.
15
Sehingga adopsi dan sikapnya terhadap inovasi baru sangat ditentukan oleh sikap pejabat atau penguasa setempat dalam menanggapi inovasi tersebut d. Peranan individul terhadap tercapainya tujuan keluarga Anggota dalam keluarga petani akan bergantung dan melandaskan pikiran dan keputusan-keputusan individualnya. Berbeda dengan masyarakat komersial dan individual, inovasi dalam keluarga petani lebih lamban karena harus menunggu kesepakatan dengan keluarga terlebih dahulu e. Kelemahan dalam menerima inovasi Petani berpendapat bahwa menerima sesuatu yang bukan biasa justru hanya mendatangkan malapetala. Mereka selalu yakin bahwa segala sesuatu yang telah dipraktekan dan dialami secara turun temurun adalah yang terbaik, minimal telah teruji waktu. f. Fatalisme Fatalisme adalah ketidakmampuan mengatur masa depannya sendiri. Petani
yang
pekerjaanya
sangat
tergantung
dan
dipengaruhi
keberhasilannya oleh kondisi alam, merasa tidak mampu untuk merencanakan atau memanipulasi keadaannya sendiri, berbeda dengan golongan komersial yang berpendapat hari depannya adalah keputusannya hari ini. g. Kelemahan aspirasi Aspirasi adalah keinginan tentang masa depannya. Dari berbagai pengalaman
yang
terus
menerus
16
tereksploitasi,
kemiskinan
dan
ketidakmampuan melakukan kegiatan menghadapi kekuasaan dari luar telah membuat petani umumnya
tidak terlalu banyak mempunyai
keinginan tentang masa depannya sendiri. h. Kelemahan untuk menunda kepuasan Oleh karena fatalisme, kelemahan aspirasi, dan berbagai hal di atas menyebaban petani tisdak dapat meramalkan kehidupannya dimasa depan. Karena itu, mereka cenderung untuk mencari kepuasaan hari ini saja. Kelaupun ada kesempatan menabung, itu bukan karena demi kesejahteraan di kemudian hari, tetapi karena tidak habis dikonsumsi hari ini. i. Kelemahan dalam berempati Berempati artinya merenungkan sendiri mengenai peranannya dalam kehidupan orang lain. Kelemahan berempati akan menyulitkan para penyuluh dalam memperoleh data untuk menyusun perencanaan penyuluhan dan juga sulit untuk mengembangkan kegiatan penyuluhan, sebab petani tidak bisa memberikan jawaban tentang segala sesuatu yang berada diluar kepentingannya sendiri. j. Keterbatasan pandangan tentang dunia luar Rogers menggunakan istilah localiteness bagi golongan masyarakat yang berorientasi pada kondisi lokal saja. Berlawanan dengan itu masyarakat cosmopoliteness
yang
merupakan
karakteristik
masyarakat
yang
mempunyai pandangan dan hubungan yang luas mengenai dunia luar dengan kelompok sosial yang lain. Karena itu pengalaman masyarakat localiteness juga terbatas sehingga sering tidak mengadopsi inovasi karena
17
belum pernah mendengar atau belum pernah mengenal informasi yang cukup tentang inovasi tersebut (Mardikanto dan Sutarni,1982:108)
E. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pemilihan metode ini dikarenakan metode kualitatif dapat menganalisis realitas sosial secara utuh dan mendalam. Bogdan dan Taylor mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik dan tidak boleh diisolasikan dalam variabel dan hipotesis (Moelong, 1991: 3). Metode penelitian kualitatif berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang mereka sendiri (sudut pandang yang diteliti). Hal ini dilakukan dengan cara melakukan empati pada orang-orang yang diteliti dalam upaya memahami bagaimana mereka melihat berbagai hal dalam kehidupannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan interaksionisme simbolis. Perspektif ini menekankan pentingnya makna dan penafsiran sebagai proses yang hakikimanusiawi sebagai reaksi behavioralisme dan psikologi stimulus-respons yang mekanistis. Orang menciptakan makna bersama melalui interaksinya dan bagi mereka makna itu yang mejadi realitasnya. Pentingnya interaksionisme simbolis dalam penyelidikan kualitatif adalah pada pentingnya simbol dan proses yang terjadi dalam interaksi sebagai sesuatu yang mendasar untuk memahami perilaku manusia. (Suyanto, 2005: 180)
18
1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Kebonsari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo dengan pertimbangan bahwa kelompok tani di desa ini telah mendapatkan pembinaan dan pelatihan pertanian organik dengan metode SRI sejak 2011. Pertanian organik dengan metode SRI yang dikembangkan oleh kelompok tani ini lebih maju dibandingkan di beberapa desa lain. 2. Informan Informan dalam penelitian ini adalah anggota kelompok tani yang mengembangkan pertanian organik dengan metode SRI serta dinas terkait. Data yang diperlukan dari petani adalah bagaimana proses adopsi mereka dalam menerapkan pertanian organik dengan metode SRI, serta produktivitas atau hasil dari pertanian organik dengan metode SRI dan pertanian konvensional yang mereka kembangkan sebelumnya. Informan yang menjadi responden dalam penelitian ini berjumlah 7 orang yang telah melaksanakan 2 kali musim tanam, sehingga dapat diketahui produktivitas yang dihasilkan dari pertanian SRI organik. dari 7 responden,
5 diantaranya merupakan orang yang pertama
mengadopsi dan 2 lainnya adalah orang yang agak akhir dalam mengadopsi. Pemilihan responden tersebut dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan proses adopsi antara responden yang pertama kali mengadopsi dan responden yang tergolong akhir mengadopsi. Data yang diperoleh dari dinas terkait adalah mengenai bagaimana proses difusi pertanian padi organik dengan metode SRI.
19
3. Metode Pengumpulan Data a. Wawancara Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara. Wawancara dipilih karena adopsi, termasuk di dalamnya proses dan perilaku petani mengadopsi pertanian SRI organik merupakan pengalaman petani yang harus digali secara mendalam. Teknik pengumpulan data dengan wawancara sesuai untuk mengungkapkan pengalaman petani karena dengan wawancara tidak hanya menangkap pemahaman atau ide, tetapi juga dapat menangkap perasaan, pengalaman, emosi, motif yang dimiliki oleh responden (Gulo, 2002 : 119). Wawancara dilakukan pertama kali adalah dengan pegawai dari dinas. Hal ini dilakukan karena informasi mengenai adanya pertanian padi SRI organik diketahui pertama kali dari informasi yang diberikan oleh pegawai dinas dalam hal ini Dinas Pertanian dan Kehutanan. Setelah mendapatkan informasi dari dinas, kemudian wawancara dilakukan kepada ketua kelompok tani. Setelah mendapatkan data-data yang diperlukan, kemudian wawancara dilakukan kepada 7 petani sebagai responden. b. Analisis Dokumen Analisis dokumen dilakukan dengan melihat data dan cacatan milik kelompok tani mengenai jumlah anggota, kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam sosialisasi SRI organik. Analisis dokumen juga dilakukan pada data monografi desa. Data monografi desa diperlukan dalam mengetahui karakteristik desa dan masyarakat.
20
4. Data dan Sumber Data Data berdasarkan cara memperolehnya dibagi menjadi 2 data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan mengunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang tersedia (Azwar, 2001:91) a. Data Primer Data primer dalam penelitian ini adalah data mengenai pelaksanaan program, proses adopsi petani dalam mengembangkan pertanian organik dengan metode SRI serta produktivitas yang dihasilkan. Data mengenai program SRI diperoleh melalui wawancara dengan pihak terkait, yakni dengan pegawai dinas pertanian. Data mengenai proses pengadopsian pertanian organik dengan metode SRI dilakukan dengan melakukan wawancara dengan petani. Data mengenai produktivitas pertanian didapatkan melalui wawancara dengan petani. b. Data Sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah data mengenai karakteristik desa, kelompok tani, dan kegiatan dalam sosialisasi SRI organik. Data mengenai karakteristik desa diperoleh dari data monografi desa. Data mengenai kelompok tani diperoleh melalui dokumen yang yang dimiliki
21
kelompok tani. Data mengenai kegiatan dalam sosialisasi SRI organik diperoleh melalui dokumen yang berupa catatan ketua kelompok tani.
5. Analisis Data Analisis data dilakukan secara induksi. Analisis ini lebih merupakan pembentukan abstraksi berdasarkan bagian-bagian yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan (Moelong,1991: 6). Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, menyajikan data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah proses pemilahan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabatraksisan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis dilapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan dan membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi (Silalahi, 2010:339). Reduksi data dilakukan dengan memilih, menyederhanakan dan mengelompokkan data dari apa saja yang muncul dalam wawancara. Penyajian data dilakukan dalam petikan wawancara secara langsung yang merupakan kumpulan dari sejumlah data yang diperoleh peneliti dan siap dianalisis serta diinterpretasikan untuk menuju kesimpulan-kesimpulan. Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dari serangkaian analisis dan analisis data. Kesimpulan berisi mengenai simpulan dari data yang diperoleh sehingga didapat jawaban sesuai dengan interprestasi peneliti.
22