BAB II PEMBAHASAN MENGENAI TAMAN BUDAYA Dalam bab ini akan dibahas tentang teori-teori yang berkaitan dengan Taman Budaya, studi banding terhadap proyek sejenis dan spesifikasi umum proyek yang diperoleh dari sintesis teori literatur dan studi banding proyek sejenis.
2.1 Pemahaman Terhadap Taman Budaya Taman dalam keseharian orang pasti sudah tidak asing lagi, disetiap rumah, maupun kawasan pasti ada yang namanya taman. Taman identik dengan adanya rerumputan, pepohonan, serta lahan yang luas dan memberikan kesejukan.namun taman sendiri memiliki banyak jenis sesuai dengan fungsi dan aktivitas yang diwadahi. Seperti Taman Nasional, Taman Safari, Taman Bunga, Taman Baca, dll. Taman budaya seperti yang sudah diketahui mewadahi fungsi maupun aktivitas yang berhubungan dengan kebudayaan. Sehingga taman budaya menjadi salah satu jendela budaya, memberikan tempat bagi berbagai kesenian dan kebudayaan ditampilkan dan dipertunjukan di tempat ini. Selain menjadi sarana
7
pengenalan akan kebudayaan yang ada, taman budaya juga dapat berperan penting dalam upaya melestarikan budaya yang menjadi warisan leluhur dahulu. Upaya pelestarian seni budaya yang dilakukan dalam sebuah Taman Budaya bukan hanya dengan menggelar berbagai acara pentas kesenian semata, namun dibalik itu ada berbagai kegiatan yang berantai. Dengan diadakannya suatu pentas dalam Taman Budaya, maka secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada seniman-seniman untuk unjuk kebolehan, selain mendapatkan honor untuk jasanya. Dengan hal tersebut maka kesejahteraan seniman menjadi terjamin, dan nantinya akan bermunculan seniman-seniman lainnya. Mungkin bagi sebagian orang profesi seniman tidak begitu menjanjikan, Karena kesempatan untuk tampil sangat sedikit, apalagi seniman yang berada pada daerah yang terpelosok. Maka dengan adanya Taman Budaya diharapkan mampu menumbuh kembangkan semangat dari para seniman. Pembibitan seniman dilakukan sebaiknya dari usia dini, baik pengenalan semata maupun pelatihan langsung. Bukan hanya seniman pentas, melainkan seniman dalam bidang seni lainnya juga mendapatkan tempat, misal seni rupa, baik murni maupun terapan, dengan adanya pameran-pameran karya. Pengenalan akan kebudayaan-kebudayaan yang dikategorikan tradisional maupun kontemporer dapat berjalan dengan baik, pelestarian kebudayaan bukan hanya tentang melestarikan apa yang sudah ada sejak dahulu, namun termasuk didalamnya yaitu pengembangan seni budaya tersebut menjadi lebih menarik, agar mengundang perhatian umum. Tentunya
seni
dan budaya
yang
dikembangkan memang bukan seni budaya yang sakral, agar tidak adanya penyimpangan-penyimpangan. Secara garis besar, taman budaya merupakan sebuah gabungan antara ruang terbuka dengan fasilitas gedung yang dapat digunakan untuk pertunjukan. Gedung pertunjukan yang dimaksud adalah sebuah gedung teater atau pertunjukan lain yang termasuk dalam pertunjukan bergerak. Ada pula pertunjukan kesenian yang tidak bergerak, misalnya pameran karya-karya, baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Kesimpulannya adalah taman budaya merupakan suatu kompleks yang terdiri dari ruang terbuka dan ruang tertutup dimana berfungsi sebagai wadah dari berbagai aktivitas pertunjukan, pagelaran, serta sebagai tempat
8
berkumpulnya para seniman maupun masyarakat umum untuk saling berbagi ilmu atau informasi mengenai seni dan budaya, sehingga dapat terus melestarikan seni dan budaya warisan leluhur dahulu.
2.1.1 Kegiatan Taman Budaya Taman budaya berfungsi sebagai tempat untuk melestarikan kebudayaan, baik menampilkan atau mempertunjukan seni budaya tersebut. Dari fungsi tersebut maka terdapat berbagai peluang kegiatan yang akan muncul (Sarwanto , 2014 : 25). 1. Pagelaran pentas Pentas termasuk dalam kategori pertunjukan gerak dinamis. Seni pertunjukan ini mengutamakan ekspresi gerak yang dapat dipadukan dengan iringan musik. Pertunjukan ini juga memungkinkan untuk adanya interaksi antara pementas dan penonton secara langsung maupun tak langsung (perasaan). Ada beberapa seni pentas yang berbeda, beberapa diantaranya : a. Drama/teater Drama atau teater merupakan sebuah seni pertunjukan dalam bidang gerak, dengan mengambil sebuah alur cerita yang terdapat pesan moral didalamnya. b. Pentas musik Pentas musik merupakan pentas yang menekankan pada suara atau audio. Tentunya untuk mendukung pentas ini, ruangan harus didukung dengan akustik dengan kualitas yang baik agar suara yang dihasilkan juga bagus. Namun pentas musik bukan hanya dapat diadakan di dalam bangunan, melainkan bias diadakan di luar bangunan. c. Pentas tari pentas tari merupakan gabungan antara gerak dengan aspek musik yang menjadi pengiringnya. Pentas tari juga pada umumnya mengangkat sebuah alur cerita.
9
2. Pameran Pameran merupakan suatu kegiatan menampilkan / display berbagai hasil karya seni berbentuk 2 dimensi maupun 3 dimensi. Secara umum pameran dapat dilakukan didalam maupun di luar ruangan tergantung pada apa yang dipajang atau dipamerkan. Pameran lebih menekankan pada penataan display yang mudah untuk dilihat dan terlihat menarik. Karya-karya yang dipamerkan biasanya berupa lukisan, patung, serta karya seni lain yang dapat dinikmati secara aspek visual. 3. Workshop Selain sebagai sarana untuk menampilkan berbagai karya seni, kegiatan yang dapat diwadahi pada taman budaya adalah kegiatan workshop atau sarasehan mengenai hasil karya yang dipertunjukan. Kegiatan dapat dijadikan sebagai ajang belajar maupun tukar pikiran antara para seniman maupun masyarakat umum mengenai kebudayaan yang dibicarakan. Hal ini ini sesuai dengan fungsi taman budaya yaitu selain sebagai tempat untuk mempertunjukan hasil karya seni kebudayaan, juga dapat sebagai sarana memperkenalkan kebudayaan tersebut kepada masyarakat secara lebih luas. Selain kegiatan seperti yang sudah dijelaskan diatas, untuk melancarkan setiap kegiatan di dalam taman budaya, maka perlu adanya aktivitas penunjang, seperti : a. Administrasi Kegiatan administrasi termasuk didalamnya adalah pengelolaan taman budaya, perijinan, maupun persiapan-persiapan sebelum adanya kegiatan di taman budaya. b. Kegiatan umum Dapat dijadikan sebagai objek wisata, maka dari itu kegiatankegiatan yang bersifat umum harus tersedia juga didalamnya, seperti makan, minum, istirahat, dan yang lainnya.
10
2.1.2 Identifikasi Fasilitas Taman Budaya Dari penjabaran mengenai kegiatan-kegiatan di dalam taman budaya, maka didapat beberapa fasilitas untuk mampu menampung berbagai kegiatan di dalam taman budaya (Sarwanto , 2014 : 27). 1. Ruang pertunjukan Ruang pertunjukan dapat berupa dalam ruangan maupun terbuka yang berfungsi sebagai ruang untuk mempertunjukan karya seni 2 dimensi maupun 3 dimensi. Dari jenis kegiatan yang ada, tempat untuk pemenentasan pun terdiri dari beberapa jenis, antara lain : a. Gedung Teater Gedung atau ruang ini digunakan untuk seni pertunjukan dinamis, yang menuntut adanya berbagai aspek, baik visual, audio, dan lighting. Pada ruang ini terdapat stage / panggung untuk pementasan, serta tempat duduk untuk para penonton. Gedung teater dapat berupa tertutup maupun terbuka. Bentuk panggung dalam sebuah gedung teater atau pertunjukan ada tiga macam, yaitu (Effendi : 2012). 1)
Panggung arena Panggung yang dapat dilihat dari semua arah penonton, biasanya berupa pertunjukan teater yang bersifat tradisional.
Gambar 2.1 bentuk panggung arena Sumber : teaterku.wordpress.com
11
2)
Panggung proscenium Panggung jenis ini juga bias disebut sebagai panggung dalam gedung, penonton dalam panggung proscenium hanya bisa melihat dari arah depan dengan jarak tertentu. Biasanya berupa seni pertunjukan modern.
Gambar 2.2 bentuk penatan panggung proscenium Sumber : teaterku.wordpress.com
3)
Panggung campuran Bentuk-bentuk panggung yang merupakan campuran dari panggung arena dan proscenium. Biasanya terdiri dari bentuk L, U, I, segi enam, segi lima, atau setengah lingkaran.
Gambar 2.3 bentuk panggung campuran Sumber : teaterku.wordpress.com
b. Galeri Ruang ini digunakan untuk mempertunjukan atau memamerkan hasil karya seni yang statis, atau tidak bergerak. Aspek visual sangat berperan penting dalam ruangan ini. Di dalam galeri pada umumnya merupakan ruangan dengan etalase yang ditata sedemikian rupa sebagai tempat untuk memajang hasil karya tersebut. Pengunjung dapat melihat hasil karya yang dipamerkan dengan jelas dan sangat menarik sehingga penikmat tidak merasa kelelahan.
12
2. Ruang Pendukung a. Office/kantor Kantor merupakan tempat dimana para pengelola taman budaya melakukan pekerjaannya. Serta melakukan persiapan-persiapan yang perlu untuk menyelenggarakan acara di taman budaya b. Ruang ganti Dalam ruang ini, para pengisi acara melakukan persiapan-persiapan sebelum pentas, misalnya mempersiapkan kostum, rias, serta hal lain yang mendukung performance mereka diatas panggung. c. Ruang latihan Ruangan ini digunakan untuk latihan-latihan pada hari regular, maupun untuk glady risk sebelum pentas. d. Ruang kontrol Ruang control berfungsi untuk melakukan pengaturan cahaya, suara, dan kebutuhan lain saat dilangsungkannya sebuah acara di panggung. Ruang control ini sangat berperan penting dalam kelangsungan sebuah acara. e. Ruang workshop Ruang workshop digunakan untuk ajang pertemuan antara para seniman atau masyarakat untuk bertukar pikiran maupun gagasan dengan hal yang berhubungan dengan seni atau acara yang akan digelar di taman budaya. f. Perpustakaan Dengan adanya perpustakaan dapat memberikan penambahan pengetahuan tentang seni dan budaya kepada pengunjung, selain dengan pertunjukan seni dan budaya yang digelar. Di perpustakaan memuat beberapa referensi yang berkaitan dengan seni dan budaya. g. Tempat suci Tempat suci tentunya pasti ada dalam setiap fasilitas umum untuk menjaga keselamatan aktivitas di taman budaya.
13
h. Toilet Toilet merupakan fasilitas yang sudah umum dan sangat penting keberadaannya di dalam fasilitas publik seperti taman budaya. 3. Ruang bebas a. Lobby Lobby merupakan area penyambut dalam sebuah gedung, lobby biasanya merupakan ruang yang sedikit luas tanpa sekat yang dilengkapi dengan ruang-ruang pendukung seperti informasi, dan toilet. b. Cafeteria Area cafeteria digunakan sebagai tempat untuk beristirahat sambal makan dan minum, ataupun untuk mengobrol. c. Taman terbuka Area taman terbuka dapat digunakan untuk berkumpul-kumpul atara pengunjung, menikmati suasana yang ada, ataupun berfoto-foto. d. Area parkir Area parkir merupakan area pertama yang dijumpai sebelum melakukan aktivitas di taman budaya, area parkir merupakan tempat meletakan kendaraan yang dibawa oleh pelaku kegiatan, baik pengunjung, pengelola, maupun penyelenggara acara.
2.1.3 Pelaku kegiatan Taman Budaya Secara umum para pelaku di dalam taman budaya dapat dibagi menjadi 3 (Sarwanto , 2014 : 23) 1. Pengunjung Pengunjung merupakan salah satu pelaku utama dalam sebuah fasilitas, baik taman budaya maupun yang lainnya. Setiap taman budaya tentunya di dalam menyelenggarakan sebuah acara atau event ingin menarik perhatian para pengunjung agar acara berjalan dengan meriah. Pengunjung dapat dibagi menjadi dua, yaitu wisatawan lokal baik berasal dari masyarakat umum setempat
14
maupun luar daerah, serta wisatawan mancanegara yang berasal dari luar negeri. 2. Pengelola Pengelola mrupakan suatu kelompok yang bertanggung jawab atas pengelolaan taman budaya. Pengelola ini dapat berasal dari swasta ataupun pemerintahan apabila taman budaya ini berada dibawah naungan pemerintah daerah setempat. Pengelola sendiri bertugas di dalam pemberian ijin terkait adanya peminjaman tempat untuk sebuah acara. 3. Penyelenggara/pengisi acara Penyelenggara merupakan pihak yang hendak melakukan sebuah kegiatan di dalam areal taman budaya. Penyelenggara dapat berasal dari pemerintahan, misalnya untuk menggelar sebuah pagelaran seni dalam rangkaian acara ulang tahun kota, pihak swasta, masyarakat umum, maupun seniman yang akan meminjam tempat untuk menggelar acara seni dan budaya. 2.2 Tinjauan Fasilitas Sejenis Tinjauan fasilitas sejenis dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai fasilitas Taman Budaya yang sudah ada, mengetahui fasilitas, kapasitas dan juga tampilan bangunan yang digunakan. Pada tinjauan fasilitas sejenis ini mengambil tiga contoh Taman Budaya yaitu, Taman Budaya Bali (Art Centre), Taman Ismail Marzuki, dan Taman Budaya Yogyakarta. 2.2.1 Taman Budaya Bali (Art Centre) Taman budaya Bali ini terletak di jalan nusa indah kurang lebih 2 km kearah timur kota Denpasar. Taman budaya ini mulai digagas oleh Prof. Ida Bagus Mantra yang kemudian memberikan mandat kepada seorang arsitek terkemuka untuk merancang kawasan taman budaya ini, yaitu Ida Bagus Tugur pada tahun 1969
yang bertujuan untuk melestarikan seni budaya
daerah Bali. Seperti yang terlihat pada gambar 2.4 bagaimana masterplan Taman Budaya Bali.
15
Gambar 2.4 masterplan Taman Budaya Bali Sumber : UPT Taman Budaya Bali
1. Gerbang selatan 2. kantor Taman Budaya 3. Area parkir 4. Jembatan 5. Patung Kumbakarna 6. Wantilan 7. Wisma Seniman 8. Studio Patung 9. Bale Panjang 10. Krya Sembrani Occihcrawa
11. kalangan Krya mandala 12. Mahudara mandara Giri Bhuwana 13. Bale kambang 14. Bale gili 15. Taman Udiyana Ratnalaya 16. Patung Giri Putri, Bagawan gangga, Dewi Gangga 17. Pura Giri Putri 18. Perpustakaan Widya Kusuma 20. Pura Taman Beji
21. Bale Pepawosan 22. Ayodya Open Stage 23. Jembatan gajah Mina 24. Candi Bentar 25. Taman Ardha Candra 26. Panggung Terbuka Ardhacandra 27. Kalangan Angsoka 28. Kalangan Ratna Kanda 29. Gedung Ksirarnawa 30. Kalangan Madya Mandala 31. Pintu Keluar
19. Bale Selonding
Suasana kebudayaan Bali sangat kental dalam Taman Budaya ini, dapat dilihat dari luar, bagaimana pada papan nama dan gerbang utama (gambar 2.5) mencirikan kebudayaan Bali.
Gambar 2.5 Papan nama Taman Budaya (kiri) Pintu masuk menuju Taman Budaya (kanan) Sumber : Observasi lapangan 9/10/2015
16
1. Tugas Pokok dan Fungsi Taman Budaya Bali a. Menggali,
menumbuh
kembangkan,
mengangkat,
menampilkan,
menginformasikan, dan melestarikan seni budaya daerah khususnya dan kesenian lain yang berbentuk klasik, tradisional, kreasi baru, sebagai hasil kreativitas dan aktivitas para seniman di masyarakat. b. Memelihara kelestarian, pengembangan dan pemberdayaan Unit Pelayanan Teknis (UPT) Taman Budaya secara berkesinambungan. c. Memberikan motivasi bagi para seniman dan pengerajin agar lebih kreatif dalam berkarya demi terpeliharanya budaya nasional pada umumnya dan daerah pada khususnya. d. Dapat mengadaptasi pengaruh budaya luar yang positif dan menangkal pengaruh negative akibat kemajuan teknologi dan globalisasi. e. terjalinnya hubungan yang baik antara seniman pengerajin, dan pihak ketiga sehingga kegiatan di UPT Taman Budaya dapat berkesinambungan. 2. Struktur Organisasi
Ketua UPT Taman Budaya
KASUBAG tata usaha
KASI Dokumentasi dan Informasi
KASI Penyajian dan Pengembangan Seni
Gambar 2.6 Struktur Organisasi Taman Budaya Bali Sumber : UPT Taman Budaya Bali
3. Fasilitas di Taman Budaya Bali Pengunjung umumnya memasuki lokasi Taman Budaya melalui pintu masuk disebelah selatan. Setelah melewati angku-angkul pengunjung menuju tempat parkir yang terletak di sebelah barat Taman Budaya. Tempat parkir ini merupakan milik Banjar Kedaton, jadi pengelolaannya bekerjasama dengan
17
Banjar Kedaton. Fasilitas dalam Taman Budaya Bali dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu : a. Kawasan Suci 1) Pura
Taman
Beji,
pura
seluas
±100
m²
merupakan
tempat
persembahyangan bagi karyawan/wati UPT Taman Budaya dan masyarakat sekitar. 2) Bale Selonding, bangunan ini berdiri diatas tanah seluas 10 m². berada di depan putra dalem penghulu, yang digunakan untuk persiapan saat ada upacara di pura. 3) Perpustakaan Widya Kusuma, gedung perpustakaan ini selesai dibangun pada tahun 1975. Bangunannya berupa gedung seluas 300 m² yang terdiri dari 2 lantai. 4) Bale Gili, terletak disisi timur laut kolam. Bale ini terinspirasi dari cerita Sutasoma yang menggambarkan keindahan Taman Udayana Ratnalaya yang kaera keelokannya dijadikan tempat pertemuan antara Sutasoma dengan dewi candrawati. 5) Bale Pepawosan Amertha Saraswati, Bale Pepawosan dibangun ditanah seluas 100 m² , pembangunannya selesai dilakukan pada tahun 1975. Berfungsi sebagai tempat berdiskusi sastra “Dharma Wacana”. b. Gedung 1) Gedung Krya Sembrani Occihcrawa, gedung ini dibangun diatas tanah seluas 300 m². Tempat ini dipergunakan sebagai tempat pameran tidak tetap/berubah-ubah, sesuai jadwal kegiatan Taman Budaya. 2) Gedung Pameran Utama : Mahudara Mandara Giri Bhuvana, gedung yang berdiri diatas tanah seluas 800 m² ini diresmikan penggunaanya sebagai tempat pameran pada tanggal 14 Februari 1973. Selama penggunaanya, bangunan ini digunakan untuk memamerkan koleksi karya seni para seniman-seniwati berprestasi yang telah mendapatkan pengakuan. Gedung ini terdiri dari 2 lantai yang masing-masing ruangannya memiliki jenis-jenis pameran koleksi yang berbeda-beda. Seperti pada gambar 2.7.
18
Gambar 2.7 Foto Gedung Pameran Utama : Mahudara Mandara Giri Bhuvana Sumber : Observasi lapangan 9/10/2015
3) Gedung Ksirarnawa, berasal dari Bahasa sansekerta yang berarti lautan susu yang terispirasi dari cerita pemutaran gunung Mandhara Giri di lautan susu. Gedung Ksirarnawa seluas 5.500 m² sebagai panggung tertutup. Pada lantai 2 terdapat panggung berkapasitas 525 orang. Untuk lantai 1 berfungsi sebagai kantor dan ada ruang pameran untuk pengerajin-pengerajin
lokal.
Seperti
pada
gambar
2.8
yang
memperlihatkan tampak luar bangunan.
Gambar 2.8 Foto gedung Ksirarnawa Sumber : Observasi lapangan 9/10/2015
c. Panggung terbuka / Kalangan 1) Kalangan Krya Mandala, panggung seluas 180 m² ini persis berada di depan gedung Krya Sembrani Occihcrawa. Kalangan Krya Mandala berfungsi untuk tempat pagelaran berskala kecil baik rutin maupun tidak.
19
Dapat juga digunakan untuk pementasan tari calonarang, tari legong, dan lain sebagainya saat acara Pesta Kesenian Bali. 2) Kalangan Ayodya, Kalangan seluas 300 m² ini mampu menampung hingga 300 orang penonton. Kalangan Ayodya sering dipergunakan untuk mementaskan kegiatan rutin Taman Budaya seperti Tari, Kecak, olah seni, dan lainnya. 3) Kalangan Angsoka, panggung seluas 300 m² yang terletak disebelah kanan panggung terbuka Ardhacandra ini dapat menampung 200 penonton.
Berfungsi
sebagai
tempat
pertunjukan
rutin
yang
diselenggarakan oleh Taman Budaya. 4) Kalangan Ratna Kandha, panggung seluas 300 m² ini dapat menampung ±150 orang penonton. Fungsi kalangan Ratna Khanda juga sebagai tempat pagelaran rutin Taman Budaya. Gambar 2.9 menunjukan bagaimana tata panggung dan penonton kalangan ratna kandhala.
Gambar 2.9 Foto kalangan Ratna Kandha
Sumber : Hasil observasi lapangan 9/10/2015 d. Studio, gedung yang dibangun pada tahun 1975 dengan luas bangunan 200 m² ini berfungsi sebagai tempat mendemonstrasikan kegiatan melukis dan latihan seni tari serta tabuh. 4. Fasilitas Pendukung Lain a. Jembatan Gajah Mina, jembatan ini menghubungkan lokasi sepi dengan lokasi keramaian. Memiliki panjang 7 m dan lebar 3 m.
20
b. Wantilan, berfungsi sebagai tempat pertunjukan rutin Taman Budaya. Berkapasitas 300 orang penonton yang dilengkapi dengan ruang rias dan kamar kecil. c. Wisma Seniman, terletak disebelah disisi barat laut kawasan Taman Budaya. Bangunannya seluas ±120 m² yang dilengkapi beberapa kamar tidur, kamar tamu, kamar mandi, dan garasi. Wisma seniman ini berfungsi untuk tempat menginap para seniman, maupun pejabat lain. d. Kori Agung Panggung Terbuka Ardhacandra, kori agung diapit 2 bale bengong yang terletak disebelah utara dan selatannya. Fungsinya untuk meninjau dan melakukan pengawasan keamanan pengunjung. Panggung terbuka Ardha Candra ini dilengkapi panggung dan kursi penonton berbentuk setengah lingkaran seperti pada gambar 2.10.
Gambar 2.10 Foto Panggung terbuka Ardha Candra Sumber : Hasil observasi lapangan 9/10/2015
e. Patung Kumbakarna Karebut, patung ini melambangkan kesetiaan Kumbakarna yang rela mengorbankan nyawa bagi negaranya Alengka. Patung setinggi 5m ini terbuat dari kayu utuh oleh pengukir I Wayan Ngungkal. 2.2.2 Taman Ismail Marzuki (TIM) Taman Ismail Marzuki atau lebih dikenal dengan sebutan TIM adalah pusat kesenian Jakarta atau Jakarta Arts Centre. TIM berlokasi di jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, seperti yang terlihat pada gambar 2.11. Diresmikan pembukaannya oleh gubernur DKI Jakarta jenderal Marinir Ali Sadikin pada tanggal 10 November 1968. Nama Ismail Marzuki sendiri diambil dari nama komponis Betawi pada masa perjuangan, Ismail Marzuki (1914-1957). TIM
21
berdiri pada tanah dengan luas 9 Ha, yang pada dulunya tempat ini dikenal dengan sebutan Taman Raden Saleh.
Gambar 2.11 peta lokasi TIM Sumber : streetdirectory.com
Sejak berdiri tahun 1968 lalu, TIM kini menjadi ruang eksperimen seniman yang menyajikan karya-karya inovatif. Banyak seniman-seniman lokal yang berkembang dengan adanya TIM ini. Mulai dari seni teater, puisi, musik dan lain-lain marak berkembang pada masanya, misalnya seniman WS Rendra, Sardono W Kusumo,dan lainnya. 1. Struktur Organisasi TIM Kepala UPT TIM
Satuan Pelaksana Program Kesenian
Kasubag Tata Usaha
Sub Kelompok Jabatan Fungsional
Satuan Pelaksana Promosi dan Pemasaran
Satuan Pelaksana Prasarana dan Sarana
Gambar 2.12 Struktur Organisasi TIM Sumber : Pergub DKI Jakarta no. 109 Tahun 2014
22
Satuan pelaksana Tempat Pertunjukan
2. Fasilitas-fasilitas yang ada pada TIM : a. Graha Bhakti Budaya (GBB) Gedung pertunjukan yang besar, mempunyai kapasitas 800 kursi, 600 kursi diantaranya berada di bawah, sementara 200 kursi lainnya berada di balkon. Panggung GBB berukuran 15m x 10m x 6m. Gedung ini dapat dipergunakan untuk pertunjukan konser musik, teater baik tradisional maupun modern, tari, film, dll. Gedung GBB ini dilengkapi dengan tata cahaya, sound system, akustik, serta pendingin ruangan. Tampak depan GBB seperti pada gambar 2.13.
Gambar 2.13 Bangunan Graha Bhakti Budaya Sumber : eventseeker.com
Tata panggung dan kursi penonton ditata sedemikian rupa seperti pada gambar 2.14.
Gambar 2.14 Tata panggung dan kursi penonton Sumber : flickr.com
23
b. Galeri Cipta II (GB II) Galeri cipta II merupakan ruang pameran dengan luas 54 m x 18m. dapat digunakan sebagai tempat pameran yang dapat menampung 100 buah lukisan dan 40 patung. Selain untuk pameran, GB II juga dapat digunakan untuk seminar, peluncuran buku, dan lainnya. Ruang ini dilengkapi dengan tata cahaya, tata suara, pendingin ruang, serta panel yang dapat dipindahpindahkan. Penataan ruang pameran seperti terlihat pada gambar 2.15.
Gambar 2.15 Tata ruang dalam pameran GC II Sumber : outofthebox.wordpress.com
c. Galeri Cipta III Galeri Cipta III juga digunakan sebagai ruang pameran, yang terdiri dari dua lantai. Luas ruang pameran lantai dasar 9,6m x 17,1m,dapat memuat 50 lukisan dan 20 patung. Sedangkan pada lantai atas memiliki luas 6,1m x 12m dengan alas karpet. Dapat digunakan sebagai ruang pameran, seminar, dan lainnya seperti pada gambar 2.16.
Gambar 2.16 Tata pameran dalam GC III Sumber : selasar.com
24
d. Teater Kecil Teater kecil merupakan ruang yang digunakan untuk berbagai pertunjukan, musik, teater, tari dan lainnya. Memiliki panggung dengan ukuran 10m x 5m x 6m yang berkapasitas 244 penonton terdiri dari auditorium bawah dan balkon. Dilengkapi juga dengan lobby, ruang rias, tata cahaya, tata suara, pendingin ruangan, dan sistem tiket menggunakan komputer. Tata letak panggung dan kursi penonton seperti terlihat dalam gambar 2.17.
Gambar 2.17 suasana dalam teater kecil Sumber : Jakarta.info
e. Teater Halaman Teater halaman merupakan tempat pertunjukan terbuka, memiliki kapasitas penonton yang fleksibel, dapat digunakan untuk berbagai pertunjukan di luar ruangan seperti yang terlihat dalam gambar 2.18.
Gambar 2.18 Tampak luar teater halaman Sumber : tamanismailmarzuki.co.id
25
Penataan kursi penonton dalam teater halaman ini berbentuk lengkung dengan bagian belakang meninggi dan panggung berada di bawah, seperti pada gambar 2.19.
Gambar 2.19 Tata panggung dan kursi penonton teater halaman Sumber : tamanismailmarzuki.co.id
f. Plaza TIM Areal parkir yang luas dapat menampung 300 kendaraan roda empat dan 400 kendaraan roda dua. Dilengkapi juga dengan cafe makanan tradisional, galeri buku. Plaza ini juga dapat digunakan untuk menampung berbagai pertunjukan.
Gambar 2.20 Plaza TIM Sumber : tamanismailmarzuki.co.id
Beberapa kegiatan dalam plaza TIM dan area dalam plaza TIM dapat dilihat pada gambar 2.17.
26
Gambar 2.21 Beberapa fasilitas dalam Plaza TIM Sumber : tamanismailmarzuki.co.id
g. Gedung Teater Jakarta Gedung ini dapat digunakan untuk berbagai pertunjukan, baik musik, drama, tari, dan lainnya. Memiliki panggung dengan ukuran 14m x 7m. memiliki kapasitas penonton hingga 1200 orang. Dilengkapi dengan lobby, 12 ruang rias, ruang latihan, tata cahaya, tata suara, dan pendingin ruangan. Bentuk bangunan gedung ini juga sangat unik, mengambil bentuk khas betawi dengan balutan modern, seperti pada gambar 2.22. dan interior panggung dan kursi penonton dalam gambar 2.23.
Gambar 2.22 Tampak depan Gedung Teater Jakarta dan Interiornya Sumber : tamanismailmarzuki.co.id
Gambar 2.23 Interior Gedung Teater Jakarta Sumber : tamanismailmarzuki.co.id
27
2.2.3 Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 1. Sejarah awal Taman Budaya Yogyakarta Taman Budaya Yogyakarta dibangun pada tanggal 11 maret 1977 di daerah Bulaksumur sebagai sebuah kompleks pusat pengembangan kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Awalnya Taman Budaya Yogyakarta disebut sebagai Purna Budaya yang dibuat dengan sarana prasarana untuk membina, memelihara, dan mengembangkan kebudayaan, terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Gambar 2.23 Peta lokasi Taman Budaya Yogyakarta Sumber : google.map (telah diolah kembali)
Purna Budaya dibangun dengan dua konsep bangunan, yaitu Pundi Wurya dan Langembara. Pundi Wurya menjadi pusat kesenian dengan berbagai macam fasilitas seperti panggung kesenian, studio tari, perpustakaan, ruang diskusi, dan administrasi. Bagian kedua yaitu Langembara, menjadi ruang pameran, ruang workshop, kantin, dan juga beberapa guest house. 2. Perkembangan Taman Budaya Yogyakarta Beberapa tahun kemudian, berdasarkan perda No. 7 tahun 2002 dan keputusan Gubernur DIY no. 161/2002 tertanggal 4 November 2002, Purna Budaya (Taman Budaya Yogyakarta) menjadi UPTD kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY dengan beberapa misi : a. Melaksanakan pengembangan dan pengolahan seni budaya b. Melaksanakan laboratorium dan eksperimentasi seni budaya 28
c. Melaksanakan dokumentasi dan informasi seni budaya d. Melaksanakan urusan tata usaha dan Rumah tangga dinas e. Memfasilitasi kegiatan seni budaya 3. Fasilitas dalam Taman Budaya Yogyakarta Seiring perubahan tersebut, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mengubah nama bangunan yang ada di dalamnya. Sekarang TBY memiliki dua bangunan utama, yaitu. a. Concert Hall Taman Budaya. Gedung concert hall memiliki gaya bangunan belanda berfungsi sebagai tempat diskusi sastra, penyelenggaraan pameran, dan pelatihan.
Gambar 2.24 Bangunan utama TBY Sumber : Yogyakarta.panduanwisata.com
Gambar 2.25 Bangunan utama disulap dalam sebuah acara Sumber : indonesiaartnews.or.id
b. Societet Militair Gedung Societet Militair berfungsi sebagai tempat pentas teater, tari, musik, dan berbagai pertunjukan seni lainnya. Gedung Societet Militair memiliki ruang pertunjukan dengan kapasitas 500 orang penonton, seperti pada gambar 2.26.
Gambar 2.26 Auditorium gedung Societet Militair Sumber : yesnoklub.yesnowave.com
29
Beberapa agenda yang dilakukan di Taman Budaya Yogyakarta adalah menggelar pameran seni rupa, pemutaran film sepanjang tahun, festival teater, ketoprak, dalang,tari, dll. Program-program pendidikan dan pelatihan seni untuk anak-anak dan remaja, dan juga penerbitan profil seniman budayawan, sastra, kritik seni rupa, dan lainnya. Seperti yang terlihat dalam gambar 2.27 bagaimana suasana di dalam ruang pameran TBY.
Gambar 2.27 Suasana ruang pameran dalam Taman Budaya Sumber : wisatajogja.co.id
4. Struktur organisasi Taman Budaya Yogyakarta
Kepala Taman Budaya
Subagian Tata Usaha
Sie Operasional dan Pengolahan Data
Sie Pergelaran dan Seni Budaya
Kelompok Jabatan Fungsional
Gambar 2.28 Struktur Organisasi Taman Budaya Yogyakarta Sumber : Perda Provinsi DIY No 7 Tahun 2002
30
2.3 Kesimpulan Studi Objek Sejenis Dari hasil studi objek sejenis, mendapatkan beberapa kesimpulan, yaitu seperti dalam table 2.1. Table 2.1 Kesimpulan Studi Objek Sejenis
Obyek Taman Budaya Bali (Art Centre)
Taman Ismail Marzuki
Taman Budaya Yogyakarta (TBY)
Jln. Nusa Indah, Denpasar - Gedung pameran - Gedung pertunjukan indoor - Open Stage - Studio - Wantilan - Wisma Seniman - Perpustakaan - Beberapa Bale - Pura.
Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat Graha Bakti Budaya Galeri Cipta II Galeri Cipta III Teater Kecil Teater Halaman Plaza TIM Gedung Teater Jakarta
Jl. Sri Wedari No. 1 Yogyakarta. - Galeri - Concert Hall - ruang seminar - Perpustakan - kantor pengelola - cafeteria - souvenir shop - lobby - toilet - parkir
manajemen
Dibawah naungan kepemerintahan, UPT Taman budaya
Dibawah naungan Pemerintah DKI Jakarta
Dibawah naungan kepemerintahan, UPTD Taman budaya
Bangunan
Konsep bangunan mengambil bentuk maupun tatanan Arsitektur Tradisional Bali, dengan mengedepankan langgamlanggamnya di semua bangunan.
Aspek Lokasi Fasilitas
Konsep bangunan Konsep mengambil mengambil bentuk langgam klasik modern, baik bentuk dengan ciri khas luar maupun terlihat pada tampilan interiornya, serta luar bangunan dengan struktur yang dipakai. bentuk atap dan pilarNamun beberapa pilar yang besar, serta diantaranya warna putih yang mengadopsi bentuk dominan. khas nusantara atau Betawi khususnya.
31
2.4 Spesifikasi Umum Taman Budaya Karangasem Berdasarkan studi literatur dan kajian objek sejenis, maka dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai Taman Budaya Karangasem : 2.4.1 Definisi Taman Budaya Karangasem Taman Budaya Karangasem merupakan sebuah fasilitas untuk mengangkat, mengembangkan,
menginformasikan, menampilkan, dan
melestarikan seni budaya lokal Karangasem agar tetap dapat bertahan dan berkembang, terutama seni dan budaya yang hampir punah dan yang memiliki potensi kedepan. 2.4.2 Fungsi Taman Budaya Karangasem Fungsi dari Taman Budaya Karangasem ini adalah dapat menumbuh kembangkan perhatian masyarakat umum terhadap kebudayaan lokal daerah yang dimiliki, Selain itu, Taman Budaya ini nantinya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk masyarakat umum, baik digelarnya hiburan rakyat berupa pentas-pentas kesenian, maupun tempat rekreasi. 2.4.3 Tujuan Taman Budaya Karangasem Membangkitkan kembali budaya lokal Karangasem agar tetap bertahan dan dapat berkembang kembali, terutama untuk seni budaya yang hampir punah Sebagai tempat belajar, mengenal, dan mementaskan kesenian lokal kepada masyarakat umum. Menghasilkan generasi muda yang perduli dengan budaya lokal Sebagai sarana hiburan bagi masyarakat dengan menampilkan pertunjukan seni budaya lokal
2.4.4 Fasilitas dan Pengelolaan dalam Taman Budaya Karangasem Berdasarkan kajian beberapa objek sejenis mengenai fasilitasfasilitas yang terdapat dalam Taman Budaya, maka untuk itu pada Taman Budaya Karangasem akan dibagi menjadi fasilitas utama dan fasilitas penunjang. Fasilitas utama pada Taman Budaya ini adalah sebuah Open
32
stage untuk menggelar pentas-pentas seni dan budaya lokal, serta sebuah aula serba guna untuk menggelar pertemuan-pertemuan dari seniman ataupun masyarakat dalam sarasehan mengenai seni dan budaya lokal. Fasilitas penunjang lain berupa ruang pameran untuk hasil kerajinan lokal, tempat latihan olah seni, ruang ganti, dan lainnya, Serta ruang pengelolaan dari Taman Budaya ini. Pengelolaan Taman Budaya ini berada dibawah naungan UPT pemerintah daerah. 2.4.5 Penentuan Lokasi Taman Budaya Karangasem Prinsip penentuan lokasi Taman Budaya ini tentunya berada di Karangasem, mengingat Taman Budaya ini akan melestarikan seni dan budaya Karangasem pada khususnya, dan Bali pada umumnya. Dengan mempertimbangkan akses publik yang mudah, berada di wilayah kota. serta mudah menjangkau fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan Taman Budaya ini, baik sistem utilitas maupun yang lainnya.
33