1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Usaha laundry yang menawarkan jasa cuci dan setrika saat ini sangat diminati oleh masyarakat. Kehadiran jasa laundry memberikan dampak positif yaitu dapat memberikan keringanan waktu maupun tenaga dalam pengerjaan cuci dan setrika pakaian serta membuka lapangan pekerjaan kepada masryarakat sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran yang ada. Selain memberikan dampak positif, usaha laundry juga dapat menimbulkan dampat negatif seperti meningkatnya jumlah air limbah yang dihasilkan. Air limbah laundry memiliki dampak yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Pencemaran air oleh limbah laundry tersebut berasal dari penggunaan deterjen sebagai bahan pencuci, karena memiliki daya cuci yang baik dan tidak terpengaruh kesadahan air, akan tetapi memiliki kandungan fosfor yang tinggi (rosariawari, 2012). Kandungan fosfor berupa sodium tripolifosfat dalam air limbah laundry mengakibatkan adanya peningkatan pertumbuhan eceng gondok, alga dan sianobakteri yang dapat mengurangi kandungan oksigen dalam perairan sehingga mempercepat proses eutrofikasi. Eutrofikasi dapat berdampak buruk bagi kesehatan, salah satunya yaitu risiko keracunan serta penyakit-penyakit yang berasal dari air lainnya dikarenakan penggunaan air dari perairan yang mengalami eutrofikasi ataupun sumber air yang terkontaminasi oleh perairan tersebut (Kohler, 2006). Dampak negatif deterjen terhadap kesehatan, jika terjadi kontak langsung detergen dengan kulit maka kulit akan terasa kering, melepuh, timbulnya eksim
1
2
kulit semacam bitnik-bintik gatal berarir di telapak tangan maupun kaki. Karena detergen pHnya sangat basa (9,5-12) bersifat korosit yang akan menyebabkan iritasi pada kulit (Nidia. R, 2003 ). Dampak dari pencemaran air limbah laundry harus diminimalkan dengan melakukan pengendalian terhadap pencemaran air. Menurut peraturan Gubernur no 16 tahun 2016 yang mengatur tentang baku mutu lingkungan hidup yang di terapkan di Bali, dimana peraturan tersebut mengikat baku mutu air limbah domestik termasuk air limbah laundry yang diizinkan untuk dibuang ke badan air. Indikator baku mutu yang digunakan mencakup indikator kimia anorganik seperti tingkat keasaman (pH), Chemical Oxygen Demand (COD), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Total Fosfat serta parameter lainnya. Untuk mengurangi dampak dari limbah laundry tersebut maka harus mengadakan upaya pengendalian pencemaran air. Menurut Nayono (2010), saat ini terdapat beberapa jenis instalasi pengolahan air limbah yang menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pengolahan air limbah di negara berkembang seperti Indonesia, khususnya pada jasa laundry di Bali. Namun, pada masa ini menurut Kurniawan (2013) dalam Padmanabha (2015), pengadaan pengelolaan air limbah laundry khususnya pada perusahaan menengah kebawah keberatan melakukan pengolahaan air limbah karena dianggap mengeluarkan biaya yang mahal dalam perawatannya dan menggunakan media pengolahan limbah yang sulit diterapkan. Untuk itu ada beberapa jenis-jenis instalasi pengolahan air limbah yang dapat diterapkan dengan keuntungan biaya pembuatan dan pemeliharaan yang murah dan mudah meliputi; Water Stabilization Pond, Macrophyte Pond, Constructed Wetland.
3
Constructed Wetland merupakan salah satu jenis instalasi pengolahan air limbah yang dapat diterapkan di Indonesia khususnya di Bali dengan keuntungan biaya yang lebih murah, perawatan yang mudah, keberlangsungan instalasi yang mampu mencapai 15 tahun, serta penentuan lokasi instalasi yang lebih fleksibel (WasteWater Garden. 2012, dalam Padmanabha, 2015). Berdasarkan studi Zurita dkk. (2006), efektivitas pengolahan air limbah dengan metode ini mampu menurunkan kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) lebih dari 70%, Chemical Oxygen Demand (COD) lebih dari 75 %, dan kandungan fosfor lebih dari 66%. Sebelumnya di Bali, sudah dilakukan penelitian tentang efektivitas Constructed Wetland khususnya Vertical Flow Sub-Surface Flow oleh Padmanaba, 2015 dan telah dilakukan pengujian lab, efektivitas pengolahan air limbah dengan metode ini mampu menurunkan kandungan TDS sebesar 14,94%, TSS sebesar 53,13%, BOD sebesar 76,31%, COD sebesar 67,41%, dan Total Fosfat sebesar 57,53%. Selain Vertical Flow Sub-Surface Flow Constructed Wetland terdapat juga model Hybrid Constructed Wetland yang belum pernah di terapkan di Bali. Hybrid Constructed Wetland adalah salah satu sistem yang dapat digunakan untuk meminimalkan dampak limbah laundry dengan mmemanfaatkan tanaman dan batu vulkanik sebagai media penyerapan zat-zat berbahaya dalam air limbah laundry. Hybrid Constructed Wetland merupakan kombinasi antara system Vertical Flow Sub-Surface Flow Constructed Wetland dan Horizontal Flow Sub-Surface Flow Constructed Wetland. Permasalahan pengolahan air limbah laundry di Bali terlaksana kurang optimal karena adanya kendala pada dana dan pemilihan jenis instalasi pengolahan air limbah yang murah dan mudah diterapkan. Penggunaan
4
Constructed Wetland khususnya jenis Vertical Flow Sub-Surface Flow yang telah di lakukan sebelumnya telah berhasil menurunnkan parameter berbahaya dalam air limbah laundry dengan menggunakan biaya yang murah dan perawatan yang mudah. Untuk menambah alternative pemilihan jenis instalasi pengolahan air limbah dapat menggunakan model Hybrid Constructed Wetland.
1.2 Perumusan Masalah Permasalahan pengolahan air limbah laundry di Bali terlaksana kurang optimal karena adanya kendala pada dana dan pemilihan jenis instalasi pengolahan air limbah yang murah dan mudah diterapkan. Penggunaan Constructed Wetland khususnya jenis Vertical Flow Sub-Surface Flow yang telah di lakukan sebelumnya telah berhasil menurunnkan parameter berbahaya dalam air limbah laundry dengan menggunakan biaya yang murah dan perawatan yang mudah. Untuk menambah alternative pemilihan jenis instalasi pengolahan air limbah dapat menggunakan model Hybrid Constructed Wetland, maka peneliti ingin melihat bagaimana efektivitas instalansi pengolahan air limbah model Hybrid Constructed Wetland dalam mengolah air limbah laundry.
1.3 Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana pengurangan tingkat cemaran air limbbah laundry yang diolah dengan menggunakan model instalasi Hybrid Constructed Wetland berdasarkan parameter BOD, COD, pH dan Total Fosfat? 2. Berapakah persentase efektivitas model instalasi Hybrid Constructed Wetland dalam mengolah air limbah laundry berdasarkan pengujian kualitas
5
air limbah sebelum pengolahan dan setelah pengolahan dengan menggunakan parameter BOD, COD, dan Total Fosfat?
1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1
Tujuan Umum Mengetahui tingkat efektivitas instalasi Hybrid Constructed Wetland dalam mengolah air limbah laundry berdasarkan pengurangan nilai parameter air limbah.
1.4.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui pengurangan tingkat cemaran air limbah laundry yang diolah dengan instalasi Hybrid Constructed Wetland berdasarkan parameter BOD, COD, pH, dan Total Fosfat. 2. Mengetahui persentase efektivitas instalasi Hybrid Constructed Wetland dalam mengolah air limbah laundry berdasarkan perbedaan pengujian kualitas air limbah laundry sebelum pengolahan dan sesudah pengolahan menggunakan parameter BOD, COD, dan Total Fosfat.
1.5 MANFAAT PENELITIAN 1.5.1 Manfaat Teoritis 1. Dapat digunakan sebagai tambahan untuk bahan pembelajaran mengenai jenis-jenis model instalasi pengolahan air limbah khususnya model Hybrid
constructed wetland yang dapat diterapkan serta berapa
persentase efektivitasnya. 2. Dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian terkait pengolahan air limbah.
6
1.5.2 Manfaat Praktis 1. Mengurangi tingkat pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh air limbah cair laundry sehingga mampu menjadi alternative pemecahan masalah kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat. 2. Hasil studi ini dapat diterapkan dalam membangun instalasi pengolahan air limbah laundry pada industri laundry, 3. Dapat membantu untuk penentuan pembangunan instalasi pengolahan air limbah laundry yang murah dan mudah di terapkan.
1.6 Ruang Lingkup Studi Penelitian ini mencakup bidang kesehatan lingkungan dengan pemanfaatan teknologi lingkungan yang menggunakan ruang lingkup: 1. Penelitian menggunakan model Hybrid Constructed Wetland yang dimodifikasi berdasarkan berbagai referensi terkait. 2. Penelitian ini mengolah air limbah laundry yang dihasilkan salah satu industri laundry yang berlokasi di Kapal, Kabupaten Badung. 3. Parameter kualitas air limbah laundry yang digunakan dalam penelitian ini adalah BOD, COD, pH, dan Total Fosfat. 4. Penelitian ini dilakukan pada skala laboratorium. 5. Batu yang digunakan pada model penelitian ini adalah Batu Vulkanik Kintamani 6. Jenis Tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah Tanaman Kana (Canna sp.) dan Tanaman Cattail (Thypa sp.).