PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK CENGKEH DENGAN MENERAPKAN ILMU PERPINDAHAN PANAS PADA PERALATAN PENYULINGAN MINYAK ATSIRI Oleh : Sarwoko 1),Arif Setyo Nugroho 2),Martinus Heru Palmiyanto 3) 1)2)3)
Jurusan Teknik Mesin,Akademi Teknologi Warga Surakarta
ABSTRACT Clove oil industry , temperature dissociation energy of diatomic is principal dissociation energy of diatomic required to process distillation takeplace .In distillation can be conventional , loss of external air, temperature dissociation energy of diatomic is not paid attention . re- design is distillation device of conventional oil of clove meant to increase efficiency from the device by the way of optimal of temperature dissociation energy of diatomic yielded from fuel baking. Redesigned technology provides installation around the boiler pipes and oil separator with a better construction material isolation having 0.02m thickness.its called a glasswool the heat conductivity of this glasswool is 0,07 W/M.K.The matrial of oil separator is stainless steel with 0.005 M thickness by isolation, The boiler pipes have low temperature gradient at each altitude distillation boiller.Obtained low temperature gradient at each boiler pippes .Steam boiler in the boiler is more secure in the oil yield could be incresead by 4,17% .With the use of agood oil separators,clove oil can be produced much more secure oil cleane, increased by12,51% . Key words : Destilations,heating surface,yield,temperature gradients
I. PENDAHULUAN Salah satu cara untuk mendapatkan minyak atsiri (termasuk minyak cengkeh) adalah dengan metode penyulingan. Penyulingan adalah cara untuk mendapatkan minyak atsiri dengan cara mendidihkan bahan baku yang dimasukkan ke dalam ketel hingga terdapat uap yang diperlukan, atau dengan cara mengalirkan uap jenuh (Guenther, E., 1987). Metode penyulingan untuk mendapatkan minyak cengkeh adalah penyulingan dengan air dan uap, dimana daun cengkeh tidak bersinggungan langsung dengan air, tetapi hanya bersinggungan dengan uap air sebagai hasil pendidihan di dasar ketel suling. Dalam industri kecil di daerah-daerah penghasil cengkeh, banyak digunakan metode penyulingan secara konvensional. Metode penyulingan tersebut masih menggunakan alat yang sangat sederhana, dimana konstruksi alat tidak memperhitungkan rugi-rugi panas selama proses penyulingan. Pada proses penyulingan, panas adalah energi utama yang diperlukan agar proses bisa berlangsung. Panas digunakan untuk mendidihkan air, dimana uap air yang terbentuk akan masuk ke jaringan tanaman dan akan menguapkan minyak cengkeh. Panas juga dibutuhkan untuk menjaga suhu didalam ketel agar uap yang terbentuk tetap dalam fase uap sampai masuk ke pendingin, sehingga kondensasi tidak terjadi di dalam ketel suling. Jika kondensasi terjadi di dalam ketel, akan timbul air kondensat yang akan membasahi daun cengkeh. Jika daun cengkeh basah, minyak yang terkandung pada daun cengkeh akan sulit teruapkan oleh uap air. Hal ini akan menyebabkan menurunnya efisiensi minyak yang bisa dihasilkan oleh sejumlah daun cengkeh yang disuling. Untuk menjamin uap yang terbentuk di dalam ketel tetap berada pada fase uap kering, perlu diadakan perbaikan atau penambahan komponen pada alat penyulingan. Bila fase uap dalam ketel suling tetap berada pada fase uap, maka penguapan minyak cengkeh dapat terjadi pada keseluruhan
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
1
daun di dalam ketel suling. Bila minyak yang ikut teruapkan oleh uap air lebih banyak, maka efisiensi minyak yang dihasilkan dapat lebih banyak pula. Suatu penyulingan minyak cengkeh dikatakan menghasilkan efisiensi minyak yang baik bila minyak cengkeh hasil penyulingan memiliki kadar eugenol yang tinggi. Penyulingan dengan uap kering dapat menghasilkan minyak kuat yang kaya akan eugenol. Penyulingan dengan uap kering pada keseluruhan ketel dapat terjadi bila ketel diisolasi dengan baik (Sastroharnidjojo,2005). Suatu alat penyulingan minyak atsiri sederhana yang terdiri dari pemanas, ketel suling, dan pendingin dapat digunakan untuk melakukan proses penyulingan, proses penyulingan dapat lebih efektif bila menggunakan alat pemisah minyak yang didesain untuk bisa memisahkan minyak dari air dengan baik (Ghozali, M. 2002). Dalam suatu penyulingan minyak atsiri, ketel suling harus diisolasi dengan baik. Hal ini dilakukan agar uap tidak terkondensasi di dalam ketel dan supaya daun tidak menggumpal, karena bisa berakibat minyak di dalam daun sukar diuapkan sehingga efisiensi minyak menurun (Guenther, E. 1987).
II. BAHAN DAN METODE PENELITIAN A. BAHAN DAN PERALATAN Bahan yang dipergunakan untuk pendesainan ulang adalah: a. Sebagai bahan isolasi adalah glass wool setebal 0,02 m dengan harga konduktifitas panas sebesar 0,076 W/m.K (Incropera. F.D. 1996). Alasan penggunaan isolasi glasswoll adalah karena glasswoll mampu mengisolasi ketel suling dengan baik. Distribusi temperatur tiap ketinggian ketel suling memiliki gradien yang kecil dibanding material lain. b. Alat pemisah minyak cengkeh dari air dibuat dari stainless stell dengan ketebalan 0,0005 m. Alat yang Digunakan
Ketel Penyulingan Daun Cengkeh Pendingin Air
Alat Pemisah Minyak Penyulingan Dengan Air dan Uap
Gambar 1 Penyulingan minyak atsiri
1. Alat pemisah, minyak cengkeh dengan air 2. Sebagai alat ukur dipergunakan: Termometer alkohol skala 110oC dengan ketelitian 1oC. Termokopel tipe K. Multimeter digital model APPA 25 sebagai thermocouple reader.
B. KAJIAN PUSTAKA 1. Perpindahan Panas Dalam Dapur Pemanas Perpindahan panas yang dihasilkan karena pembakaran bahan bakar dan udara, yang berupa api dan gas asap (yang tidak menyala) dipindahkan kepada air, uap ataupun udara, melalui bidang
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
2
yang dipanaskan (heating surface) pada suatu instalasi dapur pemanas dengan tiga cara, yaitu: perpindahan panas konduksi, perpindahan panas konveksi, perpindahan panas radiasi. Sebagai sumber panas dalam dapur adalah nyala api dimana besarnya panas yang dihasilkan dalam pembakaran bahan bakar dinyatakan dengan (Muin, S.A., 1988) :
Q f W f ( LHV ) f ...............( 1 ) dimana: Wf LHV ηf
= Pemakaian bahan bakar, (kg/h). = Nilai bakar terendah, (kkal/kg). = Efisiensi dapur, 0,90
Konstruksi tungku pembakaran dari alat penyulingan minyak atsiri (gambar 2), tungku pembakaran dapat dilihat sebagai sebuah silinder. Suatu silinder dianggap sebagai sistem satu dimensi dengan gradien suhu benda hanya merupakan fungsi jarak radial ( Holman, J.P., 1994 ).
q
Ketel Suling
q
q Sumber Panas
Ruang Pembakaran
Dapur Pemanas
Gambar 2. Konstruksi tungku pembakaran
2. Perpindahan Panas pada Ketel Suling Bidang pemanas (heating surface) primer pada ketel adalah bidang yang langsung kontak dengan air ketel, sedang sisi-sisi lainnya langsung berhubungan (kontak) dengan sumber panas. Bila bidang pemanas yang bersentuhan dengan zat cair dipelihara pada suhu yang lebih tinggi dari suhu jenuh zat cair, akan terjadi pendidihan. Fluks kalor yang yang berlangsung bergantung pada perbedaan antara suhu permukaan dan suhu jenuh zat cair. Bila permukaan yang dipanaskan terbenam di bawah permukaan-bebas zat cair, proses itu disebut didih kolam (pool boiling).
Gambar 3. Kurva tipe pendidihan untuk air pada tekanan atmosfer; Fluks panas permukaan,
q s sebagai fungsi
dari excess temperature, ΔTe = Ts – Tsat
Mekanisme fisik dari pool boiling ditunjukkan pada gambar 3. Dari gambar dapat dilihat beberapa daerah pendidihan. Daerah pendidihan ditentukan dengan besarnya temperatur berlebih Te , yang besarnya:
Te
= Ts Tsat ..............................( 2 )
Daerah-daerah tersebut adalah : a. Free convection, jika ∆Te ≤ ∆Te,,A, dimana ∆Te,A ≈ 5oC. Pada daerah ini terdapat arus konveksi bebas yang menyebabkan gerakan fluida di dekat heating surface. Pada daerah ini, zat cair di dekat
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
3
permukaan dipanaskan, mengalami pemanasan sampai agak panas lanjut, lalu menguap dalam perjalanan naik ke permukaan. b. Nucleate boiling, jika ∆Te,A ≤ ∆Te ≤ ∆Te,C , dimana ∆Te,C ≈ 30oC. pada daerah ini terbentuk gelembung-gelembung pada heating surface. Jika suhu diteruskan lagi, gelembung-gelembung terbentuk lebih cepat, dan naik ke permukaan zat cair. c. Transition boiling, jika ∆Te,C ≤ ∆Te ≤ ∆Te,D, dimana ∆Te,D ≈ 120oC. pada daerah ini gelembung terbentuk dengan cepat sehingga menutupi seluruh heating surface, menghalangi masuknya aliran zat cair baru ke tempat itu. Pada saat ini gelembung-gelembung uap mulai menggabung dan membentuk lapisan uap yang akan menutupi heating surface. d. Film boiling, jika ∆Te ≥ ∆Te,D. Pada daerah ini heating surface sudah tertutup lapisan uap. Pada titik D fluks kalornya minimum. Besarnya flux panas yang ditransfer selama proses pendidihan pada fase nucleate pool boiling, dinyatakan dengan (Incropera. F.D. 1996) :
g l v qs f h fg
1
3
2
c p ,l Te .............................(3) C h Pr n s , f fg l
dimana besarnya nilai Cs,f dan nilai n tergantung dari kombinasi antara cairan dan permukaan heating surface, yang mana besarnya ditunjukkan pada tabel 1 dibawah. Tabel 1. Nilai Cs,f untuk berbagai kombinasi fluida-permukaan pemanas
Fluid – Surface combination
Water – copper Scored Polished Water – stainless stell Chemically etched Mechanically polished Ground and polished Water – brass Water – nickel Water - platinum
Cs,f
n
0.0068 0.0130
1.0 1.0
0.0130 0.0130 0.0060 0.0060 0.006 0.0130
1.0 1.0 1.0 1.0 1.0 1.0
(Sumber: Incropera. F. D. 1996) Besar Critical heat flux untuk nucleate pool boiling adalah:
q max
g l v h fg V = 24 v2
14
l v l
12
……………………….(4)
Sedangkan untuk besarnya heat flux minimum adalah:
q min
q l v = C v h fg 2 l v
14
……………………………(5)
Pada pendidihan fase film pool boiling besar bilangan Nusselt adalah :
g l v hfg D 3 hconvD = C ……………………(6) kv vv kv Ts Tsat 14
Nu D
dimana untuk besarnya C adalah 0,62 untuk silinder horisontal dan 0,67 untuk bola. Pada heating surface 300oC, perpindahan panas secara radiasi menjadi sangat signifikan dan perlu diperhitungkan. Besar koefisien perpindahan panas total adalah: 43 h 4 3 = hconv hrad h 1 3 ……………………(7)
3 hrad ……………………..(8) 4 4 Ts4 Tsat dinyatakan dengan: hrad = …………. (9) Ts Tsat
jika hrad hconv maka digunakan: h = hconv dimana besaarnya koefisien radiasi hrad
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
4
dimana :
= Emisivitas dari benda padat = Konstanta Stevan-Boltzmann (5,67 x 10-8 W/m2K4) Besarnya laju penguapan air selama pendidihan (Incropera. F.D.1996) :
m dimana ;
qs h fg
....................................................................(10)
= Laju perpindahan panas, (W). = q s
qs
D 2 4
hfg = Panas penguapan, (J/kg). Untuk mengetahui distribusi temperatur untuk tiap ketinggian ketel suling, ketel suling dipandang sebagai sebuah pipa tanpa penutup pada kedua sisinya, dengan fluida panas mengalir didalam pipa. Dengan menganggap temperatur permukaan ketel suling konstan maka berlaku persamaan (Incropera. F.D. 1996) :
Px Ts Tm ( x) exp h ………………….(11) m c Ts Tm,i p dimana :
Ts Tm(x) Tm,i
= Temperatur permukaan pipa, (K). = Temperatur tengah sejarak x, (K). = Temperatur tengah fluida masuk pipa, (K). = Koefisien konveksi rata-rata, (W/m2K). h P = Surface perimeter (P = πD untuk circular tube), (m). Dengan menyatakan laju perpindahan panas total konveksi sebagai qconv, maka (Incropera. F.D. 1996):
qconv m c p Ts Tm,i Ts Tm,o qconv m c p Ti To
………………(12)
qconv h A s Tlm
dimana :
As ΔTlm
= luas permukaan, (m2). = log mean temperature difference, (K).
ΔTlm
=
To Ti …………………(13) T ln o Ti Aliran luar T , ho
Tm,o Tm,i
L
Aliran dalam m hi
x
Gambar 4 Perpindahan panas antara udara luar dengan fluida
Dalam kasus ketel suling, dimana ketel suling bersinggungan dengan udara luar dengan suhu tertentu, ketel suling dapat dianggap sebagai pipa yang bersinggungan dengan udara luar (gambar 4 ). Pada sistem seperti ini persamaan 14 menjadi (Incropera. F.D. 1996) : PL To T Tm,o exp U ........................(14) m c Ti T Tm,i p
dan q U As Tlm ............................(15) dimana : T∞ = Suhu udara luar, (K). U = Koefisien perpindahan panas total (average overall heat (W/m2K).
transfer coefficient),
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
5
3. Perpindahan Panas pada Kondensor Pada pendingin terjadi proses perpindahan panas konveksi yang berkaitan dengan perubahan fase fluida. Perubahan fase yang terjadi adalah proses pengembunan (kondensasi), yaitu perubahan fase dari fase uap menjadi fase cair. Jika suhu suatu plat lebih rendah dari suhu jenuh uap yang berada di sekitarnya, maka akan terjadi kondensasi pada permukaan plat tersebut. Karena adanya pengaruh gaya gravitasi maka embun akan mengalir ke bawah, jika permukaan plat basah karena zat cair, akan terbentuk suatu lapisan yang halus, dan proses ini disebut kondensasi film (film condensation). Jika zat cair tidak membasahi permukaan, maka akan terbentuk tetesan-tetesan yang jatuh dari permukaan secara rambang. Proses ini disebut kondensasi tetes (dropwise condensation). Dalam proses kondensasi film, permukaan plat tertutup oleh film. Film ini merupakan tahanan termal terhadap laju perpindahan panas. Pada kondensasi tetes, tidak semua permukaan plat tertutup lapisan. Ada sebagian permukaan yang terbuka terhadap uap, sehingga laju perpindahan panas lebih tinggi dibanding dengan laju perpindahan panas pada kondensasi film. Analisa kondensasi film pada plat vertikal dengan memperhatikan gambar 5 di samping, dimana: Ts = Suhu plat, (K). Tsat = Suhu uap jenuh, (K). y = Tebal film, (m).
x
Tsat
Ts
y
Gambar 5. Kondensasi film pada plat rata vertikal
Dengan mengabaikan gaya viscous dan distribusi suhu linier antara kondisi uap dan dinding didapatkan (Incropera. F.D. 1996) : q hL ATsat Ts ………………………….(16) dimana: q = Laju perpindahan panas, (W). = Koefisien konveksi, (W/m2K). hL A = Luas penampang plat, (m2). dengan besar laju kondensasi (Incropera. F.D. 1996):
h ATsat Ts q L .......................................(17) hfg hfg dimana h fg h fg 1 0,68 Ja . Ja adalah bilangan tanpa dimensi yang besarnya = m
Ja
C p ,l Tsat Ts
dengan Cp,l adalah panas jenis cairan. h fg Pendingin pada alat penyulingan minyak cengkeh berupa pipa horisontal yang dibenamkan di dalam kolam air. Gambar 6, menunjukkan bagian pipa pendingin, dimana di dalam pipa terjadi kondensasi film. Condensate
Uap
Uap
Condensate
Gambar 6 Kondensasi film pada pipa horizontal
Besarnya koefisien konveksi dari kondesasi pada pipa horizontal adalah ( Incropera. F.D. 1996 ): g v kl 3hfg hD 0,555 l l l Tsat Ts D
1
4
.............................(18)
Persamaan di atas berlaku pada harga angka Reynold yang rendah, yaitu: vU m,v D 35000 ..................................(19) Re D ,i v i
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
6
3 hfg h fg C p ,l Tsat Ts ..................(20) 8
Dengan besar kalor latent (Incropera. F.D. 1996): Untuk harga angka Reynold campuran: 1 l 2 ...........................(21) D Re m
Dengan Rev
Gl Gv v
DGv
v
20000 dan Rel
DGl
l
5000 digunakan
1 hD 0 ,8 0,026 Prl 3 Re m ...... .(22) kl
C. METODE PENELITIAN Variasi pengambilan data untuk analisa : 1. Mengambil data menggunakan alat penyulingan minyak cengkeh konvensional. 2. Mengambil data menggunakan alat penyulingan minyak cengkeh dimana tungku pemanas, ketel suling diisolasi dengan glass wool. Mengambil data menggunakan alat penyulingan minyak cengkeh dimana ketel suling sudah diisolasi START Survey literature dan s urvey lapang a n : 1. Perpustakaan T. Mesin UNS, T. Kimia UNS, Pusat UNS 2. Industri penyulingan minyak cengkeh
Penentuan alat yang bisa digunakan untuk meningkatkan efisiensi penyulingan serta penentuan pendesainan ulang yang bisa dilakukan.
Disepakati
Tidak
Ya Pembuatan alat yang digunakan dan pendesainan konstruksi alat penyulingan minyak cengkeh yang baru
Penentuan alat ukur dan penempatannya
Penerapan teknologi dalam rangka pendesainan ulang, yaitu: 1. Isolasi panas pada ketel suling. 2. Penggunaan alat pemisah minyak cengkeh dari air
Setting peralatan untuk pengambilan data
Pengambilan data sebanyak 3 kali pada konstruksi alat yang berbeda
Analisa Data
Kesimpulan
STOP
Gambar 7. Diagram alir tahapan pendesainan
Prosedur Pengambilan Data 1. Jumlah air yang diperlukan selama penyulingan. Untuk tiga variasi pengambilan data, jumlah air yang dibutuhkan berbeda, karena tergantung dari besarnya energi panas untuk penguapan. 2. Jumlah bahan bakar yang diperlukan selama penyulingan,Jumlah daun cengkeh sekali penyulingan. 3. Jumlah efisiensi minyak cengkeh sekali penyulingan. Setelah minyak cengkeh dipisahkan dari air, minyak cengkeh diukur massanya dengan menggunakan timbangan. Pengukuran berat minyak cengkeh dilakukan pada masing-masing variasi. 4. Temperatur pada masing-masing titik pengukuran.
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
7
Penempatan alat ukur untuk pengambilan data terlihat pada gambar 8
10
8
5
6
4 9
7
13 3 2 1 11
12 14
Gambar 8 Penempatan Alat Ukur.
Keterangan: 1.Temp Dasar Ketel Suling (Heating Surface)
8.Temp dinding plat sebelah dalam (ketel bagian atas) 2.Temp didih air (Saturated Temperature) 9.Temp dinding plat sebelah luar (ketel bagian bawah) 3. Temp uap 10 cm di atas permukaan air. 10.Temp dinding plat sebelah luar (ketel bagian atas) 4. Temp uap 40 cm di atas permukaan air. 11.Temp luar dasar ketel (yang bersinggungan dengan api) 5. Temp uap 80 cm di atas permukaan air. 12.Temp permukaan luar isolasi tungku api 6. Temp uap masuk pendingin. 13.Temp air pendingin 7. Temp dinding plat sebelah dalam (ketel bagian bawah). 14.Temp cairan keluar dari pendingin.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL Dari data pengamatan bisa dibuat trend temperatur pada tiap ketinggian ketel suling. Data yang dibuat trend yaitu pada waktu ke 225 – 300 menit. Data yang labih lengkap bisa dilihat dibawah ini Tabel 2 Distribusi temperatur sepanjang ketinggian ketel suling Ketinggian Ketel Suling x (m) 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
Distribusi Temperatur Sepanjang Ketinggian Ketel Suling Ketel Suling Tidak Diisolasi Ketel Suling Diisolasi Glasswoll 0,02 m Tm(x) (K) 392.00 389.10 387.42 386.09 384.98 384.03 383.20 382.46 379.31
Tm(x) (oC) 119.00 116.10 114.42 113.09 111.98 111.03 110.20 109.46 106.31
Tm(x) (K) 392.00 391.01 390.34 389.81 389.38 389.02 388.72 388.46 388.23
Tm(x) (oC) 119.00 118.01 117.34 116.81 116.38 116.02 115.72 115.46 115.23
Bila hasil perhitungan di atas digambar dalah sebuah grafik grafik pengaruh isolasi pada distribusi temperatur uap tiap ketinggian ketel suling menjadi :
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
8
Temperatur
121,00 Tanpa Isolasi Isolasi GlassWoll 2 cm
114,00 107,00 100,00 0
0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 Ketinggian Ketel Suling
Gambar 9. Grafik pengaruh isolasi pada distribusi suhu sepanjang ketel suling Temperatur Uap pada Ketinggian 0 m PENYULINGAN KONVENSIONAL
Temperatur
105
DENGAN ISOLASI GLASSWOLL 0,02 M
95
85 220
240
260
280
300
Waktu Penyulingan
Gambar 10. Temperatur uap pada ketinggian 0 m dari permukaan air untuk dua variasi penyulingan
Temperatur
Temperatur Uap pada Ketinggian 0,1 m 113
Penyulinga Konvensional n
103
Denga Isolasi n Glaswoll 0,02m
93 83 220
240
260 280 Waktu Penyulingan
300
Gambar 11. Temperatur uap pada ketinggian 0,1 m dari permukaan air untuk dua variasi
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
9
Temperatur Uap pada Ketinggian 0,4 m
Temperatur
111
Penyulingan konvensional
100
Dengan iisolasi
89
78 240
260
280
300
220
Waktu Penyulingan
Gambar 12. Temperatur uap pada ketinggian 0,4 m dari permukaan air untuk penyulingan
Temperatur
Temperatur Uap pada Ketinggian 0,8 m
Penyulingan Konvnsional 98
Dengan Isolasi
88
78 220
240
260 280 waktu Penyulingan
300
Gambar 13.Temperatur uap pada ketinggian 0,8 m dari permukaan air untuk dua variasi penyulingan
Dari grafik di atas bisa dilihat bahwa untuk tiap ketinggian ketel suling, temperatur uap pada penyulingan dengan menggunakan isolasi pada ketel suling memiliki nilai temperatur yang lebih tinggi daripada penyulingan konvensional tanpa isolasi. Bisa disimpulkan bahwa penyulingan dengan isolasi pada ketel suling lebih menjamin tidak terjadinya kondensasi di dalam ketel suling. Tabel 3. Peningkatan rendemen minyakcengkeh pada beberapa kapasitas produksi
No 1 2 3
Kapasitas produksi 65 kg 70 kg 80 kg
Rendemen minyak yang dihasilkan 1,2 kg 1,5 kg 2,0 kg
Peningkatan 25 % 40 %
B. PEMBAHASAN Dari percobaan dengan tiga variasi didapat rendemen minyak yang meningkat untuk tiap variasi. Jumlah peningkatan rendemen minyak serta prosentase rendemen dibanding bahan baku adalah: Tabel 4. Perhitungan kenaikan rendemen minyak cengkeh
No 1 2 3
Rendemen minyak 1,2 kg 1,25 kg 1,35 kg
Prosentase rendemen (1,2/65)kg = 1,846 % (1,25/65)kg = 1,923 % (1,35/65)kg = 2,077 %
Prosentase kenaikan rendemen minyak 4,17% 12,51%
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
10
Untuk mengetahui meningkatnya perekonomian penyuling dilakukan perhitungan sebagai berikut: Harga daun cengkeh per kg = Rp. 350,00 Harga minyak cengkeh per kg = Rp. 30.000,00 Jumlah daun cengkeh dalam satu kali penyulingan = 65 kg Tabel 5. Perhitungan perekonomian penyuling
No 1 2 3
Hasil Penyulingan 1,2 kg 1,25 kg 1,35 kg
Hasil Total Rp. 36.000,00 Rp. 37.500,00 Rp. 40.500,00
Beaya Produksi
Keuntungan
Rp. 22.750,00 Rp. 22.750,00 Rp. 22.750,00
Rp. 13.250,00 Rp. 14.750,00 Rp. 17.750,00
Prosentase kenaikan perekonomian 11% 34 %
Keterangan : 1. Penyulingan konvensional 2. Penyulingan dengan isolasi pada ketel suling saja. 3. Penyulingan dengan isolasi pada ketel suling dan alat pemisah minyak yang sudah didisain ulang
IV. SIMPULAN Dari pendesainan ulang alat penyulingan minyak cengkeh konvensional di desa Wonokeling, Karangannyar dapat disimpulkan bahwa: 1. Tungku pembakaran masih layak untuk digunakan. Tungku pembakaran mampu menghasilkan energi panas dari pembakaran bahan bakar yang cukup untuk mendidihkan air di dalam ketel suling, yaitu sebesar 55650.39 W. Energi panas ini mampu memanaskan heating surface sebesar 469 oC dengan saturated temperature 121 oC. 2. Isolasi yang paling bagus adalah glasswoll dengan ketebalan 0,02 m. 3. Dengan adanya isolasi glasswoll pada ketel suling, gradien temperatur di dalam ketel suling relatif lebih kecil dibanding dengan tanpa isolasi. 4. Dari pendesainan alat penyulingan dengan isolasi glasswoll 0,02 m didapatkan temperatur uap pada puncak ketel suling sebesar 106 oC. Pendesainan menggunakan saturated temperature 111 oC. 5. Dari data pengamatan, pada saturated temperature yang sama (111 oC), penyulingan dengan isolasi glasswoll 0,02 m pada ketel suling didapatkan temperatur puncak ketel suling sebesar 105 oC. 6. Didapatkan rendemen minyak yang meningkat dalam sekali penyuligan dengan bahan baku 65 kg. Untuk pemberian isolasi glasswoll 0,02 m didapatkan peningkatan rendemen 4,17 %. Untuk penggunaan alat pemisah minyak pada ketel yang diisolasi didapatkan peningkatan rendemen minyak sebesar 12,51 %. 7. Dengan peningkatan rendemen minyak cengkeh, untuk penyulingan dengan isolasi ketel didapatkan keuntungan Rp. 14.750,00 (meningkat 11%). Untuk penggunaan alat pemisah minyak pada penyulingan dengan ketel yang diisolasi didapatkan keuntungan Rp. 17.750,00 (meningkat 34%).
V. DAFTAR PUSTAKA [1] Ghozali Muhammad, 2002, ”Alat Penyulingan Minyak Atsiri ”, Fak. Teknik UNS, Surakarta. [2] Guenther Ernest, 1987, ” Minyak Atsiri ”, Universitas Indonesia Press, Jakarta. [3] Holman, J.P. 1994, ”Perpindahan Kalor ”, Erlangga, Jakarta. [4] Incropera, F.P. 1996, ”Fundamental of Heat and Mass Transfer ”, John Willey and Sons, Canada. [5] Muin, S.A. 1988, ”Pesawat-pesawat Konversi Energi I – Ketel Uap ”, Rajawali Pers, Jakarta.
[6] Sastroharnidjojo hardjono,2005, ”Potensi minyak Atsiri Indonesia”, Makalah Workshop Kewira-usahaan UGM dan Ikhimki,Yogyakarta
Jurnal Teknika ATW_Edisi06
11