KEMAMPUAN MANAJERIAL KEPALA M.A. AT-TAHIRIYAH JAKARTA SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh Jamal Ripani NIM: 104018200614
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYTULLAH JAKARTA 2011 M/1432 H
Kata Pengantar Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah swt. Kepada-Nya semua makhluk tunduk atas keperkasaan kuasa-Nya, dan semua hamba saleh mengabdikan diri dihadapan keagungan kehendak-Nya. Shalawat dan salam semoga terus tercurah bagi baginda Muhammad saw., Sang Trainer Sejati, motivator tiada tanding, beserta para keluarga, segenap sahabat, dan semua pengikutnya yang setia. Dengan rahmat dan inayah-Nya, akhirnya penulisan Skripsi ini dapat dirampungkan, meski jalan yang ditempuh begitu panjang, yang kadang menikung dan mendaki, dan bahkan tak jarang berbalik arah dan berhenti. Penulis menyadari, penulisan skripsi ini tak mungkin terwujud tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah menanamkan jasa dan kebaikan budi kepada penulis, diantaranya: 1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak Rusydy Zakaria, M.Ed., M.Phil. Ketua Jurusan Kependidikan Islam dan Bapak Drs. H. Mu‟arif SAM, M.Pd. Katua Program Studi Manajemen Pendidikan serta Ibu Ifah staf Jurusan Kependidikan Islam Manajemen Pendidikan.. 3. Bapak Drs. Mudjahid AK. M,Sc. dosen pembimbing yang dengan sabar dan penuh dedikasi selalu memberikan motivasi, arahan dan bimbingan kepada penulis. 4. Bapak Abdurrahman Sholeh serta Bapak Akbar Zainuddin yang banyak memberikan inspirasi dan semangat bagi penulis. 5. Aris Ahmad Jaya penulis buku “30 Hari Mencari Jati Diri”, alhamdulillah bukunya mampu membangkitkan motivasi untuk melewati “saat-saat kritis” dalam kehidupan.
6. Bapak/Ibu dosen di lingkungan Jurusan KI-Manajemen Pendidikan yang telah memberikan pelayanan, bimbingan berupa pengatahuan, wawasan, dan pengalaman dengan ketulusan dan profesinalisme yang tinggi 7. Pimpinan dan staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiayah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 8. Bapak Drs. Syamsuri Halim M.Ag beserta para dewan guru dan staf tata usaha M.A. At-Tahiriyah Jakarta yang telah memfasilitasi dan meluangkan waktunya untuk melayani
dalam mencari dan menghimpun data yang
diperlukan selama penulisan skripsi. 9. Thabib Muhammad Syah Al-Batawi dan keluarga besar Ibnu-Halim Kalibata atas do‟a dan arahannya. 10. Papa, mama, yang selalu menanyakan kapan skripsi selesai, (akhirnya selesai juga), Ato dan Nek Mami, Om Joy, Mama Cun, Om Ido, Mama Ning, Om Untung, Mama Dida, Om Ihsan, Mana Sila, dan semua keluarga yang ada di Jakarta, Pangkal Pinang dan Banjarmasin yang senantiasa mendo‟akan kesuksesan, kelancaran penyelesaian skripsi ini. 11. K.H Imron Mahmud dan seluruh ustadz serta teman-teman di pesantren yatim Darul Ilmi Banjarbaru atas bantuan dan arahan rohaninya sehingga penulis bisa tenang dan mampu melewati lika-liku dalam penyelesaian skripsi ini. 12. Bapak Fauzi Aseri dan keluarga yang selalu memberi dorongan agar skripsi ini bisa cepat selesai. 13. Sahabat-sahabat yang senasib dan seperjuangan di KI-MP 2004 yang selalu berbagi dalam suka maupun duka Moh Fauzi Ibrahim dan Shalihin Mujiono (tanpa kalian berdua skripsi ini belum selesai hari ini), Sule (Syukran, Mas Bro udh banyak bantu dan nemeninin ane, moga kita ujian bareng), Amin Nasrullah, Ami, Eva, Laily, Mulya, Bunda Shinta, Yus, Juju, Sukhro, Rudi Purwanto (Pak le‟), Da‟i, Rustana, Zahruddin, Pupuy, Edi, Farhanah, Evi, Ridwan Munandar. Semoga persahabatan kita tidak akan lekang oleh waktu dan selalu terjaga kekal sampai akhir hayat kita.
14. Teman-teman Kakamban dan teman-teman di Asrama Mahasiswa Banjar, Nasir, Udin, Fuad, Pani, Indra, Hikam, Hasan, Syafruddin Prawira Negara, Athaillah, Tajud, semoga asrama kita makin maju dan jaya selalu. Akhirnya, kepada Allah swt. jualah penulis serahkan segala urusan. Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan ilmu pengetahuan bidang manajemen pendidikan pada umumnya. Penulis juga sangat mengharapkan saran, pendapat beserta kritikan atas segala kekurangan dalam penulisan skripsi ini.
Cipinang, 1 Mei 2011 M 27 Jumadil Awal 1432 H
Penulis
ABSTRAKSI
Kemampuan manajerial merupakan kunci utama bagi seorang Kepala Sekolah dalam kepemimpinannya agar tujuan dari sekolah tersebut bisa tercapai. Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengevaluasi. Dengan tujuan tujuan organisasi dapat tercapai. Sebagai seorang manajer Kepala Sekolah perlu memiliki keterampilanketerampilan khusus agar kepemimpinannya dapat berjalan dengan baik. Di antara keterampilan khusus tersebut, keterampilan teknis, keterampilan hubungan antar pribadi, dan keterampilan konseptual. Kemampuan manajerial Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta dengan rumusan masalah yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan. Tujuaannya adalah untuk mengetahui Kemampuan manajerial Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan diskriptif. Data diperoleh dari M.A. At-Tahiriyah Jakarta. Sedangkan pengumpulan data diperoleh dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian kemampuan manajerial Kepala M.A. AtTahiriyah Jakarta dalam kepemimpinannya sudah cukup baik. Dengan melakukan segala macam upaya agar mutu pendidikan di M.A. At-Tahiriyah dapat meningkat. Kendala utama yang dihadapi Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta adalah anggaran dana yang kurang memadai. Sehingga banyak rencana-rencana yang mau dilaksanakan tidak terlaksana. Dari uraian di atas sebaiknya kepala sekolah hendaknya lebih bertanggung jawab dalam bertugas membimbing dan mengarahkan para guru. Begitu juga dengan
kepala
sekolah
agar
senantiasa melaksanakan perannya sebagai
edukator, manajer, administrator, supervisor, dan leader. KATA KUNCI : Kemampuan Manajerial, Kepala Sekolah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………...
i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………..
iv
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……………………………
1
B. Identifikasi Masalah …………………………………
8
C. Pembatasan Masalah ……………………………….…
8
D. Perumusan Masalah …………………………………..
8
E.Manfaat Penelitian ……………………………………… 8
BAB II
KAJIAN TEORI A. Kemampuan Manajerial …………………………………10 1. Pentingnya Manajemen ………………………………10 2. Keterampilan Manajemen …………………………17 3. Fungsi Manajerial ………………………………….20 a. Fungsi Perencanaan ………………………………20 b. Fungsi Pengorganisasian………………………
23
c. Fungsi Kepemimpinan……………………………
25
d. Fungsi Pengawasan atau Supervisi………………
28
B. Tugas Kepala Sekolah
……………………………… 28
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A Objek Penelitian ………………………………………. 31 B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ………………………..31 C. Tempat dan Waktu Penelitian …………………………..32 D. Metode Penelitian ……………………………………….32 E. Teknik Pengumpulan Data ………………………………32 F. Teknik Analisis Data ……………………………………33 G. Instrumen Penelitian ……………………………………
BAB IV
34
HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian ……………………35 B. Paparan Hasil Penelitian ………………………………..
BAB V
43
PENUTUP A. Kesimpulan ……………………………………………
54
B. Saran ……………………………………………………
54
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….
56
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Otonomi daerah yang diberlakukan di Indonesia berimbas kepada perubahan model pemerintahan. Begitu pula dalam dunia pendidikan, otonomi daerah telah merubah paradigma dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai perbaikan, antara lain manajemen berbasis sekolah. Manajemen berbasis sekolah pada dasarnya bertujuan untuk memberikan kesempatan yang besar bagi sekolah untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengelola sekolah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah. Hal ini juga memberikan kesempatan kepada masyarakat agar berperan lebih aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah diperlukan adanya kemampuan manajerial yang cukup dan memadai dari kepala sekolah didukung dengan kinerja guru yang professional dalam mengelola pendidikan di sekolah. Madrasah sebagai elemen penting dalam dunia pendidikan di Indonesia juga merasakan dampak dan konsekuensi dari manajemen berbasis sekolah tersebut. Karena itu kemampuan manajerial kepala madrasah juga sangat penting agar madrasah tetap menjadi pilihan dan tidak ditinggalkan masyarakat.
Adanya tuntutan pendidikan pada Era Globalisasi tidak terbatas pada aspek kecerdasan spritual saja, tapi lebih dari itu, siswa juga diharapkan mempunyai kecerdasan emosional, dan intelektual. Karena dengan ketiga kecerdasan inilah seorang manusia disebut ”insan kamil” yang siap bersaing di Era Globalisasi. Mengingat kebutuhan masyarakat terutama siswa di Era Globalisasi dan pasar bebas seperti saat ini bukan hanya terfokus pada kebutuhan spritual saja. Namun tuntutan zaman “memaksa” lembaga pendidikan seperti M.A. AtTahiriyah agar bisa menghasilkan lulusan yang cerdas secara spritual, intelektual, dan emosional. Karena dengan memiliki tiga kecerdasan tersebut diharapkan lulusan M.A. At-Tahiriyah akan mampu bersaing dan memberikan sumbangsih yang besar bagi masyarakat. Dan semua itu akan bisa dicapai jika ada kemauan bersama dari semua pihak yang terkait dengan manajemen di M.A. AtTahiriyah untuk bersama-sama melakukan reformasi dalam lembaga pendidikan tersebut. “Ketidaksiapan madrasah” aliyah dalam menghadapi tuntutan Globalisasi inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat beralih ke sekolah-sekolah yang lebih siap dalam menghadapi tuntutan zaman. Salah satu madrasah aliyah yang mengalami penurunan jumlah murid secara signifikan adalah M.A. At-Tahiriyah. Pada awal berdirinya, yaitu tahun 1968, M.A At-Tahiriyah merupakan madrasah yang cukup terkenal untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pada saat itu jumlah murid mencapai 250 orang pada angkatan pertama. Animo masyarakat dengan penuh kebanggaan mendaftarkan anak-anak mereka untuk di didik di M.A At-Tahiriyah dari wilayah Jakarta, Bekasi, Bogor, Tangerang, dan kota-kota lainnya. Data yang penulis dapatkan sejak tahun 2006 sampai sekarang jumlah murid terus mengalami penurunan. Pada tahun 2006 jumlah murid yang mendaftar di M.A. At-Tahiriyah adalah 34 orang, tahun 2007 adalah 25
orang, tahun 2008 adalah 19 orang, tahun 2009 adalah 10 orang, dan tahun 2010 adalah 18 orang. Penurunan jumlah murid seharusnya tidak terjadi di madrasah aliyah seperti At-Tahiriyah. Karena madrasah aliyah mempunyai kurikulum yang “lebih unggul” mengintegrasikan kurikulum dari Departemen Agama dengan kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional, semestinya madrasah menjadi “pilihan utama” dibandingkan sekolah-sekolah umum lainnya. Secara historis M.A. At-Tahiriyah berada di bawah naungan lembaga yang dipimpin oleh tokoh sangat terkenal di Jakarta dan sekitarnya, yaitu K.H. Tohir Rohili. Dengan keunggulan yang dimiliki, sangat disayangkan jika kemudian M.A. At-Tahiriyah harus ditinggalkan masyarakat. Islam juga mempunyai pandangan yang sangat luas terhadap model pendidikan. Hal ini seharusnya bisa dijadikan alasan bagi para kepala madrasah aliyah agar lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi siswanya agar mendapat bekal yang cukup dan memadai ketika selesai menempuh pendidikan dari madrasah aliyah. Pendidikan Islam bukanlah hanya untuk mewariskan paham atau pola keagamaan hasil internalisasi generasi tertentu kepada anak didik. Pendidikan Islam jangan memperlakukan anak didik sebagai konsumen dari sebuah paham atau gugusan ilmu-ilmu tertentu, melainkan harus mampu memberikan fasilitas yang memungkinkan dia menjadi produsen ilmu dan membentuk pemahaman agama dalam dirinya yang kondusif dengan zaman. 1 Menghadapi tuntutan zaman yang semakin komplek, M.A. At-Tahiriyah diharapkan mampu untuk mereformasi diri agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Dalam arti mampu berupaya untuk memperbaiki hal-hal yang kurang sesuai menjadi sesuai dengan kebutuhan. Mengingat kebutuhan masyarakat, terutama siswa, di era globalisasi dan persaingan bebas seperti saat ini bukan hanya terfokus pada kebutuhan spiritual saja, namun tuntutan zaman “memaksa” lembaga pendidikan Islam
1
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, ( Jakarta: Kencana, 2003), h. 167
seperti M.A. At-Tahiriyah agar bisa menghasilkan lulusan yang cerdas secara spiritual, intelektual, dan emosional. Ketiga kecerdasan tersebut haruslah selaras dan seimbang agar tidak ada ketimpangan. Siswa yang cerdas secara spiritual saja tidak akan maksimal dalam pengabdiannya di masyarakat karena hanya menguasai persoalan agama saja. Begitu pula siswa yang cerdas secara intelektual saja, kecerdasannya terasa hampa tanpa dilandasi dengan ilmu agama yang memadai. Kecerdasan emosional penjadi pelengkap bagi kecerdasan spiritual dan intelektual. Di samping keterampilan teknis untuk mendukung pelaksanaan tugasnya. Lembaga pendidikan diharapkan mampu untuk memberikan pendidikan yang dibutuhkan. Untuk itu perlu dilakukan reformasi dalam model pendidikan tersebut sehingga kebutuhan-kebutuhan dunia pendidikan pada saat ini dapat terpenuhi. Beberapa karakteristik reformasi dalam suatu bidang tertentu, yaitu adanya keadaan yang tidak memuaskan pada masa yang lalu, keinginan untuk memperbaikinya pada masa yang akan datang, adanya perubahan besarbesaran, adanya orang yang melakukan (aktor) reformasi, adanya pemikiran atau ide-ide baru, adanya sistem dalam suatu institusi tertentu baik dalam skala kecil seperti sekolah maupun dalam skala besar seperti negara sekalipun.2 Kepala sekolah merupakan aktor yang bisa memulai perubahan di sekolah. Kepala M.A. At-Tahiriyah mempunyai peran penting agar M.A. AtTahiriyah kembali menjadi sekolah yang diperhitungkan di Jakarta. Kemampuan manajerial sangat diperlukan agar semua potensi yang dimiliki sekolah dapat dikelola dan dimanfaatkan demi kemajuan pendidikan di M.A. At-Tahiriyah. Kemampuan manajerial kepala M.A. At-Tahiriyah sangat diharapkan untuk meningkatkan kembali jumlah murid di M.A. At-Tahiriyah. Peran dari seorang kepala sekolah dengan kemampuan manajerial yang mencukupi sangat dibutuhkan sebagai agen perubahan di lingkungan M.A.At-Tahiriyah 2
Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah Teori, Model, dan Aplikasi, (Jakarta: Grasindo, 2003), cet.ke-2, h. 33
agar terjadi reformasi menuju At-Tahiriyah yang lebih bermutu dan “merebut” kepercayaan masyarakat. Masyarakat sebagai user sekaligus sebagai mitra M.A. At-Tahiriyah tentu sangat berharap melihat perubahan-perubahan yang signifikan di lingkungan M.A. At-Tahiriyah. Dan perubahan-perubahan tersebut bisa dimulai dari kepala M.A. At-Tahiriyah. Segala macam upaya perbaikan perlu dilakukan agar M.A. At-Tahiriyah kembali menjadi pilihan utama orang tua dalam menyekolahkan anaknya. Upaya-upaya tersebut memang telah dilakukan oleh kepala M.A. AtTahiriyah, namun sampai saat ini upaya-upaya tersebut belum mencapai hasil yang diharapkan. Penurunan jumlah murid terus terjadi. Sebagai seorang pemimpin di sekolah, kepala M.A. At-Tahiriyah diharapkan mampu mengelola agar proses perbaikan dapat berjalan sesuai dengan harapan. Dengan kepemimpinan yang baik, kepala sekolah bisa memberikan pengaruhnya terhadap bawahan agar melakukan hal-hal positif bagi kemajuan sekolah. Keberadaan kepala sekolah dengan kepemimpinannya akan bisa membawa dampak besar bagi kemajuan M.A. At-Tahiriyah. Kepala sekolah, selaku pemimpin seharusnya mampu “menekankan pengaruhnya yang kuat terhadap orang lain untuk membimbing, membuat struktur, memfasilitasi aktivitas dan hubungan di dalam kelompok atau organisasi.”3 Kemajuan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan manajerial kepala sekolah. Dengan kemampuan manajerial yang dimiliki kepala sekolah ia akan mampu untuk mengarahkan bawahannya untuk mengikuti petunjuk dan arahan yang ia berikan. Sehingga cita-cita pendidikan yang diinginkan bisa tercapai dengan hasil maksimal. Bawahan atau karyawan tidak bisa dipandang sebagai robot yang harus bekerja sesuai dengan keinginan atasan. Kemampuan seorang manajer dalam “memanusiakan” karyawan sangat penting agar kepuasan kerja dapat dicapai. Bawahan tentu tidak hanya semata-mata mengharapkan bayaran dari pekerjaan yang dilakukan. Karyawan yang sudah mapan dalam ekonomi akan 3
Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, (Jakarta: Indeks, 2005), h. 3
menjadikan bayaran sebagai sesuatu yang tidak penting dalam pekerjaannya, tapi kepuasan dalam bekerja menjadi tujuan. Kalau kita perhatikan di pesantren-pesantren
tradisonal
banyak
ustadz
yang
mengajar
hanya
bermodalkan keikhlasan. Namun mereka tidak pernah mengeluh dan tetap semangat mengajar. Mereka akan merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika santrinya lulus dan sukses mengabdi di masyarakat. Sebaliknya karyawan yang taraf ekonomi lemah mengharapkan bayaran yang sesuai dan tepat waktu. Setelah bertahun-tahun, penaksiran tentang pentingnya bayaran untuk memanajemeni organisasi mengalami berbagai perubahan. Pertama, bayaran dianggap sebagai cara utama, atau satu-satunya cara untuk memotivasikan orang-orang untuk bekerja. Kemudian bayaran dianggap tidak terlalu penting. Akhir-akhir ini, para ahli ilmu keperilakuan sekali lagi menunjukan kesadaran akan pentingnya bayaran. Barangkali sebagai akibat perubahan dalam pandangan, ada kemungkinan untuk melihat bayaran dengan pandangan yang lebih realistik dan seimbang. Bayaran dapat dia dianggap sebagai penting dalam dua hal: 1. Untuk memelihara perdamaian industri, untuk menghindari rasa ketidakadilan dan kekecewaan. 2. Untuk membantu memenuhi berbagai kebutuhan para anggota organisasi jika diurus dengan baik. 4 Kemampuan manajerial kepala sekolah sangat penting artinya demi kemajuan sekolah. Output dari sekolah diharapkan mampu bersaing di segala bidang. Sayang sekali sebagian sekolah seperti M.A At-Tahiriyah akhir-akhir ini
mulai
ditinggalkan
masyarakat..
Padahal
madrasah
menjanjikan
kemampuan lebih bagi lulusannya. Lulusan madrasah diharapkan tidak hanya menguasai di bidang agama saja, tapi juga mampu bersaing dalam bidang keilmuan lainnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan zaman, tuntutan masyarakat terhadap sebuah lembaga pendidikan semakin tinggi pula. M.A. At-Tahiriyah tidak hanya dituntut untuk bisa melahirkan generasi yang mempunyai bekal imtaq saja, namun juga menguasai iptek sebagai bekal menghadapi tantangan Era Elobalisasi. Ketidaksiapan sekolah dalam
4
Dov Elizur, Evaluasi Pekerjaan, ( Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo, 1991), h. 19
menghadapi
persaingan
di
Era
Globalisasi
inilah
yang
kemudian
menyebabkan penurunan jumlah murid di M.A. At-Tahiriyah. Kondisi tersebut tentunya merupakan tantangan dan tanggung jawab yang besar bagi kepala sekolah yang ada sekarang untuk mengembalikan kejayaan dan kebesaran M.A At-Tahiriyah sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas yang dulu pernah dimiliki. Jumlah murid yang sedikit merupakan tantangan tersendiri bagi kepala sekolah. Ini akan memicu kreatifitasnya agar bisa memajukan M.A. AtTahiriyah kembali. Kemampuan manajerial merupakan hal mutlak yang harus dimiliki agar bisa mengarahkan bawahannya untuk bekerja lebih baik lagi. Apa pun jenis pekerjaan yang dilakukan, profesi apa pun, di mana pun pekerjaan dan profesi dilaksanakan, keberhasilan ditentukan oleh ketegaran dalam melewati tantangan, dan tidak surutnya tekad untuk memecahkan permasalahan. Permasalahanlah yang memberikan peluang kepada setiap orang untuk mencapai keberhasilan.5 Dengan adanya permasalahan maka akan menjadikan kreatifitas dan kemampuan seseorang semakin bertambah. Pengalaman merupakan guru terbaik untuk mencapai kemajuan. Jadi permasalahan yang ada harus dipandang sebagai bahan pelajaran yang akan menjadikan hidup lebih maju di masa yang akan datang. Permasalahan yang dihadapi M.A. At-Tahiriyah yang disebabkan oleh semakin menurunnya jumlah murid justru merupakan sebuah tantangan bagi segenap personel yang ada di M.A. At-Tahiriyah. Kepala sekolah sebagai manajer berada di garda terdepan untuk memimpin para guru dalam memajukan sekolah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Kemampuan Manajerial Kepala M.A. AtTahiriyah Jakarta”
5
Erry Riyana, Hardjapamekas, Esensi Kepemimpinan Mewujudkan Visi Menjadi Aksi, (Jakarta: Elex Komputindo, 2000), h. 124
B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis mengidentifikasikan masalah yaitu: Bagaimana Kepala Sekolah M.A. At-Tahiriyah dalam melakukan fungsinya sebagai manajer
yang meliputi perencanaan,
pengorganisasian,
pengawasan
kepemimpinan,
dan
dalam
usaha
meningkatkan jumlah murid di M.A. At-Tahiriyah.
C. Pembatasan Masalah Untuk lebih memfokuskan penulis pada penelitian ini dan untuk menghindari kesalahan penafsiran. Maka penulis perlu membatasi penelitian ini
pada
aspek
perencanaan,
pengorganisasian,
kepemimpinan
dan
pengawasan yang dilaksanakan Kepala M.A. At-Tahiriyah.
D. Perumusan Masalah Mengingat beragamnya permasalahan yang ada, untuk memudahkan pemprosesan penelitian ini, penuis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
“Kemampuan
manajerial
yang
meliputi
perencanaan,
pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan yang dilaksanakan kepala M.A. At-Tahiriyah.
E. Manfaat Penelitian. Penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut: 1. Bagi kepala M.A. At-Tahiriyah, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan masukan
yang positif untuk dapat melaksanakan
kepemimpinan dengan lebih baik agar madrasah yang dipimpin lebih maju lagi dan berkontribusi yang berarti bagi bangsa ini. 2. Bagi para pembaca, diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan terhadap manajemen sekolah.
3. Bagi peneliti, dengan melakukan penelitian ini diharapkan peneliti bertambah informasi serta wawasan tentang manajemen sekolah yang baik dan benar.
BAB II KAJIAN TEORI
A. Kemampuan Manajerial 1. Pentingnya Manajemen Kemampuan manajerial yang dimiliki seorang kepala madrasah merupakan hal penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan kemajuan madrasah yang dipimpinnya. Dengan kemampuan manajerial yang cukup, yang meliputi kemampuan teknik, kemampuan berinteraksi dengan lingkungan, serta kemampuan untuk membuat konsep yang jelas bagi kemajuan madrasah yang dipimpinnya maka kepala madrasah akan mampu menggerakan seluruh potensi yang dimiliki madrasah demi kemajuan yang diharapkan. Kemampuan berinteraksi dengan para guru juga sangat penting agar kualitas kinerja serta profesionalitas para guru di madrasah bisa terus ditingkatkan untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Salah satu kunci suksesnya kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin untuk berinteraksi. Seandainya Anda berkeinginan untuk dapat berinteraksi dengan baik terhadap saya, istri Anda, anak Anda, tetangga Anda, atasan Anda, rekan sejawat, atau pun teman-teman Anda, maka rumus pertama yang patut diperhatikan adalah: Anda harus memahami mereka terlebih dahulu. Untuk itu, Anda tidak bisa hanya menguasai tekniknya sematamata, karena bila Anda cenderung hanya ”memanfaatkan” teknik
tertentu saja, maka kemungkinan besar saya akan ”menirunya”, dan bahkan memanipulsainya!6 Mempunyai kemampuan berinteraksi yang baik dengan guru atau bawahan sangat penting bagi kepala madrasah agar mampu mencapai hasil yang maksimal dalam kepemimipinannya. Tanpa adanya interaksi yang baik akan sulit bagi kepala madrasah meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran para guru di sekolah. Adapun tentang gaya kepemimpinan yang efektif adalah mampu memelihara hubungan baik dengan bawahannya. Ia harus mengenal bawahannya dengan mengetahui kepentingan-kepentingan yang dapat menimbulkan motivasi bekerja untuk memperoleh kepuasan kerja.7 Kepuasan merupakan motivasi utama manusia dalam beraktifitas. Tidak semua motivasi berhubungan dengan materi. Salah satu kepuasan guru adalah ketika melihat kesuksesan yang diraih muridnya. Baik itu kesuksesan ekonomi mau pun dari prestasi yang diraihnya. Begitu pula dalam pendirian madrasah ada motivasi yang melandasinya. Madrasah pada awal berdirinya didasari dari berbagai macam motivasi. Motivasi yang paling mendasar adalah untuk menyebarkan ajaran agama, motivasi ekonomi karena berkaitan dengan ketenagakerjaan, dan juga motivasi politik. Berbicara tentang asal mula didirikannya madrasah maka kita tidak akan bisa melupakan sejarah berdirinya madrasah tertua yaitu Madrasah Nizamiyah. Madrasah ini didirikan pada abad kelima Hijriyah (ke-11 Masehi) oleh Nizam Al-Mulk. Dari kajian tentang pertumbuhan Madrasah Nizamiyah, dan mengikuti sejarah perkembangannya, kami dapat menentukan tiga tujuan utamanya: Pertama, menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi pemikiran Syi‟ah; Kedua, menyediakan guru-guru Sunni yang cakap untuk mengajarkan madzhab Sunni dan menyebarkannya ke tempat6
Erry Riyana, Hardjapamengkas, Esensi Kepemimpinan Mewujudkan Visi Menjadi Aksi, ( Jakarta: Elex Media Komputindo, 2000), h.60 7 Tholib Kasan,Teori &Aplikasi Administrasi Pendidikan,(Jakarta: Studia Press) h. 10
tempat lain; Ketiga, membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantornya, khususnya di bidang peradilan dan manajemen.8 Sejak awal berdirinya madrasah telah jelas bahwa pendidikan di madrasah bukan hanya bertujuan untuk membentuk manusia yang cerdas secara spritual saja, tapi kecerdasan intelektuan dan emosional juga diberikan. Oleh karenanya madrasah-madrasah di zaman sekarang diharapkan lebih maju dan mampu mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan zaman. Hal ini bisa terwujud dengan pengorganisasian yang baik di madrasah. Organisasi, baik itu yang bergerak dalam bidang bisnis, pendidikan, pemerintahan atau dalam bidang apapun, tidak akan bisa lepas dari manajemen. Manajemen berfungsi untuk mengarahkan semua potensi yang ada dalam organisasi agar bisa bekerja secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Berbicara tentang pentingnya manajemen, T. Hani Handoko menjelaskan ada tiga alasan diperlukannya manajemen. a. Untuk mencapai tujuan. Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan pribadi. b. Untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Manajemen dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatankegiatan yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi. c. Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Suatu kerja organisasi dapat diukur dengan banyak cara yang berbeda. Salah satu cara yang umum adalah efisiensi dan efektivitas.9
Efisiensi adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dengan maksimal dengan menggunakan sumber daya yang sesuai. Sedangkan efektivitas adalah kemampuan untuk memilih alat atau sumber daya yang 8
H. Maksum, Madrasah Sejarah & Perkembangannya, ( Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, cet. II), h. 61 9 T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 1995), cet.ke-9, edisi kedua, h. 6
sesuai untuk mencapai tujuan. Melakukan sesuatu yang benar dengan cara yang benar sangat penting bagi sebuah organisasi, karena hal ini akan bisa mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu. Manajemen berfungsi untuk mengatur semua itu. Melalui sebuah organisasi maka potensi-potensi yang ada disatukan untuk kemudian diatur agar bisa menghasilkan gol yang diinginkan. Dalam sebuah organisasi tentu ada aturan-aturan yang harus ditaati dan dilaksanakan secara bersama-sama. Organisasi terbentuk karena adanya tujuan yang ingin dicapai secara bersama-sama. Namun di dalam organisasi itu sendiri terdapat orangorang yang mempunyai kepentingan yang beragam. Manajer berfungsi untuk mengarahkan tujuan-tujuan pribadi agar tidak bertolak belakang dengan tujuan organisasi. ”Manajemen pada hakekatnya merupakan suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha para anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. ‟‟10 Manajemen
adalah
”proses
merencanakan,
mengorganisasikan,
memimpin dan mengendalikan usaha anggota-anggota organisasi serta pendayagunaan seluruh sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.”11 Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.12
10
E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), cet. 8, h.103 11 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya, h. 93 12 T. Hani Handoko, Manajemen, h. 8
Manajemen adalah fungsi dewan manajer (biasanya dinamakan manajemen), untuk menetapkan kebijakan (policy) mengenai apa macam produk yang akan dibuat, bagaimana pembiayaannya, memberikan servis serta melatih pegawai, dan lain-lain faktor yang mempengaruhi kegiatan suatu usaha. Lebih-lebih lagi manajemen bertanggung jawab dalam membuat suatu susunan organisasi untuk melaksanakan kebijakan itu.13 Dari beberapa pengertian tentang manajemen yang dikemukakan para ahli di atas, dapat dipahami bahwa definisi manajemen hampir sama. Yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan merupakan hal penting dalam manajemen. Tujuan dari manajemen adalah agar sasaran atau tujuan organisasi bisa tercapai. Manajemen merupakan hal penting dalam proses pencapaian hasil yang
diinginkan.
Organisasi
terdiri
dari
individu-individu
yang
mempunyai keinginan yang berbeda-beda pula. Namun dalam organisasi yang yang harus diutamakan adalah kepentingan dan tujuan organisasi. Manajemen berperan untuk mengarahkan agar potensi yang ada dalam organisasi efektif dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam organisasi sekolah, kepala sekolah berperan sebagai manajer mempunyai
tugas
mengarahkan
guru
agar
mampu
memberikan
pembelajaran yang maksimal agar anak didik dapat mencapai hasil yang diinginkan, baik ke dunia kerja atau pun untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ini sangat ditentukan oleh perencanaan pendidikan yang dibuat oleh kepala sekolah yang dibantu dengan kinerja para guru yang maksimal. Kepala sekolah mempunyai peran sentral dalam organisasi sekolah. Kemajuan dan kemunduran sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan manajerial kepala sekolah. Dengan kemampuan manajerial yang baik, maka semua potensi yang dimiliki sekolah akan dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan sekolah.
13
M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), cet. ke-13, h.6
Kemampuan manajerial tidak hanya sebatas mengatur kerja karyawan saja. Seorang manajer juga mempunyai kemampuan untuk memahami keadaan psikologis bawahan. Pandai untuk merasakan apa yang dirasakan oleh bawahan. Sehingga karyawan akan merasakan atmosfer kerja yang nyaman dan tidak tertekan. Namun bukan berarti tekanan dalam pekerjaan menjadi tidak penting. Karena banyak karyawan yang tidak bisa berprestasi sebelum ditekan oleh atasan. Hal ini menuntut manajer agar bisa mengelola tekanan dengan sebaik-baiknya agar menghasilkan energi yang positif
bagi kemajuan
organisasi. Kemajuan organisasi tidak akan tercapai hanya bermodalkan sumber daya yang berkualitas saja. Tapi yang terpenting adalah bagaimana manajer mampu mengelola sumber daya tersebut dengan baik. Artinya menempatkan
seseorang
dengan
pekerjaan
yang
sesuai
dengan
kemampuannya. Untuk menempatkan orang yang tepat dengan pekerjaan yang sesuai manajer terlebih dahulu melakukan analisis terhadap pekerjaan tersebut. Setelah dilakukan analisis terhadap pekerjaan maka akan bisa ditentukan deskripsi jabatan. Deskripsi jabatan adalah pernyataan-pernyataan tertulis yang meliputi tugas-tugas, wewenang, tanggung-jawab dan hubungan-hubungan lini ( baik ke atas atau ke bawah ). Sedangkan spesifikasi jabatan merupakan pernyataan-pernyataan tertulis yang menunjukkan kualitas minimum karyawan yang dapat diterima agar mampu menjalankan suatu jabatan dengan baik. Spesifikasi jabatan berisi identifikasi jabatan, kondisi-kondisi pekerjaan suatu jabatan, dan kualifikasikualifikasi personalia ( atau persyaratan-persyaratan kerja ) yang diperlukan bagi seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan sukses. Bagi pekerjaan-pekerjaan rutin dan tingkatan manajemen rendah, sebaiknya juga dinyatakan standar maksimum yang dapat diterima untuk mencegah seseorang menjadi ”overqualified” dan muncul ketidak-puasan.14
14
T. Hani Handoko, Manajemen, ( Yogyakarta : BPFE, 1995 ), cet. Ke- 9, h. 236
Dalam lingkup M.A. At-Tahiriyah, potensi yang dimiliki sekolah untuk maju cukup besar. At-Tahiriyah sudah mempunyai nama dan dikenal dikalangan masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Lokasi sekolah sangat strategis, yaitu dekat dari stasiun kereta dan terminal bus. Kemudian M.A. At-Tahiriyah secara struktural berada dibawah naungan Lembaga Pendidikan Islam At-Tahiriyah yang mempunyai sekolah dari tingkat TK sampai perguruan tinggi. Potensi-potensi ini merupakan modal untuk kemajuan M.A. At-Tahiriyah. Kepala sekolah sebagai manajer di sekolah berperan untuk mengarahkan semua potensi yang dimiliki tersebut agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal pendanaan, At-Tahiriyah sebagai madrasah dibawah lembaga yang sudah cukup terkenal dan mempunyai jaringan yang luas baik itu di kalangan masyarakat biasa mau pun kalangan pemerintah tentunya bukan merupakan hal yang sulit untuk menggalang dana bagi keperluan madrasah. Peran kepala sekolah sebagai manajer sangat penting agar dana yang ada bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kemajuan madrasah. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif, memberi kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.15 Keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan sangat penting agar program yang dilaksanakan dapat berjalan dengan maksimal. Keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan akan menambah rasa memiliki dalam diri setiap tenaga kependidikan sehingga mereka akan lebih memberikan kontribusi yang besar bagi suksesnya keberhasilan program yang dilaksanakan.
15
E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, h.103
Kepala sekolah sebagai manajer akan mengarahkan sumber daya yang ada di sekolah untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk meningkatkan kemampuan personel, maka kepala sekolah dapat memberikan kesempatan bagi tenaga kependidikan mengikuti pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan kemampuan manajerial yang baik, kepala sekolah akan dapat mengetahui
kebutuhan
apa
saja
yang
diperlukan
oleh
anggota
organisasinya dan bisa merumuskan tindakan apa yang harus dilakukan agar kekurangan tersebut bisa diatasi. Disinilah kemampuan konseptual seorang
manajer
berperan
untuk
melihat
kebijakan
yang
akan
dilaksanakan. Pentingnya manajemen dalam organisasi sudah mutlak adanya. Tidak akan tercipta kemajuan organisasi tanpa adanya manajemen yang baik. Manajemen berfungsi untuk mengarahkan organisasi agar dapat mencapai sasaran yang diinginkan.
2. Keterampilan Manajemen Pemimpin tidak sama dengan bawahan dari bidang keahlian dan keterampilan. Pemimpin dipilih karena ia memiliki kelebihan dari yang dipimpin. Karena seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar dari bawahannya. Tugas utama seorang pemimpin adalah bagaimana ia bisa untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Cita-cita dan tujuan sebuah organisasi adalah amanah dan tanggung jawab yang besar untuk bisa diwujudkan dengan keterampilan manajemen dari seorang pemimpin. Karena itu ada keterampilan khusus yang harus dimilikinya, yaitu: 1. Keterampilan Teknis: Pengetahuan tentang metode, proses, prosedur dan teknik untuk melakukan aktivitas khusus, dan kemampuan untuk
menggunakan peralatan dan perangkat yang relevan dengan aktivitas tersebut.16 Manajer yang baik adalah manajer yang bisa melakukan atau setidaknya memahami apa yang ia perintahkan kepada bawahan. Sebelum memberikan perintah kepada bawahan seorang pemimpin terlebih dahulu memahami dan mampu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Penguasaan terhadap hal-hal teknis akan menjadikan seorang manajer lebih dihargai dan dihormati oleh bawahannya. Selain itu, penguasaan terhadap keterampilan teknis juga berguna agar manajer bisa mengawasi, dan mengevaluasi program yang dilaksanakan. Selain berguna untuk mengawasi dan mengevaluasi pekerjaan yang telah diberikan, penguasaan terhadap hal-hal teknis juga berguna agar pemimpin mengetahui dan memahami tingkat kesulitan dari pekerjaan tersebut. Sehingga dalam memberikan tugas bisa memilih orang yang tepat dan sesuai untuk pekerjaan tersebut. Keterampilan teknis merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh para manajer dalam melaksanakan tugasnya. Tanpa penguasaan terhadap keterampilan teknis, maka sangat sulit bagi manajer dapat melaksanakan tugas-tugasnya. 2. Keterampilan Hubungan Antar Pribadi: Pengetahuan tentang perilaku manusia dan proses hubungan antarpribadi; kemampuan untuk memahami perasaan, sikap, dan motif dari orang lain dari apa yang mereka katakan dan lakukan. (empati, sensitivitas sosial,); kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif (kefasihan bicara, persuasif); dan kemampuan untuk membuat hubungan yang efektif dan kooperatif (kebijaksanaan, diplomasi, keterampilan mendengarkan, pengetahuan tentang perilaku sosial yang dapat diterima).17 Kesuksesan kerja organisasi diawali dari kenyamanan hubungan antar pribadi yang ada dalam organisasi. Manajer berperan untuk 16
Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi ,h.213
17
Gary Yukl, KepemimpinanDalam Organisasi ,h.213
membuat suasana menjadi nyaman. Pengetahuan yang baik terhadap suasana hati karyawan sangat penting agar manajer dapat mengambil tindakan yang tepat. Selain itu manajer juga dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan baik terhadap semua komponen yang ada di lingkungan organisasi. Pemahaman terhadap suasana hati bawahan sangat penting bagi pimpinan. Dengan memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh bawahan maka pimpinan akan bisa memperlakukan bawahan dengan bijaksana dan adil sehingga tidak menilai bawahan semata-mata dari prestasi yang diraihnya. Hubungan emosional sangat penting bagi keharmonisan antara pimpinan dan bawahan. Alasan utama kenapa banyak kantor tidak memiliki emosi yang sehat atau stabil adalah bahwa manajemen tidak tahu apa yang dipikirkan karyawan atau bagaimana mereka merasakan terhadap lingkungan kerja. Peluang jarang diberikan kepada karyawan untuk membicarakan cara membuat hubungan kantor lebih baik dan apa yang diperlukan
untuk
membuat
tim
kerja.
Jika
kondisi
kantor
memungkinkan untuk berbagi rasa, karyawan biasanya punya banyak saran tentang bagaimana mencapai iklim kerja yang lebih baik.18 Suasana kerja yang penuh dengan rasa kekeluargaan dan kebersamaan sangat penting untuk membangun rasa kesetiaan dalam organisasi. Komunikasi yang terjalin harmonis akan menjadikan karyawan lebih terbuka dengan permasalahan yang dihadapi sehingga manajer akan lebih mudah mencari solusi.
3. Keterampilan Konseptual: kemampuan analitis umum; pemikiran logis; kefasihan dalam pembentukan konsep dan konseptualisasi hubungan yang kompleks dan ambigu; kreatifitas dalam pembuatan ide dan pemecahan masalah; dan kemampuan untuk menganalisis peristiwa dan merasakan tren, antisipasi perubahan, dan mengenali kesempatan dan potensi masalah (pemikiran induktif dan deduktif).19 18 19
Patricia Patton, EQ Keterampilan Kepemimpinan ( Mitra Media, 2002), h 72. Gary Yukl, Kepemimpinan Organisasi ,h.213
Manajer merupakan ujung tombak terdepan dalam sebuah organisasi. Karena itu kepekaan dan kemampuan seorang manajer dalam membuat sebuah kebijakan sangat penting. Kepekaan dalam melihat keadaan yang sedang terjadi akan menjadikan organisasi bisa mengatasi hal-hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Menghadapi era globalisasi dan pasar bebas, kreatifitas dan ide-ide baru dari manajer sangat diperlukan agar organisasi yang dipimpinnya dapat terus bersaing. Globalisasi menyebabkan kebutuhan masyarakat juga berubah. Perubahan-prubahan seperti inilah yang harus diantisipasi oleh manajer dengan ide-ide baru dan menghadirkan kebutuhan yang diinginkan oleh masyarakat. Keterampilan konseptual akan menjadikan manajer mampu untuk mengenali masalah-masalah atau tantangan yang ada. Dengan tantangan itulah manajer mendapatkan ide-ide baru dan memberikan pelayanan kreatif yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kreatifitas manajer akan menghasilkan ide dan gagasan yang berkualitas dalam rangka mengenali masalah dan mencari solusi dari masalah tersebut.
3. Fungsi Manajerial Seorang kepala sekolah harus memahami fungsi-fungsi manajerial agar ia dapat menerapkan dalam kepemimpinannya di sekolah. Penguasaan terhadap fungsi-fungsi manajerial sangat penting sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan seorang kepala sekolah. Fungsi-fungsi manajerial itu meliputi; perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan atau supervisi.
a. Fungsi Perencanaan Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua kegiatan dalam suatu organisasi karena tanpa perencanaan maka kegiatankegiatan lainnya dalam organisasi seperti pengorgaganisasian,
kepemimpinan, dan pengawasan atau supervisi tidak akan bisa dilaksanakan. Dengan perencanakan maka tujuan organisasi dapat terlihat dengan jelas sehingga akan mempermudah mengatur strategi dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang diinginkan. Kegiatan apapun yang dilakukan memerlukan sebuah perencanaan yang baik agar apa yang dilakukan bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Tanpa perencanaan sebuah kegiatan tidak akan mencapai hasil maksimal dan bisa sangat mmngkin mengalami kegagalan. Dalam membuat perencanaan, yang harus dilakukan adalah semua komponen yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Manajer sebelum membuat perencanaan harus mengumpulkan data, menganalis data, dan membuat keputusan. Perencanaan berarti bahwa para manajer memikirkan kegiatankegiatan mereka sebelum dilaksanakan. Berbagai kegiatan ini biasanya didasarkan pada berbagai metode, rencana atau logika, bukan hanya atas dasar dugaan atau firasat.20 Perencanaan (planning), adalah 1) pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi dan 2) penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. 21 Perencanaan merupakan suatu langkah persiapan dalam pelaksanaan suatu pekerjaan untuk mencapai tujuan tertentu. Tanpa perencanaan atau planning, pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Di dalam setiap perencanaan ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu faktor tujuan dan faktor sarana, baik sarana personel maupun material.22 Perencanaan sangat penting artinya dalam sebuah kegiatan organisasi. kesuksesan sebuah kegiatan berawal dari perencanaan. Perencanaan berfungsi sebagai alat kontrol dan petunjuk arah kegiatan. 20
T. Hani Handoko, Manajemen, h. 9
21
T. Hani Handoko, Manajemen, h. 23 Tholib Kasan, Teori & Aplikasi Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Studi Press), h. 19
22
Dari perencanaan akan bisa dilihat sumber daya apa yang diperlukan untuk menunjang kesuksesan apa yang akan dilaksanakan. Perencanaan terkait dengan apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakan, siapa yang akan mengerjakan, kapan akan dikerjakan, dan dimana akan dikerjakan. Dengan demikian dapat ditetapkan apa dan siapa saja yang harus dilibatkan dalam sebuah kegiatan. Organisasi perencanaan berhubungan dengan penetapan tujuan organisasi, penentuan sumber, dan hambatan dalam mencapai tujuan, dan penentuan langkah untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Secara jelas, langkah-langkah untuk menentukan perencanaan adalah: 1. Menentukan tujuan yang akan dicapai. 2. Mengadakan penelitian masalah. 3. Mengumpulkan data. 4. Menentukan langkah yang akan ditempuh dalam upaya pencapaian tujuan. 5. Mencari upaya pemecahan masalah dan penyelesaian pekerjaan. Adapun syarat-syarat dalam membuat perencanaan adalah: 1. Memliki tujuan yang jelas, namun sederhana, dan bersifat praktis. 2. Menghindari sikap untung-untungan dalam menentukan perencanaan dan menghindari adanya penduplikasian perencanaan. 3. Mengoordinasikan kegiatan yang akan dilakukan sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. 4. Mengatur pelaksanaan kegiatan berdasarkan urutan kepentingan masing-masing sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara satu kegiatan dengan keiatan yang lainnya. 5. Melakukan penghematan tenaga, biaya, dan waktu dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dengan sebaik-baiknya dan menyesuaikan kegiatan dengan jumlah dana yang tersedia.23 Perencanaan bisa mengantisipasi akibat yang akan timbul dalam pelaksanaan kegiatan. Dengan perencanaan bisa diukur kendalakendala yang akan dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan. Sejak awal kegiatan, kendala yang akan dihadapi sudah diantisipasi sehingga kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dan mencapai hasil yang diinginkan. 23
Yusak Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), h.53
Agar tercapai hasil yang maksimal dalam sebuah kegitana, manajer terlebih dahulu menentukan metode atau cara yang sesuai dengan kegiatan. Metode yang baik akan bisa mencapai hasil yang maksimal jika dilaksanakan oleh orang yang sesuai dan mempunyai kemampuan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
b. Fungsi Pengorganisasian Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Hal itulah menyebabkan manusia cenderung untuk mengelompokkan diri dalam satu organisasi. Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya kelompok, yaitu aktivitas-aktivitas,
interaksi-interaksi,
dan
sentimen-sentimen
(
perasaan atau emosi ). Tiga elemen pembentuk kelompok tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Semakin banyak aktivitas-aktivitas seseorang dilakukan dengan orang lain ( shared ), semakin beraneka interaksiinteraksinya, dan juga semakin kuat tumbuhnya sentimensentimen mereka. 2. Semakin banyak interaksi-interaksi di antara orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktivitas-aktivitas dan sentimen yang ditularkan ( shared ) pada orang lain. 3. Semakin banyak aktivitas dan sentimen yang ditularkan pada orang lain, maka semakin banyak kemungkinan ditularkannya aktivitas dan interaksi-interaksi.24 Kumpulan individu-individu yang membentuk kelompok organisasi ini membutuhkan seorang pemimpin atau manajer untuk mengarahkan dan mengorganisir agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Tanpa adanya pemimpin atau manajer kelompok individu tersebut belum dapat dinyatakan sebagai organisasi. Seorang manajer tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh bawahannya dalam melakukan pekerjaan. Maka agar pekerjaan itu bisa 24
Daniel Goleman, dkk, Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi, ( Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2006 ), h. 81
berjalan dengan baik manajer harus bisa memanfaatkan semua sumber daya manusia yang ada dalam organisasi untuk melaksanakan suatu pekerjaan. manajer diharapkan mampu menempatkan seseorang sesuai dengan keahliannya. Penempatan seseorang pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya inilah salah satu manfaat pengorganisasian. Organisasi-organisasi adalah peralatan sosial dan teknologi yang dapat dicapai untuk mencapai tujuan-tujuan yang kompleks yang tidak mungkin dilaksanakan oleh orang perorangan. Organisasiorganisasi tersebut dapat dipandang sebagai unit-unit di mana terjadi proses input-input tertentu dari suatu lingkungan untuk tujuan penciptaan output-output khusus yang diperlukan oleh masyarakat berupa barang-barang dan jasa-jasa.25 Sekolah merupakan salah satu bentuk organisasi yang di dalamnya terjadi proses pembelajaran untuk menghasilkan output-output yang nantinya berguna di masyarakat. Sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang jasa sekolah diharapkan mampu memberikan kepuasan bagi masyarakat. Dalam sekolah, pengorganisasian semua potensi sekolah untuk mencapai
kemajuan
sangat
diperlukan.
Kepala
sekolah
bisa
bekerjasama dengan oran tua murid dalam rangka upaya meningkatkan prestasi murid. Bisa juga memanfaatkan alumnus untuk menambah kegiatan di sekolah. Potensi-potensi yang dimiliki sekolah hanya akan berdaya guna jika mampu didayagunakan dengan baik oleh kepala sekolah sebagai manajer. Kreatifitas dan kepekaan kepala sekolah dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki sekolah sangat penting bagi kemajuan sekolah. Sumber daya sekecil apa pun harus bisa berguna bagi kemajuan sekolah. Kemampuan kepala sekolah dalam membuat konsep terhadap apa yang akan dilakukannya demi kemajuan sekolah merupakan modal penting yang harus dimiliki.
25
Basir Barthos, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), h. 1
c. Kepemimpinan Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk berbuat guna mewujudkan tujuan-tujuan yang sudah ditentukan. Kepemimpinan selalu melibatkan upaya seseorang (pemimpin) untuk mempengaruhi perilaku seseorang pengikut atau para pengikut dalam suatu situasi.26 Pemimpin berperan agar semua potensi yang ada dalam organisasi dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin agar dapat digunakan
dalam
mencapai
tujuan
yang
telah
ditetapkan.
Kepemimpinan sangat erat hubungannya dengan manusia, karena manusia merupakan sumber daya terpenting dalam sebuah organisasi. Manusia yang menetapkan tujuan organisasi, dan manusia pula yang mengupayakan agar tujuan organisasi tersebut dapat tercapai. Kompleksitas sifat manusia inilah yang kemudian harus diarahkan oleh seorang pemimpin agar dapat secara bersama-sama menuju tujuan yang telah ditetapkan. Inilah yang menjadikan adanya seorang pemimpin dalam organisasi sangat penting. Namun pemimpin itu sendiri tidak lahir dengan sendirinya. Pemimpin bisa lahir dari beberapa faktor. Seorang pemimpin bisa lahir dari lingkungan, artinya lingkungan seseorang menjadikannya sebagai pemimpin. Ini bisa terjadi jika seseorang aktif dalam kegiatankegiatan organisasi. ini biasanya disebut teori tabularasa. Pemimpin bisa juga karena memang ia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Artinya sejak lahir ia sudah mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin. Ini disebut dengan teori bakat. Atau pemimpin bisa lahir 26
M. Manullang, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Andi Offset,1987), jilid I, h. 127
dari dua faktor tersebut. Artinya, seseorang yang mempunyai bakat sejak lahir menjadi pemimpin kemudian lingkungan juga mendukung bakat tersebut. Dalam organisasi sekolah terdapat berbagai macam latar belakang individu dengan berbagai macam keahlian dan keterampilan masingmasing.
Kepala
sekolah
sebagai
pemimpin
bertugas
untuk
mengarahkan semua potensi yang ada untuk bisa dimanfaatkan dengan maksimal dalam upaya mencapai tujuan-tujuan organisasi. Walaupun sebuah organisasi mempunyai sumber daya yang berkualitas. Namun jika tidak ada kepemimpinan yang baik maka sumber daya tersebut tidak akan efektif dalam mencapai tujuan. Keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual saja, tapi dalam kepemimpinan modal yang paling penting adalah kecerdasan emosional. Para pemimpin besar bekerja dengan melibatkan emosi. Seperti yang diingatkan oleh Albert Einstein,” Kita harus berhatihati agar kita tidak mendewakan intelek. Tentu saja intelek mempunyai kekuatan tetapi tidak memiliki kepribadian. Intelek tidak bisa memimpin, intelek hanya bisa melayani.”27 Pemimpin yang ingin sukses tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual saja. Orang yang cerdas secara intelektual saja tidak akan mampu untuk menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin (leader) yang sukses adalah pemimpin yang melibatkan emosi dalam kepemimpinannya. Dengan emosi seorang pemimpin akan bisa membawa dampak positif bagi kemajuan organisasi. Salah satu contoh pemimpin sukses adalah Napoleon Bonaparte yang sukses memimpin Perancis selama 14 tahun. Napoleon bukanlah seorang yang terkenal, ia hanya perwira rendah. Salah satu kunci 27
Daniel Goleman, Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), cet. 4, h. 31
keberhasilan
dari
kepemimpinannya
adalah
kemampuan
menyampaikan perintah dengan cepat dan tepat. Kecepatan dalam bertindak adalah syarat utama keberhasilan dalam peperangan. Kecepatan dalam perencanaan dan pelaksanaan. Kecepatan akan hilang akibat keraguan terhadap persiapan dan pendistribusian perintah yang diperlukan. Perintah panjang yang memerlukan waktu persiapan, pembacaan dan pemahaman yang lebih lama adalah musuh kecepatan. Napoleon mampu mengeluarkan perintah dalam sejumlah kalimat pendek tetapi dapat menggambarkan keinginannya dan hanya memerlukan waktu singkat untuk dipahami.28 Kemampuan pemimpin untuk membaca situasi dan mengambil tindakan terhadap situasi tersebut sangat penting. Yang lebih penting lagi adalah kecepatan dan ketepatan pimpinan dalam menyampaikan perintah terhadap bawahan. Perintah yang cepat dan tepat adalah awal dari keberhasilan pekerjaan yang akan diberikan. Banyak bawahan yang gagal dalam melaksanakan tugas bukan disebabkan karena ketidakmampuannya, tapi karena perintah yang diberikan tidak jelas sehingga membuat bingung bawahan. Hal yang tidak kalah penting dari seorang pimpinan adalah kemampuannya untuk menjadi contoh bagi bawahannya dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji. Pendekatan sifat-sifat sangat diperlukan dalam kepemimpinan pendidikan, mengingat bahwa kepala sekolah dan guru-guru ataupun para pendidik lainnya perlu memiliki sifat-sifat yang baik yang sesuai dengan norma-norma yang dituntut oleh pendidikan. Sebagai pendidik, guru dan pendidik lainnya diharapkan dapat menjadi suri teladan, dapat memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak-anak didiknya. Kepala sekolah dituntut agar memiliki sifat-sifat yang baik untuk dapat memberikan bimbingan dan sekaligus memberi contoh kepada guru-guru dan para siswanya. 29
28
Conrad H. Lanza, Napolen dan Strategi Perang Modern,( Jakarta : Komunitas Bambu, 2010 ), h.19 29 M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, ( Bandung : Rosdakarya, 2004 ), h. 45
Sudah menjadi sifat manusia bahwa mencontoh sifat-sifat yang dilihat lebih mudah dilakukan daripada harus melakukan hal yang belum pernah dilihat. Karena itu seorang pimpinan adalah contoh terbaik bagi bawahannya.
d. Pengawasan atau Supervisi Supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.30 Efektifitas pembelajaran di sekolah akan dapat dirasakan jika ada pengawasan yang cukup dari kepala sekolah. Dengan adanya pengawasan maka akan diketahui kendala dan permasalahannya apa saja yang ada dalam pelaksanaan program-program pendidikan yang telah direncanakan. Pengawasan dalam pendidikan akan berdampak pada perbaikan hal-hal yang belum sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kalau dalam pengawasan ternyata guru-guru belum maksimal dalam memberikan pelajaran maka kepala sekolah bisa mengambil tindakan dengan menambah sarana yang mendukung pembelajaran atau bisa juga dengan memberikan peatihan kepada guru-guru. Karena tujuan pengawasan
dalam
pendidikan
pada
dasarnya
adalah
ingin
menciptakan perbaikan dalam proses pendidikan. Memimpin merupakan sebuah pekerjaan yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual saja. Pemimpin yang baik adalah yang mampu merasakan apa yang dirasakan oleh bawahannya. Kepekaan terhadap situasi dan kondisi yang sedang dihadapi bawahan akan menjadikan pimpinan lebih dihargai dan disegani bawahannya.
30
Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, h.76.
B. Tugas Kepala Sekolah Pengertian kepala sekolah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Kepala sekolah adalah orang yang memimpin suatu sekolah, guru sekolah”.31 Sedangkan pengertian kepala sekolah menurut penulis adalah seseorang yang mempunyai keterampilan khusus yang telah ditetapkan oleh sekolah maupun pemerintah untuk melaksanakan kepemimpinan di sekolah. Kepala
sekolah
mempunyai
tanggung jawab
terhadap
keberhasilan
pelaksanaan program-program di sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1999 dikemukakan bahwa kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Paradigma pendidikan yang memberikan kewenangan luas kepada kepala sekolah seperti dalam konteks saat ini, akan lebih mudah melakukan pengembangan terhadap berbagai potensinya yang ada. Akan tetapi pengembangan itu memerlukan peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam berbagai aspek manajerialnya, agar dapat tercapai tujuan sesuai dengan visi dan misi yang diemban sekolahnya. Keberhasilan program-program yang dijalankan sekolah tidak lepas dari peran kepala sekolah untuk mengoptimalkan peran guru-guru di sekolah. Agar guru-guru dapat
memberikan pembelajaran
yang baik maka
pengetahuan dan kemampuan guru-guru perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan. Penguasaan dan kemampuan melaksanakan kompetensi secara prima dalam arti efektif dan efisien menempatkan pekerjaan atau jabatan guru dan dosen sebagai sebuah profesi. Sehubungan dengan itu, relevan sekali penegasan bahwa profesionalisme dalam suatu jabatan/pekerjaan ditentukan oleh tiga faktor penting; pertama, memiliki keahlian khusus 31
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1990).
yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesialisasi;kedua, kemampuan untuk memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus yang dikuasai); ketiga, penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian khusus yang dimilikinya.32 Kepala sekolah mempunyai tugas merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengoordinasikan, mengawasi, dan mengevaluasi seluruh kegiatan pendidikan di sekolah dengan perincian sebagai berikut: a. Mengatur proses belajar mengajar: 1. Program tahunan, semesteran, caturwulan berdasarkan kalender pendidikan. 2. Jadwal pelajaran tahunan, per semesteran, per caturwulanan termasuk penetapan jenis mata pelajaran/keterampilan dan pemabagian tugas baru. 3. Program satuan pelajaran ( teori dan praktek ) berdasarkan buku kurikulum. 4. Pelaksanaan jadwal satuan pelajaran ( teori dan praktek ) menurut alokasi waktu yang telah ditentukan berdasarkan kalender pendidikan. 5. Pelaksanaan ulangan/tes hasil evaluasi belajar untuk kenaikan EBTA. 6. Penyusunan kelompok murid/siswa berdasarkan norma kepengurusan. 7. Penyusunan nama penilaian. 8. Penetapan kenaikan kelas. 9. Laporan kemajuan hasil belajar murid/siswa. 10. Penetapan dalam peningkatan proses belajar mengajar. b. Mengatur administrasi kantor. c. Mengatur administrasi murid/siswa. d. Mengatur administrasi pegawai. e. Mengatur administrasi perlengkapan. f. Mengatur administrasi keuangan. g. Mengatur administrasi perpustakaan. h. Mengatur pembinaan kemuridan / kesiswaan. i. Mengatur hubungan dengan masyarakat.33
32
33
Asrorun Ni’am Sholeh, Membangun Profesionalitas Guru, (Jakarta: Elsas, 2006), h. 101 Yusak Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 1998 ) h. 29
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Obyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah orang-orang yang terkait di dalam masalah yang sedang penulis angkat antara lain Kepala Sekolah, guru, dan karyawan di M.A At-Tahiriyah Jakarta.
B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kegunaan manajemen yang telah dilaksanakan oleh Kepala sekolah M.A. At-Tahiriyah dalam usaha untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan di lingkungan M.A.AtTahiriyah. Penelitian ini berguna sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah dalam rangka menerapkan manajemen sekolah agar sekolah yang dipimpin menjadi sekolah yang berkualitas sesuai dengan harapan masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan. Diharapkan dengan adanya penelitian ini manajemen di M.A. At-Tahiriyah semakin berkembang dan sesuai dengan harapan. Sehingga M.A. At- Tahiriyah bisa maju dan berkembang seperti yang diharapkan dan memberikan sumbangsih yang berarti bagi pendidikan di Indonesia.
C. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di M.A. At-Tahiriyah Jakarta. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari 2010- Maret 2011.
D. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan deskriptif analisis, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan penelitian lapangan terhadap obyek yang dituju untuk memperoleh dan mengumpulkan data yang diperlukan. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah obsevasi, dokumentasi dan wawancara Data yang ingin diperoleh melalui observasi langsung ini adalah pemerincian tentang kegitan, tindakan dan interaksi petugas perpustakaan. Adapun data yang ingin diperoleh melalui dokumentasi adalah catatan dan tulisan tentang kegiatan yang terjadi di M.A. At-Tahiriyah Jakarta.
E. Sumber Data Sedangkan yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah pihak yang terkait langsung serta mengetahui terhadap permasalahan, yaitu kepala sekolah, guru, dan karyawan di lingkungan M.A. At- Tahiriyah Jakarta.
F. Teknik Pengumpulan Data
1.
Observasi 0bservasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek di tempat terjadinya atau berlangsungnya peristiwa.34
34
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), h. 158
Dalam hal ini peneliti akan melakukan observasi di M.A. AtTahiriyah Jakarta. Dalam melakukan observasi peneliti melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistemik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Adapun pengamatan dan pencatatan yang dilakukan tidak pada saat peristiwa berlangsung yang akan diteliti. Observasi dilakukan pada saat penelitian sebelum penelitian dimulai sebagai data awal. Dan pada saat penelitian berlangsung.
2.
Dokumentasi Teknik dokumentasi ditunjukkan pada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber-sumber yang outentik atau dokumendokumen lain yang dibutuhkan dilapangan. Teknik ini diperlukan untuk memperkuat data yang diperoleh dengan upaya menelaah data yang berkaitan dengan kinerja Kepala M.A. At- Tahiriyah Jakarta. Data yang diperoleh dari dokumen ini berupa catatan dan tulisan, seperti arsi-arsip. Dan juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil atau hukum-hukum, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.
3. Wawancara Teknik
wawancara
merupakan
salah
satu
cara
untuk
mengumpulkan data dalam suatu penelitian kualitatif. Dalam teknik ini, peneliti melakukan wawancara langsung dengan pihak yang terkait serta mengetahui terhadap permasalahan yang sedang dibahas di M.A. AtTahiriyah Jakarta. Adapun teknik yang digunakan dalam wawancara ini ada dua, yaitu wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur ditujukan kepada guru dan guru M.A. At- Tahiriyah Jakarta. Sedangkan
wawancara tidak terstruktur ditujukan kepada Kepala M.A. At- Tahiriyah Jakarta.
G. Teknik Analisis Data Dalam melakukan analisis data peneliti akan menggunakan teknik analisis non statistik. Hal ini disebabkan karena penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif akan mengajak orang untuk melihat hal yang diteliti secara mendasar dan mendalam. Teknik analisis data merupakan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang mudah dibaca dan diinterpretasikan. Adapun metode yang digunakan peneliti adalah metode deskriptif analisis untuk data atau informasi yang diperoleh dari lapangan yang berupa observasi, dokumentasi, dan wawancara. Data yang diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara disajikan dalam bentuk diskripsi tentang kegiatan yang terjadi ditempat penelitian yaitu di M.A. At- Tahiriyah Jakarta.
G. Instrumen Penelitian Kisi-kisi Instrumen Fokus
Dimensi
Kemampuan
a. Perencanaan
Indikator
Program Sekolah
Penetapan kebutuhan
b. Pengorganisasian
Penempatan SDM
c. Kepemimpinan
Program pembinaan
Penerimaan dan penempatan
Strategi evaluasi
Manajerial Kepala Sekolah
d. Evaluasi
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Obyek Penelitian 1. Sejarah Berdirinya M.A. At-Tahiriyah Jakarta
Madrasah Aliyah At-Tahiriyah yang berlokasi di Jl. KH Abdullah Syafii no 68 Bukit duri Tebet Jakarta Selatan adalah lembaga pendidikan yang berdiri tahun 1968. Saat ini pendidikan tersebut dilengkapi dengan fasilitas 7 lokal ruang kelas, 2 ruang laboratorium, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang kepala madrasah, dan 1 kantor guru. Fasilitas-fasilitas yang ada tersebut digunakan untuk menunjang proses belajar-mengajar di M.A. At-Tahiriyah. Dengan fasilitas yang memadai diharapkan pembelajaran semakin mudah dan dapat memenuhi kebutuhan siswa tidak hanya dibidang ilmu pengetahuan saja tapi juga nilainilai agama. Sesuai dengan prinsip madrasah untuk memberikan nilai-nilai baik ditengah masyarakat kita, dan mencegah hal-hal buruk dengan memberikan pengertian-pengertian dengan pendekatan ajaran agama terutama akhlakul karimah (budi pekerti yang baik). Madrasah aliyah At-Tahiriyah berada di bawah naungan lembaga pendidikan yang cukup terkenal di Jakarta dan sekitarnya. Berbicara masalah sejarah madrasah aliyah At-Tahiriyah tentunya tidak bisa dilepaskan dari Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah At-Tahiriyah. Madrasah aliyah At-Tahiriyah merupakan madrasah yang melengkapi
jenjang-jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah At-Tahiriyah (LPIAA). Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah At-Tahiriyah (LPIAA) merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyelenggarakan pendidikan baik pendidikan formal mau pun nonformal. Dalam menyebarkan dakwah Islam, Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah At-Tahiriyah selain menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal juga melakukan dakwah melalui media radio. Pengajian umum juga dilaksanakan setiap Sabtu pagi yang dihadiri oleh kaum ibu yang datang dari Jakarta dan sekitarnya. Untuk lebih memberikan pelayanan yang baik dalam bidang dakwah LPIAA juga menyelenggarakan jasa bimbingan haji dan umroh. Nama Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah At-Tahiriyah (LPIAA) ini sendiri diambil dari nama pendirinya yaitu KH. Muhammad Thohir Rohili. Pada awal berdirinya tanggal 21 Januari tahun 1951 lembaga pendidikan ini diberi nama Madrasah Diniyah. Tanggal tersebut kemudian menjadi tahun lahirnya Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah AtTahiriyah (LPIAA). Lulusan pertama yang dikeluarkan Madrasah Diniyah yaitu pada tahun 1957 dengan mengikuti ujian di Sekolah Rakyat (sekolah pemerintah). Lembaga pendidikan mulai berkembang pada dekade enam puluhan. Pada tahun 1966 didirikan Madrasah Tsanawiyah atau setingkat SMP. Pada tahun 1967 juga didirikan pesantren yang khusus mengkaji kitab kuning, namun pada saat ini pesantren kitab kuning tersebut sudah ditutup. Pada tahun 1968 didirikan Raudatul Athfal atau Taman Kanak-Kanak. Pada tahun 1968 juga didirikan pengajian umum bagi kaum bapak dan kaum ibu. Pada tahun tersebut juga didirikan Madrasah Aliyah At-Tahiriyah. Pada tahun 1969, kemajuan LPIAA semakin disempurnakan dengan didirikannya Perguruan Tinggi yang diberi nama Universitas Islam AtTahiriyah (UNIAT). Pada awal berdirinya Universitas Islam At-Tahiriyah (UNIAT) hanya memiliki dua fakultas, yaitu Adab dan Tarbiyah. Kemudian
pada tahun 1987 dapat dibuka Fakultas Syari‟ah, Ushuluddin, Hukum, Ekonomi, dan Teknik. Untuk lebih melebarkan dakwah, dengan bantuan para donator maka pada tahun 1972 didirikan cabang di Cipinang Besar dengan menyelenggarakan Madrasah Ibtidaiyah. Pada tahun 1974 dibuka cabang di Pejaten,
menyelenggarakan
pendidikan
Madrasah
Ibtidaiyah
dan
Tsanawiyah. Pada tahun 1975 dibuka cabang di Cakung dengan menyelenggarakan pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, dan kursus Bahasa Arab. Pada tahun 1979 dibuka cabang di Ciracas dengan menyelenggarakan Madrasah Diniyah Awaliyah dan Taman Kanak-Kanak. Dari gambaran umum diatas kita dapat melihat bahwa Madrasah Aliyah At-Tahiriyah berada dibawah naungan lembaga pendidikan yang besar. History tentang kejayaan At-Tahiriyah harus dijaga dan dibangun kembali oleh generasi penerus. Madrasah Aliyah At-Tahiriyah sebagai salah satu unsur pembangun kejayaan LPIAA juga harus dapat menjaga kualitas dan kuantitas pendidikan. Profil M.A. At-Tahiriyah PROFILE MADRASAH Nama Madrasah
: MA Attahiriyah
Alamat
: Jl. KH Abdullah Syafii no 68 Bukit Duri Tebet Jakarta Selatan
NPSN
: 20102822
NSM
: 312317170023
Nama Kepala MA
: Drs. Syamsuri Halim MAg
Nama Bank
: BRI Kebon Baru
No Rekening
: 3307-01-000961-50-6
Atas Nama
: Madrasah Aliyah Attahiriyah
No MPWP Yayasan
: 01.337.039.0-015.000
Jumlah siswa/I
: 170 Siswa
2. Visi, Misi, dan Tujuan M. A. At-Tahiriyah Jakarta a. Visi M.A At-Tahiriyah Jakarta Unggul dalam IMTAQ (Iman dan Taqwa) dan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) pada era globalisasi dengan tetap mengetengahkan akhlak yang mulia.
b. Misi M.A. At-Tahiriyah Jakarta 1. Membentuk peserta didik yang memiliki ketakwaan terhadap Allah Yang Maha Esa. 2. Mewujudkan kegiatan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan. 3. Mengembangkan sikap dan kepribadian yang santun, beretika dan berestetika tinggi. 4. Mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. 5. Membentuk peserta didik yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang TIK ( Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan bahasa. Adapun pemahaman penulis mengenai misi diatas dapat dikemukakan sebagai berikut, yaitu: 1. Melayani masyarakat dalam memberikan jasa pendidikan yang berkualitas
dengan
mengedepankan
kecerdasan
spiritual,
intelektual, dan emosional. 2. Mengupayakan anak didik agar mampu berdaya saing di Era Globalisasi dalam rangka menghadapi tuntutan perubahan zaman. 3. Memberikan jasa pendidikan yang terbaik bagi masyarakat dengan prinsip pelayanan prima dengan cara mengoptimalkan peran para pendidik c. Tujuan M.A. At-Tahiriyah Jakarta
1. Melaksanakan pembinaan ketakwaan terhadap Allah Yang Maha Esa. 2. Melaksanakan pembelajaran yang efektif. 3. Mengembangkan kompetensi peserta didik dalam bidang IPTEK. 4. Menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi secara nasional mau pun global. 5. Memberi bekal pengetahuan dan keterampilan di bidang TIK dan Bahasa yang bermanfaat pada Era Globalisasi.
KOMPOSISI KEANGGOTAAN KOMITE SEKOLAH MA ATTAHIRIYAH PUSAT Ketua
: Rona Amalia
: Orang Tua Siswa
Anggota
:1. Drs Syamsuri Halim MAg
: Kepala Sekolah
2. Drs Ahmad Syakur Budi
: Wakil Kepal Sekolah
3. Tuti Alawiyah Sag
: Unsur Guru
4. Killie Arisandi
: Kaur Pemerintah Kelurahan Bukit Duri
5. Drs Syafiq Muchlis
: Tokoh Masyarakat
6. Agus Salim
: Wali Murid
7. Siti Zubaidah
: Siswa
Jakarta, 20 Juli 2010
Komite Sekolah
Kepala MA Attahiriyah
Rona Amalia 3. Fasilitas dan Sarana Pembelajaran
Drs. Syamsuri Halim MAg
Madrasah Aliyah At-Tahiriyah mempunyai fasilitas yang cukup memadai. Fasilitas yang cukup memadai ini antara lain ruang kelas, ruang laboratorium, ruang perpustakaan, ruang serbaguna, dan tempat ibadah. Fasilitas-fasilitas tersebut sebagian besar merupakan fasilitas milik LPIAA. M.A. At-Tahiriyah sendiri berada di lantai tiga gedung LPIAA. Keadaan Sarana dan Prasarana Madrasah Aliyah At-Tahiriyah Jakarta No
Bangunan
Ket.
Jumlah
Kondisi
1
Ruang kelas
Ada
7
Baik
2
Ruang perpustakaan
Ada
1
Baik
3
Ruang Komputer
Ada
1
Baik
4
Ruang serba guna
Ada
1
Baik
5
Lab. Bahasa
Ada
1
Baik
6
Lab. IPA
Ada
1
Baik
7
Ruang kepala sekolah
Ada
1
Baik
8
Ruang wakil kepala sekolah
Ada
1
Baik
9
Ruang guru
Ada
1
Baik
10
Ruang tata usaha
Ada
1
Baik
11
Ruang WC guru
Ada
1
Baik
12
Ruang WC siswa
Ada
2
Baik
13
Ruang UKS
Ada
1
Baik
14
Ruang OSIS
Ada
1
Baik
15
Sarana Ibadah
Ada
1
Baik
16
Ruang Gudang
Ada
1
Baik
17
Pos Jaga
Ada
1
Baik
18
Gedung Olahraga
Ada
1
Baik
19
Lapangan Upacara
Ada
1
Baik
Sarana dan fasilitas yang ada jika dimanfaatkan dengan maksimal akan memberi manfaat yang besar bagi kemajuan pendidikan. Namun
penggunaan perlengkapan tersebut bukan asal menggunakan saja, harus sesuai dengan kebutuhan dan tujuan dari materi yang disampaikan. Bahwa dalam menggunakan media pendidikan sebagai alat komunikasi khususnya dalam hubungannya dengan masalah proses belajar mengajar, kiranya harus didasarkan pada kriteria pemilihan yang objektif. Sebab penggunaan media pendidikan tidak sekedar menampilkan program pengajaran ke dalam kelas. Karena harus dikaitkan dengan tujuan pengajaran yang akan disampaikan, strategi kegiatan belajar mengajar dan bahan.35 Keberadaan
perlengkapan
bukan
berarti
menjamin
mutu
pendidikan otomatis menjadi meningkat. Namun perlengkapan tersebut hanya sebagai media untuk menunjang. Hal yang terpenting adalah sumber daya manusia yang menggunakannya. Ada
beberapa
hal
yang perlu
diperhatikan
guru
dalam
menggunakan media pendidikan untuk mempertinggi kualitas pengajaran : 1. Guru perlu memiliki pemahaman media pendidikan antara lain jenis dan manfaat media pendidikan, menggunakan media sebagai alat bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam proses belajar. 2. Siswa, guru terampil membuat media pendidikan sederhana untuk keperluan pengajaran, terutama media dan dimensi atau media. 3. Grafis, dan beberapa media tiga dimensi, dan media proyeksi. Pengetahuan dan keterampilan dalam menilai keefektifan penggunaan media dalam proses pegajaran. Menilai keefektifan media pendidikan penting bagi guru agar ia bisa menentukan apakah penggunaan media mutlak diperlukan atau tidak selalu diperlukan dalam pengajaran sehubungan dengan prestasi belajar yang dicapai siswa. Apabila penggunaan media pendidikan tidak mempengaruhi proses dan kualitas pengajaran, sebaliknya guru tidak memaksakan penggunaannya, dan perlu mencari usaha lain di luar media pendidikan.36 4. Kegiatan Ekstra Kulikuler 35
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2003 ), h. 238 36 Harjanto, Perencanaan Pendidikan, h. 239
Kegiatan ekstra kulikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan diluar jam pelajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah. Kegiatan ekstra kulikuler di M.A. At-Tahiriyah sebagian besar dilaksanakan oleh pengurus OSIS dengan bimbingan guru-guru. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman siswa. Hal tersebut juga berguna untuk persiapan siswa mengabdi kepada masyarakat. Adapun kegiatan-kegaiatan ekstra kulikuler yang dilaksanakan di M.A. At-Tahiriyah, yaitu: 1. Paskibra 2. Pramuka 3. Rohis 4. Taekwondo 5. Kegiatan olahraga 6. Seni baca Al-Qur‟an 7. Seni Qosidah 8. Seni Marawis Selain berguna untuk mengembangkan dan menyalurkan bakat siswa, kegiatan ekstra kulikuler juga berguna sebagai sarana promosi sekolah secara tidak langsung. Masyarakat akan semakin mengenal M.A. At-Tahiriyah dari siswa-siswa yang mengabdi di masyarakat. Sampai sekarang telah banyak alumni M.A. At-Tahiriyah yang mengabdikan diri di masyarakat dengan mengandalkan bakat yang diasah melalui ekstra kulikuler. Selain itu kemampuan siswa juga bisa diikutkan dalam perlombaan-perlombaan yang diadakan oleh sekolah atau perguruan tinggi yang ada di sekitar Jakarta. Kreatifitas dan minat siswa sangat tersalurkan dengan adanya kegiatan ekstra kulikuler. Hal ini akan berpengaruh positif terhadap perkembangan siswa. Karena kreatifitas yang tidak tersalurkan dengan baik bisa saja berubah menjadi energi-energi negatif yang akhirnya menyebabkan siswa terjebak ke dalam pergaulan-pergaulan yang
merugikan. Apalagi pada saat ini dunia remaja sangat mudah terpengaruh terhadap hal-hal yang baru mereka ketahui.
B. PAPARAN HASIL PENELITIAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang Kemampuan Manajerial Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta, penelitian ini penulis banyak mendapatkan informasi dan data melalui beberapa instrumen pengumpulan data yaitu dokumentasi dan wawancara yang penulis lakukan di M.A.AtTahiriyah Jakarta. Wawancara sendiri peneliti lakukan dengan responden
Kepala
Sekolah, guru, dan Bagian Tata Usaha M.A.At-Tahiriyah dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana Kepala Sekolah M.A. At-Tahiriyah dalam melakukan fungsinya sebagai manajer
yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
kepemimpinan, dan pengawasan di M.A. At-Tahiriyah. Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan.
1. Kemampuan
Kepala
M.A.
At-Tahiriyah
dalam
Membuat
Perencanaan. Dalam membuat perencanaan Kepala M.A. At-Tahiriyah selalu terlebih dahulu melihat kebutuhan apa yang paling diperlukan oleh sekolah untuk segera dilaksanakan. Turun dan melihat langsung situasi dan kondisi sehari-hari di sekolah memudahkan Kepala Sekolah untuk menganalisis kebutuhan yang harus diprioritaskan. Berikut ini adalah hasil wawancara dengan Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta, yaitu: “…saya selalu melibatkan guru-guru dalam perencanaan karena saya tidak mungkin bekerja sendiri dalam melaksanakan program tanpa dukungan guru-guru. Nah, kalau program yang akan dilaksanakan melibatkan siswa, misalnya mengadakan kegiatan ke luar sekolah, maka saya melibatkan pengurus dan guru Pembina OSIS. Kalau Lembaga biasanya cukup saya beritahu kalau perencanaan tersebut sudah matang. Biasanya kalau kegiatan yang membutuhkan dana banyak sering tidak diizinkan.
Komite sekolah juga kami libatkan karena mereka ini sangat menunjang bagi program yang akan dilaksanakan sekolah. Kerjasama dari semua pihak selalu saya libatkan dalam perencanaan.” Wawancara diatas diperkuat dengan hasil dokumentasi yang diperoleh dari MA At-Thahiriyah sesuia dengan rencana strategis Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta:
Dokumentasi Program pengembangan MA At-Thahiriyah: Program Pengembangan MA. At-tahiriyah Jakarta Sasaran Pertama Peningkatan Rata-rata Nilai Ujian Nasional ( UN ) dari 8.61 menjadi 9.00 Rencana : Peningkatan Rata-rata Nilai Ujian Nasional ( UN ) sebesar 1.49 Program : 1. Mengadakan bimbingan belajar Rincian Program : a. Menentukan guru pembimbing b. Membuat jadwal c. Membuat dan mempersiapkan modul d. Mengumpulkan soal - soal dari tahun sebelumnya dan internet e. Pelaksanaan setiam malam dari jam 20.30 s/d 21.30 Program : 2. Peningkatan mutu Pendidikan Rincian Program : a. Sosialisasi dan penyusunan program sekolah b. Pelaksanaan kegitatan belajar mengajar c. Mengikuti lomba-lomba mata pelajaran d. Peningkatan SDM guru e. Peningkatan sarana kegiatan belajar mengajar Program : 3. Mengikuti MGMP Rincian Program : a. Memilih guru b. Mengikuti MGMP Program : 4. Melaksanakan Uji coba Ujian Nasional Rincian Program : a. Membuat kisi-kisi dan soal Uji coba UN b. Pengadaan soal Uji coba UN 103 c. Melaksanakan Uji coba UN d. Pemeriksaan hasil Uji coba UN e. Mengumumkan hasil Uji coba UN Program : 5. Meningkatkan sarana prasarana Rincian Program : a. Mengidentifikasi kebutuhan sarana dan prasarana b. Pengadaan buku penunjang c. Kumpulan soal-soal Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesisa, B. Inggris Sasaran ke Dua
Penguasaan ilmu agama siswa serta aktualiasasinya secara sempurna Rencana : Penguasaan ilmu - ilmu agama serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari Program : 1. Mengadakan kajian ilmiah Rincian Program : a. Membuat jadwal pelaksanaan b. Melaksanakan secara berkala Program : 2. Mengadakan tambahan khusus ilmu - ilmu agama Rincian Program : a. Membuat jadwal tambahan materi agama b. Merekrut tenaga mumpuni Program : 3. Melaksanakan evaluasi dan praktek Rincian Program : a. Membuat panduan evaluasi dan praktek b. Pelaksanaan praktek dilaksanakan sesuai 104 dengan penyampaian materi c. Mengadakan PHBA Sasaran ke Tiga Pembentukan komunitas bahasa Arab, Inggris dan Jepang Rencana : Pembentukan komunitas bahasa Program : 1. Mengadakan kursus siswa dan guru Rincian Program : a. Membuat jadwal pelaksanaan b. Mengupayakan tenaga sesuai dengan keahliannya c. Melaksanakan kursus setiap hari Jum‟at untuk siswa d. Melaksanakan kursus bahasa inggris setiap hari Senin untuk guruguru Program : 2. Mengikuti workshop dan pelatihan Rincian Program : a. Memilih siswa bersama guru pendamping b. Mengikuti kegiatan workshop Program : 3. Melangkapi sarana prasarana Rincian Program : a. Mengupayakan adanya ruang multimedia b. Mengupayakan kaset-kaset berkaitan dengan bahasa c. Mengupayakan buku - buku penunjang penguasaan bahasa Program : 4. Membentuk area khusus bahasa Rincian Program : a. Membuat jadwal pemakaian bahasa 105 b. Membuat materi percakapan sehari-hari c. Membuat selebaran cinta bahasa Sasaran ke Empat Penerapan kedisiplinan dalam segala hal, berkepribadian, berakhlaq, terampil dan mandiri Rencana : Mengefektifkan kedisiplinan dalam segala hal, percaya diri dan memiliki keahlian
Program kepada
: 1. Menyempurnakan tata tertib dan mensosialisasikannya
Rincian Program
semua pihak : a. Menyempurnakan tata tertib sekolah b. Menyebarluaskan tata tertib sekolah melalui forum
tertentu
Program Kedisiplinan Rincian Program Program Rincian Program
c. Menyusun jadwal piket kelas d. Menertibkan pelaksanaan piket kelas e. Memberi sanksi bagi para pelanggar : 2. Pengadaan sarana prasarana pendukung peningkatan : a. Pengadaan tata tertib sekolah : 3. Mengadakan pembinaan secara menyeluruh : a. Mengadakan pelatihan keterampilan b. Mengadakan kursus jurnalisitik c. Mengadakan acara study banding 106
Sasaran ke Lima Kelompok Drum Band, Nasyid, Da’i dan unggul dalam berorganisasi Rencana : Terbentuknya kelompok Drum Band, Nasyid, Juru Da‟wah serta Siswa punya kemampuan dalam berorganisasi Program : 1. Mengupayakan pelatihan secara intensif Rincian Program : a. Mengadakan jadwal pelaksanaan latihan b. Mengidentifikasi kebutuhan yang diperlukan c. Mengupayakan tempat yang memadai Program : 2. Mengadakan pelatihan keorganisasian Rincian Program : a. Membentuk kepengurusan khusus b. Melakukan sidang rutin dan evaluasi program c. Mendatangkan tutor sesuai dengan pokok bahasan Program : 3. Mengadakan pelatihan berdakwah Rincian Program : a. Membentuk pengurus Jam‟iyyah b. Membuat jadwal tampil c. Melaksanakan kegiatan latihan pidato setiap Jum‟at sore
Perencanaan dibuat melibatkan guru-guru, komite sekolah, dan pihak LPIAA (Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah At-Tahiriyah). Jika perencanaan tersebut berhubungan dengan siswa adakalanya siswa yang diwakili oleh pengurus OSIS juga turut dilibatkan. Melibatkan pihak Lembaga biasanya hanya sebatas laporan untuk disetujui. Artinya pihak
Lembaga cukup sekedar mengetahui dan menentukan apakah perencanaan tersebut bisa dilaksanakan atau tidak. Melibatkan semua pihak terkait dalam membuat perencanaan selalu dilakukan agar perencanaan yang telah dibuat bisa dilaksanakan dan menjadi tanggung jawab bersama. Karena perencanaan yang dibuat tanpa dukungan pihak terkait tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik. Perencanaan yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama akan menjadi tanggung jawab bersama dalam melaksanaknnya, jika perencanaan tersebut tidak mencapai hasil maksimal maka tidak ada pihak yang disalahkan. Perencanaan yang baik juga berfungsi untuk mengarahkan kepala sekolah dan pihak terkait agar lebih terarah dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Pihak yang terkait bisa memahami dengan baik apa yang harus dilaksanakan, dengan siapa mereka bekerja sama, dan tujuan yang diinginkan bersama. Selain itu perencanaan akan membuat kepala sekolah berpikir jauh ke depan untuk kemajuan sekolah. Segala aspek yang akan menjadi penghalang dari sebuah program bisa diperkirakan dengan dini. Selain itu perencanaan akan membuat kerja organisasi dapat berjalan dengan efektif dan efesien. Kepala sekolah bisa mengidentifikasi hal-hal yang tidak perlu sehingga mengurangi pemborosan dalam keuangan sekolah. Hal yang tidak kalah penting dari perencanaan adalah sebagai alat kontrol. Dengan adanya perencanaan maka evaluasi terhadap pekerjaan bisa dilakukan dengan cara membandingkan hal yang bisa terlaksana sebelum dan sesudah perencanaan dilaksanakan. Sasaran dari sebuah organisasi bisa dicapai dengan baik jika proses pembuatan perencanaan telah berjalan dengan baik. Karena itu kemampuan kepala sekolah dalam membuat prencanaan yang baik merupakan kunci sukses dari semua fungsi manajerial. Perencanaan merupakan dasar dari fungsi-fungsi manajerial lainnya. Salah satu kendala yang dihadapi kepala M.A. At-Tahiriyah dalam menjalankan program yang telah dibuat adalah kurangnya dukungan dari
Lembaga. Hal ini sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan salah satu guru: “…sebenarnya kepala sekolah sudah sangat baik dalam membuat perencanaan dan program untuk memajukan sekolah. Namun seringkali apa yang menjadi rencana kepala sekolah jika tidak sesuai dengan keinginan lembaga tidak didukung. Seharusnya kepala sekolah juga harus tegas terhadap apa yang dinilai baik terhadap kemajuan sekolah. Dia kan kepala sekolah jadi lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan sekolah.” Dari hasil wawancara tersebut peneliti menemukan bahwa salah satu faktor penghambat program-program yang telah direncanakan justru ada pada kebijakan lembaga yang tidak sepenuhnya memberikan kebebasan kepada kepala M.A. At-Tahiriyah untuk melaksanakan rencana yang telah dibuat. Kepala sekolah tentunya lebih paham terhadap kebutuhan sekolah dan bisa membuat perencanaan yang tepat dengan kebutuhuan tersebut. Berikut ini adalah kutipan pidato perencanaan tahunan Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta dalam rangka upaya meningkatkan pelayanan madrasah bagi masyarakat :
KALIMAT IFTITAH Kepala Madrasah Aliyah At-Tahiriyah
Pendahuluan
Kata-kata kunci berkenaan dengan upaya peningkatan mutu dan kemampuan komunitas telah terpatri secara abadi di dalam Al-Qur‟an yang menjadi pegangan dan pedoman hidup kita. Kunci-kunci itu tiada lain berbunyi :
Artinya :
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu komunitas melainkan mereka berupaya untuk mengubah nasib mereka sendiri”.
Kondisi buruk yang dialami oleh Bangsa Indonesia dan yang kita alami sendiri sebagian besar disebabkan oleh kesalahan kita, antara lain kita kurang memiliki dorongan untuk berprestasi (need for achievement). Kita acapkali lupa akan self motivation ke arah perubahan dari buruk menjadi baik, dan dari lebih baik menjadi yang terbaik. Sebagai umat yang diberi atribut terbaik, program MA. AtTahiriyah tahun ajaran 2010/2011, akan kita jadikan wahana mengevaluasi, mengidentifikasi kesuksesan dan kegagalan dari sistem kegiatan belajar dan mengajar, guna dijadikan agenda ke depan dalam melakukan peningkatan mutu pendidikan.
Di dalam program MA. At-Tahiriyah tahun ajaran 2010/2011 ini perlu mewujudkan participative management dengan bercermin pada realita dan dinamika yang terjadi di masa lalu dan yang sedang berjalan, untuk melakukan pembenahan diri baik di bidang fisik, administrative, lebih-lebih yang berkenaan dengan teknis edukatif.
Pikiran Rakyat (26 Juli 2006) mengemukakan bahwa di tingkat dunia Indonesia termasuk Negara penghutang (debitor) nomor 6, Negara terkorup no. 3, peringkat SDM ke 112 dari 127 negara. Dengan penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai 30% dan pengangguran terbuka mencapai 12 juta. Akar masalah tersebut adalah faktor semrawutnya manajemen Sistem Pendidikan Nasional. Dari kutipan berita Pikiran Rakyat di atas, MA. At-Tahiriyah yang berada di dalam lembaga Yayasan Waqfiyah Perguruan At-Tahiriyah, yang bertugas menyiapkan SDM. Ini menjadi pemicu didalam melakukan pembenahan diri. Untuk itu perlu kerja keras, sadar tugas, fungsi wewenang dan tanggung jawab kita. Job Description yang telah kita buat masing-masing, marilah kita samakan dan harus mendapat prioritas dalam pelaksanaannya.
Dengan begitu Insya Allah kita akan survive dalam mengantar peserta didik ke medan cita-cita. Di benak kita perlu dipacu untuk menjadi pribadi yang baik, atau SDM yang unggul dan mental menjadi Champion juga perlu ditanamkan di kalangan Perguruan At-Tahiriyah khususnya di MA. At-Tahiriyah. Di samping itu, kita harus berupaya menciptakan suasana yang kondusif bagi tercapainya tujuan pendidikan dengan cara pembenahan diri dan mulai membangun kerja sama dengan orang tua dan masyarakat sebagai manifestasi terkait. Semua teknis edukatif maupun teknis administrative diharapkan memaknai visi, misi, tujuan dan strategi kita dalam mengelola pendidikan dan mengantarkan peserta didik ke jenjang cita-cita. Sebagai penutup kami mohon maaf jika terjadi kekeliruan di sana-sini baik yang berkenaan dengan program kerja dalam memutar roda KBM di MA. At-Tahiriyah.
Jakarta, 12 Juli 2010
Kepala Madrasah,
2. Kemampuan Organisasi Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta.
Organisasi terdiri dari sekelompok individu yang bersama-sama menuju satu tujuan. Organisasi yang terdiri dari individu-individu tersebut tentunya mempunyai banyak kendala jika tidak dikendalikan dengan baik. Kepala sekolah sebagai manajer di sekolah mempunyai tanggung jawab untuk mengorganisir sumber daya yang dimiliki sekolah agar program dapat berjalan dengan baik. Sumber daya yang paling utama dari sebuah organisasi adalah sumber daya manusia. Tanpa adanya sumber daya manusia maka sumber
daya yang lain tidak akan berfungsi. Namun sumber daya manusia jika tidak dikelola dengan baik juga tidak akan berfungsi dan memberi manfaat bagi kemajuan organisasi. Karena sumber daya manusia bukan mesin, maka penempatannya pun harus disesuaikan dengan kemampuannya. Menempatkan
seseorang
sesuai
dengan
keahlian
dan
kemampuannya adalah kunci agar program yang dibuat bisa terlaksana dengan baik. Memberikan pekerjaan atau jabatan kepada bawahan tentu harus sesuai dengan kriteria dan kebutuhan dari pekerjaan itu sendiri. Pekerjaan yang diberikan kepada orang yang tidak tepat hanya akan menunggu kegagalan. Berikut adalah hasil wawancara dengan Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta mengenai pengorganisasian yang dilakukan di sekolah dalam rangka mencapai program yang telah direncanakan: “...untuk melaksanakan program yang telah dibuat saya akan menempatkan mereka yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan program tersebut. Pendekatan secara individu terhadap para guru memudahkan saya untuk memilih yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang akan diberikan. Saya akan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan bukan sekedar kedekatan pribadi. Sumber daya yang ada di sekolah sekecil apapun akan dimanfaatkan untuk kemajuan sekolah. Misalnya Ikatan Alumni At-Tahiriyah, saya lakukan kerja sama yang baik dengan mereka sehingga mereka bisa menunjang kegiatan sekolah.” Ikatan alummi juga dilibatkan oleh kepala sekolah dalam upaya memajukan M.A. At-Tahiriyah. Kegiatan-kegiatan sekolah seringkali melibatkan alumni. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Ibu Tuty Alawiyah selaku Bagian Tata Usaha: “… Kepala sekolah sebenarnya sangat cerdas, alumni bisa dirangkul untuk kegiatan sekolah. Kedekatan kepala sekolah sangat bagus terhadap kemajuan sekolah. Mereka bisa membantu untuk kegiatan ekstra kulikuler, mereka juga bisa membantu untuk promosi sekolah. Kepala sekolah kan alumni M.A. At-Tahiriyah juga, jadi ada ikatan yang kuat dengan alumni.” Berdasarkan hasil wawancara tersebut, kepala sekolah mampu melihat peluang yang besar dari para alumni. Alumni mempunyai kecintaan yang besar terhadap sekolahnya. Kecintaan tersebut dapat
dibuktikan dengan cara membantu pelaksanaan program-program yang ada di sekolah seperti membantu kegiatan ekstra kulikuler. Selain membantu kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah, alumnus juga bisa menjadi sarana promosi sekolah. Karena banyak alumni M.A. At-Tahiriyah yang telah mengabdi di masyarakat. Seperti mengisi ceramah di pengajian-pengajian atau menjadi imam di masjid-masjid. Sumber daya ini tentu sangat membantu untuk kemajuan sekolah jika kepala sekolah mampu memanfaatkannya dengan baik. Keterlibatan alumni dalam membantu kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler yang ada di sekolah merupakan hal yang sangat baik. Akan tetapi keterlibatan alumni tentu hanya sebatas menjalankan program yang telah dibuat oleh sekolah dan tidak boleh berlawanan dari tujuan organisasi. Pengawasan dari kepala sekolah sangat penting agar kegiatan alumni tetap searah dengan tujuan sekolah. Dengan demikian kemampuan kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta dalam mengorganisir sumber daya yang ada dimiliki sekolah sudah cukup memadai. Namun kerjasama yang baik dari semua bagian yang ada dalam organisasi perlu ditingkatkan lagi agar tercapai hasil yang lebih baik.
3. Kepemimpinan Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi bawahan untuk bisa bersama-sama melaksanakan apa yang telah menjadi program organisasi. Kepemimpinan yang baik merupakan kunci keberhasilan sebuah organisasi. Begitu pula dalam sebuah sekolah, seorang kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan kepemimpinan. Kepala
sekolah
sebagai
pemimpin
di
sekolah
bertugas
mengarahkan potensi-potensi yang ada di sekolah bisa berfungsi untuk kemajuan sekolah. Tantangan terhadap sekolah di era globalisasi semakin komplek dan membutuhkan kemampuan tenaga pendidik yang handal.
Kepala sekolah yang profesinal bisa membawa bawahannya ke arah perubahan agar sekolah terus bisa memberikan pelayanan yang baik bagi siswa. Kemampuan tenaga pendidik tentunya tidak bisa tercipta dengan begitu saja tanpa adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan guru. Untuk mewujudkan guru yang professional dibutuhkan peran kepala sekolah. Kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting karena merupakan pemimpin pendidikan di sekolah. Tujuan pendidikan bisa tercapai melalui keterampilan dan kecakapan kepala sekolah dalam memimpin dan mengatur sumber daya yang ada di sekolah agar bisa difungsikan sesuai dengan kebutuhan.kepala sekolah professional bisa memahami dengan baik apa yang menjadi kebutuhan sekolah dan mengupayakan agar kebutuhan tersebut bisa dipenuhi. Berikut ini adalah hasil wawancara peneliti dengan kepala M.A. At-Tahiriyah ketika peneliti menanyakan tentang kepemimpinannya: “…memperbaiki kinerja guru adalah hal yang paling utama agar siswa tertarik untuk sekolah disini. Untuk itu saya selalu menekankan kepada guru agar bisa memperbaiki terus cara mengajar. Kesejahteraan guru juga selalu saya usahakan agar mereka fokus dan semangat dalam mengajar. Untuk mempengaruhi bawahan agar mereka mau melaksanakan program yang telah dibuat saya mengedepankan pendekatan pribadi, semakin kita mengenal guru secara pribadi mereka akan terbuka. Dengan demikian kita akan tahu apa yang menjadi keinginan mereka. Kalau sudah begitu secara tidak langsung mereka akan dengan senang hati membantu program.” Pendekatan yang dilakukan kepala M.A. At-Tahiriyah terhadap bawahannya sudah cukup tepat bagi kemajuan organisasi. Karena tidak semua masalah yang ada bisa terbuka jika tidak ada pendekatan. Mengetahui kondisi bawahan secara pasti akan memudahkan pimpinan dalam memberikan tugas dan mencari solusi bagi masalah yang dihadapi. Memimpin dengan hati adalah cara tepat agar kepemimpinan dapat berjalan dengan baik. Pemimpin yang dapat merasakan dan mau
peduli dengan keadaan bawahannya akan bisa menjadi pemimpin yang membawa perubahan dalam lingkungan yang dipimpinnya. Tidak sedikit pemimpin yang gagal karena memimpin dengan kediktatoran. Peningkatan kesejahteraan guru juga sangat penting diperhatikan karena tanpa adanya kesejahteraan guru yang memadai akan sulit untuk meningkatkan
profesionalitas
guru.
Selain
itu
pelatihan
untuk
meningkatkan kemampuan guru juga baik untuk dilaksanakan agar pengetahuan guru sesuai dengan kebutuhan zaman.
4. Pengawasan Kepala M.A. At-Tahiriyah Terhadap Program. Program kerja yang telah dibuat perlu dilakukan pengawasan. Baik program itu sedang berjalan maupun yang sudah selesai dilaksanakan. Pengawasan berguna untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dan sejauh mana program tersebut telah dilaksanakan sesuai perencanaan. Dalam lingkup sekolah pengawasan perlu dilakukan oleh kepala sekolah agar kemajuan dan perkembangan di sekolah bisa diketahui. Pengawasan terhadap kinerja guru juga penting agar proses pendidikan di sekolah bisa berjalan sesuai rencana. Pengawasan tentunya bukan bermaksud untuk mencari kesalahan bawahan, tapi berfungsi agar program bisa berjalan dan mencapai hasil yang diinginkan. Berikut hasil wawancara peneliti dengan kepala M.A. AtTahiriyah Jakarta tentang pengawasan yang beliau lakukan: “…pengawasan itu pasti dilakukan. Kita akan selalu mengontrol program yang sedang berjalan, kendalanya apa, dan hasilnya seperti apa. Kalaupun nanti di tengah jalan ada program yang gagal itu harus kita terima, yang penting kita sudah berusaha maksimal.” Pengawasan selalu dilaksanakan oleh kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta supaya program yang dibuat bisa berjalan dengan baik. Pengawasan berguna untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Kendala-kendala yang dihadapi ini kemudian bisa
menjadi bahan pertimbangan untuk perencanaan program-program yang akan datang. Hasil dari program yang telah dilaksanakan akan dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana hasil yang telah dicapai. Hasil evaluasi ini kemudian dijadikan bahan untuk ditindak-lanjuti dalam perencanaan yang akan datang. Berikut hasil wawancara peneliti mengenai evaluasi yang dilakukan kepala M.A. At-Tahiriyah : “…evaluasi akan dilakukan untuk bisa menentukan tindak lanjut apa yang bisa dilaksanakan setelah program terlaksana. Kalau tidak ada tindak lanjut buat apa kita kerja keras. Tindak lanjut ini juga menunjukan kepada teman-teman bahwa program yang telah dikerjakan tidak berhenti begitu saja.” Tindak lanjut dari sebuah program sangat penting dilaksanakan agar program yang telah dibuat bisa berkesinambungan dan memberikan hasil yang lebih baik lagi. Apapun program yang dibuat sangat penting dilakukan tindak lanjut. Pengawasan, evaluasi, dan tindak lanjut merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah perencanaan.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Kepala M.A. At-Tahiriyah sudah mempunyai kemampuan manajerial yang cukup dalam memimpin sekolah. Usaha-usaha untuk memajukan sekolah sudah dilakukan dengan perencanaan dan pengorganisasian seluruh sumber daya yang dimiliki sekolah, serta mengevaluasi hasil kerja mereka. 2. Kendala yang dihadapi kepala M.A. At-Tahiriyah dalam memajukan sekolah adalah karena masih belum diberikan kebebasan secara penuh oleh Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah At-Tahiriyah untuk mengambil kebijakan di sekolah. 3. Berkurangnya jumlah siswa di M.A. At-Tahiriyah Jakarta bukan hanya disebabkan oleh kesalahan manajerial kepala sekolah, namun lebih disebabkan karena pandangan orang tua siswa yang memilih sekolah-sekolah umum atau kejuruan dalam mendidik anak mereka. Hal ini juga dialami madrasahmadrasah pada umumnya. Di samping persaingan dengan M.A. Negeri dan sekolah umum.
B. Saran Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, ada beberapa saran yang peneliti pandang perlu untuk disampaikan sebagai hal yang positif dalam
kepemimpinan kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta. Saran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah bertanggung jawab untuk memimpin bawahannya ke arah perubahan yang positif dengan terus memperhatikan kemajuan zaman dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan sekolah. Kualitas tenaga pendidik agar terus dapat ditingkatkan guna menjadi guru yang profesional. 2. Komunikasi dengan pihak lembaga perlu dilakukan dengan baik agar perencanaan-perencanaan yang telah dibuat kepala sekolah dapat diterima dan disetujui oleh lembaga. 3. Bahwa keberhasilan sebagai pemimpin tidak hanya diukur dengan kuantitatif, lebih dari itu adalah bagaimana sekolah bisa memberikan pengabdian kepada masyarakat dengan lahirnya alumnus-alumnus
yang siap membantu
membangun masyarakat. Karena itu kualitas pendidikan agar terus menjadi prioritas utama. 4. Tantangan kemajuan zaman terhadap dunia pendidikan semakin berat. Karena itu madrasah agar selalu mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan Era Globalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2003 Asrorun Ni‟am Sholeh , Membangun Profesionalisme Guru, Jakarta: eLSAS, Cet. I 2006
Basir Barthos, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bina Aksara, 1990
Conrad H. Lanza, Napoleon dan Strategi Perang Modern, Depok: Komunitas Bambu, 2010
Daniel Goleman, dkk, Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
Dov Elizur, Evaluasi Pekerjaan, Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo, 1991
E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006
Erry Riyana dan Hardjapamekas, Esensi Kepemimpinan Mewujudkan Visi Menjadi Aksi, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2000
Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Jakarta: Indeks, 2001
T.Hani Handoko, Manajemen,Yogyakarta: BPEF-Yogyakarta: Cet. II, 1986
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta: Cet. III, 2003
M. Manullang, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: Andi Offset, 1987
M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004
Maksum, Madrasah Sejarah & Perkembangannya, Jakarta: Logos, Cet. II, 1999
Margono, S., Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, cet. II, 2006
Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah Teori, Model, dan Aplikasi, Jakarta: Grasindo, 2003
Patricia Patton, EQ Keterampilan Kepemimpinan Untuk Melaksanakan Tugas dan Perubahan, Jakarta: Mitra Media, 2002
Peraturan Menteri Pendi-dikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Ma-drasah
Tholib Kasan, Teori dan Aplikasi Administrasi Pendidikan, Jakarta: Studia Press, 2004
Wahjosumidjo,
Kepemimpinan
Kepala
Sekolah
Tinjauan
Teoritik
Permasalahannya, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001
Yusak, Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 1998
dan
Hasil Wawancara “Kemampuan Manajerial Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta”
A. Identitas Responden
Nama
: Drs. Syamsuri Halim, M.Ag
Usia
: 42 tahun
Jabatan
: Kepala M.A. At-Tahiriyah Jakarta
Pendidikan Terakhir : S2 Studi Islam Masa Kerja
: 12 tahun
B. Item pertanyaan 1. Bagaimana Kepala Sekolah membuat perencanaan ?
Jawab : “Perencanaan dibuat sesuai dengan kebutuhan. Jadi saya lihat dulu apa yang menjadi kebutuhan sekolah. Perencanaan dibuat yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kita. Kalau perencanaan yang saya buat tidak sesuai dengan kemampuan ya sama saja perencanaan tersebut sia-sia dan tidak akan berjalan.” “:Saya membuat perencanaan selalu membuat skala prioritas, kebutuhan yang paling mendesak itu yang akan saya utamakan untuk dilaksanakan terlebih dahulu. Perencanaan yang dibuat di sekolah ini ada yang bulanan, semester, dan tahunan. Permasalahan yang sering terjadi dalam perencanaan saya adalah kuragnya dukungan dari pihak Lembaga ( LPIAA ).”
2. Siapa saja yang terlibat dalam pembuatan perencanaan ?
Jawab : “Saya selalu melibatkan guru-guru dalam perencanaan karena saya tidak mungkin bekerja sendiri dalam melaksanakan program tanpa dukungan guru-guru. Nah, kalau program yang akan dilaksanakan melibatkan siswa, misalnya mengadakan
kegiatan ke luar sekolah, maka saya melibatkan pengurus dan guru Pembina OSIS. Kalau Lembaga biasanya cukup saya beritahu kalau perencanaan tersebut sudah matang. Biasanya kalau kegiatan yang membutuhkan dana banyak sering tidak diizinkan. Komite sekolah juga kami libatkan karena mereka ini sangat menunjang bagi program yang akan dilaksanakan sekolah. Kerjasama dari semua pihak selalu saya libatkan dalam perencanaan.”
3. Dalam melaksanakan program,
bagaimana kepala sekolah
memilih
pelaksananya ?
Jawab : “Untuk melaksanakan program yang telah dibuat saya akan menempatkan mereka yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan program tersebut. Pendekatan secara individu terhadap para guru memudahkan saya untuk memilih yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang akan diberikan. Saya akan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan bukan sekedar kedekatan pribadi. Sumber daya yang ada di sekolah sekecil apapun akan dimanfaatkan untuk kemajuan sekolah. Misalnya Ikatan Alumni At-Tahiriyah, saya lakukan kerja sama yang baik dengan mereka sehingga mereka bisa menunjang kegiatan sekolah.”
4. Sebagai seorang pemimpin, apa saja yang telah dilakukan dalam upaya meningkatkan jumlah murid ? Jawab : “Yang pasti berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cara memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi guru untuk menambah pengetahuan. Sekarang ini „kan tekhnologi terus berkembang. Karena itu kemampuan guru harus terus ditingkatkan. Kalau kemampuan guru memadai
dalam mengajar maka sekolah akan mempunyai lulusan yang bermutu juga. Secara tidak langsung ini akan menjadi promosi di masyarakat.”
5. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, apakah sumber daya yang dimiliki sekolah dilibatkan ? Jawab : “Tentu saja semua potensi yang dimiliki sekolah saya manfaatkan. Misalnya untuk promosi sekolah bisa melalui radio At-Tahiriyah atau melalui pengajianpengajian yang ada di lingkungan Perguruan At-Tahiriyah. Saya tentu tidak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan dari para guru dan semua yang terlibat dalam Lembaga Pendidikan Islam Ad-Diniyah At-Tahiriyah. Program-program yang telah ditetapkan tidak akan berhasil dengan baik tanpa ada keterlibatan semua pihak terkait.”
6. Bagaimana Kepala Sekolah mempengaruhi bawahan agar mau melaksanakan program yang telah ditetapkan ? Jawab : “Untuk mempengaruhi bawahan agar mereka mau melaksanakan program yang telah dibuat saya mengedepankan pendekatan pribadi, semakin kita mengenal guru secara pribadi mereka akan terbuka. Dengan demikian kita akan tahu apa yang menjadi keinginan mereka. Kalau sudah begitu secara tidak langsung mereka akan dengan senang hati membantu program. Saya selalu berusaha dekat dengan para guru, ini bisa saya lakukan misalnya dengan cara makan bersama, dan tidak menjaga jarak antara atasan dan bawahan.
7. Apakah Kepala Sekolah melakukan pembinaan terhadap kinerja guru ? Jawab : “Memperbaiki kinerja guru adalah hal yang paling utama agar siswa tertarik untuk sekolah disini. Untuk itu saya selalu menekankan kepada guru agar bisa memperbaiki terus cara mengajar. Upaya meningkatkan kinerja guru bisa melalui seminar-seminar dan lain-lain. Fasilitas untuk guru juga disediakan seperti
internet
agar mereka
bisa mendapatkan informasi
seputar pendidikan.
Kesejahteraan guru juga selalu saya usahakan agar mereka fokus dan semangat dalam mengajar.
8. Terhadap program yang dilaksanakan, apakah Kepala Sekolah melakukan pengawasan ? Jawab : “Pengawasan itu pasti dilakukan. Kita akan selalu mengontrol program yang sedang berjalan, kendalanya apa, dan hasilnya seperti apa. Kalaupun nanti di tengah jalan ada program yang gagal itu harus kita terima, yang penting kita sudah berusaha maksimal. Pengawasan juga saya lakukan terhadap kinerja guru, pengawasan saya lakukan dari guru sebelum mengajar. Seperti apa persiapan yang telah dilakukan guru untuk memberikan pembelajaran yang terbaik bagi murid. Pengawasan juga dilakukan terhadap proses pembelajaran, sampai bagaimana guru tersebut melakukan evaluasi pelajaran.”
9. Apakah dilakukan tindak-lanjut terhadap hasil yang telah dicapai ? Jawab : “Evaluasi akan dilakukan untuk bisa menentukan tindak lanjut apa yang bisa dilaksanakan setelah program terlaksana. Kalau tidak ada tindak lanjut buat apa kita kerja keras. Tindak lanjut ini juga menunjukan kepada teman-teman bahwa program yang telah dikerjakan tidak berhenti begitu saja.”
STRUKTUR ORGANISASI MADRASAH ALIYAH ATTAHIRIYAH JAKARTA – SELATAN YAYASAN ADDINIYAH ATTAHIRIYAH KH. Ahmad Syaugi Thahir
LEMBAGA PEND ISLAM ATTAHIRIYAH H. Khudhori Thahir
KOMITE
KEPALA MADRASAH
Ibu Rona Amalia
Drs.Syamsuri Halim, M.Ag
WAKIL KEPALA MADRASAH Ahmad Syakur Budi BENDAHARA MADRASAH
TATA USAHA MADRASAH
A h m a d , S. Ag
Tuty Alawiyah, S.Ag
WALI KELAS X
WALI KELAS XI DEWAN GURU
SISWA-SISWI
Keterangan: Garis Komando Garis Koordinasi
WALI KELAS XII