HUBUNGAN TERPAAN PESAN PENCEGAHAN BAHAYA DEMAM BERDARAH DENGAN SIKAP IBU RUMAH TANGGA (KASUS: KELURAHAN RANGKAPAN JAYA BARU, KOTA DEPOK)
KUSUMAJANTI
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007
PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Hubungan Terpaan Pesan Pencegahan Bahaya Demam Berdarah dengan Sikap Ibu Rumah Tangga (Kasus: Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok) adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor,
Agustus 2007
Kusumajanti NRP P 054030151
ABSTRAK
KUSUMAJANTI. Hubungan Terpaan Pesan Pencegahan Bahaya Demam Berdarah dengan Sikap Ibu Rumah Tangga (Kasus: Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok) Dibimbing oleh BASITA GINTING SUGIHEN dan HADIYANTO. Penelitian ini tentang Hubungan Terpaan Pesan Pencegahan Bahaya Demam Berdarah dengan Sikap Ibu Rumah Tangga bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) tingkat terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah berdasarkan karakteristik responden, (2) sikap pencegahan bahaya demam berdarah berdasarkan karakteristik responden, (3) hubungan antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap ibu-ibu rumah tangga. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember 2006. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu rumah tangga dengan jumlah 5412 orang. Proses pengambilan sampel menggunakan cluster sampling dan penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin sehingga diperoleh hasil sebanyak 98 orang. Data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Product Moment. Pesan pencegahan bahaya demam brdarah lebih mudah menerpa ibu-ibu rumah tangga di kelompok usia 20-24 tahun, dengan tingkat pendidikan SMA dan tidak bekerja. Sikap pencegahan bahaya demam berdarah dapat terbentuk dengan baik pada kelompok usia 25-29 tahun, dengan latar belakang pendidikan SMA dan tidak bekerja. Hasil uji korelasi ditemukan bahwa: (1) tingkat keterdedahan ibu rumah tangga terhadap pesan pencegahan bahaya demam berdarah melalui televisi r sebesar 0,778, melalui kelompok Posyandu r sebesar 0,608, dan melalui tetangga r sebesar 0,554, (2) hubungan positif antara terpaan pesan dengan sikap ibu rumah tangga ditemukan bahwa r sebesar 0,777, (3) hubungan antara terpaan pesan dan sikap ibu rumah tangga berdasarkan karakteristik usia, yang paling tinggi keeratan korelasinya berada di kelompok usia kurang dari 20 tahun yaitu r sebesar 0,902 dengan taraf signifikansi 0,01 (sangat nyata) sedangkan berdasarkan karakteristik pendidikan yang paling tinggi keeratan korelasinya berada kelompok SD yaitu r sebesar 0,910 dengan taraf signifikansi 0,01 (sangat nyata) dan korelasi terpaan pesan dengan sikap yang paling tinggi keeratan korelasinya berasa di kelompok guru/dosen iatu r sebesar 0,880 dengan taraf signifikansi 0,05 (nyata). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pesan-pesan yang bersifat himbauan seperti pesan pencegahan bahaya demam berdarah dalam penyampaiannya kepada khalayak sasaran harus memperhatikan aspek usia, pendidikan, dan pekerjaan khalayak sasaran. Khalayak sasaran dapat mengerti dan memahami isi pesan dengan baik jika tingkat frekwensi dan intensitas menerima pesannya tinggi sehingga dapat membentuk sikap sesuai dengan isi pesan. Kata kunci: terpaan pesan, sikap.
@ Hak Cipta milik IPB, 2007 Hak Cipta dilindungi Undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau peninjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepntingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB
HUBUNGAN TERPAAN PESAN PENCEGAHAN BAHAYA DEMAM BERDARAH DENGAN SIKAP IBU RUMAH TANGGA (KASUS: KELURAHAN RANGKAPAN JAYA BARU, KOTA DEPOK)
KUSUMAJANTI
Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007
Judul Penelitian
: Hubungan Terpaan Pesan Pencegahan Bahaya Demam Berdarah dengan Sikap Ibu Rumah Tangga (Kasus: Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok)
Nama
: Kusumajanti
NRP
: P 054030151
Program Studi
: Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr.Ir.Basita Ginting Sugihen, MA Ketua
Ir.Hadiyanto, MS Anggota Diketahui
Ketua Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr.Ir.Sumardjo, MS
Prof.Dr.Ir.Khairil Anwar Notodiputro, MS
Tanggal Ujian: 25 April 2007
Tanggal Lulus: 29 Agustus 2007
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 22 Maret 1971 dari ayah H. Aris Suwarto dan ibu Hj. Tuti Juswiati. Penulis merupakan anak ke enam dari tujuh bersaudara. Tahun 1995 penulis lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember dan pada tahun 1999 lulus program Magister Manajemen Universitas Trisakti. Tahun 2003 penulis menempuh kuliah di Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Beasiswa Pascasarjana diperoleh dai Dirjen Pendidikan Tinggi. Penulis bekerja sebagai staf pengajar di FISIP UPN “Veteran” Jakarta terhitung sejak tahun 1997. Disamping sebagai staf pengajar, penulis juga menduduki jabatan sebagai Kabag. Humas UPN “Veteran” Jakarta.
PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Tema penelitian ini adalah terpaan pesan, dengan judul penelitian Hubungan Terpaan Pesan Pencegahan Bahaya Demam Berdarah dengan Sikap Ibu Rumah Tangga (Kasus: Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Depok). Penulis ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya pada Dr. Ir. Basita Ginting, MA dan Ir. Hadiyanto, MS selaku pembimbing. Terima kasih juga penulis ucapkan pada Tri Budi Subiakto, SE atas segala pengertian dan dukungnnya, dan yang telah banyak memberi saran dan pada Drs. Marzono Basuki, M.Si, Renny Husniati, SE, MM yang sangat banyak memberi bantuan juga dukungan tanpa henti serta Ir. Budiman Djoko Said, MM yang telah memberi kesempatan pada penulis untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Penghargaan juga penulis sampaikan untuk Teh Hetty, Mbak Yuyun, Bang Heru yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan pada Ibunda dan seluruh keluarga tercinta atas segala do’a dan kasih sayang serta pengertiannya selama ini. Penulis berharap tesis ini bermanfaat, dapat dijadikan bahan informasi dan pengetahuan bagi siapa saja yang berkaitan dan tertarik dengan materi komunikasi.
Bogor,
Juli 2007 Kusumajanti
DAFTAR ISI DAFTAR ISI ....................................................................................
Halaman x
DAFTAR TABEL ...........................................................................
xii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................
xiii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................
xiv
PENDAHULUAN Latar Belakang ..................................................................... Rumusan Masalah ................................................................ Tujuan Penelitian ................................................................. Kegunaan Penelitian ............................................................
1 3 5 5
TINJAUAN PUSTAKA Hakekat, Definisi, dan Konteks Komunikasi ....................... Komunikasi Publik ............................................................... Komunikasi Antarpribadi ..................................................... Komunikasi Kelompok ........................................................ Komunikasi Massa ............................................................... Media Televisi dan Efeknya Pada Masyarakat .................... Model Komunikasi ............................................................... Terpaan Pesan ...................................................................... Pesan tentang Pencegahan Bahaya Demam Berdarah ......... Sikap .....................................................................................
6 12 13 18 20 21 28 30 31 33
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA Kerangka Pemikiran ............................................................. Hipotesa ...............................................................................
36 37
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ Populasi dan Sampel ............................................................. Desain Penelitian ................................................................... Data dan Instrumentasi .......................................................... Definisi Operasional dan Pengukuran ................................... Analisa Data ..........................................................................
38 38 39 39 42 44
HASIL DAN PEMBAHASAN Karaktristik Responden ......................................................... Frekwensi Peubah Terpaan Pesan ......................................... Peubah Terpaan Pesan Berdasarkan Karaktristik Responden Peubah Sikap Berdasarkan Karakteristik Responden ...........
47 49 51 53
Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap .................. Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Karakteristik Responden ....................................................... Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Usia Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pendidikan ............................................................................. Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pekerjaan ...............................................................................
55 62 63 66 68
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ............................................................................... Saran ......................................................................................
70 71
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................
72
LAMPIRAN .....................................................................................
75
DAFTAR TABEL Halaman 1
Kategori yang Digunakan dengan Pendekatan Situasional....
8
2
Pedoman Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi...............
45
3
Frekwensi Berdasarkan Karakteristik Responden .................
47
4
Kategorisasi Terpaan Pesan Melalui Televisi, Kelompok Posyandu, dan Tetangga ........................................................
49
Kategorisasi Terpaan Pesan Berdasarkan Karaktristik Responden .............................................................................
51
6
Kategorisasi Sikap Berdasarkan Karakteristik Responden ...
53
7
Korelasi Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap .....................
55
8
Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Karakteristik Responden .......................................................
62
5
DAFTAR GAMBAR Halaman 1
Model Hubungan Lima Tahap ..............................................
15
2
Proses Komunikasi Dalam Masyarakat .................................
21
3
Penyampaian Pesan Persuasif ...............................................
28
4
Skema Konsep dari Sikap .....................................................
35
5
Model Penelitian Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap...
36
6
Plot Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap .......................
56
7
Plot Hubungan Terpaan Pesan Melalui Televisi Dengan Sikap ......................................................................................
57
Plot Hubungan Terpaan Pesan Melalui Kelompok Posyandu Dengan Sikap .........................................................................
58
Plot Hubungan Terpaan Pesan Melalui Tetangga Dengan Sikap ......................................................................................
59
Plot Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Usia ........................................................................................
64
Plot Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pendidikan...............................................................................
66
Plot Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pekerjaan...................................................................................
69
8 9 10 11 12
DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1
Data Jumlah Kepala Keluarga di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok ..........................................................
75
2
Kuesioner Penelitian .............................................................
77
3
Uji Reliabilitas dan Validitas ................................................
83
4
Tabulasi Silang Terpaan Pesan Berdasarkan Usia ................
89
5
Tabulasi Silang Terpaan Pesan Berdasarkan Pendidikan .....
90
6
Tabulasi Silang Terpaan Pesan Berdasarkan Pekerjaan ........
91
7
Tabulasi Silang Sikap Berdasarkan Usia ..............................
92
8
Tabulasi Silang Sikap Berdasarkan Pendidikan ....................
93
9
Tabulasi Silang Sikap Berdasarkan Pekerjaan ......................
94
10
Analisa Inferensial .................................................................
95
11
Plot Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap .............................
103
12
Plot Antara Terpaan Pesan Melalui Televisi Dengan Sikap..
104
13
Plot Antara Terpaan Pesan Melalui Kelompok Posyandu Dengan Sikap.........................................................................
105
14
Plot Antara Terpaan Pesan Melalui Tetangga Dengan Sikap
106
15
Plot Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Usia
107
16
Plot Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pendidikan .............................................................................
108
Plot Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pekerjaan ...............................................................................
109
17
Halaman 18
Uji Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap ............
110
19
Uji Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Usia ...................................................................
111
Uji Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pendidikan ........................................................
113
Uji Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pekerjaan ..........................................................
115
20 21
PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia menyimpan sejuta keindahan alam dengan tingkat kelembaban udara yang cukup tinggi yang menjadi pemicu berkembang biaknya nyamuk seperti nyamuk Aedes Aegypti dan jenis lainnya. Musim panas/kemarau dan musim hujan yang datang bergantian menjadi salah satu penyebab suburnya perkembangbiakan nyamuk terutama pada musim hujan. Nyamuk bagi masyarakat Indonesia adalah serangga yang selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Gigitan nyamuk yang dapat menimbulkan rasa gatal mendorong manusia untuk memberantas nyamuk dewasa dan menghindarkan diri dari gigitannya. Manusia biasanya melakukan upaya pemberantasan nyamuk seperti melakukan penyemprotan dengan obat nyamuk maupun
dengan obat
nyamuk bakar, bahkan ada upaya dari masyarakat khususnya produsen obat dengan menciptakan obat penolak nyamuk dalam bentuk cair yang dapat dioleskan ke tangan dan kaki. Upaya pemberantasan nyamuk oleh masyarakat seharusnya tidak hanya pada nyamuk dewasa saja tetapi juga pada jentik-jentik nyamuk. Jentik-jentik nyamuk yang berkembang biak secara subur di sekeliling rumah merupakan salah satu akibat dari rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan sanitasi. Banyak dari masyarakat yang tidak menyadari bahwa kaleng-kaleng bekas, ban bekas, vas bunga, talang air yang tidak berfungsi dengan baik, tempat penampungan air di lemari pendingin (kulkas dan dispenser) dapat menjadi tempat berkembangbiaknya jentik-jentik nyamuk. Dampak berkembangbiaknya jentik-jentik nyamuk menjadi nyamuk dewasa terutama nyamuk jenis Aedes-aegypti menyebabkan berjangkitnya penyakit demam berdarah, yang menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit demam berdarah, sebab baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya sudah tersebar luas di perumahan penduduk maupun fasilitas umum di seluruh Indonesia. Penyakit menular demam berdarah sejak lima dasawarsa
terakhir ini telah menjadi momok yang menakutkan bagi negara-negara di daerah tropis. Hingga 2 Maret 2006, menurut Departemen Kesehatan angka kasus demam berdarah secara nasional mencapai 10.135 penderita dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Dari total jumlah kasus yang ada, 88 korban diantaranya meninggal dunia karena terlambat mendapat penanganan medis. Kasus demam berdarah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada tahun 2004, dari Januari hingga Mei, kejadian luar biasa (KLB) nasional terjadi di 16 provinsi, diantaranya Nanggroe Aceh Darussalam, dan seluruh provinsi di Pulau Jawa, terjadi 59.000 kasus dan 689 orang meninggal. Sementara sepanjang tahun 2005, terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengan pola berbeda dibandingkan dengan tahun 2004, yakni terjadi tiga puncak peningkatan kasus di bulan Januari sampai Maret, Agustus dan Desember. Peningkatan kasus ini terjadi di sepuluh provinsi, antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, bali, dan Sulawesi Selatan. Berjangkitnya virus demam berdarah sangat dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-32 derajat Celcius), sementara kelembaban tinggi, nyamuk Aedes mampu bertahan hidup dalam jangka waktu lama. Demam berdarah hanya ditularkan melalui nyamuk (Aedes-aegypti) yang berkembang biak didalam genangan air jernih di dalam maupun di sekitar rumah, bukan di got/comberan. Membunuh nyamuknya saja belumlah cukup selama jentik-jentiknya masih dibiarkan Faktor lain yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus demam berdarah sangat bermacam-macam, yaitu: pemukiman yang padat, urbanisasi yang tidak terencana & tidak terkendali, tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis, dan peningkatan sarana transportasi. Pemerintah berusaha untuk menyampaikan pesan tentang pemberantasan sarang nyamuk guna mencegah perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk terutama nyamuk penyebab demam berdarah (Aedes Aegypti). Kampanye penanggulangan wabah demam berdarah sebagai salah satu usaha untuk penanggulangan penyakit demam berdarah telah banyak direkomendasikan dan dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Media yang dapat dipergunakan untuk kampanye
penanggulangan wabah demam berdarah dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) meliputi media cetak dan elektronika. Kampanye ini dilakukan secara terus menerus dalam upaya untuk mengingatkan masyarakat dan meningkatkan pengetahuan masyarakat akan bahaya demam berdarah sehingga dapat merubah perilaku
masyarakat menjadi peduli terhadap usaha pembarantasan sarang
nyamuk. Hal ini dikarenakan kasus yang sama selalu terjadi setiap tahunnya terutama pada musim penghujan. Pesan-pesan kesehatan yang disampaikan oleh pemerintah dalam upaya pemberantasan jentik nyamuk dan nyamuk dewasa adalah melalui 3 M (menguras, menutup, dan mengubur), pemberian bubuk abate, pengasapan, serta cara lainnya. Himbauan pemerintah dilakukan melalui semua saluran komunikasi agar dapat menggerakkan masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk secara bersamasama. Departemen Kesehatan terus meningkatkan upaya pencegahan terjadinya wabah demam berdarah. Salah satunya, kegiatan pemantauan kasus demam berdarah dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di setiap daerah, terutama wilayah endemis demam berdarah. Akan tetapi kegiatan ini terhambat oleh kurangnya jumlah petugas dibandingkan dengan pertambahan kasus demam berdarah. Partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk akan sangat membantu untuk menurunkan angka kasus demam berdarah. Program pemberantasan sarang nyamuk dapat menjadi salah satu pekerjaan rutin yang dilakukan oleh setiap keluarga.
Rumusan Masalah Kasus demam berdarah selalu berulang di Indonesia setiap tahunnya. Masyarakat perlu selalu diingatkan tentang bahaya penyakit demam berdarah dan pencegahannya. Pemanfaatan media yang tepat dapat memudahkan penyampaian pesan tentang demam berdarah kepada masyarakat. Himbauan pemerintah berisi pesan tentang bahaya demam berdarah dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) berusaha disampaikan oleh pemerintah melalui berbagai macam format dan saluran komunikasi. Format pesan untuk media cetak seperti folder, poster, iklan layanan masyarakat di surat kabar
biasanya lebih mengarah pada sajian yang informatif dan ajakan untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk sebagai upaya pencegahan penyebaran kasus demam berdarah. Format pesan untuk media elektronika biasanya lebih singkat dibandingkan untuk media cetak dengan menampilkan tokoh/artis yang sudah dikenal oleh masyarakat dengan baik sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam penyampaian pesan. Sedangkan format pesan untuk saluran komunikasi interpersonal dan kelompok biasanya dikemas dengan gaya yang informal. Hal tersebut disebabkan proses penyampaian pesan banyak disampaikan dari mulut ke mulut. Pelaksanaan kampanye pemberantasan sarang nyamuk dilaksanakan secara massal dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Hasil pelaksanaan kampanye tidak seluruhnya berhasil karena masih ada saja daerah yang terjangkit kasus demam berdarah dengan angka korban yang cukup tinggi. Daerah-daerah yang melaksanakan kampanye pemberantasan sarang nyamuk dengan baik memiliki kasus demam berdarah yang lebih rendah. Berdasarkan kondisi tersebut maka timbul beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Berapa besar tingkat terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah berdasarkan karakteristik responden? 2. Berapa besar nilai sikap pencegahan bahaya demam berdarah berdasarkan karakteristik responden? 3. Bagaimanakah hubungan antara terpaan pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap ibu-ibu rumah tangga?
Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah penelitian yang telah diuraikan, maka tujuan umum dari penelitian ini adalah mencari saluran komunikasi yang sesuai dengan karakteristik responden dalam menyampaikan pesan yang bersifat himbauan seperti pesan bahaya demam berdarah dan pemberantasan sarang
nyamuk. Tujuan umum ini dapat dicapai melalui beberapa tujuan khusus sebagai berikut: 1. mendeskripsikan tingkat terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah berdasarkan karakteristik responden; 2. mendeskripsikan sikap pencegahan bahaya demam berdarah
berdasarkan
karakteristik responden 3. menguji dan mendeskripsikan hubungan antara terpaan pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap ibu-ibu rumah tangga.
Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai: 1. bahan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan tentang jenis dan saluran komunikasi yang paling efektif dapat dipergunakan dalam rangka menyampaikan pesan tentang bahaya penyakit demam berdarah dan pemberantasan sarang nyamuk. 2. bahan masukan bagi peneliti komunikasi lebih lanjut yang berkaitan dengan penelitian terpaan pesan terhadap perubahan sikap masyarakat.
TINJAUAN PUSTAKA Hakekat, Definisi, dan Konteks Komunikasi Komunikasi adalah suatu topik yang sangat sering dibicarakan, bukan hanya di kalangan ilmuwan komunikasi, melainkan juga dikalangan awam, sehingga kata komunikasi itu sendiri memiliki banyak arti yang berlainan. Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris menurut Echols dan
Shadily (1995) berarti hubungan, kabar. De Vito (1997) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Terdapat dua bentuk umum tindakan yang dilakukan orang yang terlibat dalam komunikasi, yatiu penciptaan pesan dan penafsiran pesan. Pesan di sini tidak harus berupa kata-kata, namun bisa juga merupakan pertunjukkan (display)
atau yang lazim disebut pesan nonverbal. Meskipun komunikasi
menyangkut perilaku manusia, tidak semua perilaku manusia itu adalah komunikasi. Komunikasi sebagai semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respons orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap suatu tindakan yang disengaja (intentional act) untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu kepada orang lain atau membujuknya untuk melakukan sesuatu. Lasswell menggambarkan komunikasi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Berdasarkan definisi Lasswell dapat diturunkan lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang hrus diperhatikan. Kelima unsur tersebut adalah pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (communication channel), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback). Pertama, pengirim pesan atau sumber (sender) adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, atau bahkan suatu negara. Kedua, pesan, yatiu hal-hal yang dikomunikasikan oleh sumber kepada si penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan/atau non verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi. Pesan mempunyai tiga komponen: makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan bentuk atau organisaasi pesan. Ketiga, saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan sumebr untuk menyampaikan pesannya kepada si penerima pesan. Saluran dapat merujuk pada bentuk pesan yang disampaikan kepada
penerima, yaitu saluran verbal dan non verbal. Saluran juga merujuk pada cara penyajian pesan yaitu tatap muka langsung ataupun lewat media. Pemilihan saluran bergantung pada situasi, tujuan yang hendak dicapai dan jumlah penerima pesan yang dihadapi. Keempat, penerima (receiver), yakni orang yang menerima pesan dari sumber. Dalam proses komunikasi si penerima pesan bedasarkan pengalaman masa lalu, pengetahuan, rujukan nilai, persepsi, pola pikir dan perasaan akan menafsirkan seperangkat simbol baik verbal maupun non vebal menjadi gagasan yang dapat dipahami oleh si penerima pean. Kelima, efek, yaitu hal yang terjadi pada si penerima pesan setelh ia menerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan, perubahan sikap, dan sebagainya. Komunikasi tidak berlangsung dalam suatu ruang hampa sosial, melainkan dalam suatu konteks atau situasi tertentu. Secara luas konteks di sini berarti semua faktor di luar orang-orang yang berkomunikasi, yang terdiri dari: pertama, aspek bersifat fisik seperti iklim, cuaca, suhu udara, bentuk ruangan, warna dinding, penataan tempat duduk, jumlah peserta komunikasi, dan alat yang tersedia untuk menyampaikan pesan; kedua, aspek psikologis, seperti: sikap, kecenderungan, prasangka, dan emosi para peserta komunikasi; ketiga, aspek sosial, seperti: norma kelompok, nilai sosial, dan karakteristik budaya; dan keempat, aspek waktu, yakni kapan berkomunikasi (hari apa, jam berapa). Indikator paling umum untuk mengklasifikasikan kemampuan berdasarkan konteksnya atau tingkatnya adalah jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi,
sehingga
terbentuklah
komunikasi
intrapribadi,
komunikasi
antarpribadi, komunikasi kelompok (kecil), komunikasi publik (pidato), komunikasi organisasi, dan komunikasi massa. Salah satu pendekatan situasional yang dikemukakan oleh Miller kemudian dikutip oleh Mulyana (2001) seperti terlihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kategori yang digunakan dengan pendekatan situasional Kategori
Komunikasi Massa
Jumlah komunikator
Derajat kedekatan fisik
Saluran indrawi yang tersedia
Kesegeraan umpan balik
Banyak
Rendah
Minimal
Paling Tertunda
Komunikasi organisasi Komunikasi publik Komunikasi kelompok Komunikasi antarpribadi Komunikasi intrapribadi Satu
Tinggi
Maksimal
Paling segera
Sebagaimana tampak pada Tabel 1, jumlah komunikator otomatis mempengaruhi dimensi-dimensi lain transaksi komunikasi. Ketika melihat acara bincang-bincang yang kerap disaksikan di layar televisi, kita menyaksikan dua tingkat komunikasi: komunikasi antarpribadi dan komunikasi massa. Komunikasi massa melibatkan banyak komunikator, berlangsung melalui sistem bermedia dengan jarak fisik yang rendah (artinya jauh), memungkinkan penggunaan satu atau dua saluran indrawi (penglihatan, pendengaran), dan biasanya tidak memungkinkan umpan balik segera. Sebaliknya, komunikasi antarpribadi melibatkan sejumlah komunikator yang relatif kecil, berlangsung dengan jarak fisik yang dekat, bertatap muka, memungkinkan jumlah maksimum saluran indrawi, dan memungkinkan umpan balik segera. Tentu saja pandangan situasional terhadap konteks-konteks komunikasi tersebut adalah penyederhanaan dan terkesan statis. Dalam kenyataannya, komunikasi begitu dinamis; begitu banyak variasi komuniksi yang dapat kita temukan dengan nuansa yang berlainan. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. Cara yang dipergunakan adalah dengan berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Mulyana (2003) membahas tentang fungsi komunikasi berdasarkan kerangka yang dikemukakan oleh Gorden sebagai berikut: (1) komunikasi sosial, (2) komunikasi ekspresif, (3) komunikasi ritual, dan (4) komunikasi instrumental. Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi kerja sama
dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok masyarakat, perguruan tinggi, RT, RW, desa, kota, dan Negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia, bisa dipastikan “tersesat”, karena ia tidak berkesempatan menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Komunikasi lah yang memungkinkan individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai panduan untuk menafsirkan situasi apapun yang dihadapi. Komuniksi pula yang memungkinkannya mempelajari dan menerapkan strategi-strategi adaptif untuk mengatasi situasi-situasi problematik. Erat kaitannya dengan komunikasi sosial adalah komunikasi ekspresif yang dapat dilakukan baik sendirian ataupun dalam kelompok. Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrument untuk menyampaikan perasaan-perasaan
(emosi)
kita.
Perasaan-perasaan
tersebut
terutama
dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci dapat disampaikan lewat kata-kata, namun terutama lewat perilaku nonverbal. Erat kaitannya dengan komunikasi ekspresif adalah komunikasi ritual, yang biasanya dlakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antopolog sebagai rites of passage, mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, siraman, pernikahan, ulang tahun perkawinan, hingga upacara kematian. Dalam acara-acara itu orang mengucapkan kata-kata atau menampilkan perilaku-perilaku tertentu yang bersifat simbolik. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, suku, bangsa, Negara, ideologi, atau agama mereka. Komunikasi ritual sering juga bersifat ekspresif, menyatakan perasaan terdalam seseorang. Sebagai respon kita terhadap (lambang) cinta, keluarga, Negara dan agama – untuk menyebut beberapa hal saja yang terpenting dalam kehidupan kita—mungkin tidak kita sadari. Respons manusia dalam menanggapi lambing-lambang ini tidak jarang bersifat ekstrem dan tidak masuk akal bagi
kebanyakan orang. Kegiatan ritual memungkinkan para pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi kepaduan mereka, juga sebagai pengabdian kepada kelompok. Bukanlah substansi kegiatan ritual itu sendiri yang terpenting, melainkan perasaan senasib sepenanggungan yang menyertainya, perasaan bahwa kita terikat oleh sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, yang bersifat “abadi”, dan bahwa kita diakui dan diterima dalam kelompok kita. Fungsi keempat dari komunikasi adalah komunikasi instrumental. Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga untuk menghibur. Bila diringkas, maka kesemua tujuan tersebut dapat disebut membujuk (bersifat persuasif). Komunikasi yang berfungsi memberitahukan atau menerangkan (to inform) mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat dan layak untuk diketahui. Sebagai instrumen, komunikasi tidak saja kita gunakan untuk menciptakan dan membangun hubungan, namun juga untuk menghancurkan hubungan tersebut. Studi komunikasi membuat kita peka terhadap berbagai strategi yang dapat kita gunakan dalam komunikasi kita untuk bekerja lebih baik dengan orang lain demi keuntungan bersama. Komunikasi berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang. Tujuan jangka pendek misalnya untuk mperoleh pujian, menumbuhkan kesan yang baik, memperoleh simpati, empati, keuntungan material, ekonomi, dan politik, yang antara lain dapat diperoleh lewat pengelolaan kesan (impression management), yakni taktik-taktik verbal dan nonverbal, seperti bicara sopan, mengobaral janji, mengenakan pakaian necis, dan sebagainya yang pada dasarnya untuk menunjukkan kepada orang lain siapa diri kita seperti yang kita inginkan. Sementara itu, tujuan jangka panjang dapat diraih lewat keahlian komunikasi, misalnya keahlian berpidato, berunding, berbahasa asing ataupun keahlian menulis. Kedua tujuan itu tentu saja berkaitan dalam arti bahwa berbagai
pengelolaan kesan itu secara kumulatif dapat digunakan untuk mencapai tujuan jangka panjang berupa keberhasilan dalam karier. Prinsip/hukum dasar yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi agar efektif menurut Stephen Covey yang disadur oleh Sentoso (2003) adalah REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble). Hukum pertama dalam berkomunikasi adalah respect, yang merupakan sikap hormat dan sikap menghargai terhadap lawan bicara. Setiap individu harus memiliki sikap (attitude) menghormati dan menghargai lawan bicara karena pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Hukum kedua adalah empati, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Rasa empati akan membuat kita mampu menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan. Sehingga nantinya pesan akan dapat tesampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima. Emapati bias juga berarti kemampuan untuk mendengarkan dan bersikap perspeptif atau siap menerima masukan atau pun umpan balik dengan siakp yang positif. Esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Hukum ketiga adalah audible, yang maknanya dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Kunci utama untuk dapat menerapkan hokum ini dalam mengirimkan pesan adalah: pesan yang mudah dimengerti, fokus pada informasi yang penting, menggunakan ilustrasi untuk membantu memperjelas isi dari pesan tersebut, memperhatikan fasilitas yang ada dan lingkungan disekitar kita, antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul, selalu mempersiapkan rencana atau pesan cadangan (back up). Hukum keempat adalah kejelasan dari pesan yang disampaikan (clarity). Pesan yang ingin disampaikan harus jelas sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara dan bahasa yang dipergunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti akan membuat isi pesan tidak dapat mencapai tujuannya.
Seringkali orang menganggap clarity bukan hal yang penting sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan. Beberapa cara untuk mempersiapkan pesan agar jelas yaitu: menentukan tujuan yang jelas, meluangkan waktu untuk mengorganisasikan ide pesan, memenuhi tuntutan kebutuhan format bahasa yang dipergunakan, membuat pesan dengan jelas, tepat dan meyakinkan, pesan yang disampaikan harus fleksibel. Hukum kelima dalam komunikasi adalah sikap rendah hati (humble). Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama
untuk
membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati. Kerendahan hati juga dapat berarti tidak sombong dan menganggap penting diri kita pada saat berbicara.Justru dengan kerendahan hati inilah kita dapat menangkap perhatian dan respon yang positif dari si penerima pesan.
Komunikasi Publik Komunikasi publik (public communication) adalah komunikasi antara seorang pembicara dengan sejumlah besar orang (khalayak), yang tidak bisa dikenali satu persatu. Komunikasi demikian sering juga disebut pidato, ceramah, kuliah umum. Komunikasi publik biasanya berlangsung lebih formal dan lebih sulit daripada komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok, karena komunikasi publik menuntut persiapan pesan yang cermat, keberanian dan kemampuan menghadapi sejumlah besar orang. Daya tarik fisik pembicara bahkan sering merupakan publik penting yang menentukan efektivitas pesan, selain keahlian dan kejujuran yang dimiliki pembicara. Tidak seperti komunikasi antarpribadi yang melibatkan pihak-pihak yang sama-sama aktif, satu pihak (pendengar) dalam komunikasi publik cenderung pasif. Umpan balik yang mereka berikan terbatas, terutama umpan balik bersifat verbal. Umpan balik nonverbal lebih jelas diberikan orang-orang yang duduk di jajaran depan, karena merekalah yang paling jelas terlihat. Sesekali pembicara menerima umpan balik bersifat serempak, seperti tertawa atau tepuk tangan. Ciri-ciri komunikasi publik adalah: terjadi di tempat umum (publik), misalnya di auditorium, kelas, tempat ibadah (masjid, gereja) atau tempat lainnya yang dihadiri sejumlah besar orang; merupakan peristiwa sosial yang biasanya telah direncanakan alih-alih peristiwa
relatif informal yang tidak terstruktur; terdapat agenda; beberpa orang ditunjuk untuk menjalankan fungsi khusus, seperti
memperkenalkan pembicara, dan
sebagainya; acara-acara lain mungkin direncanakan sebelum dan/atau sesudah ceramah
disampaikan
memberikan
pembicara.
penerangan,
Komunikasi
menghibur,
publik
memberikan
sering
bertujuan
penghormatan,
atau
membujuk.
Komunikasi Antarpribadi Komunikasi antarpribadi merupakan aspek yang sangat penting dalam teori komunikasi. Para ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi antarpribadi secara berbeda-beda. Miller (1990), menyatakan bahwa definisi komunikasi antarpribadi dapat dibahas berdasarkan tiga ancangan utama yaitu: (1) definisi berdasarkan komponen, definisi ini menjelaskan komunikasi antarpribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya—dalam hal ini, penyampaian pesan oleh satu orang dan penerima pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera; (2) definisi berdasarkan hubungan diadik, yaitu komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orag yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas dan hamper tidak dapat dihindarkan serta selalu ada hubungan tertentu antara dua orang; (3) definisi berdasarkan pengembangan, dalam ancangan pengembangan, komunikasi antarpribadi dilihat sebagai akhir dari perkembangan komunikasi yang bersifat tidak pribadi (impersonal) pada satu ekstrim menjadi komunikasi pribadi atau intim pada ekstrim yang lain. Berdasarkan ketiga ancangan tersebut maka komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) dapat didefinisikan sebagai berikut: komunikasi antar orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal. Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik (dyadic communication) yang melibatkan hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru murid, dan sebagainya. Ciri-ciri komunikasi diadik adalah: pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang dekat; pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerima pesan
secara simultan dan spontan, baik secara verbal ataupun nonverbal. Keberhasilan komunikasi menjadi tanggung jawab para peserta komunikasi. Kedekatan hubungan pihak-pihak yang berkomunikasi akan tercermin pada jenis-jenis pesan atau respons nonverbal mereka, seperti sentuhan, tatapan mata yang ekspresif, dan jarak fisik yang sangat dekat. Meskipun setiap pembicaraan, kenyataannya komunikasi antarpribadi bisa saja didominasi oleh suatu pihak. Misalnya, komunikasi suami istri didominasi oleh suami, komunikasi bidan-pasien didominasi oleh bidan. Komunikasi antarpribadi dibedakan dari jenis komunikasi yang lain karena (1) prediksi lebih didasarkan atas data psikologis ketimbang data sosiologis; (2) prediksi didasarkan atas pengetahuan yang menjelaskan (explanatory knowledge) tentang satu sama lain; (3) perilaku didasarkan pada aturan-aturan yang ditetapkan secara pribadi. Kita biasanya menganggap pendengaran dan penglihatan sebagai indra primer, padal sentuhan dan penciuman juga sama pentingnya dalam menyampainkan pesan-pesan bersifat intim. Jelas sekali, bahwa komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima alat indra tadi untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang dikomunikasikan. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antarpribadi perperan penting hingga kapan pun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya, berbeda dengan komunikasi lewat media massa seperti surat kabar dan televisi atau lewat teknologi komunikasi tercanggih sekalipun seperti telepon genggam, E-mail, atau telekonferensi, yang membuat manusia merasa terasing. Hubungan antarpribadi yang terjalin antar dua orang kebanyakan, mungkin semua, berkembang melalui tahap-tahap menurut De Vito (1997) seperti dalam Gambar 1
Kontak
Keluar
Keterlibatan
Keluar
Keakraban
Keluar
Perusakan
Keluar
Pemutusan
Keluar
Gambar 1. Model Hubungan Lima Tahap Pada tahap pertama kita membuat kontak. Pada tahap inilah penampilan fisik begitu penting, karena dimensi fisik paling terbuka untuk diamati secara mudah. Namun demikian, kualitas-kualitas lain seperti sikap bersahabat, kehangatan, keterbukaan, dan dinamisme juga terungkap pada tahap ini. Jika kita menyukai orang ini dan ingin melanjutkan hubungan, kita beranjak ke tahap kedua.Tahap keterlibatan adalah tahap pengenalan lebih jauh, ketika kita mengikatkan diri kita untuk lebih mengenal orang lain dan juga mengungkapkan diri kita. Pada tahap keakraban, kita mengikatkan diri lebih jauh pada orang ini. Tahap ini hanya disediakan untuk sedikit orang saja—kadang-kadang hanya satu orang, kadang-kadang dua, tiga atau empat orang saja. Jarang sekali orang mempunyai lebih dari empat orang sahabat akrab, kecuali, tentu saja, dalam keluarga. Pada tahap perusakan, kita mulai merasa bahwa hubungan ini mungkin tidaklah sepenting yang kita pikirkan sebelumnya. Kita menjadi semakin jauh. Makin sedikit waktu senggang yang dilalui bersama, dan bila bertemu akan saling diam, tidak lagi banyak mengungkapkan diri. Dan tahap yang terakhir yaitu tahap pemutusan dimana terjadi pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua pihak. Gambar 1 mengandung tiga macam panah. Panah keluar menunjukkan bahwa setiap tahap menawarkan kesempatan untuk keluar dari hubungan. Panah vertical atau “perpindahan” yang menuju ke tahap selanjutnya dan sebaliknya menggambarkan kemampuan untuk berpindah ke tahap lain. Panah “self-
reflexive” kembali ke awal dari tingkat atau tahap yang sama. Ini menggambarkan bahwa setiap hubungan dapat menjadi stabil pada sembarang titik. Hubungan dalam komunikasi antarpribadi dapat dikembangkan dengan baik, salah satu variabel yang laing penting dan paling banyak ditelaah adalah daya tarik (attraction). Riset dan teori telah mengidentifikasi lima faktor utama yang mempengaruhi daya tarik ini yaitu sebagai berikut: (1) Daya tarik fisik, kebanyakan kita lebih menyukai orang yang secara fisik menarik ketimbang orang yang secara fisik tidak menarik, dan kita lebih menyukai orang yang memiliki kepribadian menyenangkan ketimbang yang tidak. Umumnya, kita melekatkan karakteristik (citra) positif kepada orang yang menurut kita menarik dan karakteristik (citra) negatif kepada orang yang kita anggap tidak menarik. (2) Kedekatan, jika kita mengamati orang yang menurut kita menarik, mungkin kita menjumpai bahwa mereka adalah orang-orang yang tinggal atau bekerja di dekat kita. Jarak fisik paling penting pada tahap-tahap awal interaksi. Pengaruh kedekatan ini berkurang (tetapi selalu tetap penting) dengan meningkatnya peluang untuk berinteraksi dengan mereka yang berjarak lebih jauh. (3) Pengukuhan, kita menyukai orang yang menghargai atau mengukuhkan kita. Penghargaan atau pengukuhan dapat bersifat sosial (misalnya, komplimen atau pujian) atau bersifat material (misalnya, hadiah atau promosi). Tetapi penghargaan dapat berakibat sebaliknya. Bila berlebihan, penghargaan kehilangan efektivitasnya dan dapat menimbulkan reaksi negatif. Kita juga menjadi tertarik kepada orang yang kita hargai. Kita menjadi suka kepada orang yang kita bantu. Kita memberikan penghargaan kepada seseorang karena kita menyukainya. (4) Kesamaan, kita umumnya menyukai orang yang sama dengan kita dalam hal kebangsaan, suku bangsa, kemampuan, karakteristik fisik, kecerdasan, dan— khususnya—sikap dan selera. Hipotesis kecocokan menjelaskan bahwa orangorang akan bergaul dan membina hubungan dengan orang-orang yang mirip dengan mereka sendiri dalam hal daya tarik. Meskipun pada kenyataannya tidaklah selalu demikian. Status kekayaan, kecerdasan, kekuasaan, dan
berbagai karakteristik kepribadian lain merupakan contoh nyata kualitas yang dapat mengimbangi kekurangan daya tarik fisik. (5) Sifat saling melengkapi, walaupun banyak orang berpendapat bahwa “orangorang yang mempunyai kepentingan yang sama akan bersatu” ada pula orang lain yang berpendapat bahwa “kutub yang berlawanan saling tarik menarik.” Ancangan ini mengikuti prinsip saling melengkapi. Prinsip saling melengkapi meramalkan bahwa orang akan tertarik pada orang lain yang tidak serupa dengannya. Orang tertarik kepada orang lain yang tidak serupa hanya dalam situasi-situasi tertentu. Pada komunikasi antarpribadi, yang menjadi saluran maupun sumber komunikasi adalah pemrakarsa komunikasi. Arus pesan yang terjadi pada komunikasi antarpribadi cenderung dua arah dalam konteks komunikasi tatap muka, meskipun saat ini banyak yang memanfaatkan alat bantu dalam berkomunikasi sehingga umpan baliknya tinggi sebagai akibat dari pesan diterima oleh komunikan. Hal yang sering terjadi pada komunikasi antarpribadi, si penerima pesan mampu mengatasi tingkat selektivitas terutama terpaan selektif (selective exposure).
Kecepatan jangkauan pesan terhadap khalayak jika
mempergunakan komunikasi antarpribadi relatif lambat. Efek yang mungkin terjadi jika mempergunakan komunikasi antarpribadi adalah perubahan sikap.
Komunikasi Kelompok Salah satu komponen penting dalam membangun sebuah kelompok yang baik adalah adanya komunikasi yang efektif dalam kelompok tersebut. Komunikasi dapat memperkuat ataupun memperlemah bahkan menghancurkan sebuah kelompok. Kelompok merupakan sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Sedangkan De Vito (1997) menyatakan pendapatnya tentang kelompok lebih mengarah pada kelompok kecil. Kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil dan masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka.
Setiap karakteristik ini dapat diuraikan sebagai berikut: 1. kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan, jumlahnya cukup kecil sehingga semua anggota bisa berkomunikasi dengan mudah sebagai pengirim maupun penerima. 2. para anggota kelompok harus dihubungkan satu sama lain dengan beberapa cara. Didalam kelompok kecil, perilaku seorang anggota menjadi nyata bagi semua anggota lainnya. 3. diantara anggota kelompok harus ada beberapa tujuan yang sama. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, tetangga, kawan-kawan terdekat; kelompok diskusi; kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah rapat untuk mengambil suatu keputusan. Dengan demikian, komunikasi kelompok biasanya merujuk pada komunikasi yang dilakukan kelompok kecil tersebut (small-group
communication).
Komunikasi
kelompok
dengan
sendirinya
melibatkan juga komunikasi antarpribadi, karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok. Proses komunikasi dalam kelompok biasanya bisa berjalan dengan baik jika masing-masing anggota memahami masing-masing perannya. Pendapat Benne dan Sheats yang disadur De Vito (1997) menyatakan bahwa peran anggota dalam komunikasi kelompok kecil terbagi dalam tiga kelas umum, yaitu peran tugas kelompok, dimana peran ini yang membuat kelompok mampu untuk memfokuskan secara lebih spesifik dalam mencapai tujuan kelompok. Dalam menjalankan peran ini, anggota tidak berbuat sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Peran yang kedua, peran membina dan mempertahankan kelompok sangat diperlukan karena kelompok merupakan satu unit yang para anggotanya memiliki hubungan interpersonal yang beragam sehingga kelompok dan para anggotanya memerlukan dukungan interpersonal yang sama dan sesuai yang dibutuhkan anggotanya. Sedangkan peran yang ketiga, peran individual, dimana peran ini lebih mengarah pada peran yang kontra-produktif. Peran tersebut dapat menghambat kelompok dalam mencapai tujuannya dan lebih berorientasi pada individu ketimbang kelompok. Peran semacam ini sering diistilahkan dengan malfungsi, yang menghambat efektivitas kelompok baik dalam hal produktivitas maupun kepuasan pribadi.
Pada umumnya kelompok mengembangkan norma, atau peraturan mengenai perilaku yang diinginkan. Norma atau peraturan ini berlaku bagi anggota perorangan maupun kelompok secara keseluruhan, dan tentunya akan berbeda dari satu kelompok dengan kelompok lainnya. Pada akhirnya proses komunikasi dalam suatu kelompok sangat bergantung pada komunikasi interpersonal dari masing-masing anggota maupun pemimpin kelompok, tujuan dan perannya di dalam kelompok serta norma-norma yang berlaku. Antara komunikasi kelompok dengan komunikasi antarpribadi sebenarnya tidak perlu ditarik suatu garis pemisah, hal ini disampaikan oleh Golberg dan Larson (1985), kedua bidang tersebut bertumpang tindih dan banyak situasi tatap muka dapat diungkapkan dalam berbagai cara sesuai dengan perhatian dan tujuan si pengamat. Kesamaannya: komunikasi kelompok dan komunikasi antarpribadi melibatkan dua atau lebih individu yang secara fisik berdekatan dan yang menyampaikan serta menjawab pesan-pesan baik secara verbal maupun non verbal. Akan tetapi komunikasi antarpribadi biasanya dikaitkan dengan pertemuan antara dua, tiga, atau mungkin empat orang yang terjadi secara sangat spontan dan tidak berstruktur, sedangkan komunikasi kelompok terjadi dalam suasana yang lebih berstruktur dimana para pesertanya lebih cenderung dilakukan secara sengaja dibandingkan dengan komunikasi antarpribadi, dan umumnya para pesertanya lebih sadar akan peranan dan tanggung jawab mereka masing-masing. Meskipun komunikasi kelompok dapat dan memang terjadi dalam suatu kelompok. Dengan demikian kriteria pokok dalam membedakan komunikasi antarpribadi
dengan
komunikasi
kelompok
adalah
kadar
spontanitas,
strukturalisasi, kesadaran dan sasaran kelompok, ukuran kelompok, relativitas sifat permanen, sifat permanen dari kelompok serta identitas diri.
Komunikasi Massa Komunikasi telah mencapai suatu tingkat di mana orang mampu berbicara dengan jutaan manusia secara serempak dan dalam waktu yang bersamaan. Teknologi komunikasi yang canggih telah menciptakan suatu alat/saluran
komunikasi yang mendukung proses komunikasi secara cepat. Cara seperti ini sangat mendukung keberhasilan komunikasi massa. Studi tentang komunikasi massa termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan yang lebih luas berkenaan dengan komunikasi manusia. Mc Quail (1994) menyatakan bahwa pengertian komunikasi massa hanya merupakan salah satu proses komunikasi yang berlangsung pada peringkat masyarakat luas, yang identifikasinya ditentukan oleh ciri khas institusionalnya (gabungan antara tujuan, organisasi, dan kegiatan yang sebenarnya). Mulyana ( 2001) menyatakan bahwa komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa. Media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim, dan heterogen. Pesan-pesannya bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak dan selintas (khususnya media elektronik). Komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi berlangsung juga dalam proses untuk mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini. Proses lain yang kedudukannya hampir sama dalam pengertian ruang lingkup dan keberadaannya yang muncul dimana-mana adalah pemerintahan, pendidikan, dan agama. Masingmasing memiliki jaringan institusional tersendiri yang kadangkala sangat banyak berkaitan dalam proses transmisi atau tukar menukar informasi dan gagasan. Permasalahan komunikasi massa bersifat komprehensif karena komunikasi massa melibatkan gagasan yang berkenaan dengan setiap proses “peringkat bawah” seperti dalam Gambar 2
Peringkat Proses Komunikasi: • Masyarakat luas (misalnya komunikasi massa) • Institusi/organisasi (misalnya system politik/badan usaha) • Antar kelompok/asosiasi (misalnya komunitas setempat) • Dalam kelompok (intragroup) (misalnya keluarga) • Antarpribadi (interpersonal) (misalnya dua orang, pasangan) • Dalam pribadi (intrapersonal)
Sedikit terjadi
(misalnya proses informasi)
Banyak terjadi
Gambar 2. Proses Komunikasi dalam masyarakat
Media Televisi dan Efeknya Pada Masyarakat Munculnya
media
televisi
dalam
kehidupan
manusia
memang
menghadirkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa. Globalisasi informasi dan komunikasi setiap media massa jelas melahirkan satu efek sosial yang bermuatan perubahan nilai-nilai social dan budaya manusia. Televisi ternyata memberikan nilai yang sangat spektakuler dalam sisi-sisi pergaulan hidup manusia saat ini. Kemampuan televisi dalam menarik perhatian massa menunjukkan bahwa media tersebut telah menguasai jarak secara geografis dan sosiologis Data tarik media televisi sedemikian besar sehingga pola-pola kehidupan rutinitas manusia berubah total. Media televisi menjadi panutan baru bagi kehidupan manusia. Media televisi menjadi alat atau sarana untuk mencapai tujuan hidup manusia, baik untuk kepentingan politik maupun perdagangan, bahkan melakukan perubahan ideologi serta tatanan nilai budaya manusia yang sudah ada sejak lama. Media televisi mempunyai banyak kelebihan disamping beberapa kelemahan. Kekuatan media televisi ialah menguasai jarak dan ruang karena teknologi televisi telah menggunakan elektromagnetik, kabel dan fiber yang dipancarkan (transmisi) melalui satelit. Sasaran yang dicapai untuk menjangkau massa cukup besar. Nilai aktualitas terhadap suatu liputan atau pemberitaan sangat cepat. Daya rangsang seseorang terhadap media televisi cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh kekuatan suara dan gambarnya yang bergerak (ekspresif). Satu hal yang paling berpengaruh dari daya tarik televisi ialah bahwa informasi atau berita-berita yang disampaikan lebih singkat, jelas dan sistematis, sehingga pemirsa tidak perlu lagi mempelajari isi pesan dalam menangkap siaran televisi. Menurut Malik (2006) bahwa rangsangan yang ditimbulkan oleh televisi melalui program-programnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan media cetak. Karena, pada televisi gambar-gambarnya bersifat moving, sedangkan media cetak bersifat statis. Secara psikologis, gambar yang bergerak dapat “tertanam” dalam benak
manusia dalam tempo yang lama sekali. Makin besar daya pikatnya atau rangsangan
yang
ditimbulkannya,
makin
dalam
pula
dampak
yang
ditimbulkannya. Kelemahan atau kekurangan dari media televisi adalah, karena bersifat “transitory” maka isi pesannya tidak dapat di simpan di dalam memori pemirsa kecuali pesan tersebut dilakukan secara berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang cukup lama (lain halnya dengan media cetak, informasi dapat disimpan dalam bentuk kliping koran). Media televisi terikat oleh waktu tontonan, sedangkan media cetak dapat dibaca kapan dan dimana saja. Televisi tidak bisa melakukan kritik sosial dan pengawasan sosial secara langsung seperti halnya pada media cetak. Hal ini terjadi karena faktor penyebaran siaran televisi yang begitu luas kepada massa yang heterogen (status sosial ekonominya). Namun di kalangan para ahli, masih terjadi perdebatan panjang tentang pengaruh media massa, khususnya televisi, terhadap perilaku masyarakat. Setidaknya ada tiga tahapan penelitian yang bisa dijadikan rujukan bagi masyarakat dalam menilai dampak media massa. Anto (2007) membandingkan ketiga tahapan penelitian tersebut, yaitu penelitian pertama mengikuti rentang waktu dari awal abad ke-19 hingga akhir tahun 1930-an. Pada kurun ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa media massa yang berkembang dengan baik mengembangkan pengaruh yang cukup signifikan untuk membentuk opini dan keyakinan serta mengubah kebiasaan hidup masyarakat. Secara aktif media juga membentuk perilaku yang kurang lebih sesuai dengan keinginan orang-orang yang dapat mengendalikan media massa dan isinya. Tahap kedua dimulai dengan serangkaian studi Payne Fund di Amerika Serikat pada awal tahun 1930-an berlanjut hingga awal tahun 1960-an. Menurut Josepth Klapper yang disadur oleh Anto (2007) bahwa komunikasi massa biasanya tidak menjadi penyebab yang pasti dan memadai atas efek yang muncul pada khalayak, namun komunikasi massa lebih berfungsi diantara dan melalui hubungan dengan faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh yang dimediasinya. Sedangkan tahap ketiga, menurut Denis Mc Quail yang dikutip oleh Anto (2007) merupakan tahap dimana dampak dan kemungkinan dampak masih sedang ditelaah, tanpa menolak kesimpulan penelitian sebelumnya, tetapi didasarkan atas perbaikan konsepsi tentang proses
sosial dan media yang mungkin terlibat. Hasil-hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa media massa memang memiliki potensi untuk mempengaruhi dan memperkuat perilaku seseorang. Dahulu orang menganggap media massa memiliki kekuatan yang sangat besar. Media bisa mempunyai efek yang sangat kuat terhadap masyarakat Indonesia. Namun sekarang nampaknya hal ini sudah tidak terhadi lagi di dalam masyarakat kita. Masyarakat dalam perkembangannya menjadi khalayak aktif yang memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Media kini berkembang dengan pesat hamper semua orang tahu tentang hal tersebut. Reformasi memang memiliki peran yang tidak sedikit dalam memberi kesempatan terhadap pertumbuhan dan perkembanagn media. Perkembangan media yang pesat seperti juga hal lain media memiliki dampak positif maupun negatif. Wahyudi (1991) menyatakan bahwa komunikasi massa melalui media televisi ialah proses komunikasi antara komunikator dengan komunikan (massa) melalui sebuah sarana yaitu televisi. Komunikasi massa melalui media televisi bersifat periodik. Dalam komuniksi massa media tersebut, lembaga penyelenggara komunikasi bukan secara perorangan, melainkan melibatkan banyak orang dengan organisasi yang kompleks serta pembiayaan yang besar. Karena media televisi bersifat “transitory” (hanya meneruskan) maka pesan-pesan yang disampaikan melalui komunikasi massa media tersebut, hanya dapat didengar dan dilihat secara sekilas. Pesan-pesan di televisi bukan hanya didengar, tetapi juga dapat dilihat dalam gambar yang bergerak (audiovisual). Paradigma Lasswell yang dikutip oleh Jahi (1988) tentang proses komunikasi yang berbunyi “Who says what, to whom, in which channel, and with what effect?”, secara langsung menggambarkan bahwa proses komunikasi seseorang memerlukan media. Memasukkan paradigma Lasswell dalam komunikasi massa media televisi secara tegas memperlihatkan bahwa dalam setiap pesan yang disampaiakan televisi tentu saja mempunyai tujuan khalayak sasaran serta akan mengakibatkan umpan balik baik secara langsung maupun tidak langsung. Tujuan akhir dari penyampaian pesan media televisi bisa menghibur, mendidik, unsur-unsur, menghubungkan atau sebagai bahan informasi.
Menurut Ray,M.L dalam bukunya The marketing Communication and The Hierarchy of Effect yang dikutip oleh Rosady Ruslan (2006) menjelaskan bahwa dari peninjauan dan perbandingan mengenai teori efek komunikasi, maka terdapat tiga model dasar perbedaan hierarki efek (effect hierarchy) atau serangkaian efek yang tergantung dari tahapan-tahapan dalam proses komunikasi, sebagai berikut: 1. The Learning Hierarchy (Hierarki Pembelajaran) Cognitive (Kognitif)
Affective (Afektif)
Behavioural (Perilaku)
Model hierarki pembelajaran secara klasik dimana subjek (publik) tertentu yang diekspos dalam suatu kegiatan proses kampanye persuasif, berkaitan dengan posisi yang jelas hendak dicapai, atau pilihan tepat antara perbedaan alternatif yang ada. Khalayak sasaran tertentu yang diperkirakan akan dimotivasi untuk tertarik ke dalam proses hierarki pembelajaran mengenai suatu ide, gagasan atau inovasi tertentu, dan proses pengembangan sikap yang lebih menguntungkan melalui adaptasi perilaku publik (khalayak sasaran) yang diharapkan terjadi perubahan melalui proses tahapan hierarki pembelajaran, mulai dari aspek-aspek (1) kognisi, dari transfer informasi pngetahuan tertentu akan mengubah dari tidak tahu menjadi tahu, (2) afektif, mengubah dari tidak senang menjadi senang, dan (3) perilaku, yaitu terdapat perubahan dari hal negative menjadi perilaku yang lebih positif. Model Hierarki Pembelajaran dipergunakan sebagai dasar penelitian ini. 2. The Dissonance-Atribution Hierarchy (Hierarki Atribut dan Ketidakcocokan) Behavioural (Perilaku)
Affective (Afektif)
Cognitive (Kognitif)
Model Hierarki Atribut dan Ketidakcocokan, merupakan model kebalikan dari rangkaian efek hierarki pembelajaran. Berkaitan dengan perubahan perilaku yang baru atau pengalaman tertentu, seperti konsumen (publik sasaran) ingin mencoba suatu produk baru atau sebelumnya yang telah diekspos melalui rangsangan pesan-pesan yang menarik perhatian. Biasanya, proses tahap pertama adalah terlebih dahulu merangsang perubahan suatu perilaku (behavioural) tertentu, dan
dapat juga terjadi respon melalui aspek afeksi (segi emosional), maka tahapan selanjutnya adalah proses pembelajaran (kognitif). 3. The Low-Involvement Hierarchi (Hirarki Keterlibatan Rendah) Cognitive (Kognitif)
Behavioural (Perilaku)
Affective (Afektif)
Model The Low-Involvement Hierarchi dikembangkan oleh Krugman dan berkaitan dengan suatu proses yang bertujuan terhadap penawaran tidak kentara melalui pesan-pesan atau perubahan diskriminatif terhadap penerima (receiver) yang memiliki ketertarikan dan perhatian sangat rendah terhadap pesan-pesan yang disampaikan.Khalayak mengambil informasi mengenai sesuatu hal, ingin mencoba (aspek perilaku) dan penyesuaian sikapnya dengan pertimbangan terhadap pengalaman-pengalaman sebelumnya. Pengiriman isi pesan melalui komunikasi massa media televisi harus benar-benar menguasai sifat-sifat fisik dan massa dari media massa itu sendiri. Dengan memahami sifat medium yang dipakai maka proses komunikasi akan berjalan dengan efisien dan efektif, sehingga kemungkinan pesan itu sampai kepada massa pun akan semakin besar. Isi pesan media televisi berasal dari sumber resmi tentang sesuatu isu yang terjadi di masyarakat. Pendapat sumber resmi ini apabila sudah ditayangkan akan menimbulkan pendapat umum. Sifat komunikasi massa media televisi yang “transitory” maka mengharuskan: (1) isi pesan yang akan disampaikannya harus singkat dan jelas; (2) cara penyampaian kata per kata harus benar; (3) intonasi suara dan artikulasi harus tepat dan baik. Kesemuanya itu tentu saja menekankan unsur isi pesan yang komunikatif agar pemirsa dapat mengerti secara tepat tanpa harus menyimpang dari pemberitaan yang sebenarnya (interpretasi berbeda). Media massa mempunyai agenda settingnya sendiri dalam mempengaruhi dan
membentuk
selera
konsumennya.
Termasuk
membentuk
nilai-nilai
masyarakat agar sesuai dengan nilai-nilai yang ada di benak para pembuat keputusan di media. Anto (2007) mengutip pendapat Daniel Hallin, ada tiga peta ideologis atau nilai yang dianut orang-orang media, dalam konteks fungsi agenda setting. Pertama, yang disebutnilai penyimpangan (sphere of deviance). Dalam
peta ideologis ini, gagasan, peristiwa, atau perilaku tertentu dikucilkan dan dipandang menyimpang oleh masyarakat, termasuk media massa. Kedua, nilai kontroversi (sphere of legimate controversy). Realitas masih dianggap menyimpang dan buruk, namun dalam realita ini masih diperdebatkan. Media massa, jelas memiliki peran yang tidak kecil dalam mempengaruhi nilai-nilai masyarakat. Ketiga adalah nilai konsensus (sphere of consensus). Dalam wilayah ini, peristiwa tertentu dipahami dan disepakati secara bersama-sama sebagai relitas yang sesuai dengan nilai-nilai ideologi yang dianut masyarakat. Membanjirnya iklan dilayar televisi adalah sesuatu yang sah. Sebab, tayangan hiburan dan informasi yang ditampilkan hadir atas dukungan dana dari para produsen pemasang iklan. Selain itu, iklan juga memberikan alternatif bagi pemirsa untuk mengetahui dan mengenal barang produksi yang ada di pasaran. Menurut Kuswandi (1996) bahwa iklan terbagi menjadi dua yaitu iklan komersial dan iklan layanan masyarakat. Iklan komersial merupakan suatu bentuk promosi hasil produksi perusahaan (makanan, obat-obatan, pakaian dan semacamnya) yang ditawarkan kepada khalayak sasaran melalui media massa. Ada tiga hal penting sehubungan dengan masuknya iklan komersial di media massa, yaitu: (1) produsen mendapat keuntungan apabila barang yang diiklankan dibeli konsumen atau pemirsa; (2) media massa menerima biaya periklanan yang ditayangkan dari perusahaan produksi barang/jasa; (3) pemirsa mengenal barang/jasa produsen yang diiklankan. Disamping iklan komersial dalam media massa terdapat pula iklan layanan masyarakat. Iklan jenis ini, isi pesannya berasal dari golongan atau instansi tertentu (pemerintah, masyarakat, kelompok) yang memberikan informasi kepada masyarakat tentang sesuatu yang harus diketahui dan diikuti serta dijalani oleh pemirsa. Sifatnya hanya mengingatkan. Misalnya mentaati peraturan lalu lintas, himbauan tentang bahaya demam berdarah dan pemberantasan sarang nyamuk, melestarikan lingkungan, himbauan untuk turut mencegah terjadinya tindak korupsi, dan sebagainya. Ada tiga hal pokok yang dapat dilihat dengan munculnya iklan layanan masyarakat di media televisi, yakni: (1) menggugah kesadaran pemirsa untuk berbuat sesuatu; (2) isi pesannya bersifat umum; (3) isi pesannya menggunakan
kata himbauan atau anjuran. Sebenarnya tujuan akhir dari kedua jenis iklan tersebut adalah sama, yaitu memberikan informasi kepada pemirsa untuk berbuat sesuatu sesuai dengan objek yang diiklankan.
Model Komunikasi Banyak teori tentang hubungan media dan khalayak, kiranya ada empat yang bisa dikemukakan. Pertama, Teori Jarum Hipodermik. Teori ini mengemukakan kekuatan media yang begitu dahsyat sehingga dapat memegang kendali pikiran khalayak yang pasif. Kekauatan media yang mempengaruhi khalayak ini beroperasi seperti jarum suntik, tidak kelihatan namun berefek. Kedua, Teori Agenda Setting. Dengan model yang hampir serupa, teori ini mengatakan jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka ia tidak menentukan what to think, tetapi what to think about. Tengku Dani Iqbal (2006) mengutip pernyataan David H. Heaver bahwa teori ini berdiri atas asumsi bahwa media atau pers does not reflect reality, but rather filters and shapes it, much as a caleidoscope filters and shape it. Dari sejumlah peristiwa dan kenyataan social yang terjadi, media massa memilih dan meilahnya berdasarkan kategori tertentu, dan menyampaikan kepada khalayak dan khalayak menerimanya bahwa peristiwa x adalah penting. Dan yang ketiga adalah Teori Kegunaan dan Kepuasan (uses dan gratification theory). Teori ini secara radikal menandai pergeseran focus pandangan dari hal-hal yang media lakukan untuk khalayak menjadi sesuatu yang orang lakukan terhadap media. Asumsinya tentu saja karena khalayak itu sangat aktif. Para pendukung teori ini menyatakan bahwa orang secara katif menggunakan media massa untuk memuaskan kebutuhan tertentu yang dapat dispesifikasikan. Dan karenanya terpaan media belum tentu diterima dan ditiru oleh khalayak. Setiap komunikasi mempunyai sumber yakni orang atau kelompok orang yang memiliki tujuan, punya alasan untuk melakukan komunikasi yang maksud dan tujuannya harus dinyatakan dalam bentuk pesan. Berdasarkan teori Model Psychodinamic, De Fleur menyatakan bahwa kunci keefektivan persuasi terletak pada kemampuan mengubah struktur psikologis orang perorang. Reaksi De Fleur terhadap model stimulus respon adalah pesan-pesan media massa mempunyai
karakteristik tertentu yang berinteraksi dengan individu anggota khalayak yang mempunyai sifat tertentu sehingga menghasilkan efek yang berbeda pula. Mulyana (2001) menggambarkan bahwa suatu pesan yang bersifat persuasif dapat memperoleh suatu perubahan sikap. Adapun gambar selengkapnya seperti pada Gambar 3.
Pesan yang persuasif
Mencegah/mengaktifkan proses psikologis laten,misalnya pembentukan sikap
Perubahan yang dicapai dalam arah tingkah laku yang tampak
Gambar 3. Penyampaian Pesan Persuasif (Mulyana, 2001) Model Psychodinamic mencakup upaya pengidentifikasian kondisi dimana menunjukkan jenis peubah utama yang berkaitan dengan sumber, isi, penerima, tujuan adanya alasan untuk mempercayai bahwa pesan yang berasal dari sumber yang berwenang dan dapat dipercaya relatif akan lebih efektif seperti halnya dengan sumber yang menarik/dekat dengan penerima. Mengenai isi keefektifan dikaitkan dengan perulangan, konsistensi dan kurangnya alternatif umumnya dampak yang diinginkan cenderung lebih mungkin terjadi dalam sejumlah topik yang jauh dari atau kurang penting bagi penerima. Ada berbagai macam teori tentang efek media terhadap khalayak, tetapi nampaknya masyarakat Indonesia dapat dimasukkan ke dalam golongan khalayak aktif, maksudnya masyarakat yang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya dan hanya sesuai dengan tujuannya menggunakan media. Dalam terpaan begitu banyak media, masyarakat kita akhirnya secara taken for granted melakukan seleksi terhadap media-media yang akan dipergunakan. Masyarakat mulai memiliki lebih banyak alternatif media yang dapat dipergunakan, kemudian ketika masyarakat mulai berani untuk memilih media sesuai dengan kebutuhan mereka maka disitulah sedikit demi sedikit khalayak memulai peran aktif nya sebagai khalayak aktif. Penelitian ini melihat proses penyampaian pesan pencegahan bahaya demam berdarah kepada khalayak yang dengan berbagai macam model
komunikasi. Pesan yang disampaikan lebih mengarah pada jenis pesan persuasif. Pesan yang persuasif disampaikan dengan mencegah/mengaktifkan proses psikologis laten sehingga terjadi perubahan sikap responden yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Terpaan Pesan Suatu pesan yang dikirimkan oleh seseorang kepada orang lain dapat diterima oleh panca indra manusia. Dalam suatu proses komunikasi, penyampaian pesan dapat mempergunakan beberapa macam saluran komunikasi, seperti melalui media maupun tatap muka langsung/tanpa perantara. Fungsi alat indra dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting melalui panca indra manusia sehingga dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu melalui alat indralah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi. Terpaan suatu pesan dapat mengenai seseorang lebih dari satu kali. Effendy (1989) menyatakan bahwa terpaan adalah keadaan terkena pada khalayak oleh pesan-pesan yang disebarkan oleh media massa. Sedangkan terpaan menurut Rakhmat (1986) adalah “sering tidaknya/ada frekwensi dan proses mendengarkan pesan”. Terpaan suatu pesan menentukan seberapa dalam dan jauh pengaruh pesan terhadap komunikan, khususnya mengingat adanya sifat manusia yang mudah lupa. Newcomb memberikan pendapatnya tentang terpaan yang dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat (2003) yaitu “suatu dasar yang umum lain untuk pilihan tanda-tanda yang sering disajikan oleh orang yang sama lebih besar kemungkinan untuk terlihat daripada yang hanya jarang diulang”. Berdasarkan beberapa pendapat tentang terpaan pesan maka penulis menyimpulkan bahwa terpaan pesan adalah frekwensi (kuantitas) dan intensitas melihat dan mendengarkan pesan yang disampaikan oleh orang lain baik melalui media maupun tidak.
Pesan tentang Pencegahan Bahaya Demam Berdarah
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pertama kali ditemukan di Manila, Filipina tahun 1953, selanjutnya menyebar ke berbagai Negara. Berdasarkan perkiraan Pusat Pengendalian Dan Pencegahan Penyakit (Center for Disease Control and Prevention) yang dikutip dari Majalah Gatra (2002) bahwa setiap tahun diseluruh dunia terjadi 50 hingga 100 juta kasus Demam Dengue , dan ratusan ribu kasus demam berdarah dengue. Di Indonesia, penyakit ini pertama kali mewabah di Surabaya dan DKI Jakarta pada tahun 1968, kemudian menyebar ke seluruh provinsi. Sejak tahun 1968 hingga tahun 1998, setiap tahun rata-rata 18.000 orang dirawat di rumah sakit. Dari jumlah itu tercatat, 700-750 penderita meninggal dunia. Jumlah Penderita demam berdarah dari bulan Desember 2005 – Februari 2006 yang bersumber dari Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, seperti dikutip dari Kompas (14 Maret 2006) bahwa kasus demam berdarah pada Desember 2005 mencapai 11.822 kasus, kemudian terjadi penurunan pada bulan Januari 2006 yaitu mencapai angka 7.546 kasus, hingga akhir bulan Februari 2006 angka kasus DBD terus mengalami penurunan yaitu 2.589 kasus. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular di Indonesia. Menurut Darmowandowo (2005) bahwa demam berdarah merupakan suatu penyakit akut yang disebabkan oleh infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk yang dikenal dengan sebutan Aedes Aegypty serta Aedes Albopictus betina yang umumnya menyerang pada musim panas dan hujan. Serangan demam berdarah memang sering kali tak terduga, apalagi di musim hujan. Menurut Rita Kusriastuti (2005), Kepala Subdirektorat Arbovirusis, Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular, Departemen Kesehatan R.I bahwa jumlah nyamuk penyebab demam berdarah berlipat ganda bila musim hujan tiba. Penyakit demam berdarah merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit demam berdarah dengue, sebab baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya sudah tersebar luas di perumahan penduduk maupun fasilitas umum di seluruh Indonesia. DBD harus diwaspadai karena sangat membahayakan bahkan mengakibatkan kematian apabila si penderita tidak segera mendapatkan pengobatan/perawatan yang tepat.
Ciri-ciri nyamuk Aedes Aegypti adalah badan kecil warna hitam bintik – bintik putih, hidup di dalam dan di sekitar rumah , menggigit / menghisap darah pada siang hari, senang hinggap pada pakaian yang bergantungan dalam kamar , bersarang dan bertelur di genangan air jernih di dalam dan di sekitar rumah bukan di got / comberan. Nyamuk Aedes dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia. Virus berkembang biak dalam tubuh nyamuk dalam waktu 8 – 10 hari sebelum dapat ditularkan kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, maka nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya. Pada manusia, virus membutuhkan 4-6 hari sebelum menimbulkan sakit. Faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat kompleks, yaitu: (1) pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, (2) urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali, (3) tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis, dan (4) peningkatan sarana transportasi. Demam berdarah hanya ditularkan melalui nyamuk aedes aegypti yang berkembang biak di dalam genangan air jernih di dalam maupun disekitar rumah, bukan di comberan/got. Membunuh nyamuknya saja dirasakan masih kurang jika jentik-jentiknya masih hidup. Mengingat akibat penyakit ini sangat fatal yaitu dapat mengakibatkan kematian, maka sangat disarankan kepada masyarakat untuk melakukan tindakan pencegaham. Demam berdarah dapat dicegah dengan memberantas jentik-jentik nyamuk Demam Berdarah (Aedes Aegypi) dengan cara melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Upaya ini merupakan cara yang terbaik, ampuh, murah, mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat, dengan cara sebagai berikut: 1. bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (seperti : bak mandi / WC, drum, dan lain-lain) sekurang-kurangnya seminggu sekali. Gantilah air di vas kembang, tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain sekurangkurangnya seminggu sekali;
2. tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air, seperti tempayan, drum, dan lain-lain agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di tempat tersebut; 3. kubur atau buanglah pada tempatnya barang-barang bekas, seperti kaleng bekas, ban bekas, botol-botol pecah, dan lain-lain yang dapat menampung air hujan, agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Potongan kayu, urung kelapa, dan lain-lain agar dibakar bersama sampah lainnya; 4. tutuplah lubang-lubang pagar pada pagar dengan tanah atau adukan semen; 5. lipatlah pakaian/kain yang bergantungan dalam kamar agar nyamuk tidak hinggap pada pakaian tersebut. 6. Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras, taburkan bubuk ABATE ke dalam genangan air tersebut untuk membunuh jentik-jentik nyamuk. Ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali. 7. Selain itu disarankan melakukan pengasapan atau fogging secara berkala dan teratur untuk memberantas nyamuk pembawa virus DBD. Pesan-pesan tentang bahaya demam berdarah dan pemberantasan sarang nyamuk dimaksudkan untuk mempengaruhi orang lain sehingga pesan dibuat sedemikian rupa agar dapat menyentuh motif yang menggerakkan atau mendorong perilaku orang tersebut. Dengan perkataan lain, secara psikologis pemerintah dapat mengimbau khalayak untuk menerima dan melaksanakan gagasan tersebut.
Sikap Sikap merupakan konsep yang paling penting dalam psikologi sosial dan yang paling banyak didefinisikan. Ada yang menganggap sikap hanyalah sejenis motif sosiogenis yang diperoleh melalui proses belajar. Adapula yang melihat sikap sebagai kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan respon. Muller (1992) berpendapat bahwa sikap adalah suatu kecenderungan bertindak kearah/menolak suatu fungsi lingkungan. Sedangkan sikap menurut Saepudin (1988) tidaklah berupa sistem psikologis/keturunan, akan tetapi merupakan proses
belajar yang diperoleh melalui pengalaman. Rakhmat (2003) menyimpulkan beberapa hal tentang sikap yaitu “Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi,berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai; kedua, sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi; ketiga, sikap relatif lebih menetap; keempat, sikap mengandung aspek evaluatif artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Kelima, sikap timbul dari pengalaman” Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap dapat berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok. Jadi, pada kenyataannya tidak ada istilah sikap yang berdiri sendiri. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap dapat berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok. Jadi, pada kenyataannya tidak ada istilah sikap yang berdiri sendiri. Sikap bukan sekedar rekaman masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu. Sikap menentukan hal-hal yang disukai, diharapkan, dan diinginkan; mengesampingkan hal-hal yang tidak diinginkan dan yang harus dihindari. Tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Sebagai hasil belajar, sikap dapat diperteguh atau diubah, atau dikembalikan seperti semula, walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Sikap merupakan kecenderungan/predisposisi bertingkah laku. Sikap menurut Sarwono (1989) adalah “kesiapan seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu”. Sikap dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Dalam sikap positif, kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu sedangkan dalam sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu. Chapman (1973) juga berpendapat bahwa sikap adalah “a tendency to react positively or negatively toward an object.” Ada tiga kunci pokok dari definisi yang dikemukakan oleh Mc Quinn yaitu pertama, sikap mengarah pada objek; kedua, sikap adalah kecenderungan positif atau negatif dalam berhubungan dengan sebuah objek; dan ketiga, sikap adalah sebuah kecenderungan untuk memberikan reaksi tertentu.
Kemudian membagi sikap
terdiri atas komponen afektif, kognitif, dan behavioral/kecenderungan perilaku. Model selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.
Stimuli (observed event or symbolic representation of event) Relating to attitude object (individuals, situations, social issues, social groups, etc)
Attitudes
Cognitions
1. Behavioral indices of cognitive processes 2. Verbal statement of beliefs
Affect
1. Physiological indices of emotional reactions 2. Verbal statement of affect
Action Tendencies
1. Overt actions 2. Verbal statements concerning actions
Gambar 4 Skema Konsep dari Sikap (Chapman: 1973) Komponen afektif merupakan indikasi psikologi dari suatu reaksi emosional dan pernyataan yang muncul dari reaksi tersebut. Sedangkan komponen kognitif merupakan indikasi reaksi dari proses kognisi dan penyataan verbal dari kepercayaan/keyakinan seseorang. Komponen perilaku lebih mengarah pada aksi yang muncul dari sesuatu hal kemudian diikuti oleh penyataan verbal mengarah ke aksi seseorang. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa sikap adalah perubahan pada individu yang meliputi perubahan komponen afektif, kognitif, dan kecenderungan bertingkah laku akibat dari adanya stimulus yang berhubungan dengan sesuatu objek. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA Pemerintah berusaha menyampaikan pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah kepada masyarakat. Pesan disampaikan melalui kampanye penanggulangan wabah Demam Berdarah Denge (DBD). Penelitian ini mengukur dan mendeskripsikan hubungan tingkat keterdedahan ibu-ibu rumah tangga terhadap pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang disampaikan melalui komunikasi massa (tayangan iklan dan berita di televisi), komunikasi kelompok (kelompok Posyandu), dan komunikasi interpersonal (tetangga). Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan saluran komunikasi yang paling efektif untuk jenis pesan persuasif dengan khalayak ibu-ibu rumah tangga.
Terpaan pesan merupakan peubah bebas dalam penelitian ini, sedangkan peubah tak bebas berupa sikap ibu-ibu rumah tangga terhadap pesan pencegahan bahaya demam berdarah.
Pengukuran berikutnya adalah menguji hubungan
antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap ibu-ibu rumah tangga. Model penelitian selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 5. Pesan Pencegahan Bahaya Demam Berdarah (X1) 1. Frekwensi dan intensitas melihat pesan melalui televisi 2. Frekwensi dan intensitas mendengar pesan melalui Kader Posyandu 3. Frekwensi dan Intensitas mendengar pesan melalui Tetangga
Sikap (Y) 1. Komponen Kognitif 2. Komponen Afektif 3. Komponen Konatif
Karakteristik Responden (X2) 1. Usia 2. Tk. Pendidikan 3. Pekerjaan
Gambar 5 Model Penelitian Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap
Hipotesa Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran yang dikemukakan maka diajukan hipotesa sebagai berikut: H1
Pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang menerpa ibu-ibu rumah tangga memiliki nilai yang berbeda-beda berdasarkan karakteristik responden
H2
Sikap ibu-ibu rimah tangga terhadap pesan pencegahan bahaya demam berdarah memiliki nilai yang berbeda-beda berdasarkan karakteristik responden
H3
Terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah berkorelasi positif dengan sikap ibu-ibu rumah tangga
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah dan sikap ibu-ibu rumah tangga dilakukan di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru yang terdiri dari 14 RW. Penelitian dilakukan selama tiga bulan yaitu bulan OktoberDesember 2006.
Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Rangkapan Jaya baru, Kota Depok. Jumlah populasi berdasarkan jumlah kepala keluarga di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Depok sejumlah 5412 keluarga. Populasi dalam penelitian ini tersebar di 14 RW, yang masing-masing RW memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda-beda. Sampel Penelitian ini mempergunakan cluster sampling dalam proses pengambilan sampel. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Depok. Teknik ini digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah pemukiman padat, pemukiman tidak padat, pemukiman di lingkungan perumahan. Kemudian tahap kedua menentukan orang-orang yang ada di daerah tersebut secara random. Penentuan jumlah sampel ditentukan dengan mempergunakan rumus Slovin yang dikutip oleh Husein Umar (1999) sebagai berikut: N n
=
1 + N e2
dimana: n = jumlah sampel N = jumlah populasi e = persentase kesalahan sebesar 10%
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh hasil sebesar 98 orang. (terlampir).
Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif korelasional. Penelitian ini menjabarkan secara deskriptif korelasional tentang saluran komunikasi yang paling efektif dalam penyampaian pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah kepada ibu-ibu rumah tangga. Uji hubungan dilakukan terhadap terpaan pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah (peubah X) dan sikap ibu-ibu rumah tangga (peubah Y). Hubungan antara terpaan pesan dengan sikap yang sudah terbentuk kemudian ditinjau dari sisi usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan dari masing-masing responden guna melihat perubahan yang terjadi beserta penyebabnya. Data dan Instrumentasi Data merupakan informasi yang berkaitan dengan keadaan, keterangan, dan atau ciri khas tentang suatu hal pada subjek penelitian yang dapat dijadikan bahan analisis. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari kuesioner yang disebarkan (terlampir) dengan jenis (tingkatan data) interval. Data kuantitatif inilah yang kemudian diolah dengan teknik statistik. Data sekunder diperoleh dari studi literatur yang berkaitan dengan terpaan pesan dan sikap. Data sekunder yang diperoleh dimaksudkan untuk mendukung kelengkapan analisis. Metode pengumpulan data primer dan sekunder ini dikumpulkan dengan cara: 1. Survei pendahuluan yang merupakan tahap awal, dengan cara mengunjungi tempat/lokasi penelitian guna mengetahui kondisi yang sesungguhnya di lapangan. 2. Menghimpun data yang berkaitan dengan karakteristik responden seperti usia, tingkat pendidikan dan pekerjaan dari masing-masing responden. 3. Menyebarkan kuesioner kepada responden untuk memperoleh data tentang terpaan pesan dan sikap. Kualitas data yang diperoleh lewat kegiatan pengumpulan data menunjuk pada ketepatan dan kecermatan data untuk mewakili informasi yang mendekati keadaan yang sebenarnya tentang subjek penelitian. Ketepatan dan kecermatan
data yag diperoleh lewat penggunaan instrumen ditentukan oleh kualitas instrument yang bersangkutan. Instrumen penelitian yang mengukur construct sikap ibu-ibu rumah tangga terhadap pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang menerpanya melalui televisi, kelompok Posyandu, dan tetangga dikerjakan secermat mungkin dan untuk mempertanggungjawabkan kualitas instrumen. Instrumen terlebih dahulu diujicobakan serta divalidasi dahulu secara tersendiri. Instrumen yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan pesan menerpa responden, sikap responden terhadap pesan yang menerpanya. Pengukuran instrumen dilakukan dengan melakukan validitas dan reliabilitas, serta efektifitas butir pertanyaan dengan mempergunakan . Validitas berkaitan dengan sejauh mana alat ukur dapat mengukur dengan benar instrumen yang digunakan. Arikunto dalam Ridwan (2004) menjelaskan bahwa validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Alat ukur yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Untuk menguji validitas alat ukur, terlebih dahulu dicari harga korelasi antara bagian-bagian dari alat ukur secara keseluruhan. Validitas dalam penelitian ini termasuk dalam kategori validitas konstruk yang bertujuan untuk mengungkap terpaan pesan dan sikap responden terhadap pencegahan bahaya demam berdarah. Untuk mencapai validitas instrumen, maka kuesioner disusun dengan cara : a. Menyesuaikan isi pertanyaan dengan keadaan responden; b. Mempertimbangkan teori-teori dan kenyataan yang telah diungkapkan para ahli pada berbagai pustaka empiris; c. Memperhatikan arahan dan nasihat para ahli atau pakar. Reliabilitas (reliability) menunjuk pada pengertian apakah sebuah instrument dapat mengukur sesuatu yang diukur secara konsisten dari waktu ke waktu. Dalam pengukuran sesuatu terhadap subjek penelitian, yaitu terpaan pesan dan sikap responden, skor yang diperoleh, yaitu skor amatan. Skor amatan yang diperoleh senantiasa terkontaminasi oleh kesalahan-kesalahan yang menyebabkan skor amatan itu menjadi bias. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mempertanggungjawabkan
keakuratan
skor
amatan
itu
adalah
dengan
memperkecil sekecil mungkin skor-skor kesalahan itu sehingga skor amatan yang diperoleh dapat mendekati kenyataan terpaan pesan dan sikap ibu-ibu rumah tangga
yang
menjadi
responden
dalam
penelitian
ini.
Usaha
untuk
mengestimasikan tingkat reliabilitas sebuah instrument pengukuran adalah mengusahakan meminimalkan skor-skor kesalahan tadi. Jadi, jika indeks reliabilitas sebuah instrument pengukuran cukup tinggi dan dinyatakan reliable, data amatan yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan instrument tersebut dapat dipandang mewakili, atau paling tidak mendekati, keadaan atau cirri laten subjek penelitian yang diukur. Reliabilitas instrumen dilakukan uji coba terhadap instrumen. Uji coba dilakukan terhadap 30 orang ibu rumah tangga yang tidak akan terlibat dalam penelitian ini (terlampir). Data hasil uji coba kemudian dianalisis dengan prosedur “Alpha Cronbach” untuk menilai kelayakan instrumen. Reliabilitas Alpha Cronbach dipergunakan untuk menguji reliabilitas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan terpaaan pesan dan sikap ibu-ibu rumah tangga. Adapun rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbach adalah sebagai berikut: Σσi2
k r=
(1 σ
k-1
2
)
dimana: r = koefisien reliabilitas yang dicari k = jumlah butir pertanyaan σi2 = varians butir pertanyaan σ2 = varians skor tes Untuk mengerjakan rumus di atas dalam uji reliabilitas sebuah instrument maka varians butir pertanyaan dapat diperoleh dengan mempergunakan rumus sebagai berikut: (ΣXi)2
2
ΣXi -
N
2
σi = N
dimana: σi2
= varians butir pertanyaan ke-n
ΣX1 = jumlah skor jawaban subjek untuk butir pertanyaan ke-n Analisis butir pertanyaan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penghitungan lewat program SPSS versi 12. Berdasarkan proses pengujian reliabilitas untuk variabel x dilakukan 2 (dua) kali yaitu pengujian pertama 0,897 dengan 36 butir pertanyaan, pengujian kedua diperoleh hasil 0,926 dengan 27 butir pertanyaan, sedangkan variabel y diperoleh hasil 0,951 untuk 35 butir pertanyaan. Melalui uji coba di lapangan maka dapat diketahui dan diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan.
Instrumen yang dipergunakan dalam
penelitian ini berupa daftar pertanyaan yang terdiri dari : 1. Data karakteristik responden yang meliputi: usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. 2. Data tentang penyampaian pesan melalui televisi, kader-kader posyandu, dan tetangga berdasarkan frekwensi dan intensitas. 3. Data tentang sikap meliputi komponen kognitif, afektif, dan konatif.
Definisi Operasional dan Pengukuran Pengolahan data dan interpretasi hasil dilakukan berdasarkan definisi operasional sebagai berikut: 1. Terpaan pesan adalah frekuensi (kuantitas) dan intensitas melihat dan mendengarkan pesan yang disampaikan oleh orang lain baik melalui media maupun tidak. Faktor yang menentukan tinggi rendahnya terpaan pesan kepada masyarakat dalam hal ini ibu-ibu rumah tangga adalah sering/tidaknya dan intensitas responden dalam melihat pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah melalui televisi dan mendengarkan pesan pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah melalui kader-kader posyandu dan tetangga. 2. Aspek yang ditinjau dari variabel sikap adalah aspek kognitif, afektif, dan konatif. Aspek afektif dibentuk oleh indikasi psikologi dari suatu reaksi emosi
seseorang terhadap pesan yang menerpanya, serta diikuti oleh pernyataan verbalnya.. Aspek kognitif dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan terhadap pesan yang disampaikan oleh orang lain, baik melalui media maupun secara langsung, yang diikuti oleh pernyataan verbal dari suatu kepercayaan seseorang tentang suatu pesan.. Aspek kognitif sebagai suatu pengenalan maupun kesadaran individu terhadap informasi/kejadian yang diterima ataupun yang dialami oleh ibu-ibu rumah tangga sebagai objek penelitian. Sedangkan aspek konatif lebih mengarah pada aksi /tingkah laku yang berlebihan dari seseorang terhadap suatu pesan serta penyataan verbal yang menyertainya. 3. Karakteristik responden adalah ciri-ciri yang melekat pada pribadi ibu-ibu rumah tangga meliputi: a. Usia dikelompokkan sebagai berikut: (1) < 20 tahun, (2) 20-24 tahun, (3) 25 – 29 tahun, (4) ≥ 30 tahun. b. Tingkat pendidikan dibedakan berdasarkan jenjang pendidikan terakhir dari masing-masing responden sebagai berikut: (1) Sekolah Dasar, (2) Sekolah Menengah Pertama, (3) Sekolah Menengah Umum, (4) Perguruan Tinggi. c. Pekerjaan dari responden dibedakan sebagai berikut: (1) Ibu rumah tangga /tidak bekerja, (2) buruh/pedagang, (3) karyawan negeri/swasta, (4) guru/dosen
Analisa Data Data merupakan informasi yang berkaitan dengan keadaan, keterangan, dan atau ciri khas tentang keterdedahan ibu-ibu rumah tangga terhadap pesanpesan pencegahan bahaya demam berdarah. Dilihat dari segi wujud data, data yang diperoleh dari subjek penelitian berupa data kuantitatif. Sedangkan jenis data yang diperoleh dari daerah penelitian berupa data interval. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan mempergunakan perhitungan statistik parametrik yaitu perhitungan kecenderungan sentral skor yang bersifat deskriptif seperti ratarata hitung (mean) dan simpangan baku, kemudian pengujian hipotesis dengan
mempergunakan uji hubungan korelasi. Penghitungan rata-rata hitung dari data distribusi mempergunakan rumus: ΣX X = N dimana: X
= rata-rata hitunga yang dicari
ΣX
= jumlah skor
N
= jumlah subjek
Perhitungan simpangan baku mempergunakan rumus: (ΣX)2 ΣX – N N 2
s
=√
Analisis korelasi yang dipergunakan untuk uji hubungan antar sesama data interval adalah korelasi (r) product-moment dari Pearson (Pearson productmoment correlation). Konsep pemikiran uji hubungan ini adalah tinggi rendahnya skor variabel x akan diikuti secara sistematis oleh tinggi rendahnya skor variabel y yang secara teoritis mempunyai kaitan karakteristik. Perhitungan koefisien korelasi (r) product moment Pearson mempergunakan rumus seperti yang dikemukanan oleh Nurgiyantoro (2002) sebagai berikut:
NΣX1X2 – (ΣX1)(ΣX2) r = √(NΣX12-(ΣX1)2)( NΣX22 - (ΣX2)2)
Koefisien korelasi (r) berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi (r) yang diperoleh tersebut, maka dapat dilihat pada Tabel Nilai-Nilai r Product Moment (terlampir). Untuk mempergunakan tabel nilai tersebut maka ditentukan terlebih dahulu besarnya derajat kebebasan (db), yaitu dengan rumus db = N-1, dengan demikian, db = 30 – 1 yaitu 29. Tabel nilai-
nilai kritis untuk db 29 pada taraf signifikansi 5 % dan 1 % masing-masing adalah sebesar 0,367 dan 0,361. Hasil uji yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan rata-rata, persentase, distribusi frekuensi, kategorisasi nilai, serta analisis Product Moment. Prosedur statistik yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengamatan penelitian ini yaitu data tentang terpaan pesan, karakteristik responden, dan sikap di analisis dengan menggunakan uji hubungan/korelasi yaitu Uji Product Moment (bivariat) guna melihat tingkat keeratan antara peubah X1, X2 dan Y tersebut. Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap korelasi yang ditemukan tersebut besar atau kecil, maka dapat berpedoman pada ketentuan yang dikemukakan oleh Sugiyono ( 2004) seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Pedoman Untuk Memberikan Interprestasi Terhadap Koefisien Korelasi Interval Koefisien 0.00 – 0.199 0.20 – 0.399 0.40 – 0.599 0.60 – 0.799 0.80 – 1.000
Tingkat Hubungan Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat
Tabel 2 dapat dipergunakan untuk melakukan penafsiran terhadap keeratan hubungan antara peubah dependen dan independent. Hasil uji hubungan yang mendekati angka 0 maka tingkat keeratan hubungan antara peubah dependen dan independent menjadi sangat rendah, sedangkan sebaliknya hasil uji hubungan yang mendekati angka 1 berarti keeratan hubungannya sangat kuat.
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik responden yang diteliti adalah usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Masing-masing karakteristik dikelompokkan dalam 4 (empat) kelompok. Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diperoleh data frekwensi dari masing-masing kelompok, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Frekwensi Berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Responden/Kelompok
Persen
I. Usia 1. < 20 tahun
12
2. 20 – 24 tahun
30
3. 25 – 29 tahun
40
4. ≥ 30 tahun
18
II. Tingkat Pendidikan 1. SD / M. Ibtidaiyah
13
2. SMP / M. Tsanawiyah
23
3. SMA / M. Aliyah
52
4. Perguruan Tinggi
12
III. Pekerjaan 1. Ibu Rumah Tangga / Tidak Bekerja
62
2. Buruh / Pedagang
10
3. Karyawan Negeri / Swasta
23
4. Guru / Dosen
5
Berdasarkan karakteristik usia, kelompok usia kurang dari 20 tahun merupakan kelompok yang jumlah respondennya paling sedikit yaitu hanya 12 orang atau 12 persen dari total 100 responden. Kelompok usia ini didominasi oleh ibu-ibu muda yang baru berumah tangga. Responden yang berasal dari kelompok usia 25–29 tahun yaitu sebanyak 40 orang atau 40 persen dari total 100 responden. Usia 25-29 tahun
merupakan kelompok yang terbanyak respondennya
dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Kelompok responden yang berasal dari tingkat usia 30 tahun ke atas sebanyak 18 orang atau 18 persen dari total 100 responden. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan, kelompok responden dari lulusan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah sejumlah 13 orang atau 13 persen dari total responden 100 orang. Responden yang lulus SMP/Madrasah Tsanawiyah sebanyak 23 orang atau 23 persen. Responden yang terbanyak dari karakteristik pendidikan yaitu kelompok lulusan SMA/Madrasah Aliyah yaitu sebanyak 52 orang atau 52 persen, sedangkan kelompok responden yang lulusan perguruan tinggi jumlahnya hanya 12 orang atau 12 persen dari total 100 responden. Kelompok responden yang lulus perguruan tinggi merupakan jumlah yang terkecil dari total 100 responden. Berdasarkan karakteristik pekerjaan, kelompok ibu rumah tangga mendominasi jumlah responden dalam penelitian ini yaitu sebanyak 62 orang atau 62 persen dari total responden sebanyak 100 orang. Kelompok buruh dan pedagang memiliki responden sebanyak 10 orang atau 10 persen dari total 100 responden. Responden yang memiliki pekerjaan sebagai karyawan baik neeri maupun swasta sebanyak 23 orang atau 23 persen dari jumlah keseluruhan responden 100 orang. Sedangkan guru/dosen merupakan kelompok dari jenis pekerjaan responden yang jumlah respondennya paling sedikit yaitu 5 orang atau 5 persen saja. Berdasarkan hasil amatan tentang lingkungan rumah responden bahwa sebagian besar daerah pemukimannya merupakan hunian yang padat dengan status rumah sewa/kontrakan. Rumah-rumah pribadi yang dihuni oleh penduduk asli sebagian besar adalah jenis rumah yang kurang ventilasi dan pencahayaan serta cenderung berdekatan antar rumah. Responden yang tinggal di lingkungan perumahan seperti perumahan Puri Anggrek, Graha Pancoran Mas (Komplek Marinir) lebih tertata dengan baik dari sisi ventilasi, pencahayaan, sistem saluran air, sehingga tidak ada tempat-tempat yang dapat dipergunakan oleh nyamuk sebagai sarangnya maupun pertumbuhan jentik-jentik nyamuk Aedes Agypti.
Frekwensi Peubah Terpaan Pesan Frekwensi terpaan pesan diukur melalui frekwensi dan intensitas responden dalam proses penerimaan pesan. Pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang diterima oleh responden dilakukan melalui saluran televisi, kelompok Posyandu, dan tetangga. Tabel 4. Kategorisasi Terpaan Pesan Melalui Televisi, Kelompok Posyandu, Tetangga Kategori Rendah Sedang Tinggi
Televisi Kelompok Posyandu Tetangga Frekwensi Intensitas Frekwensi Intensitas Frekwensi Intensitas 34 33 39 30 53 38 39 32 31 37 21 33 27 35 30 33 26 29
Tabel 4 memberikan gambaran tentang frekwensi dan intensitas responden menerima pesan pencegahan bahaya demam berdarah melalui televisi, kelompok Posyandu, dan tetangga. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa terpaan pesan melalui televisi lebih dapat menarik perhatian ibu-ibu rumah tangga dibandingkan dengan saluran yang lain. Meskipun frekwensi menonton televisi tidak terlalu tinggi namun ibu-ibu rumah tangga merasa lebih tertarik dalam memperhatikan isi pesan tentang pencegahan demam berdarah. Data tarik media televisi sedemikian besar sehingga ibu-ibu rumah tangga menjadikan media televisi sebagai panutan baru bagi kehidupan manusia. Media televisi menjadi alat atau sarana untuk memperoleh berbagai macam informasi termasuk informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah. Rangsangan yang ditimbulkan oleh televisi melalui program-programnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan media cetak. Karena, pada televisi gambar-gambarnya bersifat moving, sedangkan media cetak bersifat statis. Secara psikologis, gambar yang bergerak dapat “tertanam” dalam benak manusia dalam waktu yang lama sekali dan memberikan dampak. Makin besar daya pikatnya atau rangsangan yang ditimbulkannya, makin dalam pula dampak yang ditimbulkannya. Artinya, ibu-ibu rumah tangga akan sering teringat dan membayangkan pesan pencegahan bahaya demam berdarah. Proses komunikasi dalam kelompok Posyandu dapat berjalan dengan baik, hal ini ditandai dengan tingginya nilai frekwensi ibu-ibu rumah tangga menerima
pesan pencegahan bahaya demam berdarah dari kader-kader Posyandu. Nilai frekwensi yang tinggi diikuti dengan nilai intensitas yang tinggi pula yaitu sebesar 33 persen. Jika masing-masing anggota kelompok Posyandu memahami masingmasing perannya maka segala bentuk penyampaian pesan dapat berjalan dengan baik didukung oleh kemampuan komunikasi antarpribadinya. Peran yang pertama dalam komunikasi kelompok adalah peran tugas kelompok, dimana peran ini yang membuat kelompok Posyandu mampu untuk memfokuskan secara lebih spesifik dalam mencapai tujuan kelompok. Dalam menjalankan peran ini, anggota Posyandu tidak berbuat sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari kelompok Posyandu. Peran yang kedua, peran membina dan mempertahankan kelompok sangat diperlukan karena kelompok Posyandu merupakan satu unit yang para anggotanya memiliki hubungan interpersonal yang beragam sehingga kelompok dan para anggotanya memerlukan dukungan interpersonal yang sama dan sesuai yang dibutuhkan anggotanya. Sedangkan peran yang ketiga, peran individual, dimana peran ini lebih mengarah pada peran yang kontra-produktif. Peran tersebut dapat menghambat kelompok dalam mencapai tujuannya dan lebih berorientasi pada individu ketimbang kelompok. Peran semacam ini sering diistilahkan dengan malfungsi, yang menghambat efektivitas kelompok baik dalam hal produktivitas maupun kepuasan pribadi. Kader-kader Posyandu lebih menekankan penyampaian pesan pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara persuasif. Pada akhirnya proses komunikasi dalam suatu kelompok Posyandu sangat bergantung pada komunikasi interpersonal dari masing-masing anggota maupun kader-kader Posyandu, tujuan dan perannya di dalam kelompok serta norma-norma yang berlaku. Proses penyampaian pesan pencegahan bahaya demam berdarah melalui tetangga berdasarkan tingkat frekwensi dan intensitas dinilai kurang memberikan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan penyampaian pesan melalui televisi dan
kader-kader
Posyandu.
Indikator
yang
paling
umum
untuk
mengklasifikasikan kemampuan komunikator dalam proses penyampaian pesan berdasarkan konteksnya atau tingkatnya adalah jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi. Pemanfaatan tetangga sebagai narasumber pesan pencegahan bahaya demam berdarah dinilai kurang efektif ditinjau dari kemampuan komunikator
dalam penguasaan materi pesan pencegahan bahaya demam berdarah. Jumlah komunikator pada komunikasi antar tetangga yang yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok berkisar satu sampai dua orang, dengan derajat kedekatan fisik yang tinggi. Kedekatan hubungan pihak-pihak yang berkomunikasi tercermin pada jenis-jenis pesan atau respons nonverbal mereka, seperti sentuhan, tatapan mata yang ekspresif, dan jarak fisik yang sangat dekat. Umpan balik terhadap pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang disampaikan oleh komunikator memberikan umpan balik yang segera setelah komunikan menerima pesan tesebut. Keberhasilan komunikasi menjadi tanggung jawab para peserta komunikasi. Meskipun setiap pembicaraan, kenyataannya komunikasi antarpribadi bisa saja didominasi oleh suatu pihak.
Peubah Terpaan Pesan Berdasarkan Karakteristik Responden Frekwensi terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang dialami oleh responden dapat ditinjau berdasarkan karakteristik usia, pendidikan, dan pekerjaan ibu-ibu rumah tangga. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Kategorisasi Terpaan Pesan Berdasarkan Karakteristik Responden Terpaan Pesan Berdasarkan Usia
Kategori Rendah Sedang Tinggi
Terpaan Pesan Berdasarkan Pendidikan
Terpaan Pesan Berdasarkan Pekerjaan
< 20 th
20-24 th
25-29 th
≥ 30 th
SD
SMP
SMA
PT
Tdk Bkj
Buruh
Karywn
Guru
4 5 3
8 8 14
14 14 12
6 7 5
5 5 3
3 7 13
20 18 14
4 4 4
17 21 24
7 1 2
6 10 7
2 2 1
Pesan pencegahan bahaya demam berdarah lebih mudah menerpa ibu-ibu rumah tangga di kelompok usia 20-24 tahun, dengan tingkat pendidikan SMA dan pada ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Secara umum kelompok usia 20-24 tahun memang lebih mudah terterpa pesan. Hal ini dikarenakan keragaman dan usia ibu-ibu rumah tangga juga didukung oleh pendidikan yang dimiliki. Pada umumnya responden yang memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi cenderung lebih banyak memanfaatkan semua saluran komunikasi untuk memperoleh informasi. Meskipun demikian, ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja cenderung lebih banyak memanfaatkan saluran komunikasi yang tersedia untuk
pemenuhan kebutuhan informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah. Ketersediaan waktu menjadi salah satu nilai tambah dalam penyampaian pesan tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa faktor penentu dalam kesempatan mengakses informasi pencegahan bahaya demam berdarah adalah waktu luang yang tersedia bagi ibu-ibu rumah tangga. Televisi dan kader-kader Posyandu dianggap sebagai sumber informasi yang paling diyakini kebenarannya. Hal tersebut dikarenakan pada televisi, nilai aktualitas terhadap suatu liputan atau pemberitaan sangat cepat. Daya rangsang seseorang terhadap media televisi cukup tinggi, karena kekuatan suara dan gambarnya yang bergerak (ekspresif). Satu hal yang paling berpengaruh dari daya tarik televisi ialah bahwa informasi atau berita-berita yang disampaikan lebih singkat, jelas dan sistematis, sehingga ibu-ibu rumah tangga dari kelompok usia 20-24 tahun tidak perlu lagi mempelajari isi pesan dalam menangkap siaran televisi. Hasil-hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa media massa memang memiliki potensi untuk mempengaruhi dan memperkuat perilaku seseorang. Isi pesan media televisi berasal dari sumber resmi yaitu pemerintah tentang sesuatu isu yang terjadi di masyarakat yaitu wabah penyakit demam berdarah. Pendapat sumber resmi ini apabila ditayangkan akan menimbulkan pendapat umum. Sifat komunikasi massa media televisi yang transitory menurut ibu-ibu rumah tangga bahwa: (1) isi pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang disampaikan singkat dan jelas; (2) cara penyampaian kata per kata benar; (3) intonasi suara dan artikulasi tepat dan baik. Kesemuanya itu tentu saja menekankan unsur isi pesan yang komunikatif sehingga ibu-ibu rumah tangga dapat mengerti secara tepat tanpa harus menyimpang dari pemberitaan yang sebenarnya (interpretasi berbeda). Pesan yang berasal dari kader-kader Posyandu dinilai oleh ibu-ibu rumah tangga dapat dipahami dan dimengerti dengan baik kecuali oleh kelompok usia kurang dari 20 tahun.. Salah satu komponen penting dalam membangun sebuah kelompok yang baik adalah adanya komunikasi yang efektif dalam kelompok tersebut. Komunikasi kelompok terjadi dalam suasana yang lebih berstruktur dimana anggota kelompok Posyandu lebih cenderung melakukan secara sengaja
dibandingkan dengan komunikasi antarpribadi, dan umumnya para pesertanya lebih sadar akan peranan dan tanggung jawab mereka masing-masing. Berdasarkan penjelasan di atas media berfungsi antara lain 1) sebagai integrasi dan interaksi sosial, antara lain memperoleh pengetahuan tentang orang lain, membantu menjalankan peran sosial, dan memungkinan untuk dapat menghubungi sanak keluarga, teman, dan masyarakat; 2) sebagai hiburan, untuk mengisi waktu, dan memperoleh kenikmatan jiwa dan estetika. Peubah Sikap Berdasarkan Karakteristik Responden Indikator dari peubah sikap yang diukur dalam penelitian ini adalah kognitif, afektif, dan konatif berdasarkan pada pesan yang telah diterima oleh ibuibu rumah tangga dari televisi, kader-kader posyandu, dan tetangga. Data frekwensi peubah sikap dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Kategorisasi Sikap Berdasarkan Karakteristik Responden Sikap Berdasarkan Usia
Kategori < 20 th
Rendah Sedang Tinggi
6 3 3
20-24 th 25-29 th
12 9 9
13 14 13
Sikap Berdasarkan Pekerjaan
Sikap Berdasarkan Pendidikan ≥ 30 th
SD
SMP
SMA
PT
Tdk Bkj
Buruh
Karywn
Guru
6 5 7
7 3 3
8 7 8
19 17 16
3 4 5
24 18 20
5 3 2
5 9 9
3 1 1
Sikap ibu-ibu rumah tangga yang terbentuk dengan baik dan berada pada kategori tinggi sesuai isi pesan pencegahan bahaya demam berdarah pada usia 2529 tahun, ibu-ibu yang berlatar belakang pendidikan SMA dan mereka tidak bekerja. Hal yang perlu diwaspadai yaitu adanya kelompok ibu-ibu rumah tangga dari kelompok yang sama yaitu usia 25-29 tahun dengan latar belakang pendidikan SMA dan tidak bekerja juga berada pada kategori rendah. Penyebaran pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang tidak merata menjadi salah satu faktor penyebabnya disamping faktor kesempatan ibu-ibu rumah tangga dalam menerima pesan. Ibu-ibu rumah tangga yang berada di kategori tinggi terindikasi lebih banyak menggunakan media, dan mempunyai kesempatan berinteraksi dengan kelompok posyandu maupun tetangganya untuk memenuhi kebutuhan kognitif, yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan informasi, pengetahuan, dan pemahaman. Ibu-ibu rumah tangga pada kategori tinggi merasa pengetahuannya
bertambah sehingga reaksi emosi dan perilaku yang terbentuk dalam suatu sikap positif berdasarkan isi pesan. Hal sebaliknya terjadi pada kelompok ibu-ibu yang berada di kategori rendah, faktor kesempatannya lebih rendah untuk menerima pesan pencegahan bahaya demam berdarah baik melalui media, kelompok posyandu maupun tetangganya. Jenjang pendidikan SMA merupakan suatu tingkatan yang dianggap dapat mengelola suatu pesan dengan baik kemudian mengimplementasikannya dalam suatu bentuk sikap sesuai dengan isi pesan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa sebanyak 16 orang ibu-ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan menengah atas ini mempunyai sikap yang sesuai dengan isi pesan. Daya tangkap dan penalaran seseorang tentang suatu kasus sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Pekerjaan responden sebagai ibu rumah tangga (tidak bekerja) merasa lebih mudah untuk melakukan pencegahan bahaya demam berdarah. Kegiatan yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dari kelompok tidak bekerja seperti melakukan pengawasan terhadap tempat-tempat air (gentong air besih, bak mandi, tatakan pot tanaman), menguras bak mandi, melakukan penyemprotan nyamuk minimal satu kali sehari, tidak membiasakan menggantung pakaian di kamar tidur, membuang barang-barang bekas (seperti ban, aki, botol, kaleng, plastic yang dapat digenangi air) sehingga memungkinkan dijadikan tempat bersarang serta berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti. Dibandingkan dengan jenis pekerjaan lainnya, maka ibu rumah tangga yang tidak bekerja mempunyai waktu lebih banyak untuk melakukan sendiri kegiatan pencegahan bahaya demam berdarah. Ibu-ibu rumah tangga yang bekerja lebih banyak mendelegasikan upaya pencegahan bahaya demam berdarahnya pada orang lain seperti pembantu rumah tangga maupun anggota keluarga lainnya. Ibu-ibu rumah tangga cenderung terbentuk sikap untuk melakukan pencegahan bahaya demam berdarah setelah ada tetangga terdekat maupun anggota keluarga yang terjangkit demam berdarah. Hal tersebut dapat mengakibatkan angka penularan penyakit demam berdarah tetap tinggi, terutama pada musim pancaroba.
Hubungan antara Terpaan Pesan dengan Sikap Secara umum, ibu-ibu rumah tangga sering mengakses pesan-pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah baik melalui media televisi, kaderkader posyandu maupun tetangga mereka. Selain frekwensi pesan yang menerpa responden maka intensitas mereka dalam memahami isi pesan juga sangat penting. Ibu-ibu rumah tangga memiliki ketertarikan dan kemauan untuk memahami isi pesan. Semakin sering ibu-ibu rumah tangga terterpa pesan kemudian mereka tertarik dan dapat memahami isi pesan dengan baik maka sikapnya juga akan terbentuk sesuai dengan isi pesan. Berdasarkan hasil uji statistik, hubungan antara peubah terpaan pesan dan peubah sikap diperoleh hasil seperti yang terdapat pada Tabel 7. Tabel 7. Korelasi antara Terpaan Pesan dengan Sikap Sikap Terpaan Pesan melalui Televisi
0,778
Terpaan Pesan melalui Kelompok Posyandu
0,608
Terpaan Pesan melalui Tetangga
0,554
Terdapat hubungan yang nyata antara terpaan pesan secara umum dengan sikap ibu-ibu rumah tangga. Tingkat hubungan antara terpaan pesan secara umum dengan sikap ibu-ibu rumah tangga termasuk dalam kelompok kuat. Keeratan hubungan yang tercipta dapat memberikan suatu gambaran bahwa frekwensi dan intensitas terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah berhubungan nyata dengan sikap ibu-ibu rumah tangga. Artinya, besar kecilnya perubahan peubah sikap dipengaruhi oleh nilai peubah terpaan pesan, demikian juga sebaliknya. Arah dari perubahan bersifat positif, artinya semakin tinggi nilai terpaan pesan maka nilai peubah sikap juga semakin tinggi (Gambar 6).
150.00
140.00
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
80.00
90.00
100.00
110.00
120.00
130.00
Pesan
Gambar 6. Plot Hubungan antara Terpaan Pesan dengan Sikap Gambar 6 memperlihatkan adanya pola tertentu antara terpaan pesan secara umum dengan sikap ibu-ibu rumah tangga. Nilai yang terbentuk dari peubah pesan dan sikap berdasarkan jawaban ibu-ibu rumah tangga tergambar dengan jelas pada Gambar 6. Semakin tinggi nilai untuk peubah terpaan pesan, semakin tinggi pula nilai untuk sikap. Artinya, sikap ibu-ibu rumah tangga akan semakin menunjukkan adanya suatu perubahan sesuai dengan isi pesan apabila semakin sering dan intens mereka terterpa pesan. Aspek pertama dalam pembentukan proses pembentukan sikap yaitu keinginan responden untuk menambah pengetahuan/informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah mendorong untuk mencari informasi tersebut. Responden merasa membutuhkan pesan tersebut sehingga mereka melakukan pencarian informasi dengan cara yang paling mudah yaitu melalui media televisi, tetangga terdekat baru kemudian dilengkapi oleh kader-kader posyandu sebagai orang yang dianggap paling tahu tentang informasi tersebut. Aspek kedua yang mendukung terbentuknya sikap yaitu reaksi emosi responden yang muncul berdasarkan pesan yang menerpanya, seperti rasa takut/khawatir jika diri dan keluarganya terjangkit penyakit demam berdarah, rasa sedih melihat korban yang berjatuhan akibat penyakit tersebut, rasa senang jika keluarga dan tetangga disekitarnya ikut serta dalam program 3 M. Aspek ketiga adalah perilaku responden untuk melakukan
program pencegahan bahaya demam berdarah seperti di dalam pesan yang menerpanya, dapat terlaksana setelah pengetahuannya lengkap serta didukung oleh reaksi emosi yang kuat. Hubungan antara terpaan pesan melalui televisi dengan sikap ibu-ibu rumah tangga sebesar 0,778. Tingginya nilai hubungan antara terpaan pesan melalui televisi dengan sikap ibu-ibu rumah tangga cukup kontras bila dibandingkan dengan terpaan pesan melalui kelompok posyandu dan tetangga. Televisi merupakan media yang memiliki cakupan terluas serta paling mudah diakses oleh seluruh ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Depok. Format pesan untuk media elektronika yaitu televisi dikemas lebih singkat dengan menampilkan tokoh/artis yang sudah dikenal oleh masyarakat dengan baik seperti Gubernur DKI sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam penyampaian pesan. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemanfaatan media massa seperti televisi juga dapat mempengaruhi pemahaman dan opini masyarakat. Tingkat keeratan hubungan antara peubah terpaan pesan melalui televisi dengan sikap berhubungan nyata. Gambar 7 memperlihatkan pola hubungan yang terjadi antara terpaan pesan melalui televisi dengan sikap ibu-ibu rumah tangga. 150.00
140.00
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
25
30
35
40
45
50
Televisi
Gambar 7. Plot Hubungan Terpaan Pesan melalui Televisi dengan Sikap Hubungan nyata yang tercipta antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam bedarah melalui televisi dengan sikap ibu-ibu rumah tangga bermakna positif. Artinya, semakin tinggi terpaan pesan melalui televisi maka sikap ibu-ibu rumah tangga dapat terbentuk dengan baik. Dengan demikian, semakin sering dan intens ibu-ibu rumah tangga terterpa pesan pencegahan bahaya demam berdarah
melalui televisi maka semakin tinggi pula sikapnya (aspek kognitif, afektif, dan konatif). Meningkatnya penggunaan televisi di kalangan ibu-ibu rumah tangga dalam memperoleh informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah menyebabkan munculnya reaksi emosi/afektif dan konatifnya. Hal yang sama juga terjadi pada terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah melalui kelompok posyandu. Hubungan nyata yang terbentuk antara peubah terpaan pesan melalui kelompok posyandu dengan sikap memiliki tingkat keeratan yang kuat yaitu sebesar 0.608, meskipun tidak seerat terpaan pesan melalui televisi. Gambar 8 memperlihatkan pola yang terbentuk antara terpaan pesan melalui kelompok posyandu dengan sikap.
150.00
140.00
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
20
25
30
35
40
Posyandu
Gambar 8. Plot Hubungan Terpaan Pesan melalui Kelompok Posyandu dengan Sikap Pada Gambar 8 terlihat bahwa tingginya frekwensi dan intensitas ibu-ibu rumah tangga menerima pesan pencegahan bahaya demam berdarah dari kaderkader posyandu maka semakin tinggi pula sikap yang terbentuk sesuai dengan isi pesan. Proses komunikasi dalam suatu kelompok sangat bergantung pada komunikasi interpersonal dari masing-masing anggota maupun pemimpin kelompok, tujuan dan perannya di dalam kelompok serta norma-norma yang berlaku.
Antara
komunikasi
kelompok
dengan
komunikasi
antarpribadi
sebenarnya tidak perlu ditarik suatu garis pemisah, kedua bidang tersebut bertumpang tindih dan banyak situasi tatap muka dapat diungkapkan dalam berbagai cara sesuai dengan perhatian dan tujuan si pengamat. Kesamaannya: komunikasi kelompok dan komunikasi antarpribadi melibatkan dua atau lebih individu yang secara fisik berdekatan dan yang menyampaikan serta menjawab pesan-pesan baik secara verbal maupun non verbal. Hubungan antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah melalui tetangga dengan sikap ibu-ibu rumah tangga memiliki tingkat keeratan hubungan yang sedang yaitu sebesar 0.554 dan bermakna positif. Artinya semakin sering dan intens ibu-ibu rumah tangga terterpa pesan pencegahan bahaya demam berdarah dari tetangganya maka sikapnya pun terbentuk dengan baik sesuai dengan isi pesan. Gambar 9 memperlihatkan pola keeratan hubungan antara terpaan pesan melalui tetangga dengan sikap. 150.00
140.00
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
20
25
30
35
40
Tetangga
Gambar 9. Plot Hubungan Terpaan Pesan melalui Tetangga dengan Sikap Komunikasi antarpribadi biasanya dikaitkan dengan pertemuan antara dua, tiga, atau mungkin empat orang yang terjadi secara sangat spontan dan tidak berstruktur. Format pesan untuk saluran komunikasi interpersonal dan kelompok dikemas dengan gaya yang informal. Hal tersebut disebabkan proses penyampaian pesan banyak disampaikan dari mulut ke mulut. Hubungan dalam komunikasi antarpribadi dapat dikembangkan dengan baik, salah satu peubah yang paling penting dan paling banyak ditelaah adalah
daya tarik (attraction) pesan pencegahan bahaya demam bedaah. Hasil penelitian dan teori telah mengidentifikasi lima faktor utama yang mempengaruhi daya tarik ini yaitu (1) daya tarik fisik, kebanyakan ibu-ibu rumah tangga lebih menyukai orang yang secara fisik menarik ketimbang orang yang secara fisik tidak menarik, dan mereka lebih menyukai orang yang memiliki kepribadian menyenangkan ketimbang yang tidak. Umumnya, ibu-ibu rumah tangga melekatkan karakteristik (citra) positif kepada orang yang menurut mereka menarik dan karakteristik (citra) negatif kepada orang yang dianggap tidak menarik. (2) Kedekatan, hal tersebut diartikan sebagai orang-orang yang tinggal atau bekerja di dekat ibu-ibu rumah tangga. Jarak fisik paling penting pada tahap-tahap awal interaksi. Pengaruh kedekatan ini berkurang (tetapi selalu tetap penting) dengan meningkatnya peluang untuk berinteraksi dengan mereka yang berjarak lebih jauh. (3) Pengukuhan, ibu-ibu rumah tangga menyukai orang yang menghargai atau mengukuhkan mereka. Penghargaan atau pengukuhan dapat bersifat sosial (misalnya, komplimen atau pujian) atau bersifat material (misalnya, hadiah atau promosi). Tetapi penghargaan dapat berakibat sebaliknya. Bila berlebihan, penghargaan kehilangan efektivitasnya dan dapat menimbulkan reaksi negatif. Ibu-ibu rumah tangga juga menjadi tertarik kepada orang yang mau menghargai pendapat maupun keterbatasan pengetahuan dan sikap mereka tentang pencegahan bahaya demam berdarah.. Hal tersebut berdampak pada rasa suka kepada orang yang telah membantu mereka. Ibu-ibu memberikan penghargaan kepada seseorang karena mereka menyukainya. (4) Kesamaan, ibu-ibu rumah tangga umumnya menyukai orang yang sama dengan kita dalam hal kebangsaan, suku bangsa, kemampuan, karakteristik fisik, kecerdasan, khususnya sikap dan selera. Hipotesis kecocokan menjelaskan bahwa orang-orang akan bergaul dan membina hubungan dengan orang-orang yang mirip dengan mereka sendiri dalam hal daya tarik. Meskipun pada kenyataannya tidaklah selalu demikian. Status kekayaan, kecerdasan, kekuasaan, dan berbagai karakteristik kepribadian lain merupakan contoh nyata kualitas yang dapat mengimbangi kekurangan daya tarik fisik. (5) Sifat saling melengkapi, walaupun banyak orang berpendapat bahwa “orangorang yang mempunyai kepentingan yang sama akan bersatu” ada pula orang lain yang berpendapat bahwa “kutub yang berlawanan saling tarik menarik.”
Ancangan ini mengikuti prinsip saling melengkapi. Prinsip saling melengkapi meramalkan bahwa orang akan tertarik pada orang lain yang tidak serupa dengannya. Orang tertarik kepada orang lain yang tidak serupa hanya dalam situasi-situasi tertentu. Pada komunikasi antarpribadi, yang menjadi saluran maupun sumber komunikasi adalah pemrakarsa komunikasi. Arus pesan yang terjadi pada komunikasi antarpribadi cenderung dua arah dalam konteks komunikasi tatap muka, meskipun saat ini banyak yang memanfaatkan alat bantu dalam berkomunikasi sehingga umpan baliknya tinggi sebagai akibat dari pesan diterima oleh komunikan. Hal yang sering terjadi pada komunikasi antarpribadi, si penerima pesan mampu mengatasi tingkat selektivitas terutama terpaan selektif (selective exposure). Kecepatan jangkauan pesan terhadap khalayak jika mempergunakan komunikasi antarpribadi relatif lambat. Efek yang mungkin terjadi jika mempergunakan komunikasi antarpribadi adalah perubahan sikap. Meskipun ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Depok sebagian besar memiliki akses informasi melalui televisi, namun saluran komunikasi antar individu (tetangga) dan peran dari kader-kader posyandu turut diperhitungkan pula. Peran tetangga dan kunjungan ke rumah-rumah oleh tetangga dan kader-kader posyandu serta pertemuan rutin bulanan di kelompok posyandu masih dapat dipilih dalam penyebaran pesan sosial seperti pencegahan bahaya demam berdarah. Dengan demikian, komunikasi interpersonal sebenarnya merupakan peluang sekaligus tantangan bagi penyebaran informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah. Kondisi-kondisi di atas, menunjukkan bahwa pengembangan materi kampanye pencegahan bahaya demam berdarah yang terintegrasi guna menunjang upaya peningkatan sikap (aspek kognitif, afektif, dan konatif) masih sangat diperlukan. Kegiatan yang terintegrasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami tentang gejala demam berdarah, penularan, pengobatan dan pencegahannya.
Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Karakteristik Responden Konsep penyampaian pesan akan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran jika memperhatikan karakteristik khalayak seperti usia, pendidikan, dan pekerjaan sehingga dapat terjadi perubahan sikap sesuai dengan isi pesan. Berdasarkan hasil uji statistik, hubungan antara peubah terpaan pesan dan peubah sikap berdasarkan karakteristik responden diperoleh hasil seperti pada Tabel 8. Tabel 8. Hubungan Terpaan Pesan dengan Sikap Berdasarkan Karakteristik Responden Hubungan Terpaan Pesan dengan Sikap
Nilai Hubungan
berdasarkan kelompok usia < 20 tahun berdasarkan kelompok usia 20-24 tahun berdasarkan kelompok usia 25-29 tahun berdasarkan kelompok usia ≥ 30 tahun berdasarkan tingkat pendidikan SD berdasarkan tingkat pendidikan SMP berdasarkan tingkat pendidikan SMA berdasarkan tingkat pendidikan PT berdasarkan kelompok tidak bekerja berdasarkan kelompok buruh/pedagang berdasarkan kelompok karyawan berdasarkan kelompok guru/dosen
0,902 0,746 0,866 0,796 0,910 0,701 0,866 0,758 0,768 0,776 0,844 0,880
Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Usia Hubungan antara terpaan pesan dengan sikap jika memperhitungkan karakteristik responden maka terlihat nilai hubungan yang berbeda-beda pada setiap kelompoknya. Usia merupakan salah satu karakteristik responden yang ikut diperhitungkan dalam menilai hubungan antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap. Pada kelompok usia kurang dari 20 tahun memiliki tingakat keeatan hubungan yang sangat kuat yaitu sebesar 0,902. Ibu-ibu rumah tangga yang berada di kelompok usia kurang dari 20 tahun terdiri dari ibu-
ibu muda yang baru menikah. Mereka lebih mudah terkena terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah, hal ini dikarenakan ibu-ibu tersebut berusaha banyak belajar dan mencari pengetahuan yang sebanyak-banyak tentang berumah tangga. Keinginan yang kuat dari ibu-ibu untuk terus menggali pengetahuan termasuk tentang pencegahan bahaya demam berdarah menyebabkan hasil ujinya menunjukkan nilai yang sangat tinggi. Ibu-ibu rumah tangga di kelompok usia kurang dari 20 tahun lebih sering terterpa pesan pencegahan bahaya demam berdarah dari semua saluran dan intensitasnya lebih tinggi dalam memahami isi pesan dibandingkan kelompok usia lainnya sehingga sikap yang terbentukpun semakin baik sesuai dengan isi pesan. nyata dengan tingkat keeratan hubungan yang sangat kuat, gambaran keeratan hubungannya dapat dilihat pada gamabar 10. Mereka memiliki keinginan dan kemauan yang kuat untuk melakukan tindakan pencegahan bahaya demam berdarah seperti menguras, membuang barang-barang bekas yang sekiranya dapat menjadi sarang nyamuk, menutup tempat-tempat air bersih, memakai obat nyamuk. Obat nyamuk yang biasa mereka pergunakan adalah obat nyamuk oles (lotion) dengan cara pemakaian seperti yang mereka lihat di televisi. Hal ini menunjukkan bahwa penyampaian pesan pencegahan bahaya demam berdarah dapat membentuk suatu sikap sesuai dengan isi pesan di kelompok usia kurang dari 20 tahun. Hasil uji hubungan antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap ibu-ibu rumah tangga pada kelompok usia 20-24 tahun diperoleh nilai sebesar 0,746. Angka tersebut menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang kuat. Ibu-ibu rumah tangga pada kelompok usia 20-24 tahun terindikasi memiliki tingkat frekwensi dan intensitas yang tinggi terhadap pesan pencegahan bahaya demam berdarah sehingga sikap pencegahan sesuai dengan isi pesan dapat terbentuk dengan baik. Ibu-ibu rumah tangga pada kelompok usia 2024 tahun dapat menerima pesan melalui semua saluran yang tersedia, kemudian membentuk
sikap sesuai dengan isi pesan. Gambar 10 memperlihatkan pola
keeratan hubungan antara terpaan pesan dengan sikap berdasarkan kelompok usia.
Usia 150.00
< 20 tahun 20-24 th 25-29 th
140.00
>= 30 th
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
80.00
90.00
100.00
110.00
120.00
130.00
Pesan
Gambar 10. Plot Hubungan Terpaan Pesan dengan Sikap Berdasarkan Usia Gambar 10 memperlihatkan adanya pola tertentu antara terpaan pesan dengan sikap berdasarkan usia ibu-ibu rumah tangga. Semakin tinggi nilai untuk peubah terpaan pesan yang didasarkan pada usia khalayak maka semakin tinggi pula
nilai
untuk
peubah
sikap.
Artinya,
penyampaian
pesan
dengan
memperhatikan kondisi usia khalayak melalui semua saluran komunikasi diperoleh hasil yang signifikan dalam proses pembentukan sikap pencegahan bahaya demam berdarah.. Terpaan suatu pesan menentukan seberapa dalam dan jauh pengaruh pesan terhadap komunikan, khususnya mengingat adanya sifat manusia yang mudah lupa. Hal ini terjadi karena pada dasarnya komunikasi dianggap sebagai suatu tindakan yang disengaja (intentional act) untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan khalayak, seperti menjelaskan pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah kepada orang lain atau membujuknya untuk melakukan tindakan pencegahan seperti kegiatan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3 M, penyeprotan dengan mempergunakan obat nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, maupun kegiatan pemberantasan lainnya. Ibu-ibu rumah tangga pada kelompok usia 25-29 tahun memperoleh nilai keeratan hubungan antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah
dengan sikap pencegahannya sebesar 0,866. Hal ini menunjukkan hubungan yang tercipta antara terpaan pesan dengan sikap pencegahan bahaya demam berdarah memiliki keeratan yang sangat kuat. Pesan-pesan pencegahan bahaya demam berdarah sangat sering menerpa ibu-ibu rumah tangga pada kelompok ini sehingga sikap pencegahan bahaya demam berdarah dapat terbentuk dengan baik sesuai isi pesan. Kelompok usia 25-29 tahun termasuk dalam kategori usia yang cukup matang, hal ini ditandai sebagian besar ibu-ibu rumah tangga telah memiliki pengalaman berumah tangga dengan memiliki anak lebih dari satu. Pengetahuan mereka tentang bahaya demam berdarah sudah cukup sehingga jika mereka terterpa pesan yang berulang-ulang dijadikan sebagai reminder. Kematangan usia turut menentukan pembentukan sikap khususnya pencegahan bahaya demam berdarah. Ibu-ibu rumah tangga yang berada di kelompok usia lebih dan sama dengan 30 tahun memperoleh nilai hubungan terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap sebesar 0,796. Nilai tersebut memiliki arti bahwa hubungan yang tercipta memiliki keeratan yang kuat bahkan cenderung sangat kuat.
Frekwensi dan intensitas terpaan pesan yang menerpa ibu-ibu pada
kelompok usia ini sangat mendukung untuk terbentuknya sikap pencegahan bahaya demam berdarah. Kegiatan pencegahan bahaya demam berdarah seperti 3M telah menjadi kegiatan rutin meraka sehari-hari, sekalipun ada juga yang mendelegasikan kegiatan ini pada pembantu rumah tangganya dan mereka tetap mengontrol hasil kegiatan tersebut.
Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pendidikan Pendidikan seringkali dijadikan ukuran kemampuan seseorang dalam menerima pesan, semakin tinggi tingkat/jenjang pendidikannya dianggap pemahaman terhadap suatu pesan juga tinggi begitu pula sebaliknya. Hasil perhitungan uji hubungan antara peubah terpaan pesan dengan sikap berdasarkan tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) diperoleh angka 0,910. Hal ini menunjukkan bahwa pada jenjang pendidikan SD tingkat keeratan hubungan antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap ibu-ibu
rumah tangga sangat kuat, artinya, besar kecilnya perubahan nilai sikap ibu-ibu rumah tangga ditentukan oleh terpaan pesan yang didasarkan pada tingkat pendidikan SD, demikian juga sebaliknya. Arah dari perubahan bersifat positif, artinya semakin tinggi nilai peubah terpaan pesan maka nilai peubah sikap juga semakin tinggi berdasarkan tingkat pendidikan SD. Gambar 11 memperlihatkan adanya pola tertentu antara terpaan pesan dengan sikap ibu-ibu rumah tangga yang didasarkan pada tingkat pendidikan khalayak.
Pendidikan 150.00
SD SMP SMA
140.00
PT
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
80.00
90.00
100.00
110.00
120.00
130.00
Pesan
Gambar 11. Plot Hubungan Terpaan Pesan dengan Sikap Berdasarkan Pendidikan Gambar 11 menunjukkan bahwa karakteristik pendidikan dapat dijadikan pertimbangan untuk mengemas pesan kemudian menyampaikannya pada khalayak melalui saluran yang paling sesuai dengan target sasaran. Tingkat keeratan hubungan antara terpaan pesan dengan sikap berdasarkan pendidikan ibu-ibu rumah tangga memiliki nilai yang kuat terutama pada tingkat pendidikan SD. Hal ini berarti bahwa semakin sering dan intens ibu-ibu rumah tangga terutama yang berlatar belakang pendidikan SD terterpa pesan pencegahan bahaya demam berdarah maka sikapnya pun dapat terbentuk dengan baik sesuai isi pesan. Ibu-ibu rumah tangga yang berlatar belakang pendidikan SD di lingkungan Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok sangat memperhatikan
pesan-pesan pencegahan baya demam berdarah dari semua saluran yang diteliti, yaitu melalui media televisi, kader-kader Posyandu, dan tetangga. Mereka sangat memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan oleh narasumber sebagai tambahan pengetahuan dan informasi agar keluarganya tidak terjangkit penyakit demam berdarah. Pengetahuan maupun informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah yang sudah diperoleh kemudian segera mereka melakukan tindakan pencegahan seperti menguras bak air, menutup tempat air bersih, membuang kaleng-kaleng bekas yang dapat menjadi tempat bersarangnya nyamuk aedes aegypti, serta melakukan pencegahan lainnya seperti memakai lotion anti nyamuk. Ibu-ibu rumah tangga yang berlatar belakang pendidikan SMP dan perguruan tinggi memperoleh hasil keeratan hubungan yang kuat yaitu senilai 0,701 untuk SMP dan 0,758 untuk perguruan tinggi. Pada kedua jenjang pendidikan ini, ibu-ibu rumah tangga menjadikan pesan pencegahan bahaya demam berdarah sebagai informasi dan pengetahuan yang sudah biasa mereka peroleh terutama melalui media televisi. Pembentukan sikap pencegahan bahaya demam berdarah berdasarkan isi pesan berjalan dengan baik meskipun ada beberapa ibu-ibu rumah tangga yang tidak langsung menerapkan isi pesan pada kehidupan sehari-hari, hal ini ternyata sangat bergantung pada frekwensi dan intensitas terterpa pesan sehingga mereka tidak lupa untuk selalu melakukan pencegahan bahaya demam berdarah meskipun lingkungannya tidak terjangkit demam berdarah. Hal-hal yang membuat ibu-ibu rumah tangga dari kelompok pendidikan SMP dan perguruan tinggi untuk melakukan tindakan pencegahan demam berdarah setelah ada tetangga maupun keluarga yang terjangkit demam berdarah. Ibu-ibu rumah tangga pada jenjang pendidikan SMA memiliki tingkat keeratan hubungan yang sangat tinggi antara terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah dengan sikap yang dapat terbentuk dan hasil yang diperoleh senilai 0,866. Pada bentuk hubungan seperti ini dapat dinyatakan bahwa semakin sering dan intens ibu-ibu rumah tangga yang berlatar belakang pendidikan SMA terterpa pesan maka sikap pencegahan pun dapat terbentuk dengan baik sesuai dengan isi pesan.
Hubungan Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan ibu-ibu rumah tangga yang menjadi objek pada penelitian ini dikelompokkan dalam 4 kelompok yaitu ibu-ibu rumah tangga atau tidak bekerja, buruh maupun pedagang, karyawan, guru atau dosen. Ibu-ibu rumah tangga atau yang tidak bekerja di luar rumah, dinilai paling sering terterpa pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah. Hal ini dikarenakan ibu-ibu yang tidak bekerja lebih memiliki waktu luang dibandingkan dengan ibu-ibu yang bekerja. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh hasil bahwa ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja maupun dari kelompok buruh dan pedagang memiliki keeratan hubungan yang kuat. Nilai hubungan yang diperoleh untuk kelompok ibu-ibu yang tidak bekerja adalah 0,768, sedangkan kelompok buruh dan pedagang memiliki nilai sebesar 0,776. Hubungan yang bermakna positif terbentuk karena tingginya nilai peubah terpaan pesan diikuti oleh tingginya nilai peubah sikap dengan memasukkan unsur pekerjaan ibu-ibu rumah tangga. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 12. Pekerjaan 150.00
Tdk Bekerja Buruh/Pedagang Karyawan
140.00
Guru/Dosen
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
80.00
90.00
100.00
110.00
120.00
130.00
Pesan
Gambar 12. Plot Hubungan Terpaan Pesan dengan Sikap Berdasarkan Pekerjaan Tingginya keeratan hubungan antara peubah terpaan pesan dengan sikap yang didasarkan pada pekerjaan ibu-ibu rumah tangga memberikan arti bahwa
semakin tinggi nilai peubah terpaan pesan yang bedasarkan pekerjaan khalayak, semakin tinggi pula nilai peubah sikapnya atau sikap dapat terbentuk dengan baik sesuai isi pesan. Ibu-ibu rumah tangga yang bekerja meskipun waktu luang untuk melakukan tindakan pencegahan demam berdarah lebih terbatas diperoleh hasil hubungan yang lebih tinggi yaitu 0,844 untuk kelompok karyawan dan 0,880 untuk kelompok guru/dosen dibandingkan kelompok ibu-ibu yang tidak bekerja dan buruh maupun pedagang. Tingkat frekwensi terterpa pesan pencegahan bahaya demam berdarah yang lebih tinggi ternyata tidak terlalu berdampak pada hasil hubungannya jika tidak didukung dengan intensitas terpaan pesan yang tinggi pula. Proses pemahaman terhadap isi pesan yang didukung oleh kemauan untuk bersikap terhadap pencegahan bahaya demamberdarah ternyata justru dapat meningkatkan nilai dan keeratan hubungan
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan Pesan pencegahan bahaya demam berdarah lebih mudah menerpa ibu-ibu rumah tangga di kelompok usia 20-24 tahun, dengan tingkat pendidikan SMA dan pada ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Meskipun sudah banyak ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Depok yang memiliki akses informasi melalui televisi, namun saluran komunikasi antar individu dan peran dari kader-kader posyandu tidak dapat dialihkan begitu saja. Peran keluarga, orang tua, dan kunjungan ke rumah-rumah oleh tetangga, serta pertemuan warga di kelompok posyandu masih menjadi model komunikasi utama yang dipilih dalam penyebaran pesan pencegahan bahaya demam berdarah. Sikap ibu-ibu rumah tangga yang dapat terbentuk dengan baik sesuai dengan isi pesan pencegahan bahaya demam berdarah adalah ibu-ibu yang berada di kelompok usia 25-29 tahun, dengan latar belakang pendidikan SMA dan tidak bekerja. Faktor kerataan penyebaran pesan pencegahan bahaya demam berdarah menjadi salah satu faktor penyebabnya disamping faktor kesempatan ibu-ibu rumah tangga menerima pesan dan mengaplikasikannya pada sikap pencegahan demam berdarah. Berdasarkan hasil uji korelasi diperoleh hubungan yang nyata antara terpaan pesan dengan sikap ibu-ibu rumah tangga baik secara umum maupun hubungan yang didasarkan pada karakteristik responden yaitu usia, pendidikan, dan pekerjaan. Terpaan pesan pencegahan bahaya demam berdarah mempunyai hubungan yang sangat nyata dengan sikap ibu-ibu rumah tangga, begitu pula jika hubungan tersebut didasarkan pada usia, pendidikan, dan pekerjaan. Hubungan bermakna tersebut bersifat positif, artinya semakin tinggi frekwensi dan intensitas terpaan pesan maka sikap ibu-ibu rumah tangga baik secara umum maupun berdasarkan usia, pendidikan, dan pekerjaan semakin terbentuk. Nilai hubungan terpaan pesan dengan sikap yang memiliki tingkat keeratan hubungan paling tinggi pada kelompok usia kurang dari 20 tahun, dengan latar belakang pendidikan SD, dan berasal dari kelompok guru/dosen. Dengan demikian, semakin sering dan intens ibu-ibu rumah tangga terterpa pesan
maka semakin terbentuk sikapnya untuk melakukan pencegahan bahaya demam berdarah.
Saran Penyampaian pesan-pesan sosial seperti pencegahan bahaya demam berdarah dalam upaya pembentukkan sikap khalayak harus memperhatikan saluran yang paling sesuai dengan karakteristik khalayaknya. Mengingat sebagian besar ibu-ibu rumah tangga memiliki media televisi baik di rumah maupun di tempat kerja maka kesempatan mereka terterpa pesan-pesan sosial seperti pencegahan
bahaya
demam
berdarah
semakin
sering
sehingga
proses
pembentukan sikap sesuai isi pesan dapat terlaksana. Dalam rangka upaya mengoptimalkan tujuan penyampaian pesan maka pesan terlebih dahulu dikemas dengan cermat dan isi serta cara penyampaiannya disesuaikan dengan target sasaran pesan. Untuk pengembangan ilmu komunikasi khususnya yang terkait dengan terpaan pesan, perlu dikembangkan penelitian lanjutan seperti studi komparatif pemanfaatan media lain, pola penyampaian pesan yang lebih terperinci, serta faktor-faktor yang menentukan hubungan antara tepaan pesan dengan sikap seperti
karakteristik
responden.
Penelitian
berikutnya
seyogyanya
lebih
menekankan pada penelusuran jawaban responden secara lebih mendalam (in depth).
DAFTAR PUSTAKA Andarwati,SR dan Sankarto, B. 2005. Pemenuhan Kepuasan Penggunaan Internet Oleh Peneliti Badan Litbang Pertanian di Bogor. Bogor. Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol. 14 Nomor 1. Departemen Pertanian R.I. Andrson, H.R. 1994. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Bj. Pusat Universitas di Universitas Terbuka. Jakarta. PT. Raja Grafindo. Anggoro M Linggar, 2002. Teori dan rofesi Kehumasan Serta Aplikasinya di Indonesia. Jakarta. PT. Bumi Aksara. Anto, J. 2007. Saatnya Menyiasati Sihir Televisi. Jakarta. www.kipas.org [2 Maret 2007] Berlo, D.K. 1960. The Process of Communication: An Introduction to Theory and Practice. New York. Holt, Rineehart and Winston. Inc. Darmowandowo, Dr. Widodo SpA(K). 2004. Demam Berdarah Dengue. www.pediatrik.com/ilmiah_populer/demam_berdarah.htm [17 Januari 2005] Departemen Kesehatan R.I. 2004. Gejala, Pertolongan Pertama Pencegahannya. www.ppmplp.depkes.go.id [21 Desember 2004]
dan
Dinas Kesehatan DKI Jakarta. 2004. Demam Berdarah: Aedes Agypti. www.dinkes-dki.go.id/db.html [17 Januari 2005] Djamaluddin, Dedy Malik. 2006. Carut Marut Dunia Penyiaran. www.kpi.org.id [8 Februari 2006] Golberg dan Larson. 1985. Komunikasi Kelompok (Terjemahan). Jakarta. UI Press Hanafi, A. 1984. Memahami Komunikasi Antar Manusia. Surabaya. CV. Usaha Nasional Hutasuhut, A.M. 2003. Media Komunikasi. Jakarta. Yayasan Kampus TercintaIISIP Press Iqbal,
Dhani Tengku. 2006. Televisi dan Pemirsa Buatan. www.teungkudhaniiqbal.wordpress.com. [4 Agustus 2006]
Jakarta.
Jahi, A. 1988. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-negara Dunia Ke Tiga. Jakarta. PT. Gramedia
Koalisi untuk Indonesia Sehat. 2006. Implementasi Program Komunikasi. Jakarta. www.koalisi.org.id [6 April 2007] Kusnadi, T. 1994. Teknik Penyuluhan Pertanian. Jakarta. Universitas Terbuka Press Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Acuan untuk Pelajar, Mahasiswa, Dosen, Penyuluh, Pekerja Sosial, Penentu Kebijakan, dan Peminat Ilmu/Kegiatan Penyuluhan Pembangunan. Solo. Sebelas Maret University Press Mc Quail, D. 1994. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Jakarta. PT. Erlangga Miller, G.A. 1990. Psychology and Communication. Washington. Voice of America Press Mulyana, Dedy. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya Novartis, Biochemie. PT. 2004. ALTOSID, Produk Unik Berantas Nyamuk Demam Berdarah. www.id.novartis.com/newproduct.html. [21 Desember 2004] Nurgiayantoro, Bambang. Gunawan. Marzuki. 2002. Statistik Terapan untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Yogyakarta. Gajah Mada University Press Nuryazidi. 2006. Penonton yang Tak www.nuryazidi.wordpress.com [11 Juni 2006]
Hanya
Menonton.
Planasari, Sita. A. 2004. Wabah Demam Berdarah Akibat Lingkungan Buruk. www.tempo.co.id/hg/jakarta/html. [21 Desember 2004] Pribadi, B.A. 1994. Menulis Naskah. Jakarta. Universitas Terbuka Press Rakhmat Jalaluddin. 2003. Psikologi Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya Rakhmat Jalaluddin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya Ramidi. 2004. Korban Demam Berdarah di Jakarta Utara Mencapai 1.400 Orang. www.tempo.co.id/hg/html [21 Desember 2004] Ruslan Rosady. 2006. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta. PT. Rajawali Press
Soelarko. 1996. Unsur Utama Fotografi. Semarang PT. Dahara Prize Sugiyono. 2004. Statistika untuk Penelitian. Bandung. CV. Alfabeta Sutyono. 1999. Pembuatan Poster, Leaflet dan Brosur. Jakarta. Depertment for International Development (DFID) Walpole, R.E. 1988. Pengantar Statistik. Terjemahan Bambang Sumantri. Jakarta. PT. Gramedia. Wenats,
Eka. 2006. Media dan Efek www.ekawenats.blogspot.com. [2 Juni 2006]
pada
Masyarakat..
Wimmer D. Roger. Dominick Joseph. R. 1983. Mass Media Research: An Introduction. California. Wadsworth Publishing Co. Zakaria, Amrin. 2002. Media Penyuluhan Pertanian. Jakarta. Departemen Pertanian R.I.
DATA JUMLAH KEPALA KELUARGA DI KEL. RANGKAPAN JAYA BARU, DEPOK
RW RW 001 Jumlah Populasi : 756 KK
RW 002 Jumlah Populasi : 430 KK
RW 003 Jumlah Populasi : 407 KK
RW 004 Jumlah Populasi : 296 KK RW 005 Jumlah Populasi : 192 KK RW 006 Jumlah Populasi : 747 KK
RW 007
Jumlah Populasi/RT RT 001 : 75 KK RT 002 : 85 KK RT 003 : 50 KK RT 004 : 57 KK RT 005 : 50 KK RT 006 : 54 KK RT 007 :113 KK RT 008 : 85 KK RT 009 : 57 KK RT 010 : 80 KK RT 011 : 50 KK RT 001 : 83 KK RT 002 : 79 KK RT 003 : 62 KK RT 004 : 56 KK RT 005 : 93 KK RT 006 : 57 KK RT 001 : 75 KK RT 002 : 86 KK RT 003 :122 KK RT 004 : 38 KK RT 005 : 86 KK RT 001 : 75 KK RT 002 : 85 KK RT 003 : 70 KK RT 004 : 66 KK RT 001 : 42 KK RT 002 : 43 KK RT 003 : 50 KK RT 004 : 57 KK RT 001 : 74 KK RT 002 : 84 KK RT 003 : 50 KK RT 004 : 57 KK RT 005 : 50 KK RT 006 : 54 KK RT 007 :107 KK RT 008 : 84 KK RT 009 : 57 KK RT 010 : 80 KK RT 011 : 50 KK RT 001 : 55 KK
Jumlah Populasi : 319 KK
RW 008 Jumlah Populasi : 343 KK
RW 009 Jumlah Populasi : 339 KK
RW 010 Jumlah Populasi : 343 KK
RW 011 Jumlah Populasi : 178 KK RW 012 Jumlah Populasi : 379 KK
RW 013 Jumlah Populasi : 391 KK
RW 014 Jumlah Populasi : 292 KK
RT 002 : 51 KK RT 003 : 55 KK RT 004 : 52 KK RT 005 : 56 KK RT 006 : 50 KK RT 001 : 69 KK RT 002 : 71 KK RT 003 : 65 KK RT 004 : 72 KK RT 005 : 66 KK RT 001 : 69 KK RT 002 : 68 KK RT 003 : 65 KK RT 004 : 71 KK RT 005 : 66 KK RT 001 : 70 KK RT 002 : 69 KK RT 003 : 67 KK RT 004 : 72 KK RT 005 : 65 KK RT 001 : 40 KK RT 002 : 48 KK RT 003 : 53 KK RT 004 : 37 KK RT 001 : 66 KK RT 002 : 57 KK RT 003 : 51 KK RT 004 : 83 KK RT 005 : 67 KK RT 006 : 55 KK RT 001 : 48 KK RT 002 : 88 KK RT 003 :114 KK RT 004 : 71 KK RT 005 : 70 KK RT 001 : 45 KK RT 002 : 53 KK RT 003 : 46 KK RT 004 : 51 KK RT 005 : 52 KK RT 006 : 45 KK
DAFTAR PERTANYAAN Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini berkaitan dengan terpaan pesan tentang bahaya demam berdarah dan pemberantasan sarang nyamuk yang dihubungkan dengan sikap khususnya sikap ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Depok.
Karakteristik Responden Berilah tanda X pada kotak yang tersedia sesuai dengan pilihan anda 1. Usia tahun
: < 20 tahun, 20 – 24 tahun, 25 – 29 tahun, ≥ 30
2. Tingkat Pendidikan : SD/M.Ibtidaiyah, SMP/M.Tsanawiyah, SMU/M.Aliyah, Perguruan Tinggi 3. Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga/Tidak Bekerja, buruh/pedagang, karyawan negeri/swasta, guru/dosen
4. Lingkungan Rumah : …………………………………………………………………..*) *) diisi oleh petugas
Variabel Terpaan Pesan Berilah tanda X pada kolom yang tersedia sesuai dengan pilihan anda JAWABAN No.
Daftar Pertanyaan
1.
Anda sering menonton tayangan tentang pencegahan bahaya demam berdarah di televisi. Anda menonton sampai selesai tayangan tentang pencegahan bahaya demam berdarah. Anda tertarik dengan pesan tentang pencegahan bahaya demam berdarah yang ditayangkan di televisi karena disajikan sesuai dengan kenyataan Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara 3 M yang ditayangkan di televisi. Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya yang ditayangkan di televisi. Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan yang ditayangkan di televisi. Anda tertarik pada pesan dan peragaan tentang pencegahan bahaya demam berdarah yang ditayangkan di televisi karena mudah diikuti. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan 3 M yang ditayangkan di televisi. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya yang ditayangkan di televisi. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan yang ditayangkan di televisi. Anda sering menerima penjelasan tentang pencegahan bahaya demam berdarah dari kader posyandu. Anda mendengarkan sampai selesai penjelasan dari kader Posyandu tentang pencegahan bahaya demam berdarah. Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara 3 M yang disampaikan oleh kader posyandu. Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya yang disampaikan oleh kader posyandu.
2. 3.
4. 5.
6. 7.
8. 9.
10.
11. 12. 13. 14.
Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju
Setuju
Setuju Sekali
Sangat Setuju
15. 16. 17.
18.
19. 20. 21. 22.
23. 24.
25. 26.
27.
Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan yang disampaikan oleh kader posyandu. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan 3 M yang disampaikan oleh kader posyandu. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya yang disampaikan oleh kader posyandu. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan yang disampaikan oleh kader posyandu. Anda sering mendengarkan cerita tentang pencegahan bahaya demam berdarah dari tetangga. Anda mendengarkan sampai selesai cerita tentang pencegahan bahaya demam berdarah yang disampaikan oleh tetangga. Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara 3 M yang disampaikan oleh tetangga. Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya yang disampaikan oleh tetangga. Anda tertarik pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan yang disampaikan oleh tetangga. Anda tertarik pada pesan dan peragaan tentang pencegahan bahaya demam berdarah yang disampaikan oleh tetangga karena mudah diikuti. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan 3 M yang disampaikan oleh tetangga. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya yang disampaikan oleh tetangga. Anda dapat memahami cara melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan yang disampaikan oleh tetangga.
Variabel Sikap Berilah tanda X pada kolom yang tersedia sesuai dengan pilihan anda JAWABAN No.
Daftar Pertanyaan
1.
Anda sedih mendengar kabar banyaknya korban akibat berjangkitnya demam berdarah. Anda khawatir anggota keluarga terkenal/tertular virus demam berdarah. Anda takut nyamuk penyebab demam berdarah bersarang di sekitar dan di dalam rumah. Anda merasa senang jika seluruh anggota keluarga ikut terlibat dalam program 3 M. Anda kecewa jika warga disekitar rumah tidak memperdulikan program 3 M guna mencegah penyebaran virus demam berdarah. Anda marah jika ada orang yang menganggap program 3 M tidak penting guna mencegah demam berdarah. Anda menjadikan kasus berjangkitnya demam berdarah sebagai informasi yang berguna. Anda berusaha meningkatkan pengetahuan pencegahan demam berdarah dengan cara 3M Anda berusaha meningkatkan pengetahuan pencegahan demam berdarah dengan cara mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya. Anda berusaha meningkatkan pengetahuan pencegahan demam berdarah dengan cara pengasapan. Anda membutuhkan informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara 3 M. Anda membutuhkan informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara mempergunakan obat nyamuk / sejenisnya. Anda membutuhkan informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan. Anda merasa informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara 3 M sangat penting. Anda merasa informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara mempergunakan obat nyamuk / sejenisnya sangat penting. Anda merasa informasi tentang pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan sangat penting.
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.
16.
Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju
Setuju
Setuju Sekali
Sangat Setuju
JAWABAN No.
Daftar Pertanyaan
17.
Anda terbiasa membersihkan bak mandi/ tempat air seminggu sekali Anda terbiasa menutup tempat penampungan air bersih Anda terbiasa mengubur / membuang barangbarang bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk Anda terbiasa mempergunakan obat nyamuk / sejenisnya untuk menghindari gigitan nyamuk Anda terbiasa untuk segera melakukan pengasapan jika dilingkungan terjangkit demam berdarah Anda memiliki keinginan yang kuat untuk membersihkan bak mandi/tempat air Anda memiliki keinginan yang kuat untuk menutup penampungan air bersih Anda memiliki keinginan yang kuat untuk mengubur/membuang barang-barang bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk Anda memiliki keinginan yang kuat mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya untuk menghindari gigitan nyamuk. Anda memiliki keinginan yang kuat melakukan pengasapan jika di lingkungan terjangkit demam berdarah Anda melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara 3 M sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Anda melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Anda melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Anda melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan membersihkan bak mandi/penampungan air secara maksimal. Anda melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan menutup tempat penampungan air dengan baik. Anda melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan mengubur/membuang barangbarang bekas di tempat tertentu. Anda melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan mempergunakan obat nyamuk/sejenisnya sesuai dengan aturan yang ada.
18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.
29. 30. 31. 32. 33.
Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju
Setuju
Setuju Sekali
Sangat Setuju
JAWABAN No.
Daftar Pertanyaan
34.
Anda melakukan pencegahan bahaya demam berdarah dengan cara pengasapan sesuai dengan aturan yang ada. Anda mempunyai sikap bahwa mencegah berjangkitnya demam berdarah lebih baik dari pada mengobati.
35.
Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju
Setuju
Setuju Sekali
Sangat Setuju
Terima kasih atas kesediaannya menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Hormat Kami,
Kusumajanti
Tabulasi Silang Terpaan Pesan Berdasarkan Usia Case Processing Summary
Valid N pesan * usia * NTILES of PESAN
Percent 100
100,0%
Cases Missing N Percent 0
Total N
,0%
Percent 100
100,0%
pesan * usia * NTILES of PESAN Crosstabulation Count usia NTILES of PESAN rendah
pesan
sedang
Total pesan
tinggi
Total pesan
Total
77,00 79,00 80,00 81,00 83,00 84,00 85,00 86,00 87,00 88,00 89,00 90,00 91,00 92,00 93,00 94,00 95,00 96,00 97,00 98,00 99,00 100,00 101,00 102,00 103,00 105,00 106,00 108,00 109,00 110,00 111,00 112,00 113,00 116,00 117,00 118,00 120,00 122,00 125,00
< 20 tahun 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 4 2 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 5 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 3
20-24 th 1 1 1 1 0 2 0 0 0 1 0 1 8 1 0 1 0 1 0 1 2 1 0 1 8 0 0 0 1 0 2 1 1 2 0 2 1 1 0 0 3 14
25-29 th 0 0 3 0 3 2 2 0 1 1 1 1 14 0 1 1 4 0 1 1 1 2 2 1 14 1 1 2 1 1 2 0 0 0 1 0 2 0 1 0 0 12
>= 30 th
Total 1 0 0 1 0 0 0 1 0 2 0 1 6 2 1 1 0 0 0 0 0 1 0 2 7 0 0 2 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 5
2 1 4 3 3 4 2 2 2 5 1 3 32 5 3 3 5 1 1 3 3 4 2 4 34 2 1 4 3 2 5 1 2 2 1 2 3 1 1 1 3 34
Tabulasi Silang Terpaan Pesan Berdasarkan Pendidikan Case Processing Summary Cases Missing N Percent
Valid N pesan * pendidikan * NTILES of PESAN
Percent 100
100,0%
0
,0%
Total N
Percent 100
100,0%
pesan * pendidikan * NTILES of PESAN Crosstabulation Count NTILES of PESAN rendah
SD pesan
sedang
Total pesan
tinggi
Total pesan
Total
77,00 79,00 80,00 81,00 83,00 84,00 85,00 86,00 87,00 88,00 89,00 90,00 91,00 92,00 93,00 94,00 95,00 96,00 97,00 98,00 99,00 100,00 101,00 102,00 103,00 105,00 106,00 108,00 109,00 110,00 111,00 112,00 113,00 116,00 117,00 118,00 120,00 122,00 125,00
0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 5 2 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 5 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 3
pendidikan SMP SMA 0 1 0 0 1 3 0 1 0 3 1 3 0 2 0 1 0 1 1 2 0 1 0 2 3 20 1 1 0 2 1 1 0 4 1 0 0 1 1 1 1 2 1 2 0 2 1 2 7 18 0 1 0 1 0 2 1 1 0 1 1 3 1 0 1 1 2 0 0 1 2 0 1 2 1 0 0 1 0 0 3 0 13 14
PT
Total 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 4 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 4 0 0 2 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
2 1 4 3 3 4 2 2 2 5 1 3 32 5 3 3 5 1 1 3 3 4 2 4 34 2 1 4 3 2 5 1 2 2 1 2 3 1 1 1 3 34
Tabulasi Silang Terpaan Pesan Berdasarkan Pekerjaan Case Processing Summary
Valid N pesan * pekerjaan * NTILES of PESAN
Percent 100
100,0%
Cases Missing N Percent 0
,0%
Total N
Percent 100
100,0%
pesan * pekerjaan * NTILES of PESAN Crosstabulation Count
NTILES of PESAN rendah
pesan
sedang
Total pesan
tinggi
Total pesan
Total
77,00 79,00 80,00 81,00 83,00 84,00 85,00 86,00 87,00 88,00 89,00 90,00 91,00 92,00 93,00 94,00 95,00 96,00 97,00 98,00 99,00 100,00 101,00 102,00 103,00 105,00 106,00 108,00 109,00 110,00 111,00 112,00 113,00 116,00 117,00 118,00 120,00 122,00 125,00
Tdk Bekerja 1 1 3 2 1 3 1 1 1 2 0 1 17 3 2 2 3 1 1 3 2 1 1 2 21 2 0 1 3 0 4 1 1 2 1 2 2 1 0 1 3 24
pekerjaan Buruh/ Pedagang Karyawan 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 3 1 0 1 1 7 6 0 1 0 1 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 2 1 10 0 0 1 0 0 3 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 2 7
Guru/Dosen 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Total 2 1 4 3 3 4 2 2 2 5 1 3 32 5 3 3 5 1 1 3 3 4 2 4 34 2 1 4 3 2 5 1 2 2 1 2 3 1 1 1 3 34
Tabulasi Silang Sikap Berdasarkan Usia Case Processing Summary
N Sikap * Usia * NTILES of SIKAP
Valid Percent 100
100,0%
Cases Missing N Percent 0
,0%
N
Total Percent 100
100,0%
Sikap * Usia * NTILES of SIKAP Crosstabulation Count NTILES of SIKAP rendah Sikap
sedang
Total Sikap
tinggi
Total Sikap
Total
86,00 89,00 96,00 99,00 105,00 106,00 107,00 108,00 113,00 114,00 115,00 116,00 118,00 119,00 120,00 121,00 123,00 124,00 127,00 130,00 131,00 133,00 135,00 137,00 138,00 140,00 144,00 148,00
< 20 tahun 0 0 0 0 4 2 6 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 3 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 3
Usia 20-24 th 25-29 th 1 1 1 2 0 0 1 1 5 6 4 3 12 13 2 3 1 1 2 3 0 0 0 0 0 1 1 0 1 2 1 2 1 2 9 14 1 1 0 0 1 1 0 1 1 2 2 2 0 1 1 2 0 0 2 0 1 2 0 1 9 13
>= 30 th 1 0 1 1 0 3 6 0 1 0 1 2 1 0 0 0 0 5 1 1 1 1 0 1 0 0 0 2 0 0 7
Total 3 3 1 3 15 12 37 6 3 6 1 2 3 1 3 3 3 31 4 1 3 3 3 5 1 3 1 4 3 1 32
Tabulasi Silang Sikap Berdasarkan Pendidikan Case Processing Summary
N Sikap * Pendidikan * NTILES of SIKAP
Cases Missing N Percent
Valid Percent 100
100,0%
0
,0%
Total Percent
N
100
100,0%
Sikap * Pendidikan * NTILES of SIKAP Crosstabulation Count NTILES of SIKAP rendah Sikap
sedang
Total Sikap
tinggi
Total Sikap
Total
SD 86,00 89,00 96,00 99,00 105,00 106,00 107,00 108,00 113,00 114,00 115,00 116,00 118,00 119,00 120,00 121,00 123,00 124,00 127,00 130,00 131,00 133,00 135,00 137,00 138,00 140,00 144,00 148,00
0 1 0 0 4 2 7 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 3 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 3
Pendidikan SMP SMA 1 2 0 2 0 0 1 2 2 9 4 4 8 19 1 4 1 1 1 4 0 0 0 1 0 1 1 0 1 2 1 2 1 2 7 17 0 2 0 0 1 2 0 1 1 2 2 2 0 1 1 2 0 0 2 1 1 2 0 1 8 16
PT
Total 0 0 1 0 0 2 3 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 4 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 5
3 3 1 3 15 12 37 6 3 6 1 2 3 1 3 3 3 31 4 1 3 3 3 5 1 3 1 4 3 1 32
Tabulasi Silang Sikap Berdasarkan Pekerjaan
Case Processing Summary
Valid N Sikap * Pekerjaan * NTILES of SIKAP
Percent 100
100,0%
Cases Missing N Percent 0
,0%
Total N
Percent 100
100,0%
Sikap * Pekerjaan * NTILES of SIKAP Crosstabulation Count
NTILES of SIKAP rendah Sikap
sedang
Total Sikap
tinggi
Total Sikap
Total
86,00 89,00 96,00 99,00 105,00 106,00 107,00 108,00 113,00 114,00 115,00 116,00 118,00 119,00 120,00 121,00 123,00 124,00 127,00 130,00 131,00 133,00 135,00 137,00 138,00 140,00 144,00 148,00
Tdk Bekerja 2 2 0 2 10 8 24 4 2 4 0 0 1 1 2 2 2 18 2 0 2 1 2 4 1 2 1 2 2 1 20
Pekerjaan Buruh/ Pedagang Karyawan 0 1 0 1 0 0 0 1 4 1 1 1 5 5 1 1 0 1 1 1 0 1 0 2 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 3 9 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 2 0 1 0 0 2 9
Guru/Dosen 0 0 1 0 0 2 3 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Total 3 3 1 3 15 12 37 6 3 6 1 2 3 1 3 3 3 31 4 1 3 3 3 5 1 3 1 4 3 1 32
ANALISA INFERENSIAL
Regression Variables Entered/Removedb Model 1
Variables Entered Pesan a
Variables Removed
Method Enter
.
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: Sikap
Model Summaryb Model 1
R .777a
R Square .604
Adjusted R Square .600
Std. Error of the Estimate 9.26185
a. Predictors: (Constant), Pesan b. Dependent Variable: Sikap
ANOVAb Model 1
Regression Residual Total
Sum of Squares 12823.141 8406.619 21229.760
df 1 98 99
Mean Square 12823.141 85.782
F 149.486
Sig. .000a
a. Predictors: (Constant), Pesan b. Dependent Variable: Sikap
Coefficientsa
Model 1
(Constant) Pesan
Unstandardized Coefficients B Std. Error 24.894 7.483 .932 .076
a. Dependent Variable: Sikap
Casewise Diagnosticsa Case Number 28
Std. Residual -3.360
a. Dependent Variable: Sikap
Sikap 86.00
Standardized Coefficients Beta .777
t 3.327 12.226
Sig. .001 .000
Residuals Statisticsa Predicted Value Std. Predicted Value Standard Error of Predicted Value Adjusted Predicted Value Residual Std. Residual Stud. Residual Deleted Residual Stud. Deleted Residual Mahal. Distance Cook's Distance Centered Leverage Value
Minimum 96.6284 -1.674
Maximum 141.3460 2.255
Mean 115.6800 .000
Std. Deviation 11.38098 1.000
.927
2.294
1.267
.335
100
96.2552 -31.12401 -3.360 -3.378 -31.44355 -3.575 .001 .000 .000
142.0225 17.12378 1.849 1.864 17.40299 1.888 5.086 .087 .051
115.6790 .00000 .000 .000 .00103 -.004 .990 .010 .010
11.40077 9.21495 .995 1.005 9.39763 1.020 1.146 .016 .012
100 100 100 100 100 100 100 100 100
a. Dependent Variable: Sikap
Charts
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Sikap 1.0
Expected Cum Prob
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0 0.0
0.2
0.4
0.6
Observed Cum Prob
0.8
1.0
N 100 100
Regression Variables Entered/Removedb Model 1
Variables Entered Televisia
Variables Removed
Method Enter
.
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: Sikap Model Summaryb Model 1
R .778a
R Square .605
Adjusted R Square .601
Std. Error of the Estimate 9.24659
a. Predictors: (Constant), Televisi b. Dependent Variable: Sikap
ANOVAb Model 1
Regression Residual Total
Sum of Squares 12850.823 8378.937 21229.760
df 1 98 99
Mean Square 12850.823 85.499
F 150.303
Sig. .000a
a. Predictors: (Constant), Televisi b. Dependent Variable: Sikap
Coefficientsa
Model 1
(Constant) Televisi
Unstandardized Coefficients B Std. Error 49.756 5.456 1.897 .155
a. Dependent Variable: Sikap Casewise Diagnosticsa Case Number 27
Std. Residual -3.086
a. Dependent Variable: Sikap
Sikap 99.00
Standardized Coefficients Beta .778
t 9.119 12.260
Sig. .000 .000
Residuals Statisticsa Predicted Value Std. Predicted Value Standard Error of Predicted Value Adjusted Predicted Value Residual Std. Residual Stud. Residual Deleted Residual Stud. Deleted Residual Mahal. Distance Cook's Distance Centered Leverage Value
Minimum 97.1835 -1.623
Maximum 138.9192 2.040
Mean 115.6800 .000
Std. Deviation 11.39326 1.000
.925
2.109
1.268
.321
100
96.8863 -28.53675 -3.086 -3.119 -29.14708 -3.270 .002 .000 .000
139.3539 25.94865 2.806 2.821 26.22235 2.928 4.161 .104 .042
115.6912 .00000 .000 -.001 -.01116 -.003 .990 .010 .010
11.40510 9.19977 .995 1.005 9.38037 1.020 1.075 .017 .011
100 100 100 100 100 100 100 100 100
a. Dependent Variable: Sikap
Charts
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Sikap 1.0
Expected Cum Prob
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0 0.0
0.2
0.4
0.6
Observed Cum Prob
0.8
1.0
N 100 100
Regression Variables Entered/Removedb Model 1
Variables Entered Posyandua
Variables Removed
Method Enter
.
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: Sikap Model Summaryb Model 1
R R Square .608a .370
Adjusted R Square .363
Std. Error of the Estimate 11.68386
a. Predictors: (Constant), Posyandu b. Dependent Variable: Sikap ANOVAb Model 1
Regression Residual Total
Sum of Squares 7851.530 13378.230 21229.760
df 1 98 99
Mean Square 7851.530 136.513
F 57.515
Sig. .000a
a. Predictors: (Constant), Posyandu b. Dependent Variable: Sikap
Coefficientsa
Model 1
(Constant) Posyandu
Unstandardized Coefficients B Std. Error 58.808 7.590 1.914 .252
a. Dependent Variable: Sikap
Standardized Coefficients Beta .608
t 7.749 7.584
Sig. .000 .000
Residuals Statisticsa Predicted Value Std. Predicted Value Standard Error of Predicted Value Adjusted Predicted Value Residual Std. Residual Stud. Residual Deleted Residual Stud. Deleted Residual Mahal. Distance Cook's Distance Centered Leverage Value
Minimum 100.9071 -1.659
Maximum 135.3517 2.209
Mean 115.6800 .000
Std. Deviation 8.90553 1.000
1.171
2.845
1.591
.447
100
101.0998 -34.04298 -2.914 -2.932 -34.47127 -3.054 .004 .000 .000
135.6259 24.12984 2.065 2.085 24.58574 2.122 4.879 .076 .049
115.6867 .00000 .000 .000 -.00674 -.002 .990 .009 .010
8.92558 11.62470 .995 1.004 11.83449 1.014 1.232 .013 .012
100 100 100 100 100 100 100 100 100
a. Dependent Variable: Sikap
Charts
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Sikap 1.0
Expected Cum Prob
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0 0.0
0.2
0.4
0.6
Observed Cum Prob
0.8
1.0
N 100 100
Regression Variables Entered/Removedb Model 1
Variables Entered Tetanggaa
Variables Removed
Method Enter
.
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: Sikap Model Summaryb Model 1
R .554a
R Square .307
Adjusted R Square .300
Std. Error of the Estimate 12.25003
a. Predictors: (Constant), Tetangga b. Dependent Variable: Sikap ANOVAb Model 1
Regression Residual Total
Sum of Squares 6523.559 14706.201 21229.760
df 1 98 99
Mean Square 6523.559 150.063
F 43.472
Sig. .000a
a. Predictors: (Constant), Tetangga b. Dependent Variable: Sikap
Coefficientsa
Model 1
(Constant) Tetangga
Unstandardized Coefficients B Std. Error 41.167 11.368 2.259 .343
a. Dependent Variable: Sikap
Standardized Coefficients Beta .554
t 3.621 6.593
Sig. .000 .000
Residuals Statisticsa Predicted Value Std. Predicted Value Standard Error of Predicted Value Adjusted Predicted Value Residual Std. Residual Stud. Residual Deleted Residual Stud. Deleted Residual Mahal. Distance Cook's Distance Centered Leverage Value
Minimum 90.8723 -3.056
Maximum 131.5406 1.954
Mean 115.6800 .000
Std. Deviation 8.11755 1.000
1.225
3.957
1.663
.486
100
89.1101 -36.50324 -2.980 -3.006 -37.13969 -3.139 .000 .000 .000
130.9047 22.01546 1.797 1.807 22.25614 1.828 9.339 .099 .094
115.6504 .00000 .000 .001 .02964 -.001 .990 .010 .010
8.13783 12.18801 .995 1.005 12.42708 1.015 1.359 .017 .014
100 100 100 100 100 100 100 100 100
a. Dependent Variable: Sikap
Charts
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Sikap 1.0
Expected Cum Prob
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0 0.0
0.2
0.4
0.6
Observed Cum Prob
0.8
1.0
N 100 100
Plot Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap
150.00
140.00
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
80.00
90.00
100.00
110.00
120.00
130.00
Pesan
Plot Antara Terpaan Pesan Melalui Televisi Dengan Sikap
150.00
140.00
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
25
30
35
40
45
50
Televisi
Plot Antara Terpaan Pesan Melalui Kelompok Posyandu
Dengan Sikap
150.00
140.00
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
20
25
30
35
40
Posyandu
Plot Antara Terpaan Pesan Melalui Tetangga Dengan Sikap
150.00
140.00
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
20
25
30
35
40
Tetangga
Plot Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Usia
Usia 150.00
< 20 tahun 20-24 th 25-29 th
140.00
>= 30 th
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
80.00
90.00
100.00
110.00
120.00
130.00
Pesan
Plot Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan 150.00
SD SMP SMA
140.00
PT
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
80.00
90.00
100.00
110.00
120.00
130.00
Pesan
Plot Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan 150.00
Tdk Bekerja Buruh/Pedagang Karyawan
140.00
Guru/Dosen
130.00
Sikap
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
80.00
90.00
100.00
110.00
120.00
130.00
Pesan
Uji Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap
Descriptive Statistics Pesan Sikap
Mean 97,4500 115,6800
Std. Deviation 12,21638 14,64384
N 100 100
Correlations Pesan Pesan
Sikap
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 100 ,777** ,000 100
Sikap ,777** ,000 100 1 . 100
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2 il d)
Uji Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Usia
Kelompok Usia < 20 tahun Correlations pesan_u1 pesan_u1
sikap_u1
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 12 ,902** ,000 12
sikap_u1 ,902** ,000 12 1 . 12
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Usia 20-24 tahun Correlations pesan_u2 pesan_u2
sikap_u2
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 30 ,746** ,000 30
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Usia 25-29 tahun
sikap_u2 ,746** ,000 30 1 . 30
Correlations pesan_u3 pesan_u3
sikap_u3
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 40 ,866** ,000 40
sikap_u3 ,866** ,000 40 1 . 40
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Usia ≥ 30 tahun Correlations pesan_u4 pesan_u4
sikap_u4
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 18 ,796** ,000 18
sikap_u4 ,796** ,000 18 1 . 18
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Uji Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pendidikan
Kelompok Tingkat Pendidikan SD Correlations pesan_pdd1 pesan_pdd1
sikap_pdd1
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 13 ,910** ,000 13
sikap_pdd1 ,910** ,000 13 1 . 13
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Tingkat Pendidikan SMP Correlations pesan_pdd2 pesan_pdd2
sikap_pdd2
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 23 ,701** ,000 23
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Tingkat Pendidikan SMA
sikap_pdd2 ,701** ,000 23 1 . 23
Correlations pesan_pdd3 pesan_pdd3
sikap_u3
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 52 ,866** ,000 40
sikap_u3 ,866** ,000 40 1 . 40
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Tingkat Pendidikan Perguruan Tinggi Correlations pesan_pdd4
sikap_pdd4
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
pesan_pdd4 1 . 12 ,758** ,004 12
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
sikap_pdd4 ,758** ,004 12 1 . 12
Uji Hubungan Antara Terpaan Pesan Dengan Sikap Berdasarkan Pekerjaan
Kelompok Tidak Bekerja Correlations pesan_pkj1 pesan_pkj1
sikap_pkj1
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 62 ,768** ,000 62
sikap_pkj1 ,768** ,000 62 1 . 62
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Buruh/Pedagang Correlations pesan_pkj2 pesan_pkj2
sikap_pkj2
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 10 ,776** ,008 10
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Karyawan
sikap_pkj2 ,776** ,008 10 1 . 10
Correlations pesan_pkj3 pesan_pkj3
sikap_pkj3
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 23 ,844** ,000 23
sikap_pkj3 ,844** ,000 23 1 . 23
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelompok Guru/Dosen Correlations pesan_pkj4 pesan_pkj4
sikap_pkj4
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
1 . 5 ,880* ,049 5
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
sikap_pkj4 ,880* ,049 5 1 . 5