BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Sejarah pertumbuhan peradaban manusia banyak menunjukkan bukti bahwa salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan kelangsungan organisasi adalah kuat tidaknya pemimpin, karena pemimpin merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuan yang akan dicapai. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Siagian bahwa arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuan harus sedemikian rupa sehingga mengoptimalkan pemanfaatan dari segala sarana dan prasarana yang tersedia. Arah yang dimaksud tertuang dalam strategi dan taktik yang di susun dan di jalankan oleh organisasi yang bersangkutan. 1 Oleh karena itu, posisi pemimpin tidak bisa diserahkan kepada sembarang orang.
Dia
harus
benar-benar
profesional
dalam
menjalankan
roda
kepemimpinannya. Berkaitan dengan hal tersebut Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari yang menyatakan bahwa apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.2 Dalam satuan pendidikan kepala sekolah menduduki jabatan penting untuk dapat menjamin kelangsungan proses pendidikan sebagaimana yang telah digariskan oleh peraturan perundang-undangan. Salah satunya adalah kepala 1
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, konsep, strategi, dan implementasi, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya,2003), hlm.117. 2 Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Matan al-Bukhari, Juz I, (Semarang : Toha Putra,t.th), hlm. 21.
1
2
sekolah menduduki jabatan sebagai pemimpin formal pendidikan di sekolahnya, yang bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan bawahan ke arah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, dalam hal ini kepala sekolah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim madrasah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. 3 “Esensi kepemimpinan adalah kepengikutan (followership)
4
. Tanpa
adanya bawahan atau pengikut tidak akan terbentuk kepemimpinan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu menciptakan suatu kondisi dimana dia bisa benar-benar diakui sebagai seorang pemimpin yang berwibawa dan diikuti oleh bawahannya (guru, staf dan murid). Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami bahwa kepala sekolah mau tidak mau harus memiliki kemampuan memimpin, dan untuk dapat menggerakkan bawahan disesuaikan dengan kemampuan memimpin yang dimiliki, namun harus menguasai yang dipimpin, karena bawahan yang dipimpin memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Di sinilah pentingnya kepala sekolah untuk memiliki kemampuan memimpin guna tercapainya tujuan yang ditetapkan. Ketika melihat fenomena di madrasah masih banyak ditemukan kepala madrasah yang memiliki kemampuan memimpin yang minim, mungkin karena kurangnya pelatihan-
3
Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir, Administrasi Pendidikan, Teori, Konsep dan Issu, (Jakarta: Program Paska Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia,2000), hlm.33 4 Wahjosumijo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya, (Jakarta: Raja grafindo Persada, 2001), Cet.III,hlm.104
3
pelatihan yang diikuti tentang kepemimpinan atau karena usia yang sudah udhur akhirnya dalam memimpin terkesan apa adanya. Berdasarkan uraian di atas, akan dikaji tentang kepemimpinan kepala sekolah yang meliputi kemampuan memimpin, fungsi, dan peran kepala sekolah sebagai pemimpin dan pengaruhnya terhadap produktivitas
guru. Yang
diharapkan dapat ditemukan kemampuan memimpin yang efektif bagi kepala sekolah dan hubungannya dengan produktivitas guru.
B. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah ini perlu diutarakan dengan maksud agar penelitian tidak keluar dari permasalahan yang diteliti. Dalam melakukan penelitian tidak semua Madrasah Ibtidaiyah yang ada di Kecamatan Wiradesa tetapi penelitian ini hanya dilakukan di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan, karena antara MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan
Wiradesa
Kabupaten Pekalongan berdekatan jaraknya sehingga memudahkan untuk melakukan penelitian
C. Rumusan Masalah 1. Bagaimana kemampuan memimpin kepala sekolah di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan?
4
2. Bagaimana produktivitas guru di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan? 3. Bagaimana hubungan antara kemampuan memimpin kepala sekolah dengan produktifitas guru di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan?
D. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui kemampuan memimpin kepala sekolah di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan 2. Untuk mendiskripsikan produktivitas
guru di MIS Kadipaten, MIM
Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan
Wiradesa
Kabupaten Pekalongan 3. Untuk menganalisis hubungan antara kemampuan memimpin kepala sekolah dengan produktivitas guru di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan
Wiradesa Kabupaten
Pekalongan
E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara Teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memeberikan konstribusi di bidang pendidikan khususnya yang berhubungan dengan kepemimpinan kepala sekolah.
5
2. Secara Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan input dan pedoman bagi kepala sekolah dalam memimpin para guru agar produktivitas baik dan meningkat
F. Tinjauan Pustaka 1.
Analisis Teoreitis Secara etimologis “ pemimpin “ dan “ kepemimpinan “ itu berasal dari
kata pimpin (Inggris to lead), maka dengan konjugasi berubah menjadi “pemimpin” (leader) dan “ kepemimpinan “ (leadership). 5 Adapun pengertian kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut dapat dipahami karena setiap ahli dalam mendefinisikan kata ini menurut perspektif mereka masing-masing. Menurut Mardjian sebagaimana yang dikutip mengatakan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan guna mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam kerjasama untuk mencapai tujuan, atau dengan definisi yang lebih lengkap dapat dicapai karena dikatakan bahwa kepemimpinan adalah proses pemberian jalan yang mudah (fasilitas) dari pada pekerjaan orang lain yang terorganisir dalam organisasi guna mencapai tujuan yang telah dicapai. 6 Abdul Aziz Wahab mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi kelompok kearah pencapaian tujuan7
5
K. Permadi, Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta:Rineka Cipta, 1996), hlm.9. 6 Hidayat Soetopo dan Wasty Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1968), hlm. 1-2. 7 Abdul Aziz Wahab, Anatomi organisasi dan kepemimpinan pendidikan, (Bandung: Alfa beta, 2008), hlm.82.
6
Pengelolaan sekolah tidak lepas dari kemampuan kepala sekolah dalam memimpin sebuah lembaga pendidikan, bagi seorang kepala sekolah tentunya harus mempunyai kemampuan-kemampuan dalam memimpin sekolah yaitu kemampuan kepala sekolah sebagai manajer yang meliputi kemampuan menyusun
program,
kemampuan
menyusun
organisasi,
kemampuan
menggerakkan staf atau guru, kemampuan mengoptimalkan sumber daya sekolah. Selanjutnya kemampuan kepala sekolah sebagai administrator yang meliputi kemampuan kepala sekolah dalam mengelola administrasi kegiatan belajar mengajar, kemampuan mengelola kesiswaan, kemampuan mengelola administrasi keuangan, kemampuan mengelola administrasi ketenagaan, kemampuan mengelola administrasi sarana dan prasarana, kemampuan mengelola administrasi persuratan. Kemampuan yang lain yang harus dimiliki kepala sekolah adalah kemampuan yang berkaitan dengan pembinaan kedisiplinan dan pembangkitan motivasi.8 Adapun kepala sekolah menurut B. Suryosubroto, kepala sekolah adalah jabatan tertinggi di sekolah, sehingga ia berperan sebagai pemimpin sekolah dan dalam struktur organisasi sekolah ia didudukan pada tempat paling atas. 9 Hidayat Soetopo dan Wasty Soemanto, menjelaskan bahwa fungsi utama kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan ialah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan murid-murid dapat 8
E. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002),
hlm.118 9
139-140.
B. Suryobroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta,2004), hlm.
7
belajar dengan baik. Dalam melaksanakan fungsi tersebut kepala sekolah memiliki tanggung jawab ganda yaitu melaksanakan administrasi sekolah sehingga tercipta situasi proses belajar mengajar yang baik, dan melaksanakan supervisi sehingga guru-guru bertambah dalam menjalankan tugas-tugas pengajaran dan dalam membimbing pertumbuhan murid-murid. 10 Menurut Zakiyah Dradjat, guru adalah pendidik professional, karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab yang dipikul di pundak para orang tua. 11 Pendapat lain menyebutkan bahwa guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu guru harus : a. Membantu siswanya kepada tujuan yang hendak di capai. b. Mampu mempengaruhi siswanya. c. Mampu berpandangan luas, dan d. Memiliki kriteria sebagai guru yang baik. 12
2. Kajian Penelitian yang Relevan Kajian penelitian yang relevan merupakan hubungan antara masalah yang diteliti dengan kerangka teoritik yang dipakai serta hubungannya dengan penelitian terdahulu yang relevan. Dengan kata lain kajian penelitian yang
10
Ibid, hlm 19. Zakiyah Dradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakrta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 39. 12 Burhanuddin Salam, Pengantar Pedagogik, Dasar-dasar ilmu pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 182. 11
8
relevan merupakan pernyataan hasil penelitian ( yang ada ) yang relevan dengan masalah penelitian. 13 Kedudukan penelitian yang akan peneliti lakukan merupakan pengembangan dari hasil riset sebelumnya agar menghindari adanya temuantemuan yang sama, penulis memberikan beberapa contoh penelitian yang berkaitan dengan hubungan antara tipe kepemimpinan kepala sekolah dan produktivitas
guru di Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Kadipaten Wiradesa
Pekalongan. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Produktivitas Guru di MTs Gondang Wonopringgo Pekalongan, Fitria Yuliani, Time New Roman, 2006, dengan hasil penelitian bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dan produktivitas kerja guru. 3. Kerangka Berpikir Masalah kepemimpinan merupakan masalah yang menarik untuk dibicarakan karena posisi strategis yang dimilikinya sangat memepengaruhi tumbuh kembang dan maju mundurnya sebuah organisasi atau komunitas. Maka dibutuhkan seorang pemimpin yang betul-betul memiliki kompetensi kepemimpinan dan memiliki kemampuan dalam menerapkannya segala aktivitas organisasi yang dipimpin guna tercapai tujuan yang ditetapkan. Produktivitas banyak dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya adalah situasi/kondisi tempat kerja, iklim yang kondusif relatif akan membuat tenaga kerja dapat bekerja dengan tenang dan baik, situasi/kondisi demikian 13
Nana Sudjana, Ibrahim, Pelatihan dan Penilaian pendidikan, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001), hlm. 182.
9
merupakan tugas dari seorang pemimpin. Pemimpin yang baik dituntut untuk dapat menciptakannya. Sehingga akan dapat meningkatkan produktivitas bawahan. Dari pemaparan di atas bahwa pemimpin yang mampu memimpin, maka akan meningkatkan produktivitas
anggota tersebut, jadi apabila
kemampuan memimpin kepala sekolah baik dan efektif maka produktivitas guru akan baik dan relatif meningkat begitu juga sebaliknya apabila kemampuan memimpin kepala sekolah tidak baik/efektif maka relatif produktivitas guru akan menurun/tidak baik 4 . Hipotesis Berdasarkan analisis teori dan kerangka berfikir yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: “Kemampuan memimpin kepala sekolah mempunyai pengaruh yang signifikan dengan produktivitas guru”
G. Metode Penelitian Adapun metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Pendekatan dan Jenis penelitian Penelitain ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah penelitian yang hasil penelitiannya disajikan dalam bentuk
10
deskriptif dengan menggunakan angka-angka statistik14. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan yaitu jenis penelitian yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam masyarakat.15 sehingga dalam pemecahan masalah ini menggunakan data yang ada di lapangan
2. Definisi Operasional Variabel Penelitian Variabel adalah segala yang bervariasi
yang menjadi objek
penelitian. 16 Berdasarkan judul penelitian ini, maka variabel dalam penelitian adalah : a. Kemampuan memimpin kepala sekolah sebagai variabel bebas, dengan indikator : perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.17 b. Produktivitas guru sebagai variabel terikat, dengan indikator : kualitas guru serta proses belajar mengajar.18
3. Populasi Penelitian Populasi adalah subjek penelitian
19
. Untuk menentukan subjek
penelitian, berpijak pada variabel judul penelitian ini yaitu hubungan antara
14
Ibnu Hajar, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), hlm.30. 15 Mardalis, Metode Penelitian, (Jakarta:PT Bumi Aksara), hlm.2 8 16 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta), hlm. 115 17 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003),hlm. 97-98. 18 Sudarman Danim, Motivasi Kepemimpinan dan Efektifitas Kelompok, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 144.
11
Kemampuan Memimpin Kepala Sekolah Dengan Produktivitas Guru di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan, maka subjek penelitian yang akan digunakan adalah tenaga kependidikan di MIS Kadipaten, yang terdiri dari 1 kepala sekolah, dan 13 guru, MIM Kauman yang terdiri 1 kepala sekolah dan 13 guru, di MIS Kauman 1 Kepala Sekolah dan 12 Guru dan di MIS Waru Lor terdiri dari 1 Kepala Sekolah dan 13 Guru. Jadi jumlah yang diteliti berjumlah 51 orang guru. Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti atau sebagian dari individu yang diteliti. 20 Dalam pengambilan sampel ini, peneliti mengikuti pendapat Suharsimi Arikunto yaitu “ jika subjek penelitian kurang dari 100, lebih baik diambil seluruhnya.
4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara atau alat untuk mengumpulkan data, dengan maksud untuk memperoleh data yang valid dan representatif. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah :
a. Metode Observasi
19 20
Ibid, hlm. 115. Ibid, hlm. 104.
12
Observasi, yaitu pengamatan dan catatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian 21 . Metode ini akan digunakan sebagai alat bantu untuk mendapatkan data tentang letak geografi MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan, keadaan fisik sekolah serta pelaksanaan proses belajar mengajar dan fasilitas pendidikan yang lain. b. Metode Dokumentasi Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barangbarang yang tertulis. 22 Metode ini akan digunakan untuk memperoleh data yang berasal dari dokumen administrasi sekolah. Seperti struktur organisasi madrasah, daftar guru, jumlah siswa, daftar tingkat kelulusan siswa, dan lain sebagainya. c.
Metode Wawancara Wawancara adalah alat ukur yang diberikan kepada individu yang berupa pertanyaan dalam bentuk lisan23. Metode ini akan digunakan untuk mendapatkan data secara langsung dari tenaga kependidikan dan pengurus mengenai data yang dibutuhkan, seperti : sejarah berdirinya sekolah, proses belajar mengajar, dan lain-lain yang diperlukan. Adapun teknik yang digunakan dalam wawancara adalah bebas terpimpin.
21 22
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 158. Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, (Jakrta: Raja Grafindo Persada,1995),
hlm. 94 23
Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Bari Algesindo,th), hlm. 109.
13
d. Metode Angket Angket adalah jumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden.
24
Angket ini ditujukan kepada guru-guru MIS
Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan untuk mencari data tentang kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. Angket ini bentuknya tertutup dan tipe multiple choice. 5. Teknik Analisa Data Analisis data penelitian ini ditujukan untuk mengetahui apakah antara variabel X dan Y terdapat korelasi positif yang signifikan. Kemudian dalam analisis ini, menggunakana rumus product moment dengan rumus sebagai berikut 25 ; N ∑ XY – ( ∑X ) ( ∑ Y )
rxy =
√ { N. ∑X2 – ( ∑X)2} {N. ∑Y2 – ( ∑Y)2 } Keterangan : rxy
= Koofesien korelasi antara variable x dan y
N
= Jumlah subjek yang di teliti
∑ XY
= jumlah produk antara x dan y
∑x
= jumlah skor variabel X
∑Y
= jumlah skor variabel y
24
193.
Ibid, hlm. 114. 25 Anas Sudjiono, Pengantar Statistik, ( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999), hlm.
14
∑X2
= Hasil pengkuadratan skor variabel X yaitu X2 ( dijumlahkan )
∑Y2
= hasil pengkuadratan skor variabel Y yaitu Y2 ( dijumlahkan )
6. Uji Normalitas Data Hasil perhitungan analisis korelasi kemudian dikonsultasikan dengan r tabel dengan ketentuan apabila rhitung > rtabel maka ada hubungan antara Kemampuan Memimpin Kepala Sekolah Dengan Produktivitas Guru Madrasah Ibtidaiyah Kecamatan Wiradesa, dan sebaliknya apabila rhitung < rtabel, maka tidak ada hubungan antara Kemampuan Memimpin Kepala Sekolah Dengan Produktivitas Guru Madrasah Ibtidaiyah Kecamatan Wiradesa
G. Sistematika Penulisan Skripsi Dalam penyusunan skripsi ini, penulis membagi pembahasan menjadi lima bab dengan rincian sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan yang meliputi Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan Skripsi Bab II :
Kepemimpinan Kepala Sekolah dan kinerja guru di MIS
Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan, berisi tentang Kemampuan Pemimpin, yang meliputi: Pengertian kepemimpinan, Kepala sekolah yang meliputi: pengertian kepala sekolah, fungsi dan peran kepala sekolah, tugas dan tanggung jawab kepala sekolah serta kriteria kepala sekolah, Produktivitas yang meliputi pengertian dan
15
bentu-bentuk produktivitas
guru serta faktor-faktor yang mempengaruhi
produktivitas , Pengajuan Hipotesis Bab III Gambaran umum kondisi MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan, yang berisi letak sekolah, Tinjauan Historis, Identitas Madrasah, Visi dan Misi, Struktur Organisasi, keadaan Guru, Keadaan Siswa, keadaan sarana dan prasarana MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan. Kepemimpinan Kepala Sekolah MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan
Wiradesa
Kabupaten Pekalongan, Produktivitas guru MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan. Bab IV: Hubungan antara kemampaun kepemimpinan kepala sekolah dengan produktifitas guru di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan
Wiradesa Kabupaten Pekalongan. Analisis
Kemampuan Kepemimpinan kepala sekolah, dan Analisis Produktivitas Guru MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan, serta Pengaruh Kemampuan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Produktivitas Guru di MIS Kadipaten, MIM Kauman, MIS Kauman dan MIS Waru Lor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan Bab V : Penutup berisi simpulan, saran-saran dan penutup