Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik Achmad Paturisi * Abstrak Tingkah laku manusia (anak didik) selalu mengalami perubahan dan perkembangan menuju ke arah kesempurnaan. Proses pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada diri anak didik meliputi pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani. Dalam proses perkembangan khususnya, terdapat hukum-hukum perkembangan tingkah laku anak didik yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik. Pada kenyataannya, perkembangan anak didik pada umumnya selalu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan dan lingkungan. Pada tahap selanjutnya, terdapat beberapa teori yang berhubungan erat dengan faktorfaktor yang mempengaruhi perkembangan tingkah laku anak didik, yaitu teori nativisme, empirisme, dan konvergensi. Kata kunci: tingkah laku, anak didik, hukum, faktor, perkembangan. A. Pendahuluan Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah s.w.t. dengan bentuk yang sebaik-baiknya yang berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya. Penciptaan manusia harus dipahami melalui tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan, yang mana dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut manusia mengalami interaksi atau hubungan yang saling memperngaruhi antara kemampuan dasar atau pembawaan dengan kemampuan yang diperoleh, yaitu melalui belajar dan pengaruh dari lingkungan. Penting untuk dipahami bahwa perkembangan adalah proses perubahan kualitatif yang lebih menekankan pada kualitas fungsi organ-organ jasmaniah, meskipun bukan organ-organ jasmaniah itu sendiri, melainkan terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang ada pada organ-organ fisik.1 Selain itu, pengertian perkembangan menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu suatu proses yang menuju ke depan dan lebih sempurna serta tidak begitu saja dapat diulang kembali seperti misalnya sebuah pertunjukan film. Dalam perkembangan individu terjadi perubahan-
*
Universitas Negeri Manado. Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), p. 42; Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), p. 11. 1Muhibbin
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1088
perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap.2 Perkembangan yang terjadi pada anak didik ini tidak hanya menjadi harus diperhatikan oleh seorang pendidik, guru misalnya, tetapi juga harus menjadi perhatian tersendiri bagi keluarga, terutama orang tua. Orang tua sebagai pendidik dalam keluarga dapat memberikan pendidikan yang benar sesuai dengan perkembangan anaknya. Apabila hal ini tidak atau kurang mendapat perhatian dari orang tua, maka dapat dimungkinkan bahwa apa yang terjadi pada anaknya dan memperlakukan anak tidak sebagaimana mestinya, tentu akan menghambat perkembangan anak itu sendiri. Dalam pertumbuhan dan perkembangan yang normal, pada diri seorang anak akan kelihatan adanya perubahan ukuran organ-organ tubuh (jasmaniah) seiring dengan bertambahnya umur anak. Ukuran-ukuran badan akan bertambah besar, baik yang tampak seperti kaki, tangan, tinggi badan dan lain-lain, maupun yang tidak tampak seperti jantung, paru-paru, otot-otot dan lain sebagainya. Bersamaan dengan hal itu, dalam bidang rohani/kejiwaanpun juga mengalami perubahan, yaitu bertambahnya kemampuan untuk mengamati, mengingat, merasakan, dan sebagainya, sejalan dengan pertumbuhan jasmani tersebut di atas, sehingga jiwa yang sehat akan berkembang sesuai dengan pertumbuhan jasmani yang sehat pula.3 Dengan demikian, maka jelaslah bahwa manusia dengan segala aspeknya adalah merupakan suatu yang kompleks dan saling berinteraksi antara faktor pertumbuhan jasmaniah dan faktor perkembangan rohaniah. Apabila kita perhatikan dengan seksama beberapa penjelasan tersebut di atas, maka akan kelihatan bahwa perkembangan manusia tidak bisa terlepas dari pertumbuhannya. Oleh karena itu, perkembangan memiliki pengertian yang luas dan menyeluruh. Menurut Muhibbin Syah, perkembangan adalah suatu proses perubahan jasmani dan rohani (fisik dan psikis) manusia yang berlangsung secara teratur dan terus menerus, baik berupa bertambahnya unsur-unsur yang kuantitatif maupun kualitatif beserta dengan fungsi-fungsinya menuju ke arah yang lebih maju dan sempurna.4 Selanjutnya bagaimanakah proses perkembangan itu terjadi, akan dapat dipahami dalam pembahasan tentang hukum-hukum
2Siti
Rahatyu Haditono, dkk., Psikologi Perkembangan, Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1999), p. 1. 3Moh. Kasiram, Ilmu Jiwa Perkembangan, Bagian Ilmu Jiwa Anak, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), p. 25; Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), p. 95. 4Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, p. 42; Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), p. 2; Moh. Kasiram, Ilmu Jiwa, p. 29. SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1089
perkembangan tingkah laku anak didik dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. B. Hukum-Hukum Perkembangan Tingkah Laku Anak didik Hukum perkembangan dalam pandangan Muhibbin Syah dapat diartikan sebagai kaidah atau patokan umum mengenai sebab dan akibat terjadinya peristiwa perkembangan dalam diri anak didik.5 Sedangkan menurut Retno Indayati, yang dimaksud dengan hukum perkembangan adalah kaidah fundamental tentang realitas kehidupan anak didik, yang telah disepakati kebenarannya berdasarkan hasil pemikiran dan penelitian yang seksama.6 Dari hasil penelitian tersebut para ahli Ilmu Jiwa perkembangan berpendapat bahwa jasmani dan rohani (jiwa) anak didik itu berlangsung menurut hukum-hukum perkembangan tertentu. Adapun hukum-hukum perkembangan itu adalah sebagai berikut: 1. Hukum Kodrat dan Iradat Tuhan Anak didik pada waktu dilahirkan ke dunia ini bersama dengan kodratnya sendiri, yaitu berupa bakat, pembawaan, potensi-potensi yang akan berkembang. Kodrat anak didik itu antara individu yang satu dengan individu yang lain tidak sama. Oleh karena itu arah perkembangan anak didik telah ditentukan oleh kodratnya masing-masing. Akan tetapi kesempurnaan perkembangan itu juga ditentukan oleh lingkungan dimana anak didik itu tinggal dan dibesarkan. Maka untuk mencapai kesempurnaan perkembangannya, kedua faktor tersebut harus sesuai dan saling melengkapi.7 2. Hukum Mempertahankan Diri dan Perkembangan Dalam diri anak didik terdapat dorongan dan hasrat dasar untuk mempertahankan diri dan hasrat dasar untuk memperkembangkan pembawaannya. Hasrat untuk mempertahankan diri nampak dalam bentuk-bentuk nafsu makan dan minum, menjaga diri dari hal-hal yang neatif seperti rasa sakit, rasa tidak aman, dan sebagainya untuk itulah anak didik memerlukan sandang, pangan, papan dan juga pendidikan. Sedangkan hasrat untuk memperkembangkan pembawaannya terlihat dalam bentuk, hasrat ingin tahu, ingin bergerak, bermain-main dan lainlain. Hasrat-hasrat dasar ini dapat memperkembangkan pembawaan jasmani atau fisik seperti kaki, tangan, kepala, urat-urat, saraf dan lain-lain
5Muhibbin
Syah, Psikologi Pendidikan, p. 55. Indayati, Diktat Psikologi Perkembangan, (Tulungagung: LPM STAIN Tulungagung, 1995), p. 19. 7Moh. Kasiram, Ilmu Jiwa, p. 36. 6Retno
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
1090
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
maupun pembawaan rohani atau psikis, seperti fantasi, kehendak, pikiran, perasaan, ingatan, kemauan, dan lain-lain.8 3. Hukum Kesatuan Organ Setiap anak didik terdiri dari organ-organ yang antara satu dengan lainnya saling berhubungan. Semua organ-organ itu merupakan suatu kesatuan oeganisme yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahpisahkan. Demikian juga dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Perkembangan organ yang satu pasti berhubungan atau diikuti oleh perkembangan organ yang lain. Pross perkembangan fungsi-fungsi organ jasmaniah akan diikuti oleh proses perkembangan fungsi-fungsi rohaniah (kejiwaan). Perkembangan berfikir, bersikap dan berperasaan misalnya, tidak berdiri sendiri akan tetapi berhubungan dengan perkembangan panca indera, seperti mendengar, melihat, berbicara dan merasakan.9 4. Hukum Tempo Perkembangan Setiap anak didik mempunyai tempo perkembangan sendiri-sendiri, antara individu yang satu denan individu yang lain tidak sama. Ada yang cepat, ada yang sedang dan ada yang lambat, sehingga akan terjadi kemungkinan dalam umur yang sama menunjukkan tingkat perkembangan yang berbeda. Ada anak yang serba cepat tingkat perkembangannya, seperti cepat merangkak, cepat berjalan, cepat bisa berbicara, akan tetapi ada pula anak yang serba lambat tingkat perkembangannya, merangkak terlambat, berjalan terlambat, berbicata terlambat, dan lain-lain. Pada anak-anak yang perkembangannya normal, perbedaan ini tidak nampak menonjol, akan tetapi pada anak-anak yang perkembangannya tidak normal, perbedaan ini akan kelihatan sekali.10 Menurut Reno Indayati, tempo perkembangan seorang anak dapat dipengaruhi oleh faktor dari luar, yaitu dengan usaha-usaha sedemikian rupa sehingga akan lebih cepat tingkat perkembangannya, misalnya, pertama, Dengan cara memelihara tubuh yang sempurna. Kedua, Dengan usaha-usaha yang nyata untuk meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa anak, yaitu pemenuhan kebutuhan makanan yang bergizi, segera melatih berjalan, mengajari berbicara, sebelum usia lima tahun anak dilatih bernyanyi, berhitung, menulis dan lain-lain.11 5. Hukum Ritme (Irama) Perkembangan Di samping ada tempo, di dalam perkembangan juga dikenal adanya irama atau naik-turunnya proses perkembangan. Ini berarti bahwa 8Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, p. 56; Simandjuntak dan Pasaribu, Pengantar Psikologi Perkembangan, (Bandung: Tarsito, 1984), p. 22. 9Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, p. 57. 10Simandjuntak dan Pasaribu, Pengantar, p. 23. 11Retno Indayati, Diktat Psikologi, p. 21.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1091
perkembangan anak didik itu tidak tetap (tidak merata), terkadang naik dan terkadang turun. Pada suatu saat seorang anak mengalami perkembangan yang tenang, akan tetapi pada saat yang lain (perkembangan selanjutnya) dia mengalami perkembangan yang menggoncangkan.12 Menurut pendapat para ahli psikologi, setiap anak didik biasanya mengalami dua masa krisis yang disebut dengan masa “trotz”. dimana pada masa “trotz” ini terjadi dalam dua periode, yaitu: a. Trotz periode pertama atau krisis pertama terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun, dengan ciri utama anak menjadi egois, selalu bersikap dan bertingkah laku mendahulukan kepentingannya sendiri, dan biasanya pada masa ini akan sering menentang dan membangkang kehendak orang tua. b. Trotz periode kedua atau krisis kedua terjadi pada umur antara 14 sampai 17 tahun, dengan ciri utama sering membantah orang tuanya sendiri, akan tetapi bedanya bentuk bantahan (perlawanan) tersebut dalam usaha untuk mencapai identitas pribadinya.13 Irama perkembangan anak didik dalam garis besarnya ada tiga macam bentuk, yaitu:14 a. Ada anak yang menunjukkan perkembangan yang menaik dengan cepat pada permulaan, akan tetapi kemudian menurun pada perkembangan selanjutnya. Misalnya, seorang anak di SD sangat pandai, akan tetapi pada waktu di sekolah lanjutan (SLTP) prestasinya menurun. b. Ada anak yang perkembangannya tenang, sedikit demi sedikit menaik, misalnya anak yang duduk di kelas satu SD tergolong anak yang bodoh, tetapi setelah kelas dua, kecenderungannya semakin naik, dan akhirnya tergolong anak yang pandai sampai di kelas enam. c. Ada anak yang pada pemulaannya menunjukkan perkembang yang merata (lambat), akan tetapi dalam fase-fase perkembangan berikutnya menaik dengan cepat. Misalnya, seorang anak pada waktu di SD berkemampuan biasa-biasa saja, tidak pandai dan juga tidak bodoh, akan tetapi setelah di SLTP menjadi anak yang sangat pandai dan berprestasi. 6. Hukum Masa Peka Menurut Moh. Kasiram, masa peka adalah suatu masa dimana suatu fungsi mengalami perkembangan yang sebaik-baiknya, oleh karena itu harus mendapat pelayanan yang semestinya.15 Senada dengan pendapat 12Muhibbin
Syah, Psikologi Pendidikan, p. 59.
13Ibid. 14Moh. 15Ibid.,
Kasiram, Ilmu Jiwa, p. 37-38. p. 38.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1092
tersebut Muhibbin Syah memberikan batasan, bahwa peka artinya mudah terangsang atau mudah menerima stimulus, sehingga pengertian dari masa peka adalah masa yang tepat yang terdapat pada diri anak untuk mengembangkan fungsi-fungsi tertentu, seperti fungsi mulut untuk berbicara dan membaca, fungsi tangan untuk menulis, dan sebagainya.16 Menurut para ahli, masa peka ini hanya datang satu kali selama hidup anak didik. Apabila masa peka ini tidak digunakan sebaik-baiknya, (tidak mendapat kesempatan untuk berkembang atau terlambat perkembangannya), maka akan mengakibatkan fungsi-fungsi tersebut mengalami kelainan/abnormal. Hal ini akan mengganggu perkembangan selanjutnya. Misalnya, masa peka untuk berbicara seorang anak sudah terlewati, sedangkan anak itu belum dapat berbicara secara sempurna, amak dia akan mengalami kesukaran dalam bahasa untuk masa-masa selanjutnya.17 7. Hukum Keperluan Belajar Antara perkembangan dan belajar terdapat hubungan yang sangat erat, sehingga hampir semua proses perkembangan memerlukan belajar. Keperluan belajar bagi proses perkembangan, terutama perkembangan fungsi-fungsi kejiwaan (psikis) sudah tidak diragukan lagi, seperti perkembangan berfikir, memecahkan masalah, meyakini kebenaran ajaan agama, tentunya tidak timbul atau ada sendiri dalam diri anak didik tanpa melalui belajar terlebih dahulu. Begitu juga fungsi fisik (jasmani), walaupun seorang anak sudah matang perkembangan otot-otot tangannya, kalau tidak belajar menulis tentu tangan anak tersebut tidak akan bisa difungsikan untuk menulis.18 8. Hukum Rekapitulasi Hukum ini berasal dari teori rekapitulasi (recapitulation theory) yang dikemukakan oleh ahli Biologi Jerman Hackel, yang berpendapat bahwa ontogenese adalah rekapitulasi dari phylogenese, artinya adalah perkembangan individu anak didik itu merupakan ulangan singkat daripada perkembangan jenisnya.19 Dalam versi yang lain dijelaskan bahwa menurut teori ini proses perkembangan individu anak didik adalah sebuah mikrokosmik (dunia kehidupan kecil) yang mencerminkan evolusi kehidupan jenis makhluk hidup dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat yang paling kompleks.20 16Muhibbin
Syah, Psikologi Pendidikan, p. 56. Kasiram, Ilmu Jiwa, p. 39; Simandjuntak dan Pasaribu, Pengantar, p. 22. 18Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, p. 57. 19Simandjuntak dan Pasaribu, Pengantar, p. 22. 20Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, p. 40. 17Moh.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1093
Rekapitulasi pada dasarnya berarti pengulangan atau ringkasan kehidupan organisme tertentu seperti anak didik yang berlangsung secara evolusioner (sangat lambat) dalam waktu berabad-abad. Dalam hal ini dikaitkan dengan proses perkembangan psikis anak dipandang sebagai ulangan dari zaman dahulu, karena adanya kesamaan dengan perilaku kultural nenek moyangnya pada ratusan bahkan ribuan abad yang lalu. Contoh pengulangan perkembangan yang tampak pada anak adalah sebagai berikut:21 a. Masa berburu dan menyamun, yaitu pada umur sekitar 8 tahun, ketika dia senang bermain kejar-kejaran, peran-perangan, dan menangkap hewan-hewna kecil (berburu) seperti kupu-kupu, capung dan belalang. b. Masa beternak, yaitu pada umur sekitar 10 tahun ketika dia suka memelihara hean-hewan piaraan seperti ayam, burung, kucing, kambing dan lain sebagainya. c. Masa bercocok tanam (bertani), yaitu pada umur sekitar 12 tahun ketika dia suka mengurus tanaman di kebun, menanam bunga-bunga, menyiraminya, memberinya pupuk dan lain sebagainya. d. Masa berdagang, yaitu pada umur 12 tahun ke atas, ketika dia suka bermain jual beli, kemudian meningkatkan menjadi kesenangan tukar menukar barang seperti foto, prangko, dan berkirim surat, serta menjalin persahabatan dengan orang lain. C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Tingkah Laku Anak didik Perkembangan anak didik itu pada umumnya selalu dipengaruhi oleh dua faktor besar, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar diri anak didik yang bersangkutan. Faktor dari dalam yang juga disebut dengan faktor intern atau faktor endogen, adalah faktor yang berasalh dari dalam diri anak didik itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Sedangkan faktor dari luar disebut juga dengan faktor ekstern atau faktor eksogen, adalah faktor yang berasal dari luar diri anak didik itu yang meliputi lingkungan dan pengalaman-pengalaman dari berinteraksi dengan lingkungannya.22 Untuk mengetahui bagaimana kedua faktor tersebut (intern dan ekstern) mempengaruhi perkembangan anak didik, dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini:
21Moh.
Kasiram, Ilmu Jiwa, p. 40. Psikologi Umum, (Pasuruan: PT. Garoeda Buana Indah, 1994), p. 72; Bimo Walgito, Pengantar psikologi Umum, (Yogyakarta: Andi Offset, 1993), p. 46. 22Sardjoe,
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
1094
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1. Faktor pembawaan (hereditas) Menurut Sardjoe, yang dimaksud dengan faktor pembawaan atau hereditas adalah sifat-sifat kecenderungan yang dimiliki oleh setiap anak didik sejak masih dalam kandungan (konsepsi) sampai lahir.23 Sedangkan menurut Mahfudh Shalahuddin pembawaan atau hereditas dapat diartikan pembawaan atau hereditas dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk bertumbuh dan berkembang bagi anak didik, menurut pola-pola, ciri-ciri, serta sifat-sifat tertentu dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan melalui plasma benih, yang timbul sejak dalam kandungan (konsepsi) dan berlaku sepanjang hidup individu anak didik tersebut.24 Senada dengan pendapat tersebut di atas, menurut Tadjab yang dimaksud dengan faktor hereditas adalah sifat-sifat atau ciri-ciri yang diperoleh oleh seorang anak atas dasar keturunan atau pewarisan dari generasi ke generasi melalui sel benih. Sifat-sifat atau ciri-ciri pembawaan teersebut ada sejak lahir, dan yang masih merupakan benih dan potensi yang terpendam dalam diri anak didik.25 Lebih lanjut dijelaskan bahwa faktor pembawaan ini merupakan faktor keturunan, karena setiap anak didik itu terjadi dari pertemuan antara sperma (air mani) dari ayah dan sel telur (ovum) dari ibu. Pembawaan atau keturunan itu yang terpenting antara lain adalah bentuk tubuh, raut muka, warna kulut, rambut, intelegensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan sebagainya yang berhubungan dengan fisik dan psikis. Hal ini menunjukkan bahwa faktor keturunan yang dibawa oleh anak didik sejak masih dalam kandungan hingga lahir itu, akan selalu ada atau dimiliki oleh setiap anak didik sebagaimana sifat-sifat yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Artinya setiap anak didik itu akan memiliki sifat-sifat seperti sifatsifat yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.26 2. Faktor lingkungan (environment) Lingkungan dalam pandangan Mahfudh Shalahuddin diartikan sebagai segala sesuatu yang melingkupi atau mengelilingi individu sepanjang hidupnya, baik yang berupa lingkungan fisik seperti rumahnya, orang tuanya, sekolahnya, teman-teman sepermainannya dan lain sebagainya, maupun lingkungan psikologis yang berupa aspirasi atau harapan-harapannya, cita-citanya, masalah-masalah yang dihadapinya dan lain sebagainya.27 Pengertian yang hampir sama juga dikemukakan oleh 23Sardjoe,
Psikologi, p. 72. Shalahuddin, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Surabaya: PT. Bina Ilmu,
24Mahfudh
1990), p. 81. 25Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan, (Surabaya: Karya Abditama, 1994), p. 27. 26Ahmad Fauzi, Psikologi, p. 98. 27Mahfudh Shalahuddin, Pengantar Psikologi, p. 90. SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1095
Ahmad Fauzi, menurutnya lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan individu anak didik itu, sekoah tempat mendidik, masyarakat tempat individu tersebut berinteraksi juga bermain sehari-hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora dan faunanya.28 Faktor lingkungan ini dapat berupa pengalaman-pengalaman, pendidikan, alam sekitar dan sebagainya yang juga sering disebut dengan milieu. Semuanya akan memberi pengaruh terhadap perkembangan anak didik. Pengaruh yang diberikan oleh lingkungan ini bukan meupakan suatu paksaan, dan pengaruh yang ditimbulkan oleh masing-masing lingkungan itu berbeda-beda. Pada umumnya pengaruh lingkungan itu bersifat pasif, dalam arti bahwa tidak merupakan suatu keharusan untuk diterima begitu saja oleh anak didik. Lingkungan memberikan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu, bagaimana individu mengambil manfaat dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu anak didik yang bersangkutan. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh pendidikan. Pendidikan dijalankan dengan penuh kesadaran, rasa tanggung jawab, dan secara sistematis berusaha ingin mengembangkan potensipotensi ataupun bakat-bakat yang ada pada individu anak didik sesuai dengan cita-cita ataupun tujuan pendidikan tertentu yang telah ditetapkan. Dengan demikian pendidikan itu bersifat aktif, dan ingin mengarahklan perkembangan individu ke suatu tujuan tertentu.29 Sekalipun pengaruh lingkungan tidak bersifat memaksa, akan tetapi tidak dapat dipungkiri babwa peranan lingkungan cukup besar bagi perkembangan individu anak didik. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa individu tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya lingkungan yang mempengaruhinya. Dalam perkembangan anak didik yang dipengaruhi oleh faktor-faktor intern dan ekstern tersebut di atas, menimbulkan berbagai pendapat tentang teori perkembangan. Hal ini disebabkan oleh sudut pandang dan pendekatan para ahli yang berbeda terhadap eksistensi anak didik. Untuk lebih jelasnya, berikut ini diuraikan tentang teori-teori yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tingkah laku anak didik. a. Teori nativisme Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran psiklogis. Tokoh utama dari teori ini Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Menurut teori ini perkembangan anak didik itu ditentukan semata-mata oleh faktor 28Ahmad 29Sardjoe,
Fauzi, Psikologi, p. 105. Psikologi, p. 74.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1096
pembawaan yang dibawa oleh individu sejak lahir. Selanjutnya juga dijelaskan bahwa sewaktu anak didik itu dilahirkan telah membawa sifatsifat tertentu dan potensi-potensi tertentu yang akan menentukan perkembangannya. Sedangkan faktor lain, yaitu lingkungan termasuk di dalamnya pendidikan tidak mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak didik.30 Teori ini menimbulkan pandangan bahwa seakan-akan perkembangan anak didik itu telah ditentukan oleh sifat-sifat sebelumnya yang tidak dapat diubah, sehingga individu akan sangat tergantung kepada sifat-sifat yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Misalnya, kalau kedua orang tuanya ahli musik, maka kemungkinan besar anak-anak yang mereka lahirkan akan menjadi pemusik pula, apabila orang tuanya ahli politik, maka anaknya juga akan menjadi politikus, dan lain sebagainya. Jadi dapat dikatakan bahwa sifat-sifat yang dibawanya sejak lahir tidak dapat diubah oleh kekuatan-kekuatan lain termasuk pendidikan dan lingkungan. Teori ini menimbulkan pandangan pesimistis terhadap pendidikan, karena memandang pendidikan sebagai suatu usaha yang tidak berdaya menghadapi perkembangan anak didik yang ditentukan oleh faktor pembawaan tersebut. b. Teori empirisme Kebalikan dari teori nativisme adalah teori empirisme, dengan tokoh utamanya adalah John Locke (1632-1704). Doktrin teori empirisme yang sangat terkenal adalah “Tabula rasa” yang berarti kertas kosong. Dokrin “Tabula rasa” ini menekankan arti penting pada lingkungan, pengalaman dan pendidikan. Menurut teori ini, perkembangan anak didik itu sematamata ditentukan oleh lingkungan dan pengalaman-pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Selanjutnya, teori ini menganggap bahwa setiap anak didik yang dilahirkan adalah seperti “tabula rasa”, dalam keadaan kosong bagaikan kertas putih yang belum ada tulisan-tulisannya. Kemudian akan menjadi apakah seorang individu itu kelak, tergantung kepada peranan lingkungan dan pendidikan serta pengalaman-pengalaman yang diperoleh selanjutnya.31 Oleh karena itu, ditinjau dari segi pendidikan, teori ini akan menimbulkan pandangan yang optimistik, yaitu memandang bahwa usaha pendidikan itu akan mampu membentuk pribadi anak didik. Misalnya seorang anak yang memperoleh kesempatan yang memadai untuk mempelajari ilmu agama, tentu kelak akan menjadi seorang yang ahli agama, karena dia mempunyai pengalaman belajar di bidang agama, 30Ahmad
Fauzi, Psikologi, p. 108; Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, p. 43-44; Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), p. 14. 31Sardjoe, Psikologi, p. 76; Ahmad Fauzi, Psikologi, p. 109. SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
1097
dia tidak akan pernah menjadi politikus atau pemusik, walaupun kedua orang tuanya politikus ataupun pemusik sejati. c. Teori konvergensi Teori konvergensi ini merupakan gabungan antara teori nativisme engan teori empirisme. Teori ini menggabungkan arti penting pembawaan (hereditas) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan anak didik. Tokoh utama teori konvergensi ini adalah Louis William Stern (1971-1938), seorang filosof dan psikolog yang berasal dari Jerman. Menurut teori ini, perkembangan anak didik itu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan/pengalaman pendidikan dan juga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pembawaan saja, akan tetapi dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut yang sama pentingnya. Faktor pembawaan tidak akan berarti apa-apa, jika tanpa didukung oleh faktor lingkungan/pengalaman. Demikian juga sebaliknya, faktor lingkungan atau pengalaman tanpa didukung faktor pembawaan tidak akan mampu mengembangkan anak didik menjadi lebih sempurna. Jadi perkembangan anak didik itu ditentukan oleh faktor pembawaan (hereditas) dan faktor lingkungan/pendidikan. Pembawaan termasuk di dalamnya bakat dan potensi-potensi yang telah ada pada individu anak didik, membutuhkan lingkungan yang sesuai agar hal itu dapat berkembang dengan sebaikbaiknya. Misalnya, seorang anak yang lahir dari keluarga santri atau kiai, umpamanya, kelak dia akan menjadi juga akan menjadi ahli agama apabila dia dididik di lingkungan pendidkan keagamaan. Teori konvergensi yang dikemukakan oleh William Stern itulah yang banyak diterima oleh para ahli pada umumnya sehingga teori yang dikemukakan oleh William Stern merupakan salah satu hukum atau teori perkembangan anak didik, di samping adanya hukum-hukum perkembangan yang lain. D. Penutup Hukum perkembangan adalah kaidah fundamental tentang realitas kehidupan anak didik, yang telah disepakati kebenarannya berdasarkan hasil pemikiran dan penelitian yang seksama. Hukum-hukum perkembangan itu adalah hukum kodrat dan iradat Tuhan, hukum mempertahankan diri dan perkembangan, hukum kesatuan organ, hukum tempo perkembangan, hukum ritme (irama) perkambangan, hukum masa peka, hukum keperluan belajar, dan rekapitulasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia (anak didik) pada umumnya adalah faktor dari dalam (intern atau endogen) dan faktor dari luar diri manusia yang bersangkutan (ekstern atau eksogen). Faktor dari dalam adalah faktor yang berasal dari dalam diri manusia itu SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
1098
Achmad Paturisi: Perkembangan Tingkah Laku Anak Didik
sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Sedangkan faktor dari luar adalah faktor yang berasal dari luar diri manusia itu yang meliputi lingkungan dan pengalaman-pengalaman dari berinteraksi dengan lingkungannya. Daftar Pustaka Fauzi, Ahmad, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 1997. Haditono, Siti Rahatyu, dkk., Psikologi Perkembangan, Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1999. Indayati, Retno, Diktat Psikologi Perkembangan, Tulungagung: LPM STAIN Tulungagung, 1995. Kasiram, Moh., Ilmu Jiwa Perkembangan, Bagian Ilmu Jiwa Anak, Surabaya: Usaha Nasional, 1983. Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002. Sardjoe, Psikologi Umum, Pasuruan: PT. Garoeda Buana Indah, 1994. Shalahuddin, Mahfudh, Pengantar Psikologi Pendidikan, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990. Simandjuntak dan Pasaribu, Pengantar Psikologi Perkembangan, Bandung: Tarsito, 1984. Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998. Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999. Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000. Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan, Surabaya: Karya Abditama, 1994. Walgito, Bimo, Pengantar psikologi Umum, Yogyakarta: Andi Offset, 1993.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010