Ada yang berbeda di Jalan Teuku Umar No.1 tanggal 17 April 2014, jalan yang dahulu bernama Van Heutsz Boulevard sebagai penghormatan untuk Joanne Benedictus van Heutsz atas kemenangannya di Perang Aceh ini tampak meriah. Bangunan di Teuku Nomor No 1, tampak sedikit berbeda dari biasanya, sungguh meriah, dengan lampu yang menyala-nyala dan tampak terang benderang dari kejauhan. Tamu-tamu pun hilir mudik keluar masuk, sementara mobil para tamu pun berderet di sepanjang Jalan Teuku Umar. Keceriaan tampak di wajah para tamu yang memasuki bangunan di Jalan Teuku
Umar
Nomor
1,
saya
pun
demikian.
Sebagai
salah
seorang undangan, saya pun tersenyum lebar ketika memasuki halaman bangunan. Bangunan ini sedang merayakan pesta ulang tahun satu abadnya. Tepat pada 17 April 1914, bangunan yang dulu menjadi wadah bagi Nederlandsch-Indische Kunstkring organisasi seni budaya di Batavia ini diresmikan oleh Gubernur Jenderal Batavia era itu, Alexander Willem Frederik Idenburg. Sekarang satu abad berselang, bangunan ini tetap terjaga indah dan megah. Namanya menjadi Tugu Kunstkring Paleis dan peruntukannya menjadi sebuah restoran sekaligus galeri seni. Galeri ini merayakan usia satu abad
dengan begitu berkelas. Ketika saya masuk, halaman depan Tugu Kunstkring Paleis ditata cantik dengan pendar obor yang ditata membentuk angka 100, sesuai umur bangunan ini. Ada panggung di halaman yang diisi orkestrasi arahan Aida Swenson yang membawakan notasi-notasi lagu-lagu perjuangan. Lagu-lagu seperti Maju Tak Gentar, Berkibarlah Benderaku mengalun mengiringi langkah para tamu sebelum masuk ke dalam. Iringan lagu ini seolah memberi pesan agar semangat kebangsaan tetap terjaga pun memberi aroma nostalgia yang kental. Sementara itu di pintu masuk saya disambut dengan gadis cantik berkebaya, sembari berucap “Selamat malam”. Saya merasa malam perayaan satu abad ini akan berlangsung sangat semarak.
Saya masuk ke ruang utama, ruang yang biasanya temaram dan menjadi tempat
utama
untuk
bersantap,
malam
itu
diubah
seolah
ruang
penyambutan. Para tamu yang datang berkumpul, bercengkerama satu sama lain dan menikmati tapas yang disajikan khusus untuk para tamu. Dari tamu-tamu yang datang beberapa bisa saya kenali, ada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie Elka Pangestu, beberapa pesohor tanah air dan juga beberapa duta besar negara sahabat. Mendadak ruangan menjadi temaram dilanjut dengan pengumuman bahwa pintu akan segera ditutup, kiranya acara akan segera dimulai. Benar saja, tiba-tiba suara terompet terdengar dari arah pintu masuk, tamu-tamu keheranandan mungkin kebingungan, ada apa ini. Versi kejutan acara ini berlanjut dengan masuknya pembawa obor dan rombongan berkostum prajurit Kerajaan Majapahit. Momen menjadi hening sejenak, rombongan prajurit berhenti di tengah panggung dan dilanjutkan peresmian pembukaan pameran lukisan “The Dark Treasures” oleh Marie Elka Pangestu dan membuka selubung dari lukisan pertama yang akan dipamerkan, Momen kemudian beralih ketika hentakan tatalu bergema di ruangan, rupanya
ada
pengunjung. Dari
pertunjukan sela-sela
Sisingaan riuhnya
yang
menyeruak
Sisingaan saya
keramaian
melihat
Anhar
Setjadibrata, pemilik dari Tugu Hotel Group menyunggingkan senyum lebar. Dalam balutan jas yang rapi jali Anhar menyapa para tamu dan disapa para tamu. Anhar memang bintang malam itu, sosok dibalik hidupnya kembali Tugu Kunstkring Paleis ini menghidupkan satu abad perayaan berdirinya bangunan ini seperti sorak sorai semaraknya pesta pesta di Batavia seabad lalu. Rupanya Sisingaan bukanlah sajian utama. Ini adalah penghantar dari pesta yang
sesungguhnya.
Para
tamu
yang
bertepuk
tangan
turut
mengikuti Sisingaan yang naik ke lantai dua dengan membawa lukisan pertama tadi, di aula besar acara utama pesta seabad Tugu Kunstkring Paleis yang sesungguhnya sudah menunggu. Para tamu pun berduyunduyun ke lantai dua, aula besar dengan dinding-dinding dilapisi kain hitam sengaja dibuat temaram. Segera lantai dua pun riuh dengan para tamu yang datang. Pembawa acara segera memulai acara, di aula besar inilah lukisan-lukisan koleksi Anhar akan dibuka untuk pengunjung. Bukan acara main-main karena puluhan lukisan yang dikoleksi Anhar ini belum pernah dibuka dan
ditunjukkan ke khalayak sejak 50 tahun yang lalu dan di acara ini pun lukisan tersebut hanya akan dibuka selama 2 jam saja. Bagi saya ini adalah kesempatan sangat langka yang tidak akan terulang 2 kali. Satu per satu tirai penutup lukisan dibuka, tampak lukisan bersejarah dari era-era lalu menampakkan diri. Lukisan-lukisan ini datang dari abad ke 14, di dataran cina saat era Dinasti Ming, sebagian lain di era Dinasti Qing atau lebih dikenal dengan Dinasti Manchu. Walau kanvasnya sudah menguning, jelas karena termakan usia tapi lukisan-lukisan kuno ini sangat terasa bernyawa, bercerita dan begitu megah. Warna-warnanya walau pudar tapi masih tercetak jelas, gurat garis lukisannya masih sangat tegas.
Saya bersalaman dengan Anhar dan kemudian mendengarkan ceritanya tentang lukisan-lukisan ini, Anhar bercerita dengan antusias di hadapan beberapa tamu yang mengerubunginya. “Lukisan-lukisan ini saya selamatkan dari sitaan, jaman 1961 banyak rumahrumah Tionghoa disita negara termasuk isinya, ratusan rumah disita. Beberapa isinya, termasuk lukisan-lukisan bisa diselamatkan, ini baru beberapa yang dibuka, masih ada berberapa lainnya yang belum dibuka.” Begitulah tutur Anhar tentang lukisan-lukisan ini. Saya membatin, jaman 1961 adalah jamannya nasionalisasi, banyak aset pengusaha asing, termasuk pengusaha-pengusaha Tionghoa kemudian disita dan jadi milik negara. Beberapa dari lukisan yang dipajang dulunya adalah kepunyaan Oei Tiong Ham, yang di masa lalu adalah Raja Gula Asia, orang terkaya di Asia
Tenggara di awal abad ke-20. Saya lantas mencoba mengingat-ingat lagi, 1961 jika tidak salah memang beberapa usaha gurita bisnis Oei Tiong Ham Concern disita negara atas tuduhan pelanggaran devisa, kelak tahun 1964 lewat pengadilan ekonomi, seluruh aset Oei Tiong Ham Concern akhirnya dibekukan pemerintah lantas dinasionalisasikan menjadi sebuah BUMN dengan nama PT Rajawali Nusantara Indonesia. Ada kisah getir
di
balik lukisan-lukisan itu.
Dengan penuh
saya
menghantarkan salut untuk Anhar yang telah menyelamatkan lukisan-lukisan bersejarah ini, jika tidak diselamatkan, entah bagaimana nasib mahakarya ini, mungkin lukisan sudah lenyap atau hilang entah kemana. Kisah pedih lukisan-lukisan ini kemudian menjadi tema acara malam itu “The Dark Treasures”, seolah bercerita sisi gelap dari harta karun yang berujud lukisan – lukisan itu. Anhar sebagai seorang pecinta seni memang seorang yang idealis. Dan itu diwujudkan malam ini, koleksi-koleksi lukisan yang ditampilkan tak hanya bukti kecintaan Anhar pada dunia seni jauh lebih dari itu, apa yang ditampilkan Anhar adalah usaha anak manusia untuk menyelamatkan sejarah, menyelamatkan kisah di balik lukisan-lukisan ini. Puluhan lukisan ini ditempatkan lagi sesuai martabatnya, ditinggikan dan dipamerkan di tempat yang sangat-sangat layak. Malam 17 April 2014 sungguh momen yang indah untuk mengenang satu abad bangunan ini. Anhar adalah sosok yang menjadi bintang malam perayaan satu abad bangunan Kunstkring. Lewat sentuhannya, momen satu abad bangunan ini mengembalikan Tugu Kunstkring Paleis seperti awal mula bangunan ini dibuat, menjadi tempat untuk karya-karya seni dan mahakarya di Indonesia. Dedikasi Anhar dan keluarga untuk memelihara seni dan sejarah di setiap lini hotel dan restorannya tiada tanding, dan khalayak patut berterima kasih untuk itu. Malam itu adalah bukti bagaimana dedikasi Anhar memelihara sejarah, memperpanjang usia kisah peradaban. Saya mengakhiri kunjungan di acara malam itu dengan bahagia. Sebahagia Anhar di hadapan para tamu-tamunya. Segelas wine merah yang lezat menjadi minuman pamungkas bagi saya di Tugu Kunstkring Paleis. Malam telah menuju larut dan tamu semakin lama berangsur pulang, saya pulang dengan sejuta cerita, dan di pintu saat keluar, kembali saya diantarkan keluar oleh gadis berkebaya dengan senyum menawan. Dan benar seperti dugaan
saya
saat
masuk, malam
perayaan
satu
abad
Kunstkring
benar-
benar berlangsung dengan sangat semarak. Tabik. PS : 1. Terima kasih banyak untuk Ibu Rosiany Chandra untuk undangannya, sebuah kehormatan yang luar biasa. 2. Pada lukisan di abad ke-14 di atas, terdapat motif batik Mega Mendung pada baju si pembesar. Ini menandakan bahwa motif Mega Mendung memang berasal dari dataran Cina, kemudian berasimilasi dengan budaya Indonesia. Jadilah batik motif Mega Mendung yang menjadi salah satu motif batik ternama di Indonesia. (lihat dengan seksama di foto keempat) 3. Sedikit catatan, eksodus pengusaha luar karena nasionalisasi ini semakin meningkat selepas 1961 sampai tahun 1964. Untuk mencegah sumbersumber
devisa
tidak
lari
ke
luar
negeri,
pemerintahan
Soekarno
mengeluarkan Undang-undang Nomor tahun 1964 tentang Peraturan Lalu Lintas Devisa. Hal ini memperkuat sistem Devisa Terkontrol yang membuat negara mengontrol arus devisa dengan ketat.
http://efenerr.com/2014/04/26/satu-abad-tugu-kunstkring-paleis/