I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Pertumbuhan penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun
ke tahun. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia cukup tinggi, berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 (SP 2010) yang dilaksanakan pada Mei 2010 penduduk Indonesia berjumlah 237,64 juta orang. Dibandingkan hasil SP 2000 terjadi pertambahan jumlah penduduk sebanyak 32,5 juta orang atau meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 1,49 persen pertahun1. Seiring dengan kondisi tersebut, permintaan masyarakat terhadap kebutuhan sumber gizi protein hewani seperti daging dan susu yang merupakan komoditi hasil peternakan jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian (2008) menyebutkan bahwa populasi sapi perah nasional hanya dapat menghasilkan 0,64 juta ton susu. Produksi tersebut masih jauh dari kebutuhan konsumsi susu nasional sebesar 1,98 juta ton (dengan tingkat konsumsi 7 liter/kapita/tahun). Pembangunan subsektor peternakan khususnya pengembangan usahaternak sapi perah merupakan salah satu alternatif upaya peningkatan penyediaan sumber kebutuhan protein hewani. Berdasarkan hasil pendataan sapi potong, Sapi Perah dan Kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada tanggal 1-30 Juni 2011, populasi sapi potong mecapai 14,8 juta ekor, sapi perah 0,597 juta ekor dan kerbau 1,3 juta ekor. Hasil perhitungan akhir Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) PSPK 2011 menyatakan rata-rata pertumbuhan
1
http://dds.bps.go.id/download_file/IP_Maret_2011.pdf Diakses Pada Tanggal 15 Oktober 2011
1
populasi sapi (sapi potong dan sapi perah) selama 2003–2011 mencapai 5,33 persen per tahun atau rata-rata pertambahan sebesar 0,66 juta ekor setiap tahunnya. Secara regional atau pulau populasi sapi potong terbesar terdapat di Pulau Jawa, tercatat 7,5 juta ekor atau 50,68 persen dari populasi sapi potong nasional dan populasi sapi perah tercatat 0,592 juta ekor atau 99,21 persen dari populasi sapi perah nasional 2 . Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2010), pembangunan dan penyebaran subsektor peternakan dilihat dari jumlah populasi sapi di Indonesia khususnya provinsi Jawa Barat penyebaranya tidak merata. Populasi sapi perah terbesar di Jawa Barat adalah Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut kemudian Kabupaten Sumedang (Tabel 1). Tabel 1. Populasi Peternakan Sapi Di Jawa Barat Tahun 2010 No. Kabupaten/ Kota Sapi Potong 1 Bogor 18.068 2 Sukabumi 16.599 3 Cianjur 29.263 4 Bandung 16.658 5 Garut 12.926 6 Tasikmalaya 33.548 7 Ciamis 37.129 8 Kuningan 19.624 9 Cirebon 3.094 10 Majalengka 10.365 11 Sumedang 29.701 12 Subang 21.172 Jawa Barat 327.750
Sapi Perah 7.288 5.052 3.652 29.702 17.302 2.422 721 6.604 122 851 9.295 1.305 120.475
Sumber : Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (2010)
Kegiatan usahaternak sapi tidak hanya menghasilkan output berupa daging dan susu, tetapi juga menimbulkan eksternalitas negatif dari limbah peternakan yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan seperti kotoran (feces), urin, sisa pakan,
2
Kementrian Pertanian-BPS|Rilis Hasil Akhir PSPK2011 http://rilis.akhirPSPK2011.wartawan.pdf. Diakses Pada Tanggal 11 Desember 2011
2
serta air dari pembersihan ternak dan kandang yang menimbulkan pencemaran antara lain: pencemaran air, pencemaran udara, dan pencemaran suara yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat sekitar lokasi peternakan (Muryanto dkk, 2006). Usaha peternakan mempunyai prospek untuk dikembangkan karena tingginya permintaan akan produk peternakan. Usaha peternakan juga memberi keuntungan yang cukup tinggi dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat di perdesaaan di Indonesia. Permasalahan semakin tingginya harga pupuk dan bahan bakar minyak untuk kebutuhan rumah tangga menyebabkan peningkatan pengeluaran masyarakat, terutama yang tinggal di perdesaan, untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan sumber-sumber alternatif sehingga produksi pertanian dapat dipertahankan dan kebutuhan bahan
bakar dapat
dipenuhi tanpa merusak lingkungan. Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi permasalahan meningkatnya harga pupuk dan kelangkaan bahan bakar minyak. Saat ini pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk dan sumber energi alternatif (biogas) belum dilakukan oleh peternak secara optimal. Oleh karena itu, seiring dengan kebijakan otonomi, maka pengembangan usaha peternakan yang dapat meminimalkan limbah peternakan perlu dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk menjaga kenyamanan permukiman masyarakatnya. Salah satu upaya ke arah itu adalah dengan memanfaatkan limbah peternakan menjadi pupuk, biogas, dan pembangkit energi listrik sehingga dapat memberi nilai tambah bagi usaha tersebut.
3
Pemanfaatan limbah ternak menjadi hasil sampingan yang bernilai ekonomi belum seluruhnya dilakukan usahaternak sapi di kawasan Kecamatan Pamulihan, Sumedang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari pemanfaatan limbah usahaternak sapi perah yang telah melakukan pengolahan kotoran ternak menjadi hasil sampingan yang bernilai ekonomi (pupuk kompos, biogas, dan sumber energi listrik/usahaternak biogas) dengan usahaternak yang belum melakukan pengolahan limbah (usahaternak non biogas). Perbedaan pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak akan menimbulkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan sekitar yang berbeda di antara kedua usahaternak tersebut. 1.2
Perumusan Masalah Limbah dari usaha peternakan sapi perah dalam jumlah banyak memiliki
potensial sebagai sumberdaya dan juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan (polusi tanah, air, dan udara) yang dapat merugikan masyarakat sekitar. Hal ini terjadi jika limbah tersebut tanpa penanganan dan pengelolaan yang baik, atau limbah langsung dialirkan begitu saja ke sungai atau ditimbun di tempat terbuka. Populasi Sapi di Kabupaten Sumedang (26 kecamatan) mencapai 33.328 ekor, maka setiap hari tersedia 833,35 ton (rata-rata 25 kg kotoran/ekor/hari). Kecamatan Pamulihan merupakan kawasan yang memiliki populasi sebanyak 2.291 ekor sapi potong dan 3.364 sapi perah. Populasi peternakan sapi di kawasan ini paling tinggi diantara 25 kecamatan lainnya di Kabupaten Sumedang. Kecamatan Pamulihan yang terdiri dari 11 desa dengan jumlah kepemilikan
4
ternak bervariasi dimulai dari 2 sapi hingga 12 ekor sapi per peternak 3. Selain potensi yang besar, pemanfaatan energi biogas dengan digester biogas memiliki banyak keuntungan, yaitu mengurangi efek gas rumah kaca, mengurangi bau yang tidak sedap, mencegah penyebaran penyakit, menghasilkan panas dan daya (mekanis/listrik) serta hasil samping berupa pupuk padat dan cair. Pemanfaatan limbah dengan cara seperti ini secara ekonomi akan sangat kompetitif seiring naiknya harga bahan bakar minyak dan pupuk anorganik serta tercapainya prinsip zero waste
yang merupakan praktek pertanian yang ramah lingkungan dan
berkelanjutan. Berdasarkan observasi langsung, di kawasan Kecamatan Pamulihan, Sumedang terdapat Desa Mandiri Energi (DME) yakni Desa Haurngombong, pengelolaan limbah ternak sapi perah di desa tersebut telah meningkatkan kesejahteraan peternak dari pendapatan dan pengeluaran untuk energi bagi peternak, penghematan pengeluaran energi dan kondisi lingkungan sekitar peternakan yang lebih baik. Pemanfaatan limbah tersebut belum seluruhnya dilakukan oleh peternak di desa tersebut. Kondisi sosial dan lingkungan di sekitar usahaternak biogas terlihat berbeda dengan kondisi di sekitar usahaternak non biogas, sehingga dapat dikaji penyebab hal tersebut dapat terjadi. Oleh karena itu, penelitian mengenai analisis dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari pemanfaatan limbah kotoran ternak ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan pengambilan keputusan peternak dalam pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi sesuatu yang bernilai guna secara langsung maupun
3
http://info-sumedang.blogspot.com/2010_06_01_archive.html diakses pada tanggal 25 Desember 2011.
5
tidak langsung serta sebagai pertimbangan kebijakan pemerintah pusat maupun desa serta para stakeholder yang berkaitan dengan pengelolaan limbah peternakan perumusan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1.
Bagaimana persepsi responden mengenai pemanfaataan limbah kotoran ternak di Desa Haurngombong?
2.
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan peternak dalam pemanfaatan biogas di Desa Haurngombong?
3.
Bagaimanakah dampak pemanfaatan
limbah kotoran ternak terhadap
tingkat pendapatan peternak dan pengeluaran energi responden di Desa Haurngombong? 4.
Bagaimanakah kondisi sosial dan lingkungan responden di sekitar lokasi usahaternak di Desa Haurngombong?
1.3
Tujuan Penelitian Berdasarkan uraian latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan
dari penelitian ini adalah: 1.
Mengidentifikasi persepsi responden mengenai pemanfaataan limbah kotoran ternak di Desa Haurngombong.
2.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan peternak dalam pemanfaatan limbah kotoran ternak menjadi biogas di Desa Haurngombong.
3.
Membandingkan dampak pemanfaatan limbah kotoran ternak terhadap pendapatan usahaternak biogas dan usahaternak non biogas serta membandingkan dampak pemanfaatan tersebut terhadap pengeluaran energi responden di Desa Haurngombong. 6
4.
Membandingkan kondisi sosial dan lingkungan responden di sekitar lokasi usahaternak biogas dan usahaternak non biogas di Desa Haurngombong..
1.4
Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, diantaranya:
1.
Secara akademik kegiatan penelitian ini untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program Strata Satu (S1) pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
2.
Bagi Pemerintah Kota Sumedang, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi penyusunan kebijakan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan limbah peternakan.
3.
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi bagi pihakpihak yang terkait dalam pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya dan lingkungan khususnya dalam pengelolaan limbah kotoran ternak pada sektor peternakan.
1.5
Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Wilayah penelitian hanya meliputi kawasan Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan, Sumedang-Jawa Barat.
2.
Objek penelitian adalah Lembaga peternakan yang terkait, pemerintah daerah setempat dan peternak dan masyarakat yang tinggal di kawasan wilayah penelitian sebagai responden.
7
3.
Present value biaya dan manfaat pengelolaan limbah kotoran sapi dihitung berdasarkan nilai yang diperoleh dari kuesioner dan data sekunder yang tersedia.
4.
Biaya pembangunan Instalasi biogas rumah tangga merupakan dana bantuan (hibah) dari pemerintah.
5.
Dampak ekonomi dalam penelitian ini adalah perubahan ekonomi yang dirasakan baik oleh peternak maupun non peternak sebagai dampak dari adaya pemanfaatan limbah ternak sapi perah. Dampak ekonomi tersebut hanya dilihat terhadap perbedaan pendapatan peternak biogas dan non biogas serta dampaknya terhadap pengeluaran energi responden.
6.
Dampak sosial dalam penelitian ini adalah hanya melihat perubahan perilaku masyarakat terhadap rutinitas dari kegiatan sebelum dan setelah adanya program pemanfaatan biogas bagi peternak dan pengguna biogas, serta perubahan perilaku masyarakat terhadap penggunaan bahan bakar energi lainnya seperti: gas elpiji, minyak tanah, dan kayu bakar. Selain itu dampak sosial juga mecakup perubahan kesempatan kerja yag terjadi setelah adanya program pemanfaatan biogas.
7.
Dampak terhadap kondisi lingkungan dalam penelitian ini adalah perubahan terhadap kondisi lingkungan yang dirasakan masyarakat Desa Haurngombong akibat pembuangan limbah ternak sebelum dan setelah dimanfaatkan sebagai pupuk dan biogas.
8
1.6
Definisi Operasional Definisi opersional dalam penelitian ini mencakup pengertian dari
beberapa istilah yang digunakan, antara lain: 1.
Usahaternak biogas merupakan usahaternak yang telah melakukan pemanfaatan limbah kotoran ternak sapi perah menjadi pupuk, biogas, dan energi listrik.
2.
Usahaternak non biogas merupakan usahaternak yang belum melakukan pemanfaatan limbah kotoran ternak sapi perah menjadi biogas dan energi listrik, namun pemanfaatan limbah menjadi pupuk telah dilakukan oleh usahaternak non biogas.
3.
Rumah tangga pengguna biogas merupakan rumah tangga yang tinggal di sekitar lokasi usahaternak yang memperoleh biogas dari usahaternak biogas untuk memenuhi kebutuhan energi bahan bakar untuk memasak.
4.
Responden yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan pihak-pihak yang memberikan informasi untuk menjawab tujuan penelitian ini yang terdiri dari peternak biogas, peternak non biogas dan rumah tangga pengguna biogas Di Desa Haurngombong.
9