BAB III PELAKSANAAN ZAKAT FITRAH DI DESA MOJKERTO KEC. KRAGAN KAB. REMBANG
A. Keadaan Umum Desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang 1. Letak Geografis Desa Mojokerto adalah salah satu wilayah yang termasuk kecamatan Kragan kabupaten Rembang. Jarak desa dengan pusat pemerintahan kecamatan 9 Km, jarak dari pemerintah kabupaten 49 Km, dan jarak dari pemerintahan propinsi 164 Km. Secara administrasi/geografis batas desa Mojokerto adalah sebagai berikut: -
Sebelah timur berbatasan dengan desa Gunung Mulyo kec. Sarang
-
Sebelah barat berbatasan dengan desa Menoro kec. Sedan
-
Sebelah utara berbatasan dengan desa Kendal Agung
-
Sebelah selatan berbatasan dengan kec. Lodan Adapun luas wilayah desa Mojokrerto adalah 298,050 ha yang terdiri dari
dua dusun yaitu Mojokerto sendiri dan Gemanting yang tergabung menjadi satu kelurahan yaitu Mojokerto. Seperti yang telah dijelaskan, desa Mojokerto memiliki luas daerah 298,050 ha dengan jumlah penduduk 1717 jiwa yang terdiri dari 415 kk (857 laki-
33
34
laki dan 860 perempuan). Adapun jumlah penduduk desa Mojokerto menurut usia dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel I Jumlah Penduduk desa Mojokerto Menurut Kelompok Umur Tahun 20051
No. Umur 1.
0-6 tahun
213 Orang
2.
7-12 tahun
295 Orang
3.
13-18 tahun
299 Orang
4.
19-24 tahun
296 Orang
5.
25-55 tahun
313 Orang
6.
56-79 tahun
221 Orang
7.
80 tahun keatas Jumlah
2.
Jumlah
81 Orang 1717 Orang
Keadaan Sosial Ekonomi, Agama dan Pendidikan a. Keadaan Sosial Ekonomi Keadaan ekonomi masyarakat desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang sebagian besar dipengaruhi oleh hasil pertanian, karena sebagian besar masyarakat desa Mojokerto bermatapencaharian sebagai petani. Selain hal tersebut sebagian masyarakat desa Mojokerto juga ada yang mencari
1
Sistim Informasi Potensi Desa (SIPOTENDES), desa Mojokerto, kec. Kragan, kab. Rembang, tahun 2005
35
nafkah untuk kebutuhan hidupnya dari sumber lain seperti berdagang, pegawai negeri, ABRI dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya guna mengetahui keadaan ekonomi desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang, maka dapat dilihat dalam tabel tentang keadaan masyarakat menurut mata pencaharian berikut: Tabel II Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian2 No. 1.
Jenis Mata Pencaharian
Jumlah
Petani
840 Orang
- Petani pemilik tanah
740 Orang
- Petani penggarap tanah
50 Orang
- Petani penggarap/pentekap
50 Orang
2.
Nelayan
27 Orang
3.
Pengusaha besar/sedang
4 Orang
4.
Pengrajin/industri kecil
3 Orang
5.
Buruh tani
6.
Buruh industri
7.
Buruh bangunan
38 Orang
8.
Perdagangan
11 Orang
9.
Pegawai Negeri Sipil
4 Orang
10.
TNI/POLRI
4 Orang
11.
Lain-lain
3 Orang
53 Orang
Jumlah
2
Ibid.
2 Orang
989 Orang
36
b. Keadaan Keagamaan Masyarakat desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang dalam segi keagamaan berjalan cukup baik. Keseluruhan penduduknya beragama Islam dan taat pada ajaran agama serta mengedepankan rasa kerukunan dan kebersamaan. Sebagai masyarakat yang beragama Islam, masyarakat Mojokerto selalu melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan yang diwujudkan dalam bentuk Ibadah, pengajian, peringatan-peringatan hari besar Islam, silaturahmi dan sebagainya baik yang diselenggarakan di masjid, mushalla dan rumah penduduk, diantaranya: Barzanji Kegiatan ini dilakukan oleh para remaja dan anak-anak dengan bentuk pembacaan al-Barzanji. Kegiatan ini biasa dilakukan seminggu sekali yang bertempat di masjid dan musholla. Yasinan dan Tahlil Kegiatan ini dilakukan oleh para bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja. Dilaksanakan setiap seminggu sekali bertempat di rumah penduduk secara bergantian pula.
37
Manaqib Kegiatan ini berbeda dengan kegiatan yang lain. kegiatan manaqib ini biasanya dilakukan di rumah penduduk yang mempunyai hajat tertentu.3 Untuk melaksanakan kegiatan ibadah/kegiatan keagamaan yang lain, di desa Mojokerto telah dibangun beberapa sarana/tempat ibadah. Sebagaimana telah disampaikan bahwa masyarakat desa Mojokerto secara keseluruhan beragama Islam, maka hanya terdapat tempat ibadah orang Islam saja yaitu terdapat 2 masjid dan 26 mushalla. c. Keadaan Pendidikan Masyarakat desa Mojokerto adalah masyarakat pedesaan yang agamis, sehingga ada beberapa penduduk yang berpendidikan dari pesantren dan pendidikan umum yang masih kurang. Dalam hal ini dapat dilihat dengan banyaknya masyarakat yang hanya berpendidikan SD/sederajat dan hanya beberapa saja yang berpendidikan sampai tingkat perguruan tinggi. Untuk lebih jelasnya sebagaimana tabel berikut: Tabel III Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan4 No.
3 4
Tingkat Pendidikan
Jumlah
1.
Belum sekolah
267 Orang
2.
Belum tamat SD/sederajat
242 Orang
3.
Tidak tamat SD/sederajat
106 Orang
Hasil Observasi, tanggal 02 Desenber 2005 di Rumah Bpk. H. Shodiq Op.Cit.
38
4.
Tamat SD/sederajat
758 Orang
5.
Tamat SLTP/sederajat
172Orang
6.
Tamat SLTA/sederajat
67 Orang
7.
Tamat Akademi/sederajat
2 Orang
8.
Tamat perguruan tinggi
3 Orang
Jumlah
1717 Orang
Tabel tersebut hanya menggambarkan pendidikan formal, sedangkan seperti yang dijelaskan bahwasanya lebih dari 30% (115 Orang) dari masyarakat desa Mojokerto adalah lulusan dari pondok pesantren namun hanya 5% (sekitar 20 Orang) yang lulus dari pendidikan Aliyah pesantren.5
B. Pelaksanaan Zakat Fitrah di Desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang 1. Pelaksanaan Zakat (Zakat Mal) Zakat merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. Seperti halnya yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masyarakat desa Mojokerto secara keseluruhan beragama Islam yang selalu taat terhadap ajaran-ajaran agama Islam. Dalam permasalahan ibadah termasuk zakat mal, masyarakat desa Mojokerto selalu melaksanakannya. Dalam pelaksanaannya zakat (zakat mal) di desa Mojokerto biasa dilakukan oleh para muzakki yang dalam hal ini yang biasa dilakukan oleh
5
Wawancara dengan Bpk. Kepala Desa Mojokerto, tanggal 1 November 2005
39
para kaum petani pemilik tanah dan pedagang di desa Mojokerto setiap setahun sekali. Pelaksanaan zakat (zakat mal) di desa Mojokerto dilakukakan dengan cara diberikan secara langsung oleh yang mengeluarkan zakat (muzakki) kepada mustahik, karena belum ada panitia yang mengurusi masalah zakat (zakat mal). Para muzakki zakat mal di desa Mojokerto memberikan zakat kepada tetangganya yang kurang mampu (tidak mempunyai lahan pertanian perdagangan yang cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari). Bagian yang diberikan adalah sekiranya tetangga terdekat yang kuranga mampu telah mendapatkan, maka selesailah kewajiban mereka membayar zakat mal tanpa menghitung berapa yang harus dikeluarkan. Dalam hal ini penulis telah mewawancarai seseorang yang biasa melaksanakan zakat mal. Seperti yang dikatakan oleh Supingi bahwa setiap tahun setelah panen dia selalu mengluarkan zakat mal. Dia juga menambahkan bahwa zakat tersebut diberikan sendiri oleh yang berzakat kepada tetangganya yang kurang mampu, karena tidak ada panitia yang menangani masalah zakat mal.6 Hal yang sama juga dikatakan oleh Solikin, bahwa dia selalu memberi sebagian dari hasil panennya kepada tetangga-tetangganya yang kurang mampu. Dia juga mengatakan bahwa yang diberikan kepada orang yang 6
Wawancara dengan Bpk. Supingi, tanggal 4 November 2005
40
kurang mampu tidak pernah dihitung berapa banyaknya, namun jika dikirakira itu lebih dari yang diwajibkan oleh agama yaitu 2,5% dari harta yang dimiliki.7 Dengan demikian dapat diketahui bahwa pelaksanaan zakat mal di desa Mojokerto diberikan secara langsung oleh yang mengeluarkan zakat, karena tidak adanya panitia yang menanganinya. Disamping itu masyarakat Mojokerto lebih mengutamakan rasa kekeluargaan, sehingga zakatnya diberikan kepada para fakir miskin yang dekat. Dan pada dasarnya telah jelas bahwa muzakki zakat mal adalah orang yang ekonominya kurang mampu (fakir miskin).
2. Pelaksanaan Zakat Fitrah a. Muzakki Masyarakat desa Mojokerto adalah termasuk masyarakat yang taat dengan perintah agama. Dengan demikian masyarakat Mojokerto selalu taat menjalankan perintah agama baik dalam hal beribadah ataupun kegiatan-kegiatan yang bernuansa islami termasuk kewajiban membayar zakat fitrah. Kesadaran masyarakat desa Mojokerto mengenai kewajiban mengeluarkan zakat fitrah relatif tinggi, sebab telah menjadi adat kebiasaan setiap akhir bulan ramadhan menjelang hari raya idul fitri di 7
Wawancara dengan Bpk. Solikin, tanggal 2 November 2005
41
desa Mojokerto identik dengan membayar zakat fitrah. Sehingga tanpa disadari mereka menyambut datangnya hari raya idul fitri dengan membayar zakat fitrah. Dalam permasalahan ini penulis mewawancarai beberapa kepala keluarga yang di antaranya adalah Winarto, yang mengatakan bahwa dia dan keluarganya selalu mengeluarkan zakat fitrah setiap malam hari raya idul fitri. Dia menambahkan bahwa sebagian zakatnya diberikan secara langsung kepada yang berhak (fakir miskin) dan sebagian diberikan kepada guru ngaji atau imam mushalla.8 Lain halnya dengan Sunari, dia selalu mengeluarkan zakat fitrah melalui panitia karena dengan melalui panitia, maka zakat akan sampai kepada yang berhak dengan merata tanpa ada yang terlewati. Dia menambahkan bahwa panitia adalah orang yang lebih tahu masalah zakat dan apabila ada kesalahan itu adalah tanggung jawab panitia.9 Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa orang-orang yang membayar zakat fitrah (muzakki) di desa Mojokerto adalah seluruh penduduk atau masyarakat baik laki-laki maupun perempuan, besar maupun kecil yang mempunyai kelebihan bahan makanan pada malam hari raya idul fitri. Pada umumnya masyarakat desa Mojokerto kurang begitu mengerti mengenai permasalahan orang yang wajib membayar
8 9
wawancara dengan Bpk. Winarto, tanggal 5 November 2005 Wawancara dengan Bpk. Sunari, tanggal 7 November 2005
42
zakat fitrah. Namun mereka tahu bahwa zakat fitrah adalah kewajiban tiap-tiap orang Islam.10 Data para wajib zakat yang ada pada panitia ada 1678 orang (390 KK). Data tersebut adalah termasuk fakir miskin yang mendapat bagian zakat, karena mereka termasuk orang orang yang mempunyai kelebihan bahan makanan, namun taraf ekonominya masih rendah (miskin).11 b. Mustahik Di desa Mojokerto berbeda dengan desa lain dalam hal orang yang menerima zakat fitrah. Di dalam ketentuan al-Qur’an di jelaskan ada delapan asnaf yang berhak menerima zakat fitrah. Namun di desa Mojokerto pada dasarnya hanya terdapat tiga asnaf yaitu para fakir miskin, para guru ngaji atau imam mushalla dan panitia zakat. Di desa Mojokerto antara fakir dengan miskin tidak ada perbedaan yang mendasar, pada intinya keduanya sama-sama orang yang kurang mampu atau tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Seperti halnya yang disampaikan oleh Sarini, dia mengatakan bahwa memang dia adalah orang yang pantas untuk diberi zakat karena di desa ini termasuk orang yang miskin (kekurangan). Dia menambahkan bahwa dia setiap tahun selalu mendapat bagian zakat, bahkan mendapat
10
Hasil Survai di desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang, tanggal 2 November 2005 (malam idul fitri) 11 Data panitia zakat fitrah desa Mojokerto th. 2005
43
lebih banyak yaitu dari panitia dan dari orang yang memberi zakat kepada dia secara langsung.12 Data para fakir miskin ada 72 KK, yang terbagi menjadi 35 KK golongan fakir yaitu para janda-janda tua dan orang yang berusia 80 tahun keatas yang sudah tidak mampu bekerja, dan 37 KK golongan orang miskin yang kebanyakan adalah orang yang bekerja sebagai penggarap sawah dan kuli.13 Yang kedua adalah para guru ngaji atau imam mushalla, keduanya di anggap asnaf karena keduanya sama-sama menerima zakat fitrah yang di berikan oleh para yang membayar zakat (muzakki). Keduanya Menurut pendapat salah seorang kiai di desa Mojokerto (guru ngaji dan imam mushalla yang menerima zakat fitrah) adalah termasuk sabilillah.14 Jumlah guru ngaji dan imam mushalla di desa Mojokerto yang menerima zakat fitrah ada 7 guru ngaji dan 11 imam mushalla. Jadi ada 18 guru ngaji dan imam mushalla yang mendapat bagian zakat fitrah. Guru ngaji menerima zakat fitrah sesuai dengan banyaknya murid yang ada, jadi yang memiliki murid banyak maka dia juga menerima zakat fitrah banyak begitu juga sebaliknya yang rata-rata muridnya antara 5-15 anak.
12
wawancara dengan Ibu. Sarini, tanggal 10 November 2005 Data mustahik zakat fitrah panitia zakat desa Mojokerto th. 2005 14 wawancara dengan Bpk. K. Muhaimin, tanggal 11 November 2005 13
44
Sedangkan imam mushalla juga tergantung pada jama’ahnya yaitu ratarata antara 7-20 KK.15 Sebagai panitia zakat, berhak menerima bagian atas hasil pungutan zakat sebagai upah. Di desa Mojokerto sudah menjadi kesepakatan seluruh panitia bahwasannya bagian panitia tidak di ambil, melainkan diberikan kepada yang lebih berhak.16 c. Amil Pelaksanaan zakat fitrah di desa Mojokerto dilaksanakan dengan beberapa cara yang salah satunya adalah melalui panitia zakat (amil). Amil di desa Mojokerto adalah sebuah kelompok yang bertugas mengurus masalah zakat (zakat fitrah). Panitia zakat (amil) di desa Mojokerto dipilih oleh modin setempat atas usulan dari pengurus zakat tingkat kecamatan. Dalam masalah ini modin memilih seorang ketua saja yang dianggap mampu dan tahu dalam penanganan zakat fitrah, seterusnya anggota yang lain dipilih oleh ketua yang dipilih tersebut. Panitia ini terdiri dari beberapa orang di antaranya adalah ketua, sekretaris, bendahara dan pelaksana (anggota).17 Susunan panitia zakat fitrah desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang diambil dari mereka yang telah lulus pondok pesantren dan
15
Hasil survey kepada guru ngaji dan imam mushalla, tanggal 2 November 2005 wawancara dengan Bpk. Munasir, tanggal 9 November 2005 17 wawancara dengan Bpk. Hakim, tanggal 9 November 2005 16
45
minimal berijazah Tsanawiyah, yang tersusun sebagai berikut:18 sebagai Penasehat dan Penanggung Jawab: Bpk. K. Munasir, Ketua: Abdul Hakim, Wakil Ketua: M. Hasyim, Sekretaris: A. Rofik, Bendahara: Kusni, Anggota: Fadoli, Abdurrakhim, Fatkhurrahman, Wahib, Samudi, Samsuri, Asropi. Panitia-panitia tersebut mempunyai beberapa tugas antara lain memberi pengarahan, mengumumkan, menerima (menampung) zakat, mengelola dan membagikan zakat.
3. Pengelolaan Zakat Fitrah Dalam pelaksanaan zakat fitrah ini panitia (amil) tidak memungut zakat kepada muzakki tetapi hanya mengumumkan, menerima dan menampung, serta membagikan hasil zakat dari muzakki yang membayar zakatnya melalui panitia (amil) zakat.19 a. Penerimaan Dalam penerimaan zakat fitrah di desa Mojokerto, panitia terlebih dahulu memberi pengumuman atau pengarahan kepada masyarakat agar dalam pelaksanaan zakat fitrah sedapat mungkin disampaikan melalui panitia minimal tiap kepala keluarga satu bagian.20
18
Data Panitia Zakat desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang, tahun 2000 Wawancara dengan Bpk. Hasyim, tanggal 8 November 2005 20 Ibid 19
46
Pada hari pelaksanaan zakat fitrah, menerima zakat dari para muzakki dengan bertempat di Masjid sebagai pusat peribadatan masyarakat Mojokerto yang letaknya setrategis yaitu berada di tengahtengah desa. b. Pendistribusian Pelaksanaan zakat fitrah di desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang pada dasarnya sama dengan yang dilakukan di tempat-tempat lain, yaitu dengan menyerahkan bahan makanan (beras) sebanyak 2,5 kg. Pengeluaran zakat fitrah ini dilakukan pada malam hari raya Idul Fitri atau pada malam akhir dari bulan puasa ramadhan. Untuk mengetahui lebih jauh tentang pelaksanaan zakat fitrah di desa mojokerto kec. Kragan kab. Rembang, penulis melakukan berbagai penelitian antara lain dengan metode observasi dan wawancara (intervew). Melalui metode observasi penulis dapat melihat langsung bagaimana proses/pelaksanaan zakat fitrah di desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang. Dan dengan metode wawancara, penulis dapat mengetahui data-data atau alasan-alasan dari pihak-pihak yang bersangkutan. Aturan atau sistem pemberian zakat fitrah di desa Mojokerto ada yang diberikan secara langsung kepada fakir miskin, ada yang diberikan kepada Imam mushalla dan ada yang diberikan melalui panitia zakat. 1. Pembagian langsung.
47
Dalam hal ini para muzakki memberikan langsung kepada mustahik yaitu ada yang diberikan kepada fakir miskin dan ada yang diberikan kepada guru ngaji dan imam mushalla. Sehingga para muzaki berhadapan langsung kepada para mustahik. Cara ini adalah merupakan kebiasaan turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat desa Mojokerto. Seperti halnya yang disampaikan oleh Supingi, dia mengatakan bahwa dia lebih memilih memberikan zakat kepada fakir miskin, karena zakatnya dapat secara langsung sampai pada yang berhak tanpa melalui perantara. Hal ini yang selalu dilakukan oleh masyarakat Mojokerto sejak lama sebelum ada panitia 21 2. Pembagian oleh panitia Selain diberikan secara langsung kepada fakir miskin ada juga yang diberikan langsung kepada guru ngaji atau imam mushalla, yang kadua diberikan melalui panitia zakat yang kemudian nanti dikelola oleh panitia zakat. Cara ini dilakukan sejak 5 tahun terakhir yaitu sejak tahun 2000 M (1421 H). Kaitannya dengan pendistribusian zakat fitrah oleh panitia, maka panitia telah mendata orang-orang yang wajib menerima zakat yaitu ada 72 KK, dengan kategori ekonominya kurang dan tidak mempunyai 21
lapangan
kerja/pekerjaan
yang
Wawancara dengan Bpk. H. Supingi, 4 November 2005
dapat
memenuhi
48
kebutuhan sehari-hari yaitu para petani penggarap dan kuli serta para janda dan duda tua yang sudah tidak mampu bekerja lagi.22 Pendistribusian zakat fitrah di desa mojokerto yang melalui panitia setiap tahun adalah rata-rata 130 kepala dari yang wajib zakat, tahun 2000 sebanyak 150 orang, 2001 sebanyak 142 orang, 2002 sebanyak 148 orang, 2003 sebanyak 126 orang, 2004 sebanyak 103 orang dan 2005 160 orang. Sedangkan
jumlah penduduk desa
Mojokerto adalah 415 KK. Dari panitia mengharapkan minimal setiap KK dapat menyalurkan zakat fitrahnya kepada panitia satu kepala23. Namun jika dibandingkan kenyataan yang ada sangat jelas bahwa tidak ada 50% dari jumlah KK yang ada yang menyalurkan zakat fitrah melalui amil (panitia). c. Pemberdayaan Desa Mojokerto adalah desa yang dapat dikatakan desa kurang mampu (desa tertinggal/IDT), karena masyarakat setempat masih belum mampu untuk bersaing dengan desa lain terutama dalam bidang ekonomi. Selain itu juga kurangnya lapangan kerja dan ketrampilan serta pendidikan yang ketinggalan dengan desa lain. Untuk mengatasi masalah tersebut, terutama dalam bidang ekonomi, tokoh masyarakat setempat memanfaatkan zakat fitrah sebagai
22 23
Data dari Panitia Zakat Desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang. Tahun 2005 Wawancara dengan Bpk. Hakim sebagai Panitia, tanggal 9 November 2005
49
sarana untuk mengentaskan kemiskinan. Itu adalah sarana yang tepat yang dapat dilakukan oleh desa Mojokerto. Dalam hal ini panitia zakat fitrah memanfaatkan dengan menjual hasil zakat fitrah untuk di belikan kambing dan diberikan kepada yang fakir miskin. Ini dilakukan dengan cara membagi sebagian dari hasil zakat fitrah yang rata-rata tiap tahun mendapat sekitar 300 Kg yang kemudian 50% dari pendapatan tersebut diberikan kepada fakir miskin guna memenuhi kebutuhan pada hari raya, dan sebagian lagi dibelikan kambing untuk kemudian diberikan kepada fakir miskin secara bergantian setiap tahun. Hal tersebut dilakukan dengan harapan kambing tersebut dapat berkembang dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta tidak mengharapkan bagian zakat lagi. Cara tersebut dilakukan sejak tahun 2000 hingga sekarang. Sedangkan setiap tahunnya kambing yang dibeli tidak tentu jumlahnya, tegantung dengan harga kambing dan pendapatan dari zakatnya, sehingga pada tahun 2004 tidak dibelikan hingga tahun 2005 baru dibelikan, karena harga kambing yang melonjak mahal dan hasil zakat tidak cukup untuk membeli kambing. Jumlah kambing yang telah diberikan kepada yang berhak hingga sekarang adalah 7 ekor yang kemudian dikembangkan oleh mereka yang menerima. Yang telah menerima kambing ada lima orang yang di berikan satu ekor setiap tahun kecuali tahun 2000 dan 2005 dua ekor karena harga kambing yang
50
murah dan tahun 2005 dapat tambahan dari tahun 2004 yang belum dibelikan.24 Seperti halnya yang di katakan Sarip, dia mengatakan bahwa dia mendapatkan kambing tiga tahun yang lalu (tahun 2000) dan sekarang sudah berkembang menjadi sembilan dan dengan kambing tersebut sekarang dapat membantu dalam mencukupi kebutuhan perekonomian sehari-hari.25
C. Pendapat Ulama' di Desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang Mengenai permasalahan zakat fitrah yang terjadi di desa Mojokerto ada beberapa pendapat yang satu sama lain saling bertolak belakang. Sebagaimana yang dikutip berikut adalah beberapa perbedaan pendapat yang terjadi di desa Mojokerto tentang permasalahan zakat fitrah. Menurut pendapat Bpk. K. Muhaimin bahwa pembagian zakat fitrah harus di bagikan kepada yang berhak sebelum shalat idul fitri. sedangkan yang dikelola oleh panitia zakat desa Mojokerto tidak, melainkan sebagian (50 %) dari harta hasil zakat fitrah tidak diberikan secara langsung kepada fakir miskin, tetapi oleh panitia disimpan dan dibelikan kambing kemudian baru diberikan kepada fakir
24 25
Wawancara dengan Bapak Munasir, tanggal 7 November 2005 Wawancara dengan Bpk. Sarip, tanggal 13 November 2005
51
miskin. Bahkan pernah sampai satu tahun baru di belikan kambing. Hal ini menurut Bpk. K. Muhaimin tidak boleh dan bisa dikatakan Dhalim.26 Beliau menambahkan mengenai permasalahan zakat yang diberikan kepada para guru ngaji/imam musholla itu diperbolehkan. Menurut beliau guru ngaji dan imam musholla adalah bagian dari sabilillah (sabilul khoir) dan dia berhak menerima bagian zakat fitrah sekalipun dia adalah orang yang kaya.27 Menurut pendapat Bpk. K. Nur Huda, bahwasanya untuk lebih baiknya zakat fitrah harus lewat panitia agar dapat terorganisir dengan baik, dan harus sesuai dengan syarat dan rukun yang ada. Pelaksanaan zakat fitrah di desa Mojokerto yang dikelola oleh panitia menurut beliau bahwa beliau masih ragu dengan pelaksanaan zakat fitrah yang di kelola seperti yang tersebut di atas.28 Menurut beliau bahwasanya seorang panitia zakat harus benar-benar tahu tentang hukum zakat. Beliau menganggap bahwa panitia zakat di desa Mojokerto bukanlah orang-orang yang benar-benar tahu tentang hukum zakat. Di samping itu beliau juga tidak sepakat atau masih ragu dengan proses pembagian zakat fitrah yang dilakukan di desa Mojokerto tersebut.29
26 27 28 29
Wawancara dengan Bpk. K. Muhaimin, tanggal 7 November 2005 Ibid. Wawancara dengan Bpk. K. Nur Huda, tanggal 9 November 2005 Ibid.
52
Mengenai permasalahan bagian yang diberikan kepada guru ngaji atau imam musholla, beliau berpendapat bahwa itu diperbolehkan tetapi ketika dia adalah orang yang kaya, maka tidak diperbolehkan.30 Lain dengan pendapat Bpk. K. Munasir, beliau mengatakan bahwa zakat fitrah di desa Mojokerto yang dikelola panitia adalah benar dan tidak bertentangan dengan ketentuan agama serta lebih dapat mengangkat derajat para fakir miskin. Menurut beliau bagi zakat fitrah yang diberikan kepada guru ngaji dan imam musholla itu kurang pas karena zakat fitrah adalah hak bagi fakir miskin.31 Bapak Munasir menambahkan bahwa pembagian zakat yang dikelola panitia itu benar karena sebagian dari hasil zakat fitrah tersebut sudah disampaikan/diberikan kepada fakir miskin yang ada di desa Mojokerto. Jadi hak fakir miskin sudah diberikan. Kemudian yang sebagian lagi di berikan dalam bentuk kambing yang itu dapat berkembang dan dapat mengangkat/mengurangi angka kemiskinan. Dan harapannya di kemudian hari tidak mengharapkan menerima zakat tetapi bisa membayar zakat32 Dari hasil wawancara tersebut dapat dilihat bahwa ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama' desa Mojokerto tentang pelaksanaan zakat fitrah di desa Mojokerto kec. Kragan kab. Rembang yang sampai sekarang belum ada penyelesaiannya dan harus ada penyelesaiannya. 30 31 32
Ibid. Wawancara dengan Bpk. K. Munasir, tanggal 7 November 2005 Ibid.