BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Kajian Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) 2.1.1 Pengertian Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Menurut Ibrahim (2000:28) (dalam Hutasuhut, 2012) model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) adalah suatu pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas. Numbered Heads Together (NHT) atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Teknik Kepala Bernomor Terstruktur, hal ini memudahkan pembagian tugas. Dengan teknik ini, siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Meskipun memiliki banyak persamaan dengan pendekatan yang lain, namun pendekatan ini memberi penekanan
pada
penggunaan
struktur
tertentu
yang
dirancang
untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa. Ibrahim (dalam Nardi, 2011) mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe Numbered Heads Together (NHT) yaitu: a. Hasil belajar akademik stuktural Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. b. Pengakuan adanya keragaman Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya
yang
mempunyai berbagai latar belakang. c.
Pengembangan keterampilan sosial Bertujuan
untuk
mengembangkan
keterampilan
sosial
siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya,
5
menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. Menurut Ibrahim (2000:28) (dalam Siswanto dan Rechana, 2011) Numbered heads Together (NHT) sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok. Adapun ciri khas dari NHT adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. 1. Kelompok Heterogen. 2.
Setiap anggota kelompok memiliki nomor kepala yang berbeda-beda.
3.
Berpikir bersama (Heads Together).
Dalam menujuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut. 2.1.2 Tahapan Dalam Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Model NHT merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri atas empat tahap yang digunakan untuk mereviu fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi untuk mengatur interaksi siswa. Adapun langkah dalam pembelajan NHT antara lain yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berfikir bersama, dan menjawab Ibrahim (2000: 28) (dalam Siswanto dan Rechana, 2011): a. Penomoran Penomoran adalah hal yang utama dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 4-5 orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor yang berbeda, sesuai dengan siswa didalam kelompok. b. Pengajuan Pertanyaan Langkah berikutnya adalah mengajukan pertanyaan, guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang dipelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.
6
c. Berpikir Bersama Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan. d. Pemberian Jawaban Langkah terakhir guru menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyaan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut. Berdasarkan tahapan-tahapan, Sulistiyorini (2007) (dalam Winarti, 2012), membuat langkah-langkah pembelajaran NHT (Numbered Heands Together) adalah: a. Pendahuluan Persiapan 1) Guru melakukan apersepsi. 2) Guru mejelaskan tentang model pembelajaran NHT (Numbered Heands Together). 3) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 4) Guru memberikan motivasi. b. Kegiatan Inti Pelaksanaan pembelajaran model NHT (Numbered Heands Together) Tahap pertama 1) Penomoran: guru membagi siswa dalam 6 kolompok yang beranggota 4-5 orang dan kepada setiap kelompok di beri nomor 1-5 2) Siswa bergabung dengan anggotanya masing-masing
7
Tahap kedua Mengajukan pertanyaan: guru meengajukan pertanyaan berupa tugas untuk mengerjakan soal-soal. Tahap ketiga Berpikir bersama: siswa berpikir bersama dan menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan tersebut dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tersebut. Tahap keempat 1) Menjawab: guru memanggil siswa dengan nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengajungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk seluruh kelas. Kelompok lain diberi kesempatan untuk berpendapat dan bertanya terhadap hasil diskusi hasil kolompok tersebut. 2) Guru mengambil hasil yang diperoleh masing-masing kelompok dan memberikan semangat bagi kelompok yang belum berhasil dengan baik. Guru memberikan soal latihan sebagai
pemantapan terhadap
hasil dari pekerjaan mereka. c. Penutup 1) Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan. 2) Guru memberi tugas rumah 3) Guru mengingatkan siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diajarkan dan materi selanjutnya 2.1.3 Kelebihan Dan Kekurangan Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Menurut Lundgren (dalam Nardi, 2011) Numbered Heads Together (NHT) memiliki kelebihan dan kekurangan. 1. Kelebihan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). yaitu a.) rasa harga diri menjadi lebih tinggi, b) memperbaiki kehadiran, c) penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar, d) perilaku mengganggu lebih kecil, e) konflik antara pribadi berkurang, f) pemahaman yang lebih mendalam, g)
8
meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi, h) hasil belajar lebih tinggi, i) nilai–nilai kerja sama antar murid lebih tinggi, j) kreatifitas murid termotivasi dan wawasan murid berkembang, karena mereka harus mencari informasi dari berbagai sumber. Selain itu secara lebih umum lagi bahwa kelebihan dari model Cooperative Learning tipe Numbered Heads together yaitu a) setiap siswa menjadi siap semua, b) dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh, c) siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai, d) tidak ada siswa yang mendominasi dalam kelompok. 2. Kekurangan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Setiap model yang kita pilih, tentu memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Salah satu kekurangan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) adalah kelas cenderung jadi ramai jika guru tidak dapat mengkondisikan dengan baik, keramaian itu dapat menjadi tidak terkendalikan. Sehingga mengganggu proses belajar mengajar, tidak hanya di kelas sendiri tetapi bisa juga mengganggu kelas lain. Terutama untuk kelas dengan jumlah siswa yang lebih banyak. 2.2 Kajian Hasil Belajar 2.2.1 Pengertian Hasil Belajar Menurut Winkel (1996:53) belajar adalah aktifitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap. Sedangkan menurut Slameto (2010:2) (dalam Prantalo, 2012) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Sejalan dengan pengertian sebelumnya, maka belajar dapat diartikan perubahan tingkah laku, pengetahuan dan sikap pada kepribadian seseorang melalui latihan dan pengalaman, yang dapat dilakukan dengan membandingkan tingkah laku seseorang sebelum dan sesudah mengalami peristiwa belajar.
9
Menurut Sudjana (2009:22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Selain itu menurut Oemar Hamalik (2005:31) (dalam Setyowati, 2012) hasil belajar bukan hanya suatu penguasaan hasil latihan saja, melainkan mengubah perilaku. Bukti yang nyata jika seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Kingsley (dalam Sudjana, 2009:22) membagi tiga macam hasil belajar, yakni keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan citacita. Sedangkan Gagne (dalam Sudjana 2009:22) membagi lima kategori hasil belajar, yakni informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap dan keterampilan motoris. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom (dalam Sudjana, 2009:22) yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris. a. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. b. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. c. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajr dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris yakni gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, kehermonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar atau prestasi belajar adalah nilai yang menunjukan hasil tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan belajar anak pada saat tertentu.
10
2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Syah (1997:97) (dalam Prantalo, 2012) mengatakan bahwa faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu. a. Faktor intern ini meliputi tiga bagian yaitu: 1) Faktor jasmaniah merupakan proses belajar seorang peserta didik akan terganggu jika kesehatan peserta didik tersebut terganggu. Selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, dan ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada kelainan fungsi alat inderanya serta tubuhnya. Dengan demikian apabila peserta didik cacat tubuh, hal itu akan mempengaruhi hasil belajar. Peserta didik yang cacat, belajarnya akan terganggu. Jika hal itu terjadi hendaknya peserta didik tersebut belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan dengan memberi alat bantu agar dia dapat menghindari atau mengurangi kecacatannya. 2) Faktor psikologis merupakan faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar yang muncul dari segi kejiwaan. Pada faktor ini, sekurangnya-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis yang mempengaruhi kegiatan belajar. Faktor-faktor itu adalah: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan dan 3) Faktor kelelahan baik jasmani ataupun rohani dapat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Oleh karena itu, guru harus memberikan pengertian kepada peserta didik untuk berusaha menghindari terjadinya kelelahan dalam belajarnya. b. Faktor ekstern meliputi 1) Faktor keluarga yang mempengaruhi kegiatan belajar peserta didik, berupa cara orang tua mendidik, relasi/hubungan antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, sikap dan perhatian orang tua, dan latar belakang kebudayaan orang tua.
11
2) Faktor sekolah mempengaruhi belajar meliputi hal-hal yang berkaitan dengan metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan para peserta didik, hubungan peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, peralatan/media pelajaran, waktu sekolah, sarana dan prasarana sekolah, metode belajar peserta didik, dan tugas sekolah. 3) Faktor masyarakat ini banyak berkaitan dengan (1) kegiatan peserta didik dalam masyarakat, (2) masa media yang beredar/ada dalam masyarakat, (3) pengaruh teman bergaul, dan (4) pola hidup masyarakat 2.3 Kajian Materi Ikatan Kimia 2.3.1 Pengertian Ikatan Kimia Ikatan kimia adalah ikatan yang terjadi antar atom atau antar molekul dengan cara sebagai berikut: a.
atom yang 1 melepaskan elektron, sedangkan atom yang lain menerima elektron (serah terima elektron)
b. penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari masingmasing atom yang berikatan c.
penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan
Atom memiliki kecenderungan untuk mencapai kestabilan dengan cara berikatan dengan atom lain. Elektron yang berperan pada pembentukan ikatan kimia adalah elektron valensi dari suatu atom/unsur yang terlibat. Salah satu petunjuk dalam pembentukan ikatan kimia adalah adanya golongan unsur yang stabil yaitu golongan VIIIA atau golongan 18 (gas mulia). Oleh sebab itu dalam pembentukan ikatan kimia, atom-atom akan membentuk konfigurasi elektron seperti pada unsur gas mulia. (Kurniasari, 2012). G.N. Lewis dan W. Kossel mengaitkan kestabilan gas mulia dengan konfigurasi elektronnya. Gas mulia mempunyai konfigurasi penuh, yaitu konfigurasi oktet (mempunyi 8 elektron pada kulit terluar), kecuali helium dengan konfigurasi duplet (dua elektron pada kulit terluar)
12
Tabel 2.1 Konfigurasi Elektron Unsur-unsur Gas Mulia Periode
unsur
Nomor Atom
K
L
M
N
O
P
He Ne Ar Kr Xe Rn
2 10 18 36 54 86
2 2 2 2 2 2
8 8 8 8 8
8 18 18 18
8 18 18
8 18
8
1 2 3 4 5 6
Unsur-unsur lain dapat mencapai konfigurasi oktet dengan melepaskan elektron valensinya untuk meyerap elektron tambahan. Hal ini yang akan terjadi ketika unsur-unsur tersebut membentuk ikatan. Jadi, dapat dikatakan bahwa: 1. Gas mulia bersifat stabil karena konfigurasinya sudah oktet (duplet untuk helium). 2. Unsur selain gas mulia membentuk dengan ikatan dengan rangka memcapai konfigurasi oktet (Purba, 2006). 2.3.2 Lambang Lewis Lambang lewis adalah lambang atom yang dilengkapi dengan elektron valensinya. Lambang Lewis gas mulia menunjukkan 8 elektron valensi (4 pasang). Lambang Lewis unsur dari golongan lain menunjukkan adanya elektron tunggal (belum berpasangan). Lambang lewis untuk unsur-unsur periode kedua dan ketiga sebagai berikut: Tabel 2.2 Lambang Lewis Unsur-unsur Periode 2 dan 3 IA
IIA
IIIA
IVA
VA
VIA
Periode 2
Li
Be
B
Periode 3
Na
Mg
Al
VIIA
VIIIA
C
N
O
F
Ne
Si
P
S
Cl
Ar
2.3.3 Ikatan Ion (elektrovalen) Ikatan ion adalah gaya tarik-menarik listrik antara ion yang berbeda muatan. Ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk antara ion positif dan ion negatif. Ion positif
terbentuk
karena
atom
melepaskan
elektron,
sedangkan
ion
negatifterbentuk karena atom menangkap elektron. Ikatan ion terbentuk antara ion
13
logam dan ion nonlogam. Pada NaCl, ion Na+ merupakan ion logam, sedangkan ion Cl- merupakan ion nonlogam. Oleh karena itu, senyawa NaCl terbentuk dari ikatan ion (Rufaida, 2012: 43. •
Terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil/rendah melepaskan elektron valensinya (membentuk kation) dan atom unsur lain yang mempunyai afinitas elektron besar/tinggi menangkap/menerima elektron tersebut (membentuk anion).
•
Kedua ion tersebut kemudian saling berikatan dengan gaya elektrostatis (sesuai hukum Coulomb). Unsur yang cenderung melepaskan elektron adalah unsur logam sedangkan
unsur yang cenderung menerima elektron adalah unsur non logam (Kurniasari, 2012). 1. Senyawa yang mempunyai ikatan ion antara lain: a) Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan halogen (VIIA) Contoh : NaF, KI, CsF b) Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan oksigen (VIA) Contoh : Na2S, Rb2S, Na2O c) Golongan alkali tanah (IIA) dengan golongan oksigen (VIA) Contoh : CaO, BaO, MgS 2. Sifat umum senyawa ionik: 1) Titik didih dan titik lelehnya tinggi, 2) Keras, tetapi mudah patah, 3) Penghantar panas yang baik, 4) Lelehan maupun larutannya dapat menghantarkan listrik (elektrolit), 5) Larut dalam air, 6) Tidak larut dalam pelarut/senyawa organik (misal : alkohol, eter, benzena) (Kurniasari, 2012). 2.3.4 Ikatan Kovalen Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat ketidak mampuan salah 1 atom yang akan berikatan untuk melepaskan elektron (terjadi pada atom-atom non logam). Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi serta beda keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion. Atom non logam cenderung untuk menerima
14
elektron sehingga jika tiap-tiap atom non logam berikatan maka ikatan yang terbentuk dapat dilakukan dengan cara mempersekutukan elektronnya dan akhirnya terbentuk pasangan elektron yang dipakai secara bersama. Pembentukan ikatan kovalen dengan cara pemakaian bersama pasangan elektron tersebut harus sesuai dengan konfigurasi elektron pada unsur gas mulia yaitu 8 elektron (kecuali He berjumlah 2 elektron) (Purba, 2006). Ada 3 jenis ikatan kovalen: a. Ikatan Kovalen Tunggal Ikatan kovalen tunggal adalah ikatan yang terjadi karena penggunaan satu pasang elektron secara bersama-sama pada atom penyusunnya. Ikatan ini digambarkan dengan sepasang elektron atau sebuah garis lurus. Contoh ikatan kovalen tunggal yaitu ikatan pada molekul unsur H2. H oo H atau
H–H
(Rufaida, 2012: 46). b. Ikatan Kovalen Rangkap Dua Ikatan rangkap dua adalah ikatan yang mengguanakan dua pasang elektron. Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O2. c. Ikatan Kovalen Rangkap Tiga Ikatan rangkap tiga ikatan yang mengguanakan tiga pasang elektron. Ikatan yang terjadi antara atom N dengan N membentuk molekul N2 (Purba, 2006). 2.3.5 Ikatan Kovalen Koordinat Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama. Pasangan elektron ikatan (PEI) yang menyatakan ikatan dativ digambarkan dengan tanda anak panah kecil yang arahnya dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron. Contohnya yaitu amonia (NH3) dapat bereaksi dengan boron triklorida (BCl3) membentuk senyawa NH3.BCl3 (Purba, 2006).
15
2.3.6 Ikatan Logam Ikatan elektron-elektron valensi dalam atom logam bukanlah ikatan ion, juga bukan ikatan kovalen sederhana. Suatu logam terdiri dari suatu kisi ketat dari ionion positif dan disekitarnya terdapat lautan (atmosfer) elektron-elektron valensi. Elektron valensi ini terbatas pada permukaan-permukaan energi tertentu, namun mempunyai cukup kebebasan, sehingga elektron-elektron ini tidak terusmenerus digunakan bersama oleh dua ion yang sama. Bila diberikan energi, elektron-elektron ini mudah dioperkan dari atom ke atom. Sistem ikatan ini unik bagi logam dan dikenal sebagai ikatan logam (Purba 2007). 2.4 Kajian Penelitian yang Relevan Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan adalah 1) Istiyati (2010) mengemukakan bahwa Pembelajaran IPS dengan menggunakan model kooperatif tipe NHT yang dilaksanakan dapat meningkatkan motivasi belajar dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV SD Negeri 02 Doplang Karangpandan. 2) kusuma (2011) Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbasis SAVI dapat meningkatkan hasil belajar kimia siswa pada pokok bahasan Laju Reaksi, 3) Wijayati (2008) mengemukakan bahwa penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar kimia hidrokarbon, 4) Setiawan Dkk (2013) Berdasarkan hasil penelitian bahwa pembelajaran kimia dengan metode kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan metode kooperatif tipe TPS pada materi pokok tata nama senyawa kimia dan persamaan reaksi kimia kelas X semester gasal SMA Negeri 8 Surakarta tahun pelajaran 2012/2013.
16
2.5 Kerangka Pikir Kelas Eksperimen
Kelas kontrol
Pre-tes
Pre-tes
Pembelajaran yang menggunakan model Numbered Heads Together (NHT)
Pembelajaran menggunakan Motode ceramah
Pos-tes
Uji Hipotesis hasil Postes apakah ada pengaruh dengan penggunaan model pembelajaran (NHT)
Pos-tes
Gambar 2.1 Alur Kerangka Pikir Menurut Prantalo (2012) peneliti akan membandingkan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dimana kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional yang sudah biasa digunakan dalam kelas sedangkan kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Dalam alat ukur hasil evaluasi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama. 2.6 Hipotesis Penelitian Arikunto (2006:71) mengemukakan bahwa hipotesis sebagai dugaan jawaban yang bersifat sementara, yang diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “Ada pengaruh model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar ikatan kimia pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Bangkurung Kabupaten Banggai Kepulauan”.
17