ANALISIS PROSEDUR DAN VARIANS ANGGARAN PENJUALAN PADA CV. AGUNG JAYA ART PALEMBANG M. Fadli Jurusan Akuntansi POLTEK PalComTech Palembang Abstrak Penganggaran atau Budgeting merupakan proses yang menghasilkan suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter berlaku untuk jangka waktu tertentu yang akan datang atau disebut dengan Anggaran (Budget). Anggaran ini diperlukan untuk semua jenis perusahaan, tanpa anggaran perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menjalankan operasinya. Suatu anggaran dapat memberikan suatu peringatan akan ada timbulnya masalah. Anggaran juga dapat menghindari krisis yang memerlukan waktu ekstra atau biaya transportasi yang tinggi guna menerima perlengkapan yang disebabkan oleh permintaan yang banyak dan tergesagesa. Penganggaran atau Budgeting biasanya dibuat perusahaan secara berkesinambungan untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba yang optimal. Budgeting dapat dijadikan sebagai manifestasi dari rencana yang akan dicapai oleh perusahaan dan pada saat yang sama budget itu menjadi alatkontrol. Budgeting sebagai pandangan yang harus dicapai sehingga manajemen memiliki standar atau sasaran. Selain itu anggaran dapat membantu departemen-departemen yang terdapat pada suatu perusahaan dalam hal membuat keputusan tentang kegiatan yang akan dilakukan. Anggaran tersebut harus dibuat secara terorganisasi rapih, jelas dan komprehensif, serta proses penganggaran pun harus terbuka, tidak emosional, dan tidak dicampuri oleh tekanan politis. Keakuratan anggaran tercermin dalam angka-angka yang tercantum didalamnya. Angka-angka ini harus dimodifikasi untuk memungkinkan perubahan pada volume penjualan. Kata Kunci : Analisis, Varians, Anggaran, Penjualan. PENDAHULUAN Penganggaran atau Budgeting merupakan proses yang menghasilkan suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter berlaku untuk jangka waktu tertentu yang akan datang atau disebut dengan Anggaran (Budget). Anggaran ini diperlukan untuk semua jenis perusahaan, tanpa anggaran perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menjalankan operasinya. Kaitannya dengan penganggaran, anggaran penjualan merupakan salah satu bagian terpenting dari pengestimastian suatu anggaran, karena anggaran penjualan merupakan dasar dari pembuatan anggaran lainnya dan pada umumnya anggaran penjualan di susun terlebih dahulu selanjutnya barulah disusun anggaran lainnya. Oleh karena itu dalam penyusunannya harus
1
dilakukan dengan benar. Kesalahan dalam penyusunan anggaran penjualan akan mengakibatkan anggaran lain pun secara otomatis menjadi salah. Berdasarkan hasil pengamatan Penulis pada perusahaan ini yang terlihat dalam laporan anggaran penjualan dan laporan realisasi penjualan selama 3 tahun (2006, 2007, 2008) sering terjadi selisih (varians) antara anggaran dengan realisasi penjualan dalam jumlah yang relatif besar. Anggaran perusahaan disusun oleh Pimpinan tanpa keterlibatan karyawan (Top Down) dengan menggunakan metode sederhana yaitu perusahaan meningkatkan anggaran penjualan dengan persentase tertentu dari realisasi penjualan tahun sebelumnya. Anggaran yang ditetapkan oleh perusahaan dari tahun ke tahun cenderung meningkat walaupun anggaran yang ditetapkan pada tahun-tahun sebelumnya belum tercapai. Selain itu perusahaan ini tidak pernah menganalisis lebih lanjut mengenai selisih (varians) yang terjadi antara anggaran penjualan dengan realisasi penjualan. LANDASAN TEORI Pengertian Anggaran Menurut Nafarin (2007:11) definisi anggaran adalah “rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu”. Menurut Adisaputro dan Marwan Sari (2008:02) mendefinisikan “Business Budget adalah suatu pendekatan yang formal dan sistematis dari pada pelaksanaan tanggung jawab manajemen di dalam perencanan koordinasi dan pengawasan”. Pengertian Anggaran Penjualan Menurut Gunawan dan Yunita (2007:110) adalah : “Anggaran yang menyangkut keputusan manajemen seperti sasaran, strategi dan kebijakan-kebijakan, ini diwujudkan dalam keputusan perencanaan tentang volume (unit jualan) produk atau jasa, harga, promosi dan usaha jualan yang direncanakan”. Menurut Nafarin (2007:167) menyatakan bahwa: “Anggaran jualan merupakan dasar penyusunan anggaran lainnya dimana pada umumnya anggaran jualan merupakan anggaran kunci yang di susun terlebih dahulu sebelum menyusun anggaran lainnya”. Pengertian Analisis Varians Menurut Welsch, Hilton, dan Gordon (2000:489) beberapa pendekatan utama yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Mengadakan pembicaraan dengan manajer atau supervisor pusat pertanggungjawaban yang bersangkutan. 2. Analisis situasi pekerjaan termasuk arus pekerjaan, koordinasi, efektivitas pengawasan, dan hal lain yang mungkin terjadi. 3. Pengawasan langsung. 4. Penelitian di tempat oleh manajer lini. 5. Penelitian oleh kelompok staf (dengan teliti harus ditentukan tanggungjawabnya) 6. Audit intern. 7. Pengkajian khusus. 8. Analisis penyimpangan. Menurut Ihsan (2007:203), analisis varians sering diaplikasikan dalam situasi sebagai berikut : 1. Penyelidikan varians antara hasil aktual periode yang berlaku dan hasil aktual dari periode sebelumnya. Periode sebelumnya di anggap sebagai dasar.
2
2. Penyelidikan varians antar hasil aktual dan biaya standar. Biaya standar dianggap standar. 3. Penyelidikan varians antara hasil aktual dan sasaran yang direncanakan atau yang dianggarkan yang tercermin dalam rencana laba. Sasaran yang direncanakan atau dianggarkan digunakan sebagai dasar. ANALISIS 1. Analisis Terhadap Prosedur Penyusunan Anggaran Penjualan Sistem penyusunan anggaran yang dilaksanakan oleh CV. Agung Jaya Art adalah system Top Down (Otoriter). Proses penyusunan anggaran penjualan dilakukan oleh pimpinan perusahaan. Pimpinan perusahaan menyusun anggaran penjualan berdasarkan data-data penjualan tahun-tahun sebelumnya serta pertimbangan-pertimbangan lainnya berdasarkan pada keyakinan dan kemampuan yang dimilikinya. Setelah anggaran penjualan disusun dan disahkan, anggaran tersebut kemudian diberikan kepada bagian penjualan untuk dilaksanakan. Penyusunan angaran yang bersifat otoriter, mengakibatkan perusahaan kurang melibatkan bagian-bagian terkait di dalam perusahaan dalam penyusunan anggaran. Bagian penjulan sangat penting untuk dilibatkan dalam masalah penentuan anggaran penjualan karena bagian ini merupakan bagian yang paling mengetahui mengenai keadaan penjualan perusahaan. Mengikutsertakan partisipasi tersebut di dalam menyusun anggaran penjualan, akan dapat membuat perincian yang lebih realistis. Di samping itu, dengan adanya partisipasi dari bagian yang terkait, komunikasi dan kerjasama dalam perusahaan akan memiliki motivasi dan rasa tanggung jawab untuk menyetujui, mendukung dan mencapai target anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan prosedur penyusunan anggaran yang dilaksanakan oleh CV. Agung Jaya Art Palembang, dapat diketahui bahwa prosedur penyusunan anggaran yang diterapkan belum berjalan dengan baik karena proses penyusunan anggaran hanya melibatkan beberapa orang tertentu saja sehingga sulit untuk menghasilkan suatu anggaran yang realistis. Selain itu, anggaran tersebut akan kurang mendapat dukungan karena penganggaran yang di buat secara otoriter akan menimbulkan perasaan di paksa bagi pihak yang menjalankannya. 1. Analisis Varians Anggaran Penjualan Berdasarkan data yang dipeoleh dari CV. Agung Jaya Art, dapat diketahui bahwa perusahaan tidak menganalisis lebih lanjut selisih yang terjadi antara anggaran penjualan dengan realisasi anggaran penjualan tersebut. Seperti yang telah penulis ungkapkan pada bab I, dalam penyusunan anggaran menurut Ihsan (2009:185) ada beberapa langkah yang harus dilakukan, salah satunya adalah bandingkan hasil nyata dengan seluruh yang direncanakan, dan teliti perbedaan (selisih), karena dengan membandingka selisih tersebut dapat diketahui berapa besar tingkat penyimpangan yang terjadi, penyebab penyimpangan tersebut serta perusahaan dapat menentukan langkah apa yang harus di ambil dalam menetapkan anggaran pada tahun berikutnya, agar anggaran tersebut dapat menjadi patokan. Penulis menggunakan analisis varians yang membandingkan anggaran penjualan yang ditetapkan dan realisasi anggaran penjualan. Analisis terhadap penyimpangan anggaran penjualan dilakukan dengan tujuan agar penyimpangan yang terjadi antara anggaran yang telah ditetapkan dengan realisasi anggaran penjualan perusahaan dapat diketahui. Penyimpangan yang dimaksud adalah perbedaan yang terjadi antara realisasi penjualan yang dicapai perusahaan dengan anggaran yang ditetapkan. Batas toleransi penyimpangan yang masih dapat ditoleransi berdasarkan kebijakan-kebijakan perusahaan adalah 5% sampai dengan 10%. Sebelum melakukan analisis varians anggaran, terlebih dahulu penulis sajikan kembali laporan laba rugi tahun 2006, 2007, dan 2008 sebagai berikut:
3
CV AGUNG JAYA ART LAPORAN LABA RUGI Untuk Periode Berakhir 31 Desember 2006 Penjualan Harga Pokok Penjualan Laba Kotor Beban Usaha : - Beban listrik & air - Beban Telp - Beban gaji karyawan - Beban Penyusutan Peralatan - Beban Penyusutan Gedung - Beban Perlengkapan - Beban lain-lain Total Beban Usaha Laba Usaha
Rp321.650.000,(Rp238.259.500,-) Rp 83.390.500,Rp 3.450.920,Rp 1.346.230,Rp13.200.000,Rp 5.323.280,Rp 2.700.000,Rp 2.561.000,Rp 3.778.000,(Rp32.359.430,-) Rp51.031.070,-
Sumber: CV Agung Jaya Art Palembang
CV AGUNG JAYA ART LAPORAN LABA RUGI Untuk Periode Berakhir 31 Desember 2007 Penjualan Harga Pokok Penjualan Laba Kotor Beban Usaha : - Beban listrik & air - Beban Telp - Beban gaji karyawan - Beban Penyusutan Peralatan - Beban Penyusutan Gedung - Beban Perlengkapan - Beban lain-lain Total Beban Usaha Laba Usaha
Rp299.600.000,(Rp240.981.000,-) Rp 58.619.000,Rp 2.875.300,Rp 1.193.520,Rp13.200.000,Rp 4.361.280,Rp 2.700.000,Rp 1.612.000,Rp 2.179.000,(Rp28.121.000,-) Rp30.497.900,-
Sumber: CV Agung Jaya Art Palembang
4
CV AGUNG JAYA ART LAPORAN LABA RUGI Untuk Periode Berakhir 31 Desember 2008 Penjualan Harga Pokok Penjualan Laba Kotor Beban Usaha : - Beban listrik & air - Beban Telp - Beban gaji karyawan - Beban Penyusutan Peralatan - Beban Penyusutan Gedung - Beban Perlengkapan - Beban lain-lain Total Beban Usaha Laba Usaha
Rp309.040.000,Rp309.040.000, (Rp251.873.000, (Rp251.873.000,-) Rp 57.167.000,57.167.000, Rp 2.413.700,Rp 1.138.350,Rp13.200.000,Rp 4.062.280,Rp 2.700.000,Rp 1.379.000,Rp 1.890.000,(Rp26.783.330,-) (Rp26.783.330, Rp30.383.670
Sumber: CV Agung Jaya Art Palembang
Berikut ini akan disajikan perhitungan varians antara anggaran penjualan dengan realisasinya pada tahun 2006, 2007, dan 2008. Tabel 1. Analisis Varians Anggaran Penjualan dan Realisasi Penjualan untuk Tahun 2006
Dari tabel 1. dapat kita lihat bahwa pada tahun 2006 telah terjadi penyimpangan sebesar 19,5% yaitu diperoleh dari: Tahun 2006 = Total Varians x 100% Total Anggaran = Rp78.182.000 x 100% Rp399.832.000 = 0,195 x 100% = 19,5 % Total Varians (selisih) diperoleh dari: Total Anggaran – Total Realisasi = Rp399.832.000 – Rp321.650.000 = Rp78.182.000 Perhitungan persentase realisasi penjualan terhadap anggaran adalah sebagai berikut : Tahun 2006 = Total Varians x 100% Total Anggaran = Rp321.650.000 x 100% Rp399.832.000 = 0,8044 x 100% = 80,44%
5
Analisis varians antara anggaran penjualan dan realisasi untuk tahun 2007 dapat dijelaskan pada tabel 1.2. Tabel 2. Analisis Varians Anggaran Penjualan dan Realisasi Penjualan untuk Tahun 2007
Tabel 1.2 .2 dapat kita lihat bahwa pada tahun 2007 telah terjadi penyimpangan sebesar 14,1% yaitu diperoleh dari: Tahun 2006 = Total Varians x 100% Total Anggaran = Rp49.200.000 x 100% Rp348.800.000 = 0,141 x 100% = 14,1% Total Varians (selisih) diperoleh dari: Total Anggaran – Total Realisasi = Rp348.800.000 – Rp299.600.000 = Rp49.200.000 Perhitungan persentase realisasi penjualan terhadap anggaran adalah sebagai berikut : Tahun 2006 = Total Varians x 100% Total Anggaran = Rp299.600.000 x 100% Rp348.800.000 = 0,858 x 100% = 85,8% Tabel 1.3 menunjukkan perhitungan analisis varians antara anggaran penjualan dan realisasi untuk tahun 2008. Tabel 3. Analisis Varians Anggaran Penjualan dan Realisasi Penjualan untuk Tahun 2008
Dari tabel 1.3 .3 dapat kita lihat bahwa pada tahun 2008 telah terjadi penyimpangan sebesar 17,4% yaitu diperoleh dari: Tahun 2006 = Total Varians x 100% Total Anggaran = Rp65.321.000 x 100% Rp374.361.000 = 0,174 x 100%
6
= 17,4 % Total Varians (selisih) diperoleh dari: Total Anggaran – Total Realisasi = Rp374.361.000 – Rp309.040.000 = Rp65.321.000 Perhitungan persentase realisasi penjualan terhadap anggaran adalah sebagai berikut : Tahun 2006 = Total Varians x 100% Total Anggaran = Rp309.040.000 x 100% Rp374.361.000 = 0,825 x 100% = 82,5% Tabel 4. Rekapitulasi Perhitungan Varians Tahun 2006 sampai dengan 2008
Berdasarkan tabel 3.4 dapat diketahui bahwa: 1. Tahun 2006, terjadi selisih sebesar Rp. 78.182.000,78.182.000, dengan persentase sebesar 19,5% yang bersifat tidak menguntungkan dan telah melewati batas toleransi yang telah ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 10%. 2. Tahun 2007, terjadi selisih sebesar Rp. 49.200.000,49.200.000, dengan persentase sebesar 14,1% yang bersifat tidak menguntungkan tetapi persentase selisih tersebut mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Meskipun demikian, selisih tersebut telah melewati batas toleransi yang telah ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 10%. 3. Tahun 2008 terjadi selisih sebesar Rp. 65.321.000,65.321.000, dengan persentase sebesar 17,4% yang bersifat tidak menguntungkan bahkan bahkan lebih buruk bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan telah melewati batas toleransi yang telah ditetapkan perusahaan sebesar 10%. Berdasarkan analisis yang telah diuraikan Penulis mengenai prosedur penyusunan dan varians anggaran penjualan pada CV. Agung Jaya Art, menggambarkan bahwa belum baiknya penyusunan serta pelaksanaan anggaran penjualan yang dibuat oleh pimpinan perusahaan. Data 3 tahun terakhir yang diteliti antara penetapan anggaran penjualan dan realisasinya memiliki tingkat penyimpangan an yang melebihi batas toleransi yang dianjurkan yaitu sebesar 5% seperti yang telah dikemukakan oleh Shim dan Siegel. Pada tahun 2007 mengalami penurunan, namun masih memiliki persentase penyimpangan yang tinggi. Penyimpangan yang terjadi bersifat tidak menguntungkan bagi perusahaan, oleh karena itu perlu adanya analisis mengenai faktor penyebab adanya penyimpangan tersebut. Setelah diketahui penyebabnya, maka perusahaan dapat menentukan kebijakan yang terbaik dalam menentukan anggaran penjualan periode berikutnya. erikutnya.
7
PENUTUP Berdasarkan analisis yang telah dilakukan mengenai Analisis Terhadap Varians Anggaran Penjualan Pada CV. Agung Jaya Art Palembang maka dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut : 1. Sistem penyusunan anggaran yang dilaksanakan oleh CV. Agung Jaya Art adalah system Top Down (Otoriter) dimana proses penganggaran penjualan dilakukan oleh pimpinan perusahaan. Pimpinan perusahaan membuat anggaran penjualan berdasarkan data-data penjualan tahun-tahun sebelumnya serta pertimbangan-pertimbangan lainnya berdasarkan pada keyakinan, kemampuan yang dimilikinya. Setelah anggaran penjualan disusun dan disahkan, lalu anggaran tersebut diberikan kepada bagian penjualan untuk dilaksanakan. Jadi, prosedur penyusunan anggaran yang diterapkan belum berjalan dengan baik sehingga sulit untuk menghasilkan suatu anggaran yang realistis. 2. Adanya varians yang cukup besar dan berfluktuatif setiap tahunnya antara penetapan anggaran dan realisasinya. Nilai varians untuk tahun 2006 adalah Rp78.182.000, tahun 2007 adalah Rp49.200.000, tahun 2008 adalah Rp65.321.000. Penyimpangan yang terjadi bersifat tidak menguntungkan bagi perusahaan. Selain itu, perusahaan tidak melakukan analisis terhadap varians yang terjadi antara anggaran dan realisasinya, serta penyebab timbulnya varians tersebut. DAFTAR PUSTAKA Adisaputro, Gunawan dan Yunita Anggraini, 2007, Anggaran Bisnis Analisis Perencanaan dan Pengendalian Laba, Cetakan Pertama, UPP STIM YKPN, Yogyakarta. Adisaputro, Gunawan dan Marwan Asri, 2008, Anggaran Perusahaan, Buku I, BPFE, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ihsan, Arfan, 2009, Akuntansi Manajemen, Graha Ilmu, Yogyakarta. K.Shim Jae. G.Siegel Joel, 2001, Budgeting Pedoman Lengkap Langkah-Langkah Penganggaran, diterjemahkan oleh Julius Mulyadi, Neneng Natalina, Erlangga. Nafarin, M. 2007, Penganggaran Perusahaan, Salemba Empat, Jakarta Sugiono, 2008, Metode Penelitian Bisnis, Salemba Empat, Jakarta. Syafri, Sofyan, Harahap, 2001, Budgeting Penganggaran Perencanaan Lengkap, Cetakan Kedua, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta. Welsch, Hilton, Gordon, 2000, Anggaran Perencanaan Laba, diterjemahkan oleh Purwaningsih, Maudy Warouw, Edisi 5, Buku I, Salemba Empat, Jakarta.
8