perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
STUDI TENTANG PEMBELAJARAN CETAK SARING DI KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN KRIYA TEKSTIL SMK NEGERI 9 SURAKARTA
SKRIPSI
Oleh : ASLAM HARIYADI K 3208025
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Januari 2013
commiti to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commitii to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
STUDI TENTANG PEMBELAJARAN CETAK SARING DI KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN KRIYA TEKSTIL SMK NEGERI 9 SURAKARTA
Oleh: Aslam Hariyadi K 3208025
Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Seni Rupa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Januari 2013
commitiiito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commitivto user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commitv to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRACT Aslam Hariyadi, A STUDY ON SILK-SCREENING LEARNING IN ELEVEN GRADER OF TEXTILE WORK SKILL PROGRAM OF SMK NEGERI 9 SURAKARTA. Research Paper, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty of Sebelas Maret University, January 2013. The objective of this research is to describe the silk-screening learning process in Eleven Grade of Textile Work Skill Program of SMK Negeri 9 Surakarta, viewed from the learning objective, material, method, media, evaluation, and result of learning. This research was taken place in SMK Negeri 9 Surakarta from February to July 2012. This study used a descriptive qualitative approach and a single embedded case study research. The data sources used were: 1) informant, 2) place and event, 3) document and archive. The sampling technique used was purposive sampling. Techniques of collecting data used were: interview, observation, and documentation. The data validating test was done using source triangulation and informant review. The data analysis was conducted using data reduction, data display, conclusion drawing and verification with an interactive model of analysis. The result of research showed that: The objective of learning was make the students capable of: 1) explaining and understanding the signs of occupational health and safety (K3), 2) explaining and understanding type, characteristic, and function of tools and materials used, 3) explaining and understanding the definition of design, 4) explaining and understanding the elements of design, 5) explaining and understanding the principles of design, 6) explaining and understanding the design samples corresponding to the guidelines, 7) developing silk-screening design for t-shirt, scarf, and handkerchief, 8) explaining and understanding the method of preparing diapositive, 9) diapositive from the made design, 10) explaining and understanding the procedure of printing process, 11) performing the printing process correctly (corresponding to the procedure), 12) explaining and understanding the procedure casting process, 13) performing the casting process correctly (corresponding to the procedure), 14) performing the color fixation activity correctly (corresponding to the procedure), 15) preparing the packaging, stitching, accessories, frame, and work identity label. The learning materials included: 1) signs of occupational health and safety (K3), 2) type, characteristic and function of tools and materials used, 3) silk-screening design preparation, 4) diapositive preparation, 5) printing (afdruk) process, 6) casting process, 7) color fixation, and 8) packaging. The learning methods used were: lecturing, debriefing and discussion, instruction (assignment administration), demonstration, and teaching in group methods. The learning medias used were: audio and visual media, material collections, three-dimension object, learning source such as book or module, and special room in textile workshop. The evaluation was done using written test, oral test, and by observing the practice occurring. The learning achievement of silk-screening was that 94% of students achieved the minimum passing criteria (KKM) score. Keywords: Skill Program, Textile Work, silk-screening learning.
commitvito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRAK Aslam Hariyadi, STUDI TENTANG PEMBELAJARAN CETAK SARING DI KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN KRIYA TEKSTIL SMK NEGERI 9 SURAKARTA. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, Januari 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan tentang: proses pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta, dilihat dari tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan hasil belajar. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 9 Surakarta pada bulan Februari sampai Juli 2012. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian studi kasus tunggal terpancang. Sumber data yang digunakan adalah: 1) informan, 2) tempat dan peristiwa, 3) dokumen dan arsip. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Uji validitas data dilakukan melalui: triangulasi sumber dan review informan. Analisis data yang digunakan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Tujuan pembelajaran agar peserta didik mampu: 1) menjelaskan dan memahami rambu-rambu tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3), 2) menjelaskan dan memahami jenis, sifat dan fungsi dari alat serta bahan yang digunakan, 3) menjelaskan dan memahami pengertian desain, 4) menjelaskan dan memahami unsur-unsur desain, 5) menjelaskan dan memahami prinsip-prinsip desain, 6) menjelaskan dan memahami contoh-contoh desain yang sesuai pedoman, 7) membuat desain cetak saring untuk t-shirt, syal, dan sapu tangan, 8) menjelaskan dan memahami cara membuat diapositif, 9) membuat diapositif dari desain yang telah dibuat, 10) menjelaskan dan memahami langkah-langkah proses afdruk, 11) melakukan proses afdruk dengan benar (sesuai prosedur), 12) menjelaskan dan memahami langkah-langkah proses pencetakan, 13) melakukan proses mencetakan dengan benar (sesuai prosedur), 14) melakukan kegiatan fiksasi warna dengan benar (sesuai prosedur), 15) membuat kemasan, jahitan, assesoris, bingkai, dan label identitas karya. Materi pembelajaran: 1) rambu-rambu tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3), 2) jenis, sifat, dan fungsi dari alat dan bahan yang digunakan, 3) pembuatan desain cetak saring, 4) pembuatan diapositif, 5) proses afdruk, 6) proses pencetakan, 7) fiksasi warna, 8) pengemasan. Metode pembelajaran yang digunakan: metode ceramah, metode tanya jawab dan diskusi, metode instruksi (pemberian tugas), metode demonstrasi, dan metode mengajar beregu. Media pembelajaran yang digunakan: media audio dan visual, material collections, benda tiga dimensi, sumber pembelajaran berupa buku atau modul, dan ruang khusus di bengkel tekstil. Evaluasi yang digunakan melalui test tertulis, test lisan, dan melakukan observasi saat praktik berlangsung. Hasil belajar cetak saring adalah 94% peserta didik telah mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Kata kunci: Program Keahlian, Kriya Tekstil, pembelajaran cetak saring.
commitviito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
MOTTO Waktu-waktu yang berlalu melindas karya-karya manusia, tetapi mereka tidak menghapuskan impian-impiannya, juga tidak melemahkan dorongan-dorongan kreatifnya. Dorongan-dorongan ini tetap ada karena merupakan bagian dari Jiwa Abadi, walau tersembunyi atau tidur sesekali, seperti matahari di malam hari dan bulan di waktu fajar. (Kahlil Gibran)
commit viiito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERSEMBAHAN Teriring rasa syukurku kepada Mu, kupersembahkan karya ini untuk: Ibu dan Bapakku Tercinta Terima kasih atas kasih sayang sejati yang telah kalian berikan kepadaku. Doa yang tiada terputus, kerja keras tiada henti, dan pengorbanan tiada terbatas untukku sehingga membuatku bangga memiliki kalian berdua. Saudara-saudara dan Teman-temanku Tersayang Terima kasih atas kebersamaan dan kerjasama kalian selama ini. Amandita Ririn Ayuningtyas (alm.) Terima kasih telah menjadi sahabat yang selalu menemani dan menyanyangiku. Almamaterku Tercinta
commitixto user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah memberikan ilmu, inspirasi, dan kemuliaan. Atas kehendaknya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul CETAK SARING DI KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN KRIYA . Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari bahwa terselesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan pengarahan berbagai pihak. Karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3. Dr. Slamet Supriyadi, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 4. Drs. Edi Kurniadi, M.Pd., selaku Pembimbing I yang selalu memberikan motivasi, pengarahan, dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. 5. Endang Widiyastuti, S.Pd, M.Pd., selaku Pembimbing II yang selalu memberikan motivasi, pengarahan, dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. 6. Drs. Tatuk Heryanto, MM., selaku Kepala SMK Negeri 9 Surakarta yang telah memberikan kesempatan dan tempat guna mengambil data dalam penelitian ini.
commitx to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
7. Dra. Ties Setyaningsih, M.Pd, MM, selaku Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMK Negeri 9 Surakarta yang telah memberikan kesempatan dan tempat guna mengambil data serta bimbingan dalam penelitian ini. 8. Rivi Rumianto, S.Pd., selaku Kepala Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yang telah memberikan kesempatan dan tempat guna mengambil data serta bimbingan dalam penelitian ini. 9. Joko Agus Pambudi, S.Sn., Drs. Budi Susanto, dan Drs. Purwanto Joko Sulistyono, selaku guru (team teaching) mata pelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yang telah memberikan bimbingan dan bantuan dalam penelitian ini. 10. Para siswa Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini. 11. Berbagai pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini, yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan berbagai pihak.
Surakarta, 23 Januari 2013
Penulis
commitxito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................... ii HALAMAN PENGAJUAN ............................................................................... iii HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... iv HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... v HALAMAN ABSTRAK .................................................................................... vi HALAMAN MOTTO ........................................................................................ viii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ xi KATA PENGANTAR ....................................................................................... x DAFTAR ISI ...................................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xviii DAFTAR TABEL .............................................................................................. xxi DAFTAR BAGAN ............................................................................................ xxii DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xxiii BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................. 4 C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian............................................................................. 5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori....................................................................................... 6 1. Pembelajaran ................................................................................... 6 a. Pengertian Pembelajaran ............................................................. 6 b. Tujuan Pembelajaran................................................................... 8 1) Domain Kognitif ..................................................................... 9 2) Domain Afektif ....................................................................... 10 3) Domain Psikomotor ................................................................ 11
commitxiito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
c. Materi Pembelajaran.................................................................... 12 d. Metode Pembelajaran .................................................................. 13 1) Metode Ceramah ..................................................................... 14 2) Metode Tanya Jawab .............................................................. 15 3) Metode Diskusi ...................................................................... 16 4) Metode Ekspresi Bebas (Free Expression) ............................. 17 5) Metode Demonstrasi ............................................................... 17 6) Metode Pemberian Tugas dan Resitasi ................................... 18 e. Media Pembelajaran .................................................................... 19 f. Evaluasi Pembelajaran ................................................................. 20 2. Kriya Tekstil.................................................................................... 22 3. Program Keahlian dan Program Keahlian Kriya Tekstil ................ 23 4. Cetak Saring .................................................................................... 24 a. Definisi dan Proses Cetak Saring ................................................ 24 b. Alat dan Bahan Cetak Saring ...................................................... 25 1) Alat Cetak Saring .................................................................... 25 a) Screen .................................................................................. 26 b) Rakel ................................................................................... 27 c) Meja Afdruk dan Meja Cetak.............................................. 28 d) Meja Gambar ...................................................................... 29 e) Kodatrace ............................................................................ 30 f) Kipas Angin ......................................................................... 30 g) Hand Sprayer ...................................................................... 31 h) Palet .................................................................................... 32 i) Setrika .................................................................................. 32 j) Gelas Ukur dan Mangkuk Plastik ........................................ 33 k) Alat-alat Takaran (Timbangan) .......................................... 33 l) Pengaduk ............................................................................. 34 m) Kuas ................................................................................... 34 n) Papan Landasan .................................................................. 34 o) Kain Hitam .......................................................................... 35
commit xiiito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
p) Isolasi Bening ..................................................................... 35 q) Karet Busa........................................................................... 35 t) Kaca Bening......................................................................... 36 2) Bahan Cetak Saring ................................................................ 36 a) Bahan atau Media Cetak ..................................................... 36 b) Alas Tulis ............................................................................ 36 c) Opaque Ink .......................................................................... 37 d) Zat Warna untuk Sablon ..................................................... 37 e) Obat Peka Cahaya ............................................................... 37 f) Penghapus Screen ................................................................ 38 g) Hidronal G .......................................................................... 38 h) Tinta Cetak .......................................................................... 39 i) Sabun Colet.......................................................................... 39 5. Pembelajaran Cetak Saring ............................................................. 40 B. Kerangka Berpikir .......................................................................... 41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................ 43 B. Pendekatan dan Jenis Penelitian ..................................................... 43 1. Pendekatan Penelitian ............................................................... 43 2. Jenis Penelitian .......................................................................... 44 C. Data dan Sumber Data ................................................................... 45 1. Informan .................................................................................... 46 2. Tempat dan Peristiwa ................................................................ 47 3. Dokumen dan Arsip .................................................................. 47 D. Teknik Pengambilan Sampel (Cuplikan) ....................................... 48 E. Pengumpulan Data .......................................................................... 48 1. Wawancara ................................................................................ 49 2. Observasi ................................................................................... 50 3. Dokumentasi ............................................................................. 51 F. Uji Validitas Data ........................................................................... 52
commit xivto user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
1. Triangulasi Sumber ................................................................... 52 2. Review Informan ....................................................................... 53 G. Analisis Data .................................................................................. 53 1. Reduksi data .............................................................................. 54 2. Sajian Data ................................................................................ 54 3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi ....................................... 55 H. Prosedur Penelitian......................................................................... 56 1. Tahap Pra Lapangan .................................................................. 56 2. Tahap Observasi Lapangan ....................................................... 56 3. Tahap Analisis Data .................................................................. 57 4. Tahap Penyusunan Laporan ...................................................... 57 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ............................................................ 58 B. Pelaksanaan Pembelajaran Cetak Saring......................................... 62 1. Tujuan Pembelajaran Cetak Saring........................................... 62 a. Pertemuan Pertama ............................................................... 62 b. Pertemuan Kedua sampai Ketujuh ....................................... 63 c. Pertemuan Kedelapan sampai Ketiga Belas ......................... 64 d. Pertemuan Keempat Belas dan Kelima Belas ...................... 66 e. Pertemuan Keenam Belas sampai Kedelapan Belas ............ 66 f. Pertemuan Kesembilan Belas ............................................... 66 g. Pertemuan Kedua Puluh ....................................................... 66 2. Materi Pembelajaran Cetak Saring ........................................... 67 a. Rambu-rambu tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) ..................................................................................... 70 b. Jenis, Sifat, dan Fungsi dari Alat serta Bahan yang Digunakan ................................................................... 71 c. Pembuatan Desain Cetak Saring .......................................... 72 d. Pembuatan Diapositif ........................................................... 77 e. Proses Afdruk ....................................................................... 85
commitxvto user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
f. Proses Pencetakan................................................................. 98 g. Fiksasi Warna ....................................................................... 109 h. Pengemasan .......................................................................... 110 3. Metode Pembelajaran cetak saring ........................................... 110 a. Metode Ceramah .................................................................. 110 b. Metode Tanya Jawab dan Diskusi........................................ 112 c. Metode Instruksi (Pemberian Tugas) ................................... 113 d. Metode Demonstrasi ............................................................ 115 e. Metode Mengajar Beregu (Team Teaching) ........................ 116 4. Media Pembelajaran Cetak saring ............................................ 117 a. Media Audio dan Visual....................................................... 118 b. Material Collections ............................................................ 120 c. Benda Tiga Dimensi ............................................................. 121 d. Sumber Pembelajaran yang Berupa Buku atau Modul ........ 122 e. Ruang Khusus yang Telah Disediakan di Bengkel Tekstil .. 123 5. Evaluasi Pembelajaran Cetak Saring ........................................ 124 C. Penilaian Hasil Karya Cetak Saring ................................................ 128 1. Hasil Karya Kelompok 1 .......................................................... 129 2. Hasil Karya Kelompok 2 .......................................................... 131 3. Hasil Karya Kelompok 3 .......................................................... 132 4. Hasil Karya Kelompok 4 .......................................................... 134 5. Hasil Karya Kelompok 5 .......................................................... 135 6. Hasil Karya Kelompok 6 .......................................................... 137 7. Hasil Karya Kelompok 7 .......................................................... 138 D. Hasil Belajar Cetak Saring .............................................................. 140 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A.Simpulan .......................................................................................... 143 B. Implikasi .......................................................................................... 147 C. Saran ................................................................................................ 147
commit xvito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 149 LAMPIRAN ....................................................................................................... 153
commit xviito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
2.1. Proses Eksekusi Cetak Saring ..................................................................... 25 2.2. Screen .......................................................................................................... 26 2.3. Rakel ........................................................................................................... 27 2.4. Meja Afdruk ................................................................................................ 29 2.5. Meja Gambar............................................................................................... 29 2.6. Mengeringkan Screen Menggunakan Kipas Angin .................................... 31 2.7. Penyemprotan Air pada Screen Menggunakan Hand Sprayer ................... 31 2.8. Palet ............................................................................................................. 32 2.9. Setrika ......................................................................................................... 32 2.10. Kuas .......................................................................................................... 34 2.11. Merk Dagang Bahan Coating (Obat Peka Cahaya) .................................. 38 2.12. Pembersihan Screen Menggunakan Sabun Colet...................................... 39 4.1 Pintu Gerbang SMK Negeri 9 Surakarta ...................................................... 58 4.2. Bengkel Tekstil ........................................................................................... 61 4.3. Fasilitas di Bengkel Tekstil ......................................................................... 62 4.4. Desain pada Kertas Gambar Karya Eka Maryana ...................................... 64 4.5. Diapositif pada Mika Karya Eka Maryana.................................................. 65 4.6. Guru Melakukan Kegiatan Motivasi dan Apersepsi ................................... 68 4.7. Kegiatan Elaborasi: Peserta Didik Melakukan Proses Pencetakan ............. 69 4.8. Guru Melakukan Kegiatan Penutup ............................................................ 70 4.9. Alat dan Bahan untuk Membuat Desain Motif ........................................... 73 4.10. Peserta Didik Mendesain di Ruang Desain ............................................... 74 4.11. Desain Alternatif Peserta Didik yang Menjiplak Karakter Kartun Hello Kitty ................................................................................................. 75 4.12. Desain Alternatif Peserta Didik yang Mengembangkan Desain-desain yang Telah Ada ......................................................................................... 76 4.13. Desain yang telah Dipindahkan ke Kertas Gambar dan Diwarnai Karya Endah Puspitosari ..................................................................................... 77
commit to user xviii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
4.14. Klise Diapositif pada Mika Karya Eva Wahyu Wulandari ....................... 78 4.15. Opaque Ink ................................................................................................ 79 4.16. Pen Kodok ................................................................................................. 79 4.17. Meja Gambar............................................................................................. 80 4.18. Staples ....................................................................................................... 81 4.19. Tempat Air Mineral yang Dimanfaatkan sebagai Palet ............................ 81 4.20. Bedak ........................................................................................................ 82 4.21. Pembuatan Klise Diapositif ...................................................................... 83 4.22. Desain dan Diapositif Karya Putri Cahya Suci ......................................... 84 4.23. Peserta Didik Mengkonsultasikan Diapositif kepada Guru ...................... 85 4.24. Peserta Didik Bergegas Membentuk Kelompok ....................................... 87 4.25. Bagian Outline dari Desain Motif pada Diapositif Karya Melati Woro AW ........................................................................... 88 4.26. Bagian Outline dari Desain Motif pada Diapositif Karya Putri Cahya Suci ............................................................................ 88 4.27. Screen Siap Pakai ...................................................................................... 89 4.28. Busur ......................................................................................................... 90 4.29. Ulano TZ ................................................................................................... 91 4.30. Hair dryer ................................................................................................. 91 4.31. Hand sprayer ............................................................................................. 92 4.32. Busa, Triplek, dan Kain Hitam ................................................................. 93 4.33. Peserta Didik Memisahkan Klise Diapositif dari Kertas Desain .............. 94 4.34. Proses Afdruk Menggunakan Meja Afdruk .............................................. 96 4.35. Peserta Didik Dibimbing Guru Saat Mencuci Screen yang Telah Diafdruk ................................................................................. 97 4.36. Peserta Didik Menyemprot Screen dengan Hand Sprayer ....................... 97 4.37. Peserta Didik Dibimbing oleh Guru Saat Mengeringkan Screen.............. 98 4.38. Kain Putih ................................................................................................. 99 4.39. Klise Negatif ............................................................................................. 100 4.40. Binder NF dan NF Medium SP ................................................................. 101 4.41. Pigmen Warna ........................................................................................... 101
commitxixto user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
4.42. Rakel ......................................................................................................... 102 4.43. Mangkuk Plastik dan Sendok Plastik ........................................................ 103 4.44. Lakban ....................................................................................................... 103 4.45. Setrika dan Meja Setrika ........................................................................... 104 4.46. Peserta Didik Membagi Kain yang Disediakan ........................................ 105 4.47. Peserta Didik Menyetrika Kain yang akan Dicetak .................................. 105 4.48. Peserta Didik Mencampurkan Bahan Cetak kedalam Mangkuk Plastik... 106 4.49. Merekatkan Lakban pada Pinggir Screen ................................................. 107 4.50. Peserta Didik Menuangkan Bahan Cetak ke Screen ................................. 107 4.51. Peserta Didik Menyaput Bahan Cetak ...................................................... 108 4.52. Peserta Didik Membersihkan Screen setelah Proses Cetak Selesai .......... 109 4.53. Guru Menggunakan Metode Ceramah ...................................................... 111 4.54. Peserta Didik Melakukan Diskusi Kelompok ........................................... 112 4.55. Guru Membimbing Peserta Didik Ketika Memberikan Tugas Mendesain ...................................................................................... 114 4.56. Bapak Rivi Rumianto, S.Pd. Mendemonstrasikan Proses Afdruk ............ 115 4.57. Guru Mendemonstrasikan Cara Mencuci Screen yang Telah Selesai Diafdruk ..................................................................... 116 4.58. Guru Menggunakan Poster sebagai Media Pembelajaran......................... 119 4.59. Material Collections yang Digunakan oleh Guru ..................................... 121 4.60. Sumber Pembelajaran Cetak Saring .......................................................... 122 4.61. Pompa Air dan Bak untuk Mencuci .......................................................... 123 4.62. Hasil Karya kelompok 1............................................................................ 130 4.63. Hasil Karya Kelompok 2 ........................................................................... 131 4.64. Hasil Karya Kelompok 3 ........................................................................... 133 4.65. Hasil Karya Kelompok 4........................................................................... 134 4.66. Hasil Karya Kelompok 5 ........................................................................... 136 4.67. Hasil Karya Kelompok 6 ........................................................................... 137 4.68. Hasil Karya Kelompok 7 ........................................................................... 139
commitxxto user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
4.1. Aspek dan Bobot Penilaian Hasil Karya Peserta Didik .............................. 125 4.2. Penilaian Hasil Karya Kelompok 1 ............................................................. 130 4.3. Penilaian Hasil Karya Kelompok 2 ............................................................. 132 4.4. Penilaian Hasil Karya Kelompok 3 ............................................................. 133 4.5. Penilaian Hasil Karya Kelompok 4 ............................................................. 135 4.6. Penilaian Hasil Karya Kelompok 5 ............................................................. 136 4.7. Penilaian Hasil Karya Kelompok 6 ............................................................. 138 4.8. Penilaian Hasil Karya Kelompok 7 ............................................................. 139
commitxxito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR BAGAN Bagan
Halaman
2.1. Fungsi Media dalam Proses Pembelajaran .................................................. 19 2.2. Kerangka Berpikir ....................................................................................... 41 3.1. Model Analisis Interaktif ............................................................................ 56
commit xxiito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran
Halaman
01. Hasil Wawancara dengan Guru Mata Pelajaran Cetak Saring 1 .................. 154 02. Hasil Wawancara dengan Guru Mata Pelajaran Cetak Saring 2 .................. 158 03. Hasil Wawancara dengan Peserta Didik 1 ................................................... 161 04. Hasil Wawancara dengan Peserta Didik 2 ................................................... 165 05. Hasil Wawancara dengan Peserta Didik 3 ................................................... 168 06. Hasil Wawancara dengan Peserta Didik 4 ................................................... 171 07. Hasil Wawancara dengan Peserta Didik 5 ................................................... 174 08. Hasil Wawancara dengan Peserta Didik 6 ................................................... 178 09. Surat Izin Penelitian ..................................................................................... 181 10. Surat Izin Menyusun Skripsi ........................................................................ 182 11. Surat Permohonan Izin Penelitian ................................................................ 183 12. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ....................................... 184
commit xxiiito user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk menciptakan situasi agar peserta didik belajar. Proses pembelajaran menyebabkan perubahan, perkembangan, dan kemajuan pada diri peserta didik, baik dalam aspek fisik-motorik, intelek, sosial-emosional, maupun sikap dan nilai. Konsep pembelajaran menurut Corey (1986: 195) dalam (Sagala, dalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisiUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan
pembelajaran peserta didik. Salah satu lingkungan belajar tersebut adalah sekolah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal karena proses pembelajarannya diadakan di suatu tempat tertentu dan mempunyai jenjang pendidikan. Jenjang pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia dimulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMA/MA/SMK/MAK), dan Perguruan Tinggi. SMK sebagai salah satu jenjang pendidikan merupakan lembaga pendidikan yang memberikan pengalaman dan mempersiapkan peserta didik untuk bekerja di dunia usaha. SMK mendidik peserta didik agar menguasai keahlian produktif standar, nilai-nilai ekonomi dan membentuk etos kerja yang tinggi, budaya industri yang berorientasi kepada standar mutu, mandiri, produktif, dan kompetitif.
commit to user 1
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 2
Berbagai SMK mempunyai program keahlian yang berbeda-beda. Lembaga pendidikan menengah kejuruan yang mempersiapkan tenaga terampil dalam bidang seni rupa murni atau seni kriya/kerajinan di kota Surakarta adalah SMK Negeri 9 Surakarta. Output dari pendidikan SMK Negeri 9 Surakarta diharapkan mampu menciptakan tenaga-tenaga terpelajar yang terampil serta memiliki pengetahuan di lingkup bidang seni rupa murni atau seni kriya, dengan demikian diharapkan pula mampu melaksanakan pekerjaan tertentu dan terjun langsung ke masyarakat sesuai dengan keterampilannya. SMK Negeri 9 Surakarta membuka beberapa program keahlian yang dapat dipilih dan ditempuh oleh peserta didik yang disesuaikan dengan bakat, minat, dan kemampuan mereka. Salah satu program keahlian tersebut adalah Program Keahlian Kriya Tekstil. Pendidikan di program keahlian kriya tekstil bertujuan untuk menghasilkan desainer atau kriyawan tekstil yang terampil, produktif, dan profesional yang berorientasi kepada pemenuhan pasar ekspor. Pengetahuan dasar tentang tekstil perlu dikuasai oleh siswa SMK Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan sebagai suatu landasan pengetahuan dalam mempelajari berbagai keterampilan kerajinan tekstil. Dengan landasan pemahaman yang baik, proses pelatihan keterampilan akan menjadi lebih mudah dan juga untuk mengantisipasi perkembangan berbagai teknik baru dalam kerajinan tekstil (Budiyono, Sudibyo, Widarwati., Herlina, Sri., Handayani, Sri., Parjiyah., Pudiastuti, Wiwik., et al., 2008: 1). Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta memiliki beberapa mata pelajaran produktif kriya tekstil yang terdiri dari cetak saring, batik, batik cap, ikat celup, makrame, jahit perca, jahit aplikasi, jahit tindas, kristik dan sulam, tenun, dan tapestri. Mata pelajaran tersebut wajib ditempuh oleh peserta didik dengan batas ketuntasan minimal 75.00. Guntur Nusantara (2007: iii) dalam (Budiyono, sablon atau screen printing merupakan bagian dari ilmu grafika terapan yang bersifat praktis. Cetak saring dapat diartikan kegiatan cetak mencetak dengan menggunakan kain gasa/kasa yang biasa disebut screen Pelaksanaan pembelajaran cetak saring di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta diawali dengan teori pengantar praktek selama beberapa pertemuan. Teori pengantar praktek ini menjelaskan kepada
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 3
peserta didik mengenai segala sesuatu tentang cetak saring, antara lain: pengertian cetak saring, sejarah cetak saring, alat dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan proses cetak saring, contoh-contoh produk cetak saring, pembuatan desain untuk cetak saring, dan proses pelaksanaan cetak saring. Melalui teori pengantar praktek ini,
peserta didik
mendapatkan
gambaran
mengenai
pelaksanaan proses cetak saring yang nantinya akan mereka praktekkan. Output yang diharapkan dari proses pembelajaran cetak saring ini adalah peserta didik mempunyai keterampilan membuat karya atau produk kriya tekstil yang menggunakan teknik cetak saring dengan desain-desain yang mereka ciptakan sesuai kreativitas yang dimilikinya. Outcome yang ingin dicapai setelah peserta didik lulus dan terjun ke masyarakat, diharapkan mereka mampu bekerja didunia industri percetakan, khususnya yang memanfaatkan teknik cetak saring. Mereka dapat pula membuka lapangan kerja sendiri (usaha mandiri) sehingga mampu menunjang program pemerintah dalam hal penyediaan lapangan kerja yang sekaligus mengurangi tingkat pengangguran di masyarakat. Proses pembelajaran cetak saring di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta ternyata mengalami berbagai masalah belajar. Masalah belajar tersebut berasal dari dalam dan luar diri peserta didik. Masalah yang berasal dari diri peserta didik adalah kurangnya kreativitas dan percaya diri dalam mendesain. Tidak sedikit dari mereka yang mencontoh desain-desain yang sudah ada, misalnya gambar-gambar dari cover buku tulis dan buku gambar, tempat pensil, wallpaper telepon genggam, bahkan dari internet. Faktor yang berasal dari luar diri peserta didik adalah suasana di tempat pembelajaran yang kurang mendukung proses pembelajaran, sehingga menyebabkan konsentrasi peserta didik terganggu saat menerima meteri pembelajaran dari guru. Ini dikarenakan semua proses pembelajaran untuk mata pelajaran produktif kriya tekstil, baik kelas X, XI, maupun XII Program Keahlian Kriya Tekstil dilaksanakan di bengkel tekstil secara bersamaan. Cetak saring mudah dikembangkan menjadi industri kecil yang mandiri karena: peralatannya selain mudah didapat dengan harga murah juga mudah dibuat sendiri, tidak memerlukan modal yang besar, teknik pengerjaannya lebih
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 4
sederhana, proses pengerjaannya dapat dilakukan tanpa memerlukan ruang khusus, dapat mengerjakan pesanan dalam jumlah banyak maupun sedikit, serta dapat dicetak diatas segala bahan dasar dan warna. Banyak orang mulai merasakan betapa berat dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk cetak-mencetak yang dilakukan dengan mesin cetak pada percetakan offset. Oleh karena itu, orang mulai mengalihkan perhatiannya ke arah mencetak dengan screen. Walaupun demikian, sebenarnya hal ini bukanlah semata-mata karena adanya krisis ekonomi itu saja, tetapi dibalik itu ada faktor lain yang mendukung penggunaan screen printing sebagai alternatif percetakan secara offset. Faktor tersebut antara lain adalah kualitas cetakan yang dihasilkan mendekati kualitas percetakan dengan mesin offset. Biaya yang rendah serta dapat dilakukan sendiri tanpa peralatan yang mahal merupakan faktor lain yang menjadi perhatian orang. Disamping itu, faktor lain yang perlu diingat adalah bahwa menyablon dapat dilakukan pada berbagai jenis bahan yang terkadang tidak dapat dilakukan dengan mesin offset (Sandjaja, 2006: 15-16). Berdasarkan uraian tersebut, menarik dan penting bagi penulis untuk ANG PEMBELAJARAN CETAK SARING DI KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN KRIYA TEKSTIL us diangkat sebagai judul skripsi. Alasan yang mendorong penulisan skripsi ini adalah untuk mengungkapkan gejala-gejala kesenjangan sosial yang terdapat di lapangan, yaitu mulai dari input atau kondisi peserta didik itu sendiri, proses atau pelaksanaan pembelajaran, sampai dengan hasil belajar peserta didik setelah menempuh mata pelajaran cetak saring, apakah sesuai dengan tujuan dalam kurikulum atau tidak. Hasil dari penelitian
ini
diharapkan
dapat
dipakai
sebagai
dasar
pengembangan
pembelajaran kriya tekstil, khususnya cetak saring maupun untuk penelitian lebih lanjut. B. Rumusan Masalah Tujuan dari pembelajaran cetak saring di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta adalah menghasilkan output yang mempunyai keterampilan membuat karya atau produk kriya tekstil yang menggunakan teknik cetak saring serta outcome yang dibutuhkan oleh masyarakat di dunia industri dan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 5
mampu membuka usaha mandiri, khususnya yang memanfaatkan teknik cetak saring. Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana proses pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta, dilihat dari tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan hasil belajar? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan tentang: proses pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta, dilihat dari tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan hasil belajar. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1.
Manfaat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi ilmu pengetahuan yang selalu mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangan zaman, khususnya dalam bidang pembelajaran cetak saring.
2.
Manfaat praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengenalkan serta mengembangkan pengetahuan tentang pembelajaran cetak saring bagi para pendidik, calon pendidik, dan peserta didik.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Pembelajaran a. Pengertian Pembelajaran Pengertian
pembelajaran
dikemukakan
oleh
Nasution
dalam
(Sugihartono, Fathiyah, Setiawati, Harahap, dan Nurhayati, 2007: 80) bahwa
embelajaran sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau
mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang belajar, tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan . Kegiatan pembelajaran memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar anak didik, anak didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencepaian tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar ini dapat diwujudkan melalui penggunaan strategi pembelajaran yang bervariasi dan terpusat pada anak didik (student centred) (Djamarah, 2010: 324). Pembelajaran dalam perspektif behaviorisme merupakan proses pembentukan hubungan antar rangsangan (stimulus) dan balasan (respon) yang menghasilkan perubahan perilaku berupa kebiasaan melalui proses pelaziman. Menurut perspektif aliran kognitif, pembelajaran merupakan proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan sesuai persepsi peserta didik. Adapun menurut perspektif konstruktivisme, pembelajaran merupakan usaha pemberian kepada peserta didik untuk memilih bahan pelajaran serta cara mempelajarinya sesuai minat dan kemampuan yang dimilikinya (Suprijono, 2009: 17-40). Berkaitan dengan pembelajaran dalam perspektif konstruktivisme, seorang ahli menyimpulkan bahwa:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 7
...aliran ini menegaskan bahwa pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang; melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindra, yaitu indra penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa. Dengan demikian aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kapada orang lain, dengan alasan pengetahuan bukan barang yang bisa dipindahkan, sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk mentransfer ilmu, perbuatan itu akan sia-sia saja. Sebaliknya, kondisi ini akan berbeda jika pembelajaran ini ditujukan untuk menggali pengalaman (Suwarno, 2009: 58). Pengertian lain tentang pembelajaran juga dikemukakan oleh Muhaimin (1996) dalam (Riyanto, 2009: 131) bahwa
lajaran
adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar. Kegiatan pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien . Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Sugihartono, et al. (2007: 81) yang medefinisikan pengertian pembelajaran
erupakan
suatu upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan menciptakan sistem lingkungan dengan berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien serta dengan hasil optimal . Berbagai pengertian pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan
dengan hasil yang optimal. Kegiatan belajar dan mengajar dalam pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kegiatan belajar dan mengajar merupakan suatu proses. Belajar terjadi saat ada interaksi antara individu dan lingkungan, baik lingkungan fisik yang berupa buku, alat-alat peraga, dan alam sekitar maupun lingkungan sosial. Mengajar merupakan proses mengatur dan mengorganisasikan lingkungan serta membimbing dan membantu peserta didik sehingga mereka terdorong untuk melakukan kegiatan belajar.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 8
b.
Tujuan Pembelajaran Berkaitan dengan tujuan pembelajaran, Sardiman berpendapat bahwa Dalam kegiatan belajar-mengajar dikenal adanya tujuan pengajaran, atau yang sudah umum dikenal dengan tujuan instruksional. Bahkan ada juga yang menyebut Tujuan Pembelajaran (2007: 68). Secara lengkap definisi mengenai tujuan pembelajaran dikemukakan oleh Hamalik (2003: 109) uatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pengajaran . Hasil pencapaian tersebut berupa peserta didik yang secara bertahap terbentuk watak, kemampuan berpikir, dan keterampilan teknologinya. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan paling awal dan sekaligus sebagai dasar untuk mencapai jenjang tujuan berikutnya, yaitu tujuan kurikuler, tujuan institusional, hingga akhirnya terwujud tujuan pendidikan nasional yang bersifat abstrak dan normatif. Berkaitan dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional . Tujuan pembelajaran bermanfaat sebagai dasar untuk: menyusun instrumen tes (pre-tes dan pos-tes), merancang strategi instruksional, menyusun spesifikasi dan memilih media yang cocok, serta melaksanakan proses belajar. Tujuan pembelajaran penting artinya dalam rangka: untuk menilai
pembelajaran,
untuk
membimbing
peserta
didik
belajar,
merupakan kriteria untuk merancang pelajaran dan menjadi semacam media untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan pendidik lainnya (Hamalik, 2003: 113). Menurut taksonomi yang disusun oleh Benyamin S. Bloom dan Krathwool beserta timnya, tujuan pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga domain, dan kemudian dipecah lagi menjadi beberapa tingkat yang lebih khusus. Taksonomi yang sangat dikenal di Indonesia ini, terdiri dari: 1) domain kognitif, 2) domain afektif, dan 3) domain psikomotor. (Yamin,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 9
2009: 26-27). Secara singkat pembahasan masing-masing domain tersebut adalah sebagai berikut: 1) Domain Kognitif Pendekatan-pendekatan kognitif tentang belajar memusatkan pada proses memperoleh konsep, sifat dari konsep, dan bagaimana konsep itu disajikan dalam struktur kognitif. Tujuan-tujuan kognitif adalah tujuantujuan yang berorientasi pada kemampuan berpikir atau intelektual (Sagala, 2009: 156-157). Domain kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkatan tersebut adalah: (1) Tingkat pengetahuan (knowledge), tingkatan ini mengacu pada kemampuan mengenal dan mengingat materi yang sudah dipelajari. (2) Tingkat pemahaman (comprehension), tingkatan ini mengacu pada kemampuan untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah diketahui dan memaknai arti dari materi yang dipelajari. (3) Tingkat aplikasi (application), tingaktan
ini
mengacu
pada
kemampuan
menggunakan
atau
menerapkan pengetahuan atau ide-ide umum, metode-metode, prinsipprinsip, rumus-rumus, teori-teori, dan sebagainya kedalam situasi yang baru dan konkret, serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. (4) Tingkat analisa (analysis), tingkatan ini mengacu pada kemampuan mengkaji atau menguraikan bahan kedalam komponen-komponen yang lebih sepesifik dan mampu memahami hubungan-hubungan antar komponen tersebut. (5) Tingkat sintesa
(synthesis),
tingkatan
ini
mengacu
pada
kemampuan
memadukan berbagai konsep atau komponen sehingga membentuk suatu pola struktur yang baru. (6) Tingkatan evaluasi (evaluation), tingkatan ini mengacu pada kemampuan memberikan penilaian terhadap gejala atau peristiwa berdasarkan norma-norma atau patokanpatokan dengan menggunakan kriteria tertentu. Tingkat pengetahuan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 10
merupakan tingkat terendah, dan tingkat evaluasi merupakan tingkat tertinggi dalam domain kognitif (Seifert, 2012: 151-152). 2) Domain Afektif Domain
afektif
merupakan
tujuan
pembelajaran
yang
berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati (attitude) yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Perumusan tujuan pembelajaran pada domain afektif, tidak berbeda jauh dengan domain kognitif namun dalam mengukur hasil belajarnya jauh lebih sukar karena menyangkut kawasan sikap dan apresiasi (Yamin, 2008: 39). Berkaitan dengan hal tersebut, seorang ahli berpandangan bahwa: Hasil belajar afektif tidak dapat dilihat bahkan diukur seperti halnya dalam bidang kognitif. Guru tidak dapat langsung mengetahui apa yang bergejolak dalam hati anak, apa yang dirasakannya atau dipercayainya. Yang dapat diketahui hanya ucapan verbal serta kelakuan non verbal sepaerti ekspresi pada wajah, gerak gerik tubuh sebagai indikator apa yang terkandung dalam hati siswa (Nasution, 1999: 69). Domain ini terdiri dari lima tingkatan, yaitu: (1) Tingkat menerima (reeceiving), yaitu proses pembentukan sikap dan perilaku dengan cara membangkitkan kesadaran adanya stimulus tertentu. (2) Tingkat tanggapan (responding), mengacu pada partisipasi aktif peserta didik dalam memperlihatkan reaksi terhadap norma-norma tertentu. (3) Tingkat penilaian (valuing), tingkat ini mengacu pada kecenderungan menerima, menghargai dan memberikan nilai suatu norma tertentu dengan mempromosikan diri sesuai dengan penilaian itu. (4) Tingkat organisasi
(organization),
tingkat
ini
mengacu
pada
proses
membentukan konsep tentang suatu nilai dan menyusun suatu sistem nilai
pada
diri
peserta
didik.
(5)
Tingkat
karakteristik
(characterization), tingkatan ini mengacu pada proses mewujudkan nilai-nilai dalam diri sendiri sehingga nilai-nilai atau sikap itu seolaholah telah menjadi ciri-ciri pelakunya. Tingkat menerima merupakan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 11
tingkat terendah, dan tingkat karakteristik merupakan tingkat tertinggi dalam domain afektif (Sagala, 2009: 159). Berdasarkan kelima tingkatan yang dirumuskan Bloom dan Krathwool tersebut, Romiszowski mengelompokkan domain afektif menjadi dua tipe perilaku, yaitu: (1) Riflek yang terkondisi (reflexive conditional), merupakan reaksi kepada stimulus khusus tertentu yang dilakukan secara spontan, dan (2) Sukarela (voluntary), merupakan aksi dan reaksi yang terencana untuk mengarahkan ke tujuan tertentu dengan cara membiasakan melalui latihan-latihan (Hamdani, 2011: 153). 3) Domain Psikomotor Domain psikomotor adalah domain yang berkaitan dengan keterampilan (skill), yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otot. Hasil belajar psikomotor merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif. Domain psikomotor terdiri dari empat tingkatan, namun jika dilihat dari segi taksonomi, keempat urutan tersebut tidak bertingkat seperti pada domain kognitif dan afektif (Yamin, 2009: 37). Pengelompokan tingkat domain psikomotor adalah sebagai berikut: (1) Gerakan seluruh badan (grass body movement), merupakan perilaku peserta didik dalam suatu kegiatan yang memerlukan gerakan fisik secara menyeluruh. (2) Gerakan yang terkoordiansi (coordination movements), merupakan gerakan yang dihasilkan dari perpaduan antara fungsi indera manusia dengan salah satu anggota badan. (3) Komunikasi nonverbal (nonverbal communication), merupakan hal-hal yang berkenaan dengan komunikasi menggunakan simbol atau isyarat. (4) Kecakapan berbicara (speech behaviour), merupakan hal-hal yang berhubungan dengan koordinasi gerakan tangan atau anggota badan lainnya dengan ekspresi muka dan kemampuan berbicara (Hamdani, 2011: 153-154).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 12
c.
Materi Pembelajaran Bahan ajar atau materi pembelajaran (intructional materials) merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran karena menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran. Jenis materi pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga bidang, yaitu: pengetahuan (kognitif), afektif (sikap atau nilai), dan psikomotor (keterampilan) (Hamalik, 2003: 139). Materi pembelajaran dari aspek kognitif (pengetahuan) terdiri dari fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Materi fakta berkatitan dengan: nama-nama objek, peristiwa sejarah, nama orang, dan lain sebagainya. Materi konsep berkaitan dengan: pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu benda atau objek. Materi prinsip berkatian dengan: dalil, rumus, adagium, pastulat, teorema, atau hubungan antar konsep yang menggambarkan hubungan sebab akibat. Materi prosedur adalah materi yang berkaitan dengan langkah-langkah secara sitematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas. Materi afektif (sikap dan nilai) adalah materi yang berkatian dengan sikap atau nilai peserta didik, misalnya: nilai kejujuran, kasih sayang, tolong menolong, semagat belajar, semangat bekerja, kedisiplinan, dan lain sebagainya Materi psikomotor (keterampilan) menunjuk kepada tindakan-tindakan jasmaniah peserta didik (Hamdani, 2011: 120-121). Penyajian materi didalam kurikulum tidak langsung menunjuk pada pokok bahasan/materi tertentu, tetapi disajikan dalam bentuk kompetensi. Jika penyajian kurikulum langsung menunjuk pada pokok bahasan/materi tertentu, tanpa memberikan peluang untuk guru memilih materi pembelajaran, maka guru hanya akan terpaku pada materi tersebut dan tidak berpikir untuk materi lain yang sejenis. Dengan disajikan dalam bentuk kompetensi yang harus dicapai, maka akan memberikan keleluasaan dan kreativitas guru dalam mengajar sehingga memberikan kesempatan kepada guru untuk memilih materi pembelajaran yang relevan (Hidayatullah, 2007: 25). Pemilihan materi pembelajaran oleh pendidik harus memperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut: 1) Materi pembelajaran sejalan dengan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 13
kriteria tujuan instruksional, 2) Materi pembelajaran dapat dijabarkan secara spesifik. 3) Materi pembelajaran relevan dengan kebutuhan siswa. 4) Materi pembelajaran sesuai dengan kondisi masyarakat. 5) Materi pembelajaran mengandung segi-segi etik. 6) Materi pembelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematis dan logis. 7) Materi pembelajaran bersumber dari buku yang baku, pribadi pendidik yang ahli, dan masyarakat (Harjanto, 2008: 222-224). d. Metode Pembelajaran Pengertian metode pembelajaran menurut Sugihartono, et al. (2007: 81) yaitu Metode pembelajaran berarti cara yang dilakukan dalam proses pembelajaran sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal . Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Hamdani bahwa: Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Karena penyampaian itu berlangsung dalam interaksi edukatif, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran (2011: 80). Pemilihan metode pembelajaran hendaknya di dasarkan atas beberapa pertimbangan yaitu: tujuan pembelajaran, karakteristik mata pelajaran, kemampuan peserta didik, dan kemampuan pendidik (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP UPI, 2007: 125). Secara umum, metode pembelajaran dapat dibagi menjadi metode pasif dan metode aktif. Metode pasif yaitu metode pembelajaran satu arah dari dosen ke mahasiswa. Metode ini merupakan metode pembelajaran tradisional yang sering disebut dengan lecturing. Metode aktif mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi di dalam kelas (Jogiyanto, 2009: 23). Metode pembelajaran yang dikhususkan untuk pendidikan seni rupa, biasa disebut metode pembelajaran seni rupa.
Menurut
pendapat
Sukmadinata yang dikutip oleh Fikry menyatakan bahwa metode pembelajaran seni rupa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Metode pembelajaran teori, yang terdiri dari: a) pembelajaran ekspositorik dan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 14
kelompok, menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi; b) pembelajaran berbuat, menggunakan metode pemberian tugas dan resitasi. 2) Metode pembelajaran praktek, yang terdiri dari pembelajaran praktek di sekolah dan di lingkungan kerja. Metode praktek dalam pembelajaran seni rupa salah satunya adalah metode ekspresi bebas (free expression) (2012: 3). 1) Metode Ceramah Pendapat
mengenai
metode
Sugihartono, et al.
ceramah
dikemukakan
oleh
etode ceramah merupakan metode
penyampaian materi dari guru kepada siswa dengan cara guru menyampaikan materi melalui bahasa lisan baik verbal maupun nonverbal
2007: 81). Lebih lanjut lagi Hamdani (2011) menjelaskan
bahwa Metode ceramah berbentuk penjelasan konsep, prinsip, dan fakta yang ditutup dengan tanya jawa 156). Metode caramah yang dalam bahasa inggris disebut istilah leaturing method atau telling method ialah suatu cara lisan penyajian bahan pelajaran yang dilakukan oleh seseorang (guru) kepada orang lain (pelajar atau mahasiswa) untuk mencapai tujuan pengajaran. Istilah lecturing berasal dari bahasa Yunani Legere yang berarti to teach (mengajar). Dari kata Legere ditimbulkan kata lecture yang artinya memberi kuliah dengan kata-kata atau memberi kuliah dengan penuturan. Dari kata lecture ditimbulkan/dimunculkan lagi kata lecture yaitu cara penyajian bahan dengan lisan. Istilah telling berasal dari kata to tell yang artinya menyatakan sesuatu kepada orang lain, selanjutnya berarti menyajikan keterangan-keterangan kepada orang lain agar ia mengerti apa yang disajikan itu (Suradji, 2011: 11). Keuntungan metode ceramah adalah dapat disajikan kepada peserta didik dalam jumlah besar, dapat dipakai oleh pendidik sebagai pengantar, mudah untuk diulang kembali jika peserta didik belum jelas, sangat efektif dan lebih mengena, waktu penyampaian materi terbatas sedangkan materi yang akan disampaikan masih banyak (Sulistyo, Sunarmi, & Widodo, 2011: 108).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 15
Kelemahan metode ceramah adalah peran serta peserta didik dalam proses pembelajaran rendah karena yang aktif adalah pendidik, kurang berhasil untuk meningkatkan pikiran, perhatian dan motivasi peserta didik sulit diukur, materi yang disampaikan bisa menjadi tidak fokus karena pembicaraan pendidik yang melantur dan kurang memadai untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam upaya mengubah karakter peserta didik (Yamin, 2009: 65). 2) Metode Tanya Jawab Pandangan mengenai metode tanya jawab dikemukakan oleh Sugihartono, et al. (2007)
Metode tanya jawab merupakan cara
penyajian materi pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh anak didik
82). Definisi tersebut ditambahkan lagi
oleh Sulistyo, et al. b ngantuk yang terjadi pada diri peserta didik dalam ceramah/kuliah, maka pendidik harus menciptakan kehidupan interaksi belajar mengajar tersebut yakni dengan teknik tanya jawab (dialog). Tanya jawab dapat terjadi dari murid kepada pendidik atau sebaliknya
1: 108).
Kelebihan metode tanya jawab adalah: dapat memperoleh sambutan yang lebih aktif dibandingkan dengan metode ceramah yang cenderung bersifat menolong, sebagai pengukur sampai sejauh mana peserta didik mengerti dan memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengemukakan pendapat yang ada dan dapat dibawa kearah suatu diskusi (Hamdani, 2011: 156). Kelemahan metode tanya jawab adalah: peserta didik merasa takut dan panik untuk menjawab pertanyaan dari pendidik, terlalu menyita waktu sehingga tidak semua peserta didik mendapatkan giliran, dan tidak cocok untuk mencapai tujuan pembelajaran pada ranah afektif dan psikomotor. Berkaitan dengan hal tersebut, Yamin mengemukakan Diantara kelemahannya adalah bahwa tanya jawab bisa
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 16
menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan. Lebih-lebih jika kelompok siswa memberikan jawaban atau mengajukan pertanyaan yang dapat menimbulkan masalah baru dan menyimpang dari pokok : 68). 3) Metode Diskusi Definisi
mengenai
metode
diskusi
dikemukakan
oleh
Suryosubroto (2002: 179) bahwa: dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompokkelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun
Definisi tersebut ditambahkan oleh Roestiyah (2008: 5) yang lam diskusi ini proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif
Kelebihan metode diskusi adalah: suasana kelas menjadi hidup karena peserta didik mengarahkan perhatian dan pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan, dapat mempertinggi prestasi kepribadian masing-masing peserta didik, hasil diskusi mudah dipahami dan dilaksanakan bersama karena peserta didik ikut serta secara aktif dalam diskusi, peserta didik dilatih untuk mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib dalam suatu diskusi sebagai pengalaman berharga bagi kehidupan sesungguhnya kelak di masyarakat, dan melatih peserta didik untuk menerima dan menghargai pendapat orang lain (Suparman, 2010: 150-151). Kelemahan metode diskusi adalah: menyita waktu lama dan jumlah peserta didik harus sedikit, mempersyaratkan peserta didik memiliki latar belakang yang cukup mengenai topik atau masalah yang didiskusikan, tidak tepat bila digunakan pada tahap awal proses
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 17
pembelajaran, dan apatis bagi peserta didik yang tidak terbiasa berbicara dalam forum (Yamin: 2008: 80-81). 4) Metode Ekspresi Bebas (Free Expression) Pendapat mengenai metode ekspresi bebas diungkapkan oleh Sobandi bahwa metode ini pada dasarnya adalah suatu cara untuk membelajarkan peserta didik agar dapat mencurahkan isi hatinya kedalam bentuk karya seni rupa. Proses penciptaan seni dalam metode ini dimulai dari: a) penentuan tema, yaitu isi ungkapan yang akan disampaikan, b) media, yaitu bahan dan alat yang dipilih dan digunakan oleh peserta didik dalam mewujudkan bentuk ungkapan seni, c) gaya ungkapan, yaitu ungkapan seni yang sifatnya sangat individual sehingga setiap peserta didik akan menghasilkan karya seni yang berbeda-beda, dan d) bentuk kegiatan menggambar, apakah berbentuk sketsa atau lukisan (2009: 13-15). Metode ekspresi bebas merupakan pengembangan dari pandangan Victor Lowenfield yang menganjurkan agar setiap pendidik haruslah mampu mengembangkan kreasi peserta didiknya, sehingga metode ini sering disebut dengan metode ekspresi kreatif. Metode ini dapat diterapkan dalam menggambar dekoratif, mendesain benda-benda kerajinan, menggambar reklame, dan lain sebagainya (Fikry, 2012: 3). 5) Metode Demonstrasi Pandangan mengenai metode demonstrasi diungkapkan oleh Sugihartono, et al.
Metode demonstrasi merupakan metode
pembelajaran dengan cara memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkatitan dengan bahan pelajaran (2007: 83). Kelebihan metode demonstrasi adalah: perhatian peserta didik dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh pendidik sehingga hal penting tersebut dapat diamati secara teliti, membimbing peserta didik ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama, dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang disampaikan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 18
melalui metode ceramah, persoalan-persoalan yang menimbulkan pertanyaan dapat diperjelas saat proses demonstrasi berlangsung, memberi motivasi yang besar kepada peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran, dapat memperoleh pengalaman langsung dan mengembangkan kecakapan peserta didik (Sagala, 2009: 211). Kelemahan metode demonstrasi adalah: kurang efektif untuk kelas yang jumlah peserta didiknya banyak, tidak semua hal dapat didemonstrasikan, bila alat yang digunakan untuk demonstrasi terlalu kecil maka tidak dapat dilihat oleh peserta didik sekelas, bila suatu alat dibawa kedalam kelas untuk didemonstrasikan kadang-kadang terjadi proses yang berlainan dengan proses dalam situasi nyata, serta bila waktu yang tersedia sedikit biasanya demonstrasi berlangsung secara bertahap (Yamin, 2009: 66-67). 6) Metode Pemberian Tugas dan Resitasi Pandangan mengenai metode pemberian tugas dan resitasi menurut Sugihartono et al. (2007: 84) adalah dan resitasi merupakan metode pembelajaran melalui pemberian tugas an dilengkapi oleh Sagala (2009)
bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggung jawabkan (hlm. 219). Kelebihan metode pemberian tugas dan resitasi antara lain: pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar yang berhubungan dengan minat atau bakat akan lebih meresap dan tahan lama, peserta didik berkesempatan memupuk rasa tanggung jawab, mandiri, kreatif, disiplin, jujur, dan berinisiatif, tugas yang diberikan dapat membina kebiasaan peserta didik untuk mencari dan mengelola informasi yang didapatnya, metode ini dapat membuat peserta didik bergairah dalam belajar apabila di lakukan dengan berbagai variasi;
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 19
sedangkan
kelemahannya
antara lain:
peserta didik
seringkali
melakukan penipuan diri dimana mereka hanya meniru hasil pekerjaan orang lain atau bahkan menyuruh orang lain untuk mengerjakan tugasnya, apabila pemberian tugas terlalu sering dan tugas yang diberikan juga terlalu sukar maka ketegangan mental peserta didik dapat terpengaruh, dan pendidik sukar memberikan tugas yang sesuai dengan karakter masing-masing peserta didik (Sagala, 2009: 219). e. Media Pembelajaran Pengertian mengenai media pembelajaran dikemukakan oleh Sanaky Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran
2009: 3). Pendapat
serupa juga dikemukakan oleh Anitah (2008: pembelajaran adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan
kondisi
yang
memungkinkan
pembelajar
menerima
pengeta Fungsi media pembelajaran dalam proses pembelajaran adalah sebagai pembawa informasi dari sumber (pendidik) menuju penerima (peserta didik) (Hamdani, 2011: 246).
Guru
Media / Pesan
Siswa
Metode
Bagan 2.1. Fungsi Media dalam Proses Pembelajaran (Hamdani, 2011: 246) Media pembelajaran mempunyai kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran. Kontribusi media pembelajaran menurut Kemp, dkk. (1985) yang dikutip oleh Uno antara lain: 1) Penyajian materi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 20
pembelajaran menjadi lebih standar. 2) Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. 3) Kegiata belajar dapat menjadi lebih interaktif. 4) Waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dapat dikurangi. 5) Kualitas belajar dapat ditingkatkan. 6) Pembelajaran dapat disajikan dimana dan kapan saja sesuai dengan yang diinginkan. 7) Meningkatkan sifat positif peserta didik dan proses belajar menjadi lebih baik. 8) Memberikan nilai positif bagi pendidik (2007: 116). Media pembelajaran bila dilihat dari sudut pandang yang luas, klasifikasinya adalah sebagai berikut: (1) Bahan yang mengutamakan kegiatan membaca atau dengan menggunakan simbol-simbol kata dan visual (bahan-bahan cetakan dan bacaan). (2) alat-alat audiovisual: (a) media proyeksi (overhead projektor glide, film, dan LCD), (b) media non proyeksi (papan tulis, poster, papan tempel, kartun, papan panel, komik, bagan, diagram, gambar, grafik, dan lain-lain, (c) benda tiga dimensi antara lain benda tiruan, diorama, boneka, topeng, lembaran balik, peta, globe, pameran, dan museum sekolah. (3) Media yang menggunakan teknik atau masinal, yaitu: slide, film strif, film rekaman, radio, televisi, video, VCD, laboratorium elektronik, perkakas otoinstruktif, ruang kelas otomatis, sistem interkomunikasi, komputer, dan internet. (4) Kumpulan benda-benda (material collections) yaitu berupa peninggalan sejarah, dokumentasi, bahan-bahan yang memiliki sejarah jenis kehidupan, mata pencaharian, industri, perbankan, perdagangan, pemerintahan, agama, kebudayaan, politik dan lain-lain. (5) Contoh-contoh kelakuan, perilaku pendidik (Sanaky, 2009: 9-12). f. Evaluasi Pembelajaran Pengertian mengenai evaluasi pembelajaran dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu
proses untuk menentukan jasa, nilai atau manfaat kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penilaian dan/atau pengukuran (2006: 221). Sebagai alat penilaian hasil pencapaian tujuan dalam pengajaran, evaluasi harus dilakukan secara terus menerus. Evaluasi tidak hanya
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 21
sekedar menentukan angka keberhasilan belajar. Tetapi yang lebih penting adalah sebagai dasar untuk umpan balik (feed back) dari proses interaksi edukatif yang dilaksanakan (Muhammad Ali (1992: 113) dalam (Djamarah, 2010: 245)). Fungsi dan tujuan evalasi pembelajaran adalah untuk: menentukan angka kemajuan atau hasil belajar peserta didik, menempatkan peserta didik kedalam situasi pembelajaran yang tepat dan serasi dengan tingkat kemampuan, minat, dan karakteristik yang mereka miliki, mengenal latar belakang peserta didik yang berguna bagi pendidik sebagai upaya memberikan bimbingan untuk mengatasi kesulitan belajar yang mereka hadapi, dan sebagai umpan balik bagi pendidik yang berguna untuk memperbaiki proses pembelajaran (Hamalik, 2003: 211-212). Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan telah tercapai. Karena itu didalam menyusun evaluasi hendaknya memperhatikan secara seksama rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan harus dapat mengukur sejauhmana proses pembelajaran telah dilaksanakan (Aunurrahman, 2009: 209). Jenis evaluasi pembelajaran berdasarkan sasarannya adalah sebagai berikut: (1) Evaluasi konteks, yaitu evaluasi yang digunakan untuk mengukur konteks program. (2) Evaluasi input, yaitu evaluasi yang digunakan untuk mengetahui input, baik sumber daya maupun strategi yang digunakan. (3) Evaluasi proses, yaitu evaluasi yang ditujukan untuk melihat proses pelaksanaan pembelajaran. (4) Evaluasi produk, yaitu evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir. (5) Evaluasi outcome, yaitu evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar peserta didik setelah lulus dan terjun ke masyarakat (Hamdani, 2011: 304-305). Pembelajaran bukan hanya menekankan pada aspek hasil (product), melainkan juga menekankan pada aspek proses, artinya tingkat kualitas proses yang benar sangat penting bagi siswa. Oleh karena itu dalam mengevaluasi hasil belajar disamping menyoroti pada aspek proses dan kualitias pembelajaran juga menyoroti aspek lain, karena hasil belajar adalah perubahan kualitas pembelajaran yang secara tidak langsung berpengaruh pada aspek lain, seperti aspek
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 22
kognitif, afektif, maupun aspek psikomotor (Hidayatullah, 2007: 26). Kriteria keberhasilan belajar siswa meliputi aspek kognitif, afektif dan aspek psikomotor. Aspek kognitif berhubungan erat dengan kecerdasan dan intelektual peserta didik. Aspek afektif berhubungan erat dengan sikap dan nilai peserta didik terhadap proses pembelajaran. Aspek psikomotor berhubungan erat dengan tindakan-tindakan jasmaniah peserta didik 2008: 99). 2. Kriya Tekstil Mengutip pendapat Ahmad A.K. Muda (2003: 327 dan 528) yang dirangkum dalam (Marlina dan Kar
Kriya
tekstil (sic) adalah karya kerajinan tangan dari barang-barang hasil tenunan
gagasan, ide, pikiran, perasaan, apresiasi, dan ciptaan manusia yang memiliki nilai estetik, yang diwujudkan dalam bentuk benda melalui proses kegiatan (2010: 1). Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Budiyono et al. bahwa kriya tekstil memiliki arti yang sangat luas dan mencakup berbagai jenis kain yang dibuat dengan cara ditenun, diikat, dipres dan berbagai cara lain yang dikenal dalam pembuatan kain (2008: 1). Tekstil merupakan benda yang bersifat lembut dan luwes dengan intuisi rasa, ungkapan warna dan unsur psikologis yang akhirnya menghadirkan keindahan. Di samping itu, tekstil memerlukan pertimbangan teknis, perhitungan matematis, rasional, ekonomis dan efisien yang akhirnya menghasilkan kekuatan bahan. Dengan demikian pada tekstil terdapat unsur seni dan teknologi. (Rizali, 2006: 33). Panitia Pameran KIAS 1990-1991 dalam buku Perjalanan Seni Rupa Indonesia dari Zaman Prasejarah hingga Masa Kini (1990) mengemukakan Melalui tekstil terungkaplah latar belakang kebudayaan, gambaran suka duka, kemahiran berseni, kemampuan bertukang, adat serta susunan alam
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 23
lingkungan suatu bangsa. Bahkan tekstil menunjukkan tingkat sosial melalui susunan warna dan ragam hi
(hlm. 201).
Pada kriya tekstil terdapat dua metode pemberian rupa dan warna, yaitu desain struktur dan desain permukaan. Desain struktur adalah pemberian rupa dan warna pada saat tekstil ditenun sedangkan desain permukaan adalah pemberian rupa dan warna diatas permukaan tekstil setelah ditenun (Rizali, 2006: 34). Jenis produk kriya tekstil dibagi menjadi dua kelompok, yaitu benda hias dan benda pakai, atau dapat juga merupakan perpaduan dari keduanya. Hal ini sesuai pendapat Marlina dan Karmila yang menyatakan bahwa: Jenis produk kriya tekstil dibagi menjadi dua kelompok yaitu : benda hias dan benda pakai atau perpaduan dari keduanya. Jenis produk yang termasuk dalam benda hias diantaranya : hiasan dinding, sarung bantal kursi, produk kriya yang termasuk benda pakai diantaranya: bad cover, sarung bantal, tirai, tutup aqua galon, tutup kulkas, taplak meja makan, tutup tudung saji, dll (2010: 1). 3. Program Keahlian dan Program Keahlian Kriya Tekstil Menurut
isi
Kurikulum
Tingkat
Satuan
Pendidikan
(KTSP)
ujuan program keahlian merupakan kristalisasi dari kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik untuk dapat bekerja sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) atau standar kompetensi kerja lain yang dijadikan acuan dan berlaku di dunia kerja serta untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan program keahliannya . Program keahlian kriya tekstil atau yang biasa disebut sebagai Jurusan Kriya
Tekstil
adalah
sebuah
program
keahlian
atau
jurusan
yang
mempersiapkan peserta didik agar mempunyai ketrampilan membuat karya atau produk kriya tekstil. Hal ini sesuai pendapat Rohmandani (2011) yang atu jurusan di dalam suatu Sekolah Menengah Kejuruan yang memuat tentang kerajinan tangan seseorang yang memiliki nilai estetik sehingga hasil karya yang telah dibuat dapat laku di (hlm. 6).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 24
Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta bertujuan untuk: a) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik. b) Mendidik peserta didik agar menjadi warga negara yang bertanggung jawab. c) Mendidik peserta didik agar dapat menerapkan hidup sehat, memiliki wawasan pengetahuan dan seni. d) Mendidik peserta didik dengan keahlian dan keterampilan program keahlian kriya tekstil agar dapat bekerja baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah. e) Mendidik peserta didik agar mampu memilih karir, berkompetisi, dan mengembangkan sikap profesional dalam program keahlian kria tektil. f) Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal bagi yang berminat untuk melanjutkan pendidikan. 4. Cetak Saring a. Definisi dan Proses Cetak Saring Definisi cetak saring menurut Guntur Nusantara dalam (Budiyono, et al., 2008) adalah Cetak saring atau sablon atau screen printing merupakan bagian dari ilmu grafika terapan yang bersifat praktis. Cetak saring dapat diartikan kegiatan cetak mencetak dengan menggunakan kain gasa/kasa yang biasa disebut screen
373). Pengertian tersebut menekankan
bahwa alat utama yang digunakan dalam cetak saring adalah berupa kain gasa atau kasa yang berfungsi sebagai penyaring tinta cetak. Cetak saring adalah salah satu teknik
proses
cetak
yang
menggunakan layar (screen) dengan kerapatan tertentu dan umumnya barbahan dasar nylon atau sutra. Layar ini kemudian diberi pola dari desain negatif yang telah dibuat sebelumnya. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, akan terbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak dapat dilalui. Proses eksekusinya adalah dengan menuangkan tinta di atas layar dan kemudian disapu menggunakan rakel yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna (Sadhori, 1996: 42-43).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 25
Gambar 2.1. Proses Eksekusi Cetak Saring (Sandjaja, 2006: 126) Pada umumnya, urutan proses cetak saring adalah sebagai berikut: (1) pembuatan screen, (2) persiapan pasta cap, (3) pencapan kain, (4) pengeringan, (5) fiksasi zat warna, dan (6) pencucian (Budiyono, et al., 2008: 10-11). b. Alat dan Bahan Cetak Saring Proses cetak saring memerlukan beberapa alat dan bahan yang mutlak dibutuhkan dan harus disediakan. Peralatan dalam cetak saring tidak mahal bahkan bisa dibuat sendiri. Alat adalah segala sesuatu yang tidak habis dipakai dan dapat digunakan berulang-ulang. Bahan adalah segala sesuatu yang habis dipakai dan tidak dapat dipakai ulang. 1) Alat Cetak Saring Alat-alat yang diperlukan dalam proses pembuatan karya tekstil dengan teknik cetak saring adalah screen, rakel, meja afdruk, meja gambar, kodatrace, kipas, hand sprayer (alat penyemprot), palet, setrika, alat-alat takaran (timbangan), gelas ukur, pengaduk, kuas, papan landasan, kain hitam, isolasi bening, karet busa, dan kaca bening.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 26
a) Screen Pengertian screen
Screen
ialah layar penyaring yang dibentangkan pada bingkai kayu
Berkaitan dengan screen
Screen
nampaknya seperti bahan atau sesuatu yang habis dalam sekali pakai, namun sebetulnya tidak, sebab screen dapat dipakai berulang-ulang
2006: 29).
Gambar 2.2. Screen (K. Arifien, 2011: 3) Screen terdiri dari kerangka kayu dan kain gasa atau kasa atau monyl (mono nylon) yang digunakan untuk mencetak gambar pada benda atau media yang akan disablon. Kain ini berpori-pori dan bertekstur sangat halus menyerupai kain sutera. Lubang poripori screen ini berfungsi untuk menyaring dan menentukan jumlah zat warna yang keluar. Ada bermacam-macam kain screen, jenis
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 27
kain screen terbagi atas kualitas, bahan dasar serat, warna, dan besar kecilnya lubang (Budiyono, et al., 2008: 375). Berdasarkan sistem penomoran monyl, Sadhori berpendapat Sistem penomoran monyl didasarkan pada banyaknya poripori kain tersebut dalam setiap satuan luas bidang tertentu
1996:
12). Lebih lanjut, Sadhori menjelaskan bahwa semakin tinggi nomor monyl, semakin banyak pula jumlah pori-pori kain tersebut dalam setiap satuan luas bidang tertentu, yang berarti bahwa kain tersebut semakin halus. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah nomor monyl, berarti semakin sedikit pori-pori yang terdapat pada kain tersebut dalam setiap luas bidang tertentu, yang berarti bahwa kain tersebut semakin kasar. Secara umum, ukuran atau nomor monyl dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu: a) Monyl halus, nomor 180 T sampai 200 T, b) Monyl sedang, nomor 120 T sampai 150 T, c) Monyl kasar, nomor 60 T sampai 90 T. T adalah kependekan dari Thick, yaitu satuan kerapatan lubang pori-pori pada monyl (1996: 12-13). b) Rakel
Gambar 2.3. Rakel (Budiyono, et al., 2008: 376)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 28
Rakel merupakan alat yang digunakan untuk menyaput zat warna ke atas permukaan kain atau media cetak. Terbuat dari karet yang dijepit pada kayu atau aluminium. Ada lima jenis rakel: tumpul, bulat, lancip, miring, dan persegi (Budiyono, et al., 2008: 376). Berdasarkan tinta yang digunakan untuk menyablon, rakel dibedakan menjadi dua, yaitu rakel yang digunakan untuk menyablon dengan tinta berbasis minyak dan rakel yang digunakan untuk menyablon dengan tinta berbasis air (Sandjaja, 1996: 34). Lebih lanjut lagi, Sandjaja (2006: 34) mengemukakan bahwa
yang berbasis minyak, karena pelarut tinta berbasis minyak akan
Rakel berdasarkan ukuranya, dibedakan menjadi: rakel berukuran 5 cm, 7,5 cm, 15 cm, 30 cm, dan sebagainya. Berkaitan dengan
hal
tersebut,
Sandjaja (2006)
menjelaskan
bahwa
is ukuran ini, ditentukan berdasarkan luas screen yang digunakan dan luas objek yang akan disablonkan. Makin luas objek yang akan disablonkan dan makin luas screen yang digunakan, mak (hlm. 35). c)
Meja Afdruk dan Meja Cetak Berkaitan
dengan
mengemukakan bahwa
meja
afdruk,
Budiyono,
et
al.
afdruk selain menggunakan sinar
matahari dapat juga dilakukan dengan menggunakan meja yang dilengkapi dengan lampu neon / TL untuk menghemat energi (terutama digunakan apabila cuaca mendung atau hujan) 377). Berkaitan dengan pengadaan meja cetak, baik yang dibuat sendiri maupun yang membeli jadi sebaiknya permukaan meja menggunakan kaca bening yang tebal. Penggunaan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 29
meja kaca selain berfungsi sebagai meja cetak, digunakan juga sebagai meja jiplak pembuatan gambar dan untuk meja afdruk (K. Arifien, 2011: 10).
Gambar 2.4. Meja Afdruk (K. Arifien, 2011: 11) d) Meja Gambar
Gambar 2.5. Meja Gambar (Budiyono, et al., 2008: 102)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 30
Berkaitan dengan meja gambar, seorang ahli menyebutkan
dicetakkan. Objek digambar di atas sehelai kertas, plastik transparan, mika, atau film bekas Xray (film bekas foto Rontgen). Meja ini tidak harus disediakan secara khusus, dapat juga digunakan meja biasa. Namun, apabila ingin menyediakan secara khusus, sebaiknya digunakan meja dengan daun meja yang dibuat 28-29). e) Kodatrace Berkaitan dengan kodatrace, Budiyono, et al. (2008) Kodatrace digunakan sebagai film diapositif yaitu untuk memisah motif tiap warna sebelum diafdruk 377). f) Kipas Angin Kipas angin digunakan untuk mengeringkan screen setelah dilapisi dengan bahan coating atau untuk mengeringkan hasil cetakan yang tidak dapat dikeringkan dengan cara pemanasan (Sandjaja, 2006: 37). Pendapat tersebut diperkuat lagi oleh ahli lainnya yang
pengeringan obat afdruk (jika mengafdruk film sendiri), dan pengeringan hasil sablonan (jika perlu 12).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 31
Gambar 2.6. Mengeringkan Screen Menggunakan Kipas Angin (Sadhori, 1996: 20) g) Hand Sprayer Pendapat mengenai hand sprayer dikemukakan oleh seorang ahli yang mengatakan bahwa: Penyemprot air (handsprayer) digunakan untuk proses pengembangan acuan cetak (merontokkan obat afdruk pada screen) ketika proses pengafdrukan. Untuk membantu pencucian layar screen dari cat yang campurannya air atau untuk proses penghapusan acuan cetak pada screen Arifien, 2011: 12-13).
Gambar 2.7. Penyemprotan Air pada Screen Menggunakan Hand Sprayer (Sandjaja, 2006: 100)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 32
Pendapat tersebut dilengkapi oleh ahli lainnya yang menyebutkan bahwa Selain alat penyemprot yang telah disebutkan diatas, dikenal pula alat semprot khusus untuk penyablonan yang sudah barang tentu berharga lebih mahal. Alat khusus ini disebut Tenix Stencil Sprayer 400. Dengan alat ini, lembut dan kencangnya aliran air dapat diatur dengan mudah (Sandjaja, 2006: 39). h) Palet Palet merupakan tempat untuk mencampur cat poster atau tinta warna dalam proses desain, tinta cina atau opaque ink dalam proses traces dan pasta warna dalam proses colet (Budiyono, et al., 2008: 378).
Gambar 2.8. Palet (Budiyono, et al., 2008: 378) i) Setrika Setrika digunakan untuk menghaluskan atau merapikan bahan sebelum disablon dan sesudah disablon. Kaos atau kain yang telah selesai disablon, harus disetrika agar tinta yang melekat di kaos atau kain tersebut tidak luntur (Sandjaja, 2006: 39).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 33
Gambar 2.9. Setrika (Budiyono, et al., 2008: 105) j) Gelas Ukur dan Mangkuk Plastik Gelas ukur digunakan untuk mengukur bahan zat cair yang memerlukan ketepatan ukuran jumlah dalam cc. Gelas ukur biasanya digunakan untuk mengukur penggunaan pigmen atau zat pewarna tinta. Mangkuk plastik digunakan sebagai tempat mengolah obat peka cahaya yang berupa serbuk (Yani, 2004: 26). k) Alat-alat Takaran (Timbangan) Fungsi dari alat-alat takaran dikemukakan oleh seorang ahli -bahan yang dipergunakan untuk menyablon baik yang dipergunakan untuk afdruk
(bahan-bahan
negatif)
maupun
bahan-bahan
yang
dipergunakan untuk mencetak (tinta / cat sablon), selalu dipergunakan alatBerkaitan dengan timbangan, seorang ahli berpendapat Timbangan yang diperlukan adalah yang dapat digunakan untuk menimbang dalam satuan gram. Dalam hal ini, timbangan kue sudah cukup memadai digunakan dalam penyablonan (Sandjaja, 2006: 37).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 34
l) Pengaduk Pengaduk digunakan untuk mengaduk pasta warna supaya rata dan digunakan pula untuk menuangkannya ke permukaan screen. Benda yang dapat digunakan sebagai pengaduk misalnya sendok (Budiyono, et al., 2008: 380). m) Kuas Fungsi dari kuas dikemukakan oleh seorang ahli yang menyatakan bahwa: Kuas kecil ini digunakan untuk menusir screen yang telah dikembangkan. Adanya lubang-lubang pada screen yang tidak dikehendaki dapat ditutup dengan bahan coating dengan mempergunakan kuas kecil ini. Sementara kuas yang besar digunakan untuk melapisi screen dengan bahan coating atau untuk melapisi screen yang sudah jadi dengan Varnish agar tahan lama (khusus untuk screen yang digunakan untuk menyablon dengan tinta berbasis air) (Sandjaja, 2006: 35).
Gambar 2.10. Kuas (Budiyono, et al., 2012: 107) n) Papan Landasan Mengenai papan landasan, Budiyono, et al. menyatakan
commit to user
ripek sebagai penyangga
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 35
screen pada waktu proses afdruk, sedangkan papan yang dilapisi busa blanket dilapisi perekat/lem kain (Hidronal G), dan sebagai papan landasan pada penyablonan T-Shirt atau kain yang
o) Kain Hitam Fungsi kain hitam dikemukakan oleh seorang ahli yang -sama dengan karet busa untuk mencegah terjadinya kebocoran sinar dari samping. Luas kain hitam yang digunakan sebaiknya lebih luas dari screen p) Isolasi Bening Fungsi dari isolasi bening dikemukakan oleh seorang ahli yang menyebutkan bahwa
katkan kodatrace atau
kertas motif pada saat afdruk supaya tidak geser, untuk menutup bagian tepi screen sebelum (Budiyono, et al., 2008: 381). q) Karet Busa Karet busa yang digunakan biasanya memiliki ketebalan antara 5 cm sampai 10 cm. Fungsi karet busa dinyatakan oleh untuk menyangga bagian dalam screen pada waktu afdruk supaya permukaan screen datar
.
Dengan adanya berbagai macam ukuran luas screen, karet busa yang digunakan harus pula sesuai dengan ukuran luas screen yang digunakan, sebab karet busa tersebut nantinya akan dimasukkan kedalam bingkai screen untuk mencegah masuknya sinar dari samping ke dalam screen. Jadi, bantalan karet busa ini digunakan untuk mencegah terjadinya kebocoran sinar yang menyinari screen. Disamping itu, bantalan ini digunakan pula agar film dapat merekat lebih erat dan rata pada screen saat ditekan, sehingga tidak mudah tergeser saat proses penyinaran. Apabila pada waktu penyinaran terjadi geseran dari film
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 36
diatas screen, maka hasil cetakan pada screen menjadi tidak lagi tajam (jelas) (Sandjaja, 2006: 36). r) Kaca Bening Fungsi kaca bening dikemukakan oleh Budiyono, et al. untuk menutup dan menekan kodatrace pada waktu penyinaran dengan sinar matahari atau pada meja afdruk dengan lampu (hlm. 382). Pendapat
tersebut
ditambahkan
oleh
Sandjaja
yang
kaca tebal 10 mm agar tidak mudah pecah, sebab kaca tersebut akan digunakan untuk menekan screen supaya menempel kuat pada film. Luas kaca yang digunakan jangan lebih kecil dari luas screen (2006: 37). 2) Bahan Cetak Saring Bahan-bahan yang diperlukan dalam proses pembuatan karya tekstil dengan teknik cetak saring yaitu: bahan atau media cetak, kertas gambar, pensil warna atau cat poster, opaque ink, zat warna untuk sablon, obat peka cahaya, penghapus screen, Hidronal G, tinta cetak, dan sabun colet. a) Bahan atau Media Cetak Berkaitan dengan bahan atau media cetak, seorang ahli berpendapat bahwa: menjadi objek sasaran sablon. Benda sasaran sablon banyak macamnya, sebab penyablonan bisa dilakukan pada segala dasar, seperti pada macam-macam kertas bahan tekstil, plastik, kaca, imitasi, kulit, kayu, logam, tembaga, seng dan
b) Alat Tulis Alat-alat tulis yang dimaksudkan disini adalah kertas gambar, pensil warna, spidol, cat poster, tinta cina, dan lain
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 37
sebagainya. Kertas gambar digunakan sebagai media untuk membuat desain yang akan disablon. Pensil warna dan cat poster digunakan sebagai alat untuk mendesain dan membedakan warna yang akan dipisahkan (Sandjaja, 2006: 44). c)
Opaque Ink Fungsi dari opaque ink dikemukakan oleh Budiyono, et al., yang menyatakan bahw
Opaque Ink untuk menggambar
memisahkan motif tiap warna pada kodatrace (2008: 384). d) Zat Warna untuk Sablon Hampir semua zat warna pada tekstil dapat digunakan dalam proses penyablonan namun zat warna pigmen paling banyak digunakan (Budiyono, et al., 2008: 385). Keistimewaan cat pigmen yaitu: siap pakai; warna cemerlang; untuk menyablon diatas warna gelap, dapat dicampur dengan pigmen putih; tidak luntur dan merata setelah disablon; dan hasil sablonan lembut (K. Arifien, 2011: 61). e)
Obat Peka Cahaya Obat peka cahaya merupakan larutan pokok dalam proses afdruk screen, yaitu campuran antara emulasi dan sensitizer (cairan peka cahaya). Bahan ini terdapat dalam satu kemasan dus kecil yang berisi dua buah botol. Botol besar berisi cairan emulasi, dan botol kecil berisi cairan sensitizer. Berfungsi untuk melapisi screen pada proses afdruk, pelapisan dilakukan pada ruang gelap atau pada cahaya lampu merah (infra red) (Budiyono, et al., 2008: 384-385).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 38
Gambar 2.11. Merk Dagang Bahan Coating (Obat Peka Cahaya) (Sandjaja, 2006: 44) Beberapa merk dagang obat peka cahaya yang banyak beredar di pasaran, antara lain: Chromatine, Ulano TZ, Ultrasol TS, PhotoXol TS, Ulano 133, PhotoXol 199, dan Ulano 569 (High Resolution Emulsion) (Sandjaja, 2006: 44-46). f) Penghapus Screen Pendapat mengenai penghapus screen dikemukakan oleh, Sandjaja (2006)
Bahan penghapus screen digunakan untuk
menghapus objek yang telah dicetak diatas screen, sehingga dengan demikian, screen akan tampak seperti baru dan siap dig
50). Bahan yang berfungsi sebagai penghapus screen ada empat
yaitu: soda api, sodium hipochloride, pregnant paste, dan Reducer PVC (K. Arifien, 2011: 22-27). g) Hidronal G Hidronal G atau lem kain digunakan untuk menempelkan kain atau kaos yang akan disablon supaya permukaan rata dan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 39
tidak lepas pada penyablonan berikutnya (Budiyono, et al., 2008: 386). h) Tinta Cetak Jenis tinta yang digunakan dalam penyablonan dibedakan menjadi dua, yaitu tinta berbasis minyak dan tinta berbasis air. Tinta berbasis minyak umumnya digunakan untuk menyablon bahan-bahan seperti halnya kertas, plastik, kulit imitasi, karet, kaca, dan logam. Tinta berbasis minyak yang sering digunakan antara lain: Tinta PVC, Tinta Polystuf SG, Tinta Polymate G, Toyo PVC Varnish, Tinta SJ Buatan Royal Guard, Royal Spon (Royal Guard). Tinta berbasis air digunakan khusus untuk menyablon kain dan kaos. Tinta berbasis air yang sering digunakan antara lain: Medium NF, Pelarut GU, Medium Polysol, Medium Super, White Paste, Pasta Warna Karet, Rubber Pearl, dan Rubber Transparant (Sandjaja, 2006: 52-59). i)
Sabun Colet
Gambar 2.12. Pembersihan Screen Menggunakan Sabun Colet (Sandjaja, 2006: 100)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 40
Fungsi sabun colet dikemukakan oleh Budiyono, et al. yaitu sebagai
pencuci
screen
setelah
penyablonan
untuk
menghilangkan sisa warna (2008: 386). 5. Pembelajaran Cetak Saring Pembelajaran cetak saring adalah interaksi belajar mengajar yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik dengan tujuan menguasai kompetensi cetak saring atau sablon melalui tahap teori dan praktikum. Tujuan akhir dari pembelajaran cetak saring adalah: 1) Mengenal macam dan jenis bahan peka cahaya (obat afdruk). 2) Mengenal macam dan jenis bahan penghapus obat afdruk. 3) Mengenal bahan penguat lapisan obat afdruk screen sheet. 4) Mengenal macam-macam peralatan cetak saring. 5) Melakukan perawatan bahan dan peralatan cetak saring. 6) Melakukan pencampuran bahan peka cahaya maupun bahan cetak. 7) Melakukan pelapisan bahan peka cahaya (obat afdruk) pada screen di ruang gelap. 8) Melakukan pengeringan hasil pengolesan bahan peka cahaya (obat afdruk). 9) Melakukan penyemprotan untuk menimbulkan gambar pada screen. 10) Melakukan perbaikan gambar pada screen dari hasil pengafdrukan. 11) Melakukan persiapan cetak sesuai benda yang dicetak. 12) melakukan pencetakan pada berbagai bentuk benda cetak (Yani, 2004: 13-15). Peserta didik yang telah mengikuti kompetensi dasar membuat kriya tekstil cetak saring menggunakan film atau kodatrace dengan baik dan sungguh-sungguh akan memiliki nilai tambah yang mengakibatkan adanya perubahan sikap dalam diri peserta didik. Perubahan tersebut dapat dilihat dalam bentuk penguasaan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor). Hasil pembelajaran cetak saring menggunakan film atau kodatrace diharapkan dapat berpengaruh pada persiapan peserta didik untuk mengikuti praktik kerja industri di usaha sablon. Manfaat hasil belajar cetak saring ditinjau dari aspek kognitif yaitu: 1) Penguasaan pengetahuan konsep dasar pengertian cetak saring. 2) Pengetahuan fungsi alat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 41
dan bahan. 3) Pengetahuan langkah dan proses mengafdruk film. 4) Pengetahuan langkah membuat kriya tekstil cetak saring menggunakan film atau kodatrace sebagai kesiapan mengikuti praktek kerja industri di usaha sablon. Manfaat hasil belajar cetak saring ditinjau dari aspek afektif secara garis besar untuk: 1) Melatih dan meningkatkan sikap ketelitian, 2) Meningkatkan motivasi. 3) Mengembangkan kemampuan dan wawasan. 4) Menerima kritik dan saran dari guru dan teman. Manfaat hasil belajar cetak saring ditinjau dari aspek psikomotor yaitu; 1) Keterampilan dalam menggunakan alat dan bahan. 2) Keterampilan dalam membuat desain motif. 3) Keterampilan dalam melakukan proses afdruk. 4) Keterampilan membuat kriya tekstil dengan teknik cetak saring sebagai kesiapan untuk mengikuti praktek kerja industri di usaha sablon (Yuniarti, 2012: 131-137). B. Kerangka Berpikir Kerangka berpikir merupakan alur penalaran yang didasarkan pada masalah penelitian. Kerangka ini digambarkan dengan skema secara sistematis. Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: SMK Negeri 9 Surakarta
Program Keahlian Kriya Tekstil
Mata Pelajaran Produktif Cetak Saring
Kurikulum Silabus RPP Pelaksanaan pembelajaran : 1. Tujuan pembelajaran 2. Materi Pembelajaran 3. Metode Pembelajaran 4. Media Pembelajaran 5. Evaluasi Pembelajaran
Bagan 2.2. Kerangka Berpikir
commit to user
Hasil Belajar Cetak Saring
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 42
Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dapat diukur pada hasil yang telah dicapai. SMK Negeri 9 Surakarta memiliki beberapa program keahlian, salah satunya adalah program keahlian kriya tekstil. Program keahlian ini memiliki beberapa mata pelajaran produktif kriya tekstil yang wajib ditempuh oleh peserta didik dengan batas ketuntasan minimal 75.00. Salah satu mata pelajaran ini adalah cetak saring. Pelaksanaan pembelajaran cetak saring di SMK Negeri 9 Surakarta mengacu pada kurikulum, silabus, dan RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran).
Penelitian
ini difokuskan pada pelaksanaan
pembelajaran, yang dilihat dari tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajarn, evaluasi pembelajaran, dan hasil belajar cetak saring.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 43
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kota Surakarta, tepatnya di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 9 Surakarta, Jalan Taruma Negara, Banyuanyar, Banjasari, Surakarta, Kode Pos: 57137. Telepon (0271) 716320. Lokasi tersebut dipilih karena cetak saring telah menjadi salah satu mata pelajaran produktif kriya tekstil yang wajib ditempuh oleh peserta didik program keahlian kriya tekstil. Hal ini dapat dibandingkan dengan Sekolah Menengah lainnya di Kota Surakarta, dimana materi mengenai cetak saring hanya menjadi salah satu bab atau kompetensi dari mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Penelitian ini telah dilaksanakan selama enam bulan, yaitu mulai bulan Februari sampai Juli tahun 2012, yang meliputi kegiatan persiapan sampai dengan selesainya penulisan laporan penelitian. Tetapi tidak menutup kemungkinan waktu penelitian ini dipersingkat atau diperpanjang sampai data yang diperlukan terpenuhi. B. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1.
Pendekatan Penelitian Pengertian mengenai pendekatan dikemukakan oleh Massofa bahwa pendekatan
adalah
pengakuan
terhadap
hakikat
ilmiah
suatu
ilmu
pengetahuan. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian (2011). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskrptif kualitatif. Pandangan mengenai penelitian kualitatif dikemukakan oleh Nasution kualitatif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya Pendapat lain mengenai pendekatan kualitatif juga dikemukakan oleh Afifuddin dan Saebani bahwa metode penelitian kualitatif disebut juga sebagai
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 44
metode naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting). Metode penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data yang mengandung makna (2009: 57). Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Bagdan dan Taylor dalam
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-
. Pandangan lain juga
dikemukakan oleh Bagdan dan Bliken dalam (Meleong, 2001: 5) mengenai metode kualitatif yaitu sebagai berikut: Metode deskritif digunakan karena beberapa pertimbangan, pertama menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan pada kenyataan ganda; Kedua, metode ini menyajikan langsung hakekat hubungan antara peneliti dan responden; Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. 2. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded research). Pengertian studi kasus dikemukakan oleh Yin fenomena di dalam konteks kehidupan nyata bilamana: batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas; dan dimana: multi sumber bukti dimanfaatkan (1997: 18). Pengertian studi kasus tunggal dikemukakan
bilamana penelitian tersebut terarah pada satu karakteristik
(2002: 112).
Berkaitan dengan penelitian terpancang, Sutopo (2002: 112) berpendapat bahwa penelitian terpancang merupakan suatu langkah sebelum melakukan penelitian harus memliki dan menentukan variabel yang menjadi fokus utamanya namun tetap terbuka dengan sifat interaktif dan variabel utamanya. Berdasarkan
pengertian
tersebut
maka
penelitian
ini
hanya
mengarahkan kegiatan penelitian pada satu sasaran saja (satu lokasi atau subjek), namun tidak melepaskan fokus penelitianya karena sifatnya utuh. Jumlah sasaran (lokasi studi) tidak menentukan suatu penelitian berupa studi kasus tunggal ataupun ganda. Misalnya, meski penelitian dilakukan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 45
dibeberapa lokasi (beberapa kelompok, atau sejumlah pribadi), kalau sasaran studi tersebut memiliki karakteristik yang sama atau seragam, maka penelitian tersebut tetap merupakan studi kasus tunggal (Sutopo, 2002 : 112). Berdasarkan pernyataan tersebut, yang terpenting bukan jumlah lokasi atau
sasaran
studinya,
tetapi
adanya
kesamaannya. Penelitian ini
perbedaan
karakteristik
atau
dilaksanakan di satu tempat,
yaitu di SMK Negeri 9 Surakarta da
dilaksanakan di
kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil. C. Data dan Sumber Data Penelitian tidak pernah terlepas dari persoalan sumber data karena datadata yang lengkap dan valid tidak akan diperoleh tanpa adanya sumber data. Pengertian data menurut Herdiansyah (2010: 116) yang diperoleh melalui suatu metode pengumpulan data yang akan diolah dan dianalisis dengan suatu metode tertentu yang selanjutnya akan menghasilkan suatu Lebih lanjut lagi
terdiri dari beragam jenis, bisa berupa orang, peristiwa dan tempat atau lokasi, benda serta
penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lainData yang diambil dan digunakan dalam penelitian ini adalah data-data yang berkaitan dengan pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. Data-data tersebut adalah: 1. Laporan hasil wawancara dengan para informan, yaitu: Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn., Bapak Drs. Budi Susanto, Wika, Ayu Heni Puspitasari, Jatmini, Tutik Kurnia Sari, Indri Mayarita, dan Eko Siti Wahyuni. 2. Foto saat pembelajaran berlangsung dan dokumentasi hasil karya siswa. 3. Kurikulum Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. 4. Silabus mata pelajaran produktif cetak saring.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 46
5. RPP mata pelajaran cetak saring. 6. Raport hasil belajar siswa Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. Penelitian ini menggunakan sumber data berupa: informan, tempat dan peristiwa, serta dokumen dan arsip. 1. Informan Informan adalah narasumber yang memiliki dan mampu memberikan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Peneliti dan informan disini memiliki kedudukan yang sama, dan informan bukan sekedar memberikan tanggapan yang diminta peneliti, tetapi ia bisa lebih memilih arah dan selera dalam penyajian informasi yang dimilikinya. Informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Guru mata pelajaran produktif cetak saring di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yaitu: 1) Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn. 2) Bapak Drs. Budi Susanto. b. Siswa kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yang dipilih berdasarkan perbandingan nilai raport yang selama ini mereka peroleh, yaitu yang hasil raportnya kurang baik, cukup baik, dan baik. Masing-masing dipilih 2 siswa, jadi dari 32 siswa, yang dijadikan informan berjumlah 6 siswa, yaitu sebagai berikut: 1) Wika. 2) Ayu Heni Puspitasari. 3) Jatmini. 4) Tutik Kurnia Sari. 5) Indri Mayarita. 6) Eko Siti Wahyuni.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 47
2. Tempat dan Peristiwa Pendapat mengenai tempat sebagai sumber data dikemukakan oleh Sutopo bahwa data dan informasi dapat dikumpulkan dari tempat atau lokasi yang berkaitan dengan sasaran atau permasalahan penelitian (2002: 52-53). Tempat penelitian ini dilaksanakan di bengkel tekstil SMK Negeri 9 Surakarta karena proses pembelajaran cetak saring dilaksanakan disana, baik pelajaran teori maupun praktek. Pendapat mengenai peristiwa sebagai sumber data dikemukakan oleh Sutopo bahwa data atau informasi juga akan dikumpulkan dari berbagai peristiwa, aktivitas, atau perilaku sebagai sumber data yang berkaitan dengan sasaran atau permasalahan penelitian (2002: 51-52). Peristiwa, aktivitas, atau perilaku yang diamati dalam penelitian ini adalah peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran cetak saring, baik itu saat proses pelajaran teori maupun praktek. 3. Dokumen dan Arsip Pengertian dokumentasi dan arsip dikemukakan oleh Sutopo (2002: 54) bahwa dokumen adalah rekaman atau bukti yang berupa catatan (tertulis), foto (gambar) atau film atau rekaman suara, dan peninggalan-peninggalan yang berkaitan dengan aktivitas atau peristiwa tertentu sedangkan arsip adalah surat-surat penting yang bersifat formal dan terencana dan merupakan catatan rekaman dalam sebuah organisasi atau instansi. Berdasarkan pengertian tersebut, perbedaan antara dokumen dan arsip dapat dilihat dari sifatnya, dokumen bersifat nonformal sedangkan arsip bersifat formal. Untuk mengkaji sebuah dokumen dan arsip, penelitian sebaiknya tidak hanya mencatat apa yang tertulis, tetapi juga berusaha menggali dan menangkap makna yang tersirat dari dokumen dan arsip tersebut. Dokumen dan arsip yang telah dikaji dalam penelitian ini antara lain: kurikulum Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta, silabus mata pelajaran produktif cetak saring, RPP mata pelajaran produktif cetak
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 48
saring, dan raport hasil belajar siswa Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. D. Teknik Pengambilan Sampel (Cuplikan) Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel yang bersifat purposive sampling atau sampel bertujuan. Pendapat mengenai purposive sampling
Purposive
sampling adalah teknik untuk memilih informan yang dianggap mengetahui masalah secara mendalam dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap
02: 56). Teknik ini dipilih karena dalam proses pengumpulan data, pilihan
informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kevalidan data. Satuan kajian atau sampel yang telah di purposive dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil dan guru mata pelajaran produktif cetak saring, sehingga pengumpulan data akan dipusatkan disekitar mereka. Data yang telah dikumpulkan adalah data-data mengenai proses pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. Data-data tersebut adalah: 1. Laporan hasil wawancara dengan para informan, yaitu: Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn., Bapak Drs. Budi Susanto, Wika, Ayu Heni Puspitasari, Jatmini, Tutik Kurnia Sari, Indri Mayarita, dan Eko Siti Wahyuni. 2. Foto saat pembelajaran berlangsung dan dokumentasi hasil karya siswa. 3. Kurikulum Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. 4. Silabus mata pelajaran produktif cetak saring. 5. RPP mata pelajaran cetak saring. 6. Raport hasil belajar siswa Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. E. Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan data merupakan langkah bagi peneliti yang harus digunakan dalam mengadakan suatu penelitian agar memperoleh data sesuai dengan yang diharapkan dan dapat dipertanggung jawabkan. Teknik pengumpulan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 49
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. 1. Wawancara Definisi wawancara menurut Swewart dan Cash dalam (Herdiansyah,
didalamnya terdapat pertukaran atau berbagi aturan, tanggung jawab, perasaan, kepercayaan, motif, dan informasi. Wawancara bukanlah suatu kegiatan dengan kondisi satu orang melakukan/memulai pembicaraan
Tujuan wawancara secara lengkap dikemukakan oleh Nasution yaitu
pikiran dan hati orang lain, bagaimana pandangannya tentang dunia, yaitu hal-
Penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur atau sering disebut wawancara mendalam. Pengertian wawancara tidak terstruktur
tidak terstruktur, yaitu wawancara yang lebih bebas, lebih mendalam, dan menjadikan pedoman wawancara sebagai pedoman umum dan garis-garis
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan pertanyaan yang open-ended dan mengarah pada kedalaman informasi, serta dilakukan dengan cara yang tidak secara formal terstruktur, guna menggali pandangan subjek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaat untuk menjadi dasar bagi penggalian informasi yang lebih mendalam lagi. Dalam penelitian ini, wawancara yang dilakukan peneliti cenderung bersifat luwes. Susunan kata-kata dalam setiap pertanyaan hampir selalu berubah disesuaikan dengan kondisi, karakter, serta kedudukan informan. Cara peneliti bertanya kepada guru mata pelajaran cetak saring cenderung lebih sopan sedangkan saat bertanya kepada para siswa cenderung lebih santai
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 50
dengan mengunakan bahasa sehari-hari. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan kepada: a. Guru mata pelajaran produktif cetak saring di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. 1) Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn. yang diwawancarai pada tanggal 19 Mei 2012. 2) Bapak Drs. Budi Susanto yang diwawancarai pada tanggal 19 Mei 2012. b. Siswa kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yang dipilih berdasarkan perbandingan nilai raport yang selama ini mereka peroleh, yaitu yang hasil raportnya kurang baik, cukup baik dan baik. Masing-masing dipilih 2 siswa, jadi dari 32 siswa, yang telah diwawancarai berjumlah 6 siswa yaitu: 1) Wika, diwawancarai pada tanggal 12 Mei 2012. 2) Ayu Heni Puspitasari, diwawancarai pada tanggal 12 Mei 2012. 3) Jatmini, diwawancarai pada tanggal 12 Mei 2012. 4) Tutik Kurnia Sari, diwawancarai pada tanggal 12 Mei 2012. 5) Indri Mayarita, diwawancarai pada tanggal 12 Mei 2012. 6) Eko Siti Wahyuni, diwawancarai pada tanggal 12 Mei 2012. 2.
Observasi Definisi dari observasi dikemukakan oleh Cartwright dan Cartwright dalam (Herdiansyah, 2010: 131) yaitu
uatu proses melihat, mengamati,dan
perilaku secara sistematis untuk suatu tujuan
Tujuan mengenai teknik observasi dikemukakan oleh Sutopo bahwa
berupa peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda serta rekaman gambar (2002: 64). Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Patton dalam (Afifuddin dan Saebani
adalah mendeskripsikan setting yang
dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 51
dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang
Penelitian ini menggunakan teknik observasi langsung karena peneliti mendatangi lokasi penelitian secara langsung, yaitu di bengkel tekstil SMK Negeri
9
Surakarta
dan
mengadakan
pengamatan
terhadap
proses
pembelajaran cetak saring. Peneliti juga telah berperan pasif agar kehadiran peneliti tidak mengganggu proses pembelajaran cetak saring yang tengah berlangsung. Kegiatan peneliti hanya mengamati dan mencatat proses pembelajaran cetak saring. 3. Dokumentasi Definisi mengenai dokumentasi dikemukakan oleh Herdiansyah (2010: 143) bahwa: Studi dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang subjek. Studi dokumentasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media tertulis dan dokumen lainnya yang ditulis atau dibuat langsung oleh subjek yang bersangkutan. Pandangan mengenai teknik dokumentasi juga dikemukakan oleh
sumber manusia atau human resources, melalui observasi atau wawancara. Akan tetapi ada pula sumber bukan manusia, non human resources, di antaranya dokumen, foto dan bahan statistik (1996: 85). Keuntungan dari data non human resources ini adalah sumber data ini kebanyakan sudah tersedia di lapangan dan siap pakai. Bila data yang terdapat dalam berbagai dokumen ini melimpah, seorang peneliti dapat membangun suatu grounded theory. Berdasarkan apa yang diungkapkan subjek lewat narasinya, dan dikonfrontasikan dengan data dari sumberyang pada tahap akhirnya dapat dikonfirmasikan oleh subjek penelitian, atau anggota kelompoknya seandainya yang bersangkutan tidak bisa dihubungi lagi atau sudah meninggal dunia. (Mulyana, 2006: 198).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 52
Dokumentasi merupakan langkah yang telah ditempuh dalam penelitian ini untuk mendapatkan data berupa: foto pembelajaran cetak saring dan dokumentasi hasil karya siswa, Kurikulum Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta, Silabus mata pelajaran produktif cetak saring, RPP mata pelajaran cetak saring, dan Raport hasil belajar siswa Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta. F. Uji Validitas Data Data merupakan sesuatu yang harus diuji kebenaran dan keabsahannya setelah berhasil digali, dikumpulkan, dan dicatat dalam kegiatan penelitian. Peneliti harus mampu memilih dan menentukan cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yang diperolehnya. Pandangan mengenai uji validitas data dikemukakan oleh Sutopo bahwa peneliti dapat memperoleh suatu keabsahan data dalam penelitian kualitatif antara lain menggunakan teknik triangulasi dan review informan (2002: 77-78). Berpijak pada pandangan Sutopo tersebut maka uji validitas data dalam penelitian ini dilakukan melalui triangulasi sumber atau yang biasa disebut triangulasi data dan review informan. 1. Triangulasi Sumber Definisi dari triangulasi dikemukakan oleh Moleong (2001: 178) bahwa
sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembandi
.
Tujuan triangulasi ialah menchek kebenaran data tertentu dengan membandingkannya dengan data yang diperoleh dari sumber lain, pada berbagai fase penelitian lapangan pada waktu yang berlainan, dan sering dengan menggunakan metode yang berlainan. Procedure ini sangat banyak memakan waktu, akan tetapi di samping mempertinggi validitas juga memberikan kedalaman hasil penelitian. (Nasution, 1996: 115). Penelitian
ini
menggunakan
triangulasi
sumber,
yaitu
peneliti
membandingkan data yang diperoleh dengan data lainnya atau sumber lain
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 53
untuk saling melengkapi sehingga diperoleh kebenaran dan keabsahan data. Hal ini serupa dengan pendapat Sutopo (2002) yang menyatakan bahwa: Cara ini mengarahkan peneliti agar di dalam mengumpulkan data, ia wajib menggunakan beragam sumber data yang tersedia. Artinya data yang sama atau sejenis, akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Dengan demikian apa yang diperoleh dari sumber yang satu, bisa lebih teruji kebenarannya bilamana dibandingkan dengan data sejenis yang diperoleh dari sumber lain yang berbeda, baik kelompok sumber sejenis maupun sumber yang berbeda jenisnya (hlm. 79). Dalam penelitian ini, triangulasi sumber digunakan untuk menutup kekurangan data dari salah satu informan yang dapat dilengkapi oleh informan lainnya sehingga data hasil wawancara dapat teruji kebenaran dan keabsahannya. Tringulasi sumber dalam penelitian ini yaitu membandingkan hasil wawancara dari para siswa kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil dengan guru mata pelajaran produktif cetak saring. 2.
Review Informan Review informan diartikan sebagai pemeriksaan kembali data-data yang terkumpul terhadap sumber-sumber informasi untuk mendapatkan kebenaran dan keabsahan dari data-data tersebut. Review informan dilakukan pada saat pengumpulan data dirasa cukup lengkap. Sajian data yang telah disusun perlu dikomunikasikan dengan informannya, walaupun sajian data tersebut mungkin belum utuh dan menyeluruh. Laporan hasil wawancara dalam penelitian ini telah dicek kembali oleh para informan yaitu guru mata pelajaran produktif cetak saring dan para siswa kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta sehingga data-data yang diperoleh peneliti terbukti kebenaran dan keabsahannya. G. Analisis Data Pengertian mengenai analisis data dikemukakan oleh Afifuddin dan
Saebani (2009: 145 mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 54
ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan . Tujuan dari analisis data adalah menemukan teori. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan model analisis interaktif. Proses penyeleksian data dalam model analisis ini berlangsung dari awal penelitian dan direduksi untuk disajikan dalam bentuk teks naratif, tabel, gambar, dan rekaman visual. Langkah berikutnya adalah menginterpretasikan data tersebut sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan. Menurut pandangan Miles
bersamaan yaitu: (1992: 16). Berdasarkan pandangan Miles dan Huberman maka penelitian ini menggunakan ketiga alur tersebut. 1. Reduksi Data Pandangan mengenai reduksi data dikemukakan oleh Sutopo bahwa data merupakan komponen pertama dalam analisis yang merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi data dari fieldnote (2002: 91). Reduksi data dimulai dari awal pengambilan keputusan tentang kerangka kerja, pemilihan topik atau rumusan masalah, menyusun pertanyaan penelitian, sampai menentukan langkah-langkah pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini. Pada tahap ini, laporan lapangan yang dianggap sebagai bahan mentah, disusun secara sistematis, dipilih data-data pokok yang penting, difokuskan dan dicari tema serta polanya agar lebih mudah untuk disimpulkan. 2. Sajian Data Komponen analisis data yang kedua dalam penelitian ini adalah sajian data. Sajian data merupakan rakitan kalimat yang disusun secara logis dan sistematis
sehingga
memungkinkan
peneliti
untuk
memahami
dan
menganalisis data-data yang telah diperoleh guna mempermudah proses penarikan kesimpulan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 55
Pandangan mengenai sajian data dikemukakan oleh Sutopo bahwa telah dirumuskan sebagai pertanyaan penelitian, sehingga narasi yang tersaji merupakan deskripsi mengenai kondisi yang rinci untuk menceritakan dan menjawab
Masalah dalam penelitian ini yaitu mengenai pembelajaran cetak saring di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yang dilihat dari: tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, motede pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan hasil belajar cetak saring. 3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Penarikan kesimpulan merupakan proses analisis data setelah reduksi data dan sajian data. Analisis yang dilakukan akan tampak jelas setelah peneliti melakukan penarikan kesimpulan. Mulai dari awal pengumpulan data, peneliti harus memahami dan menangkap makna dari berbagai hal yang ditemuinya. Proses verifikasi dilakukan setiap saat, selama penelitian ini berlangsung. Simpulan perlu diverifikasi agar cukup mantap dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu perlu dilakukan aktivitas pengulangan untuk tujuan pemantapan, penelusuran data kembali dengan cepat, mungkin sebagai akibat pikiran kedua yang timbul melintas pada peneliti pada waktu menulis sajian data dengan melihat kembali sebentar pada catatan lapangan (Sutopo, 2002: 93). Ketiga unsur analisis di atas saling berhubungan dan berlangsung terus menerus selama penelitian ini berlangsung. Saat pengumpulan data berakhir, peneliti akan bergerak diantara ketiga komponen analisis tersebut dengan memanfaatkan waktu yang tersisa. Proses analisis yang akan digunakan oleh peneliti ini disebut sebagai model analisis interaktif.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 56
Pengumpulan Data
Reduksi Data
Sajian Data
Penarikan Simpulan / Verifikasi Bagan 3.1. Model Analisis Interaktif (Sutopo, 2002: 96) H. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian merupakan tahap-tahap yang dilakukan oleh seorang peneliti dalam melakukan sebuah penelitian. Tahap-tahap yang telah ditempuh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Tahap Pra Lapangan Tahap pra lapangan dalam penelitian ini meliputi kegiatan: a) Memilih lokasi penelitian, yaitu di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta, b) Menyusun rancangan yang berupa proposal penelitian, c) Mengurus perizinan, yaitu surat izin dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, d) Mengadakan observasi lapangan, e) Menyiapkan perlengkapan penelitian. 2. Tahap Observasi Lapangan Tahap observasi lapangan merupakan aktivitas untuk mengetahui dan mengkaji lebih jauh tentang objek penelitian. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mendapatkan data dengan cara: a) Mengumpulkan data dengan observasi, b) Mengadakan wawancara dengan para informan, c) Membuat dokumentasi dengan memotret aktivitas di lapangan, d) Pengayaan review informan terhadap proses pembelajaran cetak saring.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 57
3. Tahap Analisis Data Tahap analisis data dilakukan setelah data-data yang diperlukan terkumpul. Tahap analisis data dalam penelitian ini meliputi: a) Reduksi data, b) Sajian data, c) Penarikan simpulan dan verifikasi. 4. Tahap Penyusunan Laporan Tahap terakhir dari prosedur penelitian ini adalah menyusun hasil laporan dari awal pelaksanaan hingga akhir penelitian, sampai tersusun skripsi secara lengkap.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian SMK Negeri 9 Surakarta atau yang lebih dikenal dengan nama SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) terletak di Jl. Tarumanegara, Banyuanyar, Banjarsari, Surakarta. Sekolah ini telah bersertifikat ISO 9001: 2008 dan merupakan Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI).
Gambar 4.1 Pintu Gerbang SMK Negeri 9 Surakarta (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Tujuan SMK Negeri 9 Surakarta adalah: 1) Menciptakan tamatan yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. 2) Membekali peserta didik untuk mengembangkan kepribadian akademik dan dasar keahlian yang kuat dan benar melalui pembelajaran normatif, adaptif dan produktif. 3) Menyiapkan siswa untuk mampu memasuki dunia kerja serta mengembangkan sikap profesionalisme dan mampu berwirausaha. 4) Memberikan pengalaman yang sesungguhnya agar siswa menguasai keahlian produktif berstandart budaya
commit to user 58
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 59
industri yang berorientasi kepada standart mutu, nilai-nilai ekonomi serta membentuk etos kerja yang tinggi, produktif dan kompetitif. 5) Mewujudkan status sekolah menjadi SMK berstandart internasional. Misi SMK Negeri 9 Surakarta adalah: 1) Membentuk tamatan yang berkepribadian unggul dan mampu mengembangkan diri di era global. 2) Menyiapkan tenaga terampil yang mampu bersaing di lapangan kerja. 3) Menyiapkan wirausahawan yang tangguh dalam bidang seni kerajinan dan teknologi. 4) Menyiapkan SMK Negeri 9 Surakarta sebagai SMK berstandar Nasional dan Internasional. Visi SMK Negeri 9 Surakarta adalah: Mewujudkan SMK Negeri 9 Surakarta sebagai sumber daya manusia profesional dalam bidang seni, kerajinan dan teknologi yang mampu menghadapi era global. SMK Negeri 9 Surakarta menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengembangan dan penyempurnaan kurikulun ini dilakukan sepenuhnya oleh pihak sekolah sekaligus merupakan aktualisasi pengembangan kemampuan profesional guru dalam hal pengembangan kurikulum. Kurikulum ini selalu mengalami penyempurnaan agar dapat disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan dunia kerja yang berorientasi kepada sekolah menengah kejuruan. Kompetensi sebagai materi pembelajaran di SMK Negeri 9 Surakarta diorganisasi menjadi tiga kelompok yaitu: normatif, adaptif, dan produktif. Program nornatif adalah kelompok mata pelajaran yang berfungsi membentuk peserta didik sebagai pribadi yang utuh, pribadi yang memiliki norma-norma sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial, sebagai warga negara Indonesia atau sebagai warga negara dunia. Program ini memuat kompetensikompetensi tentang norma, sikap, dan perilaku. Program adaptif adalah kelompok mata pelajaran yang berfungsi membentuk peserta didik agar memiliki kemampuan berkembang dan beradaptasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan seni. Program ini menjadi dasar-dasar kejuruan yang berkaitan dengan program keahlian yang dipelajari oleh peserta didik. Program produktif adalah kelompok mata pelajaran yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi dasar pada suatu keahlian tertentu yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 60
sesuai dengan tuntutan dan permintaan dunia kerja. Program produktif memiliki standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dengan nilai 75.00 pada masingmasing mata pelajarannya. Fasilitas di SMK Negeri 9 Surakarta adalah: gedung dua lantai, bengkel kayu, bengkel tekstil, bengkel seni rupa murni, bengkel logam, laboratorium multimedia, laboratorium animasi, bengkel tata busana, laboratorium DKV (Desain Komunikasi Visual), laboratorium TKJ, laboratorium bahasa, 22 ruang teori yang dipergunakan untuk pembelajaran normatif dan adaptif, perpustakaan, digital library, koperasi, 2 kantin siswa, musholah, UKS, ruang PTT (Pameran Tidak Tetap), lapangan basket, lapangan voli, taman, telepon umum, WAN (Wide Area Network) atau Free Hotspoot Area Unlimited Acces, parkir kendaraan, dan kamera CCTV yang dipasang di beberapa ruangan. Tenaga pengajar di SMK Negeri 9 Surakarta berjumlah 121 pendidik, yang terdiri dari: 30 guru adaptif, 18 guru normatif, 9 guru produktif kriya kayu, 11 guru produktif kriya tekstil, 7 guru produktif kriya logam, 7 guru produktif seni rupa murni, 7 guru produktif multimedia, 6 guru produktif DKV (Desain Komunikasi Visual), 7 guru produktif tata busana, 6 guru produktif animasi, 7 guru produktif TKJ, dan 4 guru BK. SMK Negeri 9 Surakarta telah memiliki sembilan program keahlian yaitu: Program Keahlian Kriya Kayu, Program Keahlian Kriya Tekstil, Program Keahlian Seni Rupa Murni, Program Keahlian Kriya Logam, Program Keahlian Multimedia, Program Keahlian Animasi, Program Keahlian Tata Busana, Program Keahlian DKV (Desain Komunikasi Visual), dan Program Keahlian TKJ. Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta bertujuan untuk: 1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik. 2) Mendidik peserta didik agar menjadi warga negara yang bertanggung jawab. 3) Mendidik peserta didik agar dapat menerapkan hidup sehat, memiliki wawasan pengetahuan dan seni. 4) Mendidik peserta didik dengan keahlian dan keterampilan program keahlian kriya tekstil agar dapat bekerja baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 61
kerja tingkat menengah. 5) Mendidik peserta didik agar mampu memilih karir, berkompetisi, dan mengembangkan sikap profesional dalam program keahlian kriya tektil. 6) Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal bagi yang berminat untuk melanjutkan pendidikan.
Gambar 4.2. Bengkel Tekstil (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Visi Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta adalah: Menciptakan sumber daya manusia yang profesional di bidang kriya tekstil sesuai dengan kebutuhan dunia usaha atau industri. Fasilitas yang disediakan di bengkel tekstil adalah: 2 ruang teori, ruang batik beserta alat dan bahan membatik, ruang gelap untuk pembelajaran cetak saring beserta alat dan bahan yang diperlukan, ruang desain beserta meja desain, LCD proyektor, ruang jahit beserta mesin jahit, dan pompa air serta bak pencucian di luar bengkel.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 62
Gambar 4.3. Fasilitas di Bengkel Tekstil (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil terdiri dari 32 siswa perempuan. Mata pelajaran produktif yang diajarkan di kelas XI ini adalah: batik tulis, batik celup, jahit, makrame, tenun, sulam, dan cetak saring. Mata pelajaran produktif cetak saring dalam 1 minggu terdiri dari 1 pertemuan (tatap muka), 1 pertemuan (tatap muka) terdiri dari 4 jam pelajaran, dan 1 jam pelajaran terdiri dari 45 menit. Mata pelajaran ini diberikan pada hari sabtu pada jam pelajaran pertama sampai keempat. B. Pelaksanaan Pembelajaran Cetak Saring 1.
Tujuan Pembelajaran Cetak Saring a. Pertemuan Pertama Indikator yang tercantum di silabus maupun RPP yang dibuat oleh guru pada pertemuan pertama ini adalah: melakukan persiapan kerja membuat karya cetak saring dengan film / kodactrace. Tujuan pembelajaran cetak saring pada pertemuan pertama sesuai dengan RPP yang dibuat oleh guru yaitu peserta didik mampu: 1)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 63
Menjelaskan dan memahami rambu-rambu tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). 2) Menjelaskan dan memahami jenis, sifat dan fungsi dari alat serta bahan yang digunakan. Berkaitan dengan hal ini, Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn., selaku salah satu guru mata pelajaran produktif cetak saring memaparkan: Sebelum memulai pembelajaran praktik menyablon, para siswa perlu kami jelaskan apa saja yang berhubungan dengan sablon. Biasanya dalam teori pengantar praktek ini kami menjelaskan tentang pengertian sablon atau cetak saring, sejarah dan perkembangannya, alat dan bahan yang dipergunakan, dan yang paling penting adalah bagaimana langkah-langkah membuat karya cetak saring yang sesuai dengan pedoman. Sebetulnya menyablon itu mudah dan tidak berbahaya namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tetap saja mereka harus tahu tentang K3. Karenanya siswa-siswa perlu diberikan gambaran tentang sablon diawal perte (11 Februari 2012). Pertemuan pertama ini merupakan pengenalan kepada peserta didik mengenai cetak saring. Beberapa dari peserta didik ada yang belum mengetahui tentang cetak saring atau sablon, karena itu diharapkan dengan teori yang diberikan sebelum kegiatan praktek ini mampu memberikan gambaran tentang cetak saring. b. Pertemuan Kedua sampai Ketujuh Indikator yang tercantum di silabus maupun RPP yang dibuat oleh guru pada pertemuan kedua sampai ketujuh ini adalah: melaksanakan proses kerja pembuatan karya cetak saring dengan film / kodactrace. Tujuan pembelajaran cetak saring pada pertemuan kedua sampai ketujuh adalah peserta didik mampu: 1) Menjelaskan dan memahami pengertian desain. 2) Menjelaskan dan memahami unsur-unsur desain. 3) Menjelaskan dan memahami prinsip-prinsip desain. 4) Menjelaskan dan memahami contoh-contoh desain motif yang sesuai pedoman. 5) Membuat desain motif cetak saring untuk t-shirt. syal, dan sapu tangan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 64
Gambar 4.4. Desain pada Kertas Gambar Karya Eka Maryana (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) c. Pertemuan Kedelapan sampai Ketiga Belas Indikator yang tercantum pada pertemuan kedelapan sampai ketiga belas masih sama dengan pertemuan kedua sampai ketujuh, yaitu: melaksanakan proses kerja pembuatan karya cetak saring dengan film / kodactrace. Tujuan pembelajaran cetak saring pada pertemuan kedelapan sampai ketiga belas adalah peserta didik mampu: 1) Menjelaskan dan memahami cara membuat diapositif. 2) Membuat diapositif dari desain yang telah dibuat.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 65
Gambar 4.5. Diapositif pada Mika Karya Eka Maryana (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Berdasarkan tujuan pembelajaran tersebut, Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn. mengutarakan: e positif merupakan desain yang telah dipindahkan oleh siswa ke kertas transparan, biasanya kami menggunakan mika. Diapositif ini nantinya yang akan dipindahkan ke screen menggunakan teknik penyinaran. Dalam membuat desain, karena mereka masih pemula, kami sebagai guru cukup menyarankan satu atau dua warna saja yang nantinya akan disablonkan. Tapi karena untuk proses pembelajaran, mereka harus bisa memisahkan berbagai warna, karena itu dalam pembelajaran ini, minimal mereka membuat desain dengan 3 warna, namun nanti yang dicetak ke kain atau
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 66
d. Pertemuan Keempat Belas dan Kelima Belas Indikator yang tercantum pada pertemuan keempat belas dan kelima belas masih sama dengan pertemuan kedua sampai keempat belas, yaitu: melaksanakan proses kerja pembuatan karya cetak saring dengan film / kodactrace. Tujuan pembelajaran cetak saring pada pertemuan keempat belas dan kelima belas adalah peserta didik mampu: 1) Menjelaskan dan memahami langkah-langkah proses afdruk. 2) Melakukan proses afdruk dengan benar (sesuai prosedur). e. Pertemuan Keenam Belas sampai Kedelapan Belas Indikator yang tercantum pada pertemuan keenam belas sampai kedelapan belas masih sama dengan pertemuan kedua sampai kelima belas, yaitu: melaksanakan proses kerja pembuatan karya cetak saring dengan film / kodactrace Tujuan pembelajaran cetak saring pada pertemuan keenam belas sampai kedelapan belas adalah peserta didik mampu: 1) Menjelaskan dan memahami langkah-langkah proses pencetakan. 2) Melakukan proses mencetakan dengan benar (sesuai prosedur). f. Pertemuan Kesembilan Belas Indikator yang tercantum pada pertemuan kesembilan belas yaitu: penyelesaian akhir (finishing). Tujuan pembelajaran cetak saring pada pertemuan kesembilan belas adalah peserta didik mampu: melakukan kegiatan fiksasi warna dengan benar (sesuai prosedur). g. Pertemuan Kedua Puluh Indikator yang tercantum pada pertemuan kedua puluh masih sama dengan pertemuan kesembilan belas, yaitu: penyelesaian akhir (finishing).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 67
Tujuan pembelajaran cetak saring pada pertemuan kedua puluh adalah peserta didik mampu membuat kemasan, jahitan, assesoris, bingkai, atau label identitas karya. 2.
Materi Pembelajaran Cetak Saring Guru selalu melakukan kegiatan pendahuluan sebelum memberikan materi pembelajaran kepada peserta didik disetiap pertemuan. Kegiatan pendahuluan yang selalu dilakukan oleh guru adalah berdoa bersama yang dilanjutkan presensi kehadiran peserta didik. Guru juga melakukan kegiatan motivasi dan apersepsi. Kegiatan ini penting dilakukan diawal pertemuan agar peserta didik termotivasi untuk menerima materi pembelajaran. Kegiatan apersepsi juga tidak kalah penting karena dengan kegiatan ini, baik guru maupun peserta didik dapat mengetahui persepsi atau pandangan mengenai materi pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru kemudian menjelaskan kompetensi yang akan dikuasai oleh peserta didik setelah mereka memperoleh materi yang akan diberikan. Guru menjelaskan garis besar materi yang akan diterima oleh peserta didik, jika materi tersebut adalah materi praktikum maka guru menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh peserta didik sesuai dengan pedoman agar tidak terjadi kecelakaan kerja. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan
pendahuluan
yang
dilakukan
oleh
guru
bertujuan
untuk
membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pembelajaran.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 68
Gambar 4.6. Guru Melakukan Kegiatan Motivasi dan Apersepsi (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Kegiatan inti terdiri dari kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Eksplorasi merupakan kegiatan pencarian informasi mengenai meteri pembelajaran yang sedang disampaikan guru. Peserta didik dilibatkan secara aktif dalam pencarian informasi ini melalui berbagai sumber pembelajaran namun yang biasa mereka pergunakan adalah buku. Guru
selalu
memfasilitasi terjadinya interaksi dan percobaan yang dilakukan oleh peserta didik. Elaborasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik secara tekun dan cermat. Guru dalam kegiatan teori membiasakan peserta didik untuk berpikir, menganalisa, dan menyelesaikan tugas yang diberikan tanpa rasa takut dan saat praktikum selalu memfasilitasi dalam kegiatan prktikum serta menyajikan hasil kerja baik secara individu maupun kelompok. Konfirmasi merupakan kegiatan penegasan dari kegiatan eksplorasi dan elaborasi. Guru dalam kegiatan ini selalu memberikan umpan balik terhadap pekerjaan peserta didik, membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 69
peserta didik saat pembelajaran berlangsung, serta memberikan acuan dan motivasi.
Gambar 4.7. Kegiatan Elaborasi: Peserta Didik Melakukan Proses Pencetakan (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Kegiatan
penutup
merupakan
kegiatan
yang
dilakukan
untuk
mengakhiri pembelajaran. Pada kegiatan penutup, guru membuat simpulan hasil pembelajaran, menyampaikan materi pembelajaran untuk pertemuan berikutnya, presensi akhir, dan berdoa bersama.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 70
Gambar 4.8. Guru Melakukan Kegiatan Penutup (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Materi pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta disesuaikan dengan kurikulum, silabus, dan RPP. Standar kompetensinya adalah: membuat kriya tekstil dengan teknik cetak saring. Kompetensi dasarnya adalah: membuat kriya tekstil cetak saring dengan film / kodactrace. Materi pembelajarannya meliputi: 1) Rambu-rambu tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). 2) Jenis, sifat, dan fungsi dari alat serta bahan yang digunakan. 3) Pembuatan desain cetak saring. 4) Pembuatan diapositif. 5) Proses afdruk. 6) Proses Pencetakan. 7) Fiksasi Warna. 8) Pengemasan. a. Rambu-rambu tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Rambu-rambu tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) merupakan materi teori pengantar praktik yang diberikan pada pertemuan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 71
pertama. Materi ini wajib diketahui oleh peserta didik sebelum mereka melakukan praktikum. Tujuan dari pemberian materi ini adalah agar peserta didik dapat mempersiapkan alat dan bahan, melakukan langkahlangkah proses cetak saring dengan benar dan sesuai pedoman sehingga terhindar dari kecelakaan kerja. Guru menjelaskan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan saat praktik agar terhindar dari kecelakaan kerja adalah: memakai pakaian kerja,
memperhatikan
petunjuk
penggunaan
alat
dan
bahan,
mempersiapkan PPPK, menggunakan alat dan bahan sesuai fungsinya, dan membersihkan serta mengatur kembali alat dan bahan yang telah digunakan. Berkaitan dengan hal tersebut, Bapak Drs. Budi Susanto selaku salah satu guru mata pelajaran produktif cetak saring menuturkan: ebenarnya K3 itu sangat penting diterapkan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan saat praktik. Contohnya, saat anak-anak membersihkan atau mencuci screen menggunakan Ulano 8, mereka harus memakai sarung tangan sebab bila Ulano 8 ini mengenai kulit kita, akan terasa panas dan perih, apalagi bila kulit mereka sensitif. Pakaian kerja juga perlu dipakai, misalnya saat proses pencetakan, pakaian ini juga berfungsi melindungi kulit dari bahan-bahan cetak seperti binder, pigmen, dan lain sebagainya. Selain melindungi kulit, pakaian ini juga akan melindungi seragam sekolah mereka agar tidak terkena bahanb. Jenis, Sifat, dan Fungsi dari Alat serta Bahan yang Digunakan Materi tentang
sifat, dan fungsi dari alat serta bahan yang
memberikan materi ini, selain berbicara tentang alat dan bahan yang digunakan dalam proses cetak saring, juga menambahkan materi pendukung. Materi tersebut adalah: pengertian cetak saring, sejarah dan perkembangan cetak saring, serta contoh-contoh karya cetak saring.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 72
Pada kegiatan inti, guru menerangkan materi pembelajaran sedangkan peserta didik memperhatikan penjelasan dan mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh guru. Sesekali guru bertanya kepada peserta didik, sehingga terjadi interaksi. Pada akhir pertemuan, guru memberikan tugas rumah kepada peserta didik berupa soal essay. c. Pembuatan Desain Cetak Saring Materi mengenai pembuatan desain cetak saring diberikan pada pertemuan kedua sampai ketujuh. Pembelajaran pada pertemuan kedua dan ketiga masih seputar teori pengantar praktik. Pada pertemuan kedua, 45 menit pertama, guru masih mengulang materi pelajaran sebelumnya yaitu mengenai: pengertian cetak saring, sejarah dan perkembangan cetak saring, alat dan bahan cetak saring, proses cetak saring, dan memperlihatkan contoh-contoh karya cetak saring. Berdasarkan contoh karya cetak saring tersebut, guru mulai memfokuskan ke desain. Jam pelajaran kedua digunakan oleh guru untuk membahas teori tentang desain. Adapun teori yang dibahas seputar pengertian desain, unsur-unsur desain, prinsip-prinsip desain, dan contoh-contoh desain yang sesuai pedoman. Materi teori desain ini berlangsung sampai pertemuan ketiga. Pertemuan keempat, guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk membuat beberapa desain alternatif yang nantinya akan digunakan untuk membuat karya kriya tekstil dengan teknik cetak saring. Pembuatan desain ini dilaksanakan sampai pertemuan ketujuh. Alat dan bahan yang dipergunakan oleh peserta didik dalam membuat desain adalah: pensil, karet penghapus, kertas HVS, kertas gambar ukuran A4, dan pensil warna, peserta didik juga diperbolehkan menggunakan meja gambar yang ada di ruang desain bengkel tekstil.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 73
Gambar 4.9. Alat dan Bahan untuk Membuat Desain (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Sebenarnya untuk membuat beberapa desain, waktu yang diberikan sudah cukup banyak, namun masih ada beberapa peserta didik yang mengatakan bahwa waktu yang diberikan tidak cukup. Beberapa peserta didik ada yang senang dengan kegiatan mendesain, namun adapula yang tidak suka mendesain. Berbagai tanggapan peserta didik saat mendisain, antara lain: agak malas. Mending kalau hanya mencontoh gambar lainnya, tinggal dijiplak di ruang desain menggunakan meja gambar, sudah jadi. Ini disuruh sekreatif mungkin, jadinya gambarnya agak jelek. Tugasnya juga bukan cuma satu atau dua gambar, tapi sebanyak mungkin, padahal nan 2012). suka justru saat mewarnai desainnya. Mendesainnya juga asyik, tapi mewarnai lebih asyik. Kalau saat di bengkel, karena suasana saat mendesain ramai, jadi tidak dapat menemukan ide. Kebanyakan desain saya justru saya buat saat di rumah. Selain suasananya tenang juga banyak benda-benda di sekitar rumah yang memberikan inspirasi. Misalnya saat pulang sekolah lewat sawah, saya mendapat ide membuat desain tentang ( 11 Februari 2012).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 74
Gambar 4.10. Peserta Didik Mendesain di Ruang Desain (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Peserta didik dalam membuat desain kebanyakan hanya mencontoh desain-desain yang sudah ada. Sebagian besar dari mereka masih belum mau untuk berimajinasi. Mereka cenderung memanfaatkan meja gambar di bengkel tekstil untuk menjiplak. Ada pula beberapa peserta didik yang hanya menjiplak desain-desain tersebut sebagian saja dan dikembangkan menurut kreativitas peserta didik tersebut. Guru selalu mengingatkan bahwa jika mendesain, peserta didik harus memanfaatkan kreativitas mereka. Mereka jangan hanya bisa mejiplak desain-desain yang sudah ada, karena desain-desain yang mereka contoh itu pasti telah memiliki hak cipta.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Gambar 4.11. Desain Alternatif Peserta Didik yang Menjiplak Karakter Kartun Hello Kitty (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Berkaitan dengan hal tersebut, Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn. selaku salah satu guru mata pelajaran produktif cetak saring mengatakan bahwa: agar jangan mendesain dengan cara mencontoh atau menjiplak desain-desain yang sudah ada. Misalnya Donald Bebek, itu kan karakter kartun yang terkenal di dunia, pasti sudah memiliki hak cipta. Seandainya mereka mencontoh desain Donald Bebek itu kemudian mereka menyablon desain tersebut di kaos dan memakai kaos itu untuk jalan-jalan ke mall. Tak tahunya saat di mall bertemu dengan si desainer Donald Bebek tersebut, bisa saja desainer itu menuntut siswa tersebut sebagai plagiat. Sebenarnya dalam mendesain itu tidak harus murni 100% hasil kreativitas kita sendiri. Misalnya desain Donald Bebek tadi, kita bisa mengubah baju yang dipakai si Donald Bebek, yang biasanya memakai pakaian pelaut, kita ubah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 76
menjadi berbusana jawa. Dengan begitu kita sudah bisa lepas dari tuduhan plagiat karena desain yang ada tersebut sudah kita kembangkan sesuai kreativitas kita 2012).
Gambar 4.12. Desain Alternatif Peserta Didik yang Mengembangkan Desain-desain yang telah Ada (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Pada
pertemuan
kelima,
rata-rata
peserta
didik
sudah
mengkonsultasikan desain yang mereka gambar kepada guru. Guru memberikan masukan kepada peserta didik agar desain mereka menjadi sempurna. Peserta didik yang desainnya telah di setujui oleh guru dapat memindahkan desain tersebut ke kertas gambar kemudian mewarnainya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 77
Gambar 4.13. Desain yang telah Dipindahkan ke Kertas Gambar dan Diwarnai Karya Endah Puspitosari (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) d. Pembuatan Diapositif Materi mengenai pembuatan film diapositif diberikan pada pertemuan kedelapan sampai ketiga belas. Klise diapositif adalah sebuah gambar atau desain motif diatas bahan transparan yang nantinya akan dipindahkan ke screen melalui proses afdruk (pencahayaan) agar menjadi klise negatif. Pada pertemuan kedelapan masih terlihat beberapa peserta didik yang mewarnai desain mereka. Pada awal pelajaran, guru memberikan penjelasan ulang mengenai langkah-langkah membuat klise diapositif seperti yang telah dijelaskan pada pertemuan pertama. Tugas yang diberikan kepada peserta didik pada materi ini adalah: membuat klise diapositif dengan tiga warna dari desain yang telah disetujui oleh guru. Alat dan bahan yang diperlukan dalam membuat klise diapositif adalah:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 78
1)
Mika Mika digunakan sebagai film diapositif yang berfungsi untuk memisahkan desain motif tiap warna, satu mika untuk satu warna.
Gambar 4.14. Klise Diapositif pada Mika Karya Eva Wahyu Wulandari (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 2)
Opeque ink Opaque ink merupakan bahan yang digunakan untuk menggambar desain motif pada mika, yang berfungsi sebagai pemisah warna.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 79
Gambar 4.15. Opaque Ink (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 3)
Pen kodok Pen kodok merupakan alat yang digunakan untuk memoleskan opaque ink pada mika.
Gambar 4.16. Pen Kodok (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 80
4)
Meja gambar Meja gambar merupakan alat yang digunakan untuk membuat desain dan memindahkannya ke mika. Tanpa menggunakan meja gambar pun sebenarnya proses pembuatan diapositif dapat berlangsung. Hal ini dikarenakan mika yang transparan sehingga tidak perlu pencahayaan dari bawah. Peserta didik banyak yang memanfaatkan meja gambar ini untuk membuat diapositif.
Gambar 4.17. Meja Gambar (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 5)
Staples Staples digunakan untuk melekatkan desain pada kertas gambar dan mika sehingga dalam proses pembuatan diapositif, posisi mika terhadap kertas gambar tidak berubah (statis). Hal ini akan mempermudah peserta didik dalam menjiplak desain dari kertas gambar ke mika.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 81
Gambar 4.18. Staples (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 6)
Palet atau tempat air mineral
Gambar 4.19. Tempat Air Mineral yang Dimanfaatkan sebagai Palet (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 82
Palet merupakan alat yang digunakan sebagai tempat opaque ink. Kebanyakan peserta didik hanya memanfaatkan tempat air mineral (Aqua) yang dipotong bagian atasnya sebagai pengganti palet. 7)
Bedak Bedak dioleskan pada mika sebelum proses pembuatan diapositif. Pengolesan bedak ini berfungsi agar permukaan mika menjadi licin sehingga opaque ink mudah menempel pada mika, dengan kata lain untuk mempermudah proses pembuatan diapositif. Pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta menggunakan bedak bayi dengan merk dagang .
Gambar 4.20 Bedak (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Langkah-langkah pembuatan diapositif dalam pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 adalah sebagai berikut:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 83
1)
Peserta didik menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, alat dan bahan sudah dipersiapkan oleh pihak sekolah. Mereka tinggal mengambilnya di gudang bengkel tekstil. Khusus untuk mika, karena tugasnya adalah membuat diapositif dengan tiga warna maka satu peserta didik mendapatkan tiga mika.
2)
Peserta dididk mengoleskan bedak pada permukaan mika sampai rata.
3)
Peserta didik merekatkan desain pada kertas gambar dengan mika menggunakan staples.
4)
Peserta didik menuangkan opaque ink ke palet secukupnya.
5)
Bila diperlukan peserta didik dapat menggunakan meja gambar yang disediakan di ruang desain bengkel tekstil.
6)
Peserta didik menggunakan pen kodok untuk mengoleskan opaque ink ke mika (memindahkan desain dari kertas gambar ke mika).
Gambar 4.21. Pembuatan Klise Diapositif (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 7)
Proses pembuatan klise diapositif, satu mika digunakan untuk satu warna. Peserta didik membuat desain motif dengan tiga warna, berarti tiap-tiap peserta didik membutuhkan tiga mika.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 84
Gambar 4.22. Desain dan Diapositif Karya Putri Cahya Suci (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 8)
Jika peserta didik mengalami kesulitan dalam proses pembuatan klise diapositif ini, maka boleh dikonsultasikan kepada guru.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 85
Gambar 4.23. Peserta Didik Mengkonsultasikan Diapositif kepada Guru (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) e. Proses Afdruk Proses afdruk adalah proses memindahkan diapositif ke screen melalui penyinaran, yang nantinya akan menghasilkan klise negatif. Materi mengenai proses afdruk diberikan pada pertemuan keempat belas dan kelima belas. Pada pertemuan keempat belas, masih terdapat beberapa peserta didik yang memperbaiki klise diapositif mereka. Sebelum proses afdruk dimulai, guru menyuruh peserta didik untuk membentuk kelompok, tiap kelompok terdiri dari empat sampai enam anggota. Berikut adalah daftar kelompok yang terbentuk: 1)
Kelompok 1: a) Eko Siti Wahyuni. b) Indri Mayarita. c) Wahyuti. d) Wika.
2)
Kelompok 2: a) Eka Maryana.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 86
b) Erna Duwyani. c) Septika Furi Etikawati. d) Tutik Kurnia Sari. 3)
Kelompok 3: a) Ika Rahmawati. b) Fajar Wijiyanti S. c) Jatmini. d) Rini Puji Lestari. e) Tyas Ayu Dyah Tuti.
4)
Kelompok 4: a) Lilis Suyanti. b) Melati Woro AW. c) Mulyaningsih. d) Noliskawati.
5)
Kelompok 5: a) Elena Dea Rivera. b) Endah Puspitosari. c) Martiana Sari. d) Putri Cahya Suci.
6)
Kelompok 6: a) Luluk Setia Wardani. b) Maria Dwi Rahayu. c) Novi Nur Afitasari. d) Nurul Qoyyimah.
7)
Kelompok 7: a) Ani Rukmana. b) Ayu Heni Puspitasari c) Diah Ayu Safitri. d) Eva Wahyu Wulandari. e) Nuri Yulaikhah. f) Rochayatun.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 87
Gambar 4.24. Peserta Didik Bergegas Membentuk Kelompok (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Alasan pembentukan kelompok ini adalah keterbatasan screen dan rakel yang dimiliki oleh bengkel tekstil. Selain itu, juga merupakan salah satu aspek dalam penilaian, yaitu kerjasama dalam kelompok. Tugas yang diberikan oleh guru pada meteri proses afdruk ini adalah: setiap kelompok membuat klise negatif dari desain motif yang telah mereka tentukan melaui diskusi kelompok. Meskipun saat praktek membuat klise diapositif, peserta didik membuat sampai tiga warna, namun yang akan diafdruk cukup satu warna saja, yaitu bagian outline dari desain tersebut.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 88
Gambar 4.25. Bagian Outline dari Desain pada Diapositif Karya Melati Woro AW. (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
Gambar 4.26. Bagian Outline dari Desain pada Diapositif Karya Putri Cahya Suci (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 89
Alat dan bahan yang digunakan dalan proses afdruk saat pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta adalah: 1)
Screen Inti dari proses afdruk ini adalah memindahkan diapositif ke screen melalui penyinaran. Screen ini nantinya berfungsi sebagai penyaring tinta. Melalui lubang pori-pori pada screen, tinta mengalir keluar dan berpindah ke objek yang akan disablon. Jenis screen yang digunakan dalam pembelajaran cetak saring ini adalah polyster multifilamen dengan kerapatan pori-pori 62 T dan berukuran 60 x 40 cm.
Gambar 4.27. Screen Siap Pakai (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 2)
Busur Busur berfungsi untuk mengoleskan campuran emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya) ke screen. Pengolesan ini harus dilakukan di ruang gelap karena emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya) akan terbakar bila terkena cahaya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 90
Gambar 4.28. Busur (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 3)
Klise diapositif Klise diapositif adalah sebuah gambar atau desain diatas bahan transparan yang nantinya akan dipindahkan ke screen melalui proses afdruk agar menjadi klise negatif.
4)
Emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya) Emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya) adalah larutan yang digunakan untuk membuat klise negatif. Kedua larutan ini harus dicampur menjadi satu. Di pasaran, kedua larutan ini terdapat dalam satu kemasan dus kecil. Botol besar berisi cairan emulsi dan botol kecil berisi sensitizer. Pada pelaksanaan pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta menggunakan obat peka cahaya dengan merk dagang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 91
Gambar 4.29. Ulano TZ (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 5)
Hair dryer
Gambar 4.30. Hair dryer (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 92
Hair dryer berfungsi untuk mengeringkan screen setelah diolesi campuran cairan emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya). 6)
Meja afdruk Meja afdruk digunakan sebagai pengganti matahari jika cuaca mendung. Pada pelaksanaan pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta, peserta didik diwajibkan mencoba menggunakan meja afdruk sehingga proses afdruk tidak menggunakan sinar matahari melainkan menggunakan meja afdruk ini.
7)
Hand sprayer Hand sprayer berfungsi untuk membuat lubang pada screen setelah proses afdruk selesai.
Gambar 4.31. Hand sprayer (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 93
8)
Busa dan papan landasan atau triplek Busa dan papan landasan berfungsi untuk menyangga bagian dalam screen saat proses afdruk agar permukaannya tetap datar.
9)
Kain hitam Kain hitam berfungsi untuk menutup screen pada waktu penyinaran menggunakan meja afdruk agar bayangan motif tidak tembus.
Gambar 4.32. Busa, Triplek, dan Kain Hitam (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Langkah-langkah proses afdruk dalam pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 adalah sebagai berikut: 1)
Peserta didik membentuk kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang.
2)
Peserta
didik
melakukan
diskusi
intern
kelompok
untuk
menentukan desain yang akan di cetak. 3)
Masing-masing kelompok menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk proses afdruk. Satu kelompok mendapatkan satu screen, satu rakel, satu hand sprayer, dan satu busur.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 94
4)
Bahan utama dalam proses afdruk adalah klise diapositf. Peserta didik melepaskan klise diapositif yang akan di afdruk dari kertas desain (saat membuat klise diapositif, mika dan kertas desain dilekatkan menggunakan staples, ini perlu dipisahkan kembali karena yang diperlukan hanya klise diapositif).
Gambar 4.33. Peserta Didik Memisahkan Klise Diapositif dari Kertas Desain (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 5)
Tiap-tiap kelompok bergantian masuk ke ruang gelap, dimulai dari kelompok pertama dan seterusnya. Mulai dari sini, guru membimbing mereka.
6)
Peserta didik dalam satu kelompok berkerjasama mencampur cairan
emulsi
dan
sensitizer
sesuai
petunjuk
dari
guru.
Perbandingan antara emulsi dan sensitizer yang dianjurkan guru adalah 9 : 1. 7)
Peserta didik dalam satu kelompok bekerjasama mengoleskan campuran cairan emulsi dan sensitizer ke screen sampai rata menggunakan busur. Pengolesan dilakukan dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan secara berulang-ulang dan searah. Pengolesan dilakukan di bagian dalam maupun luar screen.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 95
8)
Peserta didik meunggu sampai screen kering. Sambil menunggu, kelompok ini keluar dari ruang gelap agar dapat bergantian dengan kelompok berikutnya.
9)
Kelompok berikutnya masuk ke ruang gelap dan melakukan langkah-langkah yang sama.
10)
Setelah semua kelompok mendapat giliran masuk ke ruang gelap, kelompok pertama kembali masuk ke ruang gelap untuk melakukan proses afdruk dengan bimbingan guru.
11)
Tiap anggota kelompok memastikan bahwa screen benar-benar sudah kering.
12)
Jika ternyata screen masih basah oleh campuran cairan emulsi dan sensitizer,
mereka
boleh
mengeringkan
screen
tersebut
menggunakan hair dryer yang telah dipersiapkan di ruang gelap. 13)
Peserta
didik
meletakkan
film
diapositif
kedalam
screen.
Pemasangan film diapositif pada screen, posisinya terbalik diatas screen. Bagian depan film melekat pada screen. 14)
Peserta didik menyusun semua alat-alat yang diperlukan dari bawah ke atas: lampu pada meja afdruk, kaca bening pada meja afdruk, film diapositif, screen, kain hitam, karet busa, dan triplek.
15)
Agar posisi alat-alat tersebut tidak goyang atau berpindah, peserta didik menahan menggunakan pengait yang ada pada meja afdruk.
16)
Peserta didik menyalakan lampu pada meja afdruk selama lima menit.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 96
Gambar 4.34. Proses Afdruk Menggunakan Meja Afdruk (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 17)
Setelah lima menit, peserta didik mematikan lampu pada meja afdruk dan melepaskan pengait untuk mengambil screen.
18)
Dua orang dalam satu kelompok tersebut membawa screen keluar ruang gelap untuk dicuci sementara yang lainnya merapikan alatalat yang telah dipakai dan meletakkannya ketempat semula.
19)
Peserta didik mencuci screen sesuai dengan petunjuk dari guru.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 97
Gambar 4.35. Peserta Didik Dibimbing Guru Saat Mencuci Screen yang telah Diafdruk (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 20)
Peserta didik menyemprot screen menggunakan hand sprayer agar lubang pori-pori pada screen terbuka sesuai dengan desain motif yang dibuat.
Gambar 4.36. Peserta Didik Menyemprot Screen dengan Hand Sprayer (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 98
21)
Peserta didik mengeringkan screen yang telah dicuci.
Gambar 4.37. Peserta Didik Dibimbing oleh Guru Saat Mengeringkan Screen (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 22)
Kelompok berikutnya masuk kedalam ruang gelap, dengan bimbingan guru, mereka mengulangi kegiatan pada poin 10 sampai 20. Saat melakukan proses afdruk, rata-rata peserta didik sudah cukup
mampu menguasai kompetensi dasar yang diajarkan oleh guru namun saat mengoleskan campuran cairan emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya), hasilnya masih kurang rata. Hal ini menyebabkan hasil afdruk pada screen kurang maksimal. f. Proses Pencetakan Materi mengenai proses pencetakan diberikan pada pertemuan keenam belas sampai kedelapan belas. Pada proses pencetakan ini, peserta didik masih bekerja secara kelompok. Pada awal pertemuan, guru memberikan beberapa pedoman tentang proses pencetakan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 99
Alat dan bahan yang digunakan dalan proses pencetakan saat pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta adalah: 1)
Kain Kain digunakan sebagai media cetak atau media sablon. Kain yang digunakan dalam pelaksanann peembelajaran ini adalah kain katun berwarna putih.
Gambar 4.38. Kain Putih (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 2)
Klise negatif Klise negatif yang digunakan adalah screen yang telah diafdruk pada pertemuan keempat belas dan kelima belas.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 100
Gambar 4.39. Klise Negatif (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 3)
Textile Screen Ink (Binder NF dan NF Medium SP) Akhir dari pelaksanaan pebelajaran cetak saring ini adalah membuat karya cetak saring dengan bahan kain, maka tinta yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah tinta cetak berbasis air. Tinta yang digunakan adalah Binder NF dan NF Medium SP. Bahan ini digunakan khusus untuk mencetak pada bahan dasar (media cetak atau media sablon) yang berwarna cerah.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 101
Gambar 4.40. Binder NF dan NF Medium SP (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 4)
Pigmen warna
Gambar 4.41. Pigmen Warna (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Pigmen merupakan bahan yang digunakan sebagai campuran textile screen ink. Pencampurannya disesuaikan dengan warna yang dikehendaki peserta didik. Peserta didik yang menghendaki warna
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 102
hijau, maka ia mencampurkan textile screen ink dengan pigmen berwarna kuning dan biru. Pigmen yang digunakan dalam pembelajaran cetak saring ini berwarna putih, hitam, merah, biru, dan kuning. 5)
Rakel Rakel merupakan alat penyaput tinta cetak. Rakel yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran cetak saring ini adalah yang berujung lancip.
Gambar 4.42. Rakel (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 6)
Mangkuk plastik dan sendok plastik Mangkuk plastik digunakan untuk mencampur textile screen ink dengan pigmen warna. Sendok plastik digunakan untuk mengaduk campuran tersebut.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 103
Gambar 4.43. Mangkuk Plastik dan Sendok Plastik (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 7)
Lakban Lakban digunakan untuk menutup bagian tepi screen sebelum proses pencetakan agar tidak bocor.
Gambar 4.44. Lakban (Dokumentasi: Aslam hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 104
8)
Setrika dan meja setrika Setrika merupakan alat yang digunakan untuk merapikan kain sebelum disablon.
Gambar 4.45. Setrika dan Meja Setrika (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Langkah-langkah proses pencetakan dalam pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 adalah sebagai berikut: 1)
Guru membagikan kain kepada masing-masing kelompok. Tiap kelompok mendapat dua lembar kain dengan ukuran masingmasing 60 x 40 cm (seukuran screen).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 105
Gambar 4.46. Peserta Didik Membagi Kain yang Disediakan (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 2)
Seorang dalam kelompok menyetrika kain yang sudah didapat sedangkan yang lainnya menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
Gambar 4.47. Peserta Didik Menyetrika Kain yang akan Dicetak (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 106
3)
Peserta didik menyampurkan textile screen ink dengan pigmen kedalam mangkuk plastik dan mengaduknya. Warna pigmen yang dicampurkan disesuaikan dengan warna yang diinginkan. Ada satu kelompok yang menginginkan warna
orange
maka mereka
mencampurkan pigmen warna kuning dan merah kedalam mangkuk plastik.
Gambar 4.48. Peserta Didik Mencampurkan Bahan Cetak kedalam Mangkuk Plastik (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 4)
Peserta didik merekatkan lakban pada pinggir screen. Hal ini berfungsi untuk mengindari kebocoran saat proses pencetakan berlangsung.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 107
Gambar 4.49. Merekatkan Lakban pada Pinggir Screen (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 5)
Peserta didik meletakkan kain diatas meja dan screen diletakkan diatas kain. Posisi screen diatur agar desain pada screen (klise negatif) yang akan dicetak letaknya serasi pada kain.
6)
Peserta didik menuangkan bahan cetak (campuran textile screen ink dan pigmen) pada bagian belakang screen.
Gambar 4.50. Peserta Didik Menuangkan Bahan Cetak ke Screen (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 108
7)
Salah seorang peserta didik dalam kelompok menyaput bahan cetak yang telah dituangkan pada screen menggunakan rakel sedangkan yang lainnya memengang screen agar posisi screen tidak bergeser saat proses penyaputan.
8)
Saat menyaput, peserta didik menarik rakel dari ujung screen (atas) ke ujung screen (bawah) dengan tekanan yang sama. Saat melakukan
penyaputan
ini
tiap-tiap
kelompok
umumnya
mengulanginya sampai dua kali.
Gambar 4.51. Peserta Didik Menyaput Bahan Cetak Menggunakan Rakel (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) 9)
Setelah proses penyaputan selesai, peserta didik mencuci screen dan rakel sampai bersih. Meletakkan alat dan bahan yang telah digunakan ke tempatnya semula. Proses selanjutnya adalah fiksasi warna.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 109
Gambar 4.52. Peserta Didik Membersihkan Screen setelah Proses Mencetak Selesai (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) g. Fiksasi Warna Materi mengenai fiksasi warna dalam RPP yang dibuat oleh guru, dilaksanakan pada pertemuan kesembilan belas namun yang terjadi di lapangan, dilaksanakan pada pertemuan kedelapan belas setelah proses pencetakkan selesai. Fiksasi warna adalah proses pengeringan warna setelah kain dicetak atau disablon. Proses fiksasi warna ini diajukan karena pertemuan kedelapan belas ini merupakan pertemuan terakhir. Pertemuan selanjutnya pada tanggal 26 Mei 2012, sudah pembagian kartu tes UUKK (Ulangan Umum Kenaikan Kelas). Berkaitan dengan proses fiksasi warna tersebut, Bapak Drs. Budi Susanto mengemukakan: on, otomatis hasil sablonan harus dikeringkan, jadi langsung saja kain yang sudah disablon tadi dikeringkan menggunakan sinar matahari. Jadi kami langsung saja melakukan proses fiksasi warna pada pertemuan ini. Tugas siswa dalam fiksasi warna hanya menunggu sampai bahan sablon benarbenar kering dan meresap ke kain. Jadi ya tinggal menunggu saja, tanpa melakukan apa-ap
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 110
Pelaksanaan fiksasi warna saat pembelajaran ini, peserta didik menjemur hasil cetak (sablon) di tempat yang terkena sinar matahari. Peserta didik menunggu sampai hasil cetakan tersebut kering. Saat hasil cetakan sudah kering, peserta didik menyetrika hasil cetakan tersebut agar rapi dan bahan cetak (sablon) semakin melekat di kain. h. Pengemasan Materi tentang pengemasan dalam RPP yang dibuat oleh guru, direncanakan akan diberikan pada pertemuan kedua puluh. Kenyataan di lapangan, materi ini diberikan pada akhir pertemuan kedelapan belas (karena tatap muka sudah habis) di akhir jam pelajaran yang disampaikan bersamaan dengan evaluasi pembelajaran (kesimpulan pembelajaran yang telah dilakukan). 3.
Metode Pembelajaran Cetak Saring Metode pembelajaran merupakan suatu cara yang ditempuh oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode yang digunakan oleh guru mata pelajaran cetak saring yang tercantum dalam RPP adalah: metode ceramah, tanya jawab dan diskusi, instruksi (pemberian tugas), dan demonstrasi. Kenyataan di lapangan, selain menggunakan metode-metode tersebut ternyata guru mata pelajaran cetak saring juga menggunakan metode mengajar beregu (team teaching), hal ini jelas sekali terlihat karena mata pelajaran cetak saring diampu oleh tiga guru. Metode-metode yang digunakan oleh guru mata pelajaran cetak saring dapat diuraikan sebagai berikut: a. Metode Ceramah Tujuan metode ceramah yang tertulis dalam RPP yang dibuat oleh guru adalah:
etode ceramah digunakan supaya selama Kegiatan Belajar
Mengajar, peserta didik dapat memperoleh informasi baru dari guru yang lebih mendetail daripada informasi yang diperoleh peserta didik saat membaca buku pelajaran.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 111
Gambar 4.53. Guru Menggunakan Metode Ceramah (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Metode ceramah digunakan oleh guru saat menyampaikan materi teori pengantar praktik. Metode ini disampaikan secara lisan oleh guru kepada peserta didik. Saat guru berbicara, peserta didik mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru dan mencatat hal-hal penting yang mereka tangkap dari penuturan guru. Pelaksanaan pembelajaran cetak saring saat menggunakan metode ceramah, peserta didik tampak tenang. Peserta didik yang duduk di depan memperhatikan penjelasan guru sambil mencatat. Peserta didik yang duduk di belakang ada yang mencatat penjelasan guru, namun ada pula yang hanya diam dan ada yang meletakkan kepalanya di atas meja, bahkan ada yang berbisik-bisik dengan teman disebelahnya. Guru dalam menerapkan metode ceramah ini, sering kali diselingi dengan lelucon yang membuat peserta didik tertawa. Hal ini dilakukan agar suasana pembelajaran tidak menjadi tegang. Guru juga sering bertanya kepada peserta didik saat menggunakan metode ceramah.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 112
Tujuannya agar guru dapat mengetahui sampai sejauh mana daya serap peserta didik terhadap materi yang telah dijelaskan. b. Metode Tanya Jawab dan Diskusi Tujuan dari metode tanya jawab dan diskusi yang tertulis dalam Metode tanya jawab dan diskusi digunakan agar terjadi interaksi antara guru dan peserta didik, sehingga peserta didik juga ikut aktif selama Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung .
Gambar 4.54. Peserta Didik Melakukan Diskusi Kelompok (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Metode tanya jawab digunakan untuk menanyakan kepada peserta didik terkait materi yang telah disampaikan oleh guru. Guru menggunakan metode ini untuk mengetahui tingkat pemikiran peserta didik dalam menerima materi pembelajaran. Guru dalam menggunakan metode tanya jawab digabungkan dengan metode ceramah. Pada awal pertemuan, sebelum guru memulai materi pembelajaran, guru selalu menanyakan kepada peserta didik terkait materi yang diajarkan pada pertemuan sebelumnya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 113
Berikut adalah beberapa tanggapan peserta didik mengenai metode tanya jawab yang digunakan oleh guru: batiba saja langsung bertanya kepada kami, saat ditanya ada beberapa yang mengangkat tangan dan bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat namun saat ditunjuk oleh beliau, ada juga yang hanya diam saja. Kalau saya rasanya agak grogi, bukan karena saya tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut, tapi mungkin karena saya ini pemalu (12 Mei 2012).
kami, saya pasti langsung mengacungkan tangan walaupun kadang-kadang jawaban saya kurang tepat. Namun jika jawaban saya kurang tepat pasti nanti ada teman yang melangkapi jawaban saya tersebut (12 Mei 2012). Berbagai penuturan peserta didik diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode tanya jawab merupakan metode yang baik digunakan untuk mengetahui daya serap peserta didik terhadap materi pembelajaran namun dalam penerapannya, ada beberapa peserta didik yang tidak ikut aktif menjawab pertanyaan dari guru. Metode tanya jawab hanya didominasi oleh peserta didik yang pintar dan yang berani saja. Metode diskusi digunakan oleh guru setelah materi teori selesai diajarkan. Metode diskusi ini digunakan oleh guru untuk memecahkan permasalahan yang dialami oleh siswa saat pembelajaran cetak saring. Metode diskusi digunakan pada saat menentukan desain yang akan diafdruk dalam satu kelompok. Peserta didik dalam satu kelompok berdiskusi untuk menentukan desain tersebut. Hasil dari diskusi tersebut dapat di konsultasikan kepada guru sehingga desain yang akan diafdruk benar-benar desain yang layak untuk dicetak nantinya. c. Metode Instruksi (Pemberian Tugas) Tujuan dari metode instruksi (pemberian tugas) yang tertulis dalam RPP yang dibuat oleh guru adalah: Metode instuksi digunakan agar: 1) Peserta didik merasa lebih bebas dalam mengerjakan tugas, karena jika peserta didik belum selesai mengerjakan tugas yang diberikan di sekolah, mereka dapat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 114
menyelesaikannya di rumah. 2) Saat mengerjakan tugas di rumah: a) Peserta didik merasa bebas berimajinasi, b) Peserta didik mendapatkan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas, c) Peserta didik bebas berbuat, d) Kesulitan teknis peserta didik dapat diatasi dengan pertolongan orang-orang di rumah, e) Benda-benda yang ada di rumah dan masukan dari orang serumah dapat menimbulkan serta mengarahkan daya cipta peserta didik. 3) Membina rasa tanggung jawab serta sifat jujur dan disiplin dalam diri peserta didik .
Gambar 4.55. Guru Membimbing Peserta Didik Ketika Memberikan Tugas Mendesain (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Metode instruksi (pemberian tugas) diberikan kepada peserta didik saat materi teori maupun praktek berlangsung. Saat meteri teori, tugas yang diberikan berupa soal-soal latihan, antara lain: pertanyaan mengenai pengertian cetak saring, sejarah cetak saring, alat dan bahan yang digunakan dalan proses afdruk, dan lain sebagainya. Saat materi praktek, tugas yang diberikan antara lain: membuat desain cetak saring untuk tshirt, syal, dan sarung tangan. Saat memberikan tugas praktek, guru selalu mengawasi dan membimbing peserta didik ketika mengerjakan tugas tersebut.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 115
d. Metode Demonstrasi Tujuan dari metode demonstrasi yang tertulis dalam RPP yang di buat oleh guru adalah: Metode demonstrasi digunakan agar: 1) Peserta didik mendapatkan gambaran realitas tentang perwujudan bentuk yang diajarkan guru. 2) Peserta didik merasa puas karena dapat menyaksikan prosedur pembuatan secara langsung. 3) Peserta didik merasa tertolong kemudian akan timbul dorongan untuk mencoba.
Gambar 4.56. Bapak Rivi Rumianto, S.Pd. Mendemonstrasikan Proses Afdruk (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Metode demonstrasi digunakan oleh guru untuk memperagakan suatu proses kepada peserta didik. Proses tersebut yaitu: proses membuat klise diapositif, proses afdruk, proses pencetakan, proses fiksasi warna, dan proses pengemasan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 116
Gambar 4.57. Guru Mendemonstrasikan Cara Mencuci Screen yang Telah Selesai Diafdruk (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Metode demonstrasi sangat bermanfaat bagi guru maupun peserta didik. Manfaat metode ini bagi guru yaitu dapat memperagakan suatu proses kepada peserta didik seperti kejadian yang sebenarnya karena menggunakan alat dan bahan yang sebenarnya. Manfaat metode ini bagi peserta didik yaitu peserta didik dapat mengamati secara langsung suatu proses yang diterangkan oleh guru tanpa harus membayangkan atau berimajinasi. e. Metode Mengajar Beregu (Team Teaching) Metode mengajar beregu tidak tertulis dalam RPP yang dibuat oleh guru namun kenyataannya metode ini digunakan dalam pelaksanaan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 117
pembelajaran cetak saring. Metode mengajar beregu yaitu beberapa guru bekerjasama untuk mengajar satu kelas secara bersamaan. Mata pelajaran cetak saring ini diampu oleh tiga guru, yaitu: Bapak Joko agus Pambudi, S.Sn., Bapak Drs. Budi Susanto, dan Bapak Drs. Purwanto Joko Sulistyono. Metode mengajar beregu yang digunakan oleh guru mata pelajaran cetak saring ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari metode ini adalah tugas dari guru saat mengawasi atau membimbing peserta didik praktikum menjadi lebih ringan karena satu kelas diawasi atau dibimbing oleh tiga guru dan antara satu guru dengan guru lainnya bisa saling melengkapi saat memberikan materi pembelajaran. Peserta didik tidak merasa bosan dengan pelajaran cetak saring karena diajar oleh tiga guru yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Kelemahan dari metode ini sangat dirasakan oleh peserta didik. Terjadinya perbedaan pandangan antara guru satu dengan guru lainnya dapat mengakibatkan peserta didik menjadi sulit menentukan pandangan mana yang perlu mereka ikuti. Berkaitan dengan kelemahan metode ini, salah seorang peserta didik menuturkan bahwa: beliau menyuruh saya untuk menambahkan ini dan itu, terus saya mengikuti penuturan beliau. Secara tidak sengaja Pak Joko datang dan melihat desain saya, beliau bilang kalau desain saya terlalu rumit, beliau menyuruh untuk menggambar desain yang sederhana saja dan nanti di desain itu diberikan tipografi agar audience mengetahui maksud dari desain yang saya buat tersebut. Saya menjadi bingung mana yang harus saya ikuti. Terus saya lanjutkan saja membuat desain sesuai masukan Pak Pur tadi. Setelah selesai saya mambuat desain lagi sesuai masukan dari Pak Joko (12 Mei 2012). 4.
Media Pembelajaran Cetak saring Penggunaan media sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran cetak saring. Media pembelajaran akan memudahkan pemahaman peserta didik atas penjelasan yang diberikan oleh guru. Pemilihan media yang tepat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 118
dalam pelaksanaan pembelajaran cetak saring merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran cetak saring. Media pembelajaran yang digunakan oleh guru saat pembelajaran cetak saring ini adalah: a. Media Audio dan Visual Media audio dan visual yang digunakan saat pembelajaran cetak saring yaitu: LCD (Proyektor) dan laptop, papan tulis (white board), spidol (board maker), penghapus papan tulis, dan poster. LCD (Proyektor) dan laptop digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran cetak saring pada pertemuan pertama saat materi teori pengantar praktik. Guru menggunakan LCD (Proyektor) dan laptop sebagai pelengkap dari metode ceramah. Saat guru hanya berceramah, sebagian peserta didik terlihat bosan. Saat diperintah untuk mencatat, sebagian besar dari mereka tidak mau mencatat karena kurang bisa menangkap isi dari materi yang disampaikan guru. Guru menanpilkan program power point melalui LCD (Proyektor) sehingga dengan adanya tampilan ini, peserta didik dapat mencatat pokok-pokok materi yang ditampilkan oleh guru. Media ini juga digunakan oleh guru untuk menampilkan gambar contoh-contoh desain cetak saring dan hasil karya cetak saring. Papan tulis (white board), spidol (board maker), dan penghapus papan tulis digunakan juga oleh guru untuk mencatat pokok materi yang disampaikan, menggambar contoh desain motif, bahkan mencacat soalsoal atau tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik. Media ini tetap digunakan meskipun guru telah menggunakan LCD (Proyektor) dan laptop. Berikut penuturan Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn selaku salah satu guru mata pelajaran cetak saring terkait penggunaan Papan tulis (white board), spidol (board maker), dan penghapus papan tulis: skipun sekarang ini kami sudah menggunakan laptop dan LCD (Proyektor) dalam mengajar namun sesekali kami juga menggunakan papan tulis. Saya pribadi lebih senang memakai
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 119
papan tulis saat mengajar namun tetap saja saya harus menggunakan laptop dan LCD (Proyektor) karena saya lihat siswa jauh lebih tertarik mengikuti kegiatan pembalajaran saat kami menggunakan media tersebut. Dengan menggunakan media tersebut, sesekali saya juga menampilkan gambar-gambar desain motif yang sekiranya lucu dan menarik minat siswa. Biar bagaimanapun juga siswa akan jauh lebih senang melihat gambargambar yang berwarna-warni daripada hanya tulisan saja karena itu kami selaku guru selalu berupaya untuk menyampaikan materi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan namun tidak keluar dari tujuan pembelajaran yang telah kami rumuskan dalam
Poster yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran cetak saring ini adalah poster yang bergambar desain-desain cetak saring. Melalui media poster ini, guru menjelaskan unsur-unsur dan prinsipprinsip desain. Poster ini merupakan hasil print out guru yang kemudian dibagikan kepada peserta didik untuk dianalisa. Analisa yang dilakukan oleh peserta didik adalah mengenai unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain yang terkandung pada gambar di poster tersebut.
Gambar 4.58. Guru Menggunakan Poster sebagai Media Pembelajaran (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 120
b. Material Collections Material collections yang digunakan saat pembelajaran cetak saring yaitu berupa dokumentasi atau hasil karya cetak saring yang dibuat oleh para peserta didik sebelumnya maupun barang-barang yang sengaja dibeli oleh guru. Guru memperlihatkan kepada peserta didik hasil karya dari kakak-kakak kalas mereka saat masih duduk di bangku kelas XI. Hasil karya dari peserta didik yang bagus disimpan sebagai portopolio oleh pihak guru. Portopolio ini berguna sebagai media pembelajaran untuk peserta didik. Melalui hasil karya cetak saring yang diperlihatkan oleh guru, peserta didik mampu membayangkan karya apa yang akan mereka ciptakan nantinya. Hal ini juga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik dalam berkarya agar menghasilkan karya-karya yang lebih bagus dan lebih indah dari kakak-kakak kelas mereka. Berkaitan dengan material collections, Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn. memaparkan bahwa: memperlihatkan contoh-contoh benda yang dibutuhkan dalam pembelajaran cetak saring. Salah satu benda tersebut adalah portopolio dari kakak kelas mereka baik yang telah lulus maupun yang masih duduk di kelas XII. Untuk contoh karya cetak saring, saya selalu memperlihatkan kaos. Saat saya jalan-jalan jika kebetulan saya melihat kaos sablonan dengan desain yang unik, lain dari yang lain, biasanya langsung saya beli. Dan saya memperlihatkan kaos tersebut kepada peserta didik. Dari kaos satu kaos saja, guru dan siswa dapat mendiskusikan berbagai hal, misalnya; desain motif kaos tersebut, bahan kain yang digunakan untuk membuat kaos, sampai hasil sablonan Hasil karya yang diperlihatkan kepada peserta didik berupa: t-shirt (kaos), syal, sapu tangan, slayer, paper bag, dan kipas.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 121
Gambar 4.59. Material Collections yang Digunakan oleh Guru (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) c. Benda Tiga Dimensi Benda-banda tiga dimensi yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran cetak saring ini adalah alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan (diperlukan) dalam proses cetak saring. Alat dan bahan tersebut yaitu: 1) Alat dan bahan untuk mendesain yang terdiri dari: pensil, karet penghapus, kertas HVS, kertas gambar ukuran A4, pensil warna, dan meja desain. 2) Alat dan bahan untuk membuat klise diapositif. Alat dan bahan untuk membuat klise diapositif yang diperlihatkan oleh guru adalah: mika, opaque ink, dan pen kodok. 3) Alat dan bahan untuk proses afdruk dan pencetakan. Alat dan bahan untuk proses afdruk dan pencetakan yang diperlihatkan kepada peserta didik adalah: cairan emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya) dengan merk dagang Ulano TZ, screen, rakel, hair dryer, hand sprayer, karet busa,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 122
kain hitam, papan triplek. Guru juga memperlihatkan kepada peserta didik meja afdruk dan alat press yang diletakkan di ruang gelap. Benda-benda tiga dimensi ini digunakan guru untuk membantu memperagakan suatu proses (mempermudah metode demonstrasi). Saat materi mendesain, guru memberikan petunjuk cara memegang pensil yang benar, cara mewarnai yang benar agar hasil pewarnaan peserta didik terlihat indah. Saat materi membuat film diapositif, guru memberikan petunjuk cara memegang pen kodok yang benar, cara mengisi opaque ink kedalam pen, dan cara melukis menggunakan pen kodok di atas mika. Saat materi proses afdruk dan proses pencetakan, guru memperagakan cara mengoleskan cairan emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya) ke screen, cara mengafdruk film, cara menyusun alat-alat saat proses afdruk, dan cara menyaput bahan- bahan cetak di screen menggunakan rakel. d. Sumber Pembelajaran yang Berupa Buku atau Modul
Gambar 4.60. Sumber Pembelajaran Cetak Saring (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai pedoman berupa buku atau modul. Adanya sumber pembelajaran ini mempermudah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 123
guru dalam menyampaikan materi. Sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran cetak saring ini adalah: 1)
dkk. Buku ini merupakan buku pegangan wajib yang harus dimiliki oleh guru maupun peserta didik karena buku ini diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. 2)
oleh Koko K. Arifien terbitan Yrama Widya Bandung. e. Ruang Khusus yang Telah Disediakan di Bengkel Tekstil
Gambar 4.61. Pompa Air dan Bak untuk Mencuci (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Ruang khusus yang telah disediakan di bengkel tekstil untuk mempermudah pelaksanaan pembelajaran cetak saring ini adalah: ruang teori yang digunakan saat pelajaran teori berlangsung, ruang desain yang di dalamnya terdapat meja gambar khusus untuk para peserta didik saat mendesain, ruang gelap yang digunakan untuk membuat klise negatif
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 124
(melakukan proses afdruk), dan bak serta pompa air di luar bengkel tekstil yang digunakan untuk mencuci. 5.
Evaluasi Pembelajaran Cetak saring Evaluasi pembelajaran merupakan hasil pengukuran kemampuan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Evaluasi yang dilakukan saat pelaksanaan pembelajaran cetak saring di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yaitu evaluasi proses pembelajaran cetak saring dan evaluasi hasil belajar cetak saring. Alat evaluasi yang digunakan oleh guru untuk mengetahui daya serap terhadap materi teori adalah berupa test tertulis dan test lisan. Test tertulis yang digunakan berupa: 1) Test pilihan ganda, dalam test pilihan ganda ini alternatif jawaban ada lima butir. 2) test isian, soal dalam test ini merupakan suatu pernyataan yang belum lengkap, peserta didik harus melengkapi pernyataan tersebut. 3) Test essai, merupakan pertanyaan yang menghendaki jawaban berupa uraian yang mendalam dan relatif panjang. Contoh soal untuk test essai yang tertulis di RPP pada pertemuan pertama: 1) Jelaskan pengertian dari cetak saring! 2) Mengapa teknik cetak saring dapat berkembang dengan cepat menjadi industri kecil yang mandiri? 3) Sebut dan jelaskan secara singkat 3 saja alat-alat yang diperlukan dalam proses cetak saring! 4) Sebut dan jelaskan secara singkat 3 saja bahan-bahan yang diperlukan dalam proses cetak saring! Pada pelajaran praktek, guru melakukan evaluasi dengan cara observasi atau mengamati kegiatan peserta didik selama melakukan parktik cetak saring dan melihat hasil kerja (hasil karya) peserta didik selama praktik. Hasil kerja (hasil karya) yang dibuat oleh peserta didik merupakan hasil akhir pembelajaran cetak saring selama satu semester. Aspek dalam penilaian hasil kerja (hasil karya) diperoleh dari beberapa aspek yaitu: 1) Aspek persiapan kerja, memiliki bobot penilaian 15 %, yang terdiri dari: a) Persiapan tempat karja yang memiliki bobot penilaian 5%, b) Persiapan alat dan bahan kerja yang memiliki bobot penilaian 5%, c) Persiapan sumber dan acuan kerja yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 125
memiliki bobot penilaian 5%. 2) Aspek proses kerja, memiliki bobot penilaian 25 %, yang terdiri dari: a) Sikap kerja peserta didik yang memiliki bobot penilaian 5%, b) langkah kerja peserta didik yang memiliki bobot penilaian 5%, c) Kemandirian kerja peserta didik yang memiliki bobot penilaian 5%, d) Kerjasama kelompok yang memiliki bobot penilaian 5%, e) Efisien dan efektifitas kerja peserts didik yang memiliki bobot penilaian 5%. 3) Aspek hasil karya, memiliki bobot penilaian 60%, yang terdiri dari: a) Kreativitas peserta didik yang memiliki bobot penilaian 25%, b) Kebersihan dan kerapian hasil karya yang memiliki bobot penilaian 15%, c) Ketepatan waktu yang memiliki bobot penilaian 5%, d) Finishing karya yang memiliki bobot penilaian 15%. Berikut adalah tabel penilaian hasil karya peserta didik saat melakukan kegiatan praktek: Tabel 4.1. Aspek dan Bobot Penilaian Hasil Karya Peserta Didik No. Aspek Indikator Penilaian Bobot 1.
2.
3.
Persiapan (15 %)
Proses Kerja (25%)
Hasil Karya (60%)
Tempat Kerja
5%
Alat dan Bahan
5%
Sumber atau Acuan
5%
Sikap Kerja
5%
Langkah Kerja
5%
Kemandirian Kerja
5%
Kerjasama Kelompok
5%
Efisien dan Efektifitas Kerja
5%
Kreativitas
25%
Kebersihan dan Kerapian
15%
Ketepatan Waktu
5%
Finishing karya
15%
Batas kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran produktif cetak saring adalah 75.00. Peserta didik yang nilainya kurang dari 75.00 dianggap belum memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan (belum kompeten) dan peserta
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 126
didik tersebut diberikan kesempatan oleh guru untuk menempuh perbaikan atau remidi. Berikut adalah hasil analisis nilai kompetensi mata pelajaran produktif cetak saring kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta:
Hasil Analisis Program Keahlian
: Kriya Tekstil
Mata Pelajaran
: Cetak Saring
Kelas / Semester
: XI / IV
Tahun Pelajaran
: 2011/2012
Ketuntasan Pembelajaran Perorangan: Banyak peserta didik seluruhnya: 32 peserta didik. Banyak peserta didik yang tuntas belajar: 30 peserta didik. Presentase banyak peserta didik yang tuntas belajar: 94%. Presentase banyak peserta didik yang belum tuntas belajar: 6%. Klasikal: Tuntas / Tidak Tuntas. Kesimpulan Perlu perbaikan secara klasikal untuk nomor soal: Ada / Tidak ada. Perlu perbaikan secara individual: Ada / Tidak ada. Keterangan Daya serap perorangan: Seorang peserta didik telah tuntas belajar apabila ia telah mencapai nilai 75,00. Daya serap klasikal: Suatu klasikal telah tuntas belajar apabila kelas tersebut telah terdapat 75 % yang telah mencapai daya serap 75%.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 127
Hasil analisis tersebut diperoleh berdasarkan penghitungan sebagai berikut: a. Presentase peserta didik yang tuntas belajar diperoleh dari: Peserta didik yang tuntas belajar x 100% = 30 x 100% = 94% Jumlah peserta didik seluruhnya 32 b. Persentase peserta didik yang belum tuntas belajar diperoleh dari: Peserta didik yang belum tuntas belajar = 2 x 100% = 6% Jumlah peserta didik seluruhnya 32 c. Nilai akhir (hasil belajar) peserta didik diperoleh dari: Nilai UH + Nilai UTS + Nilai HK + Nilai UUKK = Nilai Akhir 4 Keterangan: 1) UH = Ulangan Harian 2) UTS = Ulangan Tengah Semester 3) HK = Hasil Karya 4) UUKK = Ulangan Umum Kenaikan Kelas Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa di kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta berjumlah 32 orang. Peserta didik yang telah mencapai standar KKM berjumlah 30 orang dan yang belum tuntas belajar atau belum memenuhi standar KKM berjumlah 2 orang. Kedua peserta didik yang belum tuntas belajar tersebut diberikan kesempatan untuk mengikuti perbaikan atau remidi. Presentase banyak peserta didik yang telah tuntas belajar adalah 94% sedangkan presentase banyak peserta didik yang belum tuntas belajar adalah 6%. Berkaitan dengan batas kriteria ketuntasan minimal, Bapak Drs. Dalut Heri Prasetyoko, selaku salah satu guru mata pelajaran produktif kriya tekstil mengemukakan bahwa: dianggap telah lulus dalam mata pelajaran produktif cetak saring ini atau dengan kata lain telah memenuhi standar kompetensi pembelajara, karena KKM setiap mata pelajaran produktif adalah 75. Secara klasikalpun demikian, sebuah kelas telah dianggap memenuhi standar kompetensi suatu mata pelajaran produktuf jika telah terdapat 75%
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 128
siswa atau lebih yang memperoleh nilai 75 atau mencapai daya serap
Penuturan Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn dan Bapak Drs. Budi Susanto mengenai sistem penilaian untuk mata pelajaran cetak saring adalah sebagai berikut: Kami selaku guru dalam melakukan penilaian selain melihat hasil karya siswa, juga memperhatikan aspek-aspek lainnya, misalnya sikap siswa selama mengikuti pembelajaran, kedisiplinan siswa, persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, ketepatan mengumpulkan tugas, dan lain sebagainya. Jadi kami selaku guru selalu memperhatikan siswa-siswa saat mengikuti pelajaran, baik saat pelajaran teori maupun pelajaran praktek. Saat pelajaran teori, apakah ada siswa yang tidur atau mengobrol waktu kami memberikan materi. Saat pelajaran praktek, apakah siswa sudah bisa memegang rakel dan menyaputnya ke screen, apakah desain-desain yang dibuat oleh siswa adalah murni dari ide siswa sendiri atau merupakan pengembangan dari desain-desain yang sudah ada atau justru siswa 100% meniru desain-desain yang sudah ada (12 Mei 2012). aling bagus mungkin sampai 85. Kami tidak akan memberikan nilai 100 kepada siswa karena mata pelajaran cetak saring adalah mata pelajaran produktif, bukan mata pelajaran normatif dan adaptif. Misalkan dalam membuat desain motif, para siswa masih dibimbing oleh guru, mereka masih mengkonsultasikan desain yang mereka buat kepada guru; begitu pula saat melakukan proses pembuatan klise diapositif, proses afdruk, proses pencetakan, fiksasi warna dan pengemasan. Bimbingan dari guru masih mereka butuhkan sebagai upaya meningkatkan ketrampilan mer Sebagian besar peserta didik berpendapat bahwa nilai yang mereka peroleh cukup memuaskan namun dalam bekerja mereka masih merasa belum sungguh-sungguh.
C. Penilaian Hasil Karya Cetak Saring Hasil karya akhir dari pembelajaran cetak saring ini adalah membuat karya kriya tekstil dengan teknik cetak saring. Saat materi pembelajaran mendesain, peserta didik diberikan tugas untuk membuat desain t-shirt, syal, dan sapu tangan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 129
(slayer). Setiap peserta didik diharuskan membuat beberapa alternatif desain yang akan dicetak pada bahan tersebut. Beberapa desain yang dibuat oleh peserta didik itu dikonsultasikan kepada guru untuk diberi masukan. Guru hanya menyetujui satu desain terbaik dari beberapa desain yang dibuat oleh seorang peserta didik. Setiap peserta didik memiliki sebuah desain yang telah disetujui oleh guru. Desain tersebut kemudian dibuat klise diapositifnya. Saat materi memasuki proses afdruk, dibentuklah tujuh kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari empat sampai eman anggota. Tiap kelompok diwajibkan melakukan diskusi untuk menentukan sebuah desain yang akan mereka cetak. Saat diskusi selesai dan tiap kelompok mempunyai satu desain yang akan dicetak maka materi dilanjutkan ke proses afdruk, proses cetak, dan fiksasi warna. Berikut adalah nilai hasil karya cetak saring tiap-tiap kelompok. 1.
Hasil Karya Kelompok 1 Kelompok 1 beranggotakan: Eko Siti Wahyuni, Indri Mayarita, Wahyuti, dan Wika. Hasil karya dari kelompok 1 adalah sebuah sapu tangan (slayer). Desain yang disablon dalam kelompok ini adalah desain buatan Eko Siti Wahyuni yang merupakan desain kaki dengan tipografi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 130
Gambar 4.62. Hasil Karya Kelompok 1 (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012) Tabel 4.2. Penilaian Hasil Karya Kelompok 1 No. Aspek Indikator Penilaian
Bobot
Skor
Nilai
(0-100) 1.
2.
P (15%)
PK (25%)
Tempat Kerja
5%
80
4.00
Alat dan Bahan
5%
85
4.25
Sumber atau Acuan
5%
80
4.00
Sikap Kerja
5%
85
4.25
Langkah Kerja
5%
85
4.00
Kemandirian Kerja
5%
85
4.25
Kerjasama Kelompok
5%
80
4.00
Efisien & Efektifitas Kerja
5%
85
4.25
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 131
3.
HK (60%)
Kreativitas
25%
80
20.00
Kebersihan dan Kerapian
15%
80
12.00
Ketepatan Waktu
5%
80
4.00
Finishing karya
15%
80
12.00
Nilai Akhir Hasil Karya
2.
81.00
Hasil Karya Kelompok 2 Kelompok 2 beranggotakan: Eka Maryana, Erna Duwyani, Septika Furi Etikawati, dan Tutik Kurnia Sari. Hasil karya dari kelompok 2 adalah sebuah sapu tangan (slayer). Desain yang disablon dalam kelompok ini adalah desain buatan Eka Maryana yang berupa desain Shaun The Sheep yang diberikan background pemandangan beserta tipografi bertuliskan sesuai kreativitasnya.
Gambar 4.63. Hasil Karya Kelompok 2 (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 132
Tabel 4.3. Penilaian Hasil Karya Kelompok 2 No. Aspek Indikator Penilaian Bobot
Skor
Nilai
(0-100) 1.
2.
3.
P (15%)
PK (25%)
HK (60%)
Tempat Kerja
5%
70
3.50
Alat dan Bahan
5%
80
4.00
Sumber atau Acuan
5%
70
3.50
Sikap Kerja
5%
85
4.25
Langkah Kerja
5%
80
4.00
Kemandirian Kerja
5%
75
3.75
Kerjasama Kelompok
5%
80
4.00
Efisien & Efektifitas Kerja
5%
70
3.50
Kreativitas
25%
80
20.00
Kebersihan dan Kerapian
15%
80
12.00
Ketepatan Waktu
5%
70
3.50
Finishing karya
15%
80
12.00
Nilai Akhir Hasil Karya
78.00
3. Hasil Karya Kelompok 3 Kelompok 3 beranggotakan: Ika Rahmawati, Fajar Wijiyanti S, Jatmini, Rini Puji Lestari, dan Tyas Ayu Dyah Tuti. Hasil karya dari kelompok 3 adalah sebuah sapu tangan (slayer). Desain yang disablon dalam kelompok ini adalah desain buatan Ika Rahmawati yang berupa desain kartun dengan tipografi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 133
Gambar 4.64. Hasil Karya Kelompok 3 (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
No.
Tabel 4.4. Penilaian Hasil Karya Kelompok 3 Aspek Indikator Penilaian Bobot
Skor
Nilai
(0-100) 1.
2.
P (15%)
PK (25%)
Tempat Kerja
5%
80
4.00
Alat dan Bahan
5%
80
4.00
Sumber atau Acuan
5%
75
3.75
Sikap Kerja
5%
85
4.25
Langkah Kerja
5%
80
4.00
Kemandirian Kerja
5%
75
3.75
Kerjasama Kelompok
5%
80
4.00
Efisien & Efektifitas Kerja
5%
75
3.75
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 134
3.
HK (60%)
Kreativitas
25%
85
21.25
Kebersihan dan Kerapian
15%
80
12.00
Ketepatan Waktu
5%
80
4.00
Finishing karya
15%
80
12.00
Nilai Akhir Hasil Karya
80.75
4. Hasil Karya Kelompok 4 Kelompok 4 beranggotakan: Lilis Suyanti, Melati Woro AW, Mulyaningsih, dan Noliskawati. Hasil karya dari kelompok 4 adalah sebuah sapu tangan (slayer). Desain yang disablon dalam kelompok ini adalah desain buatan Melati Woro AW. yang berupa desain Hati dengan tipografi
Gambar 4.65. Hasil Karya Kelompok 4 (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 135
Tabel 4.5. Penilaian Hasil Karya Kelompok 4: No. Aspek Indikator Penilaian Bobot
Skor
Nilai
(0-100) 1.
2.
3.
P (15%)
PK (25%)
HK (60%)
Tempat Kerja
5%
70
3.50
Alat dan Bahan
5%
80
4.00
Sumber atau Acuan
5%
70
3.50
Sikap Kerja
5%
85
4.25
Langkah Kerja
5%
75
4.00
Kemandirian Kerja
5%
80
3.75
Kerjasama Kelompok
5%
80
4.00
Efisien & Efektifitas Kerja
5%
70
3.50
Kreativitas
25%
80
20.00
Kebersihan dan Kerapian
15%
80
12.00
Ketepatan Waktu
5%
70
3.50
Finishing karya
15%
80
12.00
Nilai Akhir Hasil Karya
78.00
5. Hasil Karya Kelompok 5 Kelompok 5 beranggotakan: Elena Dea Rivera, Endah Puspitosari, Martiana Sari, dan Putri Cahya Suci. Hasil karya dari kelompok 5 adalah sebuah t-shirt (kaos). Desain yang disablon dalam kelompok ini adalah desain buatan Putri Cahya Suci yang betema lingkungan hidup dengan tipografi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 136
Gambar 4.66. Hasil Karya Kelompok 5 (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
No.
Tabel 4.6. Penilaian Hasil Karya Kelompok 5 Aspek Indikator Penilaian Bobot
Skor
Nilai
(0-100) 1.
2.
P (15%)
PK (25%)
Tempat Kerja
5%
80
4.00
Alat dan Bahan
5%
85
4.25
Sumber atau Acuan
5%
80
4.00
Sikap Kerja
5%
85
4.25
Langkah Kerja
5%
85
4.25
Kemandirian Kerja
5%
80
4.00
Kerjasama Kelompok
5%
85
4.25
Efisien & Efektifitas Kerja
5%
75
3.75
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 137
3.
HK (60%)
Kreativitas
25%
85
21.25
Kebersihan dan Kerapian
15%
85
12.75
Ketepatan Waktu
5%
80
3.75
Finishing karya
15%
80
12.00
Nilai Akhir Hasil Karya
80.25
6. Hasil Karya Kelompok 6 Kelompok 6 beranggotakan: Luluk Setia Wardani, Maria Dwi Rahayu, Novi Nur Afitasari, dan Nurul Qoyyimah. Hasil karya dari kelompok 6 adalah sebuah t-shirt (kaos). Desain yang disablon dalam kelompok ini adalah desain buatan Nurul Qoyyimah yang berupa desain batik dengan tipografi berupa kanji jepang dan bahasa inggris Solo Child
Gambar 4.67. Hasil Karya Kelompok 6 (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 138
No.
Tabel 4.7. Penilaian Hasil karya Kelompok 6: Aspek Indikator Penilaian Bobot
Skor
Nilai
(0-100) 1.
2.
3.
P (15%)
PK (25%)
HK (60%)
Tempat Kerja
5%
80
4.00
Alat dan Bahan
5%
85
4.25
Sumber atau Acuan
5%
80
4.00
Sikap Kerja
5%
85
4.25
Langkah Kerja
5%
85
4.25
Kemandirian Kerja
5%
75
4.00
Kerjasama Kelompok
5%
80
4.00
Efisien & Efektifitas Kerja
5%
80
3.75
Kreativitas
25%
85
20.00
Kebersihan dan Kerapian
15%
80
12.00
Ketepatan Waktu
5%
75
3.75
Finishing karya
15%
80
12.00
Nilai Akhir Hasil Karya
80.25
7. Hasil Karya Kelompok 7 Kelompok 7 beranggotakan: Ani Rukmana, Ayu Heni Puspitasari, Diah Ayu Safitri, Eva Wahyu Wulandari, Nuri Yulaikhah, dan Rochayatun. Hasil karya dari kelompok 7 adalah sebuah sapu tangan (slayer). Desain yang disablon dalam kelompok ini adalah desain buatan Eva Wahyu Wulandari yang berupa desain bambu dengan tipografi bertuliskan
Hasil karya kelompok ini sudah menggunakan dua
warna meskipun sebenarnya guru hanya menugaskan mencetak dengan satu warna tunggal.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 139
Gambar 4.68. Hasil karya Kelompok 7 (Dokumentasi: Aslam Hariyadi, 2012)
No.
Tabel 4.8. Penilaian Hasil karya Kelompok 7 Aspek Indikator Penilaian Bobot
Skor
Nilai
(0-100) 1.
2.
P (15%)
PK (25%)
Tempat Kerja
5%
80
4.00
Alat dan Bahan
5%
85
4.25
Sumber atau Acuan
5%
80
4.00
Sikap Kerja
5%
80
4.25
Langkah Kerja
5%
85
4.00
Kemandirian Kerja
5%
85
4.25
Kerjasama Kelompok
5%
85
4.00
Efisien & Efektifitas Kerja
5%
80
4.25
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 140
3.
HK (60%)
Kreativitas
25%
80
20.00
Kebersihan dan Kerapian
15%
85
12.00
Ketepatan Waktu
5%
80
4.00
Finishing karya
15%
80
12.00
Nilai Akhir Hasil Karya
81.00
D. Hasil Belajar Cetak Saring Hasil belajar dari pembelajaran cetak saring adalah berupa nilai akhir yang diperoleh dari :
N.A. = Nilai UH + Nilai UTS + Nilai HK + Nilai UUKK 4 Keterangan: 1) NA = Nilai Akhir 2) UH = Ulangan Harian 3) UTS = Ulangan Tengah Semester 4) HK = Hasil Karya 5) UUKK = Ulangan Umum Kenaikan Kelas
Tabel 4.8. Daftar Nilai Akhir Mata Pelajaran Cetak Saring Siswa Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta No Nama Siswa L/P UH UTS HK UUKK N.A L/TL 1
Ani Rukmana
P
76
80
81
78
78.75
L
2
Ayu Heni P.
P
75
79
81
78
78.25
L
3
Diah Ayu Safitri
P
75
78
81
77
77.75
L
4
Eka Maryana
P
76
77
78
77
77.00
L
5
Eko Siti Wahyuni
P
82
83
81
85
82.75
L
6
Elena Dea Rivera
P
75
77
80
77
77.25
L
7
Endah Puspitosari
P
76
77
80
79
78.00
L
8
Eni Rahayu
P
76
78
-
-
38.50
TL
9
Erna Duwyani
P
77
79
78
77
77.75
L
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 141
10
Eva Wahyu W.
P
81
82
81
83
81.75
L
11
Fajar Wijiyanti S.
P
73
71
81
72
74.45
TL
12
Ika Rahmawati
P
78
78
81
77
78.50
L
13
Indri Mayarita
P
76
78
81
80
78.75
L
14
Jatmini
P
76
76
81
79
78.00
L
15
Lilis Suyanti
P
76
79
78
79
78.00
L
16
Luluk Setia W.
P
77
78
80
77
78.00
L
17
Maria Dwi R.
P
76
80
80
78
78.50
L
18
Martiana Sari
P
78
78
80
77
78.25
L
19
Melati Woro AW. P
77
79
78
79
78.25
L
20
Mulyaningsih
P
78
80
78
79
78.75
L
21
Noliskawati
P
78
79
78
77
78.00
L
22
Novi Nur A.
P
76
79
80
77
78.00
L
23
Nuri Yulaikhah
P
76
77
81
78
78.00
L
24
Nurul Qoyyimah
P
80
83
80
85
82.00
L
25
Putri Cahya Suci
P
83
84
80
85
83.00
L
26
Rini Puji Lestari
P
79
80
81
78
80.75
L
27
Rochayatun
P
78
80
81
83
80.50
L
28
Septika Furi E.
P
76
78
78
80
78.00
L
29
Tutik Kurnia Sari
P
76
79
78
78
77.75
L
30
Tyas Ayu Dyah T
P
78
78
81
77
78.75
L
31
Wahyuti
P
78
79
81
78
79.00
L
32
Wika
P
77
80
81
77
78.75
L
Nilai Rata-rata
77.50
Berdasarkan hasil belajar peserta didik selama satu semester saat mengikuti mata pelajaran cetak saring, maka dapat disimpulkan bahwa siswa Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstik SMK Negeri 9 Surakarta sebagian besar telah mencapai nilai standart kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan nilai tertinggi yaitu 83.00 dan nilai terendah yaitu 38.50. Terdapat dua peserta
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 142
didik yang belun memenuhi nilai standart kriteria ketuntasan mininal, dengan nilai yang dicapai 38.50 dan 74.45. Berdasarkan hasil tersebut, maka presentase jumlah peserta didik yang telah memenuhi nilai standart kriteria ketuntasan minimal adalah 94% sedangkan yang belum adalah 6%. Secara klasikal maka Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil telah memenuhi standart kriteria ketuntasan minimal dengan nilai rata-rata kelas yaitu 77.50.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Hasil studi tentang pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.
Tujuan pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta adalah peserta didik mampu: a) Menjelaskan dan memahami rambu-rambu tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). b) Menjelaskan dan memahami jenis, sifat dan fungsi dari alat serta bahan yang digunakan. c) Menjelaskan dan memahami pengertian desain. d) Menjelaskan dan memahami unsur-unsur desain. e) Menjelaskan dan memahami prinsip-prinsip desain. f) Menjelaskan dan memahami contohcontoh desain yang sesuai pedoman. g) Membuat desain cetak saring untuk tshirt, syal, dan sapu tangan. h) Menjelaskan dan memahami cara membuat diapositif. i) Membuat diapositif dari desain yang telah dibuat. j) Menjelaskan dan memahami langkah-langkah proses afdruk. k) Melakukan proses afdruk dengan benar (sesuai prosedur). l) Menjelaskan dan memahami langkahlangkah proses pencetakan. m) Melakukan proses mencetakan dengan benar (sesuai prosedur). n) Melakukan kegiatan fiksasi warna dengan benar (sesuai prosedur). o) Membuat kemasan, jahitan, assesoris, bingkai, atau label identitas karya.
2.
Materi pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta adalah: a) Rambu-rambu tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). b) Jenis, sifat, dan fungsi dari alat dan bahan yang digunakan. c) Pembuatan desain cetak saring. d) Pembuatan diapositif. e) Proses afdruk. f) Proses pencetakan. g) Fiksasi warna. h) Pengemasan.
3.
Metode yang digunakan oleh Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn., Bapak Drs. Budi Susanto, dan Bapak Drs. Purwanto Joko Sulistyono selaku guru mata pelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK
commit to user 143
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 144
Negeri 9 Surakarta adalah: a) Metode ceramah digunakan untuk menyampaikan materi teori pengantar praktek. Saat metode ini digunakan, sebagian peserta didik memperhatikan namun sebagian ada pula yang berbicara sendiri dengan teman disampingnya. b) Metode tanya jawab digunakan untuk menanyakan kepada peserta didik terkait materi yang telah disampaikan. Hanya sebagian peserta didik yang menanyakan materi pembelajaran yang belum dimengerti, begitu pula sebaliknya, hanya sebagian yang berani menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. c) Metode diskusi digunakan untuk memecahkan permasalahan yang dialami oleh peserta didik saat pembelajaran berlangsung. Metode ini digunakan untuk menentukan desain yang akan disablon dalam satu kelompok. d) Metode instruksi (penberian tugas) diberikan kepada peserta didik saat materi teori maupun praktek berlangsung. e) Metode demonstrasi digunakan untuk memperagakan suatu proses kepada peserta didik, yaitu proses membuat diapositif, proses afdruk, proses pencetakan, proses fiksasi warna, dan proses pengemasan.
f) Metode mengajar beregu
(team teaching), dengan
menggunakan metode ini, Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn., Bapak Drs. Budi Susanto, dan Bapak Drs. Purwanto Joko Sulistyono selaku guru mata pelajaran cetak saring bekerja sama untuk menyampaikan materi dan memberikan tugas kepada peserta didik dari pertemuan pertama sampai terakhir. 4.
Media pembelajaran yang digunakan oleh guru saat pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta adalah: a) Media audio dan visual, yang terdiri dari: LCD (Proyektor) yang digantungkan di langit-langit serta laptop pribadi Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn., Bapak Drs. Budi Susanto, maupun Bapak Drs. Purwanto Joko Sulistyono, papan tulis (white board) berukuran 240 x 120 cm, spidol (board maker) dengan merk dagang Snowman, penghapus papan tulis, dan poster hasil print out, b) Material collections, yang terdiri dari dokumentasi atau hasil karya cetak saring yang dibuat oleh para peserta didik yang telah naik ke kelas XII dan t-shirt yang sengaja dibeli oleh Bapak Joko Agus Pambudi,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 145
S.Sn., Bapak Drs. Budi Susanto, dan Bapak Drs. Purwanto Joko Sulistyono, c) Benda-benda tiga dimensi, yaitu alat dan bahan yang diperlukan dalam proses praktikum cetak saring, antara lain: alat dan bahan untuk mendesain yaitu: pensil, karet penghapus, kertas HVS, kertas gambar ukuran A4, dan pensil warna; alat dan bahan untuk membuat diapositif yaitu: mika transparan ukuran A4 (21 x 29,7 cm), opaque ink, pen kodok, meja gambar, staples, tempat air mineral yang difungsikan sebagai palet, dan bedak bayi dengan alat dan bahan untuk proses afdruk yaitu: screen berjenis polister multifilamen dengan kerapatan pori-pori 62 T dan berukuran 40 x 60 cm, busur, diapositif, larutan emulsi dan sensitizer (obat peka cahaya) dengan hair dryer, meja afdruk, hand sprayer, busa dengan ketebalan 5 cm dan berukuran 40 x 60 cm, triplek berukuran 40 x 60 cm, dan kain hitam dengan ukuran 128 x 80 cm; serta alat dan bahan untuk proses pencetakan yaitu: kain katun berwarna putih, klise negatif, textile screen ink (Binder NF dan NF Medium SP), rakel berujung lancip, mangkuk plastik, sendok plastik, lakban, setrika beserta meja setrika, dan pigmen berwarna putih, hitam, merah, biru, kuning, d) Sumber pembelajaran yang berupa buku atau modul dengan judul:
usun oleh
Budiyono, dkk. terbitan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal
Manajemen
Pendidikan
Dasar
dan
Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional dan terbitan Yrama Widya Bandung. e) Ruang khusus yang telah disediakan di bengkel tekstil yang terdiri dari: ruang teori yang digunakan saat pelajaran teori berlangsung, ruang desain yang di dalamnya terdapat meja gambar khusus untuk para peserta didik saat mendesain, ruang gelap yang digunakan untuk membuat klise negatif dan bak serta pompa air di luar bengkel tekstil yang digunakan untuk mencuci. 5.
Evaluasi pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta yang digunakan oleh Bapak Joko Agus Pambudi, S.Sn., Bapak Drs. Budi Susanto, dan Bapak Drs. Purwanto Joko Sulistyono untuk mengetahui daya serap peserta didik terhadap materi teori
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 146
yaitu berupa: test tertulis dan test lisan sedangkan pada pelajaran praktek, evaluasi dilakukan dengan cara observasi atau mengamati sikap dan kegiatan peserta didik selama melakukan parktek cetak saring dan melihat hasil kerja (hasil karya) peserta didik selama praktek. Penilaian hasil kerja (hasil karya) diperoleh dari beberapa aspek yaitu: a) Aspek persiapan kerja, memiliki bobot penilaian 15 %, yang terdiri dari: 1) Persiapan tempat kerja yang memiliki bobot penilaian 5%, 2) Persiapan alat dan bahan kerja yang memiliki bobot penilaian 5%, 3) Persiapan sumber dan acuan kerja yang memiliki bobot penilaian 5%. b) Aspek proses kerja, memiliki bobot penilaian 25%, yang terdiri dari: 1) Sikap kerja peserta didik yang memiliki bobot penilaian 5%, 2) langkah kerja peserta didik yang memiliki bobot penilaian 5%, 3) Kemandirian kerja peserta didik yang memiliki bobot penilaian 5%, 4) Kerjasama kelompok yang memiliki bobot penilaian 5%, 5) Efisien dan efektifitas kerja peserts didik yang memiliki bobot penilaian 5%. c) Aspek hasil karya, memiliki bobot penilaian 60%, yang terdiri dari: 1) Kreativitas peserta didik yang memiliki bobot penilaian 25%, 2) Kebersihan dan kerapian hasil karya yang memiliki bobot penilaian 15%, 3) Ketepatan waktu yang memiliki bobot penilaian 5%, 4) Finishing karya yang memiliki bobot penilaian 15%. 6.
Hasil belajar cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta selama satu semester dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peserta didik telah mencapai nilai standart kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan nilai tertinggi yaitu 83.00 dan nilai terendah yaitu 38.50. Terdapat dua peserta didik yang belun memenuhi nilai standart kriteria ketuntasan mininal, dengan nilai yang dicapai 38.50 dan 74.45. Berdasarkan hasil tersebut, maka presentase jumlah peserta didik yang telah memenuhi nilai standart kriteria ketuntasan minimal adalah 94% sedangkan yang belum adalah 6%. Secara klasikal maka Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta telah memenuhi standart kriteria ketuntasan minimal dengan nilai rata-rata kelas yaitu 77.50.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 147
B. Implikasi Implikasi dari studi tentang pembelajaran cetak saring di Kelas XI Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta adalah sebagai berikut: 1.
Bagi sekolah, dapat mengetahui masalah penjadwalan pembelajaran yang dilaksanakan di bengkel tekstil sehingga dapat mengupayakan pembelajaran yang berlangsung di bengkel tekstil agar tidak bertabrakan antara kelas yang satu dengan kelas yang lainnya.
2.
Bagi para guru mata pelajaran produktif cetak saring, dapat mengetahui bahwa dalam menerapkan metode mengajar beregu (team teaching) harus didiskusikan terlebih dahulu sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran persepsi antar guru yang satu dengan yang lainnya tidak bertentangan dan para peserta didik tidak binggung untuk menentukan pandangan mana yang harus mereka ikuti serta dapat mengetahui kurangnya perencanaan pembelajaran yang mengakibatkan tidak semua materi pembelajaran disampaikan kepada peserta didik.
3.
Bagi peserta didik, dapat mengetahui kurangnya kreativitas dalam membuat desain untuk cetak saring. C. Saran Berdasarkan hasil studi tentang pembelajaran cetak saring di Kelas XI
Program Keahlian Kriya Tekstil SMK Negeri 9 Surakarta, penulis dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut: 1.
Saran bagi pihak sekolah hendaknya lebih memperhatikan ruang belajar sekaligus praktek untuk peserta didik program keahlian kriya tekstil, khususnya kelas XI. Saat pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran produktif kriya tekstil, semua peserta didik program keahlian kriya tekstil mulai dari kelas X sampai XII bersama-sama menggunakan bengkel tekstil. Penggunaan bengkel tekstil yang bersamaan ini tentunya mengganggu pelaksanaan pembelajaran kelas yang lainnya, terlebih lagi saat pelajaran teori karena antara ruang teori pertama dengan ruang teori kedua tidak memiliki sekat. Diharapkan pihak sekolah dapat mengatur jadwal pembelajaran tersebut
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id 148
sehingga pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan di bengkel tekstil dapat berjalan dengan efektif. 2.
Saran bagi pihak guru mata pelajaran cetak saring, hendaknya dapat meningkatkan lagi motivasi dan kreativitas peserta didik untuk berkarya, khususnya dalam hal membuat desain cetak saring sehingga peserta didik mampu membuat desain yang original hasil kreativitas mereka sendiri. Para guru juga harus mencoba untuk menyamakan persepsi sebagai team teaching, persepsi guru yang berbeda-beda dapat membuat peserta didik merasa bingung untuk menentukan pandangan siapa yang harus mereka ikuti. Selain itu juga hendaknya agar lebih teliti dalam merancang dan menganalisa program pembelajaran agar semua materi pembelajaran dapat diberikan kepada peserta didik.
3.
Saran bagi para peserta didik, hendaknya menggunakan kreativitas yang mereka miliki untuk membuat desain cetak saring. Peserta didik dalam mendesain hendaknya tidak menjiplak desain-desain yang telah ada, paling tidak mereka harus dapat mengubah dan mengembangkan desain yang telah ada tersebut.
commit to user