KINERJA LURAH DALAM MENINGKATAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT DI KELURAHAN GUNTUR KECAMATAN SETIABUDI JAKARTA SELATAN Moddy Natasya Indra, Michael S. Mantiri, Sofia E. Pangemanan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi, dan Staf Pengajar Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Sam Ratulangi ABSTRAK Rasa aman dan tertib di dalam kehidupan bermasyarakat pasti didambakan oleh setiap warga. Terlebih di DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan ibukota Negara Republik Indonesia yang memiliki dinamika sosial, politik, ekonomi dan keamanan yang sangat tinggi. Problem sosial yang terjadi serta masih banyaknya warga yang acuh tak acuh terhadap lingkungannya menyebabkan terjadinya masalah keamanan dan ketertiban masyarakat. Lurah sebagai pemimpin yang berhadapan langsung dengan masyarakat dituntut harus memiliki kemampuan memimpin kelurahannya agar sesusai dengan yang dikehendaki pemerintah dan dibutuhkan oleh masyarakatnya. Era reformasi seperti sekarang ini, kinerja pemerintah mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Pendapat dan kritikan terhadap kinerja pemerintah sangat lumrah ditemukan, kritikan tersebut tak terkecuali dari pemerintah pusat sampai ke pemerintah terendah yaitu kelurahan. Di kelurahan Guntur Kecamatan Setiabudi dilihat masih banyak terjadi masalah keamanan dan ketertiban masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja Lurah Guntur dalam meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat di Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan dengan melihat indikator kinerja dari Suyadi Prawirosentono. Kata Kunci : Kinerja Lurah, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat.
1
diambil pada bulan Juni 2016 ada 10 kasus. Terdiri dari : 1) mobil hilang sebanyak 2 kali. 2) pencurian di dalam rumah sebanyak 2 kali. 3) narkoba. 4) penodongan di taman Tangkuban Perahu sebanyak 3 kali. 5) motor hilang sebanyak 2 kali. Namun dari 10 kasus tersebut sampai diambilnya data pada bulan Juni 2016 kasus yang terungkap baru 3 kasus, yaitu kasus narkoba dan penodongan di tugu 66 dan penodongan di tangkuban perahu. Kemudian pada bulan Agustus terdapat 2 kasus yaitu penjambretan handphone, dan pada bulan September ada 2 kali kasus penodongan, serta 1 kasus pencurian masuk rumah.
PENDAHULUAN Perihal Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), saat ini merupakan suatu kebutuhan dasar yang senantiasa diharapkan masyarakat dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari. Oleh karenanya, masyarakat sangat mendambakan adanya keyakinan akan aman dari segala bentuk perbuatan, tindakan dan intimidasi yang mengarah dan menimbulkan hal-hal yang akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat, yang dilakukan oleh orangperorangan dan atau pihak-pihak tertentu lainnya.
Penulis tertarik untuk mengkaji dan meneliti lebih seksama tentang kinerja lurah dalam peningkatan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan mengambil judul:
Pada tingkat pemerintah kelurahan, sebagai perpanjangan tangan pemerintah kota, lurah memegang peranan penting dalam mengelola keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat seperti yang diamanatkan oleh Pergub Provinsi DKI Jakarta No. 251 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kelurahan, Kelurahan menyelenggarakan fungsi sebagaimana disebutkan dalam Pasal 3 huruf (f) penyelenggaraan ketentraman, huruf (h) pembinaan lembaga kemasyarakatan, huruf (k) pengawasan rumah kost dan rumah kontrakan, huruf (m) pembinaan rukun warga dan rukun tetangga. Dalam pasal 5 huruf (b) mengoordinasikan pelaksanaan tugas Sekretariat Kelurahan dan Seksi. Kemudian disebutkan Seksi Pemerintahan, Ketentraman dan Ketertiban berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Lurah pada Pasal 9 huruf (h) melaksanakan operasi ketentraman dan ketertiban masyarakat di wilayah Kelurahan, huruf (k) melaksanakan kegiatan deteksi dini terhadap potensi dan penyelesaian gangguan sosial di wilayah Kelurahan, huruf (l) melaksanakan kegiatan patroli pemantauan situasi dan kondisi ketentraman dan ketertiban umum di wilayah Kelurahan.
“ Kinerja Lurah dalam Meningkatan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat di Kelurahan Guntur Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan. ” KONSEP KINERJA Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa kinerja berarti: (1) sesuatu yang dicapai, (2) prestasi yang diperlihatkan, (3) kemampuan kerja. Menurut Mangkunegara (2001), kinerja adalah: hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Setiap individu atau organisasi tentu meimiliki tujuan yang akan dicapai dengan menetapkan target atau sasaran. Keberhasilan individu atau organisasi dalam mencapai target atau sasaran tersebut merupakan kinerja. Seperti yang diungkapkan oleh Prawirosentono (1999:2) yang mengartikan kinerja sebagai, “ Hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi
Data kejahatan di kelurahan Guntur selama dijabat oleh ibu Lurah Dewi Lestari dari bulan Juli 2015 sampai dengan data 2
bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. ”
unsur Forum Koordinasi Pimpinan
Teori dari Suyadi Prawirosentono (2008:27) tentang indikator kinerja, yaitu:
f. melaksanakan pembinaan organisasi kemasyarakatan di wilayah Kelurahan; dan
Kelurahan;
1) Efektivitas dan efisiensi; 2) Otoritas dan tanggung jawab ; 3) Disiplin ; 4) Inisiatif
g. melaporkan mempertanggungjawabkan tugas dan fungsi
KONSEP LURAH Kepala Kelurahan (Lurah) adalah pegawai negeri sipil yang diangkat oleh Bupati/Walikota atas nama Gubernur dengan syarat yaitu pendidikan minimal sekolah lanjutan pertama atau yang berpengetahuan/berpengalaman sederajat dengan itu (Drs. Joko Siswanto, 2003). Dalam menjalankan tugas dan wewenang pimpinan pemerintahan di Kelurahan maka Lurah bertanggungjawab kepada pejabat yang berwenang yang mengangkatnya melalui Camat. (Amrah Muslimin, 1998 : 25).
Kelurahan. KONSEP KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT Keamanan yang asal katanya aman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu kondisi yang bebas dari segala macam bahaya, bebas dari gangguan, tidak mengandung resiko, tentram tidak merasa takut. Dengan demikian aman bersangkutan dengan psikologis dan kondisi atau keadaan yang terbebas dari bahaya, gangguan, rasa takut maupun risiko. Sedangkan pengertian ketertiban adalah suatu keadaan dimana segala kegiatan dapat berfungsi dan berperan sesuai ketentuan yang ada.
Sesuai dengan Pergub Provinsi DKI Jakarta No. 251 Tahun 2014, Lurah mempunyai tugas: a. memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi Kelurahan
pembangunan tingkat Kelurahan;
Keamanan dan ketertiban masyarakat yang selanjutnya disingkat Kamtibmas menurut Pasal 1 Undangundang Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 disebutkan bahwa pengertian Kamtibmas adalah: suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional yang ditandai dengan terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum serta terbinanya ketentraman yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam mencegah, menangkal, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat dalam menjalankan kegiatan kehidupannya.
melaksanakan koordinasi dengan
METODE PENELITIAN
sebagaimana
dimaksud
dalam
Pasal 3; b. mengoordinasikan pelaksanaan tugas Sekretariat Kelurahan dan Seksi; c. melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan SKPD, UKPD dan/atau instansi pemerintah pusat/swasta terkait, dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi Kelurahan; d. memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan musyawarah perencanaan
e.
dan pelaksanaan
3
pun padahal sering menghimbau di pertemuan-pertemuan dengan warga untuk selalu waspada. Dari hasil wawancara pun banyak yang mengakui kalau memang oknum pelaku kejahatan satu langkah lebih di depan daripada warga dan petugas, serta perangkat kamtibmas.
Penelitian ini menggunakan tipe deskriptif kualitatif yang dimaksudkan untuk memberi gambaran secara jelas suatu fenomena atau kenyataan sosial yang berkenaan dengan masalah yang diteliti, khususnya peran lurah dalam meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat di Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Fokus dalam penelitian ini adalah Kinerja Lurah dalam Meningkatkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat di Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan dengan melihat indikator kinerja dari Suyadi Prawirosentono. Adapun beberapa teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu: a. Observasi ; b. Wawancara ; c. Studi kepustakaan (library research). Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Guntur Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Lurah Guntur menginginkan Kelurahan Guntur menjadi kelurahan percontohan dalam kamtibmas sama seperti yang saat ini didapatkan oleh Kelurahan Guntur yang menjadi kelurahan percontohan di DKI untuk kebersihan lingkungan. Perencanaan yang dilakukan Lurah dalam meningkatkan kamtibmas selain rencana yang memang sudah dimiliki oleh Lurah juga dibentuk bersama-sama dengan warga dalam forga (forum warga). Pengawasan juga dilakukan langsung oleh Lurah dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya, dan berkoordinasi dengan para perangkat kamtibmas. Serta melakukan penegakan hukum yang dikoordinasikan dengan bhabinkamtibmas. Ada beberapa faktor yang bila diperhatikan menjadi penyebab timbulnya masalah Kamtibmas di Kelurahan Guntur, di antaranya adalah:
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang diperoleh penulis selama melakukan kegiatan penelitian di Kelurahan Guntur merupakan hasil penelitian yang menggambarkan tentang bagaimana keadaan kamtibmas yang ada di kelurahan tersebut. Dalam bagian hasil penelitian, diuraikan hasil wawancara yang peneliti sajikan dalam bentuk hasil wawancara tertulis, berdasarkan fokus penelitian tentang kinerja atau pencapaian hasil kerja Lurah dalam meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat. Keadaan keamanan dan ketertiban masyarakat di Kelurahan Guntur saat ini masih menyisakan beberapa permasalahan, menurut hasil wawancara yang peneliti dapatkan dari para informan masalah yang paling sering terjadi adalah perampokan / pencurian. Pencuri seakan telah memonitor dan mempelajari dengan baik bagaimana keadaan dan situasi Kelurahan Guntur. Banyak sekali modus yang digunakan oleh para pencuri seperti menyamar sebagai pegawai kelurahan, petugas PLN. Lurah
1. Kondisi perekonomian yang masih belum stabil, baik makro maupun mikro. 2. Ketidakpedulian dan kurangnya kesadaran dari warga terhadap kondisi sosial di lingkungannya. 3. Terbatasnya penjaga keamanan. 4. Banyaknya rumah yang ditinggal penghuninya ketika jam beraktivitas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai kinerja lurah dalam meningkatkan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat di Kelurahan Guntur Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.
4
Efektivitas dan dilakukan oleh
efisiensi yang Lurah dalam
meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat masih belum maksimal. Hal tersebut peneliti sampaikan berdasarkan data yang didapat di lapangan dari hasil wawancara dengan masyarakat. Dimana masih kurangnya penjaga keamanan di setiap RT dan masih di swadaya oleh warga. Untuk sarana komunikasi antara Lurah, babinsa, bhabinkamtibas dan perangkat kamtibmas lainnya, serta ketua RT, RW dan ketua FKDM dengan menggunakan handy talkie dinilai cukup membantu dalam pelaporan atau pemberian informasi secara cepat. 2.
Kelurahan Guntur masih dinilai kurang berhasil karena anggota PPSU yang diberdayakan oleh Lurah jarang sekali terlihat lingkar kelurahan di malam hari. Kemudian, FKDM yang sudah terbentuk dinilai masyarakat belum menunjukkan hasil yang signifikan terhadap kamtibmas Kelurahan Guntur. SARAN 1. Selain adanya penjaga keamanan yang berjaga di tiap RT, memang sangat diperlukan adanya cctv untuk mengawasi keadaan dan situasi di tiap kompleks, pengadaan nya pun Lurah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak swasta yang kantornya berada di Kelurahan Guntur sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat, maupun dengan berkoordinasi bersama ketua RW untuk swadaya pengadaan cctv. Serta perlu ditingkatkannya pemahaman yang diberikan oleh Lurah kepada warga terkait perlunya penjaga keamanan di setiap RT.
Lurah dalam memberikan otoritas dan melaksanakan tanggung jawabnya dinilai sudah baik, hal ini dilihat dari koordinasi yang baik dengan babinsa, bhabinkamtibmas sebagai mitra 3 pilar, dengan Kasie Pemerintahan dan Ketertiban umum serta Ka. Satgas Pol PP, dan juga dengan ketua-ketua RT dan RW. Namun dari masyarakat sendiri lah yang masih kurang tanggap dan acuh tak acuh kepada lingkungannya.
3.
Disiplin Lurah dalam meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat menunjukkan hasil yang baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan selalu hadirnya Lurah dalam forum warga, selalu memberikan himbauan kepada para pemuda untuk selalu menjaga keamanan dan ketertiban pada kegiatankegiatan kepemudaan, konsisten mengadakan pertemuan / forum komunikasi untuk membahas kamtibmas antar RT, RW, dan LMK.
4.
Inisiatif dari meningkatkan
Lurah dalam kamtibmas di 5
2.
Perlunya peningkatan himbauan kepada warga untuk selalu aktif menjaga keamanan dan ketertiban melalui para ketua RT untuk lebih mengingatkan warga terkait kamtibmas, seperti mengingatkan di grup media sosial. Penutupan portal-portal di beberapa RT sebaiknya dapat lebih resmi ketika RT, RW berkoordinasi dengan Lurah sehingga Lurah dapat mengeluarkan surat edaran kepada warga agar tidak terjadi protes antar warga yang pro dan kontra terhadap jalan yang di portal.
3.
Disiplin yang dimiliki Lurah harus juga diikuti oleh para perangkat kamtibmas demi terjaganya
keamanan dan ketertiban masyarakat di Kelurahan Guntur. 4.
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 1996. Sistem Administrasi Negara
Lurah diharapkan dapat mengusahakan supaya para penjaga keamanan di tiap RT dapat digaji seperti PPSU yang dananya berasal dari Pemda. Dan perlunya tindakan-tindakan preventif dari Lurah seperti menyuruh tiap RW memasang papan pengumuman yang bertuliskan “ Daerah ini telah diawasi dengan cctv ”, walaupun di daerah tersebut belum dipasang cctv namun tulisan tersebut dapat mencegah niat dari oknum yang ingin berbuat jahat.
Republik Indonesia. Jilid II/Edisi Ketiga. Jakarta: Toko Gunung Agung. Luthans, F. 2005. Organizational Behavior. New York: McGraw-Hill. Mathis, R. L. & J. H. Jackson. 2006. Human Resouce Management: Manajemen Sumber Daya Manusia. Terjemahan Dian Angelia. Jakarta: Salemba Empat Miles,
Matthew
DAFTAR PUSTAKA Achmad Amins. 2012. Manajemen Kinerja Pemerintah Daerah. LaksBang PRESSindo.
dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku
Sumber Tantang Metode-Metode Baru. Jakarta:UI Press.
Yogyakarta.
Pamungkas. 2000. Teori Kepemimpinan dalam Manajemen. Yogyakarta :
Achmad S. Ruky. 2002. Sistem Manajemen Kinerja. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Arrmurita
Amrah Muslimin. 1990. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah, Alumni, Bandung
Prawirosentono, Suyadi. 1999. Kebijakan Kinerja Karyawan. Yogyakarta : BPFE
Anwar Prabu Mangkunegara. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Remaja
Prawirosentono, Suryadi. 2008. Kebijakan Kinerja Karyawan. Yogyakarta:BPFE Sadili
Rosdakarya. Bandung. Donnelly, James H., Gibson, James L., and Ivancevich, John, 1994, Fundamental of Management. Publication.
Texas:
Joko Siswanto. 2003. Administrasi Pemerintahan Rajawali Jakarta.
Samsudin.
2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung Pustaka Setia.
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Bandung. Pusat Bahasa Depdiknas
Business Pengantar Desa, CV
Wittaker, J. B. 1997. The Government Performance amd Result Act of 1993: A Mandante for Strategic Planning and Performance Measurement. Jakarta: LAN 6
Undang-undang Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002.
Sumber lain : Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 251 Tahun 2014
7