KAJIAN KEBIJAKAN TARIF RETRIBUSI BARU BIDANG PERHUBUNGAN DI KABUPATEN BREBES
LAPORAN AKHIR
PEMERINTAH KABUPATEN BREBES
DINAS PERHUBUNGAN JL VETERAN NOMOR 14 TELP. (0283) 671840 KODE POS 52212
BREBES
2008
1
SUSUNAN TIM PENELITI
KAJIAN KEBIJAKAN TARIF RETRIBUSI BARU BIDANG PERHUBUNGAN DI KABUPATEN BREBES
1. DRS. GUNISTIYO, M.Si. (Ketua) 2. M. FAQIHUDIN, S.E. (Anggota) 3. JAKA WASKITO, S.E., M.Si. (Anggota) 4. SISWANTO, S.H., M.H. (Anggota)
2
ABSTRAK
Penelitian ini mempunyai tujuan : (a) Mengkaji cara penentuan tarif 5 retribusi retribusi daerah sarana dan prasarana perhubungan (Retribusi Uji Kendaraan, Retribusi Jasa Usaha Terminal, Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan, Retribusi Ijin Trayek, Retribusi Penutupan Jalan) yang selama ini berlangsung di Daerah Kabupaten Brebes; (b) Mengajukan cara alternatif penentuan tarif 5 retribusi daerah sarana dan prasarana perhubungan (Retribusi Uji Kendaraan, Retribusi Jasa Usaha Terminal, Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan, Retribusi Ijin Trayek, Retribusi Penutupan Jalan), berdasarkan pendekatan yang sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi terutama pentarifan jasa publik guna menggapai segenap aspek: (i) kecukupan penerimaan; (ii) aspek keadilan; (iii) efisiensi ekonomi; (iv) aspek adininistrasi dan politik; dan (v) kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah; (c) Mengajukan perkiraan-perkiraan tentang kemungkinan perolehan penerimaan retribusi prasarana perhubungan yang disebabkan oleh cara penentuan tarif alternatif (butir b). Dalam melakukan kajian ini, akan dianalisis peraturan-peraturan daerah yang berhubungan dengan penentuan tarif dan struktur tarif retribusi pasar di Kota Tegal; menganalisis perkembangan penerimaan dan pungutan retribusi tersebut; juga menganalisis perkembangan biayabiaya (operasi, pemeliharaan maupun modal/investasi) dan penyediaan sarana dan prasarana. Dari analisis/kajian-kajian yang disebut ini maka dapatlah dijawab dua tujuan pertama dari penelitian ini. Selanjutnya, perihal cara/pendekatan alternatif yang akan diajukan dalam penentuan tarif dasar (tujuan butir 3), maka cara penetapan tarif berdasarkan biaya rata-rata di masa depan (Average Cost in The Future) akan dipilih. Berdasarkan analisis diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Tarif retribusi yang yang berlaku sekarang didasarkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 6, 7, 11 tahun 2000, Nomor 3 tahun 2001 dan Nomor 9 tahun 2002. Dengan demikian ke lima retribusi tersebut telah berlaku selama 6 hingga 8 tahun, sehingga sudah perlu disesuaikan. 2. Cara yang ditempuh untuk menentukan besarnya satuan tarif kepada setiap pemakai jasa, didasarkan atas pertimbangan: (i) perkiraan kemampuan ekonomi masyarakat; (ii) tarif retribusi daerah lain yang ada disekitarnya; (iii) untuk perubahan tarif didasarkan atas inflasi yang terjadi di daerah Kabupaten Brebes. 3. Asumsi yang digunakan untuk menyesuaikan tarif retribusi adalah tingkat inflasi rata-rata dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 (5 tahun) yaitu 8,94 % per tahun.
3
4. Hasil analisis perubahan/penyesuaian ke lima tarif retribusi tersebut menghasilkan tarif retribusi baru dengan besaran yang mengalami kenaikkan rata-rata sebesar 53 %. Sedangkan rekomendasi dari kajian adalah bahwa retribusi sektor perhubungan di Kabupaten Brebes perlu segera diadakan penyesuaian tarif dengan kenaikkan rata-rata maksimal 53%.
4
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt atas tersusunnya Laporan Akhir pekerjaan Kajian Kebijakan Tarif Retribusi Baru Bidang Perhubungan Di Kabupaten Brebes. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara Lembaga Penelitian dan Pengembangan Universitas Pancasakti Tegal dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Brebes tahun 2008. Tarif retribusi yang yang berlaku sekarang seperti yang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 6, 7, 11 tahun 2000, Nomor 3 tahun 2001 dan Nomor 9 tahun 2002 dipandang sudah saatnya untuk disesuaikan. Laporan ini berisi tentang kajian penyesuaian tarif retribusi yang sudah saatnya perlu diadakan penyesuaian, karena berlakunya retribusi tersebut sudah berjalan berkisar antara 6 hingga 8 tahun. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada berbagai pihak, baik instansi pemerintah maupun pihak lain atas partisipasi dan peran serta dalam penyediaan data dan penyusunan laporan ini. Kami berharap adanya masukan-masukan yang konstruktif guna perbaikan-perbaikan dalam penyusunan laporan di masa mendatang. Besar harapan kami kiranya laporan ini dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang berkepentingan Brebes,
Desember 2008
KEPALA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BREBES,
SUTRIYONO, S.H., M.M. Pembina Tk I NIP. 010 186 017
5
DAFTAR ISI
Halaman ABSTRAK
.......................................................................................
iii
KATA PENGANTAR .............................................................................
v
DAFTAR ISI
.......................................................................................
vi
DAFTAR TABEL ...................................................................................
viii
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN ..................................................................
1
A. Latar Belakang ................................................................
1
B. Tujuan ...............................................................................
5
C. Landasan Hukum .............................................................
6
PENDEKATAN DAN METODE KAJIAN ............................
8
A. Dasar Teoritik Konseptual ................................................
8
1. Pengertian Jasa Publik ................................................
8
2. Pengenaan Harga Terhadap Komoditas Semi Publik: Prasarana Perhubungan .............................................
11
3. Permasalahan Penerapan Teori .................................
14
4. Arti Retribusi ...............................................................
17
5. Komoditas Yang Dikenai Retribusi ............................
17
6. Manfaat Pengenaan Retribusi Atas Komoditas Yang Dipasok Pemerintah ....................................................
18
7. Penentuan Harga/Tarif Retribusi Yang Dipilih .........
21
B. Desain dan Metode Penelitian .........................................
22
1. Teknik Pengumpulan Data .........................................
22
2. Teknik Analisis Data ...................................................
23
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH KAJIAN ...........................
25
A. Kondisi Umum ..................................................................
25
B. Perhubungan .....................................................................
26 6
1. Jalan Raya ..................................................................
26
2. Angkutan Darat ...........................................................
28
3. Terminal .......................................................................
29
4. Pelabuhan ...................................................................
31
BAB IV ANALISIS PENYESUAIAN TARIF RETRIBUSI .................
32
A. Kriteria Penilaian Pungutan Retribusi ...........................
33
B. Penilaian Tarif Retribusi ..................................................
35
1. Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum ........................
35
2. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor .................
39
3. Retribusi Terminal .....................................................
41
4. Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan ...............................
42
5. Retribusi Izin Trayek ..................................................
44
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ................................
47
A. Kesimpulan .......................................................................
47
B. Rekomendasi .....................................................................
47
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................
51
BAB V
7
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1.1
Struktur Realisasi Pendapatan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Brebes Tahun 2005 dan 2006 (dalam Rupiah)........................................................
2
Tabel 2.1
Perbedaan Antara Komoditas Publik Murni, Privat Murni dan Semi Publik/Privat .......................................
9
Tabel 3.1
Panjang Jalan Di Wilayah Kabupaten Brebes Menurut Status Jalan (Kilometer) Tahun 2007 ...................................
27
Tabel 3.2
Jumlah Kendaraan Bermotor Wajib Uji Menurut Jenis Kendaraan Di Kabupaten Brebes Tahun 2007.............................
28
Tabel 3.3
Jumlah Kendaraan Bermotor yang Diuji Menurut Bulan Di Kabupaten Brebes Tahun 2007 .....................
29
Tabel 3.4
Terminal Bus dan Non Bus Di Kabupaten Brebes ........
30
Tabel 4.1
Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Biasa yang Berlaku
36
Tabel 4.2
Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Berlangganan yang Berlaku .............................................................................
36
Tabel 4.3
Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Biasa
37
Tabel 4.4
Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Berlangganan...................................................................
37
Tabel 4.5
Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Biasa yang Telah Disesuaikan .....................................................................
38
Tabel 4.6
Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Berlangganan yang Telah Disesuaikan ..........................................................
38
Tabel 4.7
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Terminal yang Berlaku .............................................................................
41
Tabel 4.8
Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Terminal ...........................................................................
42
Tabel 4.9
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Terminal yang Telah Disesuaikan ..........................................................
42
Tabel 4.10
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Jasa Pelayanan Kapal yang Berlaku. ........................................................
43
Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Jasa Pelayanan Kapal. ...........................
44
Tabel 4.11
8
Tabel 4.12
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Jasa Pelayanan Kapal yang Telah Disesuaikan .......................................
44
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Izin Trayek yang Berlaku ............................................................................
45
Tabel 4.14
Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Izin Trayek ......................................................................
46
Tabel 4.15
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Izin Trayek yang Telah Disesuaikan ...........................................................
46
Tabel 5.1
Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Biasa yang Telah Disesuaikan .....................................................................
48
Tabel 5.2
Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Berlangganan yang Telah Disesuaikan ...........................................................
48
Tabel 5.3
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Terminal yang Telah Disesuaikan ..........................................................
49
Tabel 5.4
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Jasa Pelayanan Kapal yang Telah Disesuaikan ......................................
49
Tabel 5.5
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Izin Trayek yang Telah Disesuaikan ..........................................................
49
Tabel 4.13
9
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah keuangan daerah, disamping kelembagaan dan personalia. Artinya keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah tidak dapat dilepaskan dari cukup tidaknya kemampuan daerah dalam bidang keuangan, karena kemampuan keuangan ini merupakan salah satu indikator penting guna mengukur tingkat kemampuan
mengemban
otonomi.
Oleh
karena
itu
dalam
penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab, diperlukan kewenangan dan kemampuan daerah Kabupaten/Kota untuk menggali sumber keuangannya sendiri, disamping dukungan oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem pemerintah daerah (Anonim, 1999). Permasalahan yang ada di Kabupaten/Kota termasuk Kabupaten Brebes
adalah terbatasnya kemampuan keuangan pemerintah daerah
dalam menggali dan memanfaatkan sumberdaya daerah. Permasalahan yang muncul dalam keuangan daerah selama ini adalah masih tingginya tingkat ketergantungan kepada subsidi/bantuan pemerintah pusat, tidak efisiennya pengelolaan BUMD sebagai sumber pendapatan daerah, belum optimalnya penggalian sumber PAD yang selama ini sudah ada, belum tergalinya
sumber
pendapatan
baru,
dan
menyempitnya
sumber
pendapatan akibat diberlakukannya Undang-undang Nomor 34 tahun 2000 tentang perubahan Undang-undang Nomor 18 tahun 1997 mengenai pajak dan retribusi daerah.
10
Sebagai
gambaran
dari
kemampuan
keuangan
pemerintah
Kabupaten Brebes, dapat dilihat dari Tabel 1 (Struktur Realisasi Pendapatan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Brebes Tahun 2005 dan 2006). Tabel 1. Struktur Realisasi Pendapatan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Brebes Tahun 2005 dan 2006 (dalam Rupiah). Uraian 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba Usaha Daerah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah 2. Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Perimbangan dari Provinsi 3. Lain-lain Pendapatan yang sah Jumlah
Tahun 2005
Tahun 2006
36.401.586.371
47.995.353.586
10.390.480.817 17.861.512.576 3.082.133.776 5.067.459.202
10.706.108.097 18.045.182.955 1.572.852.917 17.671.209.617
458.121.493.759 31.214.416.166
704.138.699.069 42.956.958.331
402.905.000.000 24.002.077.593
609.597.000.000 13.850.000.000 37.734.740.738
17.643.600.000
11.087.162.800
512.166.080.130
763.221.215.455
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2005 PAD hanya menyumbangkan Rp 36.401.586.371 atau 7,11 % dari APBD Kabupaten Brebes dan pada tahun 2006 hanya menyumbangkan 6,29 %. Ini menunjukkan bahwa penggalian PAD ini belum optimal, walaupun dari tahun ke tahun secara nominal selalu mengalami kenaikan, namun proporsinya terhadap APBD relatif masih sangat kecil. Dengan kata lain penggalian PAD belum sesuai potensi riil-nya. Dari tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pada tahun 2006 penyumbang PAD yang paling potensial adalah Retribusi Daerah (37,60 % dari total PAD).
11
Adapun sumber pendapatan daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, terdiri atas : a. Pendapatan Asli Daerah, yaitu : 1) Hasil Pajak Daerah 2) Hasil Retribusi Daerah 3) Hasil Perusahaan inilik daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. 4) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah. b. Dana Perimbangan c. Pinjaman Daerah. d. Lain-lain pendapatan daerah yang sah. Dari sumber-sumber pendapatan daerah yang ada, maka salah satu elemen yang menentukan tinggi rendahnya kualitas otonomi daerah dapat dilihat dari besar kecilnya kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam menunjang penyelenggaraan berbagai aktivitas yang menjadi wewenang daerah. Sebab dengan adanya dukungan PAD yang semakin besar, maka daerah mempunyai kemampuan yang semakin meningkat untuk membiayai kebutuhannya dan akan semakin besar pula untuk mengatur urusannya. Salah satu tugas Pemerintah Daerah dalam rnenyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan adalah menyediakan komoditas publik kepada masyarakat. Seperti dikemukakan oleh Davey (1988, 21) bahwa kelompok pertama dari fungsi-fungsi yang secara tradisional paling diasosiasikan dengan Pemerintah Regional / Daerah adalah penyediaan pelayanan-pelayanan
yang
berorientasi
pada
lingkungan
dan
kemasyarakatan. Sebagaimana diketahui, bahwa sampai saat ini jumlah penduduk meningkat cukup tinggi di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Daerah
Kabupaten
Brebes
Propinsi
Jawa
Tengah
(Pertumbuhan
penduduk di Daerah Kabupaten Brebes selama sepuluh tahun terakhir
12
sebesar 1,3 % rata-rata per tahun; sumber : Kantor Statistik Daerah Kabupaten Brebes), walaupun program di bidang kependudukan yang berupaya mengatasi laju pertumbuhan penduduk ini telah lama berlangsung. Peningkatan jumlah penduduk yang tinggi berarti juga kebutuhan masyarakat akan pelayanan pemerintah, termasuk oleh Pemerintah Daerah, meningkat cepat. Untuk dapat memenuhi pelayanan tersebut tak pelak Pemerintah Daerah harus dapat mengimbanginya, dan karena itu diperlukan dana pembiayaan yang cukup, maka langkah paling pertama yang mesti diupayakan oleh pemerintah untuk maksud mengimbangi kenaikan kebutuhan masyarakat itu ialah meningkatkan kemampuan
di
bidang
keuangannya
(meningkatkan
pendapatan/penerimaan daerah). Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk ditingkatkan. Berdasarkan alur pikir teori keuangan daerah, penerimaan pajak utamanya digunakan untuk membiayai jasa pelayanan yang bersifat murni publik (public goods/pure public goods), sedangkan untuk jasa pelayanan yang bersifat semi publik dimana komponen manfaat privatnya relatif besar (semi public goods), dibiayai dari hasil pungutan retribusi. Prasarana perhubungan dan fasilitasnya yang disediakan oleh Pemerintah Daerah, merupakan salah satu jasa yang tegolong komoditas semi publik. Dengan demikian Pemerintah Daerah dapat menarik retribusi dari para pengguna prasarana perhubungan tersebut. Pungutan retribusi tersebut dalam pengelolaan penerimaan Pemerintah Daerah di Indonesia kerap disebut “retribusi terininal”. Disamping upaya meningkatkan penerimaan, langkah berikutnya yang sangat perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah adalah melakukan efisiensi dalam penggunaan sumber daya. Hal ini tidak lain agar pelayanan Pemerintah Daerah kepada masyarakat dapat menjadi optimal di bawah kendala kemampuan keuangan yang terbatas.
13
Dalam pemungutan retribusi, harus diperhatikan hal-hal berikut : (i) dapat mewujudkan rasa keadilan; (ii) menjamin efisiensi dalam penggunaan sumber daya ekonomi; (iii) mendukung perluasan kapasitas produksi; (iv) meniadakan beban defisit anggaran dan (v) lebih memudahkan dalam pengelolaannya. Hal demikian karena adanya berbagai keterbatasan yang diiniliki oleh Pemerintah Daerah, terutama keterbatasan sumber keuangan/pembiayaan dalam hal menyediakan jasa pelayanan kepada masyarakat, termasuk dalam penyediaan prasarana perhubungan. Di lain pihak dengan keterbatasan tadi Pemerintah Daerah juga dituntut untuk dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya. Supaya dengan keterbatasan tadi, Pemerintah Daerah tetap dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, yaitu dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat, maka dalam penyediaan jasa/pelayanan berupa prasarana perhubungan, Pemerintah
Daerah
mengenakan
pungutan
retribusi.
Selanjutnya
penerimaan dari hasil pungutan retribusi ini menjadi salah satu sumber keuangan bagi Daerah. Dari uraian yang telah dikemukakan tersebut di atas, maka untuk penyediaan prasarana perhubungan di Kabupaten Brebes perlu suatu analisis tentang permasalahan ini melalui analisis penentuan tarif 5 retribusi daerah sarana dan prasarana perhubungan (Retribusi Uji Kendaraan, Retribusi Jasa Usaha Terminal, Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan, Retribusi Ijin Trayek, Retribusi Penutupan Jalan) dan mengemukakan suatu perumusan tarif tersebut. B. TUJUAN Dengan mengacu pada latar belakang masalah dan perumusan masalah di atas maka penelitian ini mempunyai tujuan : a. Mengkaji cara penentuan tarif 5 retribusi retribusi daerah sarana dan prasarana perhubungan (Retribusi Uji Kendaraan, Retribusi Jasa
14
Usaha Terminal, Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan, Retribusi Ijin Trayek, Retribusi Penutupan Jalan) yang selama ini berlangsung di Daerah Kabupaten Brebes. b. Mengajukan cara alternatif penentuan tarif 5 retribusi daerah sarana dan prasarana perhubungan (Retribusi Uji Kendaraan, Retribusi Jasa Usaha Terminal, Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan, Retribusi Ijin Trayek, Retribusi Penutupan Jalan), berdasarkan pendekatan yang sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi terutama pentarifan jasa publik guna menggapai segenap aspek: (i) kecukupan penerimaan; (ii) aspek keadilan; (iii) efisiensi ekonomi; (iv) aspek adininistrasi dan politik; dan (v) kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah. c. Mengajukan perkiraan-perkiraan tentang kemungkinan perolehan penerimaan retribusi prasarana perhubungan yang disebabkan oleh cara penentuan tarif alternatif (butir b). C. LANDASAN HUKUM Landasan hukum dari Kajian adalah: a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. b.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. d. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. e. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. f. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
15
g. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah.
16
BAB II PENDEKATAN DAN METODE KAJIAN
A. DASAR TEORITIK KONSEPTUAL 1. Pengertian Jasa Publik. Literatur ilmu ekonomi, utamanya yang memuat ekonomi sektor
publik
(pemerintah)
atau
keuangan
pemerintah,
baik
pemerintah pusat dan / atau Daerah, kerap membagi seluruh komoditas (barang/jasa) yang dihasilkan oleh perekonomian ke dalam tiga golongan, yaitu komoditas murni publik, komoditas murni privat, dan komoditas semi publik atau semi privat. Komoditas murni publik adalah suatu komoditas yang memiliki dua karakteristik utama, yaitu penggunaannya tidak bersaingan (nonrivalry) dan tidak dapat diterapkan prinsip pengecualian (non excludability). Sedangkan komoditas murni privat adalah merupakan kebalikan dan komoditas publik murni, yaitu penggunaannya bersaingan (rivalry) dan dapat diterapkan prinsip pengecualian (excludability). Dan komoditas semi publik/privat adalah suatu komoditas yang memiliki karakteristik sampai pada tingkat tertentu, dapat bersifat bersaing (rival), dan sangat memungkinkan bagi pemasok untuk mencegah mereka yang tidak bersedia membayar untuk tidak ikut serta dalam mengkonsumsi (to exclude free riders). Yang dimaksud tidak bersaing (nonrivalry) dalam konsumsi adalah apabila sejumlah orang pada saat yang sama dapat mengkonsumsi komoditas yang sama tanpa saling mengganggu, atau mengurangi kepuasan (kenikmatan) masing-masing individu dalam mengkonsumsi komoditas tersebut, kemudian yang dimaksud dengan tidak dapat dikecualikan (non excludability) adalah tidak dapat (begitu sulit) bagi pemasok untuk mencegah mereka-mereka yang tidak membayar, 17
untuk
tidak
ikut
dalam
mengkonsumsi
komoditas
yang
disediakannya. Apabila upaya pencegahan ini hendak dilakukan juga niscaya biayanya akan demikian besar, jauh lebih besar daripada manfaat yang diperoleh oleh penyedia komoditas publik itu (biasanya pemerintah). Contoh dan komoditas yang memiliki karakteristik tidak bersaing dan tidak dapat dikecualikan dalam konsumsi misalnya : pertahanan dan keamanan, jasa penerangan jalan umum, hujan buatan, dan sebagainya. Untuk lebih jelas dan ringkas dalam memahaini perbedaan antara ketiga Golongan/kelompok komoditas tersebut di atas, berikut ini
disajikan
perbedaan
karakteristik
ketiganya
(Goeritno
Mangkoesoebroto, 1998, 4). Tabel 2.1. Perbedan Antara Komoditas Publik Murni, Privat Murni Dan Semi Publik/Privat Dapat Dikecualikan Rival
Tidak Dapat Dikecualikan
Komoditas Privat Murni Komoditas semi Publik (Quasi Biaya pengecualian Publik) rendah Barang yang manfatnya Dihasilkan oleh swasta dirasakan bersama dan Dijual melalui dikonsumsikan bersama tetapi prasarana perhubungan dapat kepadatan. Dibiayai dan hasil Dijual melaluiprasarana penjualan perhubungan atau langsung Dihasilkan dan swasta oleh pemerintah atau pemerintah Contoh: taman Contoh : pensil, sepatu dsb
18
Non Rival
Komoditas Semi Privat (Quasi Private) Barang swasta yang menimbulkan eksternalitas Dibiayai dan penjualan atau dibiayai dengan APBN Contoh : Rumah Sakit
Komoditas Publik Murni Biaya pengecualian besar Dihasilkan oleh pemerintah Disalurkan oleh Dijual melalui prasarana perhubungan atau oleh pemerintah Contoh: Peradilan, pertahanan
Dengan mengacu penjelasan dan uraian di atas, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa jenis komoditas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Khusus untuk komoditas murni publik dan semi publik (terutama yang karakteristik publiknya lebih doininan) besar kemungkinan tidak akan dihasilkan oleh swasta, ataupun jika dihasilkan juga oleh swasta maka jumlah pasokannya akan sangat terbatas (jauh lebih sedikit dari pada yang dibutuhkan masyarakat).
Oleh
karena
swasta
tidak
mau
(tidak
bisa)
menghasilkan komoditas tersebut, maka pemerintahlah yang harus menghasilkannya, hal ini agar kesejahteraan seluruh masyarakat dapat tercipta. Berkaitan dengan kesediaan (keharusan) pemerintah untuk menyediakan komoditas itu, Due dan Friedlander (1977, 29-31) menyebutkan mengapa komoditas seperti itu (terutama komoditas publik) mesti dipasok oleh pemerintah, antara lain yaitu: a. Sulitnya menentukan jumlah yang dibeli oleh seorang konsumen (pengguna) akibat sulitnya menggunakan harga sebagai alat distribusi. Sangat berbeda dengan komoditas privat, jumlah yang dibeli oleh seorang konsumen dapat ditentukan dengan mudah karena proses distribusinya dilakukan melalui mekanisme pasar. b. Jika komoditas privat dikonsumsi oleh seseorang secara individu dan ekslusif sifat, dengan demikian pemasoknya dapat mengetahui
19
kekuatan preferensi dan manfaat para konsumennya, maka pada komoditas publik konsumsi adalah secara kolektif dan manfaatnya tidak dapat dibagi-bagi. c. Konsumen komoditas publik tidak mengetahui dengan pasti besarnya manfaat yang diperolehnya dan pengeluarannya untuk memperoleh komoditas publik tersebut. Misalnya, konsumen tidak mengetahui
berapa
manfaat
yang
akan
diperolehnya
dan
pengeluaran pemerintah untuk pendidikan, pertahanan dan sebagainya. d. Konsumen komoditas publik bertindak secara kelompok, dan memikirkan kepentingan anggota masyarakat lainnya. Sedangkan konsumen komoditas privat yang dipikirkan adalah kepentingan individu. e. Alokasi jasa-jasa pemerintah sebagian besar mempunyai implikasi distribusi.
Dengan struktur
pajak tertentu
misalnya, akan
dihasilkan pula pendistribusian kembali pendapatan riil. f. Preferensi masyarakat pada dasarnya ditentukan oleh selera, informasi, tingkat ketidak pastian, filosofi pemerintah dan reaksi emosional. Dalam hal ini dibutuhkan peran aktif pemerintah sehingga akan diperoleh gambaran preferensi masyarakat yang dapat dipercaya untuk suatu barang. Karena dengan diketahuinya preferensi masyarakat terhadap suatu barang secara tepat, maka pengeluaran
yang
dilakukan
pemerintah
untuk
memenuhi
perinintaan tersebut tidak berlebih-lebihan atau kurang dari tingkat pengeluaran yang diperlukan. Berdasarkan pengklasifikasian komoditas yang dihasilkan perekonomian
tadi,
prasarana
perhubungan
tergolong
sebagai
komoditas semi publik (Quasi public). Hal mana karena prasarana perhubungan dan fasilitasnya dapat dimanfaatkan secara bersama-
20
sama namun apabila yang memanfaatkan atau jumlah pengguna terlalu banyak, maka terjadi kepadatan. 2. Pengenaan Harga Terhadap Komoditas Semi Publik : Prasarana perhubungan Berdasarkan pada uraian sebelumnya, bahwa jenis komoditas yang seyogyanya, dan biasanya, dipasok oleh pemerintah adalah komoditas murni publik dan atau semi publik, maka untuk komoditas semi publik seperti prasarana perhubungan, di Indonesia umumnya juga dipasok oleh pemerintah. Atau jika tidak dipasok langsung oleh pemerintah,
paling
tidak
diatur,
dibina
dan
diawasi
penyelenggaraannya oleh pemenintah. Pengaturan, pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah (daerah) terhadap prasarana perhubungan di daerahdaerah di Indonesia umumnya menyangkut lokasi, ketertiban, kebersihan dan keamanan. Untuk semua penyelenggaraan urusan ini kemudian pemerintah (daerah) memungut iuran atau retribusi dari para pengguna prasarana perhubungan tersebut. Berdasarkan alur pikir teoritik, retribusi komoditas semi publik seperti prasarana perhubungan ini semestinya ditentukan sama dengan “Marginal Cost” dan pemasoknya. Alur pikir seperti ini berkehendak digunakan
agar
untuk
pemanfaatan pemasokan
sumber
prasarana
daya
ekonomi
perhubungan
yang
tersebut
menjadi efisien. Atau dalam kosa kata ilmu ekonomi, agar dicapai kondisi “pareto optimal”. Melalui ilustrasi grafik, kondisi pareto optimal dan penggunaan sumber daya ekonomi itu dapat ditunjukkan sebagai berikut:
21
Kurva D adalah kurva perinintaan masyarakat terhadap sarana dan prasarana perhubungan, dimana Q adalah besarnya sarana prasarana perhubungan tersebut. MC adalah besarnya pertambahan biaya dan pertambahan penggunaan sumber daya (tenaga kerja, tanah, material, modal, dan sebagainya) yang diperlukan untuk menambah satu unit sarana dan prasarana. Posisi kurva D menunjukkan besarnya penilaian masyarakat terhadap manfaat prasarana perhubungan. Semakin besar Q, sejalan dengan hukum pertambahan manfaat yang semakin berkurang, semakin rendah penilaian masyarakat terhadap manfaat keberadaan prasarana perhubungan. Demikian pula sebaliknya, semakin sedikit Q, sernakin tinggi penilaian masyarakat terhadap manfaat keberadaan prasarana perhubungan. Dari gambar 1 tersebut terlihat bahwa 0F merupakan jumlah Q optimal yang mesti dipasok. Dengan output (Q) sebanyak OF maka manfaat bersih yang dihasilkan dan pasokan Q tersebut adalah luas area AIE, yaitu luas area AOFE (total manfaat yang dihasilkan) dikurangi dengan luas area IOFE (total biaya dan pasokan itu). 22
Besarnya selisih area AOFE - IOFE ini (manfaat bersih) adalah terbesar dibandingkan dengan manfaat bersih yang dihasilkan jika Q adalah lebih sedikit atau lebih besar dari OF, yaitu misalnya OG atau OJ. Jika Q sebesar OG maka manfaat bersihnya adalah luas area AIMH, yaitu luas area AOGH - I0GM, sedangkan jika Q sama dengan OJ maka besarnya manfaat bersih yang dihasilkan itu adalah sebesar luas area AOJN - IOJK. Pasokan Q sebesar OF itu, yang menghasilkan manfaat bersih paling besar, dalam ilmu ekonomi disebut kondisi pareto optimal. Kondisi ini memuat arti bahwa alokasi sumber daya ekonomi sangat sejalan dengan preferensi masyarakat, dan tidak terjadi distorsi (pemborosan) dalam alokasi tersebut. 3. Permasalahan Penerapan Teori. Kendati secara teoritik persoalan tentang bagaimana sumber daya ekonomi semestinya dialokasikan pada pasokan komoditas semi dan/atau publik murni mudah dijawab, namun pada tahapan praktek persoalan itu tidak cukup gampang untuk diselesaikan. Masalahnya adalah, pertama, apa yang dibicarakan dalam teori itu mengandaikan dimana pelacakan terhadap eksternalitas (baik yang negatif, yang akan diperhitungkan dalam “marginal cost” maupun yang positif, yang diperhitungkan dalam “marginal benefit”) tidak sulit untuk dilakukan. Dalarn prakteknya, pelacakan atas besarnya eksternalitas itu memerlukan kajian tersendiri yang mendalam. Untuk itu bukan hanya keterangan tentang preferensi masyarakat secara keseluruhan (social indifferent curve) perlu diketahui, bukan juga hanya dampak langsung dan tidak langsung baik di bidang ekonomi maupun sosial perlu diketahui, tetapi juga perlu dihitung harga-harga bayangan (shadow prices) dari berbagai sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan Q tersebut, dan harga bayangan dari Q itu sendiri.
23
Kedua, kondisi harga sama dengan biaya (ongkos) marjinal yang dapat menjamin alokasi sumber daya tadi optimal hanya terjadi apabila, pertama, struktur pasar dari Q maupun pasar sumber daya adalah bersaing sempurna. Pada kondisi ini, harga bagi sumber daya maupun output yang dihadapi pemasok Q adalah ”given”, dan penggunaan sumber daya, optimum serta produksi Q optimum terjadi ketika: (i) Ps = MPs . PQ atau Ps =
DQ
. PQ
DS (ii) PQ = MRQ =
DQ . PQ DQ
24
dari (i),
DS . PS DQ
= PQ ,
atau
MCQ = PQ (iii)
Jadi, dari (ii) dan (iii) akhirnya : MCQ = MRQ = PQ dimana : Ps
= harga dari sumber daya;
MPs = Produktivitas rnarjinal dan sumber daya; PQ
= harga dan output;
MRQ = Pendapatan marjinal dan produksi Q; MCQ = ongkos marjinal dan produksi Q satu unit lebih sedikit / banyak; S
= jumlah sumber daya yang digunakan; dan D = notasi
perubahan. Kedua, skala produksi dari Q mesti tidak pada saat ”increasing retrurn” atau “decreasing cost”, sebab jika skala produksi sedang berada (berciri) increasing retrurn atau decreasing cost maka pemasoknya bisa mengalami rugi. Jika pemasok ini swasta, niscaya ia enggan berkiprah dalam produksi Q itu. Pada gambar 2 di bawah ini disajikan ilustrasi tentang perusahaan yang merugi karena menerapkan harga sama dengan biaya marjinal, sedang aktivitas produksinya berciri decreasing cost.
25
Dimensi waktu di gambar 2 ini adalah jangka panjang (long run). dengan demikian, kurva AC adalah biaya rata-rata dalam jangka panjang, dan kurva MC adalah kurva biaya marjinal dalam jangka panjang. Phase decreasing cost atau increasing return adalah mulai dari output sama dengar O sampai dengan R. Lewat dari out put R maka aktivitas produksi berada dalam phase increasing cost. Seperti terlihat pada gambar 2 itu, harga sama dengan biaya marjinal terjadi pada output sebesar OF. Dengan produksi output sebesar OF, maka penerimaan total perusahaan adalah OFEC, sedang biaya totalnya adalah OFBA. Jadi perusahaan mengalami kerugian sebesar ABEC. Seperti dikatakan tadi jika produksi Q ini ditangani oleh swasta maka tidak ada satupun swasta yang mau berkiprah dalam produksi Q ini, kecuali barangkali jika ada subsidi dari pemerintah sebesar BEC (kerugian yang mungkin diderita) itu. Ketiga, permasalahan lanjutan dalam penerapan prinsip harga sama dengan biaya marjinal ini adalah perihal menentukan satuan output, pengelompokan biaya-biaya, dan penentuan dimensi waktu yang tepat untuk perhitungan biaya tadi. Permasalahan penentuan satuan output muncul karena kebanyakan komoditas publik ataupun semi publik yang dipasok pemerintah, seperti halnya prasarana perhubungan, bersifat ”lumpy”. Jadi tidak seperti yang dibicarakan dalam
teori
dimana
output
yang
diproduksi
oleh
prusahaan
mempunyai satuan yang jelas, dan bahkan kontinue. Komoditas murni dan semi publik umumnya sekaligus untuk sejumlah tingkat konsumsi dan konsumen. Lalu pengelompokan biaya muncul karena di dalam praktek seringkali sukar diidentifikasi biaya-biaya mana yang merupakan biaya variabel, yang besar-kecilnya tergantung pada banyaknya output yang dihasilkan, dan biaya-biaya mana yang
26
termasuk sebagai biaya tetap sebagaimana teori ekonomi kerap membicarakannya. Terakhir, permasalahan pemilihan dimensi waktu menjadi muncul karena pemilihan ini berakibat pada harga itu sendiri. Jika dimensi jangka pendek yang digunakan maka harga bisa sangat berfluktuasi sangat besar, utamanya di saat-saat perkembangan kapasitas terjadi, sedang jika dimensi jangka panjang yang dipilih, maka muncul persoalan baru yaitu berapa lama jangka panjang itu (How long is the long run). 4. Arti Retribusi Dari
sisi
teoritik,
arti
dari
retribusi
adalah
pungutan
pemerintah kepada para pemakai atau “konsumen” komoditas yang dihasilkan pemerintah. Komoditas yang dimaksud bisa berupa barang (komoditas pisik) ataupun berupa pelayanan. 5. Komoditas Yang Dikenai Retribusi Pada umumnya, dan menurut logika teoritik, pengertian pungutan retribusi hanyalah laik pada komoditas semi publik. Atau sebaliknya, tidak laik bila komoditas yang bersangkutan adalah bukan komoditas publik yang murni (pure public goods). Mengapa demikian?. Karena pada komoditas yang murni publik persaingan antar konsumen yang mengkonsumsi komoditas tersebut tidak terjadi (nonrival), dan Pemerintah tidak ikut membayar untuk tidak ikut mengkonsumsi (non-excludable). Akibatnya, komoditas murni publik hanya mungkin dibiayai dengan pajak, bukan retribusi. Di pihak lain karena ciri dari komoditas semi publik adalah, sampai tingkat tertentu, penggunaannya menjadi bersaing dan upaya mencegah mereka yang tidak ikut membayar adalah mungkin (biaya untuk mencegah adalah lebih kecil dari penerimaan pungutan) maka pengadaan komoditas semi publik dapat dibiayai oleh retribusi.
27
Contoh dari komoditas semi publik yang kerap dibiayai dari retribusi adalah air minum, listrik, area perparkiran, sarana transportasi, jalan raya umum di pemukiman ramai, sarana atau tempat rekreasi, layanan kebersihan, dsb. 6. Manfaat Pengenaan Retribusi Atas Komoditas yang Dipasok Pemerintah Apakah pengenaan retribusi (harga) terhadap komoditas yang dipasok pemerintah dapat dibenarkan?. Pertanyaan seperti ini dirasa penting untuk dikemukakan di sini, karena tidak sedikit orang yang mempunyai anggapan bahwa semestinya komoditas-komoditas yang dipasok pemerintah itu dapat dikonsumsi gratis oleh masyarakat; atau paling tidak, jika hendak juga dikenai harga, maka harganya mesti begitu rendah sehingga dapat dikonsumsi banyak orang. Alasannya
adalah,
bahwa
komoditas-komoditas
yang
dipasok
pemerintah itu umumnya menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan dikenakannya harga terhadap komoditas-komoditas itu, maka tak ayal tidak semua orang (masyarakat) akan dapat mengkonsumsi komoditas tersebut. Yang pasti, yang dapat mengkonsumsi komoditas tersebut hanyalah yang berpendapatan relatif tinggi. Alasan seperti yang dikemukakannya di atas, meski tidak seluruhnya salah namun juga tidak seluruhnya benar. Memang benar bahwa, pada umumnya, komoditas yang dipasok pemerintah adalah yang menyangkut hajat orang banyak. Namun tidaklah benar bahwa setiap komoditas yang menyangkut hajat hidup orang banyak mesti dipasok secara gratis. Bila pertimbangannya hanyalah hajat hidup orang banyak (kepentingan umum), maka apalah bedanya antara komoditas di atas dengan beras, pakaian dan perumahan. Seperti diketahui ketiga
28
komoditas yang disebut terakhir ini juga menyangkut hajat hidup orang banyak. Mungkin orang yang berpandangan bahwa komoditas yang dipasok itu harus gratis mempunyai argumentasi lain, yaitu misalnya: karena
Pemerintah
adalah
institusi
yang
mesti
menjamin
kesejahteraan rakyat. Tetapi, dalam masalah ini, argumentasi ini pun kurang tepat. Sebab sebagaimana diketahui untuk pengadaan komoditas yang dimaksud diperlukan biaya besar. Dari manakah dana ini harus diperoleh oleh pemerintah?. Dari pajakkah atau dari pinjaman (dalam atau luar negeri)?. Justru jika dana itu diperoleh dari pajak ataupun pinjaman maka Pemerintah jadi bertindak tidak adil; dan ketidak adilan ini terutama akan menimpa anggota masyarakat yang kurang mampu atau berpendapat relatif rendah. Inilah salah satu manfaat dari pengenaan retribusi, yaitu menghadirkan keadilan. Dalam kasus seperti di atas, maka yang paling layak membiayai operasi jalan tol tadi adalah mereka-mereka yang dengan mobilnya memanfaatkan jalan tersebut. Manfaat lain dari retribusi adalah : a. Menjamin pemanfaatan sumber-sumber ekonomi efisiensi serta mencegah pemborosan; b. Meningkatkan
kemampuan
Pemerintah
dalam
melakukan
ekspansi kepasitas penyediaan; dengan demikian komoditas dapat lebih disebar ke masyarakat luas; c. Mengurangi dan bahkan dapat meniadakan tekanan defisit pada anggaran belanja Pemerintah, dan dengan demikian Pemerintah akan memiliki kemampuan lebih besar dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas lain yang diperlukan masyarakat; d. Dari sisi adininistratif pengelolaan dalam penyediaan menjadi lebih mudah.
29
Dengan kata lain, manfaat dari pengenaan retribusi, terhadap komoditas-komoditas (semi publik) yang dipasok Pemerintah itu ada 5 (lima), yaitu mewujudkan rasa keadilan, menjamin efisiensi dalam penggunaan sumber ekonomi,
mendukung
perluasan kapasitas
produksi, meniadakan beban defisit anggaran dan lebih memudahkan dalam pengelolaannya. Bahwa dengan retribusi pengelolaan atas pasokan (penyediaan) dapat menjadi lebih mudah kiranya dapat diterangkan seperti berikut : bila pasokan tidak melalui mekanisme retribusi atau “mekanisme harga”, maka satu diantara dua cara berikut harus ditempuh oleh Pemerintah ketika mendistribusikan komoditas. Yang pertama adalah melalui sistim penjatahan (rationing), sedang yang kedua adalah melalui sistim siapa yang cepat datang ke tempat pelayanan maka dialah
yang
akan
terlebih
dahulu
dilayani
sesuai
dengan
kebutuhannya (first come first served). Cara yang pertama mungkin ditempuh dengan membagi sama rata kepada setiap orang atau rumah tangga (equal distribution) atau mungkin dengan membagi sesuai dengan kebutuhan (in line with his needs) . Baik cara yang pertama maupun cara kedua dan terakhir yang disebutkan ini relatif sulit dan cenderung tidak adil (unfair). Bila cara yang pertama yang ditempuh, maka : a. Bagaimana cara mengantarkan (mendistribusi) komoditas tersebut ke setiap orang atau rumah tangga; b. Bagaimana cara menetukan kebutuhan seseorang (rumah tangga) secara tepat. Kebutuhan merupakan perasaan subjektif individu, maka tidak mudah untuk menentukannya. Kendatipun bila-untuk alasan praktis—kebutuhan itu secara terpaksa ditentukan, misalnya dengan mengasumsikan kebutuhan ininimal per orang dan selanjutnya mencacah jumlah anggota dalam setiap rumah tangga, maka tak dapat dihindari kebutuhan dana yang besar
30
untuk melakukan pencacahan tentang jumlah anggota rumah tangga itu. c. Cara dengan menjatah setiap rumah tangga dalam jumlah sama jelas tidak adil, kendati dengan cara ini biaya pengelolaan menjadi relatif lebih kecil dengan cara pencacahan tadi. d. Kerapkali melalui cara ini terjadi penyimpangan, yaitu mereka yang mempunyai hubungan dekat dengan panitia retribusi (teman, saudara, atasan/bawahan) biasanya memperoleh pembagian lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak mempunyai hubungan
apapun
dengan
panitia.
Bagaimana
pula
cara
mengawasi secara efektif agar penyimpangan ini tidak terjadi?. Bila cara yang kedua yang ditempuh, maka kesulitan atau permasalahannya adalah : a. Mereka yang lebih dekat dengan pusat-pusat pelayanan tentu akan mendapat lebih dahulu dan lebih banyak, sedangkan yang bertempat
tinggal
jauh
dari
pusat
pelayanan
–
kendati
sesungguhnya mereka sangat memerlukan – mungkin tidak akan kebagian. b. Mereka yang mempunyai kemampuan ekonomi besar akan dapat memperoleh
bagian
yang
lebih
banyak
daripada
yang
berkemampuan ekonomi rendah, sebab dengan kemampuan ekonominya yang besar dia dapat membeli alat angkut yang besar. Contohnya, dalam hal distribusi air bersih tentu mereka dapat membawa mobil tangki akan mendapat air cukup banyak, sedangkan mereka yang miskin hanya bisa membeli ember plastik akan mendapatkan air dalam jumlah sedikit 7. Penentuan Harga/Tarif Retribusi Yang Dipilih. Bertolak dari segala permasalahan dalam penerapan secara murni alur pikir teori ekonomi tentang harga yang laik untuk
31
komoditas murni/semi publik tadi, dan berdasarkan pengalaman aplikasi di berbagai negara dan/atau para praktisi pengkaji pasokan komoditas murni/semi publik, maka untuk sampai pada tujuan kajian ini
akan
digunakan
konsep
biaya
rata-rata
dimasa
datang.
Penggunaan konsep ini misalnya, telah dilakukan oleh Wordford (1966) untuk kajiannya dalam persoalan keputusan investasi bagi pasokan air minum, Walters (1968) untuk kajiannya terhadap proyek jalan layang, kemudian Rozani (1992) untuk kajiannya tentang tarif jasa puskesmas di Indonesia. Konsep biaya rata-rata di masa datang ini, menurut mereka, merupakan modifikasi yang tepat untuk menerapkan konsep biaya marjinal yang dibicarakan dalam teori bagi penentuan harga komoditas publik. Alasannya, konsep ini berorientasi ke depan seperti konsep biaya marjinal. Tetapi karena sifat outputnya “lumpy” maka yang paling relevan dalam soal ini adalah berapakah besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengganti keberadaan output tersebut setelah umur penggunaannya selesai. Pengelompokan biaya yang akan digunakan terbagi tiga, yaitu : (i) biaya operasi ; (ii) biaya pemeliharaan dan (iii) biaya konstruksi atau
modal.
Tentang
besarnya
biaya
modal
yang
akan
digunakan(dalam kajian) beranjak dari perhitungan tentang besarnya penyusutan per periode waktu (tahun). B. DESAIN DAN METODE PENELITIAN 1. Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data
Pengkajian ini merupakan one time cross sectional study dan data yang diperlukan dalam pengkajian ini berupa data sekunder yaitu laporan penerimaaan Pajak dan Retribusi 3 tahun terakhir,
32
PP, Keppres, Perda, Keputusan Bupati, dan Biaya Operasi, Biaya Pemeliharaan serta Biaya Konstruksi/Investasi 3 tahun terakhir masing-masing obyek. b. Pengumpulan Data
Dilakukan
dengan
observasi
langsung,
menggunakan
interview guide yang dipersiapkan oleh masing-masing tim untuk menjawab tujuan penelitian. 2. Teknik Analisis Data Dalam melakukan kajian ini, akan dianalisis peraturanperaturan daerah yang berhubungan dengan penentuan tarif dan struktur
tarif
retribusi
pasar
di
Kota
Tegal;
menganalisis
perkembangan penerimaan dan pungutan retribusi tersebut; juga menganalisis
perkembangan
biaya-biaya
(operasi,
pemeliharaan
maupun modal/investasi) dan penyediaan sarana dan prasarana. Dari analisis/kajian-kajian yang disebut ini maka dapatlah dijawab dua tujuan pertama dari penelitian ini. Selanjutnya, perihal cara/pendekatan alternatif yang akan diajukan dalam penentuan tarif dasar (tujuan butir 3), maka cara penetapan tarif berdasarkan biaya rata-rata di masa depan (Average Cost in The Future) akan dipilih. Dalam literatur mengenai barang publik (publik utility) dan ekonomi kesejahteraan (welfare economics) kebijaksanaan penentuan harga (tarit) terhadap barang/jasa yang disediakan pemerintah ada tiga alternatif (Boediono, 1976, 73). Alternatif pertama harga (tarif) ditentukan untuk memperoleh keuntungan yang maksimum, dimana biaya tambahan untuk setiap tambahan satu unit output (marginal cost) sama dengan tambahan penerimaan (marginal revenue) dari penjualan output tersebut. Alternatif kedua, harga (tarif) ditentukan setinggi biaya rata-ratanya (P = AC). Selanjutnya alternatif ketiga, harga ditentukan menurut
33
prinsip alokasi sumber-sumber ekonomi yang optimal, yaitu harga sama dengan ongkos marginal untuk menghasilkan output (P=MC). Untuk menerapkan pendekatan yang akan dipakai dalam analisis (perhitungan) nanti, maka dari alternatif ketiga, dimodifikasi yang disesuaikan dengan permasalahan yang akan di teliti dan disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pemungutan retribusi pasar tersebut. Secara ringkas, harga atau tarif retribusi rata-rata (tarif dasar), berdasarkan konsep rata-rata biaya di masa datang ini adalah: BOt+1 + BPt+1 + BKt+n Ht = TDt =
PDt
dimana: Ht
= Harga di tahun t;
TDt
= Tarif dasar untuk tahun t;
BOt+1 = Biaya operasi di tahun mendatang yang digunakan untuk perhitungan harga/tarif dasar di tahun t BPt+1 = Biaya pemeliharaan di tahun mendatang yang digunakan untuk perhitungan harga / tarif di tahun t BKt+n = Biaya konstruksi / modal di tahun mendatang yang digunakan Untuk perhitungan harga / tarif dasar di tahun t. PDt
= Jumlah pedagang yang dipergunakan untuk perhitungan
harga / tarif dasar di tahun t; BOt+1 = BOt (1 + k) BPt+1 = BPt (1 + l) I BKt+n =
(1 + inf)n
34
n dimana: BOt
= Biaya operasi pada tahun t (sekarang) ;
BPt
= Biaya pemeliharaan pada tahun t (sekarang)
I
= Nilai total dan konstruksi (investasi) bagi pemasokan
komoditas Yang ada saat ini n
= Umur dan komoditas
k
= Tingkat kenaikan dan biaya operasi;
1
= Tingkat kenaikan dan biaya pemeliharaan
inf
= Tingkat inflasi, sebagai proksi dan biaya oportunitas model.
35
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH KAJIAN
A. KONDISI UMUM Kabupaten Brebes merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang terletak di daerah pantura dan berbatasan langsung dengan propinsi Jawa Barat. Luas wilayah Kabupaten Brebes kurang lebih 166.117 hektar atau 1.657,75 km2 dengan jumlah penduduk kurang lebih 1,5 juta jiwa, tingkat kepadatan ± 953,20 jiwa / km2. Dari luas wilayah tersebut Kabupaten Brebes terbagi menjadi 17 kecamatan, 292 desa dan lima kelurahan. Pola pembangunan Kabupaten Brebes dibagi menjadi tiga Sub Wilayah Pembangunan ( SWP ) dengan pembagian sebagai berikut : SWP I a dengan pusat di Kota Brebes, meliputi : Kecamatan Brebes, Kecamatan Wanasari, Kecamatan Jatibarang dan Kecamatan Songgom. SWP I b dengan pusat Kota Tanjung, meliputi : Kecamatan Tanjung, Kecamatan Losari dan Kecamatan Bulakamba. Sedangkan SWP II dengan pusat Kota Ketangggungan, meliputi : Kecamatan Ketanggungan, Kecamatan Banjarharjo, Kecamatan Larangan dan Kecamatan Kersana. SWP III dengan pusat Kota Bumiayu, meliputi: Kecamatan Bumiayu, Kecamatan, Kecamatan Tonjong, Kecamatan Sirampog, Kecamatan Paguyangan, Kecamatan Bantar Kawung dan Kecamatan Salem. Potensi ekonomi yang dimiliki Kabupaten Brebes pada sektor perdagangan dan industri memiliki komoditas unggulan yaitu bawang merah, telur asin, kerajinan keramik dan kerajinan rakyat rebana yang telah diekspor. Potensi sub sektor peternakan meliputi jenis ternak besar seperti sapi dan kerbau, jenis ternak kecil seperti kambing dan domba, serta ternak unggas yang merupakan usaha peternakan rakyat meliputi ayam dan itik. Potensi ekonomi lainnya yang dimiliki oleh Kabupaten Brebes adalah Perkebunan rakyat, Pertanian rakyat dan holtikultura yang memiliki komoditas unggulan seperti cengkeh, kelapa, teh, melinjo, kopi, nilam dan tebu, serta padi, jagung dan bawang merah yang merupakan ciri dari Kabupaten Brebes. Sub sektor
36
perikanan baik perikanan laut, perikanan tambak dan kolam serta
pariwisata
merupakan potensi ekonomi yang sedang digalakkan. B. PERHUBUNGAN Sarana dan prasarana perhubungan merupakan urat nadi kehidupan ekonomi, sosial budaya, politik dan hankam. Pengembangan sarana dan prasarana perhubungan diarahkan pada terujudnya sarana dan prasarana perhubungan
yg handal,
berkemampuan tinggi, tertib, lancar, aman, nyaman dan efisien dalam menunjang dinamika pembangunan. Salah satu sarana dan prasarana perhubungan yang paling menunjang di Kabupaten Brebes adalah transportasi darat selain ada pelabuhan yang terus akan dikembangkan keberadaannya. Berikut ini adalah gambaran keadaan dari sarana dan prasarana perhubungan yang akan dikaji. 1. Jalan Raya Jalan merupakan prasarana perhubungan / transportasi darat yang paling menonjol di Kabupaten Brebes dalam rangka untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Seiring dengan berkembang pesatnya pembangunan di Kabupaten Brebes, menuntut pembangunan jalan guna memperlancar lalu lintas barang dan mobilitas penduduk dari satu daerah ke daerah lainnya, terutama untuk memberikan akses perekonomian pada daerah yang terpencil. Pada tahun 2007 panjang jalan yang ada di Kabupaten Brebes mencapai 901,97 km, yang terdiri dari 59,64 km jalan negara, 167,49 km jalan propinsi, dan 674,84 km jalan kabupaten. Tabel 3.1 berikut memperlihatkan keadaan jalan yang ada di Kabupaten Brebes.
37
Tabel 3.1 : Panjang Jalan Di Wilayah Kabupaten Brebes Menurut Status Jalan (Kilometer) Tahun 2007 Keadaan Jalan
1. Jenis Permukaan -Diaspal -Kerikil -Tanah -Tdk Diperinci
Panjang Jalan
885,97 10,00 6,00 0,00 901,97
Jalan Negara
59,64 0,00 0,00 0,00 59,64
Jumlah 2. Kondisi Jalan -Baik 636,80 50,64 -Sedang 171,49 5,77 -Rusak 63,78 3,18 -Rusak Berat 29,90 0,00 Jumlah 901,97 59,64 3. Kelas Jalan -Kelas I 56,64 59,64 -Kelas II 167,49 0,00 -Kelas III 0,00 0,00 -Kelas III A 1,54 0,00 -Kelas III B 17,28 0,00 -Kelas III C 656,02 0,00 -Kelas tidak 0,00 0,00 dirinci Jumlah 901,97 59,64 2006 901,97 59,64 2005 901,97 59,64 2004 884,97 59,64 Sumber : Brebes Dalam Angka Tahun 2007
Status Jalan Jalan Propinsi
Jalan Kabupaten
167,49 0,00 0,00 0,00 167,49
658,84 10,00 6,00 0,00 674,84
151,45 10,50 5,54 0,00 167,49
434,66 155,22 55,06 29,90 674,84
0,00 167,49 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
0,00 0,00 0,00 1,54 17,28 656,02 0,00
167,49 167,49 167,49 167,49
674,84 674,84 674,84 657,84
Dari tabel tersebut di atas dapat diketahui bahwa panjang jalan yang ada di Kabupaten Brebes mengalami peningkatan sebesar 2,58 persen dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. Dilihat dari keadaan jalan yang ada menunjukkan bahwa berdasarkan jenis permukaan jalan, masih ada sekitar persen yang berupa kerikil dan tanah. Sementara itu kondisi jalan yang tergolong rusak dan rusak berat terdapat pada jalan negara 5,33 kabupaten 12,58
persen, jalan propinsi 3,3 persen dan jalan
persen. Sedangkan berdasarkan kelas jalan, maka jalan
kabupaten termasuk kelas III baik kelas III A, III B ataupun III C.
38
2. Angkutan Darat Prasarana dan sarana perhubungan yang paling menonjol di Kabupaten Brebes adalah transportasi darat. Sehingga moda kendaraan bermotor mendominasi sarana transportasi yang ada di Kabupaten Brebes. Oleh karena itu untuk mewujudkan sarana transportasi yang handal, berkemampuan tinggi, tertib, lancar, aman, nyaman dan efisien perlu pengawasan yang intensif. Dengan demikian pengujian terhadap kendaraan bermotor perlu ditingkatkan. Tabel 3.2 berikut ini menunjukkan jumlah kendaraan bermotor yang Wajib Uji di Kabupaten Brebes selama tahun 2007. Tabel 3.2 Jumlah Kendaraan Bermotor Wajib Uji Menurut Jenis Kendaraan Di Kabupaten Brebes Tahun 2007 Jenis Kendaraan Umum Tidak Umum Jumlah 01. Mobil Penumpang 1 02. B u s 972 03. T r u k 74 04. Mobil Pick Up 05. Mobil Tangki 06. Gandengan 07. Bestel Wagon 08. Truk Sumbu III Jumlah 1.047 Tahun 2006 1.047 Sumber : Brebes Dalam Angka Tahun 2007
5 579 1.471 35 2.090 2.090
1 977 653 1.471 35 3.137 3.137
Tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa tidak ada perubahan jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2007 dibandingkan dengan tahun 2006, yang wajib untuk diuji. Sedangkan jumlah kendaraan bermotor yang diuji selama tahun 2007 adalah sebagaimana tertera pada tabel berikut ini.
39
Tabel 3.3
Jumlah Kendaraan Bermotor yang Diuji Menurut Bulan Di Kabupaten Brebes Tahun 2007 Bulan Umum Tidak Umum Jumlah
01. Januari 02. Februari 03. Maret 04. April 05. Mei 06. Juni 07. Juli 08. Agustus 09. September 10. Oktober 11. Nopember 12. Desember
226 228 204 246 215 158 255 230 189 233 227 154
Jumlah 2.565 Tahun 2006 1.919 Sumber : Brebes Dalam Angka Tahun 2007
518 439 491 426 508 472 515 502 447 433 523 484
744 667 659 672 723 630 770 732 686 666 750 638
5.758 3.823
8.323 5.742
Tabel diatas memperlihatkan bahwa jumlah kendaraan bermotor yang diuji mengalami peningkatan yang cukup berarti, yaitu untuk kendaraan bermotor umum mengalami kenaikan sebesar 33,66 persen dari tahun 2006, sedangkan untuk kendaraan bermotor tidak umum mengalami kenaikan 50,61 persen dari tahun 2006. Sehingga secara keseluruhan terdapat kenaikan jumlah kendaraan bermotor yang diuji pada tahun 2007 sebesar 44,95 persen dari tahun 2006. 3. Terminal Salah satu sarana dan prasarana perhubungan adalah terminal. Terminal berfungsi untuk mengatur mobilitas kendaraan, orang (penumpang) dan barang. Kabupaten Brebes memeiliki sejumlah terminal baik untk bus ataupun non bus sebagaimana tertera pada table 3.4 di bawah ini.
40
Tabel 3.4
Terminal Bus dan Non Bus Di Kabupaten Brebes Jenis Terminal
Lokasi
Teminal Bus
1. Tanjung 2. Bumiayu
Terminal Non Bus
1. Bumiayu 2. Tanjung 3. Brebes 4. Jatibarang 5. Larangan 6. Ketanggungan 7. Bandarharjo 8. Bantarkawung 9. Sitanggal 10. Songgom 11. Losari 12. Salem 13. Kersana 14. Sirampog 15. Tanjung
Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Brebes Tahun 2008 Tabel di atas menunjukkan bahwa di Kabupaten Brebes terdapat terminal disetiap kecamatan terutama untuk jenis angkutan non bus, yang berarti hampir di seluruh Kabupaten Brebes telah dilayani oleh jasa angkutan untuk mendukung mobilitas orang ( penumpang ) dan barang sehingga aktivitas perekonomian akan lebih meningkat. Bagi pemerintah Kabupaten Brebes keberadaan terminal, baik bus atau non bus memiliki nilai ekonomis sebagai sumber pendapatan daerah yang dapat digali melalui retribusi terminal. Sehingga semakin tinggi aktivitas perekonomian semakin tinggi pula aktivitas terminal yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan dari retribusi penyediaan jasa terminal. Sedangkan jenis pelayanan yang disediakan oleh terminal meliputi : a. Penyediaan tempat parker kendaraan angkutan penumpang ( mobil penumpang umum, bus kecil, bus sedang, dan bus besar ) b. Bus bermalam 41
c. WC dan kamar mandi d. Kios Terminal e. Pemakaian fasilitas lainnya, seperti : ruang tidur bagi awak kendaraan dan tempat pencucian mobil. Jenis – jenis pelayanan tersebut di atas yang kemudian ditetapkan besarnya tarif retribusinya, yang kemudian akan disesuaikan besarannya sejalan dengan perkembangan perekonomian. 4. Pelabuhan Kabupaten Brebes memiliki pelabuhan dengan satu dermaga dengan panjang demaga 197 m . Kegitan kepelabuhan meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pelabuhan dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi pelabuhan untuk menunjang keamanan dan ketertiban arus lalu litas kapal, penumpang ataupun barang, keselamatan berlayar, dan tempat perpindahan intra dan antar moda. Adapun jasa pelayanan yang dikenai retribusi adalah : a. Surat kebangsaan Kapal b. Pos Masuk Pelabuhan c. Tambat Labuh Kapal Jenis – jenis jasa pelayanan tersebut di atas yang akan
disesuaikan
besaran tarif retribusinya, sejalan dengan laju perubahan perekonomian.
42
BAB IV ANALISIS PENYESUAIAN TARIF RETRIBUSI
Banyak pakar yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian retribusi (Soedargo, 1964, 1; Sumitro, 1979, 17; dan Munawir, 1980, 4). Pada hakekatnya retnibusi adalah suatu pungutan oleh pemerintah kepada para pemakai (konsumen) komoditas yang dipasok pemerintah. Pungutan oleh pemerintah tersebut apabila dilakukan oleh pemerintah di daerah, disebut retribusi daerah. Pasal 1 Undang-undang No. 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah menyebutkan bahwa, Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut retribusi, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (Muljono, 1998, 5). Dalam undang-undang ini (UU. No. 18 tahun 1998) pada pasal 18, retribusi daerah diklasifikasikan ke dalam tiga golongan yaitu: 1. Retibusi Jasa Umum 2. Retribusi Jasa Usaha 3. Retribusi Jasa Tertentu. Adapun jenis-jenis retribusi daerah menurut masing-masing golongan tersebut. scsuai dengan pasal 2, 3 dan 4 Peraturan Pemerintah Republik Indonsia Nomor 20 tahun 1997 tentang Retrihusi Daerah, adalab (Muljono, 1998, 100-102) 1. Jenis-jenis yang tergolong retribusi jasa umum adalah ; (a) Retribusi
Pelayanan
Kesehatan
(b)
Retribusi
Pelayanan
Persampahan/Kebersihan c) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akte Catatat Sipil (d) Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat (e) Retrihusi Parkir di Tepi Jalan Umum; (f) Retribusi Pasar; (g) Retribusi Air Bersih;
43
(h)
Retribusi
Pengujian
Kendaraan Bermotor;
(i)
Retribusi
Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran: (j) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta; dan (k) Retribusi Pengujian Kapal Perikanan 2. Jenis-jenis yang tergolong retribusi Jasa Usaha adalah : (a) Retribusi Pemakaian Kekayaan daerah; (b) Retrihusi Pasar Grosir dan atau Pertokoan: (c) Retribusi Terminal: (d) Retribusi Tempat Khusus Parkir; (e) Retribusi Tempat Penitipan Anak: (f) Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggahan/Villa; (g) Retribusi Penyedotan Kakus: (h) Retribusi Rumah Potong Hewan; (i) Retribusi Tempat Pendaratan Kapal; (j) Retribusi tempat rekreasi dan Olah Raga; (k) Retribusi Penyeberangan di atas Air; (l) Retubusi Pengolahan Limbah Cair; dan (m) Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah. 3. Jenis-jenis yang tergolong retribusi perizinan tertentu adalah (a) Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah; (h) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan; (c) Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol; (d) Retribusi Izin Gangguan: (c) Trayek; dan (d) Retribusi Izin Pengambilan Hutan Ikutan. A. KRITERIA PENILAIAN PUNGUTAN RETRIBUSI Pungutan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah baik berupa retribusi maupun pajak harus dinilai berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Hal ini agar diketahui apakah sumber penerimaan tersebut telah memenuhi kriteria sebagai sumber-sumber penerimaan yang baik dan dapat dikembangkan, sehingga usaha kearah perbaikan pungutan tersebut bisa dilakukan. Dengan menganalisis sumber-sumber penerimaan tersebut maka akan sangat membantu Pemerintah Daerah dalam berkonsentrasi kepada penanganan sumber-sumber penerimaan yang layak untuk dikelola, dan dengan demikian setidaknya ada tiga manfaat yang dapat dirasakan oleh Pemerintah Daerah dari penanganan sumber-sumber tersebut, yaitu:
44
1. Biaya pengelolaan sumber-sumber penerimaan daerah bisa ditekan, karena sumber penerimaan tersebut telah diketahui karakteristiknya sehingga hanya yang potensial saja yang perlu dikelola dengan sungguh-sungguh; 2. Perhatian aparat tidak terpecah, sehingga bisa lebih efektif dalam mengelola sumber-sumber penerimaan yang potensial; 3. Masyarakat tidak merasa terlalu dibebani oleh pungutan-pungutan yang jumlahnya sangat beragam, sebab walaupun
nilainya
tidak
seberapa pungutan tesebut akan menimbulkan ilusi bahwa pemerintah terlalu membebani masyarakat dengan pungutan. Untuk menilai penerimaan Pemerintah Daerah baik penerimaan dari pajak maupun retribusi, beberapa prinsip atau kriteria yang umum digunakan, adalah: 1. Adequacy Principle. Prinsip ini mensyaratkan bahwa hasil pungutan dari pajak dan / atau retribusi tersebut harus cukup untuk membiayai pengeluaran yang hendak dibiayai oleh pajak dan atau retribusi tersebut.. 2. Stability principle. Artinya bahwa hasil pungutan pajak dan / atau retnibusi tersebut menunjukkan perkembangan yang stabil. 3. Equity principle. Artinya beban pungutan pajak dan / atau retribusi yang dirasakan itu cukup adil oleh setiap wajib pajak dan / atau retribusi, 4. Economic efficiency principle. Artinya pungutan pajak dan / atau retribusi itu akan dapat mendorong alokasi sumberdaya ekonomi menjadi efisien. 5. Cost or administrative efficiency principle. Artinva hasil dari pungutan pajak dan / atau retribusi jauh lebih besar dari semua biaya yang dikeluarkan untuk memungutnya.
45
6. Administratively feasible principle. Artinya intensitas dan ekstensitas pungutan pajak dan / atau retribusi sejalan
dengan
kemampuan
administrasi
instansi
yang
menanganinya. 7. Political acceptability principle. Artinya pungutan pajak dan / atau retribusi tersebut dapat diterima atau mendapat dukungan politik yang kuat. Cara yang ditempuh untuk menentukan besarnya satuan tarif kepada setiap pemakai jasa sesuai dengan kriteria tersebut di atas, didasarkan atas pertimbangan: (i) perkiraan kemampuan ekonomi masyarakat; (ii) tarif retribusi daerah lain yang ada disekitarnya; (iii) untuk perubahan tarif didasarkan atas inflasi yang terjadi di daerah Kabupaten Brebes. B. PENYESUAIAN TARIF RETRIBUSI 1. Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum tergolong ke dalamn jenis retribusi jasa umum, yaitu retribusi jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 6 Tahun 2000 tentang Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum di sebutkan bahwa yang dimaksud dengan Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum adalah pembayaran atas penggunaan tempat parkir di tepi jalan umum yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. Sedangkan yang dimaksud dengan tempat parkir adalah tempat yang berada di tepi jalan umum tertentu dan telah ditetapkan oleh Kepala Daerah sebagai tempat parkir kendaraan bermotor.
46
Struktur dan besarnya
tarif yang berlaku sebagaimana
tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 6 Tahun 2000 tentang Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum adalah sebagai berikut: a. Parkir Biasa Tabel 4.1. Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Biasa yang Berlaku Tingkat Kepadatan Parkir Rendah
Jenis Bermotor
Kendaraan Tarif
Sedan, Jeep, Mini bus, Rp.
500 / sekali parkir
Pickup dan sejenisnya. Bus dan Truk Truk
Gandeng
Rp.
700 / sekali parkir
dan Rp. 1.000 / sekali parkir
Trailer
Rp.
200 / sekali parkir
Sedan, Jeep, Mini bus, Rp.
750 / sekali parkir
Sepeda Motor Tinggi
Pickup dan sejenisnya. Bus dan Truk Truk
Gandeng
Trailer
Rp. 1.000 / sekali parkir dan Rp. 1.500 / sekali parkir Rp.
300 / sekali parkir
Sepeda Motor b. Parkir Berlangganan Tabel 4.2. Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Berlangganan yang Berlaku Jenis Kendaraan Bermotor Tarif Sedan, Jeep, Mini bus, Pickup dan Rp. 15.000 / bulan sejenisnya.
Rp.
20.000 / bulan
Bus dan Truk
Rp.
30.000 / bulan
Truk Gandeng dan Trailer
Rp.
6.000 / bulan
Sepeda Motor
47
Dengan asumsi menggunakan tingkat inflasi rata-rata dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 (5 tahun) adalah 8,94 % per tahun maka tarif baru dari retribusi tersebut akan nampak sebagai berikut: a. Parkir Biasa Tabel 4.3. Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Biasa. Tingkat Kepadatan Parkir Rendah
Jenis Bermotor
Kendaraan Tarif
Sedan, Jeep, Mini bus, Rp. 767,20/ sekali parkir Pickup dan sejenisnya. Bus dan Truk Truk
Gandeng
Rp.1.074,08/sekali parkir dan Rp.1.534,39/sekali parkir
Trailer
Rp. 306,88 / sekali parkir
Sepeda Motor Tinggi
Sedan, Jeep, Mini bus, Rp.1.150,79/sekali parkir Pickup dan sejenisnya. Bus dan Truk Truk
Gandeng
Trailer
Rp.1.534,39/sekali parkir dan Rp.2.301,59/sekali parkir Rp. 460,32 / sekali parkir
Sepeda Motor b. Parkir Berlangganan Tabel 4.4. Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Berlangganan Jenis Kendaraan Bermotor
Tarif
48
Sedan, Jeep, Mini bus, Pickup dan Rp. 23.015,91 / bulan sejenisnya.
Rp. 30.687,88 / bulan
Bus dan Truk
Rp. 46.031,82 / bulan
Truk Gandeng dan Trailer
Rp.
9.206,36 / bulan
Sepeda Motor Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka tarif baru retribusi terminal adalah sebagai berikut: a. Parkir Biasa Tabel 4.5. Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Biasa yang Telah Disesuaikan Tingkat Kepadatan Parkir Rendah
Jenis Bermotor
Kendaraan Tarif
Sedan, Jeep, Mini bus, Rp.
750 / sekali parkir
Pickup dan sejenisnya. Bus dan Truk Truk
Gandeng
Rp. 1.000 / sekali parkir dan Rp. 1.500 / sekali parkir
Trailer
Rp.
300 / sekali parkir
Sepeda Motor Tinggi
Sedan, Jeep, Mini bus, Rp. 1.000 / sekali parkir Pickup dan sejenisnya. Bus dan Truk Truk
Gandeng
Trailer
Rp. 1.500 / sekali parkir dan Rp. 2.300 / sekali parkir Rp.
500 / sekali parkir
Sepeda Motor b. Parkir Berlangganan Tabel 4.6. Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Berlangganan yang Telah Disesuaikan Jenis Kendaraan Bermotor
Tarif
49
Sedan, Jeep, Mini bus, Pickup dan Rp.
23.000 / bulan
sejenisnya.
Rp.
30.000 / bulan
Bus dan Truk
Rp.
46.000 / bulan
Truk Gandeng dan Trailer
Rp.
9.000 / bulan
Sepeda Motor
50
2. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor Retribusi ini tergolong ke dalam jenis retribusi jasa umum, yaitu retribusi jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Dalam Peraturan Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes Nomor 3 tahun 2001 tentang Retribusi Penujian Kendaraan Bermotor disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor adalah pembayaran atas pelayanan pengujian kendaraan bermotor sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan
yang
berlaku
yang
diselenggarakan
oleh
Pemerintah Daerah. Obyek retribusi ini adalah pengujian kendaraan bermotor yang terdiri dari: a. Mobil penumpang umum b. Mobil bus c. Mobil barang d. Kendaraan khusus e. Kereta gandengan f. Kereta tempelan g. Kendaraan lebih dari dua sumbu. Struktur dan besarnya
tarif yang berlaku sebagaimana
tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 3 Tahun 2001 tentang Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor adalah sebagai berikut: a. Tarif retribusi pengujian:
51
1) Mobil penumpang umum
Rp.
19.000,2) Mobil Bus, mobil barang dan kendaraan khusus
Rp.
23.500,3) Kereta gandengan dan kereta tempelan
Rp
21.000,4) Untuk kendaraan lebih dari dua sumbu
Rp.
25.000,b. Biaya pengganti tanda uji berkala, baud, kawat dan segel Rp. 2.500,c. Biaya pengganti buku uji berkala
Rp.
5.000,Dengan asumsi menggunakan tingkat inflasi rata-rata dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 (5 tahun) adalah 8,94% per tahun maka analisis penyesuaian tarif retribusi tersebut akan nampak sebagai berikut: a. Tarif retribusi pengujian: 1) Mobil penumpang umum
Rp.
29.153,48 2) Mobil Bus, mobil barang dan kendaraan khusus
Rp.
36.058,26 3) Kereta gandengan dan kereta tempelan
Rp.
32.222,27 4) Untuk kendaraan lebih dari dua sumbu
Rp.
38.359,85 b. Biaya pengganti tanda uji berkala, baud, kawat dan segel Rp. 3.835,98 52
c. Biaya pengganti buku uji berkala
Rp.
7.671,97 Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka tarif baru retribusi pengujian kendaraan bermotor adalah sebagai berikut: 2) Tarif retribusi pengujian: a) Mobil penumpang umum
Rp.
29.000,b) Mobil Bus, mobil barang dan kendaraan khusus
Rp.
36.000,c) Kereta gandengan dan kereta tempelan
Rp
32.200,d) Untuk kendaraan lebih dari dua sumbu
Rp.
38.500,3) Biaya pengganti tanda uji berkala, baud, kawat dan segel Rp. 3.800,4) Biaya pengganti buku uji berkala
Rp.
7.700,-
53
3. Retribusi Terminal Retribusi Terminal tergolong jenis retribusi jasa usaha. Retribusi ini adalah pembayaran atas pelayanan penyediaan fasilitas pelayanan terhadap kendaraan penumpang angkutan umum, tempat kegiatan usaha, fasilitas lainnya di lingkungan terminal yang dimiliki dan atau dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Brebes. Struktur dan besarnya
tarif yang berlaku sebagaimana
tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 7 Tahun 2000 tentang Retribusi Terminal adalah sebagai berikut: Tabel 4.7. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Terminal yang Berlaku Jenis Pelayanan Penyediaan
Jenis Kendaraan - mobil penumpang
tempat parkir
Tarif Rp. 200 / sekali masuk
umum
Rp.
200 / sekali masuk
kendaraan
-
bus kecil
Rp.
300 / sekali masuk
angkutan
-
bus sedang
Rp.
500 / sekali masuk
penumpang umum
-
bus besar
Rp. 5.000 / malam
-
bus bermalam
Pemakaian
-
ruang tidur
fasilitas lainnya
-
tempat
Rp. 3.000 / malam / orang
pencucian Rp. 1.000 / cuci
mobil
Dengan asumsi menggunakan tingkat inflasi rata-rata dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 (5 tahun) adalah 8,94 % per tahun maka tarif baru dari retribusi tersebut akan nampak sebagai berikut:
54
Tabel 4.8. Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Terminal Jenis Pelayanan Penyediaan
Jenis Kendaraan - mobil penumpang
tempat parkir
Tarif Hasil Analisis Rp. 306,88 / sekali masuk
umum
Rp.
306,88 / sekali masuk
kendaraan
- bus kecil
Rp.
460,32 / sekali masuk
angkutan
- bus sedang
Rp.
767,20 / sekali masuk
penumpang
- bus besar
Rp. 7.671,97 / malam
umum
- bus bermalam
Pemakaian
- ruang tidur
Rp. 4.603,18 / malam / orang
fasilitas lainnya
- tempat pencucian
Rp. 1.534,39 / cuci
mobil Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka tarif baru retribusi terminal adalah sebagai berikut: Tabel 4.9. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Terminal yang Telah Disesuaikan Jenis Pelayanan Penyediaan
Jenis Kendaraan - mobil penumpang
tempat parkir
Tarif Baru Rp. 300 / sekali masuk
umum
Rp.
300 / sekali masuk
kendaraan
-
bus kecil
Rp.
500 / sekali masuk
angkutan
-
bus sedang
Rp.
750 / sekali masuk
penumpang
-
bus besar
Rp. 7.500 / malam
umum
-
bus bermalam
Pemakaian
-
ruang tidur
fasilitas lainnya
-
tempat
Rp. 4.500 / malam / orang
pencucian Rp. 1.500 / cuci
mobil 4. Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan
55
Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan tergolong ke dalam jenis retribusi
jasa
usaha
yaitu
suatu
retribusi
yang
merupakan
pembayaran atas pelayanan penyediaan fasilitas pelayanan terhadap kendaraan/kapal angkutan umum, tempat kegiatan usaha, fasilitas lainnya di lingkungan terminal/pelabuhan yang dimiliki dan atau dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Brebes. Kapal dipungut retribusi sebagai pembayaran atas penyediaan jasa di pelabuhan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah yang meliputi Jasa Labuh dan Jasa Tambat. Obyek retribusi adalah pelayanan penyediaan jasa terhadap kapal-kapal
yang
Pelabuhan
Khusus
melakukan dan
kegiatan
Dermaga
di
untuk
Pelabuhan
Umum,
kepentingan
sendiri.
Sedangkan subyek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan dan atau memperoleh jasa labuh dan jasa tambat. Retribusi jasa labuh dan jasa tambat dihitung dengan satuan etmal (24 jam) dan dihitung sekurang-kurangnya untuk 6 (enam) jam atau 1/4 etmal dengan pembulatan sebagai berikut: a. Waktu labuh/tambat s.d. 6 jam dihitung 1/4 etmal. b. Waktu labuh/tambat lebih dari 6 jam s.d. 12 jam dihitung 1/2 etmal c. Waktu labuh/tambat lebih dari 12 jam s.d. 18 jam dihitung 3/4 etmal d. Waktu labuh/tambat lebih dari 18 jam s.d. 24 jam dihitung 1 etmal Struktur dan besarnya tarif retribusi jasa pelayanan kapal sebagai mana telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 9 tahun 2002 tentang retribusi jasa labuh dan jasa tambat kapal adalah sebagai berikut: Tabel 4.10. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Jasa Pelayanan Kapal yang Berlaku. No. U r a i a n 1. Kapal yang
berukuran
Satuan di GT < 7 per etmal
Tarif Rp. 150,00
56
bawah GT 7 2.
Kapal
yang
berukuran
di GT > 7 per etmal
Rp. 1.000,00
atas GT 7 Dengan asumsi menggunakan tingkat inflasi rata-rata dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 (5 tahun) adalah 8,94 % per tahun maka tarif baru dari retribusi tersebut akan nampak sebagai berikut: Tabel 4.11. Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Jasa Pelayanan Kapal. No. U r a i a n 1. Kapal yang
berukuran
Satuan di GT < 7 per etmal
Tarif Rp. 230,16
berukuran
di GT > 7 per etmal
Rp. 1.534,39
bawah GT 7 2.
Kapal
yang
atas GT 7 Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka tarif baru retribusi terminal adalah sebagai berikut: Tabel 4.12. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Jasa Pelayanan Kapal yang Telah Disesuaikan No. U r a i a n 1. Kapal yang
berukuran
Satuan di GT < 7 per etmal
Tarif Rp. 250,00
berukuran
di GT > 7 per etmal
Rp. 1.500,00
bawah GT 7 2.
Kapal
yang
atas GT 7 5. Retribusi Izin Trayek Retribusi izin trayek tergolong ke dalam retribusi perizinan. Retribusi perizinan tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, 57
pengendalian fan pengawasan atas kegitan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Sedangkan yang dimaksud dengan retribusi izin trayek adalah pembayaran atas pembeian izin kepada orang pribadi
atau
badan
untuk
menyediakan
pelayanan
angkutan
penumpang umum pada suatu atau beberapa trayek tertentu dalam wilayah daerah. Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau sama dengan biaya penyelenggaraan pemberian izin trayek. Biaya tersebut meliputi komponen biaya survey lapangan, dan biaya transportasi dalam rangka pengendalian dan pengawasan. Struktur tarif digolongkan berdasarkan jenis angkutan penumpang dan kapasitas tempat duduk. Struktur dan besarnya tarif retribusi sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 11 tahun 2000 tentang Retribusi Izin Trayek adalah sebagai berikut: Tabel 4.13. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Izin Trayek yang Berlaku Jenis Angkutan Mobil
Kapasitas Tempat Tarif Duduk Penumpang s/d 8 orang Rp 125.000/kendaraan
Bus
Angkutan Khusus
9 s/d 15 orang
Rp 150.000/kendaraan
16 s/d 25 orang
Rp 175.000/kendaraan
Lebih dari 25 orang
Rp 200.000/kendaraan
-
Rp 125.000/kendaraan
Dengan asumsi menggunakan tingkat inflasi rata-rata dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 (5 tahun) adalah 8,94 % per
58
tahun maka tarif baru dari retribusi tersebut akan nampak sebagai berikut:
59
Tabel 4.14. Hasil Analisis Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Izin Trayek Jenis Angkutan Mobil
Kapasitas Tempat Tarif Duduk Penumpang s/d 8 orang Rp 191.799,23/kendaraan
Bus
9 s/d 15 orang
Rp 230.159,08/kendaraan
16 s/d 25 orang
Rp 268.518,93/kendaraan
Lebih dari 25 orang
Rp 306878,77/kendaraan
Angkutan Khusus
-
Rp 191.799,23/kendaraan
Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka tarif baru retribusi terminal adalah sebagai berikut: Tabel 4.15. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Izin Trayek yang Telah Disesuaikan Jenis Angkutan Mobil
Kapasitas Tempat Tarif Duduk Penumpang s/d 8 orang Rp 192.000/kendaraan
Bus
Angkutan Khusus
9 s/d 15 orang
Rp 230.000/kendaraan
16 s/d 25 orang
Rp 268.000/kendaraan
Lebih dari 25 orang
Rp 307.000/kendaraan
-
Rp 192.000/kendaraan
60
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. KESIMPULAN 1. Tarif retribusi yang yang berlaku sekarang didasarkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 6, 7, 11 tahun 2000, Nomor 3 tahun 2001 dan Nomor 9 tahun 2002. Dengan demikian ke lima retribusi tersebut telah berlaku selama 6 hingga 8 tahun, sehingga sudah perlu disesuaikan. 2. Cara yang ditempuh untuk menentukan besarnya satuan tarif kepada setiap pemakai jasa, didasarkan atas pertimbangan: (i) perkiraan kemampuan ekonomi masyarakat; (ii) tarif retribusi daerah lain yang ada disekitarnya; (iii) untuk perubahan tarif didasarkan atas inflasi yang terjadi di daerah Kabupaten Brebes. 3. Asumsi yang digunakan untuk menyesuaikan tarif retribusi adalah tingkat inflasi rata-rata dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 (5 tahun) yaitu 8,94 % per tahun. 4. Hasil analisis perubahan/penyesuaian ke lima tarif retribusi tersebut menghasilkan tarif retribusi baru dengan besaran yang mengalami kenaikkan rata-rata sebesar 53 %. B. REKOMENDASI 1. Retribusi sektor perhubungan perlu segera diadakan penyesuaian tarif menjadi sebagai berikut: a. Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum 1) Parkir Biasa
61
Tabel 5.1. Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Biasa yang Telah Disesuaikan Tingkat Kepadatan Parkir Rendah
Tinggi
Jenis Kendaraan Bermotor
Tarif
Sedan, Jeep, Mini bus, Pickup dan sejenisnya. Bus dan Truk Truk Gandeng dan Trailer Sepeda Motor
Rp.
Sedan, Jeep, Mini bus, Pickup dan sejenisnya. Bus dan Truk Truk Gandeng dan Trailer Sepeda Motor
Rp. 1.000 / sekali parkir
750 / sekali parkir
Rp. 1.000 / sekali parkir Rp. 1.500 / sekali parkir Rp. 300 / sekali parkir
Rp. 1.500 / sekali parkir Rp. 2.300 / sekali parkir Rp. 500 / sekali parkir
2) Parkir Berlangganan Tabel 5.2. Struktur dan Besarnya Tarif Parkir Berlangganan yang Telah Disesuaikan Jenis Kendaraan Bermotor Sedan, Jeep, Mini bus, sejenisnya. Bus dan Truk Truk Gandeng dan Trailer Sepeda Motor
Pickup
Tarif dan Rp. Rp. Rp. Rp.
23.000 / bulan 30.000 / bulan 46.000 / bulan 9.000 / bulan
b. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 1) Tarif retribusi pengujian: a) Mobil penumpang umum
Rp. 29.000,-
b) Mobil Bus, mobil barang dan kendaraan khusus
Rp. 36.000,-
c) Kereta gandengan dan kereta tempelan
Rp 32.200,-
d) Untuk kendaraan lebih dari dua sumbu
Rp. 38.500,-
2) Biaya pengganti tanda uji berkala, baud, kawat dan segel 3) Biaya pengganti buku uji berkala
Rp. 3.800,Rp. 7.700,-
62
c. Retribusi Terminal Tabel 5.3. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Terminal yang Telah Disesuaikan Jenis Pelayanan Penyediaan tempat parkir kendaraan angkutan penumpang umum Pemakaian fasilitas lainnya
Jenis Kendaraan - mobil penumpang umum - bus kecil - bus sedang - bus besar - bus bermalam - ruang tidur - tempat pencucian mobil
Tarif Baru Rp. 300 / sekali masuk Rp. 300 / sekali masuk Rp. 500 / sekali masuk Rp. 750 / sekali masuk Rp. 7.500 / malam Rp. 4.500 /malam/orang Rp. 1.500 /cuci
d. Retribusi Jasa Usaha Pelabuhan Tabel 5.4. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Jasa Pelayanan Kapal yang Telah Disesuaikan No. U r a i a n 1. Kapal yang berukuran di bawah GT 7 2. Kapal yang berukuran di atas GT 7
Satuan GT < 7 per etmal
Tarif Rp. 250,00
GT > 7 per etmal
Rp. 1.500,00
e. Retribusi Izin Trayek Tabel 5.5. Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Izin Trayek yang Telah Disesuaikan Jenis Angkutan Mobil Penumpang Bus Angkutan Khusus
Kapasitas Tempat Duduk s/d 8 orang 9 s/d 15 orang 16 s/d 25 orang Lebih dari 25 orang -
Tarif Rp Rp Rp Rp Rp
192.000/kendaraan 230.000/kendaraan 268.000/kendaraan 307.000/kendaraan 192.000/kendaraan
2. Pemberlakuan tarif baru sebagai hasil penyesuaian tarif lama untuk segera dilaksanakan. Untuk itu segera diadakan perubahan pada Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 6, 7, 11 tahun 2000, Nomor 3 tahun 2001 dan Nomor 9 tahun 2002.
63
3. Sebelum dilakukan pemberlakuan tarif baru sebaiknya dilakukan sosialisasi terlebih dahulu. 4. Dalam
melaksanakan
perubahan
Peraturan
Daerah
sebaiknya
didahului dengan penyusunan draft akademik rancangan peraturan daerah.
64
DAFTAR PUSTAKA
Boediono, Ekonomi Mikro (Edisi 2), BPFE, Yogyakarta, 1991 Boediono, dan Peter McCawley, Bunga Rampai Ekonomi Mikro, (Kumpulan-kumpulan Karangan Mengenai Penerapan Teori Ekonomi Mikro), Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1976 Davey, KJ, Pembiayaan Pemerintahan Daerah, UI-Pres, Jakarta, 1988 Due, John. F. and Ann. F. Friedlande, Government Finance, Economic Of The Public Sector, (Sixth Edition), Richard. D Irwin, Inc., Homewood, 1977. Goedhart C, Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara (Terjemahan Ratmoko), Penerbit Djambatan, Jakarta, 1973 LPEM-FEUI, Laporan Akhir Tentang Penetapan Harga Serta Efekttfitas Alokasi Dan Prosedur Pembiayaan Puskesmas, 1993. Mangkoesôebroto, Guritno, Ekonoini Publik, BPFE, Yogyakarta, 1998. Mulyono, Euginia Liliawati, Peratuan Perundang-undangan Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, Harvarindo, Jakarta, 1998 Rozani, Irnan, Retribusi, Dikiat LPEM FE-UI, Jakrta, 1996 Saunders, Robert J, et all, Aternative Concepts Of Marginal Cost For Pub& Utility Pricing: Problems Of application in the Water Supply Sector, World Bank Staff Working paper No. 259, 1977 Soedargo, S, Pajak Daerah Dan Retibusi Daerah, Eresco Bandung, 1964 Soelarno, Slarnet, Administrasi Pajak Dan Retribusi Daerah, Dikiat LPEMFEUI, Jakarta, 1989 Soelarno, Slamet, Retribusi Daerah : Sebagai Pengantar, Diklat LPEMFEUI, Jakarta, 1989. Sukirno, Sadono, Beberapa Aspek Permasalahan Pembiayaan Daerah, LPFEUI, Jakarta, 1985
65